You are on page 1of 49

TUGAS EPIDEMIOLOGI

PRINSIP-PRINSIP EPIDEMIOLOGI PADA PENYAKIT

OLEH

KELOMPOK 4

Kelas A9.A

Nama Kelompok :

KADEK PANDE JULIANTARI 15.321.2226

MADE RIANA AYU ANDARI 15.321.2234

NI KADEK DEWI AYU MAHARDINI 15.321.2238

NI NYOMAN TRI ARMILAYANTI 15.321.2253

PUTU MONITA MAHARDANI 15.321.2266

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN

STIKES WIRA MEDIKA PPNI BALI

2017
PRINSIP-PRINSIP EPIDEMIOLOGI PENYAKIT

1. RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT DAN TINGKAT-TINGKAT


PENCEGAHAN

Sakit merupakan kondisi yang terjadi akibat perubahan-perubahan struktural dan


fungsional dari jaringan tubuh. Dalam hal ini terjadi perubahan dari kondisi normal
menjadi abnormal. Manifestasi penyakit dapat berupa: gejala-gejala (symptom), tanda-
tanda (sign) dan abnormalitas dari hasil tes laboratorium yang diambil dari jaringan
tubuh. Symptom merupakan gejala-gejala yang dirasakan oleh pasien. Sign merupakan
tanda-tanda yang terdapat pada pasien (hasil pemeriksaan yang didapat pada pasien).

Salah satu tujuan epidemiologi adalah membantu pencegahan dan pengendalian


penyakit dengan cara menemukan penyebab (kausa). Bila didefinisikan penyebab
penyakit adalah berupa kajian, kondisi, karakter atau kombinasi dari faktor-faktor
tersebut yang berperan dalam terjadinya penyakit. Secara logika sebab mendahului
akibat.

Peristiwa terjadinya penyakit

SEBAB ————————————————————> AKIBAT

faktor-faktor risiko sakit

Jenis-jenis hubungan sebab-akibat:

– Tidak berhubungan secara statistic

– Berhubungan secara statistic

 Kausal langsung
 Kausal tidak langsung

Pedoman untuk menunjukkan hubungan sebab akibat

1. Hubungan temporal — sebab mendahului


2. Plausibilitas — apakah hubungan yang ada konsisten tidak dengan ilmu
pengetahuan yang ada
3. Konsistensi — apakah terdapat hasil yang sama ditemukan pada penelitian yang
lain
4. Kekuatan hubungan — apakah hubungan sebab akibat berhubungan secara
statistic yang kuat.
5. Dose-response relationship — apakah ada peningkatan eksposur dengan
peningkatan dampak
6. Reversibilitas — apakah eliminasi eksposur akan menurunkan risiko sakit
7. Disain studi — apakah hasil dari studi sebab akibat, berasal dari studi dengan
desain yang kuat.

Riwayat Alamiah Penyakit

Riwayat alamiah penyakit adalah riwayat perjalanan atau proses terjadinya suatu
penyakit dari awal sampai akhir. Tiap penyakit mempunyai perjalanan alamiah masing-
masing. Tetapi kerangka konsep yang bersifat umum perlu dibuat untuk
mendeskripsikan riwayat perjalanan penyakit pada umumnya.

Tujuan dan Manfaat

Riwayat penyakit dan hasil pemeriksaan fisik akan mengarahkan pemeriksa (tenaga
kesehatan) untuk menetapkan diagnosis dan kemudian memahami bagaimana
perjalanan penyakit yang telah didiagnosis. Hal ini penting untuk dapat menerangkan
tindakan pencegahan, kegansan penyakit, lama kelangsungan hidup penderita (five-year
survival), atau adanya gejala sisa (cacat atau carier). Informasi-inforrmasi ini akan
berguna dalam strategi pencegahan, perencanaan lama perawatan, model pelayan yang
akan dibutuhkan kemudian dan lain sebagainya.

Tahapan

Riwayat alamiah penyakit terdiri dari empat fase: (1) fase rentan, (2) fase subklinis, (3)
fase klinis, (4) fase penyembuhan (konvalesens), cacat dan kematian (terminal). Namun
dapat juga dibuat dalam dua kelompok yaitu periode prepatogenesis dan patogenesis.

Periode prepatogenesis

Periode prepathogenesis adalah adanya interaksi awal antara faktor-faktor host, agent
dan environment. Pada fase ini penyakit belum berkembang tapi kondisi yang
melatarbelakangi untuk terjadinya penyakit telah ada. Fase rentan termasuk dalam
tahapan prepathogenesis.

Fase Rentan (susceptibility phase)

Fase rentan adalah tahap berlangsungnya proses etiologis, di mana faktor penyebab
pertama untuk pertama kalinya bertemu dengan pejamu. Di sini faktor penyebab
pertama belum menimbulkan penyakit, tetapi telah mulai meletakkan dasar-dasar bagi
berkembangnya penyakit. Contoh kolesterol LDL (low density lipoprotein) yang tinggi
meningkatkan kemungkinan kejadian penyakit jantung koroner (PJK), kebiasaan
merokok meningkatkan probabilitas kejadian Ca paru, dsb.

Periode Pathogenesis

Yaitu periode dimana telah dimulai terjadinya kelainan/gangguan pada tubuh manusia
akibat interaksi antara stimulus penyakit dengan manusia sampai terjadinya
kesembuhan, kematian, kelainan yang menetap dan cacat. Periode pathogenesis dapat
dibagi menjadifase subklinis, fase klinis dan fase penyembuhan.

Fase Subklinis

Fase ini disebut juga dengan pre-symtomatic, dimana perubahan faali atau system
dalam tubuh manusia (proses terjadinya sakit) telah terjadi, namun perubahan tersebut
di atas tidak cukup kuat untuk menimbulkan keluhan sakit. Akan tetapi jika dilakukan
pemeriksaan dengan menggunakan alat-alat kesehatan seperti pap smear (alat untuk
mendeteksi adanya kelainan jaringan pada serviks uterus), atau mammografi (alat untuk
mendeksi adanya kelainan jaringan pada payudara) maka akan ditemukan kelainan pada
tubuh mereka. Pada keadaan ini umumnya pencarian pengobatan belum dilakukan.
Penemuan kasus (kelainan) pada tahap pre symptomatic ini pada penyakit tertentu
umumnya akan memberikan keuntungan yang lebih baik I(angka kesembuhan lebih
tinggi atau angka kegansan penyakit lebih rendah). Keadaan ini sering juga disebut
sebagai masa clinically inapparent.

Fase Klinis

Pada fase ini perubahan-perubahan yang terjadi pada jaringan tubuh telah cukup untuk
memunculkan gejala-gejala (symptoms) dan tanda-tanda (signs) penyakit. Fase ini dapat
dibagi menjadi fase akut dan fase kronis.
Fase Konvalesens

Merupakan tahap akhir dari fase klinis yang dapat berupa fase konvalesens
(penyembuhan) dan meninggal. Fase konvalesens dapat berkembang menjadi sembuh
total, sembuh dengan cacat atau gejala sisa (disabilitas atau sekuele) dan penyakit
menjadi kronis.

Disabilitas (kecacatan/ketidakmampuan) dapat terjadi bila ada penurunan fungsi


sebagian atau keseluruhan dari struktur/organ tubuh tertentu sehingga menurunkan
fungsi aktivitas seseorang secara keseluruhan. Disabilitas dapat bersifat sementara
(akut), kronis dan menetap.

Sekuele lebih cenderung kepada adanya defect/cacat pada structural jaringan sehingga
menurunkan fungsi jaringan, akan tetapi tidak sampai mengganggu aktifitas seseorang.

Usaha Pencegahan Penyakit

Disesuaikan dengan riwayat alamiah penyakit maka tindakan preventif terhadap


penyakit secara garis besar dapat dikategorikan menjadi:

1. Tindakan/ usaha preventive primer


2. Tindakan/ usaha preventive sekunder
3. Tindakan/ usaha preventive tertier

Usaha preventive primer (primer prevention)

a. Dilaksanakan pada periode prepathogenesis – stage of susceptibility


b. Tujuan untuk mengadakan intervensi sebelum terjadinya perubahan patologis
pada host, misalnya menjauhkan manusia dari kontak dengan agent.
c. Usaha yang dilakukan adalah:

1. promosi kesehatan
2. memberi perlindungan yang spesifik (specific protection)

Promosi Kesehatan antara lain :

1. penyuluhan, pendidikan kesehatan


2. nutrisi yang sesuai dengan standard bagi tumbuh kembang seseorang
3. kesehatan mental
4. penyediaan perumahan yang sehat
5. rekreasi yang cukup
6. pekerjaan yang sesuai
7. konseling perkawinan dan pendidikan sex
8. genetika
9. pemeriksaan kesehatan berkala

Perlindungan khusus antara lain :

1. imunisasi
2. kebersihan perorangan
3. penggunaan sanitasi lingkungan
4. perlindungan terhadap bahaya pekerjaan
5. perlindungan terhadap kecelakaan
6. penggunaan bahan gizi tertentu
7. perlindungan terhadap karsinogen
8. menghindari allergen

Usaha preventive sekunder

1. Tujuan untuk menyembuhkan atau menghentikan proses penyakit, mencegah


penyebaran penyakit menular, mencegah komplikasi dan gejala sisa serta
memperpendek masa disabilitas.
2. Usaha yang dilakukan adalah:

a. Diagnosis dini dan pengobatan segera


b. Disability limitation (pembatasan kecacatan)
c. Usaha diagnosis dini dan pengobatan segera antara lain:

1. penemuan kasus, perorangan maupun kelompok


2. survey skrining
3. pengobatan dan mencegah penyakit berlanjut
4. mencegah menjalarnya penyakit menular
5. mencegah timbulnya komplikasi dan akibat lanjutan
6. memperpendek masa ketidakmampuan

a. Usaha membatasi ketidak-mampuan antara lain:


1. pengobatan yang cukup untuk menghentikan proses penyakit dan mencegah
komplikasi dan akibat lanjutan.
2. Penyediaan fasilitas untuk membatasi ketidakmampuan dan untuk mencegah
kematian.

Usaha preventive tertier (tertiary prevention)

1. Bila telah terjadi defect/kerusakan struktural ataupun disabilitas maka untuk


mencegah semakin buruknya kondisi atau menetapnya disabilitas dilakukan
usaha preventif tertier dengan rehabilitasi.
2. Tujuan untuk mengembalikan individu tersebut sehingga dapat hidup berguna di
masyarakat dengan keadaan terbatas.
3. Rehabilitasi:

a. Diperlukan penyediaan sarana-sarana untuk pelatihan dan pendidikan


di rumah sakit dan di tempat-tempat umum.
b. Memanfaatkan dan memelihara sebaik-baiknya kapasitas yang masih
tersisa pada seseorang.
c. Melakukan pendidikan dan penyuluhan untuk masyarakat umum dan
masyarakat industri agar memakai tenaga-tenaga yang telah
direhabilitasi sebagai pegawai tetap dan ditempatkan pada tempat-
tempat yang sesuai dengan kecacatannya.

4. Terapi kerja di rumah sakit


5. Menyediakan tempat perlindungan khusus.

Contoh: riwayat alamiah obesitas

Faktor-faktor yang memungkinkan terlibat sebagai faktor risiko (risk factor)


antara lain:

AGENT

a. kelebihan kalori terutama karbohidrat dan lemak

ENVIRONMENT

a. Fisik : iklim, musim — produksi makanan berlimpah


b.Ekonomi : kemampuan daya beli cukup
c. Sosial : keinginan orang tua memberi makan kepada anak melebihi kebutuhan
nutrisi

HOST

a. Nafsu makan yang tinggi


b.Reaksi psikologis terhadap makanan
c. Kelainan hereditas

Periode prepathogenesis

a. Interaksi awal antara agent – host – environment menghasilkan stimulus yang


berupa kelebihan kalori.

Periode pathogenesis

a. Interaksi lanjutan antara stimulus dengan host yang menghasilkan respons berupa
(a) akumulasi lemak jaringan, (b) meningkatnya berat badan melebihi standard
berdasarkan umur, sex dan tinggi badan, (c) distribusi lemak secara menyeluruh
pada tubuh. Fase ini masih dalam clinical inapparent.
b. Bila reaksi antara stimulus dan host terus berlanjut dan telah melibatkan system
organ maka akan timbul gejala-gejala dan tanda-tanda klinis sehingga terjadi hal-
hal seperti: (a) penurunan efisiensi kerja dan aktifitas fisik, (b) efek penurunan
mortalitas meningkat oleh karena aterosklerosis, hipertensi dan diabetes.
c. Akhir perjalanan penyakit dapat berupa:

1) Sembuh — normal kembali


2) Defect — hipertensi, diabetes
3) Disabilitas — sulit bergerak
4) Meninggal
2. TIPE MIKROORGANISME PENYEBAB INFEKSI

Penyebab infeksi dibagi menjadi 4 kategori, yaitu:

Bakteri
Bakteri merupakan penyebab terbanyak dari infeksi. Ratusan spesies bakteri
dapat menyebabkan penyakit pada tubuh manusia dan dapat hidup didalamnya,
bakteri bisa masuk melalui udara, air, tanah, makanan, cairan dan jaringan tubuh
dan benda mati lainnya.

Virus
Virus terutama berisi asam nukleat (nucleic acid), karenanya harus masuk dalam
sel hidup untuk diproduksi.

Fungi
Fungi terdiri dari ragi dan jamur

Parasit
Parasit hidup dalam organisme hidup lain, termasuk kelompok parasit adalah
protozoa, cacing dan arthropoda.

TIPE INFEKSI

Kolonisasi
Merupakan suatu proses dimana benih mikroorganisme menjadi flora yang
menetap/flora residen. Mikroorganisme bisa tumbuh dan berkembang biak tetapi
tidak dapat menimbulkan penyakit. Infeksi terjadi ketika mikroorganisme yang
menetap tadi sukses menginvasi/menyerang bagian tubuh host/manusia yang
sistem pertahanannya tidak efektif dan patogen menyebabkan kerusakan
jaringan.

Infeksi lokal : spesifik dan terbatas pada bagain tubuh dimana mikroorganisme
tinggal.

Infeksi sistemik : terjadi bila mikroorganisme menyebar ke bagian tubuh yang


lain dan menimbulkan kerusakan.

Bakterimia : terjadi ketika dalam darah ditemukan adanya bakteri

Septikemia : multiplikasi bakteri dalam darah sebagai hasil dari infeksi sistemik

Infeksi akut : infeksi yang muncul dalam waktu singkat

Infeksi kronik : infeksi yang terjadi secara lambat dalam periode yang lama
(dalam hitungan bulan sampai tahun)

RANTAI INFEKSI
Proses terjadinya infeksi seperti rantai yang saling terkait antar berbagai faktor
yang mempengaruhi, yaitu agen infeksi, reservoir, portal of exit, cara penularan,
portal of entry dan host/ pejamu yang rentan.

AGEN INFEKSI
Microorganisme yang termasuk dalam agen infeksi antara lain bakteri, virus,
jamur dan protozoa. Mikroorganisme di kulit bisa merupakan flora transient
maupun resident. Organisme transient normalnya ada dan jumlahnya stabil,
organisme ini bisa hidup dan berbiak di kulit. Organisme transien melekat pada
kulit saat seseorang kontak dengan obyek atau orang lain dalam aktivitas
normal. Organisme ini siap ditularkan, kecuali dihilangkan dengan cuci tangan.
Organisme residen tidak dengan mudah bisa dihilangkan melalui cuci tangan
dengan sabun dan deterjen biasa kecuali bila gosokan dilakukan dengan
seksama. Mikroorganisme dapat menyebabkan infeksi tergantung pada: jumlah
microorganisme, virulensi (kemampuan menyebabkan penyakit), kemampuan
untuk masuk dan bertahan hidup dalam host serta kerentanan dari host/penjamu.

RESERVOAR (Sumber Mikroorganisme)


Adalah tempat dimana mikroorganisme patogen dapat hidup baik berkembang
biak atau tidak. Yang bisa berperan sebagai reservoir adalah manusia, binatang,
makanan, air, serangga dan benda lain. Kebanyakan reservoir adalah tubuh
manusia, misalnya di kulit, mukosa, cairan maupun drainase. Adanya
microorganisme patogen dalam tubuh tidak selalu menyebabkan penyakit pada
hostnya. Sehingga reservoir yang di dalamnya terdapat mikroorganisme patogen
bisa menyebabkan orang lain menjadi sakit (carier). Kuman akan hidup dan
berkembang biak dalam reservoar jika karakteristik reservoarnya cocok dengan
kuman. Karakteristik tersebut yaitu oksigen, air, suhu, pH, dan pencahayaan.

PORTAL OF EXIT (Jalan Keluar)


Mikroorganisme yang hidup di dalam reservoir harus menemukan jalan keluar
(portal of exit untuk masuk ke dalam host dan menyebabkan infeksi. Sebelum
menimbulkan infeksi, mikroorganisme harus keluar terlebih dahulu dari
reservoarnya. Jika reservoarnya manusia, kuman dapat keluar melalui saluran
pernapasan, pencernaan, perkemihan, genitalia, kulit dan membrane mukosa
yang rusak serta darah.

CARA PENULARAN (Transmission)


Kuman dapat menular atau berpindah ke orang lain dengan berbagai cara seperti
kontak langsung dengan penderita melalui oral, fekal, kulit atau darahnya;kontak
tidak langsung melalui jarum atau balutan bekas luka penderita; peralatan yang
terkontaminasi; makanan yang diolah tidak tepat; melalui vektor nyamuk atau
lalat.

PORTAL MASUK (Port de Entry)


Sebelum seseorang terinfeksi, mikroorganisme harus masuk dalam tubuh. Kulit
merupakan barier pelindung tubuh terhadap masuknya kuman infeksius.
Rusaknya kulit atau ketidakutuhan kulit dapat menjadi portal masuk. Mikroba
dapat masuk ke dalam tubuh melalui rute atau jalan yang sama dengan portal
keluar. Faktor-faktor yang menurunkan daya tahan tubuh memperbesar
kesempatan patogen masuk ke dalam tubuh.

DAYA TAHAN HOSPES (MANUSIA)


Seseorang terkena infeksi bergantung pada kerentanan terhadap agen infeksius.
Kerentanan bergantung pada derajat ketahanan tubuh individu terhadap patogen.
Meskipun seseorang secara konstan kontak dengan mikroorganisme dalam
jumlah yang besar, infeksi tidak akan terjadi sampai individu rentan terhadap
kekuatan dan jumlah mikroorganisme tersebut. Beberapa faktor yang
mempengaruhi kerentanan tubuh terhadap kuman yaitu usia, keturunan, stress
(fisik dan emosional), status nutrisi, terapi medis, pemberian obat dan penyakit
penyerta.

PROSES INFEKSI
Infeksi terjadi secara progresif dan beratnya infeksi pada klien tergantung dari
tingkat infeksi, patogenesitas mikroorganisme dan kerentanan penjamu. Dengan
proses perawatan yang tepat, maka akan meminimalisir penyebaran dan
meminimalkan penyakit. Perkembangan infeksi mempengaruhi tingkat asuhan
keperawatan yang diberikan.
Berbagai komponen dari sistem imun memberikan jaringan kompleks
mekanisme yang sangat baik, yang jika utuh, berfungsi mempertahankan tubuh
terhadap mikroorganisme asing dan sel-sel ganas. Pada beberapa keadaan,
komponen-komponen baik respon spesifik maupun nonspesifik bisa gagal dan
hal tersebut mengakibatkan kerusakan pertahanan hospes. Orang-orang yang
mendapat infeksi yang disebabkan oleh defisiensi dalam pertahanan dari segi
hospesnya disebut hospes yang melemah. Sedangkan orang-orang dengan
kerusakan mayor yang berhubungan dengan respon imun spesifik disebut hospes
yang terimunosupres.
Efek dan gejala nyata yang berhubungan dengan kelainan pertahanan hospes
bervariasi berdasarkan pada sistem imun yang rusak. Ciri-ciri umum yang
berkaitan dengan hospes yang melemah adalah: infeksi berulang, infeksi kronik,
ruam kulit, diare, kerusakan pertumbuhan dan meningkatnya kerentanan
terhadap kanker tertentu. Secara umum proses infeksi adalah sebagai berikut:

Periode/ Masa Inkubasi


Interval antara masuknya patogen ke dalam tubuh dan munculnya gejala
pertama.
Contoh: flu 1-3 hari, campak 2-3 minggu, mumps/gondongan 18 hari

Tahap Prodromal
Interval dari awitan tanda dan gejala nonspesifik (malaise, demam ringan,
keletihan) sampai gejala yang spesifik. Selama masa ini, mikroorganisme
tumbuh dan berkembang biak dan klien lebih mampu menyebarkan penyakit ke
orang lain.
Tahap Sakit
Klien memanifestasikan tanda dan gejala yang spesifik terhadap jenis infeksi.
Contoh: demam dimanifestasikan dengan sakit tenggorokan, mumps
dimanifestasikan dengan sakit telinga, demam tinggi, pembengkakan kelenjar
parotid dan saliva.

Pemulihan
Interval saat munculnya gejala akut infeksi

PERTAHANAN TERHADAP INFEKSI


Tubuh memiliki pertahanan normal terhadap infeksi. Flora normal tubuh yang
tinggal di dalam dan luar tubuh melindungi seseorang dari beberapa patogen.
Setiap sistem organ memiliki mekanisme pertahanan terhadap agen infeksius.
Flora normal, sistem pertahanan tubuh dan inflamasi adalah pertahanan
nonspesifik yang melindungi terhadap mikroorganisme.

Flora Normal
Secara normal tubuh memiliki mikroorganisme yang ada pada lapisan
permukaan dan di dalam kulit, saliva, mukosa oral dan saluran gastrointestinal.
Manusia secara normal mengekskresi setiap hari trilyunan mikroba melalui usus.
Flora normal biasanya tidak menyebabkan sakit tetapi justru turut berperan
dalam memelihara kesehatan. Flora ini bersaing dengan mikroorganisme
penyebab penyakit unuk mendapatkan makanan. Flora normal juga
mengekskresi substansi antibakteri dalam dinding usus. Flora normal kulit
menggunakan tindakan protektif dengan meghambat multiplikasi organisme
yang menempel di kulit. Flora normal dalam jumlah banyak mempertahankan
keseimbangan yang sensitif dengan mikroorganisme lain untuk mencegah
infeksi. Setiap faktor yang mengganggu keseimbangan ini mengakibatkan
individu semakin berisiko mendapat penyakit infeksi.

Sistem Pertahanan Tubuh


Sejumlah sistem organ tubuh memiliki pertahanan unik terhadap
mikroorganisme. Kulit, saluran pernafasan dan saluran gastrointestinal sangat
mudah dimasuki oleh mikroorganisme. Organisme patogen dengan mudah
menempel pada permukaan kulit, diinhalasi melalui pernafasan atau dicerna
melalui makanan. Setiap sistem organ memiliki mekanisme pertahanan yang
secara fisiologis disesuaikan dengan struktur dan fungsinya.

Berikut ini adalah mekanisme pertahanan normal terhadap infeksi:


Mekanisme pertahanan Faktor pengganggu pertahanan

1. Kulit
a. Permukaan, lapisan yang utuh
b. Pergantian lapisan kulit paling luar
c. Sebum
Luka abrasi, luka pungsi, daerah maserasi
Mandi tidak teratur
Mandi berlebihan

2. Mulut
a. Lapisan mukosa yang utuh
b. Saliva
Laserasi, trauma, cabut gigi
Higiene oral yang tidak baik, dehidrasi

3. Saluran pernafasan
a. Lapisan silia di jalan nafas bagian atas diselimuti oleh mukus
b. Makrofag
Merokok, karbondioksida & oksigen konsentrasi tinggi, kurang lembab, air
dingin
Merokok

4. Saluran urinarius
a. Tindakan pembilasan dari aliran urine
b. Lapisan epitel yang utuh
Obstruksi aliran normal karena pemasangan kateter, menahan kencing, obstruksi
karena pertumbuhan tumor.
Memasukkan kateter urine, pergerakan kontinyu dari kateter dalam uretra.
5. Saluran gastrointestinal
a. Keasaman sekresi gaster
b. Peristaltik yang cepat dalam usus kecil
Pemberian antasida
Melambatnya motilitas karena pengaruh fekal atau obstruksi karena massa

6. Vagina
a. Pada puberitas, flora normal menyebabkan sekresi vagina untuk mencapai pH
yang rendah
Antibiotik dan kontrasepsi oral mengganggu flora normal

Inflamasi
Inflamasi merupakan reaksi protektif vaskular dengan menghantarkan cairan,
produk darah dan nutrien ke jaringan interstisial ke daerah cidera. Proses ini
menetralisasi dan mengeliminasi patogen atau jaringan mati (nekrotik) dan
memulai cara-cara perbaikan jaringa tubuh. Tanda inflamasi termasuk bengkak,
kemerahan, panas, nyeri/nyeri tekan, dan hilangnya fungsi bagian tubuh yang
terinflamasi. Bila inflamasi menjadi sistemik akan muncul tanda dan gejala
demam, leukositas, malaise, anoreksia, mual, muntah dan pembesaran kelenjar
limfe.

Respon inflamasi dapat dicetuskan oleh agen fisik, kimiawi atau


mikroorganisme. Respon inflamasi termasuk hal berikut ini:

a. respon seluler dan vaskuler


Arteriol yang menyuplai darah yang terinfeksi atau yang cidera berdilatasi,
memungkinkan lebih banyak darah masuk dala sirkulasi. Peningkatan darah
tersebut menyebabkan kemerahan pada inflamasi. Gejala hangat lokal dihasilkan
dari volume darah yang meningkat pada area yang inflamasi. Cidera
menyebabkan nekrosis jaringan dan akibatnya tubuh mengeluarkan histamin,
bradikinin, prostaglandin dan serotonin. Mediator kimiawi tersebut
meningkatkan permeabilitas pembuluh darah kecil. Cairan, protein dan sel
memasuki ruang interstisial, akibatnya muncul edema lokal.
Tanda lain inflamasi adalah nyeri. Pembengkakan jaringan yang terinflamasi
meningkatkan tekanan pada ujung syaraf yang mengakibatkan nyeri. Substansi
kimia seperti histamin menstimuli ujung syaraf. Sebagai akibat dari terjadinya
perubahan fisiologis dari inflamasi, bagian tubuh yang terkena biasanya
mengalami kehilangan fungsi sementara dan akan kembali normal setelah
inflamasi berkurang.

b. pembentukan eksudat inflamasi


akumulasi cairan dan jaringan mati serta SDP membentuk eksudat pada daerah
inflamasi. Eksudat dapat berupa serosa (jernih seperti plasma), sanguinosa
(mengandung sel darah merah) atau purulen (mengandung SDP dan bakteri).
Akhirnya eksudat disapu melalui drainase limfatik. Trombosit dan protein
plasma seperti fibrinogen membentuk matriks yang berbentuk jala pada tempat
inflamasi untuk mencegah penyebaran.

c. perbaikan jaringan
Sel yang rusak akhirnya digantikan oleh sel baru yang sehat. Sel baru
mengalami maturasi bertahap sampai sel tersebut mencapai karakteristik struktur
dan bentuk yang sama dengan sel sebelumnya

Respon Imun
Saat mikroorganisme masuk dalam tubuh, pertama kali akan diserang oleh
monosit. Sisa mikroorganisme tersebut yang akan memicu respon imun. Materi
asing yang tertinggal (antigen) menyebabkan rentetan respon yang mengubah
susunan biologis tubuh. Setelah antigen masuk dala tubuh, antigen tersebut
bergerak ke darah atau limfe dan memulai imunitas seluler atau humural.

1. Imunitas selular
Ada kelas limfosit, limfosit T (CD4T) dan limfosit B (sel B). Limfosit T
memainkan peran utama dalam imunitas seluler. Ada reseptor antigen pada
membran permukaan limfosit CD4T. Bila antigen bertemu dengan sel yang
reseptor permukaannya sesuai dengan antigen, maka akan terjadi ikatan. Ikatan
ini mengaktifkan limfosit CD4T untuk membagi diri dengan cepat untuk
membentuk sel yang peka. Limfosit yang peka bergerak ke daerah inflamasi,
berikatan dengan antigen dan melepaskan limfokin. Limfokin menarik &
menstimulasi makrofag untuk menyerang antigen
2. Imunitas humoral
Stimulasi sel B akan memicu respon imun humoral, menyebabkan sintesa
imunoglobulin/antibodi yang akan membunuh antigen. Sel B plasma dan sel B
memori akan terbentuk apabila sel B berikatan dengan satu antigen. Sel B
mensintesis antibodi dalam jumlah besar untuk mempertahankan imunitas,
sedangkan sel B memori untuk mempersiapkan tubuh menghadapi invasi
antigen.

3. Antibodi
Merupakan protein bermolekul besar, terbagi menjadi imunoglobulin A, M, D,
E, G. Imunoglobulin M dibentuk pada saat kontak awal dengan antigen,
sedangkan IgG menandakan infeksi yang terakhir. Pembentukan antibodi
merupakan dasar melakukan imunisasi.

4. Komplemen
Merupakan senyawa protein yang ditemukan dalam serum darah. Komplemen
diaktifkan saat antigen dan antibodi terikat. Komplemen diaktifkan, maka akan
terjadi serangkaian proses katalitik.

5. Interferon
Pada saat tertentu diinvasi oleh virus. Interferon akan mengganggu kemampuan
virus dalam bermultiplikasi.

Infeksi Nosokomial
Nosokomial berasal dari kata Yunani nosocomium, yang berarti rumah sakit.
Maka, kata nosokomial artinya "yang berasal dari rumah sakit" kata infeksi
cukup jelas artinya, yaitu terkena hama penyakit.Menurut Patricia C Paren,
pasien dikatakan mengalami infeksi nosokomial jika pada saat masuk belum
mengalami infeksi kemudian setelah dirawat selama 48-72 jam klien menjadi
terinfeksi Infeksi nosokomial bisa bersumber dari petugas kesehatan, pasien
yang lain, alat dan bahan yang digunakan untuk pengobatan maupun dari
lingkungan Rumah Sakit
Unit perawatan intensif (UPI) merupakan area dalam RS yang berisiko tinggi
terkena Inos. Alasan ruang UPI berisiko terjadi infeksi nosokomial:
a. Klien di ruang ini mempunyai penyakit kritis
b. Peralatan invasif lebih banyak digunakan di ruang ini
c. Prosedur invasif lebih banyak dilakukan
d. Seringkali prosedur pembedahan dilakukan di ruang ini karena kondisi darurat
e. Penggunaan antibiotik spektrum luas
f. Tuntutan tindakan yang cepat membuat perawat lupa melakukan tehnik
aseptik

Infeksi iatroigenik merupakan jenis inos yg diakibatkan oleh prosedur diagnostik


(ex:infeksi pada traktus urinarius yg terjadi setelah insersi kateter). Inos dapat
terjadi secara eksogen dan endogen. Infeksi eksogen didapat dari
mikroorganisme eksternal terhadap individu, yang bukan merupakan flora
normal. Infeksi endogen terjadi bila sebagian dari flora normal klien berubah
dan terjadi pertumbuhan yang berlebihan.

Faktor yang berpengaruh pada kejadian infeksi klien:


a. Jumlah tenaga kesehatan yang kontak langsung dng pasien
b. Jenis dan jumlah prosedur invasif
c. Terapi yang diterima
d. Lamanya perawatan

Penyebab infeksi nosokomial meliputi:


Traktus urinarius:
Pemasangan kateter urine
Sistem drainase terbuka
Kateter dan selang tdk tersambung
Obstruksi pada drainase urine
Tehnik mencuci tangan tidak tepat

Traktus respiratorius:
Peralatan terapi pernafasan yang terkontaminasi
Tdk tepat penggunaan tehnik aseptif saat suction
Pembuangan sekresi mukosa yg kurang tepat
Tehnik mencuci tangan tidak tepat
Luka bedah/traumatik:
Persiapan kulit yg tdk tepat sblm pembedahan
Tehnik mencuci tangan tidak tepat
Tdk memperhatikan tehnik aseptif selama perawatan luka
Menggunakan larutan antiseptik yg terkontaminasi

Aliran darah:
Kontaminasi cairan intravena saat penggantian
Memasukkan obat tambahan dalam cairan intravena
Perawatan area insersi yg kurang tepat
Jarum kateter yg terkontaminasi
Tehnik mencuci tangan tidak tepat

Asepsis
Asepsis berarti tidak adanya patogen penyebab penyakit. Tehnik aseptik adalah
usaha yang dilakukan untuk mempertahankan klien sedapat mungkin bebas dari
mikroorganisme. Asepsis terdiri dari asepsis medis dan asepsis bedah. Asepsis
medis dimaksudkan untuk mencegah penyebaran mikroorganisme. Contoh
tindakan: mencuci tangan, mengganti linen, menggunakan cangkir untuk obat.
Obyek dinyatakan terkontaminasi jika mengandung/diduga mengandung
patogen. Asepsis bedah, disebut juga tehnik steril, merupakan prosedur untuk
membunuh mikroorganisme. Sterilisasi membunuh semua mikroorganisme dan
spora, tehnik ini digunakan untuk tindakan invasif. Obyek terkontaminasi jika
tersentuh oleh benda tidak steril.

Prinsip-prinsip asepsis bedah adalah sebagai berikut:


Segala alat yang digunakan harus steril
Alat yang steril akan tidak steril jika tersentuh
Alat yang steril harus ada pada area steril
Alat yang steril akan tidak steril jika terpapar udara dalam waktu lama
Alat yang steril dapat terkontaminasi oleh alat yang tidak steril
Kulit tidak dapat disterilkan
Tehnik Isolasi
Merupakan cara yang dibuat untuk mencegah penyebaran infeksi atau
mikroorganisme yang bersifat infeksius bagi kesehatan individu, klien dan
pengunjung. Dua sistem isolasi yang utama adalah:
Centers for disease control and prevention (CDC) precaution
Body Subtance Isolation (BSI) System

CDC meliputi prosedur untuk:


Category-Specific Isolation precaution
Disease-Specific Isolation
Universal precaution
Category-Specific Isolation precaution meliputi:
1. Strict isolation
Untuk wabah dipteri pneumonia, varicella
Untuk mencegah penyebaran lewat udara
Perlu ruangan khusus, pintu harus dalam keadaan tertutup
Setiap orang yang memasuli ruangan harus menggunakan gaun, cap dan sepatu
yang direkomendasikan
Harus menggunakan masker
Harus menggunakan sarung tangan
Perlu cuci tangan setiap kontak
Menggunakan disposal

2. Contact isolation
Untuk infeksi pernafasan akut, influensa pada anak-anak, infeksi kulit, herpes
simplex, rubela scabies
Mencegah penyebaran infeksi dengan membatasi kontak
Perlu ruangan khusus
Harus menggunakan gaun jika ada cairan
Harus menggunakan masker jika kontak dengan klien
Memakai sarung tangan jika menyentuh bahan-bahan infeksius
Perlu cuci tangan setiap kontak
Menggunakan disposal

3. Respiratory isolation
Untuk epiglotis, meningitis, pertusis, pneumonia dll
Untuk mencegah penyebaran infeksi oleh tisu dan droplet pernapasan karena
batuk, bersin, inhalasi
Perlu ruangan khusus
Tidak perlu gaun
Harus memakai masker
Tidak perlu menggunakan sarung tangan
Perlu cuci tangan setiap kontak
Menggunakan disposal

4. Tuberculosis isolation
Untuk TBC
Untuk mencegah penyebaran acid fast bacilli
Perlu ruangan khusus dengan tekanan negatif
Perlu menggunakan gaun jika pakaian terkontaminasi
Harus memakai masker
Tidak perlu menggunakan sarung tangan
Perlu cuci tangan setiap kontak
Bersihkan disposal dan disinfektan meskipun jarang menyebabkan perpindahan
penyakit

5. Enteric precaution
Untuk hepatitis A, gastroenteritis, demam tipoid, kolera, diare dengan penyebab
infeksius, encepalitis, meningitis
Untuk mencegah penyebaran infeksi melalui kontak langsung atau tidak
langsung dengan feces
Perlu runagn khusus jika kebersihan klien buruk
Perlu gaun jika pakaian terkontaminasi
Tidak perlu masker
Perlu sarung tangan jika menyentuh bahan-bahan infeksius
Perlu cuci tangan setiap kontak
Menggunakan disposal

6. Drainage/ secretion precaution


Untuk drainasi lesi, abses, infeksi luka bakar, infeksi kulit, luka dekubitus,
konjungtivis
Mencegah penyebaran infeksi, membatasi kontak langsung maupun tidak
langsung dengan material tubuh
Tidak perlu ruangan khusus kecuali kebersihan klien buruk
Perlu gaun jika pakaian terkontaminasi
Tidak perlu masker
Perlu sarung tangan jika menyentuh bahan-bahan infeksius
Perlu cuci tangan setiap kontak
Menggunakan disposal

7. Blood/ body fluid precaution


Untuk hepatitis b, sipilis, AIDS, malaria
Mencegah penyebaran infeksi, membatasi kontak langsung maupun tidak
langsung dengan cairan tubuh
Tidak perlu ruangan khusus kecuali kebersihan klien buruk
Perlu gaun jika pakaian terkontaminasi
Tidak perlu masker
Perlu sarung tangan jiak menyentuh darah dan cairan tubuh
Perlu cuci tangan setiap kontak
Menggunakan disposal

Disease-Specific Isolation
Untuk pencegahan penyakit specifik
Contoh tuberkulosis paru
Kamar khusus
Gunakan masker
Tidak perlu sarung tangan

Body Subtance Isolation (BSI) System


Tujuan
Mencegah transmisi silang mikroorganisme
Melindungi tenaga kesehatan dari mikroorganisme dari klien

Elemen BSI
Cuci tangan
Memakai sarung tangan bersih
Menggunakan gaun, masker, cap, sepatu, kacamata
Membuang semua alat invasif yg telah digunakan
Tempat linen sebelum dicuci
Tempatkan diposibel pada sebuah plastik
Cuci dan sterilkan alat yang telah digunakan
Tempatkan semua specimen pada plastik sebelum ditranport ke laboratorium

Pencegahan infeksi di rumah:


Cuci tangan
Jaga kebersihan kuku
Gunakan alat-alat personal
Cuci sayuran dan buah sebelum dimakan
Cuci alat yang akan digunakan
Letakkan alat-alat yang terinfeksi pada plastik
Bersihkan seprei
Cegah betuk, bersin, bernapas langsung dengan orang lain
Perhatian pada tanda dan gejala infeksi
Pertahankan intake
3. Pendekatan Epidemiologi Terhadap Penyakit

Frekuensi masalah kesehatan

a. Masalah kesehatan sebagai subjek dan objek epidemiologi


Epidemiologi tidak hanya sekedar mempelajari masalah-masalah penyakit-penyakit
saja, tetapi juga mencakup masalah kesehatan yang sangat luas ditemukan di
masyarakat. Diantaranya masalah keluarga berencana, masalah kesehatan lingkungan,
pengadaan tenaga kesehatan, pengadaan sarana kesehatan dan sebagainya. Dengan
demikian, subjek dan objek epidemiologi berkaitan dengan masalah kesehatan secara
keseluruhan.
b. Masalah kesehatan pada sekelompok manusia
Pekerjaan epidemiologi dalam mempelajari masalah kesehatan, akan memanfaatkan
data dari hasil pengkajian terhadap sekelompok manusia, apakah itu menyangkut
masalah penyakit, keluarga berencana atau kesehatan lingkungan. Setelah dianalisis dan
diketahui penyebabnya dilakukan upaya-upaya penanggulangan sebagai tindak
lanjutnya.
c. Pemanfaatan data tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan dalam
merumuskan penyebab timbulnya suatu masalah kesehatan.
Pekerjaan epidemiologi akan dapat mengetahui banyak hal tentang masalah kesehatan
dan penyebab dari masalah tersebut dengan cara menganalisis data tentang frekuensi
dan penyebaran masalah kesehatan yang terjadi pada sekelompok manusia atau
masyarakat. Dengan memanfaatkan perbedaan yang kemudian dilakukan uji statistik,
maka dapat dirumuskan penyebab timbulnya masalah kesehatan.
B. Natural history of deseases
Riwayat alamiah suatu penyakit dapat digolongkan dalam 5 tahap :
1. Pre Patogenesis
Tahap ini telah terjadi interaksi antara penjamu dengan bibit penyakit, tetapi interaksi
ini terjadi di luar tubuh manusia, dalam arti bibit penyakit berada di luar tubuh manusia
dan belum masuk ke dalam tubuh. Pada keadaan ini belum ditemukan adanya tanda-
tanda penyakit dan daya tahan tubuh penjamu masih kuat dan dapat menolak penyakit.
Keadaan ini disebut sehat.
2. Tahap inkubasi (sudah masuk Patogenesis)
Pada tahap ini biit penyakit masuk ke tubuh penjamu, tetapi gejala-gejala penyakit
belum nampak. Tiap-tiap penyakit mempunyai masa inkubasi yang berbeda. Kolera 1-2
hari, yang bersifat menahun misalnya kanker paru, AIDS dll.
3. Tahap penyakit dini
Tahap ini mulai dihitung dari munculnya gejala-gejala penyakit, pada tahap ini penjamu
sudah jatuh sakit tetapi masih ringan dan masih bisa melakukan aktifitas sehari-hari.
Bila penyakit segera diobati, mungkin bisa sembuh, tetapi jika tidak, bisa bertambah
parah. Hal ini terganting daya tahan tubuh manusia itu sendiri, seperti gizi, istirahat dan
perawatan yang baik di rumah (self care).
4. Tahap penyakit lanjut
Bila penyakit penjamu bertambah parah, karena tidak diobati/tidak terturn atau tidak
memperhatikan anjuran-anjuran yang diberikan pada penyakit dini, maka penyakit
masuk pada tahap lanjut. Penjamu terlihat tak berdaya dan tak sanggup lagi melakukan
aktifitas. Tahap ini penjamu memerlukan perawatan dan pengobatan yang intensif.
5. Tahap penyakit akhir
Tahap akhir dibagi menjadi 5 keadaan :
a. Sembuh sempurna (bentuk dan fungsi tubuh penjamu kembali berfungsi seperti
keadaan sebelumnya/bebeas dari penyakit)
b. Sembuh tapi cacat ; penyakit penjamu berakhir/bebas dari penyakit, tapi
kesembuhannya tak sempurna, karena terjadi cacat (fisik, mental maupun sosial)
dan sangat tergantung dari serangan penyakit terhadap organ-organ tubuh
penjamu.
c. Karier : pada karier perjalanan penyakit seolah terhenti, karena gejala
penyakit tak tampak lagi, tetapi dalam tubuh penjamu masih terdapat bibit
penyakit, yang pada suatu saat bila daya tahan tubuh penjamu menurun akan
dapat kembuh kembali. Keadaan ini tak hanya membahayakan penjamu sendiri,
tapi dapat berbahaya terhadap orang lain/masyarakat, karena dapat menjadi
sumber penularan penyakit (human reservoir)
d. Kronis ; pada tahap ini perjalanan penyakit tampak terhenti, tapi gejala-gejala
penyakit tidak berubah. Dengan kata lain tidak bertambah berat maupun ringan.
Keadaan ini penjamu masih tetap berada dalam keadaan sakit.
e. Meninggal ; Apabila keadaan penyakit bertambah parah dan tak dapat diobati
lagi, sehingga berhentinya perjalanan penyakit karena penjamu meninggal dunia.
Keadaan ini bukanlah keadaan yang diinginkan.

C. Upaya pencegahan dan ukuran frekuensi penyakit.


Dalam kesehatan masyarakat ada 5 (lima) tingkat pencegahan penyakit menurut
Leavell and Clark. Pada point 1 dan 2 dilakukan pada masa sebelum sakit dan
point 3,4,5 dilakukan pada masa sakit.
1. Peningkatan kesehatan (health promotion)
a. Penyediaan makanan sehat dan cukup (kualitas maupun kuantitas)
b. Perbaikan hygiene dan sanitasi lingkungan, misalnya penyediaan air
bersih, pembuangan sampah, pembuangan tinja dan limbah.
c. Pendidikan kesehatan kepada masyarakat. Misal untuk kalangan
menengah ke atas di negara berkembang terhadap resiko jantung
koroner.
d. Olahraga secara teratur sesuai kemampuan individu.
e. Kesempatan memperoleh hiburan demi perkembangan mental dan
sosial.
f. Nasihat perkawinan dan pendidikan seks yang bertanggung jawab.
2. Perlindungan umum dan khusus terhadap penyakit-penyakit tertentu
(general and specific protection)
a. Memberikan immunisasi pada golongan yang rentan untuk mencegah
penyakit
b. Isolasi terhadap penderita penyakit menular, misal yang terkena flu
burung.
c. Pencegahan terjadinya kecelakaan baik di tempat umum maupun tempat
kerja.
d. Perlindungan terhadap bahan-bahan yang bersifat karsinogenik, bahan-
bahan racun maupun alergi.
e. Pengendalian sumber-sumber pencemaran.
3. Penegakkan diagnosa secara dini dan pengobatan yang cepat dan tepat
(early diagnosis and prompt treatment)
a. Mencari kasus sedini mungkin.
b. Mencari penderita dalam masyarakat dengan jalan pemeriksaan .
Misalnya pemeriksaan darah, rontgent paru.
c. Mencari semua orang yang telah berhubungan dengan penderita penyakit
menular (contact person) untuk diawasi agar bila penyakitnya timbul dapat
segera diberikan pengobatan.
d. Meningkatkan keteraturan pengobatan terhadap penderita
e. Pemberian pengobatan yang tepat pada setiap permulaan kasus.

4. Pembatasan kecacatan (dissability limitation)


a. Pengobatan dan perawatan yang sempurna agar penderita sembuh dan tak
terjadi komplikasi.
b. Pencegahan terhadap komplikasi dan kecacatan.
c. Perbaikan fasilitas kesehatan sebagai penunjang untuk dimungkinkan
pengobatan dan perawatan yang lebih intensif.

5. Pemulihan kesehatan (rehabilitation)


a. Mengembangkan lembaga-lembaga rehabilitasi dengan mengikutsertakan
masyarakat.
b. Menyadarkan masyarakat untuk menerima mereka kembali dengan
memberikan dukungan moral setidaknya bagi yang bersangkutan untuk
bertahan.
c. Mengusahakan perkampungan rehabilitasi sosial sehingga setiap
penderita yang telah cacat mampu mempertahankan diri.
d. Penyuluhan dan usaha-usaha kelanjutan yang harus tetap dilakukan
seseorang setelah ia sembuh dari suatu penyakit.
Beaglehole (WHO, 1993) membagi upaya pencegahan menjadi 3 bagian :
primordial prevention (pencegahan awal) yaitu pada pre patogenesis,
primary prevention (pencegahan pertama) yaitu health promotion dan
general and specific protection , secondary prevention (pencegahan tingkat
kedua) yaitu early diagnosis and prompt treatment dan tertiary prevention
(pencegahan tingkat ketiga) yaitu dissability limitation.
Ukuran frekuensi penyakit menunjukkan kepada besarnya masalah
kesehatan yang terdapat pada kelompok manusia/masyarakat. Artinya bila
dikaitkan dengan masalah penyakit menunjukkan banyaknya kelompok
masyarakat yang terserang penyakit. Untuk mengetahui frekuensi masalah
kesehatan yang terjadi pada sekelompok orang/masyarakat dilakukan
langkah-langkah :
1. Menemukan masalah kesehatan, melalui cara : penderita yang
datang ke puskesmas, laporan dari masyarakat yang datang ke
puskesmas.
2. Research/survei kesehatan. Misal : Survei Kesehatan Rumah
Tangga
3. Studi kasus. Misal : kasus penyakit pasca bencana tsunami.
Penelitian epidemiologi
Secara sederhana, studi epidemiologi dapat dibagi menjadi dua kelompok
sebagai berikut :
1. Epidemiologi deskriptif, yaitu Cross Sectional Study/studi potong
lintang/studi prevalensi atau survei.
2. Epidemiologi analitik : terdiri dari :
a. Non eksperimental :
1) Studi kohort / follow up / incidence / longitudinal / prospektif
studi. Kohort diartiakan sebagai sekelompok orang. Tujuan studi
mencari akibat (penyakitnya).
2) Studi kasus kontrol/case control study/studi retrospektif.
Tujuannya mencari faktor penyebab penyakit.
3) Studi ekologik. Studi ini memakai sumber ekologi sebagai
bahan untuk penyelidikan secara empiris faktor resiko atau
karakteristik yang berada dalam keadaan konstan di masyarakat.
Misalnya, polusi udara akibat sisa pembakaran BBM yang terjadi
di kota-kota besar.
b. Eksperimental. Dimana penelitian dapat melakukan
manipulasi/mengontrol faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
hasil penelitian dan dinyatakan sebagai tes yang paling baik untuk
menentukan cause and effect relationship serta tes yang
berhubungan dengan etiologi, kontrol, terhadap penyakit maupun
untuk menjawab pertanyaan masalah ilmiah lainnya. Studi
eksperimen dibagi menjadi 2 (dua) yaitu :
1. Clinical Trial. Contoh :
a) Pemberian obat hipertensi pada orang dengan tekanan
darah tinggi untuk mencegah terjadinya stroke.
b) Pemberian Tetanus Toxoid pada ibu hamil untuk
menurunkan frekuensi Tetanus Neonatorum.
2. Community Trial. Contoh : Studi Pemberian zat
flourida pada air minum.
Epidemiologi keperawatan
Dalam ilmu keperawatan dikenal istilah community health nursing (CHN) atau
keperawatan kesehatan masyarakat, dimana ilmu pengetahuan epidemiologi
digunakan CHN sebagai alat meneliti dan mengobservasi pada pekerjaan dan sebagai
dasar untuk intervensi dan evaluasi literatur riset epidemiologi. Metode epidemiologi
sebagai standard kesehatan, disajikan sebagai alat untuk memperkirakan kebutuhan
masyarakat. Monitoring perubahan status kesehatan masyarakat dan evaluasi
pengaruh program pencegahan penyakit, dan peningkatan kesehatan. Riset/studi
epidemiologi memunculkan badan pengetahuan (body of knowledge) termasuk
riwayat asal penyakit, pola terjadinya penyakit, dan faktor-faktor resiko tinggi
terjadinya penyakit, sebagai informasi awal untuk CHN. Pengetahuan ini memberi
kerangka acuan untuk perencanaan dan evaluasi program intervensi masyarakat,
mendeteksi segera dan pengobatan penyakit, serta meminimalkan kecacatan.
Program utama pencegahan difokuskan pada menjaga jarak perantara penyakit dari
host/tuan rumah yang rentan, pengurangan kelangsungan hidup agent, penambahan
resistensi host dan mengubah kejadian hubungan host, agent, dan lingkungan. Kedua,
program mengurangi resiko dan screening, ketiga : strategi mencegah pada pribadi
perawat dengan body of knowlwdge yang berasal dari riset epidemiologi, sebagai
dasar untuk pengkajian individu dan kebutuhan kesehatan keluarga dan intervensi
perencanaan perawatan.

4. PROSES PENULARAN PENYAKIT


Berdasarkan cara penularan penyakit, dibagi menjadi :

a. Penularan Langsung
b. Penularan tidak langsung

1. Melalui Udara => Daroplet Nuclei, keluar melalui mulut / hidung, dapat
bertahan di debu, lantai, tempat tidur dalam waktu yang lama dan mempunyai
daya tahan yang kuat terhadap lingkungan dan kekeringan
2. Melalui asupan makanan penyakit saluran pencernaan, dimana dapat dibagi lagi
menjadi

a. Water Borne Disesase (Air), Port D’entry nya mulut & kulit
b. Food Borne Disease (makanan)
c. Milkborne Disease (susu)

3. Melalui vektor

a. Mekanik, menempel (tikus)`


b. Biologis, masuk dalam tubuh vektor (nyamuk)

Sumber Infeksi

1. Infeksi Iatrogenik, merupakan penyakit akibat tindakan klinis


2. Hewan Reservoir

a. Hewan Carrier = hewan dari infeksi yang tidak terlihat


b. Hewan sebagai host intermediate = tempat berkembang biak
c. Vector
d. Hewan sebagai amplyfing host, berperan dalam meningkatkan kondisi
yang favourable untuk suatu penyakit

Sekali terpapar, berikutnya dapat menjadi :

1. Incubator Carrier, dapat menularkan penyakit saat periode inkubasi


2. Convalescent Carrier, dapat menularkan penyakit setelah munculnya gejala
penyakit

5. PENDEKATAN EPIDEMIOLOGI TERHADAP PENANGGULANGAN


PENYAKIT NON INFEKSI

A. Masalah Epidemiologi Penyakit Non Infeksi

PERANAN DAN PENDEKATAN EPIDEMIOLOGI DALAM PTM :

a) Peranan

1. Mengetahui distribusi PTM dalam masyarakat

2. Mengetahui penyebab tingginya distribusi PTM dalam suatu masyarakat


3. Menentukan pilihan prioritas dalam menangani masalah PTM

b) Pendekatan Epidemiologi Penyakit Tidak Menular


Epidemiologi berusaha untuk mempelajarai distribusi dan faktor-faktor yang
mempengaruhi terjadinya PTM dalam masyarakat. Untuk itu diperlukan
pendeekatan metodologik, yakni dengan melakukan dengan berbagai penelitian.
Adapun tujuan dari pendekatan epidemiologi ini adalah untuk mengetahui
distribusi dan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya PTM atau
mengetahui faktor determinantnya. Distribusi dalam hal ini diarahkan untuk
melihat beban dari PTM, Trend yang meningkat, frekuensi melalui Rate, Ratio
dan Proporsi.
Pendekatan epidemiologi dalam PTM ini tentunnya jug tidak akan terlepas dari
dasar segitiga epidemiologi (person, place,time), disamping melihat populasi,
dan determinat

JENIS-JENIS PENELITIAN UNTUK PTM


1. Penelitian observasional yang bersifat pasif, penelitian ini sekedar mengamati apa
yang terjadi, tanpa intervensi atau tidak mengontrol/mengarahkan penelitian.
2. Penelitian eksprimental yang bersifat aktif, mengarahkan peneliti untuk
melakukan intervensi sesuai dengan desain yang telah dibuat
a) Penelitian Observasional terdiri dari

1. Penelitian ekologis (Penelitian Korelasi)


Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan korelatif antara
penyakit dan faktor-faktor penelitian
2. Penelitian Cross Sectional
Mempelajari hubungan penyakit dan paparan (faktor penelitian) dengan cara
mengamati status paparan dan penyakit secara serentak
3. Penelitian Kasus Kontrol
Mempelajari hubungan antara paparan (faktor penelitian) dan penyakit dengan
cara membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status
paparannya.
4. Penelitian Kohor
Mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit dengan cara
membandingkan kelompok terpapar (faktor penelitian) dan kelompok tak
terpapar berdasarkan status penyakit

Perhitungan Frekuensi PTM


1. Rate = a/n
2. Ratio = (a/b)
3. Proporsi = a/(a+b)

Proses terjadinya penyakit merupakan interaksi antara agent penyakit, host dan
lingkungan sekitarnya.
1. Untuk penyakit menular, proses terjadinya penyakit akibat interaksi antara : Agent
penyakit (mikroorganisme hidup), manusia dan lingkungan
2. Untuk penyakit tidak menular proses terjadinya penyakit akibat interaksi antara agen
penyakit (non living agent), manusia dan lingkungan.
PENYAKIT – PENYAKIT TIDAK MENULAR YANG BERSIFAT KRONIS
1. Penyakit yang termasuk di dalam penyebab utama kematian, yaitu :
a. Ischaemic Heart Disease
b. Cancer
c. Cerebrovasculer Disease
d. Chronic Obstructive Pulmonary Disease
e. Cirrhosis
f. Diabetes Melitus
2. Penyakit yang termasuk dalam special – interest , banyak menyebabkan masalah
kesehatan tapi jarang frekuensinya (jumlahnya), yaitu
a. Osteoporosis
b. Penyakit Ginjal kronis
c. Mental retardasi
d. Epilepsi
e. Lupus Erithematosus
f. Collitis ulcerative

3. Penyakit yang termasuk akan menjadi perhatian yang akan datang, yaitu :
a. Defisiensi nutrisi
b. Akloholisme
c. Ketagihan obat
d. Penyakit-penyakit mental
e. Penyakit yang berhubungan dengan lingkungan pekerjaan.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan maupun teknologi


maka para ahli membuat klasifikasi baru yaitu:
1. Berdasarkan risikoko yang ditimbulkan oleh penyakit. Hal yang paling
menentukan dari suatu penyakit misalnya tekanan darah pada penyakit hipertensi,
kadar gula darah pada DM & kadar kolesterol pada penyakit jantung
2. Berdasarkan derajat kelainan fungsi tubuh yang ditimbulkan oleh penyakit.
Misalnya pada kelainan virus ditemukan kelainan pendengaran, kelainan
pembicaraan
3. Berdasarkan pengaruhnya terhadap indeks kesehatan penduduk. Misalnya
terhadap CDR, IMR, MMR, & Live expecten.
4. Berdasarkan sifat Multidimensional à menggabungkan pelbagai hal. Misalnya
gejala yang digabung dengan risiko serta kelainan fungsi yang ditimbulkannya.

5. Berdasarkan perjalanannya penyakit dapat dibagi menjadi :


1. Akut
2. Kronis
6. Berdasarkan sifat penularannya dapat dibagi menjadi :
1. Menular
2. Tidak Menular

Beberapa Istilah
a. Epidemik = Wabah = KLB
b. Pandemik = Epidemi Lintas negara / Benua
c. Endemik = penyakit yg selalu ada di suatu area tertentu
d. Sporadis = kasus-kasus yg tdk mempunyai hub epid
e. Common Source = epidemik yg timbul dari sumber yg sama
f. Propagated = epidemik yg timbul akibat penyebaran
g. Cluster KLB
h. Exposure = Terpapar
Kesempatan dari suatu Host yg rentan mendapat infeksi
i. Patogen = kemampuan Agent menimbulkan penyakit

B. Karateristik Penyakit Tidak Menular


1. Penularan tidak melalui rantai penularan tertentu
2. Masa inkubasi yang panjang dan latent
3. Perlangsungan penyakitnya yang berlarut-larut (kronik)
4. Sulit untuk didiagnosa
5. Biaya pencegahan maupun pengobatannya cukup tinggi
6. Mempunyai variasi yang cukup luas
7. Faktor penyebabnya bermacam-macam (Multifaktor)

C. Riwayat alamiah perjalanan penyakit

Tahapan Riwayat alamiah perjalanan penyakit :


a. Tahap Pre-Patogenesa
Pada tahap ini telah terjadi interaksi antara pejamu dengan bibit penyakit. Tetapi
interaksi ini masih diluar tubuh manusia, dalam arti bibit penyakit berada di luar
tubuh manusia dan belum masuk kedalam tubuh pejamu. Pada keadaan ini belum
ditemukan adanya tanda – tanda penyakit dan daya tahan tubuh pejamu masih kuat
dan dapat menolak penyakit. Keadaan ini disebut sehat.
b. Tahap Patogenesa
1) Tahap Inkubasi
Tahap inkubasi adalah masuknya bibit penyakit kedalam tubuh pejamu, tetapi
gejala- gejala penyakit belum nampak. Tiap-tiap penyakit mempunyai masa
inkubasi yang berbeda, ada yang bersifat seperti influenza, penyakit kolera masa
inkubasinya hanya 1- 2 hari, penyakit Polio mempunyai masa inkubasi 7 – 14 hari,
tetapi ada juga yang bersifat menahun misalnya kanker paru-paru, AIDS dan
sebagainya.
Jika daya tahan tubuh tidak kuat, tentu penyakit akan berjalan terus yang
mengakibatkan terjadinya gangguan pada bentuk dan fungsi tubuh. Pada suatu saat
penyakit makin bertambah hebat, sehingga timbul gejalanya. Garis yang membatasi
antara tampak dan tidak tampaknya gejala penyakit disebut dengan horison klinik.

1. Tahap Penyakit Dini

Tahap penyakit dini dihitung mulai dari munculnya gejala-gejala penyakit, pada
tahap ini pejamu sudah jatuh sakit tetapi sifatnya masih ringan. Umumnya penderita
masih dapat melakukan pekerjaan sehari-hari dan karena itu sering tidak berobat.
Selanjutnya, bagi yang datang berobat umumnya tidak memerlukan perawatan,
karena penyakit masih dapat diatasi dengan berobat jalan. Tahap penyakit dini ini
sering menjadi masalah besar dalam kesehatan masyarakat, terutama jika tingkat
pendidikan penduduk rendah, karena tubuh masih kuat mereka tidak datang
berobat, yang akan mendatangkan masalah lanjutan, yaitu telah parahnya penyakit
yang di derita, sehingga saat datang berobat sering talah terlambat.

2. Tahap Penyakit Lanjut


Apabila penyakit makin bertambah hebat, penyakit masuk dalam tahap penyakit
lanjut. Pada tahap ini penderita telah tidak dapat lagi melakukan pekerjaan dan jika
datang berobat, umumnya telah memerlukan perawatan.

3. Tahap Akhir Penyakit

Perjalanan penyakit pada suatu saat akan berakhir. Berakhirnya perjalanan penyakit
tersebut dapat berada dalam lima keadaan, yaitu :

1. Sembuh sempurna : penyakit berakhir karena pejamu sembuh


secara sempurna, artinya bentuk dan fungsi tubuh kembali kepada
keadaan sebelum menderita penyakit.
2. Sembuh tetapi cacat : penyakit yang diderita berakhir dan
penderita sembuh. Sayangnya kesembuhan tersebut tidak
sempurna, karena ditemukan cacat pada pejamu. Adapun yang
dimaksudkan dengan cacat, tidak hanya berupa cacat fisik yang
dapat dilihat oleh mata, tetapi juga cacat mikroskopik, cacat
fungsional, cacat mental dan cacat sosial.
3. Karier : pada karier, perjalanan penyakit seolah-olah terhenti,
karena gejala penyakit memang tidak tampak lagi. Padahal dalam
diri pejamu masih ditemukan bibit penyakit yang pada suatu saat,
misalnya jika daya tahan tubuh berkurang, penyakit akan timbul
kembali. Keadaan karier ini tidak hanya membahayakan diri
pejamu sendiri, tetapi juga masyarakat sekitarnya, karena dapat
menjadi sumber penularan
4. Kronis : perjalanan penyakit tampak terhenti karena gejala
penyakit tidak berubah, dalam arti tidak bertambah berat dan
ataupun tidak bertambah ringan. Keadaan yang seperti tentu saja
tidak menggembirakan, karena pada dasarnya pejamu tetap
berada dalam keadaan sakit.
5. Meninggal dunia : terhentinya perjalanan penyakit disini, bukan
karena sembuh, tetapi karena pejamu meninggal dunia. Keadaan
seperti ini bukanlah tujuan dari setiap tindakan kedokteran dan
keperawatan.

D. Perkembangan Teori Terjadinya Penyakit

Epidemiologi sebagai suatu ilmu berkembang dari waktu ke waktu. Perkembangan itu
dilatar-belakangi oleh beberapa hal:
1. Tantangan zaman di mana terjadi perubahan masalah dan perubahan pola
penyakit. Sewaktu zaman John Snow, epidemiologi mengarahkan dirinya untuk
masalah penyakit infeksi dan wabah. Dewasa ini telah terjadi perubahan pola penyakit
ke arah penyakit tidak menular, dan epidemiologi tidak hanya diperhadapkan dengan
masalah penyakit tetapi juga hal lain baik yang berkaitan langsung atau tidak langsung
dengan penyakit atau kesehatan, serta masalah non kesehatan.
2. Perkembangan ilmu pengatahuan lainnya. Pengetahuan klinik kedokteran
berkembang begitu pesat disamping perkembangan ilmu lainnya seperti biostatistik,
administrasi dan ilmu perilaku. Perkembangan ilmu ini juga meniupkan angin segar
untuk perkembangan epidemiologi

Dengan demikian terjadilah perubahan dan perkembangan pola pikir para ahli
kesehatan masyarakat dari masa ke masa sesuai dengan kondisi zaman dimana mereka
berada.
Khusus mengenai pandangan terhadap proses terjadinya atau penyebab penyakit
telah dikemukakan beberapa konsep atau teori. Beberapa teori tentang kausa terjadinya
penyakit yang pernah dikemukakan adalah:
a. Contagion Theory
Di Eropa, epidemi sampar, cacar dan demam tifus merajalela pada abad ke-14 dan 15.
Keadaan buruk yang dialami manusia pada saat itu telah mendorong lahirnya teori
bahwa kontak dengan makhluk hidup adalah penyebab penyakit menular. Konsep itu
dirumuskan oleh Girolamo Fracastoro (1483-1553). Teorinya menyatakan bahwa
penyakit ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui zat penular (transference) yang
disebut kontagion.
Fracastoro membedakan tiga jenis kontagion, yaitu:
1. Jenis kontagion yang dapat menular melalui kontak langsung, misalnya
bersentuhan, berciuman, hubungan seksual.
2. Jenis kontagion yang menular melalui benda-benda perantara (benda tersebut tidak
tertular, namun mempertahankan benih dan kemudian menularkan pada orang lain)
misalnya melalui pakaian, handuk, sapu tangan.
3. Jenis kontagion yang dapat menularkan pada jarak jauh

Pada mulanya teori kontagion ini belum dinyatakan sebagai jasad renik atau
mikroorganisme yang baru karena pada saat itu teori tersebut tidak dapat diterima dan
tidak berkembang. Tapi penemunya, Fracastoro, tetap dianggap sebagai salah satu
perintis dalam bidang epidemiologi meskipun baru beberapa abad kemudian mulai
terungkap bahwa teori kontagion sebagai jasad renik. Karantina dan kegiatan-kegiatan
epidemik lainnya merupakan tindakan yang diperkenalkan pada zaman itu setelah
efektivitasnya dikonfirmasikan melalui pengalaman praktek.

b. Hipocratic Theory
Hipocrates (460-377 SM), yang dianggap sebagai Bapak Kedokteran Modern, telah
berhasil membebaskan hambatan-hambatan filosofis pada zaman itu yang bersifat
spekulatif dan superstitif (tahayul) dalam memahami kejadian penyakit. Ia
mengemukakan teori tentang sebab musabab penyakit, yaitu bahwa:
1. Penyakit terjadi karena adanya kontak dengan jasad hidup, dan
2. Penyakit berkaitan dengan lingkungan eksternal maupun internal seseorang. Teori itu
dimuat dalam karyanya berjudul “On Airs, Waters and Places”.

Hippocrates mengatakan bahwa penyakit timbul karena pengaruh Iingkungan terutama:


air, udara, tanah, cuaca (tidak dijelaskan kedudukan manusia dalam Iingkungan).
Yang melatarbelakangi timbulnya pernyataan tersebut yaitu karena di Yunani
pada saat itu terjadi banyak penyakit menular dan menjadi epidemik dan saat
menyaksikan pasiennya meninggal, ia sangat frustasi dan putus asa sebagai seorang
dokter. Kemudian ia pun melakukan observasi tentang penyebab dan penyebaran
penyakit di populasi. Hippocrates belajar mengenai penyakit menggunakan tiga metode
; Observe, Record, dan Reflect.
Hippocrates melakukan pendekatan deskriptif sehingga ia benar-benar
mengetahui kondisi lingkungannya. Ia kemudian mempelajari tentang istilah
prepatogenesis, yaitu faktor yang mempengaruhi seseorang yang sehat sehingga bisa
menjadi sakit. Metode yang digunakan Hippocrates adalah metode induktif, artinya data
yang sekian banyak ia dapatkan, ia kumpulkan dan diolah menjadi informasi. Informasi
ini kemudian dikembangkan menjadi hipotesis.
Hippocrates juga merujuk dan memasukkan ke dalam teorinya apa yang
sekarang disebut sebagai teori atom, yaitu segala sesuatu yang berasal dari partikel yang
sangat kecil. Teori ini kemudian dianggap tidak benar oleh kedokteran modern.
Menurut teorinya, tipe atom terdiri dari empat jenis: atom tanah (solid dan dingin), atom
udara (kering), atom api (panas), atom air (basah). Selain itu ia yakin bahwa tubuh
tersusun dari empat zat: flegma (atom tanah dan air), empedu kuning (atom api dan
udara), darah (atom api dan air) dan empedu hitam (atom tanah dan udara). Penyakit
dianggap terjadi akibat ketidakseimbangan cairan sementara demam dianggap terlalu
banyak darah.
Hipocrates sudah dikenal sebagai orang yang tidak pernah percaya dengan
tahayul atau keajaiban tentang terjadinya penyakit pada manusia dan proses
penyembuhannya. Dia mengatakan bahwa masalah lingkungan dan perilaku hidup
penduduk dapat mempengaruhi tersebarnya penyakit dalam masyarakat. Yang dianggap
paling mengesankan dari faham atau ajaran Hipocrates ialah bahwa dia telah
meninggalkan cara-cara berfikir mistis-magis dan melihat segala peristiwa atau kejadian
penyakit semata-mata sebagai proses atau mekanisme yang alamiah belaka. Contoh
kasus dari teori ini adalah perubahan cuaca dan lingkungan yang merupakan biang
keladi terjadinya penyakit.

c. Miasmatic theory
Kira-kira pada awal abad ke-18 mulai muncul konsep miasma sebagai dasar
pemikiran untuk menjelaskan timbulnya wabah penyakit. Kosnep ini dikemukakan oleh
Hippocrates. Miasma atau miasmata berasal dari kata Yunani yang berarti something
dirty (sesuatu yang kotor) atau bad air (udara buruk). Miasma dipercaya sebagai uap
yang dihasilkan dari sisa-sisa makhluk hidup yang mengalami pembusukan, barang
yang membusuk atau dari buangan limbah yang tergenang, sehingga mengotori udara,
yang dipercaya berperan dalam penyebaran penyakit. Contoh pengaruh teori miasma
adalah timbulnya penyakit malaria. Malaria berasal dari bahasa Italia mal dan aria yang
artinya udara yang busuk. Pada masa yang lalu malaria dianggap sebagai akibat sisa-
sisa pembusukan binatang dan tumbuhan yang ada di rawa-rawa. Penduduk yang
bermukim di dekat rawa sangat rentan untuk terjadinya malaria karena udara yang
busuk tersebut.
Pada waktu itu dipercaya bahwa bila seseorang menghirup miasma, maka ia
akan terjangkit penyakit. Tindakan pencegahan yang banyak dilakukan adalah menutup
rumah rapat-rapat terutama di malam hari karena orang percaya udara malam cenderung
membawa miasma. Selain itu orang memandang kebersihan lingkungan hidup sebagai
salah satu upaya untuk terhindar dari miasma tadi. Walaupun konsep miasma pada masa
kini dianggap tidak masuk akal, namun dasar-dasar sanitasi yang ada telah
menunjukkan hasil yang cukup efektif dalam menurunkan tingkat kematian.
Dua puluh tiga abad kemudian, berkat penemuan mikroskop oleh Anthony van
Leuwenhoek, Louis Pasteur menemukan bahwa materi yang disebut miasma tersebut
sesungguhnya merupakan mikroba, sebuah kata Yunani yang artinya kehidupan mikro
(small living)

d. Germ Theory
Penemuan-penemuan di bidang mikrobiologi dan parasitologi oleh Louis
Pasteur (1822-1895), Robert Koch (1843-1910), Ilya Mechnikov (1845-1916) dan para
pengikutnya merupakan era keemasan teori kuman. Para ilmuwan tersebut
mengemukakan bahwa mikroba merupakan etiologi penyakit.
Louis Pasteur pertama kali mengamati proses fermentasi dalam pembuatan
anggur. Jika anggur terkontaminasi kuman maka jamur mestinya berperan dalam proses
fermentasi akan mati terdesak oleh kuman, akibatnya proses fermentasi gagal. Proses
pasteurisasi yang ia temukan adalah cara memanasi cairan anggur sampai temperatur
tertentu hingga kuman yang tidak diinginkan mati tapi cairan anggur tidak rusak.
Temuan yang paling mengesankan adalah keberhasilannya mendeteksi virus rabies
dalam organ saraf anjing, dan kemudian berhasil membuat vaksin anti rabies. Atas
rintisan temuan-temuannya memasuki era bakteriologi tersebut, Louis Pasteur dikenal
sebagai Bapak dari Teori Kuman.
Robert Koch juga merupakan tokoh penting dalam teori kuman. Temuannya
yang paling terkenal dibidang mikrobiologi adalah Postulat Koch yang terdiri dari:
1. Kuman harus dapat ditemukan pada semua hewan yang sakit, tidak pada yang sehat,
2. Kuman dapat diisolasi dan dibuat biakannya,
3. Kuman yang dibiakkan dapat ditularkansecara sengaja pada hewan yang sehat dan
menyebabkan penyakit yang sama
4. Kuman tersebut harus dapat diisolasi ulang dari hewan yang diinfeksi.

e. Epidemiology Triangle
Model tradisional epidemiologi atau segitiga epidemiologi dikemukakan oleh
Gordon dan La Richt (1950), menyebutkan bahwa timbul atau tidaknya penyakit pada
manusia dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu host, agent, dan environment. Gordon
berpendapat bahwa:
1. Penyakit timbul karena ketidakseimbangan antara agent (penyebab) dan manusia (host)
2. Keadaan keseimbangan bergantung pada sifat alami dan karakteristik agent dan host
(baik individu/kelompok)
3. Karakteristik agent dan host akan mengadakan interaksi, dalam interaksi tersebut akan
berhubungan langsung pada keadaan alami dari lingkungan (lingkungan sosial, fisik,
ekonomi, dan biologis).

Agen Penyakit
Agen penyakit dapat berupa benda hidup atau mati dan faktor mekanis, namun
kadang-kadang untuk penyakit tertentu, penyebabnya tidak diketahui seperti pada
penyakit ulkus peptikum, penyakit jantung koroner dan lain-lain.
unsur penyebab penyakit dapat dibagi dalam dua bagian utama, yakni :
1. Penyebab kausal primer
Unsur ini dianggap sebagi faktor kausal terjadinya penyakit, dengan ketentuan
bahwa walaupun unsur ini ada, belum tentu terjadi penyakit. Sebaliknya pada penyakit
tertentu, unsur ini selalu dijumpai sebagai unsur penyebab kausal. Unsur penyebab
kausal ini dapat dibagi dalam 5 kelompok utama.

1) Unsur penyebab biologis, yakni semua unsur penyebab yang tergolong makhluk hidup
termasuk kelompok mikroorganisme (Nur Nasry Noor, 2008:30). seperti :
a. Virus,
b. Bakteri,
c. Jamur,
d. Parasit,
e. Protozoa,
f. Metazoa.
(Eko Budiarto. 2002: 15).
Unsur penyebab ini pada umumnya dijumpai pada penyakit infeksi dan penyakit
menular. (Nur Nasry Noor, 2008:30).

1) Unsur penyebab nutrisi, yakni semua unsur penyebab yang termasuk golongan zat
nutrisi dan dapat menimbulkan penyakit tertentu karena kekuranagn maupun
kelebihan zat nutrisi tertentu seperti protein, lemak, hidrat arang, vitamin, mineral
2) Unsur penyebab kimiawi yakni semua unsur dalam bentuk senyawaan kimia yang
dapat menimbulkan gangguan kesehatan/penyakit tertentu. Unsur ini pada umumnya
berasal dari luar tubuh termasuk berbagai jenis zat racun, obat-obat keras, berbagai
senyawaan kimia tertentu dan lain sebagainya, bentuk senyawaan kimia ini dapat
berbentuk padat, cair, uap, maupun gas. Adapula senyawaan kimiawi sebagai hasil
produk tubuh (dari dalam) yang dapat menimbulkan penyait tertentu seperti ueum,
kolesterol, dan lain-lain
3) Unsur penyebab fisika yakni semua unsur yang dapat menimbulkan penyakit melalui
proses fisika, umpamanya panas (luka bakar), irisan, tikaman, pukulan (rudapaksa)
radiasi dan lain-lain. Proses kejadian penyakit dalam hal ini terutama melalui proses
fisika yang dapat menimbulkan kelainan dan gangguan kesehatan.
4) Unsur penyebab psikis yakni semua unsur yang bertalian dengan kejadian penyakit
gangguan jiwa serta gangguan tingkah laku sosial. Unsur penyebab ini belum jelas
proses dan mekanisme kejadian dalam timbulnya penyakit, bahkan sekelompok ahli
lebih menitikbertkan kejadian penyakit pada unsur penyebab genetika. Dalam hal ini
kita harus berhati-hati terhadap factor kehidupan sosial yang bersifat nonkausal serta
lebih menampakkan diri dalam hubungannya dengan proses kejadian penyakit
maupun gangguan kejiwaan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada sifat hubungan kausal, antara
lain:
1. Kuatnya hubungan statistik, artinya makin kuat hubungan statistik antara kausal
dan efek makin besar kemungkinannyya mempunyai hubungan kausal.
2. Adanya hubungna dosis respons, artinya peningkatan dosis pada factor kausal
akan meningkatkan pula kemungkinan terjadinya efek, dan sebaliknya.
3. Adanya konsistensi berbagai penemuan penelitian, artinya hasil yang dicapai
relevan dengan penemuan-penemuan sebelumnya.
4. Hubungannya bukan hasil sementara, artinya hasil hubungan tersebut bukan
situasi sementara, melainkan lebih bersifat lanjut.
5. Sesuai dengan teori yang sudah ada, artinya hasil yang dicapai dalam hubungan
tersebut sesuai pula dengan teori yang sudah ada atau tidak bertentangan dengan teori
yang telah di uji kebenarannya.
6. Sesuai dengan hasil percobaan laboratorium, artinya bila dilakukan uji coba
laboratorium akan memberikan hasil yang tidak berbeda.
7. Sesuai dengan hukum biologis artinya hubungan tersebut tidak bertentangan
dengan hokum biologis yang ada.
(Nur Nasry Noor, 2008:30-32)

2. Penyebab non kausal sekunder


Penyebab sekunder merupakan unsur pembantu/penambah dalam proses
kejadian penyakit dan ikut dalam hubungan sebab akibat terjadinya penyakit. Dengan
demikian, dalam setiap analisis penyebab penyakit, kita tidak hanya berpusat pada
penyebab kausal primer semata, tetapi harus memperhatikan semua unsur lain di luar
unsur penyebab kausal primer. Hal ini didasarkan pada ketentuan bahwa pada
umumnya, kejadian setiap penyakit sangat dipengaruhi oleh berbagai unsur yang
berinteraksi dengan unsur penyebab dan ikut dalam proses sebab akibat. Faktor yang
terinteraksi dalam proses kejadian penyakit dalam epidemiologi digolongkan dalam
faktor resiko. Sebagai contoh pada penyakit kardiovaskuler, tuberkulosis, kecelakaan
lalulintas, dan lain sebagainya. Kejadiannya tidak dibatasi hanya pada penyebab kausal
saja, tetapi harus dianalisis dalam bentuk suatu rantai sebab akibat yang peranan unsur
penyebab sekundernya sangat kuat dalam mendorong penyebab kausal primer untuk
dapat secara bersama-sam menimbulkan penyakit. (Nur Nasry Noor, 2008:32).

1. Faktor pejamu (host)


“Pejamu” ialah keadaan manusia yang sedemikian rupa sehingga menjadi faktor resiko
untuk terjadinya penyakit. Faktor ini disebut faktor instrinsik.
Faktor “pejamu” dan “agen” dapat diumpamakan sebagai tanah dan benih.
Tumbuhnya benih tergantung keadaan tanah yang dianalogikan dengan timbulnya
penyakit yang tergantung dan keadaan pejamu. (Eko Budiarto. 2002: 15).
Unsure pejamu (host) terutama pejamu manusia dapat dibagi dalam 2 kelompok sifat
utama, yakni: pertama, sifat yang erat hubungannya dengan manusia sebagai makhluk
biologis dan kedua, sifat manusia sebagai makhluk sosial. (Nur Nasry Noor, 2008:32-
33).
a. Manusia sebagai makhluk biologis memiliki sifat biologis tertentu, seperti:
1. Keadaan fisiologi. Kehamilan dan persalinan memudahkan terjadinya berbagai
penyakit, seperti keracunan kehamilan, anemia, dan psikosis pasca partum.
2. Kekebalan. Orang-orang yang tidak mempunyai kekebalan terhadap suatu
penyakit akan mudah terserang oleh penyakit tersebut.
3. Penyakit yang diderita sebelumnya, misalnya reumatoid atritis yang mudah
kambuh.
4. Ras dan keturunan (genetik), misalnya penyakit herediter seperti hemofilia,
sickle cell anemia, dan gangguan glukosa non-fosfatase.
5. Umur, misalnya usia lanjut mempunyai resiko untuk terkena karsinoma,
penyakit jantung , dan lain-lain.
6. Jenis kelamin, misalnya penyakit kelenjar gondok, kolesistisis, reumatoid atritis,
diabetes melitus (cenderung terjadi pada wanita), penyakit jantung, dan hipertensi
(menyerang laki-laki).
7. Bentuk anatomis tubuh..
8. Kemampuan interaksi antara pejamu dan penyebab secara biologis.
9. Status gizi secara umum.
(Nur Nasry Noor, 2008:32-33; Eko Budiarto. 2002: 15).

b. Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai berbagai sifat khusus, seperti:


1. Kelompok etnik termasuk adat, kebiasaan, agama, dan hubungan keluarga serta
hubungan sosial kemasyarakatan.
2. Kebiasaan hidup dan kehidupan sosial sehari-hari termasuk kebiasaan hidup sehat.
3. Keseluruhan unsure tersebut di atas merupakan sifat karakteristik individu sebagai
pejamu akan ikut memegang peranan dalam proses kejadian penyakit yang dapat
berfungsi sebagai factor resiko.
(Nur Nasry Noor, 2008: 33)

3. Faktor lingkungan
“Lingkungan” merupakan faktor ketiga sebagai penunjang terjadinya penyakit.
Faktor ini disebut “faktor ekstrinsik”. (Eko Budiarto. 2002: 16).
Unsur lingkungan memegang peranan yang cukup penting dalam menentukan
terjadinya proses interaksi antara pejamu dengan unsure penyebab dalam proses
terjadinya penyakit. Secara garis besarnya, maka unsure lingkungan dapat dibagi dalam
3 bagian utama.
a. Lingkungan biologis
Segala flora dan fauna yang berada di sekitar manusia yang antara lain meliputi:
1. Berbagai mikroorganisme pathogen dan yang tidak pathogen.
2. Berbagai binatang dan tumbuhan yang dapat mempengaruhi kehidupan
manusia, baik sebagai sumber kehidupan (bahan makanan dan obat-obatan),
maupun sebagai reservoir/ sumber penyakit atau pejamu antara (host intermedia).
3. Fauna sekitar manusia yang berfungsi sebagai vector penyakit tertentu
terutama penyakit menular.
Lingkungan biologis tersebut sangat berpengaruh dan memegang peranan penting
dalam interaksi antara manusia sebagai pejamu dengan unsure penyebab, baik
sebagai unsure lingkungan yang menguntungkan manusia (sebagai sumber
kehidupan) maupun yang mengancam kehidupan/ kesehatan manusia.

b. Lingkungan fisik
Keadaan fisik sekitar manusia yang berpengaruh terhadap manusia baik secara
langsung, maupun terhadap lingkungan biologis dan lingkungan sosial manusia.
Lingkungan fisik (termasuk unsure kimiawi dan radiasi) meliputi:
1. Udara, keadaan cuaca, geografis, dan geologis.
2. Air, baik sebagai sumber kehidupan maupun sebagai sumber penyakit serta berbagai
unsure kimiawi serta berbagai bentuk pencemaran pada air.
3. Unsur kimiawi lainnya dalam bentuk pencemaran udara, tanah dan air, radiasi dan
lain sebagainya.
Lingkungan fisik ini ada yang terbentuk secara alamiah, tetapi banyak pula yang timbul
akibat kegiatan manusia sendiri.

c. Lingkungan sosial ekonomi


Semua bentuk kehidupan sosial budaya, ekonomi, politik. System organisasi, serta
institusi/ peraturan yang berlaku bagi setiap individu yang membentuk masyarakat
tersebut. Lingkungan sosial ini meliputi:
1. System hukum, administrasi dan kehidupan sosial politik serta system ekomoni
yang berlaku.
2. Bentuk organisasi masyarakat yang berlaku setempat.
3. Sistem pelayanan kesehatan serta kebiasaan hidup sehat masyarakat setempat.
4. Kepadatan penduduk, kepadatan rumah tangga, dan berbagai system kehidupan
sosial lainnya.(Nur Nasry Noor, 2008: 33-35)
5. Pekerjaan. Pekerjaan yang berhubungan dengan zat kimia seperti pestisida atau zat
fisika seperti zat radioaktif atau zat yang bersifat karsinogen seperti abses akan
memudahkan terkena penyakit akibat pemaparan terhadap zat-zat tersebut.
6. Perkembangan ekonomi. Peningkatan ekonomi rakyat akan mengukur pola
konsumsi yang cenderung memakan makanan yang mengandung banyak
kolesterol. Keadaan ini memudahkan timbulnya penyakit hipertensi dan penyakit
jantung sebagai akibat kadar kolesterol darah yang meningkat. Sebaliknya bila
tingkat ekonomi rakyat yang rendah akan timbul masalah perumahan yang tidak
sehat, kurang gizi, dan lain-lain yang memudahkan timbulnya penyakit infeksi.
7. Bencana alam. Terjadinya bencana alam akan mengubah sistem ekologi yang tidak
diramalkan sebelumnya. Misalnya gempa bumi, banjir, meletusnya gunung
berapi, dan perang yang akan menyebabkan kehidupan penduduk yang terkena
bencana menjadi tidak teratur. Keadaan ini memudahkan timbulnya berbagai
penyakit infeksi.

Selain faktor-faktor di atas, sifat-sifat mikroorganisme sebagai agen penyebab penyakit


juga merupakan faktor penting dalam proses timbulnya penyakit infeksi. Sifat-sifat
mikroorganisme tersebut antara lain:
1. Patogenesis
2. Virulensi
3. Tropisme
4. Serangan terhadap pejamu
5. Kecepatan berkembang biak
6. Kemampuan menembus jaringan
7. Kemampuan memproduksi toksin
8. Kemampuan menimbulkan kekebalan

Dari keseluruhan unsur tersebut di atas, hubungan interaksi antara satu dengan lainnya
akan menentukan proses dan arah dari proses kejadian penyakit, baik pada perorangan,
maupun dalam masyarakat. Dengan demikian, maka terjadinya suatu penyakit tidak
hanya ditentukan oleh unsure penyebab semata, tetapi yang utama adalah bagaimana
rantai penyebab dan hubungan sebab akibat dipengaruhi oleh berbagai factor maupun
unsure lainnya. Oleh sebab itu, dalam setiap proses terjadinya penyakit, kita selalu
memikirkan adanya penyebab jamak (multiple causation). Hal ini sangat berpengaruh
dalam menetapkan progam pencegahan maupun penanggulangan penyakit tertentu,
karena usaha tersebut hanya akan memberikan hasil yang diharapkan bila dalam
perencanaannya, kita memperhitungkan berbagai unsure tersebut di atas.
Dengan epidemiologi modern dewasa ini, proses kejadian penyakit tidak hanya
dititikberatkan pada penyebab kausal semata, tetapi terutana diarahkan pada interaksi
antara penyebabnya, pejamu dan lingkungan, yang menyatu dalam satu kondisi, baik
pada individu maupun pada masyarakat. Kondisi ini menentukan proses kejadian
penyakit yang dikenal dengan kondisi atau factor resiko (risk factor).
(Nur Nasry Noor, 2008: 33-35)
f. The Web of Causation
Model ini dicetuskan oleh MacMahon dan Pugh (1970). Prinsipnya adalah setiap efek
atau penyakit tidak pernah tergantung hanya kepada sebuah faktor penyebab, melainkan
tergantung kepada sejumlah faktor dalam rangkaian kausalitas sebelumnya sebagai
akibat dari serangkaian proses sebab akibat. Ada faktor yang berperan sebagai
promotor, ada pula sebagai inhibitor. Semua faktor tersebut secara kolektif dapat
membentuk “web of causation” dimana setiap penyebab saling terkait satu sama lain.
Perubahan pada salah satu faktor dapat berakibat bertambah atau berkurangnya
penyakit. Kejadian penyakit pada suatu populasi mungkin disebabkan oleh gejala yang
sama (phenotype), mikroorganisme, abnormalitas genetik, struktur sosial, perilaku,
lingkungan, tempat kerja dan faktor lainnya yang berhubungan. Dengan demikian
timbulnya penyakit dapat dicegah atau dihentikan dengan memotong rantai pada
berbagai titik. Model ini cocok untuk mencari penyakit yang disebabkan oleh perilaku
dan gaya hidup individu
Penyebab non kausal (sekunder)

Penyebab sekunder merupakan unsur pembantu/penambah dalam proses


kejadian penyakit dan ikut dalam hubungan sebab akibat terjadinya
penyakit. Dengan demikian, maka dalam setiap analis penyebab penyakit
dan hubungan sebab akibat terjadinya penyakit, kita tidak hanya berpusat
pada penyebab kausal primer semata, tetapi harus memperhatikan semua
unsur lain di luar unsur penyebab kausal primer. Hal ini di dasarkan pada
ketentuan bahwa pada umumnya kejadian setiap penyakit sangat di
pengaruhi oleh berbagai unsur yang berinteraksi dengan unsur penyebab dan
ikut dalam proses sebab akibat. Sebagai contoh pada penyakit
kardiovaskuler, tuberkulosis, kecelakaan lalu lintas, dan lain sebagainya.
Kejadiannya tidak di batasi hanya pada penyebab kausal saja, tetapi harus di
analisis dalam bentuk suatu rantai sebab akibat di mana peranan unsur
penyebab sekunder sangat kuat dalam mendorong penyebab kausal primer
untuk dapat secara bersama-sama menimbulkan penyakit. (Nur nasry
noor,2000.Dasar epidemiologi,Rineka cipta,Jakarta. Hal.25-27)

Dan penyebab agent menurut model segitiga epidemilogi terdiri dari biotis
dan abiotis.

Biotis khususnya pada penyakit menular yaitu terjadi dari 5 golongan

1. Protozoa : misalnya Plasmodum, amodea


2. Metazoa : misalnyaarthopoda , helminthes
3. Bakteri misalnya Salmonella, meningitis
4. Virus misalnya dengue, polio, measies, lorona
5. Jamur Misalnya : candida, tinia algae, hystoples osis

Abiotis, terdiri dari

1. Nutrient Agent, misalnya kekurangan /kelebihan gizi (karbohididrat, lemak,


mineral, protein dan vitamin)
2. Chemical Agent, misalnya pestisida, logam berat, obat-obatan
3. Physical Agent, misalnya suhu, kelembaban panas, kardiasi, kebisingan.
4. Mechanical Agent misalnya pukulan tangan kecelakaan, benturan, gesekan, dan
getaran
5. Psychis Agent, misalnya gangguan phisikologis stress depresi
6. Physilogigis Agent, misalnya gangguan genetik.
7. Kebiasaan hidup dan kehidupan sosial sehari-hari termasuk kehidupan
sehat.(Heru subari,dkk,2004.Manajemen epidemiologi,Media
pressindo,Yogyakarta. Hal.16-17.)

E. Berbagai Penyakit Non Infeksi yang ditemukan di Indonesia

Transisi kesehatan terjadi karena adanya transisi demografi dan transisi


epidemiologi(henry,1993). transisi demografi merupakan akibat adanya
urbanisasi,industrialisasi,meningkatnya pendapatan, tingkat pendidikan, teknologi
kesehatan dan kedokteran di masyarakat. Hal ini akan berdampak pada terjadinya
transisi epidemiologi yaitu perubahan pola kematian yaitu akibat infeksi,angka
fertilitas total,umur harapan hidup penduduk dan meningkatnya penyakit tidak
menular atau penyakit kronik transisi epidemiologi bermula dari suatu perubahan
yang kompleks dalam pola kesehatan dan pola penyakit utama penyebab kematian
dimana terjadi penurunan prevalensi penyakit infeksi (penyakit menular),
sedangkan penyakit non infeksi (penyakit tidak menular) justru semakin
meningkat.Hal ini terjadi seiring dengan berubahnya gaya hidup, sosial ekonomi
dan meningkatnya umur harapan hidup yang berarti meningkatnya pola risiko
timbulnya penyakit degeneratif seperti penyakit jantung koroner, diabetes melitus,
hipertensi, dan lain sebagainya Transisi epidemiologi dan demografi, juga
perkembangan ekonomi mengakibatkannegara-negara menghadapi peningkatan
beban akibat Penyakit Tidak Menular (PTM).Pada 1999, PTM diperkirakan
bertanggung jawab terhadap hampir 60% kematian di dunia dan 43% dari beban
penyakit dunia (WHO, 2000a). Diprediksikan pada tahun 2020 penyakit ini akan
mencapai 73 persen kematian di dunia dan 60 persen dari bebanpenyakit dunia
(WHO, 2002). Di Indonesia, berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
tahun 2001, data Pola Penyebab Kematian Umum di Indonesia, penyakit jantung
dan pembuluh darah dianggap sebagai penyakit pembunuh nomor satu di Indonesia.
Gangguan jantung dan pembuluh darah seringkali bermula dari hipertensi, atau
tekanan darah tinggi. Selain itu, hipertensi yang merupakan suatu kelainan vaskuler
awal, dapat menyebabkan gangguan ginjal, merusak kerja mata, dan menimbulkan
kelainan atau gangguan kerja otak sehingga dapat menghambat pemanfaatan
kemampuan intelegensia secara maksimal. Hipertensi atau yang disebut the silent
killer merupakan salah satu faktor risiko paling berpengaruh sebagai penyebab
penyakit jantung (kardiovaskular). Penderita penyakit jantung kini mencapai lebih
dari 800 juta orang di seluruh dunia. Kurang lebih 10-30% penduduk dewasa di
hampir semua negara mengalami penyakit hipertensi, dan sekitar 50-60% penduduk
dewasa adalah mayoritas utama yang status kesehatannya akan menjadi lebih baik
bila tekanan darahnya dapat dikontrol. Kondisi kesehatan di Indonesia mengalami
perkembangan yang sangat berarti dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan
ini meperlihatkan dampak dari ekspansi penyediaan fasilitas kesehatan publik di
tahun 1970 dan 1980, serta dampak dari program keluarga berencana. Meski
demikian masih terdapat tantangan baru sebagai akibat perubahan sosial dan
ekonomi: 1. Pola penyakit yang semakin kompleks, Indonesia saat ini berada pada
pertengahan transisi epidemiologi dimana penyakit tidak menular meningkat drastis
sementara penyakit menular masih menjadi penyebab penyakit yang utama.
Kemudian saat ini penyakit kardiovaskuler (jantung) menjadi penyebab dari 30
persen kematian di Jawa dan Bali. Indonesia juga berada diantara sepuluh negara di
dunia dengan penderita diabetes terbesar. Di saat bersamaan penyakit menular dan
bersifat parasit menjadi penyebab dari sekitar 22 persen kematian. Angka kematian
ibu dan bayi di Indonesia juga lebih tinggi dibandingkan dengan kebanyakan
negara tetangga. Satu dari dua puluh anak meninggal sebelum mencapai usia lima
tahun dan seorang ibu meninggal akibat proses melahirkan dari setiap 325 kelahiran
hidup. Perubahan yang diiringi semakin kompleksnya pola penyakit merupakan
tantangan terbesar bagi sistem kesehatan di Indonesia. 2. Tingginya ketimpangan
regional dan sosial ekonomi dalam sistem kesehatan. Dibanyak propinsi, angka
kematian bayi dan anak terlihat lebih buruk dibandingkan dengan situasi di
beberapa negara Asia termiskin. Kelompok miskin mendapatkan akses kesehatan
yang paling buruk dan umumnya mereka sedikit mendapatkan imunisasi ataupun
mendapatkan bantuan tenaga medis yang terlatih dalam prosesmelahirkan.
Kematian anak sebelum mencapai usia lima tahun dari keluarga termiskin mencapai
sekitar empat kali lebih tinggi dibandingkan anak dari keluarga terkaya. Tingginya
tingkat terkena penyakit, baik yang disebabkan dari penyakit menular maupun
penyakit tidak menular, telah mengurangi kemampuan orang miskin untuk
menghasilkan pendapatan, dan hal ini berdampak pada lingkaran setan kemiskinan.
3. Menurunnya kondisi dan penggunaan fasiitas kesehatan publik serta
kecenderungan penyedia utama fasilitas kesehatan beralih ke pihak swasta. Angka
penduduk yang diimunisasi mengalami penurunan semenjak pertengahan 1990,
dimana hanya setengah dari anak-anak di Indonesia yang diimunisasi. Indonesia
bahkan telah tertinggal dibandingkan dengan negara-negara seperti Filiphina dan
Bangladesh. Program kontrol penyakit tuberkulosis (TB) diindikasikan hanya
mengurangi kurang dari sepertiga penduduk yang diperkirakan merupakan
penderita baru tuberkulosis. Secara keseluruhan, pengunaan fasiitas kesehatan
umum terus menurun dan semakinbanyak orang Indonesia memiih fasiitas
kesehatan yang disediakan oleh pihak swasta ketika mereka sakit. Di sebagian besar
wilayah Indonesia, sektor swasta mendominasi penyediaan fasilitas kesehatan dan
saat ini terhitung lebih dari dua pertiga fasiitas ambulans yang ada disediakan oleh
pihak swasta. Juga lebih dari setengah rumah sakit yang tersedia merupakan rumah
sakit swasta, dan sekitar 30-50 persen segala bentuk pelayanan kesehatan diberikan
oleh pihak swasta (satu dekade yang lalu hanya sekitar 10 persen). Dalam masalah
kesehatan kaum miskin cenderung lebih banyak menggunakan staf kesehatan non-
medis, sehingga angka pemanfaatan rumah sakit oleh kaum miskin masih amat
rendah. 4. Pembiayaan kesehatan yang rendah dan timpang. Pembiayaan kesehatan
saat ini lebih banyak dikeluarkan dari uang pribadi, dimana pengeluaran kesehatan
yang harus dikeluarkan oleh seseorang mencapai sekitar 75-80 persen dari total
biaya kesehatan dan kebanyakan pembiayaan kesehatan ini berasal dari uang
pribadi yang dikeluarkan ketika mereka memanfaatkan pelayanan kesehatan.
Secara keseluruhan, total pengeluaran untuk kesehatan di Indonesia lebih rendah
dibandingkan dengan sejumlah negara tetangga (US $ 16 per orang per tahun pada
2001). Hal ini disebabkan oleh rendahnya pengeluaran pemerintah maupun pribadi
untuk kesehatan. Lebih lanjut, cakupan asuransi amat terbatas, hanya mencakup
pekerja di sektor formal dan keluarga mereka saja, atau hanya sekitar sepertiga
penduduk dilindungi oleh asuransi kesehatan formal. Meski demikian mereka yang
telah diasuransikan pun masih harus mengeluarkan sejumlah dana pribadi yang
cukup tinggi untuk sebagian besar pelayanan kesehatan. Akibatnya kaum miskin
masih kurang memanfaatkan pelayanaan kesehatan yang dibiayai oleh pemerintah.
Dampaknya, mereka menerima lebih sedikit subsidi dana pemerintah untuk
kesehatan dibandingkan dengan penduduk yang kaya. Sebanyak 20 persen
penduduk termiskin dari total penduduk menerima kurang dari 10 persen total
subsidi kesehatan pemerintah sementara seperlima penduduk terkaya menikmati
lebih dari 40 persen. 5. Desentralisasi menciptakan tantangan dan memberikan
kesempatan baru. Saat ini, pemerintah daerah merupakan pihak utama dalam
penyediaan fasiitas kesehatan. Jumlah pengeluaran daerah untuk kesehatan
terhadap total pengeluaran kesehatan meningkat dari 10 persen sebelum
desentralisasi menjadi 50 persen pada tahun 2001. Hal ini dapat membuat pola
pengeluaran kesehatan menjadi lebih responsif terhadap kondisi lokal dan
keragaman pola penyakit. Akan tetapi hal ini akan berdampak juga pada hilangnya
skala ekonomis, meningkatnya ketimpangan pembiayaan kesehatan secara regional
dan berkurangnya informasi kesehatan yang penting. 6. Angka penularan
HIV/AIDS meningkat namun wabah tersebut sebagian besar masih terlokalisir.
Diperkirakan sekitar 120. 000 penduduk Indonesia terinfeksi oleh HIV/AIDS,
dengan konsentrasi terbesar berada di propinsi dengan penduduk yang sedikit
(termasuk Papua) dan di kota kecil maupun kota besar yang terdapat aktifitas
industri, pertambangan, kehutanan dan perikanan. Virus tersebut menyebar lebih
lambat dibandingkan dengan yang diperkirakan sebelumnya. Akan tetapi penularan
virus tersebut meningkat pada kelompok yang berisiko tinggi, yaitu penduduk yang
tidak menerapkan perilaku pencegahan terhadap virus tersebut, seperti
menggunakan kondom pada aktivitas seks komersial atau menggunakan jarum
suntik yang bersih dalam kasus pecandu obat-obatan