You are on page 1of 106

Dewan Asisten 2009 Departemen Anatomi, Embriologi &

Antropologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada


Yogyakarta

Anatomy – Block 1.5


Brain I: Cerebral Cortex | Brain II: Subcortical
Structures, Brainstem, and Cerebellum | Ventricles
and Vascularization of Brain | Spinal Cord and
Peripheral Nervous System | Sensory Pathway: Eye
and Ear
Alexey Fernanda Napitupulu – Annisa Luthfiya Imani – Mufid
Arifin – Rakhian Listyawan
Edited & Layout by Annisa Luthfiya Imani

2012
BRAIN I: CEREBRAL CORTEX
Mufid Arifin

Pembagian sistem syaraf secara anatomis


Diencephalon
Cerebrum
Mesencephalon
Encephalon Truncus cerebri
Pons
SNC Cerebellum
Medulla oblongata
Medulla spinalis
SN

Nervi craniales (N I-XII)

SNP C–8
T – 12
Nervi spinales L–5
S–5
Co – 1

Pembagian Enchepalon (otak) secara embriologis :

Telencephalon Hemispherium cerebri


C
e
Prosencephalon r
Epithalamus
e
Thalamus b
Diencephalon
Hypothalamus r
u
Subthalamus
m

Encephalon Mesencephalon Mesencephalon

Pons
Metencephalon
Rhombencephalon Cerebellum

Myelencephalon Medulla oblongata

Urutan secara embriologis dari rostral-caudal : Telencephalon- Diencephalon- Mesencephalon-


Metencephalon- Myelencephalon

1
Hemispherium cerebri :  Gyrus frotalis inferior
 Menyempit di bagian belakang, polus o Pars orbitalis
occipital dibandingkan dengan bagian o Pars triangularis
depan, polus frotal. o Pars opercularis
 Fissura Longitudinalis memisahkan (secara
tidak sempurna) hemisperium cerebri 2. Facies inferior
dextra et sinistra – diisi falx cerebri  Gyrus rectus
 Cortex crebri (substantia grisea): terdapat  Sulcus olfactorius
gyrus (peninggian), sulcus (alur) o tempat bulbus et tractus
Substantia medullaris (substantia alba) olfactorius
Ganglia basalia/nuclei basales (substantia  Gyri orbitalis
grisea)  Sulci orbitalis
 Facies medialis 3. Facies medialis- dibatasi sampai
Facies convexa/lateralis sulcus cingulate
Facies basalis/inferior  Lobulus paracentralis anterior
 Lobus frontalis
Lobus parietalis Lobus parietalis- sulcus centralis sampai
Lobus occipitalis sulcus parieto-occipitalis
Lobus termporalis 1. Facies lateral
Lobus Insula  Gyrus postcentralis
Lobus limbicus  Sulcus postcentralis
 Polus occipital  Sulcus intraparietalis
Polus frotal  Lobulus parietalis superior
Polus temporal  Lobulus parietalis inferior
 Sulcus lateralis (sylvius) : memisahkan  Gyrus supramarginalis
lobus frontalis dan parietal dengan lobus  Gyrus angularis
temporalis 2. Facies medial
 Sulcus centralis (rolando) : memisahkan  Lobulus paracentralis osterior
gyrus precentralis (bagian dari lobus  Precuneus
frontalis dengan gyrus postcentralis
(bagian dari lobus parietalis. Lobus Temporalis- inferior sulcus lateralis dan
 Sulcus parieto-occipitalis : memisahkan rostral linea parieto-occipitalis
lobus parietal dengan lobus occipital 1. Facies Lateralis
 Sulcus/fissura calcarina  Gyrus temporalis tranversus
 Sulcus cingulate  Gyrus temporalis superior
 Incisura preoccipitalis : akibat margo  Gyrus temporalis media
superior partis petrosus.  Gyrus temporalis inferior
 Linea parieto-occipitalis : garis imajiner  Sulcus temporalis superior
sulcus parietooccipitalis dengan incisura  Sulcus temporalis media (versi 1)
preoccipitali Sulcus temporalis inferior (versi 2)
2. Facies inferior
Lobus frontalis : polus frontalis-sulcus  Sulcus temporalis inferior (versi 1)
centralis Sulcus occipitotemporalis (versi 2)
1. Facies lateralis
 Gyrus occipitotemporalis lateralis
 Sulcus centralis (gyrus fusiform)
 Gyrus precentralis  Sulcus collateral
 Sulcus precentralis  Gyrus parahippocampalis (bagian
 Gyrus frontalis superior dari lobus limbicus)
 Sulcus frontalis suprior  Sulcus hippocampalis
 Gyrus frontalis media
 Sulcus frontalis inferior

2
Lobus occipitalis – polus occipitalis dan sulcus o Sulcus hypothalamicus
parieto-occipitalis o Hypothalamus
1. Facies lateralis o Corpus mammilaris
 Gyrus occipitalis superior o Thalamus
 Sulcus occipitalis lateralis o Addesio interthalamica
 Gyrus occipitalis inferior
2. Facies medialis Subtantia Medullaris (Subatantia alba) –
 Gyrus cuneatus (cuneus) komposisi utama merupakan nerve fiber
 Fissura calcarina 1. Serabut Commissural
 Gyrus lingualis Menghubungkan antar hemisperium
cerebri dextra et sinistra. Contoh:
Lobus Insula (lobus centralis/insula Reil) – corpus callosum, commisura anterior,
terlihat jika operculum (penutup insula) commisura posterior, commisura
disisihkan. Merupakan dinding medial dari hippocampal.
sulcus lateralis 2. Serabut Projection
 Sulcus circularis Menghubungkan antara cortex
 Gyrus brevis cerebri dengan struktur level
 Gyrus longus dibawahnya (dalam satu
hemisperium). Contoh: tractus
 Limen insulae
corticopetal (afferent) dan tractus
 Sulcus centralis
corticofugal (efferent).
3. Serabut Association
Lobus limbicus-regio yang terletak di aspek
Menghubungkan antar regio di dalam
medial dari hemispreium cerebri dan
satu hemisperium. Contoh: fasciculus
mengelilingi corpus callosum
uncinatus, cingulum, fasciculus
 Sulcus corporis callosi
longitudinalis superior et inferior.
 Gyrus cingulate
 Isthmus Ganglia basalis
 Sulcus cinguli  Kumpulan badan sel yang terbenam di
 Gyrus parahippocampalis subtantia medullaris
 Uncus  Secara filogenetik dibagi menjadi:
 Sulcus hippocampalis 1. Neostriatum (mammalia)
 Formatio hippocampalis  Nucleus caudatus
o Hippocampus
 Putamen
o Subiculum
2. Paleostriatum (hewan tingkat tinggi,
o Gyrus dentatus
aves, reptil)
 Area subcallosal
 Globus pallidus
o Gyrus subcallosal
3. Archistriatum (hewan tingkat rendah)
o Gyrus parolfactory
o Gyrus preterminal  Amygdala
nucleus yang tedapat di dalam
uncus
 Struktur Lain
o Corpus Callosum  Claustrum
 Rostrum  Terdiri dari :
 Genu o Nucleus caudatus
 Truncus  Caput
 Splenium  Corpus
o Septum pellucidum  Cauda  amygdala
o Fornix o Nucleus Lenticularis ( lentiformis)
o Lamina terminalis  Putamen
o Chiasma opticum  Globus pallidus lateralis et
o Commisura anterior medialis

3
o Claustrum
o Capsula Interna
 Crus anterior
 Genu
 Crus posterior
o Lamina medullaris interna
Di antara globus pallidus medialis dan
lateralis
o Lamina medullaris externa
Di antara globus pallidus lateralis dan
putamen
o Capsula externa
Di antara putamen dan claustrum
o Capsula extrema
Di lateral claustrum

4
Area
Brodman Nama area Cortex cerebri Fungsi
n
1 Area somatik primer Gyrus postcentralis Sensibilitas kutan dan viscera
2 Sensibilitas viscera
3 Sensibilitas kutan
3, 4 Area somatik sekunder Sensoris umum, termasuk nyeri
5, 7 Area asosiasi somatik Lobulus parietalis supor Stereognosis: penilaian
(asosiasi parasensoris) komprehensif karakteristik objek
yang diraba tanpa melihatnya
17 Area visual primer Sekitar fissura calcarina Akhiran radiatio optica dari corpus
(area striata) geniculatum laterale (CGL)
= pusat penglihatan
18 Area visual sekunder Sebelah area 17 Area asosiasi visual
19 Area visual tersier Sebelah area 18 18-19: gerakan scanning otomatis
39 Area asosiasi visual Gyrus angularis bola mata
tinggi
41 Area auditoris primer Gyrus temporalis Akhiran radiatio auditiva dari
42 Area auditoris sekunder transversus (convolutio corpus geniculatum mediale (CGM)
Heschl) = pusat pendengaran
22 Area asosiasi auditoris Gyrus temporalis supor
(area Wernicke)
Area bahasa sensoris
22 Area asosiasi area-area Gyrus temporalis supor Memproses input-input dari area-
39 asosiasi sensoris Gyrus angularis area asosiasi sensoris
40 Gyrus supramarginalis
43 Area gustatoris Operculum Pusat pengecapan
34 Area olfaksi Uncus Pusat penciuman
9-12 Cortex prefrontalis Bagian depan gyrus Pengatur depth of feeling
frontalis supor – gyri (afek/perasaan)
orbitales “Prefrontal cortex is the neocortical
representative of the limbic
system”
38 Psychical cortex Neocortex polus antor lobus Berhubungan dengan
temporalis “pengalaman” masa lalu,
membangkitkan kembali benda-
benda yang pernah dilihat atau
musik yang pernah didengar
4 Area motoris primer Gyrus precentralis Pusat motorik: asal tractus
corticospinalis et corticobulbaris
6 Area premotoris Gyrus frontalis supor Gerakan manipulatif
(rostral gyrus precentralis) (aktivitas motoris yang dipelajari)
8 Frontal eye field Gyrus frontalis supor Gerakan scanning volunter bola
(rostral area 6) mata
44 Area bahasa motoris Pars opercularis Mekanisme produksi bicara
45 (area Broca) Pars triangularis

5
NEUROANATOMY OF THE BRAIN I: HEMISPHERIUM CEREBRI
Alexey Fernanda Napitupulu

1. Embriologi

Telencephalon Hemispherium cerebri

Prosencephalon
Epithalamus
Thalamus
Diencephalon
Hypothalamus
Subthalamus

Encephalon Mesencephalon Mesencephalon

Pons
Metencephalon
Rhombencephalon Cerebellum

Myelencephalon Medulla oblongata

Otak (brain atau encephalon) pada awalnya berasal dari 3 primary brain vesicle yaitu
prosencephalon (forebrain), mesencephalon (midbrain), dan rhombencephalon (hindbrain). Seiring
perkembangannya, ketiga primary brain vesicle ini akan terbagi lagi menjadi secondary brain vesicle
yang terdiri atas telencephalon (end brain), diencephalon, mesencephalon, metencephalon, dan
myelencephalon. Telencephalon dan diencephalon merupakan derivat dari prosencephalon.
Metencephalon dan myelencephalon merupakan derivat dari rhombencephalon. Telencephalon
kemudian akan berkembang menjadi hemispher cerebri (tersusun atas cortex cerebri, substantia
alba subcortical, dan ganglia basalis). Diencephalon akan berkembang menjadi thalamus,
hypothalamus, epithalamus, dan subthalamus. Metencephalon akan berkembang menjadi pons
dan cerebellum sementara myelencephalon akan berkembang menjadi medulla oblongata (atau
lebih sering disebut sebagai medulla).

2. Hemisphere Cerebrum
Hemisphere cerebrum terdiri atas cortex cerebri, substantia alba subcortical, dan ganglia
basalis. Cortex cerebri merupakan substantia grissea (gray matter) yang terdiri atas kumpulan badan
sel saraf dan terletak di permukaan superficial dari hemisphere cerebri. Substatia alba subcortical
terletak lebih profunda dan tersusun atas kumpulan axon bermyelin. Berdasarkan fungsinya,
substantia alba subcortical dibagi menjadi serabut asosiasi, proyeksi, dan commisural. Serabut
asosiasi bertugas menghubungkan area cortical satu dengan yang lain pada hemishere cerebri yang
sama. Serabut proyeksi berfungsi untuk menghubungkan area cortical dengan area subcortical.
Serabut commisural berfungsi untuk menghubungkan area-area yang berada pada hemisphere
cerebri yang berbeda. Ganglia basalis merupakan sekumpulan substantia grissea yang terkubur di

6
dalam substantia alba hemisphere cerebri. Hemisphere cerebri terdiri atas hemisphere cerebri
dextra dan sinister yang dihubungkan oleh corpus callosum (merupakn substantia alba commisural
terbesar). Masing-masing hemisphere memiliki 3 polus, yaitu polus frontal (terletak di anterior,
tumpul), polus temporal, dan polus occipital (terletak di posterior, lancip). Permukaan hemisphere
cerebri terdiri atas 3 permukaan yaitu facies medialis, facies lateralis (convexa), dan facies inferior
(basalis). Apabila dilihat, permukaan hemisphere cerebri tidak rata dan tersusun atas penonjolan
(gyrus, gyri) dan alur (sulcus, sulci, fissura). Beberapa sulci dan gyri yang penting dan konsisten
memiliki nama.
Hemisphere cerebri tersusun atas 6 lobus yaitu lobus frontal, lobus parietal, lobus temporal,
lobus occipital, lobus limbic, dan cortex insula. Celah dalam antara kedua hemisphere cerebri
disebut fissura longitudinalis cerebri atau fissura interhemispheric. Sulcus centralis (Rolando)
merupakan alur yang berjalan dengan arah vertikal pada pertengahan facies lateralis hemisphere
dan memisahkan lobus frontal dengan lobus parietal. Fissura lateralis (Sylvian) merupakan alur yang
dalam yang memisahkan lobus frontal dengan lobus temporal, yang tampak pada facies lateralis.
Fissura calcarina merupakan alur yang memanjang dari polus occipitalis ke anterior dan hanya
tampak pada facies medialis hemisphere. Sulcus parieto-occipitalis memisahkan lobus parietal dan
occipital dan hanya terlihat di facies medialis hemisphere.
Lobus frontal terletak di sebelah anterior dari sulcus centralis dan sebelah superior dari fissura
lateralis. Pada facies lateralis lobus frontal dapat ditemukan gyrus precentralis (terletak tepat di
anterior dari sulcus centralis dan berjalan dengan arah vertikal), gyrus frontalis superior, gyrus
frontalis medius, dan gyrus frontalis inferior. Tepat di sebelah ventral gyrus precentralis terdapat
sulcus precentralis. Antara gyrus frontalis superior dan gyrus frontalis medius terdapat sulcus
frontalis superior. Antara gyrus frontalis medius dan gyrus frontalis inferior terdapat sulcus frontalis
inferior. Gyrus frontalis inferior memiliki 3 bagian yaitu (urut dari depan ke belakang) pars orbitalis,
pars triangularis, pars opercularis. Pada facies inferior dari lobus frontal terdapat gyri orbitalis dan
gyrus rectus. Gyri orbitalis inilah yang menyebabkan terbentuknya impressiones gyrorum pada fossa
cranii anterior dari basis cranii. Gyrus rectus terletak paling medial dan dibatasi di sebelah lateralnya
oleh sulcus olfactorius (merupakan tempat berjalannya bulbus et tractus olfactorius).
Lobus parietal terletak di sebelah posterior dari sulcus centralis dan anterior dari sulcus parieto-
occipitalis. Pada facies lateralis lobus parietal tampak gyrus postcentralis, lobulus parietalis
superior, lobulus parietalis inferior, gyrus supramarginalis, gyrus angularis. Gyrus postcentralis
terletak tepat di sebelah posterior dari sulcus centralis dan berjalan dengan arah sejajar dengan
gyrus precentralis. Lobulus parietalis superior dan inferior dipisahkan oleh sulcus intraparietalis.
Gyrus supramarginalis terletak di ujung posterior dari fissura lateralis sementara gyrus angularis
terletak di ujung posterior dari sulcus temporalis superior. Pada facies medialis lobus parietal
tampak precuneus yang terletak tepat di sebelah anterior dari sulcus parieto-occipitalis. Sulcus
centralis jarang ditemukan yang berlanjut hingga facies medialis hemisphere sehingga pada facies
medialis dapat ditemukan lobulus paracentralis (di mana bagian anteriornya merupakan lobus
frontal sementara bagian posteriornya adalah lobus parietal).
Lobus temporal terletak di sebelah inferior dari fissura lateralis. Pada facies lateralis lobus
temporal tampak gyrus temporalis superior, gyrus temporalis medius, dan gyrus temporalis
inferior yang dipisahkan oleh sulcus temporalis superior dan sulcus temporalis medius. Gyrus
temporalis transversus terletak di bagian lobus temporal yang menjadi lantai dari fissura lateralis.
Pada facies inferior lobus temporalis dapat dilihat sulcus temporalis inferior yang memisahkan gyrus
temporalis inferior dengan gyrus fusiformis (gyrus occipitotemporalis). Di sebelah medial dari gyrus

7
fusiformis terdapat sulcus collateral (berlanjut ke anterior sebagai sulcus rhinal) yang
memisahkannya dengan gyrus parahippocampalis. Beberapa literatur lain menyatakan bahwa gyrus
temporalis medius dan inferior dipisahkan oleh sulcus temporalis inferior, sehingga gyrus temporalis
inferior dengan gyrus fusiformis dipisahkan oleh sulcus occipitotemporalis. Tepi medial dari gyrus
parahippocampalis terdapat sulcus hippocampalis.
Lobus occipitalis terletak di sebelah posterior dari sulcus parieto-occipitalis. Pada facies
medialis lobus occipitalis tampak cuneus yang terletak di antara sulcus parieto-occipitalis dan fissura
calcarina. Bagian lobus occipitalis yang terletak di sebelah inferior dari fissura calcarina disebut gyrus
lingualis.
Lobus insula / cortex insula merupakan lobus yang tersembunyi dan hanya tampak apabila
operculum dibuka. Operculum merupakan penutup insula yang tersusun atas bagian dari lobuis
frontal, parietal, dan temporal.
Lobus limbic merupakan aspek medial dari hemisphere cerebri yang mengelilingi corpus
callosum. Lobus limbic tersusun atas gyrus subcallosus, gyrus cinguli, isthmus, gyrus
parahippocampalis. Ujung anterior dari gyrus parahippocampalis akan membentuk penonjolan yang
disebut uncus. Di dalam uncus terdapat nucleus yaitu amygdala. Sulcus callosus memisahkan corpus
callosum dengan gyrus cinguli. Tepi atas dari gyrus cinguli dibatasi oleh sulcus cinguli.
Corpus callosum tersusun atas rostrum, genu, truncus, dan splenium.

8
9
10
11
3. Area Broadmann

Area
Nama area Cortex cerebri Fungsi
Brodmann
1 Area somatik primer Gyrus postcentralis Sensibilitas kutan dan viscera
2 Sensibilitas viscera
3 Sensibilitas kutan
3, 4 Area somatik sekunder Sensoris umum, termasuk nyeri
5, 7 Area asosiasi somatik Lobulus parietalis supor Stereognosis: penilaian
(asosiasi parasensoris) komprehensif karakteristik objek
yang diraba tanpa melihatnya
17 Area visual primer Sekitar fissura calcarina Akhiran radiatio optica dari corpus
(area striata) geniculatum laterale (CGL)
= pusat penglihatan
18 Area visual sekunder Sebelah area 17 Area asosiasi visual
19 Area visual tersier Sebelah area 18 18-19: gerakan scanning otomatis
39 Area asosiasi visual Gyrus angularis bola mata
tinggi
41 Area auditoris primer Gyrus temporalis transversus Akhiran radiatio auditiva dari
42 Area auditoris (convolutio Heschl) corpus geniculatum mediale
sekunder (CGM)
= pusat pendengaran
22 Area asosiasi auditoris Gyrus temporalis supor
(area Wernicke)
Area bahasa sensoris
22 Area asosiasi area-area Gyrus temporalis supor Memproses input-input dari area-
39 asosiasi sensoris Gyrus angularis area asosiasi sensoris
40 Gyrus supramarginalis
43 Area gustatoris Operculum Pusat pengecapan
34 Area olfaksi Uncus Pusat penciuman
9-12 Cortex prefrontalis Bagian depan gyrus frontalis Pengatur depth of feeling
supor – gyri orbitales (afek/perasaan)
“Prefrontal cortex is the
neocortical representative of the
limbic system”
38 Psychical cortex Neocortex polus antor lobus Berhubungan dengan
temporalis “pengalaman” masa lalu,
membangkitkan kembali benda-
benda yang pernah dilihat atau
musik yang pernah didengar
4 Area motoris primer Gyrus precentralis Pusat motorik: asal tractus
corticospinalis et corticobulbaris
6 Area premotoris Gyrus frontalis supor Gerakan manipulatif
(rostral gyrus precentralis) (aktivitas motoris yang dipelajari)
8 Frontal eye field Gyrus frontalis supor Gerakan scanning volunter bola
(rostral area 6) mata
44 Area bahasa motoris Pars opercularis Mekanisme produksi bicara
45 (area Broca) Pars triangularis

12
Pada gyrus precentral dan postcentral terdapat representasi tubuh manusia. Representasi
tubuh manusia pada gyrus precentral disebut homunculus motorik sementara representasi tubuh
manusia pada gyrus postcentral disebut homunculus sensorik. Apabila kita melihat gambar di bawah
tampak ukuran bagian tubuh manusia tertentu tidak seimbang dengan ukuran tubuh manusia
sebenarnya dibandingkan bagian tubuh lain (misal bibir yang memiliki ukuran besar dalam
homunculus sensorik dibanding truncus). Hal ini disebabkan jumlah neuron yang bertanggung jawab
untuk masing-masing bagian tubuh berbeda. Sebagai contoh pada homunculus sensorik, ukuran
bibir lebih besar daripada truncus karena neuron yang bertanggung jawab untuk mengolah informasi
sensorik dari bibir lebih banyak dibanding bagian truncus. Hal serupa juga berlaku bagi homunculus
motorik. Sebagai contoh ukuran jari-jari tangan relative lebih besar dibanding ukuran tungkai pada
homunculus motorik karena neuron yang bertanggung jawab untuk aksi motorik pada jari tangan
lebih banyak. Semakin rumit dan kompleks gerakan yang dapat dilakukan oleh bagian tubuh tertentu
semakin besar pula lah representasi bagian tubuh tersebut pada gyrus precentralis.

13
14
BRAIN II: SUBCORTICAL STRUCTURES, BRAINSTEM, AND
CEREBELLUM
Mufid Arifin

Dienchepalon Dorsal view


 Thalamus:  Colliculus superior (informasi visual)
- Pulvinar thalami  Colliculus inferior (informasi auditory) :
- Adhesio interthalamicus dibawahnya keluar Nervus Cranialis IV
(menghubungkan dextra et sinistra)
- Ventriculus tertius (dihubungkan Cross sectional view
dengan ventriculus lateraris oleh  Tectum : corpora quadrigemina
foramen interventricularis/monroe) (colliculus superior + colliculus inferior)
- Radiatio thalamicus  Aqueductus cerebri
- Lamina medullaris interna et externa (mesenchepali/sylvius)
- Thalamic nuclei: terdiri dari anterior  Substantia nigra ( pars compacta dan
nuclear group, intralaminar/midline pars reticularis)
nuclei, medial nuclear group, lateral  Nucleus rubra
nuclear group, posterior nuclear  Crus cerebri
group
Struktur rostral thalamus: commisura Pons
anterior, corpus fornicis, lamina terminalis  Sulcus basilaris
 Hypothalamus  Fibrae transversi superficialis
- Sulcus hipothalamicus  Fossa rhomboidea
- Chiasma opticum - Sulcus medianus
- Glandula pituitary (infundibullum - sulcus limitans
glandula pituitary) - eminentia medialis
- Tubur cinereum - colliculus facialis
- Corpus mammilaris - fovea superior et inferior
- Fornix - apertura ventriculi lateralis
 Metathalamus - pedunculus cerebelli media
- Corpus geniculatum lateral (relay - area vestibularis
visual) - trigonum nervi vagi
- Corpus geniculatum medial (relay - trigonum nervi hypoglossi
auditory) - area postrema
 Epithalamus - obex
- Glandula pinealis - striae medullaris : membatasi pons
- Trigonum habenular dg medulla oblongata
 Brachium colliculi superioris  Nervus Cranialis V keluar di lateral pons
Brachium colliculi inferioris
Medulla Oblongata
Mesenchepalon Ventral view
Ventral view : Fissura mediana anterior
 Pedunculus cerebri:  Pyramis, decussatio pyramidum
crus cerebri + tegmentum  Sulcus preolivarius : nervus cranialis XII
 Fossa interpeduncularis  Oliva, terdapat nucleus olivarius inferior
(tempat keluar n. cranialis III)  Sulcus postolivarius : Nervus cranialis IX,
X, XI

15
Dorsal view - Archicerebellum
 Sulcus mediana posterior (vestibulocerebellum)
 Tuberculum gracillis Fungsi : mengatur keseimbangan dan
 Tuberculum cuneatum postur, koordinasi gerakan mata dan
 Fasciculus gracilis kepala
 Fascilulus cuneatus Komponen : lobus
flocculonodularis
Cerebellum Nucleus fastigius
- Paleocerebellum (spinocerebellum)
Vermis Hemispherium cerebelli
Fungsi : koordinasi tonus otot trunk
Lingula -
dan extremitas melakukan gerakan
Lobulus centralis Lobulus centralis
Culmen Lobulus quadrangularis ant
or stereotyped.
Declive Lobulus quadrangularis post
or Komponen : Vermis
Folium Lobulus semilunaris sup
or Paravermal zone
or
Tuber Lobulus semilunaris inf Lobus anterior
Lobulus gracilis Nucleus interpositus
Pyramis Lobulus biventer - Neocerebellum (cerebrocerebellum)
Uvula Tonsilla Fungsi : koordinasi gerakan
Paraflocculus nonstereotype
Nodulus Flocculus
Komponen : Hemisperium cerebelli
Nucleus caudatus
 Lobus Anterior
 Peduculus cerebelli superior
 Lobus Posterior
 Peduculus cerebelli media
 Lobus Flocculonodularis
 Peduculus cerebelli inferior
 Cerebellar nuclei :
 Fissura primaria
- Nucleus dentatus
Pembatas lobus anterior – posterior
- Nucleus interpositus: nuc.
 Fissura horisontalis Emboliformis dan nuc. Globosus
 Fissura posterolateralis - Nucleus fastigius

Referensi : catatan anatomi 1.5 dr.Jun,


KLM, Sobotta, Duus’ topical diagnosis in
 Pembagian secara filogenetik neurology, a Textbook of neuroanatomy.

16
NEUROANATOMY OF THE BRAIN II: SUBCORTICAL STRUCTURES,
BRAINSTEM, AND CEREBELLUM
Alexey Fernanda Napitupulu

4. Ganglia Basalis
Ganglia basalis merupakan sekumpulan badan sel (gray matter) yang terkubur di dalam susbtantia
alba hemisphere cerebri. Ganglia basalis terdiri atas putamen, globus pallidus interna (medial),
globus pallidus externa (lateral), dan nucleus caudatus. Nucleus caudatus bersama dengan
putamen sering disebut striatum. Putamen bersama dengan globus pallidus sering disebut nucleus
lenticularis / lentiformis. Beberapa struktur juga sering dikaitkan dengan fungsi dari ganglia basalis
walaupun bukan bagian dari ganglia basalis yaitu substantia nigra, thalamus, dan nucleus
subthalamicus. Secara filogenetik, ganglia basalis dibagi menjadi neostriatum, paleostriatum, dan
archistriatum. Neostriatum terdiri atas nucleus caudatus dan putamen. Paleostriatum terdiri atas
globus pallidus sementara archistriatum terdiri atas amygdala dan claustrum. Pada potongan
horizontal hemisphere tampak adanya substantia alba yang berada di antara nucleus caudatus,
thalamus, dan nucleus lenticularis, yang disebut capsula interna. Pada potongan horizontal, capsula
interna tampak memiliki crus anterior, genu, dan crus posterior. Claustrum merupakan selapis tipis
substantia grisea yang terletak di sebelah lateral dari putamen. Di antara putamen dan claustrum
terdapat capsula externa sementara di lateral claustrum terdapat capsula extrema.

17
Ganglia basalis merupakan bagian dari sistem extrapyramidal. Sistem extrapyramidal adalah
sistem motorik tambahan di luar sistem pyramidal utama (tractus corticospinal dan tractus
corticobulbar). Sistem extrapyramidal ini berfungsi untuk memodulasi sistem pyramidal melalui
koneksi yang sangat luas. Dengan adanya modulasi dari sistem extrapyramidal, sistem pyramidal
akan menghasilkan gerakan motorik yang sesuai dengan kebutuhan. Sama seperti halnya
cerebellum, ganglia basalis tidak memiliki proyeksi langsung ke LMN. Ganglia basalis mengolah input
motorik dari cortex cerebri, memodulasinya, kemudian mengembalikan informasi motorik yang
telah dimodulasi ini ke cortex cerebri. Dalam bekerja sebagai komponen motorik tambahan ganglia
basalis memiliki 2 sirkuit utama yaitu direct pathway/loop dan indirect pathway/loop. Direct
pathway fungsinya untuk mengeksitasi sistem pyramidal, indirect pathway untuk menginhibisi
sistem pyramidal. Kedua mekanisme ini berjalan secara sinergis, sehingga ouput adalah gerakan
yang termodulasi (tidak berlebihan, tidak terlalu cepat atau lambat)

18
Beberapa output dari cortex cerebri akan masuk ke sistem ekstrapiramidal dan mengeksitasi
striatum. Eksitasi striatum juga diperkuat oleh impuls eksitatorik dari substantia nigra pars
compacta. Hasilnya Striatum akan sangat tereksitasi sehingga akan sangat menginhibisi GPi dan
substantia nigra pars reticularis. GPi dan Substantia nigra yang telah terinhibisi kurang bisa
menginhibisi Thalamus. Akibatnya thalamus yang tidak dihambat akan sangat tereksitasi sehingga
akan sangat mengeksitasi cortex cerebri yang kemudian akan melepaskan modulated pyramidal
tract. Gross output dari direct pathway adalah inisiasi gerakan cepat.

19
Beberapa output dari cortex cerebri akan masuk ke sistem ekstrapiramidal dan mengeksitasi
striatum. Namun di sini striatum akan diinhibisi juga oleh substantia nigra pars compacta. Namun
sinyal eksitasi dari cortex lebih kuat sehingga striatum tetap tereksitasi. Striatum yang tereksitasi
akan sangat menginhibisi GPe. GPe yang terinhibisi kurang bisa menginhibisi STN sehingga STN akan
tereksitasi. STN kemudian akan mengeksitasi GPi dan subtantia nigra pars reticular. Akibatnya GPi
dan substantia nigra pars reticular akan sangat tereksitasi sehingga akan sangat menginhibisi
thalamus. Thalamus terinhibisi kurang bisa mengeksitasi cortex, sehingga sinyal output dari cortex
akan terinhibisi. Output dari indirect pathway adalah inhibisi dari gerakan, sehingga total output
dari direct+indirect pathway adalah gerakan yang termodulated (halus, tidak terlalu cepat dan
lambat).

5. Truncus cerebri (brain stem)


Truncus cerebri terdiri atas mesencephalon, pons, dan medulla oblongata. Truncus cerebri
memanjang dari midbrain-diencephalic junction (setinggi tentorium cerebelli) hingga junctio
cervicomedullaris (terletak setinggi foramen magnum dan decussatio pyramidalis). Mesencephalon
bertemu dengan pons pada junctio pontomesencephalic sementara pons bertemu dengan medulla
oblongata pada junctio pontomedullaris.
Mesencephalon terdiri atas tegmentum, tectum, dan pedunculus cerebri (crus cerebri).
Tectum (berarti “atap”) merupakan bagian mesencephalon di sebelah dorsal dari aqueductus

20
cerebri. Tectum terdiri atas corpora quadrigemina yang tersusun dari 2 colliculus superior dan 2
colliculus inferior. Colliculus superior berperan dalam fungsi visual sementara colliculus inferior
dalam fungsi pendengaran. Pada tegmentum setinggi colliculus superior terdapat nucleus rubra (red
nucleus) dan nucleus oculomotor. Pada tegmentum setinggi colliculus inferior terdapat nucleus
trochlearis. Di sekeliling aqueductus cerebri terdapat sekumpulan substantia grissea yang disebut
periaqueductal gray matter. Pedunculus cerebri menonjol ke arah ventral dan celah di antara kedua
crus cerebri ini disebut fossa interpeduncularis (tempat keluarnya n.oculomotor). Crus cerebri berisi
tractus corticospinal, corticobulbar, dan corticopontine. Pada mesencephalon juga terdapat
substantia nigra
Pons (berarti “jembatan”) terletak di sebelah caudal mesencephalon dan ventral dari
cerebellum. Pons diberi nama demikian karena tampak seperti jembatan yang menghubungkan
kedua hemisphere cerebellum apabila dilihat dari anterior. Dari lateral, pons terlihat dihubungkan ke
cerebellum melalui pedunculus cerebellaris media dan tampak radix dari n.trigeminus. Pons terdiri
atas tegmentum dan basis. Basis pontis merupakan bagian paling ventral dari pons dan menonjol.
Basis pontis berisi tractus corticospinal dan corticobulbar serta nucleus pontine. Pada basis pontis
terdapat sulcus arteri basilaris, tempat berjalannya a.basillaris. Tegmentum pontis terletak lebih
dorsal. Pons membentuk bagian atas dari fossa rhomboidea (lantai ventriculus quartus).
Medulla oblongata terletak di sebelah caudal dari pons. Pada tampakan ventral terlihat 2
penonjolan di kanan kiri fissure mediana anterior yang disebut pyramis. Di dalam pyramis berjalan
tractus corticospinal anterior dan lateral. Tractus corticospinal lateral kemudian akan menyilang di
decussatio pyramidalis yang terletak di caudal medulla oblongata. Medulla oblongata sering dibagi
menjadi medulla oblongata bagian rostral dan caudal. Medulla oblongata bagian rostral akan
membentuk bagian caudal dari fossa rhomboidea. Di medulla oblongata bagian rostral juga terdapat
sepasang penonjolan di sebelah lateral dari pyramis yaitu oliva (berisi nucleus olivarius inferior).
Antara pyramis dan oliva terdapat alur yang disebut sulcus preolivarius (tempat keluarnya n.cranial
XII). Tepat di sebelah dorsal dari oliva terdapat sulcus postolivarius (tempat keluarnya n.cranial IX, X,
dan XI). Di antara sulcus postolivarius dan sulcus dorsolateral terdapat penonjolan yang disebut
tuberculum cinereum (di dalamnya terletak nucleus tractus spinalis n.trigeminus). Medulla
oblongata bagian caudal tidak berkontribusi dalam membentuk fossa rhomboidea dan juga tidak
memiliki oliva. Yang khas dari medulla oblongata bagian caudal adalah adanya tuberculum gracilis
dan tuberculum cuneatum pada sisi dorsalnya. Tuberculum gracilis terletak lebih medial dibanding
tuberculum cuneatum. Di dalam tuberculum gracilis dan tuberculum cuneatum terdapat nucleus
gracilis dan nucleus cuneatus (keduanya merupakan badan sel neuron ordo II dari system DCML).
Fossa rhomboidea merupakan lantai dari ventriculus quartus yang tersusun atas pons dan
medulla oblongata bagian rostral. Batas antara pons dan medulla oblongata pada fossa rhomboidea
adalah stria medullaris. Pada bagian pons dari fossa rhomboidea terdapat colliculus facialis.
Colliculus facialis disebabkan oleh serabut saraf dari n.facialis yang mengitari nucleus abducens
setinggi colliculus facialis. Serabut saraf n.facialis ini disebut genu internum n.facialis. Pada bagian
medulla oblongata dari fossa rhomboidea terdapat area vestibularis, trigonum nervi hypoglossi,
trigonum nervi vagi, area postrema, dan obex. Di dalam area vestibularis terdapat nucleus
cochlearis dan nucleus vestibularis. Di dalam trigonum nervi hypoglossi terdapat nucleus
hypoglossus. Di dalam trigonum nervi vagi terdapat nucleus dorsalis vagi. Obex merupakan bagian
paling caudal dari fossa rhomboidea dan menandakan pintu masuk ke dalam canalis centralis
medulla spinalis yang normalnya tertutup pada struktur dewasa. Area postrema merupakan pusat
muntah yang disebut CTZ (chemoreceptor trigger zone).

21
6. Cerebellum

Cerebellum merupakan organ terbesar yang berada di fossa cranii posterior. Cerebellum berada di
dalam kompartemen infratentorial di sebalah posterior dari pons dan medulla oblongata.
Cerebellum memiliki cortex yang terletak superficial dan substantia alba yang berada di central.
Pada potongan midsagital dari cerebellum dapat terlihat susunan dari gray matter dan white matter
yang berbentuk seperti ranting pohon atau arbor vitae (pohon kehidupan). Celah pada permukaan
cerebellum disebut sulci atau fissura dan penonjolannya disebut folia. Cerebellum memiliki struktur
central yang disebut vermis dan struktur lateral yang disebut hemisphere. Pada permukaan
cerebellum terdapat fissura prima, fissura horizontal, dan fissura posterolateral. Fissura prima
memisahkan lobus anterior dengan lobus posterior dari cerebellum. Fissura posterolateral (yang
terletak di ventral cerebellum) memisahkan lobus posterior dengan lobus flocculonodularis.

22
Cerebellum memiliki lengan yang disebut pedunculus cerebelli, yang menghubungkan
cerebellum dengan brainstem. Terdapat 3 pedunculus cerebellaris : pedunculus cerebellaris
superior, pedunculus cerebellaris media, dan pedunculus cerebellaris inferior. Pedunculus
cerebellaris superior menghubungkan cerebellum dengan mesencephalon. Pedunculus cerebellaris
media menghubungkan cerebellum dengan pons. Pedunculus cerebellaris inferior menghubungkan
cerebellum dengan medulla oblongata.
Secara filogenetik, cerebellum dibagi menjadi archicerebellum, paleocerebellum, dan
neocerebellum. Archicerebellum disebut juga vestibulocerebellum karena memiliki koneksi dengan
sistem vestibular yang signifikan. Archicerebellum terdiri atas lobus flocculonodularis dan vermis
inferior. Secara umum, archicerebellum memiliki fungsi untuk menjaga keseimbangan, postur, dan
kontrol gerakan mata. Paleocerebellum disebut juga spinocerebellum karena memiliki koneksi
dengan medulla spinalis yang signifikan. Paleocerebellum terdiri atas lobus anterior, paravermis /
hemisphere intermedia, dan vermis. Paleocerebellum memiliki fungsi untuk menjaga postur,
mengkoordinasikan tonus otot truncal dan extremitas selama gerakan stereotipik (vermis
mengkontrol otot truncal dan proksimal ekstremitas sementara paravermis mengkontrol otot distal
dari ekstremitas). Neocerebellum disebut juga cerebrocerebellum atau pontocerebellum karena
memiliki koneksi dengan hemisfer cereberi melalui pons yang signifikan. Neocerebellum terdiri atas
lobus posterior dan hemisphere lateral cerebellum, memiliki fungsi utama untuk merencanakan,
mengkoordinasikan, dan mengeksekusi gerakan-gerakan cepat, terlatih, dan non-stereotipik dari
ekstremitas. Secara fungsional, cerebellum dibagi menjadi lobus flocculonodularis, inferior vermis,
vermis, paravermis / hemisphere intermedia, dan hemisphere lateral.

23
Cerebellum memiliki sekumpulan subtantia grisea yang terkubur di dalam substantia alba, yang
disebut deep cerebellar nuclei (yang disebut juga roof nuclei karena terletak di atap dari ventricel
quartus). Semua output dari cortex cerebellum harus direlay terlebih dahulu di deep cerebellar
nuclei. Deep cerebellar nuclei terdiri atas (urut dari lateral ke medial) nucleus dentatus, nucleus
emboliformis, nucleus globosus, dan nucleus fastigii. Nucleus emboliformis dan globosus secara
bersama-sama disebut nucleus interpositus. Nucleus dentatus menerima output dari hemisphere
lateral sementara nucleus interpositus menerima output dari hemisphere intermedia / paravermis.
Nucleus fastigii menerima output dari vermis. Nucleus vestibularis memiliki fungsi yang hampir sama
dengan deep cerebellar nuclei karena ia menerima output dari vermis inferior dan lobus
flocculonodularis.

7. Diencephalon
Diencephalon terletak di antara hemisphere cerebrum dan truncus cerebri. Diencephalon terdiri
atas thalamus, epithalamus, hypothalamus, dan subthalamus. Diencephalon terletak di sebelah
rostral dari mesencephalon. Thalamus dan hypothalamus membentuk dinding dari ventriculus
tertius.
Thalamus merupakan sekumpulan neuron yang mengisi kurang lebih 4/5 volume diencephalon.
Thalamus terdiri atas berbagai nuclei yang tersusun menjadi beberapa nuclear group. Antara
thalamus dexter dan sinister dihubungkan oleh adhesio interthalamica. Thalamus tersusun atas
nuclei anterior, nuclei ventrolateral, dan nuclei medial. Nuclei ventrolateral kemudian dibagi lagi
menjadi kelompok nucleus ventral dan lateral. Kelompok nucleus ventral terdiri atas nucleus ventral
anterior (VA), nucleus ventral lateral (VL), nucleus ventroposterolateral (VPL), dan nucleus
ventroposteromedial (VPM). Kelompok nucleus lateral terdiri atas nucleus lateral dorsal dan nucleus
lateral posterior. Nucleus thalamus yang lainnya antara lain nucleus intralaminar, nucleus
centromedian, dan nucleus reticular thalamus.
Hypothalamus merupakan pusat autonom seperti mengatur respirasi, sirkulasi, keseimbangan
cairan, suhu tubuh, dan asupan nutrisi. Hypothalamus dibatasi dari thalamus oleh sulcus
hypothalamus. Subthalamus tesusun atas nucleus subthalamicus yang terletak di bawah thalamus
dan dorsolateral dari corpus mamillaris. Epithalamus tersusun atas habenula, nuclei habenular,
commisura habenular, dan commisura posterior.

24
----SEKIAN----
REFERENSI :
- Blumenfeld, Hal. 2002. Neuroanatomy through Clinical Cases. Sunderland : Sinauer Associates,
Inc
- Waxman , SG. 2010. Clinical Neuroanatomy 26th edition. USA : The McGraw-Hill Companies, Inc
- Baehr F, Frotscher F. 2005. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology 4th edition. New York : Thieme
- Netter FH, dkk. 2002. Atlas of Neuroanatomy and Neurophysiology. USA : Icon Custom
Communications

Thanks to : Departemen Anatomi, Embriologi, dan Antropologi Fakultas Kedokteran UGM; Kakak-
kakak asisten anatomi; dan teman-teman rekan asisten anatomi 2009 yang luar biasa ! :D

25
CRANIAL MENINGES, VENTRICLES & VASCULARIZATION OF
BRAIN
Annisa Luthfiya Imani

Osteologi d. Diaphragma sellae


Calvaria cranii Menutupi sella turcica, ditembus
 Sulcus sinus sagitalis supor Oleh infundibulum gland.hypophysis
 Sulci arteriosi et venosi – a. meningea Inervasi: N. V, N. X
media (duramater memiliki reseptor nyeri)
 Foveolae granulares – corpus Pacchioni Lamina meningealis cranialis berlanjut
menjadi duramater spinalis  1 lapis aja
Basis cranii 2. Arachnoidea
 Fossa cranii antor – gyri et sulci orbitales Granulatio arachnoidalis (corpus
 impressiones gyrorum (digitatae) Pacchioni) merupakan klep satu arah
Fossa cranii media – lobus temporal yang mengalirkan LCS dari spatium
Fossa cranii postor – cerebellum subarachnoidea  sinus sagitalis
 Foramen  lihat tabel Nn. Craniales supor
 Sulcus  sesuai dengan sinus yang 3. Piamater
melewatinya, misal sulcus sinus sigmoidei Melekat erat pada cerebrum, melapisi
dilewati oleh sinus sigmoideus, dll hingga sulcus
 Sella turcica, fossa hypophysialis   Incisura tentorii
ditempati oleh gland. hypophysis Takik yang dibentuk oleh 2 tentorium
 Margo supor partis petrosae cerebelli, dilewati oleh pedunculus cerebri
Tempat melekatnya tentorium cerebelli  Vaskularisasi:
 Protuberantia occipitalis interna A. meningea antor  for. ethmoidale antor
Tempatnya confluens sinuum A. meningea media  for. spinosum
A. meningea postor  for. jugulare
Meninges  Spatium epidurale cranial
 Terdiri dari 3 lapis (luar – dalam): Tidak terdapat pada orang normal,
1. Duramater cranialis: terbentuk apabila terjadi epidural
Lamina endostealis (periosteum hematoma.
cranium) Spatium epidural cranial tidak
Lamina meningealis  duplikatura melanjutkan diri menjadi spatium
(terdiri atas 2 lapis lamina epidural spinale.
meningealis):  Spatium subdurale
a. Falx cerebri  Spatium subarachnoidea  pelebarannya
Memisahkan kedua disebut cisterna (berisi LCS):
hemispherium cerebri, tepi a. Cisterna cerebellomedullaris (magna)
bawahnya sampai corpus Di antara cerebellum dan medulla
callosum oblongata
b. Falx cerebelli b. Cisterna pontis
Memisahkan kedua Di depan/sekitar pons
hemispherium cerebelli c. Cisterna interpeduncularis
c. Tentorium cerebelli Di fossa interpeduncularis
Memisahkan cerebrum- mesencephalon
cerebellum, membatasi incisura d. Cisterna ambiens
tentorii Di samping pons
e. Cisterna chiasmatis

26
Sinus Duramatris di kanan – kiri clivus, ke arah foramen
 Terdapat di antara 2 lapisan duramater jugulare
 Menerima aliran darah dari:  Sinus sphenoparietalis
Vv. cerebri  Sinus marginalis
Vv. diploicae di kanan – kiri foramen magnum
Vv. Emissariae  Confluens sinuum
(dari luar cranium masuk ke dalam): Merupakan muara dari
V. emisaria parietalis – for. parietale 1. sinus sagitalis supor
V. emisaria mastoidea – for. 2. sinus rectus
mastoidea 3. sinus occipitalis
V. emisaria occipitalis selanjutnya mengalirkan darah ke sinus
V.emisaria condylaris–canalis transversus  sinus sigmoideus  v.
condylaris jugularis interna
Sinus duramatris tunggal  Sinus cavernosus  sinus petrosus infor 
 Sinus sagitalis supor  confluens sinuum; v. jugularis interna
lanjutan v. nasalis, berjalan pada sulcus
sinus sagitalis supor Systema Ventriculare
 Sinus sagitalis infor  sinus rectus;  Permukaannya dilapisi oleh sel ependyma
di tepi bawah falx cerebri  Plexus choroideus, terdapat pada:
 Sinus rectus  confluens sinuum; o Corpus et cornu infor ventriculus
lanjutan v. cerebri magna (Galen), di lateralis
antara tentorium dexter et sinister o Atap ventriculus tertius
 Sinus occipitalis  confluens sinuum; o Bagian bawah ventriculus quartus
di antara falx cerebelli, berjalan pada  LCS dihasilkan oleh plexus choroideus
eminentia occipitalis interna, dekat  Ventriculus lateralis (dextra et sinistra)
foramen magnum o Batas supor: corpus callosum
Sinus duramatris berpasangan o Batas inferolateral: nucleus caudatus
 Sinus tranversus  sinus sigmoideus; o Batas medial: septum pellucidum
berjalan pada sulcus sinus transversus Di dalam cerebrum, ventriculus dextra et
 Sinus sigmoideus  V. jugularis interna; sinistra dipisahkan oleh septum
berjalan pada sulcus sinus sigmoideus pellucidum sehingga sama sekali tidak
 Sinus cavernosus berhubungan
berada di kanan – kiri sella turcica Ventriculus lateralis terdiri atas:
 Sinus intercavernosi: menghubungkan  Cornu anterius (frontale)
sinus cavernosus dextra et sinistra  Corpus
Sinus cavernosus diisi oleh  Cornu inferius (temporale)
 sisi medial: A. carotis interna & N VI  Cornu posterius (occipitale)  batas
 sisi lateral, dari superior ke inferior: medial: hippocampus
N III, N IV, N V1, N V2 Trigonum ventriculi lateralis = trigonum
Pada bagian anterior, sinus cavernosus collaterale
merupakan muara dari: Septum pellucidum
 V. opthalmica superior  V. facialis Calcar avis – penonjolan akibat fissura
 V. opthalmica inferior calcarina pada dinding ventriculus
Pada bagian posterior, sinus cavernosus lateralis
akan bermuara ke:  For. interventriculare (Monroe)
 sinus petrosus supor Di depan thalamus
 sinus petrosus infor  Ventriculus tertius
 Sinus petrosus supor  sinus transversus; Di antara kedua thalamus
di margo supor partis petrosae
 Aqueductus cerebri
 Sinus petrosus infor  V. jugularis interna; (mesencephali/Sylvius)

27
 Ventriculus quartus  LCS (Liquor Cerebrospinalis)
Di antara pons dengan cerebellum, Terdapat di dalam systema ventriculare
dasar ventriculus quartus: fossa dan spatium subarachnoidale.
rhomboidea Dari systema ventriculare LCS akan
 For. Luschka (apertura ventriculi quarti mengalir menuju canalis centralis, namun
lateralis) pada ventriculus quartus, LCS akan keluar
 For. Magendi (apertura ventriculi quarti dari systema ventriculare menuju spatium
mediana) subarachnoidea melalui For. Luschka et
 Canalis centralis Magendi.
Spatium subarachnoidea yang pertama
dialiri LCS adalah cisterna magna.

Vaskularisasi
1. A. carotis interna  A. cerebri media  Facies convexa lobus temporalis dari
fissura lateralis – sulcus temporalis
medius
A. cerebri antor  Facies medialis lobus temporalis pada
Lewatnya: ujung frontal
Canalis caroticus  sulcus caroticus  A. lenticulooptica  thalamus opticus
2. A. vertebralis  A. basilaris A. cerebri  A. lenticularis  globus pallidus
postor  A. lenticulostriata  nucl. caudatus

A. cerebelli infor postor A. cerebri postor:


A. cerebelli infor antor  Facies convexa lobus temporalis dari tepi
A. labyrinthi bawah – sulcus temporalis medius
A. cerebelli supor  Facies convexa lobus occipitalis dari tepi
Lewatnya: bawah – fissura parieto-occipitalis
For. transversarium  sulcus/canalis a.  Facies medialis lobus occipitalis et
vertebralis  for. magnum  sulcus temporalis
basilaris
Circulus arteriosus cerebri (Willis), dibentuk
Daerah vaskularisasi: oleh:
A. cerebri antor:  A. cerebri antor
 Facies medialis lobus frontalis – parietalis  A. cerebri media (a. carotis interna)
sampai fissura parieto-occipitalis
 A. cerebri postor
 Facies convexa lobus frontalis dari tepi
 A. communicans antor
kranial – sulcus frontalis supor
Menghubungkan a. cerebri antor kanan-
 Facies convexa lobus parietalis dari tepi kiri
kranial – sulcus interparietalis dan fissura
 A. communicans postor
parieto-occipitalis
Menghubungkan a. cerebri media - postor
A. cerebri media:
 Insula
 Facies convexa lobus frontalis dari fissura
lateralis – sulcus frontalis supor
 Facies convexa lobus parietalis dari fissura
lateralis – sulcus interparietalis

28
CRANIAL MENINGES, VENTRICLES & VASCULARIZATION OF BRAIN
Annisa Luthfiya Imani

Cranial Meninges
Cranial meninges merupakan lapisan membranosa otak yang terletak dekat dengan cranium.
Cranial meninges:
 melindungi otak
 membentuk supporting framework untuk arteri, vena, dan sinus venosus
 membentuk cavitas berisi cairan yaitu spatium subarachnoid yang penting untuk fungsi
normal otak.
Meninges terdiri dari 3 lapis jaringan ikat membranosa (dari luar ke dalam):
1. dura mater cranialis (dura): lapisan fibrosa eksterna yang tebal dank eras
2. arachnoid mater (arachnoidea): lapisan tengah, tipis
3. pia mater (pia): lapisan internal, tipis, vasculated.
Arachnoidea dan pia merupakan membran yang kontinu, yang bersama disebut leptomeninx.
Arachnoidea terpisah dari pia oleh spatium subarachnoidea/leptomeningealis yang mengandung
liquor cerebrospinal (LCS). Ruang yang berisi cairan ini membantu mempertahankan keseimbangan
cairan esktraseluler di otak. LCS merupakan cairan bening yang konstitusinya mirip darah; LCS
menyediakan nutrisi tetapi dengan protein yang lebih sedikit dan konsentrasi ion yang berbeda. LCS
dibentuk oleh plexus choroideus yang ada pada empat ventrikel otak. LCS meninggalkan system
ventrikuler dan masuk ke spatium subarachnoid dimana ia menjadi bantalan dan member nutrisi
untuk otak.

Dura mater cranialis


Dura mater merupakan membran yang tebal, padat, dan terdiri dari 2 lapisan/bilaminair
(duramater cranialis. Duramater spinalis hanya memiliki 1 lapisan). Dura mater disebut juga
pachymeninx. Dura mater menempel langsung pada tabula interna calvaria cranii. Dua lapis dura
mater cranialis yaitu (1) lamina endostealis atau external periosteal layer yang dibentuk oleh
periosteum yang mekapisi bagian internal calvaria cranii, dan (2) lamina meningealis atau internal
meningeal layer, suatu membrana fibrosa yang kuat dan pada foramen magnum berlanjut ke dura
mater medulla spinalis. Kecuali pada lokasi sinus duramatris dan duplikatura dura mater terjadi,
lamina meningealis menempel erat dengan lamina endostealis dan tidak dapat dipisahkan.

Dural Infoldings or Reflections


Pada beberapa lokasi, lamina meningealis duramater terpisah menjauh dari lamina endostealis
duramater untuk melipat membentuk dural infoldings/duplikatura duramater. Duplikatura
duramater ini membagi cavitas crania menjadi beberapa kompartemen, membentuk partisi parsial
(dural septa) antara beberapa bagian otak. Duplikatura duramater terdiri dari:
 falx cerebri
 tentorium cerebelli
 falx cerebelli
 diaphragma sellae

29
Falx cerebri merupakan duplikatura duramater yang terbesar, terletak pada fissure lonitudinalis
cerebri yang memisahkan hemispherium cerebri destra dan sinistra. Falx cerebri menempel ke
permukaan internal calvaria cranii, dari crista frontalis os frontalis dan crista galli os ethmoidalis
hingga ke protuberancia occipitalis interna. Tepi bawah falx cerebri sampai ke corpus callosum. Falx
cerebri berakhir dengan menjadi kontinu dengan tentorium cerebelli.
Tentorium cerebelli merupakan duplikatura duramater yang kedua terbesar, berupa septum
berbentuk mirip bulan sabit yang memisahkan lobus occipitalis cerebrum dari cerebellum.
Tentorium cerebella menempel pada processus clinoideus os sphenoidalis, pars petrosus os
temporalis, dan bagian internal os occipitalis serta sebagian os parietalis.
Falx cerebri menempel ke tentorium cerebella dan mengangkatnya, sehingga membentuk
tampakan seperti tenda (tentorium = tent). Tentorium cerebella membagi cavitas cranii menjadi
kompartemen supratentorial dan infraentorial. Kompartemen supratentorial dibagi menjadi dua
bagian kanan dan kiri oleh falx cerebri. Batas anteromedial tentorium cerebella cekung dan bebas
(tidak menempel ke cranium) sehingga menimbulkan adanya celah/takik yang disebut incisura
tentorii, yang dilewati oleh pedunculus cerebri.
Falx cerebelli merupakan duplikatura duramater vertical yang berada di inferior tentorium
cerebella di bagian posterior fossa crania posterior. Falx cerebella menempel pada crista occipitalis
interna dan memisahkan kedua hemispherium cerebella secara parsial.
Diaphragma sellae merupakan duplikatura duramater yang terkecil, terletak di antara processus
clinoideus, membentuk atap parsial menutupi fossa hypophysialis dan ditembus oleh (memiliki
apertura untuk) infundibulum gland. Hypophysis dan vv. Hypophysialis.

Sinus Venosus Duramatris


Dural venous sinuses/sinus venosus duramatris merupakan ruangan berlapis endotel yang
terletak di antara lamina endostealis dan lamina meningealis duramater. Sinus duramatris terbentuk
pada lokasi dimana duplikatura duramater menempel. Jadi, duramater lamina endostialis menempel
pada cranium, dan lamina meningealis yang pada beberapa lokasi menjauh dari dura dan mengalami
pelipatan, sehingga ada ruangan antara lamina endostealis dan lamina meningealis duramater.
Sinus duramatris menerima aliran darah dari vena-vena bersar di permukaan otak, dan sebagian
besar darah di otak pada akhirnya akan didrainase melalui sinus duramatris ini menuju ke v. jugularis
interna. Vena-vena tersebut antara lain:
 Vv. Cerebri
 Vv. Diploicae
 Vv. Emissaria (vena dari luar cranium yang masuk ke dalam):
o V. emissaria parietalis – melalui for. parietale
o V. emissaria mastoidea – for. mastoidea
o V. emissaria occipitalis
o V. emissaria condylaris – canalis condylaris
Sinus duramatris ada yang tunggal dan berpasangan. Sinus sagitalis yang tunggal yaitu:
 Sinus sagitalis superior
 Sinus sagitalis inferior
 Sinus rectus
 Sinus occipitalis

30
Sedangkan sinus duramatris yang berpasangan yaitu:
 Sinus transversus
 Sinus sigmoideus
 Sius cavernosus
 Sinus petrosus superior
 Sinus petrosus inferior
 Sinus sphenoparietalis
 Sinus marginalis
Sinus sagitalis superior merupakan lanjutan v. nasalis, berjalan pada sulcus sinus sagitalis
superior pada calvaria cranii, di batas superior falx cerebri. Sinus sagitalis superior dimulai dari crista
galli dan berakhir di protuberancia occipitalis interna dimana ia bermuara ke confluens sinuum.
Sinus sagitalis superior menerima darah dari v. cerebri superior. Sinus sagitalis superior juga
berhubungan dengan lateral venous lacunae yang merupakan ekspansi lateral sinus sagitalis
superior.
Granulatio arachnoidea merupakan pemanjangan arachnoidea yang protrusi hingga ke lamina
meningealis duramater ke dalam sinus duramatris dan lateral venous lacunae. Granulatio
arachnoidea mentranspor LCS dari spatium subarachnoidea ke sistem vena. Penonjolan granulation
arachnoidea ini dapat mengerosi tulang dan membentuk cekungan-cekungan pada calvaria cranii
yang disebut foveola granulares.
Sinus sagitalis inferior jauh lebih kecil dibanding sinus sagitalis superior, berjalan pada tepi
inferior falx cerebri dan bermuara ke sinus rectus.
Sinus rectus dibentuk oleh gabungan sinus sagitalis inferior dan v. cerebri magna. Sinus rectus
berjalan ke arah inferoposterior di sepanjang tempat menempel falx cerebri pada tentorium
cerebella dan bermuara ke confluens sinuum.
Sinus occipitalis terletak di antara falx cerebella, berjalan pada eminentia occipitalis interna
dekat foramen magnum dan bermuara ke confluens sinuum.
Confluens sinuum merupakan tempat bermuara sinus sagitalis superior, sinus rectus, dan sinus
occipitalis, kemudian mengalirkan darah ke sinus transversus.
Sinus transversus menerima darah dari confluens sinuum dan berjalan ke arah lateral pada
sulcus sinus transversus. Sinus transversus ini akan bermuara ke sulcus sigmoideus.
Sulcus sigmoideus berjalan pada sulcus sinus sigmoideus. Setelah melewati foramen juguloaris,
sinus sigmoideus akan bermuara ke v. jugularis interna.
Sinus cavernosus terletak bilateral di kanan-kiri sella turcica. Sinus cavernosus teridiri dari plexus
venosus yang dindingnya sangat tipis, dari fissura orbitalis superior hingga apex pars petrosus os
temporalis. Sinus cavernosus menerima darah dari v. ophtalmica superior et inferior, v. cerebri
media superficialis, dan sinus sphenoparietalis. Sinus cavernosus dextra et sinistra dibuhungkan oleh
sinus intercavernosi yang terletak di anterior dan posterior infundibulum gland. hypophysialis. Sinus
cavernosus ini diisi oleh a. carotis interna dan n. VI pada sisi medialnya dan (dari superior ke inferior)
n. III, n. IV, n. V1, dan n. V2 pada sisi lateralnya. Sinus cavernosus akan bermuara ke sinus petrosus
superior et inferior dan via vv. emissaria menuju ke plexus pterygoideus.
Sinus petrosus superior berjalan pada margo superior partis petrosae yang merupakan tempat
menempel tentorium cerebella. Sinus petrosus superior akan bermuara ke sinus transversus.
Sinus petrosus inferior berjalan di kanan-kiri clivus, ke arah foramen jugulare, dan bermuara ke
v. jugularis interna. Plexus basillaris menghubungkan kedua sinus petrosus inferior dan behuungan
di inferior dengan plexus venosus vertebralis interna.

31
Vv. emissaria menghubungkan sinus duramatris dengan vena-vena di luar cranium. Ukuran dan
jumlah vv. emissaria bervariasi.

32
Sinus cavernosus dan struktur di dalamnya:

33
Vaskularisasi dan Inervasi Duramater
Vaskularisasi duramater oleh:
 A. meningea anterior, masuk ke cavitas cranii melalui for. ethmoidale anterior
 A. meningea media, masuk ke cavitas cranii melalui for. spinosum
 A. meningea posterior, masuk ke cavitas cranii melalui for. jugulare
Yang terbesar adalah a. meningea media yang merupakan cabang dari a. maxillaris. A. meningea
media masuk ke fossa cranii media melalui foramen spinosum, lalu berbelok ke arah superoanterior
pada ala magna os sphenoid, dimana ia bercabang menjadi r. anterior dan r. posterior. A. meningea
media r. anterior berjalan ke superior ke arah pterion lalu berbelok ke posterior, naik ke arah vertex.
R. posterior berjalan ke posteriosuperior dan membentuk banyak cabang pada bagian posterior
cranium. Vena-vena duramater berjalan bersama aa. meningea.
Duramater pada lantai fossa cranii anterior dan media dan atap fossa cranii posterior diinervasi
oleh cabang meningeal ketiga cabang n. V, yaitu n. ethmoidalis rr. meningealis anterior (dari n. V1),
n. maxillaris rr. meningealis (n. V2), dan n. mandibularis rr. meningealis (n. V3). Ketiganya
menginervasi duramater pada fossa cranii anterior, sedangkan pada fossa cranii media hanya oleh
dua saraf yaitu dari cabang n. V2 dan n. V3.
Duramater yang membentuk atap fossa cranii posterior (tentorium cerebelli) dan bagian
posterior falx cerebri diinervasi oleh n. tentorialis yang merupakan cabang n. opthalmicus/n. V1.
Dura pada fossa cranii posterior juga menerima serabut saraf sensoris dari ganglion spinalis C2 dan
C3 yang dibawa oleh n. spinalis C2 dan C3 atau melalui serabut yang dibawa oleh n. X dan n. XII.
Ujung saraf sensoris pada dura lebih banyak pada dua sisi sinus sagitalis superior dan di tentorium
cerebelli. Serabut nyeri paling banyak di lokasi berjalannya arteri dan vena pada dura. Nyeri dari
duramater biasanya dialihkan, dirasakan sebagai nyeri kepala pada daerah kutaneus yang diinervasi
oleh n. spinalis cervical atau cabang n. V.

34
35
Arachnoid mater dan pia mater
Arachnoid mater dan pia mater berasal dari selapis mesenkim yang mengelilingi otak embrional.
Diantara kedua lapisan ini terdapat spatium subarachnoidea yang berisi LCS. Antara arachnoid dan
pia terdapat trabeculae arachnoidea yang berbentuk seperti jarring. Arachnoid mater yang
avaskuler, meskipun sangan dekat dengan lamina meningealis duramater, tidak menempel dengan
duramater, yang membuat arachnoid berada tetap dekat dengan lamina meningealis duramater
adalah karena tekanan dari LCS. Piamater merupakan membrane tipis yang sangat vaskuler dan
menempel ke otak mengikuti hingga ke sulcus-sulcusnya. Saat aa. cerebri menembus cortex cerebri,
pia mengikuti arteri-arteri tersebut dalam jarak pendek, membentuk pial coat dan spatium
periarterial.

Meningeal spaces
Ada tiga “ruangan” meningeal yang sering disebut sehubungan dengan cranial meninges dan
hanya satu dari ketiga ruangan ini yang terjadi tanpa adanya kondisi patologis. Tiga ruangan
tersebut:
 Spatium epidural/extradural bukan ruangan yang normal muncul di antara cranium dan
lamina endostealis duramater, karena normalnya duramater menempel erat pada cranium.
Ruangan ini terjadi hanya secara patologis. Misalnya, saat ada a. meningeal yang ruptur dan
darah yang keluar mendorong duramater lamina endostealis menjauh dari cranium.
Ruangan ini tidak kontinu dengan spatium epidural pada medulla spinalis, yang merupakan
ruangan yang terjadi secara natural, berisi lemak epidural dan plexus venosus.
 Spatium subdural juga bukan ruangan yang normal terjadi di antara dura dan arachnoid.
Ruangan ini dapat terbentuk jika ada trauma seperti benturan kepala
 Spatium subarachnoid di antara arachnoid mater dan piamater, merupakan ruangan yang
normal ada, berisi LCS, sel-sel trabekular, arteri, dan vena. Otak tidak “mengapung-apung” di
dalam LCS, melainkan terjaga dalam spatium subarachnoid yang berisi LCS oleh trabeculae
arachnoidea.

Ventricular System of Brain


System ventrikel otak terdiri dari 4 ventrikel, yaitu ventriculus lateralis (1st and 2nd ventricles),
dan ventriculus tertius dan ventriculus quartus yang terletak di midline. Ventriculus lateralis
merupakan ruangan terbesar pada system ventricular dan menempati ruangan yang besar pada
hemisfer cerebri. Ventriculus lateralis memiliki cornu anterius (frontale), corpus, cornu inferius
(temporal), dan cornu posterius (occipitale). Antara kedua ventriculus lateralis kanan dan kiri
dibatasi oleh septum pellucidum. Pada cornu posterius terdapat calcar avis, suatu penonjolan yang
diakibatkan oleh fissura calcarina.
Ventriculus lateralis berhubungan dengan ventriculus tertius melalui foramina interventriculare
(foramen Monroe). Ventriculus tertius merupakan ruangan sempit di antara separuh kanan dan kiri
diencephalon. Ventriculus tertius berhubungan dengan aqueductus cerebri (aqueductus Sylvius)
yang menghubungkannya dengan ventriculus quartus. Ventriculus quartus, yang terletak di bagian
posterior pons dan medulla oblongata, berlanjut ke inferoposterior. Di arah inferior, ventriculus
quartus mengecil menjadi saluran sempit yang berlanjut ke medulla spinalis sebagai canalis centralis.

36
LCS didrainase dari ventriculus quartus melalui apertura mediana (foramen Magendi) dan sepasang
apertura lateralis (foramen Luschka) menuju ke spatium subarachnoid. Apertura-apertura ini
merupakan satu-satunya cara LCS masuk ke spatium subarachnoid. Jika apertura tersebut terblokir,
maka ventrikel akan terdistensi, sehingga menyebabkan kompresi ke hemisfer cerebri.

Subarachnoid Cisterns
Pada beberapa area, arachnoid dan pia mater terpisahkan oleh cisterna (large pools) yang berisi
LCS. Cisterna subarachnoidea yang utama meliputi:
 Cisterna cerebellomedullaris, merupakan cisterna yang terbesar, terletak diantara
cerebellum dan medulla oblongata, menerima aliran LCS dari apertura-apertura ventriculus
quartus, terbagi menjadi cisterna cerebellomedullaris posterior (cisterna Magna) dan
cisterna cerebellomedullaris lateral.
 Cisterna pontocerebellaris atau cisterna pontine, merupakan ruangan di ventral pons dan di
inferior berhubungan dengan spatium subarachnoid medulla spinalis.
 Cisterna interpeduncularis, atau cisterna basal, terletak di fossa interpeduncularis di antara
pedunculus cerebri midbrain.
 Cisterna chiasmatica, terletak di inferior dan anterior chiasma opticum.
 Cisterna quadrigemina, atau cisterna vena cerebri magna, terletak di antara bagian
posterior corpus callosum dan permukaan superior cerebellum.

37
Liquor Cerebrospinal
LCS disekresi oleh plexus choroideus yang ada di ventriculus lateralis, tertius, dan quartus. LCS
terdapat di dalam system ventricular otak dan di spatium subarachnoidea otak dan medulla spinalis.
Sebagian LCS meninggalkan ventriculus quartus ke inferior ke spatium subarachnoidea medulla
spinalis dank e posterosuperior di sekitar cerebellum, tetapi sebagian besar LCS mengalir ke cisterna
interpeduncularis dan quadrigemina. LCS dari berbagai cisterna yang sudah disebut di atas mengalir
ke arah superior melalui sulci dan fissure pada facies convexa hemisfer cerebri.

38
Brain Vascularization
Arterial Blood Supply of Brain

Otak hanya menyusun 2,5% dari berat badan manusia, tetapi otak menerima sekita 1/6 cardiac
output dan 1/5 oksigen yang dikonsumsi oleh tubuh saat istirahat. Arteri yang menyuplai otak
berasal dari a. carotis interna dan a. vertebralis. Drainase vena oleh vena cerebri dan cerebella yang
bermuara ke sinus venosus duramatris di dekatnya.

3. A. carotis interna  A. cerebri media

A. cerebri antor
Lewatnya:
Canalis caroticus  sulcus caroticus
4. A. vertebralis  A. basilaris  A. Cerebri postor

A. cerebelli infor postor

A. cerebelli infor antor


A. labyrinthi
A. cerebelli supor
Lewatnya:
For. transversarium  sulcus/canalis a. vertebralis for. magnum  sulcus basilaris

Internal Carotid Arteries


a. carotis interna berjalan di leher, merupakan cabang dari a. carotis communis. A. carotis
interna dapat dibagi menjadi 4 bagian: a. carotis interna pars cervical, pars petrosus, pars
cavernosus, dan pars cerebral. A. carotis interna pars cervicalis naik secara vertikal di leher tanpa
bercabang, ke basis cranii. Tiap a. carotis interna masuk ke dalam cranial cavity melalui canalis
caroticus. Selain a. carotis interna, canalis caroticus juga dilewati oleh saraf simpatis plexus
caroticus dan plexus venosus. Perjalanan intracranial a. carotis interna dapat dilihat pada
gambar di bawah. A. carotis interna berjalan ke arah anterior menembus sinus cavernosus,
bersama dengan n. VI, n. III, dan n. IV. Cabang terminal a. carotis interna adalah a. cerebri
anterior et media.
Secara klinis, a. carotis interna dan cabang-cabangnya sering disebut sirkulasi anterior otak.
Kedua a. cerebri anterior dihubungkan oleh a. communicans anterior. Di dekat lokasi
berakhirnya, a. carotis interna dihubungkan dengan a. cerebri posterior oleh a. communicans
posterior, sehingga membentuk cerebral arterial circle di sekeliling fossa interpeduncularis.

39
Vertebral Arteries
a. vertebralis juga memiliki 4 pars: pars vertebralis, pars cervicalis, pars atlantis, dan pars
intracranial. A. vertebralis dimulai pada bagian bawah leher (a. vertebralis pars vertebra) sebagai
cabang pertama dari a. subclavia. A. vertebralis pars cervicalis naik melalui foramina transversa
pada vertebrae C1-C6. A. vertebralis pars atlantis menembus dura dan arachnoid melalui
foramen magnum. A. vertebralis pars intracranial bergabung pada batas kaudal pons untuk
membentuk a. basilaris. a. basilaris berjalan di sepanjang clivus, melalui cisterna
pontocerebellaris ke batas superior pons, dimana arteri ini berakhir dengan bercabang menjadi
dua a. cerebri posterior.
System arteri vertebrobasilar dan cabang-cabangnya ini di klinis sering disebut sebagai
sirkulasi posterior otak.

Cerebral Arteries
Selain member cabang-cabang ke bagian otak yang lebih profunda, cabang kortikal dari tiap
arteri cerebri memvaskularisasi permukaan dan polus cerebrum. Cabang kortikalnya yaitu:
 a. cerebri anterior, memvaskularisasi sebagian besar facies media dan superior otak dan
polus frontalis. Lengkapnya:
 Facies medialis lobus frontalis – parietalis sampai fissura parieto-occipitalis
 Facies convexa lobus frontalis dari tepi kranial – sulcus frontalis supor
 Facies convexa lobus parietalis dari tepi kranial – sulcus interparietalis dan fissura
parieto-occipitalis
 a. cerebri media, memvaskularisasi facies lateralis otak dan polus temporalis.
Lengkapnya:
 Insula
 Facies convexa lobus frontalis dari fissura lateralis – sulcus frontalis supor
 Facies convexa lobus parietalis dari fissura lateralis – sulcus interparietalis
 Facies convexa lobus temporalis dari fissura lateralis – sulcus temporalis medius
 Facies medialis lobus temporalis pada ujung frontal
 Beberapa cabang a. cerebri media yang memvaskularisasi ke profunda otak:
 A. lenticulooptica  thalamus opticus
 A. lenticularis  globus pallidus
 A. lenticulostriata  nucl. caudatus

40
 a. cerebri posterior, memvaskularisasi permukaan inferior otak dan polus occipitalis.
Lengkapnya:
 Facies convexa lobus temporalis dari tepi bawah – sulcus temporalis medius
 Facies convexa lobus occipitalis dari tepi bawah – fissura parieto-occipitalis
 Facies medialis lobus occipitalis et temporalis

Cerebral Arterial Circle


Circulus arteriosus cerebri (atau Circulus Willis) merupakan suatu lingkaran pembuluh pada
permukaan ventral otak. Circulus ini merupakan anastomosis arteri yang penting antara empat
arteri (dua a. vertebralis dan dua a. carotis interna). Dari anterior ke posterior, Circulus Willis ini
dibentuk oleh:
 A. communicans anterior, menghubungkan a. cerebri anterior kanan & kiri
 A. cerebri anterior
 A. carotis interna
 A. communicans posterior , menghubungkan a. carotis interna dan a. cerebri posterior
 A.cerebri posterior

41
Venous Drainage of Brain
Vv. Cerebri yang berdinding tipis dan tidak memiliki katup mendrainase darah dari otak dan
menembus arachnoid dan lamina meningeal duramater dan berakhir di sinus venosus duramatris
terdekat, yang akhirnya bermuara ke v. jugularis interna. v. cerebri superior pada permukaan
superolateral otak bermuara ke sinus sagitalis superior, v. cerebri inferior & v. cerebri media
superficialis bermuara ke sinus rectus, transversus, dan petrosus superior. V. cerebri magna (atau v.
Gallen, yang merupakan gabungan dari dua v. cerebri interna) bergabung dengan sinus sagittalis
inferior untuk membentuk sinus rectus.

42
SPINAL CORD & PERIPHERAL NERVOUS SYSTEM
Annisa Luthfiya Imani

Pembagian Sistem Saraf


 Anatomis
Diencephalon
Cerebrum
Mesencephalon
Encephalon Truncus cerebri
Pons
SNC Cerebellum
Medulla oblongata
Medulla spinalis
SN

Nervi craniales (N I-XII)

SNP C–8
T – 12
Nervi spinales L–5
S–5
Co – 1
 Fungsional
SN Somatis
SN SN Parasimpatis
SN Otonom/Visceral
SN Simpatis

MEDULLA SPINALIS Cisterna lumbalis: pelebaran spatium


 Termasuk sistem saraf pusat subarachnoid pada regio lumbal yang
 Terletak di dalam canalis vertebralis berakhir sampai setinggi S2
 Dari decussatio pyramidum – setinggi L1-2 2. Spatium subdural
 conus medullaris  filum terminale di antara arachnoid mater &
 Saat embrio, medulla spinalis mengisi duramater
semua canalis vertebralis berisi lymph-like fluid
 Selaput meninges pelapis medulla spinalis 3. Spatium epidural
(profunda ke superficial): di sebelah luar duramater
1. Piamater, melekat sangat erat pada berisi plexus venosus & lemak areolar
medulla spinalis  Lig. denticulatum, ligamen yang
2. Arachnoid mater merupakan penebalan dari piamater
3. Duramater, paling tebal (menghubungkan piamater & duramater)
 Ruangan yang memfiksasi medulla spinalis agar
1. Spatium subarachnoid tetap berada di tengah canalis vertebralis,
di antara piamater & arachnoid mater berjumlah 22
berisi CSF

43
 Conus medullaris badan sel saraf yang ada di bagian sacral
ujung akhir medulla spinalis setinggi L1-2 (parasimpatis)
 Filum terminale  Nucleus intermediolateralis
jaringan ikat yang melekatkan medulla badan sel saraf yang ada di bagian
spinalis ke coccyx thoracolumbal (simpatis)
 Cauda equina Terletak pada cornu laterale, ada di
kumpulan serabut saraf spinalis dari sepanjang T1 - L3
bagian conus medullaris, bentuknya  Dural root sleeves: lapisan duramater di
seperti ekor kuda medulla spinalis yang juga menyelubungi
Terbentuk cauda equina karena radix dorsal berserta ganglion spinalis dan
perkembangan vertebrae lebih cepat radix ventral
daripada medulla spinalis
 Pelebaran medulla spinalis NERVUS SPINALIS
1. Intumescentia cervicalis: pelebaran di  Ada 31 pasang yang terdiri atas:
bagian cervix  inervasi extremitas 1. 8 pasang cervical
atas 2. 12 pasang thoracal
2. Intumescentia lumbalis: pelebaran di 3. 5 pasang lumbal
bagian lumbal  inervasi extremitas 4. 5 pasang sacral
bawah 5. 1 pasang coccygeal
 Keluar dari foramen intervertebralis
Pada potongan horizontal medulla spinalis: sesuai dengan namanya
 Substansia grisea 1. Pars cervical: nama nervus spinalis
berbentuk seperti huruf H/kupu2, sesuai dengan vertebra di bawahnya,
terdiri atas kumpulan badan saraf karena N. spinalis C1 keluar di antara
1. Cornu anterior (bagian substansia basis cranii & os. atlas
grisea yang lebih lebar di depan)  Ex: N. spinalis C6 keluar lewat foramen
columna grisea anterior intervertebralis di antara VC5 & VC6
2. Cornu posterior (bagian sunstansia 2. Pars thoracal – coccygeal: nama nervus
grisea yang lebih sempit di belakang) mengikuti vertebra di atasnya
 columna grisea posterior Ex: N. spinalis T3 keluar lewat foramen
3. Cornu laterale columna grisea intervertebralis di antara VT3 & VT4
lateralis  Ganglion spinale: bersifat sensorik,
 Substansia alba terletak di pediculus arcus vertebra
melingkupi substansia grisea (bagian dorsal) & masih di dalam canalis
1. Funiculus anterior/columna alba antor vertebralis
2. Funiculus posterior/columna alba  Radix dorsal/posterior (sensoris):
postor serabut2 saraf dari ganglion spinalis masuk
3. Funiculus lateralis/columna alba ke medulla spinalis (sensorik)
lateralis Processus centralis (arah cornu posterior)
 Fissura medianus anterior Processus peripheral (arah nervus spinalis)
 Sulcus medianus posterior  Radix ventral/anterior (motoris): serabut2
 Sulcus lateralis anterior/anterolateral saraf yang keluar dari medulla spinalis
 Sulcus lateralis posterior/posterolateral  Radix dorsal & ventral akan membentuk
 Sulcus intermedius posterior, hanya nervus spinalis  melalui foramen
terdapat pada segmen cervical intervertebralis
 Canalis centalis  Ramus anterior (lebih besar) merupakan
saluran yang terdapat di tengah substansia cabang utama dan akan membentuk
grisea, berisi CSF (cerebrospinal fluid) plexus
 Nucleus intermedius  Ramus posterior
 Ramus meningealis  inervasi meninges

44
45
AUTONOMIC NERVE PATHWAY

SIMPATIS  Ganglion prevertebrale:


 Nucleus intermediolateralis - Ganglion coeliacus
badan sel saraf preganglion - Ganglion mesenterica superior
 Keluar dari segmen thoracolumbal (T1-L3) - Ganglion mesenterica inferior
 Ganglion paravertebralis (tuncus  Ramus communicans alba
simpaticus) serabut preganglionic pada simpatis,
terdapat di kanan kiri medulla spinalis, semua bermyelin  alba,
tempat berganti badan sel saraf simpatis hanya pada segmen T1-L3
 langsung menginervasi organ2  Ramus communicans grisea
- Ganglion cervicale superior, media, et serabut postganglionic, tidak bermyelin,
inferior selalu ada tiap segman
- Ganglion thoracal  Serabut saraf preganglion simpatis (axon)
- Ganglion lumbal berhubungan dengan neuron
- Ganglion sacral postganglion melalui 1 dari 3 jalur:
- Ganglion impar (coccygeal) 1. Axon bersinaps di ganglion
 Ganglion paravertebralis yang ada di paravertebralis yang pertama kali
kanan kiri pars cervical dan sacral tidak dicapai
berhubungan langsung dengan nervus nervus spinalis  ramus
spinalis cervicalis & sacralis, tetapi communicans alba  ganglion
berhubungan dengan ganglion paravertebralis (bersinaps)  ramus
paravertebralis di atas & di bawahnya communicans grisea pada level yang
 Ganglion paravertebrale: dari setinggi sama  bergabung dengan ramus
cervical sampai setinggi coccyx anterior  inervasi vasa darah &
glandula sudorifera

46
2. Axon naik/turun ke ganglion  Serabut saraf preganglion
paravertebralis di level segmen T 6-9 N. splanchnicus
atas/bawahnya sebelum bersinaps mayor
nervus spinalis  ramus segmen T 10-12 N. splanchnicus minor
communicans alba  ganglion segmen L 1-3 N. splanchnicus
paravertebralis pada level yang sama lumbalis
(tidak bersinaps di sini)  ganglion  Efek simpatis  fight-or-flight response
paravertebralis pada level di
atas/bawahnya (bersinaps)  ramus PARASIMPATIS
communicans grisea  bergabung  Nucleus intermedius
dengan ramus anterior badan sel saraf preganglion
3. Axon hanya lewat ganglion  Keluar dari segmen craniosacral
paravertebralis tanpa bersinaps, (nervus cranialis III, VII, IX, X dan S2-4)
kemudian munuju ganglion  parasimpatis tidak berganti badan sel di
prevertebrale untuk bersinaps ganglion paravertebralis maupun ganglion
nervus spinalis  ramus prevertebralis  langsung menuju organ
communicans alba  ganglion  berganti badan sel di dekat organ
paravertebralis (tidak bersinaps di
 Serabut saraf preganglion
sini)  serabut saraf preganglion (N.
segmen S2-4 N. splanchnicus
splanchnicus)  ganglion
pelvici
prevertebralis (bersinaps)  serabut
Efek parasimpatis  rest and digest
saraf postganglion

PERIPHERAL NERVOUS SYSTEM

Nn. Craniales
 Sensorik (afferent)
1. GSA (general somatic afferent) N V, N IX, N X
sensoris kulit dan membran mukosa
2. GVA (general visceral afferent) N IX, N X
glandula parotidea, glomus caroticum, sinus caroticus, auris media, pharynx, larynx, trachea,
bronchus principalis, pulmo, cardio, esophagus, gaster, intestinum sampai flexura coli
sinistra, dll
3. SSA (special somatic afferent) N II, N VIII
penglihatan, pendengaran, keseimbangan
4. SVA (special visceral afferent) N I, N VII, N IX, N X
pengecap dan penghidu

 Motorik (efferent)
1. GSE (general somatic efferent) N III, N IV, N VI, N XII
otot lurik orbita dan lingua
2. GVE (general visceral efferent) N III, N VII, N IX, N X
parasimpatis
3. SVE (special visceral afferent) N V3, N VII, N IX, N X, N XI
otot branchiomerik  otot larynx, pharynx, palatum molle, mastikasi, dan ekspresi wajah

47
NC. Nama Tipe Modalitas Fungsi
I Olfactorius Sensoris SVA Penciuman
II Opticus Sensoris SSA Penglihatan
GSE Gerakan bulbus oculi: [LR6(SO4)3]
III Oculomotorius Motor GVE Parasimpatis: m. ciliaris  akomodasi lensa,
m. sphincter pupil  miosis
IV Trochlearis Motor GSE Gerakan bulbus oculi: [LR6(SO4)3]
V Trigeminus
V(1) Ophthalmicus Sensoris GSA Sensasi dari bulbus oculi, scalp anterior, upper
V(2) Maxillaries Sensoris GSA face
Sensasi dari cavum nasi – sinus, palatum, mid
V(3) Mandibularis Mixed SVE face, gigi maxilla
GSA Otot mastikasi, m. tensoris tympani
Sensasi dari dagu, pelipis, cavum oris, lidah,
TMJ (temporomandibular junction), gigi
mandibula, telinga, propriosepsi dari otot
mastikasi
VI Abducens Motor GSE Gerakan bulbus oculi: [LR6(SO4)3]
SVE Otot wajah, m. stapedius (auris media)
GVE Parasimpatis: gland. lacrimalis, nasalis,
VII Facialis Mixed
palatina, submandibularis, sublingualis
SVA Rasa: ⅔ anterior lidah
VIII Vestibulocochlearis Sensoris SSA Pendengaran, keseimbangan
GSA Sensasi dari auris externa
GVA Sensasi dari oropharynx, ⅓ posterior lidah,
carotid body and sinus)
IX Glossopharyngeus Mixed
SVA Rasa: ⅓ posterior lidah
SVE Otot: m. stylopharyngeus
GVE Parasimpatis: gland. parotis
GSA Sensasi dari auris externa
GVA Sensasi dari larynx, hypopharynx, cor, pulmo,
viscera abdomen
X Vagus Mixed SVA Rasa: regio epiglottis, hypopharynx
SVE Otot larynx, pharynx (phonasi, menelan)
GVE Parasimpatis: myocardium; otot dan kelenjar
foregut – midgut: aktivitas intestinal
XI Accessories Motor SVE M. sternocleidomastoideus, m. trapezius
XII Hypoglossus Motor GSE Otot lidah dan gerakannya

48
Tempat keluar pada
NC. Tempat keluar pada otak Inti
basis cranii
N. I Bulbus olfactorius  tractus Lamina et foramina (SVA)
olfactorius  trigonum cribrosa
olfactorium  striae
olfactoriae medialis et lateralis
 area parolfactoria (medial);
uncus (lateral)
Rhinencephalon
N. II Chiasma opticum  tractus Canalis opticus (SSA)
opticus  CGL  radiatio
optica  area striata
N. III Pedunculus cerebri (sisi dalam) Fissura orbitalis supor Nucl. N. III (GSE)  colliculus supor
Nucl. oculomotorius accessorius
(GVE)  ganglion ciliare
N. IV Di bawah colliculus infor Fissura orbitalis supor Nucl. N. IV (GSE)  colliculus infor
N. V Tepi samping pons Nucl. principalis et spinalis N. V
N. Fissura orbitalis supor (GSA)
V(1) Ganglion trigeminale For. rotundum Nucl. motorius N. V (SVE)
N. For. ovale  pons
V(2)
N.
V(3)
N. VI Antara pons – pyramis Fissura orbitalis supor Nucl. N. VI (GSE)  colliculus
(kanan-kiri for. caecum) facialis
N. VII Angulus pontocerebellaris MAI (meatus Nucl. N. VII (SVE)  colliculus
acusticus internus) facialis
Nucl. salivatorius supor (GVE)
Nucl. solitarius (SVA)
N. Angulus pontocerebellaris MAI Nucl. cochleares et vestibulares
VIII (SSA)
 tuberculum acusticum
N. IX Sulcus postolivarius For. jugulare Nucl. ambiguus (SVE)
Nucl. spinalis N. V (GSA)
Nucl. solitarius (SVA & GVA)
Nucl. salivatorius infor (GVE)
N. X Sulcus postolivarius For. jugulare Nucl. ambiguus (SVE)
Nucl. spinalis N. V (GSA)
Nucl. solitarius (SVA & GVA)
Nucl. dorsalis N. X (GVE) 
trigonum n. vagi
N. XI Sulcus postolivarius For. jugulare Nucl. ambiguus et nucl. N. XI (SVE)
N. XII Sulcus preolivarius Canalis nervi Nucl. N. XII (GSE)  trigonum n.
hypoglossi hypoglossi
* Keterangan:  = setinggi

49
Nn. Spinales
PLEXUS
 Plexus cervicalis C1-4
 Plexus brachialis C5-T1
 Plexus lumbalis L1-4
 Plexus sacralis L4-S3
 Plexus sacrococcygeal S4-Co1

Plexus Brachialis

50
51
Dari radix
 N. phrenicus (C3-C5)  diafragma
 N. dorsalis scapula  M. rhomboideus major, M. rhomboideus minor, M. levator scapula
 N. thoracicus longus  M. serratus anterior
Dari truncus
 N. suprascapularis  M. supraspinatus, M. infraspinatus
 N. subclavius  M. subclavius
Dari fasciculus lateral
 N. pectoralis lateralis  M. pectoralis major
Dari fasciculus posterior
 N. subscapularis superior  M. teres major et minor
 N. thoracodorsalis  M. latissimus dorsi
 N. subscapularis inferior  M. subscapularis
Dari fasciculus medial
 N. pectoralis medialis  M. pectoralis major et minor
 N. cutaneus brachii medialis  regio brachii
 N. cutaneus antebrachii medialis  regio antebrachii
Nervus terminal
 N. musculocutaneus  otot kompartemen anterior regio brachii (M. biceps brachii caput
longum et brevis, M. brachialis, M. coracobrachialis)
 N. axillaris  M. deltoideus, M. teres minor
 N. radialis  semua otot kompartemen posterior regio brachii & antebrachii (otot-otot
extensor)
 N. medianus  sebagian besar otot kompartemen anterior regio antebrachii (otot-otot flexor),
M. thenar
 N. ulnaris  M. flexor carpi ulnaris, ½ medial M. flexor digitorum profundus, sebagian besar otot
intrinsik tangan

52
Plexus Lumbalis
 N. iliohypogastricus
 N. ilioinguinalis
 N. genitofemoralis (ramus genitalis et
ramus femoralis)
 N. cutaneus femoris lateralis
 N. obturatorius  otot kompartemen
medial regio femoris (otot-otot
adductor)
 N. femoralis  otot kompartemen
anterior regio femoris (M. quadriceps
femoris)

Plexus Sacralis

 N. gluteus superior  M. gluteus medius et


minimus
 N. gluteus inferior  M. gluteus maximus
 N. ischiadicus  otot kompartemen posterior
regio femoris et cruris
1. N. fibularis (peroneus) communis
a. N. fibularis profundus  otot
kompartemen anterior regio cruris
b. N. fibularis superficialis  otot
kompartemen lateral regio cruris
2. N. tibialis  otot kompartemen posterior
regio cruris

53
Tambahan: dermatom…

54
SPINAL CORD & PERIPHERAL NERVOUS SYSTEM
Annisa Luthfiya Imani

Spinal Cord

Anatomi Eksternal Medulla Spinalis


Medulla spinalis merupakan pusat reflek dan jalur konduksi antara tubuh dan otak. Struktur ini
dilindungi oleh vertebra, ligament dan otot, meninges spinal, dan cerebrospinal fluid (CSF)/ liquor
cerebrospinal (LCS). Medulla spinalis dimulai dari decussatio pyramidum sebagai lanjutan dari
medulla oblongata. Ujung inferiornya yang menipis/mengecil seperti kerucut disebut conus
medullaris. Conus medullaris pada dewasa biasanya berakhir pada level vertebra L1 atau L2.
Sehingga, medulla spinalis hanya mengisi 2/3 superior dari canalis vertebralis. Dari ujung conus
medullaris, ada filum terminale yang berjalan turun diantara radix-radix n.spinalis di cauda equine
dan menempel ke distal dural sac. Filum terminale merupakan sisa bagian kaudal medulla spinalis
dan terdiri dari sisa jaringan saraf, jaringan ikat, dan jaringan neural yang dilapisi oleh pia mater.
Filum terminale menembus ujung inferior dural sac, berlanjut hingga ke hiatus sacralis dengan
dilapisi dura mater, menempel ke dorsum coccyx. Filum terminale merupakan tambatan untuk ujung
inferior medulla spinalis & meninges spinalis.
Medulla spinalis memiliki pelebaran pada 2 regio terkait dengan inervasi ekstremitas:
1. intumescentia cervicalis pada segmen medulla spinalis C4-T1. Sebagian besar rami anterior
n.spinalis dari intumescentia cervicalis ini akan membentuk plexus brachialis yang
menginervasi ekstremitas atas/upper limb.
2. intumescentia lumbalis/lumbosacral pada segmen medulla spinalis T11-S1. Rami anterior
n.spinalis dari intumescentia lumbalis akan membentuk plexus lumbalis dan sacralis yang
menginervasi lower limb.

Segmen Medulla Spinalis


Medulla spinalis terbagi menjadi 30 segmen: 8 segmen cervical (C), 12 segmen thorakal (T), 5
segmen lumbal (L), 5 segmen sacral (S), dan sedikit segmen coccygeal (Co), yang sesuai dengan
attachment radiks-radiks nervus. Tidak ada batas jelas antar segmen dalam medulla spinalis itu
sendiri. Karena medulla spinalis lebih pendek daripada columna vertebralis, tiap segmen medulla
spinalis pada level bawah (e.g. lower thoracal, lumbal, sacral, coccygeal) terletak lebih di atas
dibanding corpus vertebra dengan nama yang sama.

55
Longitudinal Divisions of Spinal Cord
Jika medulla spinalis dipotong melintang, akan
terlihat adanya fissura mediana anterior yang dalam
dan sulcus mediana posterior/dorsal yang dangkal,
yang membagi medulla spinalis menjadi 2 bagian
kanan-kiri yang sama besar. Pada fissura mediana
anterior terdapat lipatan pia dan vasa darah; lantainya
adalah comissura alba anterior/ventral (ini merupakan
misnomer, karena tidak ada serabut yang menyilang
disini). Dorsal nerve roots menempel pada medulla
spinalis pada sulcus posterolateral, yang terletak dekat
dan anterior dari sulcus mediana posterior. Ventral nerve roots keluar dari sulcus anterolateral.
Pada segmen cervical juga terdapat sulcus intermedius posterior.
Pada potongan melintang kita juga dapat melihat adanya substantia grisea & substantia alba
medulla spinalis. Substantia alba yang melingkupi medulla spinalis yaitu funiculus anterior/columna

56
alba anterior, funiculus posterior/columna alba posterior, dan funiculus lateralis/columna alba
lateralis. Di tengah-tengah substantia grisea, terdapat canalis centralis, saluran yang berhubungan
dengan spatium subarachnoid otak dan berisi cairan serebrospinal (cerebrospinal fluid/CSF).
Subtantia griseanya berbentuk seperti huruf H atau kupu-kupu dan terdiri atas kumpulan badan
saraf. “Sayap” dari kupu-kupu itu, atau ujing-ujung dari huruf H itu, disebut cornu (horns). Ada cornu
anterior/columna grisea anterior, cornu posterior/columna grisea posterior, dan cornu
laterale/columna grisea lateralis, tetapi cornu laterale ini hanya terdapat pada segmen
thoracolumbal saja.
Pada medulla spinalis juga terdapat badan sel saraf preganglionik dari sistem saraf otonom
simpatis dan parasimpatis. Badan sel saraf preganglionik parasimpatis adalah nucleus intermedius,
yang terdapat pada segmen sacral medulla spinalis. Badan sel saraf preganglionik simpatis adalah
nucleus intermediolateralis, yang terletak pada cornu laterale sepanjang medulla spinalis segmen
T1-L3.

57
Spinal Nerve Roots & Nerves

Medulla spinalis dilindungi oleh columna vertebralis. Radiks n.spinalis keluar dari columna
vertebralis melalui foramina intervertebralis. Ada 31 pasang nervus spinalis, yang terdiri dari:
6. 8 pasang cervical
7. 12 pasang thoracal
8. 5 pasang lumbal
9. 5 pasang sacral
10. 1 pasang coccygeal
Pada vertebra pars cervical, nama nervus spinalis sesuai dengan vertebra di bawahnya, karena
n.spinalis C1 keluar di antara basis crania dan os atlas. Jadi n.spinalis C6 keluar lewat foramen
intervertebralis di antara vertebra C5 dan C6, n.spinalis C8 keluar diantara vertebra C7 dan T1.
Pada bagian vertebra selain pars cervical, yaitu dari pars thoracal hingga coocygeal, nama
nervus spinalis mengikuti nama vertebra di atasnya, misalnya n.spinalis T1 keluar diantara vertebra
T1 dan T2, n. spinalis L5 keluar di antara vertebra L5 dan S1.
Tiap segmen medulla spinalis memiliki 4 radix: satu radix vetral dan satu radix dorsal masing-
masing di kanan dan kiri. Segmen C1 biasanya tidak memiliki radix dorsal.
Masing-masing dari 31 pasang n. spinalis memiliki radix ventral dan dorsal, tiap radix tersusun
oleh 1-8 rootlets. Jadi, dari medulla spinalis keluar nerve rootlets, 1-8 nerve rootlets ini lalu akan
bergabung untuk membentuk radix ventral/anterior dan radix dorsal/posterior.
Radix ventral terdiri dari serabut-serabut saraf motoris/efferent dari badan sel saraf pada cornu
anterior medulla spinalis menuju ke organ efektor yang terletak di perifer.
Radix dorsal terdiri dari serabut-serabut saraf afferent/sensoris yang menyampaikan impuls
neural dari sense organs (e.g. mata, telinga) dan juga dari reseptor sensoris di tubuh (e.g. pada kulit)
menuju ke sistem saraf pusat/CNS. Radix posterior ini membawa general sensory fibers menuju ke
cornu posterior medulla spinalis. Pada radix dorsal, di dekat perbatasan dengan radix ventral,
terdapat ganglion spinalis yang berisi badan sel saraf.
Radix anterior dan posterior bergabung pada foramen intervertebralis untuk membentuk n.
spinalis, yang lalu segera bercabang menjadi dua rami: n. spinalis ramus anterior dan n. spinalis
ramus posterior. Selain kedua cabang utama ini juga ada n. spinalis rami communicantes dan rami
meningealis.
Rami posterior terdiri dari ramus medialis, yang terutama sensoris, dan ramus lateralis, yang
terutama motoris. N. spinalis r. posterior mensuplai serabut saraf ke sendi synovial, otot-otot
profunda punggung, dan kulit punggung.
Rami anterior mensuplai serabut saraf ke area yang luas, meliputi regio anterior dan posterior
truncus dan upper & lower limb. Rami anterior membentuk plexus cervicalis, brachialis, dan
lumbosacral. Pada region thorax rami anterior tidak membentuk plexus, mereka tetap segmental
sebagai n. intercostalis.
Rami communicantes, rami ini bergabung dengan n. spinalis pada truncus sympaticus. Ada rami
communicans alba dan grisea. Akan dibahas di pembahasan tentang pathway saraf otonom di
bawah.
Rami meningealis, disebut juga n. sinuvertebralis, kecil dan membawa inervasi sensoris dan
vasomotor ke meninges.

58
Autonomic Nerve Pathway
Terdiri dari dua system/divisi, yaitu simpatis dan parasimpatis. Divisi simpatis/thoracolumbar,
secara umum memiliki efek katabolic (mempersiapkan tubuh untuk respon fight or flight), dan divisi
parasimpatis/craniosacral, secara umum memiliki efek anabolic (mendorong fungsi normal dan
menyimpan energi).
Konduksi impuls dari CNS ke organ efektor pada system otonom melibatkan 2 neuron, yaitu
neuron presinaps/preganglionik dan neuron postsinaps/postganglionik. Badan sel untuk neuron
presinaps (1st neuron) terletak pada substansia grisea CNS. Akson/serabut saraf dari neuron
presinaps lalu akan bersinaps di badan sel neuron postsinaps/postganglionik (2nd neuron). Badan sel
neuron postsinaps terletak di ganglion otonom di luar CNS, dan serabut saraf postninaps akan
berakhir di organ efektor (otot polos, otot jantung, glands). Perbedaan anatomis antara system
simpatis dan parasimpatis terletak pada lokasi badan sel presinapsnya dan pada saraf mana yang
membawa serabut presinaps dari CNS.

59
Simpatis

Badan sel neuron presinaps simpatis terletak pada nucleus intermediolateralis. IML kanan dan
kiri merupakan bagian dari substansia grisea medulla spinalis, dari T1 hingga L2 atau L3. Pada
potongan melintang medulla spinalis, IML akan tampak sebagai cornu lateral kecil pada substansia
grisea, di antara cornu anterior dan posterior. Badan sel neuron postsinaps simpatis ada di dua
lokasi, yaitu ganglion paravertebralis dan ganglion prevertebralis.
 Ganglion paravertebralis terdapat di kanan-kiri sepanjang medulla spinalis, dari setinggi
cervical hingga coccyx, dan saling berhubungan di masing-masing sisi, membentuk truncus
simpaticus. Ganglion ini merupakan badan sel neuron postsinaps jadi disini terjadi
pergantian badan sel saraf simpatis. Setelah keluar dari ganglion paravertebralis ini, serabut
saraf postsinaps akan langsung menuju ke organ-organ untuk menginervasinya. Ganglion
paravertebralis meliputi:
o Ganglion cervicalis superior, media, et inferior
o Ganglion thoracal
o Ganglion lumbal
o Ganglion sacral
o Ganglion impar (coccygeal)
Ganglion paravertebral superior (ganglion cervicalis superior pada tiap truncus simpaticus)
terletak di dasar cranium. Ganglion impar ada di inferior, dimana kedua truncus bersatu
pada level coccyx.
Ganglion paravertebralis pada lever cervical dan sacral tidak berhubungan langsung dengan
nervus cervicalis dan sacralis, tetapi berhubungan dengan ganglion paravertebralis di atas
dan bawahnya melalui rami communicantes untuk tetap mensuplai inervasi simpatis pada
daerah cervical dan sacral.

60
 Ganglion prevertebralis terdapat pada plexus yang ada mengelilingi cabang-cabang utama
aorta abdominalis saat dipercabangkannya, dan namanya sesuai dengan nama cabang aorta
abdominalisnya. Ganglion prevertebralis meliputi:
o Ganglion celiacus mengelilingi truncus celiacus
o Ganglion mesenterica superior mengelilingi a. mesenterica superior
o Ganglion mesenterica inferior mengelilingi a. mesenterica inferior
Karena merupakan serabut saraf motoris, akson neuron presinaps keluar dari medulla spinalis
melalui radix anterior dan memasuki n. spinalis r. anterior T1-L2/L3. Segera setelah memasuki rami,
semua serabut saraf simpatis meninggalkan rami anterior menuju ke truncus simpaticus melalui
rami communicans alba. Di dalam truncus simpaticus, ada empat kemungkinan jalur dari neuron
presinaps.
 (1) Naik atau (2) turun di truncus simpaticus untuk bersinaps dengan neuron postsinaps di
ganglion paravertebralis di level atas/bawahnya.
 (3) masuk dan bersinaps dengan neuron postsinaps di ganglion paravertebralis pada level
yang sama/yang pertama kali dicapai.

61
 (4) melewati truncus simpaticus tanpa bersinaps, kemudian menuju ganglion prevertebralis
melalui nervus splanchnic abdominopelvic dan bersinaps di ganglion prevertebralis tersebut.
Serabut saraf presinaps simpatis yang menginervasi kepala, leher, dinding tubuh, upper dan
lower limb, dan cavitas thorax mengikuti salah satu dari 3 jalur pertama. Sedangkan yang
menginervasi viscera dalam cavitas abdominopelvic mengikuti jalur ke-4.
Serabut saraf postsinaps simpatis keluar dari truncus simpaticus menuju ke n. spinalis rami
anterior terdekat melalui ramus communicantes grisea yang ada di semua segmen medulla spinalis.
Dengan cara ini, serabut saraf postsinaps simpatis memasuki semua cabang 31 pasang n. spinalis,
termasuk rami posterior, untuk menstimulasi kontraksi vasa darah (vasomotion), dan m. arrector pili
(pilomotion, menghasilkan goosebumps), dan menyebabkan berkeringat (sudomotion).

62
Parasimpatis
Badan sel saraf presinaps parasimpatis terletak di dua lokasi dalam CNS; serabut sarafnya keluar
dengan dua cara.
 Di substansia grisea brainstem, serabut saraf presinaps parasimpatis keluar dari CNS
bersama dalam n. III, n. IX, dan n. X. serabut-serabut saraf ini merupakan cranial
parasympathetic outflow.
 Di substansia grisea segmen sacral medulla spinalis (S2-S4), serabut saraf presinaps
parasimpatis keluar dari CNS melalui radix anterior n. spinalis S2-S4 dan n. splanchnici pelvici
yang keluar dari rami anteriornya. Serabut-serabut ini merupakan sacral parasympathetic
outflow.
Cranial outflow member inervasi parasimpatis di kepala, dan sacral outflow member inervasi
parasimpatis pada viscera pelvis. Sedangkan untuk inervasi viscera thorax dan abdomen,
didominasi oleh n. X. n. vagus member inervasi parasimpatis ke seluruh viscera thorax dan
sebagian besar viscera gastrointestinal dari esophagus hingga 2/3 colon transversum. Sacral
outflow mensuplai colon descenden dan sigmoid serta rectum.

63
Peripheral Nervous System
Nn. Craniales
Ada 12 pasang nn. craniales. Nn. craniales keluar dari cranial cavity melalui foramina pada
cranium. Hanya 11 dari 12 pasang nn. cranialis yang keluar dari otak, n. XI keluar dari bagian superior
medulla spinalis. Nn. craniales, seperti nn. spinalis, memiliki serabut sensoris atau motoris atau
kombinasi keduanya.
Nn. craniales memiliki satu/lebih dari 5 komponen fungsi utama di bawah ini:
 Serabut motoris/efferent
1. Serabut motoris yang menginervasi otot rangka/volunter
 Somatic motor (general somatic efferent) / GSE
Akson menginervasi otot polos di orbita, lidah, dan otot eksterna leher (m.
sternocleidomastoideum dan m. trapezius)
 N. III, n. IV, n. VI, n. XII
 Branchial motor (special visceral efferent) / SVE
Akson menginervasi otot polos yang berasal dari arcus pharyngeus (wajah,
palatum, pharynx, dan larynx).
 N. V3, n. VII, n. IX, n. X, n. XI
2. Serabut motoris yang menginervasi otot polos/involunter dan glands
Yang termasuk disini adalah akson visceral motor (general visceral efferent / GVE)
yang menyusun cranial outflow dari divisi parasimpatis. Serabut presinaps yang
keluar dari otak akan bersinaps di luar CNS pada ganglion parasimpatis. Ganglion
postsinaps akan berjalan untuk menginervasi otot polos dan glands
 N. III, n. VII, n. IX, n. X
 Serabut sensoris/afferent
3. Serabut yang membawa sensari dari viscera
Yang termsuk disini adalah sensori visceral (general visceral afferent / GVA) yang
membawa info dari glomus dan sinus caroticus, pharynx, larynx, trachea, bronchi,
paru-paru, jantung, dan GIT.
 n. IX, n. X
4. Serabut yang membawa sensasi umum (taktil, tekanan, panas, dingin, dsb) dari kulit
dan membran mukosa
Serabut general sensory (general somatic afferent / GSA)
 Terutama oleh n. V tetapi juga oleh n. VII, n. IX, dan n. X.
5. Serabut yang membawa sensasi khusus
Info rasa dan bau (special visceral afferent / SVA)
 N. II, n. VIII
Penglihatan, pendengaran, dan keseimbangan (special somatic afferent / SSA)
 N. I, n. VII, n. IX, n. X

64
65
Berikut tabel nn. craniales beserta tipe, modalitas, dan fungsinya.

NC. Nama Tipe Modalitas Fungsi


I Olfactorius Sensoris SVA Penciuman
II Opticus Sensoris SSA Penglihatan
GSE Gerakan bulbus oculi: [LR6(SO4)3]
III Oculomotorius Motor GVE Parasimpatis: m. ciliaris  akomodasi lensa,
m. sphincter pupil  miosis
IV Trochlearis Motor GSE Gerakan bulbus oculi: [LR6(SO4)3]
V Trigeminus
V(1) Ophthalmicus Sensoris GSA Sensasi dari bulbus oculi, scalp anterior, upper
V(2) Maxillaries Sensoris GSA face
Sensasi dari cavum nasi – sinus, palatum, mid
V(3) Mandibularis Mixed SVE face, gigi maxilla
GSA Otot mastikasi, m. tensoris tympani
Sensasi dari dagu, pelipis, cavum oris, lidah,
TMJ (temporomandibular junction), gigi
mandibula, telinga, propriosepsi dari otot
mastikasi
VI Abducens Motor GSE Gerakan bulbus oculi: [LR6(SO4)3]
SVE Otot wajah, m. stapedius (auris media)
GVE Parasimpatis: gland. lacrimalis, nasalis,
VII Facialis Mixed
palatina, submandibularis, sublingualis
SVA Rasa: ⅔ anterior lidah
VIII Vestibulocochlearis Sensoris SSA Pendengaran, keseimbangan
GSA Sensasi dari auris externa
GVA Sensasi dari oropharynx, ⅓ posterior lidah,
carotid body and sinus)
IX Glossopharyngeus Mixed
SVA Rasa: ⅓ posterior lidah
SVE Otot: m. stylopharyngeus
GVE Parasimpatis: gland. parotis
GSA Sensasi dari auris externa
GVA Sensasi dari larynx, hypopharynx, cor, pulmo,
viscera abdomen
X Vagus Mixed SVA Rasa: regio epiglottis, hypopharynx
SVE Otot larynx, pharynx (phonasi, menelan)
GVE Parasimpatis: myocardium; otot dan kelenjar
foregut – midgut: aktivitas intestinal
XI Accessories Motor SVE M. sternocleidomastoideus, m. trapezius
XII Hypoglossus Motor GSE Otot lidah dan gerakannya

66
67
Berikut tabel nn. craniales dan tempat keluarnya pada otak dan basis cranii serta letak nucleusnya.

Tempat keluar pada


NC. Tempat keluar pada otak Inti
basis cranii
N. I Bulbus olfactorius  tractus Lamina et foramina (SVA)
olfactorius  trigonum cribrosa
olfactorium  striae
olfactoriae medialis et lateralis
 area parolfactoria (medial);
uncus (lateral)
Rhinencephalon
N. II Chiasma opticum  tractus Canalis opticus (SSA)
opticus  CGL  radiatio
optica  area striata
N. III Pedunculus cerebri (sisi dalam) Fissura orbitalis supor Nucl. N. III (GSE)  colliculus supor
Nucl. oculomotorius accessorius
(GVE)  ganglion ciliare
N. IV Di bawah colliculus infor Fissura orbitalis supor Nucl. N. IV (GSE)  colliculus infor
N. V Tepi samping pons Nucl. principalis et spinalis N. V
N. Fissura orbitalis supor (GSA)
V(1) Ganglion trigeminale For. rotundum Nucl. motorius N. V (SVE)
N. For. ovale  pons
V(2)
N.
V(3)
N. VI Antara pons – pyramis Fissura orbitalis supor Nucl. N. VI (GSE)  colliculus
(kanan-kiri for. caecum) facialis
N. VII Angulus pontocerebellaris MAI (meatus Nucl. N. VII (SVE)  colliculus
acusticus internus) facialis
Nucl. salivatorius supor (GVE)
Nucl. solitarius (SVA)
N. Angulus pontocerebellaris MAI Nucl. cochleares et vestibulares
VIII (SSA)
 tuberculum acusticum
N. IX Sulcus postolivarius For. jugulare Nucl. ambiguus (SVE)
Nucl. spinalis N. V (GSA)
Nucl. solitarius (SVA & GVA)
Nucl. salivatorius infor (GVE)
N. X Sulcus postolivarius For. jugulare Nucl. ambiguus (SVE)
Nucl. spinalis N. V (GSA)
Nucl. solitarius (SVA & GVA)
Nucl. dorsalis N. X (GVE) 
trigonum n. vagi
N. XI Sulcus postolivarius For. jugulare Nucl. ambiguus et nucl. N. XI (SVE)
N. XII Sulcus preolivarius Canalis nervi Nucl. N. XII (GSE)  trigonum n.
hypoglossi hypoglossi

68
Nn. Spinales
Seperti yang sudah dibahas di atas, nn. spinales akan bercabang menjadi dua rami, rami anterior
dan rami posterior. Yang akan dibahas adalah rami anterior. Rami anterior nn. spinales akan
membentuk plexus-plexus yang menginervasi bagian anterior dan lateral truncus serta upper dan
lower limb. Plexus yang dibentuk oleh nn. spinales yaitu:
 Plexus cervicalis C1-4
 Plexus brachialis C5-T1
 Plexus lumbalis L1-4
 Plexus sacralis L4-S3
 Plexus sacrococcygeal S4-Co1

Plexus Brachialis
Plexus brachialis dibentuk dari rami anterior C5-C8 dan T1, yang membentuk akar/radiks dari
plexus brachialis Radiks plexus brachialis melewati hiatus scaleni, yaitu suatu celah di antara m.
scalenus anterior dan medius, bersama dengan a. subclavia. Di bagian inferior leher, 5 radiks plexus
brachialis ini bergabung untuk membentuk tiga truncus: 1) truncus superior (penggabungan radiks
C5 dan C6), 2) truncus media (lanjutan dari radiks C7), dan 3) truncus inferior (penggabungan radiks
C8 dan T1).
Truncus-truncus ini berjalan ke arah apex axilla bersama a. subclavia. Saat melewati canalis
cervicoaxillaris di posterior os clavicula, tiap truncus terbagi menjadi divisi anterior dan posterior.
Tiap divisi anterior dari truncus plexus brachialis menginervasi kompartemen anterior (fleksor)
ekstremitas atas, sedangkan divisi posterior menginervasi kompartemen posterior (ekstensor).
Divisi-divisi truncus ini kemudian akan bergabung lagi untuk membentuk tiga fasciculus plexus
brachialis, yaitu:
1. Fasciculus lateral: gabungan divisi anterior truncus superior dan media
2. Fasciculus medial: lanjutan dari divisi anterior truncus inferior
3. Fasciculus posterior: gabungan divisi posterior dari ketiga truncus.
Penamaan ketiga fasciculus ini sesuai dengan letaknya terhadap bagian kedua arteri axillaris,
misalnya, fasciculus posterior berjalan di posterior arteri axillaris, dan seterusnya.

69
Clavicula membagi plexus brachialis menjadi dua bagian, supraclavicular dan infraclavicular. Ada
empat cabang plexus brachialis pars supraclavicularis yang berasal dari radiks dan truncus plexus
brachialis. Sedangkan cabang-cabang plexus brachialis pars infraclavicular berasal dari fasciculus
plexus brachialis.
Berikut tabel mengenai nervus-nervus dari plexus brachialis:

70
Saraf Asal Struktur yang Diinervasi
Cabang supraclavicular
Dari Radix
N. phrenicus Cabang plexus cervicalis, dari C3- Motoris:
C5 Diafragma
N. dorsalis scapula Ramus anterior C5, kadang juga Motoris:
C4 m. rhomboideus
m. levator scapula
N. thoracicus longus Rami anterior C5-C7 Motoris:
m. serratus anterior
Dari truncus superior
N. supra-scapularis Truncus superior, menerima Motoris:
serabut saraf dari C5-C6, kadang m. supraspinatus
C4 m. infraspinatus
art. glenohumeral
N. subclavius Truncus superior, menerima Motoris:
serabut saraf terutama dari C6, m. subclavius
juga C5, kadang C4 art. glenohumeral
Cabang Infraclavicular
N. pectoralis lateralis Dari fasciculus lateral, menerima Motoris:
serabutsaraf dari C5-C7, terutama Terutama m. pectoralis major
C6
N. musculocutaenus Cabang terminal fasciculus Motoris:
lateral, menerima serabut saraf Otot-otot kompartemen anterior brachii
dari C5-C7 (coracobrachialis, biceps brachii, brachialis)
Sensoris:
Kulit lateral antebrachii
N. medianus Radix lateral n. medianus Motoris:
merupakan cabang terminal Otot-otot di kompartemen anterior antebrachii
fasciculus lateral (C6, C7) (kecuali flexor carpi ulnaris dan ½ ulnar flexor
Radix medial n. medianus digitorum profundus), 5 otot intrinsik di thenar
merupakan cabang terminal palmar.
fasciculus medial (C8, T1) Sensoris:
Kulit palmar 3 ½ jari lateral
N. sub-scapularis Dari fasciculus posterior, Motoris:
superior menerima serabut saraf dari C5 Bagian superior m. subscapularis
N. thoraco-dorsalis Dari fasciculus posterior, serabut Motoris:
saraf dari C6-8, terutama C7 m. latissimus dorsi
N. sub-scapularis Dari fasciculus posterior, serabut Motoris:
inferior saraf dari C6 Bagian inferior m. subscapularis dan m. teres major
N. axillaris Cabang terminal fasciculus Motoris:
posterior, menerima serabut Art. Glenohumeral, m. teres minor, m. deltoideus
saraf dari C5, C6 Sensoris:
Kulit brachium superolateral (pada regio deltoid)
N. radialis Cabang terminal fasciculus Motoris:
posterior (cabang plexus Semua otot kompartemen posterior brachium dan
brachialis yang terbesar), dari C5- antebrachium,
T1 Sensoris:
Kulit posterior dan anterolateral brachium, posterior
antebrachium, dan dorsum tangan 3 ½ jari lateral
N. pectoralis medialis Motoris:
m. pectoralis minor
m. pectoralis major pars sternocostal
N. cutaneus brachii Sensoris:
Dari fasciculus medial, menerima
medialis Kulit di sisi medial regio brachii, sampai ke epicondylus
serabut saraf dari C8 dan T1
medialis os humerus dan olecranon os ulna
N. cutaneus Sensoris:
antebrachii medialis Kulit di sisi medial region antebrachii hingga
pergelangan tangan

71
Inervasi cutaneus upper limb:

72
Plexus Lumbalis

 N. iliohypogastricus
 N. ilioinguinalis
 N. genitofemoralis (ramus genitalis
et ramus femoralis)
 N. cutaneus femoris lateralis
 N. obturatorius  otot
kompartemen medial regio femoris
(otot-otot adductor)
 N. femoralis  otot kompartemen
anterior regio femoris (M.
quadriceps femoris)

Plexus Sacralis
Plexus sacralis terletak di dinding
posterolateral pelvis. Ada dua saraf
utama yang berasal dari plexus sacralis
yaitu n. ischiadicus dan n. pudendalis.
Sebagian besar cabang plexus sacralis
keluar dari pelvis melalui foramen
ischiadicus major.
 N. gluteus superior  M. gluteus
medius et minimus
 N. gluteus inferior  M. gluteus
maximus
 N. ischiadicus  otot kompartemen
posterior regio femoris et cruris
3. N. fibularis (peroneus)
communis
c. N. fibularis profundus 
otot kompartemen anterior
regio cruris
d. N. fibularis superficialis 
otot kompartemen lateral
regio cruris
4. N. tibialis  otot kompartemen
posterior regio cruris

73
SENSORY PATHWAY: EYE & EAR
Annisa Luthfiya Imani – Rakhian Listyawan

EYE
Orbita (posterior)
 Tepi orbita: – Fissura orbitalis superior, dilewati
 Margo supraorbitalis: os frontalis oleh N. III, IV, VI, V1, v. ophthalmica
Incisura (foramen) supraorbitalis, superior
dilewati oleh a. et n. supraorbitalis – Fissura orbitalis inferior, dilewati oleh
Incisura frontalis, dilewati oleh a. et a. et n. infraorbitalis, n. zygomaticus,
n. supratrochlearis v. ophthalmica inferior;
 Margo infraorbitalis: os zygomaticus menghubungkan dgn fossa
et maxilla infratemporalis dan fossa
 Margo lateralis: proc. zygomaticus pterygopalatina
ossis frontalis, proc. frontalis ossis – For. zygomaticofaciale
zygomatici – For. zygomaticotemporale
 Margo medialis: crista lacrimalis antor Medial: lamina papyracea ossis
et postor, os frontalis ethmoidales, os lacrimalis, os frontalis
Crista lacrimalis anterior proc. – Memisahkan dgn cellulae ethmoidalis,
frontalis maxillae, mrpk sinus sphenoidalis
tempat melekatnya: – For. ethmoidale anterius, dilewati
– Lig. palpebrale mediale oleh a. et n. ethmoidalis anterior
– M. orbicularis oculi – For. ethmoidale posterius, dilewati
Crista lacrimalis posterior ossis oleh a. et n. ethmoidalis posterior
lacrimalis, mrpk tempat melekatnya:  Periorbita
– Pars lacrimalis m. orbicularis oculi – Lanjutan dari duramater endostealis
– Septum orbitale – Bagian posterior menebal
– Retinaculum mediale membentuk annulus tendineus
Fossa sacci lacrimalis communis
Canalis nasolacrimalis, dilewati oleh  Septum orbitale, melekat dari tepi orbita
ductus nasolacrimalis - tarsus
 Dinding orbita:  Tarsus superior et inferior
Atap: lamina orbitalis ossis frontalis, ala  Vagina bulbi/fascia bulbi/kapsula Tenon,
parva ossis sphenoidalis mrpk selubung fascial bulbus oculi
– Memisahkan dgn fossa cranii anterior  Retinaculum mediale, utk membatasi
– Fossa glandulae lacrimalis, abduksi berlebih
tempatnya glandula lacrimalis  Retinaculum laterale, utk membatasi
– Fovea trochlearis, tempatnya “katrol” adduksi berlebih
m. obliquus superior
– Canalis opticus, dilewati oleh N. II, a. Bulbus oculi
ophthalmica  Polus anterior et posterior
Lantai: os maxilla, os zygomaticus, os  Sumbu optik, mrpk garis yg
palatinus menghubungkan ke2 kutub (polus)
– Atap dari sinus maxillaris
– Sulcus et canalis infraorbitalis, Tunica bulbi
dilewati oleh a. et n. infraorbitalis Tunica fibrosa: cornea, sclera
Lateral: proc. frontalis ossis zygomatici, Tunica vasculosa (uvea): iris, corpus ciliare,
ala magna ossis sphenoidalis choroidea
– Memisahkan dgn fossa temporalis Tunica nervosa (interna): retina
(anterior) dan fossa cranii media

74
Cornea Inervasi: C8-T4 ganglion cervicale
 Terdiri dari 5 lapis: (luar – dalam) superius (simpatis)
1. Epitel anterior  conjunctiva bulbi
2. Lamina limitans anterior (Bowman) NB:
3. Substansia propria (stroma)  sclera Inervasi otonom mata:
4. Lamina limitans posterior (Descemet)  Inervasi parasimpatis (ganglion ciliare): m.
5. Endotel sphincter pupillae, m. ciliaris
 Limbus cornea: junctio  Inervasi simpatis (ganglion cervicale
conjunctivocornealis, junctio superius): m. dilatator pupillae, m.
sclerocornealis orbitalis, m. tarsalis superior, vasa darah
 Angulus iridocornealis choroid & retina
Dapat diukur besar sudutnya dengan
gonioskop Retina
 Spatium anguli iridocornealis  Terdiri dari 2 lapis:
 Vaskularisasi: avaskular  Stratum pigmentosum retinae
 Inervasi: nn. ciliares n. ophthalmicus (N.  Stratum cerebri  dibagi 10 lapis lagi
V1)  Pars optica, pars ciliaris, pars iridica
 Ora serrata: batas pars optica – pars
Sclera ciliaris
 Sinus venosus sclerae (canalis Schlemm)  Discus nervi optici  blind spot
 Macula lutea
Choroidea
 Fovea centralis avaskular, hanya ada sel
 Lapisan: (luar – dalam)
conus
1. Lamina suprachoroidea  sel2 pigmen
 Sumbu visual, mrpk garis penghubung
2. Lamina vasculosa  arteriae cabang a.
benda dilihat  foveola
ciliaris posterior brevis, venae  vv.
verticosae  Vaskularisasi:
A. centralis retinae  r. superior et
3. Lamina choriocapillaris
inferior  r. temporalis et nasalis
4. Lamina basalis V. centralis retinae  sinus cavernosus
Corpus ciliare
Fundus oculi: bagian belakang interior bola
 Proc. ciliaris, memproduksi humor aqueos mata yg terlihat pada oftalmoskop
 Zonula ciliaris (lig. suspensorium lentis)
 M. ciliaris, bila kontraksi  akomodasi Lensa
Inervasi: ganglion ciliares (parasimpatis)  Bentuk bikonveks
 Lapisan: (luar – dalam)
Iris  Kapsul
 Pupil  Epitel kuboid
 Camera oculi anterior (COA) et posterior  Serabut-serabut lensa: cortex, nucleus
 Aliran humor aqueos: proc. ciliaris   Semakin cembung  akomodasi
camera oculi posterior  pupil  camera
oculi anterior  spatium anguli Corpus vitreum
iridocornealis  sinus venosus sclerae  Mrpk massa gelatinosa
(canalis Schlemm)
 M. sphincter pupillae NB:
Fungsi: miosis Media dioptrik/refraktif:
Inervasi: ganglion ciliare  nn. ciliares 1. Cornea (paling berperan) 3. Lensa
breves (parasimpatis) 2. Humor aqueos 4. Corpus vitreum
 M. dilatator pupillae
Fungsi: midriasis

75
Otot-otot extraokuler  Lapisan otot:
 M. rectus superior, inferior, medialis, 1. Pars palpebralis m. orbicularis oculi
lateralis Fungsi: menutup mata
Origo: annulus tendinous communis Inervasi: N. VII
Insertio: sclera 2. M. levator palpebrae superioris
 M. obliquus superior, inferior Fungsi: membuka mata
 M. levator palpebrae superior Inervasi: N. III
3. M. tarsalis superior et inferior
 Otot-otot polos: m. orbitalis, m. tarsalis
Fungsi: memperlebar celah palpebra
superior et inferior
Inervasi: ganglion cervicale superius
 Inervasi: LR6(SO4)3 (simpatis)
Lateral rectus  N. VI
 Lapisan fibrosa:
Superior oblique  N. IV
 Septum orbitale
Sisanya  N. III
 Lamina tarsalis (tarsus)
 Fungsi:
 Inervasi:
Elevasi: m. rectus superior + m. obliquus
Palpebra superior  n. supraorbitalis
inferior
Palpebra inferior  n. infraorbitalis
Depresi: m. rectus inferior + m. obliquus
superior
Conjunctiva
Intorsi: m. rectus superior + m. obliquus
superior  Conjunctiva palpebrae et bulbi
Ekstorsi: m. rectus inferior + m. obliquus  Fornix conjunctiva superior et inferior
inferior  Saccus conjunctivalis
Adduksi: m. rectus medialis  Inervasi: n. infratrochlearis, n. lacrimalis,
Abduksi: m. rectus lateralis nn. ciliares
 Gerak konjugata >< gerak disjugata  Vaskularisasi:
(konvergensi, divergensi) Aa. conjunctivales posteriores, cabang
 Saat melihat dekat: arkade perifer palpebra
1. Adduksi/konvergensi (kontraksi m. Aa. conjunctivales anteriores, cabang aa.
rectus medialis) ciliares anteriores
2. Akomodasi (kontraksi m. ciliaris)
3. Miosis (kontraksi m. sphincter pupil) Apparatus lacrimalis
 Pars secretoria:
Palpebra  Glandula lacrimalis
 Lapisan: (luar – dalam)  Ductus excretorius gland. lacrimalis 
 Cutis fornix superior
 Subcutis  Pars excretoria:
 Otot  Canaliculus lacrimalis
 Tarsus + septum orbitale  Saccus lacrimalis
 Conjunctiva palpebrae  Ductus nasolacrimalis
 Canthus medialis, lateralis  Lacrima (air mata), terdiri dari: (luar –
 Fissura palpebrae dalam)
 Glandula ciliaris/Zeis (minyak), Moll Lipid glandula Zeis, Moll, Meibom
(keringat) Air glandula lacrimalis
Glandula tarsalis (Meibom) Mucus sel goblet
 Lacus lacrimalis
 Caruncula lacrimalis  Inervasi:
 Plica semilunaris Parasimpatis: n. petrosus major (N. VII)
 Papilla lacrimalis, punctum lacrimale n. canalis pterygoidei ganglion
sphenopalatinum
Simpatis: ganglion cervicale superius

76
Vasa dan Nervus  Dalam kerucut otot:
 Luar kerucut otot:  N. nasociliaris (cab. n. ophthalmicus),
 N. ophthalmicus (N. V1): sensoris cabangnya:
– N. frontalis, bercabang: – R. communicans ganglii ciliaris
N. supratrochlearis – Nn. ciliares longi (+ serabut2
N. supraorbitalis // a. simpatis)
supraorbitalis – N. infratrochlearis
– N. lacrimalis // a. lacrimalis (+ – N. ethmoidalis anterior et
serabut parasimpatis dari posterior
ganglion sphenopalatina)  N. occulomotorius (N. III)
 N. trochlearis (N. IV)  N. abducens (N. VI)

*Untuk visual pathway, reflek pupil, reflek kornea, lihat pada halaman penjelasan 

EAR
Terdiri dari:  Inervasi: n. auriculotemporalis, n.
 Auris externa: auricula, meatus acusticus auricularis magnus
externus (MAE)  Vaskularisasi: a. auricularis posterior, a.
 Auris media: cavum tympani temporalis superficialis
 Auris interna: labyrinthus osseus et
membranaceus Membrana tympani
 Batas auris externa – media
Auricula  Terdiri dari 3 lapis:
 Helix, antihelix Epidermis
 Tragus, antitragus, incisura intertragica Jaringan fibrosa
 Scapha, fossa triangularis Mukosa
 Cymba choncae  Melekat di annulus tympanicus
 Conchae  Incisura tympanica
 Lobulus  Pars tensa, pars flaccida
 Tuberculum auriculare  Plica malleolaris anterior et posterior
 Inervasi: n. auriculotemporalis, n.  Umbo
occipitalis minor, n. auricularis magnus  Bagian os maleus yg melekat ke membran
 Vaskularisasi: a. temporalis superficialis, tympani: manubrium, proc. lateralis
a. auricularis posterior mallei
 Terbagi 4 kuadran: antero-superior,
Meatus acusticus externus antero-inferior, postero-superior,
 Pars cartilaginea (medial), pars ossea postero-inferior
(lateral)  bentuk S, utk meluruskan dgn  Cone of light  kuadran antero-inferior
menarik auricula ke postero-superior  Inervasi:
 Glandula ceruminosa, penghasil cerumen Dataran lateral: n. auriculotemporalis (N.
 Menyempit di 2 tempat: V3), N. X
1. Batas pars cartilaginea – ossea Dataran medial: plexus tympanicus (N. IX)
2. Isthmus  Vaskularisasi:
 Fungsi: Dataran lateral: r. auricularis profundus
1. Proteksi Dataran medial: a. tympanica antor et
2. Memperkeras suara postor

77
Cavum tympani – Rr. caroticotympanici cabang
 Isi: udara, ossicula auditiva, chorda plexus caroticus internus 
tympani, otot2 (m. tensor tympani, m. simpatis
stapedius) Ossicula auditiva
 Terhubung dengan nasopharynx melalui  Maleus, incus, stapes
tuba auditiva, yg pada balita wider,  Bagian tulang yg terletak pada recessus
shorter, more horisontal  lebih mudah epitympanicus:
terjadi otitis media  Caput mallei
 Terbagi menjadi 3 ruangan:  Corpus, crus breve incudis
 Recessus epitympanicus
 Mesotympanum Otot-otot
 Recessus hypotympanicus  M. tensor tympani
 Batas-batas: Origo: pars cartilaginea tuba auditiva
 Paries membranaceae (dinding Insertio: manubrium mallei
lateral): membran tympani Inervasi: n. tensoris tympani (N. V3)
 Paries tegmentalis (atap): tegmen  M. stapedius
tympani Insertio: collum stapedis
Eminentia arcuata, penonjolan Inervasi: n. stapedius (N. VII)
canalis semicircularis anterior
 Paries jugularis (lantai): fossa Labyrinthus osseus
jugularis yg ditempati oleh v. jugularis  Terdiri dari:
interna  Cochlea:
 Paries caroticus (dinding anterior): Scala tympani
canalis caroticus yg ditempati oleh a. Scala vestibuli
carotis interna Keduanya berhubungan di
Semicanalis m. tensoris tympani helicotrema
Ostium tympanicum tuba auditiva  Vestibulum
 Paries mastoidea (dinding posterior):  Canalis semicircularis anterior,
antrum mastoidea melalui aditus ad posterior, lateral
antrum  Berisi perilimfe
Eminentia pyramidalis, berisi m.
stapedius Labyrinthus membranaceus
Canalis nervi facialis
 Terdiri dari:
 Paries labyrinthi (dinding medial):
 Ductus cochlearis (scala media) 
labyrinth
mengisi cochlearis
Fenestra vestibuli (for. ovale),
 Utriculus, sacculus 
menghubungkan cavum tympani dgn
mengisi vestibulum
scala vestibuli, ditutup oleh basis
 Ductus semicircularis 
stapedis & lig. annulare stapedis
mengisi canalis semicircularis
Fenestra cochlea (for. rotundum),
 Berisi endolimfe
menghubungkan cavum tympani dgn
 Reseptor pendengaran:
scala tympani, ditutup oleh
Organon spirale Corti
membrana tympani secundaria
 Reseptor keseimbangan:
Promontorium, mrpk penonjolan
Crista ampularis keseimbangan dinamis
basis cochlea dimana permukaannya
Macula utriculi et saculi  keseimbangan
terdapat plexus tympanicus yg
statis
dibentuk oleh:
– N. tympanicus (N. IX) 
*Untuk auditory pathway lihat pada halaman
parasimpatis
penjelasan 

78
SENSORY PATHWAY: EYE & EAR
VISUAL ORGAN: THE EYE
Annisa Luthfiya Imani

Mata merupakan organ penglihatan dan terdiri dari bola mata dan n.opticus. Bola mata dan organ
aksesorisnya terletak di dalam orbita. Region orbita adalah area di wajah yang meliputi orbita dan
bola mata, termasuk palpebra atas dan bawah dan apparatus lacrimalis.

Orbita

Orbita merupakan cavitas tulang


bilateral pada skeleton wajah yang
bentuknya menyerupai piramida,
dengan dasarnya (orbital openings)
mengarah ke anterolateral, dan
puncaknya ke arah posteromedial.
Orbita berisi dan melindungi bola
mata/bulbus oculi dan otot-otot, saraf-
saraf, serta nervus-nervusnya, bersama
apparatus lacrimalis. Semua ruangan
dalam orbita yang tidak ditempati oleh
struktur-struktur di atas terisi oleh
orbital fat. Lemak ini membentuk
matriks dimana struktur-struktur orbita
dibenamkan.

Orbita memiliki satu basis, empat dinding, dan satu apex:


 Basis orbita dibatasi oleh margo orbitalis, yang mengelilingi apertura orbitalis. Tulang yang
membentuk margo orbitalis menyediakan proteksi terhadap isi orbita dan menyediakan
tempat menempel untuk septum orbitalis, suatu membrane fibrosa yang hingga mencapai
eyelids.
 Dinding superior (atap) dari orbita hampir horizontal dan dibentuk terutama oleh lamina
orbitalis os frontalis, yang memisahkan cavitas orbita dari fossa cranialis anterior. Di dekat
apex orbita, dinding superior ini dibentuk oleh alae parva os sphenoidalis. Di anterolateral
terdapat fossa glandulae lacrimalis, tempatnya glandula lacrimalis.
 Dinding medial dibentuk oleh os ethmoidalis dengan kontribusi dari os frontalis, os
lacrimalis, dan os sphenoidalis. Di anterior, terdapat lekukan untuk sulcus lacrimalis dan
fossa saccus lacrimalis. Di superior terdapat trochlea untuk tendon m.obliquus superior,
salah satu otot ekstraokular.
 Dinding inferior (lantai) nya dibentuk terutama oleh os maxilla dan sebagian oleh os
zygomaticus dan os palatina. Dinding inferior yang tipis ini merupakan dinding untuk orbita
yang terletak lebih superior sekaligus untuk sinus maxillaries yang terletak lebih inferior.
Dinding inferior dibatasi dari dinding lateral orbita oleh fissura orbitalis inferior. Pada lantai
orbita juga terdapat sulcus et canalis infraorbitalis yang dilewati oleh a. et n. infraorbitalis.

79
 Dinding lateral dibentuk oleh processus frontalis os zygomaticus dan alae magna os
sphenoidalis. Dinding lateral ini merupakan dinding yang tertebal dan terkuat, penting
karena dinding lateral paling terekspos dan rawan terhadap trauma langsung. Bagian
posteriornya memisahkan orbita dari lobus temporalis otak dan fossa cranii media.
 Apex orbita adalah pada canalis opticus di alae parva os sphenoidalis, di medial dari fissure
orbitalis superior.
Tadi sempat disebut tentang margo orbita pada basis orbita. Margo atau tepi orbita yaitu:
 Margo supraorbitalis, adalah os frontalis. Terdapat incisura (foramen) supraorbitalis yang
dilewati oleh a. et n. supraorbitalis, dan incisura frontalis yang dilewati oleh a. et n.
supratrochlearis.
 Margo infraorbitalis adalah os zygomaticus et maxilla
 Margo lateralis yaitu proc. Zygomaticus ossis frontalis dan proc.frontalis ossis zygomatici
 Margo medialis yaitu crista lacrimalis anterior et posterior, dan os frontalis. Selain itu di
margo medialis juga terdapat fossa sacci lacrimalis, cekungan tempat terletaknya saccus
lacrimalis, dan canalis nasolacrimalis, yang dilewati oleh dustus nasolacrimalis.
Tulang yang membentuk orbita disebut periorbita (periosteum dari orbit). Periorbita merupakan
lanjutan dari duramater endostealis dan bagian posteriornya menebal membentuk annulus
tendineus communis. Periorbita berhubungan dengan:
 Lamina periosteal duramater, pada canalis opticus dan fissure orbitalis superior
 Pericranium, sepanjang margo orbita dan melalui fissura orbitalis inferior
 Septum orbita pada margo orbita
 Fascial sheath otot-otot ekstraokular
 Fascia orbitalis yang membentuk fascial sheath bola mata.

Eyelids and Lacrimal Apparatus

Kelopak mata (palpebrae) dan cairan lakrimal yang disekresikan oleh glandula lacrimalis
melindungi kornea dan bola mata (bulbus oculi) dari luka dan iritasi.

Eyelids & Conjunctiva


Saat tertutup, kelopak mata melindungi bulbus oculi pada anteriornya, sehingga melindungi dari
luka dan cahaya yang berlebih. Palebrae juga menjaga kornea tetap lembab dengan menyebarkan
cairan lakrimal. Palpebrae merupakan lipatan yang dapat digerakkan, yang di bagian eksternalnya
dilapisi oleh kulit dan di bagian internalnya dilapisi oleh suatu membran mukosa yang transparan,
yaitu conjunctiva palpebra. Conjunctiva palpebra ini berlanjut dengan conjunctiva bulbi yang
melapisi bulbus oculi. Conjuctiva bulbi pada sclera longgar, mengkerut, dan mengandung banyak
vasa-vasa darah kecil. Conjunctiva bulbi menempel dengan tepi kornea. Garis batas antara
conjunctiva palpebra saat menjadi conjunctiva bulbi membentuk recessus yang dalam, yaitu fornix
conjunctiva superior et inferior.
Saccus conjunctivalis merupakan ruangan yang dibatasi oleh conjunctiva palpebra et bulbi.
Saccus conjunctivalis merupakan bentuk khusus suatu bursa mukosa yang memungkinkan palpebra
untuk bergerak bebas pada permukaan bulbus oculi saat membuka dan menutup.
Palpebra superior et inferior diperkuat oleh suatu pita jaringan ikat padat yang disebut tarsus
(jamak: tarsi), ada tarsus superior dan tarsus inferior. Serabut-serabut dari m. orbicularis oculi pars
palpebra terletak pada jaringan subkutan, di superficial tarsi dan di profunda kulit palpebra. Di

80
dalam tarsal plates terdapat glandula tarsalis (glandula Meibom), yang mensekresi lipid untuk
melubrikasi sudut-sudut palpebra dan mencegah palpebra saling menempel saat menutup. Sekresi
ini juga membentuk barrier yang tidak bisa ditembus oleh cairan lakrimal saat diproduksi pada
jumlah normal. Saat produksi cairan lakrimal berlebih, maka akan luber keluar dari barrier itu dan
jatuh ke pipi sebagai air mata.
Jadi lapisan palpebra dari luar ke dalam adalah: cutis, subcutis (di dalamnya terdapat serabut-
serabut m. orbicularis oculi pars palpebra), lalu otot (m. levator palpebra superior, m. tarsalis
superior), kemudian tarsus (dan glandula tarsalis di dalamnya), dan yang terdalam adalah
conjunctiva palpebra.
Bulu mata (L. cilia) terletak di tepi palpebra. Glandula sebasea yang berhubungan dengan bulu
mata adalah galndula ciliaris/Zeis. Pertemuan antara palpebra superior dan inferior membentuk
comissura palpebra medial et lateral, yang membentuk sudut-sudut mata, sehingga tiap mata
memiliki sudut atau canthus medialis et lateralis.
Pada canthus medialis, terdapat lacus lacrimalis, tempat penampung air mata. Pada lacus
lacrimalis terdapat caruncula lacrimalis, suatu massa kecil kulit lembab yang dimodifikasi. Di lateral
caruncula terdapat plica conjunctiva semilunaris atau plica semilunaris, yang sedikit overlap dengan
bulbus oculi. Saat sudut palpebra di-eversi, kita bias melihat ada penonjolan kecil, papilla lacrimalis,
dan di tengahnya terdapat punctum lacrimale.
Di antara hidung dan canthus medialis terdapat ligamen palpebra medial, yang
menghubungkan tarsi dengan margo medial orbita. M. orbicularis oculi berorigo dan berinsersio
pada ligamen ini. Ligamen palpebra lateral menempelkan tarsi ke margo lateral orbita. Septum
orbita merupakan membran lemah yang membentang dari tarsi ke margo orbita, dimana di margo
orbita septum orbita ini kontinu dengan periosteum. Septum orbita menjaga lemak orbita dan dapat
membatasi penyebaran infeksi dari dan ke orbita.

81
82
Lacrimal Apparatus
Apparatus lacrimalis terdiri dari:
 Glandula lacrimalis yang mensekresi cairan lakrimal (air mata), terletak di fossa glandula
lacrimalis pada bagian superolateral orbita
 Ductus lacrimalis yang mengalirkan cairan lakrimal dari glandula lacrimalis ke saccus
conjunctiva
 Canaliculi lacrimalis, masing-masing dimulai dari punctum lacrimale pada papilla lacrimalis
di dekat canthus medialis mata, mengalirkan cairan lakrimal dari lacus lacrimalis ke saccus
lacrimalis, bagian superior yang melebar dari ductus nasolacrimalis
 Ductus nasolacrimalis, mengalirkan cairan lakrimal ke cavitas nasi.
Produksi cairan lakrimal distimulasi oleh impuls parasimpatik dari CN VII. Cairan lakrimal
disekresikan melalui ductus excretorius, yang bermuara ke fornix conjunctiva superior pada saccus
conjunctiva. Cairan lakrimal mengalir kea rah inferior di dalam saccus karena pengaruh gravitasi.
Saat kornea mongering, palpebra akan mengedip. Palpebra superior dan inferior akan bertemu dari
lateral ke medial, mendorong lapisan tipis cairan ke arah medial pada kornea. Cairan lakrimal yang
berisi banda asing seperti debu terdorong ke arah canthus medial, terakumulasi di laccus lacrimale
dimana akan di drain dengan aksi kapiler melalui punctum lacrimalis dan canaliculi lacrimalis menuju
ke saccus lacrimalis. Dari saccus ini, cairan lakrimal mengalir ke cavitas nasi melalui ductus
nasolacrimalis. Disini, cairan lakrimal mengalir ke arah posterior ke nasopharynx dan ditelan.
Glandula lacrimalis mendapat suplai inervasi baik dari simpatis dan parasimpatis. Serabut saraf
presinaps parasimpatis yang bersifat sekretomotor (memicu sekresi cairan lakrimal) berasal dari n.
VII, inervasi ke glandula lacrimalisnya melalui n. petrosus major (cabang dari n.VII), juga oleh nerves
of pterygoid canal menuju ke ganglion pterygopalatina, dimana mereka bersinaps dengan badan sel
serabut postsinaps. Serabut saraf postsinaps simpatis yang bersifat vasokonstriktif berasal dari
ganglion cervicalis superior dan dibawa oleh plexus caroticus internus dan n. petrosus profunda.
Keduanya akan bergabung dengan serabut parasimpatis untuk membentuk nerve of the pterygoid
canal dan melalui ganglion pterygopalatina. Cabang dari n. zygomaticus (dari n. maxillaris) lalu
membawa kedua tipe serabut simpatis & parasimpatis ke n. opthalmicus r. lacrimalis dan masuk ke
glandula lacrimalis.

83
Eyeball

Dalam bulbus oculi terdapat apparatus optic dari system visual, bulbul oculi ini menempati
sebagian besar bagian anterior orbit. Bulbus oculi memiliki 3 lapis tunica bulbi, namun ada jaringan
ikat tambahan yang mengelilingi bulbus oculi, memungkinkan pergerakannya di dalam orbit. Lapisan
jarungan ikat linggar (fascial sheath) ini di bagian posterior tersusun oleh fascia bulbar dan di bagian
anterior disusun oleh conjunctiva bulbi.
Tiga lapis tunica bulbi yaitu:
 Tunica fibrosa, terdiri dari sclera dan cornea.
 Tunica vasculosa (uvea), terdiri dari choroidea, corpus ciliare, dan iris.
 Tunica nervosa (interna), terdiri dari retina, yang memiliki bagian optic dan non-visual.
Sclera merupakan bagian opaque/berwarna putih dari tunica fibrosa, melapisi 5/6 posterior
bulbus oculi. Sclera merupakan skeleton fibrosa bulbus oculi, yang member bentuk dan resistensi
juga tempat menempel untuk otot-otot ekstrinsik/ekstraokular dan intrinsic bola mata. Bagian
anterior sclera terlihat melalui conjunctiva bulbi yang transparan, tampak sebagai bagian yang
berwarna putih dari mata. Pada sclera juga terdapat sinus venosus sclera (canalis Schlemm).
Cornea merupakan bagian yang transparan dari tunica fibrosa, melapisi 1/6 anterior bulbus
oculi. Cornea ini terdiri dari 5 lapis, dari luar ke dalam:
 Epitel anterior  conjunctiva bulbi
 Lamina limitans anterior (Bowman)
 Substantia propria (stroma)  sclera
 Lamina limitans posterior (Descement)
 Endotel
Batas antara cornea dengan sclera adalah limbus cornea, atau disebut juga junction
conjunctivocornealia atau junction sclerocornealis. Antara cornea dan iris membentuk sudut angulus

84
iridocornealis dan ruang di antaranya yaitu spatium anguli iridocornealis. Cornea tidak memiliki
vaskularisasi (avaskular), dan diinervasi oleh nn. ciliares n. ophtalmicus (n. V1).
Tunica vasculosa (uvea atau uveal tract) terdiri dari choroid, corpus ciliare, dan iris. Choroid
adalah suatu membran berwarna coklat kemerahan yang terletak di antara sclera dan retina, dan
membentuk bagian terbesar dari tunica vasculosa dan melapisi sebagian besar sclera. Pada manusia
hidup, dalam choroid ini terdapat darah. Lapisan inilah yang membuat adanya refleksi “red eye”
pada mata saat difoto. Lapisan choroidea dari luar ke dalam:
 Lamina suprachoroidea  sel-sel pigmen
 Lamina vasculosa  arteriae cabang a. ciliaris posterior previs. Venae: vv. Verticosae
 Lamina choriocapillaris
 Lamina basalis
Choroid ini berlanjut ke anterior dengan corpus ciliare. Choroid menemperl dengan erat ke
lapisan pigmen retina, tetapi dapat dipisahkan dari sclera dengan mudah. Corpus ciliare yang
memiliki komponen muscular dan vascular menghubungkan choroid ke sekeliling iris. Corpus ciliare
menyediakan tempat menempel untuk lensa (melalui zonula ciliaris atau lig. suspensorium lentis);
kontraksi dan relaksasi dari otot polos pada corpus ciliare mengontrol ketebalan (dan fokus) lensa.
Komponen muscular corpus ciliare, m. ciliaris, bila berkontraksi akan menyebabkan akomodasi
lensa. M. ciliaris ini diinervasi oleh ganglion ciliares (parasimpatis). Pelipatan pada permukaan
internal corpus ciliare, yaitu processus ciliaris, mensekresi humor aqueous, yang mengisi kamera
okuli anterior dan posterior mata. Kamera okuli anterior mata merupakan ruangan di antara kornea
yang terletak di anterior dengan iris/pupil di posterior. Kamera okuli posterior mata merupakan
ruangan antara iris/pupil di anterior dengan lensa dan corpus ciliaris di posterior.
Iris, yang terletak di anterior lensa, merupakan suatu diafragma kontraktil tipis dengan apertura
sentral yang disebut pupil, untuk mentransmisikan cahaya. Saat seseorang bangun, ukuran pupil
akan berubah untuk mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata; m. sphincter pupil yang
distimulasi oleh saraf parasimpatis (nn. ciliaris breves) memperkecil pupil (miosis), dan m. dilator
pupil yang dipengaruhi simpatis (ganglion cervicalis superius / C3-T4) memperlebar pupil
(midriasis).
Lapisan terdalam bulbus oculi adalah retina. Retina terdiri dari 2 lapis: stratum pigemntosum
retinae dan stratum cerebri yang terbagi lagi menjadi 10 lapis (dibahas oleh Histologi). Secara kasat
mata, retina terdiri dari dua bagian fungsional dengan lokasi yang berbeda: bagian optic (pars
optica) dan retina nonvisual (pars ciliaris dan pars iridica). Retina pars optica sensitive terhadap
cahaya visual dan memiliki 2 lapisan: lapisan neural dan lapisan sel pigmen. Lapisan neural reseptif
terhadap cahaya, Lapisan sel pigmen terdiri dari satu lapis sel yang meningkatkan kemampuan
penyerapan cahaya oleh choroid untuk mengurangi tersebarnya cahaya di dalam bulbus oculi.
Retina nonvisual adalah lanjutan lapisan sel pigmen di anterior dan selapis sel penunjang pada
corpus ciliare (retina pars ciliaris) dan permukaan posterior iris (retina pars iridica).
Fundus oculi merupakan bagian posterior/interior dari bulbus oculi yang terlihat saat
oftalmoskopi. Pada fundus terdapat area sirkuler yang disebut discus opticus (papilla optic) dimana
serabut saraf sensoris dan pembuluh darah masuk ke bulbus oculi melalui nervus opticus. Karena
pada discus opticus ini tidak terdapat fotoreseptor, discus ini insensitif terhadap cahaya, sehingga
bagian retina ini sering disebut blind spot atau bintik buta. Di lateral discus opticus terdapat macula
lutea. Warna kuning macula akan terlihat hanya jika retina diperiksa dengan red-free light. Macula
lutea merupakan area kecil di retina dengan conus fotoreseptor khusus yang terspesialisasi untuk

85
ketajaman penglihatan/visual acuity. Di tengah macula terdapat suatu cekungan yang disebut fovea
centralis, area dimana penglihatan paling tajam. Diameter fovea kurang lebih 1,5 mm.
Bagian fungsional retina berakhir di anterior pada ora serrata, suatu batas irregular sedikit
posterior dari corpus ciliaris. Ora serrata menandakan batas anterior dari bagian retina yang reseptif
terhadap cahaya, dengan kata lain merupakan batas antara retina pars optica dan pars ciliaris.
Kecuali sel-sel batang dan kerucut pada lapisan neural, retina divaskularisasi oleh a. centralis retina,
yang merupakan cabang dari a. ophtalmica. Venanya oleh v. centralis retina yang akan bermuara ke
sinus cavernosus. Sedangkan sel-sel batang dan kerucut pada lapisan neural menerima vaskularisasi
dari capillary lamina of the choroid (lamina choriocapillaris).

86
Refractive Media of the Eyeball
Dalam perjalanannya menuju retina, gelombang cahaya melalui media refraktif bulbus oculi,
yaitu: cornea, humor aqueos, lensa, dan humor vitreous. Kornea merupakan area sirkuler di
anterior bola mata yang bertanggung jawab terhadap refraksi cahaya yang masuk ke mata. Kornea
ini transparan, avaskular, dan sensitive terhadap sentuhan. Seperti yang sudah disebutkan di atas,
kornea diinervasi oleh n. ophtalmicus dan mendapat nutrisi dari capillary beds pada tepi-tepi kornea,
dari humor aqueous, dan cairan lakrimal. Cairan lakrimal juga menyediakan oksigen yang diabsorpsi
dari udara.
Humor aqueous pada kamera okuli anterior (KOA) dan posterior (KOP) mata diproduksi oleh
processus ciliaris pada corpus ciliaris. Larutan yang bersifat watery ini menyediakan nutrisi untuk
kornea dan lensa yang avaskular. Dari KOP, humor aqueous akan melewati pupil menuju KOA, dan
didrainase ke sinus venosus sclera atau canalis Schlemm pada angulus iridocornealis. Cairan ini
akan diremove oleh limbal plexus, suatu jaringan vena sclera di dekat limbus, yang kemudian akan
bermuara ke v. ciliaris anterior dan v. vorticosae.
Lensa terletak di posterior iris dan di anterior humor vitreous. Lensa merupakan struktur
bikonveks transparan yang terbungkus dalam suatu kapsul. Capsula lentis yang sangat elastis
menempel ke corpus ciliaris melalui lig. suspensorium lentis atau zonula lentis. Capsula lentis juga
dikelilingi oleh processus ciliaris. Kecembungan lensa, terutama permukaan anteriornya, selalu
bervariasi tergantung dari jauh atau dekatnya objek dari retina. Kontraksi m. ciliaris pada corpus
ciliaris mengubah bentuk lensa. Saat corpus ciliaris rileks, maka akan menarik lensa sehingga lensa
menjadi cenderung lebih datar, memungkinkan penglihatan jauh. Adanya stimulasi parasimpatis
menyebabkan m. ciliaris berkontraksi, sehingga lingkar otot yang mengelilingi lensa ini mengecil,

87
seperti sphincter, ukurannya mengecil, dan tegangan pada lensa berkurang, memungkinkan lensa
untuk menjadi lebih cembung. Peningkatan kecembungan lensa ini berguna untuk penglihatan
dekat.
Humor vitreous merupakan watery fluid yang tertutup dalam corpus vitreous, suatu substansi
transparan dengan konsistensi mirip jelly di posterior lensa. Selain untuk mentransmisikan cahaya,
humor vitreous juga mempertahankan retina pada tempatnya dan mensupport lensa.

Extraocular Muscles of Orbit

Otot-otot ekstraokuler orbita yaitu m. levator palpebra superior, empat otot recti (superior,
inferior, media, dan lateral), dan dua otot oblique (superior dan inferior). Otot-otot ini bekerja sama
untuk menggerakkan palpebra superior dan bola mata. Origo dan insersionya, invervasinya, dan
kerja utama dari otot-otot ini dapat dilihat pada tabel di bawah. Meskipun kerja tiap otot
didiskripsikan secara terpisah, pada kenyataannya otot-otot ekstraokular jarang bekerja sendiri;
aktivitas sinergis dan antagonis antar otot terjadi hampir selalu terjadi. Otot-otot yang bekerja
sinergis untuk suatu gerakan bisa saja bekerja secara antagonis untuk gerakan yang lain.

88
Keempat otot recti (m. rectus superior, rectus inferior, rectus medialis, dan rectus lateralis)
berorigo pada annulus tendinosus communis, yang mengelilingi canalis opticus dan sebagian fissura
orbitalis superior. Inervasinya yaitu LR6(SO4)3: lateral rectus oleh n.VI, superior oblique oleh n.IV. dan
sisanya oleh n.III. Fungsi dari keempat otot ini:
 Elevasi: m. rectus superior + m. obliquus inferior
 Depresi: m. rectus inferior + m. obliquus superior
 Intorsi: m. rectus superior + m. obliquus superior
 Ekstorsi: m. rectus inferior + m. obliquus inferior
 Adduksi: m. rectus medialis
 Abduksi: m. rectus lateralis
Baik m. rectus superior maupun inferior tidak bisa menggerakkan mata murni ke atas (elevasi)
ataupun ke bawah (depresi), mereka cenderung menggerakkan pupil ke arah medial (adduksi).
Tarikan ke medial ini diseimbangkan oleh otot-otot oblique yang memiliki tendensi menggerakkan
pupil ke lateral (abduksi). Dari posisi primer, m. obliquus inferior akan menggerakkan pupil ke lateral
dan superior; sehingga saat m. rectus superior dan m. obliquus inferior bekerja secara sinergis,
elevasi murni pupil akan terjadi. Begitu juga, m. obliquus superior menggerakkan pupil ke inferior &
lateral, sehingga saat bekerja secara sinergis dengan m. rectus inferior, terjadi depresi murni. Saat
pupil sudah berada dalam keadaan adduksi (misalnya saat membaca jarak dekat), otot-otot oblique
berfungsi untuk elevasi (m. obliquus inferior) dan depresi (m.obliquus superior). Elevasi dan depresi
pada posisi adduksi adalah fungsi utama dari otot-otot oblique.

89
Selain keempat gerakan pada axis horizontal dan vertical di atas, m. rectus superior dan inferior
menyebabkan rotasi bulbus oculi pada axis anteroposterior. Gerakan polus superior mata ke medial
disebut intorsi, gerakan polus superior mata ke lateral disebut extorsi. Gerakan-gerakan ini
mengakomodasi perubahan saat kita memiringkan kepala ke kanan atau kiri. Absennya gerakan-
gerakan ini yang disebabkan oleh lesi pada saraf dapat menyebabkan diplopia/double
vision/penglihatan ganda.
Untuk mengarahkan pandangan, koordinasi kedua mata harus dicapai dengan kerja berpasangan
yoke muscles yang kontralateral. Misalnya jika melihat ke kanan, m.rectus lateralis kanan dan
m.rectus medialis kiri bekerja bersama sebagai yoke muscles.
m. levator palpebrae superioris melebar menjadi aponeurosis luas saat mendekati insersionya.
Lamina superficial menempelkan otot ini ke kulit palpebra superior dan lamina superficialnya
menempelkan ke tarsus superior. Otot ini merupakan antagonis dari ½ superior m. orbicularis oculi,
yang merupakan sphincter fissura palpebra. Lamina profundanya termasuk serabut otot polos yaitu
m. tarsalis superior, yang memberikan tambahan pelebaran fissura palpebra saat terjadi respon
simpatis (misal saat ketakutan). Jadi, otot-otot ekstraokuler pada palpebra yaitu:
 Pars palpebralis m. orbicularis oculi, fungsinya untuk menutup mata, inervasi oleh n. VII
 M. levator palpebrae superioris, untuk membuka mata, inervasi n. III
 M. tarsalis superior et inferior, memperlebar celah palpebra, inervasi ganglion cervical
superius (simpatis).
Vagina bulbi atau Capsula Tenon melingkupi bulbus oculi dari n. opticus di dekat junction
corneoscleralis. Vagina bulbi ini ditembus oleh tendon-tendon otot ekstraokular dan melapisi
tendon-tendon ini sebagai tubular muscle sheath.

90
Visual Pathway

Nervus opticus terdiri dari jutaan serabut saraf yang mengandung akson yang berasal dari inner
ganglion cell layer pada retina. Serabut-serabut saraf ini akan melewati lamina cribrosa pada sclera
lalu berjalan melalui canalis opticus membentuk chiasma opticum. Serabut-serabut dari retina nasal
menyilang pada chiasma, sedangkan serabut temporal tidak menyilang.
Pengaturan pada chiasma opticum ini membuat akson temporal retina kiri dan akson nasal
retina kanan akan berjalan menjadi tractus opticus kiri. Karena lapang pandang nasal jatuh ke retina
temporal dan lapang pandang temporal jatuh ke retina nasal, maka susunan ini menyebabkan
hemisfer otak kiri menerima informasi visual dari sisi kanan (kontralateral). Begitu juga sebaliknya,

91
akson temporal retina kanan dan akson nasal retina kiri akan berjalan di tractus opticus kanan,
sehingga hemisfer otak kanan akan menerima input visual dari sisi kiri.
Setelah melewati chiasma opticum, akson sel ganglion retina ini akan berjalan pada tractus
opticus, yang membawa akson ke corpus geniculatum lateral (CGL) dan ke colliculus superior. Dari
masing-masing CGL, akson akan berlanjut secara ipsilateral melalui radiatio optica menuju cortex
calcarina pada lobus occipitalis. Sehingga, separuh kanan dari tiap retina (separuh kiri visual field)
terproyeksi melalui radiation optica ke lobus occipitalis kanan, dan sebaliknya.
Radiatio optica atau geniculocalcarine fibers membawa impuls dari CGL menuju cortex visual.
Meyer’s loop merupakan radiatio optica yang melengkung di sekitar ventrikel lateral, melewati
lobus temporalis, sebelum mencapai cortex calcarina. Meyer’s loop membawa serabut radiatio
optica yang merepresentasikan bagian atas/upper part dari lapang pandang kontralateral. Jadi,
Meyer’s loop kanan membawa input seperempat lapang pandang bagian kiri atas.
Sedangkan colliculus superior akan terproyeksi ke medulla spinalis melalui tractus tectospinal,
yang mengontrol gerakan reflek kepala, leher, dan mata sebagai respon terhadap stimulus visual.

Pupillary Light Reflex

Selain pathway visual di atas, jalur aferen dari tractus opticus juga terproyeksi melalui area
pretectal, menuju ke neuron parasimpatis pada nucleus Edinger-Westphal (bagian dari n. III),
neuron preganglionik parasimpatis berjalan dalam n. III, lalu berakhir di ganglion ciliaris. Kemudian
serabut saraf postganglionik dari ganglion ciliaris akan menuju ke m. constrictor pupil. Loop neuron
ini bertanggung jawab terhadap reflek pupil, yang menghasilkan konstriksi pupil (miosis) saat mata
diberi stimulasi cahaya. Akson visual dari tiap tractus opticus terproyeksi ke nucleus Edinger-

92
Westphal secara bilateral, sehingga saat satu mata disinari cahaya, maka tidak hanya mata
ipsilateral yang miosis, mata yang kontralateral juga akan mengalami miosis. Miosis yang terjadi
pada mata yang distimulasi cahaya/ipsilateral adalah reflek pupil direct/direct light reflect,
sedangkan miosis pada mata kontralateralnya disebut reflek pupil indirect/consensual light reflect.

Corneal Reflex

Reflek kornea aferennya dibawa oleh n. V, sedangkan eferennya oleh n. VII.


Kornea merupakan struktur yang sensitif terhadap stimulus taktil. Reflek kornea dapat dites
dengan kapas yang disentuhkan secara perlahan & ringan ke kornea. Stimulus taktil ini akan dibawa
oleh n. V1/ophtalmicus menuju ganglion trigeminalis, lalu ke nucleus principalis n. V. dari sini serabut
saraf akan terproyeksi secara bilateral ke nucleus n. VII ipsilateral dan kontralateral. Dari nucleus n.
VII, keluar n. VII yang menginervasi m. orbicularis oculi, sehingga respon dari reflek kornea ini adalah
kedua mata akan menutup.

93
Conjugate Eye Movement

94
AUDITORY ORGAN: THE EAR
Annisa Luthfiya Imani – Rakhian Listyawan

Telinga dapat dibagi menjadi 3 bagian, auris externa, media dan interna. Auris externa dan media
berperan utama dalam penghantaran suara ke auris interna, dimana didalamnya terdapat organ
equilibrium dan pendengaran. Membrana tympani memisahkan auris externa dari auris media. Tuba
pharyngotympanicum / tuba auditiva menghubungkan auris media ke nasopharynx.

AURIS EXTERNA
Auris externa terdiri dari auricula (daun telinga) yang mengumpulkan suara dan meatus acusticus
externus yang menghantarkan suara ke membrane tympani.
 Auricula
Terdiri dari kartilago elastic berbentuk pipih ireguler yang ditutupi kulit yang tipis. Memiliki
beberapa depresi dan elevasi. Concha adalah depresi yang paling dalam. Helix adalah peninggian
yang menjadi batas dari auricular. Bagian non-kartilago lobulus terdiri dari jaringan fibrosa,
lemak dan pembuluh darah. Biasa digunakan untuk mengambil sampel darah dan memasang
anting. Tragus adalah penonjolan seperti lidah yang overlapping dengan lubang meatus
acusticus externus. Untuk bagian bagian auricular lainnya bisa dilihat di gambar
Supply arteri auricular berasal dari A.auricularis posterior dan A.temporalis superficialis.
Inervasi kulit auricular adalah N.auricularis magnus dan N.auriculotemporalis. N.auricularis
magnus menginervasi permukaan cranial (biasa disebut “back of the ear”) dan pars posterior
dari permukaan lateral (helix, antihelix, lobules). N.auriculotemporalis adalah cabang dari N.V3
yang menginervasi kulit auricula anterior sampai meatus acusticus externus. Terdapat pula
kontribusi kecil dari N.Vagus (X)dan N.Facialis (VII) pada kulit di concha serta peninggiannya.
Aliran limfatik auricula: dari permukaan lateral bagian setengah superior menuju lnn.parotid
superficial; permukaan cranial bagian setengah superior menuju lnn.mastoid dan lnn.cervicalis
profundi; sisanya termasuk lobules menuju ke lnn.cervicalis superficial.

 Meatus Acusticus Externus


Merupakan saluran ke dalam melalui pars tympanicum os temporal, dari auricular ke membrana
tympani, panjang sekitar 2-3cm. Sepertiga lateralnya sedikit membentuk huruf S merupakan
pars kartilaginosa yang dilapisi kulit. Duapertiga medialnya adalah pars osseus yang dilapisi kulit

95
tipis yang berlanjut dengan lapisan external membrana tympani. Glandula sebacea dan
ceruminosa pada pars kartilaginosa menghasilkan cerumen (earwax)
Membrana tympani, berdiameter sekitar 1cm, adalah membran oval semitransparan pada ujung
medial dari meatus acusticus externus. Membran ini memisahkan meatus pada auris externa
dan cavitas tympani pada auris media.
Membran tympani dilapis kulit tipis di bagian eksternal dan membrane mucus di bagian internal.
Dilihat melalui otoscope, membrane tympani memiliki kecekungan ke arah meatus acusticus
externus dengan depresi dangkal di sentral seperti cone, puncaknya disebut umbo. Orientasi
membrane tympani adalah seperti radar untuk menangkap sinyal dari tanah di depan dan dari
sisi kepala.
Di superior dari processus lateral os malleus, bagian membrane disini tipis disebut pars flaccida.
Bagian membrane tympani sisanya disebut pars tensa. Pars flaccid membentuk dinding lateral
dari recessus superior cavitas tympani. Pergerakan membrane tympani merupakan respon
vibrasi udara yang melalui meatus acusticus externus. Gerakan membrane ini ditransmisikan
oleh ossicula auditiva di auris media menuju auris interna.

AURIS MEDIA
Cavitas auris media atau cavitas tympani adalah ruangan sempit berisi udara di dalam pars petrosa
os temporal. Cavitas ini memiliki dua pars: cavitas tympani propria, ruangan yang berada persis di
internal dari membrane tympani; dan recessus epitympanicus, ruangan di superior membrane
tympani. Cavitas tympani dihubungkan secara anteromedial dengan nasopharynx oleh tuba
pharyngotympanicum/tuba auditiva dan secara posterosuperior dengan cellulae mastoid melalui
antrum mastoid. Membran mukosa yang melapisi cavitas tympani juga berlanjut ke tuba
pharyngotympanicum/tuba auditiva dan antrum mastoid.

96
Isi dari auris media: - Ossicula auditiva (malleus, incus, stapes)
- M.stapedius dan M.tensor tympani
- N.chorda tympani, cabang N.VII
- Plexus tympanicus

Dinding Cavum Tympani


Auris media, berbentuk seperti kotak sempit dengan sisi-sisi yang cekung, memiliki 6 dinding:
 Paries tegmentalis (atap), dibentuk oleh satu lempeng tipis os temporalis, yang bernama
tegmen tympani, memisahkan cavitas tympani dari dura mater pada lantai fossa crania media.
 Paries jugularis (lantai), dibentuk oleh selapis tulang yang memisahkan cavitas tympani dari v.
jugularis interna.
 Paries membranacea (dinding lateral), dibentuk hampir seluruhnya oleh membrane tympani. Di
superior, dinding lateral dibentuk oleh dinding tulang lateral dari recessus epitympanicus.
Manubrium malei menempel ke membrane tympani, dan caput malei terletak di recessus
epitympanicus.
 Paries labyrinth (dinding medial) memisahkan cavitas tympani dari auris interna. struktur yang
turut menyusun dinding medial ini adalah promontorium dari dinding labyrinth, yang dibentuk
oleh bagian awal/basis cochlea, dan foramen ovale (fenestra vestibuli) dan rotundum (fenestra
cochlea). Fenestra vestibuli menghubungkan cavum tympani dengan scala vestibule, ditutup
oleh basis stapedia dan lig. annulare stapedis. Femestra cochlea menghubungkan cavum
tympani dengan scala tympani, ditutup oleh membrane tympani secundaria. Promontorium,
merupakan penonjolan basis cochlea dimana pada permukaannya terdapat plexus tympanicus
yang dibentuk oleh n. tympanicus (n. IX) (parasimpatis), dan rr. caroticotympanici cabang plexus
caroticus internus (simpatis).
 Paries caroticus (dinding anterior), memisahkan cavum tympani dari canalis caroticus, yang
berisi a. carotis interna. Di superior terdapat ostium tympanicum tuba auditiva dan semicanalis
m. tensoris tympani.
 Paries mastoidea (dinding posterior) memiliki bukaan pada bagian superiornya, yaitu aditus ad
antrum mastoideum, yang menghubungkan cavum tympani dengan cellulae mastoideae;
canalis nervi facialis lewat di antara dinding posterior dan antrum, di medial aditus. Terdapat
eminentia pyramidalis, suatu penulangan yang berisi m. stapedius. Tendon m. stapedius muncul
dari apex eminentia pyramidalis.
Antrum mastoideum merupakan cavitas di dalam processus mastoid os temporal. Antrum
mastoideum dipisahkan dari fossa crania media oleh satu lempeng os temporal tipis yang disebut
tegmen tympani. Tegmen tympani membentuk sebagian dari paries tegmentalis cavum tympani dan
sebagian lantai lateral fossa crania media. Antrum mastoideum merupakan muara bersama dari
cellulae-cellulae mastoidea. Antrum dan cellulae mastoidea dilapisi oleh membran mukosa, yang
berlanjut dengan pelapis auris media.

97
Dinding lateral auris media:

Dinding medial auris media:

Ossicula Auditiva
Ossicula auditiva (malleus, incus, stapes) membentuk suatu rangkaian tulang kecil yang mobile di
dalam cavum tympani, dari membrana tympani ke foramen rotundum/fenestra vestibuli, suatu
lubang pada dinding labyrinth cavum tympani yang menghubungkan dengan scala vestibule. Ossicula
ini dilapisi dengan membran mukosa seperti yang melapisi cavum tympani, tetapi berbeda dengan
tulang lain dalam tubuh, ossicula auditiva tidak dilapisi langsung oleh periosteum.
Malleus menempel pada membrana tympani. Caput mallei terletak pada recessus
epitympanicus. Collum mallei terletak pada bagian flaccid membrane tympani dan manubrium

98
mallei menempel pada membrana tympani dengan ujungnya pada umbo, sehingga malleus akan
bergerak jika membrana tympani bergerak. Caput mallei bersendi dengan incus. Tendon m. tensor
tympani berinsersio ke manubrium mallei. N. chorda tympani melewati permukaan medial collum
mallei.
Incus terletak di antara malleus dan stapes dan bersendi dengan keduanya. Corpus incudis
terletak di recessus epitympanicus dimana ia bersendi dengan caput mallei. Crus longus incudis
terletak parallel dengan manubrium mallei, dan ujung inferiornya bersendi dengan stapes melalui
processus lenticularis. Crus breve incudis terhubung oleh suatu ligament dengan dinding posterior
cavum tympani.
Stapes merupakan ossicula yang terkecil. Basis stapedis menempel pada margin foramen ovale.
Basis stapedis ini lebih kecil dibandingkan membrana tympani, sehingga kekuatan vibrasi pada
stapes menjadi 10x lebih kuat dibandingkan kekuatan vibrasi pada membrana tympani.
Konsekuensinya, ossicula auditiva meningkatkan kekuatan vibrasi tetapi menurunkan amplitudo
vibrasi yang ditransmisikan dari membrana tympani ke auris interna.

99
Otot-otot yang Berhubungan dengan Ossicula Auditiva
Ada dua otot yang mengurangi atau melawan gerakan ossicula auditiva, salah satunya juga
mengurangi gerakan/vibrasi membrana tympani.
M. tensor tympani merupakan suatu otot pendek yang berorigo di pars cartilaginea tuba
auditiva, ala magna os sphenoid, dan pars petrosus os temporalis. M. tensor tympani berinsersio di
manubrium mallei. Inervasinya oleh n. V3. M. tensor tympani akan menarik manubrium mallei ke
medial, menegangkan membrana tympani dan mengurangi amplitudo getarannya. Hal ini cenderung
mencegah kerusakan pada auris interna saat mendengar suara yang keras.
M. stapedius merupakan suatu otot kecil yang berada di dalam eminentia pyramidalis, suatu
penonjolan yang berongga di dinding posterior cavum tympani. Insersionya pada collum stapedis.
Inervasinya oleh n. stapedius yang merupakan cabang dari n. VII. M. stapedius akan menarik stapes
kea rah posterior dan mengangkat basis stapedis dari foramen ovale, sehingga menegangkan
ligament anular dan menurunkan range getaran. M. stapedius juga mencegah pergerakan stapes
yang berlebihan.

AURIS INTERNA
Dalam auris interna terdapat organ vestibulocochlear yang berfungsi dalam penerimaan suara
dan menjaga keseimbangan. Auris interna berada di dalam pars petrosus os temporalis, dan terdiri
dari sacci (saccus, jamak) dan ductus-ductus labyrinthus membranosus. Labyrinthus membranosus,
yang didalamnya mengandung endolimfa, berada di dalam labyrinthus osseus yang berisi perilimfe,
dijaga oleh filament tipis yang mirip dengan filament arachnoid mater pada spatium subarachnoid,
atau oleh ligament spiralis. Endolimfe terlibat dalam stimulasi organ untuk keseimbangan sedangkan
perilimfe untuk pendengaran.
Labyrinthus Osseus
Labyrinthus osseus merupakan ruangan-ruangan (terdiri dari cochlea, vestibulum, dan canalis
semicircularis) yang berisi cairan dan terdapat di dalam capsula oticum pada pars petrosus os
temporalis. Capsula oticum terbuat dari tulang yang lebih padat daripada pars petrosus lainnya.

100
Cochlea merupakan bagian dari labyrinthus osseus yang berbentuk seperti kerang/keong yang di
dalamnya terdapat ductus cochlearis, bagian dari auris interna yang berfungsi dalam pendengaran.
Canalis spiralis cochlea dimulai pada vestibulum dan membuat 2,5 putaran di sekitar modiolus.
Modiolus berisi saluran-saluran untuk vasa darah dan distribusi cabang-cabang n. cochlearis.
Belokan basis cochlea yang besar membentuk promontorium dinding yang membentuk dinding
medial cavum tympani. Pada basis cochlea, labyrinthus osseus berhubungan dengan spatium
subarachnoid yang berada di superior foramen jugularis melalui aqueductus cochlearis. Pada
cochlea juga terdapat foramen rotundum yang ditutup oleh membrane tympani secundaria.
Vestibulum merupakan ruangan kecil oval (sekitar 5 mm) yang di dalamnya terdapat utriculus
dan sacculus dan bagian-bagian yang berfungsi menjaga keseimbangan (balancing
apparatus/vestibular labyrinth). Pada dinding lateral vestibulum terdapat foramen ovale yang
ditutup oleh basis stapedis. Vestibulum berhubungan dengan bony cochlea di anterior, dengan
canalis semicircularis di posterior, dan dengan fossa crania posterior melalui aqueductus vestibuli.
Aqueductus vestibuli ini menntransmisikan ductus endolymphaticus dan dua vasa darah kecil.
Canalis semicircularis (ada tiga: anterior, posterior, dan lateral) berhubungan dengan
vestibulum. Canalis-canalis ini terletak posterosuperior terhadap vestibulum . tiap canalis
semicircularis membentuk 2/3 lingkaran dengan diameter kurang lebih 1,5 mm, kecuali pada
ampulla. Ketiga canalis ini hanya memiliki 5 pintu/lubang ke vestibulum karena canalis anterior dan
posterior memiliki satu lubang yang sama. Di dalam canalis semicircularis terdapat ductus
semicircularis (labyrinthus membranosus).

Labyrinthus Membranosus
Labyrinthus membranosus terdiri dari suatu seri banyak saccus dan ductus yang saling
berhubungan dan terletak di dalam labyrinthus membranosus. Labyrinthus membranosus berisi
endolimfa, cairan yang komposisinya mirip cairan intraseluler, sehingga berbeda dengan perilimfe
yang komposisinya mirip cairan extraseluler. Labyrinthus membranosus terdiri dari dua divisi,
labyrinthus vestibularis dan labyrnthus cochlearis, dan terdiri dari lebih banyak bagian
dibandingkan labyrinthus osseus:
 Labyrinthus vestibularis: utriculus dan sacculus, dua saccus kecil yang saling berkomunikasi,
berada di dalam vestibulum.
 Tiga ductus semicircularis di dalam canalis semicircularis.
 Labyrinthus cochlearis: ductus cochlearis di dalam cochlea.
Ductus semicircularis membuka ke utriculus melalui 5 lubang. Utriculus berhubungan dengan
sacculus melalui ductus utricosaccularis, yang merupakan asal dari ductus endolymphaticus.
Sacculus berhubungan dengan ductus cochlearis melalui ductus reunions. Utriculus dan sacculus
memiliki suatu area khusus dengan epithelium sensoris yang disebut macula. Macula utriculi berada
di lantai utriculus, parallel dengan basis crania. Sedangkan macula sacculi terletak vertical pada
dinding medial sacculus. Hair cells pada macula diinervasi oleh divisi vestibularis dari n. VIII/n.
vestibulocochlearis. Badan sel dari neuron sensoris terletak di ganglion vestibularis yang berada di
meatus acusticus internus.

101
Tiap ductus semicircularis memiliki satu ampulla pada satu ujungnya. Ampulla ini berisi suatu
area sensoris yang disebut crista ampullaris. Crista ampullaris ini merupakan sensor untuk merekam
gerakan endolimfa di ampulla, yang dihasilkan oleh rotasi kepala, jadi dapat dikatakan crista
ampullaris ini merupakan sensor untuk keseimbangan dinamis. Hair cells pada crista akan
menstimulasi neuron sensoris primer yang badan selnya terletak di ganglion vestibularis.
Ductus cochlearis merupakan tabung spiral yang tertutup pada satu sisi dan berbentuk segitiga
pada potongan melintang. Ductus cochlearis yang berisi endolimfa ini membagi canalis spiralis
menjadi dua saluran: scala tympani dan scala vestibuli yang berhubungan pada apex cochlea di
helicotrema.
Saat ada getaran, vibrasi basis stepedis akan menciptakan tekanan gelombang hydraulic pada
perilimfe vestibulum. Gelombang ini mencapai apex cochlea melalui scala vestibuli. Gelombang ini
lalu melalui helicotrema dan kembali ke basis cochlea melalui scala tympani. Tekanan gelombang ini
lalu kembali menjadi vibrasi, kali ini pada membrane tympani secundaria yang menutup foramen
rotundum. Disini energy yang awalnya diterima oleh membrana tympani akhirnya disebarkan ke
udara dalam cavum tympani.
Atap ductus cochlearis dibentuk oleh membrana vestibularis, sedangkan lantainya dibentuk
oleh membrane basilaris dan tepi luar osseus spiral lamina. Reseptor untuk stimulus auditori adalah

102
organon spirale Corti, yang terletak pada membrana basilaris. Organon Corti tertutupi oleh
membrane tectorial. Organon Corti berisi hair cells yang ujungnya ada di dalam membrana tectorial.
Organon Corti distimulasi untuk merespon dengan deformasi ductus cochlearis yang diinduksi oleh
gelombang tekanan hydraulic pada perilimfa, yang berjalan di sepanjang scala vestibuli dan scala
tympani yang mengelilinginya.

Jadi, gelombang suara terkonvergensi melalui pinna dan meatus acusticus externus, menggetarkan
membrana tympani . Vibrasi membrana tympani ditransmisikan oleh ossicula auditiva di auris media
menuju ke foramen ovale (yang ditempeli oleh basis stapedis), dimana gelombang suara
ditransmisikan ke ductus cochlearis. Karena gerakan stapes dan membrana tympani, muncul
gelombang dalam perilimfa di dalam scala vestibuli cochlea. Gelombang yang berjalan dalam
perilimfa ini menstimulasi organon Corti melalui vibrasi membrana tectorial terhadap kinocilia hair
cells. Distorsi mekanis ini memicu depolarisasi yang membuka kanal kalsium dalam hair cells. Influx
kalsium memicu pelepasan neurotransmitter yang lalu memicu depolarisasi pada cabang perifer
neuron ganglion cochlearis. Terjadi potensial aksi yang ditransmisikan ke otak melalui akson yang
berjalan dalam n. cochlearis.

103
AUDITORY PATHWAY

Akson yang mem-


bawa informasi auditori
dalam n. cochlearis berasal
dari sel saraf bipolar dalam
ganglion cochlearis, yang
menginervasi organon Corti.
Cabang sentral dari neuron
ini berjalan dalam divisi
cochlear n. VIII. Akson
auditori ini berakhir di
nucleus cochlearis ventral
dan dorsal di brain stem
dimana merka bersinaps.
Neuron pada nucleus-nucleus
in mengirim akson ke rostral
baik secara crossed maupun
uncrossed. Sehingga, neuron
orde kedua naik dari nucleus
cochlearis di kedua sisi;
serabut yang menyilang lewat
di corpus trapezoideum, dan
beberapa bersinaps di
nucleus olivarius superior.
Ascending fibers ini berjalan
dalam lemniscus lateral di
brain stem, yang berjalan
menuju ke colliculus inferior
dan terproyeksi ke corpus
geniculatum medial (CGM).
Masing-masing colliculus
inferior dan CGM menerima impuls yang berasal dari kedua telinga. Dari CGM, neuron orde ketiga
terproyeksi ke cortex auditori primer pada bagian atas dan tengah di gyrus temporalis superior (area
41).
Jadi sinyal auditori dibawa dari auris interna ke otak oleh polysynaptic pathway yang unik karena
mengandung komponen crossed dan uncrossed, melibatkan struktur-struktur berikut:
Cochlear hair cells  sel bipolar pada ganglion cochlearis  n. cochlearis  nucleus cochlearis
 decussatio beberapa serabut pada corpus trapezoideum  nucleus olivarius superior 
lemniscus lateral  colliculus inferior  CGM  cortex auditori primer.

104
Referensi:
Moore, KL, Agur, AMR, 2007, Essential Clinical Anatomy, 3rd edition.
Moore, KL, Dalley, AF, & Agur, AMR, 2010, Clinically Oriented Anatomy, 6th edition, Lippincott
Williams & Wilkins, Philadelphia.
Waxman, SG, 2010, Clinical Neuroanatomy, 26th edition, McGraw-Hill, New York.
Checklist Anatomi Blok 1.5

105