You are on page 1of 11

METODE KOOPERATIF MODEL THINK PAIR SHARE

Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif (Cooperative learning) merupakan pendekatan pembelajaran
melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan
kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar (Holubec dalam Nurhadi dkk., 2004:60).
Usaha kerja sama masing-masing anggota kelompok mengakibatkan manfaat timbal balik
sedemikian rupa sehingga semua anggota kelompok memperoleh prestasi, kegagalan
maupun keberhasilan ditanggung bersama. Siswa mengetahui bahwa prestasi yang
dicapai disebabkan oleh dirinya dan anggota kelompoknya, siswa merasakan kebanggaan
atas prestasinya bersama anggota kelompoknya.
Situasi pembelajaran kooperatif didorong dan atau dituntut untuk bekerja sama dalam
suatu tugas bersama, siswa harus mengoordinasikan usaha-usahanya untuk
menyelesaikan tugas. Pada pembelajaran kooperatif dua atau lebih individu saling
tergantung untuk suatu penghargaan apabila mereka berhasil sebagai suatu kelompok.
Menurut Holubec dalam Nurhadi dkk. (2004:60) pembelajaran kooperatif memerlukan
pendekatan pembelajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa yang bekerja sama
dalam memaksimalkan kondisi belajar guna mencapai tujuan bersama. Tiap kelompok
terdiri dari 4-5 anggota yang heterogen berdasarkan kemampuan akademik, jenis kelamin
dan ras. Ada 5 unsur pembelajaran kooperatif yaitu saling ketergantungan akuntabilitas
individu, keterampilan antarpersonal, peningkatan interaksi tatap maka dan pemrosesan.
Pembelajaran kooperatif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
Siswa bekerja dalam tim (team) untuk menuntaskan tujuan belajar,
Tim terdiri dari siswa-siswa yang mempunyai tingkat keberhasilan tinggi, sedang, dan
rendah,
Bila memungkinkan tim merupakan campuran suku, budaya dan jenis kelamin
Sistem penghargaan diorientasikan baik pada kelompok maupun individu (Estiti, 2006:8),
Pembelajaran kooperatif memberikan peluang kepada siswa yang memiliki latar belakang
dan kondisi yang berbeda untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas
bersama sehingga mereka belajar untuk menghargai satu sama lain meskipun mereka
berbeda ras, budaya, kelas sosial maupun kemampuan.
Model Think Pair Share
Model Think Pair Share dikembangkan oleh Frank Lyman dan rekan-rekannya dari
Universitas Maryland. Think Pair Share memiliki prosedur secara eksplisit dapat
memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, saling membantu satu
sama lain (Ibrahim dalam Estiti, 2007:10) dengan cara ini diharapkan siswa mampu
bekerja sama, saling membutuhkan dan saling bergantung pada kelompok-kelompok
kecil secara kooperatif.
Metode TPS merupakan salah satu strategi dalam pembelajaran kooperatif yang dapat
memberikan waktu kepada siswa untuk berpikir sehingga strategi ini punya potensi kuat
untuk memberdayakan kemampuan berpikir siswa. Peningkatan kemampuan berpikir
siswa akan meningkatkan hasil belajar atau prestasi belajar siswa dan kecakapan
akademiknya.
Siswa dilatih bernalar dan dapat berpikir kritis untuk memecahkan masalah yang
diberikan oleh guru. Guru juga memberikan kesempatan siswa untuk menjawab dengan
asumsi pemikirannya sendiri, kemudian berpasangan untuk mendiskusikan hasil
jawabannya kepada teman sekelas untuk dapat didiskusikan dan dicari pemecahannya
bersama-sama sehingga terbentuk suatu konsep.

Pola Pemberdayaan Berpikir melalui Pertanyaan


Pola pemberdayaan berpikir melalui pertanyaan (PBMP) merupakan suatu pola
pemberdayaan pertanyaan penalaran. Tampilan PBMP sepintas terlihat sebagai suatu
macam LKS yang dikenal saat ini, perbedaan substansialnya justru sangat mencolok,
perbedaan substansial itu bersangkut paut dengan karakteristiknya yang sangat
memberdayakan penalaran siswa, dari hal ini dapat diketahui bahwa pola PBMP
merupakan salah satu alat yang sangat berpotensi dalam mengembangkan penalaran
siswa (Vivilia, 2006:14).
Penalaran secara terprogram diyakini dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis
siswa. Apabila upaya tersebut dilaksanakan terus menerus maka dapat menghasilkan
Sumber Daya Manusia berkualitas yang mempunyai daya saing di tengah-tengah
percaturan global.
Struktur umum lembar siswa bercirikan PBMP adalah: Sediakan, Lakukan, Ringkasan
(Pikirkan), Evaluasi dan Arahan. Lakukan meliputi kegiatan, penulisan hasil pengamatan,
dan renungkan. Struktur tersebut digunakan untuk kegiatan pembelajaran yang didukung
oleh kerja kelompok dan kerja demonstratif. Sedangkan struktur lembar siswa yang tidak
didukung oleh kerja kelompok dan kerja demonstratif adalah Pendahuluan, Sediakan,
Lakukan, Ringkasan (Pikirkan), Evaluasi dan Arahan. Renungkan sebenarnya berisi
kaitan antara data pengamatan dan aneka hal lain yang ada hubungannya dengan
masyarakat, dalam hubungan ini dapat dinyatakan substansi pada bagian renungkan
merupakan perluasan pikiran pada bagian amatan.
Pada bagian Pikirkan berisi kesimpulan dari konsep dan subkonsep (kesimpulan dapat
pula diambil atas dasar data amatan maupun butir-butir pikirkan pada bagian renungkan).
Evaluasi berisi tentang pertanyaan-pertanyaan dengan tujuan untuk memantapkan konsep
yang diperoleh siswa. Sedangkan pada bagian Arahan berisi poin-poin apa yang dapat
dilakukan siswa untuk dapat menyelesaikan kegiatan ataupun pertanyaan-pertanyaan
yang ada pada lembar PBMP tersebut (Habibah, 2008:16)
Siswa dilatih menalar dan dapat berpikir kritis untuk memecahkan masalah yang telah
diberikan oleh guru. Guru juga memberikan kesempatan siswa untuk menjawab dengan
asumsi pemikirannya sendiri, kemudian berpasangan untuk mendiskusikan hasil jawaban
mereka, kemudian pasangan-pasangan yang telah dibentuk tersebut melaporkan hasil
jawabannya kepada teman sekelas untuk dapat didiskusikan dan dicari pemecahannya
bersama-sama sehingga terbentuk suatu konsep. Pembelajaran PBMP sejatinya siswa
diminta membaca atau mencari informasi dari berbagai sumber.

Sintaks Gabungan PBMP dan TPS


Adapun sintaks gabungan PBMP dan TPS (Corebima dalam Vivilia, 2006:27) dapat
diamati dalam Gambar 1.

Gambar 1 Sintaks gabungan PBMP dan TPS

Hasil belajar
Hasil belajar merupakan hal kompleks yang terjadi sehari-hari dan merupakan suatu
proses perubahan bagi siswa dalam menghadapi bahan ajar. Bahan ajar dapat berupa
keadaan alam, belajar tumbuhan dan manusia. Penilaian hasil belajar adalah proses
pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang di capai oleh siswa dengan kriteria
tertentu. Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku. Tingkah
laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang cukup luas mencakup bidang kognitif,
afektif dan psikomotor sehingga dengan belajar seseorang akan mengalami perubahan
berpikir, sikap dan alam kehidupan sehari-hari.
Hasil belajar menurut taksonomi Bloom terdiri dari tiga ranah: 1) ranah kognitif,
berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni
pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Kedua
aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikut disebut kognitif
tingkat tinggi; 2) ranah afektif berkenaan dengan partisipasi siswa dalam pembelajaran,
sikap khusus siswa, maupun respons siswa dalam kegiatan membaca, menyimak,
berbicara, maupun menulis, perkembangan siswa dalam menguasai isi pembelajaran,
sikap/kemampuan siswa bekerja sama, partisipasi siswa, kemampuan bertanya, atau
minat siswa terhadap pembelajaran (Susanto, 2006:7); dan 3) ranah psikomotoris
berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Menurut
Arikunto (2003: 182) pengukuran ranah psikomotorik dilakukan terhadap hasil-hasil
belajar yang berupa penampilan, hal-hal yang diamati dalam ranah psikomotoris ini
berupa keterampilan dalam menyiapkan alat, memperhatikan kebersihan serta mampu
bekerja sama.
Menurut Susanto (2006:1) belajar merupakan proses di mana otak atau pikiran
mengadakan reaksi terhadap kondisi luar dan reaksi itu dapat dimodifikasi dengan
pengalaman-pengalaman yang dialami sebelumnya. Belajar dapat berlangsung secara
efektif apabila hasil belajar yang dicapai mendekati atau sama dengan tujuan belajar yang
diharapkan.
Hasil belajar yang demikian dapat dicapai antara lain apabila kegiatan mengajar atau
menyampaikan mata pelajaran sesuai dengan gaya belajar siswa, keefektifan belajar akan
semakin tinggi bila kegiatan mengajar sesuai dengan faktor intern (intelegen,
kemampuan, motivasi, emosional, kebutuhan, dan gaya belajar), maupun faktor ekstern
(lingkungan, keluarga) sehingga dapat dikatakan bahwa mengajar yang efektif adalah
mengajar yang sesuai bagi setiap siswa. Terciptanya proses belajar yang efektif dan
efisien akan menjadikan hasil belajar lebih berarti, lebih bermakna serta berdaya guna
pada diri individu yang belajar.
Proses Belajar
Proses belajar adalah suatu proses interaksi mengajar antara guru dan siswa yang di
dalamnya terdapat aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung. Aktivitas yang
berarti kegiatan yang dilakukan oleh yang bersangkutan. Aktivitas siswa merupakan
bentuk kegiatan yang dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran untuk
memperoleh konsep aktivitas siswa dalam proses pembelajaran.
Proses belajar mengajar (PBM) merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian
perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam
situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Proses belajar mengajar memiliki 4
komponen, yaitu tujuan, bahan, metode dan alat penilaian (Rusyan, 1989:28). Keempat
komponen tersebut tidak dapat berdiri sendiri, tetapi saling berpengaruh satu sama
lainnya.
Diedrich dalam Nasution (2000) membuat suatu daftar yang berisi macam-macam
aktivitas siswa antara lain:
Visual activities, misalnya membaca, memperhatikan: gambar, demonstrasi, percobaan,
dan pekerjaan orang lain,
Oral activities, misalnya menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran,
mengemukakan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, dan interupsi,
Listening activities, misalnya mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, musik, dan
pidato,
Writing activities, misalnya menulis cerita, karangan, laporan, tes, angket, dan menyalin,
Drawing activities, misalnya menggambar, membuat grafik, peta, diagram, dan pola,
Motor activities, misalnya melakukan percobaan, membuat konstruksi model, mereparasi,
bermain, berkebun, dan memelihara binatang,
Mental activities, misalnya menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis,
melihat hubungan, dan mengambil keputusan,
Emotional activities, misalnya menarik minat, merasa bosan, gembira, bersemangat,
bergairah, berani, tenang, dan gugup.
Penilaian Proses Belajar adalah upaya memberikan nilai terhadap kegiatan belajar
mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai tujuan-tujuan pengajaran.
Penilaian ini dapat dilihat sejauh mana keefektifan dan efisiennya dalam mencapai tujuan
pengajaran atau perubahan tingkah laku siswa. Penilaian hasil dan proses belajar saling
berkaitan satu sama lain, sebab hasil merupakan akibat dari proses.

http://masimamgun.blogspot.com/2010/06/metode-kooperatif-model-think-pair.html

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Pembelajaran adalah sesuatu yang dilakukan oleh siswa, bukan dibuat untuk siswa.
Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik untuk membantu peserta didik
melakukan kegiatan belajar. Tujuan pembelajaran adalah terwujudnya efisiensi dan
efektivitas kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik (Isjoni, 2007: 11).
Dalam melakukan proses mengajar, guru harus dapat memilih dan menggunakan
beberapa metode mengajar. Banyak metode mengajar yang dipakai oleh guru yang mana
masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan, kekurangan suatu metode
dapat ditutupi oleh metode mengajar yang lain sehingga guru dapat menggunakan
beberapa metode mengajar dalam melakukan proses belajar mengajar. Pemilihan suatu
metode perlu memperhatikan suatu materi yang disampaikan, tujuan pembelajaran, waktu
yang tersedia, dan banyaknya siswa serta hal-hal yang berkaitan dengan proses belajar
mengajar.
Pembelajaran kooperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang
penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab
bersama, pembagian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar
berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing)
pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih
beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup
bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara
berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep,
menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok
kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siswa
heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan meminta
tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.
Sintaks pembelajaran kooperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk
kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan
Model pembelajaran Think-Pair-Share merupakan salah satu model pembelajaran
kooperatif sederhana. Teknik ini memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sendiri
serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan teknik ini adalah optimalisasi
partisipasi siswa. Dengan metode klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju
dan membagikan hasilnya untuk seluruh kelas, teknik Think-Pair-Share (TPS) ini
memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk
dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain (Lie, 2005:57).

Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini
adalah sebagai berikut.
1. Apa pembelajaran kooperatif ?
2. Bagaimana sintaks pembelajaran kooperatif think pair share ?
3. Bagaimana implementasi kooperatif think pair share pada pembelajaran ?
Tujuan Pembahasan
Berdasarkan pada rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah dalam
makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui apa pembelajaran kooperatif
2. Untuk mengetahui bagaimana sintaks pembelajaran kooperatif think pair share
3. Untuk mengetahui bagaimana implementasi kooperatif think pair share pada
pembelajaran

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham
konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa
sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam
menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja
sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran
kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum
menguasai bahan pelajaran.
Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang
mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pengajaran kooperatif learning dapat
didefinisikan sebagai sistem kerja/ belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk di
dalam struktur ini adalah lima unsur pokok yang dikemukakan oleh Johnson & Johnson
(dalam http://www.WordPress.com), yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab
individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok. Sedangkan
Lie (2005) menyebutkan model pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekadar
belajar kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian
kelompok yang dilakukan asal-asalan.
Model pembelajaran kooperatif adalah salah satu model pembelajaran yang
menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran (student oriented). Dengan suasana
kelas yang demokratis, yang saling membelajarkan memberi kesempatan peluang lebih
besar dalam memberdayakan potensi siswa secara maksimal. Peran guru dalam
pembelajaran kooperatif sebagai fasilitator, moderator, organisator dan mediator terlihat
jelas.
Karakteristik pembelajaran kooperatif diantaranya, (a) siswa bekerja dalam kelompok
kooperatif untuk menguasai materi akademis, (b) anggota-anggota dalam kelompok
diatur terdiri dari siswa yang berkemampuan rendah, sedang, dan tinggi, (c) jika
memungkinkan, masing-masing anggota kelompok kooperatif berbeda suku, budaya, dan
jenis kelamin, (d) sistem penghargaan yang berorientasi kepada kelompok daripada
individu. (http://www.idonbiu.com/2009/05/pembelajaran-cooperative-learning.htm).
Pelaksanaan model pembelajaran kooperatif membutuhkan partisipasi dan kerja sama
dalam kelompok pembelajaran. Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan cara belajar
siswa menuju belajar lebih baik, sikap tolong menolong dalam beberapa perilaku sosial.
Sharan (dalam Isjoni, 2010:23) menyebutkan bahwa siswa yang belajar menggunakan
metode pembelajaran kooperatif akan memiliki motivasi yang tinggi karena didorong dan
didukung dari rekan sebaya. Jadi, siswa tidak lagi memperoleh pengetaghuan itu hanya
dari guru, dengan belajar kelompok seorang teman haruslah memberikan kesempatan
kepada teman lainnya untuk mengemukakan pendapatnya dengan cara mengharagi
pendapat orang saling mengoreksi kesalahan, dan saling membetulkan satu sama lainnya.
Dalam pembelajaran kooperatif siswa akan terlatih untuk mendengar pendapat-pendapat
orang lain dan merangkum pendapat-pendapat tersebut dalam bentuk tulisan. Tugas–
tugas orang lain akan memacu siswa untuk bekerja sama, saling membantu dalam
mengintegrasikan pengetahuan-pengetahuan baru dengan pengetahuan yang dimiliki.
Ada tiga tujuan yang diharapkan dapat dicapai dalam pembelajaran kooperatif, yaitu:
a. Prestasi akademik
Pembelajaran kooperatif sangat menguntungkan baik bagi siswa berkemampuan tinggi
maupun rendah. Khususnya bagi siswa berkemampuan tinggi, secara akademik akan
mendapat keuntungan karena pengetahuan semakin mendalam.
b. Penerimaan terhadap keanekaragaman
Heterogen yang ditonjolkan dalam pemilihan anggota kelompok akan mengarahkan
siswa untuk mengakui dan menerima perbedaan yang ada antara dirinya dan orang lain.
c. Pengembangan keterampilan sosial
Pembelajaran kooperatif bertujuan mengarahkan kepada keterampilan-keterampilan
kerjasama sebagai suatu tim. Keterampilan ini kelak akan sangat bermanfaat bagi siswa
ketika mereka
Keuntungan guru menggunakan pembelajaran kooperatif ialah dapat menimbulkan
suasana yang baru dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan sebelumnya hanya
dilaksanakan model pembelajaran secara konvensional yaitu camah dan tanya jawab.
Metode tersebut ternyata kurang memberi motivasi dan semangat kepada siswa untuk
belajar. Dengan digunakannva model cooperative learning, maka tampak suasana kelas
menjadi lebih hidup dan lebih bermakna. Selain itu, pembelajaran kooperatif mampu
mengembangkan kesadaran pada diri siswa terhadap permasalahan-permasalahan sosial
yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Dengan bekerja kelompok maka timbul adanya
perasaan ingin membantu siswa lain yang mengalami kesulitan sehingga mampu
mengembangkan sosial skill siswa.

B. Model Pembelajaran Think Pair Share


Model pembelajaran think pair share merupakan salah satu model pembelajaran
kooperatif. Model pembelajaran ini berbasis pembelajaran diskusi kelas. Think Pair
Share dikembangkan oleh Frank Lyman dan rekan-rekannya dari Universitas Maryland.
Think Pair Share memiliki prosedur yang secara ekplisit dapat memberi siswa waktu
lebih banyak untuk berpikir, menjawab, saling membantu satu sama lain. Melalui cara
seperti ini diharapkan siswa mampu bekerja sama, saling membutuhkan dan saling
bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara koooperatif.
(http://www.WordPress.com)
Pembelajaran dengan think pare ini akan memberikan variasi tersendiri dalam lingkungan
belajar siswa. Silberman (2009: 151) mengemukakan bahwa salah satu cara terbaik untuk
mengembangkan belajar yang aktif adalah memberikan tugas belajar yang diselesaikan
dalam kelompok kecil siswa. Dengan Think Pair Share siswa belajar dari satu sama lain
dan berupaya bertukar ide dalam kelompoknya. Rasa percaya diri siswa meningkat dan
semua siswa mempunyai kesempatan berpartisipasi di kelas karena sudah memikirkan
jawaban atas pertanyaan guru, tidak seperti biasanya hanya siswa siswa tertentu saja yang
menjawab.
Think Pair Share membantu menstrukturkan diskusi. Siswa mengikuti proses yang telah
tertentu sehingga membatasi kesempatan berfikirnya yang melantur dan tingkah lakunya
menyimpang karena mereka harus berfikir dan melaporkan hasil pemikirannya ke
mitranya. Think Pair Share meningkatkan partisipasi siswa dan meningkatkan banyaknya
informasi yamg diingat siswa. Dengan Think Pair Share siswa belajar dari satu sama lain
dan berupaya bertukar ide dalam konteks yang tidak mendebarkan hati sebelum
mengemukakan idenya ke dalam kelompok yang lebih besar. Rasa percaya diri siswa
meningkat dan semua siswa mempunyai kesempatan berpartisipasi di kelas karena sudah
memikirkan jawaban atas pertanyaan guru, tidak seperti biasanya hanya siswa siswa
tertentu saja yang menjawab.
Model pembelajaran think pair share ini merupakan model pembelajaran yang dilakukan
untuk meningkatkan belajar kolaboratif dan mendorong kepentingan dan keuntungan
sinergi itu. Oleh karena hal itu Silberman (2009: 161) menyebutkan istilah ”dua kepala
tentu lebih baik daripada satu”. Langkah- langkah dalam Pembelajaran Kooperatif Tipe
Think Pair Share sebagai berikut.
a. Langkah 1, yaitu berfikir (thinking)
Guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan
meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berfikir sendiri jawaban atau
masalah. Siswa membutuhkan penjelasan bahwa berbicara atau mengerjakan bukan
berfikir.
b. Langkah 2, yaitu berpasangan (pairing)
Selanjutnya guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang mereka
peroleh. Interaksi selama waktu yang disediakan dapat menyatukan gagasan masing-
masing siswa. Secara normal guru memberi waktu tidak lebih 4 atau 5 menit untuk
berpasangan.
c. Langkah 3, yaitu berbagi (sharing)
Pada tahap akhir, guru meminta pasangan- pasangan untuk berbagi dengan kelompok
berpasangan keseluruhan kelas. Hal ini efektif baik untuk guru maupun siswa untuk
mengetahui ide- ide dari pasangan, dan kegiatan sharing ini dilanjutkan sampai sekitar
sebagian pasangan mendapat hasil dari yang didiskusikan untuk dilaporkan atau
dipresentasikan.
Pada implementasinya, masing- masing model pembelajaran tentu memiliki kelebihan
dan kekurangan. Lie (2005: 46) mengemukakan bahwa kelebihan dari kelompok
berpasangan (kelompok yang teridiri dari 2 orang siswa) adalah 1) akan meningkatkan
pasrtisipasi siswa, 2) cocok untuk tugas sederhana, 3) lebih banyak memberi kesempatan
untuk kontribusi masing-masing anggota kelompok, 4) interaksi lebih mudah, dan 5)
lebih mudah dan cepat membentuk kelompok. Selain itu, menurut Lie, keuntungan lain
dari teknik ini adalah teknik ini dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk
semua tingkatan usia anak didik.
Adapun kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share adalah sangat
sulit diterapkan di sekolah yang rata-rata kemampuan siswanya rendah dan waktu yang
terbatas, sedangkan jumlah kelompok yang terbentuk banyak (Hartina, 2008: 12).
Menurut Lie (2005: 46), kekurangan dari kelompok berpasangan (kelompok yang terdiri
dari 2 orang siswa) adalah: 1) banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor, 2)
lebih sedikit ide yang muncul, dan 3) tidak ada penengah jika terjadi perselisihan dalam
kelompok.
Para ahli berpendapat bahwa ada beberapa manfaat pentingnya menggunakan TPS
sebagai berikut:
Jones (2002) menyatakan bahwa TPS membantu mengkonsturkan diskusi, dalam TPS
siswa mengikuti proses yang telah ditentukan sehingga membantu siswa salam
memfokuskan pikiran dan perilaku pada masalah yang sedang didiskusikan. Gunter, dkk
(1999) berpendapat bahwa TPS dapat meningkatkan pastisipasi dan meningkatkan
banyaknnya informasi yang dapat diingat siswa. Melalui TPS siswa saling belajar dan
berupaya bertukar pikiran dan rasa percaya diri sebelum mengemukakan idenya ke
kelaompok yang lebih besar. Rasa percaya diri siswa meningkat dan semua siswa
mempunyai kesempatan berpartisipasi di kelas karena mereka sudah memikirkan
jawaban atas pertanyaan guru.
Susilo (2005: 117) mengatakan bahwa TPS meningkatkan lamanya “time on task” dalam
kelas dan kualitas kontribusi siswa dalam diskusi. Siswa dapat mengembangkan
kecakapan hidup sosial mereka. Melalui TPS siswa dapat merasakan saling
ketergantungan positif karena mereka belajar dari satu sama lain. Mampu menjunjung
akuntabilitas individu karena mereka saling berbagi ide dalam kelompok maupun antar
kelompok atau seluruh kelas. Mempunyai kesempatan yang sama untuk berpartisipasi
dan seyogyanya idak ada siswa yang mendominasi. Interaksi antar siswa cukup tinggi
karena akan terlibat secara aktif dan sengaja berbicara atau mendengarkan.

C. Implementasi Think Pair Share


Pembelajaran think pair share merupakan pembelajaran berbasis diskusi kelas dengan
kelompok siswa berpasangan. Model pembelajaran think pair share merupakan salah satu
model pembelajaran kooperatif, dimana model pembelajaran kooperatif membutuhkan
partisipasi dan kerja sama dalam kelompok pembelajaran. Pembelajaran kooperatif dapat
meningkatkan cara belajar siswa menuju belajar lebih baik, sikap tolong menolong dalam
beberapa perilaku sosial. Sharan (dalam Isjoni, 2010:23) menyebutkan bahwa siswa yang
belajar menggunakan metode pembelajaran kooperatif akan memiliki motivasi yang
tinggi karena didorong dan didukung dari rekan sebaya. Jadi, siswa tidak lagi
memperoleh pengetahuan itu hanya dari guru, dengan belajar kelompok seorang teman
haruslah memberikan kesempatan kepada teman lainnya untuk mengemukakan
pendapatnya dengan cara mengharagi pendapat orang saling mengoreksi kesalahan, dan
saling membetulkan satu sama lainnya.
Pembelajaran Kooperatif tipe think pair share mempunyai tiga tahapan, yaitu tahap
berpikir (thinking), tahap berpasangan (pairing), dan tahap berbagi (sharing). Sebelum
memulai setiap pembelajaran, guru menyiapkan nomor undian bangku, siswa berbaris di
depan kelas untuk mengambil nomor undian bangku. Guru melakukan hal ini supaya
kelompok yang terbentuk tiap pertemuan berubah. Diharapkan dengan adanya pergantian
kelompok ini, siswa dapat lebih akrab antara satu dengan yang lain, dan menghindari
kesenjangan kelompok, sebab think pair share ini membutuhkan kerja sama yang baik
dalam kelompok berpasangannya.
Pada kegiatan inti, guru menerapkan think pair share kepada siswa. Pada tahap think,
guru mengajukan pertanyaan dan meminta siswa untuk berfikir sejenak tentang media
yang ditunjukkan oleh guru. Waktu berfikir ini kurang lebih 3-5 menit. Untuk mengetahui
hasil pemikiran siswa, dapat diperoleh dari jawaban siswa ketika ditanya oleh guru
mengenai media yang ditampilkan. Selanjutnya, siswa mengerjakan LKK dengan cara
berdiskusi bersama teman sebangkunya atau pasangannya, tahap ini disebut pair. Guru
membimbing siswa dalam mengerjakan LKK, siswa yang belum paham diberi
kesempatan untuk bertanya kepada guru. Tahap pair ini memberikan peluang bagi siswa
untuk mengungkapkan ide dan gagasan dengan saling berdiskusi dengan pasangannya.
Hal ini menjadikan pembelajaran lebih efektif, karena masing- masing siswa dituntut
aktif dalam pembelajaran.
Tahap selanjutnya adalah share atau berbagi, maksudnya adalah masing- masing
kelompok pasangan menyampaikan hasil diskusi kepada teman sekelas. Guru
membimbing siswa untuk menaggapi jawaban teman yang menyampaikan hasil diskusi.
Hal ini dilakukan guru untuk melatih siswa berani mengeluarkan pendapat dan berfikir
kritis. Ini sejalan dengan tujuan mata pelajaran IPS di Sekolah Dasar berdasarkan
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 (Tim Penyusun, 2006:60)
yaitu peserta didik mampu yang memiliki kemampuan dasar untuk berfikir logis dan
kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah dan keterampilan dalam kehidupan
sosial, Siswa yang aktif diberikan reward oleh guru berupa “smile”. Siswa yang
mendapat “smile” terbanyak menandakan siswa tersebut aktif dalam pembelajaran.
Adanya reward ini tentu menambah inat dan motivasi siswa dalam mengikuti
pembelajaran.
Pada kegiatan inti, guru menerapkan think pair share kepada siswa. tahap think, guru
mengajukan pertanyaan dan meminta siswa untuk berfikir sejenak tentang media yang
ditunjukkan oleh guru. Waktu berfikir ini kurang lebih 3-5 menit. Untuk mengetahui hasil
pemikiran siswa, dapat diperoleh dari jawaban siswa ketika ditanya oleh guru mengenai
media yang ditampilkan. Selanjutnya, siswa mengerjakan LKS dengan cara berdiskusi
bersama teman sebangkunya atau pasangannya, tahap ini disebut pair. Guru membimbing
siswa dalam mengerjakan LKK, siswa yang belum paham diberi kesempatan untuk
bertanya kepada guru. Tahap pair ini memberikan peluang bagi siswa untuk
mengungkapkan ide dan gagasan dengan saling berdiskusi dengan pasangannya. Hal ini
menjadikan pembelajaran lebih efektif, karena masing- masing siswa dituntut aktif dalam
pembelajaran.
Tahap selanjutnya adalah share atau berbagi, maksudnya adalah masing- masing
kelompok pasangan menyampaikan hasil diskusi kepada teman sekelas. Guru
membimbing siswa untuk menaggapi jawaban teman yang menyampaikan hasil diskusi.
Hal ini dilakukan guru untuk melatih siswa berani mengeluarkan pendapat dan berfikir
kritis. Ini sejalan dengan tujuan mata pelajaran IPS di Sekolah Dasar berdasarkan
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 (Tim Penyusun, 2006:60)
yaitu peserta didik mampu yang memiliki kemampuan dasar untuk berfikir logis dan
kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah dan keterampilan dalam kehidupan
sosial, Siswa yang aktif diberikan reward oleh guru berupa “smile”. Siswa yang
mendapat “smile” terbanyak menandakan siswa tersebut aktif dalam pembelajaran.
Adanya reward ini tentu menambah inat dan motivasi siswa dalam mengikuti
pembelajaran.
Motivasi belajar memang diperlukan dalam pembelajaran. Terkait dengan motivasi
belajar, Nasution ( 1993:8) menyatakan bahwa motivasi belajar adalah kondisi psikologis
yang mendorong siswa untuk belajar. Selain pemberian reward, guru juga memiliki cara
tersendiri dalam membangkitkan minat belajar siswa. Guru memberikan permanian-
permainan pada tiap pertemuan untuk menunjang pembelajaran think pair share ini. Pada
siklus I ini guru memberikan permaian ”ayo mencari jalan” dan ”acak kata”. Pada tahap
akhir, siswa diarahkan untuk mengungkapkan kesimpulan pembelajaran. Untuk
mengetahui hasil belajar secara individu, guru memberikan soal evaluasi, berupa soal
subyektif. Siswa juga diminta untuk mengungkapkan kesan pembelajaran. Hal ini untuk
memberikan saran pada guru agar pembelajaran selanjutnya lebih baik.
BAB III
KESIMPULAN

Penerapan model pembelajaran think pair share dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Dalam pelaksanaan model pembelajaran think pair share pada setiap pertemuan
mengalami perubahan materi pokok dan variasi kegiatan, maksudnya adalah adanya
variasi media pembelajaran yang digunakan dan adanya permainan – permainan untuk
menunjang pembelajaran think pair share.
Peningkatan hasil belajar dapat dilihat dari aktivitas siswa selama mengikuti
pembelajaran think pair share dan nilai akhir yang berasal dari gabungan nilai individu
dan kelompok.

Saran
Adapun saran yang diberikan penulis adalah sebagai berikut. Bagi siswa sebaiknya siswa
meningkatkan aktivitas membaca, sehingga mempermudah dalam menghafal dan
memahami materi IPS. Tingkatkan pula rasa percaya diri, agar selalu aktif mengikuti
pembelajaran. Sedangkan saran bagi guru adalah hendaknya guru bisa menerapkan
model pembelajaran think pair share. Agar siswa lebih aktif dan mampu mengidentifikasi
masalah sosial dan pemecahannya.

DAFTAR RUJUKAN

http://www.WordPress.com
http://www.idonbiu.com/2009/05/pembelajaran-cooperative-learning.htm).
Isjoni. 2010. Cooperative Learning: Efektifitas Pembelajaran Kelompok. Bandung:
Alfabeta.

Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan.


Jakarta: Kencana.

Saukah, Ali dkk. 2010. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Edisi Kelima. Malang:
Universitas Negeri Malang.

Tim penyusun. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Sekolah Dasar. Jakarta:
Badan Standar Nasional Pendidikan.

Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan,


dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta:
Kencana.