You are on page 1of 30

ADAPTASI FISIOLOGIS BAYI BARU LAHIR

ADAPTASI FISIOLOGIS BAYI BARU LAHIR

I. PERUBAHAN SISTEM PERNAFASAN


Perkembangan paru-paru

Paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx, yang bercabang dan kemudian
bercabang kembali membentuk struktur percabangan bronkus. Proses ini terus berlanjut setelah
kelahiran hingga sekitar usia 8 tahun sampai jumlah bronkiolus dan alveolus akan sepenuhnya
berkembang, walaupun janin memperlihatkan adanya bukti gerakan napas sepanjang trimester
kedua dan ketiga (Varney’s, halaman 551). Ketidakmatangan paru-paru terutama akan mengurangi
peluang kelangsungan hidup bayi baru lahir sebelum usia kehamilan 24 minggu, yang disebabkan
oleh keterbatasan permukaan alveolus, ketidakmatangan system kapiler paru-paru dan tidak
mencukupinya jumlah surfaktan.

Awal adanya nafas

Dua factor yang berperan pada rangsangan napas pertama bayi.


1. Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang merangsang pusat
pernapasan di otak.
2. Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru-paru selama persalinan, yang
merangsang masuknya udara kedalam paru-paru secara mekanis.

Interaksi antara system pernapasan, kardiovaskuler dan susunan saraf pusat menimbulkan
pernapasan yang teratur dan berkesinambungan serta denyut yang diperlukan untuk kehidupan.
Jadi system-sistem harus berfungsi secara normal.

Surfaktan dan upaya respirasi untuk bernafas

Upaya pernapasan pertama seorang bayi berfungsi untuk :


1. Mengeluarkan cairan dalam paru-paru
2. Mengembangkan jaringan alveolus paru-paru untuk pertama kali

Agar alveolus dapat berfungsi, harus terdapat surfaktan yang cukup dan aliran darah ke paru-paru.
Produksi surfaktan dimulai pada 20 minggu kehamilan dan jumlahnya akan meningkat sampai paru-
paru matang sekitar 30-34 minggu kehamilan. Surfaktan ini mengurangi tekanan permukaan paru
dan membantu untuk menstabilkan dinding alveolus sehingga tidak kolaps pada akhir pernapasan

Tanpa surfaktan, alveoli akan kolaps setiap saat setelah akhir setiap pernapasan, yang
menyebabkan sulit bernapas. Peningkatan kebutuhan energi ini memerlukan penggunaan lebih
banyak oksigen dan glukosa. Peningkatan kebutuhan energi ini memerlukan penggunaan lebih
banyak oksigen dan glukosa. Berbagai peningkatan ini menyebabkan stress pada bayi yang
sebelumnya sudah terganggu.

Dari cairan menuju udara

Bayi cukup bulan, mempunyai cairan di dalam paru-parunya. Pada saat bayi melalui jalan lahir
selama persalinan, sekitar sepertiga cairan ini diperas keluar dari paru-paru. Seorang bayi yang
dilahirkan melalui seksio sesaria kehilangan keuntungan dari kompresi rongga dada ini dan dapat
menderita paru-paru basah dalam jangka waktu lebih lama. Dengan beberapa kali tarikan napas
pertama, udara memenuhi ruangan trakea dan bronkus bayi baru lahir. Dengan sisa cairan di dalam
paru-paru dikeluarkan dari paru dan diserap oleh pembuluh limfe dan darah. Semua alveolus paru-
paru akan berkembang terisi udara sesuai dengan perjalanan waktu.

Funsi system pernapasan dalam kaitanya dengan fungsi kardiovaskuler


Oksigenasi yang memadai merupakan factor yang sangat penting dalam mempertahankan
kecukupan pertukaran udara. Jika terdapat hipoksia, pembuluh darah paru-paru akan mengalami
vasokonstriksi. Pengerutan pembuluh ini berarti tidak ada pembuluh darah yang terbuka guna
menerima oksigen yang berada dalam alveoli, sehingga menyebabkan penurunan oksigenasi
jaringan, yang akan memperburuk hipoksia.

Peningkatan aliran darah paru-paru akan memperlancar pertukaran gas dalam alveolus dan
menghilangkan cairan paru-paru. Peningkatan aliran darah ke paru-paru akan mendorong terjadinya
peningkatan sirkulasi limfe dan membantu menghilangkan cairan paru-paru dan merangsang
perubahan sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar rahim.
II. PERUBAHAN SISTEM SIRKULASI

Setelah lahir, darah bayi baru lahir harus melewati paru untuk mengambil oksigen dan mengadakan
sirkulasi melalui tubuh guna mengantarkan oksigen ke jaringan. Untuk membuat sirkulasi yang baik
guna mendukung kehidupan luar rahim, harus terjadi dua perubahan besar:
1. Penutupan foramen ovale pada atrium jantung
2. Penutupan duktus arteriosus antara arteri paru-paru dan aorta.

Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh system pembuluh tubuh.
Ingat hokum yang menyatakan bahwa darah akan mengalir pada daerah-daerah yang mempunyai
resistensi yang kecil. Jadi perubahan-perubahan tekanan langsung berpengaruh pada aliran darah.
Oksigen menyebabkan system pembuluh mengubah tekanan dengan cara mengurangi atau
meningkatkan resistensinya, sehingga mengubah aliran darah. Hal ini terutama penting kalau kita
ingt bahwa sebagian besar kematian dini bayi baru lahir berkaitan dengan oksigen (asfiksia).

Dua peristiwa yang mengubah tekanan dalam system pembuluh darah :


1. Pada saat tali pusat dipotong, resistensi pembuluh sistemik meningkat dan tekanan atrium kanan
menurun. Tekanan atrium kanan menurun karena berkurangnya aliran darah ke atrium kanan
tersebut. Hal ini menyebabkan penurunan volume dan tekanan atrium kanan itu sendiri. Kedua
kejadian ini membantu darah dengan kandungan oksigen sedikit mengalir ke paru-paru untuk
menjalani proses oksigenasi ulang.
2. Pernapasan pertama menurunkan resistensi pembuluh darah paru-paru dan meningkatkan tekanan
atrium kanan. Oksigen pada pernapasan pertama ini menimbulkan relaksasi dan terbukanya system
pembuluh darah paru-paru (menurunkan resistensi pembuluh darah paru-paru). Peningkatan
sirkulasi ke paru-paru mengakibatkan peningkatan volume darah dan tekanan pada atrium kanan.
Dengan peningkatan volume darah dan tekanan pada atrium kiri, foramen ovale secara fungsional
akan menutup.

Vena umbilicus, duktus venosus dan arteri hipogastrika dari tali pusat menutup secara funsional
dalam beberapa menit setelah lahir dan setelah tali pusat diklem. Penutupan anatomi jaringan
fibrosa berlangsung dalam 2-3 bulan

III. PERUBAHAN SISTEM TERMOREGULASI

Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuh mereka, sehingga akan mengalami stress dengan
adanya perubahan-perubahan lingkungan. Pada saat bayi meninggalkan lingkungan rahim ibu yang
hangat, bayi tersebut kemudian masuk ke dalam lingkungan ruang bersalin yang jauh lebih dingin.
Suhu dingin ini menyebabkan air ketuban menguap lewat kulit, sehingga mendinginkan darah bayi.

Pada lingkungan yang dingin, pembentukan suhu tanpa mekanisme menggigil merupakan usaha
utama seorang bayi yang kedinginan untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya. Pembentukan
suhu tanpa menggigil ini merupakan hasil penggunaan lemak coklat terdapat di seluruh tubuh, dan
mereka mampu meningkatkan panas tubuh sampai 100 %. Untuk membakar lemak coklat, seorang
bayi harus menggunakan glukosa guna mendapatkan energi yang akan mengubah lemak menjadi
panas. Lemak coklat tidak dapat diproduksi ulang oleh bayi baru lahir dan cadangan lemak coklat
ini akan habis dalam waktu singkat dengan adanya stress dingin. Semakin lama usia kehamilan,
semakin banyak persediaan lemak coklat bayi.
Jika seorang bayi kedinginan, dia akan mulai mengalami hipoglikemia, hipoksia dan asidosis. Oleh
karena itu, upaya pencegahan kehilangan panas merupakan prioritas utama dan bidan berkewajiban
untuk meminimalkan kehilangan panas pada bayi baru lahir.

Disebut sebagai hipotermia bila suhu tubuh turun dibawah 36 0 C. Suhu normal pada neonatus
adalah 365 – 370 C.
Bayi baru lahir mudah sekali terkena hipotermia yang disebabkan oleh:
1. Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi dengan sempurna
2. Permukaan tubuh bayi relative lebih luas
3. Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas
4. Bayi belum mampu mengatur possisi tubuh dan pakaiannya agar ia tidak kedinginan.

Hipotermia dapat terjadi setiap saat apabila suhu disekeliling bayi rendah dan upaya
mempertahankan suhu tubuh tidak diterapkan secara tepat, terutama pada masa stabilisasi yaitu 6
– 12 jam pertama setelah lahir. Misal: bayi baru lahir dibiarkan basah dan telanjang selama
menunggu plasenta lahir atau meskipun lingkungan disekitar bayi cukup hangat namun bayi
dibiarkan telanjang atau segera dimandikan.

Gejala hipotermia:
1. Sejalan dengan menurunnya suhu tubuh, bayi menjadi kurang aktif, letargis, hipotonus, tidak kuat
menghisap ASI dan menangis lemah.
2. Pernapasan megap-megap dan lambat, denyut jantung menurun.
3. Timbul sklerema : kulit mengeras berwarna kemerahan terutama dibagian punggung, tungkai dan
lengan.
4. Muka bayi berwarna merah terang
5. Hipotermia menyebabkan terjadinya perubahan metabolisme tubuh yang akan berakhir dengan
kegagalan fungsi jantung, perdarahan terutama pada paru-paru, ikterus dan kematian.

Mekanisme terjadinya Hipotermia:


Hipotermia pada bayi baru lahir timbul karena penurunan suhu tubuh yang dapat terjadi melalui:
1. Radiasi : Yaitu panas tubuh bayi memancar kelingkungan sekitar bayi yang lebih dingin, misal : BBL
diletakkan ditempat yang dingin.
2. Evaporasi : Yaitu cairan/air ketuban yang membasahi kulit bayi menguap, misal : BBL tidak
langsung dikeringkan dari air ketuban.
3. Konduksi : Yaitu pindahnya panas tubuh bayi karena kulit bayi langsung kontak dengan permukaan
yang lebih dingin, misal : popok/celana basah tidak langsung diganti.
4. Konveksi : Yaitu hilangnya panas tubuh bayi karena aliran udara sekeliling bayi, misal : BBL
diletakkan dekat pintu/jendela terbuka.

IV. PERUBAHAN SISTEM METABOLISME

Untuk memfungsikan otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Dengan tindakan penjepitan
tali pusat dengan klem pada saat lahir seorang bayi harus mulai mempertahankan kadar glukosa
darahnya sendiri. Pada setiap baru lahir, glukosa darah akan turun dalam waktu cepat (1 sampai 2
jam).

Koreksi penurunan gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara :


1. Melalui penggunaan ASI (bayi baru lahir sehat harus didorong untuk menyusu ASI secepat mungkin
setelah lahir).
2. Melalui penggunaan cadangan glikogen (glikogenesis)
3. Melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak (glukoneogenesis).

Bayi baru lahir yang tidak dapat mencerna makanan dalam jumlah yang cukup akan membuat
glukosa dari glikogen (glikogenolisis). Hal ini hanya terjadi jika bayi mempunyai persediaan glikogen
yang cukup. Seorang bayi yang sehat akan menyimpan glukosa sebagai glikogen, terutama dalam
hati, selama bulan-bulan terakhir kehidupan dalam rahim. Seorang bayi yang mengalami hipotermia
pada saat lahir yang mengakibatkan hipoksia akan menggunakan persediaan glikogen dalam jam
pertama kelahiran. Inilah sebabnya mengapa sangat penting menjaga semua bayi dalam keadaan
hangat. Perhatikan bahwa keseimbangan glukosa tidak sepenuhnya tercapai hingga 3-4 jam
pertama pada bayi cukup bulan yang sehat. Jika semua persediaan digunakan pada jam pertama
maka otak bayi dalam keadaan beresiko. Bayi baru lahir kurang bulan, lewat bulan, hambatan
pertumbuhan dalam rahim dan distress janin merupakan resiko utama, karena simpanan energi
berkurang atau digunakan sebelum lahir.
Gejala-gejala hipoglikemia bisa tidak jelas dan tidak khas meliputi : kejang-kejang halus, sianosis,
apnu, tangis lemah, letargis, lunglai dan menolak makanan. Bidan harus selalu ingat bahwa
hipoglikemia dapat tanpa gejala pada awalnya. Akibat jangka panjang hipoglikemia ialah kerusakan
yang meluas di seluruh sel-sel otak.

V. PERUBAHAN SISTEM GASTROINTESTINAL

Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai menghisap dan menelan. Refleks gumoh dan refleks
batuk yang matang sudah terbentuk dengan baik pada saat lahir.

Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencerna makanan (selain susu) masih
terbatas. Hubungan antara esophagus bawah dan lambung masih belum sempurna yang
mengakibatkan “gumoh” pada bayi baru lahir dan neonatus. Kapasitas lambung sendiri sangat
terbatas, kurang dari 30 cc untuk seorang bayi baru lahir cukup bulan. Kapasitas lambung ini akan
bertambah secara lambat bersamaan dengan tumbuhnya bayi baru lahir. Pengaturan makan yang
sering oleh bayi sendiri penting contohnya memeberi ASI on demand.

Usus bayi masih belum matang sehingga tidak mampu melindungi dirinya sendiri dari zat-zat
berbahaya kolon. Pada bayi baru lahir kurang efisien dalam mempertahankan air disbanding orang
dewasa, sehingga menyebabkan diare yang lebih serius pada neonatus.

VI. PERUBAHAN SISTEM KEKEBALAN TUBUH

Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga menyebabkan neonatus rentan
terhadap berbagai infeksi dan alergi. Sistem imunitas yang matang akan memberikan kekebalan
alami maupun yang didapat.

Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahanan tubuh yang mencegah atau meminimalkan infeksi.
Berikut beberapa contoh kekebalan alami meliputi:
1. Perlindungan oleh kulit membrane mukosa.
2. Fungsi saringan saluran napas.
3. Pembentukan koloni mikroba oleh kulit dan usus
4. Perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung.

Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel oleh sel darah yang membantu bayi baru lahir
membunuh mikroorganisme asing. Tetapi pada bayi baru lahir sel-sel darah ini masih belum
matang, artinya bayi baru lahir tersebut belum mampu melokalisasi dan memerangi infeksi secara
efisien.

Kekebalan yang didapat akan muncul kemudian. Bayi baru lahir yang lahir dengan kekebalan pasif
mengandung banyak virus dalam tubuh ibunya. Reaksi antibody keseluruhan terhadap antigen asing
masih belum bisa dilakukan sampai awal kehidupan anak. Salah satu tuges utama selama masa bayi
dan balita adalah pembentukan system kekebalan tubuh.

Karena adanya defisiensi kekebalan alami dan didapat ini, bayi baru lahir sangat rentan terhadap
infeksi. Reaksi bayi baru lahir terhadap infeksi masih lemah dan tidak memadai. Oleh karena itu,
pencegahan terhadap mikroba (seperti pada praktek persalinan yang aman dan menyusui ASI dini
terutama kolostrum) dan detekdi dini serta pengobatan dini infeksi menjadi sangat penting.
Adaptasi Fisiologis
Baru lahir terjadi perubahan fungsi organ yang meliputi:

1. Sistem pernapasan

Selama dalam uterus janin mendapat oksigen dari pertukaran melalui


plasenta. Setelah bayi lahir pertukaran gas terjadi pada paru-paru (setelah
tali pusat dipotong). Rangsangan untuk gerakan pernapasan pertama ialah
akibat adanya tekanan mekanis pada toraks sewaktu melalui jalan lahir,
penurunan tekanan oksigen dan peningkatan karbondioksida merangsang
kemoreseptor pada sinus karotis. Usaha bayi pertama kali untuk
mempertahankan tekanan alveoli adanya surfaktan adalah menarik nafas,
mengeluarkan dengan menjerit sehingga oksigen tertahan di dalam. Fungsi
surfaktan untuk mempertahankan ketegangan alveoli.

Masa alveoli akan kolaps dan paru-paru kaku. Pernapasan pada neonatus
biasanya pernapasan diafragma dan abdominal. Sedangkan respirasi
setelah beberapa saat kelahiran yaitu 30 – 60 x / menit.

2. Jantung dan Sirkulasi Darah

Di dalam rahim darah yang kaya akan oksigen dan nutrisi berasal dari
plasenta masuk ke dalam tubuh janin melalui vena umbilikalis, sebagian
besar masuk ke vena kava inferior melalui duktus dan vena sasaranti,
darah dari sel-sel tubuh yang miskin oksigen serta penuh dengan sisa-sisa
pembakaran dan sebagian akan dialirkan ke plasenta melalui umbilikalis,
demikian seterusnya.

Ketika janin dilahirkan segera, bayi menghirup dan menangis kuat, dengan
demikian paru-paru akan berkembang, tekanan paru-paru mengecil dan
darah mengalir ke paru-paru, dengan demikian duktus botali tidak
berfungsi lagi, foramen ovale akan tertutup. Penutupan foramen ovale
terjadi karena pemotongan tali pusat.

3. Saluran Pencernaan

Pada kehamilan 4 bulan, pencernaan telah cukup terbentuk dan janin telah
dapat menelan air ketuban dalam jumlah yang cukup banyak. Absorpsi air
ketuban terjadi melalui mukosa seluruh saluran pencernaan, janin minum
air ketuban dapat dibuktikan dengan adanya mekonium (zat yang berwarna
hitam kehijauan). Mekonium merupakan tinja pertama yang biasanya
dikeluarkan dalam 24 jam pertama.
4. Hepar

Hepar janin pada kehamilan 4 bulan mempunyai peranan dalam


metabolisme hidrat arang, dan glikogen mulai disimpan di dalam hepar,
setelah bayi lahir simpanan glikogen cepat terpakai, vitamin A dan D juga
sudah disimpan dalam hepar.

Fungsi hepar janin dalam kandungan segera setelah lahir dalam keadaan
imatur (belum matang). Hal ini dibuktikan dengan ketidakseimbangan
hepar untuk meniadakan bekas penghancuran darah dari peredaran darah.
Enzim hepar belum aktif benar pada neonatus, misalnya enzim UDPGT
(Uridin Disfosfat Glukoronide Transferase) dan enzim GGFD (Glukosa 6
Fosfat Dehidrogerase) yang berfungsi dalam sintesis bilirubin sering
kurang sehingga neonatus memperlihatkan gejala ikterus fisiologis.

5. Metabolisme

Pada jam-jam pertama energi didapat dari pembakaran karbohidrat dan


pada hari kedua energi berasal dari pembakaran lemak. Energi tambahan
yang diperlukan neonatus pada jam-jam pertama sesudah lahir diambil dari
hasil metabolisme lemak sehingga kadar gula darah dapat mencapai 120
mg/100 ml.

6. Produksi Panas

Pada neonatus apabila mengalami hipotermi, bayi mengadakan


penyesuaian suhu terutama dengan NST (Non Sheviring Thermogenesis)
yaitu dengan pembakaran “Brown Fat” (lemak coklat) yang memberikan
lebih banyak energi daripada lemak biasa. Cara penghilangan tubuh dapat
melalui konveksi aliran panas mengalir dari permukaan tubuh ke udara
sekeliling yang lebih dingin. Radiasi yaitu kehilangan panas dari
permukaan tubuh ke permukaan benda yang lebih dingin tanpa kontak
secara langsung. Evaporasi yaitu perubahan cairan menjadi uap seperti
yang terjadi jika air keluar dari paru-paru dan kulit sebagai uap dan
konduksi yaitu kehilangan panas dari permukaan tubuh ke permukaan
benda yang lebih dingin dengan kontak secara langsung.

7. Kelenjar Endoktrin

Selama dalam uterus fetus mendapatkan hormon dari ibu, pada waktu bayi
baru lahir kadang-kadang hormon tersebut masih berfungsi misalkan
pengeluaran darah dari vagina yang menyerupai haid perempuan. Kelenjar
tiroid sudah terbentuk sempurna sewaktu lahir dan mulai berfungsi sejak
beberapa bulan sebelum lahir.

8. Keseimbangan Air dan Ginjal

Tubuh bayi baru lahir mengandung relatif banyak air dan kadar natrium
relatif lebih besar daripada kalium. Hal ini menandakan bahwa ruangan
ekstraseluler luas. Fungsi ginjal belum sempurna karena jumlah nefron
matur belum sebanyak orang dewasa dan ada ketidakseimbangan antara
luas permukaan glomerulus dan volume tubulus proksimal, renal blood flow
(aliran darah ginjal) pada neonatus relatif kurang bila dibandingkan dengan
orang dewasa.

9. Susunan Saraf

Jika janin pada kehamilan sepuluh minggu dilahirkan hidup maka dapat
dilihat bahwa janin tersebut dapat mengadakan gerakan spontan. Gerakan
menelan pada janin baru terjadi pada kehamilan empat bulan. Sedangkan
gerakan menghisap baru terjadi pada kehamilan enam bulan.

Pada triwulan terakhir hubungan antara saraf dan fungsi otot-otot menjadi
lebih sempurna. Sehingga janin yang dilahirkan diatas 32 minggu dapat
hidup diluar kandungan. Pada kehamilan 7 bulan maka janin amat sensitif
terhadap cahaya.

10. Imunologi

Pada sistem imunologi Ig gamma A telah dapat dibentuk pada kehamilan 2


bulan dan baru banyak ditemukan segera sesudah bayi dilahirkan.
Khususnya pada traktus respiratoris kelenjar liur sesuai dengan bakteri
dapat alat pencernaan, imunoglobolin G dibentuk banyak dalam bulan
kedua setelah bayi dilahirkan. Ig A, Ig D dan Ig E diproduksi secara lebih
bertahap dan kadar maksimum tidak dicapai sampai pada masa kanak-
kanak dini. Bayi yang menyusui mendapat kekebalan pasif dari kolostrum
dan ASI.

11. Sistem Integumen

Kulit bayi baru lahir sangat sensitif dan mudah mengelupas, semua struktur
kulit ada pada saat lahir tetapi tidak matur. Epidermis dan dermis tidak
terikat dengan erat dan sangat tipis, vernik keseosa juga bersatu dengan
epidermis dan bertindak sebagai tutup pelindung dan warna kulit bayi
berwarna merah muda.

12. Sistem Hematopoiesis.

Saat bayi lahir nilai rata-rata Hb, Ht, SDM dan Leukosit lebih tinggi dari nilai
normal orang dewasa. Hb bayi baru lahir 14,5 – 22,5 gr/dl, Ht 44 – 72%,
SDM 5 – 7,5 juta/mm3dan Leukosit sekitar 18000/mm3. Darah bayi baru
lahir mengandung sekitar 80% Hb janin. Presentasi Hb janin menurun
sampai 55% pada minggu kelima dan 5% pada minggu ke 20.
13. Sistem Skelet

Arah pertumbuhan sefalokaudal terbukti pada pertumbuhan tubuh secara


keseluruhan. Kepala bayi cukup bulan berukuran seperempat panjang
tubuh. Lengan sedikit lebih panjang daripada tungkai. Wajah relatif kecil
terhadap ukuran tengkorak yang jika dibandingkan lebih besar dan berat.
Ukuran dan bentuk kranium dapat mengalami distorsi akibat molase.

Pada bayi baru lahir lutut saling berjauhan saat kaki diluruskan dan tumit
disatukan sehingga tungkai bawah terlihat agak melengkung. Saat baru
lahir tidak terlihat lengkungan pada telapak kaki. Ekstremitas harys
simetris, terdapat kuku jari tangan dan kaki, garis-garis telapak tangan dan
sudah terlihat pada bayi cukup bulan.

C. Penatalaksanaan Medis
1. Tes Diagnostik

a. Jumlah sel darah putih (SDP) : 18000/mm3, neutrofil meningkat sampai


23.000-24.000/mm3, hari pertama setelah lahir (menurun bila ada sepsis).
b. Hemoglobin (Hb) : 15-20 gr/dl (kadar lebih rendah berhubungan dengan
anemia atau hemolisis berlebihan).

c. Hematokrit (Ht) 43-61% (peningkatan sampai 65% atau lebih


menandakan polisitemia, penurunan kadar menunjukkan anemia atau
hemoragi prenatal/perinatal).

d. Bilirubin total : 6mg/dl pada hari pertama kehidupan, lebih besar 8mg/dl
1-2 hari dan 12mg/dl pada 3-5 hari.

e. Golongan darah RH.

(Marllyn. E, Doenges, 2001).


2. Terapi

a. Non Farmakologi

1) Pengukuran nilai APGAR Score (pada menit pertama dan menit kelima
setelah dilahirkan)

2) Kontrol suhu, suhu rektal sekali kemudian suhu aksila

3) Penimbangan BB setiap hari

4) Jadwal menyusui

5) Higiene dan perawatan tali pusat

b. Farmakologi

1) Suction dan oksigen

2) Vitamin K

3) Perawatan mata (obat mata entromisin 0,5% atau tetrasimin 1%, perak
nitral atau neosporin).

4) Vaksinasi hepatitis B

Vaksinasi hepatitis B direkomendasikan untuk semua bayi. Tempat yang


biasa dipakai untuk menyuntikkan obat ini pada bayi baru lahir adalah
muskulus vastus lateralis.

(Bobak, M Irene, 2005)

D. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian

a. Aktivitas/Istirahat

Status sadar mungkin 2-3 jam beberapa hari pertama, bayi tampak semi
koma saat tidur ; meringis atau tersenyum adalah bukti tidur dengan
gerakan mata cepat, tidur sehari rata-rata 20 jam.
b. Pernapasan dan Peredaran Darah

Bayi normal mulai bernapas 30 detik sesudah lahir, untuk menilai status
kesehatan bayi dalam kaitannya dengan pernapasan dan peredaran darah
dapat digunakan metode APGAR Score. Namun secara praktis dapat
dilihat dari frekuensi denyut jantung dan pernapasan serta wajah,
ekstremitas dan seluruh tubuh, frekwensi denyut jantung bayi normal
berkisar antara 120-140 kali/menit (12 jam pertama setelah kelahiran),
dapat berfluktuasi dari 70-100 kali/menit (tidur) sampai 180 kali/menit
(menangis).

Pernapasan bayi normal berkisar antara 30-60 kali/menit warna


ekstremitas, wajah dan seluruh tubuh bayi adalah kemerahan. Tekanan
darah sistolik bayi baru lahir 78 dan tekanan diastolik rata-rata 42, tekanan
darah berbeda dari hari ke hari selama bulan pertama kelahiran. Tekanan
darah sistolik bayi sering menurun (sekitar 15 mmHg) selama satu jam
pertama setelah lahir. Menangis dan bergerak biasanya menyebabkan
peningkatan tekanan darah sistolik.

c. Suhu Tubuh

Suhu inti tubuh bayi biasanya berkisar antara 36,50C-370C. Pengukuran


suhu tubuh dapat dilakukan pada aksila atau pada rektal.
d. Kulit

Kulit neonatus yang cukup bulan biasanya halus, lembut dan padat dengan
sedikit pengelupasan, terutama pada telapak tangan, kaki dan
selangkangan. Kulit biasanya dilapisi dengan zat lemak berwarna putih
kekuningan terutama di daerah lipatan dan bahu yang disebut verniks
kaseosa.

e. Keadaan dan Kelengkapan Ekstremitas

Dilihat apakah ada cacat bawaan berupa kelainan bentuk, kelainan jumlah
atau tidak sama sekali pada semua anggota tubuh dari ujung rambut
sampai ujung kaki juga lubang anus (rektal) dan jenis kelamin.

f. Tali Pusat

Pada tali pusat terdapat dua arteri dan satu vena umbilikalis. Keadaan tali
pusat harus kering, tidak ada perdarahan, tidak ada kemerahan di
sekitarnya.
g. Refleks

Beberapa refleks yang terdapat pada bayi :

1) Refleks moro (refleks terkejut). Bila diberi rangsangan yang


mengagetkan akan terjadi refleks lengan dan tangan terbuka.

2) Refleks menggenggam (palmer graps). Bila telapak tangan dirangsang


akan memberi reaksi seperti menggenggam. Plantar graps, bila telapak
kaki dirangsang akan memberi reaksi.

3) Refleks berjalan (stepping). Bila kakinya ditekankan pada bidang datang


atau diangkat akan bergerak seperti berjalan.

4) Refleks mencari (rooting). Bila pipi bayi disentuh akan menoleh


kepalanya ke sisi yang disentuh itu mencari puting susu.

5) Refleks menghisap (sucking). Bila memasukan sesuatu ke dalam mulut


bayi akan membuat gerakan menghisap.

h. Berat Badan

Pada hari kedua dan ketiga bayi mengalami berat badan fisiologis. Namun
harus waspada jangan sampai melampaui 10% dari berat badan lahir.
Berat badan lahir normal adalah 2500 sampai 4000 gram.

i. Mekonium

Mekonium adalah feces bayi yang berupa pasta kental berwarna gelap
hitam kehijauan dan lengket. Mekonium akan mulai keluar dalam 24 jam
pertama.

j. Antropometri

Dilakukan pengukuran lingkar kepala, lingkar dada, lingkar lengan atas dan
panjang badan dengan menggunakan pita pengukur. Lingkar kepala fronto-
occipitalis 34cm, suboksipito-bregmantika 32cm, mento occipitalis 35cm.
Lingkar dada normal 32-34 cm. Lingkar lengan atas normal 10-11 cm.
Panjang badan normal 48-50 cm.

k. Seksualitas
Genetalia wanita ; Labia vagina agak kemerahan atau edema, tanda
vagina/himen dapat terlihat, rabas mukosa putih (smegma) atau rabas
berdarah sedikit mungkin ada. Genetalia pria ; Testis turun, skrotum
tertutup dengan rugae, fimosis biasa terjadi.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Risiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan refleks hisap tidak adekuat.

b. Resiko tinggi perubahan suhu tubuh berhubungan dengan adaptasi


dengan lingkungan luar rahim, keterbatasan jumlah lemak.

c. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan


(pemotongan tali pusat) tali pusat masih basah.

d. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan hilangnya


air (IWL), keterbatasan masukan cairan.

e. Kurangnya pengetahuan orangtua berhubungan dengan kurang


terpaparnya informasi.

3. Perencanaan Keperawatan
a. Risiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan refleks hisap tidak adekuat.

Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi.

Kriteria hasil:

1) Penurunan BB tidak lebih dari 10% BB lahir.

2) Intake dan output makanan seimbang.

3) Tidak ada tanda-tanda hipoglikemi.

Rencana tindakan:

1) Timbang BB setiap hari.

2) Auskultasi bising usus, perhatikan adanya distensi abdomen.


3) Anjurkan ibu untuk menyusui pada payudara secara bergantian 5-10
menit.

4) Lakukan pemberian makanan tambahan.

5) Observasi bayi terhadap adanya indikasi masalah dalm pemberian


makanan (tersedak, menolak makanan, produksi mukosa meningkat).

b. Resiko tinggi perubahan suhu tubuh berhubungan dengan adaptasi


dengan lingkungan luar rahim, keterbatasan jumlah lemak.

Tujuan: perubahan suhu tidak terjadi.

Kriteria:

1) Suhu tubuh normal 36-370 C.


2) Bebas dari tanda-tanda strees, dingin, tidak ada tremor, sianosis dan
pucat.

Rencana tindakan:

1) Pertahankan suhu lingkungan.

2) Ukur suhu tubuh setiap 4 jam.

3) Mandikan bayi dengan air hangat secara tepat dan cepat untuk menjaga
air bayi tidak kedinginan.

4) Perhatikan tanda-tanda strees dingin dan distress pernapasan( tremor,


pucat, kulit dingin).

c. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan


(pemotongan tali pusat) tali pusat masih basah.

Tujuan : infeksi tidak terjadi

Kriteria hasil:

1) Bebas dari tanda-tanda infeksi.


2) TTV normal:S: 36-370C, N:70-100x/menit, RR: 40-60x/menit
3) Tali pusat mengering

Rencana tindakan :

1) Pertahankan teknik septic dan aseptic.

2) Lakukan perawatan tali pusat setiap hari setelah mandi satu kali perhari.

3) Observasi tali pusat dan area sekitar kulit dari tanda-tanda infeksi.

4) Infeksi kulit setiap hati terhadap ruam atau kerusakan integritas kulit.

5) Ukur TTV setiap 4 jam.

6) Kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium.

d. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan hilangnya


air (IWL), keterbatasan masukan cairan.

Tujuan: kebutuhan cairan terpenuhi

Kriteria hasil:

1) Bayi tidak menunjukkan tanda-tanda dehidrasi yang ditandai dengan


output kurang dari 1-3ml/kg/jam.

2) Membran mukosa normal.

3) Ubun-ubun tidak cekung.

4) Temperature dalam batas normal.

Rencana tindakan :

1) Pertahankan intake sesuai jadwal

2) Berikan minum sesuai jadwal

3) Monitor intake dan output


4) Berikan infuse sesuai program

5) Kaji tanda-tanda dehidrasi, membran mukosa, ubun-ubun, turgor kulit,


mata

6) Monitor temperatur setiap 2 jam

e. Kurangnya pengetahuan orangtua berhubungan dengan kurang


terpaparnya informasi.

Tujuan : orang tua mengetahui perawatan pertumbuhan dan


perkembangan bayi

Kriteria hasil:

1) Orang tua mengatakan memahami kondisi bayi.

2) Oaring tua berpartisipasi dalam perawatan bayi.

Rencana tindakan:

1) Ajarkan orang tua untuk diskusi dengan diskusi fisiologi, alasan


perawatan dan pengobatan.

2) Diskusikan perilaku bayi baru lahir setelah periode pertama.

3) Lakukan pemeriksaaan bayi baru lahir saat orang tua ada.

4) Berikan informasi tentang kemampuan interaksi bayi baru lahir.

5) Libatkan dan ajarkan orang tua dalam perawatan bayi.

6) Jelaskan komplikasi dengan mengenai tanda-tanda hiperbilirubin

4. Pelaksanaan Keperawatan
Tahap pelaksanaan merupakan langkah keempat melaksanakan berbagai
strategi keperawatan (tindakan keperawatan) yang telah direncanakan
dalam rencana tindakan keperawatan (Hidayat 2004). Dalam tahap ini
perawat harus mengetahui berbagai hal diantaranya bahaya-bahaya fisik
dan perlindungan pada klien. Teknik komunikasi kemampuan dalam
prosedur klien. Dalam pelaksanaan rencana tindakan terdapat dua jenis
tindakan yaitu tindakan jenis mandiri dan kolaborasi. Sebagai profesi
perawat mempunyai kewenangan dalam tanggung jawab dalam
menentukan komponan pada tahap asuhan keperawatan.

Komponen pada tahap implementasi adalah :

a. Tindakan keperawatan mandiri

Tindakan keperawatan mandiri dilakukan tanpa pesanan dokter. Tindakan


keperawatan mandiri ini ditetapkan dengan standar praktek American
Nurses Associatioin (1973) dan kebijakan institusi perawatan kesehatan.

b. Tindakan keperawatan kolaboratif

Tindakan keperawatan kolaborasi diimpelementasikan bila perawat bekerja


dengan anggota tim perawat kesehatan yang lain dalam membuat
keputusan bersama yang bertujuan untuk mengatasi masalah klien.

c. Dokumentasi tindakan keperawatan dan respon klien terhadap tindakan


keperawatan

Dokumentasi merupakan pernyataan dari kejadian/identitas yang otentik


dengan mempertahankan catatan-catatan yang tertulis. Dokumentasi
merupakan wahana untuk komunikasi dan suatu profesional ke profesional
lainnya tentang kasus klien. Dokumen klien merupakan bukti tindakan
keperawatan mandiri dan kolaborasi yang diimplementasikan oleh perawat
dan perubahan-perubahan pada kondisi klien. Frekuensi dokumentasi
tergantung pada kondisi klien dan terapi yang diberikan idealnya therapi
dilakukan setiap shift. Rekam medis klien merupakan dokumentasi yang
legal, rekam medis tersebut diterima di pengadilan. Pada tuntutan mal
praktik, catatan perawatan memberikan bukti tindakan perawat. Perawat
harus melindungi catatan tersebut dari pembaca yang tidak berhak seperti
pengunjung. Tanda tangan perawat di akhiri catatan perawat merupakan
akuntabilitas terhadap isi catatan. Mengubah dokumen legal tersebut
merupakan suatu kejahatan adalah tidak bisa di teruma untuk menghapus
tulisan pada catatan menggunakan tipe x, penghapusan tinta atau lainnya.

5. Evaluasi Keperawatan
Tahap evaluasi adalah perbandingan hasil-hasil yang diamati dengan
kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan. Kemampuan yang
harus dimiliki perawat pada tahap ini adalah memahami respon terhadap
intervensi keperawatan. Kemampuan mengembalikan kesimpulan tentang
tujuan yang dicapai serta kemampuan dalam menghubungkan tindakan-
tindakan keperawatan pada kriteria hasil. Pada tahap evaluasi ini terdiri 2
kegiatan yaitu:

a. Evaluasi formasi menyatakan evaluasi yang dilakukan pada saat


memberikan intervensi dengan respon segera.

b. Evaluasi sumatif merupakan rekapitulasi dari hasil observasi dan analisis


status klien pada waktu tertentu berdasarkan tujuan yang direncanakan
pada tahap perencanaan. Disamping itu, evaluasi juga sebagai alat ukur
suatu tujuan yang mempunyai kriteria tettentu yang membuktikan apakah
tujuan tercapai, tidak tercapai atau tercapai sebagian.

1) Tujuan Tercapai

Tujuan dikatakan teracapai bila klien telah menunjukkan perubahan


kemajuan yang sesuai dengan keiteria yang telah ditetapkan

2) Tujuan tercapai sebagian

Tujuan ini dikatakan tercapai sebagian apabila tujuan tidak tercapai secara
keseluruhan sehingga masih perlu dicari berbagai masalah atau
penyebabnya, seperti klien dapat makan sendiri tetapi masih merasa mual,
setelah makan bahkan kadang-kadang muntah.

3) Tujuan tidak tercapai

Dikatakan tidak tercapai apabila tidak menunjukkan adanya perubahan


kearah kemajuan sebagaimana kriteria yang diharapkan.

Evaluasi sumatif masing-masing diagnosa keperawatan secara teori


adalah :

a. Resiko tinggi perubahan nutrisi tidak terjadi.

b. Resiko tinggi perubahan suhu tubuh tidak terjadi.


c. Resiko tinggi infeksi tidak terjadi.

d. Resiko tinggi kekurangan volume cairan tidak terjadi.

e. Kurangnya pengetahuan orang tua teratasi.


Asuhan keperawatan bayi baru lahir normal

Pengkajian

1. Pengkajian fisik

a. Pengukuran umum :

 Lingkar kepala 33-35 cm,

 Lingkar dada 30,5-33 cm,

 Lingkat kepala 2-3 cm > dari linkar dada,

 Panjang kepala ke tumit 48-53 cm,

 BBL 2700-4000 gram

b. Tanda vital :

 Suhu 36,50C-370C (aksila),

 Frekwensi jantung 120-140 x/m (apical),

 Pernafasan 30-60x/m

 Tekanan darah

c. Kulit :

 Saat lahir: merah terang, menggembung, halus

 Hari kedua-ketiga: merah muda, mengelupas, kering

 Vernik kaseosa

 Lanugo

 Edema sekitar mata, wajah, kaki, punggung tangan, telapak, dan skrotum atau labia.

d. Kepala

 Fontanel anterior: bentuk berlian, 2,5-4,0 cm


 Fontanel posterior:bentuk segitiga 0,5-1 cm

 Fontanel harus datar, lunak danpadat

 Bagian terlebar dari fontanel diukur dari tulang ke tulang, bukan dari sututa ke sutura.

e. Mata :

 Kelopak biasanya edema, mata tertutup

 Warna agak abu-abu, biru gelap, coklat

 Tida ada air mata

 Ada refleks merah, reflek pupil (repon cahaya), refleks berkedip (respon cahaya atau

sentuhan)

 Fiksasi rudimenter pada obyek dan kemampuan mengikuti ke garis tengah.

f. Telinga :

 Posisi puncak pinna berada pada garis horizontal bersama bagian luar kantus mata

 Reflek moro atau refleks terkejut ditimbulkan oleh bunyi keras dan tiab-tiba

 Pina lentur adanya kartilago.

g. Hidung :

 patensi nasal, rabas nasal-mukus putih encer, bersin

h. Mulut dan tenggorok :

 Utuh, palatum arkus-tinggi, uvula di garis tengah, frenulum lidah, frenulum bibir atas

 Reflek menghisap kuat dan terkoordinasi, reflek rooting

 Refleks gag, refleks ekstrusi

 Salivasi minimal atau tidak ada, menangis keras.

i. Leher :
 Pendek, gemuk, biasanya dikelilingi oleh lipatan kulir, reflek leher tonik, refleks neck-

righting, refleks otolith righting

j. Dada :

 Diameter anterior posteriordan lateral sama

 Retraksi sternal sedikit terlihat selama inspirasi

 Terlihat prosesusxifoideus pembesaran dada.

k. Paru-paru :

 Pernafasan utamanya adalah pernafasan abdominal

 Reflek batuk tidak ada saat lahir, ada setelah 1-2 hari.

 Bunyi nafas bronchial sama secara bilateral

l. Jantung :

 Apeks: ruang intercostal ke4-5, sebelah lateral batas kiri sternum

 Nada S2 sedikit lebih tajam dan lebih tinggi daripada S1

m. Abdomen :

 Bentuk silindris

 Hepar: dapat diraba 2-3 cm dibawah marjin kostal kanan

 Limpa: puncak dapat diraba pada akhir minggu pertama

 Ginjal: dapat diraba 1-2 cm diatas umbilicaus

 Pusat umbilicus: putih kebiruan pada saat lahir dengan 2 arteri dan 1 vena

 Nadi femoral bilateral sama

n. Genetalia wanita :

 Labia dan klitoris biasanya edema


 Labia minora lebih besar dari labia mayora

 Meatus uretral di belakang klitoris

 Verniks kaseosa di antara labia

 Berkemih dalam 24 jam

o. Genetalia pria :

p. Punggung dan rektum :

 Spina utuh, tidak ada lubang masa, atau kurva menonjol

 Refleks melengkung, batang tubuh

 Wink anal

 Lubang anal paten

 Lintasa mekonium dalam 36 jam

q. Ekstrimitas :

 10 jari kaki dan tangan

 rentang gerak penuh

 punggung kuku merah muda, dengan sianosis sementara segera setelah lahir

 fleksi ekstremitas atas dan bawah

 telapak biasanya datar

 ekstrimitas simetris

 tonus otot sama secara bilateral, terutama tahanan pada fleksi berlawanan

 nadi brakialis bilateral sama.

r. Sistem neuromuskuler:
 Ekstrimitas biasanya mempertahankan derajat fleksi

 Ekstensi ekstrimitas diikuti dengan posisi fleksi sebelumnya.

 Kelambatan kepala saat duduk, tetapi mampu menahan kepala agar tetap tegak walaupun

sementara

 Mampu memutar kepala dari satu sisi kesisi lain ketika tengkuran

 Mampu menahan kepala dalam garis horizontal dengan punggung bila tengkurap.

2. Pengkajian usia gestasi

3. Observasi status tidur dan aktivitas

 Tidur regular: 4-5 jam/hari, 10-20 menit/siklus mata tertutup, pernafasan regular, Tak ada

gerakan kecuali sentakan tubuh yang tiba-tiba.

 Tidur ireguler: 12-15 jam/hari, 20-45 menit/siklus tidur, mata tertutup, pernafasan tidak

teratur, sedikit kedutan pada otot.

 Mengantuk: bervariasi, mata mungkin terbuka, pernafasan ireguler, gerakan tubuh aktif.

 Inaktivitas sadar: 2-3 jam/hari. Berespon terhadap lingkungan dengan gerakan aktif dan

mencari obyek pada rentang dekat.

 Terbangun dan menangis: 1-4 jam/hari. Mungkin dengan merengek dan sedikit gerakan

tubuh, berlanjut pada menangis keras dan marah serta gerakan ekstrimitas yang tidak

terkoordinasi.

4. Observasi perilaku kedekatan orang tua

 Bila bayi dibawa ke orang tua, apakah mereka meraih anak dan memanggil namanya?

 Apakah orang tua membicarakan tentang anaknya dalam hal identifikasi/

 Kapan orang tua menggendong bayi, kontak tubuh seperti apa yang terjadi?

 Ketika bayi bangun, stimulasi apa yang dilakukan?


 Seberapa nyaman keleihatan orang tua dalam merawat bayi?

 Tipe afeksi apa yang ditunjuukan pada bayi baru lahir, seperti tersenyum, membelai,

mencium atau menimang?

 Bila bayi rewel, tehnik kenyamanan apa yang dilakukan orang tua?

Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d. mucus berlebihan, posisi tidak tepat

2. Risiko infeksi b.d. kurangnya pertahanan imunologis, faktor lingkungan, penyakit ibu.

3. Hipotermi b.d berada di lingkungan yang dingin/sejuk, pakaian yang tidak memadai,

evaporasi kulit di lingkungan yang dingin.

4. Risiko trauma berhubungan dengan ketidakberdayaan fisik

5. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh (resiko tinggi) b.d. imaturitas, kurang

pengetahuan orang tua.

6. Perubahan oroses keluarga b.d krisis maturasi, kelahiran cukup bulan, perubahan dalam

unit keluarga

7. PK Hipoglikemi

Diagnosa keperawatan yang sering muncul

1. bersihkan jalan nafas tidak efektif sampai dengan


obstruksi jalan nafas banyaknya mukus.
2. resiko infeksi
3. resiko ketidakseimbangan suhu tubuh dengan faktor
resiko paparan dingin/sejuk: perubahan suhu infra uteri ke
extra uteri.

Rencana Keperawatan
No Dianogsa Keperawatan Tujuan Intervensi

1. Bersihan jalan nafas tak Setelah dilakukan tindakan Manajemen Jalan Nafas (3140) :

efektif b.d obstruksi jalan keperawatan selama … X 24


1. Buka jalan nafas
nafas : banyaknya mucus. jam, klien diharapkan mampu

2.
menunjukan jalan nafas yang Posisikan klien untuk memak-simalkan ven

paten dengan indicator :


3. Identifikasi klien perlunya pema-sangan a
Batasan karakteristik :
nafas buatan

- Dyspuea
4.
Status Respirasi : Patensi Keluarkan sekret dengan suction

- Cyanosis Jalan Nafas (0410) :


5. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara ta

- Kelainan suara nafas


- Pasien tampak tenang (tidak
6. Monitor respirasi dan ststus O2
(kracles) cemas)

- Mata melebar - RR: 30-60X/menit


Suction Jalan Nafas (3160) :
- Produksi sputan - Irama nafas teratur
1. Auskultasi suara nafas sebelum dan
- Gelisah - Pengeluaran sputum pada jalan
suctioning
nafas
- Perubahan frekwensi dan
2. Informasikan pada keluarga tentang suction
irama nafas - Tidak ada suara nafas

tambahan 3. Berikan O2 dengan menggunakan nasa

memfasilitasi suction nasotracheal


- Warna kulit kemerahan
4. Gunakan alat yang steril setiap melakukan t

5. Berikan waktu istirahat pada klien setela

dikeluarkan dari naso trakeal

6. Hentikan suction dan b


O2 jika klien menun
bradikadi, peningkatan satura
dll.
2. Resiko infeksi Setelah dilakukan tindakan Mengontrol Infeksi (6540) :

keperawatan selama…X 24 jam,


1. Bersihkan box / incubator setelah dipakai ba
pasien diharapkan terhindar

Batasan karakteristik: 2.
dari tanda dan gejala infeksi Pertahankan teknik isolasi bagi bayi ber

dengan indicator : menular


- Prosedur invasif

Status Imun (0702) : 3. Batasi pengunjung


- Malnutrisi

- RR : 30-60X/menit 4. Instruksikan pada pengunjung untuk cuc


- Ketidakadekuatan imun
sebelum dan sesudah berkunjung
buatan - Irama napas teratur

5. Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tan


- Suhu 36-37˚ C

6. Cuci tangan sebelum dan sesudah me


- Integritas kulit baik
tindakan keperawatan

- Integritas nukosa baik


7. Pakai sarung tangan dan baju sebagai pelind

- Leukosit dalam batas normal


8. Pertahankan lingkungan aseptik selama pem

alat

9. Ganti letak IV perifer dan line kontrol dan

sesuai ketentuan

10. Tingkatkan intake nutrisi

11. Beri antibiotik bila perlu.

Mencegah Infeksi (6550)

1. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik da

2. Batasi pengunjung

3. Skrining pengunjung terhadap penyakit men


4. Pertahankan teknik aseptik pada bayi beresi

5. Bila perlu pertahankan teknik isolasi

6. Beri perawatan kulit pada area eritema

7. Inspeksi kulit dan membran mukosa

kemerahan, panas, dan drainase

8. Dorong masukan nutrisi yang cukup

9. Berikan antibiotik sesuai program


3. Resiko ketidakseimbangan Setelah dilakukan tindakan Mengatur temperature (3900) :
suhu tubuh b.d faktor resiko keperawatan selama…X 24 jam
paparan dingin / sejuk : 1. Monitor temperatur klien sampai stabil
diharapkan klien terhindar dari
perubahan suhu intrauteri ke ketidak-seimbangan suhu tubuh
2. Monitor nadi, pernafasan
extrauteri. dengan indicator :
3. Monitor warna kult
Termoregulasi Neonatus
(0801) : 4. Monitor tanda dan gejala hipotermi / hipert
- Suhu axila 36-37˚ C 5. Perhatikan keadekuatan intake cairan
- RR : 30-60 X/menit 6. Pertahankan panas suhu tubuh bayi (missa
ganti pakaian jika basah)
- HR 120-140 X/menit
7. Bungkus bayi dengan segera setelah lah
- Warna kulit merah muda
mencegah kehilangan panas
- Tidak ada distress respirasi
8. Jelaskan kepada keluarga tanda dan
- Hidrasi adekuat hipotermi / hipertermi

- Tidak menggigil 9. Letakkan bayi setelah lahir di bawah lamp


sumber panas
- Bayi tidak gelisah
10. Jelaskan kepada keluarga cara untuk m
- Bayi tidak letargi kehilangan panas / mencegah panas bayi be

11. Tempatkan bayi di atas kasur dan berikan se

DAFTAR PUSTAKA

_________, 1985, Buku Kuliah 1, Ilmu Kesehatan Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas
Kedokteran, Universitas Indonesia, Jakarta.

IOWA Outcomes Project, Nursing Outcomes Classification (NOC), Edisi 2, 2000, Mosby
IOWA Outcomes Project, Nursing Interventions Classification (NIC), Edisi 2, 2000, Mosby

Nelson, 1992, Ilmu Kesehatan Anak, Bagian 2, EGC, Jakarta

Pusponegoro.H.D., dkk, 2004, Standar Pelayanan Medis Kesehatan anak, Edisi I, Ikatan Dokter Anak
Indonesia.

Ralph & Rosenberg, 2003, Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2005-2006, Philadelphia
USA

Wong, 2003, Keperawatan Pediatrik, EGC, Jakarta

Carpenito, rencana Asuhan dan dokumentasi Keperawatan, Edisi 2, 1995, EGC, Jakarta

Noer. S., Waspadji.S., Rachman.M., Lesmana.L.A, Widodo.D., Isbagio.I., Alwi.I.,


Husodo.U.B.,1996, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.