You are on page 1of 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pengajaran sastra di Sekolah Dasar (SD) bertujuan agar siswa mampu

menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian,

memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan

kemampuan berbahasa (Kurikulum Bahasa Indonesia SD 1994). Sementara itu

dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tujuan pengajaran sastra

dikembangkan dalam kompetensi dasar yaitu siswa mampu mengapresiasi dan

berekspresi sastra melalui kegiatan mendengarkan, menonton, membaca dan

melisankan hasil sastra berupa dongeng, puisi dan drama pendek, serta

menuliskan pengalaman dalam bentuk cerita dan puisi. Dalam hal ini

pembelajaran sastra bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam

mengapresiasikan karya sastra. Di dalamnya terkandung maksud agar siswa dapat

menghargai kesusastraan bangsa sendiri serta dapat menghayati secara langsung

nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Oleh karena itu, pembelajaran sastra

harus dilakukan dengan mewajibkan siswa untuk membaca karya-karya sastra dan

dengan menentukan bobot perbandingan pembelajaran sastra dan pembelajaran

bahasa yang disajikan seimbang. ( Resmini 2002 : 1 ).

Pengajaran bahasa Indonesia tidak hanya dimaksudkan untuk

menumbuhkembangkan kemampuan berkomunikasi anak didik, tetapi

menumbuhkembangkan kemampuan berpikir dan bernalar, daya imajinasi, daya

1
2

kreasi, kepekaan emosi, dan memperluas wawasan anak. Misi yang demikian

tentu sangat sulit untuk ditunaikan dengan hanya mengandalkan bahan ajar yang

bersifat teknik dan ilmiah saja. Disinilah letak kedudukan apresiasi sastra, yakni

menunaikan misi yang tak tertunaikan dengan bahan non sastra. ( Ahmad

Rofi’udin dan Darmiyati Zuhdi, 1999 : 105 ). Pengajaran apresiasi sastra dengan

bahan ajar sastranya berfungsi sebagai wahana pembentukan kompetensi

komunikasi khusus pada siswa, yaitu kompetensi komunikasi sastra dan

kompetensi komunikasi bahasa lain yang berarah emotif-imajinatif. Kemajuan

ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat, juga ikut mendorong bentuk

pengajaran yang diselenggarakan mampu mengantisipasi perubahan, pengajaran

sastralah yang memberikan kemungkinan untuk itu, sebab pada hakikatnya sastra

itu memiliki sifat ganda, yaitu kenikmatan atau kesenangan dan berisikan butir-

butir nilai kehidupan yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif pilihan

nilai bagi kelangsungan hidup siswa untuk menantang kehidupan dalam era

globalisasi.

Dengan melihat uraian di atas, ternyata begitu pentingnya misi yang

ditunaikan pengajaran sastra, tetapi dewasa ini pengajaran sastra di sekolah-

sekolah masih menghadapi berbagai masalah. Hal ini dapat disimpulkan dari

banyaknya keluhan, baik tentang teknik atau pendekatan mengajar yang

dipergunakan, maupun tentang hasil belajar yaitu tingkat minat, kemampuan

menikmati dan menghargai karya-karya sastra dari pihak siswa sendiri. Realitas

yang ditemui dalam pelaksanaan pengajaran sastra belum relevan dengan

pengajaran yang diharapkan. Rendahnya perolehan hasil belajar siswa, makin


3

surutnya motivasi siswa untuk mengakrabi karya sastra, dan gencarnya sorotan

masyarakat terhadap pelaksanaan pengajaran sastra yang belum mampu

membawa siswa untuk mencintai karya sastra serta seretnya pemasaran karya

sastra yang diterbitkan merupakan contoh konkret bahwa pengajaran sastra yang

dilaksanakan belum sesuai dengan tuntutan masa depan. Dalam hal ini sebenarnya

sekolah-sekolah umumnya, pengajar khususnya, tidak dapat disalahkan atau

dijadikan kambing hitam. Kehidupan sastra satu sama lain saling bergantung dan

saling menentukan, dengan kata lain keadaan pengajaran sastra di sekolah-sekolah

dewasa ini tidak dapat dipisahkan dari kegiatan-kegiatan di bidang penciptaan

karya-karya sastra, penerbitan karya-karya sastra, bidang kritik sastra dan

pengkajian karya-karya sastra lama, dan bahkan bidang kebudayaan pada

umumnya. Oleh karena itu, sebab-sebab kelemahan di bidang pengajaran sastra

juga terletak di bagian lain dari kehidupan sastra sebagai suatu sistem.

Perbaikan pengajaran sastra, dengan demikian, harus dilakukan pula di

bidang-bidang yang mempengaruhinya itu. Namun, kalau begitu keadaan

perbaikan itu tidak akan dapat mulai dengan segera. Padahal masalah-masalah di

bidang pengajaran sastra itu sudah cukup mendesak. Menurut Wardani ( 1981 : 2 )

mengemukakan, bahwa pengajaran sastra di sekolah sekarang kurang

memperhatikan aspek apresiasi, sehingga tidak mengherankan bila siswa kurang

memiliki apresiasi terhadap karya sastra. Hal yang senada juga diungkapkan oleh

Boen S. Oemarjati ( 1980 : 167 ) bahwa kurangnya apresiasi siswa terhadap karya

sastra adalah akibat kurangnya pengakraban guru dan siswa terhadap karya sastra.

Di samping itu pengajaran yang dilaksanakan juga kurang memberikan


4

pengupasan yang mendalam terhadap karya sastra. Materi yang diajarkan

bukannya nilai-nilai luhur karya sastra, melainkan lebih terfokus pada

penyuguhan teori yang melebihi takaran kognitif siswa. Oleh karena itu, dengan

keyakinan bahwa perbaikan-perbaikan di bidang pengajaran akan pula

mempengaruhi bidang-bidang sastra yang lain, maka menurut penulis sebagai

seorang pengajar, salah satu pemecahan masalah di bidang pengajaran sastra,

yaitu dengan menyajikan pendekatan pengajaran sastra yang tepat, sehingga dapat

menghidupkan suasana belajar mengajar dalam kelas, siswa menjadi senang

belajar, juga dapat memusatkan pikiran siswa pada pengajaran.

Di dalam pelaksanaannya, pendekatan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor :

1) faktor murid ; 2) faktor tujuan ; 3) faktor situasi ; 4) faktor fasilitas ; 5) faktor

pengajar. Perpaduan faktor-faktor itulah yang menjadi pertimbangan utama untuk

menentukan pendekatan apa yang baik digunakan oleh guru dalam proses

pembelajaran, khususnya pembelajaran apresiasi sastra di kelas V sekolah dasar.

Dalam pembelajaran sastra, khususnya di sekolah dasar, guru belum banyak

mengenal pendekatan-pendekatan pengajaran sastra yang baik, apalagi

mempraktikannya sehingga dengan kondisi semacam ini akan tercipta iklim

belajar yang membosankan, dari rasa bosan ini melahirkan reaksi negatif dari

anak. Reaksi tersebut adalah : 1) anak kurang pehatian terhadap materi pelajaran

sastra, 2) anak kurang menyukai pelajaran sastra, 3) prestasi belajar anak pada

mata pelajaran sastra cenderung rendah.

Upaya guru untuk mengatasi masalah tersebut di atas adalah dengan

memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar. Guru harus mengusai


5

pendekatan apa yang kiranya dapat menumbuhkan gairah, serta motivasi anak

dalam menerima pelajaran sastra, pendekatan objektif merupakan solusi yang

dapat ditempuh untuk semua itu. Pendekatan objektif pada dasarnya adalah proses

memahami terlebih dahulu struktur puisi, baru kemudian mengaplikasikan

pemahaman struktur puisi tersebut dalam menulis puisi. Dengan penggunaan

pendekatan objektif diharapkan dapat mempermudah anak untuk

mengapresiasikan puisi.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis berpandangan perlunya

diadakan penelitian penggunaan pendekatan objektif dalam upaya meningkatkan

apresiasi puisi ekspresif di kelas V SD. Dengan harapan agar para guru di sekolah

dasar khususnya guru kelas V mempunyai perbendaharaan pendekatan

pembelajaran sastra, khususnya apresiasi puisi.

1.2 Identifikasi Masalah

1) Guru memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam rangka

peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran sastra di kelas V SD.

2) Pendekatan objektif dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran

apresiasi puisi di kelas V SD.

3) Pendekatan objektif merupakan salah satu pendekatan yang dapat membantu

guru dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi puisi di kelas V SD.

4) Pendekatan objektif dapat membantu peningkatan hasil belajar siswa dalam

pembelajaran apresiasi puisi di kelas V SD.


6

1.3 Pembatasan dan Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, peneliti merumuskan masalah

sebagai arah pembatas ruang lingkup penelitian, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah :

1) Bagaimanakah bentuk perencanaan dalam pembelajaran apresiasi puisi di

kelas V SD dengan menggunakan pendekatan objektif ?

2) Bagaimanakah kegiatan guru dalam melaksanakan pembelajaran apresiasi

puisi di kelas V SD dengan menggunakan pendekatan objektif ?

3) Bagaimanakah proses belajar siswa pada waktu pembelajaran apresiasi puisi

dengan menggunakan pendekatan objektif ?

4) Bagaimanakan hasil kemampuan siswa menulis puisi setelah mengikuti

pembelajaran apresiasi puisi dengan menggunakan pendekatan objektif ?

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memperoleh

gambaran tentang penggunaan pendekatan objektif dalam upaya meningkatkan

apresiasi puisi ekspresif di kelas V SD Negeri 1 Bangunharja Kecamatan Cisaga

Kabupaten Ciamis.

1.4.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus penelitan ini adalah sebagai berikut :

1) Untuk memperoleh gambaran tentang bentuk perencanaan pembelajaran

apresiasi puisi di kelas V SD dengan menggunakan pendekatan objektif.


7

2) Untuk memperoleh gambaran tentang kegiatan guru dalam melaksanakan

pembelajaran apresiasi puisi di kelas V SD dengan menggunakan pendekatan

objektif.

3) Untuk memperoleh gambaran bagaimana kondisi siswa pada waktu proses

pembelajaran apresiasi puisi di kelas V SD dengan menggunakan pendekatan

objektif.

4) Untuk mengetahui hasil kemampuan siswa menulis puisi setelah mengikuti

pembelajaran apresiasi puisi dengan menggunakan pendekatan objektif.

1.5 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

1) Bagi guru sebagai fasilitator dapat mengembangkan apresiasi puisi dengan

menggunakan pendekatan yang bervariasi dalam PBM.

2) Bagi siswa, memperoleh pengalaman melatih kemampuan apresiasi dengan

menggunakan pendekatan objektif.

3) Bagi penulis, dapat memperoleh gambaran kemampuan apesiasi puisi siswa

dengan menggunakan pendekatan objektif.