You are on page 1of 13

CASE REPORT

VERTIGO

Disusun oleh:

Sandra rini 1118011121

Preceptor
dr. RA Neilan Amroisa Sp.S M,Kes

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SYARAF


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ABDOEL MOELOEK
2016
KATA PENGANTAR

Pertama saya ucapkan terima kasih kepada Allah SWT. karena atas rahmat-Nya sehingga
saya dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul “Vertigo Posisional Benigna (VPB)”
tepat pada waktunya. Adapun tujuan pembuatan laporan kasus ini adalah sebagai salah satu
syarat dalam mengikuti dan menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf RSUD
Abdul Moeloek.
Saya mengucapkan terima kasih kepada dr. Fitriyani, Sp.S, M.Kes yang telah
meluangkan waktunya untuk saya dalam menyelesaikan laporan kasus ini. Saya menyadari
banyak sekali kekurangan dalam laporan ini, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun
sangat penulis harapkan. Semoga laporan kasus ini dapat bermanfaat bukan hanya untuk saya,
tetapi juga bagi siapa pun yang membacanya.

Bandar Lampung, 7 september 2016

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

Vertigo ialah adanya sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh seperti rotasi (memutar)
tanpa sensasi peputaran yang sebenarnya, dapat sekelilingnya terasa berputar atau badan yang
berputar. Vertigo berasal dari bahasa latin “vertere” yaitu memutar. Vertigo termasuk ke dalam
gangguan keseimbangan yang dinyatakan sebagai pusing, pening, sempoyongan, rasa seperti
melayang atau dunia seperti berjungkir balik.
Vertigo merupakan masalah kesehatan yang nyata pada masyarakat. Pasien mangalami
kesulitan dalam mengungkapkan timbulnya gejala. Dokter umum dan spesialis yang memeriksa
seringkali memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai sistem vestibuler, disamping itu tidak
ada pemeriksaan laboratorium yang tersedia untuk mendiagnosis vertigo. Pasien vertigo
mengeluhkan berbagai macam gejala meliputi mual, instabilitas postural, pandangan kabur, dan
diorientasi. Gejala-gejala ini menimbulkan berbagai macam problem emosional dan fisik seperti
emosional, kecemasan, dan ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari. Gangguan sistem
vestibuler mempengaruhi kesehatan dan berhubungan dengan kualitas hidup. Pasien vertigo bisa
menghindari kegiatan fisik dan stres psikologi dan menarik diri dari aktifitas sosial, hal tersebut
berhubungan dengan depresi yang mempengaruhi pengendalian diri. Penyebab vertigo meliputi
vestibuler perifer (berasal dari sistim saraf perifer), vestibuler sentral dan kondisi lain.
Vertigo mengenai semua golongan umur, insidensi 25% pada pasien usia lebih dari 25
tahun, dan 40% pada pasien usia lebih dari 40 tahun, dizziness dilaporkan sekitar 30% pada
populasi berusia lebih dari 65 tahun. Prevalensi vertigo tergantung faktor usia. Kelainan
vestibuler perifer yang sering adalah BPPV, vestibular neuritis, Meniere”s disease dan
vestibulopati. Penelitian vertigo dari 12 klinik rawat jalan menunjukkan 50% pasien mengalami
vestibulopati perifer seperti BPPV, vestibuler neuritis, atau penyakit Meniere, dan penyakit
serebrovaskuler mencapai 19%.
Oleh karena seringnya seorang dokter menghadapi kasus vertigo, maka akan dibahas
sebuah kasus untuk meningkatkan pengetahuan mengenai vertigo dan cara penanganan serta
pencegahaan.
BAB II

LAPORAN KASUS

2.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : Ny. ITP
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 45 tahun
Alamat : kecamatan senen
Agama : Islam
Status Pernikahan : Sudah menikah
Pendidikan Terakhir : SLTA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Tanggal Pemeriksaan : 3 agustus 2017

2.2 ANAMNESIS
Autoanamnesis dan alloanamnesis
KELUHAN UTAMA
Kepala pusing berputar sejak 1 hari yang lalu SMRS.
Keluhan tambahan
Mual, muntah

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Pasien datang ke poli umum PKM Kecamatan Senen dengan keluhan Kepala pusing
berputar sejak 1 hari yang lalu SMRS. Pasien mengatakan lingkungan sekitarnya seperti berputar
terutama saat pasien merubah posisi, dari posisi tidur ke posisi duduk atau berdiri. Keluhan
muncul selama <5menit dan menghilang sendirinya. Keluhan juga disertai nyeri kepala, rasa
mual dan muntah sebanyak lebih dari 3 kali. Pasien baru pertama kali merasakan keluhan kepala
pusing berputar. Keluhan nyeri kepala sudah pernah dialami pasien namun tidak disertai rasa
berputar. Keluhan kelemahan pada anggota gerak tidak ada, kejang tidak ada, telinga berdenging
tidak ada, penurunan pendengaran tidak ada, kehilangan kesadaran tidak ada, pandangan
membayang tidak ada, bicara pelo tidak ada. Pasien belum pernah mengobati keluhan kepala
pusing berputar sebelumnya namun pasien mengaku terkadang mengkonsumsi obat pereda sakit
kepala dari warung jika keluhan sakit kepala muncul. Pasien memiliki riwayat hipertensi yang
tidak terkontrol. Riwayat trauma kepala tidak ada, riwayat diabetes mellitus tidak ada, riwayat
sakit telinga yang disertai keluar cairan dari telinga tidak ada.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


DM (-), HT (+), Penyakit jantung (-), Alergi obat (-), tumor atau operasi disangkal (-)

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Tidak ada keluarga yang memiliki keluhan sama

2.3 PEMERIKSAAN FISIK

1. Status Generalis
Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Compos Mentis
GCS : E4M6V5
Tekanan darah : 150/90 mmHg
Nadi : 82x / menit
Suhu : 36,0 oC
Pernafasan : 20x / menit
BB : 60 kg
TB : 160 cm
Kulit : tidak tampak kelainan
Kepala : tidak tampak deformitas
Rambut : dalam batas normal
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Leher : tidak tampak jejas
THT : sekret - / -
Tenggorok : T1 – T1, tenang
Gigi mulut : oral hygiene baik
Paru : gerakan pernafasan simetris kanan dan kiri, vesikuler +/+, rhonki (-/-),
wheezing (-/-)
Jantung : BJ I, II irreguler, murmur (-), gallop (-)
Punggung : deformitas (-),nyeri tekan (-), nyeri ketok CVA (-)
Abdomen : lemas, datar, bising usus (+) nyeri tekan (-)
Anggota gerak : edema (-/-), dalam batas normal

2. Pemeriksaan Neurologis

N.VIII (Akustikus) : Vestibularis :

Romberg :+
Tandem Gait : Baik
Past Positioning Test : Baik
Manuver Hallpike :+
: Kohklearis :
Tes Gesekan Jari :+
Tes Rinne : tidak dilakukan
Tes Weber : tidak dilakukan
Tes Swabach : tidak dilakukan

2.4 RESUME
Ny. ITP, 45 tahun datang dengan keluhan kepala pusing berputar yang berlangsung selama
<5menit dan menghilang sendirinya sejak 1 hari yang lalu Pasien mengatakan lingkungan
sekitarnya seperti berputar terutama saat pasien merubah posisi, dari posisi tidur ke posisi duduk
atau berdiri. Keluhan disertai nyeri kepala, rasa mual dan muntah sebanyak lebih dari 3 kali.
Pasien baru pertama kali merasakan keluhan kepala pusing berputar. Keluhan pendengaran
menurun tidak ada. Pasien belum pernah mengobati keluhan kepala pusing berputar sebelumnya
namun pasien mengaku terkadang mengkonsumsi obat pereda sakit kepala dari warung jika
keluhan sakit kepala muncul. Pasien memiliki riwayat hipertensi yang tidak terkontrol. Riwayat
keluhan sama sebelumnya dan riwayat keluarga yang memiliki keluhan sama tidak ada. Riwayat
sakit telinga sebelumnya tidak ada. Dari pemeriksaan fisik, didapatkan keadaan umum tampak
sakit ringan, TD 150/90 mmHg, nadi 82x/menit, pernapasan 20x/menit, suhu 36,0 C. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan nisgtagmus (+) arah horizontal, maneuver hallpike (+), tes
Romberg (+), Past Positioning Test baik, gait tandem baik.
2.5 DIAGNOSIS
Diagnosis klinis : Vertigo Posisional Benigna
Diagnosis topis : Sistem Vestibularis
Diagnosis etiologis : Idiopatik
Diagnosis Banding : - Neuronitis Vestibuler
- Meniere Disease

2.6 TATALAKSANA
Non Medikamentosa
1. Tirah baring
2. Latihan fisik vestibuler dengan cara latihan gerakan kepala yang mencetuskan vertigo,
latihan gerakan bola mata, latihan fiksasi pandangan mata, dan latihan kesseimbangan

Medikamentosa
1. Ondansetron 3x1
2. Betahistin masilat 6mg 3x1 tablet
3. Vitamin B1, B6, B12 3x1 tablet
4. Amlodipin 5 mg

Pemeriksaan Anjuran
- Tes kalori
- Elektronistagmografi
- Konsultasi dengan Sp.THT-KL

2.7 PROGNOSIS
Quo ad vitam : bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam

BAB III
PEMBAHASAN

1. Apakah diagnosis sudah tepat ?


Pada anamnesis pasien datang dengan keluhan kepala pusing berputar. Hal ini
menunjukkan adanya gangguan keseimbangan pada pasien, gangguan yang dialami
pasien merupakan ciri khas akan gejala dari vertigo, karena adanya rasa berputar yang
dirasakan. Gangguan ini berkaitan dengan sistem vestibulokoklearis yang berfungsi
sebagai alat keseimbangan. Keluhan vertigo pada pasien muncul terutama saat pasien
merubah posisi, dari posisi tidur ke posisi duduk atau berdiri. Keluhan muncul selama
<5menit dan menghilang sendirinya. Vertigo yang dialami pasien merupakan jenis
benign paroxysmal potitional vertigo (BPPV) yang erat kaitannya dengan perubahan
posisi. Selain itu pasien merasakan gejalanya dalam waktu beberapa detik sampai menit.
Hal ini menyingkirkan jenis vertigo sentral lainnya, karena vertigo jenis sentral durasi
gejala lebih lama dan terjadi secara mendadak. Selain itu pada vertigo sentral dapat
ditemukan gejala diplopia, parestesia (rasa baal), perubahan sensibilitas dan fungsi
motorik, sedangkan pada pasien ini tidak mengalami gangguan tersebut. Gangguan
system vestibuler juga dapat mengakibatkan rasa mual dan muntah. Keadaan ini
terutama pada lesi perifer dan kurang muncul pada lesi serebelar. Pada pasien juga
ditemukan adanya keluhan mual dan muntah lebih dari 3 kali yang makin memperkuat
diagnosis vertigo perifer.
Pada pemeriksaan fisik, status generalis pasien tidak banyak di jumpai kelainan
hanya saja pada pemeriksaan tanda vital didapatkan tekanan darah pasien meningkat.
Dalam hal ini dapat diduga sebagai salah satu faktor risiko timbulnya vertigo. Pada
status neurologis pada pemeriksaan bola mata ditemukan tanda nistagmus positif , arah
horizontal ke kiri. Nistagmus dapat bersifat horizontal, rotaroar, atau vertical. Gerakan
bola mata pada nystagmus mempunyai 2 komponen yaitu gerakan lambat ke satu arah
diikuti gerakan cepat kea rah yang berlawanan. Pemeriksaan nystagmus dilakukan
dengan cara meminta penderita mengikuti gerak jari pemeriksa, dari satu sisi ke sisi
lainnya. Pada pasien ditemukan adanya nystagmus pada kedua mata, dengan arah
nystagmus horizontal ke kiri. Tanda nystagmus ini merupakan tanda utama pada
kelainan vertigo. Pada vertigo sentral, dapat ditemukan nystagmus arah vertical murni
sedangkan nystagmus arah horizontal atau rotatoar ditemukan pada vertigo perifer.
Untuk membangkitkan vertigo dan nystagmus posisional pada gangguan system
vestibuler dapat dilakukan maneuver hallpike. Pada maneuver ini diperhatikan kapan
mulai muncul nystagmus, berapa lama berlangsung, dan jenis nystagmus. Pada lesi
perifer, terdapat masa laten munculnya nystagmus yaitu selama 2-30 detik, pada lesi
sentral tiidak didapatkan masa laten. Pada pasien nystagmus tidak langsung muncul
dan terdapat masa laten. Pada tes keseimbangan didapatkan tes Romberg(+), past
positioning test (+), tes gait tandem (+). Pada penderita gangguan serebelar biasanya
memiliki gangguan dalam koordinasi sehingga mungkin tidak lancar dalam
melaksanakan gerak supinasi dan pronasi tangannya secara berturut – turut
(Disdiadokokinesia) dan percobaan telunjuk hidung dilakukan dengan buruk. Pada
penderita vertigo perifer seperti pada pasien ini dapat melakukan semua itu dengan
normal.

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maka dapat disusun


Diagnosis klinis : Vertigo Posisional Benigna (VPB)
Diagnosis topis : Sistem Vestibularis
Diagnosis etiologis : Idiopatik

2. Apakah penatalaksaan pada kasus ini sudah tepat?


Penatalaksanaan bagi pasien ini yaitu terapi non-medikamentosa dan medikamentosa.
Terapi non-medikamentosa yaitu dengan baring dan melakukan latihan fisik vestibuler.
Tirah baring bertujuan untuk meredakan serangan vertigo dengan mengambil sikap diam
(berbaring diam atau duduk diam) ditempat tidur, sebab perubahan posisi dan gerakan
kepala dapat memperburuk vertigo. Latihan fisik vestibuler dilakukan pada pagi hari,
pasien berada di pinggir tempat tidur, kemudian membaringkan tubuh pada sisi yang
membangkitkan vertigo posisional, dan setelah vertigo mereda, kembali ke posisi duduk
semula. Gerakan ini diulangi hingga vertigo melemah atau mereda. Kegiatan ini dapat
diulang 2-3 kali dalam sehari hingga tidak didapatkan lagi vertigo. Latihan juga dapat
dilakukan dengan memfiksasi pandangan mata dengan jalan melatih gerakan mata
dengan mengikuti objek yang bergerak dan juga memfiksasi pada objek yang diam.
Jenis latihan yang diberikan yaitu Canalit Reposition Treatment (CRT) / Epley
manouver, Rolling / Barbeque maneuver, Semont Liberatory maneuver dan Brand-
Darroff exercise.Dari beberapa latihan ini kadang memerlukan seseorang untuk
membantunya tapi ada juga yang dapat dikerjakan sendiri.(2,3)

1. Latihan CRT / Epley manouver :


Keterangan Gambar :
Pertama posisi duduk, kepala menoleh ke kiri (1), kemudian langsung tidur sampai
kepala menggantung di pinggir tempat tidur (2), tunggu jika terasa berputar / vertigo sampai
hilang, kemudian putar kepala ke arah kanan ( sebaliknya ) perlahan sampai muka menghadap
ke lantai (3), tunggu sampai hilang rasa vertigo, kemudian duduk dengan kepala tetap pada posisi
menoleh ke kanan dan kemudian ke arah lantai (4), masing-masing gerakan ditunggu lebih
kurang 30 – 60 detik. Dapat dilakukan juga untuk sisi yang lain berulang kali sampai terasa
vertigo hilang.
Untuk Rolling / Barbeque maneuver, dilakukan dengan cara berguling sampai 360′, mula-
mula posisi tiduran kepala menghadap ke atas, jika vertigo kiri, mulai berguling ke kiri ( kepala
dan badan ) secara perlahan-lahan, jika timbul vertigo, berhenti dulu tapi jangan balik lagi,
sampai hilang, setelah hilang berguling diteruskan, sampai akhirnya kembali ke posisi semula.(2,3)

2. Latihan Semont Liberatory :


Keterangan Gambar :
Pertama posisi duduk (1), untuk gangguan vertigo telinga kanan, kepala menoleh ke kiri,
kemudian langsung bergerak ke kanan sampai menyentuh tempat tidur (2) dengan posisi kepala
tetap, tunggu sampai vertigo hilang (30-6- detik), kemudian tanpa merubah posisi kepala
berbalik arah ke sisi kiri (3), tunggu 30-60 detik, baru kembali ke posisi semula. Hal ini dapat
dilakukan dari arah sebaliknya, berulang kali.(2,3)

3. Latihan Brand-Darroff exercise :

Keterangan Gambar :
Hampir sama dengan Semont Liberatory, hanya posisi kepala berbeda, pertama posisi
duduk, arahkan kepala ke kiri, jatuhkan badan ke posisi kanan, kemudian balik posisi
duduk, arahkan kepala ke kanan lalu jatuhkan badan ke sisi kiri, masing-masing gerakan
ditunggu kira-kira 1 menit, dapat dilakukan berulang kali,pertama cukup 1-2 kali kiri
kanan, besoknya makin bertambah.(2,3)

Terapi medikamentosa yang diberikan untuk pasien vertigo yaitu antihistamin, antagonis
kalsium, fenotiazine, simpatomimetik, dan obat penenang minor. Antihistamin memiliki
aktivitas anti kolinergik sentral di susunan saraf pusat yang dapat mengurangi gejalan
vertigo dan menekan pusat muntah di batang otak. Efek samping antihistamin ini yaitu
mulut kering dan penglihatan menjadi kabur, dan sedasi. Jenis antihistamin yang
diberikan pada pasien yaitu betahistin dan dimenhidrinat. Pasien juga diberikan obat
golongan fenotiazine, promethazine yang berefek seperti antihistamin. Selain itu pasien
juga diberikan ondansentron yang merupakan agonis reseptor 5-HT3, obat yang bekerja
pada susunan saraf pusat dengan menekan pusat muntah.
DAFTAR PUSTAKA

1. PERDOSSI, Vertigo Patofisiologi, Diagnosis, dan Terapi.Janssen


Pharmaceutica.Jakarta.1999
2. Lumbantobing.S.M.Vertigo.Fakultas Kedokteran UI.Jakarta.1996
3. Ginsberg.L,Lecture notes neurologi, edition 8 th.Penerbit Erlangga.Jakarta.2005.
4. Mardjono, M.Neurologi klinis dasar.Penerbit Dian Rakyat.Jakarta.1998
5. http://www.mims.com/Page.aspx?
menuid=mng&name=Merislon+tab&CTRY=SG&brief=false#Actions