You are on page 1of 23

LAPORAN SKENARIO 1 BLOK 4 Alergi Setiap Terpapar Debu

LAPORAN SKENARIO 1 BLOK 4 Alergi Setiap Terpapar Debu TUTOR: drg. Ayu Kristin Rakhmawati Disusun Oleh:

TUTOR:

drg. Ayu Kristin Rakhmawati

Disusun Oleh:

Ketua

: Rif’an Irham Maulana

J2A017035

Scrable 2

: Alifa Putri Noor Ikhsanti

J2A017001

Anggota

: Izaz Zayyan Listy Putri

J2A017002

Dea Hardyana Putri

J2A017003

Aisyah Nafa Agustin

J2A017005

Asy-Syifa Brillian Avicenna

J2A017006

Julio Sesco Artamulananda

J2A017007

Dela Martha Devi

J2A017033

Aprilia Fajrin

J2A017034

Juliana Nursetyaningtyas

J2A017036

Muhammad Maulana Aji

J2A017037

Shoffan Marshush

J2A017038

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

2018

KATA PENGANTAR

Pujisyukur kami ucapkan kepada Allah Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia Nya kami dapat menyelesaikan Laporan Skenario 1 Blok 4 yang berjudul “ALERGI SETIAP TERPAPAR DEBU

Laporan skenario ini kami susun demi memenuhi tugas yang diberikan kepada kami. Pada kesempatan ini, kami ucapkan terimakasih kepada pihak pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan Laporan Skenario ini, terutama kepada drg. Ayu selaku tutor pada tutorial blok 4 yang senantiasa membantu dan membimbing kami, sehingga Laporan Skenario ini dapat kami selesaikan dengan baik.

Laporan ini kami susun untuk memperluas dan menambah wawasan kami dan para pembaca khususnya mahasiswa serta untuk menunjang pemahaman dan melatih keterampilan mahasiswa, kami lampirkan beberapa jurnal dan buku.

Kami menyadari banyak sekali kekurangan dalam karya ilmiah ini. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi kesempurnaan laporan selanjutnya.

Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Semarang,

Maret 2018

Penyusun

KATA PENGANTAR Pujisyukur kami ucapkan kepada Allah Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia –

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………….………………. 1

DAFTAR ISI…………………………………………………….………………

..

………

..

2

BAB I PENDAHULUAN

  • 1.1 Latar Belakang…………………………………………………………………………. 3

  • 1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………………………… 3

  • 1.3 Tujuan…………………………………………………………………………………

..

4

  • 1.4 Manfaat……………………………………………………………………

....................

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

 
  • 2.1. Mapping………………………………………………………………………………

..

5

  • 2.2. Sistem Imun…

...

…………………………………………………………

.....................

6

BAB III PEMBAHASAN

  • 3.1 Definisi Sistem Imun…………………………………………………………………… 7

  • 3.2 Pertahanan dan Kekebalan…….………………………………………………………

..

7

  • 3.3 Sel Pertahanan Spesifik dan Non Spesifik

.....…………………………………………..

11

  • 3.4 Respon Sistem Imun terhadap Antigen………………………………………………… 14

  • 3.5 Immunology……………………

...

……………………………………………………

..

16

  • 3.6 Mekanisme Disfungsi Kekebalan Tubuh…………….………………………………… 16

  • 3.7 Hipersensitivitas…………………

..…………………………………………………….

17

  • 3.8 Respon Imun…………………………………………………………………………… 18

  • 3.9 Mekanisme Sistem Imun Zat Asing Masuk……………………………………………. 19

BAB IV PENUTUP

  • 4.1 Kesimpulan………………

……………………………………………………………

20

  • 4.2 Dalil………………………………………………………………………

.....................

20

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………….…. 22

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR …………………………………………………….………………. 1 DAFTAR ISI …………………………………………………….……………… .. ……… .. 2 BAB I PENDAHULUAN
  • 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN

Imunitas merupakan suatu system yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup. Imunitas yang baik membuat tubuh tetap sehat dan terhindar dari berbagai penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur yang berasal dari lingkungan. Tubuh dapat membuat respon imunnya sendiri saat benda asing berusaha membahayakan diri host-nya. Respon ini menjauhkan tubuh dari berbagai penyakit infeksi, namun pada saat respon ini

mengalami kegagalan fungsi (disfungsi imunitas) dapat membuat host-nya mengalami penyakit auto imun, imunodefisiensi ataupun alergi (hipersensitivitas).

  • 1.2 Rumusan Masalah

    • 1.2.1 Jelaskan definisi dari system imun!

    • 1.2.2 Sebutkan dan jelaskan jenis dari sistem kekebalan (pasif dan aktif) dan sistem pertahanan

(spesifik dan non spesifik)!

  • 1.2.3 Sebutkan dan jelaskan jenis dari sel imun spesifik dan non spesifik!

  • 1.2.4 Sebutkan dan jelaskan apa saja respon system imun terhadap antigen!

  • 1.2.5 Jelaskan sejarah dari immunology!

  • 1.2.6 Jelaskan mekanisme dari disfungsi kekebalan tubuh!

  • 1.2.7 Jelaskan reaksi hipersensitivitas terhadap system imun tubuh!

  • 1.2.8 Jelaskan bagaimana respon imun!

  • 1.2.9 Bagaimana mekanisme system imun terhadap zat-zat asing yang masuk ke dalam tubuh?

  • 1.3 Tujuan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penulisan laporan ini adalah sebagai berikut:

  • 1.3.1 Mampu menjelaskan pengertian system imun.

  • 1.3.2 Mampu menjelaskan system pertahanan dan system kekebalan yang ada di dalam tubuh.

  • 1.3.3 Mampu menjelaskan jenis-jenis sel imun spesifik dan non spesifik.

1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN Imunitas merupakan suatu system yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup.

1.3.4

Mampu menjelaskan respon system imun terhadap antigen.

  • 1.3.5 Mampu menjelaskan sejarah dari immunology.

  • 1.3.6 Mampu menjelaskan mekanisme dari disfungsi kekebalan tubuh.

  • 1.3.7 Mampu menjelaskan reaksi hipersensitivitas terhadap kekebalan tubuh.

  • 1.3.8 Mampu menjelaskan respon imun.

  • 1.3.9 Mampu menjelaskan mekanisme system imun saat ada zat-zat asing yang masuk ke dalam tubuh.

1.4 Manfaat

Manfaat penulisan makalah ini adalah:

  • 1. Mahasiswa mampu memahami definisi dari system imun.

  • 2. Mahasiswa mampu memahami system pertahanan dan system kekebalan tubuh.

  • 3. Mahasiswa mampu memahami jenis dari sel imun spesifik dan non spesifik.

  • 4. Mahasiswa mampu memahami respon system imun terhadap antigen.

  • 5. Mahasiswa mampu memahami sejarah immunology.

  • 6. Mahasiswa mampu memahami mekanisme disfungsi kekebalan tubuh.

  • 7. Mahasiswa mampu memahami reaksi hipersensitivitas terhadap kekebalan tubuh.

  • 8. Mahasiswa mampu memahami respon imun

  • 9. Mahasiswa mampu memahami mekanisme system imun saat ada zat-zat asing yang masuk ke dalam tubuh.

1.3.4 Mampu menjelaskan respon system imun terhadap antigen. 1.3.5 Mampu menjelaskan sejarah dari immunology. 1.3.6 Mampu

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Mapping Sistem Imun Tubuh Definisi Jenis Respon Imun Disfungsi Reaksi Sejarah Kekebalan Hipersensiti- Immunology Tubuh
2.1 Mapping
Sistem Imun Tubuh
Definisi
Jenis
Respon Imun
Disfungsi
Reaksi
Sejarah
Kekebalan
Hipersensiti-
Immunology
Tubuh
vitas
Pertahanan
Kekebalan
Pasif
Aktif
Spesifik
Non
spesifik
Struktur
Respon terhadap
Antigen
Antibody
Limfosit
Humoral
Selular
Sel
Sel
Antigen
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Mapping Sistem Imun Tubuh Definisi Jenis Respon Imun Disfungsi Reaksi Sejarah

2.2 Sistem Imun Tubuh

Sistem imun merupakan mekanisme pertahanan tubuh sebagai perlindungan dari bahaya berbagai bahan dalam lingkungan yang dianggap asing bagi tubuh seperti bakteri, jamur, parasit dan protozoa. (Abbas et al., 2015: Baratawidjaya dan Rengganis, 2009: Benjamin et al., 2000)

Ketika daya tahan tubuh lemah, maka agen infektif akan dengan mudah menembus pertahanan tubuh dan menyebabkan penyakit. Oleh karena itu, upaya meningkatkan system imun menjadi penting untuk dilakukan, salah satunya adalah dengan menggunakan imunomodulator khususnya yang bersifat immunostimudin. (artikel dari situs etd.repository.ugm.ac.id).

2.2 Sistem Imun Tubuh Sistem imun merupakan mekanisme pertahanan tubuh sebagai perlindungan dari bahaya berbagai bahan

BAB III

3.1. Definisi dari Sistem Imun

Sistem imun adalah suatu system dalam tubuh yang terdiri atas sel-sel penghasil senyawa tertentu dan senyawa tersebut bekerja secara kolektif dan terkoordinasi untuk melawan benda asing seperti kuman, penyakit, atau racun yang masuk ke dalam tubuh. (Sutardi. 2016. Kandungan Bahan Aktif Tanaman Pegangan dan Khasiatnya untuk Meningkatkan Sistem Imun Tubuh.)

Sistem imun juga dapat diartikan sebagai keadaan perlindungan (terutama pada infeksi yang ditandai dengan daya ingat dan spesifisitas). Daya ingat adalah meningkatnya kemampuan suatu organisme untuk berespons terhadap suatu antigen (suatu sel atau molekul yang memacu system imun, juga dikenal sebagai imunologi) karena pernah terpasang ke antigen.

3.2 Sistem Pertahanan dan Kekebalan Tubuh

3.2.1 Pertahanan

Sistem pertahanan tubuh terbagi atas dua jenis, yaitu:

  • A. Sistem imun non spesifik/natural/bawaan sejak lahir System imun non spesifik merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam melawan mikroorganisme. Disebut non spesifik karena tidak ditujukan kepada mikroorganisme tertentu. Sistem ini terdiri dari:

    • a. Pertahanan fisik/mekanik Pertahanan fisik terdiri atas kulit, selaput lender, silia di saluran pernapasan, batuk, dan bersin yang akan mencegah masuknya berbagai kuman pathogen ke dalam tubuh.

    • b. Pertahanan biokimia Pertahanan biokimia teridiri atas bahan yang dieksresikan mukosa saluran napas yang mengandung bahan yang berperan dalam perhanan tubuh secara biokimiawi; asam HCl dalam

BAB III 3.1. Definisi dari Sistem Imun Sistem imun adalah suatu system dalam tubuh yang terdiri

lambung; lisozim dalam keringat, ludah air mata serta air susu dapat melindungi tubuh terhadap berbagai kuman gram positif dengan menghancurkan dinding selnya. Air susu ibu juga mengandung lactoferin dan asam neuraminik yang mempunyai sifat antibacterial terhadap E. coli dan Staphylococcus. Lisozim yang dilepas oleh makrofag dapat menghancurkan kuman gram negative dan hal tersebut diperkuat oleh komplemen.

  • c. Pertahanan humoral

1)

Komplemen Komplemen berfungsi mengaktifkan fagosit dan membantu destruktif bakteri dan parasit karena:

Komplemen dapat menghancurkan membran sel

bakteri Komplemen merupakan faktor kemotaktik yang

2)

mengarahkan makrofag ke tempat bakteri Komplemen lain yang mengendap pada permukaan bakteri memudahkan makrofag untuk mengenal dan menfagositosis. Interferon Interferon merupakan suatu glikoprotein yang dihasilkan oleh berbagai sel manusia yang mengandung nukleur dan dilepaskan sebagai respon terhadap infeksi virus. Interferon mempunyai sifat antivirus dengan jalan menginduksi sel-sel di sekitar sel yang terinfeksi virus sehingga menjadi resisten terhadap virus. Di samping itu, interferon juga dapat mengaktifkan Natural Killer cell (sel NK). Sel yang diinfeksi virus atau menjadi ganas akan menunjukkan perubahan pada permukaannya. Perubahan tersebut akan dikenal oleh sel NK yang kemudian membunuhnya. Dengan demikian penyebaran virus dapat dicegah.

lambung; lisozim dalam keringat, ludah air mata serta air susu dapat melindungi tubuh terhadap berbagai kuman

3)

C-Reactive Protein (CRP)

Peranan CRP adalah sebagai opsonin dan dapat mengaktifkan komplemen. CRP dibentuk oleh back up pada saat infeksi. CRP merupakan protein yang kadarnya cepat meningkat (100x atau lebih) setelah infeksi atau inflamasi akut. CRP berperan pada imunitas non spesifik, karena dengan bantuan Catt dapat meningkatkan berbagai molekul yang terdapat pada banyak bakteri dan jamur.

  • d. Pertahanan Selular Fagosit atau makrofag dan sel NK berperan dalam system imun non spesifik selular. Meskipun berbagai sel dalam tubuh dapat melakukan fagositosis, tetapi sel utama yang berperan dalam pertahanan non spesifik adalah mononuclear (monosit dan makrofag) serta sel polimornuklear seperti neutrophil. Dalam kerjanya sel fagosit juga berinteraksi dengan komplemen dan system imun spesifik. Penghancuran kuman terjadi dalam beberapa tingkat sebagai berikut:

1) Kemotaksis, menangkap, memakan (fagositosis), membunuh dan mencerna. Kemotaksis adalah gerakan fagosit ke tempat infeksi sebagai respon terhadap berbagai faktor seperti faktor biokimiawi yang dilepas pada aktivitas komplemen. 2) Antibody seperti halnya dengan komplemen C3b dapat meningkatkan fagositosis (opsonisasi). Antigen yang diikat antibody akan lebih mudah dikenal oleh fagosit untuk kemudian dihancurkan. Hal tersebut dimungkinkan oleh adanya reseptor untuk fraksi Fe dari immunoglobulin pada permukaan fagosit.

Sel Natural Killer (NK) adalah sel limfoid yang ditemukan dalam sirkulasi dan tidak mempunyai ciri sel limfoid dari system imun spesifik, oleh karena itu disebut

3) C-Reactive Protein (CRP) Peranan CRP adalah sebagai opsonin dan dapat mengaktifkan komplemen. CRP dibentuk oleh

sel non B non T (sel NBNT) atau sel poplan ketiga. Sel NK dapat menghancurkan sel yang mengandung virus atau sel neoplasma dan interveronma mempunyai pengaruh dalam mempercepat pematangan dan efeksiditik sel NK.

  • B. Sel Imun Spesifik atau Adaptasi Sel imun spesifik mempunyai kemampuan untuk mengenal benda asing. Benda asing yang pertama kali muncul dikenal oleh system imun spesifik sehingga terjadi sensitisasi sel-sel imun tersebut. Bila sel imun tersebut berpapasan kembali dengan benda asing yang sama, maka benda asing yang terakhir ini dikenal dengan lebih cepat kemudian akan dihancurkan olehnya. Karena system tersebut hanya menghancurkan benda asing yang sudah dikenal sebelumnya, maka system tersebut spesifik. System imun spesifik dapat bekerja sendiri untuk menghancurkan benda asing yang berbahaya, tetapi umumnya terjalin kerjasama yang baik antara antibody, komplemen, fagosit dan antara sel T makrofag.

    • a. System imun spesifik humoral Sistem imun ini diperankan oleh limfosit B atau sel B. Sel B tersebut berasal dari sel asal multipoten. Bila sel B dirangsang oleh benda asing, maka sel tersebut akan berpoliferan dan berkembang menjadi sel plasma yang dapat ditemukan dalam serum. Fungsi utama antibody ini adalah untuk pertahanan terhadap infeksi virus, bakteri (ekstraselular) dan dapat menetralkan toksinnya.

    • b. Sistem imun spesifik selular Sistem ini diperankan oleh limfosit T atau sel T. Sel tersebut juga berasal dari sel asal yang sama dengan sel B. Factok timus yang disebut timosin dapat ditemukan dalam peredaran darah sebagai hormone asli dan dapat memberikan pengaruhnya terhadap diferensiasi sel T di perifer. Berbeda dengan sel B, sel T terdiri atas beberapa sel subset yang mempunyai fungsi berlainan. Fungsi utama

sel non B non T (sel NBNT) atau sel poplan ketiga. Sel NK dapat menghancurkan sel

sel imun spesifik adalah untuk pertahanan terhadap bakteri yang hidup intraseluler, virus, jamur, parasite dan keganasan.

3.2.2 Kekebalan

 
  • A. Kekebalan Pasif

1)

Kekebalan Pasif Alami

2)

Kekebalan ini didapatkan melalui pemindahan antibody atau sel darah putih yang disensitisasi imunnya dari badan seseorang ke badan orang lain, misalnya melalui plasenta dari kolostrum dari ibu ke anak. Kekebalan Pasif Buatan

Kekebalan ini dilakukan dengan memberi serum, antibody, antitoksin misalnya pada tetanus, difteri, gang gregar, gigitan ular dan difenensi imun atau pemberian sel yang sudah dirensitasi pada tuberculosis dan hepar.

 
  • B. Kekebalan Aktif

1)

Kekebalan Aktif Alami

2)

Kekebalan ini terjadi apabila suatu mikroorganisme secara alamiah masuk ke dalam tubuh dan menimbulkan pembentukan antibody atau sel yang tersensitisasi. Kekebalan Aktif Buatan Kekebalan ini ditimbulkan dengan vaksinasi melalui pemberian toksoid tetanus, antigen mikroorganisme baik yang mati maupun yang hidup.

3.3 Sel Imun pada Pertahanan Spesifik dan Non Spesifik

3.3.1 Sel Imun Spesifik

Sel T Karakteristik sel T, yaitu:

  • Sel T tidak mengeluarkan antibody, sel-sel harus berkontak langsung dengan sasaran

  • Bersifat klonal dan sangat spesifik terhadap antigen

  • Tidak semua turunan sel T yang teraktivasi menjadi T efektor

sel imun spesifik adalah untuk pertahanan terhadap bakteri yang hidup intraseluler, virus, jamur, parasite dan keganasan.
  • Selama pematangan di timus, sel T mengenal antigen asing dalam kombinasi dengan antigen jaringan individu itu sendiri

  • Diperlukan waktu beberapa hari setelah pajanan antigen tertentu sebelum sel T teraktivasi bersiap untuk melancarkan serangan imun selular

Subpopulasi sel T, yang terdiri atas:

  • a. Sel Tc (cytotoxic) Sel ini berfungsi menghancurkan sel penjamu yang memiliki antigen asing, misalnya sel tubuh yang dimasuki oleh virus kanker.

  • b. Sel Th (helper) Sel ini berfungsi menolong sel B dalam memproduksi antibody, memperkuat aktivitas sel T sitotoksik dan sel T penekan (supresor) yang sesuai dan mengaktifkan makrofag.

  • c. Sel Ts (supresor) Sel ini berfungsi untuk menekan produksi antibody sel B dan aktivasi sel T sitotoksik dan penolong. Sebagian besar dari milyaran sel T diperkirakan tergolong dalam subpopulasi penolong dan penekan, yang tidak secara langsung ikut serta dalam destruksi pathogen secara imunologik.

  • d. Sel Tdh (delayed hypersensitivity) Sel ini berperan dalam pengarahan makrofag dan sel inflamasi, lainnya ke tempat terjadinya reaksi hipersensitivitas tipe lambat. Dalam fungsinya, sel Tdh sebenarnya menyerupai sel Th.

3.3.2 Sel Imun Non Spesifik

Bereaksi tanpa memandang apakah agen pencetus pernah atau belum pernah dijumpai. Reaksinya pun tidak perlu diaktivasi terlebih dahulu seperti pada sistem imun spesifik. Sel-sel yang berperan adalah:

  • A. Sel fagosit Terbagi menjadi dua jenis yaitu fagosit mononuclear dan fagosit polimorfonuclear. Fagosit mononuclear terdiri atas sel monosit dan sel makrofag, sedangkan fagosit polimorfonuclear terdiri dari neutrophil dan eosinophil.

 Selama pematangan di timus, sel T mengenal antigen asing dalam kombinasi dengan antigen jaringan individu
  • Sel monosit dan sel makrofag Makrofag merupakan bagian non spesifik dari sistem imun yang memusnahkan dan merusak secara tidak selektif/berusaha merusak organism asing/debris. Monosit dianggap makrofag saat rel ini meninggalkan darah. Monosit menyempurnakan diferensiasinya dalam jaringan local dan diameternya lebih besar dari 22 nano meter. Makrofag membunuh agen infeksi melalui beberapa mekanisme seperti sekresi molekul yang sangat banyak, misalnya interferan (anti tetanus) atau lisozim (anti bakteri) dan membentuk radikal oksigen, asam nitrat, serta produk yang mengandung klorin. Makrofag hidup menetap dalam jaringan tertentu atau berjalan/bergerak ke seluruh tubuh untuk mencari pathogen. Makrofag berumur selama bulanan/tahunan.

  • Sel neutrophil Neutrophil berumur pendek (1-5 hari). Neutrophil mengalami diferensiasi hampir lengkap dalam sumsum tulang selama 14 hari. Jumlahnya sekitar 60%-70% dari semua sel darah putih (leukosit). Sel-sel yang dirusak oleh mikroba yang menyerang membebaskan sinyal kimiawi yang menarik neutrophil dari darah untuk datang. Neutrophil akan memasuki jaringan yang terinfeksi, lalu menelan dan merusak mikroba yang disana. Di dalam neutrophil terdapat enzim lisozim dan laktoferin untuk menghancurkan bakteri atau benda asing lainnya yang telah difagositosis. Setelah memfagositosis 5-20 bakteri neutrophil mati dengan melepaskan zat-zat limfozim yang mengaktifkan makrofag. Biasanya, neutrophil cenderung merusak diri sendiri ketika mereka merusak penyerangan asing.

  • Sel eusinofil ukuran sel ini lebih besar daripada neutrophil dan berfungsi sebagai fagosit juga. Eusinofil berjumlah 2-5% dari darah putih. Peningkatan eusinofil disirkulasi darah dikaitkan dengan keadaan alergi dan infeksi parasite internal. Eosinophil juga memiliki kecenderungan khusus berkumpul dalam jaringan yang memiliki reaksi alergi.

  • B. Sel nol Sel Natural Killer (NK) merupakan golongan limfosit tapi tidak mengandung petanda seperti pada permukaan sel B dan sel T. oleh karena itu disebut sel nol. Sel NK berperan

 Sel monosit dan sel makrofag Makrofag merupakan bagian non spesifik dari sistem imun yang memusnahkan

penting dalam respon imun alami dengan memediasi efek sitotoksis dalam sel target dan dengan melepas sitoksin. Sel NK mengenali dan membunuh sel tumor tertentu dan sel yang terinfeksi virus. Jumlah NK meningkat dengan meningkatnya usia, tetapi kapasitas toksisitasnya menurun.

  • C. Sel mediator Sel basophil secara structural dan fungsional mirip dengan sel mast yang tidak pernah beredar dalam darah tapi tersebar di jaringan ikat di seluruh tubuh. Sel basophil berasal dari sumsum tulang belakang sedangkan sel mast berasal dari sel precursor yang terletak di jaringan ikat. Sel mast ada dua yaitu sel mast jaringan dan sel mast mukosa.

3.4 Respon Sistem Imun terhadap Antigen

Secara umum, repon imun terdiri dari dua fase, yaitu:

  • 1. Fase pengenalan Fase ini diperankan oleh anti-presentation cell (APC), sel limfosit B dan sel limfosit T

  • 2. Fase efektor Pada fase ini diperankan oleh antibody dan limfosit efektor.

Aktivasi sel T pada respon imun selular oleh mikroba

penting dalam respon imun alami dengan memediasi efek sitotoksis dalam sel target dan dengan melepas sitoksin.
  • Antigen tergantung sel T (TD : T dependent antigen)

penting dalam respon imun alami dengan memediasi efek sitotoksis dalam sel target dan dengan melepas sitoksin.

Antigen akan mengaktifkan sel immunokompeten bila mendapat bantuan sel Th melalui zat yang dilepaskan sel Th aktif.

  • Antigen tidak perlu sel T (TI: T independent antigen) Menghasilkan antibody dengan langsung merangsang sel limfosit B.

  • Limfosit Th + produk MHC (Mayor Histocompability Complex) Kelas I dan II pada membrane makrofag: mengenal antigen dengan berikatan dengan TCR sehingga terjadi diferensiasi menjadi sel Th efektor, sel Tc efektor serta sel Th memori yang membuat pengaruh sitokin di jaringan perifer.

Aktivasi sel B pada respon imun (humoral)

Antigen akan mengaktifkan sel immunokompeten bila mendapat bantuan sel Th melalui zat yang dilepaskan sel Th
  • Antigen berdekatan dengan immunoglobulin permukaan sel B dengan bantuan sel Th (bagi antigen TD) yang kemudian mengaktivasi enzim dalam sel B sehingga terjadi transformasi blast, proliferasi dan diferensiasi menjadi sel plasma yang mensekresi antibody dan membentuk sel B memori.

  • Antigen TI langsung mengaktivasi sel B tanpa bantuan sel Th. Kemudian

  • Antibody yang disekresi dapat:

    • - Menetralkan antigen sehingga virulensinya hilang

    • - Berikatan dengan antigen sehingga mudah difagositosis oleh makrofag dalam proses opsonisasi

    • - Berikatan dengan antigen untuk mempermudah lisis oleh sel Tc.

  • Hasil akhir: eliminasi antigen dan pembentukan sel memori.

  • Antigen akan mengaktifkan sel immunokompeten bila mendapat bantuan sel Th melalui zat yang dilepaskan sel Th

    3.5

    Sejarah Immunology

    1) Louis Pasteur: proses fermentasi yang berhasil mengisolasi dan memurnikan (pasteurisasi) dan menemukan mikroorganisme dalam ulat sutera.

    2) Lady Mary Wortly (1700): menciptakan teknik inokulasi untuk penyakit cacar

    3)

    Edward Jenner (1796): inakulasi vaksinasi dengan nanah pok sapi

    4)

    Robert Koch (1882): mengisolasi kuman tuberculosis

    5)

    Emil von Behring, Paul Frlich,Shibastuan : serum kuda terhadap difteri (imunisasi pasif)

    6)

    Hans Buchher (1900): menemukan molekul yang kemudian oleh Jules Bordet diketahui

    7)

    sebagai aleksin dan komplemen Karl Landsteiner: menggambar golongan darah ABO manusia

    8)

    Charles Robert Richet (1990): menimunisasi anjingnya terhadap toksin dari tentekel sea

    9)

    anemone 1960 sekarang: immunologi berkembang

    • 3.6 Mekanisme Disfungsi Kekebalan Tubuh

    Sel B dan sel T harus mampu secara spesifik mengenali sel atau bahan lain yang tidak diinginkan untuk dihancurkan karena berbeda dari sel normal tubuh sendiri. Keberadaan antigen memungkinkan limfosit melakukan pembedaan tersebut. Ingat kembali bahwa antigen adalah molekul asing berukuran besar dan unik yang memicu respon imun spesifik dirinya sendiri, seperti pembentukan antibody yang menyebabkan penghancuran antigen, jika antigen tersebut masuk ke dalam tubuh (antigen berarti antibody generator, meskipun beberapa antigen memicu respons imunitas selular dan bukan pembentukan antibody). Secara umum semakin besar antigenitasnya. Protein asing adalah antigen yang paling umum karena ukuran dan kompleksitasnya meskipun makromolekul lain, seperti polisakarida berukuran besar (karbohidrat) dan lipid (lemak) juga fapat berfungsi sebagai antigen. Antigen dapat ada sebagai molekul sendiri misalnya toksin bakteri, atau merupakan bagian integral dari suatu struktur multimolekul, misalnya antigen di permukaan suatu mikroba asing.

    Salah

    satu

    contoh

    disfungsi

    kekebalan

    tubuh

    adalah

    adanya

    penyakit

    autoimun.

    Mekanisme dari penyakit autoimun itu sendiri memiliki dua teori, yaitu:

    3.5 Sejarah Immunology 1) Louis Pasteur : proses fermentasi yang berhasil mengisolasi dan memurnikan (pasteurisasi) dan
    • a. Autoimun disebabkan oleh kegagalan pada delesi DNA limfosit normal untuk mengenali antigen tubuh sendiri

    • b. Autoimun disebabkan oleh kegagalan regulasi normal sistem imunitas (yang mengandung beberapa sel imun yang mengenali antigen tubuh sendiri namun mengalami supresi).

    3.7 Hipersensitivitas

    Menurut Cell dan Coombs, reaksi hipersensitivitas dibagi menjadi 4 tipe, yaitu:

    • a. Tipe I Hipersensitivitas anafilaktif (cepat) Biasanya berupa reaksi alergi karena terpapar antigen spesifik yang dikenal sebagai allergen. Dan adanya sekresi IgE yang dihasilkan oleh sel plasma.

    • b. Tipe II Hipersensitivitas sitolitik Terjadi karena terbentuknya antibody jenis IgG atau IgM terhadap antigen yang merupakan bagian sel penjamu. Reaksi tipe II dapat menunjukkan berbagai manifestasi klinik, contohnya anemia hemolitik.

    • c. Tipe III Hipersensitivitas Komplek Imun Diperantarai oleh pengendapan kompleks antigen antibody C (imun) diikuti dengan aktivasi komplemen dan akumulasi leukosit polimorfonuklear. Kompleks imun dapat melibatkan antigen eksogen seperti bakteri dan virus, atau antigen endogen seperti DNA. Penyakit oleh kompleks imun:

      • - Lupus eritematosus

      • - Politerritishodosa

  • d. Tipe IV Reaksi hipersensitivitas terlambat yang timbul lebih dari 24 jam setelah tubuh berpajan dengan antigen. Reaksi terjadi karena sel T dengan reseptop spesifik pada permukaannya akan dirangsang oleh antigen yang sesuai dengan mengeluarkan zat limfokin. Limfosit yang tersangsang mengalami transformasi menjadi besar seperti limfoblas yang mampu merusak sel target yang mempunyai reseptor di permukaannya sehingga dapat terjadi kerusakan jaringan. Contohnya yaitu tuberculosis, lepra, virus.

  • a. Autoimun disebabkan oleh kegagalan pada delesi DNA limfosit normal untuk mengenali antigen tubuh sendiri b.

    3.8 Respon Imun

    • A. Sistem Kekebalan Humoral Antigen merangsang sel B berubah menjadi sel plasma yang memproduksi antibody secara aktif terhadap antigen kuman ataupun produk yang dihasilkan dapat menimbulkan resistensi karena:

      • - Menetralisasi toksin/hasil-hasil

      • - Memiliki efek bakterisidal langsung ataupun efek litik dengan komplemen

      • - Menahan kemampuan infektif kuman ataupun virus

      • - Mengaglutinasi kuman sehingga mudah difagositosis

      • - Mengkompromisasi kuman, yaitu menggabungkan dengan antigen permukaan yang biasanya menganggu fagositosis sehingga membantu mencerna kuman

  • B. Sistem Kekebalan Selular Bekerja pada sel yang terinfeksi antigen yang berperan adalah sel T terdiri dari T helper, T suppressor, T memory dan T sitosin. Fungsi dari macam-macam sel T yaitu:

    • 1. Sitotoksif/sel T killer (CD8+) Mengeluarkan limfotoksin yang menyebabkan lisis sel

    • 2. Sel T helper (CD4+) Pengelola, mengarahkan respon imun. Mengeluarkan limfokin yang merangsang sel T killer dan sel B untuk tumbuh dan membelah diri, memicu netrofil, memicu makrofag untuk menelan dan merusak mikroba.

    • 3. Sel T suppressor Menghambat produksi sel T killer jika tidak dibutuhkan lagi

    • 4. Sel T memory Mengenal dan merespon patogen

  • 3.8 Respon Imun A. Sistem Kekebalan Humoral Antigen merangsang sel B berubah menjadi sel plasma yang

    3.9 Mekanisme System Imun Saat Zat-Zat Asing Masuk

    Pada pintu masuk terdapat beberapa pertahanan, seperti:

    • a. Kulit

      • - Sekresi keringat dan sebasea mengandung pH asam dan zat kimia tertentu yang bersifat antimikroba

      • - Lisozim: enzim yang memecah dinding sel bakteri

  • b. Membrane mukosa Pada saluran pernapasan terdapat agen pelindung berupa:

    • - Mucus menutupi permukaan bersel silia

    • - Lisozim dan zat kimia lain yang memiliki sifat anti mikroba

    • - Fagosit di membrane mukosa

  • Pada salutan gastrointestinal memiliki perlindungan seperti:

    • - Saliva: enzim hidrolitik

    • - Keasaman lambung yang dapat membunuh banyak bakteri

    • - Usus halus: enzim proteolitik dan makrofag aktif

    Antibodi pun memiliki caranya tersendiri untuk mempertahankan tubuh dari mikroba penginvasi. Antibody dapat secara fisik menghalangi antigen, misalnya dengan netralisasi atau dengan

    • a. Aglutinasi dengan presipitasi. Yang lebih sering dijumpai, antibody memperkuat respon imun bawaan dengan

    • b. Mengaktifkan sistem komplemen

    • c. Meningkatkan fagositosis dengan bekerja sebagai opsonin dan

    • d. Merangsang sel natural killer

    3.9 Mekanisme System Imun Saat Zat-Zat Asing Masuk Pada pintu masuk terdapat beberapa pertahanan, seperti: a.

    BAB IV

    PENUTUP

    4.1

    Kesimpulan

    Sistem imunitas yang baik akan membuat tubuh kita sehat dan terhindar dari segala penyakit yang ada. Imunitas sudah kita dapatkan semenjak kita masih berada dalam kandungan, hingga kita tumbuh menjadi dewasa respon imun di dalam tubuh tetap menjaga kita. Respon imun sendiri terbagi menjadi sistem pertahanan dan kekebalan yang berguna untuk memerangi virus, bakteri, atau apapun zat-zat yang dapat membahayakan bagi tubuh karena dapat menyebabkan penyakit. Namun kesalahan dalam imunitas ini juga dapat menyebabkan penyakit seperti penyakit autoimun, imunodefisiensi dan hipersensitivitas.

    4.2

    Dalil

    4.1 Kesimpulan Sistem imunitas yang baik akan membuat tubuh kita sehat dan terhindar dari segala penyakit

    wawashshaynaa al-insaana biwaalidayhi hamalat-hu ummuhu wahnan 'alaa wahnin wafishaaluhu fii 'aamayni ani usykur lii waliwaalidayka ilayya almashiiru

    Artinya:

    “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S Al-Luqman ayat 14)

    Kajian:

    Susu ibu merupakan cairan ciptaan Allah yang tiada tandingannya untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi dan melindunginya terhadap infeksi. Keseimbangan zat-zat gizi dalam air susu

    BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Sistem imunitas yang baik akan membuat tubuh kita sehat dan terhindar

    ibu berada pada tingkat terbaik dan air susunya memiliki bentuk paling baik bagi tubuh bayi yang baru lahir. Pada saat yang sama, ASI juga sangat kaya akan nutrisi yang mempercepat pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan sistem saraf. Makanan bayi yang terbuat dengan teknologi tidak dapat menggantikan keajaiban cairan ciptaanNya ini.

    (Dikaji oleh Dani Fitriyani dengan judul “Keajaiban Air Susu Ibu? Nikmat dan Ajaib…” yang ditampilkan pada situs www.eramuslim.com pada tanggal 23 November 2013)

    ibu berada pada tingkat terbaik dan air susunya memiliki bentuk paling baik bagi tubuh bayi yangwww.eramuslim.com pada tanggal 23 November 2013) SKENARIO 1 BLOK 4 | Alergi Setiap Terpapar Debu 21 " id="pdf-obj-21-9" src="pdf-obj-21-9.jpg">

    DAFTAR PUSTAKA

    • 1. Abbas, Abdul K. 2004. Basic Immunology 2 nd Edition Hypersensitivity Disease. Saundery China.

    • 2. Fitriyani, Dani. 2013. “Keajaiban Air Susu Ibu? Nikmat dan Ajaib…”. Ditampilkan pada situs www.eramuslim.com pada tanggal 23 November 2013.

    • 3. Hasdianah H.R. 2012. Mikrobiologi. Yogyakarta: Nuha Medika.

    • 4. I. G. N. Ranuh, dkk. 2008. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.

    • 5. Karnen, Garna Baratawidjaja dan Rengganis Iris. 2009. Imunologi Dasar edisi VIII. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran UI.

    • 6. Molecular Biology of the Cell; 4 th Edition. New York and London: Garland Science.

    • 7. Purwaningsih, Endang. 2013. Disfungsi Telomer pada Penyakit Autoimun. Universitas Yarsi: Jurnal Kedokteran Yarsi 21 (1): 041-049 (2013).

    • 8. Sherwood, Lauralee. Fisiologi Manusia Edisi 8.

    • 9. Sudiono, Janti. 2014. Sistem Kekebalan Tubuh. Jakarta: EGC.

    10. Sutardi. 2016. Kandungan Bahan Aktif Tanaman Pegangan dan Khasiatnya untuk Meningkatkan Sistem Imun Tubuh.

    DAFTAR PUSTAKA 1. Abbas, Abdul K. 2004. Basic Immunology 2 Edition Hypersensitivity Disease . Saundery China.www.eramuslim.com pada tanggal 23 November 2013. 3. Hasdianah H.R. 2012. Mikrobiologi . Yogyakarta: Nuha Medika. 4. I. G. N. Ranuh, dkk. 2008 . Pedoman Imunisasi di Indonesia . Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia. 5. Karnen, Garna Baratawidjaja dan Rengganis Iris. 2009. Imunologi Dasar edisi VIII . Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran UI. 6. Molecular Biology of the Cell; 4 Edition. New York and London: Garland Science. 7. Purwaningsih, Endang. 2013. Disfungsi Telomer pada Penyakit Autoimun. Universitas Yarsi: Jurnal Kedokteran Yarsi 21 (1): 041-049 (2013). 8. Sherwood, Lauralee . Fisiologi Manusia Edisi 8. 9. Sudiono, Janti. 2014. Sistem Kekebalan Tubuh . Jakarta: EGC. 10. Sutardi. 2016. Kandungan Bahan Aktif Tanaman Pegangan dan Khasiatnya untuk Meningkatkan Sistem Imun Tubuh. SKENARIO 1 BLOK 4 | Alergi Setiap Terpapar Debu 22 " id="pdf-obj-22-46" src="pdf-obj-22-46.jpg">