You are on page 1of 22

1

TUGAS
AROMATERAPI DAN HIDROTERAPI
“MAKALAH AROMATERAPI”

Orin Tri Wulan


260110150031

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2018
2

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Aromaterapi
Aromaterapi dipopulerkan kembali seiring dengan terangkatnya kembali
obat tradisional. Upaya ini berkaitan erat dengan semakin besar nya perhatian
masyarakat terhadap keunggulan aromaterapi. Terpai ini dapat membantu
meningkatkan kecantikan dan kesehatan luar dalam dengan cara yang mudah
dan nyaman. Aroma terapi berasal dari kata aroma yang berarti harum atau
wangi, dan therapy yang berarti cara pengobatan atau penyembuhan. Sehingga
aromatherapy dapat diartikan sebagai suatu cara perawatan tubuh dan atau
penyembuhan penyakit dengan menggunakan minyak esensial (Jaelani, 2009).
Menurut Goel, Kim, & Lao, 2005, aromaterapi merupakan proses
penyembuhan yang menggunakan sari tumbuhan aromaterapi murni yang
bertujuan untuk meningkatkan kesehatan, kesejahteraan tubuh, pikiran, dan
jiwa. Aromaterapi mempunyai efek yang positif karena diketahui bahwa aroma
yang segar dan harum bisa merangsang sensori dan reseptor yang ada di hidung
kemudian memberikan informasi lebih jauh ke area di otak yang mengontrol
emosi dan memori serta memberikan informasi ke hipotalamus. Hipotalamus
merupakan pengatur sistem internal tubuh, termasuk sistem seksualitas, suhu
tubuh, dan reaksi terhadap stres (Koensoemardiyah, 2009).

1.2 Sejarah Aromaterapi


Penggunaan metode aromaterapi telah berlangsung cukup lama. Sejak 5000
tahun yang lalu, bangsa Mesir telah menggunakan getah dan minyak dari
tumbuhan yang ada di sekitar negeri itu untuk perawatan tubuh, dupa
pengharum ruangan maupun obat berbagai penyakit. Bahan – bahan yang
berasal dari getah tanaman telah digunakan pula untuk membalsam mumi orang
yang telah meninggal hingga dapat bertahan lama. Penggunaan bahan aromatis
dari getah dan minyak tumbuhan tersebut merupakan cikal bakal dari sejarah
aromaterapi.
3

Sementara orang-orang di Cina telah menggunakan rempah-rempah dan


wewangian untuk meningkatkan kualitas kehidupannya, terutama yang
berkaitan dengan perawatan tubuh dan penyembuhan berbagai penyakit.
Beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa penggunan aromaterapi
dipopulerkan pertama kali oleh Kaisar Shen Nung. Hal ini dapat dibuktikan
dengan munculnya buku-buku kuno yang memuat tentang berbagai jenis
tanaman untuk resep ramuan tradisional dalam bentuk tablet termasuk
penyembyhan penyakit dengan cara aromaterapi ini.
Pada masa yang hampir bersamaan, di Babilonia juga memulai berkembang
perdagangan berbagai jenis produk minyak esensial. Selain sebagai penambah
cita rasa makanan, minyak aromatis ini digunkan sebagai bahan baku
pembuatan obat-obatan, farfum, dan keperluan kosmetik.
Di India, seorang ahli pengobatan terkenal bernama Ayurveda, juga telah
mencoba dengan menggunakan berbagai macam minyak esensial dalam praktek
pengobatannya. Diakui oleh Hippocrates, tokoh kedokteran dari Yunani
menyatakan bahwa mandi dan melakukan pemijatan dengan menggunkan bahan
wewangian (minyak esensial) bisa menjadikan tubuh selalu segar dan tetap
sehat. Pendapat juga dikemukakan oleh Theophrastus, bahwa kandungan zat
aromatis yang terdapat pada tanaman ternyata memilik respon baik terhadap
konsidi pikiran, perasaan, dan kesehatan tubuh.
Aromaterapi telah berkembang di Romawi pada abad ke 3 Masehi.
Terbukti bahwa masyarakat Romawi sangat antusias dalam memproduksi dan
mengembangkan penggunaan minyak esensial. Penggunaan produk aromaterapi
dilakukan sebagai bahan campuran untuk perlengkapan mandi, keperluan
pemijatan, dan parfum.
Produk aromaterapi digunakan sebagai keperluan kosmetik maupun
pengobatan juga dikembangkan oleh bangsa Arab. Pada masa itu tercatat nama
Abu Ali al Husain bin Abdullah bin Sina (980-1037), seorang dokter dan ahli
farmasi muslim yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Sina. Beliau untuk
pertama kali telah memperkenalkan cara-cara memisahkan kandungan minyak
4

esensial dari suatu tanaman dengan metode yang dikenal tenik penyulingan/
destilasi.
Selanjutnya, aromaterapi mulai menyebar ke Negara kawasan Eropa. Pada
masa Renaissance, penggunaan aromaterapi semakin dikenal luas oleh
masyarakat Perancis melalui dukungan Napoleon Bonaparte beserta Permaisuri
Marie Antoneitte. Oleh karena itu, metode pembuaan minyak esensial ataupun
minyak wangi pun mulai dikembangkan. Metode ini pada akhirnya mendorong
berkembangnya industry parfum besar di Paris dan masih tetap Berjaya hingga
masa sekarang. Penggunaan aromaterapi secara modern masih terus dilanjutkan
dan dikembangkan di Perancis sampai 1930-an. Upaya ini atas jasa Gattefosse,
seorang ahli kimia berkebangsaan Perancis, yang pada tahun 1928 menulis buku
‘Aroma Therapie’. Beliau pun mulai banyak mencurahkan perhatian pada sifat-
sifat kimiawi dari minyak yang terkandung dalam tumbuhan serta memaparkan
tentang manfaat minyak esensial untuk kepentingan pengobatan. Diantaranya
untuk pengobatan kanker kulit, ganggren, luka bakar, infeksi bacterial serta
penyakit kronis lainnya. Atas jasanya Gattefosse kemudian ditetapkan sebagai
‘Bapak Aroma Terapi’ modern. Selama Perang Dunia II,Gattefosse diikuti oleh
Jean Valnet muali mempraktikan cara penggunaan aromaterapi untuk mengobati
para serdadu yang cedera di medan perang.
Di tanah air, aromaterapi telah dikenal sejak lama, tercatat pada masa
Mataram Islam. Pemanfaatan bahan-bahan aromaterapi yang berasal dari
tumbuhan telah didokumentasikan secara cermat dan teliti pada masa kini.
Catatan mengenai penggunaan aromaterapi tersebut terkumpul dalam bentuk
resep-resep kecantikan dan resep-resep wewangian alami oleh Bagianda Sri
Sultan Hamengku Buwono II, Raja Matara, (1792-1828) bernama Serat
Primbon Jampi Jawi.
Dalam perkembangan selanjutnya, eksistensi aromaterpai menjadi lebih
popular dengan klinik ‘spa’ yang mulai menjamur di berbagai pelosok negeri.
Spa adalah maa air panas yang mengandung mineral atau tempat yang banyak
dikunjungi orang karena mata airnya berkhasiat (Jaelani, 2009).
5

1.3 Cara Kerja Aromaterapi

Minyak atsiri

Minyak atsiri akan dihirup, dan kemudian bau harum dibawa oleh sel-sel rongga
hidung

Melalui saraf olfaktori

Terdapat beberapa partikel dari minyak atsiri

Sebagian masuk ke dalam Sebagian lagi menuju otak


paru paru (susunan saraf pusat)

Masuk ke dalam aliran Dihubungkan dalam


darah sistem limbik otak

Kemudian akan diedarkan Sensasi wangi aromaterapi


ke seluruh tubuh diterjemahkan

Mempengaruhi emosi dan Merangsang otak untuk


suasana hati mengeluarkan bahan kimia ke
dalam aliran darah
6

Hutasoit (2002) mengemukakan aromaterapi sendiri adalah terapi


menggunakan Essential Oil atau sari minyak murni untuk membantu
memperbaiki atau menjaga kesehatan, membangkitkan semangat, meningkatkan
daya ingat, meningkatkan gairah seksual, menyegarkan serta menenangkan jiwa,
dan merangsang proses penyembuhan. Aromaterapi dipercaya memiliki banyak
keunggulan khususnya bagi seseorang berupa pengembangan intelektualitas,
motorik, dan kemampuan serta keterampilan sosial. Aromaterapi yang dipakai
bisa berupa pengharum ruangan, dupa (incense stick), cologne/parfum, minyak
esensial yang dibakar bersama air di atas tungku kecil, atau bentuk-bentuk yang
lainnya. Aromaterapi selalu dihubungkan dengan hal-hal menyenangkan agar
membuat jiwa, tubuh dan pikiran merasa relaks dan bebas.
Aromaterapi digunakan untuk rileksasi dan pengobatan. Bahkan pada
Perang Dunia II minyak esensial untuk aromaterapi ini digunakan untuk
pengobatan karena pada zaman itu sulit memperoleh antibiotika. Minyak
tersebut mengandung bahan kimia asli dari tumbuhan tersebut berupa zat
antiseptik seperti fenol dan alkohol dan molekul-molekul lain. Khasiatnya
menyembuhkan berbagai penyakit serta menyebarkan bau harum. Selain itu
Hutasoit (2002) mengungkapkan cara kerja aromaterapi yaitu ketika hidung
menghirup wangi minyak essensial yang telah terbukti mampu mempengaruhi
emosi. Minyak yang dihirup akan membuat vibrasi di hidung. Dari sini minyak
yang mempunyai manfaat tertentu itu akan mempengaruhi sistem limbik, tempat
pusat memori, suasana hati, dan intelektualitas berada.
7

BAB II
MINYAK ATSIRI

2.1 Pengertian
Minyak atsiri merupakan zat yang memberikan aroma pada tumbuhan,
Minyak atsiri memiliki komponen volatil pada beberapa tumbuhan dengan
karakteristik tertentu, Saat ini, minyak atsiri telah digunakan sebagai parfum,
kosmetik, bahantam bahan makanan dan obat (Buchbauer, 1991).
Komponen aroma dari minyak atsiri cepat berinteraksi saat dihirup, senyawa
tersebut berinteraksi dengan sistem syaraf pusat dan langsung merangsang pada
sistem olfactory, kemudian sistem ini akan menstimulasi syaraf-syaraf pada otak
dibawah kesetimbangan korteks serebral (Buckle, 1999). Senyawa-senyawa
berbau harum atau fragrance dari minyak atsiri suatu bahan tumbuhan telah
terbukti pula dapat mempengaruhi aktivitas lokomotor (Buchbauer, 1991).
Aktivitas lokomotor merupakan aktivitas gerak sebagai akibat adanya
perubahan aktivitas listrik yang disebabkan oleh perubahan permeabelitas
membran pascasinaptik dan oleh adanya pelepasan transmitter oleh neuron
prasinaptik pada sistem syaraf pusat (Gilman,1991).

2.2 Cara Memperoleh Minyak Atsiri


Minyak atsiri adalah minyak yang bersifat mudah menguap, yang terdiri dari
campuran zat yang mudah menguap, dengan komposisi dan titik didih berbeda-
beda. Setiap substansi yang dapat menguap memiliki titik didih dan tekanan uap
tertentu dan dalam hal ini dipengaruhi oleh suhu. Pada umumnya tekanan uap yang
rendah dimiliki oleh persenyawaan yang memiliki titik didih tinggi (Guenther,
2006).
Untuk memperoleh minyak atsiri dari suatu bahan dapat dilakukan dengan
berbagai cara diantaranya penyulingan, pengepresan, ekstraksi pelarut mudah
menguap dan ekstraksi dengan lemak padat.
8

Penyulingan dapat didefinisikan sebagai pemisahan komponen suatu campuran


dari dua jenis cairan atau lebih berdasarkan perbedaan tekanan uap dan titik didih
dari masing-masing zat tersebut. Pada proses penyulingan minyak atsiri dikenal tiga
metode penyulingan yaitu penyulingan dengan air langsung, penyulingan air-uap
dan penyulingan uap langsung. Masing-masing metode penyulingan memiliki
kelebihan dan kekurangan. Sebelum melakukan penyulingan, bahan perlu
perlakuan pendahuluan.
Penyulingan dengan air dilakukan seperti proses perebusan, bahan yang akan
disuling kontak langsung dengan air. Ketika air mendidih dan menguap, air
membawa serta uap minyak atsiri yang ingin diperoleh. Uap tersebut kemudian
dikondensasi dengan alat kondensor, hasil kondensasi dipisahkan antara bagian
minyak dengan air dengan alat separator. Penyulingan dengan uap dan air
dilakukan seperti metode mengukus. Bahan diletakkan diatas saringan berlubang
yang dibawahnya terdapat air. Air dipanaskan yang kemudian uapnya kontak
dengan bahan yang menyebabkan minyak atsiri ikut menguap. Uap yang dihasilkan
dikondensasi dan kemudian dipisahkan antara minyak dengan air. Sedangkan
penyulingan dengan uap langsung menggunkan uap air jenuh pada tekanan lebih
dari 1 atmosfir. Uap jenuh dihasilkan dari pemanasan air pada instalasi lain seperti
pada boiler (Geunther, 2006).
Selain dengan penyulingan, minyak atsiri juga dapat diperoleh dengan proses
pengepresan. Ekstraksi dengan cara pengepresan umumnya dilakukan terhadap
bahan berupa biji, buah atau kulit buah yang dihasilkan dari tanaman termasuk
famili citrus, karena minyak famili tersebut akan rusak jika diekstraksi dengan
penyulingan. Akibat tekanan pengepresan sel-sel yang mengandung minyak akan
pecah dan minyak akan mengalir ke permukaan bahan. Beberapa jenis minyak yang
dapat diekstraksi dengan cara pengepresan adalah minyak almond, apricot, lemon,
kulit jeruk, mandarin, grape fruit dan beberapa jenis minyak lainnya (Ketaren,
1985).
Untuk bahan-bahan minyak atsiri yang tidak tahan terhadap panas ataupun
tekanan, proses ekstraksi dilakukan dengan ekstraksi pelarut mudah menguap
atau dengan ekstraksi lemak padat. Ekstraksi dengan pelarut mudah menguap
9

menggunakan prinsip kelarutan senyawa-senyawa minyak atsiri terhadap beberapa


jenis pelarut. Terdapat beberapa jenis pelarut yang dapat melarutkan minyak atsiri,
sebagian besar pelarut tersebut bersifat semi polar atao non polar. Sedangkan
ekstraksi dengan lemak padat menggunakan prinsip penyerapan senyawa minyak
atsiri dengan lemak.
Prinsip ekstraksi dengan pelarut mudah menguap adalah melarutkan minyak
atsiri dalam bahan dengan pelarut organik yang mudah menguap. Proses ekstraksi
biasanya dilakukan dalam suatu wadah yang disebut ekstraktor. Bunga yang ingin
diekstrak dimasukkan kedalam ekstraktor dan kemudian pelarut menguap
dimpankan ke dalam ekstraktor. Pelarut yang biasa digunakan adalah petroleum
ether, carbon tetra clorida, chloroform dan pelarut lainnya yang bertitik didih
rendah. Pelarut organik akan berpenetrasi ke dalam jaringan bunga dan akan
melarutkan minyak serta bahan non volatil yang berupa resin, lilin dan pigmen.
Hasil ekstraksi merupakan campuran dari pelarut dan minyak atsiri yang disebut
dengan concrete. Jika concrete dilarutkan dalam alkohol maka minyak atsiri akan
larut sempurna namun zat lilin akan terpisah. Jika dilihat dari minyak atsiri yang
dihasilkan ekstraksi dengan pelarut memberi minyak atsiri yang memiliki mutu
yang lebih baik dibandingkan dengan minyak atsiri hasil proses penyulingan
(Ketaren, 1985).
10

Ekstraksi minyak padat biasanya digunakan untuk mengekstrak minyak atsiri


dari bunga. Pada umumnya bungan setelah dipetik akan tetap hidup secara
fisiologis. Daun bunga terus menjalankan proses hidup dan tetap memproduksi
minyak atsiri dan minyak yang terbentuk dalam bunga akan menguap dalam waktu
singkat. Kegiatan bunga akan terhenti jika kontak dengan panas atau kontak dengan
pelarut organik. Untuk mendapatkan rendemen minyak yang lebih tinggi dan mutu
yang lebih baik, maka selama proses ekstraksi berlangsung perlu dijaga agar proses
fisiologi dalam bunga tetap dapat memproduksi minyak atsiri. Hal ini dapat
11

dilakukan dengan cara mengekstraksi minyak bunga yang menggunakan lemak


hewani atau nabati (Guenther, 2006).

2.3 Kegunaan/ Khasiat Minyak Atsiri secara Umum


Industri memanfaatkan minyak atsiri sebagai campuran parfum. Peran
minyak atsiri dalam campuran bukan hanya memberi keharuman, tetapi juga
sebagai pengikat bau atau fixative parfume. Minyak atsiri juga mampu
membawa nutrisi ke seluruh dinding sel. Minyak atsiri sebagai katalis alami
memang efektif mengangkut nutrisi ke sel. Salah satu penyebab munculnya
penyakit adalah ketidakmampuan nutrisi menerobos sel. Tidak adanya zat yang
membantu mengangkut nutrisi, mengakibatkan sel kekurangan nutrisi.
Dampaknya memicu sel bermutasi dan menjadi tuan rumah bagi organisme
penyebab penyakit.

Molekul oksigen yang terikat pada minyak atsiri, membantu tubuh


menerima dan mengasimilasikan nutrisi untuk kesehatan tubuh. Meski demikian
mesti hati- hati menggunakannya. Bila hendak memanfaatkan minyak atsiri
secara langsung pada kulit, campurkan dengan minyak pengencer, seperti
minyak almond. Minyak pengencer berfungsi mencegah iritasi, menahan
penguapan, dan meningkatkan kelembapan kulit. Namun sebelum digunakan
sebaiknya dicoba dulu karena sensitivitas kulit tiap orang berbeda.3 Beberapa
orang mungkin mengalami efek samping saat menggosokkan minyak atsiri pada
kulit. Iritasi kulit atau alergi mungkin akan muncul, terutama ketika minyak
dipakai di sekitar mulut, mata, hidung, atau dekat selaput lendir. Area- area ini
harus terhindar dari penerapan minyak aromatik. Sebelum memakai minyak
12

atsiri/ minyak essensial dilakukan tes alergi terlebih dahulu (patch test), untuk
keamanan, mengingat banyaknya kasus alergi akibat pemakaian minyak
essensial.

2.4 Tinjauan Kandungan Kimia dalam Minyak Atsiri


Pada umumnya perbedan komposisi minyak atsiri disebabkan perbedan jenis
tanaman penghasil, kondisi iklim, tanah tempat tumbuh, umur panen, metode
ekstraksi yang digunakan dan cara penyimpanan minyak. Minyak atsiri biasanya
terdiri dari berbagai campuran persenyawan kimia yang terbentuk dari unsur
karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O). pada umumnya komponen kimia
minyak atsiri dibagi menjadi dua golongan yaitu:

1) Hidrokarbon, yang terutama teriri dari persenyawaan terpen


Jenis hidrokarbon yang terdapat dalam minyak atsiri sebagian besar
terdiri dari atas monoterpen, sesquiterpen, diterpen, politerpen, paraffin,
olefin, dan hidrokarbon aromatik. Senyawa terpen memiliki aroma
kurang wangi, sukar larut dalam alcohol encer dan jika disimpan dalam
waktu lama akan membentuk resin.
2) Hidrokarbon teroksigenasi
Persenyawaan yang termasuk dalam golongan ini adalah persenyawaan
alcohol, aldehid, keton, ester, eter, dan fenol. Golongan hidrokarbon
teroksigenasi merupakan senyawa yang penting dalam minyak atsiri
karena umumnya aromanya lebih wangi.
13

BAB III
POTENSI MINYAK ATSIRI VERTIVER DALAM AROMATERAPI

3.1 Karakteristik Tumbuhan Vertiver

Tanaman akar wangi merupakan jenis tanaman yang mirip dengan rumput
tinggi, yang akarnya mengeluarkan minyak dan bisa disuling. Tanaman akar
wangi dapat kita jumpai pada daerah pinggir jalan, ladang dan tepi hutan dll.
Tanaman akar wangi ini memiliki nama latin Vetiveria Zizanioides L. Nash.
Ciri-ciri tanaman akar wangi ini memiliki batang lunak seperti rumput daun
yang memanjang dan memiliki akar serabut. Batang tanaman akar wangi lunak,
beruas-ruas, berwarna putih. Daun tanaman akar wangi tunggal berbentuk
seperti pita panjang sedikit keras, dan berwarna hijau. Bunga tanaman akar
wangi berbentuk bulir tumbuh diujung batang. Buah tanaman akar wangi
berbentuk seperti tanaman padi berduri dan berwarna putih kusam. Akar
tanaman akar wangi ini serabut terstruktur, kuat, memiliki rimpang dan
berwarna kuning. Habitat tanaman akar wangi berada pada dataran rendah dan
tinggi yang banyak memiliki sinar matahari dan curah hujan yang cukup (Sani,
2011).
Akar wangi yang kering bermutu baik menghasilkan rendemen minyak
sekitar 1,5% - 2% berat kering, dan jarang mencapai rendemen sampai 3 %.
Akar segar (belum kering) menghasilkan rendemen minyak lebih kecil. Mutu
akar minyak wangi tidak tergantung pada umur akar, tetapi terhadap lamanya
penyulingan. Semakin lama penyulingan, maka minyak yang dihasilkan
semakin bermutu baik. Umumnya minyak yang dihasilkan dengan proses
14

penyulingan yang lama berwarna gelap, lebih pekat, dan memiliki nilai bobot
jenis dan putaran optic yang tinggi. (E. Guanther, 1990).

Komposisi minyak atsiri akar wangi

3.2 Khasiat/ Penggunaan Minyak Atsiri


Minyak atsiri akar wangi merupakan salah satu bahan pewangi yang
potensial. Biasanya dipakai secara meluas pada pembuatan parfum, bahan
kosmetika dan sebagai bahan pewamgi sabun. Minyak akar wangi selain sebagai
pengikat, juga memberikan bau wangi menyenangkan, tahan lama, dan keras.
Karena baunya yang keras itu, maka pemakaiannya harus memperhatikan dosis.
Jika dosisnya berlebihan justru memberikan kesan bau yang tidak enak. Itulah
sebabnya, seringkali penggunaan minyak akar wangi ini dicampur dengan
minyak nilam, minyak mawar, dan minyak “sandalwood”. (Hieronymus Budi.
S, 1993).
Selain itu juga minyak atsiri akar wangi bermanfaat sebagai:
1. Sifat Antioksidan
Antioksidan adalah zat yang membantu mencegah kerusakan sel, terutama
yang disebabkan oleh oksidasi. Ketika dibiarkan berkeliaran bebas di dalam
tubuh, beberapa jenis molekul oksigen menyebabkan apa yang dikenal
sebagai kerusakan oksidatif, yang dipicu radikal bebas, dan berbahaya untuk
jaringan tubuh.
2. Menghlangkan Bekas Luka dan Tanda di Kulit
Minyak akar wangi (vetiver oil) bersifat cicatrisant, yang berarti mampu
menyembuhkan bekas luka dengan mempromosikan regenerasi kulit dan
jaringan. Minyak ini mampu meremajakan kulit dan menghilangkan bintik-
bintik gelap atau bekas jerawat dan cacar. Minyak akar wangi juga
15

merupakan minyak anti-penuaan dan efektif menyamarkan stretch mark,


pecah-pecah pada kulit dan gangguan kulit lainnya. Minyak akar wangi
(vetiver oil) merupakan antiseptik, yang berarti ketika diterapkan pada
jaringan hidup atau kulit, akan mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi.
Studi menunjukkan konsentrasi kecil minyak akar wangi sudah mampu
membunuh infeksi seperti Staph.
3. Merawat ADHD
Pada tahun 2001, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Terry Friedman
menemukan minyak akar wangi (vetiver oil) efektif mengobati anak-anak
dengan ADHD. Sifat menenangkan minyak akar wangi dianggap mampu
memerangi gejala ADHD dan ADD, yang biasanya meliputi kesulitan
konsentrasi, kurang fokus, mudah terganggu, kesulitan mengikuti instruksi,
ketidaksabaran, dan perilaku gelisah.
4. Berfungsi sebagai Aphrodisiac
Stres mental dan fisik dapat menyebabkan hilangnya libido atau gairah seks.
Minyak akar wangi (vetiver oil) terbukti menjadi agen penenang yang
efektif, membuat pikiran dan tubuh menjadi santai, sehingga
menyeimbangkan hormon secara alami. Namun upaya ini perlu dibarengi
dengan mendapatkan cukup tidur. Karena memiliki sifat menenangkan,
minyak akar wangi (vetiver oil) dikenal membantu mengatasi insomnia dan
stres yang mengarah pada kurang tidur. Minyak akar wangi (vetiver oil)
tidak hanya baik untuk meningkatkan kadar testosteron, namun juga
memiliki efek seperti estrogen. Minyak ini memiliki kemampuan
memperkuat sistem reproduksi wanita dan menyeimbangkan hormon.
5. Fungsi Tubuh secara Keseluruhan
Minyak akar wangi (vetiver oil) meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan
saraf karena bersifat sebagai tonik alami. Sebuah studi tahun 2015 yang
dilakukan di India menemukan minyak akar wangi (vetiver oil) memainkan
peran protektif dalam tubuh dengan mengurangi efek beracun dari obat
kemoterapi yang disebut cisplatin, yang digunakan untuk mengobati kanker
testis, kandung kemih, indung telur atau kanker paru-paru. Karena aktivitas
16

antioksidannya, minyak akar wangi (vetiver oil) secara signifikan


menghambat kerusakan DNA pada tikus yang diberi cisplatin selama lima
hari berturut-turut. Sifat menenangkan dan restoratif minyak akar wangi juga
bertanggung jawab merangsang sistem kekebalan tubuh dan mendukung
sistem saraf.
6. Menenangkan Kecemasan dan Gugup
Secara tradisional, minyak akar wangi telah digunakan dalam aromaterapi
untuk relaksasi dan mengurangi stres emosional, serangan panik, trauma,
kecemasan, insomnia, histeria dan depresi.
7. Mengusir Rayap
Louisiana State University Agricultural Center menganalisis sifat pengusir
rayap dari delapan minyak esensial, termasuk vetiver, vetiver grass, cassia
leaf oil, clove bud, cedarwood, eucalyptus globules, eucalyptus citrodora,
lemongrass dan geranium oil. Dari minyak esensial yang diuji, minyak akar
wangi (vetiver oil) menunjukkan sebagai penolak rayap paling efektif karena
memiliki efek paling tahan lama. Minyak akar wangi juga menurunkan
aktivitas rayap dalam membangun sarang. Sebagian orang menggunakan
minyak akar wangi pada kulit kepala untuk membunuh kutu, karena efektif
dan aman (tidak beracun) (Hernendi, 2018).

3.3 Penelitian- Penelitian yang Telah Dilakukan


Minyak akar wangi merupakan salah satu minyak atsiri yang mengandung
campuran sesquiterpen alkohol dan hodrokarbon yang sangat kompleks (Akhila
& Rani 2002), dan jenis minyak atsiri yang sangat kental dengan laju volatilitas
yang rendah (Akhila & Rani 2002). Komponen utama penyusun minyak akar
wangi terdiri dari sesquiterpen hidrokarbon (γ- cadinene, clovene, α-amorphene,
aroma dendrene, junipene, dan turunan alkoholnya), vetiverol (khusimol,
epiglobulol, spathulenol, khusinol, serta turunan karbonilnya), dan vetivone ( α-
vetivone, β-vetivone, khusimone, dan turunan esternya). Diantara komponen-
komponen tersebut α-vetivone, β- vetivone, dan khusimone merupakan
komponen utama sebagai penentu minyak akar wangi. Berdasarkan penelitian
17

Maulana, 2013 diperoleh bahwa kandungan komponen utama dari minyak akar
wangi dengan metode steam-hydro distillation lebih banyak dengan tabel
sebagai berikut:

(Hanief, dkk, 2013).


Sebuah studi yang dilakukan di Department of Food Science and Human
Nutrition di Clemson University, South Carolina mengevaluasi aktivitas
antioksidan minyak akar wangi (vetiver oil) di tahun 2005. Hasil penelitian
menunjukkan minyak akar wangi memiliki kemampuan melawan radikal bebas
yang lebih kuat dibandingkan dengan antioksidan standar seperti butylated
hydroxytoluene dan alpha-tocopherol.
Pada tahun 2001, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Terry
Friedman menemukan minyak akar wangi (vetiver oil) efektif mengobati anak-
anak dengan ADHD. Studi ini dilakukan selama dua tahun (1999-2001), dan
melibatkan 40 anak berusia antara 6 hingga 12 tahun. Dua puluh anak-anak
tidak didiagnosis dengan ADHD dan berfungsi sebagai kelompok kontrol,
sedangkan 20 anak lainnya didiagnosis dengan ADHD. Minyak esensial yang
18

digunakan dalam penelitian ini adalah lavender, vetiver, cedarwood dan Brain
Power (yang merupakan perpaduan dari rankincense, sandalwood, melissa,
cedarwood, blue cypress, lavender dan helichrysum essential oil). Minyak
esensial diujikan satu per satu selama 30 hari. Anak-anak menggunakan
perangkat inhalasi di malam hari dan menghirup minyak esensial sekitar tiga
kali sehari. Hasilnya sangat menjanjikan. Lavender oil menunjukkan
peningkatan kinerja sebesar 53 persen, cedarwood oil mengangkat kinerja 83
persen dan minyak akar wangi (vetiver oil) meningkatkan kinerja sebesar 100
persen.
Studi tahun 2010 yang diterbitkan dalam jurnal Hormones and Behavior
menyinggung untuk pertama kalinya tentang apa yang disebut “dual-hormone
hypothesis”. Para peneliti menemukan ketika kortisol meningkat pada saat stres,
hormon testosteron merespon dengan juga turut mengalami peningkatan.
Masalah setelah itu, kadar testosteron akan berada pada level jauh lebih rendah
dari sebelumnya. Ketika menjalani hidup dalam keadaan stres, kadar testosteron
akan terkuras sehingga membuat seseorang kehilangan hasrat seksual. Minyak
akar wangi (vetiver oil) terbukti menjadi agen penenang yang efektif, membuat
pikiran dan tubuh menjadi santai, sehingga menyeimbangkan hormon secara
alami. Menurut sebuah artikel dari jurnal Current Opinion of Endocrinology,
Diabetes and Obesity, cukup tidur dan tidur pada saat yang tepat adalah dua cara
paling efektif untuk meningkatkan testosteron.
Sebuah studi tahun 2015 yang dilakukan di India menemukan minyak akar
wangi (vetiver oil) memainkan peran protektif dalam tubuh dengan mengurangi
efek beracun dari obat kemoterapi yang disebut cisplatin, yang digunakan untuk
mengobati kanker testis, kandung kemih, indung telur atau kanker paru-paru.
Karena aktivitas antioksidannya, minyak akar wangi (vetiver oil) secara
signifikan menghambat kerusakan DNA pada tikus yang diberi cisplatin selama
lima hari berturut-turut.

.
19

3.4 Cara Pemanfaatannya sebagai Aromaterapi


Secara tradisional, minyak akar wangi telah digunakan dalam aromaterapi
untuk relaksasi dan mengurangi stres emosional, serangan panik, trauma,
kecemasan, insomnia, histeria dan depresi. Sebuah studi tahun 2015 meneliti
efek minyak akar wangi (vetiver oil) untuk membantu meringankan kecemasan
dan aksi neurologis dalam central amygdaloid nucleus. Central amygdaloid
nucleus terhubung dengan daerah batang otak yang mengontrol ekspresi
perilaku bawaan dan bertanggung jawab atas persepsi dan dampak emosi,
seperti perubahan denyut jantung, tekanan darah dan pernapasan. Ketika
diberikan kepada tikus, minyak akar wangi (vetiver oil) meringankan aktivasi
saraf dari stres. Bahkan, minyak akar wangi memiliki dampak yang sama seperti
Diazepam, obat yang digunakan untuk merawat kecemasan, kejang otot, kejang
dan kondisi medis lainnya (Hernendi, 2018).
20

BAB IV
KESIMPULAN

Tanaman akar wangi merupakan jenis tanaman yang mirip dengan rumput
tinggi, yang akarnya mengeluarkan minyak dan bisa disuling. Hasil penyulingan
dari akar tanaman akar wangi disebut sebagai minyak atsiri. Adapun berbagai cara
untuk memperoleh minyak atsiri diantaranya penyulingan, pengepresan, ekstraksi
pelarut mudah menguap dan ekstraksi dengan lemak padat. Secara tradisional,
minyak akar wangi telah digunakan dalam aromaterapi untuk relaksasi dan
mengurangi stres emosional, serangan panik, trauma, kecemasan, insomnia, histeria
dan depresi.
21

DAFTAR PUSTAKA

Buchbauer, G., W. Jager, H. Dietrich, , Ch. Plank, , and E. Karamat. 1991.


Aromatherapy: Evidence for Sedative Effects of Essential Oil of Lavender
after Inhalation. Journal of Biosciences; 46c, 1067-1072.

Buckle, J. 1999. Use of Aromatherapy as Complementary Treatment for


Chronic Pain. J. Alternative Therapies; 5, 42-51.

Gilman, A.G., T.W. Rall, A.S. Nies, Taylor. 1991. The Pharmacological Basis
of Therapeutics, 8th ed. New York : McGraw-Hill.

Goel, N., Kim, H., & Lao, R. P. (2005). An olfactory stimulus modifies
nighttime sleep in young men and women tersedia online di
http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.
1080/07420520500263276?journalCode =icbi20 [diakses pada 14 April
2018; 22.09WIB]

Guenther, E. 1990. Minyak Atsiri Jilid IV-A. UI-PRESS. Jakarta

Guenther, E. 2006. Minyak Atsiri Jilid I. Jakarta: UI-Press

Hanief, Maulana M Al, dkk. 2013. Ekstraksi Minyak Atsiri dari Akar Wangi
Menggunakan Metode Steam - Hydro distillation dan Hydro distilation
dengan Pemanas Microwave. JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2,
(2013) ISSN: 2337-3539.

Hernendi, Syafril. 2018. Manfaat, Kegunaan, dan Efek Samping Vertiver Oil
tersedia online di https://www.atsirich.com/121/7-manfaat-kegunaan-efek-
samping-vetiver-oil-minyak-akar-wangi/. [diakses pada 14 April 2018;
20:50 WIB]

Jaelani. 2009. Aroma Terapi Ed. 1. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Ketaren, S., 1985, Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Jakarta: Balai Pustaka.
22

Koensoemardiyah. (2009). A-Z aromaterapi untuk kesehatan, kebugaran dan


kecantikan. Yogyakarta: Lily Publisher

Sani. 2011. Minyak dari Tumbuhan Akar Wangi. Surabaya: Unesa University
Press

Santoso, Hieronymus B. 1993. Akar Wangi. Yogyakarta: Kanisius.