You are on page 1of 31

ANATOMI GEH

ANATOMI CAVUM ORIS DAN LIDAH

CAVUM ORIS

• Cavum oris (buccal cavity) adalah suatu rongga yang merupakan pangkal dari tractus
digestivus.

• Dibedakan atas :

1. Vestibulum Oris

– Adalah bagian dr cavum oris yang terletak disebelah luar, lebih kecil, dan dibatasi
oleh pipi serta bibir.

– Labium oris superior dan labium oris inferior melekat pada gingiva di garis
tengah dengan perantaraan suatu lipatan membrana mucosa yang dinamakan
frenulum labii superioris dan inferioris.

2. Cavum oris propium


– Adalah bagian dr cavum oris yang terletak disebelah dalam, lebih besar dan
hampir seluruhnya ditempati oleh lingua.

– Atapnya dibentuk oleh palatum durum dan palatum molle.


• Terdapat 3 musculus pada dasar mulut :
– M. mylohyoideus
– M. genioglossus
– M. geniohyoideus

• Sedangkan nervus.nya :
– N. lingualis
– N. chorda tympani
– N. hypoglossus

• Di dalam cavum oris terdapat 3 pasang glandula salivatoriae yaitu :

– 1. glandula parotis

– 2. glandula submandibularis

– 3. glandula sublingualis

A. Glandula Parotis
– Merupakan kelenjar liur yang paling besar beratnya 14-28 gr.
– Terletak di sisi wajah tepat ventrokaudal auris externus dan terbungkus oleh
fascia parotidea.
– Saluran keluar gl.parotis adalah ductus parotideus, p = 5-7cm.
– Gld.parotis diperdarahi oleh A. carotis externa.

• Sedangkan innervasi diperoleh dr :


– N. auriculotemporalis (N. V3) untuk sensorik
– N. glossopharyngeus untuk sekretorik
– Plexus caroticus externus (symphatis)
– N. facialis (parasymphatis)

B. Glandula Submandibularis
– Terletak di dalam trigonum submandibulare dan dipisahkan oleh ligamentum
stylomandibulare.
– Saluran keluarnya adalah ductus mandibularis Whartoni yang panjangnya 5cm.
C. Glandula Sublingualis
– Merupakan kelenjar liur yang paling kecil, terletak dibawah membrana mucosa
dasar mulut di sisi frenulum linguae.
– Saluran keluarnya berjumlah 8-20 buah dan dibedakan atas :
i. Ductus subligualis major Bartholini yg bermuara ke dlm ductus Whartoni.
ii. Ductus sublingualis minor Rivini yang bermuara sebagian ke Whartoni
dan sebagian lagi ke plica sublingualis.
LINGUA (LIDAH)

• Lidah adalah alat muskuler yg terdapat di dasar mulut serta dilekatkan oleh otot-otot ke
os hyoideus, mandibula, proc.styloideus dan pharynx.

• Lidah berfungsi dalam:

– Pengecapan

– Proses bicara

– Masticatio (mengunyah)

– Deglutitio (menelan)

 Bagian-bagian lidah

1. apex linguae, yaitu bagian paling ujung (anterior) dan biasanya terletak pada
facies lingualis gigi incisivi mandibulae.

2. margo linguae, yaitu bagian yg berhubungan di kedua sisi dengan gingiva dan
gigi.

3. dorsum linguae, 2/3 pars oralis (anterior) dan 1/3 pars pharyngealis (posterior)

• Musculi linguales :
– 1. M. Extrinsic linguae

• M. genioglossus

• M. hyoglossus

• M. chondroglossus

• M. styloglossus

• M. palatoglossus

– 2. M. Intrinsic linguae

• M. lingualis superior

• M. lingualis inferior

• M. transversus linguae

• M. verticalis linguae

• Vaskularisasi lidah :

– Diperoleh dari A. lingualis yang akan bercabang menjadi Aa. Dorsalis linguae
dan A. Sublingualis yg berakhir sebagai A. profunda linguae.
• Innervatio lidah :

– 1. Motorik :

Semua otot-otot lidah kecuali m. palatoglossus (dipersyarafi oleh N.accessorius)


mendapat persyarafan dari N.hypoglossus.

– 2. Sensorik :

N. lingualis (N. V3) untuk 2/3 anterior.

N. glossopharyngeus dan N. vagus untuk 1/3 posterior.

– 3. Pengecapan :

N. lingualis dengan serabut-serabut N. facialis untuk 2/3 anterior

N. glossopharyngeus untuk 1/3 posterior

Anatomi pharynx
Pharynx atau Faring merupakan organ berbentuk corong sepanjang 15cm yg tersusun atas
jaringan fibromuscular yangg berfungsi sebagai saluran pencernaan dan juga sebagai saluran
pernafasan. Pharynx terletak setinggi Bassis cranii (bassis occipital dan bassis sphenoid) sampai
cartilage cricoid setinggi Vertebrae Cervical VI. Bagian terlebar dari pharynx terletak setinggi
os. Hyoideum dan bagian tersempitnya terletak pada pharyngoesophageal junction. Pharynx
sebagai organ pencernaan menghubungkan antara cavum oris dan Oesophagus. Sedangkan
sebagai organ pernafasan berfungsi untuk menghubungkan antara cavum nasi dan Larynx.

Pembentuk dinding Pharynx


- Membrane mucosa yang tersusun atas epitel squamos pseudokompleks bersilia pada bagian
atas dan epitel squamos kompleks di bagian bawah.
- Submucosa
- Jaringan fibrosa, membentuk fascia pharyngobasillaris yang melekat pada bassis crania
- Jaringan muscular yang terdiri atas otot sirkular dan longitudinal
- Jaringan ikat longgar yang membentuk fascia buccopharyngeal

Otot-otot Pharynx
Otot-otot pada pharynx terdiri atas 3 otot konstriktor pharyngeus dan 3 otot yang berorigo pada
proc. Styloideus. Otot-otot ini berperan dalam proses deglutition atau menelan.

Hubungan Pharynx
Cavum pharyngeum berhubungan dengan organ-organ disekitarnya antara lain mll :
- Choanae (nares posterior) menghubungkan dengan cavum nasi
- Ostium pharyngeum tuba auditiva eustachii dengan cavum tympani
- Isthmus faucium dengan cavum oris propia
- Additus laryngis dengan larynx
- Portae oesophagus dengan oesophagus

Vaskularisasi Pharynx
Perdarahan faring sebagian besar berasal dari cabang a. carotis externa, a. faringeal ascendens,
R.dorsal a. lingualis, R. tonsillaris a. fascialis, dan R. palatine a. maksillaris

Innervasi Pharynx
untuk persarafan motorik berasal dari n. XI sedangkan untuk persarafan sensorik berasal dari n.
IX dan n. X

Pembagian Pharynx
Pharynx dibagi menjadi :

Nasopharynx (Epipharynx)
Nasopharynx merupakan bagian dari pharynx yang terletak di bagian atas, maka dari itu
nasopharynx juga disebut dengan epipharynx. Nasopharynx memiliki skeletopi setinggi Bassis
cranii sampai Vertebrae cervical I.

Syntopi Nasopharynx(Nasofaring)/ Epifaring (Epipharynx)


Nasopharynx memiliki syntopi :
- ventral : choanae (nares posterior), menghubungkan pharynx dengan cavum nasi
- superior : bassis crania
- belakang : vertebrae cervical yang dipisahkan oleh fascia prevertebrae dan m. capitis
- lateral : dinding medial leher
- inferior : palatum mole

Bangunan pd Nasopharynx (Nasofaring)/ Epipharynx (Epifaring)


terdapat beberapa bangunan yang terletak pada nasopharynx, antara lain :
- ostium pharyngeum tuba auditiva eustachii, menghubungakn pharynx dengan cavum tympani
- adenoid (tonsilla pharyngea/ tonsillo luscha), merupakan kelenjer limfe submucosa
- recessus pharynx (fossa rosenmulleri), di belakang torus tubarius
- isthmus nasopharynx, batas antara nasopharynx dan oropharynx yang akan tertutup oleh
pallatum molle saat proses deglutition/ menelan

Oropharynx/ Orofaring
Merupakan bagian dari pharynx yang terletak di tengah. Memiliki skeletopi setinggi Vertebrae
cervical II sampai Vertebrae Cervical III.

Syntopi Oropharynx
Oropharynx memiliki syntopi sebagai berikut :
- superior : nasopharynx (isthmus nasopharynx, palatum mole)
- ventral : cavum oris propia dengan arcus palatopharynx dan uvulae
- dorsal : Vertebrae Cervical II – III
- Lateral : dinding medial leher
- Inferior : tepi atas epiglottis, basis linguae
Bangunan pd Oropharynx/Orofaring
Ada beberapa bangunan yang terdapat pada oropharynx, antara lain :
- Tonsilla palatine (faucial tonsil/ amandel), di dinding lateral dextra et sinistra di recessus
tonsillaris antara arcus palatoglossus dan arcus palatopharyngeus
- Fossa supratonsilaris, mucosa di atas tonsil berbentuk segitiga di antara arcus palatoglossus dan
arcus palatopharyngeus
- Tonsila lingualis, pada basis linguae (1/3 posterior linguae)

Laringopharynx (Hipopharynx)
Merupakan bagian bawah dari pharynx. Maka dari itu, juga disebut dengan hipopharynx.
Laringopharynx terletak setinggi Vertebrae Cervical IV sampai Vertebrae Cervical VI.

Anatomi oesophagus

OESOFAGUS (KERONGKONGAN)
 Merupakan saluran yang menghubungkan faring dengan ventriculus (lambung) dengan
panjang sekitar 20 – 25 cm.
 Gerakan menelan makanan yang terjadi di esophagus merupakan gerakan
peristaltic/peristalsis yaitu gerakan otot dinding saluran pencernaan (kaya akan otot
polos) yang berupa gerakan kembang kempis atau gerak meremas-remas makanan dalam
bentuk bolus atau gelombang kontraksi dan relaksasi otot ritmik.
 Terdapat 3 tempat penyempitan di oesofagus
o Atas: selalu menutup, karena ada spingter oesofagus superior
o Tengah: pada percabangan bronkus
o Bawah: selalu menutup, karena ada spingter oesofagus inferior

Anatomi Lambung (Gaster)

Gaster terletak di bagian atas abdomen, terbentang dari permukaan bawah arcus costalis sinistra
sampai regio epigastrica an umbilicalis. Sebagian besar gaster terletak di bawah costae bagian
bawah. Secara kasar gaster berbentuk huruf J dan mempunyai dua lubang, ostium cardiacum dan
ostium pyloricum; dua curvatura, curvatura major dan curvatura minor; dan dua dinding, paries
anterior dan paries posterior.

Secara umum lambung di bagi menjadi 3 bagian:

1. kardia/kelenjar jantung ditemukan di regia mulut jantung. Ini hanya mensekresi mukus
2. fundus/gastric terletak hampir di seluruh corpus, yang mana kelenjar ini memiliki tiga tipe
utama sel, yaitu :

 Sel zigmogenik/chief cell, mesekresi pepsinogen. Pepsinogen ini diubah menjadi pepsin
dalam suasana asam. Kelenjar ini mensekresi lipase dan renin lambung yang kurang
penting.
 Sel parietal, mensekresi asam hidroklorida dan factor intrinsic. Faktor intrinsic diperlukan
untuk absorbsi vitamin B12 dalam usus halus.
 Sel leher mukosa ditemukan pada bagian leher semua kelenjar lambung. Sel
ini mensekresi barier mukus setebal 1 mm dan melindungi lapisan lambung terhadap
kerusakan oleh HCL atau autodigesti.

3. pilorus terletak pada regia antrum pilorus. Kelenajr ini mensekresi gastrin dan mukus, suatu
hormon peptida yang berpengaruh besar dalam proses sekresi lambung.

Lapisan Lapisan Lambung

Lambung terdiri atas empat lapisan :


1. Lapisan peritoneal luar atau lapisan serosa yang merupakan bagian dari peritoneum viseralis.

Dua lapisan peritoneum visceral menyatu pada kurvatura minor lambung dan duodenum,
memanjang kearah hati membentuk omentum minus. Lipatan peritoneum yang kelaur dari
organ satu menuju organ lain disebut ligamentum. Pada kurvatura mayor peritoneum terus
kebawah membentuk omentum mayus.

2. Lapisan berotot yang terdiri atas tiga lapis:

 serabut longitudinal, yang tidak dalam dan bersambung dengan otot esofagus,
 serabut sirkuler yang paling tebal dan terletak di pilorus serta membentuk otot sfingter;
dan berada di bawah lapisan pertama, dan
 serabut oblik yang terutama dijumpai pada fundus lambung dan berjalan dari orifisium
kardiak, kemudian membelok ke bawah melalui kurvatura minor (lengkung kecil).

3. Lapisan submukosa yang terdiri atas jaringan areolar berisi pembuluh darah dan saluran limfe.
Lapisan mukosa yang terletak di sebelah dalam, tebal, dan terdiri atas banyak kerutan atau rugue,
yang hilang bila organ itu mengembang karena berisi makanan.

4. Membran mukosa dilapisi epitelium silindris dan berisi banyak saluran limfe. Semua sel-sel
itu mengeluarkan sekret mukus. Permukaan mukosa ini dilintasi saluran-saluran kecil dari
kelenjar-kelenjar lambung. Semua ini berjalan dari kelenjar lambung tubuler yang bercabang-
cabang dan lubang-lubang salurannya dilapisi oleh epithelium silinder. Epithelium ini
bersambung dengan permukaan mukosa dari lambung. Epithelium dari bagian kelejar yang
mengeluarkan sekret berubah-ubah dan berbeda-beda di beberapa daerah lambung.

Persarafan dan Aliran Darah Pada Lambung

Persarafan pada lambung umumnya bersifat otonom. Suplay saraf parasimpatis untuk lambung di
hantarkan ke dan dari abdomen melalui saraf vagus. Trunkus vagus mencabangkan ramus
gastric, pilorik, hepatic dan seliaka.

Persarafan simpatis melalui saraf splangnikus mayor dan ganglia seliakum. Serabut-serabut
afferent simpatis menghambat pergerakan dan sekresi lambung. Pleksus auerbach dan
submukosa ( meissner ) membentuk persarafan intrinsic dinding lambung dan mengkoordinasi
aktivitas motorik dan sekresi mukosa lambung.

Suplai darah dilambung berasal dari arteri seliaka. Dua cabang arteri yang penting dalam klinis
adalah arteri duodenalis dan pankreas tikoduodenalis (retroduodenalis) yang berjalan sepanjang
bulbus posterior duodenum. Tukak dinding posterior duodenum dapat mengerosi arteri itu
menyebabkan perdarahan. Darah vena dari lambung dan duodenum serta berasal dari pankreas,
limpa dan bagian lain saluran cerna berjalan ke hati melalui vena porta.
Intestium Tenue

Dimulai dari pylorus sampai ileocoecal junction (taut ieocoecal), panjang 6 m terdiri atas :

a. Duodenum (25 cm)

b. Jejenum

c. Ileum : berkelok dan mobile (2/5 bag jejenum, 3/5 bagian ileum)

Fungsi : digesti dan absorpsi serta bangunan yang relevan:

1. Area yang luas = untuk absorbsi, juga kerena panjangnya, adanya plica circular pada
mucosa, villi microvilli
2. Gld. Intestinalis menghasilkan enzyme digestif dan mucus. Mucosa epithel diganti tiap 2-
4 hari.
3. Follicel lymphatic = a) Follikel soliter, b) folikel agregat. Folikel agregat ini pada typhus
abd mengalami ulcerasi.
4. Vascularisasi : jejunum & ileum oleh r.jejenalis & ilealisa a.mesenteriea superior
5. Lymph : berjalaan circuler didinding intestinum. Ulcus yang desebabkan TBC berjalan
sepanjang pembuluh ini
A. Duodenum

Bagian teratas intestinum tenuae. Panjang 25cm berliku sekitar caput pancreatis. Fungsi =
absorbsi produk digesti walau pendek tetapi permukaan luas, karena mucosa berlipat-
lipat dan ada villi. Letak retroperitoneal kecuali bagian pertama (2,5 cm) adalah
intraperitoneal.

 Bagian pertama (5cm)


 Bagian kedua (7,5cm) = pars descendens (sekeliling caput pancreas). Ada tonjolan
kecil pada mucosa = papilla duodeni. Disini tempat masuknya ductus biliaris dan dct
pancreaticus Santorini lebih kecil lewat masuk diatasnya.
 Bagian ketiganya (10cm) = pars transversa, didepannya dilewati pangkal
mesenterium dan a.mescunterica sup.
 Bagian keempat (2,5cm) = pars ascendens berakhir pada duodenojejenal junction
ujung bawah ditandai lipatan peritoneal dari crus dexter diaphragma lig.suspensorium
Treitz. Bagian terminal v.meventerica inferior terletak di sambungan duodenojejenal
dan berfungsi sebagai penanda.

Vascularisasi

Aa pancreatiko duodenalis sup & inf berjalan antara duodenum dan caput panereatis.

A.panereatica sup berawal dari a. coeliaca dan a.panereatica inf dari a.mesenterica sup.

Ulkus Pepticum

Terjadi di gaster dan duodenum proximal. Akibat adanya imbalance sekresi asam dan
pertahanan mucosa.
A1.Pancreas

Terdiri atas kaput, korpus, kauda. Letak retro peritoneal, terletak sepanjang bidang
transpilorik. Kaput terikat pada lekuk duodenum dan kauda memanjang ke hilus
lienalis pada ligamentum lienorenalis. A.mesenteriea sup melewati belakang pancreas
terus ke anterior diatas procesus uncinatus dan bagian ketiga duodenum, selanjutnya
menuju pangkal mesenterium intestinum tenuae.

 Struktur
Ductus pankreaticus Wirsungi berjalan sepanjang kelenjar, mengalirkan sekresi
pancreas ke ampula Vateri bersama dct biliaris komunis menuju bagian ke-3
duodenum,

 Vascularisasi
Caput pancreas mendapat aliran dari a.a.pancreaticum duodeni sup & inferior.
Corpus menerima dari a.lienalis yang berasal dari a.pancreatica magna.

 Aliran Lympha
Mengikuti jalan arteri dan masuk ke nodus lymphaticus pancreatieo lienalis,
coeliacus, dan kelompok lympthonodi mesenterica superior.

 Innervasi
N.X (paravymp) dan n.splanchnicus (sympatis) mensarafi pancreas lewat plexus
keliling arteri. Saraf sympatis adalah vasomotor, parasympatis mengontrol phase
nervosa sekresi pancreas, cairan vagal ini kaya enzyme. Phase chemis sekresi
pancreas distimulasi oleh CCK-PZ (cholocystokinin pancreozymin)

 Struktur Kelenjar
Terdiri atas:

- Pars exocrin : gld. serosa menghasilkan secreet cairan pancreatic (digestif)


- Pars endocrin : pulau Langerhans terdapat banyak di caudal ada 200.000 –
1.700.000 pulau
Terdiri atas : a) Alpha cell, b) Beta cell, c) CFX cell

- Alfa sel subtipe A1 (D Sel) dan A2


A1 = scereet gastrin & serotonin

A2 = scereet glucagon

- Beta sel mengisi 80% pancreas memproduksi insulin


- C,F,X sel pada lain spesies
Fungsi

1. Digestif = cairan pancreas mengandung enzyme digestif yaitu: trypsin memecah


protein (polypeptid) kedalam pepoid yang rendah (diamino acid), amylase
menghidrolise tepung dan glycogen menjadi disacharid, lipase memecah lemak
ke asam lemak dan glycerol.
2. Endrocrine
Karbohidrat adalah sumber energy insulin membnatu penggunaan gula dalam
sel.deficiensi insulin menyebabkan terjadinya hyperglycaemi = diabetes mellitus

Glucagon bekerja sebaliknya insulin


3. Cairan pancreatic memberikan alkalin yang cukup (ph8) untuk aktivitas
enzyme pancreas.
A2. Hepar

Kelenjar yang terbesar dalam tubuh menempati hipochondrium dexter dilindungi


oleh costae dan costa cartilaginea, kecuali bagian atas di tutup oleh dinding anteri or
abdomen.

Secara anatomis terdiri atas lobus dext yang besar dan lobus sin yang lebih kecil.
Dipisahkan di anterosuperior oleh lig falcitorae hepatis dan postero inferior oleh
fissura lig.venosum dan lig.teres hepatis.

Klasifikasi anatomis lobus dexter terdiri atas lobus kaudatus dan lobus quadratus.
Tetapi secara fungsional lobus kaudatus dan sebagian besar lobus quadratus
merupakan bagian lobus sinister karena mendapat darah dari a.epigastrica sin dan
aliran empedunya menuju ductus hepatictus sinister. Karenanya klasifikasi
fungsional menyatakan bahwa batas antara lobus dexter dan sinister terlatak pada
bidang vertical yang berjalan ke posterior dari kantong empedu menuju v.cava
interior.

Permukaan visceral hepar terlihat huruf H yang terdiri atas sulcus dan fossa.

Kaki ant dext – fossa kandung empedu


Kaki post dext – suclus untuk v.cavai inf

Kaki ant sin – fissure isi lig teres (sisa v.umbilicalis sin foctus yang mengalirkan
kembali darah oksigen dari placenta ke foctus).

Kaki post sin – fussura untuk lig. Venosum (sisa dct venosus pada foetus dctus ini
berfungsi sebagai jalan pintas yang mempersingkat aliran darah dari
v.umbilicalis sin langsung ke v.cava inf tanpa melalui hepar.

Porta hepatis – adalah hilus hepar tempat berjalannya v.porta (dari post ke ant);
cabang-cabang a.hepatica dan det hepaticus. Porta dilapisi
peritoneum ganda = omentum minus yang melekat ke lig. Venosum
pada fissuranya.

Hepar dilapisi peritoneum kecuali pada area telanjang.

Arsitektur Dalam

Hepar terdiri atas banyak unit funsional “lobulus”. Cabang-cabang v.porta dan
a.hepatica mentranspor darah melalui kanalis porta menuju v.centralis yang
mengalirkan darah dari hepar di sekitarnya kembali ke v.cava inferior. Kanalis porta
mendapat percabangan ductus hepaticus yang dikonsentrasikan dalam vasica fellea
dan dialirkan ke duodenum. Panjang usus yang darahnya mengalir melalui v.porta
menjelaskan predisposisi tumor usus bermetasatse ke hepar.

Kandung empedu (vesica fellea)

Fungsi : Reservoir empedu (50cc), Empedu dikeluarkan lewat ductus sistikus ke dct
biliaris komunis ke duodenum sebagai respons kontraksi kandung empedu yang
diinduksi oleh hormon usus.

Cabang Biliaris

Ductus hepaticus komunis dibentuk dari penyatuan det hepaticus dext dan sin dalam
porta hepatis.
Det hepatis komunis bergabung dengan det sistikus membentuk ductus biliaris
komunis.

Struktur ini berjalan pada tepi bebas omentum minus pada sulcus antara duodenum
bagian ke-2 dan caput pancreatic. Selanjutnya membentuk pintu pada papilla di
bagian medial duodenum bagian ke-2. Biasanya bergabung dengan det.
pancreaticus wirsungi.

Kolelitiasis

Batu empedu terbentuk dari kolesterol, pigmen empedu. Bila batu ini pindah ke
cabang bilier bisa terjadi komplikasi kolesistitis akut dan ada kolik bilier.

A. Jejenum
Diameter lebar kira-kira 4cm dan tebal serta vascular warna lebih gelap daripada ileum,
sehingga beratnya juga lebih. Valvula circular mucosa tebal, villi lebih basar dari ileum.
Nodus lymphaticus aggregate tidak ada.

B. Ileum
Diameter lebih kecil 3,75cm, dinding lebih tipis, kurang vascularisasi dibanding jejunum.
Nodus lympha aggregat banyak (bercak beyer) dan besar.

Bagian terminal terletak di pelvis dan pada fossa iliaea dext bermuara pada coecum.

Jejenum dan ileum terikat pada dinding abdomen post oleh mesenterium. Jejenum ileum
terletak intra peritoneal. Dinding terdiri atas = -) pars serosa, -) pars muscilaris dan -) pars
mucosa

Pars mucosa mengandung :

-)plica circularis, -)villi, -)gl. duodenali, -)gl.intestinalis, -)nodulus lymphaticus solitaries,


-)nodulus lymph agregat.

+ Vascularisasi

A.mesenterica sup. Banyak cabang menembus tunica muscularis. Vena berjalan


mengikuti arteri.
+ Innervasi

Plexus n.sympaticus disekitar a.mesenterica sup, bersama fibra post ganglioner


sympatis dari plexus coeliacus. Dari sini melanjutkan plexus myentericus Auerbach
yang terletak antara otot circular dan longitudinal tunica muscularis. Selanjutnya
adalah plexus sub mucosa (Meisner) yang lebih halus dari plexus Auerback.

+ Innervasi

Sympatis = (T19-T11)

Intestinum Crassum

Dimulai dari ileococeal junction sampai anus (1,5 mm)

Terbagi atas :

1. Appendix (9 cm)
2. Coecum (7,5 cm)
3. Colon aseendens (15 cm)
4. Colon transversum (20 cm)
5. Colon descendens (25 cm)
6. Colon sigmoideum (15 cm)
7. Rectum (16 cm)
8. Canalis analis (4 cm)
Fungsi sebagai gudang bahan faecal dan absorpsi cairan yang berasal dari bahan tersebut.

1. Coecum
Bagian intestinum crassum yang buntu. Terletak pada fossa iliace dextra diatas lig.
Inguinale. Keatas berlanjut ke colon ascendcins.

applied anatomy:

1. Ditempat ini dapat adanya amoebiasis


2. Tuberculosis
3. Carinoma
Bagian bawar ileum bermuara pada coccum didapati “taut coecoiliacal” yang terletak
postero medial dengan valvula ileocoecalis

2. Appendix Vermiformis
Suatu diverticulum coecum pada dinding posteromedial, dibawah orificium
ileocoecalis, difossa iliaca dextra

Posisi : jam 11,12, 2, 3, 4, 6

Parasymp = (nX)

Keduanya membentuk plexus cocliacus dan plexus mesentericus sup. Saraf dari plexus
myentericus Auerbach (ggl. parasymp) terdapat antara dua lapisan m. longitudinalis.
Fibra ini juga membentuk plexus submocosus neisner.

N.sympaticus adalah motorik untuk m.sphineter mucosae dan melakukan inhibisi


untuk gerak paristaltik, N.parasympaticus: measti mulasi peristaltix, tetapi
menginhibisi m.sphineter.

+ Fungsi Intestinumtenue
Melakukan digesti secara lengkap dan absorpsi bahan hasil digesti dalam bentuk
cairan digesti.

+ Obstruksi intestium tenue (SBO – Small, Bowl, Obstruction)

Terjadi akibat faktor-faktor luminal, mural atau extramural yang menyebabkan


blockade lumen

Adhesia pasca bedah.

Intestinum Crassum

Bagian-bagian yang penting:

1. Intestinum crasum lebar lumennya.


2. Sebagian besar intestinum terikat kecuali appendix, colon transversum, dan colon
sigmoideum.
3. Tunica muscularis yang m.longitudinal tipis beberapa lainya membantuk bagai pita
disebut taenia coli. Taenia pada bagian proximal menuju kesatu tempat di appendix,
sedang yang distal menyebar ke pars terminalis sigmoid.
4. Karena taenia lebih pendek deri otot circular maka colon mengalami saeculasi dan
disebut haustra.
5. Appendi epiploicae kantong-kantong kecil isi lemak, tersebar pada permukaan
intestinum crassum, kecuali pada appendix, coecum dan rectum. Banyak pada colon
sigmoideum dan permukaan posterior colon transversum.

Vascularisasi

Berasal dari a.marginalis yang bercabang vasa longa dan vasa brevia
Aliran Lymph

Lewat 4 nodus: a) nodus lumph epicodica, b) nodus paracolica, c) nodus intermediate, d)


nodus terminalis

Innervasi

Sympatyic dan parasymp

Simpatis dari ggl. Mesentericum sup dan plexus coeliacus (T11-L1) parasymp dari nX.
Kedua saraf ini bersama lewat plexus mesentericus superior. Innervasi tersebut diatas
untuk usus yang berasal dari midgut.

Usus dari midgut menerima seraf sympatis dari (L1,2) dan parasym dari n.splanchnicus
pelvicus (nervi erigentes).

N.parasymp adalah motorik ke intestinum erassum dan inhibisi untuk splimeter ani
internum.

Impuls sakit dari usus sampai colon devcendens lewat n.sympatis dan dari colon
sigmoideum dan rectum lewat n. splanchnicus pelvicus.

3. Colon Acendene

Panjang 13cm dari caecum ke facies inferior lobus dext hepatic, membelok ke kiri
sebagai flexura coli dext. Letak retro peritoneal

4. Colon Transersum

Panjang 50 cm, menyilang abdomen dari flexura dext ke flexura sin. Letak intraperitoneal
5. Colon Descendens

Panjang 25 cm dari flexura coli sin sampai colon sigmoideun. Berjalan vertical dan
kemudian belok melintas ke medial diatas m.psoas major pada pintu masuk pelvis
Meneruskan sebagai colon sigmoid. Colon descendens lebih sempit disbanding colon
ascendens. Letak retroperitoreal. Sebelumnya colon desendens waktu berjalan dari crista
ilioca ke pintu masuk panggul disebut colon iliacun

6. Colon sigmoideum (colon pelvicum)

Panjang 5cm dari pintu masuk pelvis ke S3 dan menjadi rectum. Membentuk pipa
berkelok menggantung pada bagian dalam pelvis melintas vesica urinaria dan uterus.
Karena pendek ia berjalan langsung . Digantung pada (ligamentum) mesocolon
sigmoideum dan ditutupi intestinum tenue.

7. Rectum

Panjang (10-15cm). Sebagai lanjutan colon sigmoideum mengikuti lengkung sacrum


berakhir pada canalis analis. Didepan os.coccygis tiba-tiba berbelok kebelakang menjadi
canalis analis. Bagian ujung bawah mengalami dilatasi disebut ampulaecti yang disebelah
lateralnya didukung oleh m.levator ani.

Distensi pada rectum menyebabkan adanya kebutuhan defecasi. Peritoneum menutup 2/3
bagian atas rectum. Pada perempuan peritonetum membentuk cavum rectouterina
(Douglasi).

Rectum dipisah dari struktur didepannya oleh fascia yang kuat “fascia rectovesicalis
(Denonvillier)”
Bagian fungsional Rectum

Ada 2 bagian fungsional:

1. Bagian atas rectum (terkait pada peritoneum) yang berasal dari usus dan terletak di
bagian atas plica rectum berlaku sebagai reservoir faeceas.

2. Bagian bawah (tanpa peritoneam) berasal dari cloaca terletak dibawah plica medialis
rectum. Bagian ini kosong pada keadaan normal, pada konstipasi berisi faeces atau
setelah mati. Colon sigmoideum adalah reservoir faeces sedang rectum kosong pada
individu normal dan sensitive terhadap distensi.

+ Vascularisasi

1. A. rectalis sup, sebagai lanjutan a.mesenterica inf


2. A. rectalis medialis, kurang penting karena hanya mendarahi tunica superficialis dari
bagian bawah srectum.
3. A. saceralis media cabang kecil dari bagian belakang aorta mensuplai dinding
posterior taut anorectal.

+ Venae

1. V.rectalis superior mulai dari plexus venosus rectalis dalam canalis analis. Ada 6 buah
biji jalan ke caranial dalam submucosa dan bersatu menjadi v.meseanterica inf
2. V. rectalis medialis bermuara ke v. iliaca interna.

+ Lympha
1. Lebih dari separo bagian atas lewat pembuluh rectalis superior ke nodus mesentericus
inferior lewat nodus pararectalis dan nodus sigmoidens.
2. Bagian separo bawah lewat sepanjang vara rectalis medialais ke modus iliacus internus

+ Innervasi

Sympatis (L1,2) dan parasymp (S2,3,4) lewat plexus hypogastricus inf dan plexus
mesentcricus inf (rectalis sup)

 Sympatis adalah vasoconstrictor, inhibisi pada otot-otot rectal dan motorik untuk m.
sphincter internum
 Parasympatis adalah motorik untuk otot-otot rectum dan inhibisi untuk m.sphinctur
internus
 Sensasi distensi lewat n. parasympatis sedang sensasi sakit dibawa (dikonduksi)
baik oleh sympatis maupun para sympatis

+ Bangunan penompang (support) rectum

1. Dasar pelvis
2. Fascia Waldeyer = konodenasi fescia pelvica di dorsal rectum
3. Ligamen cateralis rectum
4. Fascia recto vesicalis (Denonviliers)
5. Peritoneum pelvis
8. Kanalis Analis

Bagian terakhir dari intestinum crassum. Terletak sebelah bawah diaphragma pelvis.
Mempunyai m.sphincter externus dan internus pada pintu keluar rectum. Panjang 3cm.
Sama dengan rectum ketiga karakteristik intestinum crassum (haustra, appendix
epiploicae dan taenia) tidak ada.

Tempat kedudukan canalis analis di perineum (trigonum analis) diantara kedua fossa
ischiorectalis yang memungkinkan expansi pada waktu jalannya faeces.
Anorectal junction ditandai convexitas flexura rectum didepan os coccygis. Di tempat ini
ampula recti langsung menyempit dan menembus diaphrahma pelvis. Pada orang laki-laki
sesuai dengan puncaknya prostat.

Bagian bagian canalis analis ada 3 :

1. Pars superior – mucosa


2. Pars media – zona transisi
3. Pars cutanea

Musculatur canalis analis

a. Sphincter ani
1. Splincter ani externes – menurut kehendak. Terbentuk dari otot seran lintang dan di
innervasi oleh n.reatalis inf dan r. perineus n. sacrales 4 (S4).

2. Sphineterani internus – involunter tidak menurut kehendak. Dibentuk oleh


penebalan otot circular. Meliputi ¾ bagian atas canalis analis.

b. Anulus Anorectalis
Cincin muscularis pada anorectal junction dibentuk oleh fusi m. puborectalis, m.
sphiceter ext profundal dan m. sphincer internus

c. Spatium Chirusgicum
1. Spatium ishiorectalis
2. Spatium perianalis
3. Spatium Submucosa

+ Vascularisasi

1. Diatas linea pectinea (valvula analis) dialiri a.rectalis superior


2. Dibawah linea pectinea dsialiri a.rectalis inferior
Aliran Vena

1. Plexus venosus rectalis internus (plexus haemorrhoidales). Vena ini penting untuk
komunikasi porto sistemik
2. Plexus venosus rectalis externa diluar tunica muscularis rectum dan canalis analis.
Secara bebas berkomunikasi dengan v.rectalis inferior dan masuk ke v. pudenda
interna, Bagian medial lewat v.rectalis media ke v.iliaca interna
3. V. analis. Disekitar anus, berhubungan dengan plexus rectalis internus dan v. rectalis
inferior. Defeacasi yang keras dapat merobek vena ini dan membentuk haemafoma
perinealis subcutanea atau haermoroid externa.

Aliran Lympha

1. Diatas linea pectinea bermuara ke modus iliacus internu7s


2. Dibawa linea pectinea bermuara ke kelompok medial modus inguinalis superficialis
Innervasi

1. Diatas linea pectinea : n. otonomicus baik sympatius (plexus hipogatricus inferior


(L1,2) dan parasymp (n. splanchnicus pelvicus S2,3,4). Sensasi dibawa melalui
keduanya
2. Dibawah linea pectinea aleh saraf somatic (n. rectalis inferior S2,3,4)
3. Otot Sphincer
m. Sphineter externus oleh ramus perineus dan ramus rectalis inferior dari n. saeralis
ke-4.

Applied anatomy

1. Haemorroids:
a. Haermorrhoid interna (haermorrhoid vera), dilatasi saculer plexus venosus rectalis
interna
b. Haemoorhoid externa
2. Fissur ani
Ruptur dari salah satu valvula ani.

3. Fistula ani
Hubungan abnormal dari suatu rongga dengan bagian luar. Disebabkan rupture secara
spontan atau akibat chirurgis karena abscess disekitar anus.

4. Kontinensia rectalis
Tergantung pada anulus rectalis pada operasi fistula harus hati-hati. Bila mengenai
anulus rectalis akan terjadi incontinensia recti

5. Anomali congenial
Pada perkembangan rectum dipisahkan oleh membran analis dari proctodeum. Bila
membran ini tetap ada terjadi anus imper foratus

Lain kelainan yang lebih berat:

1. Stenosis
2. Anal agenesis
3. Anorectal agenesis