You are on page 1of 10

Anatomi dan Fisiologi Vaskularisasi Jantung

Jantung mendapatkan darah dari arteria coronaria dextra dan sinistra, yang berasal dari aorta
ascendens tepat diatas valve aortae. Arteriae coronariae dan cabang-cabang utamanya terdapat di
permukaan jantung, terletak didalam jaringan ikat subepicardium.

1. Arteria coronaria dextra


Arteria coronaria dextra berasal dari sinus anterior aortae dari aorta ascendens. Arteri ini
berjalan kebawah didalam sulcus atrioventicularis dextra dan pada pinggir inferior jantung,
kemudian pembuluh ini melanjutkan diri ke posterior sepanjang sulcus atrioventicularis
untuk beranastomosis dengan arteria coronaria sinistra didalam sulcus interventicularis
posterior.
Cabang-cabang arteria coronaria dextra:
 Ramus conica arteriosa dexter. Pembuluh ini mendarahi facies anterior conus pulmonaris
(infundibulum ventriculus dexter) dan bagian atas dinding anterior ventriculus dexter.
 Rami ventriculares anteriores. Jumlahnya dua atau tiga, dan mendarahi facies anterior
ventriculus dexter. Ramus marginalis adalah cabang yang terbesar dan berjalan sepanjang
pinggir bawah facies costalis untuk mencapai apex cordis.
 Rami ventriculares posteriors. Biasanya ada dua dan mendarahi facies diaphragmatica
ventriculus dexter.
 Ramus interventricularis posterior (descenden). Pembuluh nadi ini berjalan menuju apex
didalam sulcus interventriculare posterior. Memberikan cabang-cabang ke ventriculus
dexter dan sinister, termasuk dinding inferiornya. Pembuluh ini juga memberikan cabang
untuk bagian posterior septum ventriculare, tetapi tidak untuk bagian apex yang
menerima darah dari ramus interventricularis anterior arteria coronaria sinistra. Sebuah
cabang septal yang besar mendarahi nodus atrioventricularis.
 Rami atriales. Beberapa cabang mendarahi permukaan anterior dan lateral atrium
dextrum. Satu cabang mengurus permukaan posterior kedua atrium dextrum dan
sinistrum. Arteri nodus sinoatrialis mendarahi nodus dan atrium dextrum dan sinistrum.

2. Arteria coronaria sinistra


Arteria cronaria sinistra biasanya lebih besar dibandingkan dengan arteria coronaria
dextra. Pembuluh nadi ini berasal dari sinus aortae posterior sinistra dari aorta ascendens dan
berjalan kedepan diantara truncus pulmonalis dan auricular sinistra. Kemudian pembuluh ini
berjalan di sulcus atrioventicularis dan bercabang dua menjadi ramus interventricularis
anterior dan ramus circumflexa. Arteria coronaria sinistra mendarahi sebagian besar jantung,
termasuk sebagian besar atrium sinistrum, ventriculus sinister dan septum interventriculare.
Cabang-cabang arteria coronaria sinistra:
 Ramus interventricularis (descendens) anterior berjalan kebawah didalam sulcus
interventricularis anterior menuju apex cordis. Ramus interventricularis anterior
mendarahi ventriculus dexter dan sinister dengan sejumlah cabang yang juga mendarahi
bagian anterior septum ventriculare. Satu diantara cabang-cabang ventricular ini (arteria
diagonalis sinistra) mungkin berasal langsung dari pangkal arteria coronaria sinistra.
Sebuah arteria conus sinistra mendarahi conus pulmonalis.
 Ramus circumflexus mempunyai ukuran yang sama dengan arteria interventricularis
anterior. Pembuluh ini melingkari pinggir kiri jantung didalam sulcus atrioventicularis.
Ramus marginalis sinister merupakan sebuah cabang besar yang mendarahi pinggir kiri
ventriculus sinister dan turun sampai apex cordis. Ramus ventricularis anterior dan
posterior mendarahi ventriculus sinister. Rami atriales mendarahi atrium sinistrum.

Pembuluh Balik Jantung


Sebagian besar darah dari dinding jantung mengalir ke atrium kanan melalui sinus
coronarius, yang terletak di bagian posterior sulcus atrioventricularis dan merupakan lanjutan
dari vena cardiaca magna. Pembuluh ini bermuara ke atrium dextrum sebelah kiri vena cava
inferior. Vena cardiaca parva dan vena cardiaca media merupakan cabang sinus coronarius.
Sisanya dialirkan ke atrium dextrum melalui vena ventriculi dextri anterior dan melalui vena-
vena kecil yang bermuara langsung ke ruang-ruang jantung.
Daftar pustaka : 1 Snell, S. Richard.anatomi klinis berdasarkan system. Jakarta. 2008 : EGC

Emosi
Apakah emosi Anda dapat membuat Anda beresiko menderita penyakit jantung koroner?
Sebenarnya masih perlu dilakukan lebih banyak penelitian untuk dapat lebih memahami
mekanisme hubungan antara emosi negatif dengan penyakit jantung. Namun, para peneliti
menduga bahwa hormon stres efinefrin dan norefinefrin memainkan peranan yang signifikan
(Januzzi & DeSanctis, 1999; Melani, 2001).

Emosi yang berupa kemarahan dan kecemasan memicu kelenjar adrenal untuk melepas
hormon-hormon tersebut, yang kemudian menggerakkan sumber-sumber tubuh untuk mengatasi
situasi yang mengancam. Mereka meningkatkan detak jantung, frekuensi pernafasan, dan
tekanan darah. Hal tersebut kemudian meningkatkan aliran darah yang kaya oksigen ke otot
untuk mempersiapkan tindakan pertahanan, lawan atau lari menghadapi stressor yang
mengancam.

Apabila orang terus menerus mengalami kegelisahan atau kemarahan, pelepasan hormon-
hormon stres pun terus berlanjut, yang akhirnya dapat menimbulkan kerusakan pada jantung dan
pembuluh darah. Hormon stres juga dapat meningkatkan kepekatan faktor pembekuan darah,
sehingga dapat meningkatkan kemungkinan terbentuknya sumbatan yang membahayakan dalam
pembuluh darah (Januzzi & DeSanctis, 1999).

Kecemasan dan kemarahan juga membahayakan sistem kardivaskular melalui


peningkatan kadar kolesterol dalam darah, yaitu zat lemak yang menyumbat arteri dan
meningkatkan resiko serangan jantung (Suinn, 2001).

Orang yang tingkat hostilitasnya tinggi (suatu sikap yang ditandai dengan
kecenderungan untuk menyalahkan orang lain dan menilai dunia dengan pandangan negatif)
cenderung memiliki tekanan darah yang lebih tinggi. Tekanan darah tinggi tersebut (hipertensi)
merupakan faktor resiko utama serangan jantung dan stroke.

Daftar pustaka:Nevid, J.S., dkk. 2002. Psikologi Abnormal. Jakarta: Erlangga


Hipertensi.

Tekanan darah tinggi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor penyebab. Tekanan darah
tinggi terjadi apabila tekanan darah menunjukkan angka 140/90 namun angka tersebut bukan
menjadi salah satu ukuran bagi seseorang yang mempunyai tekanan darah tinggi, pada beberapa
orang tekanan darah tinggi ada yang disebut dengan pra hipertensi yang menunjukkan angka
tekanan darah mencapai 120/80 dan 139/89. Tekanan darah tinggi membawa faktor resiko
terhadap suatu serangan penyakit dan penyebab dari kerusakan organ tubuh tertentu, seperti
diabetes dan penyakit ginjal serta penyakit lainnya, namun yang paling berbahaya adalah
membawa penyakit pada serangan jantung yang mungkin dapat terjadi secara tiba-tiba.

1. Gejala

Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala–gejala seperti:

 Mual dan muntah


 Sakit kepala
 Jantung berdebar-debar
 Sulit bernapas setelah berkerja keras atau mengangkat beban berat
 Mudah lelah.
 Penglihatan kabur
 Wajah memerah
 Hidung berdarah
 Sering buang air kecil, terutama di malam hari
 Telinga berdening (tinnitus)
 Dunia aterasa berputar (vertigo)

2. Beberapa ciri-ciri dari hipertensi, diantarnya adalah :

 Adanya resistensi insulin

Resistensi insulin adalah salah satu ciri dari tekanan darah tinggi. Pada sebuah studi di
tahun 2004 yang dilakukan oleh Muhammad F. Saad dari sebuah terbitan dalam Jurnal
Hipertensi, resistensi insulin atau tingkat insulin yang tidak normal terjadi peningkatan di
dalam darah yang kemudian dikaitkan oleh hipertensi, yang sebenarnya resistensi insulin ini
terjadi pada penyakit diabetes.

Para ahli mencatat bahwa resistensi insulin atau insulinemia ini memiliki kaitan yang erat
dengan ciri-ciri tekanan darah tinggi atau darah ada mereka yang memiliki penyakit diabetes
mellitus tipe 2. Hal ini dilatar bekalangi oleh glukosa yang diubah dan mengalami
peningkatan pada plasma insulin yang menghasilkan efek negatif pada dinding pembuluh
darah.

 Pembesaran ventrikel kiri


Ventrikel kiri yakni ruang jantung yang bertanggung jawab untuk memompa darah ke
jaringan tubuh yang membesar merupakan ciri-ciri darah tinggi (hipertensi). Tekanan darah
yang meningkat memaksa kerja jantung lebih keras dan cepat dari biasanya untuk memompa
darah keseluruh tubuh. Selain itu terjadi dorongan darah melalui pembuluh darah yang
menyempit atau terjadi hambatan yang signifikan yang menyebabkan ventrikel kiri jantung
untuk memperbesar atau kaku, kondisi ini disebut hipertrofi ventrikel kiri. Jika ciri ciri darah
tinggi berupa hipertrofi ventrikel kiri terjadi, maka membatasi kemampuan ventrikel
memompa darah yang dapat menyebabkan serangan jantung, gagal jantung dan kematian
jantung mendadak.

 Penurunan fungsi arteri

Terjadinya penurunan fungsi arteri atau perubahan dalam struktur pembuluh darah
merupakan 4irri-ciri darah tinggi. Hal inilah yang membuat tekanan darah tinggi ini sulit
terdeteksi. Untuk mengetahui tekanan darah tinggi dibutuhkan pemeriksaan oleh tenaga
medis. Ciri-ciri tekanan darah tinggi yang sulit terdeteksi ini disebut dengan arteriosklerosis.

Sumber : http://gejalahipertensi.com/ciri-ciri-hipertensi/
3. Penyebab Hipertensi

 Usia yang semakin tua


Semakin tua seseorang pengaturan metabolisme zat kapur (kalsium) terganggu, sehingga
banyak zat kapur yang beredar bersama darah. Banyaknya kalsium dalam darah
(hypercalcidemia) menyebabkan darah menjadi lebih padat, sehingga tekanan darah menjadi
meningkat.
Endapan kalsium di dinding pembuluh darah (arteriosclerosis) menyebabkan penyempitan
pembuluh darah. Akibatnya, aliran darah menjadi terganggu. Hal ini dapat memacu peningkatan
tekanan darah. Bertambahnya usia juga menyebabkan elastisitas arteri berkurang. Arteri tidak
dapat lentur dan cenderung kaku, sehingga volume darah yang mengalir sedikit dan kurang
lancar.
Agar kebutuhan darah di jaringan tercukupi, maka jantung harus memompa darah lebih
kuat lagi. Keadaan ini diperburuk lagi dengan adanya arteriosclerosis, tekanan darah menjadi
semakin meningkat.
Oleh karena pembuluh darah yang bermasalah pada orang tua adalah arteri, maka hanya tekanan
sistole yang meningkat tinggi. Tekanan sistole dan tekanan diastole pada orang tua memiliki
perbedaan yang besar.

 Stres dan tekanan mental


Salah satu tugas saraf simpatis adalah merangsang pengeluaran hormon adrenalin.
Hormon ini dapat menyebabkan jantung berdenyut lebih cepat dan menyebabkan penyempitan
kapiler darah tepi.Hal ini berakibat terjadi peningkatan tekanan darah. Saraf simpatis di pusat
saraf pada orang yang stres atau mengalami tekanan mental bekerja keras. Bisa dimaklumi,
mengapa orang yang stres atau mengalami tekanan mental jantungnya berdebar-debar dan
mengalami peningkatan tekanan darah. Hipertensi akan mudah muncul pada orang yang sering
stres dan mengalami ketegangan pikiran yang berlarut-larut.
Hal-hal yang membuat stres seperti : terjebak kemacetan, menemui permasalahan yang
sulit dipecahkan, mental merasa tertekan, menghadapi ujian/tes, suasana keluarga yang sering
ribut, suasana kerja/sekolah yang sering gaduh, suasana bising dan terburu-buru.

 Makan Berlebihan
Jumlah lemak total yang diperlukan tubuh maksimum 150 mg/dl, kandungan lemak baik
(HDL) optimum 45 mg/dl dan kandungan lemak jahat (LDL) maksimum 130 mg/dl. Lemak baik
masih diperlukan tubuh, sedang lemak jahat justru merusak organ tubuh.
Makan berlebihan dapat menyebabkan kegemukan (obesitas). Kegemukan lebih cepat terjadi
dengan pola hidup pasif (kurang gerak dan olahraga). Jika makanan yang dimakan banyak
mengandung lemak jahat (seperti kolesterol), dapat menyebabkan penimbunan lemak di
sepanjang pembuluh darah. Penyempitan pembuluh darah ini menyebabkan aliran darah menjadi
kurang lancar.
Pada orang yang memiliki kelebihan lemak (hyperlipidemia), dapat menyebabkan penyumbatan
darah sehingga mengganggu suplai oksigen dan zat makanan ke organ tubuh. Penyempitan dan
sumbatan lemak ini memacu jantung untuk memompa darah lebih kuat lagi, agar dapat memasok
kebutuhan darah ke jaringan. Akibatnya tekanan darah menjadi meningkat, maka terjadilah
hipertensi.

 Merokok
Rokok mengandung ribuan zat kimia yang berbahaya bagi tubuh, seperti tar, nikotin dan
gas karbon monoksida.
Tar merupakan bahan yang dapat meningkatkan kekentalan darah, sehingga memaksa jantung
untuk memompa darah lebih kuat lagi. Nikotin dapat memacu pengeluaran zat catecholamine
tubuh seperti hormon adrenalin.
Hormon adrenalin memacu kerja jantung untuk berdetak 10 sampai 20 X per menit, dan
meningkatkan tekanan darah 10 sampai 20 skala. Hal ini berakibat volume darah meningkat dan
jantung menjadi cepat lelah.
Karbon monoksida (CO) dapat meningkatkan keasaman sel darah, sehingga darah menjadi lebih
kental dan menempel di dinding pembuluh darah. Penyempitan pembuluh darah memaksa
jantung memompa darah lebih kuat lagi, sehingga tekanan darah meningkat.
Selain orang yang merokok (perokok aktif), orang yang tidak merokok tetapi menghisap asap
rokok juga memiliki resiko hipertensi. Orang ini disebut perokok pasif. Resiko perokok pasif
bahayanya 2X dari perokok aktif.

 Terlalu banyak minum alkohol


Alkohol dapat merusak fungsi saraf pusat maupun tepi. Apabila saraf simpatis
terganggu, maka pengaturan tekanan darah akan mengalami gangguan pula. Pada seorang yang
sering minum minuman dengan kadar alkohol tinggi, tekanan darah mudah berubah dan
cenderung meningkat tinggi.
Alkohol juga meningkatkan keasaman darah. Darah menjadi lebih kental. Kekentalan darah ini
memaksa jantung memompa darah lebih kuat lagi, agar darah dapat sampai ke jaringan yang
membutuhkan dengan cukup. Ini berarti terjadi peningkatan tekanan darah

 Kelainan pada ginjal


Hipertensi dapat karena adanya penurunan massa ginjal yang dapat berfungsi dengan
baik, kelebihan produksi angiotensin dan aldosteron serta meningkatnya hambatan aliran darah
dalam arteri ginjal.Ginjal yang mengalami penurunan fungsi dalam menyaring darah,
menyebabkan sisa metabolisme yang seharusnya dibuang ikut beredar kembali ke bagian tubuh
yang lain. Akibatnya volume darah total meningkat, sehingga darah yang dikeluarkan jantung
juga meningkat. Dengan demikian darah yang beredar melalui kapiler jaringan akan meningkat
sehingga terjadi pengkerutan sfingter prekapiler. Peningkatan volume darah total yang keluar
dari jantung dan peningkatan hambatan pada pembuluh darah tepi yang mengkerut,
menyebabkan tekanan darah meningat

Sumber: Hipertensi dan Faktor Resiko dalam Kajian Epidemiologi. Makassar :FKM
Unhas.Bustan, M.N. 2007.

Arteriosklerosis

Arteriosklerosis, istilah umum untuk suatu kondisi yang ditandai dengan penebalan,
pengerasan dan hilangnya elastisitas dinding pembuluh darah. Perubahan ini sering disertai
dengan penimbunan lipid di dalam dinding pembuluh, misalnya kolesterol, kondisi ini sering
disebut sebagai aterosklerosis. Awalnya lesi terbentuk di dinding arteri, yang mengakibatkan
lecet dan penimbunan kolesterol low-density. Sehingga menyebabkan tekanan darah tinggi, yang
mempermudah menyimpan kolesterol dan kalsium di dinding pembuluh. Bahan lemak
terakumulasi kalsium dan menghasilkan plak keras, sehingga terjadi pengerasan dinding
pembuluh. Ketika dinding pembuluh menebal, lorong-lorong melalui pembuluh menyempit,
terjadi penurunan pasokan darah ke daerah yang terkena. Penyempitan arteri koroner dapat
mempengaruhi jantung. Jika pembuluh pada kaki yang terpengaruh, mungkin ada rasa sakit
dengan berjalan kaki dan terjadinya gangren. Ketika terjadi penggumpalan pembuluh ( trombosis
) hasilnya mungkin serangan jantung ( jika terjadi di arteri koroner ) atau stroke ( jika di arteri
serebral ) .
Faktor risiko arteriosklerosis adalah hipertensi, peningkatan kadar lemak dalam darah,
merokok, diabetes mellitus dan obesitas. Risiko genetik terkait dengan kemampuan tubuh untuk
proses ( serapan dan metabolisme ) low-density lipid yang mengandung kolesterol. Pengurangan
kolesterol tubuh ke tingkat normal melalui obat penurun kolesterol dan pembatasan diet lemak
biasanya diresepkan. Pengobatan hipertensi, manajemen stres dan berhenti merokok juga
penting. Meningkatkan konsumsi antioksidan dan asam folat dapat menjadi pelindung.
Pembedahan yang melewati daerah yang tersumbat atau prosedur seperti angioplasty kadang-
kadang diperlukan, terapi gen yang memaksa pertumbuhan pembuluh darah baru melewati suatu
daerah juga telah digunakan. Olahraga sering dapat meningkatkan pemanfaatan kelebihan lemak
low-density. Meskipun hubungan antara kadar kolesterol darah dan arteriosklerosis tidak
sepenuhnya dipahami , pemanfaatan lipid low-density tampaknya menjadi indikator utama dari
risiko arteriosklerosis.
Sumber: http://www.infoplease.com/encyclopedia/science/arteriosclerosis.html

Angina Pectoris
A. Pengertian
Angina pektoris adalah suatu sindroma kronis dimana klien mendapat serangan sakit
dadadi dearah sternum atau di bawah sternum (substernal) atau dada sebelah kiri yang khas,
yaitu seperti ditekan, atau terasa berat di dada yang seringkali menjalar ke lengan kiri,
kadang-kadang dapat menjalar ke punggung, rahang, leher atau ke lengan kanan. Sakit dada
tersebut biasanya timbul pada waktu pasien melakukan aktivitas dan segera hilang bila pasien
menghentikan aktivitasnya. (Prof. Dr.H.M.Sjaifoellah Noer,1996)
Sakit dada pada angina pektoris disebabkan karena timbulnya iskemia miokard, karena
suplai darah dan oksigen ke miokard berkurang. Serangan sakit dada biasanya berlangsung 1
sampai 5 menit, bila sakit dada terus berlangsung lebih dari 20 menit, mungkin pasien
mendapat serangan infark miokard akut dan bukan disebabkan angina pektoris biasa. Pada
pasien angina pektoris dapat pula timbul keluhan lain seperti sesak napas, perasaan kadang-
kadang sakit dada disertai keringat dingin
Angina pektoris adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis rasa
tidak nyaman yang biasanya terletak dalam daerah retrosternum. (Penuntun Praktis
Kardiovaskuler)

B. ETIOLOGI
Faktor penyebab Angina Pektoris antara lain:
1. Ateriosklerosis
2. Spasmearterikoroner
3. Anemia berat
4. Artritis
5. Aorta Insufisiensi

C. MANIFESTASI KLINIS
Iskemia otot jantung akan memberi nyeri dengan derajat yang bervariasi, mulai dari rasa
tertekan pada dada sampai nyeri hebat yang disertai dengan rasa takut atau rasa akan
menjelang ajal. Nyeri sangat terasa pada di daerah belakang sternum atas atau sternum ketiga
tengah (retrosentral). Meskipun rasa nyeri biasanya terlokalisasi, namun nyeri tersebut dapat
menyebar ke leher, dagu, bahu, dan aspek dalam ekstremitas atas. Pasien biasanya
memperlihatkan rasa sesak, tercekik, dengan kualitas yang terus menerus. Rasa lemah atau
baal di lengan atas, pergelangan tangan, dan tangan akan menyertai rasa nyeri. Selama terjadi
nyeri fisik, pasien mungkin akan merasa akan meninggal. Karakteristik utama nyeri tersebut
akan berkurang apabila faktor presipitasinya dihilangkan.

D. PATOFISIOLOGI
Mekanisme timbulnya angina pektoris didasarkan pada ketidakadekuatan suplay oksigen
ke sel-sel miokardium yang diakibatkan karena kekauan arteri dan penyempitan lumen arteri
koroner (ateriosklerosis koroner). Tidak diketahui secara pasti apa penyebab ateriosklerosis,
namun jelas bahwa tidak ada faktor tunggal yang bertanggungjawab atas perkembangan
ateriosklerosis. Ateriosklerosis merupakan penyakir arteri koroner yang paling sering
ditemukan. Sewaktu beban kerja suatu jaringan meningkat, maka kebutuhan oksigen juga
meningkat. Apabila kebutuhan meningkat pada jantung yang sehat maka artei koroner
berdilatasi dan megalirkan lebih banyak darah dan oksigen ke otot jantung. Namun apabila
arteri koroner mengalami kekauan atau menyempit akibat ateriosklerosis dan tidak dapat
berdilatasi sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan akan oksigen, maka terjadi
iskemik (kekurangan suplai darah) miokardium.
Adanya endotel yang cedera mengakibatkan hilangnya produksi No (nitrat Oksido yang
berfungsi untuk menghambat berbagai zat yang reaktif. Dengan tidak adanya fungsi ini dapat
menyababkan otot polos berkontraksi dan timbul spasmus koroner yang memperberat
penyempitan lumen karena suplai oksigen ke miokard berkurang. Penyempitan atau blok ini
belum menimbulkan gejala yang begitu nampak bila belum mencapai 75 %. Bila
penyempitan lebih dari 75 % serta dipicu dengan aktifitas berlebihan maka suplai darah ke
koroner akan berkurang. Sel-sel miokardium menggunakan glikogen anaerob untuk
memenuhi kebutuhan energi mereka. Metabolisme ini menghasilkan asam laktat yang
menurunkan pH miokardium dan menimbulkan nyeri. Apabila kebutuhan energi sel-sel
jantung berkurang, maka suplai oksigen menjadi adekuat dan sel-sel otot kembali fosforilasi
oksidatif untuk membentuk energi. Proses ini tidak menghasilkan asam laktat.
Dengan hilangnya asam laktat nyeri akan reda. Sejumlah faktor yang dapat
menimbulkan nyeri angina:
o Latihan fisik dapat memicu serangan dengan cara meningkatkan kebutuhan oksigen
jantung.
o Pajanan terhadap dingin dapat mengakibatkan vasokontriksi dan peningkatan tekanan
darah, disertai peningkatan kebutuhan oksigen.
o Makan makanan berat akan meningkatkan aliran darah ke daerah mesentrik untuk
pencernaan, sehingga menurunkan ketersediaan darah unuk supai jantung.
o Stress atau berbagai emosi akibat situasi yang menegangkan, menyebabkan frekuensi
jantung meningkat, akibat pelepasan adrenalin dan meningkatnya tekanan darah dengan
demikian beban kerja jantung juga meningkat.

E. PENATALAKSANAAN
Tujuan penatalaksanaan medis angina adalah untuk menurunkan kebutuhan oksigen
jantung dan untuk meningkatkan suplai oksigen. Secara medis tujuan ini dicapai melalui
terapi farmakologi dan kontrol terhadap faktor risiko. Secara bedah tujuan ini dapat dicapai
melalui revaskularisasi suplai darah jantung melalui bedah pintas arteri koroner atau
angiosplasti koroner transluminar perkutan (PCTA = percutaneous transluminal coronary
angioplasty). Biasanya diterapkan kombinasi antara terapi medisdan pembedahan.
Tiga teknik utama yang menawarkan penyembuhan bagi klien dengan penyakit arteri koroner
mencakup penggunaan alat intrakoroner untuk meningkatkan aliran darah, penggunaan laser
untuk menguapkan plak dan endarterektomi koroner perkutan untuk mengangkat obstruksi.
Penelitian yang bertujuan untuk membandingkan hasil akhir yang dicapai oleh salah satu atau
seluruh teknik di atas, melalui bedah pintas koroner dan PTCA sedang dilakukan. Ilmu
pengetahuan terus dikembangkan untuk mengurangi gejala dan kemunduran proses angina
yang diderita pasien.
Sumber: http://www.netdoctor.co.uk/diseases/facts/angina.html

Klasifikasi angina pectoris:

 Angina pectoris stabil kronis/tipikal: Mengacu pada nyeri dada episodik saat pasien
berolahraga atau mengalami bentuk stress lainnya. Angina pektoris stabil biasanya
disebabkan oleh penyempitan ateroskelrotik tetap ( biasanya 75% atau lebih )satu atau
lebih arteri koronaria.
 Angina varian (prinzmetal) : Rasa tidak enak pada dada, terjadi pada saat istirahat atau
membangunkanpasien tidur. Angina varian disebabkan oleh spasme fokal dari koronaria
epikardial yang proksimal. Terdapat obstruksi arteri koronaria arterosklerotik, dalam
kasus vasospasme terjadi dekat lesi stenotik.
 Angina pektoris tidak stabil : Angina pektoris tidak stabil dapat dicetuskan oleh suatu
keadaan ekstrinsik terhadap lapisan vaskular koroner yang memperhebat iskemia
miokardial, seperti anemi, demam, infeksi takiaritmia, stres emosional atau hipoksemi,
dan dapat juga setelah infark miokardial spasme segmental disekitar bercak ( plaque
arterosklerotik ) juga dapat memainkan suatu peranan dalam perkembangan angina yang
tidak stabil.

Sumber: (Kumar,dkk.2007.Buku Ajar Patologi Robbins.Jakarta:EGC)