You are on page 1of 13

MAKALAH BIOMEDIK DASAR KEPERAWATAN

Oleh :

Yayu Yulia Hamidah

I-D

Pemerintah Kabupaten Cianjur

Akademi Keperawatan (AKPER)

Jl. Pasir Gede Raya No.19 Telp.(0263) 267206 Fax. 270953 Cianjur
43216
2015-2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah STW yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
ini, sholawat beserta salam semoga tercurah limpahkan kepada junjunan alam nabi besar
Muhammad SAW. beserta keluarga para sahabat dan umatnya yang selalu serta
mengibarkan panji kerisalahan sampai akhir zaman.
Adapun dibuatnya makalah ini yaitu untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Ilmu Biomedik Dasar sebagai salah satu bagi kami untuk mengetahui lebih dalam
Ilmu Biomedik Dasar khususnya tentang Sistem Urin.
Penulis menyadari dalam pembuatan makalah ini terdapat kekurangan, tetapi
berkat bantuan dari berbagai pihak, mkalah ini dapat terselesaikan. Untuk itu penulis
mengharapkan saran dan kritiknya yang bersifat membangun. Penulis berharap dengan
makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya, bagi pembaca umumnya.

Cianjur, September 2015

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................... i

DAFTAR ISI................................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ............................................................................................... 1

B. Tujuan ............................................................................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN

Sistem Pencernaan Manusia

A. Pengertian................................................................................................ 2

B. Sistem urinaria ....................................................................................... 2

C. Pembentukan urin ................................................................................... 6

D. Faktor yang mempengaruhi produksi urin .............................................. 7

E. Eliminasi urin ...................................................................... 8


BAB IIIPENUTUP

A. Kesimpulan ......................................................................................... 9

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita pasti sering mendengar istilah urin. Bukan
hanya mendengar namun kita selalu menemui dan melakukan pembuangan urin atau
metabolisme tubuh melalui urin yang biasa kita sebut buang air kecil ( BAK ). Buang
air kecil merupakan suatu hal yang normal namun kenormalan tersebut dapat menjadi
tidak normal apabila urin yang kita keluarkan tidak seperti biasanya. Mengalami
perubahan warna misalnya. Atau merasakan nyeri saat melakukan proses buang air
kecil. Dari contoh tersebut tentu saja terdapat sebab mengapa hal itu dapat terjadi. Jika
hal itu terjadi maka yang perlu kita lakukan adalah dengan cara melakukan
pemeriksaan. Pemeriksaan pada urin dapat menentukan penyakit apa yang sedang
diderita oleh seeorang. Oleh sebab itu dalam makalah ini kami akan membahas
bagaimana proses pemeriksaan urin, alat-alat yang digunakan dan apa saja kegunaan
urin dalam menentukan diagnosa suatu penyakit.
B. Tujuan
a) Tujuan khusus
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah “Ilmu Biomedik Dasar”
b) Tujuan umum
1) Mengetahui pengertian sistem urin
2) Mengetahui organ-organ urin dan fungsinya
3) Mengetahui mekanisme eliminasi urin
BAB II
PEMBAHASAN

Anatomi dan Fisiologi Sistem Urinaria (perkemihan)


A. Pengertian Sistem Urinaria
Sistem perkemihan atau sistem urinaria, adalah suatu sistem dimana
terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang
tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di
pergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut
dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).

B. Sistem Perkemihan atau Sistem Urinaria


1. Ginjal
Kedudukan ginjal terletak dibagian belakang dari kavum abdominalis di
belakang peritonium pada kedua sisi vertebra lumbalis III, dan melekat langsung
pada dinding abdomen. Bentuknya seperti biji buah kacang merah (kara/ercis),
jumlahnaya ada 2 buah kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari pada ginjal
kanan. Pada orang dewasa berat ginjal ± 200 gram. Dan pada umumnya ginjal laki-
laki lebih panjang dari pada ginjal wanita.
Satuan struktural dan fungsional ginjal yang terkecil di sebut nefron. Tiap –
tiap nefron terdiri atas komponen vaskuler dan tubuler. Komponen vaskuler terdiri
atas pembuluh – pembuluh darah yaitu glomerolus dan kapiler peritubuler yang
mengitari tubuli. Dalam komponen tubuler terdapat kapsul Bowman, serta tubulus
– tubulus, yaitu tubulus kontortus proksimal, tubulus kontortus distal, tubulus
pengumpul dan lengkung Henle yang
terdapat pada medula.
Kapsula Bowman terdiri atas lapisan parietal (luar) berbentuk gepeng
dan lapis viseral (langsung membungkus kapiler golmerlus) yang bentuknya
besar dengan banyak juluran mirip jari disebut podosit (sel berkaki) atau
pedikel yang memeluk kapiler secara teratur sehingga celah – celah antara
pedikel itu sangat teratur.
Kapsula bowman bersama glomerolus disebut korpuskel renal, bagian
tubulus yang keluar dari korpuskel renal disabut dengan tubulus kontortus
proksimal karena jalannya yang berbelok – belok, kemudian menjadi saluran yang
lurus yang semula tebal kemudian menjadi tipis disebut ansa -Henle atau loop of
Henle, karena membuat lengkungan tajam berbalik kembali ke korpuskel renal
asal, kemudian berlanjut sebagai tubulus kontortus distal.
a.Bagian – Bagian Ginjal
1) Korteks (Kulit Ginjal)
Pada kulit ginjal terdapat bagian yang bertugas melaksanakan
penyaringan darah yang disebut nefron. Pada tempat penyarinagn darah ini
banyak mengandung kapiler – kapiler darah yang tersusun bergumpal –
gumpal disebut glomerolus. Tiap glomerolus dikelilingi oleh simpai
bownman, dan gabungan antara glomerolus dengan simpai bownman disebut
badan malphigi.
Penyaringan darah terjadi pada badan malphigi, yaitu diantara
glomerolus dan simpai bownman. Zat – zat yang terlarut dalam darah akan
masuk kedalam simpai bownman. Dari sini maka zat – zat tersebut akan
menuju ke pembuluh yang merupakan lanjutan dari simpai bownman yang
terdapat di dalam sumsum ginjal.

2) Medula (Sumsum ginjal)


Sumsum ginjal terdiri beberapa badan berbentuk kerucut yang disebut
piramid renal. Dengan dasarnya menghadap korteks dan puncaknya disebut
apeks atau papila renis, mengarah ke bagian dalam ginjal. Satu piramid
dengan jaringan korteks di dalamnya disebut lobus ginjal.
Diantara pyramid terdapat jaringan korteks yang disebut dengan
kolumna renal. Pada bagian ini berkumpul ribuan pembuluh halus yang
merupakan lanjutan dari simpai bownman. Di dalam pembuluh halus ini
terangkut urine yang merupakan hasil penyaringan darah dalam badan
malphigi, setelah mengalami berbagai proses.
3) Pelvis Renalis (Rongga ginjal )
Pelvis Renalis adalah ujung ureter yang berpangkal di ginjal, berbentuk
corong lebar. Sabelum berbatasan dengan jaringan ginjal, pelvis renalis
bercabang dua atau tiga disebut kaliks mayor, yang masing – masing
bercabang membentuk beberapa kaliks minor yang -langsung menutupi
papila renis dari piramid. Kliks minor ini menampung urine yang terus
kleuar dari papila. Dari Kaliks minor, urine masuk ke kaliks mayor, ke pelvis
renis ke ureter, hingga di tampung dalam kandung kemih (vesikula urinaria)
b. Fungsi Ginjal:
1) Mengekskresikan zat – zat sisa metabolisme yang mengandung
nitrogennitrogen, misalnya amonia.
2) Mengekskresikan zat – zat yang jumlahnya berlebihan (misalnya gula
dan vitamin) dan berbahaya (misalnya obat – obatan, bakteri dan zat
warna).
3) Mengatur keseimbangan air dan garam dengan cara osmoregulasi.
4) Mengatur tekanan darah dalam arteri dengan mengeluarkan kelebihan
asam atau basa.
2. Ureter
Terdiri dari 2 saluran pipa masing – masing bersambung dari ginjal ke
kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya ± 25 – 30 cm dengan penampang ±
0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak
dalam rongga pelvis.
Lapisan dinding ureter terdiri dari :
a. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
b. Lapisan tengah otot polos
c. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa
Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan – gerakan peristaltik tiap 5 menit
sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih (vesika
urinaria).
Gerakan peristaltik mendorong urin melalui ureter yang dieskresikan oleh ginjal
dan disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui osteum uretralis masuk ke
dalam kandung kemih.
Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus psoas dan
dilapisi oleh pedtodinium. Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter terjadi
pada tempat ureter meninggalkan pelvis renalis, pembuluh darah, saraf dan
pembuluh sekitarnya mempunyai saraf sensorik.

3. Vesikula Urinaria (kandung kemih)


Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat,
berhubungan ligamentum vesika umbikalis medius.
Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet, terletak di
belakang simfisis pubis di dalam ronga panggul.
Bagian vesika urinaria terdiri dari :
a) Fundus, yaitu bagian yang mengahadap kearah belakang dan bawah, bagian ini
terpisah dari rektum oleh spatium rectosivikale yang terisi oleh jaringan ikat
duktus deferent, vesika seminalis dan prostate.
b) Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus.
c) Verteks, bagian yang maju kearah muka dan berhubungan dengan
ligamentum vesika umbilikalis.
Dinding kandung kemih terdiri dari beberapa lapisan yaitu, peritonium
(lapisan sebelah luar), tunika muskularis, tunika submukosa, dan lapisan mukosa
(lapisan bagian dalam).

4. Uretra
Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih
yang berfungsi menyalurkan urin ke luar.
Pada laki – laki uretra berjalan berkelok – kelok melalui tengah – tengah prostat
kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis ke bagian penis
panjangnya sekitar 20 cm.
Uretra pada laki-laki terdiri dari :
a. Uretra prostaria
b. Uretra membranosa
c.Uretra kavernosa
Lapisan uretra laki-laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan paling dalam) dan
lapisan submukosa.
Uretra pada wanita terletak di belakang simfisis pubis berjalan miring sedikit
ke arah atas, panjangnya ± 3 – 4 cm. Lapisan uretra pada wanita terdiri dari Tunica
muskularis (sebelah luar), lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena-vena,
dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam). Muara uretra pada wanita terletak di
sebelah atas vagina (antara klitoris dan vagina) dan uretra disini hanya sebagai
saluran ekskresi.

C. Pembentukan Urine
1. Filtrasi
Filtrasi terjadi di glomerolus dan kapsul Bowmann, proses ini terjadi
karena permukaan aferent lebih besar dari permukaan aferent maka terjadi
penyerapan darah, sedangkan sebagian yang tersaring adalah bagian cairan darah
kecuali protein, cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowman yang terdiri
dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll, diteruskan ke seluruh
ginja.
2. Prose reabsorpsi
Terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa, sodium, klorida,
fosfat dan beberapa ion karbonat. Prosesnya terjadi secara pasif yang dikenal
dengan obligator reabsorpsi terjadi pada tubulus atas. Sedangkan pada tubulus
ginjal bagian bawah terjadi kembali penyerapan dan sodium dan ion karbonat,
bila diperlukan akan diserap kembali kedalam tubulus bagian bawah,
penyerapannya terjadi secara aktif dikienal dengan reabsorpsi fakultatif dan
sisanya dialirkan pada pupila renalis.
3. Augmentasi (pengumpulan )
Proses ini terjadi dari sebagian tubulus kontortus distal sampai tubulus
pengumpul. Pada tubulus pengumpul masih terjadi penyerapan ion Na+, Cl-, dan
urea sehingga terbentuklah urine sesungguhnya.
D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Urin

Urin yang kita keluarkan setiap hari selalu berbeda-beda


jumlahnya, hal ini disebabkan oleh pengaruh dari beberapa faktor yaitu:
1. Hormon antidiuretik (ADH)

Hormon antidiuretik (ADH) berfungsi untuk mempermudah


penyerapan air pada bagian tubulus distal dan pembuluh pengumpul. Jika
konsentrasi air menurun di dalam darah (artinya cairan darah lebih pekat), maka
ADH disekresikan dan dialirkan ke dalam ginjal bersama darah. Akibatnya,
permeabilitas dinding pembuluh distal dan pembuluh pengumpul terhadap air
meningkat sehingga air yang masuk diserap kembali. Akibatnya, urin yang
terbentuk sedikit. Sebaliknya, jika konsentrasi air di dalam darah tinggi (artinya
cairan darah lebih encer), maka sekresi ADH menurun, sehingga penyerapan air
di pembuluh distal dan pembuluh pengumpul berkurang dan urin yang dihasilkan
encer dan banyak.
2. Jumlah air yang diminum

Jika jumlah air yang diminum seseorang banyak, maka konsentrasi


protein darah menurun dan konsentrasi air meningkat. Oleh karena itu tekanan
koloid menurun, sehingga tekanan filtrasinya menjadi kurang efektif. Akibatnya,
air yang diserap berkurang. Hasilnya urin yang diproduksi meningkat.
3. Konsentrasi hormon insulin

Apabila konsentrasi hormon insulin rendah (misalnya pada penderita


kencing manis), maka kadar gula dalam darah tinggi dan akan dikeluarkan
melalui pembuluh distal. Keberadaan zat gula tersebut akan mengganggu proses
penyerapan kembali air di dalam pembuluh distal, karena konsentrasi gula
meningkat. Akibatnya penderita DM akan sering berkemih.
E. Eliminasi urin
Berkemih merupakan proses pengosongan vesika urinaria (kandung kemih).
Vesika urinaria dapat menimbulkan rangsangan saraf bila urinaria berisi ± 250-400 cc
(pada orang dewasa) dan 200-250 cc (pada anak – anak).
Mekanisme berkemih terjadi karena vesika urinaria berisi urie yang
dapat menimbulkan rangsangan pada saraf – saraf di dinding vesika urinaria.
Kemudian rangsangan tersebut diteruskan melalui medulla spinalis ke pusat
pengontrol berkemih yang terdapat di korteks serebral. Selanjutnya, otak memberikan
impuls melalui medula spinalis ke neuromotoris di daerah sakral, kmudian terjadi
kontraksi otot detrusor dan relaksasi otot sphincter internal. Urine dilepaskan dari
vesika urinaria, tetapi masih tertahan oleh spincter eksternal. Jika waktu dan tempat
memungkinkan, akan menyebabkan relaksasi spincter eksternal dan urine dikeluarkan
(berkemih).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Sistem perkemihan terdiri dari dua ginjal (ren) yang menghasilkan urin, dua
ureter yang membawa urin dari ginjal ke vesika urinaria (kandung kemih), satu vesika
urinaria (VU), tempat urin dikumpulkan, dan satu uretra, urin dikeluarkan dari vesika
urinaria.

DAFTAR PUSTAKA
Luvina, Evi Dwisang, (2003), Inti Sari Biologi Untuk SMA, Jakarta : Gramedia.

Syarifuddin, (1992), Anatomi dan Fisiologi Untuk Keperawatan, Jakarta : EGC.

http://SISTEM%20URINARY/Anatomi%20Fisiologi%20Sistem%20Perkemihan%
20%28Urinaria%29%20_%20NurAd1K.htm (Diakses pada tanggal 23
September 2015)

http://SISTEM%20URINARY/Sistem%20Perkemihan%20%28Urinaria%29%20
_%20Ilmu%20Keperawatan.htm (Diakses pada tanggal 23 September 2015)