You are on page 1of 14

ISU PENYAKIT NEW EMERGING DISEASE

FLU BURUNG

PAPER

Diajukan Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Menyelesaikan Tugas Pengantar


Kebijakan Kesehatan Pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Disusun Oleh :

Febri Sri Lestari 130920170014


Hetty Parwangsyah 130920170019
Karlina Wirawati 130920170004
Rezky Anggakusuma 130920170020
Yulianingsih 130920170016
Yusrima Syamsina W 130920170012

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2017
ISU PENYAKIT NEW EMERGING DISEASE (PENYAKIT FLU BURUNG)
MASUK DALAM AGENDA PEMERINTAH

Dalam agenda setting sangat penting untuk menentukan isu publik yang akan
diangkat dalam suatu agenda pemerintah. Isu new emerging disease yang akan
penulis ambil yaitu penyakit Flu Burung. Proses penyusunan agenda kebijakan
(policy agenda) menurut Widodo1 dalam bukunya yang berjudul Analisis Kebijakan
Publik (2008:57) secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut :

Private problems adalah masalah-masalah yang mempunyai


Private problems akibat yang terbatas, atau hanya menyangkut satu atau
sejumlah kecil orang yang terlibat langsung

Public problems adalah masalah-masalah yang mempunyai


Public problems akibat lebih luas termasuk akibat-akibat yang mengenai
orang-orang yang secara tidak langsung terlibat

Political issues adalah perbedaan pendapat masyarakat


Political Issues tentang solusi dalam menangani masalah (policy action)

Systemic agenda yaitu isu dirasakan oleh semua warga


Systemic agenda masyarakat politik yang patut mendapat perhatian public dan ini
tersebut berada dalam yuridiksi kewenangan pemerintah

Instutional agenda adalah serangkaian isu yang secara tegas


Intutitional agenda membutuhkan pertimbangan-pertimbangan yang aktif dan
serius dari pembuat keputusan yang sah/ otoritatif

Bagan 1. Agenda Setting Process


Flu burung, atau yang juga disebut Avian influensa, sentak menyita perhatian
semua pihak di seluruh dunia. Kecepatan virus yang menyebar dimana-mana dan
kemampuannya bermutasi dengan cepat sehingga mampu menyerang baik hewan
dan manusia menimbulkan kekhawatiran akan keganasan virus yang dapat
menyebabkan kematian.2
Saat ini Flu Burung diketahui telah menyerang hampir seluruh Negara di Asia,
Belanda, Rusia, Australia, Itali, Chile, Meksiko, Belanda, Belgia dan Jerman serta
Amerika dan saat ini merambah Afrika. Sebenarnya kasus flu burung telah muncul
sejak tahun 1878 di Italia, dimana pada saat itu banyak ditemukan unggas yang mati
mendadak. Namun penyebab matinya unggas tersebut baru diketahui pada tahun
1955 yang ternyata adalah virus influenza. Sebenarnya, Flu burung sendiri mulai
booming di dunia saat awal tahun 2004. Dimana kebanyakan penderitanya adalah
negara-negara asia timur dan tenggara (termasuk Indonesia). Padahal virus ini
ditemukan telah sejak lama dan menyebabkan kematian untuk pertama kalinya di
China pada tahun 1997, dan telah membunuh Ribuan manusia sejak desember 2003.
Penyebaran di Indonesia sendiri terjadi saat bulan Februari 2004.sedangkan di negara
lain pada Bulan Januari 2004.2
Berikut perjalanan isu penyakit flu burung dimulai dari Private Problem samapai
masuk dalam agenda pemerintahan dan muncul kebijakan-kebijakan terkait kasus
tersebut.
1. Private Problem
Virus Flu Burung yang pada awalnya diketahui hanya bisa menular antar sesama
unggas, menciptakan mutasi baru yang dapat juga menyerang manusia. Mutasi virus
ini dapat menginfeksi manusia yang berkontak langsung dengan sekresi unggas yang
terinfeksi. Manusia yang memiliki resiko tinggi tertular adalah anak-anak, karena
memiliki daya tahan tubuh yang lebih lemah, pekerja peternakan unggas, penjual dan
penjamah unggas, serta pemilik unggas peliharaan rumahan.2
Virus HPAI A (H5N1) pertama kali diketahui membunuh sekawanan ayam di
Skotlandia pada tahun 1959, namun virus yang muncul pada saat itu sangat berbeda
dengan virus H5N1 pada saat ini. Jenis dominan dari virus H5N1 yang muncul pada
tahun 2004 berevolusi dari virus yang muncul pada tahun 2002 yang menciptakan
gen tipe Z.
H5N1 sebenarnya adalah jenis virus yang menyerang reseptor galactose yang ada
pada hidung hingga ke paru-paru pada unggas yang tidak ditemukan pada manusia,
dan serangan hanya terjadi disekitar alveoli yaitu daerah daerah di paru-paru dimana
oksigen disebarkan melalui darah. Oleh karena itu virus ini tidak gampang
disebarkan melalui udara saat batuk atau bersin seperti layaknya virus flu biasa.

Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1997, peneliti menemukan bahwa virus
H5N1 terus berevolusi dengan melakukan perubahan di zat antigen dan struktur gen
internal yang kemudian dapat menginfeksi beberapa spesies yang berbeda. Virus
yang pertama kali ditemukan di Hongkong pada tahun 1997 dan 2001 tidak mudah
ditularkan dari burung satu ke lainnya dan tidak menimbulkan penyakit yang
mematikan pada beberapa binatang. Namun pada tahun 2002, jenis baru virus H5N1
muncul, dikenal dengan virus H5N1 tipe gen Z yang menjadi tipe gen dominan, yang
menyebabkan penyakit akut pada populasi burung di Hongkong, termasuk disfungsi
neurologi dan kematian pada bebek dan jenis unggas lainnya.

Virus dengan tipe gen inilah yang menjadi epidemic di Asia Tenggara yang
menyebabkan kematian jutaan ekor ayam dan dari 2 sub klas yang tercipta akibat
mutasi virus yang selalu berubah telah menimbulkan korban ratusan manusia yang
meninggal dunia. Mutasi yang terjadi dari jenis virus ini meningkatkan patogen virus
yang dapat memperparah serangan virus ke berbagai spesies dan ditakutkan nantinya
mampu menularkan virus dari manusia ke manusia lainnya. Mutasi tersebut terjadi di
dalam tubuh burung yang menyimpan virus dalam jangka waktu lama di dalam
tubuhnya sebelum akhirnya meninggal akibat infeksi.

Mutasi yang terjadi pada virus H5N1 merupakan karakteristik jenis virus
influenza, dimana virus tersebut mampu mengkombinasikan jenis 2 jenis virus
influenza yang berbeda yang berada dalam 1 jenis reseptor pada saat yang
bersamaan. Kemampuan virus untuk bermutasi menghasilkan jenis yang mampu
menginfeksi berbagai jenis spesies adalah karena adanya variasi yang ada di dalam
gen hemagglutinin. Mutasi genetik dalam gen hemaglutinin menyebabkan
perpindahan asam amino yang pada akhrinya dapat mengubah kemampuan protein
dalam hemagglutinin untuk mengikat reseptor dalam permukaan sel.
Mutasi inilah yang dapat mengubah virus flu burung H5N1 yang tadinya tidak
dapat menginfeksi manusia menjadi dapat dengan mudah menular dari unggas ke
manusia. Oleh karena itu peneliti sekarang sedang giat-giatnya mencoba memahami
sifat virus ini dan berusaha melakukan rekayasa genetika dengan memasukkan 2
asam amino virus flu spanyol H1N1 ke dalam hemaglutinin H5N1 sehingga nantinya
virus H5N1 tidak menjadi pandemik yang membahayakan manusia seperti yang
terjadi pada wabah tahun 1918. Penelitian itu membuahkan hasil yang
menggembirakan dimana objek penelitian dapat tetap sehat meskipun ditempatkan
dalam 1 ruangan bersama objek yang sakit4.

2. Public Problem
Kasus flu burung ini berawal dari private problem dan berkembang menjadi
public problem, karena dalam perkembangannya virus penyebabnya mengalami
mutasi genetik sehingga juga dapat menginfeksi manusia. Mutasi ini dalam
perkembangannya dapat menyebabkan pandemik. Di Indonesia, flu burung telah
menyerang peternakan unggas pada pertengahan Agustus 2003. Sampai awal 2007
menurut Direktorat Kesehatan Hewan, Ditjen Peternakan Departemen Pertanian
tercatat 30 provinsi mencakup 233 kabupaten/kota yang dinyatakan tertular flu
burung pada unggas. Pada manusia pertama kali terjadi pada bulan Juni 2005 dimana
virus flu burung/H5N1 telah menyerang tiga orang dalam satu keluarga dan
mengakibatkan kematian ketiganya. Sejak saat itu jumlah penderita flu burung terus
bertambah, sampai Maret 2007 jumlah penderita flu burung yang terkonfirmasi
sebanyak 89 orang dan 68 orang diantaranya meninggal (berarti Case Fatality
Ratenya sekitar 76,4%). Hal ini bisa disebabkan sifat karakteristik virus yang sangat
ganas, keterlambatan dalam deteksi dini (belumadanya kit diagnosa cepat yang
mempunyai sensitivitas dan spesifisitas tinggi), keterlambatan rujukan ke rumah
sakit dan satusatunya obat yang tersedia adalah oseltamivir yang harus diberikan
dalam 48 jam pertama sejak timbul gejala.
Pada awalnya virus ini dikenal tidak berbahaya karena tidak dapat menyerang
spesies lain termasuk manusia karena perbedaan jenis reseptor virus, namun setelah
ditemukan bahwa flu yang menyerang unggas ini juga menyerang 2 anak laki-laki
pada tahun 1997 di Hongkong dan menyebar ke seluruh Asia, serentak kasus flu
burung menjadi pandemik yang mengkhawatirkan semua pihak di dunia. 1
Pada akhirnya seluruh kasus flu burung tersebar di sembilan provinsi yang
merupakan daerah KLB AI pada unggas yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat,
Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi
Selatan. Penderita Flu Burung paling banyak ditemukan di Provinsi Jawa Barat
(32,6%), kedua di DKI Jakarta (24,9%) dan ketiga di Banten (13,5%). Hal ini bisa
disebabkan karena di ketiga provinsi tersebut tingkat kepadatan populasi manusia
dan populasi unggas dalam suatu wilayah yang tinggi.
3. Issues
Penyakit flu burung telah menjadi isu global sehingga penanganan yang serius
perlu segera diambil agar KLB flu burung tidak bermutasi menjadi flu yang menular
dari manusia ke manusia dan menjadi wabah pandemi influenza. Menurut WHO,
terdapat enam fase global pandemi influenza berdasarkan faktor epidemiologi pada
manusia sebelum suatu pandemi ditetapkan. Flu burung berdasarkan data yang
diperoleh dari WHO masuk pada fase ke-3 yaitu periode kewaspadaan terhadap
pandemi.9
Data tahun 2003 hingga tanggal 27 Februari 2006, tercatat jumlah kasus Avian
Influenza yang confirmed laboratorium mencapai 173 kasus dan 93 kasus (55%) di
antaranya meninggal dunia. Negara dengan jumlah kasus Avian Influenza terbanyak
adalah Vietnam (93 kasus) sekitar 53,8% dari total kasus di seluruh dunia dengan
kematian 45,16%. Indonesia menempati urutan kedua kasus terbanyak di seluruh
dunia dengan 28 kasus (15,6%) dan kematian 74,1%, setelah Thailand dengan 22
kasus (12,72%) dan kematian 63,6%. Area periode kewaspadaan terhadap pandemi
penyakit flu burung di Asia Tenggara terlihat pada Gambar 1.1.
Gambar 1. Area Periode Kewaspadaan Pandemik Flu Burung

Indonesia sebagai bagian dari komunitas internasional juga berkewajiban


melaksanakan penanganan flu burung secara berkelanjutan mengingat salah satu
sumber penularan flu burung adalah burung liar yang bermigrasi secara bebas dan
mampu menyebarkan virus antar negara. Meluasnya penyakit flu burung
mempengaruhi langsung segi kesehatan, segi sosial, dan tantangan di bidang
ekonomi secara tidak langsung akan menimbulkan kekhawatiran di seluruh dunia.
Dari public problem tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah isu yang layak
untuk diperbincangkan dan masuk dalam agenda pemerintahan. Isu-Isu tersebut
diantaranya :

 Indonesia saat ini berada di tengah krisis flu burung. Kasus flu burung pertama
kali dilaporkan Indonesia pada tahun 2003. Penyakit ini sekarang endemis di
populasi ayam dibeberapa daerah di Indonesia ; jutaan unggas mati karena
penyakit ini dan juga dimusnahkan sebagai wujud penanganan kasus penularan flu
burung. Untuk kasus flu burung pada manusia pertama kali dilaporkan pada tahun
2005. Sejak itu Indonesia sudah mencatat lebih dari 130 kasus flu burung pada
manusia dan lebih dari 110 korban meninggal – paling tinggi di dunia. Di
Indonesia, anak-anak merupakan salah satu kelompok yang paling beresiko
terkena penyakit ini karena sekitar 40 persen dari korban flu burung adalah-adalah
mereka yang berusia dibawah 18 tahun.5
 Bandung - Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten
Bandung Tisna Umaran mengatakan sudah melakukan pemusnahan terhadap
415 ekor unggas dan vaksinasi pada lebih dari 700 ekor unggas untuk mencegah
penyebaran virus flu burung di wilayahnya. Target vaksinasi diprioritaskan pada
ternak unggas yang berada di seputaran Desa Sekarwangi, Kecamatan Soreang.
Vaksin flu burung yang ada saat ini cukup untuk 10 ribu ekor unggas. Diseluruh
wilayah Kabupaten Bandung, populasi unggas menembus 400 ribu ekor.6
 Berdasarkan riwayat epidemiologis 54% mempunyai riwayat kontak langsung
dengan unggas sakit/mati; 30% kontak dengan lingkungan dimana terdapat
kematian unggas akibat H5N1; 1% kontak dengan pupuk kandang tercemar; 15%
tidak diketahui sebabnya.Dari 86 kasus konfirmasi diperoleh sebanyak 56% laki-
laki dan 44% perempuan. Sebaran kasus menurut kelompok usia 0-5th sebanyak
11,24%; 6-15th sebanyak 28,09%; 15-45 th sebanyak 59,55%; > 45 thsebanyak
1,12%.
 Saat ini jumlah kasus flu burung pada manusia di Indonesia terbanyak ke-2
setelah Vietnam, dengan angka kematian tertinggi di dunia. Dibandingkan negara-
negara lain yang juga tertular avian influenza/H5N1, penyakit flu burung di
Indonesia terus berkembang dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
 Para ahli memperkirakan setiap 10-40 tahun, apabila muncul subtipe virus
influenza A yang baru, akan muncul suatu pandemi seperti yang terjadi pada
tahun 1918 (H1N1), 1957 (H2N2) dan 1968 (H3N2). Pada saat ini telah
teridentifikasi subtipe baru yaitu virus H5N1 yang terus menyebar ke berbagai
negara sehingga diprediksi virus pandemi influenza berasal dari mutasi virus
(reassortment) H5N1sakit/mati .

Dan berikut awal munculnya flu burung di Indonesia sampai akhirnya dinyatakan
sebagai wabah (kejadian luar biasa/KLB) :
 29 Agustus 2003 : Muncul penyakit yang mematikan di peternakan ayam di
Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Setelah itu menyebar di sejumlah
kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
 23 Oktober 2003 : Deptan mengonfirmasi wabah itu sebagai virus tetelo
dengan jenis vilogenik viserotropik berdasarkan pengujian beberapa lembaga
dan laboratorium.
 28 Oktober 2003 : Otoritas Agrifood and Veterinary Authority (AVA)
Singapura telah melarang sementara impor burung dan unggas lainnya dari
Indonesia karena adanya informasi wabah penyakit flu burung di beberapa
daerah.
 19 November 2003 : Dua sumber independen yang layak dipercaya di
Indonesia telah mengirim informasi adanya wabah flu burung ke International
Society for Infectious Diseases (ISID). Mereka mengabarkan, wabah tersebut
telah terjadi di Jawa Barat dan Sumatera.
 22 Desember 2003 : Pusat Informasi Unggas Indonesia (Pinsar) menyebutkan
adanya keikutsertaan flu burung dalam wabah tetelo yang terjadi di Jawa
Tengah dan Jawa Timur. Virus tersebut tidak hanya diisolasi, tetapi sudah
diidentifikasi melalui berbagai metode diagnostik. Pinsar menyarankan virus
flu burung yang ditemukan sebaiknya dikirim ke laboratorium rujukan
internasional di Australia, Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat.
 15 Januari 2004 : Sebuah tim yang terdiri atas Kepala Badan Karantina dan
Direktur Kesehatan Hewan pergi ke Cina sekitar enam hari untuk mempelajari
kasus flu burung, termasuk pengadaan vaksin.
 21 Januari 2004: Dirjen Bina Produksi Peternakan menginformasikan bahwa
pemerintah menunjuk PT Bio Farma untuk mengimpor vaksin flu burung
dengan jenis patogenitas rendah.
 24 Januari 2004: Ketua I Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) CA
Nidom mengumumkan, dari identifikasi DNA dengan sampel 100 ayam yang
diambil dari daerah wabah diketahui positif telah berjangkit flu burung.
 25 Januari 2004: Deptan mengumumkan secara resmi kasus avian influenza
terjadi di Indonesia, namun belum ditemukan korban manusia akibat wabah
tersebut.
4. Systemic Agenda
Dengan hampir sepertiga dari kasus kematian pada manusia terjadi di Indonesia
dan jumlah ini tercatat paling tinggi di dunia, maka Indonesia diperkirakan akan
menjadi negara di mana pandemi influenza berawal. Per November 2006, jumlah
kematian manusia karena flu burung di Indonesia mencapai 56 orang. Di seluruh
dunia, jumlah kematian seluruhnya 153 orang di sembilan negara.
Dengan melihat situasi terakhir flu burung di Indonesia, maka Pemerintah
langsung menyatakan bahwa diperlukan kesungguhan dalam mengatasi masalah ini.
Perlu digarisbawahi bahwa Indonesia di satu sisi memiliki keterbatasan dalam
sumber daya dan dana untuk mengatasi krisis flu burung, di samping banyaknya
masalah bencana nasional dan serangan penyakit menular yang dialami belakangan
ini. Masalah kasus Flu burung ini kemudian masuk dalam agenda pemerintah,
diantaranya yaitu :
1) Mencegah agar pandemi global tidak terjadi, maka seluruh upaya yang
dilakukan untuk memerangi flu burung perlu dikonsolidasikan ke dalam suatu
upaya bersama pemerintah, swasta, dan seluruh masyarakat Indonesia serta
dukungan dunia internasional.
2) Diperlukan adanya penyelenggaraan kegiatan yang paling mendasar adalah
pelatihan untuk tenaga pelatih (training for trainers), surveilans, dan respons
cepat.
3) Pembentukan Pusat Pengendali Penyakit (Local Disease Control Center) di
tingkat kabupaten yang difokuskan sementara ini di wilayah-wilayah dengan
tingkat kejadian wabah unggas tinggi.
4) Pembentukan tim Participatory Disease Surveillance (PDS) dan Participatory
Disease Response (PDR) yang merupakan ujung tombak di lapangan
bekerjasama dengan masyarakat setempat di tingkat desa.
Semua kegiatan tersebut diselaraskan dengan kampanye komunikasi yang juga
diterapkan dengan strategi berbasis masyarakat dengan memanfaatkan keikutsertaan
tenaga-tenaga sukarelawan yang direkrut dari dua organisasi masyarakat berbasis
akar rumput, seperti Muhammadiyah dan Palang Merah Indonesia (PMI).
Keseluruhan bantuan dana yang masuk akan terus berlanjut dalam jangka waktu
tertentu dan perlu diketahui efektivitasnya dengan mempelajari kelemahan dan
kekuatan serta menganalisis pencapaian keluaran melalui pengukuran indikator kunci
keberhasilan. Dengan demikian, Indonesia bisa merasakan manfaat dari bantuan
tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab dan kerjasama internasional (KOMNAS
FBPI).
5. Instituional Agenda
Wabah flu burung sebenarnya telah mendapatkan perhatian dari pemerintah. Hal
ini dapat dibuktikan dengan turunnya peraturan presiden nomor 7 tahun 2006 tentang
pembentukan Komite Nasional Pengendalian Flu Burung (KNPFB). Proses ini
sebenarnya telah didahului dengan terbitnya SK Dirjen Peternakan yang mengatur di
wilayah budidaya ayam ras. Menurut SK Dirjen No. 17 tahun 2004 telah dinyatakan
bahwa prioritas nasional untuk pengendalian wabah flu burung adalah dengan
sembilan strategi pengendalian AI yaitu: 1) peningkatan biosekuriti, 2) vaksinasi
daerah tertular dan tersangka, 3) depopulasi terbatas dan kompensasi, 4)
pengendalian lalu-lintas unggas dan produknya, 5) surveilans dan penelusuran
kembali, 6) pengisian kandang kembali, 7) stamping out di daerah tertular baru, 8)
public awareness , dan 9) monitoring dan evaluasi (Anonimus, 2004).
Undang-Undang No 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular (pengganti
UU No 6 Tahun 1962 tentang Wabah dan UU No. 7 Tahun 1968 tentang perubahan
Pasal 3 UU No. 6 Tahun 1962) memang tidak secara spesifik mengatur tentang
Wabah Flu Burung. Namun secara insplisit terakomudir di dalam undang-undang
tersebut sebagai wabah penyakit menular.
Selain undang-undang diatas, Indonesia juga telah memiliki Undang-Undang No.
6 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan
Hewan. Pemberlakuan UU No. 4 Tahun 1984 haruslah terintegrasi bersama-sama
dengan UU No. 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Peternakan dan
Kesehatan Hewan. Keterpaduan ini penting sebab Negara Republik Indonesia yang
agraris tidak lepas dari soal peternakan dan oleh karena itu Pemerintah wajib
memajukannya, setidak-tidaknya mencegah penyakit-penyakit hewani, baik yang
menular maupun yang tidak menular, sebab tanpa usaha itu rakyat akan kehilangan
sumber protein-hewani yang diperlukan, padahal sumber yang dimaksud berada di
tangan rakyat sendiri.
Keseriusan Indonesia menghadapi masalah flu burung ini, baik pada hewan
(unggas) sebagai sumber penularan yang utama maupun pada manusia dapat
ditunjukkan dengan telah terbentuknya dan tersusun beberapa dokumen strategi,
yaitu sebagai berikut :
1) Pemerintah mengeluarkan Kepmenkes No. 1371/MENKES/SK/IX/2005
tentang Penetapan Flu Burung (Avian Influenza) sebagai Penyakit yang dapat
Menimbulkan Wabah serta Pedoman Penanggulangannya, yang ditetapkan
pada 19 September 2005.

2) Selain itu, ditetapkan juga Kepmenkes No. 1372/MENKES/SK/IX/2005


tentang Penetapan Kondisi Kejadian Luar Biasa (KLB) Flu Burung (Avian
Influenza).

3) Rencana Strategis Nasional (Renstranas) Pengendalian Flu Burung dan


Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (2006-2008) disusun oleh
BAPPENAS pada Desember 2005. Pokok-pokok program yang dirancang
dengan memadukan antara penanganan di hewan dan manusia ini kemudian
dikukuhkan dan menjadi panduan bagi kegiatan koordinasi yang dilakukan
Komnas FBPI maupun kegiatan yang dilakukan
instansi/departemen/kementerian terkait termasuk dalam merancang kegiatan
APBN masing-masing, serta menjadi acuan kegiatan lembaga-lembaga
internasional yang bersama-sama melaksanakan penanganan flu burung di
Indonesia.

4) Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2007, ditetapkan pada tanggal 13 Maret 2006
tentang Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan
Menghadapi PAndemi Influenza (Komnas FBPI). Dokumen ini merupakan
dasar keberadaan Komnas FBPI sekaligus menjadi dasar lingkup tugas dan
fungsi serta kegiatan Komnas FBPI. Pendekatan strategis seperti
pengembangan Komite Daerah, Panel Kelompok, Kelompok Kerja,
Sekretariat Komnas FBPI, dan sebagainya didasarkan pada ketentuan dalam
Perpres 7/2006 ini.

5) Re-Focusing Strategy penanganan flu burung merupakan hasil proses belajar


dalam menerapkan Renstranas 6 bulan pertama, serta merupakan bentuk
penyesuaian panduan program penanganan flu burung yang disesuaikan
dengan keberadaan Komnas FBPI. Dokumen ini sepenuhnya berasal dai
Renstranas,tetapi dengan memberikan penekanan prioritas penanganan dan
keterpaduan antar program.

6) Instruksi Presiden RI No. 1 Tahun 2007 dikeluarkan pada tanggal 12 Februari


2007 tentang Penanganan dan Pengendalian Virus Flu Burung (avian
Influenza). Inpres ini lebih menegaskan lagi pentingnya pengendalian flu
burung, khususnya dari, untuk, dan oleh daerah. Di samping itu, peraturan ini
juga menegaskan perlunya Satuan Tugas Penanganan Flu Burung di Daerah.7

7) Kepmenkes No. 1103/MENKES/SK/IX/2007 Perubahan Kepmenkes No. 485


tentang Pengendalian Flu Burung.

8) Kepmenkes No. 311/MENKES/SK/V/2009 tentang Penetapan Penyakit Flu


Baru H1N1 sebagai Penyakit yang Dapat Menimbulkan Wabah.

9) Kepmenkes No. 230/MENKES/SK/III/2009 tentang Pilot Proyek


Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza
di Tangerang.

10) Kepmenkes No. 289/MENKES/SK/II/2010 tentang Pilot Projek Flu Burung.

11) Kepmenkes No. 353/MENKES/SK/IX/2012 tentang Tim Penanggulangan


Penyakit Flu Burung.8
DAFTAR PUSTAKA

1. Widodo J. 2008. Analisis Kebijakan Publik. Malang : Bayumedia. Hal 50-64


2. Influenza Report. 2017. Diperoleh dari
http://www.influenzareport.com/influenzareport_indonesian.pdf. Diakses
pada tanggal 16 Oktober 2017
3. Putri TS. Agenda Flu Burung. Artikel Kompas. Publish 27 November 2006
4. Wordpress. 2012. Diperoleh dari
https://dreamfile.wordpress.com/2012/03/09/flu-burung-gejala-cara-
penularan-pencegahan-dan-pengobatannya/. Diakses pada tanggal 16 Oktober
2017
5. Purnomo. Health Nutrition. Diperoleh dari
https://www.unicef.org/indonesia/id/health_nutrition_7194.html. Diakses
pada tanggal 19 Oktober 2017
6. Fikri. 2017. Kasus Flu Burung Kabupaten Bandung. Diperoleh dari
https://nasional.tempo.co/read/850417/kasus-flu-burung-kabupaten-
bandung-musnahkan-415-itik. Publish 26 Februari 2017. Diakses pada
tanggal 19 Oktober 2017
7. Direktorat Jendera Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. 2007.
Pharmaceutical Care untuk Pasien Flu Burung. Jakarta: Ditjen Bina
Kefarmasian dan Alat Kesehatan
8. Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi
Pandemi Influenza. 2009. Pedoman Umum Pengendalian Penyakit Avian
Influenza (Flu Burung) dan Program Penanggulangannya. Jakarta:
Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.
9. Budiman. Penyakit Flu Burung: Riwayat Alamiah dan Pencegahannya.
Melalui http://jurnalkeperawatan.stikesaisaisyiyahbandung.ac.id diakses
tanggal 19/10/17.
10. Romadhoni, Ahmad. & Haryadi, Trisakti. Efektivitas Kebijakam Strategi
Pengendalian Wabah Flu Burung di Propinsi D.I Yogyakarta, Indonesia.
Melalui http://download.portalgaruda.org diakses tanggal 19/10/17