You are on page 1of 14

Keputusasaan

Keputusasaan merupakan status emosional yang berkepanjangan dan bersifat subyektif


yang muncul saat individu tidak melihat adanya alternatif lain atau pilihan pribadi untuk
mengatasi masalah yang muncul atau untuk mencapai apa yang diiginkan serta tidak dapat
mengerahkan energinya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. (carpenito, 563).
Keputusasaan merupakan keadaan subjektif seorang individu yang melihat keterbatasan
atau tidak ada alternatif atau pilihan pribadi yang tersedia dan tidak dapat memobilisasi energy
yang dimilikinya (NANDA, 2005).
Keputusasaan berkaitan dengan kehilangan harapan, ketidakmampuan,keraguan, duka cita,
apati, kesedihan, depresi, dan bunuh diri. ( Cotton dan Range, 1996 ). Sedangkanmenurut
(Pharris, Resnick,dan ABlum, 1997),mengemukakan bahwa keputusasaan merupakan kondisi
yang dapat menguras energi.
Keputusasaan adalah keadaan emosional ketika individu merasa bahwa kehidupannya
terlalu berat untuk dijalani ( dengan kata lain mustahil ). Seseorang yang tidak memiliki harapan
tidak melihat adanya kemungkinan untuk memperbaiki kehidupannya dan tidak menemukan
solusi untuk permasalahannya, dan ia percaya bahwa baik dirinya atau siapapun tidak akan bisa
membantunya.

2.1 ETIOLOGI KEPUTUSASAAN


Beberapa faktor penyebab orang mengalami keputusasaan yaitu :
a. Faktor kehilangan
b. Kegagalan yang terus menerus
c. Faktor Lingkungan
d. Orang terdekat ( keluarga )
e. Status kesehatan ( penyakit yang diderita dan dapat mengancam jiwa)
f. Adanya tekanan hidup
g. Kurangnya iman

2.2 MANIFESTASI KLINIS KEPUTUSASAAN


a. Mayor ( harus ada)
Mengungkapkan atau mengekspresikan sikap apatis yang mendalam , berlebihan, dan
berkepanjangan dalam merespon situasi yang dirasakan sebagai hal yang mustahil isyarat verbal
tentang kesedihan.
Contohungkapan :
1. “Lebihbaiksayamenyerahkarenasayatidakmampumemperbaikikeadaan.”
2. “Masadepansayaseolahsuram.”
3. “Sayatidakdapatmembayangkanmasadepansaya 10 tahunkedepan.”
4. “Sayasadar, sayatipernahmendapatkanapa yang sayainginkansebelumnya.”
5. “Rasanyasayatidakmungkinmenggapaikepuasandimasa yang akandatang.”

1) Fisiologis :
 respon terhadap stimulus melambat
 tidak ada energi
 tidur bertambah
2) emosional :
 individu yang putus asa sering sekali kesulitan mengungkapkan perasaannya tapi dapat
merasakan
 tidak mampu memperoleh nasib baik, keberuntungan dan pertolongan tuhan
 tidak memiliki makna atau tujuan dalam hidup
 hampa dan letih
 perasaan kehilangan dan tidak memiliki apa-apa
 tidak berdaya,tidak mampu dan terperangkap.
3) Individu memperlihatkan :
 Sikap pasif dan kurangnya keterlibatan dalam perawatan
 Penurunan verbalisasi
 Penurunan afek
 Kurangnya ambisi,inisiatif,serta minat.
 Ketidakmampuan mencapai sesuatu
 Hubungan interpersonal yang terganggu
 Proses pikir yang lambat
 Kurangnya tanggung jawab terhadap keputusan dan kehidupannya sendiri.
4) Kognitif :
 Penurunan kemampuan untuk memecahkan masalah dan kemampuan membuat keputusan
 Mengurusi masalah yang telah lalu dan yang akan datang bukan masalah yang dihadapi saat ini
 Penurunan fleksibilitas dalam proses pikir
 Kaku ( memikirkan semuanya atau tidak sama sekali )
 Tidak punya kemampuan berimagenasi atau berharap
 Tidak dapat mengidentifikasi atau mencapai target dan tujuan yang ditetapkan
 Tidak dapat membuat perencanaan, mengatur serta membuat keputusan
 Tidak dapat mengenali sumber harapan
 Adanya pikiran untuk membunuh diri.
b. Minor ( mungkin ada )
1) Fisiologis
 Anoreksia
 BB menurun
2) Emosional
 Individu marasa putus asa terhadap diri sendiri dan orang lain
 Merasa berada diujung tanduk
 Tegang
 Muak ( merasa ia tidak bisa)
 Kehilangan kepuasan terhadap peran dan hubungan yang ia jalani
 Rapuh
3) Individu memperlihatkan
 Kontak mata yang kurang mengalihkan pandangan dari pembicara
 Penurunan motivasi
 Keluh kesah
 Kemunduran
 Sikap pasrah
 Depresi
4) Kognitif
 Penuruna kemampuan untuk menyatukan informasi yang diterima
 Hilangnya persepsi waktu tentang mas lalu , masa sekarang , masa datang
 Bingung
 Ketidakmampuan berkomunikasi secara efektif
 Distorsi proses pikir dan asosiasi
 Penilaian yang tidak logis

2.3 AKIBAT KEPUTUSASAAN


Akibat yang dapatditimbulkandariterjadinyakeputusasaanyaitu :
a. Stres
b. Depresi
c. Galau
d. Sakit
e. Pola hidup yang tidak teratur
f. Letih, Lesu, Lemah; disebabkan karena faktor psikis
g. Hilang kesempatan yang ada, karena ketika kesempatan itu datang ia sibuk dengan rasa putus
asa yang ada.
h. Trauma; tidak lagi memiliki keberanian dan kemampuan untuk melakukan hal yang sama karena
takut akan mengalami rasa putus asa untuk yang kedua kalinya.
i. Gila; akibat jangka panjang yang umumnya terjadi pada sebagian orang
j. Sakit; diawali dengan makan yang tidak teratur, tidur terlalu larut, beban pikiran yang
berlebihan.
k. Kematian; beberapa mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri dan tidak hanya karena sakit yang
berkepanjangan namun juga karena faktor psikis yang berlebihan.

2.4 PENCEGAHAN
Di bawah ini ada beberapa cara mencegah timbulnya keputusasaanyaitu :
1) Berbaik sangkalah kepada ALLAH,Ingat bahwa setiap yang kita alami ada hikmahnya. Semua
ini hanyalah sebuah cobaan dan bukti kecintaaan tuhan kepada kita.
2) Berpikir bahwa tidak ada kegagalan yang abadi, karena kita bisa mengubahnya dengan ber buat
hal-hal baru.
3) Tetapkan tindakan kita dalam keadaan apapun kita tetap bisa memilih tindakan atau mengubah
kebiasan lama dan mencari jalan untuk mengatasi masalah yg tengah kita hadapi
4) Bersikap lebih fleksibel, kehidupan tidak selalu seperti yang di harapkan. Apabila kita dapat
menyesuaikan diri dengan situasi baru maka ketegangan kita kan berkurang.
5) Kembangkan tindakan yang kreatif Tanyakan pada diri sendiri "KESEMPATAN APA BAGI
SAYA DI SINI ? JALAN MANA YANG TERBUKA BAGI SAYA ?"
6) Evaluasi setiap situasi. Pikirkan segala tindakan sebelum bertindak agar bisa di dapatkan
pemecah masalah yang baik.
7) Lihat sisi positifnya. Kegagalan memang merupakan pengalaman yang menyakitkan. Tapi
daripada memikirkan kerugian yang kita alami, lebih baik fokuskan pada apa yang telah kita
pelajari.
8) Bertanggung jawab. Jangan salah kan orang lain jika gagal,tapi perhatikan baik-baik masalah
nya dan cobalah memahaminya. Tanyakan pada diri sendiri bagaimana mengatasinya?
9) Pelihara selera humor dan tertawa memang tidak segera memecahkan masalah,tetapi akan
membantu kita melihat masalah secara perspektif. Hal itu bagaikan cahaya dalam kegelapan.
10) Ingatlah bahwa kegagalan adalah guru yang paling berharga kita bisa belajar tentang bagaimana
kita bisa gagal dan bagaimana kita mengatasi sebuah kegagalan.

2.5 PENATALAKSANAAN KEPUTUSASAAN


Penatalaksanaanmedispada orang yang mengalamikeputusasaanyaitu :
a. Psikofarmaka
Terapi dengan obat-obatan sehingga dapat meminimalkan gangguan keputusasaan.
b. Psikoterapi
adalah terapi kejiwaan yang harus diberikan apabila penderita telah diberikan terapi
psikofarmaka dan telah mencapai tahapan di mana kemampuan menilai realitas sudah kembali
pulih dan pemahaman diri sudah baik. Psikoterapi ini bermacam-macam bentuknya antara lain
psikoterapi suportif dimaksudkan untuk memberikan dorongan, semangat dan motivasi agar
penderita tidak merasa putus asa dan semangat juangnya.
Psikoterapi Re-eduktif dimaksudkan untuk memberikan pendidikan ulang yang maksudnya
memperbaiki kesalahan pendidikan di waktu lalu, psikoterapi rekonstruktif dimaksudkan untuk
memperbaiki kembali kepribadian yang telah mengalami keretakan menjadi kepribadian utuh
seperti semula sebelum sakit, psikologi kognitif, dimaksudkan untuk memulihkan kembali fungsi
kognitif (daya pikir dan daya ingat) rasional sehingga penderita mampu membedakan nilai- nilai
moral etika. Mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dan tidak, dsbnya.
Psikoterapi perilaku dimaksudkan untuk memulihkan gangguan perilaku yang terganggu
menjadi perilaku yang mampu menyesuaikan diri, psikoterapi keluarga dimaksudkan untuk
memulihkan penderita dan keluarganya.
c. Terapi Psikososial
Dengan terapi ini dimaksudkan penderita agar mampu kembali beradaptasi dengan
lingkungan sosialnya dan mampu merawat diri, mampu mandiri tidak tergantung pada orang lain
sehingga tidak menjadi beban keluarga. Penderita selama menjalani terapi psikososial ini
hendaknya masih tetap mengkonsumsi obat psikofarmaka.
d. Terapi Psikoreligius
Terapi keagamaan ternyata masih bermanfaat bagi penderita gangguan jiwa. Dari
penelitian didapatkan kenyataan secara umum komitmen agama berhubungan dengan
manfaatnya di bidang klinik. Terapi keagamaan ini berupa kegiatan ritual keagamaan seperti
sembahyang, berdoa, mamanjatkan puji-pujian kepada Tuhan, ceramah keagamaan, kajian kitab
suci dsb.
e. Rehabilitasi
Program rehabilitasi penting dilakukan sebagi persiapan penempatan kembali kekeluarga
dan masyarakat. Program ini biasanya dilakukan di lembaga (institusi) rehabilitasi misalnya di
suatu rumah sakit jiwa. Dalam program rehabilitasi dilakukan berbagai kegiatan antara lain;
terapi kelompok, menjalankan ibadah keagamaan bersama, kegiatan kesenian, terapi fisik
berupa olah raga, keterampilan, berbagai macam kursus, bercocok tanam, rekreasi, dsbnya.
Pada umumnya program rehabilitasi ini berlangsung antara 3-6 bulan. Secara berkala
dilakukan evaluasi paling sedikit dua kali yaitu evaluasi sebelum penderita mengikuti program
rehabilitasi dan evaluasi pada saat si penderita akan dikembalikan ke keluarga dan ke
masyarakat.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
a) Identitas klien
Identitas klien meliputi, nama, umur, agama, jenis kelamin, pendidikan, tanggal masuk
rumah sakit, tanggal pengkajian, No register, dan dignosa medis.
b) Keluhan utama
Pengkajian meliputi upaya mengamati dan mendengarkan isi hati klien: apa yang
dipikirkan, dikatakan, dirasakan, dan diperhatikan melalui perilaku.
Beberapa percakapan yang merupakan bagian pengkajian agar mengetahui apa yang
mereka pikir dan rasakan adalah :
a. Persepsi yang adekuat tentang rasa keputusasaan
b. Dukungan yang adekuat ketika putus asa terhadap suatu masalah
c. Perilaku koping yang adekuat selama proses
c) Faktor predisposisi
Faktor predisposisi yang mempengaruhi rentang respon keputusasaan adalah:
a. Faktor Genetic : Individu yang dilahirkan dan dibesarkan di dalam keluarga yang mempunyai
riwayat depresi akan sulit mengembangkan sikap optimis dalam menghadapi suatu permasalahan
b. Kesehatan Jasmani : Individu dengan keadaan fisik sehat, pola hidup yang teratur, cenderung
mempunyai kemampuan mengatasi stress yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu yang
mengalami gangguan fisik
c. Kesehatan Mental : Individu yang mengalami gangguan jiwa terutama yang mempunyai riwayat
depresi yang ditandai dengan perasaan tidak berdaya pesimis, selalu dibayangi oleh masa depan
yang suram, biasanya sangat peka dalam menghadapi situasi masalah dan mengalami
keputusasaan.
d. Struktur Kepribadian
b. Individu dengan konsep yang negatif, perasaan rendah diri akan menyebabkan rasa percaya diri
yang rendah yang tidak objektif terhadap stress yang dihadapi.
d) Faktor presipitasi
Ada beberapa stressor yang dapat menimbulkan perasaan keputusasaan adalah:
1. Faktor kehilangan
2. Kegagalan yang terus menerus
3. Faktor Lingkungan
4. Orang terdekat ( keluarga )
5. Status kesehatan ( penyakit yang diderita dan dapat mengancam jiwa)
6. Adanya tekanan hidup
7. Kurangnya iman
e) Respon Emosional
Mayor (harus ada):
1. individu yang putus asa sering sekali kesulitan mengungkapkan perasaannya tapi dapat
merasakan
2. tidak mampu memperoleh nasib baik, keberuntungan dan pertolongan tuhan
3. tidak memiliki makna atau tujuan dalam hidup
4. hampa dan letih
5. perasaan kehilangan dan tidak memiliki apa-apa
6. tidak berdaya,tidak mampu dan terperangkap.
Minor (mungkin ada)
1. Individu marasa putus asa terhadap diri sendiri dan orang lain
2. Merasa berada diujung tanduk
3. Tegang
4. Muak ( merasa ia tidak bisa)
5. Kehilangan kepuasan terhadap peran dan hubungan yang ia jalani
6. Rapuh
f) Respon Kognitif
Mayor ( harus ada)
1. Penurunan kemampuan untuk memecahkan masalah dan kemampuan membuat keputusan
2. Mengurusi masalah yang telah lalu dan yang akan datang bukan masalah yang dihadapi saat ini
3. Penurunan fleksibilitas dalam proses pikir
4. Kaku ( memikirkan semuanya atau tidak sama sekali )
5. Tidak punya kemampuan berimagenasi atau berharap
6. Tidak dapat mengidentifikasi atau mencapai target dan tujuan yang ditetapkan
7. Tidak dapat membuat perencanaan, mengatur serta membuat keputusan
8. Tidak dapat mengenali sumber harapan
9. Adanya pikiran untuk membunuh diri.
Minor (mungkin ada)
1. Penuruna kemampuan untuk menyatukan informasi yang diterima
2. Hilangnya persepsi waktu tentang mas lalu , masa sekarang , masa datang
3. Bingung
4. Ketidakmampuan berkomunikasi secara efektif
5. Distorsi proses pikir dan asosiasi
6. Penilaian yang tidak logis

3.2 Aplikasi Nanda, NOC, NIC

No. Diagnosa NOC NIC


1. Keputusasaan Status kenyamanan: DukunganSpiritual
psyikososial Aktivitasnya:
Indicator:  Menggunakan komunikasi
 Kesejahteraan Psikologis terapeutik untuk membangun
 Harapan
 Konsep Diri kepercayaan dan empati
 GambaranI nternal Diri peduli
 EfekKetenangan  menggunakan alat untuk
 Ekspresi
memonitor dan mengevaluasi
 Optimis
 Penentuan Tujuan kesejahteraan rohani yang
 Makna Dan Tujuan sesuai
DalamHidup  memperlakukan individu
 Kepuasan Spiritual dengan bermartabat dan
 Depresi
 Kegelisahan hormat
 Takut  mendorong partisipasi dalam
 KehilanganSpiritual interaksi dengan anggota
 Pikiran Untuk Bunuh Diri
keluarga, teman, dan lain-lain
 memberikan privasi dan
Kontrol depresi diri ketenangan untuk kegiatan
Indikator: spiritual
 mengajarkan metode
 Memonitor Kemampuan
relaksasi dan meditasi
Untuk Berkonsentrasi
 menyediakan music spiritual,
 Memonitor Intensitas
sastra, radio, atau program tv
Depresi  untuk individu
 Mengidentifikasi Penyebab  terbuka terhadap sifat
Depresi individu yang merasa
 Memonitor Manifestasi
kesepian dan tidak berdaya
Perilaku Depresi  membantu individu untuk
 Laporan Tidur Yang Cukup
 Laporan Meningkat Nafsu bisa mengekspresikandan
 Memonitor Manifestasi meringankan kemarahan
Fisik Dari Depresi dengan cara yang tepat
 Laporan Memperbaiki  menggunakan nilai teknik
Suasana Hati klarifikas iuntuk membantu
 Berpartisipasi Dalam
individu memperjelas
Aktivitas Menyenangkan
keyakinan dan nilai-nilai yang
 Mentaati Jadwal Terapi
 Menghindari sesuai
Penyalahgunaan Alkohol
 Menghindari INSPIRASI HARAPAN
Penyalahgunaan Obat Non  membantu pasien /keluarga
Resep untuk mengidentifikasi
 MenghindariPenggunaan
daerah-daerah harapan dalam
Narkoba
 MenjagaKebersihan Pribadi hidup
 menghindari tindakan
DanPerawatan
menutupi kebenaran
 membantu pasien
Harapan mengembangkanspiritual diri
Indicator:  menciptakan lingkungan

 Mengutarakan Harapan yang memfasilitasi pasien

Masa Depan Yang Positif berlatih agama yang sesuai


 Mengekspresikan  memberikan pasien /keluarga

Keyakinan kesempatan untuk terlibat

Mengutarakan Kehendak dengan kelompok pendukung


 mendorong hubungan
Untuk Hidup
 Mengutarakan Alasan terapeutik dengan penting

Untuk Hidup lainnya


 memfasilitasi pasien yang
 Mengutarakan Makna
memasukkan kerugian pribadi
Hidup
 Menyatakan Optimisme ke dalam gambar tubuhnya
 Mengungkapkan Keyakinan
Diri
 Mengutarakan Kepercayaan
Lain
 Mengutarakan Kedamaian
Batin
 Mengutarakan Rasa Kontrol
Diri
 Pameran Semangat Hidup
 Menetapkan Tujuan

Ketahanan pribadi
Indicator:
 Verbalisasi Positif Melihat
Keluar
 Menggunakan Strategi
Koping Yang Efektif
 MengekspresikanEmosi
 Berkomunikasi Dengan
Jelas Dan Tepat Untuk Usia
 Pameran Suasana Hati Yang
Positif
 Pameran Positif Harga Diri
 Mengutarakan Kenyamanan
DenganKesendirian
 Mengutarakan Rasa
Percaya Diri
 Bertanggung JawabAtas
Tindakan Sendiri
 Mencari Dukungan
Emosional
 Beratnya Alternatif Untuk
Memecahkan Masalah

MenghindariPenyalahgunaa
n Narkoba
 Menghindari
Penyalahgunaan Alkohol
 Menggunakan Sumber
Daya
 Pendidikan Dan Kejuruan
 Verbalisasi Kesiapan Untuk
Belajar
2. Koping individu Koping Peningkatan koping
tidak efektif Indicator :  hargai pemahaman pasien
 Menunjukan fleksibilitas tentang proses penyakit dan
peran konsep diri
 keluarga menunjukan  hargai dan diskusikan
fleksibilitas peran para alternative respon terhadap
anggotanya situasi
 pertentangan masalah  hargai sikap klien terhadap
 nilai keluarga dapat perubahan peran dan
mengatur masalah-masalah hubungan
 melibatkan anggota  dukung penggunaan sumber
keluarga dalam membuat spiritual jika diminta
keputusan  gunakan pendekatan yang
 mengekspresikan perasaan tenang dan berikan jaminan
dan kebebasan emosional  sediakan informasi actual
 menunjukan strategi untuk tentang diagnosis, penangan
memanaj masalah dan prognosis
 menggunakan strategi  sediakan pilihan yang
penurunan stress realistis tentang aspek
 peduli terhadap kebutuhan
perawatan saat ini
anggota keluarga  dukung penggunaan
 menentukan prioritas
mekanisme defensive yang
 menentukan jadwal untuk
tepat
rutinitas danm aktivitas  dukung keterlibatan keluarga
keluarga] dengan cara yang tepat
 menjadwalkan untuk respite  Bantu pasien untuk
care mengidentifikasi strategi
 mempunyai perencanaan
positif untuk mengatasi
pada kondisi kegawatan
 memelihara kestabilan keterbatasan dan mengelola

financial gaya hidup dan perubahan


 mencari bantuan ketika peran
dibutuhkan  Bentu klien mengidentifikasi
 menggunakan support kemungkinan yang dapt
social terjadi
 Bantu klien beradaptasi dan

keterangan penilaian NOC mengantisipasi perubahan

1= tidak dilakukan sama sekali klien

2= jarang dilakukan
3= kadang dilakukan
4= sering dilakukan
5= selalu dilakukan
3. Isolasi sosial Dukungan Sosial Peningkatan Sosialisasi
Indikator : Aktivitas :
 Kesediaan untuk memanggil  Mendorong peningkatan
orang lain untuk bantuan keterlibatan dalam hubungan
 Uang yang tersedia dari orang yang sudah mapan
lain bila diperlukan  Mendorong kesabaran dalam
 Bantuan yang diberikan oleh perkembangan hubungan
orang lain  Mempromosikan hubungan
 Waktu yang disediakan oleh dengan orang-orang yang
orang lain memiliki kepentingan dan
 Kerja yang disediakan oleh tujuan bersama
orang lain  Mendorong kegiatan sosial
 Informasi yang diberikan oleh dan masyarakat
orang lain  Mempromosikan berbagai
 Bantuan emosional yang masalah umum dengan orang
diberikan oleh orang lain lain
 Hubungan kepercayaan  Mendorong kejujuran dalam
orang yang bisa menyajikan diri kepada orang
 Membantu sesuai kebutuhan lain

 Jaringan sosial bantu  Mempromosikan keterlibatan

 Kontak sosial yang dalam kepentingan yang sama

mendukung  Mendorong rasa hormat

 Jaringan sosial yang stabil terhadap hak orang lain


 Memfasilitasi penggunaan

Keterampilan Interaksi alat bantu defisit sensorik

Sosial seperti kacamata dan alat

Indikator : bantu dengar

  Memberikan umpan balik

Menggunakanpengungkapan tentang perbaikan dalam

yang sesuai  Menjaga penampilan pribadi


 Pameranreseptif atau kegiatan lainnya
 Bekerja samadengan orang  Menghadapi klien tentang
lain gangguan penilaian, jika
 Pamerankepekaan diperlukan
terhadaporang lain  Memberikan umpan balik
 positif ketika pasien
Menggunakanperilakutegasy menjangkau orang lain
ang sesuai Mengeksplorasi kekuatan dan
 kelemahan dari jaringan saat ini
Menggunakankonfrontasiyan hubungan
g sesuai
 Melibatkanorang lain

Menggunakankompromiyang
sesuai
Menggunakan
strategiresolusi konflik

4. Defisit perawatan Self care : aktifitassehari-hari Self Care assistane : ADLs


diri Kriteriahasil:  Monitor kemempuan klien
 Klien terbebas dari bau untukperawatan diri yang
badan
mandiri.
 Menyatakankenyamanan
 Monitor kebutuhan klien
terhadapkemampuan
untuk alat-alatbantu untuk
untukmelakukan ADLs
kebersihan diri,berpakaian,
Dapat melakukan ADLSdengan
berhias, toileting danmakan.
bantuan  Sediakan bantuan sampai
klienmampu secara utuh
untuk melakukanself-care.
 Dorong klien untuk
melakukanaktivitas sehari-
hari yang normal
sesuaikemampuan yang
dimiliki.
 Dorong untuk melakukan
secaramandiri, tapi beri
bantuan ketika klientidak
mampumelakukannya.
 Ajarkan klien/ keluarga
untukmendorongkemandiria
n, untukmemberikan
bantuan hanya jika
pasientidak mampu untuk
melakukannya.
 Berikan aktivitas rutin
sehari- harisesuai
kemampuan.
 Pertimbangkan usia klien
jikamendorong pelaksanaan
aktivitassehari-hari.