You are on page 1of 273

Seducing Cinderella

by

Gina L. Maxwell
Sinopsis:

"Kesempatan Reid Andrews sebagai petarung Mix Martial Art untuk merebut kembali gelarnya
sebagai juara kelas berat ringan hancur berantakan ketika ia cedera hanya beberapa bulan sebelum
pertandingan ulang dilaksanakan. Untuk memastikan bahwa dia sembuh tepat waktu, sang pelatih
mengirimnya untuk memulihkan diri di bawah perawatan orang yang profesional—yang tak lain adik
perempuan dari sahabatnya, yang sekarang sudah tumbuh dewasa.

Lucie Miller sendiri membutuhkan bantuan profesional. Dia akan melakukan apapun untuk menarik
perhatian seorang dokter yang dia taksir selama bertahun-tahun, hingga ketika Reid menawarkan
pelajaran merayu sebagai barter pengkondisian dirinya untuk pertarungan terbesar dalam karirnya,
Lucie menerimanya.

Segera Reid menemukan dirinya dalam pertarungan sekali seumur hidupnya...merebut hati Lucie
sebelum dia memberikannya pada orang lain."

Bercerita tentang seorang petarung MMA yang mengalami cedera, Reid Andrews, yang perlu
rehabilitasi sehingga ia bisa melawan dan merebut gelar juaranya kembali dalam waktu dua bulan. Dia
memperoleh bantuan seorang ahli fisioterapis, Lucie Miller, yang kemudian dia tahu adalah adik dari
sahabatnya. Kedua membuat kesepakatan di mana Lucie akan menerima Reid sebagai pasiennya
selama dua bulan agar ia siap bertarung lagi, sedangkan Reid akan melatih Lucie dalam seni merayu
agar dia dapat merebut cinta seorang dokter yang sudah lama diincarnya.

Mereka akhirnya malah sangat tertarik satu sama lain. Setuju untuk bertindak menuruti ketertarikan
mereka selama jangka waktu kesepakatan, setelah itu mereka masing-masing akan berpisah. Tentu saja
ini tidak berjalan seperti yang mereka rencanakan.

So if you like contemporary romance with exciting characters and about the relationship that deepens
into intimacy and love, you will love this book.

Copyright© 2012 by Gina L. Maxwell

Bab 1

Lucie Miller tidak merasa perlu mengangkat kepalanya saat ia


mendengar ketukan di pintu masuk ruang kerjanya. Pasien terapi
fisik yang selanjutnya membuat jadwal lebih pagi, yang mana
membuatnya jengkel karena ia belum menyelesaikan laporan untuk
pertemuan sebelumnya. Ia mendorong kacamatanya kembali ke
tempatnya semula. Pasien itu bisa masuk ke dalam ruangan sepuluh
menit lagi setelah ia menyelesai—

Ketukan itu terdengar lagi, kali ini sedikit lebih memaksa, dan
niatnya untuk tidak melayani keinginan orang lain hancur, seperti
biasanya. Dia menjatuhkan pulpennya ke atas tumpukan kertas yang
berada didepannya, dia berkata, "Masuklah."

Kepala dengan rambut hitam tertata sempurna muncul di pinggir


pintu. "Semoga aku tidak mengganggumu."

Sebelum ia bisa menyuruh hatinya untuk menjaga sikap, jantungnya


berhenti berdetak beberapa saat ketika mendengar suara lembut-
melow milik Dr. Stephen Mann, Direktur dari Sport Medicine dan
pria terseksi di Northern Nevada Medical Center. Dengan cepat,
otaknya memikirkan penampilan fisiknya, mengeluarkan diagnosis
seperti biasanya yaitu "tidak menarik dan kusut." Menahan desahan
kecewaan dan keinginan untuk merapikan rambut yang mencuat dari
kuncir kudanya, dia memberi pria itu senyuman terbaiknya. "Tidak
juga. Aku tak melupakan pertemuan lagi, kan?"

Lesung pipi kembar muncul untuknya. "Tidak, hari ini tidak."

Ia berbalik untuk menutup pintu, dan darah di nadinya semakin


cepat. Sebagai seorang dokter bedah tulang, kunjungan pria itu ke
ruang-kerjanya-yang-tidak-mengesankan ini di Pusat Pengobatan
Rehab and Sport cukup sering untuk membicarakan pasien bersama.
Tapi tak sekalipun pria itu pernah menutup pintu.

Mencoba untuk tidak terburu-buru menyimpulkan, ia melambaikan


tangannya ke depan. "Silahkan duduk."
"Uh..."

Lucie menengok untuk melihat kearah satu-satunya kursi untuk tamu


yang tertimbun dengan folder, koran tua, dan artikel penelitian. Dia
bersumpah ia bisa merasakan pipinya berubah warna saat ia bergerak
cepat kearah mejanya. "Oh Tuhan, aku minta maaf. Ini, biarkan aku
—"

"Tidak apa-apa, kau tak perlu—"

"Tidak, aku bersikeras." Ia mengumpulkan tumpukan kertas


sembarang di tangannya. Bukan untuk pertama kalinya, atau bahkan
yang ke ratusan kalinya, Lucie berharap ia lebih terorganisir.
Berputar dengan cepat, ia mencari tempat untuk menyembunyikan
kekacauan itu. Tumpukan kertas sama yang seperti ia pegang,
berbaris dilantai tepat di sepanjang dinding ruang kerjanya dan
berada diatas tiap inchi meja dan ruang kosong lemari arsip.
Akhirnya ia menyerah dan menaruh tumpukan itu ke kursinya
sebelum mengembalikan perhatian kepada tamunya. Ya Tuhan,
kenapa ia tak bisa menjadi lembut dan sinergi seperti wanita lain?
Seperti jenis wanita yang Stephen kencani. "Jadi, apa yang
membawamu ke dalam ruang terburuk di dalam rumah sakit sore
ini?"

Dia membersihkan tenggorokannya dan membenarkan posisi


duduknya. Normalnya, dokter sempurna ini adalah cerminan dari
sebuah kepercayaan diri. Itu adalah alasan dari wanita yang
umumnya akan mendesah saat ia berada disekitar. Well, memang dan
pesonanya dan penampilan boneka Ken yang dilengkapi dengan
senyum mematikan.

"Makan malam amal tahunan rumah sakit dan pesta dansa tinggal
dua bulan lagi, dan sebagaimana seorang pria hanya diharuskan
meminjam tuksedo dan tampil, aku khawatir seorang wanita
membutuhkan waktu lebih untuk berbelanja gaun dan membuat
jadwal untuk rambut dan kuku dan hal lainnya yang membuat wanita
merasa cantik."

Leher Lucie tercekat, dan jemarinya bergerak untuk menyentuh


kalungnya. Ini dia. Mereka sudah bekerja selama beberapa tahun
bersama, sesekali mereka lembur untuk kasus bersama, memesan
makanan China yang buruk saat otak mereka menolak untuk
berhenti tapi perut mereka tak bisa lagi diabaikan. Pikiran mereka
selalu cocok, dan obsesi mereka untuk membantu mempercepat
kesembuhan dan lebih baik mengikat mereka lebih erat. Ia mencintai
pria itu bertahun-tahun, tapi pria itu tak pernah mengajaknya kencan.
Tak pernah melakukan pendekatan, lebih memilih mengencani
wanita bisnis yang berkelas yang ia temui saat menghabiskan jam
luangnya di Klub Caliente yang mewah diujung jalan.

Tapi sekarang dia disini. Di dalam kantornya. Membicarakan tentang


pesta dansa rumah sakit. Ya Tuhan, mohon jangan biarkan dirinya
pingsan. Ia menghela nafas pelan, dalam, Lucie mencoba untuk
biasa. "Apa kau mencoba untuk menanyakan sesuatu padaku,
Stephen?" Dan gagal total. Sial.

Tangan kuat menyentuh belakang lehernya, dan pria itu


memberikannya ekspresi malu-malu paling manis. "Ah, yeah. Aku
tidak melakukannya dengan baik, kan?"

"Tidak, kau melakukannya dengan baik!" Terlalu antusias. Sangat


sial!

"Aku tahu aku seharusnya membicarakan ini sejak lama. Dan aku
ingin bertanya dimalam aku melihatmu di Klub Caliente bulan lalu,
tapi aku ragu dan kau pergi. Aku berharap aku akan melihatmu lagi
disana karena sepertinya tak pantas membicarakan tentang kencan di
kantor, ya kan?"

Pikirannya kembali ke satu malam saat ia menginjakkan kaki di


keramaian, klub yang sangat mahal. Sahabat baiknya, Vanessa
MacGregor, baru saja memenangkan kasus yang sangat rumit dan
ingin merayakan dengan beberapa kali minum juga berdansa. Bukan
pergi ke tempat nongkrong langganan mereka, Fritz's, Vanessa
meyakinkan Lucie untuk menemuinya di toko daging terdekat
dengan sebuah klub. Mereka hanya disana selama beberapa jam
sebelum pergi. Klub itu seperti sebuah asrama mahasiswa pria
dengan steroid dengan pelanggan country club. Sisa malam mereka
habiskan meminum bir dan melakukan perayaan yang semestinya.

"Oh, jangan khawatir," dia meyakinkan pria itu. "Maksudku, tidak


disini. Satu-satunya orang yang mungkin bisa mendengar kita
sekarang adalah Mr. Kramer yang sedang berada di treadmill diluar
sana, tapi pintunya tertutup dan meskipun terbuka, kurasa ia tidak
ingat untuk menyalakan alat bantu pendengarannya, jadi
kemungkinan ia mendengar kita—"

"Lucie."

"Maaf." Oh ya Tuhan, bisakah kau diam? Kau mengoceh layaknya


idiot! "Apa yang kau bilang?"

Ia menghela nafas dalam-dalam dan mengehembuskannya seperti ia


sedang bersiap untuk melompat dari atap rumah sakit daripada
mengajaknya kencan. "Aku mencoba untuk meminta nomor telepon
temanmu."
"Teman... Apa?"

"Gadis yang bersamamu malam itu. Apa dia sedang terikat dengan
orang lain?"

"Vanessa?" Pikiran Lucie berantakan saat ia mencoba untuk


mengikuti tikungan tajam dari tujuan awal pembicaraan ini. Atau itu
tujuan yang hanya ia pikirkan. Dia sangat bodoh. "Um, tidak, ia
tidak berkencan dengan seseorang..."

Tiap otot di tubuh pria itu mengendur saat ia berdiri, senyumnya


kembali menghantamnya dengan kedua lesung pipi di bawah
matanya. "Bagus sekali! Bisakah aku mendapatkan nomornya? Aku
tak mau menunggu untuk menelponnya dimenit terakhir. Aku juga
ingin mengajaknya kencan beberapa kali sebelum acara besarnya.
Tuhan tahu kau tak akan bisa bercakap-cakap dengan layak pada saat
makan malam amal karena akan banyak orang mengganggu untuk
berbasa-basi. Lucie? Apa kau mendengarku?"

"Apa? Tidak. Maksudku, ya, aku mendengarkan. Ya, kau benar.


Acara itu jelas tidak kondusif untuk diskusi di kencan pertama."
Lucie melayangkan pandangannya ke kekacauan yang berada di
atas mejanya. Vanessa akan mengalami kepanikan jika melihat hal
ini. Sahabatnya sangat terorganisir, selalu merapikan apapun,
rambutnya tak pernah berantakan atau memiliki emosi berlebihan
disaat tidak tepat. Tambahkan penampilan sempurna boneka Barbie
dan kau akan mendapatkan wanita yang bisa membuat Stephen
Mann jatuh cinta. Wanita yang jelas bukan seperti dirinya.

"Jaaaadi... bisakah aku mendapatkan nomornya? atau kau mungkin


akan bertindak sebagai sahabat protektif dan akan menanyai niatku
yang sesungguhnya terlebih dulu," ia menggoda. "Mungkin bertanya
padaku mengapa kau pikir aku cukup pantas untuknya, hal-hal yang
seperti itu?"

Ia tak bisa menahan senyuman kecil diujung bibirnya. "Seperti kau


tak baik untuk orang lain saja. Kau menarik, pintar, tampan, dan
sukses. Bagaimana itu bisa dikategorikan sebagai 'tak cukup pantas'
oleh standar siapapun?"

Pria itu berkedip. "Aku cukup menarik, kan? Pastikan kau bilang
pada Vanessa hal itu saat ia bilang padamu aku menelponnya. Hanya
itu saja, jika kau memberikanku nomornya."

"Oh! Benar, maaf. Uh..." Ia melihat sekitar untuk mencari Post-it


(pesan tempel) atau secarik kertas. Ia tahu ia punya beberapa, dan
jika ia bisa berhenti dan berpikir untuk beberapa saat, dia akan
mengetahui dimana benda itu berada, tapi lima menit terakhir ia
telah mendengarkan pengakuan frontal dan kini dirinya tak bisa
berfungsi.

Menyerah, ia mengambil penanya dan tangan pria itu dan


menuliskan nomor telepon Vanessa di telapak tangannya. Ia
memaksa dirinya sendiri untuk melepaskan pria itu sebelum ia
melakukan hal bodoh seperti menambahkan tanda seru dan "secara
tidak sengaja" menggunakan tenaga yang berlebihan untuk menulis
tanda titik, melukai kulitnya yang lembut dengan ujung pulpennya.
"Ini dia. Sudah. Sekarang kau harus membiarkanku bekerja. Aku,
um, ada pasien yang akan datang kesini beberapa menit lagi."

"Kalau begitu, aku tak akan menyita waktumu lagi. Terima kasih,
Lucie." Menggunakan tangannya yang bebas tinta untuk memegang
gagang pintu dan membukanya sebelum berbalik dan menambahkan,
"Aku berutang satu padamu."

Ia menyisipkan senyum yang ia harap setidaknya senyum palsu di


wajahnya yang sebaik ia bisa. "Aku akan mengingatnya, dokter."

Segera setelah pria itu pergi dia jatuh ke kursinya, bahkan tak perduli
untuk memindahkan tumpukan kertas saat ia melakukannya. Ini
bukan sesuatu yang baru. Faktanya, diabaikan oleh orang lain adalah
sudah biasa. Sekarang, ia sudah kebal terhadap hal semacam itu. Apa
istilahnya? Kuno. Ya, itu dia. Sekarang, ini sudah menjadi masalah
kuno, dan itu bukan pertama kalinya seorang pria yang ia sukai
malah menyukai sahabatnya. Tapi rasanya sakit. Sangat sakit.

Ia tak bisa lagi membohongi dirinya sendiri. Ia takkan pernah


menjadi objek gairah dokter itu. Dan meskipun sisi realistis di dalam
dirinya bilang itu bukan masalah—semua yang ia butuhkan hanyalah
kecocokan dan bersahabat dengan orang lain—saat masa depannya
datang sebagai tujuan yang tajam, pemimpi di dalam dirinya
membiarkannya untuk terisak dalam air mata yang mengaburkan
dunia yang berada di depan matanya.
***

Bab 2

"Bisakah kau menunjukan arah ke departemen fisioterapi?" dimana


beberapa orang bodoh yang sombong akan memberikanku latihan
yang lebih cocok untuk balita, pada dasarnya ini adalah proses
pengebirianku…

Pernyataan bahwa Reid Andrews sedang dalam mood yang buruk


mungkin terlalu sepele, tapi bukan berarti resepsionis rumah sakit
pantas menerima amarahnya. Ia mendengarkan ketika petugas
resepsionis itu memberikan arahan dan berterima kasih ketika ia
selesai.

Semakin dekat ia mencapai tujuannya, semakin keras otot-ototnya


menggumpal. Dia seharusnya tidak di sini. Seharusnya ia sudah
kembali ke Vegas, merawat cideranya dengan pelatih dan tim dokter.
Bukan kota Sparks, Nevada—yang mana masih termasuk Reno dan
mengkhawatirkan karena terlalu dekat dengan kota kelahirannya,
bagian utara Sun Valey. Saat ini dia harus bekerja sama dengan
seseorang yang tidak memiliki konsep sama sekali tentang olah
raganya atau tentang betapa pentingnya ia untuk kembali ke
markasnya secepat mungkin untuk melakukan persiapan menjelang
pertandingan ulang itu.

Selama yang bisa ia ingat—ia adalah petarung. Bertarung di dalam


olah raga yang sangat ia cintai di atas segalanya—Mixed Matrial
Arts atau MMA—untuk sampai ke puncak, dan kemudian berusaha
keras memaksa dirinya agar berada di sini. Lima belas tahun
kemudian, dia adalah salah satu dari petarung terkaya kelas berat
ringan di UFC, dengan rekor 34-3 dan jutaan penggemar. Tentu saja
tidak ada yang lebih penting dari mendapatkan kembali
kesehatannya saat ini, karena jika ia tidak sembuh tepat waktu untuk
melakukan pertandingan ulang, karirnya akan tamat.

Seorang Dokter bicara di telepon dan memeriksa berkas-berkas Reid


di sekitar sudut ruangan dan menabraknya. Pria itu bahkan tidak
berbalik untuk meminta maaf, ia hanya terus berjalan menelusuri
lorong itu. Reid mengatupkan rahangnya dan memegang bahu
kanannya, menunggu rasa sakitnya mereda. Bahkan hanya dari
sebuah benturan kecil, sakitnya sangat terasa.
Dia mendapatkan salah satu cidera terberat yang bisa di dapatkan
oleh seorang petarung; robeknya tendon bahu. Dan yang lebih
memalukan lagi, cidera ini tidak didapatkannya ketika bertarung.
Dia mengalami cidera sialan ini ketika sedang berlatih untuk
perebutan gelar. 34 tahun bagi seorang petarung sudah cukup tua,
apalagi yang sudah berada di sana sepanjang hidupnya, dan
tubuhnya mulai menunjukan hal itu, penuh luka karena cidera
terkutuk.

Reid menghindar ke samping ketika berpapasan dengan seorang


wanita tua yang berjalan seperti siput tanah, ia mengutuki
pelatihnya, Butch, yang sudah mengirimnya ketempat ini.

Tidak lama setelah menjalani operasi untuk memperbaiki bahu


kanannya, dokter dari camp olahraga harus pulang untuk mengurus
ayahnya yang sedang sakit. Scotty diperkirakan tidak akan kembali
dalam beberapa bulan kedepan, dan karena Reid adalah satu-satunya
yang cedera di camp itu, Butch menempatkannya di PT (physical
therapy) lokal untuk sementara waktu. Tapi jika Reid tetap
mengikuti kata-kata pria ini, ia tidak akan siap bertarung sampai
usianya 50 tahun, jadi ia mengurus terapinya sendiri.

Sayangnya, Butch mengetahui apa yang akan dilakukannya dan dia


meminta Reid untuk tidak mendengarkan kata-kata pengganti Scott
dan bersikap santai. Tapi Reid tidak mengerti makna bersikap santai
itu. motonya lebih dari sekedar motivasi rata-rata. Dia hidup dengan
prinsip "Lakukan yang terbaik atau kau tidak akan mendapatkan
apapun" dan "Jika kau tidak datang untuk menang, lebih baik kau
tetap tinggal di rumah saja." kata-kata itu sudah di tanamkan pada
dirinya sejak ia sudah berani membantah perintah ayahnya.
Dia menolak untuk menerima kemungkinan tidak mendapatkan
kesembuhan total dalam dua bulan kedepan, hingga kehilangan
kesempatan untuk merebut kembali gelarnya. Setiap tahun, olahraga
itu selalu menghasilkan petarung yang lebih muda dan lebih baik,
dan itu menjadi halangan untuk petarung yang lebih tua dalam
bersaing. Itulah sebabnya Ried berlatih sekeras mungkin. Selalu saja
ada beberapa orang yang menginginkan sabuknya dan selalu
mencoba menyingkirkannya untuk mendapatkan sabuk itu, sehingga
ia harus melatih dan mempersiapkan dirinya lebih keras lagi untuk
menjaga sabuk itu. dia begitu marah ketika Butch memberinya
ultimatum: tinggalkan kamp dan lakukan PT dengan benar, atau dia
akan ditarik mundur dari pertarungan.

Persetan dengan hal itu.

Baiklah, terserah. Dia sudah membuat pelatihnya senang dengan


pergi ke PT sialan itu. Tapi itu bukan berarti dia tidak akan
melakukan hal berbeda dari latihan rutinnya. Dia tidak punya waktu
untuk bermain-main. Dia harus sesegera mungkin kembali ke Vegas
sehingga ia bisa merebut kembali apa yang menjadi haknya.

Reid mendorongterbuka pintu ganda dan masuk ke dalam sebuah


ruangan besar yang mirip dengan bagian dalam YMCA (Young
Men's Christian Association, organisasi Kristen yang memberikan
support dalam bidang olah raga). Treadmill, eliptik, angkat beban,
dan bola latihan. Tidak ada sparring Cage. Tidak ada matras lantai.
Tidak ada sansak. Namun ada seorang pria tua kisaran 80 tahun
berjalan begitu lambat di atas treadmill, yang membuatnya praktis
tidak bergerak.

"Ini menyebalkan," gumamnya ketika sampai di sebuah kantor kecil


dengan nama PT nya, Lucinda Miller, pada pintu yang tertutup
sebagian. Ia mengangkat tangannya untuk mengetuk sebelum
menunjukkan dirinya, tapi berhenti saat ia mendengar isakan pelan
dari seseorang berambut coklat yang tertunduk di belakang meja.
Setidaknya ia mengasumsikan itu adalah sebuah meja. Sangat sulit
menjelaskan apa yang berada di bawah tumbukan berkas dan
dokumen itu. alih-alih mengetuk, ia malah berdehem. "Maaf, apakah
ini waktu yang tidak tepat?"

Wanita itu memutar kursinya hingga menghadap ke dinding di


belakangnya, menekan lututnya pada lemari arsip dan menggumam
kata serapah yang tentu saja Reid bertaruh, dia tidak terlalu sering
menggunakannya di depan publik. Meskipun ia belum melihat
wajahnya, ia merasakan sebuah kecanggungannya lumayan manis.
Ketika ia meraih tisu dari suatu tempat di lantai dan meniup
hidungnya, itu mengingatkan Reid, bahwa wanita ini sedang dalam
masa yang rentan. "Aku bisa kembali,"

"Tidak, tidak," dia membersihkan hidungnya dan menunjuk


kebelakang tanpa berbalik. "Anda bisa duduk sebentar di ruang
sebelah, aku akan segera menyusul,"

Ide yang baik. Terlebih karena kebenciannya melihat seorang wanita


bersedih, baginya menghibur wanita yang ia kenal saja sudah cukup
buruk, apalagi yang ia tidak kenal sama sekali. Ia memasuki ruangan
itu, menyandarkan pinggulnya di meja yang empuk, tanpa sadar
merenggangkan buku-buku jarinya ketika ia menunggu. Itu hanya
sesaat sebelum wanita itu melenggang masuk, matanya memeriksa
berkas Reid, sambil berjalan lurus kearah meja kecil di sepanjang
dinding.

"Aku benar-benar minta maaf tentang kejadian tadi," katanya.


"Berikan aku sedikit waktu untuk mempelajari berkas ini lebih
lanjut, dan kita akan memulai urusan ini,"

"Ya silahkan," sesuatu dalam suaranya menusuk-nusuk otak Reid.


Sepertinya ia pernah mendengar suara itu sebelumnya.

"Oke, Mr. Johnson, mari kita lihat pada—"

Mereka membeku ketika mengenal masing-masing sosok di hadapan


mereka.

"Luce?"

"Reid?"

Sudah beberapa tahun lamanya—mungkin, enam tahun, atau tujuh


tahun, atau lebih, dia tidak bisa mengingatnya—sejak terakhir kali
dia melihat adik dari sahabat baiknya. Wajahnya berjerawat dengan
mata memerah habis menangis sehingga ia hampir tidak menyadari
bahwa wanita itu adalah Lucie, tapi bintik muka di sudut luar mata
kirinya yang samar-samar berbentuk hati mengingatkannya. Hal itu
nyaris tidak terlihat di bawah bingkai gelap kacamata yang ia
kenakan.

"Astaga," kata Lucie, meremas pinggang Reid dengan kuat. Sudah


sangat lama Reid tidak pernah bertemu seseorang dari kota
kelahirannya, selain kakak Lucie, dia adalah orang yang selalu ingin
ia temui. Reid membalas pelukannya. Rambutnya tercuim seperti
campuran bunga dan musim panas, begitu berbeda dengan ramuan
parfum menyengat yang biasa digunakan oleh wanita.

Ia melepaskan pelukannya, duduk kembali di bangku putar di


belakang mejanya dan menyelipkan sehelai rambutnya kebelakang
telinga. "Aku tidak percaya itu kau. Tunggu, mengapa catatanku
tertulis Randy Johnson?"

Reid terkekeh pada nama konyol yang ia gunakan untuk


samarannya. "Ini adalah nama samaran," bermaksud untuk
menghapus penampilan menyedihkan yang diakibatkan oleh sesuatu
sebelum ia datang, dia memberikannya senyuman nakal dan
menambahkan. "Dan kadang-kadang menjadi status keberadaanku,"

Alisnya berkerut untuk beberapa saat ketika ia meresapi kata-


katanya, kemudian pipinya memerah dan matanya terbelalak.
"Reid!"

Dia tidak bisa berhenti tertawa meskipun ingin. Ekspresi terkejut di


wajahnya benar-benar lucu. "Ayolah, Lu-Lu, kau tidak bisa terus-
terusan polos seperti itu setelah bertahun-tahun."

"Kepolosanku atau kekuranganku bukanlah urusanmu Andrews. Dan


sebagai peringatan: jika seseorang mendengar kau memanggilku
dengan panggilan konyol itu, aku akan menusukmu tepat di lehermu
dengan penaku,"

Ia mengangkat kedua tangannya, pura-pura menyerah. "Cukup adil,


Lubert." Lucie memutar matanya, tapi ia segera mengintrupsi
sebelum wanita itu mulai marah. "Omong-omong tentang nama, ada
apa dengan Lucinda Miller? Aku tidak melihat cincin. Apa kau
sedang dalam perlindungan seorang saksi atau apa?"

Ia mengalihkan pandanganya, tiba-tiba merasa perlu untuk merubah


kembali name tagnya. "Tidak. aku pernah menikah sebentar ketika di
perguruan tinggi. Jackson mungkin tidak memberitahumu tentang
ini, karena kami kawin lari dan ini tidak bertahan lama," ia berdeham
dan tersenyum padanya, tapi hampir tidak menyentuh pipinya,
apalagi matanya. "kau tahu bagaimana itu. anak muda labil dan
semuanya. Aku hanya tidak pernah repot-repot mengganti nama
belakangku lagi, tapi setidaknya aku masih memiliki inisial nama
yang sama, kan?"

Usaha wanita itu dalam menyamarkan perasaannya yang sebenarnya


mengingatkan Reid akan apa yang sedang di alaminya. Sesuatu atau
seseorang sudah menyakitinya, dan itu langsung menggugah naluri
melindunginya. Biar bagaimanapun, Lucie bukanlah wanita
sembarang. Dia tumbuh besar mengikuti kemanapun kakaknya,
Jackson Maris dan Reid. Dan karena Jax, yang juga seorang
petarung UFC, sedang berada di Hawaii dengan kamp pelatihannya
hingga tidak bisa membantu adiknya, Reid akan dengan senang hati
akan menggantikannya.

"Kenapa kau menangis Lu?"

"Oh, itu?" ia melambaikan tanganya tak acuh. "Tidak apa-apa. Aku


mendapat alergi musiman yang mengerikan dan kadang-kadang itu
terjadi sangat buruk hingga terkadang aku terdengar seperti sedang
terisak, menangis tersedu-sedu, begitulah."

Dia mendengus. "Itulah sebabnya aku dan Jax tidak pernah


membiarkanmu ikut dalam 'petualangan' licik kami. Kau adalah
pembohong yang sangat buruk dan tidak akan bertahan lebih dari
lima detik dalam introgasi orang tua."

Dia berdiri, menempatkan tangannya di pinggang. "Oke, menurut


pelatihmu, kau adalah pasien yang sangat menyedihkan, jadi kita
berdua memiliki kesalahan masing-masing. Sekarang, kalau kau
tidak ingin menyia-nyiakan waktumu dengan obrolan yang tidak
berguna, biarkan aku mengevaluasi cederamu,"

Reid mengenali keberadaan dinding pertahanan ketika ia


menemukannya. Lucie tidak akan bicara tentang hal itu… belum.
Dengan suatu cara ia pasti akan mengetahuinya. "Oke, periksalah
Luey," ia menyentuh tulang belikat dengan tangan kirinya, menarik
t-shirtnya keatas kepala, berusaha keras untuk tidak menggerakan
tangan kananya terlalu banyak. Dia melemparkan t-shirtnya kekursi
di sudut ruangan.

"Berapa banyak PT yang kau temui sejak oprasi itu?"

"Aku tidak tahu, jumlah yang biasa, sepertinya. Satu sesi dalam
sehari atau lebih. Tapi ini tidak cukup, jadi aku melakukan latihan
tambahan di sisi lain."

Dia berhenti dan mengangkat alis padanya. "Dengan kata lain, kau
sudah berlebihan dalam melakukan hal ini, yang justru malah
kontraproduktif untuk pemulihanmu,"

"Berlebihan itu suatu istilah subjektif,"

"Tidak Reid. Melakukan Lebih dari apa yang di katakan dokter atau
terapismu adakah berlebihan. Jika aku akan membantumu, kau harus
melakukan sesuai dengan apa yang kukatakan. Jika kau bisa
melakukannya, aku akan membuatmu sesehat sebelumnya dalam
waktu sekitar 4 bulan."

"Apa? Tidakkah Butch mengatakan bahwa pertandingan ulangku


akan berlangsung dua bulan lagi? Aku harus bertanding pada
pertandingan itu, Luce. Diaz memiliki sabukku, dan aku akan
mengambilnya kembali,"
Lucie menggeleng. "Reid itu gila. Bahkan walaupun aku
menghabiskan sebagian besar waktuku untuk penyembuhanmu, aku
tidak bisa menjamin kau bisa siap untuk bertarung secepat itu."

"Omong kosong. Kau harus mengatakannya secara professional, tapi


kau harus tetap memperhatikan siapa yang menjadi pasienmu. Aku
tidak seperti orang-orang lain yang kau tangani. Aku tidak seperti
pasien-pasienmu yang berharap normal. Aku adalah atlet yang
sangat terlatih dan sudah pulih dari berbagai macam cidera selama
lima belas tahun terakhir dibandingkan dengan seratus pasienmu jika
disatukan,"

Ia mengehela nafas. "Mari lihat apa yang sebenarnya kita hadapi


sekarang, yang pertama, oke, jagoan? duduk."

Reid melompat ke meja dan mencoba untuk tidak tegang karena


gagasan tangannya dimanipulasi. Dia memiliki toleransi tinggi
terhadap rasa sakit, tapi bukan berarti pemeriksaannya itu tidak akan
membuatnya meringis.

"Ulurkan lenganmu kesamping, dan coba untuk tetap begitu ketika


aku mendorongnya ke bawah." Ia terdiam sejenak sebelum
melakukan gerakan itu dengan menggumamkan kutukan. Lucie
berpura-pura tidak menyadarinya dan memberikannya lebih banyak
tes kekuatan, dimana dia berhasil menjaga teriakannya di dalam
kepalanya sendiri. Meneriakinya.

"Oke, yang terakhir Reid. Tempatkan tanganmu didepan perutmu,


dan coba untuk menahannya di sana ketika aku menariknya menjauh
dari tubuhmu."
Ia menggertakan rahangnya dan mengepalkan tangan kirinya,
mencoba untuk memikirkan hal lain, selain rasa sakit yang luar biasa
dari bahunya. Tapi, seburuk apapun rasa sakit itu, fakta bahwa
dirinya begitu lemah dan tidak bisa menyembunyikannya adalah hal
yang jauh lebih buruk.

"Baiklah, kau bisa rileks sekarang," Lucie membuat beberapa catatan


dalam berkasnya, kemudian berbalik dan bertanya, "Pada skala nyeri
satu sampai sepuluh, dengan yang kesepuluh adalah ukuran rasa
paling mengerikan yang bisa kau bayangkan, bagaimana perasaanmu
saat ini?"

"Empat mungkin. Atau bahkan tiga,"

Lucie mengangkat alisnya dan melipat kedua tangannya di depan


dada. "Lupakan sikap jantan sialanmu, Andrew. Aku tidak
menantang kejantananmu di sini. Jika kau ingin aku melakukan
pekerjaanku, maka kau harus seratus persen jujur padaku."

Reid menatap Lucie dengan tatapan yang seakan menciutkan wanita


itu. namun Lucie sama sekali tidak bergeming. Reid tentu sudah
memuji Lucie dengan sikapnya pada tatapannya jika ia tidak sedang
jengkel dengan keseluruhan situasi ini. "Oke, enam." Gerutunya.
"Tapi beberapa hari ini lebih baik,"

"Jangan khawatir, itu normal. Sekarang berbaring menelungkup di


atas meja. Aku ingin melakukan beberapa hal lagi."

"Kau sangat suka memerintah diusia tuamu, kau tahu itu?" ia sedikit
kecewa ketika Lucie tidak terpancing dengan kata-katanya, tapi
melontarkan Mm-hmm secara sarkastis ketika Reid meletakan
tubuhnya di atas meja. Dengan lengan kirinya menjadi tumpuan
wajahnya. Ia memejamkan matanya ketika Lucie mulai memeriksa
tubuhnya.

Ujung jari lembutnya memeriksa otot di sekitar bahunya. Reid tidak


tahu apa yang sebenarnya sedang di cari Lucie, tapi ia berharap
Lucie tetap mencarinya untuk sementara waktu. Sentuhannya terasa
jauh lebih baik daripada yang biasa dia terima. Tentu saja tangan
Scotty tidak selembut itu, tapi ini jauh lebih dari itu. ini adalah
tehnik yang digunakannya; seakan-akan dirinya bukanlah seorang
petarung yang terbuat dari otot-otot keras yang membutuhkan
penanganan kasar, dorongan jari, tapi seorang pria yang
membutuhkan pijatan lembut setelah hari yang panjang.

Ia mendengar isakan lembut, dan ini membuat otaknya kembali


bertanya-tanya, apa yang sudah membuatnya sekacau ini. Tumbuh
sebagai kakak kedua Lucie, membuatnya menyadari bahwa ada
sesuatu yang buruk.

Apapun itu, Lucie sudah berusaha sebaik mungkin untuk


menyembunyikannya—"Ah, sialan!"

"Maaf,"

"Ya, betul." Katanya kecut. "Itu mungkin sebuah balasan karena


menggunakan kelinci floppy-mu sebagai target panah,"

Reid tidak bisa melihat wajahnya, tapi ia mendengar ia tersenyum


ketika bicara. "Aku lupa tentang semua itu. Jakson dihukum selama
tiga hari dan ibuku harus menjahit semua lubang kecil itu secara
bersamaan. Ibuku bilang dia adalah seorang pahlawan perang yang
harus dioprasi untuk ditambal sebelum menerima medali dari
presiden,"
"Ibumu selalu pandai bercerita. Aku dan Jax memintanya untuk
memberikan semua informasi latar belakang misi pura-pura kami
ketika kecil."

"Ibu adalah hal yang paling spesial. Aku merindukan dongeng


sebelum tidurnya."

Oran tua Lucie meninggal karena kecelakaan mobil pada musim


panas, setelah Reid dan Jackson lulus dari SMA, dan Lucie berumur
tiga belas tahun. Jackson memutuskan untuk mengurus Lucie dari
pada menyerahkannya pada sanak saudaranya, itulah sebabnya
karirnya di MMA tidak sejauh Reid. Itu adalah hal yang sangat
terhormat, dan jelas ia sudah melakukan pekerjaan yang baik juga.

Namun kemudian kenyataan itu menyentak Reid. "Ini karena


seorang pria, kan?"

Tangannya berhenti sesaat, tapi ini sudah cukup sebagai jawaban


yang ia butuhkan. "Apakah nyeri jika kutekan di sini?"

Seperti sensasi terbakar yang parah, sebuah kemarahan asing muncul


sebagaimana pada umumnya kebanyakan pria, sampai-sampai ia
tidak bisa mengarahkannya pada orang yang pantas. Ia mendorong
tubuhnya dengan lengan kirinya, hingga berhadapan dengan Lucie.

"Apa yang kau lakukan? Aku belum selesai."

"Tidak sampai kau katakan siapa orang itu dan apa yang sudah ia
lakukan." Geramnya.

"Reid—"
"Quid pro quo, Lu. Katakan padaku siapa yang membuatmu
menangis, dan kenapa. Dan aku berjanji akan mencarinya,
memburunya, dan menendang giginya masuk ketenggorokannya
untuk menunjukannya padamu."

Dia hampir menyesali ancaman kasarnya ketika wajah Lucie


memucat, tapi jika ini adalah satu-satunya jalan untuk
mengetahuinya, maka ia tidak peduli. "Kemari, duduklah di sini, kita
akan bertukar tempat." Katanya sambil berdiri. Ketika Lucie
membuka mulutnya untuk membantah, Reid menyipitkan matanya,
untuk menunjukan padanya bahwa ia tidak sedang main-main. Lucie
menghela nafas pasrah dan melakukan apa yang Reid katakan,
meskipun tidak dengan senang hati.

"Nah sekarang kau pasiennya," terlepas dari rasa sakit yang


disebabkan pada bahunya, ia menguatkan tangannya di kedua sisi
pinggulnya, mencegah pemikiran Lucie untuk melarikan diri
sepertinya adalah sebuah alternatif yang baik. "Jadi, Miss Miller,"
katanya sambil menatap mata abu-abunya yang lembut. "Katakan
padaku dimana yang sakit,"
***

Lucie masih tidak bisa percaya jika saat ini Reid berada di ruang
terapinya. Ketika mereka kecil, ia terus membuntuti kakaknya hanya
untuk berada di hadapan sahabat baik kakaknya. Namun, karena
Reid memperlakukannya sebagaimana seorang kakak, itu
mencemaskan hati mudanya, dia selalu mendongak pada Reid dan
Jackson.

Sekarang ia dalam masa yang sulit untuk mengalihkan


pandangannya dari Reid.
Dia sudah cukup berotot ketika di SMA, tapi ini luar biasa. Pria ini
mendefinisikan kembali ide kesempurnaan dari Michelangelo,
membuat patung David yang justru terlihat seperti pengecut. Rambut
pirang gelapnya di potong pendek dan disisir kedepan dan ketengah.
Membuat elang tiruan terkecil, dan membuatnya tampak lebih baik
jika dilihat dari samping. Dan tato itu…Ya Tuhan…tato itu…

Desain tribal hitam menenun pola rumit di sekitar lengan atas


kanannya, melewati bahu dan otot-otot dadanya, dan melingkar di
pertengahan sisi kanan lehernya. Dibagian bawah tulang rusuknya
tertulis Fight to Win dalam huruf latin, berakhir di otot yang
memotong diagonal dengan—

"Lu?"

Lucie bertemu dengan mata coklat cerdasnya. "Hmm?"

"Kau akan mulai bicara atau aku harus kembali menggelitikmu?"

Bagus, Lucie, benar-benar halus. Sadarlah, ini hanya Reid.

Dia memutar matanya dan berpaling, berharap Reid tidak melihat air
mata yang yang ia tahan. Ia tersenyum, perlu mengembalikan
pembicaraannya tetap ringan. Lucie perlu membuat Reid tidak
memaksanya untuk menceritakan apa yang terjadi. "Aku bukan gadis
delapan tahun lagi Reid. Jika kau terus seperti ini, aku akan
menamparmu dengan gugatan pelecahan seksual,"

Dengan lembut Reid menyentuh dagunya, memiringkan kepalanya


kebelakang dan menatap matanya, dan dengan hanya memanggil
namanya sekali. "Lucie…" pertahanan air matanyapun hancur dan
membiarkan air mata pertamanya turun.

"Ya Tuhan, ini sangat bodoh. Sungguh, bukan apa-apa." Katanya


sambil mengusap air matanya penuh kekesalan dengan jemarinya.

"Ketika seorang pria membuat wanita menangis, itu tidaklah sepele."

"Dia tidak bermaksud; dia bahkan tidak tahu jika ia melakukannya,


hanya saja…" Lucie mengambil nafas dalam-dalam dan
mengeluarkannya dengan napas gemetar. "Aku sudah jatuh cinta
padanya selama bertahun-tahun tapi ia tidak pernah menyadarinya.
Well, tidak seperti itu juga. Hanya saja, tepat sebelum kau muncul,
dia meminta nomor telepon sahabat baikku. Dia ingin membawanya
ke pesta amal rumah sakit."

"Apakan wanita itu akan pergi?"

"Tidak, Vanessa tidak akan pernah melakukan hal itu padaku. Sangat
menyakitkan ketika mengetahui ia sudah bertemu sekali dan sejak
itu ia ingin mengajaknya berkencan. Kami sudah menghabiskan
banyak waktu untuk bekerja sama, hanya saja ia tidak pernah
melihatku."

"Jadi tentu saja dia adalah seorang bajingan buta."

Lucie mendengus dan menggelengkan kepala. "Kau tidak tahu siapa


Stephen. Pria yang memiliki pesona lebih banyak dari pada sebagian
dari Reno. Dia adalah ahli bedah ortopedi yang menakjubkan yang
selalu bisa lebih dekat dengan pasiennya. Dia pintar, sukses, dan
sangat tampan. Aku tahu aku bisa membuatnya bahagia jika saja ia
memberikanku sebuah kesempatan,"
"Jika dia terlalu lambat untuk bergerak, mengapa kau tidak
memulainya terlebih dulu?"

Wajahnya memanas, ia langsung menundukan pandangannya,


menatap jarinya yang bertautan. "Aku tidak bisa. Aku tak tahu harus
mengatakan apa. Dan kalaupun aku melakukannya, dan seandainya
dengan sebuah keajaiban dia mengatakan iya, aku…"

"Kau apa?"

"Aku tak tahu apa yang harus kulakukan," bisiknya.

"Lakukan?" Reid mencoba berpikir apa yang dimaksudkan oleh


Lucie, tapi dia tidak tahu. Kecuali… "Lucie kau pernah berkencan
setelah perceraianmu, kan?"

"Ini konyol, Reid, biarkan aku turun."

Reid tidak bergeming. "Kau pasti bercanda. Kau tidak punya pacar?"

"Aku harus memberitahumu Andrews, ketidak percayaanmu


membuatku tidak ingin membicarakan masalah ini denganmu, jadi
biarkan saja masalah ini dan kami akan membuatkanmu jadwal
untuk minggu depan."

"Oke, Oke, maafkan aku," katanya, menempatkan tangannya di


lengan atasnya. Ia meringis ketika rasa nyeri menyerang bahunya. Ia
tidak bermaksud untuk membuatnya lebih terganggu dari
sebelumnya. Ia mengerjapkan matanya karena sakit itu. "Tunggu,
apa maksudmu dengan 'minggu depan'? Bukankah setidaknya kita
mempunyai sesi harian?"
"Untuk sebagian besar, Ya. Tapi karena sekarang hari jum’at, kita
akan memulainya minggu depan. selain itu, kau bukanlah satu-
satunya pasienku. Aku memiliki jadwal yang padat."

Sial, sekarang apa? Reid membutuhkan lebih banyak perhatian


daripada hanya sekedar beberapa hari dalam seminggu.

"Mungkin kau harus menyewa PT yang berdedikasi. Kau tahu,


seseorang yang bisa bersamamu selama 24 jam, 7 hari seminggu.
Untuk bekerja bersamamu dan menjagamu dari overtraining. Jika
kau masih seperti yang kuingat, kau tidak memiliki konsep untuk
menahan diri."

"Sempurna. Itulah yang kubutuhkan. Dengan jenis perawatan seperti


itu, aku akan siap untuk bertarung pada malam pertarungan." Ia
melangkah mundur dengan senyum puas dan menyilangkan
tangannya di depan dadanya. "Aku akan mengirim seseorang untuk
menjemputmu dan barang-barangmu nanti,"
***

Lucie sudah turun dari atas mejanya dan sekarang ia memutar


kepalanya dengan begitu cepat membuat Reid khawatir mungkin
Lucie akan membutuhkan sebuah terapi untuk memperbaiki salah
uratnya. "Apa?"

"Ini hanya akan masuk akal jika kau tinggal bersamaku sampai aku
sembuh, Lu. Ayolah, dulu aku juga pratis tinggal ditempatmu
sewaktu kecil. jadi kita bisa melakukan terapi dengan bahuku lebih
sering dan kau bisa memastikan aku tidak melakukan hal bodoh.
Dan kau tahu sendiri, aku dijamin akan melakukan hal bodoh."

Reid menonton Lucie yang berjalan melintasi ruang kecil itu untuk
mengambil bajunya. "Meskipun gagasan tentang tinggal bersamamu
selama dua bulan itu tidak menggangguku, tapi ada masalah kecil
dalam pekerjaanku."

"Aku akan membayar untuk waktu luangmu, tentu saja. dua kali
lipat jika kau mau—uang bukanlah masalah."

Lucie memberikannya perintah memakai baju dengan gerakannya


melemparkan baju ke dadanya. "Tentu saja kau benar; uang
bukanlah masalah. Aku punya setidaknya delapan minggu waktu
liburan yang belum terpakai, semenjak aku tidak memiliki alasan
untuk mengambilnya. Masalahnya adalah bahwa ide itu sangatlah
menggelikan!"

Reid harus berpikir cepat, atau dia akan kehilangan kesempatan ini,
dan sesuatu di dalam hatinya menekannya agar tidak kehilangan
kesempatan ini. Dia membutuhkannya dimanapun yang ia inginkan
selama dua bulan ini. Dia begitu yakin seyakin namanya. Tiba-tiba
trik yang sempurna muncul di benaknya, dan meskipun gagasan ini
memberikannya kegembiraan dan kecemasan dengan jumlah yang
setara, ia tetap mencobanya.

"Aku akan mengajarimu bagaimana mendapatkan dokter itu jika kau


melakukannya untukku."

Lucie sudah dalam perjalanan keluar dari ruangan pemeriksaan, ia


sudah menolaknya Reid dan tawaran menjadi teman serumahnya,
tapi kata-kata sederhana itu bisa membuat tubuhnya terpaku
beberapa meter dari ambang pintu. Lucie sudah terpancing, sekarang
ia hanya perlu menariknya hati-hati, atau ia akan kehilangan wanita
itu dan kesempatannya untuk pertandingan ulang. Dia mendekatinya
perlahan-lahan dari belakang saat ia bicara.
"Aku akan mengajarimu bagaimana bersikap, apa yang harus
dikatakan…apapun yang kau perlu ketahui untuk membuatnya
menyadari keberadaanmu. ada satu hal yang kutahu, apa yang wanita
lakukan yang bisa membuat pria benar-benar memperhatikannya."
Kepalanya menoleh kesamping. Bukan gerakan besar, tapi cukup
untuk membuatnya tahu bahwa ia sudah mendapatkan perhatian
wanita itu. "Kau akan tunduk dan melakukan apapun maumu dalam
waktu singkat. Aku jamin itu."

Waktu berjalan bagai slow motion. Denyut nadinya berpacu di


telinganya ketika ia mengunggu Lucie meneriakinya idiot atau
kemarahan yang besar. dan Jackson akan mengulitinya hidup-hidup
karena mengajari Lucie caranya merayu, seharusnya ia memikirkan
dua kali tentang tawarannya, tapi dia tidak bisa menariknya kembali.

Dia menggelengkan kepalanya, seakan menolak pikirannya sendiri.


"Maaf, tapi—"

Sebelum Lucie mengatakan kata penolakannya, seorang pria


berambut gelap menjulurkan kepalanya dari pintu. "Lucie, aku minta
maaf mengganggu, tapi aku sepertinya sudah menghapus, uh," pria
itu melirik Reid dan berdeham. "Nomor telepon pasien yang kau
berikan sebelumnya. Karena aku dalam perjalanan keluar, kupikir
aku bisa mendapatkannya lebih cepat darimu. Aku membawa
kertas."

Dasar. Brengsek. Butuh segala kendali diri untuk membuatnya tidak


menghajar pria itu saat ini juga. Bahwa pria ini adalah satu-satunya
yang ia sukai dan tidak mungkin ia memperkenalkan dirinya sebagai
dokter Clueless Dumbass.
Reid menyaksikan Lucie menatap lama pada dokter itu, hampir
seolah-olah ia terjebak dalam suatu monolog internal dan lupa bawa
waktu masih berputar di sini, di dunia nyata. Sesuatu tentang
memberikannya nomor pasien itu sudah membuatnya terguncang.
Ketika pria itu berdeham dan mengulurkan kertas, Lucie
tersadarkan.

"Tentu saja dokter Mann," setelah dengan cepat menulis sebuah


nomor telepon di kertas itu dia berkata. "Ini,"

"Oke, terima kasih. Sampai jumpa lagi."

Reid menunggu. Tiga detik berlalu…tujuh…dua belas. Pada


akhirnya Lucie menegakkan bahunya, berbalik dan berkata. "Kita
sepakat."
***

Bab 3

Lucie bergelung di ujung sofanya, menarik lutut ke dadanya. Ia


memegang buku di kedua tangannya, meskipun matanya menatap
baris-baris berwarna hitam, pikirannya tidak menyerap sepatah
katapun.

Perutnya mengejang. Ia belum makan malam karena terlalu gugup.


Yang terus terang aneh karena itu hanya Reid. Sahabat baik
kakaknya. Pria yang praktis pernah tinggal di rumahnya ketika ia
masih kecil. Pria yang ia impikan menjadi bagian terbaik dalam
dekade kedua hidupnya...pria yang sangat mungkin menjadi pria
terseksi yang pernah dilihatnya dan yang gambaran tubuh setengah
telanjangnya seperti terbakar sendiri di dalam kelopak matanya
karena setiap kali ia menutupnya Reid disana menunggu untuknya
dan sekarang Reid menginap di rumahnya—

Whoa! Bernafas, girl, bernafas. Ia menarik nafas panjang, lalu


mengeluarkannya pelan, merasa sedikit lebih baik.

Awalnya Lucie bersikeras daripada pindah ke kamar suite hotel


bersama Reid, Reid pindah ke apartemennya. Itu tidak masuk akal
untuk mereka berdua menginap di luar, dan dengan begitu sangat
kecil kesempatan dirinya diserang fans berat Reid. Reid muncul
setengah jam yang lalu, ia menunjukkan kamar tamunya, lalu
meninggalkannya untuk menginap.

Tiba-tiba suara nyaring dari "The Piña Colada Song" memecah


kesunyiannya. Ia ambil ponsel di meja kopi. "Hai, Nessie, ada apa?"

"Apa kau serius memberikan Dr. Jerkface nomerku? Karena dia


bilang dia mendapatkannya darimu, tapi kurasa itu tidak mungkin
benar. Maksudku, aku lebih senang berpikir bahwa pria yang sudah
disukai oleh teman baikku selama bertahun-tahun meminta darinya
nomer teleponku, dia akan bilang padanya untuk pergi saja
menyingkir."

"Ness—"

"Atau setidaknya, memberikannya alasan kenapa dia tidak


mengajakku pergi keluar."

Lucie menutup mata dan menaruh kepala di lututnya. Dengan semua


kegilaan tentang kepindahan Reid yang membuatnya lupa sama
sekali. "Apa yang terjadi?"
"Aku bilang padanya bahwa aku berkencan dengan seseorang tapi
kau belum tahu karena itu masih baru."

Ia menghela nafas lega. "Terima kasih. Maaf, dia mengejutkanku


dengan pertanyaan itu dan aku tak tahu apa yang harus dikatakan."

"Kapan kau akan bilang padanya tentang perasaanmu atau


melupakannya?"

"Vanessa..."

"Aku tahu kau tak senang ketika aku membicarakan ini, tapi ayolah.
Kau tak bisa menunggu seumur hidupmu untuk pria ini dan
memutuskan suatu hari dia menyukaimu."

"Yah, aku tahu, hanya saja—" Lucie mendengar Reid membuka


pintu kamar tidurnya menyusuri lorong. "Hei, aku harus pergi, tapi
aku akan menelponmu besok, oke?" Sebelum temannya bisa bicara,
ia menutup telepon, membungkam nada deringnya, dan
meletakkkannya di meja.

"Apa yang kau baca?"

Suaranya yang dalam bergema di ketenangan rumahnya, rumah pria


bebas yang terdengar keluar dari tempat. Ia melihat saat Reid
berjalan ke arahnya tidak memakai apapun kecuali celana pendek
atlet yang menggantung rendah—hampir terlalu rendah hingga tidak
senonoh—di pinggulnya. Di satu sisi Reid seharusnya di ujung yang
berbeda dari sofa, tapi ia entah mengapa kehilangan akal dengan
gangguan dari tubuh berototnya yang telanjang.
"Kalau kau tetap membuka mulutmu seperti itu, Lu, kau pasti akan
menangkap lalat," Reid menyeringai.

Mengatupkan rahangnya, dengan sangat malu Lucie kembali pada


buku di depannya yang mungkin saja ditulis dalam bahasa Ibrani. Ia
selipkan rambut basahnya di belakang telinga dan membersihkan
tenggorokannya. "Kau seharusnya memakai baju ketika kita tidak
sedang terapi."

"Kenapa? Semakin sedikit aku pakai semakin nyaman diriku. Aku


memakai celana pendek sebagai kesopanan untuk kebaikanmu."

Ia terkesiap. Ketika Reid tertawa, ia menyadari itulah reaksi yang


diinginkannya. Menyipitkan matanya, ia lemparkan buku ke arah
Reid, yang dia tepis dengan kibasan tangannya. Betapa
Menyebalkan.

"Tenang, Luce. Tidak ada salahnya menghargai orang yang memiliki


fisik yang menarik. Bahkan, itu adalah pelajaran pertama."

Lucie mendengus. "Bagaimana caranya memelototi seseorang


dengan benar?"

"Tidak. Bagaimana caranya membuat seseorang memelototi dirimu."

Tiba-tiba Lucie membutuhkan minuman dan langsung melesat ke


dapur. Ia hampir positif punya sebotol wine di—Aha! Mengambil
pembuka botol dari laci, ia bekerja cepat untuk membuka dan
menuang segelas besar Moscato wine, lalu menghabiskan dengan
cepat. Kemudian menuang lagi.

"Apa kau sering minum wine?"


Lucie melompat—lagi—dan berputar untuk bertatapan dengan Reid,
gelas di satu tangan, botol di tangan lainnya. "Bisakah kau berhenti
menyelinap seperti itu? Dan tidak, aku tidak biasanya minum wine.
Ini hanya hadiah natal dari seorang pasien."

"Aku tidak menyelinap. Kau yang melompat. Mungkin wine


bukanlah ide yang buruk." Dia memperhatikan apartemennya selama
semenit, membebaskan dirinya untuk gelas kedua tanpa penonton.
"Apa kau punya cermin panjang di sekitar sini?"

"Di kamarku, tapi—"

"Sempurna. Ayo." Reid meraih botol darinya dan menuntunnya ke


kamar.

"Apa yang kau lakukan?"

"Aku sudah bilang, pelajaran pertama: berpakaian untuk menarik


perhatian."

Lucie takut untuk meminta klarifikasi, dan malah memilih meneguk


wine. Setelah mendudukkannya di tempat tidur Reid memeriksa
lemarinya dan mulai menggeledah pakaiannya. Lucie berpikir secara
objektif, untuk bilang pada Reid menjauh dari barang-barangnya,
tapi alkohol sudah meringankan beban di bahunya dan ia
memutuskan untuk melihat apa yang dilakukan Reid.

"Jadi katakan padaku Luey, apa yang spesial dari pria ini? Kenapa
dia menjadi sasaran kita bukan orang lain?"

"Kenapa itu penting?" ia bertanya, memutar-mutar tangannya saat


menatapnya kembali. "Bisakah kubilang aku menyukainya dan
tinggalkan saja begitu?"

Saat Reid memindahkan hanger dari satu sisi ke sisi yang lain,
kadang menarik garmen keluar, tapi mengembalikan lagi dengan
gumaman menghina, ia memperhatikan gerakan otot-otot di bahu
dan punggungnya. Lucie pernah melihat Stephen dengan T-shirt
ketat ketika dia kadang menggunakan ruang PT untuk olahraga
cepat, tapi dia sama sekali tidak seperti Reid. Dimana Stephen
memiliki tubuh seorang pelari, ramping berotot, tubuh Reid jelas
berbeda. Dia tidak lebar atau besar sekali seperti pegulat gadungan
di TV, tapi tubuh mediumnya tidak memiliki satu ons pun lemak di
dalamnya, dan setiap incinya merupakan tempat untuk otot-otot yang
terbentuk dengan indah. Tentu saja bukan hal yang sulit untuk
melihatnya melakukan apapun, tidak masalah walau biasa, dalam
keadaan tanpa baju.

"Tidak. Tidak cukup bagus. Kau harus melakukan sesuatu yang


sangat tidak konvensional dan drastis untuk mendapatkan pria ini.
Jadi aku ingin tahu kenapa dia. Aku harus tahu apa yang kukerjakan
di sini jika aku akan membantumu."

Lucie menggigit bibirnya dan bertanya-tanya apakah ia berani bilang


padanya. Bahkan Vanessa tidak tahu, tapi seharusnya jika ia akan
membaginya dengan orang lain, pastilah Reid orangnya.
Bagaimanapun, dia di rumahnya untuk alasan yang terlihat yaitu
membantunya dalam usaha untuk berkencan, dan nantinya menikah,
dengan Stephen. Plus, dia akan pergi dalam beberapa bulan kedepan
jadi itu bukan seperti dia akan berada di dekatnya untuk menguasai
rahasianya yang luar biasa menyedihan sampai selamanya.

Membuka laci mejanya Lucie mengeluarkan halaman majalah yang


berkerut. Itu adalah halaman penuh iklan untuk perusahaan real
estate, menampilkan keindahan rumah kolonial dengan keluarga
ideal berdiri di depannya. Sang suami berdiri dengan bangga dengan
istrinya, satu tangan mengelilingi pinggangnya, tangan lainnya di
bahu anak laki-lakinya. Saudara perempuannya berdiri di depan sang
ibu yang sedang menggendong bayi di tangannya. Pasangan klasik
Amerika dengan dua anak dan anjing shih tzu yang setia di kaki
mereka.

"Ini," ia berkata, memberikan majalah. "Aku menyimpannya selama


tiga tahun. Ini yang aku mau."

Reid berbalik, mengambil majalah, dan memperhatikannya dengan


alis berkerut. "Aku tidak paham. Apakah dia tinggal di rumah seperti
ini atau apa? Jika itu yang kamu mau, aku bisa bilang padamu,
bahwa itu tidak—"

"Bukan, bukan rumahnya. Seluruhannya. Kehidupan yang sempurna.


Atau hampir sempurna karena semua orang tahu tidak ada yang
sempurna, tapi aku ingin mendekati sempurna saat aku
mandapatkannya dan iklan itu meneriakkan Hampir Sempurna."

Reid menggosokkan tangan di pangkal janggutnya. "Oke, aku bisa


melihat yang kau maksud, tapi seberapa sesuainya Mann dalam hal
ini?"

"Stephen cocok denganku dalam segala hal. Kami menikmati musik


yang sama, selera film dan makanan yang sama. Kami di bidang
yang sama, jadi kami tahu bagaimana saat kau butuh bekerja sampai
malam kadang-kadang. Dan juga keinginan bersama kami untuk
menolong kesembuhan orang lain dari cedera fisik.
Reid memotong ocehannya dan mengembalikan majalahnya.
"Baiklah aku mengerti. Jadi, kalian cocok satu sama lain. Tapi
sebuah hubungan membutuhkan lebih dari sekedar kesamaan bidang
bermain. Bagaimana dengan chemistry? Gairah? Cinta?"

Bagaimana dengan semua itu? Semua itu beresiko, begitulah. Ia


sudah pernah menjalaninya dan itu membuatnya langsung masuk
jurang.

Mantan suaminya menyebabkan dia menjadi wanita yang hancur.


Lucie percaya dia mencintainya dan sungguh menginginkannya
meskipun ada perbedaan. Dia bilang cinta mereka mengalahkan
perbedaan. Ketidak samaan pendapat itu akan memberi bumbu
dalam pernikahan mereka.

Rupanya dia juga berpikir tidur dengan wanita lain beberapa bulan
setelah pernikahan mereka akan sama saja.

Ia tidak pernah sangat tersakiti—sangat bodoh—ketika ia masuk saat


mantannya sedang melakukan semacam hippie tantric sex dengan
wanita gimbal yang menyaingi Bob Marley. Dia bahkan tidak
terlihat bersalah. Tidak, dia sebenarnya mengulurkan tangan
menyambut dan meyuruh dirinya untuk bergabung. Ia hampir
muntah saat itu juga sebelum lari dari ruangan itu, dan mengakhiri
pernikahan.

Itulah saat ia memutuskan untuk tidak akan pernah percaya bahwa


cinta adalah segalanya yang dibutuhkan agar sebuah hubungan
berhasil. Lucie menghilangkan istilah "ketertarikan lawan jenis" dari
kamusnya dan bersumpah untuk tidak bersama dengan orang yang
tidak benar-benar sesuai dengannya. Jika cinta nantinya masuk
kedalamnya, itu hanya akan menjadi sebuah bonus.
Tapi ia tidak dapat memberitahu Reid semua itu. Dia pasti akan
berpikir bahwa ia gila.

Melihat foto yang Lucie telusuri dengan ujung jari di sekitar rambut
gelapnya yang digambarkannya sebagai Stephen. Dia bahkan
memiliki penampilan yang sama. "Kita belum memiliki kesempatan
untuk menggali hal itu." Ia meletakkannya di laci dan mendorongnya
sebelum menatap Reid dengan percaya diri.

"Tapi aku tahu jika saja aku bisa membuatnya


melihatku...membuatnya memberikan kami kesempatan...kami akan
memiliki chemistry lebih dari yang kami tahu."

Reid menyilangkan tangan di dadanya dan menatap matanya selama


satu atau dua menit, seperti sedang menunggu dirinya berhenti dan
memutuskan ia tidak benar-benar percaya apapun yang sedang
dikatakannya. Tapi itu tidak akan terjadi karena ia sudah
mempercayainya. Seluruhnya dan semuanya. Akhirnya, Reid
memutus keheningan yang canggung.

"Luce, jangan tersinggung," dia bicara dengan menunjuk lemarinya,


"tapi pakaianmu payah."

Kata-kata sudah ada di ujung lidahnya untuk membela tentang


pakaiannya, tapi didetik terakhir ia hanya mehela nafas, bahunya
agak merosot. "Aku tahu. Seperti itu, kan?"

Reid meneliti piyama yang dipakai Lucie cukup lama hingga Lucie
menundukkan kepalanya, memikirkan sesuatu tidak pada tempatnya.
"Ada yang salah?"
"Apa kau selalu memakai celana flannel dan tank top longgar untuk
tidur?"

"Bukan berarti itu menjadi urusanmu..." Oh, bibirnya mulai kebas.


Hebat. Ia menyeringai. "...tapi ya. Benar." Senyum terpancar di
wajah Reid, menampilkan gigi putih yang rapi menakjubkan.
"Senyum yang cantik," ia berbisik keras.

"Cantik? Kurasa aku baru saja dikebiri. Oke, ayo," dia bicara sambil
mengambil gelas winenya.

"Hei!"

"Hanya sebentar, aku ingin menunjukkanmu sesuatu. Setelah itu kau


boleh menghabiskan sebotol. Jika aku beruntung, kau adalah jenis
wanita yang senang menari di atas meja ketika sedang terpengaruh
alkohol."

Ia terlalu kacau oleh gambaran itu hingga tidak menolak ketika Reid
mengambil tangannya dan membimbingnya melintasi ruangan.
Membayangkan dirinya berputar di atas meja tanpa mempedulikan
dunia membuatnya tertawa. "Tidak," Lucie bicara diantara
cekikikannya. "Kurasa aku cenderung tertidur daripada gila ketika
minum wine. Maaf mengecewakanmu."

Ketika mereka sampai pada cermin panjang antik di sudut ruangan,


Reid memiringka sudutnya supaya tidak terpotong pada leher saat
Reid berdiri di belakangnya. Leluconnya beberapa saat yang lalu
menghilang di tenggorokannya ketika Lucie bertemu dengan
pandangan intensnya pada bayangan mereka. Lucie membeku
ditempat, tidak bisa menggerakkan satu ototpun, saat ia melihat
tangan Reid yang besar bergerak keluar dari sudut pandangnya dan
menuju tubuh bagian depan Lucie.

Sentuhan pertama Lucie menarik nafas tajam. Reid menekan kain


sempit di tank top longgar perutnya, panas dari telapak tangannya
meresap kedalam kulitnya menetap jauh di dalam perutnya. Dengan
pelan tangannya berpindah ke atas merendahkan punggungnya, ibu
jarinya nyaris hilang di bawah gundukan payudaranya. Ketika
akhirnya mereka bertemu di tengah punggungnya, kain pakaiannya
ditarik kencang di sekujur tubuhnya.

"Nah," dia bicara dengan anggukan kecil. "Apa yang kau lihat?"

Ia menghisap bibir bawahnya diantara gigi dan menggelengkan


kepalanya. Lucie tak pernah percaya diri untuk menunjukkan seluruh
tubuhnya. Ia tidak memiliki lekuk tubuh atau payudara penuh dan
pinggul yang menarik para pria. Diantara masalah itu dan
sentuhannya yang mengacaukan otaknya—atau mungkin itu karena
wine—ia tak mampu memberi Reid jawaban lebih dari sekedar
helaan nafas frustasinya.

"Baju renang."

Butuh beberapa menit untuknya merespon pernyataan sembarangan


Reid. Jika itu bisa dianggap sebagai sebuah pernyataan. Mungkin
dua kata adalah sebuah kalimat. Atau istilah. Tunggu, apa yang dia
bilang?

"Apa?"

"Dimana baju renangmu? Aku ingin kau memakainya jadi kita bisa
melihat tubuhmu dan bukan pakaian yang kau pilih untuk
menutupinya."
"Aku tidak akan memakai baju renang."

"Tidak apa-apa," Reid menyilangkan tangannya. "Bra dan celana


dalam juga bisa."

Mulutnya ternganga. Apakah Reid serius? ia meneliti kilau kasar di


mata coklatnya. Sial. "Aku akan mengambil bajuku." Lucie
menggerutu dalam perjalanannya ke lemari besar di sepanjang
dinding.

"Ide Bagus. Aku akan menunggu di luar sementara kau ganti. Tapi
Luce..." ia menghentikan menggeledah laci atasnya dan melirik
melalui bahu padanya. "jika lebih dari tiga menit, aku akan
berasumsi kau pengecut dan aku akan mendatangimu."

Lucie menyipitkan matanya di belakang kacamatanya. "Apa kau


selalu mengancam orang lain sampai mereka menuruti
keinginanmu?"

"Tentu saja tidak. Aku belum pernah merasa perlu untuk mengancam
sampai bertemu dirimu," dia bicara dengan senyum ala model.
"Tiktok."

Lucie meraup segenggam penuh kaos kaki dari laci dan


melemparkan ke kepala Reid. Sayangnya dia menunduk dan
mengelak—memegang bahu yang cedera dan tertawa—berhasil
menghindari ketiga rudal kapas sebelum Reid menutup pintu di
belakangnya.
***
Bab 4

Lucie mencoba membuat dirinya kesal dengan teman


seapartemennya yang baru tapi dirinya malah tersenyum seperti
orang idiot. "Dasar sombong." Masih Reid yang sama seperti dulu.
Ia menggelengkan kepalanya dan kembali mencari baju renangnya.
"Aha! Aku menemukanmu, anak nakal." Diangkatnya pakaian yang
ia beli karena paksaan Vanessa untuk liburan mereka, Lucie
mengernyit. Tidakkah ini terlalu berlebihan?

Dia menyukai warna biru keabuannya dengan motif sulur berwarna


biru muda, tapi dia berharap sisinya tidak memiliki potongan
setinggi ini. Potongan di kakinya setinggi tulang pinggulnya.
Vanessa mengklaim bahwa potongan itu akan menonjolkan
pinggangnya, dan potongan leher yang rendah seharusnya
menciptakan ilusi dada yang lebih besar. Ia mengangguk dengan
patuh kepada nasehat tentang fashion dari sahabatnya, tapi memiliki
keragu-raguan yang amat sangat bahwa sesuatu dapat ditonjolkan
dari dirinya. Liburan mereka dibatalkan di menit terakhir saat satu
kasus yang Vanessa pegang di bawa ke ruang sidang secara tiba-tiba,
jadi dia sangat bersyukur tak perlu mengenakan pakaian renang itu.

Lucie mendesah dan berganti pakaian. Setidaknya pakaian renang itu


satu set, yang mana bisa dikatakan pakaian itu terlalu berlebihan
dibandingkan apapun yang Vanessa pakai di sekitar kolam atau
pantai. Semenit kemudian ia berdiri dihadapan cermin miliknya yang
tinggi, menutup matanya, dan mencoba mengabaikan darah yang
mengalir deras ke telinganya saat ia memanggil Reid.

Pintu terbuka dengan suara derit kecil, tapi pria itu tak membuat
suara saat ia bergerak diatas lantai. Keheningan membuat mulut
gadis itu kering dan jemarinya berkedut di sisi tubuhnya. Dimana
dia? Apakah dia mencoba untuk tidak tertawa? Oh Tuhan, mengapa
dia membiarkan pria itu membuatnya melakukan semua ini?

Tiba-tiba ia merasakan panas tubuh pria itu terasa di punggungnya.


Dia dekat. Sangat dekat. Deru nafasnya menggelitik rambut yang di
sampirkan di telinganya, dan saat ia bicara, getaran dari suaranya
berdesir di sekitar lehernya. "Buka matamu, sayang."

Dengan sengaja Lucie membuka pelan kedua kelopak matanya


hingga sekali lagi ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan
Reid berdiri di belakangnya. Tubuh pria itu membuat tubuhnya
terlihat ramping kalau dibandingkan dengannya. Dia tahu seluruh
ukuran tubuh pria itu dari menonton pertandingannya. Enam kaki
tiga inchi (190 cm), dua ratus lima pound (93 kg), sedikit lagi agar ia
tak perlu menurunkan beratnya untuk pertandingan, dengan
jangkauan tangan tujuhpuluh-enam inchi. Bagian atas bahu Lucie
sedikit dibawah ketiak Reid, dan jika ia membiarkan kepalanya jatuh
kebelakang, kepalanya akan bersandar dengan nyaman di lengkung
leher pria itu.

"Sekarang," kata Reid, membawanya keluar dari observasi


khayalannya. "Katakan padaku apa yang kau lihat."

"Bahu yang kuat. Dada yang kokoh. Lengan yang terbalut otot yang
sangat sempurna dan membuatnya terlihat superseksi..."

Pria itu menyeringai pada pantulannya di cermin dan suaranya


berubah menjadi gemuruh rendah yang memberi getaran langsung
ke putingnya. "Kau pikir lenganku seksi, Lu?"

"Mmm-hmmm." Mengapa dirinya terlihat seperti menyunggingkan


senyum bodoh di wajahnya? Tentu saja ekspresi itu tidak seperti
dirinya.

"Terima kasih. Aku akan berkata jujur padamu bahwa tak pernah ada
seorangpun mengatakan hal itu padaku."

Well itu sangat memalukan. Ia baru saja akan memberitahukan


padanya saat ia secara tiba-tiba memotong pikirannya. "Maksudku,
katakan apa yang kau lihat dalam dirimu, Lucie."

"Oh." Mempelajari pantulan dirinya, yang ia lihat hanyalah seorang


wanita yang terjebak dalam tubuh seorang gadis yang mencoba
sekeras mungkin untuk merubah penampilannya dan menantang
kemustahilan. "Um. Aku melihat..." Apa yang Reid ingin ia katakan?
"Ini bodoh, Reid. Aku tak mau melakukan ini lagi."

Saat Lucie berbalik dan akan meninggalkannya dia menggenggam


pinggulnya dan memaksanya tetap ditempat. "Aku akan
memberitahumu apa yang aku lihat. Aku melihat wanita cantik yang
bersembunyi dibalik rasa tidak aman yang tidak seharusnya tinggal
berlama-lama di dalam kepalanya." Gadis itu merunduk menatap
lantai, tapi jari-jari yang kuat mengangkat dagunya. "Aku melihat
tubuh dengan kulit kuning langsat yang mulus dan lekuk tubuh halus
yang memaksa seorang pria menutup matanya dan membayangkan
menelusuri tubuh ini layaknya seorang pemahat pada subjeknya."

"Benarkah?" suaranya melengking.

"Tentu saja." Reid menutup matanya dan meletakkan tangannya di


bagian luar pahanya, kemudian meluncurkan tangannya ke atas
dalam gerakan lambat yang menyiksa. kulit tebal di telapak
tangannya menggesek kulitnya lembut, menanamkan kedalam tiap
syaraf sentakan energi yang tak pernah tahu bagaimana rasanya
sebelumnya. "Sebelum seorang pemahat bisa menduplikasi
keanggunan sebjeknya, ia harus mengingat subjek itu dengan
kekuatan sentuhan, bukan bergantung pada lemahnya pandangan
mata."

Bibir Lucie terbuka saat nafasnya keluar lebih cepat dan jantungnya
berdetak dua kali lebih cepat. Mungkin lebih. Tangan Reid
melanjutkan eksplorasinya, mencakup daerah pinggang dan bergerak
ke sisi tubuhnya dengan sentuhan lembut seperti layaknya seorang
pria yang memegang kendali. Seorang pria yang tahu apa yang
diinginkannya, dan mengambil kesempatan itu tanpa belas kasihan.

"Saat tangannya bergerak ke setiap sudut, setiap lekuk, setiap


lembah...tubuh seorang wanita terbentuk dalam pikiran Reid,
menanamkan setiap otot di memori, jadi ia bisa menduplikasi wanita
itu meskipun ia buta."

Lucie pikir pakaiannya akan membatasi sensasi sentuhan yang


berlebihan daripada kontak kulit-ke-kulit...tapi kemudian tangan itu
meluncur ke perutnya dan semua rasa lega yang ia rasakan langsung
terlempar ke neraka. Tangan yang selebar tangan Reid, saat
ditempatkan ke bagian tengah tubuhnya, dengan mudah
membentang keseluruh tubuhnya.

Dia tak yakin apakah ini karena anggur atau faktanya bahwa Reid
Andrews, sahabat kakaknya yang superhot dan pria yang ia sukai
saat remaja, menyentuhnya dengan sangat intim dan menyebabkan
pengalaman yang diluar-khayal-tubuhnya. Dari jauh Lucie melihat
saat jari kelingking kiri Reid menjelajahi puncak gundukannya,
terlalu tinggi untuk dianggap tak berdosa, tapi terlalu rendah untuk
menyebabkan puntiran di perutnya dan membuatnya menekan kedua
pahanya bersamaan dan mengigit bibirnya untuk mencegah erangan
yang tak ingin terdengar. Dan jika itu belum cukup, jempol kanan
Reid mengelus alur diantara payudaranya.

Reid menenggelamkan wajahnya ke rambut Lucie, ia menghirup


dalam-dalam dan mengeluarkan suara berupa campuran erangan dan
geraman, yang mana merupakan suara paling erotis yang Lucie
pernah dengar. "Sialan kau berbau harum."

Lututnya bergetar. Kekuatannya untuk berdiri menghilang. Kabut


tebal telah bertiup ke dalam pikiran Lucie, berpikir jernih jelas sudah
tak mungkin terjadi. Melepaskan benteng terakhirnya, Lucie
membiarkan kepalanya terjatuh kebelakang dan mengarah ke
samping saat nafas Reid yang panas terhembus di dekat daun
telinganya.

Tangan Reid mulai menggenggam, jari-jarinya menusuk ke dalam


kelembutan tubuhnya. Lucie mengucapkan nama Reid dalam
rintihan...

Dan semuanya terhenti.

Dengan sumpah serapah tertahan Reid memegangi tangan Lucie


menyeimbangkan tubuhnya saat Reid mencoba menjauh. Setelah
yakin bahwa ia tak akan menabrak cermin dengan mukanya, Reid
melepas tangannya dan mengelap wajahnya dengan telapak
tangannya, kemudian bergidik dan memegangi bahunya yang
terluka. "Aku benar-benar minta maaf, Lucie. Aku— Sial, aku tak
tahu apa yang merasuki tubuhku. Aku tak bermaksud melakukan
semua itu."

Bam! Oh, bagus. Realitas sudah kembali. Lucie mengayunkan


tangannya di udara dan memberi Reid sinyal pssh yang terdengar
seperti seekor kuda yang menghembuskan nafasnya melalui bibir.
"Jangan pernah berpikir tentang hal itu. Aku lebih mabuk dari pada
kau jadi penilaianku tidak sah, dan kau menutup matamu, jadi kau
tak bisa disalahkan karena bergairah saat membayangkan aku
sebagai orang lain." Mencoba untuk tidak terjatuh dan bersikap tolol,
Lucie berjalan untuk mengambil piyama di lantai.

"Lu..."

Memasang senyuman, akhirnya Lucie berbalik. Ada beberapa saat


dimana ia mungkin atau tidak mengancam bola matanya dengan
tercongkel dari tempatnya jika kedua bola matanya masih
memperhatikan dari wajah hingga bagian tubuh bawah Reid. Lucie
mungkin saja mabuk dan kehilangan rasa malu, tapi ia masih ada
harga diri. "Sejujurnya, Reid, ini bukan apa-apa. Aku hanya lelah. Ini
minggu yang panjang."

Sekali lagi mengelap wajahnya sebelum Reid menaruh kedua tangan


di pinggangnya dan memperhatikan Lucie cukup lama. "Okay, yeah,
aku rasa kita berdua harus pergi tidur. Maksudku kita harus pergi ke
tempat tidur. Tidur! Sial."

Yep. Reid sangat payah dalam permainan memilih-kata. Lucie harus


ingat untuk tidak berpasangan dengan Reid saat bermain Taboo! atau
Catch Phrase. "Selamat malam, Reid."

"Malam, Luce."

Segera setelah pintu ditutup, Lucie mengalahkan rekor mengganti


bajunya saat dalam keadaan mabuk dan langsung bergerak ke bawah
selimut. Dia bersyukur tak perlu menggosok gigi lagi karena dia
sudah melakukannya setelah mandi tadi karena meninggalkan
kamarnya hanya untuk memakai kamar mandi dan mengambil resiko
melanjutkan Tango Aneh mereka benar-benar tidak mungkin
dilakukan.
~o0o~

Reid fokus pada suara kakinya saat menyentuh lantai treadmill,


ritme dentuman menjadi sebuah soundtrack therapi pada hukuman
yang ia berikan pada tubuhnya.

Meskipun ia sudah mengatakan pada Lucie ia akan tidur, tak


mungkin ia bisa melakukannya hingga ia mengeluarkan energi yang
terpendam yang ia hasilkan dari pelajaran-pertama-yang-berubah-
kacau untuk Lucie. Ia tak bisa menghitung lagi sudah berapa sering
ia memutar kejadian itu dikepalanya seperti DVD yang terjebak
mengulang-ulang tanpa memiliki tombol off.

Matanya tertutup hampir di sepanjang pengalaman itu, tapi ia tidak


berbohong saat ia mengatakan bahwa tangannya akan menciptakan
bayangan mereka berdua di dalam pikirannya. Sudah hampir satu
dekade sejak tangannya menyentuh media pahat apapun, tapi tangan
itu tidak pernah lupa bagaimana mengingat setiap detail dari sebuah
subjek. Tidak lupa bahkan dengan pengaruh alkohol.

Saat keringat membanjiri tubuhnya, ia mencoba untuk memutuskan


momen yang tepat saat pelajaran itu berubah menjadi sesuatu yang
lebih dari sekedar gairah. Bahkan, jika dia harus jujur pada dirinya
sendiri, itu mungkin sudah terjadi sejak ia menginjakkan kakinya di
kamar itu dan melihatnya dalam pakaian renang satu-set yang seksi,
matanya yang tertutup, dan menunggu dirinya.

Dia tak pernah menonjolkan tubuhnya seperti gadis lain. Lucie


sebenarnya lebih mirip kutu buku dan sepertinya lebih nyaman
berdiri dibawah bayangan dari pada seseorang yang suka menjadi
sorotan, sama seperti kakaknya. Saat remaja, Lucie sudah seperti
adik perempuan Reid juga, membayangkan seberapa sering waktu ia
habiskan dirumah keluarga Maris.

Jadi mengapa perasaan sayang seorang kakak tiba-tiba lebih terasa


seperti gairah sepasang kekasih? Sial! Reid harus memikirkan apa
yang harus ia lakukan pada pelajaran yang ia janjikan padanya atau
ini akan menjadi beberapa bulan yang terasa seperti di neraka.
Melirik pada odometer di layar, Reid memeriksa jaraknya untuk
mengatur angka sepuluh dan membuat dirinya berjalan untuk
pendinginan di atas treadmill.

Jarak. Itu dia. Ia harus tetap menjaga jarak saat mengajari Lucie
bagaimana menjadi dirinya yang baru. Mungkin selanjutnya ia akan
menggunakan metode pengajaran profesional. Ia bisa berdiri di sisi
lain ruangan dan Lucie bisa duduk di sofa dan mencatat beberapa
hal. Reid tertawa keras saat ia membayangkan skenario menggelikan
itu. Sampai saat Lucie di skenario menggelikan itu tiba-tiba
memakai seragam sekolah versi Britney Spears dan meminta
bantuan di pelajaran Cara Menggoda nomor 101.

"Sial!"

Reid memukul tombol STOP dan turun dari mesin itu. Bernafas
cepat dan berat, ia membiarkan kesadarannya kembali dan menutup
matanya, tapi memutuskan untuk membilasnya sebelum gambaran
itu kembali. Sepertinya akan ada mandi air dingin sebelum ia tidur
malam ini. Dan mulai besok, semua pelajaran akan benar-benar tidak
ada sentuhan tangan dan setidaknya jarak diantara mereka berdua
harus sejangkauan tangan Reid.
***
Bab 5

"Tentu saja tidak!"

Reid terkekeh dari tempat duduknya di depan ruang ganti


department store ketika Lucie mencoba pakaian kelima. Setelah sesi
terapi pagi mereka dan tangan lumpuhnya sudah dilatih, mereka
pergi keluar untuk makan siang. Melihat cara Lucie bersikap di
depan publik adalah sebuah penyiksaan bagi Reid. Dia cenderung
bereaksi bukannya berpartisipasi di dalamnya, atau bahkan
berinisiatif. Ketika diajak bicara, ia menjawab. Ketika diberi sesuatu,
dia menerima. Tapi ketika dunia tidak berinteraksi dengannya, ia
seperti berada di dalam gelembung. Ia bahkan tidak melihat orang-
orang di sekelilingnya ketika di restoran.

Untuk alasan apapun, Lucie bersikap seolah-olah ia memang tidak


perlu membuat riak ombak lagi di dalam kolam kehidupan ini.
Bagaimana dengan Reid? Ia lebih suka pendekatan yang agresif, tapi
ia tahu hal itu bukan untuk semua orang. Jika Lucie ingin dokter
sialan itu memperhatikannya, biar bagaimanapun, dia harus
membuat percikan kecil. Untuk itu, Reid memulai dengan mengubah
penampilan luarnya terlebih dulu.

Ketika mereka selesai makan siang, Reid mengatakan pada Lucie


tentang rencananya untuk membawa Lucie berbelanja pakaian baru.
Tentu saja Lucie mengatakan tidak, tapi ketika Reid mengancam
untuk membakar setiap helai pakaian di lemarinya, akhirnya dengan
enggan Lucie berubah pikiran.
Reid sangat terkejut ketika tidak menemukan sehelai pun pakaian
yang layak di lemarinya. Jelas terlihat ia memang memiliki masalah
dengan tubuhnya, meskipun dalam pola pikir Reid, ia masih tidak
tahu mengapa. Tubuhnya ramping dan fit. Payudararanya kecil, dan
ia harus menumbuhkan rasa percaya diri wanita itu jika Lucie
berpikiran bahwa setiap pria ingin bermain dengan sepasang
payudara Dolly Partons. Tapi Lucie adalah seorang wanita yang
sangat cerdas, sehingga seharusnya ia mengetahui bahwa hal itu
konyol, kan?

"Ayo Lucie, mari lihat ini." Asisten wanita yang melayani mereka
telah memilih semua pakaian yang menonjolkan tubuh Lucie dan
bukan menyembunyikannya. Reid menyetujui semua yang telah
dicobanya. Dari celana jeans pendek berkancing untuk musim panas,
dia terlihat menarik dalam setiap pakaian yang ia coba.

"Tidak. ini berlebihan Reid, aku akan melepasnya."

Karena asisten mereka sedang membantu pelanggan lain, dia


mengasumsikan bahwa itu adalah "Little Black Dress" yang Lucie
bersikeras harus ada di setiap lemari setiap wanita. "Entah kau
keluar, atau aku yang masuk. Tidak masalah bagiku."

Lucie mendesah putus asa dan menggerutu menyuarakan namanya


bercampur ancaman yang sangat tidak menyenangkan pada
kejantanannya. Namun Reid tersenyum. Reid tidak bisa
menahannya; Lucie sangat menggemaskan ketika marah.

Akhirnya Lucie membuka pintu kamar ganti dan berjalan beberapa


langkah hingga berdiri di hadapan Reid, ia meletakan tangannya di
pinggul dan menatap Reid. "Ini tidak sopan."
Reid mengamati dengan pelan dan tidak bisa melihat bahwa itu bisa
dikatakan tidak sopan. Bahkan ia sangat kecewa. Meskipun bahan
tipis gaun itu membungkus tubuhnya seperti gaun malam yang seksi,
bagian depannya menutup sepanjang tulang selangkanya dan tidak
menunjukan kulit apapun sampai berakhir di paha.

"Itu bukannya tidak sopan sayang," katanya sambil bersandar ke


bantal dan menyilangkan tangannya di depan dada. "Itu di sebut
membosankan,"

"Oh, benarkah?" ia berputar di heels bertali hitamnya. Lucie


memunggunginya…dan Reid lupa untuk nafasnya.

Bagian depan gaunnya memang kurang menarik, namun bagian


belakangnya lebih imbang. Seluruh punggungnya terbuka dengan
pengecualian tali spageti tunggal yang melintasi bahunya,
menghubungkan kedua sisi gaunnya. Bahan itu mengikuti garis
punggungnya dengan sisi kanannya menyapu bagian bawah
punggungnya hingga berhenti tepat di bagian atas pinggul kirinya.
"Ya Tuhan."

"Seperti yang kubilang…" Lucie berjalan kecermin tiga sisi, dan


membiarkan tangannya jatuh di sisi tubuhnya.

Reid pindah berdiri di belakangnya. Jari-jarinya gatal untuk


menelusuri lekuk tulang punggungnya. Dia tidak bisa menahan
untuk bertanya-tanya bagaimana reaksi Lucie pada hal itu, dimana
orang bisa melihat mereka, dan tidak pula sedang mabuk karena
anggur. Apakah ia akan menarik diri dalam keterkejutan dan rasa
malu? Atau apakah ia akan bergetar dan melengkung karena
sentuhannya?
Ketika ia sadar bahwa ia menempatkan dirinya dalam bahaya
mengalami ereksi meskipun percaya pada keyakinannya malam
kemarin, dia meletakkan pikiran seksualnya di penggalan, berharap
membunuh pikiran itu sebelum merusak puasa yang ingin ia
lanjutkan demi kepentingan Lucie.

Hentikan itu, Brengsek.

"Kau sedang tidak memberi T&A peekaboo show (pamer payudara


& pantat) pada siapapun, Luce."

"tapi—"

"Cukup. Tidak peduli kau percaya atau tidak, tapi gaun ini seksi dan
berkelas." Tatapannya jatuh pada sosok Lucie di cermin yang
terbuka untuk dipandang oleh seluruh dunia. "bagian belakang
adalah salah satu favoritku dari tubuh wanita. Aku suka menelusuri
dan menjilati garis dangkal tulang punggungnya, dari atas dan terus
turun ke lekuk kembar di bagian di dasar punggung." Reid nyaris
tidak bisa menghentikan dirinya untuk menambahkan bahwa ia juga
senang melihat gerakan tulang belikat kekasihnya ketika ia
meletakkan tangan di atas kepalanya untuk disetubuhi dari belakang.

Reid mendongak dan mendapati matanya menyipit dan meneliti


dirinya. "Maksudku, Lucie, punggung wanita sangatlah anggun.
Bukannya memalukan." Ketika Lucie mengucapkan uh-huh yang tak
jelas, Reid berdeham dan menyilangkan tangannya di depan
dadanya. "Apa?"

Lucie menggelengkan kepalanya perlahan, tidak yakin apa yang


akan ia katakan padanya. "Ada sesuatu yang lebih darimu, bukankah
begitu?"

Reid tersenyum dan mengangkat alisnya. "Aku bukan Trasformer,


jika itu yang kau maksud."

Setidaknya hal itu membuat Lucie tertawa ringan ketika ia berbalik


menghadapnya. "Tidak, maksudku, kau bukan hanya seorang
petarung. Kau melihat sesuatu dari sisi yang berbeda dari
kebanyakan orang. Ada sisi yang sangat artistik dalam dirimu,"

Tidak ada yang pernah mengatakan hal itu kepada Reid sebelumnya.
Ini seperti seluruh aspek kehidupannya sudah menghilang sejak ia
melakukan apapun kecuali bertarung. bukan berarti dia tidak
mencintai olahraganya, tapi terkadang ia berharap itu bukanlah satu-
satunya yang ia lakukan. Reid mengangkat bahu. "Mungkin aku
memang pernah. Ketika SMA aku mencoba untuk mengambil mata
pelajaran pertokoan, tapi karena beberapa kesalahan aku
ditempatkan di kelas seni. Aku tidak bisa melukis dengan baik, tapi
aku belajar bagaimana membuat sketsa dan menggambar dengan
cukup baik. Dan kemudian kami memahat patung…" Reid
menegang ketika mengingat ketidak setujuan ayahnya membanjiri
kepalanya. Sebenarnya sedikit sulit untuk Reid mengingat tentang
pahatan itu tanpa kenangan tentang ayahnya yang mengacaukan
semua perlengkapan dan studio sederhana buatannya sendiri.

"Reid?" ia tersentak dari pikirannya, matanya mengerjap.


"Bagaimana dengan patung itu?"

"Sudahlah, itu tidak penting." Ia berbalik untuk memanggil pelayan


untuk mengumpulkan pakaian tersebut, tapi Lucie meraih lengannya
untuk menghentikannya, menempatkan dirinya di garis pandang
Reid lagi.
"Ya itu pentng. aku bisa melihatnya di matamu. Ini sangat penting
untukmu. Please, katakan padaku."

Kata-katanya dikombinasikan dengan jemarinya yang menekan


telapak tangan Reid, seperti infus hormon costisone secara mental.
Ini sama sekali tidak memperbaiki masalah, tapi membuatnya mati
rasa sudah cukup untuk menyelesaikan pekerjaannya. Reid
menghela nafas dalam-dalam dan menceritakan kisah yang hanya
pernah ia ceritakan pada Jax.

"Aku menikmati memahat. Aku menyukainya karena aku bisa


membuat sesuatu dengan tangan yang sama untuk menghancurkan
lawanku di ring. Kau betul. Aku melihat hal-hal secara berbeda. Aku
tidak hanya melihat sebuah apel, tapi aku memperhatikan lekuk dan
garis-garis yang membentuk apel itu sendiri. Termasuk memar di
satu sisi yang membuat sedikit datar seukuran sebuah sidik jari.

"Tapi orang-orang tidak mau tahu sisi itu dalam diriku. Mereka ingin
mengetahui apa yang kulakukan untuk menurunkan berat badan,
rutinitas baru apa yang aku dan pelatihku lakukan, dan kurasa, aku
akan pulang dengan tangan terangkat di pertandingan berikutnya.
Itulah keahlianku. Itulah diriku."

"Tapi kau salah," katanya, melangkah sedikit kedepan. "Siapakah


dirimu bukan hanya satu hal. Ini adalah semua yang kau sukai. Kau
bisa menjadi pematung Reid, dan sekaligus menjadi petarung jika itu
yang kau inginkan."

Kelembutan dari keyakinannya membuat Reid ingin memeluknya


dan mencium bintik berbentuk hati di sudut bawah mata abu-abunya
yang lembut. Mata yang menembus segala omong kosong dirinya
dan melihat jiwanya secara sekilas.

"Kau tahu apa yang kuinginkan? Aku ingin makan." Ia memanggil


seorang pelayan wanita dengan tangannya. "Tolong bantu dia dengan
label gaun yang satu ini. Dia akan langsung mengenakannya keluar
toko. Kemudian kami akan mengambil semua yang sudah di
cobanya. Terima kasih."

Ketika Reid menyerahkan kartu kredit, Lucie terbelalak menatapnya.


Reid sangat senang Lucie mengenakan kontak lensanya hari ini. Ia
terlihat seperti pustakawan seksi dengan kacamatanya, tapi ia lebih
suka ekspresi mata abu-abunya tanpa terhalang. Bahkan meskipun
ekspresinya tengah menunjukan rasa marahnya.

"Apa lagi yang salah?"

Dia menyilangkan tangannya di bawah payudaranya dan


mengangkat dagunya. "Aku mungkin bukanlah selebriti besar UFC
sepertimu, tapi aku tidak semiskin itu. aku akan membayar untuk
pakaianku sendiri."

Reid tidak pernah mengira Lucie akan mengatakan hai itu. Reid
tidak terbiasa dengan wanita yang bersikeras membayar barang-
barang mereka sendiri ketika bersamanya. Dia mempunyai banyak
uang lebih yang dia sendiri tidak tahu harus digunakan untuk apa
semua hasil pertarungan dan produk pendukungnya. Bahkan wanita
itu bersikeras untuk membeli pakaiannya sendiri yang Reid pilihkan
menegaskan karakternya.

"Luce," katanya, menarik tangannya kebawah hingga ia bisa


menggenggam tangan wanita itu, dengan efektif memecah bahasa
tubuh yang menunjukan kemarahannya. "Aku tahu kau bisa membeli
pakaianmu sendiri. Kau sukses, kuat, wanita mandiri yang tidak
memerlukan orang lain untuk merawatnya."

Api di mata Luce sedikit meredup ketika ia berusaha untuk tetap


bertahan. "Kau benar. Aku memang tidak butuh."

"Tapi, pakaian baru ini adalah ideku, jadi aku yang akan membelikan
pakaianmu dan membawamu pergi makan malam." Lucie baru saja
akan berkomentar—ini seperti hal kesukaan seorang wanita, ya
tuhan—kemudian ia menempatkan jarinya di bibir Lucie dan
berkata. "Tidak ada komentar. Aku akan pergi ke bagian departemen
store untuk pria, dan mencari sesuatu yang lebih tepat dari pada
celana pendek kargo dan polo ini. Dan beberapa ibuprofen (obat anti
peradangan) untuk bahu sialan ini. Tunggu di sini dan aku akan
segera kembali untuk menjemputmu."

Dia menurunkan jarinya dan berbalik untuk pergi ketika ia


mendengar, "Tapi—"

Dengan geraman frustasinya, Reid meraih tengkuk Lucie dan


menarik tubuhnya ketika ia menanam bibirnya pada bibir Lucie.
Tubuhnya kaku, lengkingan kaget keluar dari suatu tempat di dalam
tenggorokannya. Tapi sedetik kemudian lengkingan kecilnya
berubah menjadi sebuah erangan dan tubuhnya meleleh diatas tubuh
Reid. Di suatu tempat di dalam pikiran Reid, hari kecilnya meneriaki
kata-kata "pendekatan tanpa intervensi" tapi dengan cepat libidonya
menjatuhkan hal itu ke matras, membuang segala pengingat yang tak
diinginkan dengan tiba-tiba.

Bibir Lucie terasa hangat di bawah bibirnya dengan rasa lipgloss


strowberi yang dipakainya. Reid yakin lidahnya akan terasa ranum
dan manis, tapi nalurinya mengatakan jika ia menyebrangi garis itu
maka ia tidak akan bisa berhenti. Sebelum ia lepas kendali terhadap
kebutuhan primernya dan mendesak Lucie ke ruang ganti terdekat
dan menunjukan padanya seberapa bagus jika gaun itu tergeletak
dilantai, Reid menghentikan ciumannya untuk melihat tatapan
kebingungan di wajah Lucie. "Dasar wanita, apakah kalian harus
terus berdebat? Cukup ikuti rencanaku atau taktik yang selanjutnya
adalah tamparan pantat di depan umum."

Lucie terkesiap dan menjauh darinya dengan pipi memerah untuk


menyesuaikan dengan bibir warna rubi yang baru-saja-dicium.
Rupanya gambaran tangan Reid di pantatnya adalah satu-satunya hal
yang Reid butuhkan untuk menakut-nakuti Lucie. Benarkah hanya
itu? setelah melihat lebih dekat ia bersumpah melihat kilatan birahi
di mata Lucie. Mungkinkah Lucie yang polos memiliki setan kecil di
dalam dirinya?

Sialan. Hanya pikiran itu saja sudah membuatnya mengeras di balik


celananya. Dia harus keluar dari sana. Cepat. Ketika ia bicara, ia
terkejut mendengar getaran di suaranya. "Aku tidak akan lama,"
kemudian ia berputar dan melangkah keluar untuk menemukan toko
pakaian pria terdekat…dan sedikit waktu untuk menghilangkan
ereksinya, dan sekarang ia sedang terangsang pada adik sahabatnya.
***

Bab 6

Lucie tak bisa mengingat kapan terakhir kali merasa segugup ini
sebelumnya. Perutnya terpilin luar dalam ia pikir untuk
memastikannya jika melihat ke bawah ia dapat melihat kekusutan
dimana normalnya ada perut yang rata.
Reid menuntunnya pelan dengan tangan yang besar pada
punggungnya yang sebagian besar telanjang melalui labirin restoran
sampai pemilik menunjukkan meja mereka. Setelah memegang
bangkunya dan duduk sendiri, Reid berjalan dekat meja persegi
berlinen pada bangkunya yang berseberangan dengan Lucie.

Ia heran dengan cara bergerak Reid yang anggun dan dengan


mudahnya memakai pakaian mahal yang dia beli saat mereka keluar.
Kemeja putihnya pas memeluk tubuhnya, menempel pada oto-
ototnya setiap kali bergerak. Meskipun mereka berada di hotel
bintang lima, ia senang karena Reid tidak benar-benar menggunakan
pakaian resmi, membiarkan kancing atasnya tidak terkancing dan
membiarkan kemejanya terbuka di atas jins gelapnya.

Dengan rambutnya yang disisir ke atas, menunjukkan garis depan


kepalanya, dan tatonya terlihat melalui kemejanya, Reid adalah
simbol seorang bad boy. Jelas merupakan kebalikan dari tipe pria
kesukaannya. Meskipun entah bagaimana Lucie menemukan Reid
benar-benar lezat.

Seperti ciumannya.

Lucie dengan cepat mengambil menu untuk menyembunyikan panas


di seluruh wajahnya saat mengingat bibir Reid di bibirnya. Ia tahu
Reid melakukannya untuk menutup mulut Lucie—tidak secara
seksual—tapi saat mulut Reid menyentuh miliknya dunia di
sekitarnya menjadi terlalu fokus hanya pada bibir Reid. Sedikit
reaksi, gerakan intim membuatnya terkejut, setidaknya begitu.

"Jadi apa yang kau inginkan?" katanya


Membersihkan tenggorokannya dengan hati-hati Lucie menurunkan
menu dan memilih yang pertama yang ia lihat. "Chicken Marsala
terlihat enak."

"Itu terlihat enak, tapi aku pria penyuka steik." Pelayan datang dan
meminta pemesanan minuman. "Whiskey sour untukku dan sebotol
wine Moscato untuk adikku."

Pelayan itu terlihat tidak lebih tua dari dua puluh dua tahun untuk
Lucie yang dua puluh sembilan, tapi pelayan itu memberikan Lucie
senyum mengundang, kedipan, dan berkata, "Dengan senang hati.
Saya akan kembali dengan wine Anda."

Diam, Lucie menungu sampai pelayan itu keluar dari jarak dengar
sebelum berkata, "Jika ini terlalu memalukan terlihat di tempat
seperti ini denganku, kau seharusnya tidak membawaku."

Tangan yang sedang memegang gelas yang setengah di mulut Reid


menegang dan alisnya naik. "Kenapa aku harus malu terlihat dengan
wanita cantik?"

"Ya, benar." Ia mendengus dan menyibukkan dirinya dengan


membuka lipatan serbet gelap dari desain mustahil gaya origami.
Kenapa restoran ini membuat orang merasa tidak layak sebelum
minuman mereka datang? "Aku melihat jenis wanita yang kau dan
Jackson kencani. Mereka setara dengan fans wanita di rodeonya
MMA. Bom seks berdada besar yang memiliki gelar master dalam
Acrobat di kamar tidur." Setelah meletakkan serbet yang tak terlipat
di pangkuannya, ia melihat Reid yang tetap terlihat bingung. Ia
menghela nafas dan menjelaskan, "Kau memutuskan memanggilku
adik di depan pelayan karena kau tidak ingin kencanmu ternoda
dengan Plain Jane sepertiku."
Lucie bersumpah ia mendengar Reid menggeram dan jika wajahnya
menunjukkan sesuatu, itu terlihat seperti ia mungkin sedang
membangunkan beruang tidur. "Mari kita perjelas satu hal," katanya,
meletakkan gelas. "Aku tak ingin mendengar istilah Plain Jane yang
mengacu padamu lagi. Pria manapun, termasuk aku, akan bangga
memilikimu dipelukannya."

Meskipun ia tahu reaksi Reid sebagai suatu hal yang protektif, lebih
seperti yang akan Jackson lakukan, ketulusan dalam suaranya
menyentuh dirinya...sampai pikiran lain kepalanya muncul setelah
sekian lama bersembunyi. Stephen tidak memandangnya seperti itu.

Seperti membaca pikirannya, Reid berkata, "Dan segera dokter


milikmu akan mengeluarkan kepala dari pantatnya dan
menyadarinya, juga." Reid berhenti untuk mengibaskan serbet
dipangkuannya dengan mudah. "Tapi untuk sekarang, kau harus
main mata tanpa malu-malu dengan pelayan itu."

"Apa?" ia berbisik sambil bersandar di meja. " Kau pasti tidak


serius."

"Aku sangat serius. Kau lihat caranya melihatmu berubah ketika ia


tahu bahwa kau bukanlah teman kencanku? Dia hampir berliur di
meja kita."

"Kau pasti sudah gila. Tidak," ia menggelengkan kepalanya. Ketika


Reid hanya memberikan tatapan menyebalkan Oh, benarkah ia
langsung menghentikan diri untuk menancapkan garpu di kepalanya.
"Demi Tuhan, apa tujuannya main mata dengan orang asing?"

"Bermacam-macam, tapi pertama dan paling penting adalah, itu akan


menunjukkan pada teman kencanmu bahwa kau menggairahkan
orang lain. Ini pelajaran kedua: Pria selalu menginginkan apa yang
tidak bisa mereka dapat, atau apa yang diinginkan pria lain. Itu
adalah fakta ilmiah."

"Tidak."

" Well, seharusnya seperti itu," Reid berkata menyeringai.

"Sekalipun kau benar, aku tak tahu bagaimana caranya menggoda,


Reid. Jadi ini tidak akan berhasil." Tidakkah restoran ini dingin? Ia
hampir terbakar. Mungkin ia akan reda dengan sesuatu. Lucie
mengambil air dinginnya dan menelan beberapa tegukan, mencoba
menenangkan perasaannya luar dalam.

"Itulah gunanya aku di sini, Sayang. Sekarang, ada dua jenis


pendekatan. Bahasa tubuh dan kata-kata. Malam ini aku hanya ingin
kau mencoba menggunakan bahasa tubuh. Kau bisa menceritakan
cerita anak-anak Ibu Angsa, tapi jika kau memberikan sinyal yang
benar, seorang pria tidak punya kesempatan."

Dengusan kecil keluar, tapi Lucie segera menenangkan dirinya.


Membersihkan tenggorokannya Lucie berkata, "Jadi apa yang
seharusnya kulakukan? Menyelipkan rambutku dan terkikik dengan
nada tinggi pada apapun yang dia katakan?"

"Hanya jika kau berniat akan mendekati kapten tim football di


SMA."

Lucie memberikan evil eye terbaiknya, berharap Reid menghentikan


gagasan anehnya. Kesempatan kecil.
Reid bersandar, mengistirahatkan sikunya di meja dan menepuk
tangannya ke depan. " Ini mudah Lu. Memulai pembicaraan seperti
yang biasa kau lakukan, tapi tambahkan sesuatu. Buat kontak mata
dengannya dan tahan. Ketika matamu mengarah kemana-mana itu
memberitahu orang lain bahwa kau gugup atau tidak nyaman. Kau
harus menunjukan rasa percaya diri."

"Itu saja? Kontak mata? Aku bisa melakukan itu."

"Tidak, itu belum semua. Kau butuh untuk mengarahkan


perhatiannya pada seluruh aset kecantikan yang kau punya." Ia
memutar matanya, tapi Reid membiarkannya dan melanjutkan.

"Untuk mengarahkan perhatiannya pada matamu, kau tahan


tatapannya atau berikan dia sedikit pandangan di bawah bulu
matamu. Pria akan gila ketika wanita bersikap malu-malu kucing."

Lucie berpikir tentang semua wanita yang melakukan hal seperti itu
ketika bicara dengan Stephen dan caranya membalas senyum
sementara mereka sedang berpikir bagaimana berhubungan seks di
otak mereka. Ia tidak pernah berpikir untuk menggunakan bahasa
tubuh. Ia selalu menngunakan kepandaiannya dan berasumsi itu
yang mereka bicarakan supaya terhubung.

Lucie hampir saja memukul kepalanya sendiri. Seperti orang idiot.


Tapi tidak lama lagi. Tentu, itu agak membuatnya kesal bahwa dia
harus menggunakan tipu daya fisik untuk mendapatkan perhatian
seorang pria. Toh, itu adalah hal-hal intelektual ia menghargai
tentang Stephen, dan dia berharap itu akan sama baginya. Tapi
begitu dia mendapat perhatiannya dan ia merasa bahwa ada percikan
dengan dirinya, sisanya pasti akan berjalan dengan sendirinya. Ide
bagaimana dia belajar menciptakan koneksi dengan Stephen mulai
membuatnya bersemangat.

"Malu-malu kucing, aku mengerti. Apa lagi?

"Arahkan perhatiannya di mulutmu dengan senyum, makan, minum,


menggigit bibir, menjilat bibirmu...sebenarnya itu tidak sulit untuk
membuatnya fokus di sana karena salah satu yang pertama seorang
pria pikirkan adalah bagaimana mulut seorang wanita saat berada di
sekitar—"

"Reid!"

Dia besandar dan tertawa, bersuara, serak yang tak bisa membuatnya
tenang. Secara mental Lucie menambahkan "tertawa" sebagai cara
mencari perhatian mulut seseorang saat matanya terpaku pada bibir
penuhnya yang terbingkai sempurna, gigi putih. Dan memperhatikan
mulutnya hanya membuatnya ingat akan ciuman panas yang dia
berikan padanya di toko, yang membuat suhu ruangan meningkat
beberapa derajat. Sial!

"Oke, di sinilah pria milikmu dengan minuman kita. Dia akan


menunggumu untuk menerima wine. Aku ingin kau seperti Jessica
Rabbit dan berikan dia pertunjukan."

Mulutnya ternganga lebar. "Kau menginginkan aku untuk bersikap


seperti karakter kartun Who Framed Roger Rabbit?"

Ekspresi Reid sebenarnya terlihat seperti dia tidak percaya keragu-


raguannya pada pilihannya dalam dewi seks. "Dia seksi. Setiap pria
ingin mendapatkan Jessica Rabbit."

Dia benar-benar gila; pasti seperti itu. Lutut-berkedutnya bereaksi


untuk membantahnya tapi terpotong karena pelayan sudah tiba.
Pelayan itu menata minuman Reid di depannya tanpa terlalu
memperhatikan. Kemudian pelayan itu memberikan sebotol wine
pada Lucie, menerocos tentang tahun pembuatan dan asal kebun
anggur seakan Lucie tahu perbedaannya dan sesuatu yang keluar dari
sebuah kotak, dan menuangkan sedikit untuknya untuk dicicipi
dalam gelasnya.

Oke, aku bisa melakukan ini. aku bisa. Jessica Rabbit...tenang,


gerakan yang disengaja, tatapan di ranjang...tidak masalah. Oh,
Tuhan, aku berkeringat.

Mencoba yang terbaik untuk melupakan peluh yang jatuh di antara


payudaranya, dengan pelan Lucie meng ambil gelasnya, menahan
pandangan pelayan itu, dan menyesap wine dengan ujung bibirnya.
rasa manis wine mengalir di lidahnya dan menyebar di tenggorokan
dan perutnya. Lucie menutup mata dan mendesah puas sebelum
meletakkan gelasnya. Membuka matanya lagi, ia tersenyum dan
bertanya, " Maaf, siapa namamu tadi?"

"Daniel." Dia menelan ludah dengan keras, jakunnya naik turun


ditenggorokannya. "Nama saya Daniel."

Lucie memainkan ujung rambutnya dan memberikan senyum yang


ia harap memabukkan. " Well, Daniel, winenya manis, terima kasih.
Biasanya kakakku agak kikuk, aku yakin kakakku bisa mengisi
gelasku sementara kau melayani pelanggan lain. Kami akan
membutuhkan beberapa menit untuk memutuskan pesanan kami."

Daniel membungkukkan tubuhnya dan tersenyum. "Tentu saja. Saya


akan kembali sebentar lagi untuk mengambil pesanan Anda. Dan
tolong, jika ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk Anda, jangan
ragu untuk meminta."

Segera setelah Daniel pergi, Lucie menghabiskan winenya dengan


sekali teguk. Sementara itu, Reid memberikan tepukan pelan.
"Brava, Sayang. Kau bisa memintanya untuk menjilat sepatumu dan
dia akan berterima kasih untuk kesempatan itu. Bagaimana
rasanya?"

"Mengerikan," Lucie menggerutu sambil mengisi gelasnya.

"Ayolah. Aku tahu itu bukan kebiasaanmu, tapi jujurlah padaku."


Reid bersandar, lengannya berada di meja. " Jujurlah dengan dirimu
sendiri."

Lucie minum beberapa tegukan wine dan merasakannya mengalir di


pembuluh darahnya, mengendurkan ketegangan tubuhnya.
Menempatkan gelas di meja Lucie bertemu pandang denagn Reid
dan memikirkan apa yang ditanyakannya.

Reid benar. Lucie tidaklah jujur.

"Itu...mengesankan. Menghanyutkan."

"Tepat sekali. Ingat, bahkan jika kau berkencan dengan dokter itu,
tidak ada salahnya dengan sedikit rayuan diluar untuk
mengingatkannya bahwa dia bukan satu-satunya ikan di laut.
Sekarang, bawa mainanmu kembali kesini, karena aku lapar."

Sisa malam berlalu dengan percakapan yang ringan dan tawa rahasia
dengan kekaguman Daniel pada Lucie. Ketika Daniel memberi Reid
tagihan, Daniel menyelipkan kartu namanya dengan nomor tertulis
dibelakangnya. Memang gila seperti kedengarannya, rasa pusing
mengalir di dalamnya. Ini adalah pertama kalinya seseorang secara
langsung tertarik padanya.

Ia akan menyimpan kartunya, mungkin melaminating dan


menempelkannya ke dalam frame di cermin kamar tidurnya, tapi
Reid mengambilnya, melemparnya, dan meninggalkan di piringnya.
Lucie ingin membantah ketika Reid berkata, " Kita sedang mengail
si dokter orthopedik, ingat? Hal kecil seperti seorang pelayan, kita
buang saja. Selain itu, dia tidak lulus inspeksi kakaknya."

Luci tidak bisa menahan tawanya. Apakah itu makanan yang enak,
wine yang bagus, perusahaan yang bagus, atau kombinasi dari
ketiganya, ia merasa sangat tenang. Sesuatu yang jarang ia rasakan
di luar. Mengeluarkan sedikit kepercayaan diri membuat ketagihan
dan ia tidak sabar menginginkan lebih.

Reid berdiri dan memegang tangannya. "Ayo, pergi dari sini."

Lucie tersenyum dan menyelipkan tangannya pada Reid dan


melangkah menuju pintu keluar. Saat mereka berjalan di area tunggu
Lucie mendengar seorang anak berseru, " Ayah, lihat! Itu Reid
Andrews!"

Berbalik ia melihat seorang anak laki-laki tidak lebih dari sepuluh


tahun berlari di tempat mereka dengan pandangan kagum di
wajahnya.

Reid mengepalkan tangannya pada anak itu untuk mengadu telapak


tangannya. "Hei, pria kecil, bagaimana kabarmu? Kau penggemar
UFC?"

"Benar! Kau adalah petarung favoritku!"


Kemudian Ayah anak itu datang. "Maaf mengganggumu, Mr.
Andrews. Saya pikir Austin hanya melihat sesuatu, tapi ternyata
memang Anda. Kami adalah penggemar beratmu."

"Tolong panggil aku Reid. Aku selalu senang melihat penggemarku.


Kau berlatih Austin?"

"Uh-huh. Sekarang aku sabuk ungu di Tae Kwon Do, tapi aku ingin
belajar bela diri yang lain sehingga aku bisa menjadi sepertimu saat
besar nanti."

"Well, kau teruskan latihanmu dan berusaha keras dan aku tidak ragu
kau akan menjadi seperti itu. Hanya ingat keahlian yang kau pelajari
harus digunakan dengan bertanggung jawab dan jangan pernah
menggunakannya untuk melawan orang lain di luar dojo."

"Aku tahu. Senseiku mengatakan pada kami hal yang sama. Aku
tidak percaya ini benar-benar kau! Man, aku harap temanku ada di
sini. Mereka tidak akan percaya aku bertemu danganmu."

"Begini saja, biarkan teman kencanku yang cantik ini memotret kau,
aku, dan ayahmu. Dengan cara itu kau bisa mendapat bukti yang
kuat."

"Ya!"

Lucie sangat kagum dengan cara Reid menuruti anak kecil itu ia
hampir tidak menyadari Reid sedang bicara dengannya. "Oh! Ya, itu
ide yang bagus. Bolehkah aku menggunakan ponselmu?" Ia meminta
sang Ayah.
Muka ayahnya murung saat ia melihat anaknya. "Maaf, Nak, aku
meninggalkan ponselku di rumah supaya kita tidak terganggu saat
makan." Dia menjelaskan kepada Reid," Saya hanya mengajaknya
setiap minggu jadi saya tidak mau apapun mengganggu makan
malam bersama kami."

Pandangan kecewa yang terlihat di wajah anak itu membuat Lucie


sedih. "Bagaimana kalau aku memotretnya dengan ponselku dan
nanti aku akan kirimkan lewat e-mailmu. Bisa?

"Ya, bisa. Terima kasih banyak."

Reid berpose dengan anak dan ayah itu dengan gambar yang bagus
di depan aquarium ikan raksasa, dan Reid menyarankan pose lucu
hanya dia dan Austin. Lucie tertawa saat Reid membungkukkan
badan setara dengan Austin dan mereka berpegangan tangan dan
membuat wajah petarung dengan hidung mereka mengerut dan lidah
terjulur.

Setelah mendapatkan alamat e-mail dan memastikan kedua foto


terkirim, mereka berpisah pada Austin dan ayahnya dan
meninggalkan restoran.

Saat mereka berjalan ke mobil Lucie memperhatikan Reid dengan


ujung matanya. Tiba-tiba Reid berhenti dan mengambil tas makanan
dari tanah yang akan ia injak. Mengatakan padanya untuk berhenti,
Reid berjalan kembali ke jalan dan melemparkannya ke tempat
sampah.

Ketika Reid kembali, ia berkata, "Itu adalah hal yang baik darimu,
Reid."
"Apa, itu? Aku tidak mau kau menginjaknya. Selain itu, aku tidak
menyampah. Itu malas, dan aku benci orang yang, msalnya, menolak
untuk mengeluarkan sedikit tenaga untuk berusaha membuang
sesuatu dengan benar."

"Aku bicara tentang apa yang kau lakukan pada Austin dan
Ayahnya."

"Oh, itu." Reid berkata, tersenyum. "Aku tidak sebaik seperti yang
kau pikir, Lu. Aku hanya sedikit bertemu mereka seperti yang
mereka lakukan padaku. Terutama anak-anak."

"Tidak khawatir tentang bagaimana kesan seorang petarungan


ekstrim bagi anak-anak?"

Reid menyelipkan tangannya padanya dan Lucie terkejut betapa


alaminya itu. "Banyak orang punya masalah dengan MMA. Mereka
bilang itu adalah pertarungan kejantanan manusia. Tapi mereka tidak
memperhatikan pada ekstrimnya aspek disiplin dan teknik dari apa
yang mereka lakukan, atau betapa luar biasanya olahragawan yang
dikeluarkan untuk menjabat tangan orang yang hanya ingin
mengalahkanmu. Selama anak-anak peduli, seperti Austin yang
memang melakukannya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Reid
mengangkat bahu. "Banyak orang yang tidak mengerti. Tapi aku
senang berpikir kalau mereka orang minoritas."

Mereka sampai di mobilnya dan seperti seorang pria sejati, dia


membuka pintu. Sebelum naik Lucie berbalik, memiringkan
kepalanya sedikit sambil memperhatikannya. " Kau sangat
menyukainya kan?"

"Aku selalu menyuki olahraga." Selama beberapa saat Reid


mengarahkan tatapannya ke langit sebelum kembali
memperhatikannya dengan senyum sedih. " Seberapa aku
menyukainya itu akan terlihat."

Itu mengganggunya melihat Reid diluar kebiasaannya setuju untuk


memberi ciuman. Lucie seharusnya mendaratkan di pipinya, tapi
wine pasti mambuatnya kacau karena Lucie mendaratkannya ke
mulutnya yang lezat.

Selama beberapa detik mereka tetap seperti itu, waktu berhenti, bibir
saling menekan, sampai suara alarm mobil orang lain berbunyi
membuat akalnya kembali. Lucie menarik diri dan menyentuh
jarinya ke bibir seperti ia sedang berbuat sesuatu yang memalukan.

"Aku tidak mengeluh," Reid berkata, "tapi untuk apa itu?"

Lucie menguatkan kakinya sebelum menatapnya di bawah bulu


matanya. "Karena kau pria yang baik dan ucapan terima ksih untuk
hari yang indah."

Senyum nakalnya membuat nafasnya berhenti di bawah cahaya


bulan. "Kalau begitu Miss Lucie Miller, aku akan pastikan kau selalu
mendapatkan hari yang indah."

Lucie tertawa dan naik ke dalam mobil, tapi kesenangannya berhenti


mendadak bahkan sebelum Reid memutari mobilnya, jika itu bukan
karena pelajaran yang baru saja ia terima, ia tidak tahu apa itu. Ya,
ia baru saja memberikan bukti rayuan masternya berhasil. Dan
benar-benar menelannya mulai dari kail, senar, dan pemberatnya
sekaligus.

Sekarang ia mengetahui apa yang dirasakan para wanita yang


menerima pesona Stephen. Lucie tidak bisa menunggu untuk
mendapatkan senyum lesung pipinya. Satu-satunya yang
mengatakan Stephen tidak bisa menunggu untuk melahap tangkapan
terakhirnya malah pertemanan yang ia peroleh. Ya, tuan, dokter itu
tidak tahu apa yang sedang menimpanya saat dia melihat Lucie. Ia
tidak sabar menunggunya.
***

Bab 7

Lucie tak bisa percaya kalau sudah satu minggu sejak kepindahan
Reid. Seminggu ini sudah diisi oleh berbagai kegiatan terapi fisik
untuk Reid dan kegiatan mempercantik diri untuknya. Lucie
memotong rambutnya dengan beberapa layer, yang mana sangat ia
sukai dan merasa bodoh karena sudah terlalu khawatir saat akan
memotong rambutnya. Tidak sampai mereka melakukan highlight
(pewarnaan) dengan menggunakan foil, membuatnya terlihat seperti
Medusa alumunium, kemudian Lucie mulai gelisah lagi. Untungnya
gadis yang menangani rambutnya tahu apa yang Lucie sukai dan
warna karamel yang lembut membuatnya memiliki rambut coklat
yang lebih indah dan gelap yang sebenarnya Lucie tak pernah
sangka akan mungkin mendapat warna seperti itu.

Setelah alisnya diwax, dibentuk dan dicabuti, ia berpikir matanya tak


kan pernah berhenti mengeluarkan air mata. Kemudian tiba saat
Lucie harus merawat kukunya, Lucie harus mengakui bahwa ia tak
pernah melakukan perawatan kuku selain memotongnya saat kuku-
kukunya tumbuh terlalu panjang, hal ini membuat teknisi kuku salon
itu terkejut dan melihat Lucie seolah-olah Lucie adalah gelandangan
sebelum akhirnya teknisi itu mulai merawat kukunya. Sekarang
kuku-kukunya sudah licin, bebas dari kulit ari yang berlebihan, dan
terpoles kuteks ungu gelap yang bernama Extreme Eggplant (terong
ekstrim) yang tidak terdengar seperti nama suatu warna tapi lebih
terdengar seperti masakan di Iron Chef America.

Tapi dari semua itu, Reid menyerahkan Lucie ke Trixie di


Nordstrom's makeup dengan instruksi untuk mengajari Lucie
bagaimana menggunakan makeup di situasi apapun. Setelah
mempelajari bagaimana menggunakan semuanya, dari makeup lima
menit hingga tampilan dramatis sesi photo shoot di sore hari, Lucie
merasa percaya diri ia bisa semahir seorang makeup artis untuk
rumah duka atau sirkus. Meskipun beberapa pelajaraan yang ia
terima sangat tidak diperlukan, ia merelakan kepalanya kepada
Trixie dan membiarkan Trixie bersenang-senang. Kegembiraan
wanita itu terlalu manis untuk dihancurkan dengan kenyataan bahwa
hanya seperempat dari apa yang ia pikirkan bahwa Lucie akan
terlihat di siang hari. Ataupun malam.

Bagaimanapun juga, di akhir minggu ini, Lucie harus mengakui


bahwa ia hampir terlihat... cantik. Ini tak masuk akal bahwa
penyesuaian dari beberapa hal bisa membuat perbedaan luar biasa
pada tubuh dan wajahnya. Atau, lebih tepatnya, diperlukan pelajaran
kecantikan untuk merubahnya.

"Sangat cantik."

Lucie berputar membelakangi cermin tinggi di kamarnya untuk


menemukan Reid bersandar pada kusen pintu, tangan menyilang di
dadanya, karet elastis dari kaos polo hitam yang ia kenakan
merenggang hingga batasnya di atas bisep. Motif dan sulur dari
tattoo-nya terlihat seperti bagian dari kaosnya, membuat benda itu
lebih terlihat seperti senjata futuristik dibandingkan dengan anyaman
kapas. Jeans gelapnya membungkus pahanya yang berotot dan jatuh
lurus ke pergelangan kakinya yang telanjang. Lucie menyadari
seminggu ini bahwa Reid tak pernah mengenakan kaos kaki atau
sepatu kecuali ia sangat memerlukannya. Dan dengan itu pula ia
mendapat pelajaran betapa seksinya seorang pria dalam celana jeans
dan tanpa alas kaki.

Reid membuat tampilan bad-boy terlihat tanpa cela. Rambutnya


terbentuk seperti biasanya, tapi malam ini ujung rambutnya menjulur
sedikit di dahinya membuat Lucie mengalihkan perhatiaannya ke
mata Reid yang intens. Malam ini Reid mengenakan anting; berlian
berpotongan persegi yang entah bagaimana membuatnya nampak
lebih jantan, bukan sebaliknya. Saat Lucie melihat detail terakhir dan
akhirnya membiarkan otaknya memeriksa secara keseluruhan
penampilannya, mulut Lucie kering dan membuatnya harus menelan
ludah sebelum ia bisa berbicara.

"Kau juga tampak sangat tampan," katanya. "Tapi aku masih tak
mengerti mengapa kau mau datang ke acara pesta syukuran bayi
Lizzie bersamaku." Lizzie adalah salah satu dari perawat terbaik di
NNMC dan sebulan lagi ia akan melahirkan anak pertamanya, jadi
teman-temannya membuat acara itu di salah satu steakhouse yang
mewah. "Kau akan sangat bosan."

Ia menjauh dari kusen dan bergerak melewati ruangan. "Aku tak


pernah bosan. Aku selalu bisa menghibur diriku. Ayolah, kita akan
terlambat."

Lucie melirik ke jam di mejanya, mengkornfirmasi keterlambatan


mereka. "Sial!"

Reid tertawa saat Lucie berlari ke lemari pakaiannya untuk


mengambil sepatu hak tinggi dan dompet. "Tenanglah. Cinderella
seharusnya memang datang telat ke pesta jadi semua orang akan
menyadari kehadirannya saat ia berjalan masuk ke ruangan."

"Itulah yang selalu aku khawatirkan," kata Lucie saat ia


memasukkan satu kakinya ke dalam sepatu dan menyesuaikan
kakinya yang lain dan gagal melakukannya.

"Sini, biar aku saja." Reid mengambil sepatu silver itu darinya dan
menurunkan tubuhnya untuk bersimpuh. Lucie berdiri sambil
berpegangan pada tiang tempat tidurnya, terpesona pada tangannya
saat tangan itu membantunya memasukkan kakinya ke dalam sepatu.
Kehangatan jemarinya saat tangan Reid memegangi pergelangan
kakinya mengirimkan getaran ke kakinya dan menjalar ke sexnya
sama seperti saat Reid menyentuhnya langsung.

Reid memegangi kaki Lucie dengan satu tangan saat tangan lainnya
membuka, melepaskan rantai silver yang ia sembunyikan di
tangannya untuk memasangkan di pergelangan kaki Lucie.
Keterkejutan membuat Lucie tak dapat berkata-kata saat Lucie
memperhatikan Reid memasangnya di pergelangan kakinya dan
menguncinya.

Rantai itu tak berat, dan ia berpikir ia takkan merasakan rantai itu
ada disana kalau saja jimat dan manik-manik tidak menghiasinya. Di
bagian depan, seekor burung silver tergantung di rantai. Manik
kristal berwarna biru langit tergantung setiap inci, melengkapi benda
itu dengan kecantikan yang klasik.

"Ini sangat indah," kata Lucie. "Tapi kau sudah terlalu banyak
memberikanku barang, Reid. Kau tak harus selalu memberikanku
barang-barang."
"Aku tahu, tapi saat aku melihat benda ini aku langsung
memikirkanmu."

"Benarkah? Mengapa?"

"Ini burung pipit." Ia melihat kebawah dan memegangi jimat burung


itu. "Tidak seperti kebanyakan burung, saat burung pipit menemukan
pasangan jiwanya, mereka akan tetap bersama hingga akhir hayat."
Reid mengangkat kepalanya dan memandang Lucie. "Membuat
mereka menjadi simbol dari menemukan cinta sejati."

Menemukan cinta sejati. Lucie sangat ingin menemukan pasangan


yang sesungguhnya dan tidak berharap lebih tentang cinta.
Bagaimanapun juga, itu adalah hal terindah yang pernah ia dengar,
dan mengetahui bahwa Reid memikirkannya saat ia melihat benda
itu, sangat menyentuh Lucie.

Reid dengan lembut menaruh kaki Lucie ke lantai dan bangkit


menjulang melebihi tinggi Lucie. Lucie mencoba untuk berterima
kasih tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya saat
pandangannya menjelajah dari krah V terbuka kaos Reid yang
menampilkan kulit kecoklatan di lehernya, ke atas rahang yang
bersih sehabis bercukur dan bibirnya yang penuh, hingga
pandangannya terjebak di matanya. Matanya berganti warna
tergantung dari pakaian atau sekelilingnya atau bahkan pencahayaan.
Sekarang matanya berwarna hijau lembut dengan goresan karamel,
mengingatkannya pada gula-gula apel.

Reid Andrew benar benar sebuah enigma. Di Vegas Lucie tahu


kehidupan Reid adalah seorang petarung playboy yang kaya raya,
menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berlatih atau
'berkencan' dengan wanita yang tak ingin ia pikirkan. Tapi semenjak
Reid pindah bersamanya untuk sebuah kesepakatan gila yang
mereka jalani, Reid bukan apa-apa kecuali seseorang yang menarik,
supportif, dan bijaksana. Seperti yang Lucie ingat tentang Reid
dimasa mudanya dan saat ia jatuh cinta pada teman kakaknya itu.
Jika ia pikir Reid yang dulu fantastik, kini Reid tumbuh lebih dari
sekedar fantastik.

Lucie berdehem dan memutuskan untuk mengatakan sesuatu.


"Terima kasih, Reid. Aku menyukainya."

"Terima kasih kembali. Mari berangkat. Aku tak tahan ingin melihat
rahang dokter itu terlepas dari engselnya saat ia melihat apa yang
selama ini sudah ia lewatkan." Saat Lucie mengerutkan hidungnya
karena ragu, Reid mengecupnya dan bilang, "Percayalah padaku,"
dan menggenggam tangannya untuk membawanya keluar kamar.

Tigapuluh menit kemudian mereka sampai di restaurant dan seorang


pramuria membawa mereka ke ruangan yang sudah di sewa dimana
pesta itu dirayakan. Lucie menaruh kadonya untuk Lizzie di meja
yang dihiasi dengan indah di dekat pintu dan dengan gugup melihat
ke kerumunan orang.

"Berhenti gelisah," kata Reid di telinganya. Tangannya berada di


punggung Lucie untuk membantu menenangkannya, tapi tak terlalu
membantu.

"Aku tak gelisah."

"Ya, kau gelisah."

Reid benar. Lucie bernafas cepat dan tidak teratur. Dia sepertinya tak
bisa berhenti. Mengapa ia merasa seperti ia sedang masuk ke sarang
singa? Orang-orang ini sudah ia kenal lama dan sudah nyaman
beberapa tahun bersama. Tapi bagaimana bila mereka tidak
menyukai penampilan barunya? Atau bagaimana jika mereka
berpikiran buruk tentang pergantian penampilan yang ia lakukan?

Lucie sulit menahan cicitan kecil dari dadanya saat Reid menariknya
keluar ruangan. "Hey!"

"Shh," perintahnya saat ia menariknya ke lorong, membawanya ke


pojok, dan kemudian menjepitnya antara tubuhnya yang besar dan
dinding. "Ketakutanmu tak beralasan, jadi aku akan mengajarimu
satu trik yang aku gunakan sebelum bertanding."

"Reid, aku pikir-"

"Jangan berpikir. Bayangkan. Sebelum aku masuk ke kandang (ring


bertanding) aku membayangkan setiap pukulan, setiap tendangan,
setiap bantingan. Aku mengerti lawanku dengan baik dari
mempelajari pertandingan yang telah ia lakukan sebelumnya. Aku
mengantisipasi bagaimana ia akan bereaksi akan seranganku jadi aku
akan siap untuk situasi apapun. Itulah yang aku ingin kau lakukan
sekarang."

Lucie tahu dia sudah memandang Reid seolah Reid sudah gila,
karena itulah apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Bagaimana trik
itu bisa membantunya berbicara dengan Stephen? Jika Lucie butuh
mengantisipasi pukulan seorang pria itu akan menjadi masalah yang
lebih besar dibandingkan dengan menginginkan sebuah kencan.

"Tutup matamu." Melihat pandangan Reid yang serius - dan semua


keinginan untuk menghapuskan rasa gugupnya - Lucie
mematuhinya. "Aku ingin kau membayangkan dirimu sendiri
berjalan masuk ke ruangan itu, dagumu terangkat tinggi, dan rasa
percaya dirimu bahkan lebih tinggi lagi. Kau tahu kau terlihat luar
biasa. Gaun ini pas di tubuhmu seolah memang didesain untukmu.
Heels itu membuat kakimu terlihat jenjang dan semua pria di
ruangan itu akan membayangkan kedua kakimu berada di pinggang
mereka."

Lucie merasakan sedikit dingin dengan AC yang menyala dari


ventilasi di atas mereka, tapi saat Reid meletakkan tangannya di
pinggang Lucie, semua rasa dingin menghilang karena panas dari
sentuhannya. Reid bergerak mendekat ke Lucie, payudaranya
menyentuh lembut dada Reid yang keras dengan setiap hembusan
nafas beratnya. Mata Lucie tetap menutup, tapi getaran dari
kehadiran Reid sangat jelas. Fokus bukan menjadi masalah yang ia
pikirkan lagi. Lucie tersambung dengan Reid sekarang, pikiran dan
tubuhnya, entah ia menginginkannya atau tidak.

"Bayangkan aku adalah dirinya. Aku tak bisa melayangkan


pandanganku darimu sejak aku melihatmu. Aku berpikir bagaimana
mungkin aku selama ini begitu buta tak melihat betapa anggunnya
dirimu."

Tangan Reid dengan perlahan menjalar di sisi tubuh Lucie hingga


jempolnya hanya beberapa milimeter jaraknya dari payudaranya.
Lucie mengatakan pada dirinya sendiri seharusnya ia tak merasa
kecewa saat Reid memutar tangannya ke punggungnya, memutuskan
untuk menghindari bagian yang tak seharusnya. Suara Reid, rendah
dan dekat dengan telinganya, terasa di kulitnya menyebabkan rambut
kecil di belakang lehernya berdiri. "Aku memulai dengan obrolan
kecil, berbicara mengenai pekerjaan, tapi sepanjang kau berbicara
aku hanya memperhatikan bibirmu dan membayangkan seperti apa
rasanya."

"Benarkah?" tanya Lucie dalam desahan.

"Fuck yeah, benar." Tangan Reid yang bebas naik untuk memegang
wajah Lucie dan kemudian mengelus pipi Lucie dengan hidungnya
hingga Lucie menghadap ke samping. "Kau luar biasa seksi, Lucie,
dan aku ingin membuka pakaianmu untuk mendapatkan hadiah di
bawahnya. Aku ingin mengetahui apa yang kau sukai, yang tidak
kau sukai - untuk mengetahui ketakutanmu dan mimpimu - dan aku
berjanji untuk mengupas setiap lapisan cantik hingga akhirnya aku
mengetahui semua hal tentang dirimu."

Jantung Lucie berdetak kencang hingga ia yakin bahwa pelayan bisa


mendengarnya dari depan restaurant. Lucie ingin dimengerti seperti
itu - secara fisik, emosional - sangat menginginkannya.

"Ya," kata Lucie. "Aku ingin hal itu."

"Maka ambil apa yang kau inginkan." Suara Reid terdengar parau di
telinganya. Terdengar tersiksa. "Buat itu jadi kenyataan."

Lucie sangat mendalami gambaran di kepalanya, dia tak menyadari


bahwa Reid sudah menjauh darinya hingga perasaan kehilangan
menyapu dirinya. Membiarkan matanya terbuka ia terfokus pada
Reid yang berdiri di depannya. Tangannya masuk kedalam kantong
depan celananya dan ekspresi keras di wajahnya tidak sesuai dengan
emosi gairah yang baru saja ia berikan pada Lucie.

"Semua yang harus kau lakukan adalah mengingat semua yang aku
katakan padamu, dan berjalan masuk dari pintu itu." Sebelum Lucie
bisa bertanya pada Reid apa semuanya baik-baik saja, Reid
menggerakkan kepalanya ke arah ruangan pesta. "Masuk. Ini
waktunya kau masuk ke ruangan, Cinderella."

Bayangan dari dirinya berjalan masuk ke ruangan dengan semua


mata tertuju padanya tak lagi mengirimkan sinyal kepanikan
padanya. Reid benar. Lucie mungkin tidak secantik selebriti, tapi
Lucie sudah seratus persen lebih baik daripada dirinya seminggu
yang lalu. Tak ada lagi alasan dia meragukan hal itu. Berjinjit, Lucie
menanamkan kecupan di pipi Reid. "Terima kasih, Reid."

Satu sisi bibirnya terangkat. "Kapanpun, sweetheart."

Dengan keyakinannya yang baru ditemukan dan penampilannya


yang juga baru, Lucie menarik bahunya kebelakang dan berjalan
masuk ke dalam ruangan.
***

Reid menyapukan tangannya ke wajah sesaat setelah Lucie


membelakangi tempat itu. Gym dan teman sparring yang kuat tak
akan membuatnya tumpul seperti sekarang. Teknik visualisasi adalah
sesuatu yang bisa dipakai di semua situasi jadi ia tahu bahwa teknik
itu akan bekerja pada Lucie juga. Yang ia tidak ketahui adalah
dampak dari teknik itu pada dirinya sendiri.

Dia bahkan tak yakin sedang jadi siapa saat mengatakan semua itu.
Di satu titik dia merasa sedang keluar dari karakter. Dia tidak
membayangkan Dr. Dipwad menatap bibirnya dan menciumnya. Dia
membayangkan dirinya sendiri melakukannya.

"Aku butuh minum," gumamnya, berjalan masuk ke ruangan. Sesaat


setelah Reid melewati pintu ia melihat Lucie. Seperti halnya Lucie
kutub Utara yang selalu menjadi arah tatapan matanya. Gaun biru
pucat yang simpel yang ia kenakan biasa saja namun sangat indah.
Reid tetap menatap pada Lucie saat ia melangkah ke arah meja yang
tersusun punch dan cocktails di atasnya. Mengambil salah satu
minuman, ia memperhatikan bokong Lucie saat bergerak di bawah
kain tipis di setiap langkah yang ia lakukan. Pandangannya turun ke
arah lekukan kakinya yang lembut. Sialan, dia seksi.

Ia mengangkat gelas itu kemudian berhenti. Jika ia harus menebak


dari minuman di pesta ini, Lizzie akan mendapatkan anak
perempuan. Terlihat seperti versi gilanya Shirley Temple, merah
muda terang dengan cherry yang di tusukan di peniti plastik yang
terbuka menggantung di pinggir gelas.

"Pelecehan, kan?"

Reid melirik ke arah kiri untuk melihat seorang pria Hispanik


dengan tubuh terbentuk dengan baik berdiri di sampingnya dengan
senyuman terhibur di wajahnya. Ia memegang dua botol Corona
bukannya 'pelecehan' yang Reid sedang pegang.

"Bahkan tak ada alkohol di dalam minuman itu," kata pria itu.

"Sialan, ini tak dapat dimaafkan." Reid menaruh gelas itu kembali ke
meja dengan tatapan jijik ke tatanan diatas meja. "Bagaimana
mereka memutuskan melakukan ini?"

Pria itu tertawa, dan menyodorkan birnya. "Ini adalah pesta bayi,
bung. Itulah alasan yang mereka butuhkan untuk menarik semua
barang-barang pria dari acara ini. Biasanya kita tak akan dibiarkan
begitu saja masuk ke dalam cara seperti ini, tapi Lizzie salah satu
favorit di antara semua staf rumah sakit. Semua orang suka padanya
karena hal itu ini menjadi acara 'semua orang'. Aku Eric."
"Reid." Dengan rasa lega ia menerima botol itu, dia menjabat tangan
Eric sebelum membuka tutupnya dan meneguk setengahnya
sekaligus. "Terima kasih, bung. Kau penyelamat."

"Jangan risaukan hal itu."

Melihat melalui Eric, Reid melihat Lucie memeluk seorang gadis


yang hamil dan kemudian berjalan kearah doktornya yang sedang
berbicara dengan pria lain di meja seberang ruangan. Berpakaian
pakaian mahal dan rambut gelapnya di gel dan disisir ke satu sisi, dia
terlihat seperti bayi manja. Seseorang yang sudah memiliki banyak
uang bahkan sebelum ia menjadi seorang dokter dan merasa sangat
nyaman dengan kekayaan di hidupnya.

Dokter itu sedang berbicara saat ia menyadari Lucie. Saat itu benar-
benar seperti di film. Ia melakukan kedipan dua kali dan matanya
hampir meloncat keluar dari kepalanya saat lidahnya yang tergulung
jatuh ke lantai seperti salah satu dari cuplikan di kartun lama.

Tapi Reid tak bisa menyalahkan pria itu. Lucie sedang berada di
penampilannya yang langka. Di melintasi ruangan dengan tatapan
intens yang sangat jelas. Seorang pemburu wanita mendekati
mangsanya yang terjebak dengan sebuah senyuman tipis di ujung
bibirnya. Reid hampir saja bisa mendengar Lucie berkata, Tak ada
tempat untuk berlari... Aku mendapatkanmu sekarang.

Mann undur diri dari meja itu tanpa melihat pria yang tadinya
sedang ia ajak bicara. Dalam dua langkah ia memperkecil jarak
diantara dirinya dan Lucie. Meskipun ia bukan seorang pembaca
bibir, Reid bisa menebak kemana arah pembicaraan itu.
Lucie, kau terlihat sangat cantik!

Begitu kah, terima kasih, Stephen. Kau juga terlihat sangat tampan.

Well, masih seperti biasanya. Tapi kini kau sudah kembali ke


kecantikan aslimu, kau benar-benar harus menemaniku ke pesta
rumah sakit.

Aku pikir kau takkan pernah menanyakan hal itu. Tentu saja aku
akan pergi ke pesta itu denganmu!

Kemudian kita bisa menikah dan kau bisa menjaga anak-anak kita
saat aku bekerja untuk menyelamatkan dunia.

Oh, Stephen, itu terdengar seperti mimpi yang menjadi kenyataan!

Lucie tertawa pada sesuatu yang Mann katakan dan menyentuh


tangannya perlahan. Kemudian saat Lucie berbicara kepada Mann,
dia menyampirkan sejumput rambutnya kebelakang telinganya dan
melihatnya dari bawah bulu matanya. Sialan, dia sangat natural.
Reid sudah melepaskan monster.

Reid menghabiskan sisa birnya dan mencoba dengan keras untuk


tidak berjalan ke arahnya dan menariknya pulang. Seharusnya dia
tidak merayu Mann, seperti halnya ia menginginkan anak darinya.
Di atas kertas mungkin pria itu adalah USDA terbaik, tapi Reid tak
bisa menghapuskan perasaan bahwa Mann menyembunyikan cakar
yang membuatnya tak lebih baik dari Ukuran Standar.

"Aku melihatmu datang dengan Lucie. Apakah kalian berkencan?"


Reid melihat kearah Eric di saat seorang pelayan menaruh satu
ember penuh es dan botol di meja di samping tubuhnya. Dia
tersenyum dan berkata, "Tebakan."

Mereka mengambil botol lain, menggunakan pembuka botol di


samping ember, dan membuang tutupnya. Sambil menggoyangkan
minuman di tangannya Reid berkata, "Lucie dan aku adalah teman
lama. Aku tinggal bersamanya untuk beberapa saat selagi aku di kota
ini."

Eric menunjuk ke arah Lucie dengan botolnya. "Well, semua hal


tentang teman itu menjelaskan mengapa kau tidak mengklaim
dirinya saat ia menggoda doktor yang baik disana. Tapi itu tidak
cukup untuk menjelaskan tatapan matamu yang mengatakan kau
akan senang membunuhnya dengan tangan kosong."

"Aku bertarung untuk hidupku, jadi itu sudah seperti kebiasaan,"


jawab Reid pelan.

"Apa kau juga seorang makeover artist atau perubahan tiba-tiba dari
Lucie kami terjadi karena keberadaanmu?"

Reid tidak suka akan arah pembicaraan ini. Eric terlalu teliti. Dia
terlihat seperti pria yang baik, dan dia berbicara seolah-olah ia
tertarik pada Lucie. "Apa kau sudah lama mengenal Lucie?"

Eric melihat kearah Lucie yang masih berbicara dengan Mann. "Aku
mengenalnya sejak bangku kuliah." Dia mengalihkan tatapannya
kembali pada Reid. "Dia sudah seperti adik perempuanku."

Reid menganggukkan kepalanya dalam pengertian. "Pesan diterima,


bung. Aku sahabat baik kakak laki-lakinya."

Senyuman puas mekar di wajah pria itu dan ia mengangkat birnya


untuk menyenggolkannya ke botol Reid. "Senang mendengarnya."

Meminum beberapa teguk bir, Reid berpikir apakah ia bisa mencari


tahu apa yang terjadi di beberapa tahun belakangan saat ia tidak ada.
Seseorang yang membuat Lucie menjadi seperti sekarang. "Apakah
kau ada saat Lucie menikah?"

"Yeah," Eric menggertak. "Aku ada."

"Siapa pria itu? Apa yang terjadi?"

"Lucie bertemu dengannya saat mereka bertabrakan di luar kampus.


Dia sedang berjalan keluar kelasnya, dan pria itu sedang terlibat
dalam rapat damai yang membahas tentang masalah yang dialami
kelompoknya satu minggu belakangan."

Reid tahu dengan jelas tipe yang Eric deskripsikan. Ada beberapa
kelompok seperti itu yang secara konstan menentang MMA. Mereka
memanggil diri mereka sendiri aktivis manusia. Dia memanggil
mereka orang-orang brengsek yang tidak berpendidikan. Reid
mencoba membayangkan Lucie dengan pria seperti itu dan gagal.
Kemudian, dia tak bisa membayangkan Lucie dengan pria seperti
Mann, tapi yang jelas Lucie melihat sesuatu yang ia tak bisa lihat.
"Okay, jadi pria itu aktivis, Lucie adalah mahasiswi, mereka
bertemu. Kemudian apa yang terjadi?"

"Hubungan mereka seperti angin puyuh. Satu hari mereka bertemu


untuk makan siang dan hal selanjutnya yang kami tahu mereka
mengumumkan pertunangan mereka dan terbang ke Vegas.
Semuanya berjalan dengan sangat cepat sehingga membuat kepala
kami pusing."
"Apakah itu alasan mengapa kau tidak menyukainya?"

"Tidak," erang Eric. "Aku membencinya karena apa yang sudah ia


lakukan pada Lucie. Lucie sangat terbutakan oleh gairahnya
menyelamatkan dunia dan mimpi idealistiknya sehingga Lucie tak
bisa melihat keburukan pria itu. Pria itu tak bisa memesan hanya
satu makanan utama di sebuah restauran sama seperti halnya tidak
bisa bertahan pada satu wanita. Pria itu tak lebih dari sekedar
bajingan egois yang suka perhatian."

Reid tak bisa melihat kemana arah pembicaraan ini dan tangannya
mengepal dengan gairah yang familiar untuk memukul wajah
seseorang. "Katakan padaku apa yang ia lakukan," kata Reid dengan
rahang yang mengatup.

Eric menegang dan melirik Lucie. Rasa sayangnya pada Lucie jelas
dalam mata coklatnya saat ia berbicara. "Bajingan itu berselingkuh
dengan gadis hippie beberapa bulan setelah pernikahan. Aku berani
bertaruh gajiku setahun bahwa hal itu terjadi bukan hanya sekali -
atau dengan seseorang saja. Kemudian, Lucie memergokinya
berselingkuh. Di ranjang mereka."

Reid mengumpat dan harus menurunkan birnya sebelum kepalan


tangannya menghancurkan botol itu. Pria macam apa yang
melakukan hal itu kepada wanita yang manis dan lugu? Atau kepada
wanita manapun. Akhirnya semua menjadi jelas mengapa Lucie
sangat ingin menemukan seseorang yang cocok dengannya.
Mantannya adalah seseorang yang sangat berbeda darinya dan
hubungan mereka tak lebih dari sekedar lelucon. Sekarang ia perlu
menemukan hubungan yang berbeda, yang mana memerlukan orang
yang sangat mirip dengannya. Seseorang, seperti pria yang sedang
berbisik di telinganya saat ia tertawa. Dr. Stephen Mann, MD.
"Tenang, amigo. Taringmu terlihat jelas."

Reid menatap Eric garang. "Apa yang kau bicarakan?"

"Kau terlihat seperti kucing hutan yang siap untuk menanamkan


gigimu ke leher seseorang."

Reid mempelajari pria itu, berpikir mengapa dia malah tersenyum


seperti seorang idiot. "Benarkah?"

"Benar. Dan meskipun aku akan senang mendengar alasannya


darimu, aku harus puas dengan pikiranku sendiri."

"Mengapa?"

Eric menganggukkan kepalanya ke satu sisi. "Karena Lucie sedang


berjalan ke arah sini." Reid mengikuti arah pandangnya untuk
melihat Lucie berjalan melintasi ruangan dengan senyum terlebar
yang pernah Reid lihat terjadi padanya. "Aku harus pergi. Senang
bertemu denganmu, Reid. Sampai jumpa lagi."

"Kau juga, bung. Terima kasih atas birnya."

Sedetik kemudian Reid lupa semua penyataan Eric saat ia fokus


pada Lucie. Reid merasa terbagi dua, antara ingin tahu semua detail
tentang Mann dan ingin berpura-pura semua itu tak pernah terjadi.
Tapi ia akan menjadi teman yang menyebalkan jika ia
melakukannya, jadi ia menahannya dan melakukan hal yang benar.
"Jadi apa yang terjadi? Sepertinya kau mengait dirinya cukup dalam
dari yang kulihat."
Lucie menyatukan tangannya di hadapannya, terlihat mencoba untuk
tidak meledak. "Semua terjadi seperti yang kau katakan, Reid. Dia
memperhatikanku, mengatakan aku terlihat cantik. Apa di sini
panas?" Lucie mulai mengipasi dirinya sendiri jadi Reid
menyerahkan satu gelas minuman menggelikan itu. "Mm, terima
kasih, aku sangat haus."

Setetes air kondensasi dari gelas jatuh di lehernya saat ia menenggak


minuman itu. Reid harus mengepalkan tangannya di kedua sisi
tubuhnya jadi ia tak mencoba menghapuskan tetesan itu dari leher
Lucie.

"Omong-omong," lanjutnya, menaruh gelas kosong di nampan


seorang pelayan yang lewat, "kami berbicara sebentar dan kemudian
ia mengajakku berkencan. Bisakah kau percaya hal itu?"

Reid memasang senyuman kaku di wajahnya dan berharap terlihat


tulus. Reid memiliki keinginan gila untuk berjalan kesana dan
memukuli pria itu di lantai. Mengapa Mann tidak menyadari
keberadaan Lucie sebelum makeover? Saat rambutnya acak-acakan
dan dia mengenakan kacamatanya bukan contact lens dan
pakaiannya tidak ketat di tubuh kecilnya. Mengapa semua hal itu
membuatnya tidak terlihat di depan dokter itu beberapa tahun
mereka besama?

Saat Reid melihat Lucie pertama kali di kantornya, dia suka


memperhatikannya mencoba merapikan rambutnya kembali ke
tempatnya, hanya untuk membiarkan rambut itu terjatuh tepat
setelah Lucie merapikannya. Reid pikir Lucie terlihat seksi dengan
kacamatanya - semua hal tentang pustakawan nakal yang ia sukai -
dan Lucie sangat lucu saat dia tidak sengaja mendengus karena
tertawa terlalu keras atau menemukan sesuatu yang tidak masuk
akal.

Mann hanya seorang bajingan sombong yang tidak pantas


mendapatkan Lucie, itu kesimpulannya. Tapi, Reid juga tidak pantas
mendapatkan seseorang seperti dia. Reid tak bisa memberikan apa
yang Lucie inginkan. Dia tidak bergaya hidup seperti yang Luci cari.
Saat ia harus bertarung di kota lain, negara lain, dia lebih
pengembara dibanding orang lain. Dan meskipun itu bukan masalah,
Reid masih tetap tak bisa bersamanya. Tidak seperti ini. Seorang
pecundang. Seseorang yang kalah. Tidak, dia membutuhkan
gelarnya dan status juaranya kembali jika ia ingin dianggap pantas
lagi. Tak ada yang menyukai pecundang. Ayahnya yang
memberitahunya hal itu. Berulang kali.

"Reid? Apa kau mendengar apa yang aku katakan?"

Berkedip beberapa kali ia kembali melihat Lucie dengan fokus.


"Yeah, aku mendengarmu. Tapi aku tidak terkejut. Aku kan sudah
bilang pria itu akan tergila-gila padamu."

Lucie memekik kecil. "Aku benar-benar ingin memelukmu sekarang,


tapi kau tahu, dia mungkin mempehatikan dan aku tidak ingin dia
salah paham."

"Tidak," jawab Reid masam. "Kita tidak ingin hal itu terjadi."

Pelatihnya, Butch, selalu mencoba memberitahu Reid untuk


menahan diri dalam pertandingan. "Harus tahu kapan menahan diri,"
katanya. Poinnya adalah untuk tetap tenang, jaga pikiranmu, dan
biarkan lawan membuat serangan pertama jadi kau bisa bertahan dari
serangan itu, dan kemudian balas dengan sesuatu yang lebih kuat.
Reid tidak pernah cocok dengan ide menahan diri. Dia lebih nyaman
di posisi sebagai penyerang.

Dia selalu membenci pelajaran menahan diri. Tapi saat malam


bergulir dan dia dipaksa untuk melihat Mann mengelilingi Lucie
seperti hiu, Reid harus mengingat pelajaran itu. Dengan
menggunakan teknik mental Butch, dia memutuskan untuk menjaga
jarak, yang berarti membiarkan Mann menampakkan giginya.
Setidaknya untuk beberapa saat.
***

Bab 8

"Mulai dari peregangan di tembok."

Reid baru saja berhenti memutar bola mata seperti anak-anak.


"Ayolah, Lu, aku tidak butuh peregangan spesial seperti itu lagi.
Sudah lebih dari seminggu. Mari lakukan sesuatu yang normal."

"Oh, maaf, aku tidak menyadari kau punya tingkatan untuk terapi
fisik." Lucie memutar lalu meraih tembok terjauh dari ruang terapi-
latihan-perbaikan. "Kenapa kau butuh bantuanku lagi?"

"Sarkasme tidak sesuai untukmu," Reid menggerutu. Tapi ia tidak


bisa benar-benar marah karena Lucie terlihat sangat menarik dengan
pakaian latihannya yang baru. Tidak ada lagi tank top kebesaran dan
keringat . Sekarang Lucie memakai tank top pink pucat Lycra
dengan celana yoga ketat.

Rambut hitamnya dikuncir ekor kuda dengan poni tebal dan


beberapa helai membentuk wajahnya. Lucie baru saja menyelesaikan
rutinitas elliptical dan kulitnya berbalut keringat dan pancaran sehat
mempengaruhi pipinya.

Berjalan dimana Lucie berdiri dengan penggaris kertas yang mereka


gunakan untuk mencatat kemajuannya, Reid tidak mempedulikan
lari sepuluh mil menggunakan treadmill. Ia berhenti pelan-pelan dan
melihat T-shirtnya yang bermandikan keringat yang sekarang
terlihat hitam yang tadinya sudah kusam dan pudar.

"Apa yang kau lakukan?" Lucie bertanya saat Reid melepaskan


pakaiannya.

Ia tersenyum jail. "Mencoba untuk tidak menyinggung perasaanmu


yang halus."

Lucie mendengus dan menepuk separuh wajahnya. Jelas terlihat


Lucie terpengaruh, tapi Reid tidak terlalu yakin kenapa. Ia senang
mendapat reaksi darinya. Saat ia sedikit mendekat, Reid
menambahkan dengusan Lucie lebih sering untuk dicatat dibenaknya
dari daftar kenapa ia tetap bersama Lucie. Ia menyukai tantangan.

"Tahan kakimu rentang dua kaki dari tembok dan gerakan jarimu di
penggaris sampai kau merasakan tekanannya. Kemudian bersandar
di tembok sampai kau merasakan peregangannya." Ia melakukan
seperti yang diinstruksikan Lucie, meskipun ia lebih suka
mengangkat beban untuk pemanasan. Pemanasan seperti ini hanya
untuk banci.

"Bagus. Tahan sekitar sepuluh detik... dan ulangi dari awal."

"Ini aneh. Tidak bisakah aku mendapatkan hasil dari lima pon di
tanganku dan mengangkatnya dengan aturan yang sama?"
Tangannya berada di kedua pinggang langsingnya saat berkata,
"Sekarang kenapa aku tidak memikikan hal itu? Oh, Aku tahu.
Karena itu tidak akan meregangkan otot-otot. Itu akan menggerakan
otot-otot."

"Baiklah, lakukan dengan caramu. Tapi kita akan menyatukan


latihan kita lain kali."

"Ap—"

Pertanyaan Lucie terpotong dengan pekikan saat lengan kirinya


merangkul pinggang dan mendekatkan mereka. "Disana. Sekarang
aku punya dorongan untuk bersandar di tembok."

"Reid, apa yang sedang kau lakukan?"

Ia tidak bisa menahan senyum puasnya saat berkata, "Mencium."

Mata Lucie melebar dan tercengang cukup untuk membuat bibirnya


terpisah. Ia menunggu dengan sabar sampai shocknya reda. Dan
untuk penolakannya ia tahu itu akan terjadi.

"Tentu saja tidak. Keluarkan itu dari pikiranmu. Aku tidak akan
menciummu Andrews."

Ketika ia mengangkat alisnya seperti mengatakan, sedikit terlambat


untuk itu, Lucie menggertak, "Aku tidak akan menciummu lagi."

Menegakkan bahunya yang tidak sakit ia seakan-akan tak


mempedulikannya. "Kau mungkin benar. Aku yakin kau tahu semua
trik-trik kecil bagaimana membuat seorang pria berlutut dengan
ciuman kecil. Gairah nyatanya menjadi hal alami kedua bagimu."
Kemudian ia memberikan tembakan tepat. "itulah kenapa kau
membutuhkanku untuk mengajarimu bagaimana mendapatkan Dr.
Mandible di urutan pertama."

Ia harus menjadi serakah untuk membuat kekalahan telak, karena


jelas itulah yang akan ia dapat jika Jax mendapati Reid mencium
adiknya. Jax sangat protektif dengan apa yang Lucie lakukan, dan
dengan alasan yang tepat. Tidak berpengaruh meskipun Lucie hanya
terpaut usia beberapa tahun lebih muda darinya. Lucie terlihat polos
dan lugu. Percayalah.

Jadi kenapa sangat sulit baginya untuk menjauh darinya? Apa karena
Lucie tipe wanita yang berlawanan dari yang biasanya ia kencani?
Bukan berarti ia "berkencan" sejak ia terluka. Saat ia berpikir untuk
tidak akan bertarung lagi ia akan mengurangi, menolak setiap
tawaran yang menghentikan jalannya. Mungkin akhirnya sekarang
tembakan kecilnya tercapai melampui libidonya kembali. Sial, ia
tidak tahu apa yang harus dipikirkan.

"Sekarang saat kau sudah memiliki kencan dengan seorang pria kau
butuh bagaimana caranya melangkah, Luce. Kau merayu seperti
seorang pemenang dan menendangnya, tapi jika kau bosan saat
waktu untuk hal lainnya, kau berikan dia signal dan dia akan
mundur."

Lucie gelisah bibir atasnya seperti roda di dalam kepalanya yang


berputar. Setidaknya ia mengangguk dan titik di perutnya yang
berpikir tidak akan merasakan bibir itu lagi terurai. "Oke. Kau
membuat poinnya. Tunjukkan apa yang kulakukan."

"Pertama kau harus tenang. Kau terikat kencang aku takut kau
tergigit. Berbalik."

Memegang bahunya ia membaliknya sampai bahu Lucie di


depannya, dan kemudian mulai memijat punggung atas dan bahunya.
Dengan segera Lucie meleleh di tangannya dan mendesah. "Aku
tidak ingat kapan terakhir seseorang memijatku. Terasa luar biasa."

"Kasihan kau," katanya, memperhatikan bentuk lehernya saat


kepalanya tertunduk. "Setiap orang harus memiliki seseorang untuk
menghilangkan stresnya."

"Mmm," jawabnya menyetujui. "Kalau kau, siapa yang


memijatmu?"

Barisan wanita-wanita yang lebih senang memberikan pijatan di


bawah sebagai pembuka seks berada di benaknya. Untuk beberapa
alasan, berada di sini dengan Lucie, semuanya terlihat...kurang
menarik. "Seperti semua atlet, kami memiliki dokter di gym yang
melakukannya untuk kami."

"Mmm."

Ia tersenyum, menyukai gairah kecil yang diberikan tangannya. Ia


menekankan jempolnya di ujung leher ke kepalanya, lalu memijat
dengan lingkaran kecil. Lucie dengan pelan, menahan nafas dan
menghela nafas dengan desahan saat bahunya ditarik kebawah
denagn peregangan yang menenangkan.

"Bagus." Ia memindah tangan ke bahu Lucie dan bekerja di titik


diantara bahunya. Sebelum ia menghentikan dirinya ia bersandar,
menempatkan wajahnya di sisi kepala Lucie. Rambutnya
menggelitik pipinya dan bau bunga bercampur dengan antisipasinya
untuk mencicipinya lagi membuat mulut Reid berair.

Ia menggerakkan kepalanya sedikit untuk berbicara di telinganya.


"Tahan rasa nyaman dan abaikan. Simpan di kepalamu, oke?"

Lucie mengangguk dan ia membaliknya sehingga punggungnya


bersandar di tembok lagi. Dengan lengan kanannya, ia mulai
menggerakkan jari-jarinya di tembok untuk meregangkan,
membawanya untuk mendekat padanya. Berbicara soal dorongan.

"Sekarang fokusmu ada dimataku..."

"Uh-huh..."

"Tapi kalau kau terlihat ingin dicium, dimana seharusnya kau


melihat?"

Tatapannya rendah dan terpaku di mulutnya. Mata pucat abu-abunya


berubah menjadi perak cair. Bulu matanya tidak mungkin setebal
dan sepanjang seperti yang biasa ia lihat, kemudian lagi, sudah lama
ia melihat wajah wanita yang bebas dari riasan, apalagi tanpa bulu
mata palsu. Ia lebih menyukai Lucie. Di sana ada garis bulu mata
tebal, kemudian menyatu menjadi segitiga runcing yang melengkung
sedikit. Seperti khayalannya akan kibasan peri.

Lucie menjilat bibir dengan ujung lidahnya, membuatanya berkilau


lembab. Hanya beberapa inci jarak mereka berdua saat tangan
kanannya naik setinggi yang bisa dilakukan tanpa menimbulkan rasa
sakit. Sekarang bersandar dengan peregangan.

Saat Reid dengan lambat, lambat mendekati jarak diantara mereka,


ia mendengar nafasnya sampai celana dan detak jantungnya
berdetak melawan rusuknya. Saat bibir mereka bersentuhan, nafas
mereka berbaur, ia berhenti, memberikannya kesempatan untuk
memulai. Untuk mendapatkan yang Lucie inginkan.

Namun Lucie tidak melakukannya.

Di akhir detik kesepuluh, Reid memindahkan tangannya dari


tembok sampai ia berdiri tegak lagi, lengan di kedua sisinya.

Reid memperhatikannya beberapa menit, mencoba memahami


bagaimana cara untuk membuatnya bertindak daripada berpikir.
Sekali lagi, Ia menggerakkan tangannya ke atas tembok lagi,
mendekatinya saat ia berbicara. " Katakan yang kau inginkan."

"Aku tidak mengerti."

"Ada alasan kita melakukannya. Kau menginginkan sesuatu. Jangan


memikirkan jawabannya. Aku ingin kau merasakan jawabannya.
Sekarang," Reid berkata bersamaan dengan ia menjauh sejauh yang
ia bisa dan mulai bersandar padanya, "katakan padaku, apa yang kau
inginkan."

Lucie menjilat bibirnya. Menelan dengan keras saat mulut Reid


mendekat. Tapi tetap dalam jangkauan. "Sekarang?"

"Secepat mungkin."

"Aku sangat ingin menciummu itu yang membuatku takut."

Jawabannya membuat Reid sangat terkejut—ia berharap Lucie


menjawab panjang lebar tentang dokternya—tapi Reid terlalu
memikirkan dirinya sendiri untuk beralasan.
"Lakukan sesuatu tentang itu," komentarnya.

Lucie menangkup wajah Reid dan menautkan mulutnya. Saat ini,


rasa asin dari keringat olahraganya bercampur dengan bibir rasa
strawberi. Kombinasi ini sangat memabukkan, tak bisa dibandingkan
dengan satu-dua pukulan yang ia dapatkan saat Lucie menjilat bibir
atasnya dengan lidah.

Reid mendapati sebuah ajakan terbuka. Meluncurkan lidahnya ke


dalam mulut Lucie seperti merasakan ambrosia manis.

Reid sangat berharap boxer pendeknya dapat bekerja lebih baik


untuk menahan ereksinya yang membesar dari pada dirinya yang
menahan puncak geraman yang terlepas dari dadanya.

Lucie menarik diri, tiba-tiba berubah seperti terapis. Walaupun


Lucie tidak biasanya kehilangan nafas saat sedang menilainya. Reid
menyukai efeknya seperti ini. Sangat. "Ini bukan ide yang bagus ,
Reid. Kau harus tetap fokus pada peregangannya atau kau akan
membuat dirimu sendiri kesakitan."

Dengan tangan kirinya di dagu Lucie, ia mengalihkan perhatiannya


dari luka Reid. "Bahuku tidak sakit sekarang, Lu. Walau aku tidak
bisa mengatakan hal yang sama untuk anatomi tubuhku yang lain."

Ia menunggu dengan sabar saat benak polosnya menangkap niat


jahatnya yang berkubang di selokan. Tidak berhasil. "Aku tidak
mengerti, dimana sakitmu?"

Ia menaikkan alisnya dan dengan cepat menyeringai lalu berkata,


"Aku berpikir kotor." Sekarang Lucie akan mengerti dalam
tiga...dua...satu...

Pancaran mata abu-abunya yang agak membesar yang tiba-tiba


tertarik dengan langit-langit di atas kepala Reid berkata padanya
bahwa ia menang. Reid ingin tertawa betapa mempesona saat Reid
melihat pipinya merona, tapi ia tidak yakin sendang ingin tertawa.
Tidak. Pikirannya sudah mengharapkan satu tujuan yang akan
membuatnya mendapat masalah. Sesuatu yang menyenangkan.

"Aku tahu aku bukan tipemu, Reid. Kau tidak perlu


mempermasalahkan apapun untuk membuatnya lebih baik untukku.
Aku sudah dewasa."

Apakah dia serius? Lucie tidak percaya ia terpengaruh olehnya?


Sekarang itu cukup untuk membuatnya terganggu. Melepaskan
peregangan bodohnya, ia meraih pantat Lucie dengan kedua tangan
dan mendekatkan tubuh mereka.

Keras.

Kali ini Lucie terkesiap dan meletakkan tangan di dada Reid dengan
lemah memberi sedikit jarak diantara mereka. Beruntungnya Reid,
itu bukan suatu hal yang dipedulikannya dan melenyapkan apapun
diantara mereka terutama pakaian mereka. Dan bahkan itu bukanlah
taruhan yang aman kali ini. untuk membuktikannya, ia mendekatkan
pinggulnya, membiarkan kejantanannya yang mengeras dan panjang
menyentuh titik sensitif diantara kakinya.

"Merasakan itu, Lucie? Itu bukan caraku bereaksi pada wanita yang
tidak mempengaruhiku. Percayalah, ada banyak cara untuk
mengajarimu hal itu. Tidak secara intim." Cara yang seharusnya ia
gunakan. Tapi ia malah menggerakkan satu tangannya ke atas
pinggang Lucie dan menyentuh putingnya dengan ibu jari, membuat
desahan bergairah dari bibir yang bengkak karena ciumannya.
Walaupun terhalang bra sportnya dan tank top, Reid dapat melihat
putingnya menegang dan mengeras dari sentuhannya. Ia mendesis
puas. "Sepertinya aku tidak bisa meninggalkan diriku sendiri seperti
ini."

"Kenapa tidak?" Lucie berkata dengan sedikit gemetar.

Kenapa tidak? Itu adalah pertanyaan miliyaran dolar, benarkan?


Kenapa ia tidak bisa menghindar dari Lucie? Kenapa saat ia
membayangkan Lucie melakukan sesuatu dengan pria lain, kurang
lebih si dokter brengsek yang ia impikan, perutnya menegang seperti
dipukuli oleh petinju kelas berat?

"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Yang kutahu aku lelah melawan
diriku sendiri saat aku dekat denganmu seperti ini. Jadi seharusnya
aku tidak begini. Mungkin mulai sekarang kita menggunakan
rencana baru."

Reid tidak yakin Lucie menyadarinya atau tidak, tapi tangan Lucie
meninggalkan dadanya dan bergerak ke lehernya, membuat
payudaranya mendarat tepat ke arahnya. Sial, ia senang saat tubuh
lembut Lucie berada di tubuh kerasnya.

"Apa yang kau sarankan?"

Reid mendekatkan kepala mereka hingga berbagi nafas, hidung


mereka bergesekan saat mereka berdansa dikelilingi oleh gairah
untuk menyatukan mulut mereka. "Mungkin cara terbaik untuk
mengajarimu cara merayu, adalah membuatmu merasakan rasanya
dirayu. Dan membiarkanmu mencoba dengan orang yang bukan
targetmu. Jadi kau bisa menghilangkan kecanggunganmu."

"Seperti sedang menjalankan uji coba."

"Benar. Pada akhirnya aku akan kembali memperoleh kembali gelar


seperti keinginanku, dan kau memperoleh siapapun pria gila itu
seperti yang kau inginkan. Tak ada ikatan, tak ada rasa bersalah. Tapi
pada saat yang sama, kita meredakan panas dan mengeluarkan
apapun ini keluar dari tubuh kita."

"Aku kira itu masuk akal. Jelas rencana yang bermanfat." Jari-jari
panjang Lucie di tengkuknya bergerak ke rambut di dasar kepalanya
saat Lucie memiringkan kepalanya ke belakang, menjelajahi daerah
lembut dari leher untuk ia gigiti dengan bergairah. "Ya, Tuhan."
Kata-katanya berupa desahan doa, yang terdengar cukup keras
untuknya, mambuat dirinya tersenyum puas saat berpindah ke
belakang telinga Lucie. Rasa Lucie seperti caramel asin,
kombinasinya membuat Reid tidak pernah merasa cukup.

"Jadi apa yang kau katakan, Luce?" ia menggigit daun telinga dan
menenangkan dengan isapan lembut mulutnya.

"Aku bilang—" katanya terpotong dengan terengah saat Reid


menekan punggungnya sedikit untuk mendesak ke tembok.

"Kau bilang?" Reid mendesaknya untuk mulai berkata lagi, sangat


yakin ia tidak akan membuat Lucie menyelesaikan kata-katanya.
Sangat menyenangkan mengganggu Lucie.

"Aku bilang bahwa—Uhh!" Saat itu Reid mendaratkan dirinya


dimana ia tahu itu adalah titik sensitif yang membengkak dan sakit
karena kedekatan mereka.
"Sial, Reid, ya oke? Aku bilang ya untuk rencana baru!"

"Hanya soal waktu sampai kau mengatakan itu." Dan kemudian,


Reid menyerangnya.
***

Bab 9

Lucie merasa bahwa sepertinya dia baru saja menjual jiwanya


kepada iblis, dan dia tidak bisa mengabaikannya. Selama hidupnya
dia tidak pernah merasa begitu diinginkan, begitu diidamkan. Reid
membawanya kedalam kobaran api itu, dan dia dengan senang hati
masuk lebih dalam lagi.

Udara di sekitar mereka terasa lembab dengan serangkaian aroma


elekrik. Dengan keringat, baik lama dan baru, membaur dengan
aroma jasmine dari samponya, dan ada sesuatu dalam diri Reid
mengingatkannya akan laut dan matahari.

Reid membenamkan wajahnya di leher Lucie. Lucie tidak pernah


menyadari, banyak hal indah yang bisa dilakukan dengan leher
seseorang. Mencium, menghisap, menggigit, menjilat. Setiap
tindakan bahkan terasa lebih menggairahkan dari pada sebelumnya
dan itu semua membuat dirinya sedikit demi sedikit kehilangan
kewarasannya.

Pria itu bergerak seolah dia sudah dilatih sepanjang hidupnya untuk
melakukan hal ini,bukan menjadi petarung.Lucie tidak pernah
mengalami sesuatu yang sedekat ini dengan mantan suaminya. Reid
mengajarkannya secara logis tentang gerakan dasar yang harus di
pertimbangkannya, dan yang Lucie lakukan hanyalah melingkarkan
lengannya di bahu Reid, membenamkan jemarinya kedalam
punggung kuat Reid, dan berusaha bertahan.

Dengan satu tangan Reid meraih paha Lucie dan menyandarkannya


di pinggulnya saat ia melakukan sebuah dorongan magis yang
lainnya. posisi yang baru ini membuka tubuhnya lebih lebar lagi,
membuat tangan kuat Reid memungkinkan untuk menimbulkan
gesekan kenikmatan di pusat Lucie. Tiba-tiba Lucie berharap
pakaian mereka akan terbakar dengan tiba-tiba, terlalu banyak
penghalang diantara mereka.

"Aku benar-benar ingin berada di dalam dirimu," desahnya di rahang


Lucie. "Aku tidak ingat kapan terakhir kalinya aku sekeras ini,"

"Tapi itu hal yang baik, bukan?"

Dia mundur sedikit untuk melihat kebawah, tepat kearah Lucie


ketika dia menjawab. Dan betapa beruntung dirinya, karena itu juga
memberinya ruang untuk menelusuri, mencubit dan menyiksa
putingnya dengan tangannya yang bebas, menimbulkan desahan
‘oh’, Tuhan dan disertai beberapa erangan lainnya. "Baik dan buruk.
Baik karena itu berarti aku benar-benar terangsang karenamu. Buruk
karena itu berarti aku akan mempermalukan diriku sendiri karena
tidak bisa bertahan lebih dari beberapa menit lagi,"

"Benarkah?" Lucie mencoba mengingat kisah bercintanya yang


berlangsung lebih dari beberapa menit, dan itu sia-sia. Dia masih
mengasumsikan bahwa hal itu adalah sebuah norma, tetapi Lucie
tidak mengatakan hal itu pada Reid. Lucie mencoba terlihat acuh tak
acuh ketika kembali bertanya. "Jadi, berapa lama rata-rata
waktumu?"

Reid tertawa ketika dia mengangkat tubuh Lucie dengan kakinya


melingkari pinggangnya, kemudian menekannya ke dinding. Mata
Lucie hampir sejajar dengan milik Reid saat ini, hingga membuatnya
mustahil untuk tidak terpaku menatap iris berwarna coklat-lumut itu.
"Kurasa itu setara dengan pertanyaan pria kepada wanita tentang
berat badannya. Tapi itu tidak masalah, karena ku rasa, dengan
sedikit latihan kita akan mampu melampaui rata-rata itu begitu saja."

Itu tidak sepenuhnya menjelaskan apa pun pada Lucie, tetapi itu
terdengar seperti cukup menjanjikan. Hanya saja Reid tidak
membiarkan Lucie untuk mencernanya lebih dari sedetik sebelum
akhirnya dia menciumnya dalam sebuah ciuman yang panas.
Lidahnya menggali di antara kedua bibir Lucie dan memijatnya.
Reid terasa seperti mint chocolate Andes, seperti rasa pasta gigi dan
protein shake, tetapi membuat Lucie ingin menghisapnya lebih
dalam lagi hingga dia meleleh di dalam mulutnya.

Reid menekan pinggul Lucie ke dinding, hingga tangannya dengan


bebas menjelajahi tubuhnya. Ketika dia kembali mencium Lucie,
jemarinya menelusuri lipatan pantatnya dan turun untuk membelai
bagian tubuhnya yang membengkak, sementara tangan yang lainnya
bergerak ke bawah bajunya dan menyingkap sebagian bra-nya untuk
mendapatkan akses ke payudaranya yang kencang.

Pikiran Lucie terasa seperti terbungkus kapas, tidak bisa memikirkan


hal yang paling sederhana sekalipun. Yang bisa dia lakukan saat ini
adalah tetap fokus terhadap setiap dorongan yang ada, setiap
sentuhan, dan mengunggu saat akhirnya Reid membenamkan dirinya
ke tubuh Lucie. Pikiran itu membuat organ intimnya menegang, tapi
tidak ada yang bisa dia genggam. Tubuhnya masih kosong, hingga
kini terasa pedih, membuatnya merengek karena kebutuhan dan
meremas pinggang Reid frustasi.

"Aku tahu baby. Aku tahu apa yang kau butuhkan. Bagaimana kalau
kita pergi ke kamarmu dan aku bisa memuaskanmu?"

Itu seharusnya menjadi sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang


diajukan untuk pertama kalinya. Tapi tampak tidak seperti
pertanyaan. Dan memang tidak perlu ada pertanyaan seperti itu. Di
dalam pikirannya tidak ada wanita yang akan mengatakan tidak.
Tetapi ketika Reid membawanya masuk ke dalam kamar, mereka
mendengar pintu depan di banting dan Reid langsung membeku.

"Lucie? dimana kau?"

Mata Lucie melebar, "Macaroni Matinee!" gumamnya dengan


tangan yang menutupi mulutnya.

Apa? Tanya Reid tanpa suara. Tapi tidak ada waktu untuk
menjelaskan. Apartemen itu tidak terlalu besar, dan Vanessa tidak
membutuhkan waktu lama untuk menemukannya dalam posisi yang
paling rentan. Lucie menempatkan bobot tubuhnya di kakinya,
memaksa Reid untuk menurunkannya, tetapi kakinya begitu lembek
bagaikan pasta yang sedang di masak hingga akhirnya dia menahan
tubuhnya pada kursi di belakangnya.

Sementara dia berusaha untuk membetulkan bra dan tank topnya dia
memanggil sahabatnya. "Aku di ruang latihan Nessie! Bisakah kau
mengambilkan sebotol air dari dalam kulkas?" seharusnya itu
memberikan mereka waktu ekstra. Ketika akhinya dia yakin jika
pakaiannya sudah rapih, dia menghela napas lega.
Lalu dia memandang Reid,dan Lucie merasa dia sedikit mendapat
serangan panik.

Bahkan apakah dia mengenakan pakaian dalam? Celana pendeknya


mengkerucut ke depan, tampak seperti puncak tenda pertunjukan
sirkus Barnum & Bailey. Lucie menyambar kemeja yang tergeletak
di kakinya dan melemparkannya pada Reid sambil berbisik. "Cepat
pakai!"

Ketika yang Reid lakukan hanyalah menaikan sebelah alisnya, Lucie


dengan cepat melirik kearah selangkangan Reid. Setelah ikut melirik
kebawah dan mungkin menyadari dia tidak bisa melihat lantai di
antara kedua kakinya, dia langsung memakai pakaiannya tepat ketika
Vanessa muncul di sudut ruangan.

"Aku tahu aku datang sedikit lebih awal, tapi—whoa." Vanessa


membeku di ambang pintu dengan sebotol air di sebelah tangannya
dan sebuah Diet Mountain Dew di tangannya yang lain, yang di
ambilnya dari tempat persediaan khusus milik Lucie untuk
menyembunyikannya dari temannya yang kecanduan. "Siapa dia?"
sebelum Lucie memiliki kesempatan untuk memperkenalkannya,
Vanessa sudah bergerak maju, menyerahkan botol air kepada Lucie
bahkan tanpa melihat kearahnya dan mengulurkan tangannya kepada
reid. "Hi, aku Vanessa MacGregor dan kau?"

Reid membalas jabatan tangannya dengan sebuah senyuman


mematikannya. "Reid Andrews."

"Senang bertemu denganmu, Reid. Kau harus memaafkanku karena


begitu terkejut, tapi aku tidak tau jika Lucie sudah memiliki teman."

Lucie membuka botol airnya dan meminum hampir seluruhnya


dalam satu tegukan. Ia menyayangi Vanessa seperti saudaranya
sendiri, dan tidak pernah merasa cemburu ketika temannya merebut
semua perhatian di manapun mereka berada. Sampai saat ini. Tidak
diragukan lagi, Reid pasti sedang menelanjangi Vanessa di dalam
pikiraannya saat ini. Wanita itu benar-benar cantik, dari rambut
keriting strauberinya hingga kaki jenjangnya dan leher
indahnya,Vanessa memiliki tubuh seorang model. Lucie tidak pernah
menganggap dirinya buruk dengan cara apapun, tetapi dia cukup
dewasa untuk merasa nyaman dengan sosoknya yang 'biasa-biasa'
saja. Semua tentang dirinya semacam masuk dalam kategori…
well…biasa.

Saat berada di Fritz Lucie pernah melihat pria yang tidak terhitung
jumlahnya menunggu kata-kata yang di ucapkan Vanessa dan
meneteskan air liur mereka ketika wanita itu menggerakan
pinggulnya. Saat itu Lucie dan Vanessa sedang menonton acara
spektakuler di malam liga panah di sana dan Vanessa tidak pernah
mempedulikan semua itu. Lucie tidak terlalu yakin apakah wanita itu
memang tidak menyadarinya atau memang ia adalah wanita yang
rendah hati. Tetapi Lucie meragukan Vanessa tidak menyadari
kelebihan yang di milikinya apalagi dia memiliki reputasi sebagai
seorang pengacara yang cerdas di daerah itu. Bahkan untuk bisa
mengencani Vanessa, pria itu harus melewati seluruh tes.Yaitu harus
bisa diterima secara sosial untuk menjual mobil bekas pada public
jika mereka bisa melewati batasan kecil dari Vanessa. Dan Lucie
pikir, sampai sekarang tidak ada pria yang masih hidup mampu
melewati segala tes dari Vanessa.

"Dia pasienku, Ness."

"Ah," ujar Vanessa sambil mengedipkan matanya dan tersenyum,


"Maka dalam kasus ini aku bisa mengerti mengapa kau ingin
membawa pekerjaan ini ke rumahmu."

Reid tertawa dengan cara yang terlalu manis dan dia menyilangkan
kedua tangannya di depan dada, merenggangkan pakaian di atas
bahu dan bisepnya. "Sebenarnya aku sudah mengenal Lucie hampir
seumur hidupku, aku adalah sahabat baik kakaknya."

"Oh kau dari Dun Valley! Itu bagus; aku tidak pernah bertemu
dengan orang lain dari daerah itu sebelum Lucie, dan kami satu
kamar ketika mahasiswa baru. Aku harap kau mau menceritakan
beberapa kisah memalukan untukku. Gadis ini memiliki portopolio
tentang kehidupanku, dan aku tidak memiliki apapun tentangnya. Ini
benar-benar tidak adil."

"Maaf Ness, tapi aku sudah mengatakan padamu, tidak ada apapun
di dalam kehidupanku. Aku hanya gadis yang membosankan
sebelum masuk kuliah dan sampai saat ini."

"Dan aku juga sudah mengatakan sebelumnya kepadamu, kau sama


sekali tidak membosankan. Kau adalah penyeimbang kegilaanku,
itulah mengapa kita sangat cocok ketika bersama-sama. Kita saling
melengkapi." Vanessa mengeluarkan sodanya dan menyentuhkannya
pada botol air Lucie, dan meminumnya sesudah mengatakan "salut"
bersamaan.

Vanessa berjalan beberapa langkah untuk duduk di samping Lucie di


kursi panjang. "Jadi kau sudah selesai dengan sesi mu? Kau harus
segera bersiap-siap jika kau masih ingin membuat Matinee Macaroni
kita."

"Oh, um…" Sial, tenggorokannya kering. Bagaimana mungkin rasa


gugup itu bisa membuat tenggorokannya menjadi sekering itu? ini
seperti reaksi psikologi yang konyol. Dia terdiam ketika meneguk
airnya lagi.

"Apa itu Macaroni Matinee? Terdengar seperti makan siang khusus


untuk para senior."

Vanessa tertawa kencang ketika Lucie hampir saja memuncratkan air


dari mulutnya kemudian tergagap sebelum akhirnya bisa menelan air
itu dengan lancar. Untungnya Vanessa langsung menjawab
pertanyaan Reid, hingga Lucie bisa meneruskan batuknya dengan
tenang. "Ini adalah kencan bulanan kami. Sabtu pertama setiap bulan
kami akan pergi nonton film, makan siang di Macaroni Grill dan
memasukan diri kami sendiri ke dalam jurang serangan jantung
karena porsi karbohidrat yang berlebihan."

"Ness, aku tidak bisa pergi untuk sementara waktu."

"Apa?" entah bagaimana Vanessa berhasil membuat mata hijau


cantiknya membesar dua kali lipat dari ukurannya yang semula.
Setiap kali Vanessa menginginkan sesuatu, dia memiliki pandangan
seperti kucing dalam Boot di kisah Shrek ketika kucing itu
menggunakan ‘pussy face’ nya yang menyedihkan. "Tapi aku
mendapatkan minggu yang sangat buruk di pengadilan dan aku
membutuhkan waktu untuk para gadis, dimana kita tidak melakukan
apapun kecuali hal-hal yang mengerikan, mengomentari wanita-
wanita lain dan keluar bersama pria-pria yang mengenakan celana
jeans ketat."

"Tapi aku tidak bisa meninggalkan Reid begitu saja…" Lucie


melihat kearah Reid dengan pandangan yang mengatakan, Maafkan
aku karena apa yang kusarankan, tapi aku benar-benar tidak tahu
apa yang harus kulakukan. "Kecuali, kau mau ikut bersama kami?"
Reid tertawa dan mengibaskan tangannya sebagai tanda keberatan.
"Tidak apa-apa, Lu. Walaupun aku akan senang mengomentari dan
menilai orang lain, tapi aku harus pergi. Sayangnya, aku tidak bisa
menerima kelebihan karbohidrat saat ini. Dan ngomong-ngomong,
aku harus pergi berbelanja. Apa ada hal khusus yang menurutmu
harus kubeli sekarang?"

"Tidak, yang kau beli minggu lalu cukup baik. Ini akan menjadi
sangat sulit untuk kembali membiasakan makan malam dengan
microwave menyedihkanku lagi setelah kau pergi nanti. Siapa yang
tahu jika makanan sehat itu bisa terasa sangat lezat?"

"Whoa! Aku butuh rehat sekarang."

"Ini bukan ruang sidang, Nessie."

"Apa kau tinggal di sini?"

Lucie menjawab dengan cepat untuk meminimalisir kerusakan yang


ada. "Hanya untuk beberapa bulan hingga dia sembuh dari lukanya.
Aku sudah mengambil waktu liburanku untuk bekerja bersamanya
dalam program pemulihan dan pelatihan yang ketat."

"Wow Luce, itu benar-benar sesuatu yang lain. Aku tak tahu harus
berkata apa."

Tidak, kau sama sekali tidak, tapi kau sedang menahan lidahmu –
meskipun hanya sementara- dan aku mencintaimu untuk itu. "Well,
aku akan pergi mandi kalau begitu."

"Ya, cepatlah. Kau tahu bagaimana aku benci jika mendapatkan


tempat duduk yang kurang strategis di teater." Vanessa berdiri dan
berjalan melewati ruangan sambil menambahkan. "Aku akan
menunggu di ruang tamu dan membaca majalah kedokteran edisi
terbaru yang membosankan, berharap menemukan gluteus
maksimum pria, lengkap dengan gambar."

Begitu Lucie dan Reid mendengar suara duduknya di sofa dan


meletakan kaleng sodanya di atas meja, mereka saling berpandangan
dan tertawa lega.

"Dia ingin bepergian."

Lucie berdiri, dan menggerakan kakinya. "Kau tidak mengerti."

"Dia sangat protektif kepadamu. Dia benar-benar tidak suka ketika


kau mengatakan bahwa kau adalah gadis yang membosankan." Reid
melangkah mendekatinya, sorotan matanya yang nakal menghilang.
"Begitu pula denganku,"

"Tapi itu adalah kebenarannya. Aku tidak pernah melakukan sesuatu


yang liar atau gila atau, yang di larang Tuhan, sesuatu yang illegal."
Dia mengangkat bahunya dan mengambil tali dari celana barunya.
"Aku adalah wanita yang mengikuti aturan."

Selangkah lagi. Sekarang Reid sudah begitu dekat hingga Lucie bisa
merasakan nafasnya di kulitnya. Lucie melirik ke arah pintu.
Bagaimana jika Vanessa memutuskan untuk datang lagi? Sentuhan
jari di dagunya mengembalikan fokusnya lagi pada sosok Reid.
"Satu-satunya saat aku mengikuti peraturan adalah ketika aku berada
di dalam ring." Katanya dengan suara rendah.

"Mentalitas itu bisa membawamu ke dalam banyak masalah."


"Kebetulan aku memang menyukai masalah." Seringai miringnya
terlihat begitu jahat. Dan menggiurkan. Yang tampak tidak mungkin
disebut sebuah senyuman, namun dia memang tersenyum. Lucie
ingin menjilatnya dari satu sisi ke sisi yang lain. "Bersiap-siaplah
dan nikmati waktu ‘untuk para gadis’ mu. Aku akan menyelesaikan
peregangan dan latihanku setelah pulang dari toko. Kemudian…"
Reid menundukan pandangannya pada bibir Lucie, dan menelusuri
bibirnya dengan ibu jemarinya. "…kita akan menyelesaikan hal lain
yang sudah kita mulai."

"Kau masih ingin?" Lucie nyaris menutup mulutnya dengan kedua


tangannya. Terkadang dia bersumpah untuk menjaga monolog
internalnya yang rusak.

Reid menyipitkan matanya. "Apa kau tidak?"

Sial. Apakah Reid bertanya karena berharap Lucie juga masih


menginginkan hal itu atau karena dia berharap Lucie tidak
menginginkannya, memberinya kesempatan untuk mundur dengan
kesan baik? Dan mengapa Lucie selalu bersikeras untuk memikirkan
hal ini secara berlebihan? Karena kepalamu terus memikirkan hal
ini.

"Ya?" sebelah alisnya melengkung naik, menantang Lucie untuk


menegaskan jawabannya. "Ya. Maksudku ya." Dia mendesah putus
asa dan berharap untuk keseribu kalinya agar Vanessa tetap dalam
ketenangannya. "Aku pikir mungkin kau hanya terhanyut dalam
suasana panas saat itu, tapi sekarang, setelah kau memiliki waktu
untuk berpikir, mungkin kau mengubah keputusanmu untuk terlibat
dalam hal ini."
Ketika alis Reid mengkerut, dengan cepat Lucie menambahkan.
"Tidak terlibat, terlibat. Maksudku, ini hanya sementara waktu dan
hanya untuk tujuan instruksional."

Reid bergerak dengan sangat cepat, hingga Lucie tidak memiliki


kesempatan untuk memikirkan maksudnya hingga dia menemukan
dirinya sendiri tenggelam dalam panasnya bibir pria itu, lidahnya
menekan dan membujuk. Tubuh Lucie di tekan ketubuhnya dengan
satu tangannya di belakang punggung wanita itu, dan tangannya
yang lain—astaga Tuhan, tangannya yang lain—terselip di antara
pahanya, jemarinya menekan diantara lipatan-lipatannya dan ibu
jarinya menekan klitorisnya. Celananya terasa semakin mengetat
karena gesekan itu, dan perasaan takut tertangkap basah hingga tidak
bisa meneruskan hal ini lebih jauh lagi membuat semuanya semakin
terasa menarik.

Itu adalah langkah panas dan beresiko, tapi Reid tidak merasa ragu
untuk melakukannya hingga tuntas, hanya seperti apa yang dia
lakukan di dalam pertarungannnya. Hal yang paling di sukai Lucie
adalah gaya pria itu ketika di dalam ring.

Getaran di dalam perutnya semakin dalam, ketegangan itu semakin


menyebar. Ketika sensasinya datang, Lucie menekan jari-jarinya
kepada tricep pria itu untuk mengantisipasi gelombang yang akan
segera datang. Reid melepaskan ciumannya, membuat Lucie
merengek protes, dan ketika jari-jarinya ikut mengentikan sentuhan
ajaib itu, pinggulnya secara otomatis mengikuti mereka, memohon
untuk sentuhan lebih ketika dia mundur.

"Apa itu bisa menghentikan keprihatinanmu tentang keputusanku


untuk mempertimbangkan kembali?" Lucie mengangguk. "Baik.
Kalau begitu kita akan melanjutkannya lagi nanti."
Jari-jari Lucie langsung meraihnya ketika dia merasa Reid akan
menarik diri. "Please Reid. Aku sangat dekat," bisiknya. Sudah lama
Lucie tidak pernah mendapatkan klimaksnya, dan dia bertanya-tanya
apakah dia masih ingat bagaimana rasanya. Dia selalu mengurus hal-
hal nya sendiri, namun setelah berbulan-bulan sibuk di kantor dan
jatuh ke tempat tidur dengan kelelahan teramat sangat di malam hari,
dia mulai kehilangan kekuatan untuk memikirkan hal itu. mungkin
dia bisa di kategorikan sebagai aseksual sekarang. Pada usia matang,
dua puluh Sembilan dan seperempat.

"Aku tahu, tapi aku tidak ingin memberikannya sekarang. dan ini
tidak ada hubungannya dengan keberadaan Vanessa di ruang
sebelah, karena percayalah, jika aku mau, aku akan menekan
tubuhmu ke dinding dan tidak peduli jika ia akan menonton kita
sambil memakan popcorn seperti menonton salah satu film romantic
kalian."

"Lalu mengapa?" ya Tuhan, apa dia benar-benar merengek?

Reid memegang salah satu sisi wajah wanita itu ketika berbicara,
tatapan matanya yang intens sama sekali tidak membantu untuk
menenangkannya. "Karena ketika aku membuatmu datang untuk
pertama kalinya, aku tidak ingin kau menahannya. Aku ingin
mendengar setiap desahan nafasmu." Dia mencium pelipis wanita
itu. "Setiap erangan." Ciuman lain di pipinya. "Dan aku tidak akan
puas sampai kau meneriakkan namaku."

Lucie mengerang frustasi, tapi ciuman Reid menelan setiap suara


dari mulutnya. Setelah beberapa kata yang memabukan, dia menjauh
dan menyeringai nakal. "Jika itu membuatmu merasa lebih baik, ada
pelajaran dalam kejadian ini."
"Aku sangat membenci pelajaran ini." Katanya sambil menghela
nafas berat.

"Pelajaran nomor tiga: selalu meninggalkan mereka ketika mereka


menginginkan lebih." Ia terkekeh – benar-benar memiliki keberanian
untuk menertawakannya- dan menggigit bibir wanita itu, lalu
kembali di belainya dengan ujung lidahnya. "Bersenang-senanglah."

Lucie menatap kepergian Reid dengan pandangan tidak percaya


kemudian dia mendengarkan ucapan selamat tinggal Reid pada
Vanessa di ruang tamu, sebelum dia pergi ke kamar mandi. Yep, dia
benar-benar membenci pelajaran ini.
***

Bab 10

"Dua yang biasa, Fritz!" Vanessa memanggil pria tua beruban di


ujung bar.

"Jangan sampai celana dalammu terpelintir (jangan panik), Red, aku


akan mengambil minumanmu dalam satu menit!"

"Aku harus mengenakan celana dalam untuk menjaganya agar tidak


terpelintir."

"Well, itu lebih baik daripada benang yang di selipkan di pantat


(thong) yang gadis-gadis kenakan akhir-akhir ini."

"Bagaimana kau bisa tahu apa yang gadis-gadis kenakan? Film laga
yang mungkin terakhir kali kau lihat adalah World War II, Tua
Bangka."

"Ha! Aku punya cerita yang akan membuat rambutmu lebih keriting
dari pada yang sekarang, nona, dan jangan kau lupakan itu."

Lucie tertawa mendengarkan percakapan yang biasa terjadi antara


Vanessa dan pemilik bar yang sudah mereka kunjungi sejak kuliah.
Fritz lebih seperti paman tersayang bagi mereka, tapi bukan berarti
hal itu membuat humor yang dilemparkan diantara mereka tidak
melintasi garis godaan genit dan lelucon kotor (tentang seks). Fritz
adalah seorang pria tua yang genit, dan mereka berdua kagum
padanya.

Setelah Fritz menyajikan bir dalam gelas bir besar, dia mencium
jemari di kedua tangannya dan menempatkan masing-masing
tangannya di pipi Lucie dan Vanessa. "Nah sudah. Sekarang tutup
mulut kalian dan pergilah bersenang-senang malam ini, huh?"

"Tentu saja, Fritzy," Vanessa berjanji sebelum mereka berjalan ke


ujung bar satunya dekat papan permainan lempar panah. Mereka
menempati kursi bar yang mereka klaim sebagai kursi biasa yang
mereka tempati dan menyenggolkan gelas mereka bersamaan dengan
"Salut" yang antusias dan menyesap untuk pertama kalinya di
malam itu. Nessie menepukkan tangannya di meja bar tiga kali, yang
mana itu merupakan caranya untuk menarik perhatian. "Keluarkan
semua (ceritakan)."

Lucie mengangkat alis dibawah poni rambutnya saat mendengar


suara tepukan meja dan menatap ke dalam beernya. "Aku akan lebih
suka meminumnya jika jenis minumannya sama dengan yang kau
minum." Lucie mungkin termasuk ke dalam orang yang tidak tahan
mabuk jika tentang masalah minum wine, tapi dia bisa bertahan
dengan cukup baik jika berhadapan dengan bir, karena bertahun-
tahun praktik dengan Vanessa sejak masa kuliah mereka.

"Aku tak membicarakan masalah alkohol. Aku ingin kau


memberitahuku apa yang terjadi denganmu dan si seksi yang tinggal
di apartemenmu. Aku sudah menunggu dengan sabar sepanjang
makan siang untukmu membicarakannya lebih dahulu, tapi sedihnya
kau malah tutup mulut tentang tamu-mu. Jadi, bersiaplah untuk
bersaksi."

Untuk kedua kalinya di hari itu Lucie tersedak minumannya. Oh,


demi Tuhan. Kau lebih baik belajar untuk mengontrol dirimu sendiri
atau kau akan memerlukan maneuver Heimlich jika kau berani
untuk makan lagi. "Tak perlu melakukan interogasi atau apapun,
Nessie. Tak ada yang terjadi dengannya. Dia adalah sahabat baik
Jackson dan aku sedang membantunya, hanya itu."

"Apa dia sudah punya teman kencan?"

"Tidak." Tunggu sebentar. Dia masih belum tahu hal itu, kan? Reid
tak pernah mengatakan tentang mengencani seseorang, tapi Lucie
juga tak pernah bertanya. Tak ada alasan untuk menanyakan hal itu.
Mereka hanya dua teman yang saling membantu. Tapi definisi dari
"membantu" sudah berubah secara drastis dalam waktu seminggu.
"Setidaknya, aku rasa ia tak punya teman kencan. Tapi lagipula dia
bukan tipemu."

"Aku tak ada rencana untuk mengejarnya, tapi aku penasaran,


mengapa dia bukan tipeku?"

"Peraturan nomor tiga."


"Benarkah? Apa pekerjaannya?"

"Dia adalah seorang petarung seperti Jackson."

Vanessa mengernyitkan hidungnya seperti seseorang yang baru saja


mengendus kaos kaki bau di depan wajahnya. "Oh, salah satu dari
pria itu. Ya Tuhan, betapa kasarnya, selain itu tidak bertanggung
jawab untuk merencanakan masa depan. Tidak, terima kasih."

Lucie tidak ambil pusing untuk membela pilihan karir Reid dan
kakak laki-lakinya di depan temannya. Tak akan ada yang berubah.
Vanessa hidup dalam peraturan-peraturan yang sangat ketat dan
menolak untuk menelikung peraturan itu untuk alasan apapun.
Vanessa mendapatkan ide itu di satu malam di saat mereka masih
anak baru semasa kuliah, mabuk, dan menonton drama di televisi,
NCIS. Si tokoh utama dalam acara itu memiliki lebih dari tigapuluh
peraturan yang ia jalani dalam hidupnya, dan Vanessa, dengan
seluruh kebijaksanaan mabuknya, memutuskan bahwa ia
membutuhkan strategi yang sama untuk menghindari jalan hidup
aneh seperti kedua orang tuanya. Peraturan nomor tiga adalah
"jangan pernah berkencan dengan seseorang yang tidak bekerja
secara tetap dalam sebuah karir sukses yang berkepanjangan." Atlet
dengan kemungkinan untuk menyakiti diri mereka sendiri di usia
muda, secara efektif menghancurkan karir mereka, tidak termasuk ke
dalam teman kencan yang berpotensi.

"Tapi mengapa tidak kau saja yang mengencaninya? Maksudku, kau


tahu, pria itu benar-benar gumpalan daging manusia yang tampan
dan menarik."

"Ew!" Kedua gadis itu tertawa secara serempak. Alkohol sudah


mengendurkan otot mereka dari minggu panjang yang padat. "Apa
maksudmu dengan gumpalan daging manusia? Tetap berpegangan
pada jargon yang di perbolehkan karena jelas kau sangat buruk
dalam mendeskripsikan pujian."

"Jangan menghindari pertanyaannya. Bagaimana dengan


mengencaninya?"

"Tidak."

"Kenapa tidak?"

"Bukan seperti itu."

"Bisa saja."

"Bisakah kita berhenti membicarakan ini, Ness?"

Bulu mata gelap Vanessa praktis menyatu saat ia menelaah wajah


Lucie. Sial sial sial. "Mengapa kau tidak bercerita padaku, Lucinda
Maris?"

Lucie selalu tersentuh hatinya saat sahabatnya menolak memanggil


Lucie dengan nama pernikahannya. Vanessa mengatakan pada Lucie
bahwa dia harus "memutuskan semua tali yang menyambungkannya
dengan bajingan sial itu," tapi Lucie tak melakukannya. Dia
membutuhkan hal itu sebagai pengingat untuk menjaga hatinya
dengan lebih hati-hati lagi. Hubungan yang di dasari dengan gairah
besar dan masa pacaran yang singkat akan hancur pada akhirnya.
Apa yang Lucie butuhkan adalah kebalikan dari semua itu: sebuah
pondasi yang berasal dari minat yang sama dan satu tujuan, di
lengkapi dengan sedikit ketertarikan, dan setidaknya dua tahun masa
pacaran dan diikuti dengan masa pertunangan yang panjang.

Lucie meminum setengah dari beernya dalam beberapa tegukan


besar dan kemudian menaruh gelasnya di bar dengan desahan tanda
menyerah. Setelah Vanessa mencurigai bahwa Lucie tidak
mengatakan "yang sebenarnya, semua kebenarannya, dan tak ada
yang lain selain kejujuran" Lucie merasa seperti anjing pitbull. "Reid
harus segera sembuh dari cederanya dan kembali siap untuk
pertandingan perebutan sabuknya dalam dua bulan."

"Dan?"

"Dan aku setuju untuk mengambil minggu liburanku untuk


memberikannya perhatian spesial duapuluh empat jam penuh untuk
membuatnya bisa kembali bertarung jika ia mau melakukan sesuatu
untukku."

"Dan sesuatu itu adalaaaaaahhhh..."

Lucie melihat kesekitar saat ia menggigit pipi bagian dalamnya


sebelum akhirnya mencondongkan tubuhnya untuk meyakini bahwa
hanya temannya yang bisa mendengar hal ini. "Dia mengajariku
bagaimana untuk merayu Stephen."

"Apa!"

"Shhhhh! Kecilkan suaramu, dasar aneh!"

"Aku si Aneh? Luce, kapan kau akan menyadari bahwa pria itu tak
pantas mendapatkan dirimu? Apakah itu alasan semua penampilan
barumu? Maksudku, kau terlihat luar biasa, tapi jika si bajingan itu
tidak menyadari keberadaanmu sebelum semua pakaian dan
pelajaran merayu itu maka itu kerugian baginya."

"Yeah, aku tahu, kau pernah menyebutkan itu satu atau dua kali
sebelumnya," Lucie menjawab dengan masam. Kenyataan yang
menjadi masalah adalah bahwa Vanessa tidak setuju pada rasa
tertariknya ke dokter baik hanya karena pria itu gagal membuat
langkah maju setelah mereka bekerja bersama selama satu tahun.
"Dengar, bisakah kita berhenti membicarakan hal ini? Ini sangat
mengganggu kesenanganku."

"Kesenanganku juga. Oke, topik ini resmi turun dari meja (tidak di
ungkit lagi). Kyle dan Eric baru saja masuk jadi aku akan
mengambil bir lagi untuk kita sebelum kita memulainya. Jaga
kursiku."

Lucie mengangkat kakinya ke atas kursi Vanessa yang kosong dan


melambai ke setengah anggota tim mereka yang lain. Setidaknya
para pria akan menjadi penahan dari isu Reid-Stephen. Lucie sudah
merasa seperti menaiki rollercoaster semenjak Stephen masuk ke
dalam kantornya Jumat pagi yang lalu, diikuti dengan kunjungan
mendadak dari Reid yang mengejutkannya dan bahkan tawaran Reid
yang jauh lebih mengejutkan.

Sesi cumbuan panas mereka hanya bertujuan untuk mengajari Lucie


bagaimana rasanya bercinta dengan keras dan bergairah setiap saat.
Dan Lucie bahkan tak bisa menikmati makan siangnya dan film
yang ia tonton dengan Vanessa karena Lucie mengantisipasi hal yang
akan terjadi nanti. Sekarang hal itu sudah tak ia pikirkan lagi, Lucie
memutuskan untuk menikmati beberapa jam ke depan yang
menyenangkan dan bebas-drama. Lucie mengirim pesan kepada
Reid sebelumnya dan meminta maaf untuk lupa memberitahu Reid
tentang malam pertandingan dan mengatakan padanya untuk tidak
menunggunya pulang karena Lucie tahu bahwa Reid selalu tidur
lebih cepat dengan jadwal yang latihan padat yang ia lakoni.

Saat Lucie ingat bahwa ia tak akan melihat Reid hingga besok pagi,
Lucie menurunkan birnya dan bergerak tak nyaman di kusinya. Yep.
Tak ada yang perlu di khawatirkan, tak ada yang perlu di takutkan.
Hanya beberapa permainan lempar panah yang menyenangkan dan
minum dengan teman-temannya. Lucie sangat membutuhkan hal ini.
***

Reid berjalan ke arah bar yang telah disarankan oleh Vanessa saat
dia akan pergi keluar tadi pagi. Dia tak berencana untuk datang, tapi
saat Lucie mengirim pesan yang memberitahunya untuk tidak
menunggu, dia tahu bahwa Lucie menghindarinya dan menghindari
hal yang Reid janjikan akan terjadi padanya sepulangnya ia ke
rumah malam ini. Hal ini tidak seharusnya mengganggu Reid. Tapi
hal itu mengganggunya. Dan ia tak tahu mengapa hal itu terjadi.

Apa yang ia tahu adalah saat Reid berbelanja bahan makanan sore
itu adalah dia mencoba untuk memikirkan lebih banyak makanan
yang Lucie mungkin sukai. Dan hal itu membawanya ke dalam
pikiran yang menjurus ke gambaran bagaimana mengajari Lucie cara
memasak makanan itu, lengkap dengan membiarkan Lucie
mencicipi makanan dari jari Reid... dan kemudian dari lidahnya. Dan
gambaran itu membuat Reid seperti sedang menyelundupkan sebuah
ketimun di dalam celana pendeknya saat ia bergerak ke bagian
sayur-sayuran.

Berdiri di pintu masuk, Reid menyisir bar mencari Vanessa, berpikir


bahwa Vanessa akan mudah di temukan karena tinggi tubuhnya dan
rambutnya yang berwarna merah terang. Dua detik kemudian
pandangan Reid seketika berhenti. Sial, dia sudah keliru.
Lucie berdiri diantara kerumunan yang sudah jelas merupakan
pertandingan lempar panah yang ia ikuti. Reid mengenali Vanessa
dan Eric, tapi mereka bahkan hanya menjadi pandangan kabur
segera setelah ia menemukan Lucie. Lucie mengenakan celana jeans
capris gelap yang fenomenal, ketat memeluk bokongnya dan rendah
di bagian pinggulnya yang langsing, dipasangkan dengan baju kaos
longgar berwarna jingga pucat dangan logo soda Crush yang klasik
menghiasi bagian depan. Reid suka dengan logo yang mengikuti
bentuk payudara Lucie saat ia mencoba kaos itu di toko. Sekarang ia
ingin menghajar dirinya sendiri karena sudah menambahkan kaos itu
ke dalam lemari pakaian Lucie, karena jelas pria-pria lain di bar ini
juga mungkin menyukai kaos itu dengan alasan yang sama
dengannya.

Lucie terlihat sangat berbeda dari apa yang Reid lihat minggu lalu.
Tak hanya dari penampilannya, tapi juga semangatnya. Lucie
memiliki aura yang bersinar dengan indah dari wajahnya. Reid
berdiri diam, memutuskan untuk menonton Lucie di lingkungannya
untuk sesaat. Senyumnya sangat lebar dan untuk pertama kalinya
Reid melihat lesung pipi mungil di pipi kanan Lucie. Rambutnya
panjang sewarna chestnutnya di tarik kebelakang membentuk
sanggul serampangan yang terlihat terpasang dengan sebuah tongkat
pengaduk dari bar. Lucie menyemangati Vanessa yang sedang
melempar anak panah ke papan panah terdekat dimana ia dan dua
orang pria berdiri. Saat anak panah terakhir Vanessa menancap di
papan, ke empat orang itu bersorak gembira. Pria pirang di sebelah
Lucie mengangkat tubuhnya dan memutarnya sebelum memberikan
ciuman keras di bibir.

Dan Lucie bahkan tidak melawan.


Menyadari bahwa reaksinya tak beralasan, bahkan menggelikan,
Reid berjalan melintasi ruangan, menggunakan berat tubuhnya dan
bahunya yang lebar sebagai keuntungan dalam menerobos
kerumunan orang. Lucie tidak melihat Reid berjalan kearahnya
karena posisi Lucie membelakanginya, tapi Vanessa melemparkan
senyuman yang berseri-seri saat ia menyadari pria itu berdiri di
belakang Lucie.

"Hiya, Reid! Aku senang kau memutuskan untuk datang! Kau datang
tepat pada saat kami sedang merayakan kemenangan pertama kami
malam ini."

Lucie tidak berbalik selama lima detik, mungkin lebih dari lima
detik. Tapi sesaat setelah Vanessa memanggil nama Reid,
ketegangan terlihat meluruskan tulang belakangnya. Saat akhirnya
Lucie menghadap kearahnya, senyumannya hanya sekedar
lengkungan tipis di wajahnya. Lucie tak senang melihatnya. Pasti
karena Reid menginterupsi kesenangannya dengan penggemar
barunya. "Reid. Apa yang kau lakukan disini?"

"Aku mengundangnya sebelum kita berangkat sore tadi," kata


Vanessa. "Aku pikir ia bisa bergabung untuk minum-minum, atau
setidaknya menonton kita minum jika itu bertentangan dengan diet
superketatnya atau apalah."

Reid merunduk dan menurunkan suaranya jadi hanya Lucie yang


bisa mendengarnya. "Aku memiliki dugaan gila bahwa mungkin kau
menghindariku karena kau gugup tentang malam ini. Tapi hal itu
sepertinya lebih dikarenakan kau tidak ingin aku menghalangi
cumbuanmu dengan si Pirang yang berdiri di sana."

Saat Reid meluruskan tubuhnya kalimatnya sendiri membakar


tubuhnya seperti halnya cairan asam di siramkan ke gendang
telinganya. Betapa bajingannya dia mengatakan hal itu pada Lucie.
Gadis itu tak layak mendapatkannya, dan ekspresi terluka dan
kebingungan melintas di wajah Lucie. Menggenggam tangannya,
Reid membawa Lucie ke ruangan kecil dimana sebuah telepon
umum terpasang di dinding.

"Sial, maafkan aku, Lu. Aku berkelakuan seperti seorang bajingan.


Jika kau ingin bersenang-senang atau apapun dengan pria itu,
maka..." Reid menyapukan tangannya di rambutnya dari belakang ke
depan kemudian meluncur ke janggut tipisnya. "Maka itu hal yang
bagus," akhirnya kalimat itu terpaksa ia keluarkan.

"Reid, itu manis sekali—aku pikir—tapi apa yang sedang kau


bicarakan? Tak ada pria yang sedang aku goda disini."

Reid menunjuk ke arah dimana mereka terlihat bersama tadi. "Aku


melihatnya menciummu, Lucie, dan kau tak terlihat kaget saat ia
melakukannya."

"Itu karena ia melakukannya hampir setiap saat."

Lucie mengatakan hal itu seperti seharusnya hanya itu saja


penjelasan yang dia butuhkan. Tapi hal itu malah membuat situasi
semakin tak masuk akal sekarang.

"Ayo." Sekarang saatnya Lucie untuk menggenggam tangan Reid


dan membawanya kembali kemana mereka berasal. Lucie
melambaikan tangannya ke arah pria pirang yang sudah mencium
gadisnya tadi. Tunggu sebentar, siapa? Lucie. Pria ini mencium
Lucie. "Reid, aku ingin memperkenalkanmu pada Kyle. Kyle, ini
sahabat baik Jackson dan pasien garis miring tamu garis miring...um,
pelatih pribadiku."

Dari ujung matanya Reid melihat senyuman licik terbentuk di wajah


Lucie, yang mana sangat seksi. Lucie jelas sangat bangga terhadap
permainan kata yang ia lakukan untuk menjelaskan hubungan unik
diantara mereka, dan ia harus mengakuinya, bahwa hal itu sangat
cerdas. Kyle menjulurkan tangannya dan Reid menjabatnya dengan
sportif, tapi ia memastikan untuk memberikan sedikit penekanan dan
pandangan tersirat antar sesama pria. Pandangan jangan-main-main-
dengan-gadis-ini-atau-aku-akan-memakan-jantungmu-untuk-
sarapan-dengan-sereal Wheaties-ku.

Pria itu sepertinya tak main-main dalam urusan otot, tapi itu bukan
masalah bagi Reid. Dengan latihan yang Reid lakukan ia bisa
menjatuhkan petarung jalan manapun, tak peduli seberapa besar
tubuh mereka, jika hal itu akan terjadi.

"Dan kau sudah bertemu dengan Eric kemarin malam," tambahnya.

Reid berbalik dan menjabat tangan Eric. "Eric. Aku tak berpikir
bahwa kita akan bertemu lagi secepat ini."

"Beruntungnya aku," kata Eric sambil tersenyum. "Sekarang kau


bisa membelikanku bir untuk malam ini."

Lucie memotong dengan pandangan tajam ke arah Reid. "Kyle


adalah partner Eric."

"Di rumah sakit?"

Kyle tersenyum di belakang birnya saat ia meminumnya dan Eric


tertawa sembari menjawab, "Tidak, bung, kau melewatkannya. Lucie
menekankan pada kata 'partner'. Dia menekannya dengan jelas
meskipun tidak mengutip dengan jarinya untukmu."

"Mengutip dengan jari?"

Vanessa jelas tertawa terlalu keras, tapi kemudian berhenti sejenak


untuk menjelaskan pada Reid. "Mereka kekasih, Reid. Eric dan Kyle
pasangan gay."

Reid melirik ke arah Lucie untuk konfirmasi. Sial. Well, ini merubah
segalanya. Menjulurkan tangan ke arah Kyle lagi, Reid mengatakan,
"Maaf, bung. Aku berasumsi..."

"Bahwa aku bercumbu dengan Lucie? Tak perlu mengatakannya,


bung, aku benar-benar mengerti. Kau hanya berdiri untuk
menggantikan Jackson sebagai kakak laki-laki yang protektif. Tapi
sebaiknya kau memiliki kemungkinan lebih besar untuk aku sukai
daripada Lucie kita yang manis disini."

Eric menajamkan pandangannya pada kekasihnya dan Reid tak bisa


menahan diri untuk tidak membalas.

"Tenang, amigo," kata Reid. "Taringmu terlihat."

"Yeah, aku tahu. Kyle pikir menyenangkan saat melihatku cemburu."


Kemudian ia berbalik ke arah Kyle yang sedang menikmati
pertunjukkan itu dengan tangan bersilang di dadanya. "Jaga
sikapmu, K, atau kau akan membayar hal itu nanti. Itu janjiku."

Kyle mengejek, tak sedikitpun terintimidasi ancaman itu. "Kau


harusnya tahu bahwa aku tak melakukan hal itu karena sebuah
kecelakaan. Aku akan membuat satu ronde lagi untuk kita." Sebelum
Eric memiliki kesempatan untuk membalasnya, Kyle berkedip ke
arah Reid—bukan kedipan genit, tapi sinyal bahwa ia senang
membuat pasangannya cemburu—dan berjalan melewati Reid ke
arah bar.

"Hey, Orange Crush!" Mereka berlima berbalik ke arah pria yang


berteriak diantara kerumunan, tapi jelas siapa yang pria itu maksud.
Reid memutuskan untuk menyembunyikan kaos itu sesampainya
mereka di rumah. "Giliranmu!"

"Oh, sial, game ketiga sudah di mulai," kata Lucie sebelum


menyelesaikan birnya. "Kami kalah di game pertama dan
memenangkan game kedua, jadi tim manapun yang memenangkan
game ini akan maju ke babak playoff. Doakan aku berhasil!"

Teman satu timnya mengangkat gelas mereka dan berteriak,


"Semoga berhasil!" pada saat bersamaan. Sepertinya hal itu sudah
sering mereka lakukan. Sekarang Reid tak lagi merasa marah,
mereka jelas terlihat merupakan tim yang solid.

Reid membawa sebotol air mineral dan menaruhnya di atas meja


untuk melihat Lucie memainkan anak panah. Setiap kali ia selesai
melemparkan anak panah, Lucie akan berdiri di sebelahnya di bar
saat mereka semua berbincang dan tertawa. Reid sudah mencoba
menawarinya kursi yang ia duduki, namun Lucie menolaknya dan
mengatakan bahwa ia akan sering berdiri. Sepertinya kebanyakan
pemain lain juga tak duduk di kursi, memilih untuk berdiri di batas
area permainan dan menyemangati teman mereka dan mencoba
untuk mengganggu konsenterasi lawan.

Tak apa baginya karena duduk dengan meja bar di sebelah kanan dan
papan panah di sebelah kirinya, Lucie secara tidak sengaja berdiri
santai diantara kedua lututnya. Dan karena teman-teman Lucie
berdiri di depannya, itu memberikan Reid kesempatan yang
sempurna untuk menyentuh Lucie tanpa orang lain ketahui.

Pertama kali ia melakukan sesuatu—sebuah sentuhan ringan ke arah


punggungnya dengan satu jari—Lucie langsung tersentak karena
terkejut. Karena seseorang baru saja memasukkan begitu banyak
koin ke jukebox, semua orang harus berteriak mengalahkan musik
yang ribut atau berbicara langsung di telinga orang lain. Hal lain
yang menguntungkannya. Mengarahkan mulutnya ke telinga Lucie,
ia berkata, "Tenang, sayang. Tak ada yang bisa melihatku
menyentuhmu. Turunkan rambutmu, Luce. Aku suka melihatnya
tergerai."

Setelah menghabiskan segelas birnya, Lucie mengangkat satu


tangannya dan menarik pengaduk plastik dari rambutnya,
menaruhnya di meja bar. Rambut tebalnya jatuh ke bahu dan
punggungnya dengan potongan yang lebih pendek di depan
membingkai wajahnya. Lucie memiliki rambut seperti di iklan
rambut Pantene, tapi sayangnya dia jarang menggerainya.

Sekembalinya Lucie dari gilirannya bermain, ia sekali lagi


menempatkan dirinya di antara kaki Reid dan mulai mengobrol
dengan Eric dan Kyle saat Vanessa melakukan gilirannya di
permainan itu. Saat ia mendengarkan Kyle bercerita tentang
beberapa event dari tempat kerjanya dan merespon semuanya di saat
yang tepat, Reid menyelipkan tangannya di balik kaos Lucie,
berhati-hati dan tetap menjaga jaraknya dekat dengan Lucie jadi tak
ada yang bisa melihat apa yang sedang ia lakukan. Reid ingin
membuat Lucie lebih menyadari keberadaannya, bukannya ingin
memberi seisi bar pertunjukkan gratis.
Dengan lembut Reid menyentuhnya, menyapukan jemarinya di
belahan tulang belakang Lucie, menjalankan jempolnya di sepanjang
garis pinggangnya dibawah ujung celana jinsnya. Di bawah bar,
tangan Lucie yang di taruh di atas dengkul Reid kini mengencang,
menanamkan kuku pendeknya ke celana jeans yang Reid kenakan.

Tanpa menghentikan gerakannya, Reid menjawab pertanyaan dari


Kyle saat Vanessa kembali dan Eric pergi melakukan permainannya.
Memegang pinggul Lucie, secara perlahan ia menarik tubuh gadis
itu ke belakang beberapa inchi jadi Lucie bisa merasakan kemana
jalan pikiran Reid. Getaran menjalar di tubuh Lucie saat tubuh
mereka bersentuhan, dan hal itu jelas bukan karena dingin di bar
yang sesak.

"Ayo, Eric, kau bisa melakukannya!" Vanessa berteriak. "Satu kali


lagi. Semua yang kau butuhkan hanyalah tiga angka delapanbelas
dan kita akan maju ke babak playoff, sayang!"

Reid merundukkan kepalanya untuk mendekat ke telinga Lucie.


"Apa biasanya kau tetap tinggal dan merayakan setelah permainan
berakhir?" Lucie mengangguk. "Malam ini aku ingin kau
mengatakan pada mereka bahwa kau lelah, sakit, diculik oleh alien,
apapun yang bisa kau katakan. Kau akan pulang denganku."

Dia berbalik di pelukannya dan bergerak mendekat untuk menjawab.


"Vanessa akan tahu sesuatu yang aneh terjadi jika aku tidak pulang
dengannya. Dan ia tak akan membiarkan semua hal ini semudah
yang kau bayangkan."

Reid mencondongkan kepalanya dan berdiri. "Baiklah. Aku akan


menunggumu. Jangan terlalu lama, Lucie. Aku pikir aku bukanlah
pria yang sabar di saat seperti ini."
Reid mengatakan selamat tinggal, memberikan Lucie satu tatapan
terakhir yang penuh arti, dan berjalan keluar bar. Dia memberikan
Lucie waktu tigapuluh menit. Maksimal.
***

Bab 11

Lucie menatap pintu apartemen 3C nya, mempelajari setiap nuansa


kuningan yang memudar dan lubang intip di bawahnya...Dan
mengulur-ulur waktu seperti gadis perawan pada malam prom yang
akan berlangsung lima menit lagi.

Pada awalnya dia tak tahu kenapa dia begitu gugup. Dia jelas tidak
gugup saat Reid menyentuhnya. Tidak, tapi itu seperti api murni,
hasrat tak terkendali yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Jadi
yang harus dilakukan olehnya hanyalah berada dalam pelukan Reid,
dan dia akan baik-baik saja.

Dia memutar handle pintu dan memasuki apartemennya. Sebuah


lampu kecil dengan bayangan berwarna keunguan di atas meja di
dekat pintu memberikan kehangatan dan kesan sensual ke dalam
sebuah ruangan kecil di sebelah kanan. Dia baru menyadari iPodnya
terhubung ke satu set speaker kecil di ujung meja, memainkan lagu
pelan dan seksi yang tidak diragukan lagi bahwa seluruh lagu yang
dimainkannya akan seperti itu.

"Disini, Lu."

Dia meluncur dari sandalnya dan selanjutnya berjalan ke dalam


sebuah ruangan, mencari Reid. Suaranya, lebih kecil daripada
biasanya, berasal dari ruang tamu, tapi dia tidak melihatnya
dimanapun. Perutnya menegang menjadi sebuah simpul yang
mungkin akan mencekik sesuatu yang beterbangan di dalam sana.
Persetan kupu-kupu (sensasi gelisah di dalam perut seseorang yang
dirasakan ketika bersama orang yang menakjubkan). Ini pasti burung
kolibri. Terbang dengan kecepatan penuh.

Memutari sofa, dia akhirnya menemukan Reid duduk di atas lantai


tanpa berpakaian tapi hanya mengenakan celana pendek atletik
putih, satu kaki terentang di depannya dan lainnya dilipat dengan
lengannya bertumpu di lututnya. Dia meletakkan bantal lantai besar
yang biasanya ditumpuk di sudut dan melengkapinya dengan bantal
dekorasi dari sofa dan dari tempat tidur. Itu terlihat seperti lantai
seorang sheik dengan selera yang buruk dalam design interior,
namun, itu juga penyusunan terseksi yang pernah ada.

Dalam satu gerakan yang mulus dia berdiri dan mengulurkan


tangannya. Lucie menelan ludah dan menyeka tangannya pada
pahanya jikalau tangannya mengeluarkan keringat yang fantastis,
dan kemudian menempatkan jari-jarinya ke dalam tangan Reid. Dia
menarik Lucie ke bagian tengah bersamanya tapi tidak menarik
tubuhnya ke dalam pelukannya. Jarak diantar mereka tidak lebih dari
dua inci, tapi itu terasa seperti di Grand Canyon.

Diangkatnya kepalanya, matanya bertatapan langsung dengan mata


pria itu yang sedang menunduk untuk beradu pandang dengannya.
Barulah Lucie menyadari, mungkin Reid menunggunya untuk
mengambil langkah pertama, seperti bagaimana Lucie
melakukannya di ruang fitness. Okay, tidak masalah. Yang perlu kau
lakukan hanyalah memulai sesuatu, Lucie. Dia memejamkan
matanya dan wajahnya lebih dinaikkan, menunggu saat bibirnya
akan bertemu dengan bibir Reid, antisipasi mengalir melalu urat
nadinya seperti obat bius...

Tapi tidak ada yang terjadi.

Membuka matanya, dia bertanya-tanya jika waktu entah bagaimana


caranya telah berhenti. Reid tidak menggerakkan satu otot pun—
Otot-otot rahang Reid mengencang. Ya Tuhan, itu sangat seksi.
Mengapa itu begitu seksi? Dia bertanya-tanya apa artinya Reid
melakukan itu. Jakcson selalu melakukannya ketika dia sedang
murka. Apakah dia sedang murka?

"Reid?"

Pada awalnya dia tidak mengatakan apa-apa, tapi perlahan jari-


jarinya dinaikkan di atas bibirnya sekali, seakan menyatakan Reid
tidak ingin Lucie bicara, lalu menarik jarinya pergi. Lucie
mengerutkan dahinya. Dia tidak memahaminya.

Reid berjalan mengelilingi punggung Lucie, lagi sangat dekat tapi


tidak menyentuhnya. Dia merasakan nafasnya di samping wajahnya
ketika dia mencodongkan tubuhnya. Dan ketika sebuah jarinya
menyusuri lengannya, dia bersumpah sebuah aliran listrik telah
membakarnya. "Rayuan bukan tentang tindakan," kata Reid,
menelusuri jarinya kembali menuju bahunya. "Ini tentang kendali.
Aku dapat membuatmu melakukan semua tindakan itu—kau
menanggalkan pakaianku, melakukan striptis, bahkan dapat
membuatmu berlutut di depanku—dan selama aku yang memegang
kendali situasinya, kamulah sebenarnya yang sedang dirayu."

Reid menyibakkan rambutnya hingga jatuh ke depan di satu sisi. Ya


Tuhan, Lucie ingin Reid menarik dirinya ke dalam tubuhnya, untuk
merasakan dadanya yang menempel di bahu atasnya dan ereksinya
terjepit disela-sela pantatnya.

"Buka kemeja, Lucie."

Meraih keliman kemejanya dengan kedua tangan, Lucie mengangkat


tangannya, menarik melewati kepalanya, dan dilemparkannya ke
sofa.

"Sekarang celananya."

Kancingnya dibuka dengan jarinya yang gemetar, menurunkan


resleting ke bawah, dan membiarkan celananya jatuh ke lantai
sebelum menendangnya. Yang tersisa di tubuhnya adalah bra
berenda putih dan celana dalam thong yang sesuai.

Akhirnya Reid meletakkan lebih dari satu jari padanya dan


merasakan ciuman yang ditempatkan pada tengkuknya setelah
membuatnya berada di tepian dalam waktu lama, itu seperti sentakan
nafsu yang ditembak langsung ke dalam dirinya. Ia tersentak sebagai
bentuk respon dan mungkin sudah mengeluarkan erangan, dia tidak
begitu yakin. Tubuhnya, otaknya, semuanya terasa sangat sadar,
mengalami hubungan arus pendek yang semuanya terjadi dalam
waktu yang sama.

Lututnya lunglai, tapi tangan yang kuat meraih pinggulnya, dan dia
menarik punggungnya untuk menahannya stabil. "Shhh. Aku
memegangmu. Aku ingin kau berbaring telungkup. Gunakan bantal-
bantal semaumu untuk membuat dirimu sendiri nyaman."

Dia membantu Lucie rebah dan ketika sudah beres, bergabung


dengannya dengan merentangkan tubuh disamping dirinya. Dengan
wajahnya berpaling kearah Reid ia belajar tentang intensitas yang
ada di wajahnya saat Reid menggerakkan tangannya di punggung,
pinggang, di atas gundukan dari pantatnya. Rahangnya menegang,
membuat pipinya melekuk dengan setiap gerakan ototnya, dan mata
cokelatnya di bawah lampu merah-biruan mengingatkannya akan
warna menyala dari musim gugur.

"Sialan, Lu. Kapan kau mendapatkan pantat seperti ini?"

Apakah ia harus menjawab pertanyaannya? Dia tadi tidak ingin agar


dirinya bicara jadi dia hanya mengartikan itu hanya pertanyaan
retoris. Disamping itu, dia tak tahu bagaimana menjawab pertanyaan
yang diberikan padanya mengingat bagaimana otaknya telah
berhenti begitu Reid menyentuhnya.

Lagipula semua pertanyaan dan jawaban menguap ketika jarinya


yang besar menelusuri garis thongnya diantara pantat hingga
mencapai segitiga tipis yang menutupi seksnya. Secara naluriah
Lucie mengangkat pinggulnya, memberi Reid akses yang lebih baik.
Ternyata tubuhnya mempunyai pikiran sendiri. Syukurlah mereka
mempunyai pikiran yang sama dengannya.

"Persetan kau begitu basah." Sekarang dua jarinya mengelus kembali


ke depan dan ke belakang lagi. Kemudian Reid memposisikan tubuh
bagian atasnya diantara kedua kaki Lucie, yang menempatkan
wajahnya di—

Lucie terkesiap ketika Reid menggigit pantat kirinya. Tidak terlalu


keras untuk menyakitinya, tapi cukup menyebabkan kejutan singkat
sebelum Reid menciumnya agar lebih baik.

"Aku tak pernah melakukan itu sebelumnya," Kata Reid, "tapi ada
sesuatu tentang pantatmu yang membuatku perlu untuk melahapnya.
Apakah itu menganggumu?"

"Tidak," kata Lucie, mengangkat pinggulnya dari bantal di


bawahnya, permohonan tanpa kata untuk meminta lebih.

"Tidak," Reid setuju, meremas pantatnya yang lain telapak


tangannya yang kasar. "Kurasa kau malah menikmatinya, bukankah
begitu?" Jari-jarinya dari salah satu tangannya kembali memijat
lipatan bengkak saat tangan yang lain terus membelai dan meremas
pantatnya dan yang Lucie inginkan adalah lebih banyak lagi.

Plak!

Jeritan tertahan muncul di udara sesaat setelah tangan Reid


meninggalkan pantat Lucie. Sekali lagi, reaksi Lucie lebih kepada
shock daripada sakit.

"Kau tidak menjawab pertanyaanku, Lu." Menjawabnya? Dia


bahkan tidak dapat mengingat namanya sendiri pada saat ini, apalagi
pertanyaan itu. Untunglah Reid mengulanginya. "Apakah kau suka
apa yang kulakukan pada pantat indahmu ini?"

"Ya," dia berseru diantara gigitan yang lain, yang satu ini lebih dekat
ke lipatan pahanya. "Semua yang kau lakukan terasa sangat nikmat."

"Ini sesuatu yang sangat bagus, aku benar-benar menggigitmu cukup


dalam untuk melihat tandaku di kulitmu, sayang."

Sebelum Lucie memiliki kesempatan memberi tanggapan, Reid


memegang tali tipis yang mengikat pinggangnya di kedua tangan
dan menariknya ke arah yang berlawanan, menghancurkan sutra itu
menjadi dua. "Aku akan membelikanmu lebih banyak lagi." Dia
tidak tahu mengapa, tapi ide bahwa Reid perlu mengganti celana
dalamnya setiap kali dia merobek dari tubuhnya terlihat lucu. Dia
terkikik. Sampai lidah Reid menyapu seksnya dalam alur yang
hangat dan basah.

"Ohmigod."

Sekarang giliran Reid yang senang dan getaran dari bibirnya


menggelitik kulit Lucie yang kaya saraf hingga dan memeras lebih
banyak cairan saat organ dalamnya mengejang. "Berbaliklah jadi aku
bisa melakukan ini dengan benar (senonoh)."

Lucie berguling ke belakang dan menatap ke atas seperti dia


memegang dirinya sendiri. "Aku tak tahu kalau kata dengan 'benar'
berfungsi dalam konteks ini. Kupikir kata keterangan yang kau cari
adalah 'terlarang'."

"Kau benar. Terlarang jelas menggambarkan rencanaku untukmu.


Tapi kau juga salah."

"Tentang apa?"

"Masih ada cara yang tepat untuk melakukan tindakan terlarang."


Dengan seringai nakal dan kilatan jahat di matanya Reid
mengatakan. "Dan aku akan menunjukkan padamu dengan tepat apa
yang kumaksud."
***

Reid meyerap reaksi polosnya seperti gurun yang lama menunggu


hujan. Dia belum pernah bersama dengan siapa pun yang
menyerupai Lucie. Dia selalu berkencan dengan gadis yang bersedia
dan siap dan tahu apa yang mereka lakukan dan apa yang dia
lakukan tentang: seks tanpa ikatan.

Lucie sangat menyegarkan dan begitu responsif. Dia sangat suka


membuat Lucie tetap berada di tepian, selalu bertanya-tanya apa
yang akan dilakukan selanjutnya, dan kemudian mengejutkannya—
dan bahkan kadang mengejutkan dirinya sendiri—dengan langkah
selanjutnya.

Reid menurunkan dirinya sehingga sebagian tubuhnya menutupi


tubuh Lucie, tapi masih cukup menahan diri hingga dia tidak
meremukkan tubuhnya dengan berat badannya. Lucie seakan
makhluk kecil mungil, halus dan lembut dan benar-benar cantik. Dia
tidak bisa mengerti mengapa Lucie berpikir dirinya biasa saja.

Mata abu-abunya melembut diliputi oleh lingkaran berwarna arang


menatapnya dengan pandangan nafsu tak terfokus yang
merangsangnya. Dia menyisir pinggiran poninya ke samping dan
melihat bintik kecil berbentuk hati. Dia menundukkan kepalanya dan
menciumnya dan matanya menutup saat mendesah kemudian
ciumannya bergeser ke arah mulutnya.

Menggunakan tekanan dia mendorongnya untuk membuka bibirnya


dan menyapukan lidahnya untuk menemukan miliknya. Merasakan
lidahnya menggeser dengannya, bergerak di atas dan di sekitar
bibirnya saat mereka mengklaim satu sama lain adalah perasaan
yang memabukkan. Tangan Lucie naik untuk membingkai tulang
rusuknya dan ketika Reid menggoyangkan pinggangnya,
menumbukkan kemaluannya terhadap tubuhnya, jari-jari Lucie
menekan lebih dalam. Sengatan tajam dari kuku yang menggores
kulitnya membangkitkan sesuatu yang sengit.
Bra Lucie yang berenda menekan puting susunya yang sensitif dan
Reid mengerang saat mereka menegang oleh sensasinya. Meskipun
begitu nikmat, Reid lebih memilih agar sensasi itu pergi. Mencapai
punggung Lucie dengan satu tangan Reid ahli melepaskan kaitnya,
menariknya dari depan, dan melucutinya di suatu tempat di belakang
Reid saat Reid pertama kali melihat payudara telanjang Lucie.

"Luar biasa," Reid serak. Dan memang benar.

Payudaranya berukuran sempurna untuk tangannya; cukup kecil tapi


kencang dan cukup besar untuk membentuk lengkungan yang
membengkak pada bagian bawah karena beratnya. Hal pertama yang
Reid pikirkan adalah perlu untuk membuat pahatan tentangnya. Reid
telah menghabiskan banyak waktu untuk membuat segala sesuatunya
menjadi tepat. Puting merah kehitaman yang mengkerut ketika Reid
melingkarinya dengan ujung jarinya. Lekukan lembut dari tulang
selangkanya yang halus ke ujung putingnya. kesempurnaan di
bawahnya semakin bertambah dibawah tatapan Reid yang panas.

Tidak menyia-nyiakan sedetik pun Reid membungkuk untuk


menempatkan ciuman basah di dasar payudaranya. Lucie
melengkungkan punggungnya dan nafasnya semakin cepat. Dengan
lidahnya Reid membuat gambar dengan pola malas, tapi berhati-hati
menjauh dari pusatnya, membuat Lucie lebih dekat ke tepian sekali
lagi. Setelah satu menit atau lebih Reid beringsut lebih dekat,
sekarang menelusuri garis luar areola milik Lucie.

Lucie membuat suara frustasi dan mencengkram kepala Reid,


mencoba mengarahkan Reid ke putingnya, tapi lagi-lagi Reid
membuat Lucie menunggu. Meskipun Lucie tak pernah percaya
padanya, menahan diri untuk mengambil payudaranya hampir sama
menyiksa baginya. Akhirnya Reid membuka lebar dan menariknya
sebanyak yang Reid bisa ke dalam mulutnya. Reid menyerang
puting Lucie dengan lidahnya dan menghisapnya seperti milik Lucie
adalah permen kesukaannya. Lucie menjerit dan melengkung ke arah
Reid sampai punggungnya membungkuk. Akhirnya Reid menarik
kepalanya mundur sampai puting Lucie dibebaskan dari bibir Reid
dengan suara pop yang basah. Pucuk memerahnya yang mengencang
memberikan Reid sensasi sama tingginya dengan memenangkan satu
ronde di salah satu pertandingan dan memberinya motivasi yang
sama untuk melakukannya lagi.

Reid mengulangi seluruh prosesnya di sisi yang lain, memuja


payudara Lucie dengan mulutnya sementara tangannya berkeliaran
di atas kulit selembut satinnya. Ketika Reid yakin memenangkan
ronde kedua juga, Reid melepaskan payudara Lucie dan menuju ke
lokasi penaklukan berikutnya.

Menegakkan tubuh di atas lututnya, Reid menggunakan tangannya


untuk mendorong kaki Lucie terpisah. Daerah kewanitaannya yang
merah muda berkilau oleh cairannya. Reid tak mampu menahan diri
untuk memisahkan mereka dengan ibu jarinya untuk menatap
sumbernya. Dia tidak pernah mempelajari seorang wanita seperti ini
sebelumnya dan terkejut Reid benar-benar dapat melihat dinding-
dinding bagian dalam milik Lucie mengetat, sangat ingin
menggenggam sesuatu di sana.

Menyeret tatapannya menjauh Reid melihat ada ekspresi malu di


mata Lucie. "Kau sangat cantik. Tapi kau terlihat terlalu kosong."
Menahan tatapannya Reid menyelipkan ibu jarinya ke dalam lubang
kewanitaannya. "Ingin sesuatu untuk mengisimu?"

Segera setelah Lucie memberikannya anggukan Reid


menenggelamkan kedua ibu jarinya sedalam-dalamnya. Lucie
menjerit saat pinggulnya terangkat dari bantal, tangannya
mencengkram salah satu bantal dibawahnya. Respon Lucie
mendorong api dari dalam diri Reid hingga intinya terasa mencair.
Ketika Lucie menurunkan pinggulnya sekali lagi Reid menghadiahi
Lucie dengan mendorong ibu jarinya, memberikan tekanan pada
dinding-dinding bagian dalamnya dengan setiap gerakan mundurnya.

Dia melihat cairan kewanitaan Lucie keluar, menetes ke celah


pantatnya dan sebuah rasa dahaga yang mendalam akan diri Lucie
tiba-tiba membajirinya. Memposisikan tubuhnya lebih rendah, Reid
mulai mencium paha bagian dalam Lucie.

"Jangan, kau tak perlu melakukan—"

"Ya, aku perlu," jika Reid tidak menempatkan mulutnya pada


kewanitaan Lucie pada menit berikutnya dia akan menjadi gila.
"Aku harus melakukannya."

Sesaat sebelum Reid akan turun, tangan Lucie menangkup dagunya


untuk mencegah Reid bergerak kemana-mana. "Jangan, maksudku
adalah, itu tidak memberikan efek apapun untukku, jadi kau tak
perlu melakukannya."

Reid butuh beberapa waktu untuk memproses apa yang Lucie


katakan. Tidak memberikan efek apapun untuknya? Entah mantan
suaminya begitu buruk dalam urusan oral atau—tidak, Reid bahkan
tidak akan menyelesaikan itu. Reid berani mempertaruhkan kontrak
UFC-nya, bahwa pria itu memang begitu buruk.

Reid melingkari pergelangan tangan Lucie, menarik tangan Lucie


dari wajahnya, memberikan ciuman di pergelangan tangan Lucie
saat Reid menatap matanya. Reid membutuhkan Lucie untuk melihat
kejujurannya ketika ia bicara. "Aku perlu merasakan milikmu, Lucie.
Aku sangat ingin merasakan memilikimu ada di lidahku, di dalam
mulutku. Dan aku jamin apa yang aku lakukan, aku berpengaruh
besar untukmu."

Reid tidak memberikan kesempatan Lucie untuk berdebat


dengannya. Reid membenamkan dan menjilat dari bawah sampai ke
atas, menambahkan sedikit tekanan ketika Reid tiba di clit Lucie.
Lucie menjerit dan pinggulnya mencoba melengkung, tapi Reid
menahannya ditempat sehingga Lucie tak bisa mengacukan apa yang
sudah jadi sasarannya. Miliknya terasa manis seperti madu. Reid
merasa senang bisa menghabiskan waktunya diantara kedua kaki
Lucie.

Di atas, mengelilingi dan langsung ke tengah, Reid mempertahankan


lidahnya dalam gerakan konstan, menyelesaikannya dengan ciuman
dan gigitan kecil. Reid memperhatikan setiap erangan, setiap
rintihan, mempelajari apa yang Lucie suka dan apa yang
mendorongnya jadi menggila.

Keringat menutupi tubuh Lucie, payudara Lucie naik turun dengan


nafas pendeknya, Lucie melemparkan kepalanya ke belakang dan
matanya erat tertutup. Lucie adalah sebuah pemandangan yang tak
ada duanya, menggeliat dalam sebuah pergolakan gairah. Tapi ada
sesuatu yang akan membuatnya menjadi lebih baik. Untuk mereka
berdua.

"Lucie, sayang." Reid menunggu agar suara yang seraknya untuk


menembus pikiran Lucie yang berkabut nafsu. Sesaat kemudian bulu
matanya bergetar dan iris perak Lucie menatap ke arah Reid.
"Angkat dirimu menyangga dengan sikumu. Aku ingin kau melihat
apa yang ku lakukan pada vaginamu yang manis ini."

Perlahan Lucie melakukan apa yang Reid minta hingga Lucie


menyangga tubuhnya. Dengan kakinya melengkung dan terbuka
lebar dan pantatnya di atas bantal besar Lucie memiliki sudut
pandang yang sempurna. Lucie telah dekat dengan tepian sebelum
Reid menghentikannya. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk
membawa Lucie tepat disana dan menahannya tetap disana sampai
Lucie memohon pada Reid untuk membawa Lucie ke sisi yang lain.
Senyum nakal menjulang di sudut bibir Reid saat Reid sekali lagi
tenggelam diantara dua kaki Lucie.

Kali ini Reid memastikan untuk menjaga kepalanya miring ke


samping sehingga dia tidak menghalangi pandangan Lucie. Dengan
ujung lidahnya, Reid menggoda bibir luar Lucie dengan beberapa
belaian sebelum akhirnya membenamkan diri untuk menemukan inti
yang bengkak yang telah Reid sapu dalam nafas yang tajam pada
sentuhan pertama.

Menambahkan sensasinya Reid memasukkan jari telunjuk ke dalam


vagina Lucie dan memompanya masuk dan keluar bersamaan saat
lidahnya bergantian berputar-putar dan menjentik di atas klitoris
Lucie. Mata Lucie seperti cairan perak di atas api. Nafas Lucie
menjadi terengah melalui bibirnya yang terpisah.

"Oh, Tuhan...Reid." Lucie mulai menggoyangkan kepalanya. "Aku


tidak bisa—Kau harus—"

Hampir disana. Sangat dekat. Reid menambahkan jari yang lain dan
mengerutkan bibir di atas clit-nya, memberikan denyut dalam
hisapannya.
"Ah!" Pinggul Lucie bergerak, menggesekkan vaginanya terhadap
wajah Reid, dan Reid tahu Lucie berada pada titik dimana dirinya
tidak bisa mengendalikannya walaupun dia menginginkannya. Dia
berada di tepi dari klimaks, tepat dimana Reid menginginkannya.

"Klimaks lah untukku, Lucie," perintah Reid. "Biarkan aku


meminum madumu."

Reid meningkatkan kecepatan tangannya dengan mendorong jari-


jarinya, menikmati cairan yang melapisi jarinya. Mengunci bibirnya
di atas sekumpulan saraf Reid memulai lagi dengan lidahnya.
Beberapa detik kemudian, pada saat yang tepat, Reid perlahan
menutup giginya di atasnya, akhirnya menarik Lucie masuk ke
dalam jurang dimana tubuh Lucie hancur dan ia meneriakkan nama
Reid ke surga.

Dinding dari selubungnya mencengkeram jari Reid saat Lucie turun


dari klimaksnya, bersamaan menurunkan dirinya untuk berbaring di
atas bantal. Sayangnya Reid sama sekali belum selesai dengan
Lucie. Kejantanan Reid keras seperti palu dan Reid telah berniat
menemukan pembebasannya di dalam tubuh Lucie. Dengan cepat
menggapai ke sisi atas tubuhnya dan mengambil kondom yang sudah
disiapkan dan menyelubungi miliknya sebelum Lucie bahkan tahu
Reid telah bergerak.

"Lucie?"

Lucie tetap menutup matanya dan ekspresi puas terlihat di wajahnya.


Reid tersenyum ketika berpikir bagaimana singkatnya kepuasan
Lucie saat Reid membuatnya terangsang lagi.
"Hmm?"

"Aku hanya ingin tahu apa itu memberikan suatu efek untukmu."

Matanya tiba-tiba terbuka. "Tidak juga, tidak. Apalagi yang kau


punya, jagoan?"

Reid menyempitkan matanya kearah Lucie ketika Reid mengaitkan


lengan bawah di salah satu lututnya dan diangkat untuk membuka
Lucie lebar-lebar pada Reid. "Kau sadar bahwa kau ada posisi yang
sangat berbahaya, kan? Tidak hanya kau menghina kemampuan
seksualku, kau juga menantang seorang atlet yang sangat
kompetitif."

Lucie memberikan senyuman paling mempesonanya dan berkata,


"Kalau begitu akan lebih baik jika kau membuktikan dirimu."

"Oh, baiklah aku akan buktikan. Anggap saja kau sudah


diperingatkan, sayang. Kau yang memintanya."

Tetap mengangkat satu kaki Lucie ke atas dan ke samping tubuhnya,


Reid mengarahkan kejantanannya yang berdenyut kearah vagina
ketatnya yang basah dan menenggelamkan miliknya sedalam
mungkin dalam satu kali dorongan dari pinggulnya. Sebuah geraman
bercampur erangan mengoyak udara.

"Astaga, kau begitu besar."

Reid tidak menyombong diri ketika berurusan dengan


kejantanannya, tapi ini bukan pertama kalinya dia mendengarkan
seorang wanita mengatakan itu. Bagaimanapun, keluar dari mulut
Lucie tiba-tiba merasa dirinya seperti He-Man, tanpa pakaian
berbulu. Reid juga merasa besar seperti yang Lucie nyatakan. Reid
tak pernah berada di dalam seorang wanita yang begitu ketat, sangat
sempurna untuknya. Tak dapat menahannya lebih lama lagi Reid
menarik diri hampir keluar sepenuhnya, mendorong semuanya
masuk ke dalam, dan kemudian mengatur irama lambat dan stabil
untuk membawa mereka ke puncak secara bertahap.

Lucie dengan terampil menggoyangkan pinggulnya untuk


menyeimbangi setiap dorongan Reid, menambahkan gelombang
sensasi yang berasal dari kemaluan Reid yang berputar-putar di
bolanya dan menetap di dasar tulang punggungnya.

"Sialan kau terasa nikmat." Melihat ke bawah dimana tubuh mereka


bergabung Reid memperoleh pemandangan yang paling panas yang
pernah dilihatnya. Bibir Lucie licin mengisap di kemaluan Reid
setiap Reid menarik dan melapisinya dengan cairan manis miliknya
setiap kali Reid bergoyang ke depan.

Reid tidak menyadari bahwa Lucie juga menatap pada pemandangan


yang sama sampai Reid mendengar Lucie berkata, "Itu sangat
panas."

"Hell yeah, itu sangat panas." Bahkan jadi lebih sekarang saat Reid
tahu bahwa Lucie senang melihat Reid bergerak di dalam dirinya.
Perlu mengambil dari Lucie sebanyak yang Reid bisa, Reid
melepaskan kaki Lucie untuk memposisikan dirinya di atas tubuh
Lucie dengan lengannya. Reid menambah kecepatan saat Reid
menangkap mulut Lucie dengannya, bercinta dengan mulut Lucie
menggunakan lidahnya bersamaan dengan gerakan tubuh bagian
bawahnya.

Keringat tubuh mereka basah meluncur satu sama lain, suara daging
bertemu daging di beberapa tempat dan nafas berat dengan disertai
erangan memenuhi udara. Lucie merengut mulutnya dari Reid, Lucie
mengangkat dagunya dan meyakinkan Reid untuk pindah ke
lehernya untuk melanjutkan tujuan Reid melahap Lucie seluruhnya.

"Aku sangat dekat. Aku tak percaya aku akan—uhn—lagi."

Reid tersenyum terhadap tenggorokan Lucie ketika Lucie


mendengus menggantikan kata "orgasme" ketika Reid
menambahkan puntiran dari pinggulnya dalam dorongannya.
Mengambil isyarat darinya, Reid melakukannya lagi. Dan lagi. Dan
lagi. Sampai Lucie memanggil nama Reid berulang-ulang antara
memohon untuk berhenti dan jangan pernah berhenti.

Menyelinapkan satu tangan diantara tubuh mereka Reid dengan


mudah menemukan clit bengkak Lucie dengan jempolnya
menyeretnya dari atas dengan satu dorongan keras terakhir. Reid
tidak biasanya mengeluarkan suara selama berhubungan seks, tapi
dia tidak dapat menahan erangannya seakan hidupnya terancam
ketika mereka klimaks bersama, vagina Lucie kejang-kejang di
sekitar kejantanan Reid saat dia menghabiskan dirinya dalam
semburan yang kuat.

Ketika mereka kembali satu sama lain selama beberapa menit


berikutnya diantara nafas berat dan otot-ototnya yang lemas, Reid
menyadari bahwa seks dengan Lucie mengalahkan semua
pengalamannya yang pernah dialaminya. Tak terkecuali saat Reid
mendapatkan seks yang liar, seks yang panjang, seks yang
menyimpang dari apa yang baru saja mereka lakukan. Ada
perbedaan besar. Jauh sekali perbedaan. Reid tak dapat menunjukkan
alasannya mengapa, Reid terlalu lelah untuk coba memikirkannya.
Dengan hati-hati, Reid menarik keluar darinya, dan membungkus
kondom dengan tisu dan menempatkan ke samping untuk
membuangnya di pagi hari. Kemudian Reid duduk di tempat tidur di
atas bantal, menarik selimut ke atas mereka, dan membungkus Lucie
kedalam pelukannya. Kepala Lucie secara alami turun ke dalam
lekukan diantara dada dan bahunya dan tangannya melingkar di
sekitar perut Reid. Dalam hitungan detik Reid mendengar suara
dengkuran lembut dan merasakan tubuh Lucie kehilangan semua
ketegangan saat Lucie tertidur. Dan dengan senyum di wajah Reid
oleh kebahagiaan dirinya tak sepenuhnya mengerti, Reid tidak
tertinggal jauh di belakangnya.
***

Bab 12

Lucie duduk di sofanya, begelung dengan buku, dan sekali lagi


membuka halaman tanpa membaca satu huruf pun. Tapi kali ini,
bukan perutnya yang tegang karena cemas ia malah mendapati
dirinya tersenyum seperti orang idiot yang hanya bisa diartikan
sebagai mabuk kepayang. Malamnya dengan Reid sangat bergelora,
begitu menggairahkan, yang membuatnya bergairah seks sepanjang
hari terlama seumur hidupnya.

Ketika ia bangun pagi ini Reid sudah memulai latihan


peregangannya. Ia sudah ketakutan akan ada rasa canggung diantara
mereka, bahwa dengan terangnya cahaya Reid akan menyesali
kesalahannya dan berharap ia dapat mengembalikan kondisi menjadi
seperti semula. Rencananya untuk menhindari Reid sampai ia siap,
untuk memadamkan emosi bodohnya yang membuat dirinya tak bisa
menyesali satu malam pun bersama Reid.
Membungkus dirinya dengan selimut lembut dan menyelipkan di
bawah lengannya, Lucie menahan nafas dan melakukan gerakan
terbaiknya seolah Invisible Man saat ia melewati ruang latihan.

"Sudah waktunya kau bangun, tukang tidur." Lucie membeku dalam


keadaan setengah berjinjit saat lengan kuat Reid memeluknya dari
belakang. Ia tahu Reid tanpa pakaian saat dadanya menghangatkan
punggungnya yang tidak tertutupi selimut. "kenapa kau sepertinya
bersembunyi dariku?" Reid bertanya sebelum menaruh rambutnya
kesamping dengan dagu jadi Reid dapat memberi ciuman basah di
sepanjang lehernya.

"Aku...um..." Apa yang ditanyakannya? Sialan.

Tiba-tiba tubuh Reid menegang. "Kau menyesali semalam, Luce?"

Sebelum bicara Lucie berdoa agar kegugupannya hilang dari


suaranya. "Kau?"

Reid membaliknya dan mendongakkan dagu Lucie ke atas. Matanya


lebih coklat berkilau di pagi yang cerah. "Aku tak akan bohong.
Seksnya sangat luar biasa, dan aku tak pernah menyesali seks yang
luar biasa bersama wanita yang luar biasa." Reid agak menghela
nafas saat ia memperhatikan wajahnya dan menyelipkan rambut
Lucie ke telinganya. "tapi aku juga tak akan menodai pertemanan
kita sama sekali."

"Tidak, tentu saja tidak." Ia membersihkan tenggorokannya dan


mencoba menahan tatapannya berkeliling saat kebohongan
terungkap. "Maksudku, sebaiknya kita membuat hal ini terjadi satu
kali."
"Benar." Mata Reid tertuju ke bibirnya. Reid menjilat bibir miliknya
dengan lidahnya. "Kita tidak mau membuat kecanggungan diantara
kita. Bagaimanapun juga, kau sedang dalam proses untuk berkencan
dengan doktermu dan aku akan segera pulang ke Vegas."

Kilauan di bibir Reid membuat perhatiannya terpaku dan ritme


jantungnya terus meningkat dengan setiap detik berlalu sebelum ia
ingat sekarang gilirannya untuk menyangkal gagasan affair seks
yang fenomenal tanpa ikatan dengan salah satu pria terseksi di dunia
olahraga, belum lagi rasa naksirnya di masa kanak-kanaknya. Tapi ia
tidak bisa berpikir satu pun kalimat yang akan diucapkannya.

"Luce," dengan serak, Reid menempatkan tangan di pinggulnya,


matanya tak pernah meninggalkan bibir Lucie. "Kita tidak
seharusnya...kan?"

Ia mencoba merespon, mulutnya terbuka setiap kali untuk


mengatakan sesuatu, apapun. Akhirnya ia menyerah dan merengkuh
belakang kepala Reid di satu tangan dan menciumnya tanpa ampun.

Reid balas merespon, dengan menyentakkan tubuh Lucie kearahnya


dan memegang kendali atas ciumannya dengan menyesuaikan posisi
dan memasuki lidahnya. Itu adalah serangan yang terkoordinir
dengan baik yang ia tak bisa tahan, bahkan jika ia mau sekalipun.

Reid mendorong punggung Lucie ke tembok, menggesekkan


tubuhnya, dengan membuat selimutnya menjadi onggokan
berantakan diantara mereka. Reid, menjadi gentlemen seperti biasa,
membantu dengan kreatif pada pakaian malangnya dengan
mendorongnya ke lantai. Masalah terpecahkan.
Melepaskan ciumannya Reid berpindah ke garis rahangnya, sampai
ke belakang titik sensitif dibalik telinganya. Satu tangan menangkup
payudaranya, yang lain meremas pantatnya seakan memegangnya
agar dirinya tidak terjatuh. Ereksinya yang besar menggesek clitnya
melalui celana pendek yang dipakainya menciptakan gesekan nikmat
dan membuat Lucie hilang akal.

"Ya, Tuhan, Reid," Lucie terengah. "Apa yang kita lakukan? Ini
gila."

"Tidak," bantahnya, menggigiti daun telinganya dan membuat Lucie


terkesiap karena kenikmatan/nyeri tak dikenal yang baru ia pelajari.
"Ini namanya foreplay." Reid menghisap daun telinga Lucie ke
dalam mulutnya dalam momen singkat yang panas, dan berkata,
"Faktanya bahwa tanganku tak tahan untuk menyentuhmu itu baru
gila."

"Itu juga." Sesaat mereka hampir kehilangan akal mereka, ponselnya


memainkan lagu "Jackson" oleh Johnny Cash. "Sial! itu kakakku."

Reid menarik diri dan memberinya tatapan kau-pasti-bercanda-


padaku, tapi Lucie mengambil selimut dari lantai dan
menyelipkannya saat ia mengangkat ponsel. Kakaknya lebih parah
dari induk ayam dan jika ia tidak menjawabnya, ia akan memanggil
nenek-nenek tetangga untuk datang dan memeriksanya.

Membuka ponsel ia katanya," Hei, Jackson. Apa kabar?"

"Sejak kapan sesuatu seperti terserah padaku untuk menelpon adik


perempuanku? Dan kenapa kau terdengar buru-buru di telpon?"

"Eh, karena memang begitu. Aku melupa meninggalkannya di


kamarku jadi aku berlari untuk mengambilnya karena aku tahu kau
seperti apa. Aku tidak mau kau memanggil pasukan kavaleri tanpa
alasan yang jelas."

"Aku tak akan menyebut Mrs. Egan seorang pasukan kavaleri,"


jawabnya masam. "Selain itu terakhir kali aku memintanya untuk
memeriksamu dia membawakanmu kue brownies lezat. Aku bisa
lihat itu bisa jadi beban berat yang harus ditanggung demi
ketenangan kakakmu."

"Baiklah, kurasa kau benar—ah!" Tangan besar Reid benar-benar


mengejutkannya ketika mencapai bawah selimut ke perutnya, dan
sekarang menjalar ke payudaranya.

"Kau baik-baik saja?"

Ia menampar tangan Reid dan menyingkirkannya. Ketika Reid


terkekeh terhibur Lucie melotot memperingatkan, tapi itu tidak
menyurutkan Reid sama sekali. "Tidak ada apa-apa, Jax, aku hanya
um.." berpikir, girl, berpikir. "... kakiku menyandung meja ruang
tamu."

Senyum Jackson terdengar dari ponsel. "Tetap kikuk seperti


biasanya, hah? Senang mendengar beberapa hal tidak berubah."

Rambutnya berpindah kesamping sebelum mulut panas


memanggang lehernya dengan ciuman-ciuman basah dan sesekali
menggigit. Denyut di dalam intinya mengirim gelombang kejut
menggelenyar ke seluruh tubuh disetiap detak jantungnya. Kakinya
melemah. Tangannya tidak mau memegang ponsel ke telinganya dan
kakinya tidak bisa membuatnya tegak sama sekali. Dan apa yang ia
katakan? Ceroboh! Itu dia. "Ya, well, akan menyenangkan...kau
tahu...ah, sesuatu...bisa berubah, eh...terserah."

"Hei, apa kau baik-baik saja?" Jackson bertanya. "Kau terdengar


aneh."

Reid menjilat tulang di telinganya dan berbisik, " Putuskan


teleponnya, atau aku yang akan menutupnya."

Gagasan bermain-main sementara mendengar suara kakaknya seperti


berdiri di bawah seember air dingin yang di seimbangkan
dipinggiran dengan tali yang bertuliskan Tarik Di sini. Tidaaaaaak
terima kasih.

"Sebenarnya, Jackson, bisakah aku balik menelponmu nanti? Aku


benar-benar harus mengurus kakiku dan aku butuh es dan yang
lainnya." Ia memberi jeda dan bersuara "uh-huh" saat ia mendengar
saran kakaknya bagaimana merawat kaki yang terkilir dan
bagaimana mengetahui kalau patah, bla bla bla. Akhirnya, Jax
mengakhirinya, dan ia menarik ponsel dari telinganya sebelum ia
selesai dengan cepat, "okeakujugamenyayangimu."

Baru saja menyelesaikan ocehan tak jelasnya dan menaruh ponsel di


sofanya, tangan Reid menyelip di kemaluannya. Tanpa jeda Reid
langsung memasukkan dua jari ke dalamnya sementara tangan
satunya yang bebas mengklaim satu payudaranya. Banyak sensasi
berhamburan menjadi satu dalam dirinya. Telapak tangannya yang
kasar menggores putingnya yang tegang dan jarinya membuat ujung
kakinya melengkung bergairah dalam dirinya saat mereka
mendorong lagi dan lagi ke tubuhnya.

Kepalanya menekan dada Reid saat ia melengkungkan punggungnya


dan meletakkan tangan ke kepalanya untuk menancapkan kukunya
ke bahu Reid. Nafas Reid mendesis di telinganya. Ia tahu Reid
menyukai sengatan dari kuku dan giginya dan ia tidak lagi malu
memberikannya pada Reid. Reid membalas dengan mencubit dan
menarik putingnya, sensasinya seperti kembang api di dadanya.

"Ah, ya!"

"Begitu sayang. Ya Tuhan, kau terasa panas. Klimaks lah untukku.


Aku ingin merasakan tubuhmu menelan jariku jauh ke dalam
dirimu."

Kata-katanya adalah pemicu api gairah yang membakar dirinya,


membuatnya cepat terbakar. Dengan satu dorongan tangannya dan
giginya yang menusuk di bagian lehernya yang mengencang, Lucie
terbelah, benar-benar hancur sampai ia tak dapat berdiri normal
dalam eksistensinya di dunia.

Saat Lucie akhirnya berbalik, ia dengan rakus menggesek milik Reid


melalui celana pendeknya, tapi dengan cepat Reid merenggut
pinggul dan menyingkirkan tangannya.

"Tahan."

"Kenapa?"

"Aku sebenarnya sangat senang menyelesaikan ini, tapi jika aku


membawamu di ranjang—atau sofa, lantai, meja dapur, atau yang
lainnya—aku akan menahan kita berdua disana sepanjang hari dan
kita tidak akan mengerjakan apapun."

Lucie merasa dirinya menganguk-angguk meskipun tubuhnya


menyuruhnya menerjang. "Kau benar, kita punya...uh, sesuatu,
seperti..."

Sudut mulut Reid terangkat. "Olahraga, latihan, hal-hal yang


membosankan seperti itu."

"Benar, terima kasih."

"Sama-sama. Kenapa kau tidak pergi melakukan apapun yang biasa


kau lakukan setiap pagi dan kau bisa menemuiku di ruang latihan
saat kau siap."

Ia tidak yakin dengan semua yang Reid katakan. Ia masih merasakan


seperti turun dari kondisi mabuk yang menakjubkan, tapi ia tahu
mungkin aman untuk menyetujui apapun yang disarankannya. "Ide
cemerlang. Aku akan melakukan...itu."

Reid terkekeh rendah di dalam dadanya—ketelanjangannya yang


menakjubkan, kekar dengan otot-otot dada—dan menuntunnya
kearah kamar tidurnya. Lalu dengan sedikit tamparan di pantatnya,
Reid menyuruhnya pergi.

Entah bagaimana mereka mampu untuk tidak meraba satu sama lain
ketika Reid selesai latihan PT dan olah raga reguler mereka.
Kemudian mereka seharian memikirkan bagaimana caranya
mengubah latihan keras yang biasa dia lakukan untuk
mengakomodasi penyembuhan cedera sehingga Reid bisa tetap
dalam kondisi siap bertarung.

Setelah ia mandi, lalu duduk di sofa menunggu Reid menyelesaikan


latihannya jadi mereka bisa santai bersama dan menonton film
sepanjang hari. Ia menfokuskan diri dengan membaca, tapi yang ada
dalam benaknya saat itu adalah Reid Andrews telanjang yang
mempesona dengan air yang membasahi seluruh tubuhnya. Saat
tubuhnya mendorong rasa panas dari atas, ia menaruh bukunya
kesamping dan menyalakan kipas angin. Setidaknya aku
menggunakannya untuk sesuatu.

Saat ia mendengar pintu kamar mandi terbuka ia cepat-cepat


mengambil bukunya kembali ke depan wajahnya dan berpura-pura
melihat seolah-olah ia tidak sedikitpun membayangkan melakukan
hal nakal pada Reid di bawah air panas: Tidak, tidak ada yang kotor
dengan benaknya. Ia hanya membaca sesuatu yang ringan.
Sepenuhnya. Polos.

"Wow. Buku itu pasti ada beberapa adegan panasnya."

Matanya menatap Reid saat ia duduk di sofa sebelahnya. "Apa yang


membuatmu berkata begitu?"

"Karena pipimu bersemu merah dan bibir bawahmu mengerut karena


kau gigit." Reid menangkup pipinya dengan tangan dan
menggunakan ibu jarinya untuk menelusuri bibirnya yang bengkak.
"Yang sekarang aku tahu adalah sesuatu yang kau lakukan saat kau
terangsang. Apakah kau terangsang, Lucie?"

Benar-benar susah berpura-pura polos.


***

"Aku sudah menunggu untuk menonton Warrior."

Reid melepaskan tangannya dan tersenyum dengan perubahan


topiknya. Ia tidak bisa menahan. Satu malam dari hubungan seks
yang menakjubkan dan satu orgasme di ruang tamunya berikutnya
dan Lucie masih malu kepadanya.
Lucie meletakkan bukunya di ujung meja dan bergerak-gerak gelisah
dengan bantal sofa. "Ini tentang dua orang saudara yang masuk
kompetisi MMA yang sama dan harus bertarung satu sama lain."

"Aku tahu. Aku sudah melihatnya."

"Oh." Katanya, merengut.

"Tapi aku ingin menontonnya lagi. Aku melihatnya dengan beberapa


teman di gym dan mereka cukup menjengkelkan, jadi aku tidak
melihat semuanya." Itu tidak semuanya benar, tapi sedikit
kebohongan untuk meringankan kerutan di dahinya adalah sepadan.
Senyum Lucie adalah bonusnya.

"Baguslah. Oke, kau menyiapkannya dan aku akan membuat


popcorn."

Lucie bangkit dari sofa dengan rasa senang. Satu detik ia melewati
dirinya saat berjalan ke dapur, dan selanjutnya ia mendengar
gedebuk dan ooh saat dia terjerembab di lantai dibawahnya.

"Woa, Lubert." Ia menariknya dan mendudukkan di sampingnya


dengan kaki Lucie berada diatas pangkuannya. "kau tidak
memperhatikan meja tamu, atau apa?"

Lucie menatapnya saat ia menelan udara melalui rahangnya yang


menegang dan mengepalkan tangannya ke depan. "oh, man, kenapa
tersandung di ujung jarimu sungguh menyakitkan? Aw, aw, aw."

"Sini, biar aku tahan untukmu," dengan hati-hati ia taruh ujung kaki
kanannya diantara telapak tangan dan menekannya untuk
memberikan sedikit tekanan pada kakinya. Ketika Reid sadar mereka
duduk pada posisi itu beberapa saat, ia mendongak lalu melihat
Lucie sedang memperhatikan tangannya, mata berkaca-kaca. "Hei,"
katanya lembut, menangkup pipinya. "Sangat sakitkah? Mungkin
kau mematahkan sesuatu."

Lucie memberikan gelengan yang hampir tak terlihat. "Itu yang


selalu mamaku katakan saat kami meningkatkan diri kami. 'Tahan.'
Aku selalu berpikir itu hal konyol untuk dikatakan, tapi selalu
membantu."

"Kau bercanda? Itu adalah hal yang cemerlang untuk dikatakan. Kau
tahu berapa kali aku 'tahan' setelah dihajar saat latihan bergulat?
Ratusan, kalau tidak ribuan. Dan itu selalu membantu." Dengan
setengah menyeringai ia menambahkan, "semacam itu atau kompres
air es. Susah dikatakan mana yang lebih baik, sungguh. Mengingat
berapa lama waktu yang kupunya."

Lucie mendengus pada pernyataan yang aneh dan tertawa gugup dan
tangannya menutupi wajahnya. Reid menarik tangannya. "Aku suka
saat kau mendengus."

"Oh, diamlah," katanya sambil memberi dorongan main-main


sebelum mengayunkan kakinya ke lantai. "Aku tidak bermaksud
melakukannya, kau tahu."

"Aku tahu, itulah kenapa sangat menggemaskan."

Berhenti di pinggiran sofa Lucie berbalik dan menyipitkan mata abu-


abu mungilnya kearah Reid. "Tak ada orang yang berpikir dengusan
seorang gadis itu menggemaskan."
Reid mengangkat bahu dan meyandarkan tangannya di belakang
sofa. "Aku akan setuju dengan pernyataan itu sampai aku
mendengarmu melakukannya seminggu yang lalu."

Lucie mengelangkan kepalanya dan tertawa sambil berjalan ke


dapur, jelas tidak percaya padanya, tapi tak apalah. Ia akan
mempercayainya suatu hari nanti. Suatu hari nanti yang segera akan
Lucie ketahui ketidak sia-siaannya dan nyaman dengan semua hal
tentang dirinya, termasuk kecenderungannya mendengus dan
menabrak benda-benda mati.

Saat lucie membuat popcorn dan membawakan minuman mereka


Reid menyalakan film, memilih Warrior, dan menghentikan saat
akan mulai. "Hei," panggilnya. "kau tahu sebutan untuk orang yang
kakinya tersandung?"

"Sebutan yang sama saat aku melakukan sesuatu semacam itu:


kecanggungan."

"Bukan, kali ini namanya karma. Ketika kau berbohong pada


kakakmu soal kakimu yang tersandung."

Lucie menjulurkan kepalanya di pintu masuk, mata melebar. "Ya


ampun, kau benar! Well, benar-benar menjengkelkan." Menghilang
kembali ke dapur, katanya, "Ingatkan aku untuk tidak berbohong
dengan alasan melukai tubuhku kedepannya."

Reid masih tertawa saat Lucie berjalan kembali membawa


semangkuk besar popcorn dan dua botol air. "Kau hanya perlu
menyesuaikan kebohonganmu sedemikian rupa jadi ketika karma
datang padamu, saat mengatakannya, itu adalah sesuatu yang kau
nikmati."
Lucie menaruh mangkuk di meja di depannya dan duduk di sofa
tanpa mengalami kemalangan lebih lanjut. Saat sudah nyaman ia
berkata, "Oh, ya? Seperti apa?"

Menghadap padanya, Reid mendekat. "seperti misalnya, Maaf, aku


tak bisa bicara sekarang karena Reid sedang menjilat payudaraku
seperti sedang menjilati ice cream cone miliknya sendiri." Ia tak
pernah melihat pipi seseorang demikian cepat meronanya.
Membangkitkan Lucie adalah menjadi salah satu kesukaannya akhir-
akhir ini dan ia tidak kuasa untuk meneruskannya. "Walaupun, aku
tak yakin kalau itu termasuk dalam karma karena tidak memberi
kontribusi dalam kotak saran alam semesta." Ia menunduk ke titik di
kedua pahanya yang tersembunyi oleh celana pendek hitam piyama
milik Lucie. "Bicara soal kotak—"

Itulah yang bisa dikatakannya sebelum Lucie mendiamkannya


dengan tangannya yang menutupi mulut Reid. Lucie melakukan
yang terbaik saat terlihat ragu, ia sulit menahan senyumnya. "Reid
Michael Andrews! Apa yang merasukimu?"

Reid menarik tangan Lucie lalu tertawa. "Pastinya karenamu, sebab


aku tak pernah segembira ini dengan seorang wanita dalam waktu
yang sangat lama."

Lucie memiringkan kepalanya pura-pura malu-malu dan menatapnya


dengan pandangan seksi. "Lalu, secara teknis, kurasa milikmu yang
merasuk ke dalam diriku." Reid tidak sadar bahwa mulutnya
ternganga sampai Lucie menutupnya dengan ujung jarinya dan
berkata, "kau terus buka mulutmu seperti itu dan kau akan
menangkap seekor lalat." Kemudian dengan seringai seperti kucing-
baru-saja–makan-burung-kenari (tersenyum puas) ia menarik
mangkuk popcorn ke pangkuannya.

Reid tertawa terbahak-bahak cukup lama, tawa keras saat ia


merangkul Lucie dan menempel padanya. Reid menyalakan filmnya
dan mereka diam dengan nyaman, makan popcorn dan bersantai satu
sama lain. Perhatiannya lebih fokus pada Lucie daripada drama di
layar. Reid perhatikan saat adegan bertarung tubuh Lucie menegang.
Jika sesuatu mengejutkannya ia sedikit melenguh. Dan saat melihat
adegan ciuman di layar, ujung jarinya menyentuh bibirnya sendiri
seperti ia bisa merasakan ciuman itu sama seperti tokoh di dalam
film.

Lucie pada dasarnya adalah wanita pendiam. Ia hidup dengan


mandiri, membiarkan orang-orang disekitarnya berada atas di
panggung utama. Tapi bukan berarti ia tidak punya gairah dari pada
yang berada di panggung utama. Lucie mencintai pekerjaan dan
teman-temannya, yang tulus berdedikasi dan setia, dan mempunyai
jiwa romantis.

Reid tahu ia tidak bisa menetap dan memiliki keluarga. Ia tidak


memiliki "gen pria berkeluarga" seperti kebanyakan orang, selain
itu, ia tidak menjalani gaya hidup seperti keluarga umumnya
kembangkan.

Ayahnya adalah Stan Andrews, satu dari petinju top profesional saat
itu. Ia bertarung dengan banyak petinju besar bahkan mengalahkan
beberapa dari mereka. Ibunya adalah salah satu ring bunnies yang
sering berada disekitar gym, berada di semua pertarungan dan dan
melakukan yang terbaik untuk mendapatkan seorang petarung.
Orang tua Reid selalu bahagia sampai umurnya lima tahun. Hingga
suatu ketika San Andrew yang hebat mendapatkan pukulan terlalu
banyak di kepalanya, dan itu adalah akhir dari karirnya. Setelah itu
ia mulai minum, istrinya jijik hidup dengan mantan petarung yang
tak berguna sebagai suaminya. Sensasi untuk berada di sisi ring dan
memberi semangat untuknya sudah hilang. Lalu ibunya pergi.

Ibunya meninggalkan anaknya dengan pria yang tak tahu apa-apa


soal merawat anak. Nyatanya, ayahnya tak tahu bagaimana
melakukan apapun kecuali minum dan bertarung. Bukannya
merawat anaknya, ia malah mendidiknya menjadi petarung.

Reid tak dapat membenci pelatihan yang ayahnya berikan padanya.


Ia menjadi kuat, kadang menjadi terlalu ekstrem, tapi akhirnya itu
semua terbayar. Ia menjadi salah satu petarung terbaik kelas berat–
ringan MMA di dunia dan mendapat ketenaran dan kekayaan. Ia
hidup dengan sangat nyaman di Vegas, melakukan salah satu hal
yang dicintainya.

Tapi bagian dari dirinya yang bukan petarung—bagian dari dirinya


yang ingin menjadi pematung, yang ingin menjadi seorang anak—itu
adalah bagian yang di benci ayahnya dan semua yang telah ia
bangun. Hanya bagian itu tidak memberikan kebaikan untuk
memberontak. Ia sudah belajar sejak kecil bahwa meminta untuk
apapun lebih dari hubungannya sebagai seorang petarung/pelatih
dengan ayahnya tidak ada harapan. Dan sebagai remaja ia belajar
bahwa mengejar hobby apapun yang mengambil waktu jadwal
latihannya tidaklah penting.

Jadi, tidak, Reid tak punya kesempatan sebagai seorang yang bisa
menjalin hubungan asmara, apalagi menjalin hubungan keluarga. Ia
hanya melihat masa depan sama jauhnya dengan pertarungan
berikutnya. Sampai tangan seseorang terangkat di ring, ia makan,
tidur, menghirup semua yang ia butuhkan untuk mempersiapkannya
menghadapi lawannya. Dan setelah itu, ia mulai lagi untuk
pertarungannya selanjutnya. Selalu menjadi petarung. Tak pernah
menjadi penonton.

Ketika Lucie tersentak dan dengan terengah melihat pukulan yang


berdarah, Reid menempatkan mangkuk popcorn kesamping dan
menyesuaikan posisi duduknya sampai ia duduk di sisi sofa dan
Lucie bergelung di sisinya di antara kaki Reid dengan kepala di
dadanya. Reid mencoba sangat keras untuk tidak memperhatikan
betapa sukanya dia dengan cara Lucie merapat pada tubuhnya,
menggesekkan pipi ke T-shirtnya untuk mendapatkan kenyamanan
yang ia inginkan.

Tersenyum, Reid memainkan rambutnya, memilin dan mengelus


sepanjang rambutnya, menyukai kelembutannya dan wangi bunga
yang sekarang hanya ada padanya.

Ia tidak yakin berapa lama waktu berlalu, tapi sebelum film berakhir
nafas Lucie menjadi dalam bahkan tertidur. Mengambil selimut yang
ada di belakang sofa ia bungkus di sekeliling tubuhnya dan
menempatkan di ujungnya supaya lebih nyaman.

"Mimpi indah, Lu." Ia mencium ubun-ubunnya dan bahkan tak ingat


sudah menutup matanya.
***

Bab 13

Reid duduk di atas sofa yang empuk, berbaring ke samping untuk


merenggangkan kakinya dan bersandar ke bantal yang ia sisipkan di
belakang. Dia baru saja selesai mandi setelah melewati hari yang
panjang dan yang ia inginkan sekarang adalah berbaring dan
meminum bir dingin yang ia izinkan untuk ia minum malam itu.

Satu minggu sudah terlewati sejak malam menonton yang santai


dengan Lucie, tapi bukan hal-hal menyenangkan dan permainan
yang mereka mainkan seperti minggu sebelumnya, tujuh hari
belakangan sangat membuat stres. Ketika mereka berdua sedang
tidak menyembuhkan bahu Reid dan latihan, Reid melakukan
publicity junkets (promosi pekerjaan sambil bersenang-senang), dan
Lucie di panggil bekerja untuk menangani kasus yang memerlukan
bantuan khusus.

Titik terang yang mereka dapatkan hanyalah seks cepat di waktu


yang tak tentu. Tapi jika mereka kekurangan durasi, maka sesi
latihan digunakan sebagai pembakar gairah. Kapanpun ia dan Lucie
merasa panas dan ingin, hal itu seperti reaksi kimia yang berakhir
dengan ledakan yang tak terelakkan yang mengguncang mereka
hingga kepusatnya.

Di satu waktu mereka menyadari kehabisan kondom, kemudian


mendiskusikan secara terbuka—meskipun terburu-buru—mengenai
proteksi. Sejak mereka berdua bersih dalam catatan medis dan Lucie
sudah menanamkan sejenis kontrol kehamilan dilengannya sesuai
dengan yang diinginkan mantan suaminya, mereka memutuskan
untuk melupakan lateks itu untuk menambah durasi kebersamaan
mereka berdua.

Kenangan tentang masuk ke dalam tubuh Lucie untuk pertama


kalinya tanpa menggunakan apapun di antara mereka membuat
kejantanan Reid nyeri. Intinya yang licin dan panas membuat Reid
membara, menyalakan setiap sel di tubuh pria itu ketika terusan
dalam tubuh Lucie meremas kejantanannya yang telanjang hingga ia
menyembur keluar jauh di dalam tubuh Lucie. Membutuhkan waktu
lebih lama daripada biasanya bagi mereka berdua untuk mereda dari
persetubuhan itu, tapi ketika mereka berhasil mengendalikan diri,
kegembiraan yang dirasakan Reid juga terpancar dari mata Lucie.

Sayangnya, waktu istirahat di siang hari adalah satu-satunya


kesempatan yang mereka miliki sepanjang minggu. Ketika mereka
berdua sampai rumah di malam hari mereka hanya memiliki energi
untuk mandi dan kemudian pergi tidur.

Reid memiliki kecurigaan bahwa Mann meminta Lucie untuk masuk


kerja hanya agar ia dapat melihat Lucie. Mungkin Mann ingin
memastikan bahwa transformasi Lucie tidak hanya pada satu malam
di restoran itu. Mungkin dia hanya menginginkan sebuah alasan
untuk melihat Lucie dan memperhatikan lesung pipi Lucie, siapa
yang tahu?

Apa yang Reid tahu adalah bahwa Reid tak bisa melakukan apapun
pada hal itu. Setelah UFC mengetahui dari Butch bahwa Reid sedang
di Reno untuk mendapatkan pelatihan khusus dan terapi untuk
cedera yang ia alami, mereka menyiapkan konferensi pers dan
penandatanganan kontrak di depan publik, dan dia tak memiliki
pilihan lain selain melakukan semua itu. Itu adalah bagian dari
kontraknya.

Sulit bagi Reid untuk fokus, meskipun ia baru menyadarinya ketika


ia menjawab pertanyaan yang sama yang sudah ia jawab lusinan
kali, Lucie sedang di goda oleh Ahli Bedah itu. Mungkin dia juga
meraba-raba jika Mann memiliki kesempatan. Sialan, Reid tak
pernah memikirkan itu sebelumnya. Apakah Mann sudah mencium
Lucie? Kemudian, itu benar-benar bukan masalah. Lucie sedang
bersiap untuk berangkat kencan dengan pria itu saat Reid sedang
berbaring di sana, jadi Lucie pasti siap di cium pada akhir malam ini.

Tangan Reid mengencang di botol bir yang sedang ia genggam dan


rahangnya mengeras.

Sebuah dentuman dan gemerincing terdengar dari kamar mandi di


ujung lorong. "Sialan!"

Reid memutar kepalanya ke arah keributan itu. "Apakah semua baik-


baik saja disana?"

"Yeah," kata Lucie kesal. "Dengkulku baru saja terantuk di meja rias
ketika terburu-buru memakai pantyhose-ku, dan itu satu-satunya
yang aku miliki."

"Kau mau aku pergi ke toko di ujung jalan?" Dan kemudian


mungkin Reid tidak sengaja salah berbelok ketika kembali ke
apartemen, membuat Lucie terlambat dan Mann akan berpikir bahwa
Lucie membuatnya kecewa dan kehilangan ketertarikan karena
egonya yang rapuh.

"Tidak, terima kasih, tak ada waktu. Aku akan pergi tanpa benda
itu."

Tanpa benda itu? Pria itu akan mendapatkan akses mudah ke kaki
Lucie yang telanjang. Semua yang Mann butuhkan hanyalah sapuan
tangan di bawah linen meja dan dia akan bisa melakukan semua hal
kreatif meskipun mereka berdua sedang berada di depan umum.
Reid tahu; Reid sering melakukan hal itu ketika ia merasa bosan saat
makan malam penting dengan eselon tingkat atas di dunia petarung.

"Mengapa kau tidak menggunakan pantsuit saja?"


Reid mendengar suara keletak dari tumit sepatu di lantai kayu dan
Lucie muncul dari pojok ruang dimana Reid bisa melihatnya.
Seketika mulut Reid mulai berliur seperti halnya stroberi paling
masak yang pernah ia lihat tergantung tepat di depan wajahnya.
Lucie membuatnya ingat akan hal itu.

Merah terang dari dada ke pantat, Lucie mengesankan dalam balutan


gaun cocktail yang sederhana. sehelai tali yang sangat tipis seperti
tak berada disana, potongan leher yang menyelusup ke area diantara
dadanya, dan ujung lipatan gaun yang mengelilingi pahanya, sekitar
satu inci dari lengkungan pantatnya.

Lucie mengeriting rambutnya menjadi lingkaran-lingkaran besar


yang membuatnya terlihat baru-saja-di-keriting seksi dan riasan
wajahnya-nya nampak, namun tipis, dengan pengecualian dari lipstik
merah yang serasi dengan gaun yang ia kenakan.

Rasa ketertarikan diantara mereka sebelum Lucie pergi kencan


dengan pria lain terasa keliru dan Reid menyadari bahwa lebih baik
untuk menghindari perasaan itu dibandingkan menganalisanya, jadi
dia berencana untuk membuat perasaan itu menjadi perasaan sayang
pada saudara untuk malam ini.

Tapi gambaran dari bibir Lucie yang merekah dan terbungkus di


sekitar bagian tertentu dari tubuh Reid meledakan sebuah lubang
sebesar RPG tepat di Bendungan Kewajaran yang sudah ia bangun
diotaknya.

"Aku tak memiliki setelan celana, Reid. Kau tak pernah memilihkan
satupun untuk aku coba."
Tentu Reid tak memilihkannya. Pria mana yang mau melihat seorang
gadis mengenakan pantsuit? Mata Reid sudah tenggelam pada tiap
gaun pendek yang bisa ia temukan. Betapa bodohnya dia.

"Apakah ini terlihat bagus? Tidak kah terlalu berlebihan?" Lucie


bertanya ketika sedang memandangi tubuhnya dengan cara memutar
tubuhnya ke segala arah. Kemudian interkomnya berdengung,
terdengar seperti klakson di apartemen yang sepi. "Oh, Tuhan, aku
benar-benar gugup. Aku tak bisa melakukannya. Aku akan
mengatakan padanya bahwa aku tak bisa pergi. Mengatakan bahwa
aku keracunan makanan atau mendapat pancreatitis secara tiba-tiba."

Reid hampir saja setuju pada Lucie. Benar-benar hampir


menyetujuinya. Tapi akhirnya, ia tak bisa melakukan itu. Hanya
karena Reid mengalami kecemburuan yang aneh dan kekanak-
kanakan pada Lucie, tak berarti bahwa Reid memiliki hak untuk
menyabotase kebahagiaan yang akan segera mendatangi Lucie
dengan Dr. Lesung Pipi Sempurna.

Menendang pria goa kembali ke dalam goa-nya, Reid berdiri dan


berjalan ke arah Lucie. "Ini," katanya sembari menyodorkan botol
yang ia genggam pada Lucie. "Minum ini dan tenanglah. Kau tak
akan membatalkan kencan ini dan membuang semua usaha yang
sudah kulakukan dengan menjadi ibu peri-mu."

Lucie meletakkan sebelah tangannya di atas perutnya seakan


mencoba untuk menenangkan rasa gugup yang berputar-putar
didalamnya sementara tangannya yang lain menerima bir dan
menghabiskannya dalam waktu kurang dari lima detik. Begitu cepat
untuk ukuran sebotol bir.

Sembari menyerahkan botol kosong pada Reid, Lucie berkata,


"Terima kasih, aku perlu mendengar itu."

"Karena kau suka membayangkan aku dengan sayap dan sebuah


tongkat sihir?" Reid berkata dengan seringaian.

Gadis itu tertawa, terlihat lebih santai kali ini. "Tidak, kau bodoh,
karena aku perlu dorongan untuk melakukan semua ini."

Dorongan? Reid berpikir dan mempelajari wajah Lucie, mencoba


untuk melihat apakah ada sesuatu—apapun itu—yang mungkin ia
lewati. Interkom berdengung lagi dan meskipun suaranya terdengar
mirip dengan dengungan yang pertama, Reid bersumpah bahwa
ketidaksabaran pria yang berada dua lantai di bawah itu mulai
memuncak.

Jengkel dengan interupsi itu, Reid mengambil dua langkah besar ke


arah pintu, menekan tombol interkom dan menghardik, "Kami
mendengarmu, tunggulah," sebelum kembali ke arah Lucie.

Ketika Reid berbicara, suasana hening, tenang. "Kau tak


memerlukan dorongan, Lu, karena inilah yang kau inginkan selama
ini. Semua yang kau lakukan untuk hal ini... benar kan?"

Lucie membalas tatapan Reid, matanya mencari di antara kedua


mata Reid, bibirnya terbuka perlahan seakan siap merespon secepat
otaknya bisa membungkus jawaban yang ada. Rendahnya tensi dari
keberanian Lucie dan ke-masa-bodoh-an Reid dengan perlahan
mulai naik hingga mencekik jarak di antara mereka berdua.

Dengan tangannya yang kosong, Reid merengkuh dan mengambil


segelintir rambut keriting Lucie yang terjatuh menutupi matanya dan
meletakkannya kembali bergabung dengan rambut lainnya ke tempat
di mana mereka seharusnya berada. Pandangan mata Lucie terjatuh
ke bibir Reid; itu adalah isyarat yang tidak Reid lewati. Reid mulai
berpikir serius bahwa perannya sebagai seorang gentleman terlalu
berlebihan. Tapi jika Reid akan melangkah lebih jauh, ia harus lebih
dulu meyakinkan diri.

"Lucie? Apakah kau ingin pergi berkencan dengannya?"

"Aku—"

Lucie terhenti karena mendengar theme song Rocky yang datang dari
arah dapur. Memerlukan waktu satu detik bagi Reid untuk
menyadari bahwa suara itu berasal dari telepon genggamnya. Lucie
bersikeras untuk memberikan semua kontak di speed dial Reid nada
dering personal dan mereka tertawa terbahak dan bercanda ketika
memilihkan lagu yang tepat untuk masing-masing dari mereka.
Lucie memilihkan theme song Rocky untuk Butch juga.

Reid merasakan otot dirahangnya mulai bekerja. Waktu yang tepat,


orang tua. Apakah seluruh jagat raya melakukan suatu konspirasi
untuk melawan mereka berdua?

Kemudian hal itu menerjangnya seperti halnya sebuah pukulan hook


mendarat dipelipisnya: yeah, tentu saja. Jagat raya berusaha
mengingatkan Reid bahwa ia tak punya hak untuk mengikatnya
dengan suatu fantasi dari sesuatu hal yang tak mungkin jadi
kenyataan. Reid berprilaku layaknya bajingan yang egois. Ingin
memiliki Lucie di sepanjang waktunya untuk dirinya sendiri.

Hingga saat Reid pergi dari Lucie.

Reid merasa ia perlu ditendang di bagian bokong. "Kau sebaiknya


berangkat," katanya ketika ia beranjak dari pusaran pikirannya
sendiri. Bergerak ke arah dapur dan teleponnya, Reid melirik dari
bahunya ke arah Lucie. "Bersenang-senanglah pada kencanmu,
Lubert. Jangan lupa untuk sedikit genit pada pelayannya."

Ketika Reid menekan tombol untuk menelpon kembali Butch, dia


mendengar pintu terbuka dan kembali menutup dan tiba-tiba dia
merasa sakit di bagian perutnya.

"Harusnya lebih tahu bahwa tidak baik meminum bir ketika sedang
berusaha menurunkan berat badan." Reid memposisikan telepon
ketelinganya dan mengejek. Reid pikir dengan mengatakannya
dengan lantang akan terdengar lebih meyakinkan dibandingkan
dengan hanya sekedar memikirkannya. "Itulah yang kau dapatkan
karena berpikir, bodoh."

"Andrews?" Suara Butch yang serak terdengar melalui telepon


menurunkan suhu tubuhnya ke angka satu derajat. Pria ini lebih dari
sekedar ayah baginya daripada ayah yang sebenarnya. Ironis,
mengingat bahwa pelatihnya dan ayahnya bisa secara esensial
berganti peran dalam hidupnya dan lebih akurat dibandingkan
dengan peran mereka yang sebenarnya.

"Hey, Butch. Maaf aku tak mengangkat teleponnya lebih awal. Ada
apa? Bagaimana keadaan yang lain?"

"Yang lain masih sama seperti biasanya. Tapi aku tak meneleponmu
untuk berbincang tentang yang lain. Aku memiliki beberapa berita
baik."

Reid mengambil sebtol air dari kulkas dan kembali berjalan ke arah
ruang tamu untuk melanjutkan posisi santainya di sofa. "Bagus,
karena aku hanya bisa mendengar berita baik sekarang."

"Scotty akan kembali. Beberapa urusan untuk bisa kembali ke rumah


lebih cepat daripada yang kita antisipasi dan dia akan sampai di
Vegas dalam waktu satu minggu."

Reid bersandar di sofa. Dia tak memiliki petunjuk apapun mengenai


kabar baik yang akan disampaikan oleh Butch, tapi bisa kembali ke
rumah sebulan lebih cepat daripada yang mereka antisipasi tak
pernah terlintas dalam pikirannya sedikitpun.

"Jadi kau bisa pergi dari sana dan kembali ke rumah. Berlatih
dengan rekan satu timmu dan bersiap untuk pertandingan perebutan
gelarmu di-gym-mu sendiri. Tuhan, jika aku tahu dirimu, kau
mungkin akan menjadi gila jika terlalu lama di sana."

Butch tak sepenuhnya salah. Reid sudah beristirahat akhir-akhir ini.


Benar-benar beristirahat. Tapi ia tak berpikir hal itu terjadi karena ia
sedang tidak berada dilingkungannya sendiri dan sedang
mendapatkan kebebasan untuk melakukan apa yang ia senangi
sebanyak mendapatkan waktu berkualitas dengan Lucie. Dalam
waktu singkat mereka berdua sudah bersama dan Reid mulai berpikir
ke depan untuk hidup bersama Lucie. Apakah itu duduk bersama di
meja di pagi hari ketika ia meminum protein shake-nya dan Lucie
menyesap kopinya, ataukah berargumen mengenai siapa yang berhak
memegang remote berdasarkan siapa pemiliknya versus siapa yang
lebih tua.

"Nak, apakah kau mendengar apa yang baru saja aku katakan?"

Reid membersihkan tenggorokannya dan menyapu wajah dengan


tangannya. "Yeah, Butch, aku mendengarmu. Bagus sekali Scotty
akan segera kembali. Aku yakin beberapa pria lain bisa
menggunakannya juga."

"Well, yeah, tapi dia masih memiliki waktu terbesarnya di jadwal


untuk bekerja bersamamu. Dia tahu apa arti dari pertandingan itu
untuk karirmu."

"Dan aku sangat menghargai hal itu, tapi kau tahu, Luce sudah
menggunakan waktu liburannya untuk membantuku—"

"Luce? Siapa dia? Apa yang terjadi dengan nona Miller?"

"Dialah yang sedang kubicarakan. Namanya Lucie. Aku hanya ingin


mengatakan bahwa aku rasa akan menjadi tidak professional jika aku
mencabut kesediaannya dan kepercayaannya lebih cepat daripada
apa yang direncanakan."

Keadaan menjadi hening. Sial. Butch adalah seorang pria yang


memiliki sopan santun...hingga kau mengatakan atau melakukan
sesuatu yang melawan keinginan melatihnya, dan keheningan itu
adalah ketenangan yang terjadi sebelum badai. Ini adalah satu-
satunya kesamaan Butch dengan Ayah Reid, tapi bahkan Butch tak
bisa menyamai kekejaman dari seorang Stan Andrews.

"Apakah kau sedang bercanda denganku! Apakah aku sedang


dikerjai atau semecamnya? Karena aku sedang mengalami waktu
yang sulit untuk memahami mengapa bintang petarung-ku menolak
bantuan dari pelatih professionalnya dan dokter professionalnya
untuk membantunya mempersiapkan pertandingan terbesar dalam
karirnya!"

Reid membeku di ruangan kecil layaknya seekor singa di depan pria


yang memegang cambuk. "Sialan, Butch, jangan membentakku
seperti itu, oke? Aku hanya bilang—"

"Aku dengar apa yang kau katakan. Yang aku khawatirkan adalah,
boy, yang tidak kau katakan."

"Apa maksud dari kalimat itu?"

"Itu berarti bahwa Reid yang aku kenal akan mengambil setiap
kesempatan yang ada untuk kembali ke camp dan fokus untuk
merebut kembali sabuknya. Itu berarti aku berpikir bahwa
kemungkinan kau sedang berpikir dengan kemaluanmu bukan
dengan kepalamu."

Reid membeku. Pelatih menebak hampir tepat seperti apa yang


sebenarnya sedang terjadi. "Hanya karena aku tak ingin menjadi
seorang bajingan yang tak punya hati, bukan berarti aku memiliki
maksud di balik semua itu, pria tua."

"Bagus. Senang mendengarnya." Desahan berat terdengar dari ujung


sambungan telepon. "Dengar, nak, kau tahu aku tak ingin iri akan
kebahagiaanmu. Tapi inilah saatnya. Kau sudah semakin tua. Jika
kau kalah pada pertarungan ini, bukan berarti ini akhir dari karirmu.
Tapi hal itu bisa berarti adalah awal dari kehancuranmu. Dan anak
baru akan lebih muda dan lebih buas daripada dirimu. Kemudian
ketika kau mendapat beberapa kelemahan di bawah sabukmu,
mereka akan berhenti bertarung melawanmu."

"Aku tahu." Reid terjatuh kembali ke sofa dan membiarkan


kepalanya bersandar. Apa yang membuatnya khawatir adalah bahwa
ide dari akhir karirnya tak lagi membuatnya takut seperti
sebelumnya.
"Maka tetaplah seperti ini minggu depan. Tapi kemudian kau harus
kembali ke camp dan kita akan pastikan bahwa kau siap melakukan
pertandingan itu."

Reid masih benci akan ide mengakhiri waktunya dengan Lucie, tapi
semakin ia memikirkan tentang hal ini semakin ia menyadari bahwa
akan lebih baik seperti ini. Lucie sudah mencapai tujuannya, dan
dengan bantuan gadis itu Lucie hampir mencapai tujuannya. Lucie
membuat keajaiban pada bahunya; hampir sembuh seratus persen.
Dan jika Reid merasa sedekat ini dengan Lucie setelah hampir dua
minggu, ikatan ini akan menjadi lebih buruk lima atau enam minggu
ke depan. Yeah. Ini adalah saatnya untuk pergi.

"Sampai bertemu satu minggu lagi."


***

"Sejujurnya, aku tidak seharusnya memberi tip pada pria itu,"


Stephen menggerutu. "Dia sibuk memperhatikanmu hingga ia sulit
melakukan pekerjaannya dengan benar di sepanjang malam ini."

Lucie melangkah melewati pintu yang dibukakan oleh Stephen,


senang merasakan hangatnya udara malam yang menyelimutinya
dan menghapuskan rasa dingin dari air-conditioner. Tak perduli
berapa kalipun dia membeku dalam restaurant, Lucie tak pernah
ingat untuk membawa sweater.

"Aku rasa kau terlalu keras padanya. Aku yakin pria itu adalah
pelayan baru dan masih kikuk pada pekerjaannya. Hal itu benar-
benar tak ada hubungannya denganku."

"Well, sudahlah. Meskipun makan malamnya kurang


menyenangkan, tapi yang menemaniku makan malam patut
mendapatkan bintang lima," katanya sembari mengangkat tangan
Lucie untuk menanamkan kecupan di buku jarinya.

Itu adalah kalimat membosankan dengan gesture yang


membosankan bergaya lama dan semua hal itu membuatnya tertawa
terbahak-bahak.

Dan mendengus.

Mata Stephen melebar dan membeku untuk melepaskan tangan


Lucie seperti halnya ia tak yakin apa yang ia dengar itu benar terjadi.
Lucie merasakan warna mulai naik kepipinya hingga ia yakin
wajahnya kini benar-benar pas dengan gaunnya.

"Maaf, aku, uh," Berpikir, Lucie, berpikir! "Aku mengalami sinus


akhir-akhir ini."

Akhirnya Stephen bergerak, melepaskan tangan Lucie dan memberi


isyarat bagi Lucie untuk mulai berjalan kembali keapartemennya.
Ketika Lucie mulai melangkah, pria itu berkata, "Kau harus segera
memeriksanya. Kau tak akan mau hal itu berubah menjadi sinusitis."

Lucie tak yakin bagaimana harus merespon hal itu, jadi dia memilih
untuk merubah subjeknya. "Setelah beberapa tahun bekerja bersama
secara profesional, senang akhirnya aku bisa menghabiskan
beberapa waktu denganmu dalam level yang lebih pribadi, Stephen."

"Aku sangat setuju denganmu. Meskipun kita tak banyak melakukan


hal 'personal' ketika makan malam, benarkan? Kita terus
membicarakan pekerjaan sepanjang waktu."
Lucie menyeringai, senang dia sudah berhasil mengarahkan
pembicaraan ke arah yang ia inginkan. "Ya, aku rasa kita
melakukannya."

"Jadi, ceritakan padaku soal Lucie. Apa tujuan jangka pendek dan
jangka panjangmu, Miss Miller?" Stephen menyingkirkan gelas
slushie kosong dengan kakinya ke dekat tempat sampah dan lanjut
berjalan.

Berhenti cukup lama untuk mengambil benda itu dan membuangnya


ke dalam tempat sampah, Lucie mengambil beberapa langkah cepat
untuk menyamai posisi pria itu karena tak menyadari bahwa Lucie
tertinggal dibelakangnya.

"Um, well, aku rasa tujuan jangka pendekku adalah beberapa hal
seperti mendapat peralatan baru untuk ruang terapi, mengambil
beberapa kelas untuk beberapa teknik baru, dan melakukan beberapa
usaha untuk keluar lebih sering lagi."

Pria itu melihat ke arah Lucie. "Keluar lebih sering?"

"Yeah, kau tahu, keluar." Ketika semua yang Stephen lakukan adalah
mengangkat alisnya dalam gerakan tubuh bertanya, Lucie melihat ke
trotoar dan mencoba untuk menyembunyikan senyum malu-
malunya. "Seperti berkencan."

Mengaitkan kedua tangannya ke belakang, Stephen berkata, "Ah,


aku mengerti. Well, aku harap kau akan memberiku kesempatan
untuk mengecek tujuan khusus itu keluar dari daftarmu."

Lucie melirik cepat pada pria itu dari bawah bulu matanya sebelum
kembali fokus ke jalan yang sedang ia lalui. "Aku suka itu."
"Bagus. Okay, lalu bagaimana dengan tujuan jangka panjangmu?
Dimana kau membayangkan dirimu sendiri, katakanlah, dalam lima
tahun lagi?"

Lucie merasa seperti sedang melakukan wawancara, meskipun ia


merasa itu lah yang harus dilakukan pada kencan pertama.
Mengingat ia tak pernah benar-benar melakukan kencan-dengan
satu-satunya hubungan serius yang pernah ia lalui adalah kencan
stereotip yaitu berkumpul dengan teman-teman dari pacarnya-Lucie
tak bisa memutuskan apakah itu normal atau aneh.

"Secara professional aku tak melihat diriku melakukan hal yang


berbeda. Aku senang dengan keberadaanku sekarang."

"Benarkah, kau tak punya keinginan untuk naik pangkat? Bagaimana


dengan menjadi direktur klinik daripada sekedar menjadi seorang
terapis?"

"Maksudmu dengan menyingkirkan Annie?" Lucie tertawa ketika


membayangkan skenario itu. "Wanita itu menjalankan kapal dengan
lebih ketat dibandingkan dengan kapten angkatan laut kebanyakan.
Kau sudah melihat bagaimana kantorku. Jika aku mengambil
posisinya, maka kita akan tenggelam lebih cepat daripada Titanic."

Stephen tertawa kecil bersama Lucie untuk beberapa detik, tapi


kemudian dia berkata, "Seriuslah, mengapa kau tak ingin lebih maju
daripada posisimu sekarang? Aku tak bisa membayangkan puas
hingga aku dapat melaju sejauh yang aku bisa dibidangku.
Maksudku, mengapa kau berpikir aku menghabiskan begitu banyak
malam untuk memecahkan kasus? Itu bukanlah untuk rasa hangat
dan halus yang aku dapatkan karena menolong pasien."
Lucie menggedikkan kepalanya ke samping. "Kau tak mengatakan
padaku bahwa kau tak begitu peduli pada pasienmu, kan?"

"Tentu saja tidak," katanya, menaruh tangannya ke dalam katong.


"Aku peduli pada mereka. Tapi aku peduli pada mereka ketika waktu
bekerjaku tanpa perlu bekerja lembur. Aku melakukan hal itu karena
aku ingin maju, ingin dipromosikan. Dan jika aku mendapat kasus
spesial, aku bisa menuliskannya dan mempublikasikannya ke salah
satu jurnal medis.

"Aku peduli pada orang-orang yang aku tangani. Aku dengan tulus
ingin membantu mereka atau aku tak akan pernah menjadi seorang
ahli bedah. Tapi aku tak merasa bahwa suatu kejahatan untuk perduli
pada diriku sen diri dan masa depanku juga."

Lucie membeku saat ia mengalihkan perhatiannya pada retak di


semen yang ia lalui. Dia selalu tahu bahwa Stephen tidak bekerja
hingga larut malam dengannya karena ingin berduaan dengannya,
tapi dia berpikir bahwa itu adalah bentuk dedikasi Stephen kepada
pasien mereka.

Lagipula, seperti yang Stephen katakan, itu bukan berarti dia tak
perduli pada pasien. Dia hanya bersungguh-sungguh pada karirnya.
Dia memiliki tujuan, yang mana terakhir kali Lucie periksa, adalah
sesuaru yang Lucie kagumi. Memberi Stephen senyum, Lucie
berkata, "Aku mengerti. Dan aku pikir sungguh hebat kau memiliki
aspirasi yang tinggi."

Ketika mereka berdua berhenti di depan gedung apartemen, Stephen


berbalik ke arah Lucie dan melangkahkan satu kaki ke anak tangga
yang paling bawah. "Kita melakukan itu lagi."
Lucie tiba-tiba merasa sangat gugup akan apa yang mungkin terjadi
beberapa menit terakhir dari kencan mereka, Lucie tak bisa
mengikuti jalan pikiran Stephen. "Apa yang kita lakukan?"

Senyum Stephen melebar. "Kita membawa pembicaraan kembali ke


sekitar pekerjaan."

"Oh, tak apa, aku tak keberatan. Itu adalah sesuatu yang biasa untuk
kita, jadi begitu alami jika percakapan antara kita berdua mengarah
kesana. Aku pikir kecocokan itu penting."

Stephen mengambil satu langkah ke arah Lucie dan perutnya terasa


seperti ingin jatuh. Stephen tidak setinggi Reid jadi Lucie tak perlu
mengadahkan kepalanya terlalu tinggi, dan fisiknya yang lebih kurus
tidak membuat Lucie merasa seperti sedang terintimidasi akan
keberadaannya, tapi fakta bahwa mata Stephen yang mengarah pada
bibirnya cukup membuat Lucie ingin kabur masuk ke dalam pintu.

Itu tidak benar, kan? Seharusnya Lucie menginginkan pria itu


menciumnya. Selama bertahun-tahun Lucie memimpikan momen
ini. Momen dimana Stephen melingkarkan lengannya di tubuh Lucie
dan seluruh dunia akan berhenti berputar ketika akhirnya bibir
Stephen menyentuh bibirnya.

Aku hanya gugup. Lucie sudah membangun momen ini dalam


pikirannya sejak lama hingga ia sulit menerima bahwa momen ini
akan segera terjadi.

"Well, jika ini bukanlah waktu yang tepat."

Lucie berbalik dan melihat Reid berjalan ke arah mereka layaknya


iklan berjalan untuk kampanye Just Do It dari Nike, tidak
mengenakan apapun kecuali celana atletik berwarna hitam dan
sepatu lari biru neon, tangannya bertumpu di pinggang dan bernapas
dengan keras pasca berlari. Ketika Reid berhenti sekitar dua kaki
jaraknya, lampu jalan diatasnya menyinari cucuran keringat yang
mengalir di atas bukit ditubuhnya sebelum menghilang ke balik karet
celananya yang terpasang rendah dipinggulnya.

Reid menjulurkan tangannya ke sisi kanan tubuh Lucie untuk


berjabat tangan dengan kencannya. "Senang bertemu lagi denganmu,
Mann."

Lucie tidak bergerak sedikitpun ketika mendengar Stephen


menggenggam tangan Reid dan melihat tangan mereka bergerak naik
dan turun beberapa kali dalam gerakan berulang. "Begitu juga
denganku, Andrews. Aku minta maaf kita tidak mendapat
kesempatan berbincang di pesta malam itu, tapi aku sedikit ketat
dalam pekerjaan."

"Bisa dimengerti." Mereka saling melepas, tapi Reid tiba-tiba


menunjuk pada kaki Stephen. "Hati-hati, sepertinya kau menginjak
sesuatu di sana." Dalam waktu dua detik untuk mengalihkan
perhatian Stephen, kemudian Reid merunduk dan berbisik di telinga
Lucie, "Kau akan kemasukkan lalat jika membuka mulutmu seperti
itu, Lu."

Lucie menutup mulutnya dengan keras hingga ia bersumpah


setidaknya tiga dari molarnya retak.

"Aku tak melihat apapun," Stephen berkata saat ia menegakkan


tubuhnya setelah melakukan inspeksi.
"Salahku. Itu pasti bayangan atau sesuatu." Reid memberikan Lucie
senyuman licik dan menyilangkan tangan berototnya di depan
dadanya. "Jadi, apakah kalian bersenang-senang?"

"Kami melewati waktu yang menyenangkan bersama-sama, seperti


biasanya," Stephen menjawab dari belakang Lucie. "Benarkan,
Lucie?"

"Oh, uh, tentu saja," katanya, mengangguk layaknya sebuah bobble


head di bagian depan sebuah kendaraan off-road. "Waktu yang
menyenangkan."

Demi Tuhan, Reid harus mendesak Lucie! Mengapa otak Lucie


memutuskan untuk absen di saat seperti ini? Stephen mungkin
berpikir bahwa ia imbisil. Atau lebih buruk lagi, tak meyakinkan. Ini
terlalu berlebihan, Lucie harus segera pergi dari tempat ini dan
masuk ke dalam apartemennya yang nyaman dan aman. Lucie
memutar tubuhnya seperempat putaran untuk mengawasi ancaman
yang akan mendatanginya. "Oh sial! Aku lupa aku harus memberi
makan Remy, ferret milik Mrs. Egan, karena dia sedang... uh...
mengunjungi saudara perempuannya."

"Ferret?" Stephen merasakan kekecewaan yang terlihat jelas pada


raut wajahnya. Reid menaikkan sebelah alisnya seakan menunggu
sisa dari cerita yang Lucie karang.

"Ya, ferret," kata Lucie. "Kau tahu, mereka kecil, sejenis musang.
Aku tak terlalu menyukai mereka, tapi Mrs. Egan memuja makhluk
kecil itu."

"Aku tahu apa itu ferret, Lucie, dan aku yakin makhluk itu tak kan
keberatan jika harus menunggu sedikit lebih lama lagi."
Sebelum Lucie bisa mengatakan kebohongan lainnya, Reid masuk
dengan mulus sekana mereka sudah merancang keadaan itu.
"Sebenarnya, tida. Remy mengidap diabetes jadi dia harus makan
dan mendapatkan insulin di waktu yang seharusnya. Aku ingin
melakukannya untuk Lucie, tapi aku mempunyai alergi."

"Ya!" kata Lucie dengan antusias. "Um, maksudku, Reid benar, aku
benar-benar harus pergi. Tapi aku mengalami waktu yang
menyenangkan, Stephen. Terima kasih banyak."

Senyuman yang Stephen berikan pada Lucie terlihat tegang


dimatanya, tapi Stephen bersyukur dia mengalah pada kondisi ini
jadi dia bisa mengajak Lucie pergi keluar lagi jadi mereka bisa
mendiskusikan hal yang lebih personal di waktu lain. Setelah setuju
dan mendapat pelukan canggung dari Stephen seperti yang Reid
lihat, Lucie akhirnya kembali ke tempat perlindungannya yang aman
untuk bershower dan berbaring di tempat tidurnya sembari
memikirkan ribuan hal dalam otaknya.

Reid tak mengikuti Lucie, tapi Lucie mendengar Reid masuk


beberapa jam kemudian. Mengetahui bahwa Reid berada di rumah
dan mendengarkan suara Reid yang sedang mandi di ujung loronglah
yang membuat otak Lucie akhirnya bisa beristirahat, dan Lucie
terjatuh ke dalam tidur yang tak bermimpi.
***

Bab 14

Petir bergemuruh di kejauhan, terdengar lebih keras di jalan-jalan


kosong dan membuatnya bergema. "Reid, awan-awan badai itu
berada di depan kita. Kemana kita akan pergi?"

Lucie sudah menanyakan pertanyaan yang sama tidak kurang dari


sepuluh kali dalam setengah jam terakhir dan ia tidak mendapatkan
apapun yang tampak seperti jawaban. Reid benar-benar bungkam
tentang tujuan kepergian mereka dan tetap akan seperti itu meskipun
kegembiraannya terlihat jelas. Ia membawanya ke belakang,
menuruni trotoar di sisi kota yang berseni, ia terus tersenyum rahasia
pada Lucie, senyuman kekanak-kanakan yang mempesona dan
membuat wanita itu tertawa layaknya gadis muda lainnya.

Sudah beberapa hari sejak ia berkencan dengan Stephen, dan Reid


hanya mendapatkan sedikit waktu bersamanya kecuali selama
pelatihan. Kemudian ia tiba-tiba membawanya untuk makan malam
dan kemudian melihat sesuatu. Lucie pikir mungkin Reid akan
membawanya pergi melihat sejenis pertunjukan, mengingat bagian
kota yang sudah mereka lewati, tetapi ketika akhirnya mereka
meninggalkan restoran, itu sudah pukul 11, jadi ia mulai merasa
buntu.

"Badai musim panas tidak pernah menyakiti siapapun. Hampir


sampai, ayolah." Katanya sambil menariknya ke dalam sebuah gang.

Ia menekan sepatu haknya, menyebabkan Reid sedikit mundur. "Hal


apa yang mungkin akan kau perlihatkan di lorong gelap seperti ini?"

Reid mendekati tubuh wanita itu dan merengkuh sisi wajahnya


dengan tangannya yang bebas. Ibu jarinya menelusuri goresan
pendek di sisi pipinya. "Apakah kau tidak percaya padaku, Lu?"
Lucie menatap mata cokelat itu, dan meleleh di perutnya dengan
panas yang berputar-putar di pusatnya, lalu ia berbisik. "Tentu saja
aku percaya padamu."

Bibirnya yang penuh membentuk sebuh senyuman. "Kalau begitu


tutuplah matamu."

Ia hampir saja menolak untuk melakukan hal semacam itu, tetapi


cara Reid menatapnya meluluhkan hatinya, dan ia menurunkan
kelopak matanya tanpa ragu-ragu.

Sebuah ciuman ringan menyentuh di setiap kelopak matanya sebagai


hadiah.

Reid menuntunnya menelusuri lorong dua puluh meter atau lebih,


kemudian berhenti. Lucie mendengar semacam suara gemerincing
kunci yang dan suara derit pintu berat yang terbuka. Sekali lagi pria
itu membawanya ke depan. Lucie benar-benar ingin membuka
matanya, tapi ia tidak ingin merusak kejutan Reid. Ia menggigit bibir
bawahnya ketika mengunggu Reid menutup pintu dan bergerak ke
sekitar ruangan, melakukan hal-hal yang tidak bisa di bacanya
dengan suara sementara ia terus memastikan Lucie tetap menutup
matanya.

Akhirnya, Reid mendekatinya dari belakang, melingkarkan salah


satu tangannya di pinggang wanita itu dan menutup mata Lucie
dengan tangannya yang lain. "Sial, aku harus memikirkan dua kali
tentang hal ini."

Dia bisa mendengarkan kecemasan dari suara pria itu. "Mengapa kau
harus memikirkannya lagi?"
"Karena aku tidak tau apa yang akan kau pikirkan. Aku takut kau
akan membencinya."

Lucie memiringkan kepalanya kesamping dan mengulangi


pertanyaan Reid sebelumnya. "Tidakkah kau percaya padaku?"
***

Ruangan itu gelap gulita dengan hanya satu cahaya dari sebuah
lampu sorot yang terpasang di atas sebuah balok penopang, dan
diatas balok itu terdapat sebuah papan gabus besar yang
menampilkan sebuah gambar pensil arang Lucie…telanjang.

Tidakkah kau percaya padaku?

Apakah ia percaya? Seni itu sangat personal dan sesuatu yang sangat
intim seperti ini – seperti pandangan yang ia berikan pada pria itu
ketika mereka bercinta – bahkan lebih. Ia memiliki hak untuk merasa
tersinggung, meskipun mungkin hanya mereka berdua yang pernah
melihat gambar ini. Namun pria itu sudah menggambarnya tanpa
seizinnya.

Reid ingin mengatakan bahwa ia tidak tau apa yang sudah


merasukinya hingga melakukan hal segila ini, seperti membuat
sketsa telanjang tubuh Lucie, tapi ia akan berbohong pada dirinya
sendiri. Sesuatu tentang diri wanita itu – tentang perasaan yang ia
rasakan ketika dengan Lucie – telah membangkitkan sisi kreatif yang
selama ini telah tertidur. Cukup bangkit hingga ia menemukan
sebuah pria yang mengizinkannya menggunakan beberapa ruang dan
persediannya untuk beberapa hari di tempat yang di sebut sebagai
studio seni dengan pertukaran beberapa tiket untuk pertarungan yang
akan datang.
Dan ini adalah hal yang menginspirasinya.

Jadi kepeduliaannya pada Lucie akan menerimanya sebagai hadiah


atau tidak, tidaklah terlalu penting baginya, karena menyembunyikan
hak ini darinya seperti rahasia kecil yang kotor di luar pertanyaan
itu. ia tidak bisa mundur sekarang. Tanpa nyali, tak ada
kemenangan.

Ia menghela nafas dalam-dalam, dadanya melebar seperti bahunya,


kemudian mengeluarkannya perlahan-lahan. "Oke," katanya sambil
menurunkan tangannya. "Buka matamu."

Lucie tersentak pelan sebelum menutup mulutnya dengan jari-


jarinya dan berbisik, "Ya Tuhan."

Apakah itu hal yang baik "Ya Tuhan" atau sesuatu yang buruk, Reid
masih belum bisa memastikan. Ia benar-benar mengharapkan pilihan
pertama.

Meskipun ia tau setiap goresannya dengan baik, ia tetap mempelajari


gambar itu dan mencoba untuk melihatnya melalui mata wanita di
sampingnya. Garis arang dan lengkungan itu menggambarkan
dirinya yang tengah di penuhi gejolak gairah di atas sofa,
punggungnya melengkung, wajahnya menoleh ke samping dengan
rambut yang tergerai di samping bantal. Kaki kanannya tergantung
di sisi sofa, telapak kakinya menekan lantai sebagai penahan.
Lututnya yang lain tertekuk tajam, jari-jari kakinya menunjuk dan
naik beberapa inci. Meregang di bawah tubuhnya, tangan kanannya
menghilang di antara pahanya yang ketat, sedangkan tangan kirinya
terulur untuk menangkup payudara kanannya, putingnya yang
membengkak mengintip di antara jari-jarinya yang menyebar.
Bagian favoritnya adalah wajah Lucie.

Poni tebal menutupi dahinya yang selalu berkerut ketika ia


mengalami ledakan kenikmatan. Dengan mata tertutup, bulu
matanya terlihat elegan di atas pipinya yang memerah karena
lonjakan kecil. Mulutnya tampak penuh, ciumannya – bibirnya yang
penuh tampak terpisah seakan-akan baru saja terpatahkan dari
segelnya. Dan bintik berbentuk hati di sudut matanya, sebuah detail
kecil yang mungkin tidak akan di sadari orang lain jika itu hilang,
tapi bagi Reid itu adalah pembeda antara Lucie dengan wanita-
wanita lainnya.

Ia kembali pada dirinya ketika Lucie melangkah maju pada kanvas


itu dengan pandangan seakan-akan terpesona. Seakan-akan ia tengah
menikmati gambar di sebuah museum seni, Reid masih berdiri di
pinggir cahaya dengan tangannya di dalam saku celana jinsnnya dan
melakukan hal yang sama dengan wanita itu.

Malam ini Lucie mengenakan sebuah gaun pink dengan tali kecil,
korset yang cocok dengan sarung tangannya, menjepit bagian
pinggang kecilnya dan tergantung sedikit melebar di pinggulnya
dengan tarian melambai di sisinya setiap ia bergerak.

"Reid, aku…" dia berhenti, dan Reid benar-benar takut akan hal
terburuk.

"Bagaimana menurutmu? Apa ini tidak apa-apa; kau bisa


mengatakan yang sebenarnya padaku."

Wanita itu menoleh dengan mata yang berkaca-kaca.

"Ini luar biasa. Kau sangat berbakat." Katanya, sambil kembali


menatap gambar itu. "Kau membuatku…" Ia menghirup nafas
dalam-dalam dan membebaskannya dengan gemetar. "….indah."

Langkahnya bergetar ketika ia berjalan mendekati Lucie dan


membalikkan tubuhnya, memeluknya dengan erat. Satu tangannya
menyentuh wajah Lucie dan menyeka air matanya yang menetes di
tulang pipinya. "Di situlah kekeliruanmu sayang. Aku membutuhkan
waktu beberapa saat untuk mencoba sebelum aku bisa menangkap
kecantikanmu."

Ia tersenyum lemah. "Kata-katamu sangat manis, tapi dalam sejuta


tahun pun aku tidak akan terlihat seperti itu."

Kilat menyambar di luar ruangan itu disertai sambaran Guntur, dan


hujan mulai menetesi jendela belakang bagai lagu sumbang. Badai
tampaknya semakin membesar bersamaan dengan rasa frustasinya.

Reid selalu tersedak setiap kali ada orang-orang yang membuat


wanita itu merasa kurang percaya diri. Tidak hanya satu titik dalam
dirinya yang terlihat indah dalam gambar pria itu, tetapi semua
tentangnya – humor, kecanggungan, kasih sayang, dedikasi – semua
itu, membuatnya begitu jauh lebih unggul dari setiap wanita yang ia
kenal.

Baru saja Reid akan menjelaskan hal yang sebenarnya kepadanya,


sebelum Lucie kembali menambahkan. "Maksudku, ayolah. Jika aku
terlihat seperti itu, seharusnya Stephen melilitkan sebuah cincin di
jari ku."
***

Kegilaan sementara. Itulah yang terpikirkan oleh Lucie ketika ia


memikirkan mengapa ia harus mengatakan hal yang sensitif kepada
Reid.

Tidak peduli jika sebagian dari situasi itu adalah misinya untuk
berakhir dengan seorang pria lain, dan kenyataan bahwa pria itu
tidak memiliki perasaan apapun terhadap hubungan ganjil mereka.
Reid sudah memberinya sebagian dari dirinya sendiri dengan
menciptakan karya seni yang mengagumkan ini untuknya –tentang
dirinya- dan ia baru saja menampar pria itu dengan membawa
Stephen dalam malam mereka dengan menyebutkan namanya.

Lucie melihat kilatan kemarahan di matanya, otot-otot di rahangnya


melentur beberapa kali seakan ia tengah berusaha menahan dirinya
agar tidak membuat hal-hal yang akan membuat wanita itu
ketakutan, dan yang belum layak ia dapatkan.

"Reid, aku minta maaf, aku—"

Ia tidak menunggu untuk sisanya, tetapi segera memutar tubuhnya


dan berjalan membanting pintu ketika ia keluar menerjang badai.
Lucie mengejarnya, namun berhenti tepat di luar studio ketika
melihatnya berjalan di trotoar menuju jalanan, kemeja dan jasnya
sudah setengah basah.

"Reid, tunggu, kembali!"

Reid menghentikan langkahnya, namun tidak berbalik. Dengan


tangan mengepal di sisi tubuhnya dan bahu lebarnya yang naik-
turun, ia tampak liar dan berbahaya, dan Tuhan menyelamatkan
Lucie, seksi. Tulang punggungnya bergetar dan ia mulai merasa
tubuhnya menggigil, namun itu bukan dari dinginnya hujan yang
membasahi kulit dan rambutnya. Bahkan kemarahan pria itu mampu
mempengaruhinya di tingkat yang paling dasar, dan hal itu
membuatnya senang sekaligus frustasi.

Ketika ia berbalik dan berjalan kearahnya dengan sinar mengancam


di matanya, Lucie bertanya-tanya apakah ia seharusnya tidak
membiarkan pria itu pergi dan meminta maaf ketika reid
memundurkan tubuhnya hingga ke batu bata di belakangnya. Ia tau
ia harus meminta maaf lagi, ia harus mengatakan sesuatu, apapun
itu, tetapi kata-katanya lenyap ketika ia melihat sisi lain dari sosok
reid yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Sikapnya itu tampak
seperti binatang, dan tentu saja itu bukanlah sejenis hal yang lucu
dan bisa di peluk.

"Ada apa dengan bajingan itu hingga membuatmu tidak bisa lepas
darinya?" teriaknya. "Aku serius, tolong katakan, karena aku sudah
berusaha untuk mencari tahu dan aku tetap tidak bisa
menemukannya!"

Tertarik? Jika ada yang telah membuatnya tertarik itu adalah Reid.
Itu seharusnya menjadi sebuah hal yang biasa, tidak ada yang lebih
dari pada pelajaran untuk menjadi wanita yang bisa menarik hati ahli
bedah ortopedi tertentu sehingga mereka bisa hidup bahagia
selamanya dalam hubungan yang memungkinkan dan didasarkan
pada kepentingan bersama dan rasa toleransi.

Seperti sekarang, dia tidak yakin dengan apa yang ia inginkan saat
ini. Sebenarnya itu adalah sebuah kebohongan. otaknya mengatakan
bahwa ia menginginkan Stephen. Tetapi tubuhnya – dan Lucie takut
jika hati itu juga - meneriaki nama Reid.

Ia menggelengkan kepala, beberapa helai rambutnya menampar


pipinya. Air mata yang panas tumpah di pipinya, dan ia berdoa agar
mereka akan membaur dengan tetesan hujan, hingga ia tidak terlihat
sesedih sebagaimana yang ia rasakan. "Aku tidak tau apa yang ingin
kau dengar dariku."

Puncak dari rambut elang-imitasinya turun sedikit diatas dahinya,


terasa berat dengan air yang mengalir dari ujungnya. Kemejanya
yang berwarna abu-abu pucat dengan garis-garis perak yang sudah
terbuka di bagian krah dan manset yang di gulung di atas otot-
ototnya, sekarang sudah basah kuyup dan menempel di tubuhnya.

Reid meletakan tangannya di dinding di antara kepala Lucie, dan


masuk ke dalam privasinya lebih dalam lagi. Ia memenjarakan
wanita itu dengan tatapannya yang begitu kuat dan Lucie tampak
tidak berdaya untuk berpaling, dan ketika ia berbicara dengan kata-
katanya yang tajam. "Apakah kau juga memikirkannya ketika aku
berada di dalam tubuhmu, Luce? Apakah kau mengharapkan
miliknya lah yang berada di dalam tubuhmu bukan milikku?"

Lucie sudah melukainya. Terutama sisi lembutnya. Sisi yang


membuatnya menjadi teman yang bijaksana dan penuh perhatian
seperti seorang kekasih. Sisi yang menyentuh tubuhnya seakan jari-
jarinya memuja setiap lekukan tubuhnya, kemudian
memindahkannya ke dalam kanvas yang sangat berharga itu.

Dan sekarang sisi petarungnya sudah mengambil alih, memperkuat


pertahanannya dengan pertanyaan yang keras dan kasar untuk
menyamarkan luka-lukanya. Tapi meskipun kata-kata kejam itu
mengalir dari mulutnya, itu hanyalah kata-kata sosok lain di
belakangnya. Dan untuk pertama kalinya Lucie benar-benar
mengerti dengan dualitas alami yang di miliki Reid.

Lucie mendorong semua pikiran tentang apa yang ia butuhkan dan


memfokuskan pada apa yang Reid butuhkan. Ia sudah memiliki
keyakinan itu ketika tangannya merengkuh wajah Reid, jenggot
pendeknya menggelitik telapak tangannya.

"Tidak pernah." Kedipan terkejut sesaat terlihat sebelum topengnya


kembali terpasang di tempatnya. "Saat kau menyentuhku, aku
menyerahkan diriku padamu Reid," ia meregangkan jari-jarinya dan
mencium bibirnya. "Setiap.Saat."

Guntur kembali menggelegar di atas kepala mereka seperti lampu


sorot dari kilat yang tampak sesuai dengan sosok animalisnya dalam
bayangan dan cahaya yang mengungkapkan niatnya. Lucie hanya
memiliki beberapa saat untuk mempersiapkan dirinya sebelum mulut
Reid turun dan menyentuhnya dalam serangan yang mematikan.

Ia mengerang dan membuka mulutnya pada Reid, menikmati


pusaran panas lidahnya ketika tangannya menyentuh pantatnya dan
mendorongnya terhadap bagian yang kaku dan tegang di balik
resletingnya. Lucie melengkungkan tubuhnya untuk melenyapkan
setiap molekul udara yang memisahkan mereka, membuat kontak
sebanyak mungkin dengannya, seakan-akan ia akan mati tanpa hal
itu.

Reid menyelipkan tangannya di antara mereka, menggeserkan celana


dalamnya ke samping, dan menorong dua jarinya lebih dalam. Lucie
memecahkan ciuman mereka, tidak bisa menahan teriakannya
seperti badai di atas mereka ketika dorongan tiba-tiba yang
mengguncang intinya.

"Sialan Luce," katanya dengan kasar. "Aku senang karena kau selalu
sangat basah untukku. Aku tidak pernah merasakan sesuatu yang
sepanas dan seketat ini. Aku ingin hidup di dalam dirimu, dan tidak
pernah meninggalakanmu."
Lucie tidak mungkin membalas kata-kata Reid, jadi ia hanya
merengek memohon dengan menggerak-gerakan pinggulnya dan
membuatnya bergerak. Dan itu berhasil, tapi tidak sesuai dengan apa
yang ia maksudkan. Bukannya meraba tubhnya seperti yang Lucie
pikir akan di lakukannya, ia malah menariknya keluar dan
meninggalkannya dalam keadaan kosong begitu saja.

"Reid please…"

"Jangan khawatir sayang, itu hanya untuk sesaat." Lucie melihat


Reid merobek celana jinsnya hingga terbuka dan mendorong mereka
hingga membuat ereksinya terlepas. Panjang dan tebal, berpuncak
runcing dengan urat dan di tutup dengan kepala yang halus bulat,
tiba-tiba Lucie memiliki keinginan untuk membawanya ke dalam
mulutnya, namun Reid sama sekali tidak memberikan kesempatan.

Ia menekan jari-jarinya ke pipi Lucie, dan mengangkat tubuhnya,


dengan cekatan memindahkan pakaiannya ke samping, dan
membawa dirinya sendiri ke pangkal Lucie. Lucie membenamkan
wajahnya di leher Reid dan menjepit bibir bawahnya ketika sensasi
kenikmatan itu menyentuh intinya. Dengan cepat Reid mundur dan
mendorongnya ke depan, mengatur kecepatan yang di rasa perlu
untuk kelangsungan hidup mereka.

Aroma mineral batu basah bercampur dengan aroma bunga rambut


basah kuyup Lucie, dan parfum tajam dari kemeja Reid. Suara
gemuruh badai dan hujan menyertai mereka dan membungkus
mereka, seakan-akan hanya mereka yang berada di atas bumi ini.

Mulutnya merusak bibir Lucie, rahangnya, tenggorokannya,


bahunya. Ujurng-ujung jarinya mencengkram bagian samping di
tempat ia menembusnya, tangannya yang besar menyebabkan
dirinya terpisah dan memungkinkannya untuk masuk lebih dalam
lagi.

Lucie menekan kukunya di tengkuk Reid, meniru sengatan batu bata


di punggungnya. Hujan membasahi wajah mereka, namun mereka
sama sekali tidak berkedip ketika mereka saling menatap satu sama
lain, menghubungkan jiwa mereka yang kini terhubung melalui
tubuh mereka. Bahkan dalam sejuta tahun ia tidak akan pernah bisa
memikirkan pria lain ketika ia sedang bersama Reid. Dia sama sekali
tidak mampu berpikir hal lain ketika berada di dalam pelukan pria
itu.

Semuanya terasa mencair kecuali saat ini, pria ini yang memiliki
kekuatan untuk mempengaruhinya hingga tidak ada lagi hal yang
terpenting kecuali caranya mengisinya, merenggangkannya, dan …
melengkapinya.

Semuanya terasa terlalu cepat ketika ia merasakan klimaksnya


datang. Ia tidak ingin ini berakhir. Ia ingin hal ini terus berjalan
selamanya. Ia menggertakan giginya, mncoba menahannya, tapi hal
itu terus bangun dan bangun.

"Lepaskan sayang. Aku ingin merasakan kau meremas kejantananku.


Datanglah untukku." Geramnya.

Dalam setengah lusin pukulan lainnya, giginya turun ke lehernya,


dan kebahunya hingga akhirnya Lucie kehilangan kontrol
terakhirnya. Mereka datang secara bersamaan dalam sebuah ledakan
dahsyat. Ia menggeram seperti binatang buas yang muncul di lorong
gelap ketika ia menumpahkan benihnya di dalam bagian tubuh Lucie
yang menegang.
Lucie hancur berkeping-keping, menari dengan gemuruh awan di
atas mereka sebelum kembali jatuh ke bumi dengan hujan… kembali
kepada reid.

Ketika mereka bisa kembali bernafas, dengan lembut Reid


menurunkannya ke tanah, meletakan tangannya di bahunya hingga
wanita itu bisa menahannya. Ia menangkup pipinya, mencium
bibirnya dan berkata. "Ayo pulang dan berteduh dari hujan ini,
hmm?"

Lucia tersenyum kecil dan mengangguk. "Bagaimana dengan


gambarnya? Ini akan hancur di tengah hujan."

"Kita bisa meninggalkannya di sini dan mengambilnya di hari yang


lain. Ayo, aku akan membawamu untuk mandi air panas dan lalu ke
ketempat tidur."

Lucie mengangkat sebelah alishnya pada Reid. "Kau belum merasa


puas?"

Reid menyeringai dan berkata, "Aku tidak pernah berpikir bahwa


aku akan merasa puas dengan dirimu, Lucie, tapi tidak, bukan itu
maksudku. Aku ingin membawamu pulang, merawatmu, dan
menempatkanmu ke dalam ranjang hangatmu hingga aku bisa terus
bersamamu sampai matahari terbit."

"Oh." Sebuah jawaban sarkastis, dengan garis menyimpang. Sebuah


lelucon buruk, tapi hal itu adalah respon yang selalu ia harapkan
darinya. Tetapi tidak dengan sesuatu yang akan membuatnya seperti
orang bodoh.
Reid mengunci studio, mencium puncak kepalanya, dan
merangkulnya saat mereka berjalan kembali ke mobil.

Apakah mungkin secara fisik bisa merasakan keadaan dimana kau


kehilangan hatimu untuk seseorang? Karena Lucie cukup yakin ia
baru saja kehilangan miliknya, dan seharusnya bagian itu terasa
sakit secara harfiah.
***

Bab 15

"Terima kasih, Fritz. Bisakah kau membukakan bon untukku


(pending bill)?"

Pria itu mengerlingkan matanya sebagai balasan sebelum menemui


pelanggan bar lainnya saat Lucie mengambil segelas besar bir dan
membawanya ke ujung ruangan. Vanessa sedang berbicara
ditelepon,berdebat dengan seseorang seperti biasanya.

"Tentu saja tidak. Aku tidak peduli dengan apa yang mereka
tawarkan, kita belum memutuskan apapun. Dengar, aku sedang
berada di rapat penting sekarang jadi aku akan menghubungimu
nanti. Uh-huh, buh-bye." Vanessa menepiskan rambutnya yang ikal
kebelakang bahunya dengan kasar ia menaruh ponselnya kedalam
tasnya, dia mendesah dramatis tanda kelegaan saat mereka
melakukan ritual yang biasa mereka lakukan saat menyatukan gelas
mereka dan bersulang untuk kesehatan mereka. "Jadi,apa yang
terjadi? Kau tidak pernah meminta RMD, terakhir kali kau
memintanya adalah saat kau sedang stress saat kau menghadapi
tugas akhir semester."
Benar. Biasanya Vanessalah yang selalu mengadakan Rapat Minum
Darurat sesuai dengan drama terakhir yang di alaminya,entah itu
masalah pribadi atau masalah pekerjaan. Vanessa mempunyai bakat
dalam melodrama, bakat yang bisa membuatnya terlihat luar biasa
saat berada di ruang sidang, tapi itu juga bisa berarti ia sedang
berada di puncak kesuksesannya atau sedang tenggelam dalam
kesedihan. Lucielah yang selalu menjadi penyeimbang. Sehingga
mereka bisa saling melengkapi satu sama lain.

Lucie menenggak kembali minumannya untuk menambah


keberanian dirinya dan akhirnya untuk pertamakalinya dia
mempunyai cukup kekuatan untuk mengatakan apa yang selama ini
bergelut di kepalanya. "Aku rasa aku jatuh cinta pada Reid."

Temannya mengeluarkan oops yang menjengkelkan seperti ia baru


memenangkan hadiah undian beberapa ratus dollar yang tidak
pernah ia duga sebelumnya. "Aku pikir kau bilang ada masalah, tapi
ini luar biasa! Selamat, sayang, dia adalah salah satu spesies pria
yang baik. Mm-mm-mm. Seperti apa dia saat di ranjang? Aku
bertaruh dia pasti fantastiskan? Sial! Aku mau setiap detailnya,
termasuk panjang, besarnya, dan apakah bentuknya agak bengkok
kesamping?"

"Demi Tuhan, bisakah kau menurunkan volume suaramu?" Lucie


berbisik. "Aku tidak akan memberikan detail anatomi tubuhnya
padamu."

Mimik wajah yang hebat, memohon dengan mata kucingnya.


"Jangan membuatku memohon Lucie. Pria di kota ini bahkan tidak
sepadan dengan usaha untuk merobek foil kondom, belum lagi
kekecewaan yang kita dapat setelah itu. Kau harus mengatakan
padaku seperti apa rasanya menunggangi kuda jantan seperti dia."

Lucie menggosok hidung dan mulutnya sampai sampai ia bisa


dengan mudah menelan birnya tanpa tersedak."Apa yang
membuatmu berpikir kalau kami telah berhubungan seks?"

"Sekarang kau menghina kepandaianku."

Lucie mendengus. "Lebih kepada indra keenammu yang aneh."

Vanesa mengangkat bahu. "Tomat, tohmat.Ayolah katakan sesuatu."

Lucie melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada yang


mendengar lalu ia berkata. "Ya, oke. Kami sudah..."

"Bersetubuh seperti kelinci?"

"Berhubungan intim," Lucie menatap dengan tatapan yang tak bisa


dibantah. "Dan itu..."

"Fenomenal, Lain dari pada yang lain, cukup untuk membuatmu


dengan cepat membungkuk dan membuka kedua kakimu setiap kali
dia menatapmu?"

Lucie menatap dengan mulut menganga dan matanya melebar. "Itu


cukup keterlaluan, bahkan untukmu, Nesie."

"Maaf, aku terbawa suasana. Lanjutkan."

"Itu indah."

Vanessa memasang wajah seperti ia sedang menelan bir basi.


"Indah? Kau tidak bisa mengatakan kata sifat yang lebih baik lagi
dari indah?"

Lucie menatap langit-langit untuk sesaat fikirannya melayang, lalu


kembali pada wanita yang kecewa di hadapannya. "Tidak ada. Itu
sangat indah,dalam arti yang sebenarnya."

"Oke, baiklah, aku mengerti. Aku harus menunggu sampai kau


mabuk sebelum aku bisa memperoleh informasi lebih darimu." Lucie
tertawa dan berterima kasih pada anak perempuan Fritz saat ia
membawakan minuman tepat di saat mereka telah menenggak habis
minuman mereka.

" Jadi kenapa kenapa kau berfikir jatuh cinta pada Reid adalah hal
yang buruk? Aku pasti telah melewatkan sesuatu karena aku tidak
menemukan sesuatu untuk mendukung teori tersebut."

"Apa maksudmu?"

"Well, aku memang baru berkencan beberapa orang pria, tapi kau
dan aku tahu bahwa aku sangat ahli dalam menilai karakter
seseorang. Reid adalah pria yang sempurna." Vanessa mengangkat
tangan kirinya dan mulai membuka satu persatu jarinya sesuai
dengan karakter yang ia ucapkan. "Sangat Menarik, lucu,
mempesona,kaya, sangat menarik, sukses, berteman dengan
kakakmu, dan dia jelas telah membakar dirimu. Apakah aku sudah
mengatakan dia sangat menarik?"

"Tidak, kupikir tidak," katanya masam." dan apa maksudmu


membakar? Itu terdengar seperti sesuatu yang akan di ucapkan oleh
nenekku."
Vanessa memutar matanya. "Baiklah aku mungkin tadi terdengar
agak vulgar,sekarang aku akan membuatnya menjadi menjadi lebih
sopan. Pria itu jelas telah membuatmu terangsang. Apa itu terdengar
jauh lebih baik?"

"Yah, itu sempurna. Seperti apa yang ku inginkan dari seorang pria
hanyalah sekedar seks."

"Bukan itu maksudku," Ucap Vanessa mata hijaunya melembut."Aku


melihat bagaimana ia menatap mu. Dia terpesona padamu. Seperti,
benar-benar terpesona padamu.Kenyataannya, aku tidak akan
terkejut jika dia telah—"

Lucie mengangkat tangannya. "Jangan. Jangan katakan karena dia


tidak begitu.Dia tidak seperti itu."

"Bagaimana kau tahu?" Vanessa menyandarkan punggungnya di


sandaran kursi menatap temannya dengan tatapan tajam.

"Ayolah, Nessie, kau bukan ibuku. Kau tidak perlu menenangkan


egoku. Laki-laki seperti Reid Andrews tidak akan jatuh cinta pada
gadis sepertiku."

"Kenapa sangat sulit bagimu untuk percaya bahwa kau pantas untuk
dicintai oleh pria yang baik? Kau adalah orang yang sangat cantik
yang aku tahu, luar dan dalam. Dia bodoh jika dia tidak jatuh cinta
padamu,"

Lucie mengambil gelasnya dan menenggak beberapa tegukan.


Apakah Vanessa benar? Apakah Reid benar-benar mempunyai
perasaan padanya? Ia memikirkan kembali apa yang telah terjadi
selama beberapa minggu terakhir ini, benaknya menyusun katalog
dalam kolom-kolom. Hal yang akan dilakukan teman versus hal
yang akan dilakukan kekasih. Kolom kekasih dengan cepat terisi
sedangkan kolom teman tak beranjak dengan statistik rendah yang
menyedihkan. Kupu-kupu menyebar di dasar perutnya saat ia
mendongak menemukan senyum sombong di wajah Nessie. Ia
menggelengkan kepalanya.

"Bahkan jika kau benar, bagaimana itu bisa terjadi? Kami benar-
benar bertolak belakang. Aku sudah melakukannya dulu, ingat?"

"Tidak," katanya mencondongkan badannya kedepan untuk


menekankan, "apa yang kau lakukan adalah terjebak dengan
pengecut yang tidak benar-benar menyukai siapapun selain dirinya
sendiri. Hubungan itu gagal karena pengecut itu tidak dapat
menyimpan kemaluannya di didalam celananya, Lucie, bukan karena
dia bisa menyimpan sapi dan kau suka memakannya."

"Amin, Red!" Fritz mengantarkan bir baru dan menaruhnya dengan


keras dan menahan tangan di meja. "Aku tidak tahan dengan banci
dan orang yang hanya memikirkan kepuasannya sendiri." Ia
menggoyangkan jari yang rapuh saat dia berbicara kepada mereka
berdua. "Jangan pernah percaya pada pria yang tidak minum bir.
Seorang pria yang hanya meminum minuman yang hanya akan
membuat dirinya berakhir menjadi manja bukanlah seorang lelaki.
Dia mungkin seperti memberitahu ukuran buah zakarnya saat dia
sedang memesan minuman,jka kalian mengerti maksudku."

Para gadis tertawa dan berterima kasih padanya untuk menyuarakan


nasihatnya, meyakinkannya bahwa mereka akan memegang
kebijakan itu untuk tiap pria mulai sekarang.

"Well, baiklah. Yang satu ini aku yang traktir asalkan kalian
memberikanku sesuatu manis." Pria tua itu membungkuk membuat
mereka tertawa, mereka lalu memberi ciuman di pipinya yang
tertutupi janggut pendek putih. Frizt lalu berdiri dan berkata, "Itu
adalah cara yang sempurna untuk mengakhiri malam ini. Aku akan
naik keatas dan membiarkan michelle berjaga sampai tutup malam
ini. Kalian harus berlaku baik, kalian dengar?"

Setelah mereka berjanji dan mengucapkan selamat malam, Lucie


berpaling pada Vanessa dengan kegembiraan yang sama, ketakutan
juga tekad." Oke, katakan padaku apa yang harus kulakukan."

Mata hijau Vanessa terlihat benar-benar berbinar dengan nakal dan


seringai di mulutnya. "Dia sudah memberikanmu pelajaran
menggoda, benar?"

"Ya," jawab Lucie waspada.

"Mudah saja." Vanessa meletakkan lengannya dimeja di depannya


dan bersandar. " Kau pulang ke rumah, gunakan pelajaran itu dengan
baik, dan tunjukkan pada guru bagaimana kau telah menjadi murid
yang baik."
***

Reid membuka pintu gym lamanya dan berjalan pelan. Emosi yang
campur aduk dari bau yang familiar dan suara yang membawanya
ke masa lalu. Masa ketika ia masih muda dan berada dalam kuasa
ayahnya. "Ada masalah apa denganmu? Untuk terakhir kalinya
kukatakan, angkat tanganmu!"

Gema suara ayahnya di ruangan besar dan terbuka seperti asam


laktat yang memenuhi otot-ototnya, membuatnya tegang dan nyeri.
Ia mengikuti suara yang keluar dari anak SMA di atas ring, sedang
berlatih dengan seorang pria yang sudah menjadi angota tim football
di kampusnya.

"Perhatikan cara menjatuhkannya! Dia akan me—" pria yang lebih


besar melempar tubuh bagian bawah anak itu, membelitkan
tangannya diseputar pinggulnya, dan mentakelnya sampai jatuh. Stan
Andrews menyuarakan waktu habis dan para petarung memisahkan
diri, yang satu menghirup nafas dengan susah payah, yang lain
tampak bosan.

"demi Tuhan Peterson, kenapa aku bahkan repot-repot denganmu?"

"Maaf, Pelatih," katanya, merendahkan tatapannya ke bawah.

"Masih menggertak anak-anak kulihat," Reid berkata dengan rahang


kaku.

Kepala pria tua itu tidak bergerak banyak, tapi matanya menatap dan
menyipit pada anak lelaki satu-satunya seperti sedang mengukur
musuhnya sebelum akhirnya ia tegak dan menyilangkan tangannya
di dada. "Well,well, jika itu bukan anak yang hilang."

"Sudah lama sejak kau membaca Alkitab, Pop. Anak yang hilang
kembali ke rumah setelah tersesat dalam hidupnya dan meminta
pengampunan ayahnya. Aku tidak kembali. Hanya berkunjung. Dan
semua yang sudah kulakukan adalah untuk menjalani hidup yang
sudah kau ajarkan kepadaku jadi tidak ada alasan untuk meminta
maaf."

"Oh, kau tidak, begitu? Bagaimana dengan meminta maaf atas apa
yang telah kuberikan padamu—semua pengetahuan, semua latihan,
semua dedikasi—dan meninggalkanku diam-diam saat kau hidup di
kehidupan mewahmu di liga besar."

"Aku tidak meninggalkanmu," bentak qReid. Aku menawarimu


untuk keluar bersamaku. Aku punya rumah besar yang bisa kau
gunakan untuk dirimu sendiri. Kau menolaknya."

Stan mendengus. "hidup disana menjadi apa? Seorang mantan


petarung yang hidup dengan kemurahan hati anaknya? Tidak terima
kasih. Aku seharusnya menjadi manajermu."

Reid menggeretakkan rahangnya dan mengulang mantra di


kepalanya beberapa kali sebelum bebas berbicara lagi. "Dengar, aku
tidak datang kesini untuk berdebat. Aku sedang disekitar sini dan
kupikir akan menyapa—bicara—tapi jika kau terlalu sibuk tidak
apa-apa."

Setelah beberapa saat saling menatap, ayahnya akhirnya


mememecah kebisuan.

"Perteson. Grady. Pukul karung dulu. Kau," katanya menunjuk Reid,


"Ikut denganku."

Reid mengikuti ayahnya masuk ke kantor kecil yang terdiri dari


meja besi usang dan beberapa meja lipat di depannya. Stan duduk di
balik meja di kursi vinyl penyok dengan beberapa lakban perak
untuk menambal pinggirannya yang sudah robek. Reid memutar
salah satu kursi dan menungganginya, menyandarkan tangannya ke
belakang. Dirinya mengatakan pada diri sendiri untuk bangkit dan
pergi. Ia tahu ia tidak akan mendapatkan kehangatan dan kelembutan
dari ayahnya. Setidaknya, itulah yang terjadi beberapa tahun silam.
Mungkin ayahnya akan melembut setelah bertahun-tahun.
Yah, dan mungkin ibunya akan melewati pintu dan berkata
seharusnya ia tidak meninggalkan mereka seperti sepasang sepatu
yang sudah tidak ia pedulikan lagi.

Salah satu hal yang ayahnya ajarkan pada Reid adalah untuk
membaca bahasa tubuh orang.Jika kau memperhatikannya—apakah
di pertarungan atau diluar—kau nyaris bisa mengantisipasi gerakan
lawan atau reaksi mereka padamu.

Pria tua itu bersandar di belakang kursinya dan menyilangkan


tangannya di dadanya yang rata. Ia waspada dan tidak senang
dengan kejutan kunjungan anaknya. "Jadi kenapa kau kesini? Aku
yakin kau tidak menginginkan petunjuk dengan semua pelatih
fantastis yang kau miliki di Vegas. Kau datang untuk memamerkan
kesuksesanmu?"

"Astaga, Pop, tidak bisakah kau menyingkirkan kebencianmu satu


menit saja?" Ketika yang di yang dilakukannya oleh ayahnya hanya
mendengus, Reid bernafas dalam dan mencoba untuk sopan. "Aku
akan ada pertarungan. Itu adalah pertarungan untuk memenangkan
kembali sabukku dari Diaz."

"Yah, aku tahu itu semua." Stan menunjuk lengan Reid. "Bahumu
sudah sembuh?"

Kenyataan bahwa ayahnya tahu tentang pertarungannya dan lukanya


tidak seharusnya mengejutkannya. Apabila ia menjadi pelatih yang
aktif itu masuk akal bahwa ia tetap mengikuti berita olahraga. Tapi
jika sialan anak kecil di dalam Reid tidak membumbung karena
bangga mengetahui ayahnya tahu tentang kehidupannya. Anak
bodoh.
"Yah, hampir seratus persen. Aku sudah bekerja dengan PT yang
terbaik. Ia mengerjakan di setiap otot. Sebenarnya, kau tahu siapa
dia. Lucie, adik Jackson Maris. Kau ingat?"

Reid sengaja membawa nama keluarga Maris pada ayahnya untuk


sebuah alasan. Saat Reid meluangkan waktu ia berada di rumah
jackson, hubungan antara orang tua sudah menegang.

Ayahnya menggosok rahangnya dengan satu tangan mencoba


mengingat kembali. Lalu mendengus. "Sedikit. Agak kurus dan
canggung kalau ingatanku benar."

"Tidak lagi," kata Reid dengan senyum simpul. "Dia sangat cantik,
tidak perlu disebutkan bahwa dia luar biasa. Tapi, yah, salah
satunya."

Stan membungkuk, matanya menyipit, "Kau mencintainya atau


semacam itu?"

"Tidak, bukan seperti itu. Maksudku, yah, aku sangat peduli padanya
—" Reid mengumpat saat menghembuskan nafasnya. "Aku berpikir
tentang kemungkinan mencoba untuk memulai sebuah hubungan.
Lihat saja kemana arahnya."

Stan menunjuk dengan jarinya. "Sekarang dengarkan aku, anak


muda. Kau mungkin sedang berada di puncak karirmu, tapi aku akan
dikutuk jika kau tidak bisa menjamin untuk tetap berada di atas
selama yang kau bisa dengan usia yang kau miliki. Kau bodoh sekali
untuk membuang semuanya hanya untuk seorang wanita."

Reid menatap pria tua di hadapannya dan menggertakkan rahangnya


untuk mencegah dirinya berteriak dan membuat drama. "Aku tidak
membuang apapun. Banyak yang tetap berada diatas dan mempunyai
hubungan sementara berkarir di UFC. Beberapa malah ada yang
menikah."

"Dan berapa dari"—Stand berhenti untuk membuat catatan di setiap


kata berikutnya—"hubungan mereka yang bisa bertahan? Aku akan
memberitahumu sekarang, disana hanya ada dua macam wanita.
Tipe yang menyukai gaya hidup, ketenaran, dan suka berpergian. Itu
yang mereka bangun dan itu sesuai dengan semua hal yang mereka
inginkan untuk memilikinya. Tapi segera setelah semuanya yang kau
miliki mengilang, mereka pun akan pergi meninggalkanmu."

"Jadi kau memiliki wanita yang yang tidak menginginkan kehidupan


itu. Mulanya mereka mungkin memang tidak menginkannya, namun
kemudian mereka akan mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa
keadaan akan membaik dan hubungan itu membutuhkan
pengorbanan.Tapi kemudian mereka meyadari mereka pantas
memiliki lebih dari pada apa yang yang bisa kita berikan, dan
kemudian mereka pergi, juga."

Reid berdiri dan mendorong kursi menjauh. "Dengar, hanya karena


istrimu meninggalkanmu, bukan berarti seluruh dunia dihukum
dengan takdir yang sama. Lucie bukan orang seperti itu."

Stan menggebrak mejanya saat beranjak, membabi buta, dan berdiri


tepat di wajah Reid. "Itu yang kau pikir! Kau berfikikir kau
mengenalnya. Mencintainya dengan seluruh yang kau punya dan
kemudian mereka memutuskan bahwa mereka lebih baik tanpamu
dan mereka pergi. Itu kenyataan, Nak! Jadi jangan berpikir kau
spesial dan aturan itu tidak berlaku untukmu."

Kemarahan Reid tersulut dan ia menaikkan suaranya menyamai.


"Berpikir aku spesial? Darimana aku pernah memiliki ide seperti
itu? Tentu saja bukan darimu. Kau tidak pernah membuatku
melupakan aku hanya sebaik kemenanganku selanjutnya."

"Karena itu benar! Kita petarung, Reid! Itulah kita, yang


membedakan kita dengan yang lain."

Reid kalah dalam pertarungan untuk mengendalikan dirinya dan


membiarkan emosinya tak terkontrol. Berteriak, seperti saat ia masih
muda, katanya, "Aku menyukai bertarung, tapi aku bukan hanya
menjadi petarung! Bukan hanya itu yang bisa aku lakukan!"

"Oh benarkah?" Suara Stan akhirnya datar, tapi hanya karena dia
tidak berteriak bukan berarti tanggapannya tidak tajam. "Aku duga
maksudmu adalah sketsa dan patung konyolmu. Seperti yang
diinginkan wanita hanyalah seorang pria yang bermain dengan tanah
liat setiap hari.Tidak bisa di percaya."

Perasaan lama yang terpendam seakan ingin naik ke permukaan,


mengancam untuk mencekik nafas dari tubuhnya. Reid tahu ia sudah
melupakan kata-kata ayahnya bertahun-tahun yang lalu, tapi untuk
alasan apapun, ketika dia harus berurusan dengan pria tua ini, Reid
merasa ia kembali lagi menjadi anak kecil yang ketakutan.

Ayahnya mengumpat, tenggelam dalam kursi vynil lagi, dan


menyeret kedua tangannya pada wajahnya yang lelah. "Kau lakukan
apa yang kau mau. Itu hidupmu. Tapi jika kau datang untuk
mendapatkan nasihat dariku, ini yang bisa kukatakan: kau memiliki
kehidupan dari nyalimu, Nak. Kau mendapat ketenaran,
keberuntungan, dan kau bisa mendapatkan semua yang kau inginkan
tanpa embel-embel. Tetaplah seperti itu...jauhkan dirimu dari sakit
hati."
Reid mendengus dan membuka pintu kantor, menggelengkan
kepalanya. Ia tahu kunjungannya tidak akan berjalan baik, tapi hati
nuraninya tidak ingin melupakan ayahnya. Kadang ia berharap hati
nuraninya seperti belalang di dalam cerita Pinocchio. Dengan begitu
ketika hati nuraninya melakukan hal yang bodoh seperti ini, ia bisa
menginjaknya dengan sepatunya.

"Terima kasih untuk waktumu, Pop," ia menegakkan bahunya untuk


pergi keluar."Seperti biasa,selalu menyenangkan bicara denganmu."
***

Bab 16

Reid masuk ke dalam apartemen dan langsung menuju ke arah


kulkas. Dia mengambil dua botol bir, menandaskan botol pertama
dalam beberapa detik, dan kemudian membuka yang kedua sembari
melangkahkan kakinya ke arah balkon.

Karena apartemen itu gelap, Reid berpikir Lucie masih berada di bar
bersama Vanessa, yang mana merupakan hal bagus karena pikiran
Reid sedang kacau dan perlu waktu sendiri untuk dibereskan
semuanya. Reid meneguk cairan dingin itu dan berharap hal itu
dapat mendinginkan emosinya dari dalam. Mungkin Reid akan
mengacaukan dietnya untuk malam ini dan mabuk. Membuat dirinya
sendiri kebas dalam beberapa jam jadi dia tak harus memikirkan
tentang pertandingannya yang akan segera di gelar atau fakta bahwa
ia harus segera meninggalkan Lucie dalam beberapa hari.

Sialan, Reid bahkan belum memberitahu Lucie. Setiap kali ia


mencoba memberanikan diri, semua berakhir dengan dirinya yang
mencium Lucie bukan memberitahu gadis itu. Dan jelas sekali
bahwa hal itu tak akan berujung pada percakapan. Tak satu katapun.

Lucie.

Apa yang akan Reid lakukan padanya? Reid tak pernah merasakan
apa yang ia rasakan pada Lucie dengan wanita manapun, walau
hanya sedikit. Reid bahagia bersama dengan Lucie, dan jelas sekali
bahwa ia menyayangi Lucie...meskipun ia merasakan hal yang sama
pada Butch, namun apa yang sekarang Reid rasakan jauh lebih kuat
dari rasa sayangnya pada pelatihnya sendiri. Tapi apakah ini berarti
Reid jatuh cinta pada Lucie? Reid tak tahu bagaimana ia bisa
memastikan hal tersebut.

Reid mengernyit dan meneguk bir-nya lagi. Mabuk sepertinya


terdengar semakin bagus.

"Kau terlihat terlalu serius untuk malam yang indah seperti ini."

Terkejut, pria itu berbalik, siap untuk memarahi Lucie karena sudah
mengendap-endap dibelakangnya...hingga akhirnya Reid melihat
makhluk paling seksi yang pernah ia lihat.

Lucie berdiri di pintu yang terbuka menuju balkon, kedua tangannya


memegangi kedua sisi dari kusen pintu, dan satu kakinya di tekuk.
Hingga saat itu, jika di tanya apa yang Reid pikirkan tentang hal
terseksi yang wanita bisa kenakan, Reid akan menjawab lingerie
transparan.

Tapi Lucie tidak menggunakan lingerie, namun salah satu kemeja


reid yang menutupi dirinya dari bahu sampai menutupi setengah
pahanya mengenyahkan semua pakaian yang mungkin ia pilih dari
Victoria's Secret. Rambut Lucie tergerai dan lebat layaknya Reid
sudah menyusupkan jemarinya ke dalam rambut gadis itu dan Lucie
memiliki binar cemerlang di mata abu-abunya yang menyatakan
dengan jelas tanpa harus berkata-kata.

"Omong-omong soal indah," Reid berkata serak.

Lucie mulai melangkah mundur dengan perlahan, tapi memberi


isyarat pada Reid untuk mengikutinya dengan gerakan satu jarinya.
Menghabiskan sisa bir-nya, Reid kembali masuk ke dalam apartmen
dan menggeser pintu kaca hingga menutup tanpa mengalihkan
pandangannya dari Lucie. Ketika Lucie menghilang ke arah kamar
tidur, Reid meletakkan botol bir-nya yang kosong di meja,
membuang sandalnya dan berjalan menyusuri lorong hingga Reid
menemukan Lucie berdiri di depan tempat tidurnya.

Tepat sesaat sebelum Reid melangkah masuk ke dalam kamar, Lucie


mengangkat tangan dan memberi isyarat berhenti padanya,
"Tunggu," yang secara efektif menghentikan langkah Reid. "Kau
bisa datang ke sini dengan satu syarat."

Reid menegang dan mengepalkan tangannya, mencoba mengontrol


insting memukulnya. "Dan apa itu?"

"Kau harus melakukan apa yang kukatakan. Jika kau melanggar


peraturanku, semuanya akan berhenti dengan segera."

Perlahan sebuah senyuman terbentuk di wajah Reid. Lucie mencoba


untuk menggodanya. Pria itu menundukkan kepalanya. "Aku setuju."
Untuk saat ini, tambah Reid dalam pikirannya.
"Kalau begitu kemarilah dan cium aku."

Tiap langkah yang dengan sengaja Reid buat perlahan ketika


menghapiri Lucie, mencoba untuk melihat apakah ia bisa mengambil
alih kendali dengan intimidasi seperti itu. Reid tak bermaksud untuk
mengacaukan usaha pertama Lucie dalam memegang kendali. Reid
ingin menguji Lucie. Memaksanya. Melihat apakah Lucie bisa
membuat Reid tetap mengikuti peraturannya. Oh yeah, Reid pikir
ketika ia tiba dihadapan Lucie, semuanya akan jadi menyenangkan.

Reid menyusupkan satu tangannya ke tengkuk dan melingkarkan


tangannya yang lain di pinggang Lucie tepat sebelum mencium bibir
gadis itu. Dan ia melakukannya dengan jantan. Merengkuh rambut
Lucie, Reid mengarahkan kepalanya dan mendorong lidahnya masuk
untuk menikmatinya. Tubuh Lucie meleleh dalam pelukan Reid dan
ia berpikir apakah usaha Lucie untuk menggodanya belum benar-
benar berakhir.

Tak lama pikiran itu terbang menghilang ketika Lucie mendorong


dada Reid untuk melepaskan pelukan Reid darinya. Mereka saling
menatap satu sama lain, dada naik turun karena napas yang berat.
Bibir merah delimanya, sedikit bengkak karena ciuman dari Reid,
mengundang. Lucie hanya beberapa inchi jaraknya dari Reid dan ia
sangat menginginkan Lucie. Petarung dalam tubuhnya
menyentakkan rantai yang menahannya dalam perjanjian yang sudah
Reid setujui sebelumnya, ingin mengambil alih, kembali memegang
kendali.

Namun Reid menunggu.

Menunggu hingga bibir bengkak itu menguak senyuman nakal yang


paling seksi. Penantian yang menjanjikan hadiah yang paling
menggairahkan, yang mana menjadi kesukaannya. Mungkin
kesabaran merupakan sesuatu yang bagus.

Lucie menuntun Reid hingga punggung Reid berada di tempat tidur.


Menarik keliman dari T-shirt yang Reid kenakan, perlahan Lucie
menariknya ke atas. Buku jari Lucie hanya sedikit menyentuh kulit
Reid namun sensasi yang terasa seperti listrik yang menyengat
langsung ke bolanya. Setelah Lucie membebaskan pria itu dari
kaosnya, Lucie meletakkan tangannya di bahu Reid dan
menyapukannya ke tiap inchi dari tubuhnya, jemari Lucie bergerak
mengikuti tekstur otot pria itu seperti halnya ia berusaha menyimpan
itu ke dalam memorinya.

Selanjutnya kedua tangan itu bergerak menuju sabuk dan kancing


celana jeans Reid. Reid sudah setengah ereksi hanya dengan melihat
Lucie mengenakan kemejanya dan menciumnya membabi-buta, tapi
dengan tangan kecil Lucie berada begitu dekat dan rasa antisipasi
dari hal yang akan terjadi, kini kejantanannya sudah siap dan
menggeliat ingin keluar.

Saat Lucie menurunkan jeans Reid, ia bersimpuh di lantai


mengirimkan gambaran erotis ke otak pria itu dengan segala
kemungkinan yang akan terjadi dengan Lucie berada di posisi seperti
itu. Setelah jeans terlepas tangan Lucie kembali ke paha Reid dan
tatapan matanya mencari mata Reid. Bibir Lucie begitu dekat
dengan ereksi Reid hingga ia bisa merasakan kehangatan dari
napasnya melewati kain celana dalamnya, membuat Reid semakin
keras, lebih keras dari apa yang mungkin ia pernah pikirkan.

Mata Lucie tak pernah melepaskan tatapan pada Reid ketika ia


mengarahkan bibirnya ke atas kejantanan Reid dan menggunakan
giginya untuk menyentuh di bagian kepalanya. Terdengar erangan
dari dalam tenggorokan Reid dan kejantanannya bergerak merespon.
"Ah sialan. Kau membunuhku," teriaknya.

Lucie tersenyum ke arah Reid, jelas begitu bangga pada dirinya


sendiri, memang sudah seharusnya. Entah karena Lucie merupakan
seorang yang natural yang baru saja keluar dari dalam cangkangnya,
atau Reid merupakan guru yang lebih baik daripada yang ia pikirkan.

Jemari Lucie mengait di celana dalam Reid dan sedetik kemudian


Reid berdiri menjulang, benar-benar telanjang, ereksinya mencuat
dari tubuhnya menunjuk ke arah yang seharusnya. Mata abu-abu
Lucie terlihat seperti perak cair, membakar Reid saat mata itu
menatap ereksinya.

Dengan perlahan Lucie menggunakan ujung jemarinya untuk


mengeksplorasi konturnya dari pangkal hingga ke ujung. Gesekan
dari kulit Lucie dan goresan lembut kukunya ketika jemari itu di
gerakkan melewati kepala kejantanan Reid yang membengkak
membuat pria itu hampir gila. Secara naluriah tangan Reid
membungkus kepala Lucie, menyentuh rambutnya, siap untuk
memandu bibir manis Lucie ke arah kejantanannya.

"Tidak," kata Lucie tegas. "Berpeganglah pada tiang ranjang."

Reid memberikan Lucie senyuman masam sembari mengikuti


perintahnya. Reid sudah lupa akan siapa yang seharusnya memegang
kendali. Sudah kebiasaaan.

"Letakkan tanganmu di sana. Jika kau menggerakkannya sedikit


saja, aku akan menghentikan apapun yang kulakukan."

Ketika Lucie menaikkan alisnya untuk menanyakan apakah Reid


mengerti konsekuensi dari pelanggaran, Reid mengangguk.
Kemudian berharap bahwa Reid tidak meledak seketika saat bibir
Lucie menyentuh kejantanan Reid untuk pertama kalinya.

Kembali berlutut, Lucie melingkarkan satu tangan lembutnya di


pangkal ereksi Reid, memposisikannya ke mulut. Setetes precum
muncul dari ujungnya. Jika selama ini Reid pikir Lucie ragu atau
malu tentang sesuatu yang begitu mendalam, dia salah. Malah,
kilatan lapar terlihat dari mata abu-abunya ketika Lucie menyapu
ujung ereksinya dengan satu jilatan panjang. Reid mendesis, rasa
dari lidahnya yang lembut dan dikombinasikan dengan melihat
Lucie melakukan itu-bukan wanita sembarangan, tapi wanitanya—
berlutut didepannya, dikategorikan sebagai hal yang paling erotis
yang pernah Reid alami.

Akhirnya Lucie membuka bibirnya yang manis dan membungkus


ereksi Reid sejauh yang bisa ia masukkan, lidahnya menyapu dan
memijat lembut, pipinya cekung karena hisapan yang ia buat dengan
bibir merah delimanya dengan segenap tenaga sebelum menelan
Reid lagi.

Menit selanjutnya terpecah menjadi fragmen keabadian ketika Lucie


menyiksa Reid dengan siksaan yang manis. Mulutnya yang panas
dan lidah yang penuh dosa membuat enam ratus empat puluh
ototnya tegang seperti busur. Pada satu saat, Reid takut akan
mematahkan tiang ranjang Lucie, tapi ia tak bisa melepaskan
pegangannya karena takut Lucie akan berhenti dan ia akan
kehilangan sedikit kewarasan yang masih tersisa.

Kegembiraan yang meluap yang Lucie berikan pada Reid terasa


seperti seseorang telah menjatuhkan korek api ke dalam ruang yang
penuh dengan kembang api. Di mulai dengan satu atau dua percikan,
tapi percikan itu segera merambat ke samping, dan sampingnya lagi
dan lagi, hingga tubuhnya terasa seperti perayaan Empat Juli.

Klimaks menghantamnya begitu cepat dan keras hingga Reid tak


punya kesempatan untuk memperingatkan Lucie. Reid mencoba
untuk melakukan hal yang seharusnya pria jantan lakukan dan
menarik diri, namun Lucie memegangi pantatnya dan menancapkan
jemarinya sembari menelan Reid dalam-dalam. Semua kehendak
sopan yang ingin Reid lakukan berubah menjadi asap bersamaan
dengan sengatan kuku Lucie didagingnya dan, mendongakkan
kepalanya ke belakang dan pinggulnya ke depan, Reid meraung
ketika ia klimaks hingga Lucie menelan setiap tetesan yang Reid
berikan.

Saat bintang mulai menghilang dari pandangannya, Lucie berdiri dan


mundur perlahan, menelusuri jemarinya ke atas krah kemeja yang
terbuka yang ia kenakan.

"Apa yang kau lakukan sekarang?"

"Aku sedang mengurusmu." Lucie duduk dengan eskpresi wajah


serius di atas kursi untuk meja rias yang berada di depan tempat
tidur. "Sekarang aku akan mengurus diriku sendiri."

"Aku yakin itu adalah hakku," kata Reid, melepaskan tiang ranjang.

Sebelum Reid maju, Lucie menggerakkan jemarinya ke kiri dan ke


kanan. "Ah-ah-ah. Jadilah anak baik dan tetap diam di tempatmu
berada."

"Anak baik?" Reid mendengus. "Biarkan aku datang kesana dan aku
akan menunjukkan padamu seberapa dewasanya diriku, sweetheart."
Lucie melepaskan kancing paling bawah dari kemeja yang ia
kenakan. Kemudian selanjutnya menunjukkan celana dalam sutranya
yang berwarna biru. Lucie memberikan Reid senyuman licik dan
berkata, "Jika kau ingin membuktikan padaku seberapa dewasanya
dirimu, maka kau akan melawan insting yang menggerogotimu dan
tetap diam. Dimana. Kau. Berada."

Pintar. Sekarang jika Reid bergerak dia akan mendapat sebutan


perempuan. Dan semua karena Reid begitu menginginkan Lucie
lebih daripada ia menginginkan udara saat itu. Saat semua ini sudah
berakhir ia akan memberi tahu Lucie bahwa dalam keadaan apapun
ia akan menggoda mulai sekarang. Sepanas menonton Lucie
memainkan permainannya, Reid adalah seseorang yang gila kontrol
dalam seks. Setelah ini, dia akan mencari minuman di waktu
istirahat mereka. Reid tak sabar menunggu.

Kemudian hal itu menyadarkannya. Tak banyak waktu yang tersisa


untuk bercinta dengan Lucie. Berdasarkan jadwal mereka, Lucie dan
Reid hanya memiliki beberapa waktu lagi untuk bersama, maksimal.
Kenyataan itu menghantam Reid layaknya pukulan ke solar plexus,
hampir membuat Reid pingsan.

Jangan pikirkan hal itu sekarang. Reid tak ingin apapun


mengganggu waktu berharga yang ia miliki dengan Lucie. Reid akan
membuat tiap detiknya berharga hingga bel terakhir dibunyikan.

"Sesuai keinginan anda, tuan putri."

Satu kancing lainnya terbuka, bersamaan dengan tawa hangat Lucie.


"Aku suka film itu. Jadi sekarang kau adalah farm boy-ku, begitu
kah?" Reid menaik-naikan satu alisnya sebagai jawaban membuat
Lucie terkiki lagi, tapi kemudian Lucie menggerakkan kepalanya ke
samping dan berekspresi tenang kembali. "Kau tahu, semanis dan
seheroik Wesley, aku tak bisa membuat diriku sendiri berpura-pura
kau adalah orang lain." Kancing terakhir yang menyatukan kemeja
itu, tergelincir dari lubangnya dan kemeja itu terbuka menunjukkan
payudara Lucie yang sempurna. "Kau, Reid Andrews, adalah yang
kuinginkan."

Meskipun otaknya mencoba untuk berkata bahwa yang Lucie


maksud adalah disini dan saat ini-karena bukanlah rahasia siapa
yang Lucie inginkan sebenarnya selama ini-Reid tak bisa
menghentikan jantungnya berdetak kencang seakan melompat dari
dadanya.

"Itu bagus, Luce. Karena kau adalah yang kuinginkan juga."


Sekarang dan setiap hari setelahnya.

Sialan, Reid harus berhenti berpikir seperti itu. Reid harus berhenti
berpikir panjang dan membiarkan dirinya bebas untuk saat itu.
Untuk wanita yang ia miliki saat itu.

"Mmm," Lucie mengerang saat ia memainkan puting di antara


jempol dan jari telunjuknya. "Seberapa besar?"

Mata pria itu melekat pada payudara Lucie saat gadis itu
melanjutkan memainkan dan memanjakan payudaranya. "Seberapa
besar apanya?" katanya serak.

Lucie bersender di dinding. Satu tangan turun keperutnya yang rata


menuju kemaluannya dan mengelus kain biru nan tipis disana.
"Seberapa besar kau menginginkanku?"
Seluruh tubuh Reid bergetar karena menahan tubuhnya tetap berada
di tempat. Tangannya mengepal karena rasa gatal untuk menyentuh
kulit Lucie yang lembut. Mulut Reid berair karena memikirkan
menghisap tonjolan dipayudaranya dan menjilati cairan di antara
kakinya.

Menarik celana dalam itu ke samping Lucie menggunakan


tangannya yang lain untuk mengelus bibir lembut kemaluannya,
menyisipkan satu jari diantaranya untuk menyentuh pusat basah.
Lucie terlihat seperti keluar dari mimpi basah Reid. Pantat yang
bertengger di pinggir kuris dan bersandar dengan bahu yang
menekan dinding. Kemejanya terbuka dan tergantung dibahunya
dengan rambut yang terbagi di sisi lehernya. Dan kaki jenjang Lucie
terbuka lebar, tertumpu pada tumitnya, sementara jemarinya
mengeksplor surga dunia bagi Reid.

"Sangat ingin." Suara Reid lebih rendah dari biasanya dan Reid
menyadari suara itu lebih terdengar seperti geraman. Wanita itu
mengeluarkan sisi binatang Reid lebih dari wanita lainnya.

Jari tengah Lucie dimasukkan ke dalam, matanya menutup dan


punggungnya melenting bersamaan dengan gerakan memutar yang
jarinya lakukan. Saat Lucie mengeluarkan jarinya, tubuhnya kembali
rileks dan matanya berkedip terbuka. Kemudian Lucie menatap Reid
dengan pandangan genit sembari membawa jari itu kemulutnya dan
melumasi bibir bawahnya dengan cairannya sendiri.

Reid mendengar raungan keras dan membutuhkan waktu satu detik


baginya untuk menyadari bahwa raungan itu berasal dari dalam
dirinya sendiri.

"Seberapa ingin?" Lucie bertanya sebelum menjilat bibirnya dengan


ujung dari lidah raspberry-nya.

"Sangat ingin hingga terasa menyakitkan." Reid melirik


kejantanannya yang sudah tegang lagi dengan begitu cepat setelah
Lucie membuatnya orgasme dengan mulutnya, kemudian kembali
melihat pada Lucie. "Secara harafiah."

Senyuman menggoda terkuak di wajah Lucie. "Kalau begitu


kemarilah dan tangkap aku, tampan."

Reid bergerak secapat yang ia lakukan di octagon, membuat jarak


beberapa kaki di antara mereka terasa seperti hanya beberapa inchi.
Tangan Reid menyusup ke dalam rambut Lucie di sisi lain wajahnya
dan ia membungkuk untuk menaklukkan bibir Lucie dan menghisap
sisa-sisa yang Lucie tinggalkan dibibirnya.

Ciuman mereka tidaklah pelan ataupun lembut, tapi dalam dan


dahsyat, secara konstan merubah posisi saat mereka menikmati satu
sama lain.

Akhirnya Reid melepaskan mulutnya dari mulut Lucie untuk


bersimpuh di antara kakinya. Reid menarik tangannya ke bawah
tubuh Lucie hingga mereka mencapai kedua payudaranya yang
sempurna dimana kedua tangan itu mulai menangkup dan meremas
dan mencubit putingnya yang membengkak, membuat Lucie
menggeliat di kursi dan napasnya semakin cepat.

"Kau sangat indah," kata Reid, sesaat sebelum ia menutup mulutnya


di sekitar puting yang mengeras dan menghisapnya keras.

Lucie merintih dan memegangi kepala Reid, kukunya menggores


kulit kepalanya melewati rambut Reid yang pendek, mencoba untuk
menariknya lebih dekat. Reid meletakan tangannya di punggung
Lucie, memeganginya agar tak terjatuh. Bergantian satu dengan
lainnya, Reid mencium bagian itu sama seperti ketika ia mencium
mulut Lucie, dengan lidah menjilat, gigi yang menyentuh kulit, bibir
menghisap.

"Oh, Tuhan, Reid..."

Perut Lucie menekan dada Reid dengan kakinya yang mengait di


punggung Reid tepat di bawah tangan Reid. Dan diantaranya,
pinggul lucie menempelkan kemaluannya yang panas di otot Reid,
mencari-cari orgasme.

Reid mencium jalannya ke atas tubuh Lucie, menguak suara erotis


dari dalam tenggorokan wanitanya. Menyematkan satu ciuman
terakhir tepat di atas jantung Lucie, Reid mengangkat kepalanya dan
menemukan Lucie sedang menatapnya dengan Tatapan Itu-tatapan
yang memberi isyarat pada seorang pria ketika seorang wanita
meninggalkan Kota Mari Bersenang-Senang dan berjalan lurus
menuju Mari Pilih China Town-tertulis di seluruh wajahnya yang
cantik.

Normalnya, Tatapan Itu membuat Reid melupakan keperluan yang


mendesak dan berlari ke arah sebaliknya. Reid menyampirkan
rambut Lucie ke belakang telinganya dan memperlajari ekspresi
Lucie untuk beberapa saat, menunggu untuk respon familiar untuk
melaju lebih jauh. Tapi semua yang Reid rasakan adalah keinginan
untuk memeluknya erat. Kebutuhan untuk bercinta dengan Lucie
hingga otot terasa lelah dan memaksa mereka beristirahat.

Itu adalah saat yang Reid maksud, Reid tahu bahwa meskipun ia
memiliki janji sungguhan, ia akan mengabaikannya hanya untuk
tetap tinggal bersama Lucie. Itu adalah saat dimana ia tahu bahwa ia
mencintai Lucie.

"Reid?" kata Lucie lembut. "Kau menatapku dengan aneh."

"Benarkah?"

Lucie mengangguk.

Reid melepas kaosnya, kemudian mengangkat Lucie dengan


tangannya saat ia berdiri dan berjalan ke arah tempat tidur. Setelah
Lucie diletakkan di tengah tempat tidur, Reid memanjat ke atas ke
samping Lucie dan meletakkan satu tangan ke bawah kepalanya
sementara tangannya yang lain menggambar pola sederhana di atas
tubuh Lucie. "Aneh bagaimana?"

"Aku tak yakin. Aku bahkan belum pernah melihat tatapan itu
sebelumnya."

Napas Lucie menjadi lebih dalam dan putingnya mencuat saat Reid
memainkan jemarinya di sekitar bukit lembut payudaranya. "Aku tak
yakin ada sembarang orang yang pernah melihat tatapanku itu...tapi
kau bukan sembarang orang, benar kan?" Reid mengecup bahu
Lucie dan mengangkat kepalanya untuk melihat alis mata Lucie
yang membeku dan bibir bawahnya yang terpenjara di antara
giginya. "Kau spesial. Kau tahu itu kan, Lucie?"

Lucie tersenyum dan mengangguk.

Lucie berbohong.

Senyumannya adalah salah satu senyuman yang paling sedih yang


pernah Reid lihat dan itu membunuhnya karena ia tahu Lucie masih
merasakan ketidakamanan. Ketidakamanan yang tidak ada urusan
dengan seorang wanita yang luar biasa seperti Lucie.

Reid menganggap itu sebagai hinaan pribadi. Satu hinaan yang akan
ia benahi.
***

Sebelumnya, ketika Lucie sedang menunggu Reid pulang ke rumah


dengan gelisah, Lucie sudah membuat keputusan. Tak akan lagi ia
mengabaikan apa yang ada didepannya hanya karena teori
kecocokan yang menggelikan yang didasarkan oleh hubungan yang
gagal. Itu adalah saat untuk jujur dengan dirinya sendiri—jujur pada
Reid—dan memeluk perasaan yang sebenarnya untuk pria yang
mengenalnya lebih dari pria lain.

Dan waktunya adalah sekarang.

Reid memperhatikan Lucie dengan intensitas yang tak pernah Lucie


sadari. Mata Reid, lingkaran berwarna hijau lumut dengan campuran
warna topaz, menatap ke dalam mata Lucie. Insting Lucie begitu
kuat untuk mengalihkan pandangannya, untuk melindungi dirinya
sendiri bukan hanya untuk melawan Reid, tapi untuk melawan apa
yang ia rasakan pada pria itu. Itu semua karena insting yang dia
pegang teguh...dan membiarkan Reid masuk.

Lucie bergetar pelan saat ia berbaring di sana, jantung dan jiwanya


terekspos pada seorang pria dengan kekuatan yang dapat
menghancurkan keduanya. Tak pernah ada keraguan bahwa Lucie
mencintainya, tidak saat ia merasa begitu peka, begitu takut.

Kulit tebal di ujung jemari Reid mengelus pipi Lucie sebelum masuk
ke dalam rimbunan rambutnya. Wajah tampannya hanya beberapa
inchi jauhnya dari wajah Lucie namun rasanya seperti bermil-mil
jaraknya.

"Sayang, kau gemetar," Reid berbisik.

"Tidak, aku tidak gemetar."

Reid tersenyum sembari menyundul pipi Lucie dengan hidungnya


dan mengecup rahangnya. "Yeah, kau gemetar. Jangan
khawatir...Aku akan mengurusmu."

Sebelum otak Lucie bingung akan yang di maksud oleh Reid tentang
mengurusnya selama enam puluh menit atau enam puluh tahun dari
saat itu, Reid sudah mengklaim bibir Lucie dalam ciuman yang
sangat sensual abad itu dan menghancurkan segala harapan aktifitas
otaknya selama beberapa saat ke depan.

Bibir Reid bergerak di atas bibir Lucie, mengeksplor lekukan dan


kontur, giginya mengigit lembut, merasakan penuhnya bibir bawah
Lucie, dan lidahnya menelusuri lekukan dalam bibir atas Lucie.
Setiap kali lidah Lucie bergerak maju, Reid mundur, tak membiarkan
Lucie berpartisipasi dengannya. Berkali-kali Lucie mencoba untuk
membalas ciuman Reid, tapi dengan ahli Reid menghindari usaha
Lucie sambil melanjutkan eksplorasinya.

Frustasi dan gairah seksual meningkat di dalam intiya. Tangan Lucie


memegangi kepala pria itu untuk menahannya di tempat dan Lucie
menghadiahkannya dengan ciuman yang begitu dalam. Lucie
mengerang, merasakan dirinya sendiri di lidah Reid. Sebelum Reid,
Lucie tak pernah tahu betapa nikmat yang seorang pria dapat berikan
pada kemaluannya. Dan Lucie tak pernah berimajinasi betapa ia
sangat suka mencium Reid setelah ia melakukan hal itu.

Kemenangan kecil Lucie tak bertahan lama. Setelah beberapa saat,


Reid memegang kedua pergelangan tangan Lucie dan menahannya
di matras di atas kepalanya sembari Reid bergerak ke atas Lucie.
Pinggul Reid ditempatkan di tengah paha Lucie, ereksinya yang
besar meringkuk di antara lipatannya.

Reid merundukkan kepalanya untuk mengecup leher Lucie dan


membuat jalur dengan jilatan menuju telinganya. Reid mengigit
lembut telinga Lucie dan menghisapnya untuk menghilangkan rasa
sakit yang ditimbulkan. Melepaskannya, kemudian Reid berbicara,
napasnya yang hangat menyapu lembut rambut Lucie. "Lucie,
sayang, kau membuatku gila, kau tahu itu? Kau tak tahu seberapa
berat aku mengontrol diriku sendiri agar tidak menyetubuhimu
dengan kasar layaknya pria gila."

Lucie melentingkan tubuhnya, mendukung Reid. "Tak perlu


menahan diri. Setubuhi aku," Lucie memohon.

Menaikkan tubuhnya ke atas untuk melihat ke dalam mata Lucie,


Reid berkata, "Oh, tentu aku akan melakukannya. Tapi kali ini aku
akan menikmati tiap momen yang terjadi. Aku akan menikmati
waktuku dalam menyayangimu malam ini."

Lucie membuka mulutnya untuk berargumen saat Reid


memposisikan pinggulnya, memasukkan ereksinya hingga
menyentuh dan menggosok klitoris Lucie, dan argumen wanita itu
berubah menjadi erangan nada tinggi.

"Tak boleh bicara. Hanya merasakan." Reid mengulangi gerakan itu,


membuat Lucie melihat bintang-bintang. "Mengerti?"
Lucie mengangguk. Dia akan menyetujui apapun selama Reid tetap
melakukan gerakan itu padanya.

Reid mencium ke bawah tubuh Lucie, meninggalkan jejak basah di


atas payudaranya, turun ke bawah rusuknya, dan melewati perutnya.
Tangan Reid membuka paha Lucie lebar, membuka selebar-lebarnya.
Lucie melirik tubuhnya saat Reid meletakkan kepalanya tepat di atas
pelvisnya, napasnya berhembus di atas kulitnya yang basah dan
mengirimkan sensasi getar kenikmatan yang membuat putingnya
mengeras.

Saat ini Reid membuka matanya, menaikan tingkat keintiman ke


dalam setiap aksinya di mulai dengan memberikan jilatan panjang di
inti Lucie.

"Salah satu hal yang kusukai adalah membawamu ke batas


orgasme," kata Reid, suaranya rendah dan kasar. "Ekspresimu sesaat
sebelum kau orgasme adalah kecantikan yang murni."

Jilatan lain dari lidah Reid dengan jentikkan di atas klitorisnya.

"Oh!"

"Benar begitu, sayang. Lihatlah aku. Lihat aku bercinta denganmu


menggunakan mulutku."

Itu adalah kalimat terakhir yang dikatakan Reid sebelum melakukan


apa yang ia maksud dengan baik. Reid menjilat dan menghisap
layaknya ia sedang mencium bibir Lucie, lidahnya masuk ke dalam
intinya, menggumamkan apresiasi pada rasa Lucie.
Lucie terengah-engah dan mengepalkan tangannya di atas selimut.
Pinggulnya mulai menghentak secara insting melawan lidah Reid,
membutuhkan gerakan yang konsisten diklitorisnya untuk menyamai
denyut di dalam yang semakin cepat.

"Oh, Tuhan, aku butuh kau di dalam tubuhku," Lucie berteriak.


"Reid, please!"

"Belum," kata Reid dengan suara yang sama tersiksanya dengan


Lucie. "Batas. Kau belum sampai disana."

Apa Reid bercanda? Lucie sangat merasakan di sudah dalam batas.


Jika Lucie tak mendapatkan sesuatu di dalam tubuhnya dalam
beberapa detik, Lucie akan lepas kendali.

Reid menggantikan lidahnya dengan dua jari, dengan cepat


menggosok tonjolan syaraf sensitif sementara mulutnya menghisap
bibir kemaluan Lucie dan menggigit paha bagian dalamnya. Kilauan
keringat kini melapisi tubuh Lucie dan aroma gairah Lucie tercium
di udara mengkonfirmasi keahlian oral Reid. Reid membuat Lucie
hampir gila dan menikmati tiap detiknya.

Lucie melepaskan selimut untuk menstimulasi putingnya dan


meramas payudaranya sendiri. Lucie terlalu minder untuk bermain
dengan bagian tubuhnya sendiri sebelumnya, tapi keinginan untuk
menyentuh bagian-bagian itu terlalu besar. Puntiran yang Lucie
berikan pada putingnya langsung berdampak pada pusatnya, dan
ketegangan diperutnya mengencang lagi dan lagi.

Pandangan Lucie mulai tidak fokus, tapi ia mendengar Reid


meraung, "Luar biasa indah" sambil bergerak ke atas dan memasuki
tubuhnya saat Lucie mencapai batas yang ia maksud dan
melewatinya.

Tak bisa menahan dirinya sendiri, Lucie berteriak dan melenting ke


arah Reid saat bagian dalam tubuhnya meledak dan melesakkan
ereksi besar Reid yang kini memenuhi lubang kosong dalam tubuh
Lucie. Reid mengerang di leher Lucie dan mengencangkan
lengannya di sekitar tubuh Lucie saat terusan tubuh Lucie
mengejang dan bergetar yang mengirimkan gelombang ke seluruh
tubuhnya dari ujung kakinya hingga akar rambutnya.

"Sialan, kau terasa luar biasa."

Lucie menyetujuinya, tapi bahkan kata paling simple tampak sulit


diucapkan baginya. Saat Lucie sadarkan diri, terbungkus dalam
euforia yang tak pernah ia tahu ada, mulut Reid menangkap
mulutnya dalam ciuman yang manis dan lemah.

Hilang dalam paska klimaks yang berkabut dan tarian sensual lidah
mereka, tubuh Lucie mengejang merespon ketika Reid mulai
menarik, ereksinya yang besar menggosok dinding sensitif
kemaluannya.

Setelah Reid hampir keluar dari dalam tubuhnya, ia kembali masuk,


pelan dan hati-hati, hingga Lucie menerima seluruh kejantanannya
lagi. Lucie terkesiap dan mendongakkan kepalanya, menyudahi
ciuman mereka. Sensasinya terlalu berlebihan, terlalu cepat. Lucie
tak kan pernah selamat.

Lucie meletakkan tangannya di bahu Reid dan mendorong dengan


kekuatan yang setara dengan bayi burung, matanya memohon.
"Reid, aku tak bisa..."
"Shh," kata Reid di bibir Lucie. "Ya, kau bisa." Reid melepaskan
tanga Lucie, mengaitkan jemari mereka, dan menaruhnya di atas
kepala Lucie saat ia mulai menarik tubuhnya lagi. Menahan dirinya
sendiri di pintu masuk tubuh Lucie, Reid berbisik, "Percaya padaku."

Itu bukanlah pernyataan arogan. Menatap ke dalam mata Reid, Lucie


menyadari itu adalah permohonan. Sama halnya Reid mengatakan,
Percaya padaku untuk memberimu kepuasan. Percaya padaku untuk
menjagamu. Dan Lucie berharap, Percaya padaku untuk
mencintaimu.

"Aku percaya padamu."

Bibir Reid menghantam bibirnya dalam ciuman yang memabukkan


saat Reid memasukkan tubuh sepenuhnya. Lucie berpikir cepat
bahwa ini pasti merupakan definisi dari nikmat yang sakit, ingin
mendorong Reid menjauh dan menariknya mendekat pada saat
bersamaan.

Tapi hanya perlu beberapa saat sebelum kenikmatan


mencengkramnya dan yang ia pikirkan adalah rasa dari tubuh Reid
bergerak dalam tubuhnya, melengkapi Lucie seperti tak ada hal lain
yang bisa melakukannya.

Waktu berhenti, putaran dunia berhenti dalam dunia mereka sendiri


ketika mereka bercinta selamanya. Tubuh mereka, keringat licin,
bergerak menjadi satu, sama carinya dengan ombak lautan yang
bergulung.

Gerakan tubuh Reid yang perlahan dan menyiksa akhirnya musnah,


pinggulnya bergerak lebih cepat, napas mereka menjadi lebih
pendek. Akhirnya ketegangan yang familiar mulai terkumpul dalam
tubuh Lucie, membesar dan menyebar dengan tiap hentakan
kejantanan Reid hingga gairahnya menghabisi Lucie, memilikinya.

Tak dapat di percaya, Lucie datang lagi, nama Reid terkuak dari
bibirnya. Tapi mengingat yang terakhir membawa Lucie dengan
intensitas yang kejam, orgasme kali ini membawa Lucie ke dalam
ketidaksadaran yang sempurna yang tampak tak kan berakhir.

"Ya Tuhan...Lucie," erang Reid, ototnya menegang dan gemetar


bersamaan dengan ejakulasinya. Dan saat Reid menebarkan benih di
dalam tubuh wanita itu, Lucie membayangkan Reid juga
menyebarkan cinta dihatinya.
***

Bab 17

Reid merengkuh tubuh Lucie yang tertidur dan membiarkan dirinya


mengingat setiap detail dari semua ini. Bagaimana tubuh Lucie
terasa pas di lekuk bahunya. Bagaimana, ketika malam hari, wanita
itu menaikan kedua kakinya ke atas pinggulnya, seakan-akan ia takut
Reid akan melarikan diri apabila ia tidak melakukannya. Bagaimana
rambut Lucie menutupi lengannya, serta tangan wanita itu yang
bersandar di atas dadanya.

Mereka bercinta dan mengobrol selama berjam-jam tadi malam,


menjajaki satu sama lain dengan cara yang tak pernah dilakukan
dengan siapapun sebelumnya. Bahkan meski akhirnya Reid sadar
jika ia mencintai wanita itu, ia tahu waktunya sangat terbatas, tapi ia
memutuskan untuk membiarkan fantasinya bermain dalam bayang-
bayang malam. Ia ingin terus terjaga, untuk memanfaatkan setiap
detik waktunya bersama Lucie, tapi akhirnya mereka tertidur ketika
jam menunjukan dini hari. Dan saat ini, cahaya matahari pagi
menerobos melalui jendela kamar tidur, mengusir jauh-jauh
fantasinya, dan kembali menyadarkannya pada kenyataan yang
menyakitkan.

"Hai."

Suara serak Lucie di pagi hari membuat jantungnya berdetak lebih


kencang. Namun ketika wanita itu mengangkat kepalanya dari dada
Reid dengan senyuman nakal, jantungnya mungkin sudah berhenti
sepenuhnya.

Lucie menyandarkan dagunya diatas tangannya dan tampak puas


memperhatikan sosok pria itu. Bulu mata indahnya tampak menutup
setengah dan bibirnya sedikit bengkak karena tidur, atau mungkin
karena ciuman dan gigitan Reid beberapa jam yang lalu. Rambut
hitamnya berantakan, dan bahkan tampak kusut di beberapa bagian,
namun tetap membingkai wajahnya dengan indah.

"Hai juga. Apa kau tidur nyenyak?"

Senyuman nakal Lucie berubah menjadi senyuman lebar layaknya


kucing Cheshire. "Sangat nyenyak." Ia bergerak sedikit dan
memberikan sebuah ciuman lembut di bibir Reid sebelum kembali
meringkuk di sisi pria itu dan mengerang. "Bisakah kita mengambil
hari libur dan tetap berada di tempat tidur?"

Lucie tidak memiliki pertanyaan yang lebih baik untuk menyadarkan


sebuah kenyataan bahwa Reid tidak hidup dengan standar normal
yang mana sesekali membolos bukanlah masalah besar. Reid
memejamkan matanya dan mencium ujung kepalanya, memberikan
satu remasan terakhir sebelum berajak dari tempat tidur.

Ia meraih jeansnya dan menghentaknya sambil berkata, "Maaf


sayang, tapi aku tidak bisa mengambil hari libur, dan kita tidur
terlalu larut."

"Ugh, kurasa kau benar. Oke, ini rencananya," katanya sambil


berlalu ke kamar mandi. "Kau bisa lari pagi dan saat kau kembali
aku sudah selesai dengan yogaku, meminum kafein yang kuperlukan
untuk hari ini, dan melakukan beberapa panggilan telepon."

Reid meraih kemejanya dan menoleh ke pintu kamar mandi yang


terbuka ketika ia mendengar air dari westafel mengalir. "Panggilan
telepon apa?"

Lucie muncul dari kamar mandi dengan jubah mandi yang pendek,
menyikat gigi dan tersenyum. Berhenti cukup lama untuk bicara
dengan mulut penuh pasta gigi, "Aku harus membatalkan kencanku
malam ini dengan Stephen sebelum aku lupa. Kau bisa bayangkan
bagaimana jika dia datang lalu aku membatalkannya?" kemudian
Lucie menambahkan dengan nada bernyanyi yang lucu. "Kaa-
ccaauu." Katanya sambil kembali ke kamar mandi.

Reid tertegun mendengar kata-kata Lucie tentang pembatalan


kencannya dengan pria itu…tapi hanya bajingan egois yang tak ingin
melihat wanita yang dicintainya terlihat bahagia, meskipun itu
berarti ia tidak bisa bersama wanita itu. Sial. Reid membersihkan
tenggorokannya untuk mengucapkan tiga kata tersulit yang tidak
pernah diucapkannya.

"Kau tidak harus membatalkannya."


Lucie menjulurkan kepalanya dari pintu yang setengah terbuka,
kedua alisnya berkerut. Ia menarik sikat gigi dari mulutnya lagi.
"Apa maksudmu aku—" busa biru menetes dari dagunya. "—Ih,
tunggu."

Ketika Lucie kembali menunduk untuk meludah dan membilas


mulusnya, Reid melirik sekilas bayangan dirinya di cermin rias, dan
hampir saja ia memberikan sebuah pukulan untuk menghancurkan
bayangannya.

"Apa maksudmu, aku seharusnya tidak membatalkannya?"

Reid berbalik untuk melihat Lucie yang berdiri beberapa kaki


jauhnya, melingkarkan kedua tangan kedadanya seolah-olah
memberikan sebuah pelukan dukungan pada dirinya sendiri. Lucie
sudah bersiap-siap untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh
Reid, yang ia pikir akan sama seperti yang dikatakan oleh
mantannya yang pecundang itu. bersiap-siap untuk terluka sekali
lagi.

Reid bersumpah ia bisa merasakan sebuah pisau panas menghujam


ke dalam perutnya ketika ia melihat mata lemah lembut abu-abu
miliknya. ia tidak bisa melakukannya. Ia belum bisa mendiskusikan
ini. Sialnya, ia bahkan tak yakin diskusi macam yang harus
dilakukan. Ia harus keluar dan menjernihkan pikirannya, secepat
mungkin.

Reid menghampiri Lucie dengan hanya beberapa langkah,


memberikan sebuah kecupan di keningnya dan berusaha terdengar
seceria mungkin. "Aku hanya merasa tidak enak dengan pria ini.
Maksudku, hanya satu kali kencan, dan kemudian dicampakkan di
hari kedua?" Reid menaruh tangan di atas jantungnya. "Sebagai
sesama pria, biarkan aku mengatakan, 'Ouch.' Makan malam dengan
seorang pria untuk kedua kalinya tampak seperti sebuah harga yang
harus dibayar untuk menghindari kemungkinan bunuh diri yang
mengerikan."

Lucie tertawa lebar sambil mendengus yang membuat jantung Reid


serasa nyeri, dan kemudian mendorong dadanya dengan main-main.
"Kau berlebihan. Cepat Lari, dan kita akan bicara lagi ketika kau
kembali." Katanya sebelum berlalu ke dapur.

Reid menghembuskan nafas berat. Bencana dapat dihindari…untuk


saat ini.

Ia berganti dengan pakaian olah raganya dan dalam waktu singkat


sudah berada di trotoar. Cahaya panas menjelang siang itu
membakar tubuhnya lebih parah dari pada biasanya. Ritme
sepatunya yang menginjak tanah tidak membuatnya tenang kali ini,
malah terasa seperti hitung mundur pada bom waktu. Terus
menghitung mundur hingga ia harus menerima Lucie dengan
keputusannya.

Pemikiran bahwa ia harus meninggalkan wanita itu membuat


perutnya mual, dan otot-ototnya menegang.

Sebelum ia pergi untuk bertemu ayahnya, ia secara iseng


memikirkan untuk mengajak Lucie kembali bersamanya ke Vegas.
Dan meskipun ia tahu ayahnya hanyalah seorang pria tua pesimis
dengan sudut pandang yang sempit, ia tetap tidak bisa
mendiskreditkan apapun yang ayahnya katakan.

Lucie tentu tidak cocok dengan deskripsi seorang wanita yang


menyukai gaya hidup seorang petarung. Ibu Reid adalah salah satu
yang masuk ke dalam kategori itu, tapi tidak dengan Lucie. Wanita
itu menyukai kota kecilnya dan menjadi salah satu dari segelintir
fisioterapis di daerahnya, yang dengan begitu akan memberikannya
kesempatan untuk benar-benar mengenal pasiennya. Dan meskipun
Lucie adalah salah satu orang yang paling tidak terorganisir yang
pernah ditemuinya selama ini, ia tahu wanita itu juga menyukai
rutinitas. Lucie senang mengetahui apa yang dilakukan dan kapan
harus melakukannya. Mencoba hal baru dan spontanitas—dua hal
yang Reid luar biasa banggakan—namun bagi Lucie sendiri tidaklah
mudah.

Membawanya ke Vegas akan menjadi sebuah gegar budaya yang


besar baginya. Tentu dia akan bisa kembali melakukan rutinitas yang
selama ini ia lakukan di sini, tapi rutinitas Lucie tidak akan
mencakup kebersamaan mereka ketika ia sibuk mempersiapkan
pertarungan. Reid menghabiskan hampir semua waktunya untuk
berlatih, mengidealkan berat badan, dan mempelajari bagaimana
untuk mengalahkan lawan yang berikutnya. Hanya akan ada sedikit
waktu yang tersisa dalam rutinitas sehari-harinya selain jatuh ke
tempat tidur, hanya untuk bangun keesokan harinya, dan melakukan
semua itu lagi.

Belum lagi melakukan perjalanan, untuk publisitas. Cerita omong


kosong yang dicetak oleh tabloid-tabloid. Semua itu adalah
penghalang dalam hubungannya. Ia sudah sering melihat itu terjadi
pada beberapa orang. Stres yang muncul akan menyebabkan
pertengkaran dan pihak wanita berubah menjadi getir, membenci
olah raga yang di lakukan oleh pasangan mereka, dan akhirnya,
membenci pasangannya sendiri.

Hal itu akan membunuhnya jika ia melihat sosok manis Lucie akan
berubah menjadi sosok lain yang tampak letih dan kesal, semua itu
hanya karena ia tidak tahan hidup tanpa Lucie. Hanya karena wanita
itu sempurna untuknya, bukan berarti dia harus selalu berada di
sampingnya.

Lucie pantas mendapatkan jauh lebih baik dari itu. Ia pantas berada
tak hanya di dalam hati seorang pria, tapi juga dalam kehidupannya.
Seseorang yang sesekali bisa membolos hanya untuk berbaring di
tempat tidur dengannya, yang memiliki karir yang sukses dan tidak
melibatkan resiko kemungkinan terkena gegar otak atau tercekik.

Seseorang yang bukan dirinya.

Saat ia mengitari tikungan terakhir menuju ke apartemen, ia


memperlambat langkahnya, mengulur waktu sebanyak mungkin. Ia
meletakkan tangannya di pinggang dan menarik nafas dalam-dalam,
seolah-olah bisa membebaskannya rasa perih yang memilin
perutnya. Tapi seiring dengan setiap langkah yang diambilnya,
semua itu hanya terasa makin buruk. Ia akan sangat beruntung jika
bisa mandi tanpa harus menyentuh toilet.

Untuk pertama kali di dalam hidupnya, Reid merasa takut untuk


bertarung.
***

Lucie duduk di meja dapur, kepalanya bertumpu pada satu


tangannya, sedangkan tangannya yang lain mengetuk-ngetuk meja,
mengikuti irama lagu tema The Lone Ranger sambil menunggu Reid
muncul dari kamar tidurnya.

Setelah jogging Reid memberikan lambaian setengah hati sambil


berjalan ke kamar mandi, dan saat ini ia sudah berada di kamarnya
selama setidaknya dua puluh menit, yang artinya 18 menit lebih
lama dari biasanya hanya untuk mengganti sebuah celana pendek
dan t-shirt. Dan jadi beginilah Lucie sekarang, merasa ketakutan,
tentu saja. Tampaknya jatuh cinta bisa mengubahnya menjadi
seorang remaja neurotik. Yippee.

Akhirnya Lucie mendengar pintu di ujung lorong terbuka. Ia meraih


pena dan berpura-pura berkonsentrasi pada teka-teki Sudoku di
depannya dan menulis nomor secara acak. Syukurlah mereka tidak
pernah membicarakan tentang teka-teki matematika, atau pria itu
akan tahu jika ia hanya berpura-pura. Lucie tidak bisa mengerjakan
satupun dengan benar meskipun seandainya hidupnya bergantung
pada hal itu.

Ketika ia berpura-pura tidak menyadari keberadaan Reid di ambang


pintu dapur—ia lebih baik mati daripada membiarkan pria itu tahu
betapa hadirannya membuatnya gila—ia berdeham.

Lucie mendongak dari korannya dengan sebuah senyuman…yang


langsung menghilang ketika ia melihat tas di tangan Reid, serta raut
wajahnya.

"Apa yang terjadi?"

"Aku mendapat telepon dari Butch. Scotty sudah kembali, jadi ia


ingin aku kembali ke kamp untuk menyelesaikan pelatihanku
sebelum pertarungan melawan Diaz."

"Oh." Lucie mengabaikan sengatan yang sedikit menghancurkan


harga dirinya atas sindiran bahwa ia tidak bisa melakukan
pekerjaannya dengan baik seperti orang lain, dan memandang situasi
itu secara logis. "Well, itu bagus. Sangat penting bagimu untuk
kembali ke rutinitas dan lingkungan normalmu."
"Ini tidak ada hubungannya dengan kemampuanmu, Lu. Kau adalah
fisioterapis yang sangat sempurna. Kau sudah menciptakan sebuah
keajaiban dengan bahuku. Aku tak mungkin sembuh secepat ini
dengan orang lain. Aku sungguh-sungguh."

"Terima kasih." Menenangkan harga dirinya. Lucie tersenyum


hangat. "Aku mengerti, sungguh. Dan karena karena aku masih
punya waktu liburan, aku akhirnya bisa melihat Vegas!"

"Aku rasa itu bukan ide yang bagus. Aku tak akan punya waktu
untuk bersama denganmu seperti di sini. Semuanya akan sangat
berbeda di sana. Aku tak akan bisa membawamu bepergian. Kau
akan terjebak di tempatku sepanjang hari, setiap hari."

Ada sesuatu yang salah. Apakah Reid benar-benar khawatir bahwa


dirinya akan membuat Lucie marah jika ia tidak memiliki waktu
untuk menghiburnya? "Tidak apa-apa. Aku bisa pergi berkeliling
sendiri di siang hari."

Ia mengusapkan tangannya ke bagian depan rambutnya dan


menyeretnya hingga ke wajahnya. "Aku akan menjadi sangat lelah di
malam hari untuk bisa menghabiskan waktu bersamamu, Lucie. Ini
seakan kau tidak melihatku sama sekali."

No. no, no, no. Ia tidak sedang melakukan apa yang wanita itu
pikirkan. Lucie berdiri dan bersidekap, menyipitkan matanya penuh
peringatan. "Apa yang sebenarnya terjadi di sini Reid? Kau berusaha
sangat keras untuk membuatku tetap berada di rumah. Dengan
alasan yang benar-benar konyol, jika boleh kutambahkan."

"Dengar, kumohon jangan membuat ini jadi lebih sulit. Kau tahu aku
sangat peduli padamu, tapi ini,"—ia menunjuk bolak-balik diri
mereka berdua beberapa kali—"hanya sementara. Ingat?"

"Ingat? Ya Reid, aku ingat. Aku juga masih ingat ketika tadi malam
semuanya berubah. Kau tidak akan berdiri di sana dan menyangkal
semua itu, kan?"

Reid tidak mengatakan apapun untuk beberapa menit—atau detik?


Sial, mungkin sudah satu jam, Lucie tak tahu—dengan tidak ada
gerakan apapun darinya selain gerakan otot-otot di rahangnya. Dan
itu hanya memperburuk keadaan. Urusan yang sangat besar. Dan
Lucie akan segera meledak.

Akhirnya Reid memecah keheningan dengan kata-kata setajam


samurai. "Semalam sangatlah menyenangkan. Sama seperti semua
malam-malam lainnya. Tapi kesepakatan itu berakhir sekarang. Kau
menginginkan perhatian dari Mann dan membuatnya tertarik
padamu—yang mana semua berhasil—aku sudah memenuhi bagian
kesepakatan itu. Bagianmu adalah membantuku sembuh pada
waktunya untuk kembali bertarung memperebutkan sabuk juara, dan
itu juga sudah terpenuhi. Jadi sudah selesai."

"Tidak, ini belum selesai! Kau kabur seperti pengecut terkutuk,


itulah yang terjadi. Jangan ada alasan omong kosong bahwa kau
mengikuti aturan pada apa yang kau sebut sebagai kesepakatan kita."
Adrenalin berdengung melalui pembuluh darahnya, membuatnya
sedikit pusing, tapi ia hanya sedikit bersandar ke kursi kayu untuk
mempertahankan keseimbangannya dan menekankan kata-katanya.
"Ada banyak hal yang berubah di antara kita, Reid. Kau tahu itu, dan
aku juga tahu."

"Kuakui semuanya berubah dari urusan klinis menjadi urusan


personal, tapi memang akan sangat sulit untuk menghindarinya.
Bercinta dengan seseorang yang kau pedulikan adalah hal yang
personal. Tapi itu tidak cukup untuk mendasari sebuah hubungan
jangka panjang, kau tahu itu."

Suara mereka meninggi, dan di suatu sudut di pikirannya, ada


sebuah peringatan yang cukup keras seandainya Mrs. Egan akan
mengetuk pintunya. Atau lebih buruk lagi, memanggil kakaknya.
Tapi ia tak peduli.

"Bagaimana dengan cinta, Brengsek? Bukankah itu cukup? karena


aku benar-benar jatuh cinta padamu!"

Dunia terdiam. Bahkan detak jam di dinding pun tidak berani


membuat suara ketika mereka berdua saling bersitatap. Mungkin
waktu sudah berhenti. Mungkin inilah saatnya di mana malaikat
akan muncul tiba-tiba untuk memberikannya nasihat bijak atau
memberinya kesempatan untuk memutar balikan waktu ke beberapa
menit yang lalu hingga ia bisa menarik semua kata-kata yang
membuatnya merasa begitu rapuh di sepanjang hidupnya.

Mata Reid tampak membeku, mirip seperti apa yang Lucie


bayangkan selama ini ketika Reid menatap lawannya sebelum wasit
menyerukan tanda pertarungan dimulai. Ia tak pernah melihat
matanya seperti itu sebelumnya, dan itu membunuhnya. Kemudian
Reid bicara, dan Lucie sadar bahwa ia salah…

"Kau mencintai mantan suamimu juga, Luce. Lihatlah apa yang kau
dapatkan."

Bukan hanya matanya yang membunuhnya, tapi kata-kata pria itu


juga.
"Keluar," ia berhasil menyingkirkan gumpalan di tenggorokannya
dan berkedip, berusaha menahan air matanya. "Aku tak ingin
melihatmu lagi."

Tanpa permintaan maaf. Tanpa keraguan. Reid berbalik dan enam


langkah selanjutnya, ia sudah keluar dari hidup wanita itu.
Selamanya.
***

Bab 18

Berminggu-minggu, bukan bertahun-tahun. Reid harus


mengingatkan dirinya sendiri hanya beberapa minggu ia keluar dari
apartemen Lucie. Terasa sangat lama. Kadang, saat ia sendirian di
malam hari, berbaring di ranjang ukuran king California-nya—yang
sekarang anehnya terasa kosong setelah ia senang dengan cara Lucie
memeluknya di ranjang queen milik Lucie—ia curiga mungkin
semua itu hanya khayalannya.

Tapi ia teringat akan malam terakhir mereka bersama. Bagaimana


Lucie meresponnya saat ia bercinta dengan pelan dan lembut yang
belum pernah ia lakukan dengan wanita lain. Sepertinya tak akan
pernah ia lakukan lagi pada wanita manapun.

Bulan-bulan mereka bersama terasa sangat nyata...dan sekarang


kehidupannya tanpa Lucie terasa sangat hampa.

Segera setelah ia pulang ke Vegas, ia langsung tenggelam dalam


rutinitas sesi latihannya dan juga beberapa sesi dengan spesialis
fisioterapis bersama Scotty. Meskipun pria itu adalah dokter yang
handal dan bahu Reid sudah mendekati sempurna sebelumnya di
pertarungan besarnya, ia harus mengekang dirinya sendiri supaya ia
tidak membandingkan yang Scotty sudah lakukan dengan teknik
milik Lucie.

Ia terus-menerus memikirkan Lucie dan ia mendapati dirinya sendiri


menyebut nama Lucie setiap kali ia membuka mulut besarnya.
Hingga pada suatu ketika ia memutuskan lebih aman untuk
berkomunikasi secara tidak langsung seperti mendengus. Sial, itu
berguna untuk orang purba, kenapa ia tidak?

Ini adalah hari sebelum pertarungan. Secara fisik, ia dalam kondisi


sangat baik. Ia dalam kondisi fisik yang bagus, bahunya cukup
membaik, dan berat badannya saat penimbangan hari ini tercatat 202
pound.

Namun secara mental, ia tak pernah merasa lebih kacau lagi dari
sekarang. Normalnya saat mendekati pertarungan yang terlintas
dipikirannya adalah bayangan dirinya menyerang lawannya. Tapi
yang melintas dipikirannya sekarang adalah bayangan ekspresi
terluka milik Lucie saat ia dengan sengaja merenggut jantung Lucie
dari dadanya.

Reid menggeram, rasa frustasinya dengan cepat berubah menjadi


kemarahan murni, sampai ia berteriak seperti seorang Sparta yang
siap berperang. Ia mengambil medicine ball (bola untuk berlatih)
yang ada di kakinya dan melemparnya ke tembok gym dimana ada
beberapa teman timnya yang berdiri di samping target imajinernya.

"Woa!" teriak Brian saat ia terlonjak dari tembok. "Apa masalahmu,


Andrews?"
Yang seharusnya ia lakukan adalah meminta maaf dan
membiarkannya saja. Sayangnya pengukur hal baik sedang rusak tak
bisa diperbaiki. "Mungkin kau, Harty," katanya saat ia bertatap muka
dengan pria itu.

"Atau mungkin juga kau yang marah karena kau terlalu pengecut
untuk mengejar gadis yang selalu kau bicarakan sampai bolamu
menjadi nyeri."

Otak Reid langsung beralih ke mode standby saat tubuhnya yang


mengambil alih. Hal terakhir yang diingatnya ia luar biasa murka
dan memukul pinggul temannya, menjatuhkannya ke karpet dengan
raungan keras mengimbangi suara darah yang terpompa di
telinganya. Hal selanjutnya yang ia tahu disana banyak tangan-
tangan yang menjauhkannya dari Brian dan pria-pria yang
meneriakkan hal berbeda secara bersamaan jadi ia tak tahu dengan
jelas.

"Cukup! Hentikan dan mandilah sebelum aku memberi beberapa jam


kardio untuk menguras energi kalian."

Butch. Akhirnya suara yang menyadarkannya. Reid menepis


beberapa tangan terakhir yang memeganginya dan pergi
mengumpulkan barang-barangnya.

"Andrews! di kantorku, sekarang."

Reid berputar dan menatap pelatihnya. "Aku tidak butuh


ceramahmu. menenangkanku. Mengerti, pesan diterima. Aku mau
pulang."
"Hey! Aku belum memberikanmu pesan yang harus kau terima.
Bawa dirimu ke kantorku."

Mengepalkan tangan dan mengeretakkan giginya, Reid berjalan ke


arah kantor pelatihnya dan menjatuhkan dirinya di salah satu kursi
tamu. Butch mengikutinya, menutup pintunya dan duduk di samping
kursinya, membungkuk ke depan dengan siku di lututnya.

"Apa sebenarnya yang sedang mengganggumu, nak?"

"Aku tak tahu apa yang kau bicarakan," Reid berkata saat sambil
bersedekap. Saat pria tua itu hanya menatapnya, ia menunjuk
tangannya ke arah gym. "Aku mencoba fokus dalam pertarunganku
dan mereka mengejekku tentang sesuatu. Mereka lebih tahu dari
pada itu, Pelatih."

"Aku melihat apa yang terjadi. Kau hampir memotong kepala Hardy
dengan medicine ball."

Reid memalingkan kepalanya, tidak dapat menatap mata biru langit


milik lelaki tua itu. Ia tahu ia bertingkah seperti orang brengsek—
dan ia akan minta maaf pada Brian nanti—tapi Reid tak tahu apa
yang harus ia katakan.

"Reid." Nada yang Butch gunakan padanya berkata bahwa ia akan


menunggu seharian sampai Reid meberikan apa yang ia mau.
Dengan helaan nafas menyerah ia mengalihkan perhatiannya
kembali ke pelatihnya. "Saat kau kembali dari Reno aku kagum
dengan peningkatan kondisi fisikmu. Aku khawatir tanpa rutinitas
normalmu kau akan menjadi lemah di tengah-tengah, tapi kau
melakukannya dengan baik dan kau kembali pada kami sesehat kuda
dan sekuat sapi jantan."
"Tapi secara mental—" Butch menggelengkan kepala dan berdecak
beberapa kali. "Secara mental kau kembali dengan sedikit bersikap
aneh, dan aku punya kecurigaan ini pasti berhubungan dengan
fisioterapis wanita yang bersamamu. Apa aku benar?"

Reid tidak tahu bagaimana menjawabnya atau dimana memulainya.


Jadi ia tidak menjawab.

"Oke, baik. Aku akan mengatakan yang kukira," kata Butch,


bersandar dengan tangan terlipat di dadanya. "Kau jatuh cinta
dengan gadis Miller itu, tapi kau memutuskan bahwa kau tidak
cukup baik untuknya, jadi bukannya mengatakan apa yang kau
rasakan tapi kau mungkin malah mengatakan atau melakukan
sesuatu yang mengacaukannya sebelum kau kembali ke sini.
Seberapa dekat perkiraanku?"

Menekan kakinya, Reid menggeser tangan yang masih berada di


wajahnya lalu mengaitkannya di belakang leher. "Tepat sekali."

"Kupikir juga begitu," kata Butch, bangkit dari kursinya. "Jadi apa
rencanamu?"

Reid menjatuhkan tangannya dan menyipitkan mata pada pelatihnya.


"Apa yang membuatmu berpikir aku punya rencana?"

"Kau tak pernah pergi dalam pertarungan atau masalah tanpa


rencana." Butch menaikan pinggulnya ke meja dan mengeluarkan
permen mint lalu mengganti dengan rokok ke mulutnya. "Tapi jika
caramu bertingkah sebagai indikasinya, rencanamu pastilah buruk."

"Apa sebenarnya maksudmu?"


"Seperti yang kubilang. Ketika kau punya keyakinan pada
rencanamu kau tak akan bersikap berbeda seperti kau yang biasanya.
Rencana kita pada pertarungan sangat kuat. Tapi kau tetap
mengacaukannya. Ergo (Tapi)—"

Reid menaikkan alisnya. "Apa kau benar-benar berkata 'ergo'?"

"Ya, aku mengatakannya, sok pintar—ergo, rencanamu buruk."

Reid tak dapat membantah logika pria itu. Dia benar. Saat Reid
memiliki rencana yang bagus, tak ada yang dapat mengganggunya.
Bukan trik menyesatkan yang dilemparkan lawan padanya di media,
bukan cedera yang ia tahu bisa ia sembuhkan setelah pertarungan,
tidak ada.

"Rencanaku buruk karena aku tak punya satu pun. Tak peduli apapun
yang kucoba aku tidak menemukan solusi untuk membuat kami
bahagia."

Butch menggosok janggutnya saat ia sedang memikirkan


tentang...well, apapun yang sedang ia pikirkan. "Hmm. Ya, aku bisa
melihat bagaimana itu bisa mengganggumu."

Reid melangkah kearah jendela interior kantor dan menatap keluar


pada segala hal yang telah menjadi bagian dalam hidupnya selama
yang bisa ia ingat. Ring untuk bertarung, alas untuk bergulat,
padded dummies (sasaran pukul buatan), samsak, angkat beban, dan
mesin kardio. Perasaan ketidakacuhan menetap di tengah dadanya
seperti beban berat. Ia merasakannya akhir-akhir ini saat masuk ke
gym. Bahkan bukan bau yang familiar dan suara yang membawa
ketertarikan seperti biasanya.
Ia mengangkat bahu, merasakan ketegangan di bahunya. "Yang
sudah ya sudah, Butch. Lucie tidak akan cocok dengan kehidupan
ini. jika aku membawanya kedalamnya, ia akhirnya hanya akan
pergi. Ia layak mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku. Lebih
baik dari seorang petarung."

"Oh,Tuhan." Butch kembali ke kursinya dan menunjuk satu kursi


untuk Reid. "Duduklah." Terlalu lelah untuk berdebat, Reid
melakukan seperti yang ia bilang. "Sekarang aku ingin kau
mendengarkanku baik-baik. Aku yakin kau tahu sebelumnya, tapi
aku tak pernah mengatakannya secara langsung, jadi begini: Kau tau
aku danMartha tidak dapat memiliki anak sendiri. Sial, itulah kenapa
ia seorang guru dan aku memutuskan untuk mengurus anak muda
sepertimu."

"Sekarang aku peduli pada semua petarungku—jika aku tidak,


mereka akan keluar dan mencari pelatih baru—tapi kau sudah lama
bersamaku, dan kau sudah seperti anakku sendiri. Dan tidak ada
anakku yang punya citra diri sebegitu kacaunya. Itulah yang ayahmu
katakan padamu, yang terjadi terjadilah, dan itu semua adalah
omong kosong."

"Butch, sebelum aku datang dia sudah setengah jatuh cinta pada ahli
bedah ortopedi. Pria itu mengajaknya berkencan dan menginginkan
lebih. Dia punya uang, tampang menarik, dan memiliki kesamaan
dengannya.

"Jadi?"

"Jadi aku sudah datang sebagai pihak yang tidak diunggulkan!


Dalam skema besar apa yang wanita cari dari seorang pria, Dr.
brengsek itu menang telak."

"Di atas kertas. Dia hanya menang di atas kertas, nak." Butch
condong kedepan dan tersenyum. "Apa yang selalu kukatakan
padamu, kartu truf apa yang harus dimiliki dalam setiap
pertarungan?"

Reid membalas tatapan tajam pelatihnya dan mulai melihat secercah


cahaya diujung lorong panjang yang gelap dimana dia berada selama
berminggu-minggu ini. "Hati. Setiap petarung dapat menang
melawan rintangan apapun jika ia lebih memiliki hati dibanding
lawannya."

Butch menepuk bahunya dan duduk kembali dengan seringaian puas.


"Tepat. Dan kau tidak hanya memiliki hati, nak, aku bertaruh kau
juga akan mendapatkan gadis itu, jika kau menginginkannya. Tapi
itu terserah padamu. Sekarang, pulang dan istirahatlah. Apapun yang
kau putuskan kau masih tetap punya pertarungan besok dan aku
ingin pikiranmu fokus atau kau akan kalah. Mengerti?"

"Ya, Sir," jawabnya sambil berdiri. Saat ia membuka pintu


pelatihnya memanggil namanya.

"Apapun yang terjadi, aku disini untukmu. Semoga berhasil, nak."

Itu terdengar normal. Setiap orang mendengar berapa kali dalam


hidupnya. Tapi, ini seakan pertama kalinya Reid pernah mendengar
kata-kata itu.

Ia mencoba bicara—atau berguman "terima kasih" pasti sudah cukup


—tapi tenggorokannya benar-benar tercekat, belum lagi matanya
yang mulai berair. Sebelum ia benar-benar menangis ia memberi
pelatihnya anggukan singkat dan menutup pintunya.
***

Reid menduduki kursi secara terbalik dengan pergelangan tangan


ditopang pada sandarannya saat Scotty membalut seputar tangan dan
jarinya dengan perban atletik, menyiapkan pertarungannya dengan
Diaz.

Semalaman dan hampir seharian ia mencari tahu apa yang harus


dilakukannya tentang situasinya dengan Lucie. Beberapa jam yang
lalu ia sudah membuat keputusan. Keputusan yang tak bisa ia
putuskan beberapa bulan yang lalu, tapi ketika Reid sudah
mengambil keputusan dia jadi begitu tenang.

Ketukan pintu terdengar dan Scotty menatap Reid. Beberapa


petarung benci ada gangguan sebelum bertarung. Reid tak pernah
menjadi orang yang butuh menenggelamkan diri dengan musik yang
meledak ditelinganya saat ia melompat-lompat disekitar ruangan,
mempersiapkan diri. Ia lebih seperti ular yang bersembunyi di
rerumputan. Diam, sabar, dan intropeksif sampai pintu cage tertutup
di belakangnya dan itulah saatnya untuk beraksi.

Reid mengangguk kearah Scotty yang kemudian memanggil orang


itu untuk masuk.

Beranggapan bahwa itu salah satu rekan setimnya yang ingin


nongkrong diruangan itu dengannya, ia tidak mendongak. Tapi pada
saat suara pertama dari pria itu, kepala Reid mendongak saat melihat
ayahnya berdiri di pintu masuk, meremas topi kotak-kotak di
tangannya.

"Hei," kata Stan sebelum membersihkan tenggorokannya. "Aku tak


bermaksud mengganggumu, tapi aku hanya ingin kau tahu aku
disini, jadi..."

Scotty merobek gulungan plester dan mengencangkan ujungnya


dengan beberapa tepukan keras. "Kau sudah siap, Andrews. Kau
punya waktu kurang lebih setengah jam." Melirik ayah Reid, Scotty
menambahkan, "Aku akan mengatakan pada timmu untuk menunggu
di luar aula."

"Terima kasih Scotty." Ia menunggu pintu tertutup sebelum berdiri


dan melihat pria yang belum pernah datang dalam pertarungan
profesional Reid sebelumnya. "Kenapa kau disini, Pop?"

"Dengar, jika kau ingin aku pergi—"

"Bukan itu yang kumaksud. Aku hanya ingin tahu...kenapa baru


sekarang?"

Sikap defensif Stan terpancar darinya, bahunya agak membungkuk,


matanya yang ada di bawah topi sangat tersiksa di tangannya yang
menua. Setelah beberapa saat, laki-laki tua itu mendesah,
menggosok belakang kepalanya dengan tangan, dan menatap Reid.

"Saat ibumu pergi, aku merasa ia merenggut jantungku dan mebawa


pergi bersamanya. Aku bertekad untuk tidak akan pernah mencintai
siapapun lagi. Dan kurasa termasuk padamu." Dengan berat ia
berjalan di salah satu sofa dan duduk. "Aku luar biasa marah
padanya, dan melihatmu sama seperti..."

Ia menggelengkan kepalanya seperti sedang bicara pada diri sendiri


untuk tidak mengutarakan pikirannya, tapi terlihat jelas apa yang
ingin diucapkannya. "Kurasa aku berpikir jika aku cukup keras
padamu sampai kau membuktikan teoriku benar dan
menyerah...sama seperti saat dia menyerah dengan kita."

Reid menduduki kursi yang tadi dipakainya, takut bahwa tanpa


dukungannya, ia akan jatuh karena syok. Tak pernah sekalipun ia
berpikir akan pernah membicarakan hal ini dengan ayahnya.
Meskipun Reid selalu mengira alasan kelakuan ayahnya, untuk
mendengarnya secara langsung darinya hampir seperti mimpi.

Kekuatan merembes di tubuh kekar ayahnya, dan dengan rahang


terkatup dan mata coklatnya terkunci pada Reid, keteguhannya
sangat terasa. "tapi apapun yang pernah kulakukan, kau tak pernah
menyerah. Dan aku sangat menghormatimu karenanya."

Reid menolak menyadari rasa menyengat dibalik matanya, tapi itu


lebih sulit untuk memecahkan es yang mengubur perasaan untuk
ayahnya bertahun-tahun yang lalu. "Kurasa aku mendapatkannya
dari ayahku dalam hal itu."

Ayahnya menelan dengan susah dan berkedip beberapa kali sampai


cairan yang menyelubungi matanya tidak ada lagi disana. Lalu ia
berdiri dan memakai topinya yang sekarang sudah kusut di
kepalanya. "Mungkin saat kau ada di kota, kita dapat minum bir atau
apapun."

Bersosialisasi dengan ayahnya? Ide itu mengherankan. Saat ia tidak


menjawabnya, pria itu melangkah ke pintu berkata, "Atau tidak,
terserah. Itu hanya ide—"

Reid berdiri dengan cepat dari kursi. "Aku menyukainya."

Stan menarik pintu sedikit dan melihat ke belakang dengan sesuatu


yang hampir seperti kelegaan, lalu menutupnya dengan anggukan
kaku pada Reid. "Semoga berhasil malam ini."

"Terima kasih, Pop."

Reid tidak yakin sudah berapa lama ia berdiri sendiri di ruang itu
setelah kepergian ayahnya, tapi mungkin sudah beberapa lama
karena rekannya sudah masuk dan memberitahu bahwa ini waktunya
memakai sarung tangan dan keluar.

Berpikir bahwa ia pasti sedang tersesat kedalam suatu lamunan


twilight zone, Reid berbalik ke salah satu temannya dan berkata,
"Pukul aku." Ketika yang ia peroleh hanyalah alis yang terangkat
sebagai balasan, Reid menepuk perutnya dengan kedua tangannya.
"Ayolah!"

Pria itu hanya mengangkat bahu dan memukul perutnya sekali. Ia


sudah bersiap, tapi Adam memiliki pukulan sekeras palu godam jadi
tetap saja membuat udara keluar dari paru-parunya. Tidak. Sungguh-
sungguh bukan mimpi. Menggosok perutnya, Reid bersungut-sungut,
"Terima kasih. Kurasa."

"Kapanpun, man. Kau sudah siap?"

Reid mengangguk dan menerima sarung tangan merah untuk


dipakainya. Saat ia berjalan di lorong panjang ke arena dan teriakan
penonton, Reid merasa seperti sudah menang di pertandingan malam
ini. Ayahnya sudah menawarkan semacam rekonsiliasi dan berkata ia
bangga padanya. Sangat-luar-biasa.

Sekarang yang tersisa hanyalah memenangkan pertarungan melawan


Diaz dan bicara dengan Lucie. Terlihat cukup mudah, tapi keduanya
akan jadi pertarung sekali seumur hidupnya dengan caranya sendiri.
Satu, ia bisa bertahan menghadapi kekalahan. Kekalahan melawan
petarung lain akan menghancurkan Reid sepenuhnya, membuatnya
jadi patah.

Tapi seperti kata ayahnya, Reid bukanlah orang yang mudah


menyerah, dan kemenangannya praktis melampaui kekalahannya.
Jadi ia melakukan apa yang selalu ia lakukan. Ia bertarung seakan
hidupnya dipertaruhkan. Karena kali ini, itu mungkin benar.
***

Bab 19 - Tamat

Ballroom itu menyerupai kilauan bintang di malam musim dingin di


bulan Agustus. Panitia jelas sudah bekerja keras, pikir Lucie. Ribuan
cahaya kecil berkelip diantara beryar-yar kain tule putih yang
berbentuk lengkungan indah menghiasi langit-langit dengan berlusin
lampion kartas putih tergantung di atas dan memancarkan pendar
cahaya.

Meja-meja tersaput kain linen, dan dilengkapi oleh poselen china,


dan dikelilingi kursi berlapis linen; semua berwarna putih. Bahkan
rangkaian bunga di tengah meja dan yang ditempatkan di sekeliling
ruangan merupakan mawar putih, tangkainya di potong beberapa
inchi dari kelopaknya dan ditempatkan di mangkok kristal pendek
hingga seluruh permukaannya penuh. Tak dibutuhkan tanaman hijau
sebagai dekorasi.

Warna-warni yang berada dalam ruangan hanyalah berasal dari


pakaian para tamu. Bergerak diantara latar belakang berwarna putih,
mereka bergemerlapan layaknya batu permata berwarna warni,
dengan pengecualian para pria yang mengenakan tuksedo hitam
mereka. Lucie memperhatikan mereka berkumpul dan bergerak
dalam kelompok kecil dan hampir saja memuncratkan minuman dari
hidungnya ketika menyadari mereka terlihat seperti penguin yang
berjalan di atas es di Antartika.

"Apa kau baik-baik saja?" Vanessa bertanya sembari menepuk-nepuk


punggung Lucie. "Aku kan sudah bilang padamu jangan minum red
punch itu saat mengenakan gaun berwarna putih. Terlalu beresiko.
Kau harusnya meminum soda atau air."

Lucie meletakkan punch itu di atas meja dihadapannya dan melirik


ke arah gaun satin panjang-menyapu-lantai-nya sambil mendesah.
Tahun depan, Lucie harus bisa berkawan dengan seseorang dari
panitia dekorasi, jadi ia tak akan berakhir dengan terlihat seperti
bagian dari perabot acara. Hal baiknya adalah Lucie sudah berjemur
di pantai akhir minggu lalu jadi setidaknya dia lebih mencolok di
bagian atas korsetnya. Tetap saja, Lucie merasa tak dapat dibedakan
dari sekelilingnya yang berwarna putih, menyatu sementara yang
lain bersinar.

Dan bukankah itu terdengar seperti kiasan hidupnya.

Lucie melihat ke arah sahabatnya yang sudah berbaik hati untuk


datang sebagai kencannya karena Lucie sudah membeli dua tiket
sebulan lalu dengan harapan membawa Reid bersamanya. Vanessa
tentu saja bersinar dengan rambut merah-emas liarnya yang
dijinakkan dengan French twist dan gaun emerald yang nampak
seperti diwarnai untuk menyamakan warna asli dari matanya.
Vanessa menarik perhatian semua pria yang berada dalam ruangan
itu tanpa susah payah. Selalu menjadi penyeimbang bagi Lucie.
"Ingatkan aku lagi mengapa kau tidak mau menggunakan tiketku dan
membawa salah satu dari pria dari perusahaan bersamamu?" Lucie
bertanya sembari meneliti ruangan itu dengan rasa gundah.

"Ah. Itu, sayangku, karena kau memiliki keahlian yang sangat


melekat yaitu tak bisa mengatakan 'tidak' pada seseorang dan
menyetujui untuk diperlakukan sebagai barang lelang layaknya
seonggok daging," kata Vanessa dengan ekspresi yang terlalu
senang.

"Oh benar. Itu."

Mengingat acara Lelang Date-A-Doc, perut Lucie melakukan


gerakan akrobatik yang layak dianugrahi sebuah medali emas
Olimpiade. Lelang itu—dimana para tamu bisa menawar seorang
staff rumah sakit untuk sebuah kencan—selalu menjadi pengumpul
dana terbesar dari sepanjang acara. Lucie tak pernah diminta untuk
berpartisipasi sebelumnya, juga tak ingin berpartisipasi. Sayangnya,
salah satu peserta wanita mengidap mono (Mononucleosis)
seminggu sebelum acara dan Sandy, kepala perawat yang
mewujudkan setiap penggambaran dari Mrs. Claus yang pernah
dikenal, memohon Lucie untuk mengambil tempatnya.

Suara mikrofon mendengung dan di tepuk beberapa kali terdengar


dari speaker besar di bagian kepala ruang di mana panggung sudah
didirikan untuk acara tersebut. "Dapatkah saya memiliki perhatian
semua orang?"

Omong-omong tentang Sandy.

Sandy yang riang dalam balutan gaun biru pucat yang indah berdiri
di tengah panggung dengan program lelang di tangan.

"Oh, Tuhan," gumam Lucie sambil meletakkan tangan ke perutnya.

"Ayolah," kata Vanessa, meraih tangan wanita itu. "Mari kita cari
Kyle dan Eric, bertahan di bar, dan membuatmu merasa baik dan
terpengaruh alkohol hingga nomor antrianmu naik."

"Sampai nomor naik?" Ulang Lucie, percaya, kemudian santai dan


memutar matanya. "Oh, maksudmu sampai giliranku."

"Duh-uh," kata Vanessa sambil cekikikan.

"Sebenarnya, apa yang kau katakan adalah frase yang tepat untuk
apa yang aku rasakan. Pimpin jalannya, oh, orang bijak."

Selama setengah jam Vanessa dan Kyle juga Erik berdiri dengan
Lucie dan menyaksikan pria dan wanita di panggil satu per satu ke
panggung dan diminta untuk berdiri di sana sembari biodata singkat
itu dibaca yang terdiri dari minat dan hobi mereka dengan cara
pengenalan yang murahan dari acara tv Love Connection.

Sepanjang malam Lucie mampu menghindari Stephen. Setelah Reid


mematahkan hatinya dan dikuatkan oleh teorinya bahwa pasangan
yang tidak kompatibel akan berakhir tragis, Lucie pergi berkencan
dengan Stephen pada kesempatan lainnya. Meskipun dia tahu itu
lebih karena dendam daripada masih percaya bahwa dia mencintai
sang ahli bedah nan tampan itu, dia berusaha sebaik-baiknya untuk
memenuhi kualitas yang baik menurut Stephen untuk membuktikan
bahwa dia bisa cocok dengan pria itu sebagai pasangan dalam
pernikahan dan kehidupan, seharusnya hal-hal berjalan hingga
sejauh itu.
Tetapi pada akhir malam, semua yang Lucie lakukan adalah
membandingkan setiap hal kecil yang Stephen lakukan atau katakan
pada Reid. Dan seperti yang ia harapkan, Stephen jatuh mendapat
nilai rendah di setiap tingkat. Lucie bahkan akan membiarkan
Stephen menciumnya di akhir malam, berharap bahwa percikan akan
terjadi untuk mengimbangi kekurangan di area yang lain. Tapi itu
hanya membuktikan bahwa mencium Stephen Mann adalah sama
menyenangkannya seperti menekankan bibirnya ke manekin CPR,
yang juga telah mengingatkan bahwa sertifikatnya berakhir karena
harus di daftar ulang. Jadi setidaknya itu tidak menjadi kerugian
total.

Meskipun sakitnya begitu parah, Lucie tidak bisa membuat dirinya


menyesal telah jatuh cinta dengan Reid. Beberapa minggu yang
mereka lewati bersama-sama telah menjadi minggu terbaik dalam
hidupnya. Reid mengajarkan begitu banyak tentang diri Lucie
sendiri dan bagaimana menjalani hidup bukan hanya menonton dari
pinggir lapangan. Lucie menjadi lebih percaya diri, lebih nyaman
dengan dirinya sendiri, dan dia berutang atas semua itu pada Reid.

Jadi setelah seminggu penuh menangis dalam takaran yang tak


terhitung dari Cherry Garcia es krim—dan intervensi dari Nessie dan
para pria—Lucie membangkitkan diri, merapikan dirinya, dan
melihat ke masa depan dengan kepala terangkat tinggi.

Masalah terbesar Lucie sekarang adalah bahwa dia dan Stephen telah
melakukan peran yang terbalik. Setelah kencan tersebut Lucie
mengatakan padanya bahwa hubungan mereka tidak akan berhasil.
Mann membalas dengan ide-ide keagungan seperti apa hidup mereka
nantinya dan meminta Lucie untuk kencan lainnya. Untuk acara
amal rumah sakit. Hal yang sangat Lucie inginkan sejak awal.
Dan sekarang Lucie berada di acara amal, sendirian, dan berharap
dia bisa meringkuk di apartemennya dengan satu orang yang dia
yakin bukan untuknya.

Yap, dia memikirkan hal itu sambil menenggak sisa minumannya.


Hidup Lucie kini merupakan definisi dari ironi.

"Last but not least kami memiliki seorang wanita muda yang luar
biasa yang ikut serta pada menit terakhir ketika Stacy jatuh sakit,
Miss Lucinda Miller. Kemarilah, Sayang."

Kerumunan orang bertepuk tangan memanggil korban terakhir


mereka. Lucie memandang Eric dan Kyle dengan tatapan tajam dan
menusuk dengan jarinya di dada masing-masing secara diam-diam.
Dengan senyum palsu terpampang diwajahnya Lucie berkata, "Jika
salah satu dari kalian bukan penawar tertinggi, aku pribadi akan
membuat kalian berdua berakhir menjadi seorang kasim pada akhir
malam."

"Ya, ma'am," jawab mereka bersama-sama, gelas diangkat dan


semua tersenyum.

Lucie secara mental mencemooh sembari berjalan ke panggung.


Mereka tidak menanggapi Lucie dengan serius, tetapi mereka
sebaiknya melakukan apa yang ia perintahkan. Mereka berjanji
mereka akan memastikan tidak ada orang lain memenangkannya.
Dengan cara itu Lucie melakukan bagiannya, rumah sakit mendapat
uang, dan Lucie tidak harus pergi kencan dengan siapa pun yang
menyeramkan, mudah marah, atau kata-kata buruk lainnya yang
dimulai dengan "cr" campuran.
Beberapa menit kemudian, Lucie berdiri di samping Sandy saat ia
selesai membaca biodata singkat yang bahkan Lucie tidak ingat
pernah tulis. Dan kemudian lelang di mulai.

"Oke," kata Sandy ke mic, "mari kita buka dengan lima ratus dolar."

"Lima ratus," kata Kyle dari bar.

Sandy menunjuk ke arahnya. "Bagus! Bisakah saya mendapatkan


angka tujuh ratus lima puluh? Tujuh ratus lima puluh?

Dari sudut kiri matanya Lucie melihat seorang pria mengangkat


tangannya. "Tujuh ratus lima puluh."

Stephen. "Ah sial." Lucie membeku dan menahan diri untuk


menutup mulutnya dengan tangan. Lucie tidak bisa percaya dia
mengatakannya dengan keras! Alkohol Sialan melepaskan lidahnya
dalam sebuah acara mewah. Luar biasa.

Sandy menjauhkan mikrofon dari mulutnya dan berbisik, "Maafkan


aku, Sayang, kau mengatakan sesuatu?"

"Um, aku berkata 'betapa beruntungnya.'" Lucie memberi Sandy apa


yang dia harapkan sebagai senyum malu-malu. "Aku takut aku tidak
akan mendapatkan pembeli."

"Omong kosong, Sayang, kau wanita muda yang cantik." Lalu Sandy
kembali keperannya sebagai pelelang dan menaikkan harga sampai
seribu dollar.

Selama beberapa menit berikutnya Lucie memperhatikan dengan


cemas karena penawarannya terus semakin tinggi, di dorong oleh
cek Stephen yang tak ada batasnya. Lucie telah meyakinkan para
pria bahwa dia akan membayar sejumlah yang mereka sebutkan, tapi
dalam imajinasi terliar Lucie, ia tidak mengira Stephen akan
bertahan selama ini.

Tawaran itu sekarang sampai dengan dua puluh ribu dollar, dan itu
adalah Stephen. Lucie membuat kontak mata dengan Kyle dan
memberikan gerakan kepalanya sedikit saat Sandy menaikkan lima
ratus dari Mann. Pergi kencan lagi dengan pria itu bukanlah akhir
dari dunia. Tentu saja itu tidak sebanding dengan harus
menempatkan dirinya dan teman-temannya di garis kemiskinan.

Tapi jika Lucie benar-benar jujur dengan dirinya sendiri, itu akan
menjadi kencan ketiga yang tak berguna dengan Stephen, dan
tentang kencan menjadi pengingat yang menyakitkan dari apa yang
dia tidak akan pernah dapatkan dengan Reid.

Di samping Lucie Sandy berdiri dengan senang, "Baiklah kalau


begitu, dua puluh ribu satu, dua puluh ribu dua...dua puluh ribu..."

"Seratus ribu," Dari ujung ruangan terdengar teriakan bersuara berat.


Sebuah suara yang telah Lucie kenal seperti ia mengenal suaranya
sendiri.

Ruangan langsung di penuhi dengan suara orang-orang yang kaget


dan berbisik dan hampir secara serempak para tamu undangan
memutar kursi mereka. Reid melangkah maju sampai akhirnya dia
berdiri di tengah-tengah ruangan. Semua mata tertuju padanya,
namun Reid hanya memfokuskan pandangannya kearah Lucie tanpa
sedikitpun perduli dengan orang lain.

Dalam keadaan yang masih bingung, Lucie tahu bahwa ia sedang


terbelalak dan tertegun menatapnya seperti orang linglung, namun
selama hidupnya dia tidak pernah melihat seseorang yang begitu
seksi sebelumnya. Reid terlihat mencolok diantara para pria. Tuxedo
yang ia pakai membuat badannya yang besar terbingkai dengan
sempurna, tak diragukan lagi karena memang di jahit seperti itu,
tidak seperti kebanyakan pria yang mungkin saja menyewa setelan
menyedihkan yang mereka kenakan.

Reid adalah kesempurnaan yang tak terbantahkan. Lucie terlena oleh


penampilan bad boy dari Reid yang bahkan membuatnya terlihat
lebih menarik dari pada lautan pria biasa yang mengelilinginya.
Kulit coklat terbakar matahari dan ujung lancip dari tato tribal di
lehernya mengintip keluar dari balik kemeja putih yang ia kenakan.
Kemejanya terbuka memperlihatkan kerongkongannya, dasinya
longgar menggantung di kerah kemejanya seperti dia tidak punya
waktu untuk mengikat dasinya dengan rapi.

Rambutnya di tata hampir menyerupai faux-hawk yang Lucie suka


dan jenggotnya yang tidak di cukur membuat Lucie merindukan
sensasi dari bulu-bulu kasar jenggot Reid di tempat sensitifnya. Bibir
bawahnya terdapat bekas luka yang hampir sembuh dan semburat
kemarahan membuat tulang pipinya memerah membuat ia terlihat
seperti orang yang halus di dalam namun liar di luar.

Namun apa yang membuatnya tak kuat adalah pandangan mata


coklat kehijauan Reid yang menusuk langsung kedalam jiwanya dan
dalam cara yang aneh membangkitkan sensasi gelisah diperutnya
dan menyalakan bara api gairah serta membuat lututnya lemas.

Sandy berdehem suaranya seperti decitan. "Maksud anda?"

"Aku menawar seratus ribu dolar, untuk satu kali kencan, bersama
dengan wanita mengagumkan yang berdiri di atas panggung." Reid
lalu memutar kepalanya untuk memberi Stephen tatapan menantang.
"Kecuali jika ada orang lain yang menaikan tawaran, dan sudah
pasti, aku juga akan menaikkan tawaranku."

Lucie menggigit bibir bawahnya saat menunggu reaksi dari Stephen.


Stephen memandang Lucie dan Reid secara bergantian setelah
beberapa saat dia pun menggelengkan kepalanya. Lucie
mengeluarkan nafas lega yang selama ini tertahan dan membakar
paru-parunya saat Sandy mengumumkan Reid lah penawar tertinggi.
Entah karena tawaran Reid atau wanita itu baru saja mengetahui dia
telah memenangkan perjalan ke Disney World. Sangat sulit
mengetahuinya dengan kegembiraan yang ia tunjukan dan nada
suara melengking yang Sandy ucapkan saat ia berbicara dengan
cepat.

Apapun yang menyebabkan Sandy begitu gembira, Lucie tidak


perduli. Pandangan mata Lucie terkunci pada pria tampan menggoda
yang sekarang sedang berjalan menaiki menuju ke arahnya tepat
pada saat pemain band memainkan lagu pertama mereka malam ini.

Saat Reid menaiki anak tangga pertama, ia mengulurkan tangannya.


Badan Lucie bergerak tanpa berfikir, bahkan hanya dengan
menggenggam tangan Reid, Lucie sudah kehilangan gravitasi akan
tubuhnya, dan ia tahu percuma untuk melawan.

Namun kemudian Lucie mulai bersiap-siap untuk mengabaikan


adegan yang tergambar di kepalanya seperti melemparkan minuman
ke wajah Reid, yang sebetulnya itulah hal yang sangat ingin Lucie
lakukan. Benarkan? Tentu saja benar.

Saat di mana tangan mereka bertautan, Lucie merasakan sensasi


getaran yang tak pernah ia duga sebelumnya menjalar dari tangannya
dan menyebar keseluruh tubuhnya. Tak ada kata yang terucap ketika
Reid membimbing Lucie menuju ke lantai dansa di mana pasangan
lain mulai berkumpul. Reid menarik tubuh Lucie ke pelukannya,
menyesuaikan tubuhnya seolah mereka adalah dua kepingan dengan
bentuk yang sama. Satu tangannya yang besar melingkar, nyaman di
dasar tulang punggungnya, menghangatkan kulit Lucie yang
tersembunyi di balik pakaiannya yang tipis. Tangannya yang lain
menggenggam tangan Lucie dalam sebuah gerakan dansa yang
sempurna setara dengan bahunya.

Saat tubuh mereka bergerak mengikuti musik, Lucie bertarung


dengan sisi lain dirinya yang mendorong dirinya untuk mencium
Reid dengan liar dan berakhir menginjak keras kaki Reid sebelum
mereka keluar dari ballroom.

"Kau baru saja menghabiskan banyak uang untuk sesuatu yang jelas
tidak kau inginkan." Akhirnya Lucie membuka suara.

"Aku tahu."

Lucie memperhatikan Reid, mencoba untuk menyelesaikan teka-teki


tanpa harus menanyakan jawabannya, namun tak satupun petunjuk
yang ia temukan. Tidak ada senyuman puas, tidak ada otot rahang
yang mengetat tanda kesal di wajahnya. Tidak ada dahi yang
berkerut tanda tidak setuju atau bahkan tak ada satu alis yang
terangkat keatas tanda menantang. Untuk pertama kalinya, Reid
Andrews benar-benar tak terbaca.

"Kenapa?"

"Karena kau tak mau menerima teleponku, dan aku tahu kau terlalu
terhormat untuk bisa menolak kencan dengan orang bodoh
menyedihkan yang telah mengeluarkan uang dari yang biasa mereka
keluarkan untuk lelang ini."

Lucie menghidari tatapan mata Reid dan berkata, "Jadi semua ini
hanya untuk bersenang-senang dan sebuah permainan untukmu. Itu
sangat menenangkan."

"Tentu saja tidak, ini bukan permainan." Dengan ujung jemarinya


Reid membawa kembali wajah Lucie untuk melihatnya. "Aku harus
bertemu denganmu, sialan, aku sangat merindukanmu sayang."

Udara. Lucie membutuhkan udara.

Dengan kalap Lucie berbalik dan berjalan berkelok-kelok berusaha


menerobos pasangan-pasangan lain yang sedang berdansa menuju
kearah dimana dia tahu ada sebuah pintu besar yang akan
membawanya keluar menuju teras yang luas dan taman yang
terawat. Lucie berharap Reid mengikutinya, namun ia tak lagi
perduli, asalkan dia bisa terbebas dari kerumunan orang dan tatapan
mereka yang menyelidik. Lucie menolak untuk menangis di depan
rekan kerjanya serta para undangan.

Mendorong melewati pintu Lucie menarik nafas dan mencium


aroma buket bunga kedalam paru-parunya lalu mengeluarkannya
tepat di saat ia melewati air mancur besar bertingkat tiga yang
terletak di pintu masuk taman. Lucie menyilangkan tangannya di
dadanya dan memeluk erat dirinya sendiri seolah itu bisa
mencegahnya kehilangan kendali atas dirinya.

Lucie mendengar kerikil berderak dibawah sepatunya saat pria itu


datang dan berdiri di belakangnya, tapi Reid tetap diam saat Lucie
memandangi air mancur kecil di hadapannya. Saat Reid mulai
bicara, suara rendah Reid bergelung di sekitar tubuh Lucie,
menambah kekuatan dalam dekapannya, meredakan sedikit
ketegangannya. 'Gaun itu terlihat mengagumkan saat kau pakai. Kau
adalah wanita yang paling menakjubkan dari semua wanita yang
pernah kulihat."

Lucie tidak mengatakan apapun. Dia bahkan tidak bisa


mengeluarkan kata-kata meskipun ia menginginkannya.
Tenggorokannya terkunci rapat. Dia mendengar sedikit suara
gesekan, seperti amplas, dan membayangkan dia menggosok
rahangnya.

"Aku mendapatkan sabuk gelarku lagi. Aku mengalahkan Diaz."

"Aku tahu," Jawab Lucie lembut.

Tak perduli berapa kali Lucie berkata pada dirinya sendiri bahwa ia
tidak ingin melihat pertarungan Reid, Lucie tahu bahkan sejenis
perang nuklir pun tak mampu menghalanginya untuk menonton
pertarungan itu. Duduk di sofanya lalu menarik lutut kedadanya dan
giginya menggerogoti segala kesakitan yang keluar dari bibirnya,
Lucie telah mengamati setiap saat yang menyiksa. Tentu saja ini
sudah terlalu berlebihan untuk meminta pertarungan cepat. Tidak,
Lucie sudah menjadi sasaran hampir tiga ronde penuh menonton
Reid menerima pukulan dan tendang di kepala dan tubuh yang
tampaknya bisa merobohkan seekor gorilla. Untungnya, Reid
sebanding dengan lawannya, dan di ronde ke tiga Reid berhasil
mengalahkan lawannya dengan tendangan di kepala yang
spektakuler.

Lucie tidak pernah merasa selega ini dalam hidupnya. Atau begitu
bangga.

Berhenti melamun dan katakan sesuatu, sialan kau. Dia berdehem


dan berkata sebagaimana respon yang logis. "Selamat. Sekali lagi
kau menjadi juara...seperti yang sudah kau inginkan selama ini."

"Tidak sepanjang waktu." Sebuah jari menjalar ringan dari bahu


hingga siku Lucie dalam gerakan lamban nan menyiksa. "Tujuan dan
ambisiku telah berubah banyak semenjak aku melangkahkan kakiku
di kantormu hari itu."

Lucie menggelengkan kepalanya. Itu bukan apa yang Reid nyatakan


sebulan yang lalu ketika Lucie membuka dirinya untuk Reid lebih
dari yang sudah pernah ia lakukan dengan orang lain.

"Lucie, aku pensiun setelah pertarunganku."

Lucie berbalik dan menatap Reid dengan membelalak. "Kenapa kau


melakukan itu? Kau menang."

"Tidak masalah apakah aku menang atau kalah. Aku telah membuat
keputusan untuk berhenti sebelum pertarungan itu, apapun hasilnya."

"Tapi," Lucie tergagap. "Kau mau kerja apa?"

"Ada banyak hal yang bisa kulakukan dalam hidupku selain


bertarung. Aku berpikir aku bisa kembali kesini dan mencoba hal
yang lain. Mungkin mengejar ambisiku untuk menjadi pematung,
atau membeli pakaian Argyle yang mengerikan dan bermain golf.
Aku tidak perduli apa yang kulakukan, asalkan aku bisa
bersamamu."
Lucie menggelengkan kepalanya bahkan sebelum Reid
menyelesaikan kalimatnya. "Tidak. Itu yang kau katakan saat ini,
tapi nantinya kau akan merasakan rasa gatal itu lagi, kebutuhan itu,
dan di umurmu ini, jika kau sudah keluar dari jalurmu kau akan
kesulitan untuk kembali lagi. Kau tidak bisa berhenti karena aku,
Reid. Kau tidak bisa memberi tekanan semacam itu padaku."

"Wow, pelan-pelan, sayang," Kata Reid. Menggenggam bahu Lucie


dengan tegas dan memastikan wanita itu memberikan perhatian
penuh padanya sebelum ia memulai lagi. "Aku tidak berhenti, aku
pensiun. Dan aku tidak melakukannya karena kau. Aku
melakukannya untuk diriku sendiri."

"Aku tidak mengerti, kau sangat suka bertarung."

Reid mengambil tangan Lucie ke dalam genggamannya, membawa


genggaman itu diantara mereka, mengusap ibu jarinya diatas jari-jari
Lucie. "Kau ingat saat aku bilang padamu bahwa aku menyukai
olahraga itu, tapi tidak selalu suka untuk melakukannya?"

"Ya. Kau mengatakannya setelah makan malam waktu itu."

"Itu lah maksudku. Hatiku tidak lagi berada dalam pertarungan itu."

Mata Reid mencari-cari mata Lucie berharap ia akan melihat bahwa


wanita itu mengerti, tapi Lucie tidak yakin dia mengerti. "Lalu
dimana hatimu sekarang?"

"Denganmu Lucie. Hatiku ada denganmu."

Lucie sangat ingin setuju dengan apa yang dikatakan Reid, namun
sebagian besar dirinya—bagian yang telah hancur sebulan lalu saat
Reid pergi darinya—menahannya, memperingatkannya akan harapan
yang salah. Lucie membutuhkan pengesahan yang lebih dari itu.

"Sejak kapan?" Tantang Lucie.

"Sejak kapan hatiku ada bersama denganmu?" Lucie mengangguk.


Reid melangkah lebih dekat dan membingkai wajah Lucie dengan
kedua tangan besarnya. "Kemungkinan besar sejak saat pertama kali
aku mendengarmu mendengus." Reid menempatkan ciumannya
diujung hidung Lucie. "Sangat mungkin lagi saat kau main mata
dengan pelayan kita." Sebuah ciuman hangat pada bintik-bintik di
samping matanya. "Hampir pasti saat pertama kali kau tertidur di
pelukanku." Sebuah ciuman kecil pada pipi. "Dan tentu saja pada
malam kita bercinta." Akhirnya, sebuah ciuman lembut di bibir
Lucie.

Bagaimana mungkin seorang pria bisa menjadi beberapa orang yang


berbeda? Seorang petarung, ahli pengubah penampilan, perayu
profesional, seniman, dan sekarang sebagai seorang penyair. Wanita
takkan mempunyai kesempatan melawan kombinasi seperti itu.
Lucie tak pernah berfikir Reid memiliki semua yang ia cari dalam
diri seorang pria, namun ternyata Reid memiliki segala yang ia
inginkan, dan Lucie menginginkan lebih.

Dengan berjinjit di atas jempolnya, Lucie melingkarkan tangannya


di leher Reid dan menciumnya dengan segala apa yang ia layak
dapatkan. Lengan yang kuat membungkus tubuhnya, memeluk
tubuhnya dengan erat saat Reid menandai bibir Lucie dengan ciuman
yang membara. Dari kejauhan terdengar suara lonceng gereja
berdentang sebuah melodi yang menenangkan hati saat mereka
menghentikan ciuman mereka untuk mengambil nafas.
Dengan nafas terengah Lucie membuat satu permintaan.
"Katakanlah Reid."

Reid menyeringai. "Kau akan membuatku mengatakannya, kan?"

"Kau beruntung aku tidak memintamu untuk menuliskannya di


angkasa dengan menggunakan pesawat kecil itu."

Reid terkekeh, tapi dia kembali serius dengan cepat. Masih memeluk
tubuh Lucie, Reid menempatkan keningnya di kening Lucie dan
bicara dengan penuh ketulusan terpancar di mata hijau
kecoklatannya. "Lucie Marie Maris....Aku benar-benar telah jatuh
cinta padamu. Dan tuhan sebagai saksiku...tak perduli berapa lama
waktu yang kubutuhkan...Suatu hari aku akan menjadi cukup layak
untuk menjadi suamimu, karena aku tak sanggup jika harus hidup
tanpa dirimu."

Lonceng berdentang di waktu tengah malam dalam bunyi genta yang


lambat saat Lucie menyerap kata-kata indah yang berperan sebagai
balsem untuk jiwanya, memperbaiki keretakan yang disebabkan oleh
Reid di minggu sebelumnya. Lucie merasa utuh kembali dan, untuk
pertama kalinya dalam kehidupan dewasanya, merasa dicintai tanpa
syarat.

Dagunya bergetar saat ia mencoba menahan air mata yang bergegas


keluar di matanya, tapi itu tidak ada gunanya. Mereka tumpah di
pipinya, satu demi satu, dan akan beruntung jika air mata jelaganya
itu tidak menetes ke gaunnya dan merusaknya. Pria bodoh.

"Sekarang lihat apa yang sudah kau perbuat dan lakukan." Lucie
terisak, bertekad untuk setidaknya menahan ingusnya keluar dari
seluruh kekacauan pada riasannya yang sebelumnya diterapkan
dengan hati-hati. "Katakan 'I love you' dengan simpel pasti sudah
cukup."

Reid tersenyum sebelum menempatkan ciuman lembut di bibirnya.


"Aku mencintaimu."

"Sudah terlambat, aku sudah berantakan."

"Kupikir kau cantik."

Lucie mengernyitkan hidung. "Kau bias. Aku tidak bisa kembali ke


sana seperti ini.

"Reid memiringkan kepalanya ke samping untuk sesaat, dan


kemudian tersenyum padanya. "Jam sudah mau menunjukkan angka
dua belas, Cinderella. Aku mungkin harus membawamu dengan
selamat ke kamar hotelku. Kau tahu, untuk berjaga-jaga."

Lucie tertawa pendek, menggunakan bagian belakang tangannya


untuk menggesek garis-garis hitam di bawah matanya dan
mengangkatnya sebagai bukti. "Aku cukup yakin aku sudah kembali
ke keadaanku terdahulu, tapi keluar dari gaun ini dan masuk
kedalam bak air panas terdengar seperti surga."

Mata Reid gelap dengan intensitas dan otot dirahangnya berkedut.


Lucie tidak bermaksud pernyataannya terdengar seksual, tapi jelas
itulah yang ia terima dinilai dari reaksi Reid.

Meraih tangannya, ia hampir menggeram dan berkata, "Aku sangat


setuju." Tanpa menunggu sedetikpun, dia berbalik, menarik Lucie
keluar dari kebun menuju ke depan hotel. Langkahnya begitu
panjang dan cepat hingga Lucie harus menaikkan gaunnya dan
berlari kecil dibelakangnya untuk menyeimbangi. Cukup
mengagumkan Lucie bisa mengatur kecepatannya dengan baik
ketika tiba-tiba tumit sepatu kanannya terjebak dalam celah,
menyebabkannya goyah saat kakinya terus berjalan tanpa itu.
Untungnya Reid menggunakan refleksnya yang secepat-kilat untuk
menangkap Lucie sebelum dia terjatuh mengenai batu trotoar di
dekat pintu Prancis.

Tidak dapat menahan diri, Lucie tertawa histeris saat ia mengulurkan


tangan dan mencoba untuk melepas sepatunya. Sejumput rumput
menyentak bebas sepatunya...tapi bukan di bagian tumit. Dengan
mulut ternganga Lucie menatap tumit besar yang dengan keras
kepala masih terjepit di batu. "Well, sial. Bukankah itu baru saja
terungkap."

Reid mendekap tubuh Lucie ke dalam pelukannya, melirik kakinya


yang telanjang dan berkata, "Well, sekarang itu resmi." Lucie
memeluk lehernya, alas kakinya yang patah menggantung di jemari
salah satu tangannya.

"Apa yang resmi?"

"Kau benar-benar Cinderella."

"Well, kalau begitu..." Lucie menangkap bibir bawah Reid di antara


giginya, menelusuri kulit coklat yang tersingkap oleh bagian V
terbuka dari bajunya, lalu melirik malu-malu melalui bulu matanya,
tepat seperti yang Reid ajarkan padanya.

"...mari memulai Happily Ever After kita."

Saat bunyi lonceng terakhir memudar ke malam berbintang, Reid


membalas tatapannya dengan senyum yang meluluhkan hati dan
berkata, "Sesuai permintaanmu, tuan putri." sebelum
menggendongnya saat itu juga.
Tamat