You are on page 1of 21

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PEMANFAATAN BATUBARA


BRIKET BATUBARA

DISUSUN OLEH

KELOMPOK 1

Arananda Dwi Putri 061540411570


Ayu Purnamasari 061540411571
Dedek Aguspina 061540411573
Djiquwatan Abrar 061540411574
Dona Wulandari 061540411575
Fatimi Umaira 061540411576
Fherycia Oktin Anggraini 061540411579
Lili Wijayanti 061540411580
Nurul Hidayati 061540411585
Wahyu Herdi Ramadhani 061540411590

KELAS : VEGB
DOSEN PEMBIMBING : Ir.Erlina, M.T

PROGRAM STUDI TEKNIK ENERGI


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2015
I. TUJUAN
Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa mampu :
- Membuat briket batubara tanpa karbonisasi
- Membuat briket batubara dengan karbonisasi
- Menganalisa lamanya waktu pembakaran, lamanya waktu menyala,
temperatur pembakaran, uji kadar air, uji kadar abu dan nilai kalor

II. ALAT DAN BAHAN


ALAT :
 Gelas kimia
 Hot plate
 Spatula
 Pengaduk
 Neraca analitik
 Oven
 Furnace
 Cawan
 Cetakan briket
 Alat press

BAHAN :
 Batubara ukuran -20 /+60 mesh dan -60/+170 mesh
 Tapioka
 Aquadest
III. DASAR TEORI
 Batubara

Batubara adalah bahan bakar fosil batubara dapat terbakar, terbentuk dari endapan
batuan organik yang terutama terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen. Batubara
yang terbentuk dari tumbuhan yang telah tekosolidasi antara strata batuan lainnya
dan diubah oleh kombinasi pengaruh tekanan dan panas selama jutaan tahun
sehingga membentuk lapisan batubara.

 Pemanfaatan Batubara

Komposisi batubara hampir sama dengan komposisi kimia jaringan tumbuhan,


keduanya mengandung unsur utama yang terdiri dari unsur C, H, O, N, S, P. Hal
ini dapat dipahami, karena batubara terbentuk dari jaringan tumbuhan yang telah
mengalami coalification. Pada dasarnya pembentukkan batubara sama dengan
cara manusia membuat arang dari kayu, perbedaannya, arang kayu dapat dibuat
sebagai hasil rekayasa dan inovasi manusia, selama jangka waktu yang pendek,
sedang batubara terbentuk oleh proses alam, selama jangka waktu ratusan hingga
ribuan tahun. Karena batubara terbentuk oleh proses alam, maka banyak
parameter yang berpengaruh pada pembentukan batubara. Makin tinggi intensitas
parameter yang berpengaruh makin tinggi mutu batubara yang terbentuk.
Ada dua teori yang menjelaskan terbentuknya batubara, yaitu teori insitu dan teori
drift.t
Teori insitu menjelaskan, tempat dimana batubara terbentuk sama dengan
tempat terjadinya coalification dan sama pula dengan tempat dmana tumbuhan
tersebutberkembang.
Teori drift menjelaskan, bahwa endapan batubara yang terdapat pada
cekungan sedimen berasal dari tempat lain. Bahan pembentuk batubara
mengalami proses transportasi, sortasi dan terakumulasi pada suatu cekungan
sedimen. Perbedaan kualitas batubara dapat diketahui melalui stratigrafi lapisan.
Hal ini mudah dimengerti karena selama terjadi proses transportasi yang berkaitan
dengan kekuatan air, air yang besar akan menghanyutkan pohon yang besar,
sedangkan saat arus air mengecil akan menghanyutkan bagian pohon yang lebih
kecil (ranting dan daun). Penyebaran batubara dengan teori drift memungkinkan,
tergantung dari luasnya cekungan sendimentasi.
Pada proses pembentukan batubara atau coalification terjadi proses kimia dan
fisika, yang kemudian akan mengubah bahan dasar dari batubara yaitu selulosa
menjadi lignit, subbitumina, bitumina atau antrasit.
Reaksi pembentukkannya dapat diperlihatkan sebagai berikut:
5(C6H10O5) ---> C20H22O4 + 3CH4 + 8H2O + 6CO2 + CO

Briket Batubara

Briket Batubara adalah bahan bakar padat yang terbuat dari Batubara
dengan sedikit campuran seperti tanah liat dan tapioka. Briket Batubara mampu
menggantikan sebagian dari kegunaan Minyak Tanah sepeti untuk : Pengolahan
Makanan, Pengeringan, Pembakaran dan Pemanasan. Bahan baku utama Briket
Batubara adalah Batubara yang sumbernya berlimpah di Indonesia dan
mempunyai cadangan untuk selama lebih kurang 150 tahun. Teknologi pembuatan
Briket tidaklah terlalu rumit dan dapat dikembangkan oleh masyarakat maupun
pihak swasta dalam waktu singkat. Sebetulnya di Indonesia telah mengembangkan
Briket Batubara sejak tahun 1994 namun tidak dapat berkembang dengan baik
mengingat Minyak Tanah masih disubsidi sehingga harganya masih sangat murah,
sehingga masyarakat lebih memilih Minyak Tanah untuk bahan bakar sehari-hari.
Namun dengan kenaikan harga BBM per 1 Oktober 2005, mau tidak mau
masyasrakat harus berpaling pada bahan bakar alternatif yang lebih murah seperti
Briket Batubara.
Pemanfaatan briket
Pemanfaatan bahan bakar padat seperti briket batu bara umumnya tidak
disarankan untuk digunakan di rumah tangga karena asapnya yang pekat.
Diperlukan tungku khusus yang mengatasi masalah tersebut.
Briket memiliki harga yang murah dibandingkan bahan bakar jenis lainnya
sehingga penggunaannya dalam dunia industri dapat memberikan penghematan
biaya. Di daerah Ketahun, Bengkulu Utara, briket telah digunakan sebagai
pengganti kayu bakar yang harganya semakin naik. Penggunaan briket diketahui
memberikan manfaat dari sisi pengeluaran usaha.
Bahan penyusun briket
Bahan penyusun briket dapat mencakup.
 Bahan bakar utama:
o Arangkayu
o Batu bara
o Biomassa
o Gambut
 Bahan pendukung:
o Batu kapur (pewarna)
o Pati (pengikat)
o Boraks (bahan pelepas, release agent)
o Natrium nitrat (akselerator)
o Malam (wax, sebagai pengikat, akselerator, dan penyala (igniter)
Briket dibuat dengan menekan dan mengeringkan campuran bahan menjadi blok
yang keras. Metode ini umum digunakan untuk batu bara yang memiliki nilai
kalori rendah atau serpihan batu bara agar memiliki tambahan nilai jual dan
manfaat. Briket digunakan di industri dan rumah tangga.
Bahan yang digunakan untuk pembuatan briket sebaiknya yang memiliki
kadar air rendah untuk mencapair nilai kalor yang tinggi. Keberadaan bahan
volatil juga mempengaruhi seberapa cepat laju pembakaran briket; bahan yang
memiliki bahan volatil tinggi akan lebih cepat habis terbakar.
Jenis Briket Batubara
1. Jenis Berkarbonisasi (super), jenis ini mengalami terlebih dahulu proses
dikarbonisasi sebelum menjadi Briket. Dengan proses karbonisasi zat-zat
terbang yang terkandung dalam Briket Batubara tersebut diturunkan
serendah mungkin sehingga produk akhirnya tidak berbau an berasap,
namun biaya produksi menjadi meningkat karena pada Batubara tersebut
terjadi rendemen sebesar 50%. Briket ini cocok untuk digunakan untuk
keperluan rumah tangga serta lebih aman dalam penggunaannya.
2. Jenis Non Karbonisasi (biasa), jenis yang ini tidak mengalamai
dikarbonisasi sebelum diproses menjadi Briket dan harganyapun lebih
murah. Karena zat terbangnya masih terkandung dalam Briket Batubara
maka pada penggunaannya lebih baik menggunakan tungku (bukan
kompor) sehingga akan menghasilkan pembakaran yang sempurna dimana
seluruh zat terbang yang muncul dari Briket akan habis terbakar oleh lidah
api dipermukaan tungku. Briket ini umumnya digunakan untuk industri
kecil.
Produsen terbesar Briket Batubara di Indonesia saat ini adalah PT. Tambang
Batubara Bukit Asam (Persero), atau PT. BA yang mempunyai 3 pabrik yaitu di
Tanjung Enim Sumatera Selatan, Bandar Lampung dan Gresik Jawa Timur
dengan kapasitas terpasang 115.000 ton per tahun. Disamping PT. BA terdapat
beberpa perusahaan swasta lain yang meproduksi Briket Batubara namun
jumlahnya jauh lebih kecil dibanding PT. BA dan belum berproduksi secara
kontinyu.
Dengan adanya kenaikan BBM khususnya Minyak Tanah dan Solar,
tentunya penggunaan Briket Batubara oleh kalangan rumah tangga maupun
industri kecil/menengah akan lebih ekonomis dan menguntungkan, namun
demikian kemampuan produksi dari PT. BA. masih sangat kecil, untuk mengatasi
kekurangan tersebut diharapkan partisipasi serta keikutsertaan pihak swasta untuk
memproduksi dan mensosialisasikan penggunaan Briket Batubara disetiap daerah.
Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi (Tipe Biasa)
Jenis yang ini tidak mengalamai dikarbonisasi sebelum diproses menjadi
briketdan harganya pun lebih murah. Karena zat terbangnya masih terkandung
dalambriket batubara maka pada penggunaannya lebih baik menggunakan tungku
(bukankompor) sehingga akan menghasilkan pembakaran yang sempurna dimana
seluruhzat terbang yang muncul dari briket akan habis terbakar oleh lidah api
dipermukaan tungku. Briket ini umumnya digunakan untuk industri kecil.
Pembuatan briket batubara berkarbonisasi dapat dilihat pada gambar berikut ini

Proses Pembuatan Briket Batubara Karbonisasi (Tipe Super)


Jenis ini mengalami terlebih dahulu proses dikarbonisasi sebelum menjadi Briket.
Dengan proses karbonisasi zat-zat terbang yang terkandung dalam briket batubara
tersebut diturunkan serendah mungkin sehingga produk akhirnya tidak berbau dan
berasap, namun biaya produksi menjadi meningkat karena pada batubaratersebut
terjadi rendemen sebesar 50%. Briket ini cocok untuk digunakan untukkeperluan
rumah tangga serta lebih aman dalam penggunaannya.Pembuatan briket batubara
berkarbonisasi dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Jenis dan Ukuran Briket Batubara
 Bentuk telur : sebesar telu ayam
 Bentuk kubus : 12,5 x 12,5 x 5 cm
 Bentuk selinder : 7 cm (tinggi) x 12 cm garis
tengah
Briket bentuk telur cocok untuk keperluan rumah tangga atau rumah makan,
sedangkan bentuk kubus dan selinder digunakan untuk kalangan industri
kecil/menengah.
Keunggulan Briket Batubara
 Lebih murah
 Panas yang tinggi dan kontinyu sehingga sangat baik untk pembakaran
yang lama
 Tidak beresiko meledak/terbakar
 Tidak mengeluarkan sauara bising serta tidak berjelaga
 Sumber Batubara berlimpah
Namun demikian Briket memiliki keterbatasan yaitu waktu penyalaan awal
memakan waktu 5 – 10 menit dan diperlukan sedikit penyiraman minyak tanah
sebagai penyalaan awal, Briket Batubara hanya efisien jika digunakan untuk
jangka waktu datas 2 jam. (sumber ; pt. ba, bppt)

Kelemahan Briket Batubara dan Solusinya


1. Sulit dalam penyalaan, solusinya :
 Bahan baku batubara dan tanah liat dalam keadaan kering (dijemur
terlebih dahulu), sehingga kadar airnya rendah.
 Bahan baku batubara dan tanah liat “di-crusher” dan “di-screen” terlebih
dahulu dengan menggunakan lubang saringan yang kecil dari 3 mm2
 Memperbesar komposisi biomassa (serbuk kayu keras), karena biomassa
dapat membantu mempercepat proses penyalaan
 Briket batubara yang sudah dicetak harus dikeringkan terlebih dahulu
dengan cara dijemur atau dipanaskan dengan “oven” sebelum dikemas
dalam karung. Hal ini untuk menghindari briket lembab saat digunakan
nantinya

2. Berasap dan berbau, solusinya :


 Semua bahan diusahakan dalam keadaan kering, karena kelembaban dan
kadar air yang banyak menyebabkan asap yang banyak dan berbau
 Pemberian angin atau menggunakan cerobong pada saat penyalaan awal
akan membantu briket cepat menjadi bara sehingga asap dan bau yang
dihasilkan dari pembakaran briket tersebut juga akan berkurang
 Penambahan unsur kapur dalam komposisi briket. komposisi terbaik untuk
kapur 1%. Hal ini juga akan mengurangi kadar asap dan bau
 Pemberian biomassa juga akan membantu mempercepat batubara menjadi
bara sehingga asap dan bau akan cepat berkurang
 Dengan cara batubara dikarbonisasi terlebih dahulu, karena dengan proses
karbonisasi, telah membuang sebagian zat terbang dan gas-gas sisa
pembakaran

3. Panas dan lama pembakaran, solusinya :


 Pemilihan batubara dengan kalori tinggi atau dengan cara dikarbonisasi
 Dengan memperbesar komposisi batubara. Karena semakin banyak
komposisi batubaranya maka akan semakin lama dan semakin panas hasil
pembakarannya
 Penentuan komposisi tanah liat dan jenis tanah liat juga berpengaruh
terhadap lama pembakaran. Pemilihan tanah liat yang baik akan membuat
briket lebih rekat, padat dan keras yang akhirnya juga memperlama proses
pembakaran
 Pengeringan hasil briket. Karena briket yang lembab dan basah akan
berpengaruh besar terhadap panas yang dihasilkan

4. Kepadatan dan kekerasan, solusinya :


 Pemilihan tanah liat yang baik yang mengandung unsur kaulinik sehingga
mempunyai daya rekat dan kekerasan yang tinggi serta cepat kering
 Penghancuran (crusher) dan penyaringan (screen) bahan baku juga
berpengaruh terhadap kekerasan hasil cetak. Semakin kecil partikel bahan
baku akan membuat partikel tercampur (mixer) lebih merata dan padat
serta tidak mudah hancur
 Pemilihan tepung tapioka dan pembuatan “adonan tapioka” yang baik
sehingga didapatkan campuran adonan tapioka yang kental dan
mempunyai daya rekat yang baik
 Penjemuran atau peng-oven-an hasil briket sampai benar-benar kering
sebelum dikemas dalam karung. Untuk mengurangi briket yang hancur
dan mutu yang buruk saat pengiriman dan pemakaian.

5. Harga jual produk, solusinya :


 Pemilihan lokasi pabrik yang dekat dengan sumber bahan baku dan
konsumen. Hal ini akan mempengaruhi harga jual sehingga lebih mudah
bersaing di pasar
 Proses produksi yang baik dan benar, untuk mengurangi kegagalan
produksi atau “complain” dari konsumen
 “Quantity” produksi yang besar akan menurunkan biaya produksi
Perbandingan Pemakaian Minyak Tanah dengan Briket
Penggunaan Minyak Tanah Briket Penghematan
Rumah
Tangga 3 Rp.9.000/hari Rp.5400/hari Rp.3.600/hari
ltr/hari
Warung
makan 10 Rp.30.000/hari Rp.18.000/hari Rp.1.200/hari
ltr/hari
Industri Kecil
Rp.75.000/hari Rp.45.000/hari Rp.30.000/hari
25 ltr/hari
Industri
Rp.2.000.000/hari Rp.1.502.450/hari Rp.497.550/hari
Menengah

Parameter Antara Minyak Tanah dan Briket


Parameter Minyak Tanah Briket
Nilai Kalori 9.000 kkal/ltr 5.400 kkal/kg
Ekivalen 1 ltr 1,60 kg
Biaya Rp.2.800 RP.1.300

Tabel Standart Bahan Baku Briket Batubara


Jenis Bahan Kadar Abu Nilai Kalor Total Sulfur
NO Keterangan
Baku (% berat) (Kkl/kg) (% berat)
Karbonisasi
akan
1 Terkarbonisasi <5 < 3500 <1 menaikkan
nilai kalor
dan abu
Penambahan
binder akan
Tanpa menaikan
2 < 10 < 5100 <1
Karboniasi abu dan
menurunkan
nilai kalor

(sumber: Badan Standarisasi Nasional, 2006)


Pemilihan Metode Proses
Salah satu masalah dalam pengembangan industri briket di Indonesia
adalahperlunya karbonisasi dalam proses pembuatannya. Hal ini terutama karena
batubara yang digunakan termasuk dalam peringkat (rank) rendah dengan kadar
zat terbangrata-rata diatas 35%, sehingga dalam pembakarannya menimbulkan
asap dan bau.
Sedangkan di Korea, Cina, dan Vietnam batubara yang digunakan untuk
briketadalah dari jenis antrasit sehingga tidak perlu dilakukan proses karbonisasi
karena kadar zat terbangnya rata-rata dibawah 15%.
Proses yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan proses non
karbonisasi. Briket batubara non karbonisasi memungkinkan untuk digunakan
atau dibakar tanpa menimbulkan asap atau bau dengan bahan baku batubara semi
antrasit dan bahan pembantu seperti jerami, ampas tebu, serta molases.
IV. LANGKAH KERJA
A. Proses Pembuatan Briket
 Tanpa karbonisasi
1. Memasukkan batubara kedalam crusher
2. Setelah mendapatkan batubara berukuran kecil dari hasil crushing,
batubara tersebut dibawa ke hammer mill
3. Setelah itu, melakukan proses screening ( diayak ) dengan ukuran
20 mesh dan 60 mesh
4. Mencampurkan batubara halus sebanyak 80%, dengan
jerami/sekam padi 10%, bahan perekat 10% (tepung tapioka
sebagai bahan perekat)
5. Setelah pencampuran diatas, memasukkan hasilnya ke dalam
cetakan briket sesuai dengan model tertentu
6. Setelah dicetak, melakukan pengeringan dengan menjemur briket
batubara yang sudah dicetak di udara terbuka
B. Pengujian Kadar Air
1. Memanaskan cawan porselen pada 104 – 110 0C. Mendinginkan
selama 15-30 menit dalam desikator
2. Memasukan sampel kedalam cawan kemudian timbang
3. Memasukkan cawan yang berisi sampel tadi kedalam oven pada
suhu 104-110 0C sampai 1 jam
4. Mendinginkan cawan kemudian timbang
C. Pengujian Kadar Abu
1. Menimbang cawan porselen
2. Memasukkan sampel kedalam cawan kemudian timbang
3. Menempatkan cawan (tanpa tutup) berikut sampel kedalam
furnace, panaskan perlahan-lahan hingga suhu 450-500 0C selama
1 jam. Menaikkan suhu 700-750 0C sampai 1 jam, dan melanjutkan
pemanasan selama 1 jam
4. Mendinginkan cawan dan kemudian timbang
IV. DATA PENGAMATAN

4.1 Kadar Air


Cawan Berat Cawan + Cawan Kadar
Sampel Kosong Isi Isi setelah di Air
(gr) (gr) (gr) Panaskan (gr) (%)
1 23,56 10,08 33,24 33,04 10,54
2 18,43 8,33 26,76 24,13 9,83
3 19,85 9,56 29,41 26,37 10,26
4 21,6 8,47 30,07 26,97 10,4
5 23,54 6,70 30,24 27,21 9,2
6 20,77 7,60 28,37 25,83 11,28

4.2 Kadar Abu


Cawan Berat Cawan + Cawan Kadar
Sampel Kosong Isi Isi setelah di Air
(gr) (gr) (gr) Panaskan (gr) (%)
1 23,56 1,000 24,560 23,576 1,6
2 18,43 1,010 19,443 18,456 2,4
3 19,85 1,020 20,873 19,847 3,6
4 21,6 1,011 22,610 21,634 2,9
5 23,54 1,013 24,564 23,572 3,6
6 20,77 1,002 21,772 21,050 3,8
V. PERHITUNGAN

a. Pengujian Kadar Air


𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙 − 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑖𝑝𝑎𝑛𝑎𝑠𝑘𝑎𝑛
(%)𝐴𝑖𝑟 = × 100%
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙

 Sampel 1
(33,04 − 30,10)gr
(%)Air = × 100% = 10,54
30,04 gr
 Sampel 2
(26,76 − 24,13)gr
(%)Air = × 100% = 9,83
26,76 gr
 Sampel 3
(29,41 − 26,37)gr
(%)Air = × 100% = 10,26
29,41 gr
 Sampel 4
(30,07 − 26,97)gr
(%)Air = × 100% = 10,4
30,07 gr
 Sampel 5
(30,24 − 27,21)gr
(%)Air = × 100% = 9,2
30,34 gr
 Sampel 6
(28,37 − 25,83)gr
(%)Air = × 100% = 11,28
28,37 gr

b. Pengujian Kadar Air


𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑑𝑖𝑝𝑎𝑛𝑎𝑠𝑘𝑎𝑛 − 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔
(%)𝐴𝐵𝑈 = × 100%
𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑑𝑖𝑝𝑎𝑛𝑎𝑠𝑘𝑎𝑛 − 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔

 Sampel 1
(23,576 − 23,560)gr
(%)Abu = × 100% = 1,6
(24,560 − 23,560) gr
 Sampel 2
(18,456 − 18,43 )gr
(%)Abu = × 100% = 2,4
(19,443 − 18,43) gr
 Sampel 3
(19,893 − 19,850)gr
(%)Abu = × 100% = 3,6
(20,877 − 19,850) gr
 Sampel 4
(21,634 − 21,60)gr
(%)Abu = × 100% = 2,9
(22,610 − 21,60) gr
 Sampel 5
(23,572 − 23,54)gr
(%)Abu = × 100% = 3,6
(24,554 − 23,54) gr
 Sampel 6
(20,850 − 20,77)gr
(%)Abu = × 100% = 3,8
(21,772 − 20,77) gr
VII. ANALISA PERCOBAAN
Pada percobaan mengenai pembuatan briket ini dilakukan proses
secara nonkarbonisasi. Briket ini dibuat dengan raw material 90% dan bahan
perekat 10% dari tapioka pekat. Batubara yang digunakan bervariasi pada ukuran
-20 mesh / +60 mesh ,dan -60 mesh/+170 mesh. Hasil praktikum menunjukkan
briket yang lebih baik pada kondisi optimum adalah ukuran -20 mesh/ +60 mesh.
Hal ini dikarenakan semakin kecil ukuran batubara maka akan semakin mudah
hancur karena struktur penyusun batubara(briket) tersebut sangat halus.

Jenis batubara yang digunakan dalam pembakaran briket adalah


batubara lignit,yang merupakan sisa-sisa dari kegiatan industri atau yang sudah
berukuran kecil sehingga tidak laku di pasaran. Kegiatan pembriketan diharapkan
mampu meningkatkan nilai ekonomis dan memiliki daya guna tinggi. Selain itu,
penggunaan batubara peringkat rendah dimaksudkan untuk memudahkan
penghilangan kandungan moisture dan ash dalam batubara dengan pengeringan.
Pada praktikum ini,batubara yang telah dicetak dikeringkan dalam oven pada suhu
±(104-110)°∁ selama 7 hari. Secara teoritis, suhu tersebut hanya akan
menghilangkan kadar air,sedangkan kadar abu terbang penghilangannya
dilakukan pada pemanasan 7900°∁. Secara praktek, data pengamatan
menunjukkan kadar air rata-rata sebesar 10,42%.

Uji kualitas briket dilakukan dengan pembakaran langsung melalui


penyusut bahan bakar bensin. Namun karena kadar air yang masih tinggi
menyebabkan briket terbakar hanya beberapa waktu dan tidak bertahan lama. Hal
ini dikarenakan energi yang dihasilkan lebih banyak tersearp untuk menguapkan
kadar air yang terkandung(waktu pengeringan).

Hal yang dapat dilakukan untuk praktikum selanjutnya yaitu detail


dalam perhitungan komposisi baik persentase batubara dan perekat ,maupun
komposisi air dengan tapioka untuk membuat perekam. Penggunaan biomassa
tumbuhan juga dapat dilakukan. Sedangkan pada uji kualitas,penyulutan dapat
dilakukan demgan pembakaran pada suhu yang cukup dan mengamati waktu
nyala secara berkala per waktu. Karena untuk briket batubara dengan kualitas
tinggi memerlukan waktu penyalaan awal selama ±15 menit secara literatur.
VIII. KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

- Berikut batubara adalah bahan bakar padat alternatif yang dapat dibuat
dari campuran batubara dan perekat tapioka pada komposisi persen
tertentu.
- Data pengamatan menunjukkan batubara ukuran -20 mesh / +60 mesh
lebih baik digunakan .
- Didapatkan kadar abu rata-rata sebesar 2,98% dan kadar air sebesar
10,42% dan tergolong tinggi sehingga nilai kalor dan nilai bakar batubara
rendah.
DAFTAR PUSTAKA

 Kasi laboratorium Pemanfaatan Batubara,2015. Jobshet Penuntun


Praktikum Pemanfaatan Batubara.Palembang.Politeknik Negeri
Sriwijaya
GAMBAR ALAT

Alat Press Briket Oven

Furnace Sieve Shaker


CawanPorselen NeracaAnalitik

Hot Plate Spatula

Gelas Kimia