You are on page 1of 17

LAPORAN PENDAHULUAN

PRAKTEK KLINIK KEPERAWATAN PROFESI

STASE KEPERAWATAN ANAK

HIPERPIREKSIA

SEKOLAH TINGGI ILMU KE


CITRA DELIMA BANG
" Membangun Citra Per
JL. PINUS I KACANG PEDANG A
Telp/Fax. 0717 -

NAMA : Nilam Sari

NIM : 17300084

PROGRAM STUDI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

CITRA DELIMA BANGKA BELITUNG

2017/2018
LAPORAN PENDAHULUAN
HIPERPIREKSIA
A. DEFINISI

Demam adalah salah satu gejala yang dapat membedakan apakah


seorang itu sehat atau sakit. Demam adalah kenaikan suhu badan di atas
38oC (Arief, 2010).
Hiperpireksia adalah suatu keadaan dimana suhu tubuh lebih dari
41,1oC atau 106oF (suhu rectal) (Kowalak, 2012).
Hiperpireksia adalah kenaikan suhu tubuh diatas 410 C (rectal).
Merupakan keadaan gawat darurat medik dengan angka kematian yang
tinggi terutama pada bayi sangat muda, usia lanjut dan penderita-penderita
penyakit jantung (WHO, 2012)

B. ETIOLOGI

29-59% demam berhubungan dengan infeksi, 11-20% dengan


penyakit kolagen, 6-8% dengan neoplasma, 4% dengan penyakit
metabolik dan 11-12% dengan penyakit lain. Penyebab hiperpireksi ialah :
infeksi 39%, infeksi dengan kerusakan pusat pengatur suhu 32%,
kerusakan pusat pengatur suhu saja 18%, dan pada 11% kasus disebabkan
oleh Juvenille Rheumatoid Arthritis, infeksi virus dan reaksi obat. Dari 28
penderita hiperpireksia terdapat 11 penderita (39%) disebabkan oleh
infeksi diantaranya 7 penderita disebabkan olehkuman gram negatif yang
mengenai traktus urinaria 4 penderita, intraabdominal 2 penderita dan 1
penderita pada paru. Sedang 9 penderita (32%) disebabkan oleh gabungan
antara infeksi dan kerusakan pusat pengatur suhu. Selain itu 5 penderita
(18%) disebabkan oleh kerusakan pusat pengatur suhu. Tiga penderita
(11%) tidak diketahui penyebabnya (Arief, 2010)
C. Anatomi dan fisiologi

Pusat termoregulator hipotalamus merupakan sekelompok


sarafpada area preoptik dan hipotalamus posterior yang berfungsi
sebagai termostat. Termostat hipothalamus memiliki semacam titik
kontrol yang disesuaikan untuk mempertahankan suhu tubuh :
 Termoreseptor perifer, terletak di dalam kulit, mendeteksi
perubahan suhu kulit dan membran mukosa tertentu serta
mentransmisi informasi tersebut ke hipothalamus.
 Termoreseptor sentral, terletak di antara hipothalamus anterior,
medula spinalis, organ abdomen dan struktur internal lainnya,
juga mendeteksi perubahan suhu darah.
Sangat sukar untuk menetapkan secara tepat suhu bagian
mana dari tubuh yang disebut sebagai suhu tubuh. Ada 3 cara
untuk menentukan :
 Suhu inti untuk menggambarkan suhu organ-organ dalam.
 Suhu perifer mencerminka suhu kulit dan jaringan subkutan.
 Suhu tubuh rata-rata dapat di hitung secara kasar dengan
rumus suhu rata-rata = 0.7 suhu inti + 0.3 suhu perifer
Pada manusia untuk mendapatkan gambaran suhu tubuh
dilakukan pengukuran yang dapat dipilih :
 Suhu ketiak. Pengukuran suhu ketiak dilakukan dengan cara
meletakkan termometer di ketiak selama minimal 5 menit,
lengan atas di dekapkan erat-erat kebadan, jangan lupa ketiak
harus dikeringkan terlebih dahulu. Suhu ketiak biasanya 0.2°-
0.4°C lebih rendah dari suhu mulut dan 0.5°-1°C dibawah suhu
rektum.
 Suhu mulut. Pengukuran suhu mulut dilakukan dengan cara
meletakkan termometer dibawah lidah dengan mulut tertutup.
Makanan, minuman, atau merokok mempengaruhi suhu mulut,
sehingga dapat mengecoh hasil pengukuran suhu tubuh. Suhu
mulut biasanya 0.3-0.5C di bawah suhu rektum
 Suhu rektum. Pengukuran suhu rektum dilakukan dengan cara
memasukkan termometer sedalam 5-6 cm, sehingga diukur
benar-benar suhu didalam rektum. Suhu rektum lebih dapat
dipercaya sebagai ukuran suhu tubuh dibandingkan suhu ketiak
dan suhu mulut.
Pada keadaan tertentu misalnya demam, termostat akan
diubah ke nilai yang tinggi misalnya 39C. Suhu tubuh yang semula
normal akan menyesuaikan dengan keadaan baru ini. Tubuh
berusaha agar suhu sesuai dengan nilai termostat. Dalam hal ini
akan terjadi vasokontriksi pembuluh darah kulit, sekresi epinefrin
meningkat dan menggigil atau peningkatan pembentukan panas
yang disebut fase rasa dingin pada keadaan demam.
Faktor yang mempengaruhi suhu tubuh :
 Variasi diluar
Kegiatan tubuh sepanjang hari dapat bervariasi.
Penggunaan energi dalam metabolisme selalu timbul panas.
Biasanya pada siang hari suhu tubuh lebih tinggi dari malam
hari.
 Umur
Pada bayi yang baru lahir suhu tubuh masih belum mantap.
Dalam masa ini suhu tubuh masih belum mantap.
 Jenis kelamin
Sesuai dengan kegiatan metabolisme, suhu tubuh pria lebih
tinggi dari wanita. Selain itu wanita juga dipengaruhi oleh
siklus menstruasi.
 Gizi
Pada keadaan kurang gizi atau puasa, suhu tubuh lebih
rendah.
 Kerja jasmani
Sesudah kerja jasmani suhu tubuh akan naik sampai 41C.
 Lingkungan
Suhu lingkungan yang tinggi akan meningkatkan suhu
tubuh yang terdapat dalam tubuh, serta akibatknya pada laju
metabolisme (Irianto, 2014)

D. MANIFESTASI KLINIS

Bila suhu badan meningkat terus dan pada pengukuran suhu rektal
mencapai 41,1oC atau lebih terjadilah apa yang dinamakan hiperpireksia
dan manifestasi klinis akan bertambah dan bergantung pada
keadaan.Gejala klinis yang penting dan harus dikenal secepatnya supaya
dapat ditanggulangi segera, yaitu:
a. Gejala serebral seperti disorientasi, delirium, ataksia, fotofobi, kejang,
koma
b. Kulit : merah, kering, panas
c. Tekanan darah : mula-mula naik , normal dan kemudian turun
d. Jantung : takikardia dan aritmia
e. Pernafasan : tak teratur
f. Oliguria, dehidrasi, asidosis metabolik dan renjatan (Shock)
g. Ekimosis, petekie, perdarahan

Hiperpireksi menyebabkan perubahan metabolisme, termasuk di


dalamnya peningkatan konsumsi oksigen dan metabolisme jaringan. Setiap
kenaikan suhu tubuh 1oC, basal metabolik rate meningkat 10 -14%,
kebutuhan oksigen meningkat 20% dan basal tidal volume meningkat
9%. Sebagai akibatnya sistem kardiovaskuler bekerja lebih berat.
Hiperpireksia secara langsung dapat menyebabkan kerusakan jaringan.

E. PATOFISIOLOGI

Manusia ialah makhluk yang homeotermal, artinya makhluk yang


dapat mempertahankan suhu tubuhnya walaupun suhu di sekitarnya
berubah. Yang dimaksud dengan suhu tubuh ialah suhu bagian dalam
tubuh seperti viscera, hati, otak. Suhu rectal merupakan penunjuk suhu
yang baik.Suhu rectal diukur dengan meletakkan thermometer sedalam 3 –
4 cm dalam anus selama 3 menit sebelum dibaca. Suhu mulut hampir sama
dengan suhu rectal. Suhu ketiak biasanya lebih rendah daripada suhu
rectal. Pengukuran suhu aural pada telinga bayi baru lahir lebih susah
dilakukan dan tidak praktis. Suhu tubuh manusia dalam keadaan istirahat
berkisar antara 36oC – 37oC, yang dapat dipertahankan karena tubuh
mampu mengatur keseimbangan antara pembentukan dan pengeluaran
panas.
Panas dapat berasal dari luar tubuh seperti iklim atau suhu udara di
sekitarnya yang panas. Panas dapat berasal dari tubuh sendiri.
Pembentukan panas oleh tubuh (termogenesis) merupakan hasil
metabolisme tubuh. Dalam keadaan basal tubuh membentuk panas 1 kkal/
kg BB/ jam. Jumlah panas yang dibentuk alat tubuh, seperti hati dan
jantung relative tetap, sedangkan panas yang dibentuk otot rangka
berubah-ubah sesuai dengan aktifitas. Bila tidak ada mekanisme
pengeluaran panas, dalam keadaan basal suhu tubuh akan naik 1oC/ jam,
sedang dalam aktivitas normal suhu tubuh akan naik 2oC/ jam.
Pengeluaran panas terutama melalui paru dan kulit. Udara ekspirasi
yang dikeluarkan paru jenuh dengan uap air yang berasal dari selaput
lendir jalan nafas. Untuk menguapkan 1 ml air diperlukan panas sebanyak
0,58 kkal. Pengeluaran panas melalui kulit dapat dengan dua cara yaitu:
a. Konduksi – konveksi :pengeluaran panas melalui cara ini bergantung
kepada perbedaan suhu kulit dan suhu udara sekitarnya.
b. Penguapan air :air keluar dari kulit terutama melalui kelenjar keringat.
Dapat juga melalui perspirasi insensibilitas, difusi air melalui
epidermis.

Suhu tubuh diatur oleh hipotalamus melalui sistem umpan balik


yang rumit. Hipotalamus karena berhubungan dengan talamus akan
menerima seluruh impuls eferen. Saraf eferen hipotalamus terdiri atas
saraf somatik dan saraf otonom. Karena itu hipotalamus dapat mengatur
kegiatan otot, kelenjar keringat, peredaran darah dan ventilasi paru.
Keterangan tentang suhu bagian dalam tubuh diterima oleh reseptor di
hipotalamus dari suhu darah yang memasuki otak. Keterangan tentang
suhu dari bagian luar tubuh diterima reseptor panas di kulit yang
diteruskan melalui sistem aferen ke hipotalamus. Keadaan suhu tubuh ini
diolah oleh thermostat hipotalamus yang akan mengatur set point
hipotalamus untuk membentuk panas atau untuk mengeluarkan panas.

Hipotalamus anterior merupakan pusat pengatur suhu yang bekerja bila


terdapat kenaikan suhu tubuh. Hipotalamus anterior akan mengeluarkan
impuls eferen sehingga akan terjadi vasodilatasi di kulit dan keringat akan
dikeluarkan, selanjutnya panas lebih banyak dapat dikeluarkan dari tubuh.
Hipotalamus posterior merupakan pusat pengatur suhu tubuh yang bekerja
pada keadaan dimana terdapat penurunan suhu tubuh. Hipotalamus
posterior akan mengeluarkan impuls eferen sehingga pembentukan panas
ditingkatkan dengan meningkatnya metabolisme dan aktifitas otot rangka
dengan menggigil (shivering), serta pengeluaran panas akan dikurangi
dengan cara vasokonstriksi di kulit dan pengurangan keringat.

PATHWAY

F. PENGOBATAN

Dalam menanggulangi hiperpireksia ada 3 faktor yang perlu dikerjakan,


yaitu (1) menurunkan suhu tubuh secara simptomatis, (2) pengobatan
penunjang dan (3) mencari dan mengobati penyebab.
1. Menurunkan suhu tubuh secara simptomatis
Dalam menurunkan suhu tubuh secara simptomatik ada 2 hal tindakan
yang perlu dipisahkan, yaitu: a) mengeluarkan panas tubuh secara
fisik dan b) menggunakan obat-obat.
a. mengeluarkan panas tubuh secara fisik, ialah:
 Menempatkan penderita dalam ruangan yang dingin dengan
aliran udara yang baik, misalnya dengan kipas angin agar
sirkulasi udara bertambah
 Membuka baju penderita
 Surface cooling yaitu kompres secara intensif pada seluruh
bagian tubuh dengan es, air es atau dengan selimut hipotermik
 Menggunakan alkohol untuk mendinginkan tubuh harus hati-
hati karena gas yang turut terisap dapat menyebabkan
hipoglikemia dan koma.
 Memakai air es untuk membilas lambung atau enema atau
infus sukar dilakukan dan terdapat gejala sampingan yang
tidak baik untuk penderita.

Cara mengeluarkan panas tubuh secara fisik ini dapat digunakan


untuk golongan demam yang disebabkan oleh set point
hipotalamus yang meningkat, set point hipotalamus yang normal
dan pada kerusakan pusat pengatur suhu. Tetapi bila hanya cara
ini saja yang dipergunakan untuk set point hipotalamus yang
meningkat, terjadi perangsangan pembentukan panas lebih
banyak lagi dan akan mempertinggi metabolisme, suhu hanya
sebentar saja turun dan timbul gejala menggigil. Oleh sebab itu
pada keadaan set point hipotalamus yang meningkat dibutuhkan
tambahan obat yang dapat menurunkan set point di hipotalamus.

Pengeluaran panas secara fisik dapat dilakukan dengan cara


external cooling dan internal cooling :
 External Colling (Surface Cooling)
Dilakukan dengan mengompres seluruh tubuh dengan air, air
es atau dengan memakai hypothermic matress, yaitu suatu alat
berupa selimut yang suhunya dapat diatur dengan mesin. Bila
memakai es, jangan meletakkan es pada satu tempat lebih lama
dari satu menit.Pemakaian alkohol untuk mendinginkan kulit,
harus dilakukan dengan hati-hati, karena dapat menimbulkan
koma, hipoglikemi dan hipothermi karena inhalasi alkohol
yang menguap, lebih-lebih bila ruangan perawatan sempit
dengan ventilasi tidak baik.
 Internal cooling
Dilakukan dengan membilas lambung dan rektum dengan
larutan garam fisiologik yang dingin. Dapat juga dengan
memakai cairan infus yang sedingin es. Internal cooling sukar
melakukannya dan masih merupakan cara yang kontroversal.

b. menggunakan obat-obatan
Obat-obatan yang dipakai adalah antipretik yang tujuannya untuk
menurunkan set point hipotalamus. Obat ini bekerja melalui
inhibisi biosintesis prostaglandin E, sehingga mencegah atau
menghambat pengaruh pirogen endogen. Bila set point diturunkan,
pembentukan panas dikurangi dan pengeluaran panas tubuh akan
meningkat, sehingga suhu tubuh akan menurun dan bahkan pada
panas yang tak terlalu tinggi kompres es/ selimut hipotermik tidak
diperlukan. Untuk mencegah menggigil karena vasodilatasi di
kulit dan pengeluaran keringat, penderita dapat diselimuti. Obat
antipiretik yang dipakai misalnya aspirin. Dosis aspirin adalah 60
mg/ tahun/ kali, sehari diberikan 3 kali atau untuk bayi di bawah 6
bulan diberikan 10 mg/ bulan/ kali, sehari diberikan 3 kali. Kadar
maksimal dalam darah tercapai dalam 2 jam pemberian oral, tetapi
half life meningkat dengan menaikkan dosis sehingga ada bahaya
akumulasi sebagai akibat pemberian yang sering unutk
memberantas demam. Gejala sampingan aspirin yang perlu
diketahui adalah perdarahan saluran pencernaan, memberatkan
asma dan mengganggu fungsi sel-sel trombosit.

2. Pengobatan Penunjang
Pengobatan penunjang harus segra dan bersamaan dengan
menurunkan suhu tubuh secara simptomatis. Hal ini bergantung pada
gejala yang timbul, tetapi meskipun demikian kita harus waspada
sebab sewaktu-waktu gejala yang memberatkan penderita akan
timbul. Penatalaksanaan terdiri atas :
a. Mengusahakan jalan napas yang bebas agar oksigenasi terjamin,
kalau perlu dilakukan intubasi atau trakeotomi
b. Pasanglah dan pertahankan infus untuk menjamin pemasukan
cairan secara teratur dan mempertahankan keseimbangan
elektrolit.
c. Bila penderita gelisah dapat diberikan sedativa karena
kegelisahan dapat menambah pembentukan panas
d. Bila terjadi keadaan menggigil dapat diberikan klorpromazin
dengan dosis 2 – 4 mg/ kg BB dibagi dalam 3 dosis. Pada heat
stroke kecuali pengobatan penurunan suhu secara fisik, dapat
diberikan klorpromazin untuk mencegah vasokonstriksi
pembuluh darah kulit akibat bendungan yang terlalu cepat karena
tindakan secara fisik tersebut.
e. Bila terdapat kejang segera hentikan kejangnya
f. Bila timbul DIC (disseminated intravascular coagulation)
tanggulangi secepatnya. Sebenarnya DIC tidak memerlukan
pengobatan bila penyebabnya diobati dengan tepat, tetapi pada
anak bila terjadi perdarahan hebat dapat diberikan heparin
dengan dosis 25 unit per kg BB dalam 1 jam di dalam infuse
secara kontinu atau 100 unit per kg BB tiap 4 – 6 jam sekali
secara intravena.
g. Bila terjadi hipoksia yang dapat mengakibatkan edema otak
dapat diberikan kortison dengan dosis 20 -30 mg/ kg BB dibagi
dalam 3 dosis atau sebaiknya dexamethasone ½ - 1 ampul setiap
6 jam sampai keadaan membaik.

3. Mencari dan mengobati penyebab


Untuk hal ini diperlukan pemeriksaan lengkap baik secara umum
maupun neurologik. Factor infeksi sangat penting dan perlu
dikerjakan pemeriksaan darah lengkap termasuk biakan dan pungsi
lumbal.
Dengan penatalaksanaan yang baik mengeani hiperpireksia dan
ditemukan penyebabnya umumya penderita dapat sembuh. Misalnya
pada hipertermia malignan akibat anestesia bila tidak waspada dan
tidak diketahui akan berakibat fatal.
G. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS HIPERPIREKSIA

PENGKAJIAN
1. Melakukan anamnese riwayat penyakit meliputi: sejak kapan timbul
demam, gejala lain yang menyertai demam (miasalnya: mual muntah,
nafsu makan, diaforesis, eliminasi, nyeri otot dan sendi dll), apakah
anak menggigil, gelisah atau lhetargi, upaya yang harus dilakukan.
2. Melakukan pemeriksaan fisik.
3. Melakukan pemeriksaan ensepalokaudal: keadaan umum, vital sign.
4. Melakukan pemeriksaan penunjang lain seperti: pemeriksaan
laboratotium, foto rontgent ataupun USG

Diagnosa Keperawatan yang sering muncul


1. Hipertemia berhubungan dengan proses penyakit
2. Resiko injury berhubungan dengan infeksi mikroorganisme
3. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake yang
kurang dan diaporesisi

Discharge Planning
1. Ajarkan keluarga mengenal tanda-tanda kekambuhan dan laporkan
dokter atau perawat
2. Instruksikan untuk memberikan pengobatan sesuai dengan dosis dan
waktu
3. Ajarkan bagaimana mengukur suhu tubuh dan intervensi
4. Intruksikan untuk kontrol ulang
5. Jelaskan factor penyebab demam dan menghindari factor pencetus.
Rencana Keperawatan

No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi (NIC)


Keperawatan Hasil (NOC)
1. Hipertemia Setelah dilakukan Mengontrol panas
berhubungan tindakan perawatan Monitor suhu minimal tiap 2
dengan proses selama ….X 24 jam, jam
penyakit. pasien mengalami Monitor suhu basal secara
Batasan keseimbangan kontinyu sesui dengan
karakeristik : termoregulasi dengan kebutuhan.
kenaikan kriteria hasil : Monitor TD, Nadi, dan RR
suhu tubuh diatas Suhu tubuh dalam Monitor warna dan suhu kulit
rentang normal rentang normal 35,9 C – Monitor penurunan tingkat
serangan 37,5 C kesadaran
atau konvulsi Nadi dan RR dalam Monitor WBC,Hb, Hct
(kejang) rentang normal Monitor intake dan output
kulit Tidak ada perubahan Berikan anti piretik
kemerahan warna kulit Berikan pengobatan untuk
pertambahan Tidak ada pusing mengatasi penyebab demam
RR Selimuti pasien
takikardi Lakukan Tapid sponge
saat disentuh Berikan cairan intra vena
tangan terasa Kompres pasien pada lipat
hangat paha, aksila dan leher
Tingkatkan sirkulasi udara
Berikan pengobatan untuk
mencegah terjadinya menggigil
Temperature Regulation
Monitor tanda- tanda
hipertermi
Tingkatkan intake cairan dan
nutrisi
Ajarkan pada pasien cara
mencegah keletihan akibat panas
Diskusikan tetang pentingnya
pengaturan suhu dan
kemungkinan efek negative dari
kedinginan
Berikan obat antipiretik
sesuai dengan kebutuhan
Gunakan matras dingin dan
mandi air hangat untuk
mengatasi gangguan suhu tubuh
sesuai dengan kebutuhan
Lepasakan pakaian yang
berlebihan dan tutupi pasien
dengan hanya selembar pakaian.
Vital Sign Monitoring
Monitor TD, Nadi, Suhu, dan
RR
Catat adanya fluktuasi tekanan
darah
Monitor vital sign saat pasien
berdiri, duduk dan berbaring
Auskultasi TD pada kedua
lengan dan bandingkan
Monitor TD, Nadi, dan RR
sebelum, selama, dan sesudah
aktivitas
Monitor kualitas dari nadi
Monitor frekuensi dan irama
pernapasan
Monitor suara paru
Monitor pola pernapasan
abnormal
Monitor suhu, warna dan
kelembaban kulit
Monitor sianosis perifer
Monitor adanya tekanan nadi
yang melebar , bradikardi,
peningkatan sistolik (Chusing
Triad)
Identifikasi penyebab dari
perubahan vital Sign
2. Resiko injury Setelah dilakukan Sediakan lingkungan yang
berhubungan tindakan keperawatan aman untuk pasien
dengan infeksi selama …x 24 jam, pasien Identifikasi kebutuhan
mikroorganisme tidak mengalami injury. keamanan pasien sesuai dengan
Risk Injury kondisi fisik dan fungsi kognitif
Kriteria Hasil : pasien dan riwayat penyakit
Klien terbebas dari cidera terdahulu pasien
Klien mampu menjelaskan Menghindari lingkungan
cara/metode untuk yang berbahaya misalnya
mencegah injury atau memindahkan perabotan
cedera Memasang side rail
Klien mampu menjelaskan tempat tidur
factor resiko dari Menyediakan tempat tidur
lingkunga atau perilaku yang nyaman dan bersih
personal Meletakan saklar lampu
Mampu memodifikasi ditempat yang mudah dijangkau
gaya hidup untuk pasien
mencegah injury Membatasi pengunjung
Menggunakan fasilitas Memberikan penerangan
kesehatan yang ada yang cukup
Mampu mengenali Menganjurkan keluarga
perubahan status untuk menemani pasien
kesehatan Mengontrol lingkungan
dari kebisingan
Memindahkan barang-
barang yang dapat
membahayakan
Berikan penjelasan pada
pasien dan keluarga atau
pengunjung adanya perubahan
status kesehatan dan penyebab
penyakit.

3 Resiko kekurangan Setelah dilakukan Fluid management:


volume cairan tindakan keperawatan Pertahankan catatan intake
dengan faktor selama …x 24 jam, fluid dan output yang akurat
resiko faktor yang balance dengan kriteria Monitor status dehidrasi(
mempengaruhi hasil : kelembaban membrane mukosa,
kebutuhan cairan Mempertahankan nadi adekuat, tekanan darah
(hipermetabolik) urine output sesuai dengan ortostatik)
usia dan BB, BJ urine Monitor vital sign
normal, HT normal Monitor asupan makanan/
Tekanan darah, nadi, cairan dan hitung intake kalori
suhu tubuh dalam batas harian
normal Lakukan terapi IV
Tidak ada tanda- tanda Monitor status nutrisi
dehidrasi, elastisitas turgor Berikan cairan
kulit baik, membrane Berikan cairan IV pada suhu
mukosa lembab, tidak ada ruangan
rasa haus yang berlebihan. Dorong masukan oral
Berikan penggantian
nasogastrik sesuai output
Dorong keluarga untuk
membantu pasien makan
Anjurkan minum kurang
lebih 7-8 gelas belimbing
perhari
Kolaborasi dokter jika tanda
cairan berlebih muncul
memburuk
Atur kemungkinan transfusi
DAFTAR PUSTAKA
Huda, Amien. 2010. Asuhan Keperawatan, Maternitas, Anak, Bedah dan penyakit
Dalam. Jakarta. EGC

Arief. 2010. Buku Saku patofisiologi. Jakarta. Edisi 8

https://koaskamar13.wordpress.com/2007/09/21/hiper-pireksia/
http://khakarangga.blogspot.co.id/2013/01/asuhan-keperawatan-pasien-dengan-
febris.html
http://kireihimee.blogspot.co.id/2009/07/hiperpireksia.html