You are on page 1of 1

Lokasi penelitian pada tulisan ini meliputi wilayah Garut dan sekitarnya yang terletak pada

7.10 LS – 7.30 LS dan 107.80 BT – 1080 BT. Waktu penelitian yang dilakukan yaitu pada tanggal 20
September 2016. Penelitian ini menggunakan data satelit Himawari dan model WRF-ARW.

Data satelit Himawari yang digunakan adalah satelit IR-1 dengan resolusi spasial 4 km dan
resolusi temporal 10 menit yang didapatkan dari BMKG. Data model WRF-ARW dengan
menggunakan data final analysis (FNL) dengan resolusi 10 x 10 yang didapatkan dari website
http://rda.ucar.eduModel WRFARW dijalankan dengan 4 domain, sehingga resolusi akhir 500 m.

Cuaca di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor regional, El Nino dan La Nina, IOD
(Indian Ocean Dipole), dan MJO. Indonesia merupakan wilayah maritim yang dipengaruhi oleh
berbagai faktor regional, seperti ENSO di wilayah Samudera Pasifik, IOD di wilayah Samudera Hindia,
dan MJO yang dapat mempengaruhi cuaca dari wilayah Samudera Hindia hingga Samudera Pasifik,
serta anomali suhu muka laut dan medan angin di sekitar wilayah Indonesia.

La Nina dan El Nino merupakan satu gejala yang menunjukkan adanya perubahan pada iklim
Bumi. El Nino adalah kejadian di mana suhu air laut yang ada di Samudra Pasifik memanas di atas
rata-rata suhu normal. Sedangkan La Nina adalah peristiwa turunnya suhu air laut di Samudera
Pasifik di bawah suhu rata rata sekitarnya

Jika Nilai SOI kurang dari -7.3 menandakan El Nino dan nilai SOI melebihi +7.3 menandakan
La Nina. Nilai SOI telah mencapai 13.3 yang menandakan La Nina aktif di wilayah Pasifik. Hal ini
menandakan danya pergerakan massa udara yang cukup signifikan dari Samudera Pasifik Timur
menuju Samudera Pasifik Barat.

Apabila Nilai indeks IOD telah mencapai nilai -1.17. Hal ini menandakan massa udara
bergerakan dari wilayah Samudera Hindia Barat menuju Samudera Hindia Timur. SOI positif dan IOD
negatif menyebabkan uap air dari Samudera Pasifik dan Samudera Hindia terkumpul di wilayah
Indonesia. Ketika MJO berada pada fase 5 menandakan MJO berada di wilayah kontinen maritim
Indonesia. Hal ini menunjukkan banyaknya pembentukan awan di wilayah Indonesia.

Pada analisis terhadap hasil keluaran model WRFARW. Hasil keluaran tersebut adalah
kelembapan, angin, dan kecepatan vertikal dengan menggunakan diagram hovmoler antara waktu
dan ketinggian lapisan. Kelembapan yang tinggi di lapisan atas menandakan adanya awan dengan
konsentrasi uap air yang cukup tinggi, sehingga menandakan bahwa akan terjadinya hujan.

Adanya La Nina, IOD negatif, serta MJO menyebabkan massa udara dari Samudera Pasifik
dan Samudera Hindia berkumpul di wilayah Indonesia. Anomali suhu muka laut yang tinggi di sekitar
Jawa menyebabkan banyaknya penguapan di sekitar wilayah Jawa dan konvergensi yang terjadi
menyebabkan percepatan pembentukan awan. Pertumbuhan dan matinya awan CB yang begitu
cepat menyebabkan hujan yang terjadi tergolong ke dalam hujan lebat. Hujan lebat tersebut yang
menyebabkan terjadinya banjir bandang di wilayah Garut. Kelembapan yang tinggi dari permukaan
hingga ketinggian 300 mb menandakan banyaknya uap air yang terkondensasi menjadi awan-awan
konvektif.