You are on page 1of 12

keperawatan psikososial keputusasaan

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Keputusasaan adalah suatu kondisi yang sangat umum dialami oleh setiap orang dalam
hidupnya. Secara psikologis, keputusasaan sangat erat kaitannya dengan harapan. Keduanya
memiliki kaitan yang erat, namun merupakan dua pengalaman yang berbeda. Orang yang putus
asa, akan mampu mengatasi keputusasaan tersebut dengan menghadirkan harapan dalam dirinya
ketika menghadapi situasi sulit. Semakin seorang individu menyadari dan memahami
keputusasaannya, maka semakin dirinya berpotensi untuk mengembangkan harapan akan situasi
yang lebih baik, begitu juga sebaliknya (Farran dkk, 1995)

Dari survei terbaru didapatkan bahwa depresi memiliki prevalensi paling tinggi (hampir 17%)
dibandingkan gangguan jiwa lainnya (Sadock & Sadock, 2007). Menurut WHO, 25% dari
penduduk dunia pernah menderita masalah kesehatan jiwa, 1% diantaranya adalah gangguan
jiwa berat (Depkes, 2009). Prevalensi selama kehidupan, pada perempuan mencapai 10-25% dan
laki-laki 5-12% (Amir, 2007). Berdasarkan data Riskesdas tahun 2007, Indonesia menunjukkan
prevalensi gangguan mood seperti gangguan kecemasan dan depresi sebesar 11,6% dari populasi
orang dewasa (Depkes, 2010). Sekitar 10% pada perawatan primer dan 15% dirawat di rumah
sakit. Pada anak sekolah didapatkan prevalensi sekitar 2%. Pada usia remaja didapatkan
prevalensi 5% dari komunitas memiliki gangguan depresif berat (Ismail dan Siste, 2010).
Depresi terjadi mulai dari usia anak sampai usia tua. Sebelum pubertas, anak-anak berisiko sama
untuk depresi, sedangkan setelah masa pubertas tingkat depresi adalah sekitar dua kali lebih
tinggi pada anak perempuan (Brant & Birmaher, 2002). Alasan untuk perbedaan tingkat depresi
antara perempuan dan laki-laki diduga faktor hormon dan stresor psikososial yang berbeda
(Sadock & Sadock, 2007).

‫ب مجهميِععاَ ۚإهنَلهط طهموُ احلمغطفوُطر اللرهحيِطمموُأمهنَيِطبوُا‬ ‫طوُا همنِ لرححممهة الللـَّهه ۚ إهلن الللـَّهم يِمحغفهطر الذذطنَوُ م‬ ‫سههحم مل تمحقنم ط‬ ‫سمرطفوُا معلمىى مأنَفط ه‬ ‫ي اللهذيِمنِ أم ح‬ ‫قطحل ميِاَ هعمباَهد م‬
‫ب‬ ‫م‬
‫ذا‬ ‫ع‬
‫م هم ط م ط‬‫ح‬
‫ل‬ ‫ا‬ ‫م‬ ‫ط‬
‫ك‬ ِ‫ي‬‫ت‬‫ح‬ ‫أ‬ِ‫ي‬ ‫م‬
‫أن‬ ‫ل‬ ‫ب‬‫م‬ ‫ق‬ ِ‫من‬ ‫ط‬
‫كم‬ ‫ب‬ ‫ر‬ ِ‫من‬
‫ح م م م ه م ه ح م لم م حه‬ ‫كم‬‫ط‬ ِ‫ي‬‫م‬ ‫ل‬‫إ‬ ‫ل‬ ‫ز‬ ‫ط‬
َ‫أن‬ َ‫ما‬ ِ‫ن‬ ‫س‬ ‫ح‬ ‫م‬ ‫أ‬ ‫عوُا‬ ‫ب‬‫ل‬ ‫ت‬ ‫وُا‬
‫م ط م هط‬ ‫م‬ َ‫ن‬ُ‫رو‬ ‫ص‬ ‫ط‬
‫تن‬ ‫ل‬‫م‬ ‫م‬‫ط‬ ‫ث‬ ‫ب‬ ‫ذا‬‫م‬
‫م هم ط م ط ل‬ ‫ع‬‫ل‬‫ح‬ ‫ا‬ ‫م‬ ‫ط‬
‫ك‬ ِ‫ي‬ ‫ت‬‫ح‬ ‫أ‬ِ‫ي‬ ‫م‬
‫أن‬ ‫ل‬‫ب‬‫م‬ ‫ق‬
‫ط ه حه‬ِ‫من‬ ‫ه‬ ‫م‬ ‫ل‬ ‫موُا‬ ‫ل‬‫س‬ ‫م‬
‫إهلمىى مربمطكحم موُ ح ه ط‬
‫أ‬
‫م‬ ‫م‬
ِ‫ساَهخهريِنمأحوُ تمطقوُمل لمحوُ ألن الللـَّهم مهمداهنَي‬ ‫ت لمهممنِ ال ل‬ ‫ب الللـَّهه موُهإن طكن ط‬ ‫ت هفيِ مجن ه‬ ‫م‬
‫سمرتمىى معلمىى مماَ فلرطَّ ط‬ ‫س ميِاَ مح ح‬ ‫ح‬ ‫م‬
‫شطعطروُنَمأن تمطقوُمل نَمف س‬ ‫بمحغتمةع موُمأنَتطحم مل تم ح‬
‫ت‬ ‫ت موُطكن م‬ ‫ستمحكبمحر م‬ ‫ت بهمهاَ موُا ح‬ ‫سهنيِنمبملمىى قمحد مجاَمءحتمك آميِاَهتيِ فممكلذحب م‬ ‫ب لمحوُ أملن هليِ مكلرةع فمأ مطكوُمن هممنِ احلطمحح ه‬ ‫ت هممنِ احلطمتلهقيِنمأ محوُ تمطقوُمل هحيِمنِ تممرىَ احلمعمذا م‬ ‫لمطكن ط‬
‫ح‬
ِ‫هممنِ المكاَفههريِمن‬

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan
kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab
kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah
diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang
kamu tidak menyadarinya, supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar
penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku
sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah), atau supaya
jangan ada yang berkata: ‘Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku
termasuk orang-orang yang bertakwa’. Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat
azab ‘Kalau sekiranya aku dapat kemnbali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang
berbuat baik’.(Bukan demikian) sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu
lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-
orang yang kafir“.(QS. Az-Zumar: 53-59)

Tujuan

Tujuan dilakukannya penulisan ini antara lain sebagai berikut :

1. Tujuan umum

Mahasiswa diharapkan memperoleh pengetahuan mengenai asuhan keperawatan psikososial


pada klien dengan keputusasaan

2. Tujuan khusus
3. Meningkatkan pemahaman dan pengetahuan mahasiswa mengenai asuhan keperawatan
psikososial pada klien dengan keputusasaan
4. Menyelesaikan tugas mata kuliah keperawatan Jiwa.

1. Metode Penulisan

Penulisan ini menggunakan metode deskriptif yaitu dengan mendeskripsikanasuhan keperawatan


psikososial pada klien dengan keputusaaan dengan studi literatur yang diperoleh dari buku-buku
perpustakaan dan hasil dari diskusi kelompok yang disajikan dalam bentuk makalah.

1. Ruang Lingkup Penulisan

Dalam makalah, penulis ini hanya membahas tentang asuhan keperawatan psikososial dengan
keputusasaan.

1. Sistematika Penulisan

Tulisan ini terdiri dari 3 (tiga) bab, yaitu :


BAB I Berupa bab pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, metode
penulisan, Ruang lingkup dan sistematika dari penulisan.

BAB II Berupa bab isi dan penjelasan materi, berisi tinjauan teoritis yang bersumber dari
referensi buku-buku dan internet.

BAB III Berupa bab penutup, berisi kesimpulan, dan saran

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

1. KONSEP DASAR MASALAH PSIKOSOSIAL


2. Definisi

Keputusasaan merupakan keadaan subjektif seorang individu yang melihat keterbatasan atau
tidak ada alternatif atau pilhan pribadi yang tersedia dan tidak dapat memobilisasi energy yang
dimilikinya (NANDA, 2005).

Depresi adalah suatu jenis gangguan alam perasaan atau emosi yang di sertai komponen
psikologi : rasa susah,murung,sedih,putus asa,dan tidak bahagia,serta komponen somatic :
anoreksia,konstipasi,kulit lembab (rasa dingin),tekanan darah dan denyut nadi menurun. Depresi
adalah salah satu bentuk gangguan jiwa pada alam perasaan (Hidayat,2008 : hal 275).

2. Proses terjadinya masalah psikososial

Klien yang mengalami depresi biasanya diawali dari persepsinya yang negative terhadap
stressor.Klien menganggap masalah terhadap sesuatu yang seratus persen buruk.tidak ada
hikmah di balik semua masalah yang di terimanya.Misalnya pada saaat kakinya fraktur ia sulit
untuk menerimanya,padahal hikmahnya ia akan terhindar dari wajib militer,terhindar dari jalan
menuju kemaksiatan dan lebih banyak waktu membaca di rumah dan sebagainya.Hampir semua
masalah yang muncul ia anggap negative.Karena persepsi yang salah tersebut maka akan
menuntun klien untuk berfikir dan bertindak salah.Pikiran yang selalu muncul adalah ‘’saya
sial,saya menderita,saya tidak mampu,tidak ada harapan lagi,semua buruk’’,kondisi ini di
perburuk dengan tidak adanya support system yang adekuat seperti
keluarga,sahabat,ibu,tetangga,adanya tabungan,terutama keyakinannya pada yang Maha
Kuasa.Muncullah fase akumulasi stressordi mana stressor yang lainturut memperburuk keadaan
klien.Klien akan makin terasa tidak berdayadan akhirnya ada niat untuk mencederai diri dan
mengakhiri hidup.hal ini menjadi pemicu munculnya harga diri rendah yang akan menjadi
internal stressor.
Depresi di sebabkan oleh banyak faktor antara lain : faktor heriditer dan genetic,faktor
konstitusi,faktor kepribadian premorbid,faktor fisik,faktor psikobiologi,faktor neurologi,faktor
biokimia dalam tubuh,faktor keseimbangan elektrolit dan sebagainya.Depresi biasanya di
cetuskan oleh trauma fisik seperti penyakit infeksi,pembedahan,kecelakaan,persalinan dan
sebagainya,serta faktor psikis,seperti kehilangan kasih saying dan harga diri.

3. Tanda dan gejala

Data subjektif menunjukan bahwa klien tidak mampu mengutarakan pendapat dan masalah
berbicara.Sering mengemukakan keluhan somatic seperti : nyeri abdomen dan dada
,anoreksia,sakit punggung,pusing.Merasa dirinya sudah tidak berguna lagi,tidak bearti,tidak ada
tujuan hidup,merasa putus asa dan cenderung ingin bunuh diri.Pasien muda tersinggung dan
ketidakmampuan konsentrasi.

Data objektif,menunjukan bahwa gerakan tubuh klien terhambat,tubuh yang melengkung dan
bila duduk dengan sikap yang merosot,ekspresi wajah murung,gaya jalan yang lambat,dengan
langkah yang di seret,kadang-kadang dapat terjadi stupor.pasien tampak malas,lelah,tidak ada
nafsu makan,sukar tidur,dan sering menangis.Proses berfikir terlambat seolah-olah fikirannya
kosong,konsentrasi terganggu,tidak mempunyai minat,tidak dapat berfikir,tidak mempunyai daya
khayal.Pada pasien psikosa depresif terdapat perasaan bersalah yang mendalam,tidak masuk akal
(irasional),waham dosa,depersonalisasi dan halusinasi.kadang-kadang pasien suka menunjukan
sikap bermusuhan (hostiliti) mudan tersinggung (irritable) dan tidak suka di ganngu.Pada pasien
depresi juga kebersihan diri yang kurang dan keterbelakangan psikomotor.( hidayat ,2008 :277)

Depresi di tandai dengan gejala berikut :

1. Kemurungan, kesedihan, kelesuhan, kehilangan gairah hidup, tidak ada semangat dan
merasa tidak berdaya.
2. Perasaan bersalah atau berdosa,tidak berguna dan putus asa.
3. Nafsu makan dan berat badan menurun.
4. Gangguan tidur (sulit tidur atau tidur berlebihan).di sertai mimpi-mimpi yang tidak
menyenangkan,misal mimpi orang yang sudah meninggal.
5. Agitasi atau retardasi motoric (gelisah atau perlambatan gerakan motoric).
6. Hilang perasaan senang,semangat dan minat,meninggalkan hobi.
7. Kreativitas dan produktifitas menurun
8. Gangguan seksual (libido menurun).
9. PIkiran-pikiran tentang kematian dan bunuh diri.
10. Penatalaksanaan
11. Medis

Penatalaksaan Terapi Tujuan terapi depresi adalah untuk mengurangi gejala depresi akut,
meminimalkan efek samping, memastikan kepatuhan pengobatan, membantu pengembalian
ketingkat fungsi sebelum depresi, dan mencegah episode lebih lanjut ( Sukandar dkk., 2008 )
Untuk melakukan pengobatan pada pasien dengan gangguan depresi, ada 3 tahapan yang harus
dipertimbangkan antara lain :

1. Fase akut, fase ini berlangsung 6 sampai 10 minggu. pada fase ini bertujuan untuk
mencapai masa remisi ( tidak ada gejala ).
2. Fase lanjutan, fase ini berlangsung selama 4 sampai 9 bulan setelah mencapai remisi.
pada fase ini bertujuan untuk menghilangkan gejala sisa atau mencegah kekambuhan
kembali.
3. Fase pemeliharaan, fase ini berlangsung 12 sampai 36 bulan. Pada fase ini tujuannya
untuk mencegah kekambuhan kembali. Algoritme untuk terapi depresi tanpa komplikasi.
4. Keperawatan
5. Asuhan keperawatan
6. Pengkajian

 Faktor Predisposisi

1. Faktor Genetik

Mengemukakan transmisi gangguan alam perasaan diteruskan melalui garis keturunan. Frekuensi
gangguan alam perasaan pada kembar monozigote dari dizigote.

1. Teori Agresi Berbalik pada Diri Sendiri

Mengemukakan bahwa depresi diakibatkan dari perasaan marah yang dialihkan pada diri sendiri.

Diawali dengan proses kehilangan terjadi ambivalensi terhadap objek yang hilang tidak mampu
mengekspresikan kemarahan marah pada diri sendiri.

1. Teori Kehilangan

Berhubungan dengan faktor perkembangan : misalnya kehilangn orang tua pada masa anak,
perpisahan yang bersifat traumatis dengan orang yang asangat dicintai. Individu tidak berdaya
mengatsi kehilangan.

1. Teori Kepribadian

Mengemukakan bahwa tipe kepribadian tertentu menyebabkan seseorang mengalami depresi


atau mania.

1. Teori Kognitif

Mengemukakan bahwa depresi merupakan masalah kognitif yang dipengaruhi oleh penilaian
negative terhadap diri sendiri, lingkungan dan masa depan.

1. Teori Belajar Ketidakberdayaan


Mengemukakan bahwa depresi dilmulai dari kehilangan kendali diri, lalu menjdi pasif dan tidak
mampu menghadapi masalah. Kemidian individu timbul dengan keyakinan akan
ketidakmampuam mengendalikan kehidupan sehingga ia tidak berupaya mengembangkan respon
yang adaptif.

1. Model Prilaku

Mengemukakan bahwa depresi terjadi karena kurangnya pujian positif selama berinteraksi
dengan lingkungan.

1. Model Biologis

Mengemukakan bahwa depresi terjadi prubahan kimiawi, yaitu defisiensi katekolamin, tidak
berfungsi endokrin dan hipersekresi kortisol.

 Faktor Presipitasi

Stresor yang dapat menyebabkan gangguan alam perasaan meliputi faktor biologis, psikologis,
dan social budaya. Faktor biologis meliputi perubahan fisiologis yang disebabkan oleh obat-
obatan atau berbagai penyakit fisik seperti infeksi, neoplasma dan ketidakseimbangan
metabolisme. Faktor psikologis meliputi kehilangan kasih sayang, termasuk kehilangan cinta,
seseorang dan kehilangan harga diri. Faktor social budaya meliputi kehilangan peran, perceraian,
kehilangan pekerjaan.

 Perilaku dan Mekanisme Koping

Perilaku yang berhubungan dengan depresi bervariasi. Pada keadaan depresi kesedihan dan
kelambanan dapat menonjol atau dapat terjadi agitasi. Mekanisme koping yang digunakan pada
reaksi kehilangan yang memanjang adalah denial dan supresi, hal ini untuk menghindari tekanan
yang hebat.

1. Analisa Data
2. Data Subyektif

Klien mengatakan sedih, tidak bergairah untuk bekerja, menyesal, merasa bersalah, merasa
ditolak, merasa tidakberdaya dan merasa tidak berharga.

2. Data Obyektif

Klien tampak sedih, murung lambat, lemah, lesu, tidak bergairah, cemas dan marah.

Daftar masalah

1. Sedih kronis
2. Harga diri rendah
3. Koping individu tidak efektif
4. Resiko tinggi terjadi kekerasan yang diarahkan pada diri sendiri
5. Koping keluarga tidak efektif

1. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang umum muncul pada klien dengan gangguan alam perasaan (depresi),
yaitu :

1. Sedih kronis
2. Harga diri rendah
3. Koping individu tidak efektif
4. Resiko tinggi terjadi kekerasan yang diarahkan pada diri sendiri
5. Deficit perawatan diri
6. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
7. Gangguan pola istirahat/tidur
8. Koping keluarga melemah

1. Rencana Tindakan Keperawatan

tgl/jam diagnosa tujuan /kriteria evaluasi intervensi/implementasi

Gangguan alam perasaan: Sedih Kronis :Klien tidak mengalami gangguan alam perasaan.

TUK 1

Klien dapat membina hubungan saling percaya.

Kriteria Evaluasi : Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak mata, mau
berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, mau duduk berdampingan
dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi 1. Bina hubungan saling percaya
dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik :

1. Sapa klien dengan nama baik verbal maupun non verbal.


2. Perkenalkan diri dengan sopan.
3. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien.
4. Jelaskan tujuan pertemuan
5. Jujur dan menepati janji
6. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya.
7. Berikan perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar

TUK 2

Klien dapat mengungkapkan perasaanya.

Kriteria evaluasi :Klien mampu mengungkapkan perasaannya

1. Dorong dan beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya dan mengatakan
bahwa perawat memahami apa yang dirasakan pasien.
2. Beri kesempatan klien mengutarakan keinginan dan pikirannya dengan teknik focusing.
3. Bicarakan hal-hal yang nyata dengan klien.

TUK 3

Klien dapat menggunakan koping adaptif

Kriteria evaluasi :Klien dapat mengungkapkan perasaan saat sedih, menyimpulkan tanda-tanda
sedih yang dialami.

1. Tanyakan kepada pasien cara yang biasa dilakukan mengatasi perasaan kesal, sedih, dan
tidak menyenangkan.
2. Tanyakan kepada pasien cara yang biasa dilakukan mengatasi perasaan
sedih/menyakitkan.
3. Diskusikan dengan pasien manfaat dari koping yang biasa digunakan.
4. Bersama pasien mencari berbagai alternatif koping.
5. Beri dorongan kepada pasien untuk memilih koping yang paling tepat dan dapat diterima
6. Beri dorongan kepada pasien untuk mencoba koping yang telah dipilih
7. Anjurkan pasien untuk mencoba alternatif lain dalam menyelesaikan masalah.

TUK 4

Klien terlindung dari perilaku mencederai diri.

Kriteria evaluasi :Sikap klien tampak tenang dan dapat mengontrol emosinya.
1. Tempatkan klien di tempat yang tenang, tidak banayak rangsangan, tidak banyak terdapat
peralatan.
2. Jauhkan dan simpan alat-alat yang dapat digunakan oleh pasien untuk mencederai dirinya
di tempat yang amana dan terkunci.
3. Temani klien jika nampak tanda-tanda sedih yang berlebihan seperti menangis.
4. Lakukan pengekangan fisik jika klien tidak dapat mengontrol perilakunya.

TUK 5

Klien dapat melakukan kegiatan terarah

Kriteria evaluasi :Klien dapat melakukan kegiatan yang diintruksikan dengan baik

1. Anjurkan klien untuk melakukan kegiatan motorik yang terarah misalnya: menyapu,
olahraga, dll.
2. Beri kegiatan individual sederhana yang dapat dilaksanakan dengan baik oleh klien.
3. Berikan kegiatan yang tidak memerlukan kompetisi.
4. Bantu klien dalam melaksanakan kegiatan.
5. Beri reinforcement atas keberhasilan pasien.

TUK 6

Klien terpenuhi kebutuhan nutrinya.

Kriteria evaluasi :BB ideal dan nafsu makan klien meningkat.

1. Diskusikan tentang manfaat makan dan minum bagi kesehatan.


2. Ajak klien makan makanan yang telah disediakan, temani selama makan.
3. Ingatkan klien untuk minum setengah jam sekali sebanyak 100 cc.
4. Sediakan makanan TKTP, mudah cerna.

TUK 7

Klien terpenuhi kebutuhan tidur dan istirahatnya.

Kriteria Evaluasi :Konjungtiva tidak pucat, klien tidak terbangun pada malam hari, klien tidak
mengeluhkan susah tidur dan wajah tampak segar.

1. Diskusikan pentingnya istirahat bagi kesehatan


2. Anjurkan klien untuk tidur pada jam-jam istirahat.
3. Sediakan lingkungan yang mendukung: tenang, lampu redup, dll.
TUK 8

Klien terpenuhi kebersihan dirinya

Kriteria Evaluasi: Klien tampak rapi dan bersih, klien dapat berpakaian mandiri, dan dapat
toileting sendiri.

1. Diskusikan manfaat kebersihan bagi kesehatan.


2. Bombing dalam kebersihan diri (mandi, keramas, gogok gigi).
3. Bimbing pasien berhias
4. Beri pujian bila klien berhias secara wajar

TUK 9

Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik.

Kriteria Evaluasi :

1. Klien menyebutkan manfaat, kerugian, nama, warna, dosis, efek terapi dan efek samping
obat.
2. Klien mendemonstrasikankan penggunaan obat dengan benar
3. Klien menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi
4. Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, nama, warna,
dosis, cara, efek terapi dan efek samping penggunaan obat.
5. Pantau klien saat penggunaan obat
6. Beri pujian jika klien menggunakan obat dengan benar
7. Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter
8. Anjurkan klien untuk konsultasi kepada perawat/dokter jika terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan.

1. Kaitan masalah gangguan kesehatan dalam perspektif islam

Frustrasi (al-Ya’s) menurut as-Syarqawi adalah putus harapan dan cita. Munculnya perasaan ini
biasanya ketika seseorang berhadapan dengan macam-macam cobaan dan persoalan hidup yang
bertolak belakang dengan hawa nafsunya. Sifat tersebut sangat dicela oleh agama, karena
menjadikan seseorang statis, kehilangan etos kerja, acuh-tak acuh terhadap lingkungan, selalu
melamun, kehilangan kepercayaan baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain,
Sebagaimana dalam al-Qur’an, Allah swt melarang manusia berputus asa akan rahmat-Nya,
sebagaimana firman-Nya:
“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus ada sari rahmat Allah
kecuali kaum yang kafir”. (Q.S. Yusuf:87).

Dalam mental hygiene disebutkan: bahwa munculnya perasaan frustasi disebabkan oleh
kegagalan seseorang dalam mencapai tujuan, tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang
diinginkan atau terhambatnya usaha dan perjuangan di dalam mencapai suatu tujuan dan
bandingkan dengan Zakiat Darajat.

BAB III

PENUTUPAN

1. Kesimpulan

Keputusasaan adalah suatu kondisi yang sangat umum dialami oleh setiap orang dalam
hidupnya. Secara psikologis, keputusasaan sangat erat kaitannya dengan harapan. Keduanya
memiliki kaitan yang erat, namun merupakan dua pengalaman yang berbeda. Orang yang putus
asa, akan mampu mengatasi keputusasaan tersebut dengan menghadirkan harapan dalam dirinya
ketika menghadapi situasi sulit. Semakin seorang individu menyadari dan memahami
keputusasaannya, maka semakin dirinya berpotensi untuk mengembangkan harapan akan situasi
yang lebih baik, begitu juga sebaliknya

1. Saran

Diharapkan kepada mahasiswa keperawatan agar dapat lebih memahami tentang asuhan
keperawatan terhadap anak usia sekolah mulai dari pengkajian sampai penatalaksanaan
DAFTAR PUSTAKA

 Doenges,Marilynn E.Mary C.Townsen.dan Mary Frances Moorhouse.2007.Rencana


Asuhan Keperawatan psikiatri.EGC:Jakarta.

 Keliat,Budi Ana.Ria Utami Panjaitan.dan Made Riasmini.2011.manajemen kasus


gangguan jiwa. Hal : 19-25.EGC:Jakarta

 Yosep,iyus.2007.keperawatan jiwa edisi revisi.PT Refika Aditama:Bandung