You are on page 1of 19

Sejarah Ilmu Pemerintahan Islam

(Studi Kepemimpinan Abu Bakar Ash Shiddiq)

Oleh : Sayonara – Nim : 2013920014

Key : Sejarah, Ilmu, Pemerintahan Islam, Politik, Kepemimpinan, Abu Bakar Ash Shiddiq

Abstrak

Ilmu pemerintahan adalah seni memimpin masyarakat. Kemampuan bertindak tegas, jujur
dan berkeadilan adalah prasyarat utama yang dapat menumbuhkan dukungan
masyarakat. Islam sebagai ajaran universal memiliki semua pedoman dan prinsip tentang
hal tersebut. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah tokoh utama semasa Rasulullah. Penguasaan,
pemahaman dan pengamalan Islamnya adalah modal utama manakala ia diamanahi untuk
menjadi pemimpin umat Islam pasca kematian Rasulullah. Lewat penguasaan dan
pemahaman agamanya, Islam diaplikasikan sebagai sistem yang efektif dalam
membangun kesejahteraan dan kemakmuran rakyat melalui tata kelola pemerintahan
yang jujur dan berkeadilan. Rakyat yang hidup dalam kesejahteraan dengan di bawah
pemerintahan yang jujur dan adil adalah sebab tumbuhnya pemerintahan yang kuat lagi
tangguh.

Pendahuluan

Upaya menggali secara komprehensif sejarah ilmu dan peradaban Islam pada masa
Abu Bakar Ash Shiddiq tidak bisa tidak merupakan bagian penting dan bernilai strategis
dalam sejarah perjalanan Islam. Hal ini didasari dengan pertimbangan :

1. Berdasarkan sabda Rasulullah,

Dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup
pada zamanku (generasiku) kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah
mereka. Kemudian akan datang sebuah kaum yang persaksian seorang dari mereka mendahului
sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya". Hr. Bukhari

Karenanya kepemimpinan Abu Bakar Ash Shiddiq adalah corak dan model dalam Islam
dimana penetapan dan pengembangan Islam sebagai agama dalam konteks kehidupan
bermasyarakat dan bernegara dipastikan bagian dari penjabaran atau aktualisasi
pengamalan Islam yang benar. Sehingga keputusan apapun yang diambil pada masa
itu, baik berkaitan dengan penetapan hukum atau penyelesaian urusan keummatan
menjadi yurisprudensi hukum Islam.

2. Masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin yang dimulai dengan masa kepemimpinan


Abu Bakar Ash-Shiddiq, adalah masa ujian yang paling kritis yang menentukan arah

Sejarah Peradaban Islam | 1


hidup dan kedudukan Islam pasca wafatnya Rasulullah. Masa kepemimpinan Abu
Bakar Ash Shiddiq adalah masa uji kemampuan penerapan Islam sebagai sebuah
sistem dimana posisi semua umat adalah sama kedudukannya. Dengan demikian tidak
ada lagi pemegang otoritas tunggal kekuasaan, sehingga posisi Khalifah menjadi satu-
satunya pengambil keputusan atas berbagai perbedaan atau perselisihan yang muncul.

3. Kepemimpinan Rasulullah adalah kepemimpinan teokrasi, yakni sebuah model


kepemimpinan yang berbasis agama. Hal ini dikarenakan Rasulullah adalah sosok
pemimpin agama sekaligus pemimpin negara. Posisinya bersifat mutlak dan berlaku
sakral karena otoritas kenabian berasal dari Allah dan bukan berdasarkan penobatan
manusia. Dan dengan kematian Rasulullah, maka kepemimpinan selanjutnya hanya
terbatas sebagai kepemimpinan negara bukan sekaligus pemegang otoritas
keagamaan, meskipun pemerintahan harus dibangun di atas landasan keagamaan.

Makalah ini Tentu saja, mencoba untuk memaparkan secara singkat biografi Abu
Bakar Ash Shiddiq , proses pengangkatannya sebagai Khalifah, bagaimana keadaan
pemerintahan pada masanya serta tantangan dan kemajuan-kemajuan yang diperoleh Abu
Bakar Ash Shiddiq selama menjabat sebagai khalifah. Dengan tujuan untuk menelisik masa
kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq ditinjau dari aspek ilmu politik pemerintahan
dengan cara :

1. Mengurai/menguak kembali tentang sejarah peradaban pada masa Abu Bakar


2. Proses-proses kebijakan pada kepemimpinan Abu Bakar
3. Kontribusi-kontribusi Abu Bakar yang disumbangkan pada islam dan masyarakat.

Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar Ash-Shiddiq lahir di Mekah pada tahun 568 M atau 55 tahun sebelum
hijrah. Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Ustman bin ‘Amr bin Ka’b bin sa’d bin taim
bin Murrah At Taimi. Dia merupakan khalifah pertama dari Al-Khulafa'ur Rasyidin , sahabat
Nabi Muhammad SAW yang terdekat dan termasuk di antara orang-orang yang pertama
masuk Islam (as-sabiqun al-awwalun). Dia mendapat gelar Ash-Shiddiq karena ia bergegas
membenarkan kerasulan Rasullulah terutama pada keesokan hari pada peristiwa "Isra
Mi’raj".1 Pada zaman pra Islam, ia bernama Abu Ka’bah, kemudian diganti oleh Nabi SAW
menjadi Abdullah. Usianya tiga tahun lebih muda dari Rasulullah saw. Abu Bakar Ash-
Shiddiq lahir pada tahun 573 M dan wafat pada tanggal 23 Jumadil Akhirtahun 13
H, bertepatan dengan bulan Agustus 634 M, dalam usianya 63 tahun.

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah putra dari keluarga bangsawan yang terhormat di
Makkah. Semasa kecil dia merupakan lambang kesucian dan ketulusan hati serta kemuliaan
akhlaknya, sehingga setiap orang mencintainya. Pengabdian Abu Bakar untuk Islam

1
Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2006, hal, 393

Sejarah Peradaban Islam | 2


sangatlah besar. Ia menyerahkan semua harta bendanya demi kepentingan Islam serta
mengajak beberapa sahabatnya seperti, Zubair bin Awwam, utsman bin Affan, Thalhah bin
Ubaidillah, Sa’ad bin AbiWaqash, Abdurrahman bin Auf serta memerdekakan Bilal bin
Rabah. Ia selalu mendampingi Rasulullah dalam mengemban misi Islam sampai Nabi SAW
wafat. Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah satu-satunya sahabat yang jika diizinkan Allah niscaya
menjadi orang yang paling dicintai Rasulullah.

Abu Bakar Ash Shiddiq dikenal sebagai anak yang baik, sabar, jujur, dan lemah
lembut, dia merupakan lambang kesucian dan ketulusan hati. Sifat-sifat yang mulia itu
membuat ia disenangi oleh masyarakat. la menjadi sahabat Nabi Muhammad SAW
semenjak keduanya masih remaja. Setelah dewasa ia mencari nafkah dengan jalan
berdagang dan ia dikenal sebagai pedagang yang jujur, berhati suci dan sangat dermawan,
dan ia dikenal sebagai pedagang yang sukses.2

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah seorang pemikir Makkah yang memandang


penyembahan berhala itu suatu kebodohan dan kepalsuan belaka, ia adalah orang yang
menerima dakwah tanpa ragu dan ia adalah orang pertama yang memperkuat agama Islam
serta menyiarkannya. Di samping itu ia suka melindungi golongan lemah dengan hartanya
sendiri dan dengan kelembutan hatinya.

Di samping itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq dikenal mahir dalam ilmu nasab
(pengetahuan mengenai silsilah keturunan). la menguasai dengan baik berbagai nasab
kabilah dan suku-suku arab, bahkan ia juga dapat mengetahui ketinggian dan kerendahan
masing-masing dalam bangsa arab.3

Proses Pengangkatan Abu Bakar

Sesaat kabar kewafatan Rasulullah SAW menumbuhkan kegoncangan di


semenanjung Arabia. Peristiwa itu menimbulkan kecemasan yang tidak sedikit khususnya
di Ibukota Madinah Al munawwarah. Persoalannya satu, siapakah yang menggantikan
Rasul setelah wafatnya. Karena sampai wafatnya, Rasul tidak pernah mewasiatkan siapa
yang menggantikan kepemimpinan umat Islam jika ia meninggal dunia kelak.

Al Bukhari (wafat 256 H/870 M) di dalam sebuah hadits yang diriwayatkannya, yang
dikatakan berasal dari Ibnu Abbas (wafat 68 H/688 M), dan hadits itu dipungut oleh Dr.
Ahmad Amin di dalam karyanya Fajr al Islami, menceritakan4 :

Ali bin Abi Thalib saat itu masih berusia 34 tahun, keluar dari kerumunan kaum
mukmin yang tengah berkumpul di luar rumah Ummul Mukminin Aisyah dan saat
itulah Abbas bin Abdul Muthalib membawanya ke suatu tempat, dan mengatakan :

2
Ibid hal 3

3
Shaban, Sejarah Islam (600-750): Penafsiran Baru, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993, hal. 25
4
Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin, 1979, Bulan Bintang, hal 15

Sejarah Peradaban Islam | 3


Menurut tilikku bahwa Rasulullah akan wafat oleh penyakitnya yang sekarang ini.
Aku ini diantara seluruh turunan Abdul Muthalib, lebih tahu tentang maut. marilah
kita menjumpainya bersama-sama dan bertanyakan urusan (pimpinan)
sepeninggalnya. Jikalau memang hak orang lain diluar kita maka kita mohonkan
supaya dia berwasiat tentang kita.

Ali Bin Abi Thalib menjawab : Di dalam hal itu, demi Allah, jikalau beliau
menyatakan bukan hak kita maka niscaya orang banyak tidak akan memberikan
kesempatan bagi kita pada masa selanjutnya. Aku sendiri demi Allah, tidak ingin
menanyakannya.

Bani Saidah adalah keluarga termulia dalam lingkungan suku besar Khazraj. Saad bin
Ubadah adalah tokoh terkemuka di dalam keluarga tersebut. Berdiam di pasar madinah
dan memiliki balai pertemuan untuk bersantai, namun dalam hal luar biasa menjadi tempat
berkumpul dan bermusyawarah. Mendengar Nabi telah wafat, maka Saad bin Ubadah
menggelar rapat darurat. Dalam Tarikh At-Thabari, tercatat isi pidato Saad bin Ubadah
yang berbunyi5 :

Kamu hai kalangan Anshar, terdahulu dalam agama, termulia dalam Islam, yang
tidak dimiliki kablah arab lainnya. Muhammad saw berdiam belasan tahun dalam
lingkungan kaumnya, menyampaikan dakwah supaya menyembah Ar Rahman,
meng Esa-kan Ar Rahman, melepaskan lain-lain puaan. Tetapi Cuma sedikit yang
mau beriman, hingga mereka itu tidak mampu menjamin keselamatan Rasul Allah
dan tidak mampu memperkembangkan agamanya, bahkan tidak mampu membela
diri mereka sendiri.

Allah menganugerahkan rahmat dan nikmat kepada kamu, kemuliaan dan


kehormatan, dengan menganugerakan iman kepada-Nya dan kepada Rasul-nya,
membela Rasul-Nya itu dan segala sahabatnya, memuliakannya dan
memperkembangkan agamanya, berjihad menantang segala musuhnya.

Kamu bersikap keras terhadap segala musuhnya, hingga bangsa Arab pada akhirnya
tunduk kepada agama Allah. Allah memberkahi bumi tempat kediaman kamu ini.
Dengan pedang kamu itulah tunduk bangsa Arab. Allah mewafatkannya kini,
sedangkan dia sendiri menaruh rela kepada kamu, menjadi buah hatinya. Tetapi
mereka itu (Muhajirin) bertindak hendak merebut pimpinan. Pimpinan itu adalah
hak kamu, bukan hak siapapun di luar kamu.

Kalangan Muhajirin yang berkerumun sekitar rumah Ummul Mukminin Aisyah dan
sekitar Masjid nabawi itu cepat beroleh berita tentang persidangan kalangan Anshar itu.
Semuanya ingin datang berbondong-bondong tapi dicegah oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Sehingga kemudian kalangan Muhajirin hanya mengirim 3 (tiga) tokoh saja, yaitu Abu Bakar
Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin Jarrah.

5
ibid, hal 18-19

Sejarah Peradaban Islam | 4


Setelah bertemu dengan kalangan Anshar, dengan tenang Abu Bakar Ash-Shiddiq
berusaha menenangkan suasana. Setelah mengucapkan puji-pujian terhadap Allah dan
Rasulnya, maka ia pun memberikan penjelasan dengan mengemukakan jasa-jasa besar
yang telah disumbangkan kalangan Anshar selama ini, baik pun terhadap Muhajirin sendiri
mapun dalam pengembangan Islam, dan kemudian menjelaskan kedudukan Rasul Allah di
dalam hubungannya dengan suku besar Quraisy. Diantara lainnya menurut Ath-Thabari
berbunyi 6:

Allah telah menganugerahi kepada Muhajirin itu sebagai pihak yang paling pertama
membenarkannya, beriman dengannya, menederita bersamanya, memikul segala
macam adzab siksa, sewaktu sekaliannya masih menantangnya dan memusuhinya.
Sekalipun begitu tidaklah kecut walaupun jumlah masih sedikit.
Kamu, masyarakat Anshar, tiada sesiapapun dapat membantah keutamaan
kedudukan kamu di dalam agama, masuk pihak terdahulu di dalam islam. Allah
maha kuasa telah rela memanggilkan kamu dengan para penolong (Anshar), baik
pun bagi agama maupun Rasul-Nya. Dia telah berhijrah kepada kamu, dan di dalam
lingkungan kamu berada para istrinya, dan para sahabatnya. Sesudah pihak
Muhajirin, maka tidak suatu pihak pun mempunyai kedudukan tinggi seperti kamu.
Kami adalah Umara’ (Para Penguasa) dan kamu adalah Wuzara’ (Para Wazir). Kamu
adalah tempat berunding dan tiada suatu keputusan apapun tanpa kamu.

Ketenangan sikap dan ketenangan bicara dari Abu Bakar Ash-Shiddiq ini, sangat
berkesan dan mampu mendinginkan kepala yang telah panas. Akan tetapi Hubab bin
Munzir Anshari, seorang tokoh terkemuka dalam lingkungan Khazraj segera cepat
menangkis pidato Abu Bakar Ash-Shiddiq itu, dengan berkata yang menurut Tarikh at-
Thabari, berbunyi 7:

Kamu, hai masyarakat Anshar, memegang tampuk kekuasaan di tangan kamu.


Mereka itu berada di bawah lindungan kamu. Tiada sdesiapapun mampu
membantah kenyataan itu. Semuanya tergantung pada pendirian kamu. Kamu
pemilik kemuliaan dan kekayaan, berjumlah besar, tabah, berpengalaman,
berkekuatan, berkemampuan. Mereka itu senanytiasa menyaksikan apa yang kamu
lakukan. Jangan kamu berbeda pendapat hingga kedudukan kamu lemah. Jikalau
mereka itu enggan menerima kenyataan itu, maka jalan satu-satunya ialah, kami
punya Amir dan kamu punya Amir.

Pidato Hubab bin Munzir Anshari itu cukup keras. Muaranya adalah perpecahan.
Umar bin Khattab tidak lagi mampu menahan diri, lalu maju ke depan menagkis pidato itu,
yang menurut Tarikh at-Thabari, berbunyi :

Tidak mungkin bahwa dua berada dalam satu tanduk. Allah niscaya akan tidak rela bahwa
kamu memegang tampuk kekuasaan, sedangkan Nabi bukan dari lingkungan kamu. bangsa
Arab sendiri niscaya akan tidak enggan menerima impinan pihak, yang nabi berada dari
lingkungannya. Itu adalah suatu kenyataan, yang merupakan alasan terkuat bagi setiap
pihak yang menantang. Siapa yang menantang wewenang Muhammad dan kekuasaanya?

6
Ibid, hal 20
7
Ibid, hal 21

Sejarah Peradaban Islam | 5


Kami adalah para walinya dan keluarganya. Pihak yang mempertahankan kebatilan dan
ingin membikin keonaran maka pihak itulah cuma yang ingin berkeras kepala.

Tangkisan Umar yang terlampau tajam. Tidak heran jikalau reaksi Hubab bin Munzir
Anshari lebih keras lagi, yang menurut Tarikh at-Thabari, berbunyi8 :

Kamu, hai keluarga Anshar, kokohkan persatuan. Jangan dengarkan ucapannya dan
sahabatnya. Kamu akan kehilangan hak pimpinan. Jikalau mereka itu tidak mau
dengar terhadap apa yang kamu tuntut itu, maka usir mereka itu dari daerah ini.
Kamu akan lantar menentukan segalanya. Kamu lebih berhak memegang pimpinan
daripada mereka itu. Dengan kekutaan pedang kamulah berkmbang agama ini, dan
tunduk seluruh bangsa Arab. Jikalau mereka itu tetap berkeras kepala, demi Allah,
mari kita ulang kembali sejarah lama.

Reaksi ini menumbuhkan ketegangan. Dalam suasana yang memuncak itu cepat di
atasi dua tokoh yaitu Abu Ubaidah bin Jarrah dari Muhajirin dan Basyir bin Saad dari
Anshar. Abu Ubadah bin Jarrah maju kedepan. Pembawaan dan sikapnya yang
menimbulkan rasa hormat bagi siapapun, menyebabkan suasana reda kembali. Ia berkata,
“Sahabat-sahabatku dari kalangan Anshar. Kamu adalah pihak yang pertama-tama
menyokong dan membantu. Janganlah kamu menjadi pihak yang pertama-tama berobah
dan berganti pendirian”

Pidatonya yang singkat akan tetapi menusuk para pendengarnya. Semua terdiam
dan menekurkan kepala. Saat itulah Basyir bin Saad yang merupakan tokoh utama suku
Khazraj, maju ke depan dan berkata9 :

Saudara-saudaraku, kalangan Anshar. Kita semuanya demi Allah memperoleh


kedudukan termulia dan paling pertama di dalam berjihad terhadap kaum
musyrikin, dan terdahulu di dalam agama. Semanya itu kita lakukan, tidak lain tidak
bukan mengharapkan ridho Ilahi dan tunduk kepada Nabi kita dan kehormatan diri
kita. maka tidaklah layak bagi kita mempersoalkan sekaliannya itu. Bukankah
Muhammad itu dari Suku Quraisy. Justru kaumnya lebih berhak dan layak
memegang pimpinan. Demi Allah, saya sendiri akan tidak membantahnya dalam
persoalan itu. Marilah kita sama bertaqwa kepada Allah. Janganlah kita saling
berbantah dan bertengkar.

Pendirian yang diucapkan itu merupakan suasana segar. Diucapkan tokoh


terkemuka di dalam suku Khazraj itu sendiri. Suasana baru yang segar it tlh dipergunakan
sebaik-baiknya oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia maju ke depan dan berkata, “Marilah kita
semuanya kini memusatkan perhatian kepada dua tokoh dan silahkan pilih, yaitu Umar bin
Khattab ataupun Abu Ubaidah bin Jarrah”.

Pada saat itulah Basyir bin Saad dan Abu Ubaidah bin jarrah dengan sikap spontan
berteriak: “Mana mungkin hal itu! Demi Allah, kami tidak akan menyerahkan pimpinan

8
Ibid.
9
Ibid, hal 23

Sejarah Peradaban Islam | 6


kecuali kepadamu. Engkau adalah tokoh termulia dalam kalangan Muhajirin dan Tsaniu-
Itsnain di dalam gua bersama rasul sendiri, dan pengganti Rasul Allah di dalam imamat
Shalat. Shalat itu sendiri sendi agama paling utama. lantas siapakah mampu
membelakangimu dan sipakah yang lebih layak dari padamu. Silahkan ulurkan tanganmu
dan kami akan mengangkat bai’at terhadapmu”.

Keduanya maju ke depan Abu Bakar Ash-Shiddiq, menjabat tangannya dan


mengucapkan bai’at, disusul Umar bin Khattab. Tindakan Basyir bin Saad Anshari itu,
bagaikan pancaran arus listrik terhadap tokoh-tokoh Anshar saat itu dan bagi pihak awam.
Sekaliannya dengan sikap spontan dan saling berdesak, maju ke depan menjabat tangan
Abu Bakar Ash-Shiddiq dan mengangkat bai’at. Bai’at yang berlangsung di balai pertemuan
itu disebut dengan Bai’at Tsaqifat atau Bai’at Khashshat, yaitu bai’at terbatas yang
dilakukan oleh orang-orang khusus, golongan elit sahabat. Sedangkan bai’at kedua yang
lebih luas berlangsung esok harinya di Masjid Nabi yang disebut Bai’at Ammat, yaitu bai'at
yang dilakukan oleh rakyat, penduduk Madinah. D.B.Macdonald berkomentar bahwa
forum musyawarah tersebut dapat disebut sebagai forum politik dimana di dalamnya
terjadi diskusi dan dialog yang sesuai dengan cara-cara modern10

Pertemuan politik itu merupakan peristiwa sejarah yang penting bagi umat Islam.
Suatu peristiwa yang mengikat mereka tetap berada dalam satu kepemimpinan
pemerintahan, sebagai penerus pemerintahan Rasul. Dan terpilihnya Abu Bakar Ash-
Shiddiq menjadi khalifah pertama, menjadi dasar terbentuknya sistem khilafah dalam
Islam, yang terkenal dengan khilaf Khulafaur Rasyidin’al-Rasyidin. Sistem ini berlangsung
hingga awal abad XX dengan corak yang berlainan. Pemerintahan model khilafah di dunia
Islam berakhir di Turki sejak Mustafa Kemal menghapusnya pada tgl 3 Mei 1924.11 Dimana
Pemilihan Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut tidak didasarkan pada sitem keturunan, atau
karena keseniorannya dan atau karena pengaruhnya. Tetapi karena beliau memiliki
kapasitas pemahaman agama yang tinggi, berakhlak mulia. dermawan dan paling dahulu
masuk Islam serta sangat dipercaya oleh Nabi. Seandainya pemilihan didasarkan pada
keturunan, kesenioran dan pengaruh, tentulah mereka akan memilih Saad bin Ubadah,
pemimpin golongan Khajraj, atau Abu Sufyan, pemimpin Bani Umayah, dan atau Al-Abbas,
pemuka golongan Hasyimi. Mereka ini lebih senior dan berpengaruh dari Abu Bakar Ash-
Shiddiq.12

Ada silang pendapat tentang posisi Ali bin Abi Thalib. Salah satu hadits yang
diriwayatkan oleh Ibnu Syuhab Al Azhari menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib beserta
keluarga Hasyimi dan Zubeir bin Awwam melakukan bai'at terhadap Abu Bakar Ash-Shiddiq
pada masa 6 bulan belakangan, yakni sesudah Fatimah putri rasul wafat.13Keterlambatan
itu, ditafsirkan Ali tidak setuju dengan pembai’atan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Akan tetapi
diriwayat yang lain menyebutkan bahwa Ali telah lebih dahulu berba’at kepada Abu Bakar
Ash-Shiddiq, namun karena perselisihan Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan Fatimah tentang

10
Dr. J.Suyuthi Pulungan, M.A, Fiqh Siyasah, Ajaran, Sejarah dan Pemikiran (Jakarta, RajaGrafindo Persada,
1999), h.106-107. Lihat juga M.Dhiauddin Rais, Teori Politik Islam ; penerjemah, Abdul Hayyie al-Kattani ; Cet.
1, Jakarta: Gema Insani Press 2001. Judul Asli : An-nazhariyatu as-siyasatul-islamiyah) – hal.14
11
Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin, 1979, Bulan Bintang, hal.107
12
Ibid, h.107
13
Ibid, h.28

Sejarah Peradaban Islam | 7


kebon warisan Rasulullah, maka Ali sengaja tidak merapat ke Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan
baru merapat setelah Fatimah wafat. Dan bai’atnya itu adalah untuk kedua kali.

Pidato Pertama Abu Bakar Ash-Shiddiq Sebagai Khalifah

Setelah dilakukan penguburan Rasulullah, menjelang shalat Isya, Abu Bakar Ash-
Shiddiq naik ke mimbar dalam Masjid Nabawi itu dan mengucapkan pidato yang pertama di
dalam kedudukannya sebagai Khalifah. Pidato politik jabatan itu singkat akan tetapi amat
tercatat di dalam Sejarah, berbunyi14 :

Hai orang banyak seumumnya


Aku diangkat mengepalai kamu
Dan aku bukanlah terbaik diantara kamu
Jika aku membikin kebaikan maka sokonglah aku.
Jika aku membikin kejelekan, maka betulkanlah aku.

Kebenaran itu suatu amanat, dan kebohongan itu suatu khianat.


Yang terlemah di antara kamu aku anggap terkuat sampai aku mengambil dan
memulangkan haknya.Yang terkuat di antara kamu aku anggap terlemah sampai
aku mengambil hak si lemah dari tangannya.

Janganlah seorangpun di antara kamu meninggalkan Jihad.


Kaum yang meninggalkan Jihad akan ditimpakan kehinaan oleh Tuhan.

Patuhilah daku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya.


Bila daku mendurhakai Allah dan Rasul-Nya
tiada kewajiban patuh bagi kamu terhadap aku.

Kini, marilah kita menunaikan Shalat.


Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada kamu.

Pidato politik itu amat singkat akan tetapi mencerminkan garis-dasar yang teramat
baru di dalam sejarah kemanusian. Pada saat kaisar-kaisar imperium Roma dewasa itu
memilki wewenang dan kekuasaan absolut yang tiada terbatas, dan begitu pun kisra-kisra
imperium Parsi dengan wewenang dan kekuatan absolut, maka Khalifah Abu Bakar Ash-
Shiddiq di dalam kebijaksanaan pemerintahan yang akan dijalankannya itu, dengan jelas
menggariskan kerakyatan yang betul-betul murni. Sekaliannya itu sebagai pelaksanaan
prinsip-prinsip di dalam agama islam.

Di dalamnya juga tergambar bahwa Abu Bakar bertekad akan melaksanakan


prinsip-prinsip pemerintahan yang telah dilaksanakan oleh pendahulunya, Nabi
Muhammad SAW. Yaitu melaksanakan syariat islam, melaksanakan musyawarah,
menjamin hak-hak umat secara adil, memelihara ketaatan rakyat kepada pemerintah

14
Ibid, hal 26

Sejarah Peradaban Islam | 8


secara limitatif selama pemerintahan taat kepada Allah dan Rasul, melaksanakan amar
makruf dan nahi munkar serta mendorong terwujudnya kehidupan takwa.

Pidato ini sekaligus menggambarkan garis politik dan kebijaksanaan yang akan
dilaksanakan Abu Bakar dalam pemerintahannya. Di dalamnya ia menggariskan beberapa
hal penting sekaligus sebagai asas dan pondasi utama pemerintahannya, yaitu:

1. Kebebasan Berpendapat. Abu Bakar Ash-Shiddiq menjamin kebebasan pendapat bagi


rakyat untuk mengritiknya bila ia tidak benar dalam memerintah.
2. Negara berdasarkan hukum. Ucapan kedua Abu Bakar Ash-Shiddiq yang menuntut
ketaatan dari rakyat selama ia taat kepada Allah dan Rasul adalah pernyataan bahwa
hidup mesti didasari hukum atau konstitusi. Dan siapapun mesti tunduk dihadapan
konstitusi itu. Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah pencetus utama persamaan dihadapan
hukum (equality before the law). Perwujudan dari asas hukum equality before the
law atau persamaan di hadapan hukum dapat dimaknai bahwa setiap orang
kedudukannya sama di depan hukum. Baik itu orang kaya atau miskin, pejabat atau
rakyat jelata, berpendidikan atau tidak.
3. Fungsi dan Kewajiban Negara. Abu Bakar Ash-Shiddiq menegaskan, bahwa sebagai
khalifah tujuan utamanya adalah mewujudkan keadilan dengan memberikan hak-hak
orang lemah dan mengambil hak-hak orang kuat untuk melaksanakan kewajiban
mereka bagi kepentingan masyarakat dan negara.
4. Membangun rakyat kuat negara kuat. Ucapan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang mendorong
umat agar gemar berjihad, menunjukkan pentingnya semua elemen masyarakat untuk
bersikap pro aktif dalam membangun kehidupan. Tidak ada kebaikan dengan
menjadikan negara kuat jika berdampak rakyat lemah. Tidak juga ada kebaikan jika
rakyat kuat tetapi negara lemah. Negara yang baik adalah negara yang kuat dengan
rakyat yang kuat.
5. Bernegara adalah ibadah. Ucapan akhir dari Abu Bakar Ash-Shiddiq (Kini, marilah kita
menunaikan Shalat), bukan sekedar ucapan penutup pidatonya, melainkan bagian dari
pembangunan kesadaran umat, bahwa semua dan apapun yang kita lakukan adalah
dalam keraangka ibadah kepada Allah swt. Dan Abu Bakar Ash-Shiddiq menegaskan
bahwa umat yang dipimpinnya ini pastinya akan diantar menuju keridhoan Allah.
Negara yang baik (Thayyib) adalah negara yang makmur, sejahtera, berkeadilan dan
senantiasa dibawah keampunan Allah (ridho Ilahi).

Abu Bakar Ash-Shiddiq bersedia dipanggilkan Khalifatur Rasul ( Pengganti Rasul )


itu, yakni di dalam aspek Imamat, disebabkan Nabi Muhammad itu mempunyai dua fungsi :

1. Fungsi Risalah, yakni Rasul Allah yang membawa dan menyampaikan ajaran Islam
berdasarkan wahyu-Ilahi kepadanya.
2. Fungsi Imamat, yakni pimpinan kekuasaan duniawi dan agamawi, yang segala catur
kebijaksanaan berdasarkan musyawarah.

Sejarah Peradaban Islam | 9


Fungsi yang pertama tidak bisa digantikan oleh siapapun karena Nabi Muhammad adalah
Rasul terakhir dan nabi penutup15. Akan tetapi fungsi kedua itu digantikan kedudukannya
guna terciptanya ketertiban sosial dan ketertiban hukum dalam masyarakat.

Problema Politik Pemerintahan Masa Abu Bakar Ash-Shiddiq

Masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq hanya berlangsung selama dua tahun
yakni 11-13 H / 632 – 634 M. Masa yang singkat itu justru masa-masa kritis karena
pergolakan dalam negeri mulai terjadi, seperti menolak membayar zakat, murtad (memblot
dari Islam), hingga Mengaku sebagai nabi. Berikut ini beberapa peristiwa besar yang harus
dihadapi oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut :

1. Pemberangkatan Pasukan Usamah Bin Zaid.

Nabi Muhammad menjelang sakit membentuk sebuah pasukan untuk menuju


perbatasan Syria dengan dipimpin oleh Usamah bin Zaid (wafat 53 H), yang saat itu baru
berusia 18 Tahun. Pasukan ini baru saja berangkat 3 Mil (4.8 Km) dari Madinah dan tengah
beristirahat di suatu tempat bernama Jurfa. Di dalam pasukan itu ikut tokoh-tokoh besar
kalangan Muhajirin dan Anshar, termasuk Umar bin Khattab. Pasukan ini terpaksa pulang
kembali ke Madinah sebelum Nabi wafat. Sewaktu Nabi sakit, menjelang wafatnya Nabi
Muhammad berpesan supaya keberangkatan pasukan ke utara diteruskan. Pasukan itu
dikirim untuk menuntut balas atas tindak laku perbuatan Kerajaan Ghassani yang
berkedudukan di Damaskus yang telah membunuh utusan yang dikirim Nabi Muhammad.

Setelah berlangsung bai’at dan pemakaman telah dilakukan dan Abu Bakar Ash-
Shiddiq telah menyampaikan garis kebijakannya, malam itu juga berlangsung perundingan
antara Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan pemuka Muhajirin dan Anshar tentang
pemberangkatan pasukan Usamah bin Zaid ke utara tersebut. Perundingan itu berjalan
alot, karena adanya penolakan untuk mengirim kembali pasukan, dengan alasan :16

1. Pemberangkatan pasukan besar itu akan bermakna menempatkan ibukota Madinah


dalam suasana kosong kekuatan sama sekali, sedangkan akibat keman gkatan Nabi
Muhammad terhadap kabilah-kabilah Arab umumnya dapat dibayangkan, karena
bagian terbesar dari kabilah Arab ini barulah berbondong-bondong masuk Islam.
2. Pasukan besar itu terdiri atas tokoh-tokoh terkemuka dan tokoh-tokoh tua dari
kedua kalangan yakni Muhajirin dan Anshar, dan akan dipimpin oleh seorang muda
yang belum cukup berpengalaman dalam medan pertempuran.

15
Qs. Al Ahzaab (33): 40 :
     
   
    
   
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah
dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

16
Joesoef Sou’yb, Ibid hal 54-55

Sejarah Peradaban Islam | 10


Perundingan di Masjid Nabawi tersebut akhirnya berakhir dengan penegasan sikap
Abu Bakar Ash-Shiddiq, dengan kalimatnya untuk alasan yang pertama :

Demi Tuhan, yang nyawa Abu Bakar di tangan-Nya,


Sekalipun kuduga hewan-hewan buas akan menerkamku
Aku akan tetap melaksanakan pemberangkatan Usamah
Seperti yang diperintahkan Rasulullah saw
Sekalipun tidak ada lagi di dalam negeri ini
kecuali aku, aku akan tetap melaksanakannya !

Sedangkan untuk alasan kedua, Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata :

Sekalipun aku diterkam


kelompok anjing dan srigala
aku akan tidak merombak putusan
yang telah diputuskan Rasulullah

2. Gerakan Riddat (Murtad)

Gerakan Riddat, yakni gerakan belot agama atau murtad telah mulai muncul ketika
Nabi Muhammad masih sakit hingga kewafatannya. gerakan ini dipelopori oleh
Musailamah (wafat 11 H/632 M), Thulaihah (wafat 11 H/632 M) dan Al Aswad Al Insa
(wafat 11 H/632 M). Aswad al-Ansi, merupakan orang pertama yang mengaku sebagai nabi.
Ia adalah pemimpin suku Ansi di Yaman. Ia berhasil merekrut sejumlah pasukan dan
bersekutu dengan daerah-daerah sekitar Yaman untuk melancarkan pemberontakan
terhadap pemerintahan Islam.

Musailamah, orang yang berasal dari suku Bani Hanifah di pusat jazirah Arab. Ia
mengaku sebagai nabi dan mengadakan gerakan penghasutan di Yamamah. Sebenarnya ia
datang ke Madinah beserta sejumlah utusan sebagai orang beriman, namun dalam
perjalanan pulang ia mengaku dirinya sebagai nabi. Kedatangan beliau diterima dengan
baik oleh suku Hanifah, karena memang sejak lama mereka tidak suka dengan seorang nabi
dari suku Quraisy. Karena itu, mereka dengan amat mudah menerima kedatangan
Musailamah dan mengakuinya sebagai seorang nabi yang datang dari suku mereka sendiri.

Thulaihah Ibnu Khuwalid, adalah orang yang mahir dalam peperangan dan terkenal
sebagai orang kaya dari suku Bani As'ad, Arabia selatan. Ia melancarkan perlawanan secara
terang-terangan terhadap pemerintahan Islam sambil mengaku dirinya sebagai seorang
nabi setelah wafatnya Rosulullah SAW.

Saj'ah, adalah seorang wanita Kristen yang mengaku sebagai seorang nabi. Ia
berasal dari suku Yarbu di Asia Tengah. Sekalipun ia mendapat dukungan dari mayoritas
masyarakatnya, namun ia tidak memiliki keberanian melawan kekuasaan Islam. Karena itu,
ia membentuk kekuatan persekutuan dengan cara melangsungkan perkawinan dengan
Musailamah Al-Kadzab.

Diantara latar belakang dan sebab-sebab keluarnya mereka dari agama Islam yaitu :

Sejarah Peradaban Islam | 11


1. Watak asli dari Masyarakat Arab yaitu Fanatisme kesukuan yang sudah di hilangkan
oleh Rosulullah SAW. Dan waktu Rosulullah SAW masih hidup, mereka tidak berani
melakukan pemberontakan. Namun setelah Rosulullah SAW wafat, barulah sebagian
mereka berusaha menandingi pengaruh kota madinah.

2. Masyarakat Arab itu awalnya bersifat Paternalistik yang sangat patuh pada para
pemimpinnya, saat pemimpinnya masuk islam, semua berbondong-bondong islam,
ketika pemimpinnya murtad dan keluar islam, lalu mereka yang tidak kuat imannya
akan keluar dari islam.

3. Agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw, telah membawa perubahan besar
dalam bidang sosial, politik, agama dan kebudayaan. Perubahan itu mengkhawatirkan
banyak pihak, terutama para tokoh masyarakat yang merasa kedudukannya
terpinggirkan ketika masyarakat islam semakin berkembang pesat.

5. Waktu itu di Madinah sebagai pusat kekuasaan Islam, oleh karena itu orang-orang
terutama masyarakat Arab, dengan masuknya islam mereka hanya karena
pertimbangan politik saja. Dan berharap dengan mereka masuk islam akan
mendapatkan perlindungan dari suku-suku lain. Namun setelah Nabi Saw wafat
akhirnya mereka kembali kepada kepercayaannya.

6. Ketika Rasulullah SAW wafat, banyak masyarakat Arab yang belum lama masuk islam,
dan keimanannya pun sangat tipis yang kemudian mereka belum begitu mengerti dan
menghayati dengan benar keagungan dari ajaran Islam. Karena alasan itulah mereka
kembali kepada ajaran mereka semula.

Setahun lamanya Abu Bakar dapat menundukkan kaum yang murtad serta orang-
orang yang mengaku menjadi nabi dan orang-orang yang enggan membayar zakat,
sehingga kalimat Tuhan kembali menjulang tinggi. Dalam kemenangan kaum muslimin ini,
kehormatan besar harus diberikan kepada panglima Khalid bin Walid. Dialah yang
menghancurkan kekuatan Thulaihah dan Sajah serta memaksa keduanya memeluk Islam.
Dan dia pula yang membunuh Musailamah al-Kazzab dan memporak-porandakan
laskarnya.17

Keputusan yang diambil Abu Bakar Ash-Shiddiq seperti memerangi pemberontak,


pembangkang, melawan kekuatan Persia dan Romawi menunjukkan bahwa ia juga
memegang jabatan panglima tertinggi dalam Islam. Hal seperti ini juga berlaku di zaman
modern ini dimana seorang kepala negara atau presiden adalah juga sekaligus sebagai
panglima tertinggi angkatan bersenjata.18 Fakta historis tersebut menunjukkan bahwa
kepemimpinannya telah lulus uian menghadapi berbagai ancaman dan krisis yang timbul,
baik yang berasal dari dalam maupun dari luar. Artinya ia telah sukses besar membangun
pranata sosial politik dan pertahanan keamanan pemerintahannya.19

17
Dr.Badri Yatim, MA, Sejarah peradaban Islam, 1993, RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal 36
18
, Joesoef Sou’yb, Ibid, h.113
19
Joesoef Sou’yb, Ibid, h. 113

Sejarah Peradaban Islam | 12


Kebijakan Pemerintahan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq

Dalam keadaan terguncang pasca kewafatan Rasulullah, didera pemberontakan,


hanya Abu Bakar Ash-Shiddiq yang berlaku tenang dan teguh pendirian. Pengangkatannya
selaku khalifah, merupakan hasil kesepakatan antara kaum Ansar dan kaum Muhajirin
dalam musyawarah mereka di Tsaqifah Bani Saidah terbukti pilihan terbaik. Faktor
keberhsilan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang lain membangun pranata sosial dibidang politik
dan pertahanan keamanan. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari sikap keterbukaan
beliau, yaitu memberikan hak dan kesemapatan yang sama kepada tokoh-tokoh sahabat
untuk ikut membicarakan berbagai masalah sebelum ia mengambil keputusan melalui
forum musyawarah sebagai lembaga legislatif. Hal ini mendorong para tokoh sahabat
khususnya dan umat Islam umumnya berpartisipasi aktif untuk melaksanakan berbagai
keputusan yang dibuat.

Sedangkan tugas-tugas eksekutif ia delegasikan kepada para sahabat baik untuk


pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan di Madinah maupun pemerintahan di daerah.
Untuk menjalankan tugas-tugas pemerintahan pemerintahan di Madinah ia mengangkat Ali
bin Abi Thalib, Usman bin Affan dan Zaid bin Tsabut sebagai katib (sekretaris), dan Abu
Ubadah sebagai bendaharawan, mengurus Baitul Mal. Dibidang tugas kemiliteran ia
mengangkat panglima-panglima perang sebagai disebut di atas. Untuk tugas yudikatif ia
mengangkat Umar bin Khattab sebagai hakim agung.20

Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan masa yang cukup singkat telah mampu
menghasilkan kemajuan besar, sebagai berikut :

1. Kebijakan Dalam negeri. Usaha untuk menegakkan wibawa pemerintahan dilakukan


melalui memerangi mereka yang murtad, enggan membayar zakat dan menghukum
bunuh para nabi palsu. Kebijakan ini disamping membersihkan anasir-anasir yang
berbahaya, akan tetapi juga bagian strategis dari penyelamatan negara Islam pertama
yang baru saja terbentuk21.
2. Kebijakan Luar Negeri. Kebijakan luar negeri berinti kepada dua hal, yakni pembebasan
masyarakat yang tertindas oleh penguasa yang zalim, dan pengamanan / pembentengan
wilayah Islam dari kemungkinan serangan tiba-tiba dari negeri tetangga. Kedua hal ini
tetap dilakukan dengan tujuan yang sama yakni dalam rangka perluasan dakwah Islam.
Tindakan ini dilakukan atas tiga tingkatan :22
a) Terhadap daerah-daerah Arabia, ialah tanah-tanah palestina dan Syria dari
penjajahan Romawi, dari tanah-tanah Iraq dan Yaman dari penjajahan Persia.
b) Daerah-daerah diluar Arabia, ialah Mesir dan seluruh Afrika Utara dari penjajahan
Romawi.
c) Pembebasan rakyat dari pemerintahan yang zalim, seperti meruntuhkan pemerintah
Persi yang kejam.

3. Sistem Politik

20
J.Suyuthi Pulungan, Ibid, h. 114
21
Moh Fachruddin Fuad, Perkembangan Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1995, hal. 77
22
Ibid

Sejarah Peradaban Islam | 13


Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah (pengganti Nabi) sebagaimana dijelaskan
pada peristiwa Tsaqifah Bani Sa’idah, merupakan bukti bahwa Abu Bakar menjadi
Khalifah bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi hasil dari musyawarah mufakat umat
Islam. Dengan terpilihnya Abu Bakar menjadi Khalifah, maka mulailah beliau
menjalankan kekhalifahannya, dan membangun sistem politik kenegaraan, seperti :

a) Menjalankan fungsi sebagai Kepala Negara maupun sebagai Kepala


Pemerintahan. Tampaknya sistem politik Islam yang dijalankan masa Khalifah Abu
Bakar, sebagaimana pada masa Rasulullah, bersifat sentral, kekuasaan legislatif,
eksekutif, dan yudikatif terpusat ditangan Khalifah, selain menjalankan roda
pemerintahan, Khalifah juga melaksanakan hukum.23

b) Mempertahankan azas musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan.


Karena sistem musyawarah merupakan sistem yang paling baik dan sempurna.

c) Pengiriman pasukan Usamah ke Romawi. Pengiriman pasukan Usamah ke Romawi


di bumi Syam adalah langkah politik yang cerdas dan brilyan. Bukan saja karena
keteguhannya menjalankan perintah Rasulullah, akan tetapi pengiriman yang cepat
itu pasca pergolakan akibat suksesi kepemimpinan, membuat pengiriman itu
menjadi sebuah strategi pengalihan jitu untuk kembali merekatkan hubungan
Muhajirin Anshar yang retak. Tidak urung sarjana-sarjana Barat menempatkan
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq di dalam kedudukannya sebagai Negarawanan
Terbesar (Great Stateman) dengan kebijaksanaan yang dijalankannya saat itu.24

d) Perluasan dan Pengembangan Wilayah Islam. Adapun usaha yang ditempuh untuk
perluasan dan pengembangan wilayah Islam Abu Bakar melakukan perluasan
wilayah ke luar Jazirah Arab. Daerah yang dituju adalah Irak dan Suriah yang
berbatasan langsung dengan wilayah kekuasaan Islam. Kedua daerah itu menurut
Abu Bakar harus ditaklukkan dengan tujuan untuk memantapkan keamanan wilayah
Islam dari serbuan dua adikuasa, yaitu Persia dan Bizantium. Untuk ekspansi ke Irak
dipimpin oleh Khalid bin Walid, sedangkan ke Suriah dipimpin tiga panglima yaitu :
Amr bin Ash, Yazid bin Abu Sufyan dan Surahbil bin Hasanah.25

e) Pembentukan Propinsi di luar Kota Madinah. Adapun urusan pemerintahan di luar


kota Madinah, Abu Bakar Ash-Shiddiq membagi wilayah kekuasaan hukum negara
Madinah menjadi beberapa propinsi, dan setiap propinsi ia menugaskan seorang
Amir atau wali (semacam jabatan gubernur). Para Amir tersebut juga bertugas
sebagai pemimpin agama yang sebagai pemimpin agama (seperti imam dalam
shalat), menetapkan hukum dan melaksanakan undang-undang. Artinya seorang
Amir disamping seorang pemimpin agama, sebagai hakim dan pelaksana tugas
kepolisian. namun demikian kepada setiap amir, diberi hak untuk mengangkat
pembantu-pembantunya seperti katib, ‘amil dan lain sebagainya.

23
Badri Yatim, hal.36.
24
Joesoef Sou’ib, hal 37
25
Chatibul Umam, dkk, Sejarah Kebudayaan Islam, Kudus: Menara Kudus, 2003, hal. 140

Sejarah Peradaban Islam | 14


4. Perekonomian (Pembangunan Baitul Mal)

Kebijakan yang dicapai untuk meningkatkan kesejahteraan umum dan perekonomian,


Abu Bakar membentuk lembaga "Baitul Mal", semacam kas negara atau lembaga
keuangan. Pengelolaannya diserahkan kepada Abu Ubaidah, sahabat Nabi SAW yang
digelari "amin al-ummah" (kepercayaan umat).26

Kebijakan lain yang ditempuh Abu Bakar yaitu membagi sama rata hasil rampasan
perang (ghanimah). Dalam hal ini ia berbeda pendapat dengan Umar bin Khattab yang
menginginkan pembagian dilakukan berdasarkan jasa tiap-tiap sahabat. Alasan yang
dikemukakan Abu Bakar adalah semua perjuangan yang dilakukan atas nama Islam
adalah akan mendapat balasan pahala dan Allah SWT di akhirat. Karena itulah biarlah
mereka mendapat bagian yang sama.27

Selama masa pemerintahan Abu Bakar, harta Baitul Mal tidak pernah menumpuk
dalam jangka waktu yang lama karena langsung didistribusikan kepada seluruh kaum
Muslimin, bahkan ketika Abu Bakar wafat, hanya ditemukan satu dirham dalam
perbendaharaan negara. Seluruh kaum Muslimin diberikan bagian yang sama dari hasil
pendapatan negara. Apabila pendapatan meningkat, seluruh kaum Muslimin
mendapat manfaat yang sama dan tidak ada seorang pun yang dibiarkan dalam
kemiskinan. Kebijakan tersebut berimplikasi pada peningkatan pendapatan nasional, di
samping memperkecil jurang pemisah antara orang-orang yang kaya dengan yang
miskin.

5. Pendirian Lembaga Peradilan. Masa Abu Bakar Ash-Shiddiq didirikan lembaga


peradilan yang ketuanya dipercayakan kepada Umar bin Khattab.

6. Meneruskan kebijakan lama Rasulullah, seperti tidak memberhentikan jabatan yang


sahabat peroleh dari Rasululla semasa Rasulullah hidup. Sahabat yang telah
menduduki jabatan pada masa Nabi Muhammad SAW tetap dibiarkan pada
jabatannya, sedangkan sahabat lain yang belum mendapatkan jabatan dalam
pemerintahan juga diangkat berdasarkan kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki.

7. Mempersiapkan Calon Khalifah Pengganti. Persoalan besar yang sempat diselesaikan


Abu Bakar sebelum wafat adalah menetapkan calon khalifah yang akan
menggantikannya. Ketika Abu Bakar sakit dan merasa ajalnya sudah dekat, ia
bermusyawarah dengan para sahabat, kemudian mengangkat Umar sebagai
penggantinya dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan
dan perpecahan dikalangan umat Islam. Kebijakan Abu Bakar tersebut diterima
masyarakat yang secara beramai-ramai membaiat Umar. Dengan demikian ia telah
mempersempit peluang bagi timbulnya pertikaian di antara umat Islam mengenai
jabatan khalifah. Dalam menetapkan calon penggantinya Abu Bakar tidak memilih anak
atau kerabatnya yang terdekat, melainkan memilih orang lain yang secara obyektif

26
Moh Fachruddin Fuad, Perkembangan Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1995, hal. 36
27
Ibid

Sejarah Peradaban Islam | 15


dinilai mampu mengemban amanah dan tugas sebagai khalifah, yaitu sahabat Umar
bin Khattab.28

8. Dalam hal pengembangan agama. Pada masanya mulai dirintis upaya mengumpulkan
ayat-ayat Al-Qur'an. Usaha yang ditempuh untuk pengumpulan ayat-ayat Al Qur'an
adalah atas usul dari sahabat Umar bin Khattab yang merasa khawatir kehilangan Al
Qur'an setelah para sahabat yang hafal Al Qur'an banyak yang gugur dalam
peperangan, terutama waktu memerangi para nabi palsu. Alasan lain karena ayat-ayat
Al Qur'an banyak berserakan ada yang ditulis pada daun, kulit kayu, tulang dan
sebagainya. Hal ini dikhawatirkan mudah rusak dan hilang.
Atas usul Umar bin Khattab tersebut pada awalnya Abu Bakar agak berat
melaksanakan tugas tersebut, karena belum pemah dilaksanakan pada masa Nabi
Muhammad SAW. Namun karena alasan Umar yang rasional yaitu banyaknya sahabat
penghafal Al Qur'an yang gugur di medan pertempuran dan dikhawatirkan akan habis
seluruhnya, akhirnya Abu Bakar menyetujuinya, dan selanjutnya menugaskan kepada
Zaid bin Sabit, penulis wahyu pada masa Rasulullah SAW, untuk mengerjakan tugas
pengumpulan itu.29

Kontribusi Abu Bakar Ash-Shiddiq Bagi Umat Islam

Menilik dari perjalanan sejarah Abu Bakar Ash-Shiddiq telah memberikan kontibusi
besar dan berdampak luas khususnya bagaimana cara mengaplikasikan Islam yang
rahmatan lil ‘alamin. Kontribusi besar itu adalah :

1. Penterapan Islam yang rasional. Ini terlihat dari :


a. Keberanian Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin Jarrah
untuk memilih cara musyawarah dalam menentukan pengganti Nabi, saat dimana
sebelumnya Nabi belum pernah mencontohkannya.
b. Islam adalah sistem, bukan semata rasa perasaan. Hal ini terlihat dari ketidak
mauan Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk memenuhi permintaan Fatimah (Putri
Rasulullah) agar ia memberi kebun yang menurutnya adalah warisan dari
Rasulullah kepadanya. Akbatnya, Fatimah tidak pernah berbicara dengannya
sampai akhir hayat hidup Fatimah.
c. Penerapan Ijtihad, khususnya saat ia menerima lapang dada anjuran Umar agar
mulai melakukan pengumpulan Al-Qur'an.
2. Penterapan Islam secara Statis dan Dinamis. Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak menjadikan
Islam agama yang statis, kaku dan tidak elastis. Ini terlihat dari sikap tegasnya tatkala
pasukan Usamah mesti berangkat karena Nabi memerintahkan itu. Akan tetapi, disisi
lain, ia juga terlihat dinamis, yakni ketika ia bersedia menerima saran Umar untuk
mengumpulkan Al-Qur'an tatkala masa Rasul hal itu justru tidak diizinkan.
3. Penterapan Ijtihad sebagai bagian dari upaya pengembangan hukum-hukum guna
mencapai maqashid (tujuan) syari’ah itu sendiri. Contoh ril tentang hal ini adalah

28
Badri Yatim, hal.37.
29
ibid

Sejarah Peradaban Islam | 16


kebersediaan Abu Bakar Ash-Shiddiq menerima gaji dari Batul Mal, padahal Nabi juga
tidak pernah mencontohkan itu.
4. Penterapan Azas Musyawarah. Meski Abu Bakar Ash-Shiddiq memegang tiga fungsi
sekaligus yakni sebagai eksekutif, yudikatif dan legislatif, namun semua itu senantiasa
melalui proses permusyawaratan dengan para sahabat. Sehingga kepemimpinan Abu
Bakar Ash-Shiddiq layak disebut kepemimpinan yang menjunjung tinggi nilai-nilai
demokratis.
5. Saat Nabi tidak menetapkan calon pengganti, telah mengakibatkan masyarakat Islam
kala itu terpecah dan terkotak-kotak dan bahkan hampir mengarah kepada
perpecahan yang serius. Hal ini menjadikan sebuah pertanyaan, mengapa nabi tidak
menetapkan calon penggantinya sebelum kewafatannya. Faktor yang melatar
belakangi mengapa nabi tidak menetapkan calon penggantinya sesungguhnya sesuai
dengan dalil rasional dan berdasarkan analogi atas apa yang terjadi dalam sejarah
Islam serta selaras dengan kecenderungan syari’at dan sistem Islam- adalah karena
adanya hikmah syari’at yang lebih besar yang dikehendaki dengan tidak dijelaskannya
hal itu. Yaitu agar tidak mengikat umat Islam dengan aturan-aturan baku yang kaku,
yang kemudian tidak cocok dengan perkembangan yang terus terjadi, serta tidak
sesuai dengan situasi dan kondisi. Karena, syari’at Islam berkehendak agar undang-
undang Islam bersifat lentur, sehingga kelenturannya itu memberiakan kesempatan
kepada akal manusia untuk berpikir, serta umat Islam dapat menciptakan sendiri
sistem politik dan kemasyarakatannya, sesuai dengan kenutuhan mereka yang terus
berubah-ubah.30
6. Perihal pengiriman pasukan Usamah ke Romawi di bumi Syam bukan saja menarik
karena keberhasilan Usamah dalam menaklukkan negeri tersebut, akan tetapi langkah
itu telah menorehkan tinta emas dalam sejarah kehidupan berbangsa dan bernegara,
setidaknya dalam dua hal :

Pertama, adab berperang. Abu Bakar Ash-Shiddiq sebelum pasukan Usamah bin Ziad
berangkat memberikan nasehat dengan titahnya : “Jangan melakukan pengkhianatan,
jangan melakukanpelanggaran, jangan ingkar kepada atasan, jangan melampaui batas,
jangan membunuh orang tua, para wanita, dan anak-anak, jangan menebang pohon
yang berbuah, jangan membunuh hewan kecuali untuk dimakan. Ingatlah Allah atas
karuniaNya kepada kamu. Bertempurlah dengan pedang. wahai Usamah, lakukanlah
apa yang telah diperintahkan Nabi dan jangan mengurangi perintahnya”.31

Kedua, Pemahaman tentang Ulil Amri. Terkait dengan Firman Allah : Wahai orang-
orang yang beriman taatilah Allah, taatilah Rasul serta ulil amri di antara kalian. Jika
kalian berselisih dalam suatu urusan, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul jika
kalian memang mengimani Allah dan Hari Akhir. Itu lebih baik dan merupakan sebaik-
baik penjelasan. Qs. An-Nisa’ (4): 59. Konotasi kata ulil amri di sini, menurut Ibn Abbas,
adalah al-umara’ wa al-wullat (para penguasa). Konteks ayat ini juga turun berkaitan
dengan kewajiban untuk menaati penguasa. Karena itu, ulil amri dengan konotasi
penguasa dalam konteks ini jelas lebih tepat ketimbang konotasi ulama atau yang lain.
Dengan demikian, ayat ini jelas memerintahkan agar mentaati penguasa.

30
M.Dhiauddin Rais, Teori Politik Islam ; penerjemah, Abdul Hayyie al-Kattani ; Cet. 1, Jakarta: Gema Insani
Press 2001. Judul Asli : An-nazhariyatu as-siyasatul-islamiyah) – hal.77-78
31
J.Suyuthi Pulungan, h.107

Sejarah Peradaban Islam | 17


Imam ar-Razi telah mengumpulkan pendapat para mufassir dalam kitabnya
tentang makna frasa ini. Beliau menyatakan, bahwa ulil amri mempunyai banyak
konotasi. Pertama: Khulafaur Rasyidin. Kedua: Komandan detasemen. Ketiga: para
ulama’ yang mengeluarkan fatwa hukum syariah serta mengajarkan agama kepada
masyarakat. Keempat: pendapat Syiah Rawafidh, bahwa mereka adalah imam yang
maksum. Terkait dengan pemahaman ar-Razi ini, mari kita perhatikan bagaimana Abu
Bakar Ash-Shiddiq bersikap terhadap Usmah bin Zaid tatkala Usamah akan segera
berangkat memimpin pasukan dimana Umar bin Khattab adalah salah satu anggota
pasukannya, Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepada Usamah, ‘Jikalau menurut
tilikanmu, bahwa Umar bin Khattab itu akan dapat membantuku sepeninggalmu, maka
sudilah mengizinkannya’. Ucapan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ini berisikan
permohonan supaya Umar bin Khattab diizinkan untuk tidak turut di dalam pasukan
itu. Sikap itu agak aneh terdengar bahwa seorang khalifah mengajukan permohonan
kepada seorang Panglima. Akan tetapi ahli-ahli sejarah memberikan penilaian
sedemikian tinggi atas kebijakan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq itu karena
kemampuannya menghormati wewenang seseorang di dalam penguasaannya.32 Dan
sebagaimana dikatakan oleh Imam ar-Rozi, Ulil Amri juga adalah komandan
detasemen.

Secara harfiah, frasa ulil amri (uli al-amr) dan wali al-amr mempunyai konotasi
yang sama, yaitu al-hakim (penguasa). Jika wali adalah bentuk mufrad (tunggal)
maka uli adalah jamak (plural). Namun demikian, kata uli bukan jamak dari kata wali.
Al-Quran menggunakan frasa ulil amri dengan konotasidzawi al-amr, yaitu orang-orang
yang mempunyai (memegang) urusan. Ini berbeda dengan frasa wali al-amr, yang
hanya mempunyai satu makna harfiah, yaitu al-hakim(penguasa). Karena itu, frasa ulil
amri bisa disebut musytarak (mempunyai banyak konotasi). Imam al-Bukhari
memaknai frasa tersebut dengan dzawi al-amr (orang-orang yang mempunyai dan
memegang urusan). Ini juga merupakan pendapat Abu Ubaidah. Dengan begitu dapat
dimengerti, mengapa Abu Bakar Ash-Shiddiq berlaku begitu santun dalam
memposisikan Usamah bin Zaid sekalipun usia Usamah pada masa itu baru 20 tahun
saja.

Kesimpulan

Politik Islam adalah politik pembebasan, penegakan keadilan sosial dan peningkatan
kesejahteraan masyarakat, melalui kebijakan pemerintahan selaku pemilik kekuasaan. Dan
inilah yang menonjol dilakukan pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash Shiddiq.
Islam sebagai agama universal sangat tergantung kepada penguasaan dan
pemahaman umat Islam itu sendiri. Penguasaan dan pemahaman Abu Bakar Ash Shiddiq
terhadap Islam tidak diragukan. Kemampuannya dalam mengelaborasi Islam sebagai
kaedah dan sistem yang hidup, diperlihatkan Abu Bakar Ash Shiddiq dengan kepiawaiannya
mengelola konflik pasca kematian Rasulullah. Kebijakannya lahir dari keberanian berijtihad
atas masalah baru dan belum pernah terjadi pada masa Rasulullah, membuat Islam sebagai
sebuah ajaran teraplikasi dengan baik sehingga melahirkan ilmu-ilmu baru tentang tata
kelola pemerintahan yang berciri khas Islami.
32
Joesoef Sou’ib, hal 38

Sejarah Peradaban Islam | 18


Wallahu a’lam....

Daftar Pustaka

Chatibul Umam, dkk, Sejarah Kebudayaan Islam, 2003, Menara Kudus, Kudus

Dr.Badri Yatim, MA, Sejarah peradaban Islam, 1993, Raja Grafindo Persada, Jakarta

Dr. J.Suyuthi Pulungan, M.A, Fiqh Siyasah, Ajaran, Sejarah dan Pemikiran (Jakarta,
RajaGrafindo Persada, 1999), h.106-107

Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah Kebudayaan Islam, 2006, Kalam Mulia, Jakarta

Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin, 1979, Bulan Bintang, Jakarta

Shaban, Sejarah Islam (600-750): Penafsiran Baru, 1993, Raja Grafindo Persada, Jakarta

M.Dhiauddin Rais, Teori Politik Islam ; penerjemah, Abdul Hayyie al-Kattani ; Cet. 1, Jakarta:
Gema Insani Press 2001. Judul Asli : An-nazhariyatu as-siyasatul-islamiyah

Moh Fachruddin Fuad, Perkembangan Kebudayaan Islam, 1995, Bulan Bintang, Jakarta

Sejarah Peradaban Islam | 19