You are on page 1of 4

Atrial Septal Defect

Jantung manusia terdiri dari dua sisi yang terbagi dalam empat ruangan. Sisi jantung kanan
berfungsi memompa darah kotor dari tubuh ke paru, tempat darah mendapatkan kembali zat
asam. Darah kaya zat asam ini akan kembali ke sisi jantung kiri, kemudian dipompakan ke
seluruh tubuh. Agar proses berjalan baik diperlukan kesempurnaan dari lima komponen
berikut. Pembuluh darah vena yang mengangkut darah kembali ke jantung dari tubuh dan paru,
serambi jantung yang menampung darah yang kembali ke jantung, bilik jantung yang
memompa darah ke luar dari jantung ke paru dan tubuh, keempat katup jantung yang mengatur
arah aliran darah, serta pembuluh darah aorta (mengangkut darah berkadar tinggi zat asam dari
bilik jantung kiri ke seluruh tubuh), dan pembuluh darah paru (mengangkut darah kotor dari
bilik jantung kanan ke paru.
Beberapa penyakit jantung diantaranya adalah penyakit jantung bawaan. Pada sebagian
besar kasus, penyebab PJB tidak diketahui. Pelbagai jenis obat, penyakit ibu, pajanan terhadap
sinar Rontgen, diduga merupakan penyebabeksogen penyakit jantung bawaan. Penyakit rubela
yang diderita ibu pada awal kehamilan dapat menyebabkan penyakit jantung bawaan pada bayi.
Di samping faktor eksogen terdapat pula faktor endogen yang berhubungan dengan kejadian
penyakit jantung bawaan. Berbagai jenis penyakit genetik dan sindrom tertentu erat berkaitan
dengan kejadian penyakit jantung bawaan seperti sindrom Down, Turner, dan lain-lain.
Kelainan kongenital merupakan wujud semasa atau sebelum kelahiran atau semasa dalam
kandungan dan termasuk di dalamnya ialah kelainan jantung. Penyakit jantung bawaan atau
penyakit jantung kongenital merupakan abnormalitas dari struktur dan fungsi sirkulasi jantung
pada semasa kelahiran. Malformasi kardiovaskuler kongenital tersebut berasal dari kegagalan
perkembangan struktur jantung pada fase awal perkembangan janin. Penyakit jantung bawaan
dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok besar berdasarkan pada ada atau tidak adanya
sianosis, yang dapat ditentukan melalui pemeriksaan fisik. Penyakit jantung bawaan asianotik
atau non sianotik umumnya memiliki kelainan yang lebih sederhana dan tunggal sedangkan
tipe sianotik biasanya memiliki kelainan struktur jantung yang lebih kompleks dan bervariasi.
Penyakit jantung bawaan asianotik adalah kelainan struktur dan fungsi jantung yang dibawa
sejak lahir dan sesuai dengan namanya, pasian ini tidak Baik ditandai dengan sianosis.
Penyakit jantung bawaan ini merupakan bagian terbesar dari seluruh penyakit jantung bawaan.
Bergantung pada ada tidaknya pirau (kelainan berupa lubang pada sekat pembatas antar
jantung), kelompok ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu penyakit jantung bawaan asianotik
dengan pirau. Adanya celah pada septum mengakibatkan terjadinya aliran pirau (shunt) dari
satu sisi ruang jantung ke ruang sisi lainnya. Karena tekanan darah di ruang jantung sisi kiri
lebih tinggi disbanding sisi kanan, maka aliran pirau yang terjadi adalah dari kiri ke kanan.
Akibatnya, aliran darah paru berlebihan. Aliran pirau ini juga bisa terjadi bila pembuluh darah
yang menghubungkan aorta dan pembuluh pulmonal tetap terbuka. Karena darah yang
mengalir dari sirkulasi darah yang kaya oksigen ke sirkulasi darah yang miskin oksigen, maka
penampilan pasien tidak biru (asianotik). Namun, beban yang berlebihan pada jantung dapat
menyebabkan gagal jantung kiri maupun kanan. Yang termasuk penyakit jantung bawaan
asianotik dengan aliran pirau dari kiri kanan ialah :
 Atrial Septal Defect (ASD)
merupakan kelainan jantung bocor yang terjadi diantara serambi kanan dengan serambi kiri
jantung. Kelainan ini Hampir sama dengan VSD hanya saja letaknya terdapat pada bagian
serambi. ASD tidak menimbulkan dampak yang besar seperti dalam kasus VSD karena
perbedaan tekanan aliran darah pada serambi kanan dan kiri tidak terlalu jauh berbeda seperti
pada kasus VSD. ASD juga menyebabkan aliran darah pada serambi kanan bercampur dengan
darah dari serambi kiri, mengakibatkan darah kotor dan bersih bercampur. Umumnya ada tiga
klasifikasi ASD berdasarkan letaknya, yaitu:
 Ostium secundum, yaitu tipe ASD yang terjadi pada bagian tengah septum atrial. Tipe
ini merupakan yang paling sering terjadi. Dari 10 bayi yang lahir 8 diantaranya
mengalami kasus ini tetapi sekitar setengahnya akan menutup dengan sendirinya. Biasa
disebut dengan istilah ASD II.

 Ostium primum, yaitu tipe ASD dimana lubang terjadi pada bagian bawah septum
atrial biasanya diikuti dengan kelainan katup atrioventrikuler dan septum ventrikel
bagian atas. Kasus ini jarang terjadi dan tidak dapat sembuh dengan sendirinya. Biasa
disebut dengan istilah ASD I.
 Sinus venosus, yaitu tipe ASD dimana lubang terjadi di bagian atas septum atrial
dekat dengan vena besar yang membawa darah kotor ke atrium kanan. Biasanya kasus
ini disertai dengan kasus kelainan aliran balik vena pulmonal. Biasa disebut dengan
istilah ASD II.

Kemajuan dalam bidang perinatologi memungkinkan bayi dengan keadaan umum yang buruk dapat
bertahan hidup. Sementara itu perkembanganteknologi diagnostik telah mampu mendeteksi
kelainanjantung secara dini pada bayi baru lahir, bahkan sejak dalam kandungan dengan ekokardiografi
janinPada prinsipnya penanganan penyakit jantung bawaan harus dilakukan sedini mungkin. Koreksi
definitif yang dilakukan pada usia muda akan mencegah terjadinya distorsi pertumbuhan jantung, juga
mencegah terjadinya hipertensi pulmonal. Operasi paliatif saat ini masih banyak dilakukan dengan
tujuan memperbaikikeadaan umum, sambil menunggu saat operasi korektif dapat dilakukan. Namun
tindakan paliatif ini seringkali menimbulkan distorsi pertumbuhan jantung, di samping pasien
menghadapi risiko operasi dua kali dengan biaya yang lebih besar pula. Oleh karena itu terus dilakukan
upaya serta penelitian agar operasi jantung dapat dilakukan pada neonatus dengan lebih aman.
Kecenderungan di masa mendatang adalah koreksi definitif dilakukan pada neonatus.
Bentuk operasi paliatif yang sering dikerjakan pada penyakit jantung bawaan antara lain, Banding
arteri pulmonalis. Prosedur ini dilakukan dengan memasang jerat pita dakron untuk memperkecil
diameter arteri pulmonalis. Banding arteri pulmonalis dilakukan pada kasus dengan aliran pulmonal
yang berlebihan akibat pirau dari kiri ke kanan di dalam jantung seperti pada defek septum ventrikel
besar, ventrikel kanan jalan keluar ganda tanpa stenosis pulmonal, defek septum atrioventrikular,
transposisi arteri besar, dan lain-lain. Pirau antara sirkulasi sistemik dengan pulmonal. Prosedur ini
dilakukan pada kelainan dengan aliran darah paru yang sangat berkurang sehingga saturasi oksigen
rendah, anak menjadi biru dan sering disertai asidosis. Jenis-jenis operasi pirau antara lain:
a) Blalock-Taussig klasik, yaitu membebaskan arteri subklavia dan menyambungkannya ke arteri
pulmonalis kiri atau kanan.
b) Modifikasi Blalock-Taussig, memasang pipa Gore-Tex antara arteri subklavia dengan arteri
pulmonalis kanan atau kiri.
c) Pirau sentral, membuat hubungan antara aorta dengan arteri.
d) Pirau antara vena kava superior dengan arteri pulmonalis.
Septostomi atrium. Prosedur ini dilakukan pada bayi sampai usia 3 bulan, yakni dengan kateter balon
melalui vena femoralis. Tindakan ini dapat dilakukan di ruang perawatan intensif dengan bimbingan
ekokardiografi, dapat juga dikerjakan di ruangan kateterisasi jantung. Pada anak yang lebih besar,
tindakan ini dilakukan menurut metode Blalock-Hanlon. Septostomi atrium dilakukan pada transposisi
arteri besar untuk menambah percampuran darah, pada anomali parsial drainase v. Pulmonalis untuk
mengurangi bendungan v. Pulmonalis, dan pada atresia trikuspid untuk mengurangi bendungan vena
sistemik. Kemajuan yang pesat dalam pembedahan memungkinkan dilakukannya tindakan korektif
pada penyakit jantung bawaan. Tindakan pembedahan korektif ini terutama dilakukan setelah
ditemukan rancang-bangun oksigenator yang aman, khususnya pada bayi kecil. Metode yang banyak
dipakai adalah “henti sirkulasi”, sehingga lapangan operasi menjadi bersih dari genangan darah dan
tidak terganggu oleh kanula vena. Ada beberapa kelainan jantung bawaan yang memerlukan
pembedahan korektif pada usia neonatus misalnya anomali total drainase vena pulmonalis dengan
obstruksi, transposisi tanpa defek septum ventrikel, trunkus arteriosus dengan gagal jantung. Sebagian
lagi pembedahan dapat ditunda sampai usia lebih besar, atau memerlukan operasi paliatif untuk
menunggu saat yang tepat untuk koreksi.
DAFTAR PUSTAKA
M. Djer Mulyadi, Madiyono.2011. Tatalaksana Penyakit Jantung Bawaan. Sari Padiatri. 2(3)
: 155-162
Maramis Pingkan. 2014. Hubungan Penyakit Jantung Bawaan Dengan Status Gizi Pada Anak
di RSUP Prof. DR. R. D. Kandao Manado. Jurnal e-CliniC (eCl). 2(2) : 50-61
Abdurachman N. 2004. Gagal Jantung dalam : Ilmu Penyakit Dalam. Balai penerbit FKUI.
Jakarta. Hal 193 – 204