You are on page 1of 21

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam pembelajaran matematika sebenarnya telah banyak upaya yang
dilakukan oleh guru kelas untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Namun
usaha itu belum menunjukan hasil yang optimal. Rentang nilai siswa yang
pandai dengan siswa yang kurang pandai terlalu mencolok. Untuk itu perlu
diupayakan pula agar rentang nilai antar siswa tersebut tidak terlalu jauh yaitu
dengan memanfaatkan siswa yang pandai untuk menularkan kemampuannya
pada siswa lain yang kemampuannya lebih rendah. Tentu saja guru yang
menjadi perancang model pembelajaran harus mengubah bentuk
pembelajaran yang lain.
Pembelajaran tersebut adalah pembelajaran tutor sebaya. Sisi lain
yang menjadikan matematika dianggap siswa pelajaran yang sulit adalah
bahasa yang digunakan oleh guru. Dalam hal tertentu siswa lebih paham
dengan bahasa teman sebayanya daripada bahasa guru.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka rumusan
permasalahannya adalah:
1. Apa saja prosedur penyelenggaraan tutor sebaya?
2. Apa pentingnya kalkulator sebagai alat pembelajaran matematika?
3. Apa saja kegiatan matematika yang menggunakan kalkulator?
4. Apa kegunaan computer dalam pembelajaran matematika?
5. Apa saja contoh pembelajaran matematika dengan computer?
C. Tujuan Pnulisan
1. Mengetahui apa saja prosedur penyelenggaraan tutor sebaya
2. Mengetahui apa pentingnya kalkulator sebagai alat pembelajaran
matematika
3. Mengetahui apa saja kegiatan matematika yang menggunakan kalkulator
4. Mengetahui
5. apa kegunaan computer dalam pembelajaran matematikaMengetahui apa
saja contoh pembelajaran matematika dengan computer

1
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Metode Tutor Sebaya
1. Pengajaran Teman Sebaya sebagai Sumber Belajar
Sekolah memiliki banyak potensi yang dapat ditingkatkan efektivitasnya
untuk menunjang keberhasilan suatu program pengajaran. Potensi yang ada
di sekolah yaitu sumber sumber daya yang memengaruhi hasil dari proses
mengajar. Keberhasilan suatu program disebabkan oleh perpaduan antara
sumber sumber daya yang saling mendukung menjadi satu sistem yang
integral.
Dalam arti luas sumber belajar tidak harus guru dan bisa berasal dari
orang yang lebih pandai yang disebut tutor. Adapun 2 macam tutor yaitu
a. Tutor Sebaya adalah teman sebaya yang lebih pandai
b. Tutor kakak adalah tutor dari kelas yang lebih tinggi
2. Pengertian Metode Tutor Sebaya
Menurut Wihardit dalam Aria Djalil (1997:3.38) menuliskan bahwa
pengertian tutor sebaya adalah seorang siswa pandai yang membantu belajar
siswa lainnya dalam tingkat kelas yang sama. Sisi lain yang menjadikan
matematika dianggap siswa pelajaran yang sulit adalah bahasa yang
digunakan oleh guru. Dalam hal tertentu siswa lebih paham dengan bahasa
teman sebayanya daripada bahasa guru. Itulah sebabnya pembelajaran tutor
sebaya diterapkan dalam proses pembelajaran matematika.
Hisyam Zaini dalam Amin Suyitno (2004:24) menyatakan bahwa
"Metode belajar yang paling baik adalah dengan mengajarkan kepada orang
lain. Oleh karena itu, pemilihan model pembelajaran tutor sebaya sebagai
strategi pembelajaran akan sangat membantu siswa di dalam mengajarkan
materi kepada teman-temannya."
Arikunto (1986:77) bahwa tutor sebaya adalah seseorang atau
beberapa orang siswa yang ditunjuk oleh guru sebagai pembantu guru dalam
melakukan bimbingan terhadap kawan sekelas. Untuk menentukan seorang
tutor ada beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh seorang siswa yaitu

3
siswa yang dipilih nilai prestasi belajar matematikanya lebih tinggi, dapat
memberikan bimbingan dan penjelasan kepada siswa yang mengalami
kesulitan dalam belajar dan memiliki kesabaran serta kemampuan
memotivasi siswa dalam belajar.
Ischak dan Warji (1987, h. 44) mengemukakan bahwa: “Tutor sebaya
adalah sekelompok siswa yang telah tuntas terhadap bahan pelajaran
membeikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam
memahami bahan pelajaran yang dipahaminya”.Edward L.Dejnozken Daven
E Kopel dalam American Education Engcyclopedia menyebutkan " tutor
sebaya adalah sebuah prosedur siswa mengajar siswa lainya " Tipe satu
pengajar dan pembelajar dari usia yang sama. Tipe dua pengajar yang lebih
tua usianya dari pembelajar. Tipe lain adalah pertukaran usia pengajar :
Nurita Putranti (2007:02) mengemukakan "tutor sebaya adalah siswa di
kelas tertentu yang memiliki kemampuan di atas rata-rata anggotanya yang
memiliki tugas untuk membantu kesulitan anggota dalam memahami materi
belajar.
Menurut (Moh. Surya, 1985:213). Tutor sebaya adalah seorang atau
beberapa orang murid yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu
murid-murid tertentu yang mengalami kesulitan belajar. Bantuan yang
diberikan oleh teman sebaya pada umumnya dapat menghasilkan hasil yang
lebih baik. Hubungan antar murid terasa lebih dekat dibandingkan hubungan
antar murid dengan guru. Untuk mencapai hasil yang optimal, dianjurkan
agar pendidik membiasakan diri menggunakan komunikasi banyak arah atau
komunikasi sebagai transaksi, yakni komunikasi yang tidak hanya
melibatkan interaksi dinamis antara siswa yang satu dengan yang lain
(M.Subry Sutikno, 2007) dalam Wijaya Kusuma (2010:96).
Mengingat bahwa siswa adalah unsur pokok dalam pengajaran maka
siswalah yang harus menerima dan mencapai berbagai informasi pengajaran
yang pada akhirnya dapat mengubah tingkah lakunya sesuai dengan yang
diharapkan. Untuk itu, maka siswa harus di jadikan sebagai sumber
pengajaran (Sudirman, dkk. 1987, h. 210)

4
Tutor sebaya adalah sumber belajar selain guru, yaitu teman sebaya
yang lebih pandai memberikan bantuan belajar kepada teman-teman
sekelasnya di sekolah. Bantuan belajar oleh teman sebaya dapat
menghilangkan kecanggungan. Bahasa teman sebaya lebih mudah di
pahami. Dengan teman sebaya tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu, dan
sebagainya untuk bertanya taupun minta bantuan.
Tugas sebagai tutor merupakan kegiatan yang kaya akan pengalaman
yang justru sebenarnya merupakan kebutuhan anak itu sendiri. Dalam
persiapan ini antara lain mereka berusaha mendapatkan hubungan dan
pergaulan baru yang mantap teman sebaya, mencari perannya sendiri,
mengembangkan kecakapan intelektual dan konsep-konsep yang penting,
mendapatkan tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial
(Dinkrneyer, 1985, h. 164-165). Dengan demikian beban yang diberikan
kepada mereka akan memberi kesempatan untuk mendapatkan perannya,
bergaul dengan orang-orang lain, dan bahkan mendapatkan pengetahuan dan
pengalaman.
3. Tujuan Metode Tutor Sebaya
Dasar pemikiran tentang tutor sebaya adalah siswa yang pandai dapat
memberikan bantuan kepada siswa yang kurang pandai. Bantuan tersebut
dapat dilakukan kepada teman sekelasnya di sekolah dan / atau kepada
teman sekelasnya di luar kelas. Jika bantuan diberikan kepada teman
sekelasnya di sekolah, maka :
a. Beberapa siswa yang pandai disuruh mempelajari suatu topik
b. Guru memberi penjelasan umum tentang topik yang akan dibahasnya
c. Kelas dibagi dalam kelompok dan siswa yang pandai disebar ke setiap
kelompok untuk memberikan bantuannya.
d. Guru membimbing siswa yang perlu mendapat bimbingan khusus
e. Jika ada masalah yang tidak terpecahkan, siswa yang pandai meminta
bantuan kepada guru
f. Guru mengadakan evaluasi.
Jika bantuan diberikan kepada teman sekelasnya di luar kelas, maka:

5
a. Guru menunjukkan siswa yang pandai untuk memimpin kelompok
belajar di luar kelas
b. Tiap siswa disuruh bergabung dengan siswa yang pandai itu, seusai
dengan minat, jenis kelamin, jarak tempat tinggal, dan pemerataan
jumlah anggota kelompok
c. Guru memberi tugas yang harus dikerjakan para siswa di rumah
d. Pada waktu yang telah ditentukan hasil kerja kelompok dibahas di kelas
e. Kelompok yang berhasil baik diberi penghargaan
f. Sewaktu-waktu guru berkunjung ke tempat sisa berdiskusi
g. Tempat diskusi dapat berpindah-pindah (bergilir).
Tujuan penggunaan metode dengan tutor sebaya adalah sebagai berikut:
a. Dapat mengatasi keterbatasan media atau alat pembelajaran.
b. Dengan adanya kelompok guru bertugas sebagai fasilitator karena
kesulitan yang dihadapi kelompok/siswa dapat diatasi melalui tutor sebaya
yang ditunjuk guru karena kepandaiannya.
c. Dengan kerja kelompok anak yang kesulitan dapat dibantu dengan tutor
sebaya tanpa perasaan takut atau malu.
d. Dapat meningkatkan partisipasi dan kerjasama siswa serta belajar
bertanggung jawab.
e. Dengan belajar kelompok tutor sebaya melatih siswa untuk belajar
bersosialisasi.
f. Menghargai orang lain.
Jadi tujuan dari metode tutor sebaya adalah siswa dapat
mempersiapkan pengetahuannya terhadap suatu topik dengan membaca dan
mendengarkan dari sumber-sumber yang relevan, mencatat hal-hal yang
penting dalam satu topik, kemudian menganalisanya secara lebih dalam.
Sehingga dengan demikian peserta didik akan memiliki kemampuan untuk
menyajikan atau mempresentasikan materi yang telah dikuasainya kepada
peserta didik yang lain layaknya seorang guru.

6
4. Prinsip-Prinsip Metode Tutor Sebaya
(Mulyani Sumantri, 2001: 101-102) Secara umum prinsip-prinsip
yang harus diperhatikan dalam metode tutor sebaya yang diturunkan dari
prinsip belajar adalah:

a. Hal apapun yang dipelajari oleh murid, maka ia harus mempelajarinya


sendiri tidak ada seorangpun yang dapat melakukan kegiatan belajar
tersebut untuknya.
b. Setiap murid belajar menurut tempo (kecepatan sendiri dan setiap
kelompok umur terdapat variasi dalam kecepatan belajar).
c. Seorang murid belajar lebih banyak bilamana setiap langkah
memungkinkan belajar secara keseluruhan lebih berarti.
d. Apabila murid diberikan tanggungjawab untuk mempelajari sendiri,
maka ia lebih termotivasi untuk belajar, ia akan belajar dan mengingat
secara lebih baik.
Menurut (Abu Ahmadi & Widodo Supriyono, 2004 : 213-216)
Psikologi) metode tutor sebaya pada dasarnya menuntut adanya partisipasi
aktif dari peserta didik dalam proses pembelajaran yang dilakukan. Ada
beberapa prinsip belajar dalam metode tutor sebaya yang dapat menunjang
tumbuhnya cara siswa belajar aktif dalam proses pembelajaran yang
dilakukan, yaitu:
a. Stimulasi belajar
Pesan yang diterima siswa dari guru melalui informasi biasanya
dalam bentuk stimulus. Stimulus tersebut dapat berbentuk verbal/bahasa,
visual, auditif, taktik, dan lain-lain. Ada dua cara yang mungkin membantu
para siswa agar pesan tersebut mudah diterima. Cara pertama perlu adanya
pengulangan sehingga membantu siswa dalam memperkuat
pemahamannya. Cara kedua adalah siswa menyebutkan kembali pesan
yang disampaikan guru kepada siswa.
b. Perhatian dan motivasi
Perhatian dan motivasi merupakan prasyarat utama dalam proses
belajar mengajar. Ada beberapa cara untuk menumbuhkan perhatian dan
motivasi, antara lain melalui cara mengajar yang bervariasi, mengadakan

7
pengulangan informasi, memberikan stimulus baru, misalnya melalui
pertanyaan-pertanyaan kepada siswa memberikan kesempatan kepada
siswa untuk menyalurkan keinginan belajarnya, menggunakan media dan
alat bantu yang menarik perhatian siswa, seperti gambar, foto, diagram,
dan lain- lain. Sedangkan motivasi belajar bisa tumbuh dari dua hal, yakni
tumbuh dari dalam dirinya sendiri dan tumbuh dari luar dirinya.
c. Respons yang dipelajari
Keterlibatan atau respons siswa terhadap stimulus guru bisa
meliputi berbagai bentuk seperti perhatian, proses internal terhadap
informasi, tindakan nyata dalam bentuk partisipasi kegiatan belajar seperti
memecahkan masalah, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru,
menilai kemampuan dirinya dalam menguasai informasi, melatih diri
dalam menguasai informasi yang diberikan dan lain-lain.
d. Penguatan
Sumber penguat belajar untuk pemuasan kebutuhan berasal dari
luar dan dari dalam dirinya. Penguat belajar yang berasal dari luar diri
seperti nilai, pengakuan prestasi siswa, persetujuan pendapat siswa,
ganjaran, hadiah dan lain-lain, merupakan cara untuk memperkuat respons
siswa. Sedangkan penguat dari dalam dirinya bisa terjadi apabila respons
yang dilakukan siswa betul-betul memuaskan dirinya dan sesuai dengan
kebutuhannya.
e. Pemakaian dan pemindahan
Belajar dengan memperluas pembentukan asosiasi dapat
meningkatkan kemampuan siswa untuk memindahkan apa yang sudah
dipelajari pada situasi lain yang serupa di masa mendatang. Asosiasi dapat
dibentuk melalui pemberian bahan yang bermakna, berorientasi kepada
pengetahuan yang telah dimiliki siswa, memberi contoh yang jelas,
pemberi latihan yang teratur, pemecahan masalah yang serupa, melakukan
dalam situasi yang menyenangkan
Menurut (Subandijah, 2002 :. 123-128) Kemudian prinsip belajar
peserta didik aktif sebagai bentuk dari metode tutor sebaya yang dikemukakan
oleh Subandijah terdiri dari Prinsip stimulus belajar, perhatian dan motivasi,
respon yang dipelajari, pergulatan (reinforcement), pemakaian kembali,

8
prinsip latar belakang, prinsip keterpaduan, prinsip pemecahan masalah,
prinsip penemuan, prinsip belajar sambil bekerja, prinsip belajar sambil
bermain, prinsip hubungan sosial, prinsip perbedaan individu.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Prinsip-prinsip diatas
amatlah penting, karena didalamnya terdapat interaksi antara anak didik dan
pendidik. Pada prinsip mengaktifkan peserta didik guru bersikap demokratis,
guru memahami dan menghargai karakter peserta didiknya, guru memahami
perbedaan-perbedaan antara mereka, baik dalam hal minat, bakat, kecerdasan,
sikap, maupun kebiasaan. Sehingga dapat menyesuaikan dalam memberikan
pelajaran sesuai dengan kemampuan peserta didiknya.
5. Prosedur Penyelenggaraan Tutor Sebaya
Menurut Branley (1974: 53) ada tiga model dasar dalam
menyelenggarakan proses belajar dengan tutor, yaitu:
a. Student to student
b. Group to Tutor
c. Student to student
Dalam menyelenggarakan proses belajar dengan tutor, maka
sebaiknya dilakukan dengan membentuk kelompok kecil terdiri dari (4-5
orang) agar berjalan lebih efektif dan fokus pada masing-masing anggota.
Model dasar penyelenggaraan tutor sebaya dengan student to
student adalah siswa yang berperan sebagai tutor. Dengan satu tutor
memberi pemahaman terhadap temannya yang memerlukanmbimbingan
secara bergantian satu persatu. Sedangkan group to tutor satu tutor
memberikan bimbingan pelajaran kepada kelompok kecil teman-teman
sekelasnya yang memerlukan bantuan belajar.
Menurut (Sinambela 2014 : 35) Penerapan metode Tutor Sebaya
pada kegiatan belajar mengajar dapat berjalan secara efektif serta efisien,
apabila seorang guru memperhatikan serta melaksanakan beberap
penyelenggaraan Tutor Sebaya. Adapun langkah-langkah tersebut adalah:
a. Menentukan yang akan dijadikan sebagai tutor
Dalam menentukan siapa yang akan dijadikan tutor diperlukan

9
pertimbangan-pertimbangan sendiri. Seorang tutor yang dipilih harus
memiliki kriteria-kriteria sebagai berikut:
1) Memiliki kepandaian lebih unggul daripada siswa lain.
2) Memiliki kecakapan dalam menerima pelajaran yang disampaikan
oleh guru
3) Mempunyai kesadaran untuk membantu teman lain.
4) Mampu menjalin kerja sama dengan sesama siswa.
5) Memiliki motivasi tinggi untuk menjadikan kelompok tutornya
sebagai yang terbaik.
6) Dapat diterima dan disenangi siswa yang mendapat program Tutor
Sebaya, sehingga siswa tidak mempunyai rasa takut atau enggan untuk
bertanya kepadanya dan rajin.
7) Tidak tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap sesama kawan.
8) Mempunyai daya kreatifitas yang cukup untuk memberikan
bimbingan yaitu dapat menerangkan pelajaran kepada kawannya.
b. Menyiapkan tutor
Menurut Suparno ada beberapa cara yang perlu diperhatikan dalam
menyiapkan seorang tutor agar tutor dapat bekerja dengan optimal. Cara-
cara tersebut yaitu:
1) Guru memberikan petunjuk pada tutor bagaimana mendekati temannya
dalam hal memahami materi.
2) Guru menyampaikan pesan kepada tutor-tutor agar tidak selalu
membimbing teman yang sama (merata).
3) Guru membantu agar semua siswa dapat menjadi tutor sehingga
mereka merasa dapat membantu teman belajar.
4) Tutor sebaiknya bekerja dalam kelompok kecil. Campuran siswa
berbagai kemampuan (heterogen) akan lebih baik.
5) Guru memonitoring terus kapan tutor maupun siswa lain
membutuhkan pertolongan.
6) Guru memonitoring Tutor Sebaya dengan berkunjung dan menanyakan
kesulitan yangdihadapi setiap kelompok pada saat mereka diskusi di

10
kelas maupun praktikum.
7) Tutor tidak mengetes temannya untuk grade, biarkan hal ini dilakukan
guru.
c. Membagi kelompok
Dalam metode Tutor Sebaya, seorang guru bertindak sebagai
pengawas dan pengatur jalannya program ini. Sebelum memulai
menerapkan metode Tutor Sebaya, seorang guru harus membagi peserta
menjadi kelompok-kelompok kecil. Mengenai berapa banyaknya anggota
setiap kelompok tidak ada ketentuan yang mutlak harus ditaati sebagai
pedoman. Kelompok kecil sebaiknya dengan anggota 4-5 orang, dengan
dasar pemikiran bahwa makin banyak anggota kelompoknya, keefektifan
belajar tiap anggota berkurang. Sebaliknya jika terlalu sedikit 2 atau 3
orang, kurang dapat membentuk iklim kelompok yang baik.
Kelompok-kelompok dalam program Tutor Sebaya ini dapat
dibentuk atas dasar minat dan latar belakang, pengalaman atau prestasi
belajar. Kehangatan atau iklim kelompok yang baik dapat terbentuk
berdasarkan adanya rasa persaudaraan antar anggota.
Menurut Hamalik (Nurhayati, 2008) tahap-tahap
kegiatanpebelajaran di kelas dengan menggunakan pendekatan tutor
sebaya adalah sebagai berikut:
a. Tahap Persiapan
Meliputi persiapan siswa :
1) Memilih siswa pandai yang akan dijadikan tutor sebaya
2) Membentuk kelompok heterogen yang terdiri dari 4 orang tiap
kelompok dan salah seorang tutor yang ditunjuk
3) Tutor diberi pemahaman penguasaan materi agar mereka percaya
diri.
b. Tahap Pelaksanaan
1) Guru memberikan arahan tentang aturan pembelajaran tutor
sebaya.
2) Guru menyediakan materi.

11
3) Guru memberikan tugas untuk dikerjakan secara kelompok.
4) Tutor memandu diskusi kelompok membimbing dan memberitahu
siswa sebayanya yang mengalami kesulitan dalam belajar.
5) Seorang wakil kelompok mempresentasikan hasil diskusi
kelompoknya
6) Mengacu pada hasil diskusi siswa, guru bersama siswa
menyimpulkan materi yang dipelajari.
7) Siswa mengerjakan soal
8) Guru dan siswa membahas soal latihan dan sekaligus memberi
nilai.
Menurut (Istrani, 2012 : 150) Adapun langkah-langkah penggunaan
metode tutor sebaya adalah sebagai berikut
a. Guru memberikan bahan ajar kepada siswa.
b. Siswa diminta untuk mempelajari bahan ajar tersebut.
c. Guru menentukan siswa si A membimbing siswa si B atau satu orang
siswa boleh membimbing beberapa orang siswa.
d. Bila ada yang tidak tahu, maka tutor sebaya bertanya pada guru
kemudian dilanjutkan pada siswa yang dibimbingnya.
e. Pengambilan kesimpulan.
f. Evaluasi.
5. Kelebihan dan Kelemahan Metode Tutor Sebaya
Kelebihan
Menurut (Istrani, 2012 : 150) adapun kelebihan metode ini adalah. :
a. Anak-anak diajarkan untuk mandiri, dewasa dan punya rasa setia kawan
yang tinggi
b. Siswa lebih mudah dan leluasa dalam menyampaikan masalah yang di
hadapi sehingga siswa yang bersangkutan terpacu semangatnya untuk
mempelajari materi ajar dengan baik
c. Membuat siswa yang kurang aktif menjadi aktif karena tidak malu lagi
untuk bertanya dan mengeluarkan pendapat secara bebas
d. Membantu siswa yang kurang mampu atau kurang cepat menerima

12
pelajaran dari gurunya
e. Tutor maupun yang ditutori sama-sama diuntungkan
f. Siswa termotivasi untuk menjadi tutor sebaya
g. Dapat mempermudah guru, karena dibantu oleh siswa yang memiliki
kemampuan
h. Siswa dapat berlatih layaknya seorang guru
i. Siswa tidak segan untuk bertanya
j. Proses pembelajaran lebih akrab
Adapun kelemahannya yaitu:
a. Murid yang menjadi tutor hendaknya diperhatikan segi kemampuandalam
penguasaan materi dan kemampuan membantu orang lain.
b. Tidak semua siswa dapat menjelaskan kepada temannya
c. Tidak semua siswa dapat menjawab pertanyaan temannya.
d. Tutor tidaklah sama dengan guru dalam menjelaskan materi yang
diajarkan, sehingga ada kalanya siswa sulit menerima
e. Kemampuan tutor sebaya terbatas, sehingga sulit untuk mengembangkan
materi yang diajarkan.
f. Tutor sebaya kadang-kadang terlalu bangga dengan tugas yang diberikan
oleh gurunya sehingga ia meremehkan temannya.
B. Pemberdayaan Teknologi dalam Pembelajaran Matematika
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat mempengaruhi
segi kehidupan manusia. Seperti halnya komputer dan kalkulator, kedua
jenis produk teknologi ini sangat membantu memperingan tugas manusia
dalam mengkakulasi dan menyelesaikan pekerjaan yang bersifat
administrasi.
Demikian halnya dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan
matematika, kalkulator dan komputer membawa dampak bagaimana
matematika harus diajarkan guru dan dipelajari siswa. melalui berbagai
penelitian didapatkan bahwa guru matematika perlu mengkaji potensi
pemanfaatan teknologi melalui kegiatan matematika dan dalam
mengkomunikasikan ide ide matematika.

13
Banyaknya penelitian yang menunjukkan bahwa pemberdayaan
teknologi dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran. Penelitian ekstensif dan komprehensif dilakukan oleh
Hambree dan Dessart pada tahun 1986. Mereka menyimpulkan bahwa
a. Kalkulator harus digunakan dalam setiap pembelajaran matematika
b. Komputer sangat bermanfaat dalam meningkatkan keterampilan
memecahkan masalah terutama bagi siswa yang memiliki kemampuan
rendah dan tinggi
c. Membuat siswa senang belajar matematika
NCTM mengemukakan bahwa strategi pembelajaran matematika
harus ditekankan pada pengembangan konsep dari pada keterampilan. Jika
komputer dan kalkulator digunakan dengan tepat dan efisien siswa dapat
meningkatkan pemahaman dan dapat memiliki kemampuan matematika
yang kuat.
1. Kalkulator sebagai Alat Pembelajaran Matematika
Meskipun pada era sekarang ini kalkulator relatif mudah diperoleh,
tapi banyak orang tua dan sebagian guru khawatir dengan penggunaan
kalkulator di sekolah akan menjadikan para siswa sangat tergantung pada
kalkulator, sehingga akan membuat mereka lemah dalam berhitung.
Namun hasil penelitian menunjukkan bahwa kekhawatiran itu bukanlah
suatu kasus guru harus bukan saja mengefektifkan penggunaan kalkulator
tapi juga harus meyakinkan akan manfaatnya.
Sebaiknya siswa dapat mengunakan kalkulator kapan saja ketika
mereka memerlukannya karena kalkulator dapat melakukan perhitungan
dengan cepat tepat dan akurat. Sifat positif inilah yang harus dimanfaatkan
dan dipadukan dengan tujuan pembelajaran. Beberapa manfaat yang dapat
dieksporasi dari penggunaan kalkulator dalam waktu pembelajaran
matematika di antaranya adalah:
a. Membantu siswa dalam memahami konsep matematika
Melalui eksperimen menggunakan kalkulator, siswa dapat
melihat berbagai hubungan antar bilangan dan mengamati hasil

14
eksekusi kalkulator berupa bilangan ataupun grafik.
Dalam pembelajaran konvensional guru dapat secara langsung
menggunakan kalkulator untuk membantu memahami keterkaitan
bahasa matematika, simbol dan representasi konsep.
b. Membantu memperkuat keterampilan kumputasi
Manfaat lain dari kalkulator adalah meningkatkan keterampilan
siswam dalam kumputasi seperti kertas-dan-pensil (algoritma tertulis),
keterampilanmengestimasi, dan keterampilan mental komputasi
(mencongak)
Contoh:
Baca dan masukan
Dengan digit yang tepat tekan
Empat ratus empat +
Empat ribu empat puluh +
Empat ribu empat ratus =
Cek hasil 8844
Melalui soal seperti ini siswa dapat membaca dan
menerjemahkan nama bilangan ke dalam lambangnya dan dapat
mengkoreksi pekerjaan melalui pengecekan hasil
c. Mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi
Dengan Kalkulator siswa dapat mengeksplorasi pola dan
membuat kondektur. Untuk menggeneralisasi siswa dapat mengamati
dan mengkaji dari banyak kasus yang ditampilkan kalkulator. Selain
itu kalkulator dapat bertindak sebagai mitra guru yang dapat menjadi
sumber sumber pertanyaan intrinsik sekaligus sumber informasi dalam
belajar. Dengan demikian diharapkan siswa dapat menangkap berbagai
latar belakang dan kerangka acuan berpikir eksploratif melalui
tampilan pada layar kalkulator.
Contoh:
Tuliskan dalam satu kolom bilangan kelipatan 3 mulai dari 3
sampai dengan 99. Gunakan kalkulator untuk mengkalikan setiap

15
bilangan tersebut dengan 37. Apakah kamu menemukan suatu pola
tertentu ? coba ceritakan !
37 x 3 =....
37 x 6 = ....
37 x 9 = ....
37 x 12 = ....
37 x 15 = ....
dst.
Siswa harus diarahkan guru dalam mengeksplorasi dan
terorganisasi dengan baik. Guru harus mangkap cara berpikir yang
dikemukakan siswa dalam menemukan pola atau menggeneralisasi.
d. Meningkatkan Keterampilan pemecahan masalah
Kalkulator dapat digunakan dalam mengatasi hambatan
komputasional, sehingga dalam menyelesaikan soal soal pemecahan
masalah memungkinkan siswa berkonsentrasi penuh dalam
pemahaman kontekstual soal dan prosedur memecahkannya secara
bebas tanpa rasa putus asa yang diakibatkan oleh kesulitan komputasi.
Contoh:
Problem bilangan terbesar,
Bilangan paling besar yang dapat diperoleh dengan menekan masing
masing sekali tombol tombol kalkulator berikut
1 2 3 4 5 6 = x
Apakah 6321 × 54 = ?
Atau 654 × 321 = ?
Atau yang mana ?
Salah satu cara untuk menjawab pertanyaan ini adalah mengecek
semua kemungkinan dari kombinasi bilang yang terjadi.
Keterampilan pemecahan masalah akan tertanam pada saat siswa
mencoba melakukan pengetesan dari semua kombinasi bilang yang
mungkin sehingga diperoleh bilangan terbesar.

16
e. Membuat pemecahan masalah matematika lebih realistik
Guru atau penulis buku biasanya menampilkan soal soal
perhitungan sederhana mungkin yang tidak realistik. Dalam kehidupan
sehari-hari sering kali dijumpai bilangan bilangan yang tidak simpel.
Tetap dengan bantuan kalkulator guru dapat memberikan persoalan
dari situasi yang lebuh nyata/ realistik dan perlu ragu dengan
kelemahan komputasional. Misalnya dalam soal gerak beraturan dapat
mengunakan bilangan pecahan atau jawabannya yang bukan bilngan
bulat.
2. Kegiatan Matematika dengan Kalkulator
Keuntungan utama dari kalkulator yang harus dimanfaatkan dalam
pembelajaran matematika adalah memproses data dengan cepat dan akurat.
Oleh karena itu kalkulator harus dilibatkan dalam pembelajaran matematika
dan mengkondisikan siswa melakukan eksplorasi, pengamatan, pengkajian
dan membuat konjektur tanpa keraguan kemampuannya dalam
mengkakulas. Diharapkan kegiatan matematika dengan Kalkulator ini akan
mempertajam kemampuan berpikir dan keterampilan menganalisis.
Kegiatan awal seperti pengumpulan informasi atau memperkirakan
data dengan baik akan membuat suatu permasalahan lebih realistik dan
dapat dihayati siswa daripada memberikan teknik menyelesaikan
permasalahan secara langsung. Banyak jenis permasalahan yang dapat
dikreasi guru untuk mendorong siswa menulis dan menjawab permasalahan
tersebut dengan Kalkulator.
Contoh:
Hasil kali aneh
Carilah hasil kali dari bilangan bilangan berikut
a. 68 × 43 =
86 × 34 =
b. 63 × 24 =
36 × 42 =
c. 93 × 13 =

17
39 × 31 =
Apakah hasil kali pada setiap pasang sama ?
Bagaimana faktor pada setiap pasang bilangan itu ?
Berikan contoh 6 pasang bilangan lainnya ?
3. Komputer dalam Pembelajaran Matematika
Semenjak ditemukan ENIAC pada tahun 1946 di Amerika,
perkembangan komputer sangat pesat. Begitu hebatnya perkembangan
produk teknologi ini sehingga diperoleh ukuran komputer yang semakin
kecil namun kapasitas dan kemampuannya semakin tinggi dan canggih.
Dalam dunia pendidikan, komputer memiliki potensi yang besar
untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya dalam
pembelajaran matematika. Banyak hal abstrak yang sulit dipikirkan siswa
dapat diprensentasikan melalui stimulus komputer. Hal ini tentu saja lebih
menyederhanakan jalan pikiran siswa dalam memahami matematika.
Dengan demikian pengembangan proses pembelajaran matematika dapat
dilakukan guru dengan memperdayakan komputer.
Misalnya untuk tingkat SD dan SLTP dapat digunakan bahasa
sederhana Logo. Kegiatan siswa melalui Logo dapat memberi pengalaman
dan mengkontruksi bangun bangun geometri, melatih kemampuan tilikan
ruang, dan melatih keterampilan memecahkan masalah. Dengan
mengunakan perintah perintah sederhana siswa mengkonstruksi bangun-
bangun geometri dan mengkaji sifat-sifatnya melalui tampilan gambar
pada layar komputer.
Contoh
Program untuk menggambar sebuah garis
(Enter) RT 90 F 80
4. Contoh Pembelajaran Matematika dengan Komputer
Komputer memberikan kesempatan siswa lebih luas dalam
menginvestiasi matematika daripada kalkulator. Hal ini sebabkan karena
kemampuan memori komputer yang jauh lebih besar serta kemampuan
menampilkan gambar dalam monitor yang lebih sempurna.

18
Contoh
Mengamati grafik suatu persamaan
Melalui komputer siswa dapat mengamati dan menginvestigasi sifat-
sifat grafik dari suatu persamaan. Misalnya dengan hanya mengubah
parameter pada persamaan siswa dapat memahami semua tipe dari kurva-
kurva. Misalnya selidiki apakah grafik dari 𝑦 = 𝑥 2 , 𝑦 = 𝑥 2 − 2, 𝑑𝑎𝑛 𝑦 =
(𝑥 − 2)2 apakah dapat kamu simpulkan dari grafik persamaan persamaan
tersebut ?

19
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Tutor sebaya adalah sumber belajar selain guru, yaitu teman sebaya
yang lebih pandai memberikan bantuan belajar kepada teman-teman
sekelasnya di sekolah. Bantuan belajar oleh teman sebaya dapat
menghilangkan kecanggungan. Bahasa teman sebaya lebih mudah di pahami.
Dengan teman sebaya tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu, dan
sebagainya untuk bertanya taupun minta bantuan.
Menurut Branley (1974: 53) ada tiga model dasar dalam
menyelenggarakan proses belajar dengan tutor, yaitu Student to student,
Group to Tutor, Student to student
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat mempengaruhi
segi kehidupan manusia. Seperti halnya komputer dan kalkulator, kedua jenis
produk teknologi ini sangat membantu memperingan tugas manusia dalam
mengkakulasi dan menyelesaikan pekerjaan yang bersifat administrasi.
Beberapa manfaat yang dapat dieksporasi dari penggunaan kalkulator dalam
waktu pembelajaran matematika di antaranya adalah: Membantu siswa dalam
memahami konsep matematik, membantu memperkuat keterampilan
kumputasi , mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi,
meningkatkan keterampilan pemecahan masalah, membuat pemecahan
masalah matematika lebih realistik.
B. Kritik dan saran
Demikianlah makalah ini penulis sampaikan. Mudah-mudahan dapat
menambah pengetahuan pembaca tentang model pembelajaran matematika
yaitu tentang tutor sebaya dan pemberdayaan teknologi dalam pembelajaran
matematika. Namun penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini
sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik
dan saran yang membangun dari pembaca untuk perbaikan dimasa yang akan
datang.

20
DAFTAR PUSTAKA

Zaini, Hisyam. Bermawy Munthe dan Sekar Ayu Aryani. Strategi Pembelajaran
Aktif. 2013. Yogyakarta: CTSD (Center for Teaching Staff Development)
UIN Sunan Kalijaga.

Ahmadi, Abu. Joko Tri Prasetya. 2005. SBM (Strategi Belajar Mengajar).
Bandung : CV Pustaka Setia.

Semiawan, Conny. dkk. Pendekatan Keterampilan Proses. 1985. Jakarta : PT.


Gramedia, anggota IKAPI.

Istrani. 2012. Kumpulan 40 Metode Pembelajaran. Medan : Media Persada.

Suherman, Erman. dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika. Bandung :


Universitas Pendidikan Indonesia.

Siberrnen, Mel. 2001. 101 Strategi Pembelajaran Aktif (Active Learning). terj.
Sarjuli dan Azfat Ammar. Jakarta: Yakpendis.

Djalil Aria dkk. 1977. Pembelajaran Kelas Rangkap. Jakarta : Depdikbud.

Semiawan, Conny. 2000. Pendekatan Ketrampilan Proses. Jakarta: PT Gramedia.

Sumantri, 2001. Mulyani dan Johar Permana. Strategi Belajar Mengajar.


Bandung: C.V Maulana.

Subandija. 2002. Perkembangan dan Inovasi Kurikulum. Jakarta: Raja Grafindo


Persada.

21