You are on page 1of 5

KEBENARAN ILMIAH DALAM SOSIOLOGI

Diajukan Sebagai Ujian Akhir Semester Genap T.A. 2015/2016


Mata Kuiah Filsafat Ilmu

disusun oleh:
MIFTAHUL ULUM
170720150508

MAGISTER ADMINISTRASI PUBLIK


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS PADJAJARAN
BANDUNG
2016
Secara terminologi sosiologi berasal dari bahasa Yunani, yakni kata socius dan logos.
Socius berarti kawan, berkawan, ataupun bermasyarakat. Sedangkan logos berarti ilmu atau
dapat juga berbicara tentang sesuatu. Secara harafiah sosiologi dapat diartikan tentang ilmu
dalam masyarakat. Tetapi untuk memahami sosiologi tidaklah sesedarhana itu, sosiologi
sebagai disiplin ilmu yang mengkaji tentang masyarakat, cakupannya sangat luas. Untuk itu
sosiologi dapat di definisikan sebagai disiplin ilmu tentang interaksi sosial, kelompok sosial,
gejala-gejala sosial, organisasi sosial, struktur sosial, proses sosial maupun perubahan sosial.
Jika di atas telah dijelaskan tentang kebenaran-kebenaran ilmiah dalam filsafat, lalu
bagaimana dengan kebenaran ilmiah dalam sosiologi? Untuk mencari kebenaran ilmiah
dalam sosiologi dibutuhkan paradigma. Menurut Thomas Khun dalam Agus Salim (2001:63)
paradigma adalah seperangkat keyakinan yang memandu seseorang untuk melakukan suatu
tindakan. Sedangkan menurut Friedriches dalam Agus Salim (2001:63) mencoba
merumuskan pengertian paradigma secara lebih jelas, menurutnya paradigm adalah
pandangan yang mendasar dari ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang
semestinya dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan.
Agus Salim dalam bukunya Teori dan Paradigma Penelitian Sosial (2001:63)
menjelaskan bahwa sejak abad pencerahan hingga era globalosasi, terdapat empat paradigma
ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh para ilmuwan. Empat paradigma itu antara lain:
1). Positivisme, 2). Post-positivisme (Classical Paradigm atau Conventionalism Paradigm),
3). Critical Theory (Realisme), dan 4).Consructivism.
Perbedaan dari keempat paradigm tersebut dapat dilihat dari cara pandang masing-
masing terhadap realitas yang digunakan dan cara yang ditempuh untuk melakukan
pengembangan pengetahuan, khususnya pada tiga aspek yang ada didalamnya, yakni aspek-
aspek ontologis, epistemology, dan metodologis.
1. Positivisme
Keyakinan dasar aliran ini berakar pada paham ontology realisme yang
menyatakan bahwa realitas berada (exist) dalam kenyataan dan berjalan sesuai dengan
hukum alam (natural laws). Penelitian berupaya mengungkap kebenaran realitas yang
ada dan bagaimana senyatanya realitas tersebut senyatanya berjalan. Tokohnya
adalah Aguste Comte melalui karyanya The Course of Positive Philosophy (1830-
1842), Jhon Stuart Mill melalui karyanya A System of Logic (1843) dan Email
Durkheim melalui karyanya, Rules of the Sociological Methods (1895), yang
kemudian menjadi rujukan bagi periset ilmu social yang yang beraliran positivism.
Menurut Durkheim, objek studi sosiologi adalah fakta sosial. Fakta sosial yang
dimaksudkan mencakup bahasa, sistem hukum, sistem politik, pendidikan dan lain-
lain. Sekalipun fakta sosial berasal dari luar kesadaran individu namaun oleh periset
dalam penelitian positivisme, informasi kebenaran yang kebenaran dinyatakan kepada
individu yang dijadikan responden penelitian. Untuk mencapai kebenaran ini periset
sebagai seorang pencari kebenaran harus menanyakan lansung kepada objek yang
diteliti, dan sang objek dapat memberikan jawaban lansung kepada periset yang
bersangkutan. Secara metodologis, seorang periset dituntut untuk menggunakan
metodologi eksperimen empirik atau metode lain yang setara. Hal itu dimaksudkan
untuk menjamin agar temuan yang diperoleh betul-betul objektif dalam
menggambarkan keadaan yang sebenarnya.
2. Post-positivisme
Post-positivisme, kemunculan paradigm ini adalah keinginan untuk
memperbaiki kelemahan-kelemahan positivisme yang memang hanya mengandalkan
kemampuan pengamatan lansung atas objek yang diteliti. Secara ontology, cara
pandang aliran ini bersifat critical realism, realitas sebagai hal yang memang ada
dalam kenyataan sesuai dengan hukum alam, namun menurut aliran ini, adalah
mustahil bagi manusia (peneliti) untuk melihat realitas secara benar. Oleh karena itu,
secara metodologis pendekatan eksperimental melalui observasi dipandang tidak
mencukupi, tetapi harus dilengkapi dengan metode triangulasi, yaitu penggunaan
beragam metode, sumber data, periset dan teori. Aliran ini juga memandang bahwa
secara etimologi hubungan antara periset dan objek yang diteliti tidak bisa dipisahkan.
Aliran ini juga menambahkan pendapatnya bahwa suatu kebenaran tidak mungkin
bisa ditangkap apabila periset berada dibelakang layar, tanpa terlibat dengan objeknya
secara lansung. Aliran ini menegaskan arti penting dari hubungan interaktif antara
periset dan objek yang diteliti, sepanjang dalam hubungan tersebut periset bisa
bersifat netral.
3. Teori Kritis
Secara ontologis, cara pandangan aliran ini sama dengan pandangan post-
positivisme, khususnya dalam menilai objek atau realitas kritis, yang tidak dapat
dilihat secara benar oleh pengamatan manusia. Pada tataran epistemologis, aliran ini
memandang hubungan antara periset dan objek sebagai hal yang tidak dapat
dipisahkan. Lantaran berkeyakinan bahwa nilai-nilai yang dianut oleh periset ikut
serta dalam menentukan kebenaran suatu hal, maka aliran ini sangat menekankan
konsep subjektivitasnya dalam menemukan suatu ilmu pengetetahuan. Secara
ontologis, cara pandangan aliran ini sama dengan pandangan post-positivisme,
khusunya dalam menilai objek atau realitas kritis yang tidak dapat dilihat secara benar
oleh pengamatan manusia. Pada tataran metodologis, aliran ini mengajukan metode
dialog sebagai sarana transformasi bagi ditemukannya kebenaran realitas yang hakiki.
4. Konstruktivisme
Konstruktivisme, paradigma ini hampir merupakan antithesisme terhadap
paham yang menempatkan pentingnya pengamatan dan objektivitas dalam
menemukan suatu realitas atas ilmu pengetahuan. Secara tegas paham ini menyatakan
bahwa positivism dan post-posotivisme keliru dalam mengungkapkan realitas dunia,
dan harus ditinggalkan dan digantikan oleh paham yang besifat konstruktif. Secara
ontologis, aliran ini menyatakan bahwa realitas itu ada dalam beragam bentuk
konstruksi mental yang didasarkan pada pengalaman sosial, bersifat lokal dan spesifik
serta tergantung pada pihak yang melakukannya. Karena itu, realitas yang diamati
oleh sesorang tidak bisa digeneralisasikan kepada semua orang sebagaimana yang
biasa dilakukan di kalangan positivism atau post-positivis. Atas dasar filosofi ini
aliran ini menyatakan bahwa hubungan epistemology antara pengamat dan objek
merupakan satu kesatuan, subjektif dan merupakan hasil perpaduan interaksi
diantarakeduanya. Secara metodologis, aliran ini menerapkan metode hermeneutika
dan dialektika dalam proses mencapai kebenaran. Metode pertama dilakukan melalui
identifikasi kebenaran atau konstruksi pendapat orang per orang, sedangkan metode
kedua mencoba untuk membandingkan dan menyilangkan pendapat orang per orang
yang diperoleh oleh metode pertama.
Dari paparan diatas, maka timbul pertanyaan: paradigma manakah yang dianggap
paling baik? Tidak satupun paradigma yang sanggup mengungguli yang lain, mengingat
setiap paradigma adalah cara pandang seseorang terhadap realitas yang tergantung pada
keadaan tertentu. Dalam ilmu eksata, paham positivism dan post-positivisme mungkin
banyak digunakan, sedangkan di ilmu sosial, ciritcal theory atau konstruktivisme mendapat
tempat yang lebih mapan.
Intinya, untuk memahami kebenaran ilmiah dalam pengetahuan yang jelas dari satu
objek formal atau cara pandang tertentu dengan metode yang sesuai dan ditunjang oleh suatu
sistem yang relevan. Masing-masing teori kebenaran ini mempunyai sifat dasar
metodologisnya sendiri, dan satu teori kebenaran tidak bisa dipakai untuk menilai kebenaran
yang lain dengan metode yang sama. Karena itu muncul beragam teori kebenaran, ada yang
sepakat mengakui empat teori kebenaran (teori kebenaran sebagai peresesuain, teori
kebenaran sebagai keteguhan, teori pragmatis tentang kebenarana, teori performatif tentang
kebenaran).
Masing-masing teori kebenaran mempunyai kelebihan dan kekurangan. Namun secara
epistemologi maupun ontologis, tampaknya teori-teori ini dapat mencari jalan keluar dari
persoalan yang muncul dari realitas itu sendiri. Hal ini disebabkan karena ilmu pengetahuan
mempunyai aspek etis.
Sosiologi dapat dikatakan mengandung kebenaran ilmiah karena merupakan ilmu
yang bersifat empirik. Kebenaran ilmiah dalam sosiologi disesuaikan dengan waktu dan
ruang (konteks).

DAFTAR PUSTAKA

Salim, Agus, 2001, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, Yogyakarta: Tiara Wacana.

Supardan, Dadang, 2008, Pengantar Ilmu Sosial, Sebuah Kajian Pendekatan Struktural,
Jakarta: Bumi Aksara.

Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM,2010, Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Ilmu
Pengetahuan. Yogyakarta: Liberty.

----------, 2008, Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

Supardan, H. Dadang. Pengantar Ilmu Sosial Sebuah Kajian Pendekatan Struktural. Jakarta:
Bumi Aksara, 2007.