You are on page 1of 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap organ indra menerima stimulus tertentu berupa kesan yang sesuai
dengan organ indra yang menerima stimulus yang kemudian menghasilkan dan
mengirim impuls saraf. Interprestasi dari semua organ indra yang dapat
diklasifikasikan yaitu organ umum, seperti reseptor peraba tersebar di seluruh tubuh
dan organ indra khusus. Reseptor sensoris merupakan bagian dari neuron atau sel
yang membantu potensial aksi dalam neuron, reseptor ini disertai dengan sel bukan
saraf yang mengelilinginya dan membentuk organ indra. Indra sensori persepsi
adalah mata dan telinga.
Mata adalah organ sensorik kompleks yang mempunyai fungsi optikal untuk
melihat dan saraf untuk transduksi (mengubah bentuk energi ke bentuk lain) bentuk
sinar. Aparatus optik mata membentuk dan mempertahankan ketajaman fokus objek
dalam retina. Fotoreseptor dalam retina mengubah rangsangan sinar ke dalam bentuk
sinyal saraf kemudian mentrasmisikannya ke pusat visual di otak melalui elemen
saraf integratif. Selain mata, juga ada telinga merupakan organ sensorik yang
berfungsi untuk pendengaran.
Dari penjelasan di atas, kelompok tertarik untuk membahas lebih lanjut
mengenai anatomi dan fisiologi sistem sensori persepsi pada dewasa dan lansia.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas di mata kuliah Keperawatan Sistem
Sensori.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka di dapatkan rumusan masalah sebagai berikut :
1.2.1 Bagaimana anatomi dan fisiologi sistem sensori persepsi pada dewasa?
1.2.2 Bagaimana perubahan fisiologi sistem sensori persepsi pada lansia?
1.3 Manfaat
Memberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai anatomi dan fisiologi
sensori persepsi dari dewasa sampai lansia dan memberikan pemahaman kepada
perawat mengenai perubahan fisiologi pada lansia sehingga dapat menjadi bahan
pertimbangan perawat dalam menegakkan diagnosa keperawatan.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Anatomi dan Fisiologi Mata pada Dewasa dan Lansia


2.1.1 Anatomi Mata
Mata adalah sistem optik yang memfokuskan berkas cahaya pada fotoresptor
yang mengubah energy cahaya menjadi impuls saraf.
Struktur Aksesori Mata
1. Orbita adalah lekukan tulang yang berisi bola mata. Hanya seperlima rongga
orbita yang terisi bola mata : sisa rongga berisi jaringan ikat dan adiposa, serta
otot mata ekstrinsik yang berasal dari orbita dan menginsersi bola mata. Ada
dua lubang pada orbit; foramen optic berfungsi untuk lintasan saraf dan arteri
yang berkaitan dengan otot mata
2. Tiga pasang otot mata (dua pasang otot rektus dan satu pasang otot oblik)
memungkinkan mata untuk bergerak bebas kearah ventrikal, horizontal dan
menyilang
3. Alis mata melindungi mata dari keringat; kelopak mata (palpebrae) atas dan
bawah melindungi mata dari kekeringan dan debu
4. Fisura palpebral, atau ruang antara kelopak mata atas dan bawah, ukurannya
bervariasi diantara individu dan menentukan penampakan mata
5. Kantus medial terbentuk dari sambungan (juriction) medial kelopak mata atas
dan bawah; kantus lateral terbentuk dari sambungan lateral kelopak mata atas
dan bawah
6. Karunkel adalah elevasi kecil pada sambungan medial. Bagian ini berisi
kelenjar sebasea dan kelenjar keringat
7. Konjungtiva adalah lapisan pelindung tipis epitelium yang melapisi setiap
kelopak (konjungtiva palpebral) dan terlipat kembali di atas permukaan anterior
bola mata (bulbar, atau okular, konjungtiva)
8. Lempeng tarsal pada setiap kelopak mata adalah hubungan jaringan ikat yang
rapat. KelenjarMelbornian, yang merupakan pembesaran kelenjar sebasea pada
lempeng tarsal, mensekresi barier berminyak untuk mencegah air mata yang
berlebihan pada kelopak mata bagian bawah
9. Aparatus lakrimal penting untuk produksi dan pengaliran air mata. Air mata
mengandung garam, mukosa dan lisozim, suatu bakteriosida. Cairan ini
membasahi permukaan mata dan mempertahankan kelembabannya. Berkedip
menekan kelenjar lakrimal dan menyebabkan produksi air mata. Air mata keluar
melalui pungtum papilla lakrimal, yang menyambung kantong lakrimal.
Kantong membuka kedalam duktus nasolakrimal yang pada gilirannya akan
masuk kerongga nasal.
Struktur mata
1. Lapisan terluar yang keras pada bola mata adalah tunika fibrosa. Bagian
posterior tunika fibrosa adalah sklera opaque yang berisi jaringan ikat fibrosa
putih
a. Sklera memberi bentuk pada bola mata dan memberikan tempat perlekatan
untuk otot ekstrinsik
b. Kornea adalah perpanjangan anterior yang transparan di bagian depan mata.
Bagian ini mentransmisi cahaya dan memfokuskan berkas cahaya
2. Lapisan tengah bola mata disebut tunika vaskular (uvea) dan tersusun dari
koroid, badan siliaris dan iris.
a. Lapisan koroid adalah bagian yang sangat terpigmentasi untuk mencegah
refleksi internal berkas cahaya. Bagian ini juga sangat tervaskularisasi untuk
memberikan nutrisi pada mata, dan elastic sehingga dapatmenarik ligamen
suspensori.
b. Badan siliaris, suatu penebalan di bagian anterior lapisan koroid,
mengandung pembuluh darah dan otot siliaris. Otot melekat pada ligamen
suspensorik, tempat perlekatan lensa. Otot ini penting dalam akomodasi
penglihatan, atau kemampuan untuk mengubah focus dari objek berjarak
jauh ke objek berjarak dekat di depan mata.
c. Iris, perpanjangan sisi anterior koroid, merupakan bagian mata yang
berwarna bening. Bagian ini terdiri dari jaringan ikat dan otot radialis serta
sirkulasi, yang berfungsi untuk mengendalikan diameter pupil.
d. Pupil adalah ruang terbuka yang bulat pada iris yang harus dilalui cahaya
untuk dapat masuk ke interior mata.
3. Lensa adalah struktur bikonveksi yang bening tepat di belakang pupil.
Elastisitasnya sangat tinggi, suatu sifat yang akan menurun seiring proses
penuaan.
4. Rongga mata. Lensa pemisah interior mata menjadi dua rongga: rongga anterior
dan rongga posterior.
a. Rongga anterior terbagi menjadi dua ruang
1. Ruang anterior : terletak di belakang kornea dan di depan iris: ruang
posterior terletak di depan lensa dan di belakang iris
2. Ruang tersebut berisi aqueous humor, suatu cairan bening yang
diproduksi prosesus siliaris untuk mencukupi kebutuhan nutrisi lensa
dankornea. Aqueous humor mengalir ke saluran Schlemm dan masuk ke
sirkulasi darah vena
3. Tekanan intra ocular pada aqueous humor penting untuk
mempertahankan bentuk bola mata. Jika aliran aqueous humor
terhambat, tekanan akan meningkat dan mengakibatkan kerusakan
penglihatan, suatu kondisi yang disebut glaukoma.
b. Rongga posterior terletak diantara lensa dan retina dan berisi vitreus humor.
Semacam gel tranparan yang juga berperan untuk mempertahankan posisi
retina terhadap kornea
5. Retina, lapisan terdalam mata, adalah lapisan yang tipis dan transparan. Lapisan
ini terdiri dari lapisan jaringan saraf dalam.
a. lapisan terpigmentasi luar pada retina melekat pada lapisan koroid. Lapisan
ini adalah lapisan tunggal sel epitel kuboidal yang mengandung pigmen
melanin dan berfungsi untuk menyerap cahaya berlebih dan mencegah
refleksi internal berkas cahaya yang melalui bola mata. Lapisan ini juga
menyimpan vitamin A
b. lapisan jaringan saraf dalam (optikal). yang terletak bersebelahan dengan
lapisan terpigmentasi, adalah struktur kompleks yang terdiri dari berbagai
jenis neuron yang tersusun dalam sedikitnya sepuluh lapisan terpisah.
(1) sel batang dan kerucut adalah reseptor fotosensitif yang terletak
berdekatan dengan lapisan terpigmentasi. Sel batang adalah neuron
silindris bipolar yang bermodifikasi menjadi dendrit sensitif cahaya.
Setiap mata berisi sekitar 120 juta sel batang terletak terutama pada
perifer retina. Sel batang tidak sensitif terhadap warna dan
bertanggung jawab untuk penglihatan di malam hari. Sel kerucut
berperan dalam persepsi warna. Sel ini berfungsi pada tingkat
intensitas cahaya yang tinggi dan berperan dalam penglihatan di siang
hari.
(2) neuron bipolar membentuk lapisan tengah dan menghubungkan sel
batang dan sel kerucut ke sel-sel ganglion.
(3) sel ganglion mengandung akson yang bergabung pada regia khusus
dalam retina untuk membentuk saraf optik.
(4) sel horizontal dan sel amakrin merupakan sel lain yang ditemukan
dalam retina, sel ini berperan untuk menghubungkan sinaps-sinaps
lateral.
(5) cahaya masuk melalui lapisan ganglion, lapisan bipolar dan badan sel
batang serta kerucut untuk menstimulasi prosesus dendrit dan memicu
impuls saraf. Kemudian impuls saraf menjalar dengan arah terbaik
melalui kedua lapisn sel saraf.
c. Bintik buta (diskus optik) adalah titik keluar saraf optik. Karena tidak ada
fotoreseptor pada area ini. Maka tidak ada sensasi penglihatan yang terjadi
saat cahaya jatuh ke area ini
d. Lutea makula adalah area kekuningan yang terletak agak lateral terhadap
pusat
e. Fovea adalah pelekukan sentral makula lutea yang tidak memiliki sel
batang dan hanya mengandung sel kerucut. Bagian ini adalah pusat visual
mata : bayangan yang terfokus disini akan diinterpretasi dengan jelas dan
tajam oleh otak.
f. jalur visual ke otak
(1) saraf optik terbentuk dari akson sel-sel ganglion yang keluar dari matan
dan bergabung tepat disisi superior kelenjar hipofisis membentuk klasma
optik.
(2) pada kiasma optik, serabut neuron yang berasal dari separuh bagian
temporal (lateral) setiap retina tetap berada disisi yang sama sementara
serabut neuron yang berasal dari separuh bagian nasal (medial) setiap
retina menyilang ke sisi yang berlawanan.
(3) setelah kiasma optik, serabut akson membentuk traktus optik yang
memanjang untuk bersinapsis dengan neuron dalam nuklei gerikulasi
lateral talamus. Aksonnya menjalar ke korteks lobus oksipital.
(4) sebagian akson berhubungan dengan kolikuli superior, okulomotorik, dan
nuklei pratektum untuk berpartisipasi dalam refleks pupilaris dan silliaris.
2.1.2 Fisiologi Mata pada Dewasa
Mata adalah organ fotosensitif yang sangat berkembang dan rumit, yang
memungkinkan analisis cermat dari bentuk, intensitas cahaya, dan warna yang
dipantulkan objek. Mata terletak dalam struktur bertulang yang protektif di
tengkorak, yaitu rongga orbita. Setiap mata terdiri atas sebuah bola mata fibrosa
yang kuat untuk mempertahankan bentuknya, suatu sistem lensa untuk
memfokuskan bayangan, selapis sel fotosensitif, dan suatu sistem sel dan saraf yang
berfungsi mengumpulkan, memproses, dan meneruskan informasi visual ke otak
(Junqueira, 2007).
Mata adalah organ fotosensitif yang sangat berkembang dan rumit, yang
memungkinkan analisis cermat dari bentuk, intensitas cahaya, dan warna yang
dipantulkan objek. Mata terletak dalam struktur bertulang yang protektif di
tengkorak, yaitu rongga orbita. Setiap mata terdiri atas sebuah bola mata fibrosa
yang kuat untuk mempertahankan bentuknya, suatu sistem lensa untuk
memfokuskan bayangan, selapis sel fotosensitif, dan suatu sistem sel dan saraf yang
berfungsi mengumpulkan, memproses, dan meneruskan informasi visual ke otak
(Junqueira, 2007).
Untuk membawa sumber cahaya jauh dan dekat terfokus di retina, harus
dipergunakan lensa yang lebih kuat untuk sumber dekat. Kemampuan menyesuaikan
kekuatan lensa sehingga baik sumber cahaya dekat maupun jauh dapat difokuskan di
retina dikenal sebagai akomodasi. Kekuatan lensa bergantung pada bentuknya, yang
diatur oleh otot siliaris. Otot siliaris adalah bagian dari korpus siliaris, suatu
spesialisasi lapisan koroid di sebelah anterior. Pada mata normal, otot siliaris
melemas dan lensa mendatar untuk penglihatan jauh, tetapi otot tersebut
berkontraksi untuk memungkinkan lensa menjadi lebih cembung dan lebih kuat
untuk penglihatan dekat. Serat-serat saraf simpatis menginduksi relaksasi otot
siliaris untuk penglihatan jauh, sementara sistem saraf parasimpatis menyebabkan
kontraksi otot untuk penglihatan dekat (Sherwood, 2001).
Proses visual dimulai saat cahaya memasuki mata, terfokus pada retina dan
menghasilkan sebuah bayangan yang kecil dan terbalik. Ketika dilatasi maksimal,
pupil dapat dilalui cahaya sebanyak lima kali lebih banyak dibandingkan ketika
sedang konstriksi maksimal. Diameter pupil ini sendiri diatur oleh dua elemen
kontraktil pada iris yaitu papillary constrictor yang terdiri dari otot-otot sirkuler dan
papillary dilator yang terdiri dari sel-sel epitelial kontraktil yang telah termodifikasi.
Sel-sel tersebut dikenal juga sebagai myoepithelial cells (Saladin, 2006).
Jika sistem saraf simpatis teraktivasi, sel-sel ini berkontraksi dan melebarkan
pupil sehingga lebih banyak cahaya dapat memasuki mata. Kontraksi dan dilatasi
pupil terjadi pada kondisi dimana intensitas cahaya berubah dan ketika kita
memindahkan arah pandangan kita ke benda atau objek yang dekat atau jauh. Pada
tahap selanjutnya, setelah cahaya memasuki mata, pembentukan bayangan pada
retina bergantung pada kemampuan refraksi mata (Saladin, 2006).
Beberapa media refraksi mata yaitu kornea (n=1.38), aqueous humour
(n=1.33), dan lensa (n=1.40). Kornea merefraksi cahaya lebih banyak dibandingkan
lensa. Lensa hanya berfungsi untuk menajamkan bayangan yang ditangkap saat mata
terfokus pada benda yang dekat dan jauh. Setelah cahaya mengalami refraksi,
melewati pupil dan mencapai retina, tahap terakhir dalam proses visual adalah
perubahan energi cahaya menjadi aksi potensial yang dapat diteruskan ke korteks
serebri. Proses perubahan ini terjadi pada retina (Saladin, 2006).
Retina memiliki dua komponen utama yakni pigmented retina dan sensory
retina. Pada pigmented retina, terdapat selapis sel-sel yang berisi pigmen melanin
yang bersama-sama dengan pigmen pada koroid membentuk suatu matriks hitam
yang mempertajam penglihatan dengan mengurangi penyebaran cahaya dan
mengisolasi fotoreseptor-fotoreseptor yang ada. Pada sensory retina, terdapat tiga
lapis neuron yaitu lapisan fotoreseptor, bipolar dan ganglionic. Badan sel dari setiap
neuron ini dipisahkan oleh plexiform layer dimana neuron dari berbagai lapisan
bersatu. Lapisan pleksiform luar berada diantara lapisan sel bipolar dan ganglionic
sedangkan lapisan pleksiformis dalam terletak diantara lapisan sel bipolar dan
ganglionic (Seeley, 2006).
Setelah aksi potensial dibentuk pada lapisan sensori retina, sinyal yang
terbentuk akan diteruskan ke nervus optikus, optic chiasm, optic tract, lateral
geniculate dari thalamus, superior colliculi, dan korteks serebri (Seeley, 2006).
2.1.3 Fisiologi Mata pada Lansia

Pada indera penglihatan atau mata pada usia lansia mengalami perubahan
struktur sehingga mengalami kemunduran dari fungsi secara normal, contoh pada
bagian lensa terdiri sel-sel ynag secra normal sel-selnya selalu diaganti tetapi pada
bagian tengah digantikan tetapi mengalami kesulitan ganda selain posisinya yang
ditengah juga jauh dari aquos humerous sebagai suplai nitrisi, sehingga disebut sel
tertua, karena bertambahnya usia maka sel bagian tengah ini mengalami kematian
sehingga menjadi kaku, karena kaku maka menjadikan tidak lentur, lensa menjadi
tidak mampu mengambil bentuk sferis (bulat) yang digunakan untuk akomodasi
penglihatan jarak dekat.

Perubahan penglihatan dan fungsi mata dianggap normal dalam proses


penuaan termasuk penurunan kemampuan dalam melakukan akomodasi, konstriksi
pupil, akibat penuan, dan perubahan warna serta kekeruhan lansa mata, yaitu katarak.

Semakin bertambahnya usia, lemak akan berakumulasi di sekitar kornea dan


membentuk lingkaran berwarna putih atau kekuningan di antara iris dan sklera.
Kejadian ini disebut arkus sinilis, biasanya ditemukan pada lansia.

Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada penglihatan akibat proses
menua:

1. Terjadinya awitan presbiopi dengan kehilangan kemampuan akomodasi.


Kerusakan ini terjadi karena otot-otot siliaris menjadi lebih lemah dan kendur,
dan lensa kristalin mengalami sklerosis, dengan kehilangan elastisitas dan
kemampuan untuk memusatkan penglihatan jarak dekat. Implikasi dari hal ini
yaitu kesulitan dalam membaca huruf-huruf yang kecil dan kesukaran dalam
melihat dengan jarak pandang dekat.
2. Penurunan ukuran pupil atau miosis pupil terjadi karena sfingkter pupil
mengalami sklerosis. Implikasi dari hal ini yaitu penyempitan lapang pandang
dan mempengaruhi penglihatan perifer pada tingkat tertentu.
3. Perubahan warna dan meningkatnya kekeruhan lensa kristal yang terakumulasi
dapat menimbulkan katarak. Implikasi dari hal ini adalah penglihatan menjadi
kabur yang mengakibatkan kesukaran dalam membaca dan memfokuskan
penglihatan, peningkatan sensitivitas terhadap cahaya, berkurangnya
penglihatan pada malam hari, gangguan dalam persepsi kedalaman atau
stereopsis (masalah dalam penilaian ketinggian), perubahan dalam persepsi
warna.
4. Penurunan produksi air mata. Implikasi dari hal ini adalah mata berpotensi
terjadi sindrom mata kering.
5. Pada masa dewasa akhir penurunan indera penglihatan bisa mulai dirasakan
dan terjadi mulai awal masa dewasa tengah. Adaptasi terhadap gelap lebih
menjadi lambat, yang berarti bahwa orang yang lanjut usia membutuhkan
waktu lama untuk memulihkan kembali penglihatan mereka ketika keluar dari
ruangan yang terang menuju ke tempat yang agak gelap.

2.2 Anatomi dan Fisiologi Telinga pada Dewasa dan Lansia

2.2.1 Anatomi Telinga


Struktur Telinga
Telinga merupakan alat pendengaran sekaligus keseimbangan didalam tubuh
kita. dibagi menjadi bagian luar, tengah dan dalam.
1. Telinga luar terdiri dari pinna (aurikula) dan kanalis auditorius eksternus,
dipisahkan dari telinga tengah oleh struktur seperti cakram yang dinamakan
membrana timpani (gendang telinga). Telinga terletak pada kedua sisi kepala
kurang lebih setinggi mata. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh kulit dan
tersusun terutama kartilago, kecuali lemak dan jaringan bawah kulit pada lobus
telinga. Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara dan
perjalanannya sepanjang kanalis auditorus eksternus. Tepat didepan meatus
ujung jari di meatus auditorus eksternus ketika membuka dan menutup mulut.
2. Membran Timpani (gendang telinga) adalah perbatasan telinga tengah.
Membran timpani membentuk kerucut dan dilapisi kulit pada permukaan
eksternal dan membran mukosa pada permukaan internal. Membran ini
memisahkan telinga luar dan telinga tengah. Dan memiliki tegangan, ukuran,
dan ketebalan yang sesuai untuk menggetarkan gelombang bunyi secara
mekanis.
3. Telinga Tengah terletak di rongga berisi udara dalam bagian petrosus tulang
temporal. Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus,
inkus stapes. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian, otot, dan
ligamen yang membantu hantaran suara. Ada dua jendela kecil (jendela oval
dan dinding medial telinga tengah, yang memisahkan telinga tengah dan
telinga dalam). Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara. Jendela bulat
ditutupi oleh membrana sangat tipis, dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang
agak tipis, atau struktur berbentuk cincin.
Tuba Eustachius (auditori) menghubungkan telinga tengah dengan
faring. Lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35mm,.normalnya, tuba
eustachius tertutup. Namun, dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika
melakukan manuver Valsava atau menguap dan menelan. Tuba berfungsi
sebagai drainase untuk sekresi dannmenyeimbangkan tekanan dalam telinga
tengah dengan tekanan atmosfer.
4. Telinga Dalam (internal) berisi cairan dan terletak dalam tulang temporal,
disisi medial telinga tengah. Telinga dalam terdiri dari dua bagian : labirin
tulang dan labirin membranosa didalam labirin tulang.
a. labirin tulang adalah ruang berliku berisi perlimfe. Suatu cairan yang
menyerupai cairan serebrospinal. Bagian ini melubangi bagian petrosus tulang
temporal dan terbagi menjadi tiga bagian yaitu vestibula, saluran semisirkular
dan koklea yang berbentuk seperti siput.
1. Vestibula adalah bagian sentral labirin tulang yang menghubungkan saluran
semisirkular dengan koklea. Dinding lateral vestibula mengandung fenestra
vestibuli dan fenestra cochleae yang berhubungan dengan telinga tengah.
Membran melapisi fenestra untuk mencegah keluarnya cairan perlimfe.
2. Rongga tulang saluran semisirkular menonjol dari bagian posterior
vestibula. Saluran semisirkular anterior dan posterior mengarah pada
bidang ventrikal di setiap sudut kanannya. Saluran semisirkular lateral
terletak horizontal dan pada sudut kanan kedua saluran diatas.
b. labirin membranosa adalah serangkaian tuba berongga dan kantong yang
terletak dalam labirin tulang dan mengikuti kontur labirin tersebut. Bagian
ini mengandung cairan endolimfe, cairan yang menyerupai cairan
intraselular.
Labirin membranosa dalam regia vestibula merupakan lokasi awal
dua kantong, utrikulus dan sakulus yang dihubungkan dengan duktus
endolimfe sempit dan pendek. Duktus semisirkular yang berisi endolimfe
terletak dalam saluran semisirkular pada laburun tulang yang mengandung
perilimfe. Setiap duktus semisirkular, utrikulus dan sakulus mengandung
reseptor untuk ekuilibrium statis (bagaimana cara kepala berorientasi
terhadap ruang bergantung pada gaya gravitasi) dan ekuilibrium dinamis
(apakah kepala bergerak atau diam dan kecepatan serta arah gerakan).
Utrikulus terhubung dengan duktus semisirkular sedangkan sakulus
terhubung dengan duktus koklear dalam koklea.

2.2.2 Fisiologi Telinga pada Dewasa


Beberapa organ yang berperan penting dalam proses pendengaran adalah
membran tektoria, sterosilia dan membran basilaris. Interaksi ketiga struktur penting
tersebut sangat berperan dalam proses mendengar. Pada bagian apikal sel rambut
sangat kaku dan terdapat penahan yang kuat antara satu bundel dengan bundel
lainnya, sehingga bila mendapat stimulus akustik akan terjadi gerakan yang kaku
bersamaan.
Pada bagian puncak stereosillia terdapat rantai pengikat yang
menghubungkan stereosilia yang tinggi dengan stereosilia yang lebih rendah,
sehingga pada saat terjadi defleksi gabungan stereosilia akan mendorong gabungan-
gabungan yang lain, sehingga akan menimbulkan regangan pada rantai yang
menghubungkan stereosilia tersebut. Keadaan tersebut akan mengakibatkan
terbukanya kanal ion pada membran sel, maka terjadilah depolarisasi.
Gerakan yang berlawanan arah akan mengakibatkan regangan pada rantai
tersebut berkurang dan kanal ion akan menutup. Terdapat perbedaan potensial antara
intra sel, perilimfa dan endolimfa yang menunjang terjadinya proses tersebut.
Potensial listrik koklea disebut koklea mikrofonik, berupa perubahan potensial
listrik endolimfa yang berfungsi sebagai pembangkit pembesaran gelombang energi
akustik dan sepenuhnya diproduksi oleh sel rambut luar (May, Budelis, & Niparko,
2004).
Pola pergeseran membran basilaris membentuk gelombang berjalan dengan
amplitudo maksimum yang berbeda sesuai dengan besar frekuensi stimulus yang
diterima. Gerak gelombang membran basilaris yang timbul oleh bunyi berfrekuensi
tinggi (10 kHz) mempunyai pergeseran maksimum pada bagian basal koklea,
sedangkan stimulus berfrekuensi rendah (125 kHz) mempunyai pergeseran
maksimum lebih kearah apeks.
Gelombang yang timbul oleh bunyi berfrekuensi sangat tinggi tidak dapat
mencapai bagian apeks, sedangkan bunyi berfrekuensi sangat rendah dapat melalui
bagian basal maupun bagian apeks membran basilaris. Sel rambut luar dapat
meningkatkan atau mempertajam puncak gelombang berjalan dengan meningkatkan
gerakan membran basilaris pada frekuensi tertentu. Keadaan ini disebut sebagai
cochlear amplifier.

Skema proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh


telinga luar, lalu menggetarkan membran timpani dan diteruskan ketelinga tengah
melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran tersebut
melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran
timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah diamplifikasikan akan
diteruskan ke telinga dalam dan di proyeksikan pada membran basilaris, sehingga
akan menimbulkan gerak relatif antara membran basilaris dan membran tektoria.
Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya
defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan
ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi
sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan
menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus
auditorius sampai ke korteks pendengaran. (Keith, 1989).

2.2.3 Fisiologi Telinga pada Lansia


Penurunan pendengaran merupakan kondisi yang secara dramatis dapat
mempengaruhi kualitas hidup. Kehilangan pendengaran pada lansia disebut
presbikusis. Pada lansia lobule daun telinga memanjang dan terlihat kerutan dan
saluran telinga menjadi sempit dan rambut yang melapisi saluran telinga lebih kasar
dan kaku.
Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada pendengaran akibat proses
menua:
1. Pada telinga bagian dalam terdapat penurunan fungsi sensorineural, hal ini
terjadi karena telinga bagian dalam dan komponen saraf tidak berfungsi
dengan baik sehingga terjadi perubahan konduksi. Implikasi dari hal ini adalah
kehilangan pendengaran secara bertahap. Ketidak mampuan untuk mendeteksi
volume suara dan ketidakmampuan dalam mendeteksi suara dengan frekuensi
tinggi seperti beberapa konsonan (misal f, s, sk, sh, l).
2. Pada telinga bagian tengah terjadi pengecilan daya tangkap membran timpani,
pengapuran dari tulang pendengaran, otot dan ligamen menjadi lemah dan
kaku. Implikasi dari hal ini adalah gangguan konduksi suara.
3. Pada telinga bagian luar, rambut menjadi panjang dan tebal, kulit menjadi
lebih tipis dan kering, dan peningkatan keratin. Implikasi dari hal ini adalah
potensial terbentuk serumen sehingga berdampak pada gangguan konduksi
suara.
4. Presbiakusis (gangguan dalam pendengaran). Hilangnya kemampuan
pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-
nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi
pada usia diatas umur 65 tahun.
Faktor lain yang mempengaruhi pendengaran populasi manula, seperti
pemajanan sepanjang terhadap suara keras (mis. jet, senjata api, mesin gergaji
mesin). Beberapa obat, seperti aminoglik dan bahkan aspirin, mempunyai efek
ototoksik gangguan ginjal dapat menyebabkan perlambatan pengeluaran obat pada
manula. Banyak manula menelan quinin untuk mengatasi kram tungkai, yang dapat
mengakibatkan hilangnya pendengaran.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Mata adalah organ fotosensitif yang sangat berkembang dan rumit, yang
memungkinkan analisis cermat dari bentuk, intensitas cahaya, dan warna yang
dipantulkan objek. Mata terletak dalam struktur bertulang yang protektif di
tengkorak, yaitu rongga orbita. Setiap mata terdiri atas sebuah bola mata fibrosa
yang kuat untuk mempertahankan bentuknya, suatu sistem lensa untuk
memfokuskan bayangan, selapis sel fotosensitif, dan suatu sistem sel dan saraf yang
berfungsi mengumpulkan, memproses, dan meneruskan informasi visual ke otak
(Junqueira, 2007).

Pada indera penglihatan atau mata pada usia lansia mengalami perubahan
struktur sehingga mengalami kemunduran dari fungsi secara normal. Perubahan yang
terjadi pada penglihatan akibat proses menua diantaranya awitan presbiopi, penurunan
ukuran pupil, perubahan warna dan meningkatnya kekeruhan lensa kristal yang
terakumulasi dapat menimbulkan katarak, penurunan produksi air mata, pada masa
dewasa akhir penurunan indera penglihatan bisa mulai dirasakan dan terjadi mulai
awal masa dewasa tengah. Adaptasi terhadap gelap lebih menjadi lambat, yang berarti
bahwa orang yang lanjut usia membutuhkan waktu lama untuk memulihkan kembali
penglihatan mereka ketika keluar dari ruangan yang terang menuju ke tempat yang
agak gelap.

Beberapa organ yang berperan penting dalam proses pendengaran adalah


membran tektoria, sterosilia dan membran basilaris. Interaksi ketiga struktur penting
tersebut sangat berperan dalam proses mendengar. Pada bagian apikal sel rambut
sangat kaku dan terdapat penahan yang kuat antara satu bundel dengan bundel
lainnya, sehingga bila mendapat stimulus akustik akan terjadi gerakan yang kaku
bersamaan.
Penurunan pendengaran merupakan kondisi yang secara dramatis dapat
mempengaruhi kualitas hidup. Kehilangan pendengaran pada lansia disebut
presbikusis. Pada lansia lobule daun telinga memanjang dan terlihat kerutan dan
saluran telinga menjadi sempit dan rambut yang melapisi saluran telinga lebih kasar
dan kaku.
3.2 Saran

Dengan adanya makalah ini, diharapkan pembaca bisa memahami dan


menambah wawasan. Kepada teman-teman mahasiswa keperawatan agar dapat
menggali pengetahuan dan memahami tentang anatomi dan fisiologi sensori persepsi
pada dewasa dan lansia, serta memahami perubahan yang terjadi pada lansia.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (…) .Perubahan pada Sistem Sensori Persepsi karena Proses Penuaan. Diakses
pada tanggal 17 Februari 2014 dari http://www.scribd.com/doc/117505873/Perubahan-
Pada-Sistem-Sensori-Persepsi-Karena-Proses-Penuaan Syaiful Abdullah
Anonym. (…) . Perubahan Fisiologi pada Lansia semua Sistem. Diakses pada tanggal 17
Februari 2014 dari http://www.scribd.com/doc/190992117/Perubahan-Fisiologi-Pada-
Lansia-Pada-Semua-Sistem
Anonym. 2012. Anatomi Fisiologi Telinga. Diakses pada tanggal 17 Februari 2014 dari
http://nursecerdas.wordpress.com/2009/02/05/217/
Bartlett and Jones.(1995). Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta: EGC
Liriyantoasy. (…) . Categori. Diakses pada tanggal 17 februari dar
http://liriyantoasy.wordpress.com/category/uncategorized/
Suhartin P, Prastiwi. 2010. Teori Penuaan, Perubahan ada Sistem Tubuh, dan Implikasinya
pada Lanisa. Diakses pada tanggal 17 Februari 2014 dari
http://www.scribd.com/doc/190992117/Perubahan-Fisiologi-Pada-Lansia-Pada-Semua-
Sistem
Prastiwisp. 2010. Teori Penuaan dan Perubahan fisiologis Lansia. Diakses pada tanggal 17
Februari 2014 dari Prastiwisp.files.wordpress.com/2010/11/teori-penuaan-dan-perubahan-
fisiologis-lansia.pdf