You are on page 1of 17

TUGAS

METODE NUMERIK
Tentang
Deret taylor

Oleh :
TUTI AZIZAH :1514040046

Dosen Pembimbing :
ANDI SUSANTO, S.,Si., M.Si

JURUSAN TADRIS MATEMATIKA B

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

IMAM BONJOL PADANG

1439 H / 2018M
Deret Taylor
Jika kita mempunyai sebuah fungsi dengan satu variabel, katakanlah sin x
atau ln(cos2x), dapatkan fungsi ini digambarkan sebagai suatu deret pangkat
dari x atau lebih umum dari (x  a) ?. Atau dengan kata lain, adakah bilangan
c0, c1, c2, c3, . . . sehingga,

f(x) = c0 + c1(x  a) + c2(x  a)2 + c3(x  a)3 . . .

pada sebuah selang di sekitar x = a ?


Apabila penggambaran fungsi semacam itu ada, maka menurut teorema
tentang pendiferensialan deret (Teorema ) akan diperoleh pendiferensialan
sebagai berikut,

f’(x) = c1 + 2c2(x  a) + 3c3(x  a)2 + 4c4(x  a)3 . . .

f’’(x) = 2c2 + 6c3(x  a) + 12c4(x  a)2 + 20c5(x  a)3 . . .

f’’’(x) = 6c3 + 24c4(x  a) + 60c5(x  a)2 + 120c6(x  a)3 . . .


.
.
.
Apabila kita subtitusikan x = a, maka diperoleh,

f(a) = c0

f’(a) = c1

f’’(a) = 2c2 = 2!c2

f’’’(a) = 6c3 = 3!c3


.
.
.
Dari hasil subtitusi ini selanjutnya kita dapat menghitung cn, yaitu

c0 = f(a)

c1 = f’(a)
f ' ' (a )
c2 =
2!

f ' ' ' (a )


c3 =
3!
.
.
.
Dari penentuan cn ini, kita dapat menuliskan rumus yang lebih umum,
yaitu

f n (a )
cn =
n!
Catatan : Supaya rumus untuk cn ini berlaku untuk n = 0, maka kita artikan
𝑓 𝑛 (a) sebagai f(a) dan 0! = 1.

Dari hasil di atas dapat kita lihat bahwa koefisien-koefisien cn ditentukan oleh
f. Hal ini berarti bahwa suatu fungsi f tidak dapat digambarkan oleh dua deret
pangkat dari x  a yang berbeda seperti yang dituangkan dalam teorema
berikut.
Teorema 1. 1 (Teorema Ketunggalan)
Andaikan f memenuhi uraian berikut,

f(x) = c0 + c1(x  a) + c2(x  a)2 + c3(x  a)3 . . .

untuk semua x dalam selang di sekitar a, maka

f n (a )
cn =
n!
Jadi suatu fungsi tidak dapat digambarkan oleh dua deret pangkat dari (x 
a).
Bentuk koefisien cn mirip dengan koefisien yang terdapat dalam Rumus
Taylor, oleh karena itu deret pangkat dari (x  a) yang menggambarkan sebuah
fungsi ini dinamakan deret Taylor.
Apabila a = 0, maka deret dinamakan deret Maclaurin. Dengan deret Taylor
ini kita bisa menjawab pertanyaan di awal bagian ini yaitu apakah sebuah
fungsi f dapat digambarkan sebagai deret pangkat dalam x atau (x  a) seperti
yang dinyatakan dalam teorema berikut.

Teorema 2. 2 (Teorema Taylor)


Misalkan f adalah sebuah fungsi yang memiliki turunan dari semua tingkat
dalam selang (a  r, a  r). Syarat perlu dan cukup supaya deret Taylor

f ' ' (a ) f ' ' ' (a )


f(a) + f’(a)(x  a) + (x  a)2 + (x  a)3 + . . .
2! 3!

menggambarkan fungsi f dalam selang tersebut adalah,

lim Rn ( x )  0
n 

dengan Rn(x) adalah suku sisa dalam Rumus taylor, yaitu

f ( n 1) ( c)
Rn(x) = ( x  a ) n 1
( n  1)!

dengan c suatu bilangan dalam selang (a  r, a  r).


Bukti :
Untuk membuktikan teorema ini kita hanya perlu mengingat Rumus Taylor,
yaitu

f ' ' (a ) f ' ' ' (a ) f ( n ) (c)


f(a) + f’(a)(x  a) + (x  a)2 + (x  a)3 + . . . + (x  a )n
2! 3! n!
+ Rn(x)

dengan mengambil lim Rn ( x )  0 , maka diperoleh,


n 

Contoh 1. 1
Tentukan deret Maclaurin untuk sin x dan buktikan bahwa deret tersebut
menggambarkan sin x untuk semua x.
Jawab :
f(x) = sin x f(0) = 0
f’(x) = cos x f’(0) = 1
f’’(x) = sin x f’’(0) = 0
f’’’(x) = cos x f’’’(0) = 1
f(4)(x) = sin x f(4)(0) = 0
f(5)(x) = cos x f(5)(0) = 1
f(6)(x) = sin x f(6)(0) = 0
f(7)(x)= cos x f(7)(0) = 1
. .
. .
. .

Dengan memasukan harga-harga turunan ini ke deret Maclaurin diperoleh,

x 3 x5 x 7
sin x = x     . . .
3! 5! 7!

Uraian deret ini akan berlaku untuk semua x, asal dapat dibuktikan bahwa

f ( n 1) ( c) n 1
lim Rn ( x ) = lim x =0
n  n  ( n  1)!

Oleh karena f ( n1) ( x)  cos x  1 atau f ( n1)


(x)  sin x  1, maka

f ( n 1) ( c) n 1
n1
x
Rn(x) = x 
( n  1)! ( n  1)!

n 1
x
Selain itu, menurut Uji Suku ke-n diperoleh bahwa lim = 0.
n  ( n  1)!

Jadi lim Rn ( x ) = 0.
n 

f ' ' (a ) f ' ' ' (a )


f(a) + f’(a)(x  a) + (x  a)2 + (x  a)3 + . . .
2! 3!

Perhatikanlah, apabila a = 0, maka diperoleh deret Maclaurin, yaitu


f ' ' (0) 2 f ' ' ' (0) 3
f(0) + f’(0)(x) + x + x +. .
2! 3!

Contoh 2. 2
Tentukan deret Maclaurin untuk cos x dan buktikan bahwa deret tersebut
menggambarkan cos x untuk semua x.
Jawab :
f(x) = cos x f(0) = 1
Untuk membuktikan bahwa uraian ini menggambarkan cosh x untuk semua x,
cukup dibuktikan bahwa lim Rn ( x )  0 .
n 

Misalkan B sebuah bilangan sebarang, dan andaikan x  B, maka

e x  e x e x e x e B e B
coshx =      eB
2 2 2 2 2

dengan jalan yang sama kita peroleh juga sinh x  eB . Oleh karena f(n+1)(x)
adalah cosh x atau sinh x maka dapat kita simpulkan bahwa

( n 1) n 1
f ( c) x n 1 ex x
Rn ( x ) 
( n  1)! ( n  1)
n 1
en x
Bentuk pada ruas terakhir menuju nol apabila n   atau lim  0.
n  ( n  1)!

Akibatnya lim Rn ( x )  0
n 

Contoh
Tentukan deret Maclaurin untuk f(x) = sinh x dengan dua cara, dan buktikan
bahwa uraian tersebut menggambarkan cosh x untuk semua x.
Jawab :
Cara pertama,
f(x) = sinh x f(0) =0
f’(x) = cosh x f’(0) = 1
f’’(x) = sinh x f’’(0) = 0
f’’’(x) = cosh x f’’’(0) = 1
f(4)(x) = sinh x f(4)(0) = 0
f(5)(x) = cosh x f(5)(0) = 1
f(6)(x) = sinh x f(6)(0) = 1

Jadi dari deret Maclaurin diperoleh,

x3 x5 x7
sinh x = x     . . .
3! 5! 7!

A. Deret Binomial
Dari Rumus Binomial diketahui bahwa untuk p bilangan bulat positif
berlaku,
 p  p  p  p
p
(1 + x) = 1    x    x 2
   x 3
 . . .   x p
 1 2  3  p
dengan
 p  p( p  1)( p  2) . . . ( p  k  1)
 =
k  k!

 p
Perhatikan bahwa simbol   mempunyai arti untuk setiap bilangan riil p, asal
k 
saja k bulat positif. Dengan rumus binomial ini kita dapat menyusun teorema
berikut.
Teorema 1. 3 (Deret Binomial)
Untuk setiap bilangan riil p dan x  1 berlaku ,
 p  p  p  p  p
(1 + x)p = 1   x   x 2   x 3  . . .   x p dengan   seperti
 1 2  3  p k 
yang dibicarakan di atas.
Bukti :
Andaikan f(x) = (1 + x)p. Jika kita diferensialkan fungsi ini maka diperoleh,
f(x) = (1 + x)p f(0) =1
f’(x) = p(1 + x)p 1 f’(0) = p
f’’(x) = p(p  1)(1 + x)p 2 f’’(0) = p(p  1)
f’’’(x) = p(p  1)(p  2)(1 + x)p 2 f’’’(0) = p(p  1)(p  2)
. .
. .
maka diperoleh,
p( p 1) 2 p( p  1)( p  2) 3
(1 + x)p = 1 + px + x + x + . . . Karena,
2! 3!
p  p
p  
1!  1 

p( p  1)  p 
 
2!  2
p( p  1)( p  2)  p
 
3!  3
maka persamaan (i) menjadi
 p  p  p
(1 + x)p = 1   x   x 2   x 3  . . .
 1 2  3
Contoh
Tuliskanlah (1  x)2 sebagai suatu deret Maclaurin pada selang 1  x 
1.
Jawab :
Dengan menggunakan Teorema VI.3 (Deret Binomial) diperoleh,

2  2  2 


(1 + x)2 = 1   x   x 2   x 3  . . .
 1  2   3

−2 ( 2)( 2  1) 2 ( 2)( 2  1)( 2  2) 3


=1+ x+ x + x +. . .
1! 2! 3!

( 2)( 3) 2 ( 2)( 3)( 4) 3


= 1  2x + x + x +. . .
2 6
= 1  2x + 3x2  4 x3 + . . .
Selanjutnya ganti x dengan x, maka diperoleh,

(1  x)2 = 1 + 2x + 3x2 + 4 x3 + . . .
A. Analisis Galat
Indrawani Sinoem, (diakses pada 15 Maret 2018 jam 13:20) dalam
jurnalnya Deret Taylor Dan Analisis Galat mendefinisikan bahwa: Galat
berasosiasi dengan seberapa dekat solusi hampiran terhadap solusi
sejatinya.semakin kecil galatnya, semakin teliti solusi numerik yang
didapatkan. Misalkan â adalah nilai hampiran terhadap nilai sejati a, maka
selisih
𝜀 = 𝑎– â
disebut galat (𝜀).
Sebagai contoh, jika â = 10.5 adalah nilai hampiran dari a = 10.45,
maka galatnya adalah ε = -0.01. Jika tanda galat (positif atau negatif) tidak
dipertimbangkan, maka Galat mutlak.
Galat mutlak didefinisikan sebagai
ǀ𝜀ǀ = ǀ𝑎 – âǀ
Untuk mengatasi interpretasi nilai galat, maka galat harus dinormalkan
terhadap nilai sejatinya. Sehingga dinamakan galat relatif.
Galat relatif didefinisikan sebagai

𝜀
𝜀𝑅 = 𝑎 × 100%

Karena galat dinormalkan terhadap nilai sejati, maka galat relatif tersebut
dinamakan juga galat relatif sejati.
Dalam praktek kita tidak mengetahui nilai sejati a, karena itu galat ε
seringkali dinormalkan terhadap solusi hampirannya, sehingga galat relatifnya
dinamakan galat relatif hampiran.
Galat relatif hampiran didefinisikan sebagai.
𝜀
𝜀𝑅𝐴 = × 100%
â
Contoh:
Misalkan nilai sejati = 10/3 dan nilai hampiran = 3.333. Hitunglah
galat, galat mutlak, galat relatif, dan galat relatif hampiran.
Penyelesaian:
Galat = 10/3 – 3.333 = 10/3 – 3333/1000 = 1/3000 = 0.000333…
Galat mutlak = ǀ0.000333…ǀ = 0.000333…
Galat relatif = (1/3000)/(10/3) = 1/1000 = 0.0001
Galat relatif hampiran = (1/3000)/3.333 = 1/9999
Sumber Utama Galat Numerik
Secara umum terdapat dua sumber utama penyebab galat dalam
perhitungan numerik:
1. Galat pemotongan (truncation error)
Galat pemotongan mengacu pada galat yang ditimbulkan
akibat, penggunaan hampiran sebagai pengganti formula eksak. Tipe
galat pemotongan bergantung pada metode komputasi yang digunakan
untuk penghampiran sehingga kadang-kadang ia disebut juga galat
metode.
Misalkan: turunan pertama 𝑓(𝑥1 ), dihampiri dengan formula :

' f ( xi 1 )  f ( xi )
f ( x1 ) 
h

dimana : ℎ = lebar absis 𝑥𝑖+1

Contoh :

Hampiran fungsi cos(x) dengan bantuan deret Taylor di sekitar = 0 !

Penyelesaian

𝑓(𝑥) = 𝑐𝑜𝑠(𝑥)
𝑓(𝑥)′ = − 𝑠𝑖𝑛(𝑥)

𝑓(𝑥)′ = − cos(𝑥)
𝑓(𝑥)4 = 𝑠𝑖𝑛(𝑥)
Maka

x 2 x 4 x 6 x8 x10
f ( x)  cos( x)  1       ......
2! 4! 6! 8! 10!

Nilai hampiran galat pemotong

Galat pemotongan

( x  xo )( n1) ( n1)
Rn ( x)  f (c)
(n  1)!

( x  0) ( 61) ( 61) x7
R6 ( x)  f (c)  cos(c)
(6  1)! 7!

Yang dalam hal ini h adalah lebar absis xi+1 dengan xi. Untuk mencari
nilai maksimum yang mungkin dari ǀ Rn ǀ dalam selang yang diberikan
, yaitu: (x - x o ) ( n 1)
( n 1)
Rn ( x)  Maks f (c ) x
xo  c  x (n  1)!

Contoh:
Gunakan deret Taylor orde 4 di sekitar xₒ = 1 untuk menghampiri
ln(0.9) dan berikan taksiran untuk galat pemtongan maksimum yang
dibuat.
Penyelesaian:

Daret taylor
( x  1) 2 ( x  1)3 ( x  1) 4
ln( x)  ( x  1)     R4 ( x)
2 3 4

(0,1) 2 (0,1)3 (0,1) 4


ln( 0,9)  0,1     R4 ( x)
2 3 4

ln( 0,9)  0,1053583  R4 ( x)

24 (-0,1)5
R5 (0,9)  Maks x  0,0000034
0, 9c 1 c5 5!

Jadi : ln(0,9) = -0,1053583 dengan galat pemo-tongan < 0,0000034

2. Galat pembulatan (round-off error)


Perhitungan dengan metode numerik hampir selalu
menggunakan bilangan riil. Semua bilangan riil tidak dapat disajikan
secara tepat di dalam komputer, sehingga keterbatasan komputer dalam
menyajikan bilangan riil yang menghasilkan galat disebut galat
pembulatan.
Misalnya sebuah komputer hanya dapat merepresentasikan
bilangan riil dalam 6 digit angka, maka representasi bilangan 1/6 =
0.1666666666… di dalam komputer 6-digit tersebut adalah 0.166667.
Kebanyakan komputer digital mempunyai dua buah cara
penyajian bilangan riil, yaitu bilangan titik-tetap (fixed point) dan
bilangan titik-kambang (floating point). Dalam format bilangan titik-
tetap setiap bilangan disajikan dengan jumlah tempat desimal yang
tetap, misalnya 62.358, 0.013, 1.000. sedangkan dalm format bilangan
titik-kambang setiap bilangan disajikan dengan jumlah digit berarti
yang sudah tetap,
Misalnya
0.6238 x 103 0.1714 x 10-13
Atau ditulis juga
0.6238E+03 0.1714E-13

3. Galat Total
Galat akhir atau galat total atau pada solusi numerik merupakan
jumlah galat pemotongan dan galat pembulatan. Misalnya
menggunakan deret Maclaurin orde-4 untuk menghampiri cos(0.2)
sebagai berikut:
Cos(0.2) ≈ 1 – 0.22/2 + 0.24/24 ≈ 0.9800667

Galat Pemotongan Galat Pembulatan

Galat pemotongan timbul karena kita menghampiri cos(0,2) s/d suku orde
4 sedangkan galat pembulatan timbul karena kita membulatkan nilai
hampiran ke dalam 7 digit bena.

B. Signifikan dan Floating

1. Signifikan Figur
Angka bena, disebut juga sebagai angka penting atau angka signifikan
adalah jumlah angka yang digunakan sebagai batas minimal tinkat keyakinan.
Angka bena terdiri dari angka pasti dan angka taksiran. Angka taksiran
terletak pada akhir angka signifikan.
Contoh :
Pada bilangan 27,63; angka 3 adalah angka taksiran
Aturan –aturan tentang angka bena
Setiap angka yang bukan nol pada suatu bilangan adalah angka bena
Contoh :
Bilangan 14,256 adalah bilangan yang terdiri dari 5 angka bena.
Bilangan 43,12375 adalah bilangan yang terdiri dari 7 angka bena.
Setiap angka nol yang terletak di antara angka-angka bukan nol adalah angka
bena
Contoh :
Bilangan 7000,2003 adalah bilangan yang terdiri dari 9 angka.
Angka nol yang terletak di belakang angka bukan nol yang terakhir dan
dibelakang tanda desimal adalah angka bena
Contoh :
Bilangan 23,50000 adalah bilangan yang terdiri dari 7 angka bena.
Bilangan 278,300 adalah bilangan yang terdiri dari 6 angka bena.
Berdasarkan aturan b dan c, maka
Bilangan 270,0090 memiliki 7 angka bena.
Bilangan 0,0090 memiliki 2 angka bena.
Bilangan 0,001360 memiliki 4 angka bena.
Angka nol yang terletak di belakang angka bukan nol terakhir dan tanpa tanda
desimal bukan merupakan angka bena.
Contoh :
Bilangan 3500000 merupakan bilangan 2 angka bena.
Angka nol yang terletak di depan angka bukan nol yang pertama bukan
merupakan angka bena.
Contoh :
Bilangan 0,0000352 merupakan bilangan dengan 3 angka bena.
Bilangan 0,1764 merupakan bilangan dengan 4 angka bena.
Bilangan 0,0000012 merupakan bilangan dengan 2 angka bena.
Semua angka nol yang terletak di belakang angka bukan nol yang terakhir,
dan terletak di depan tanda desimal merupakan angka bena.
Contoh :
1256 adalah bilangan yang mempunyai 4 angka signifikan
1256 adalah bilangan yang mempunyai 3 angka signifikan
Perhatikan bahwa angka 0 bisa menjadi angka bena atau bukan. Misal pada
bilangan 0,001360; tiga buah angka nol pertama bukan angka bena,
sedangkan 0 yang terakhir adalah angka bena. Pengukuran dilakukan sampai
ketelitian 4 digit.

2. Floating Point dan Angka Penting


Floating point atau bilangan titik mengambang adalah sebuah format
bilangan yang dapat digunakan untuk merepresentasikan sebuah nilai yang
sangat besar atau sangat kecil. Bilangan ini direpresentasikan menjadi dua
bagian, yakni bagian mantisa dan bagian eksponen (E).
Bagian mantisa menentukan digit dalam angka tersebut, sementara
eksponen menentukan nilai berapa besar pangkat pada bagian mantisa
tersebut (pada posisi titik desimal). Sebagai contoh, bilangan 314600000
dan bilangan 0.0000451 dapat direpresentasikan dalam bentuk bilangan
floating point: 3146E5 dan 451E-7 (artinya 3146 * 10 pangkat 5, dan 451 *
10 pangkat -7).
Kebanyakan CPU atau mikroprosesor sederhana tidak mendukung
secara langsung operasi terhadap bilangan floating point ini, karena aslinya
mikroprosesor ini hanya memiliki unit aritmatika dan logika, serta unit
kontrol yang beroperasi berdasarkan pada bilangan bulat (integer) saja.
Perhitungan atau kalkulasi terhadap nilai floating point pada jenis
mikroprosesor sederhana dapat dilakukan dengan menggunakan perangkat
lunak, sehingga operasinya sangat lambat. Untuk itulah, sebuah prosesor
tambahan dibutuhkan untuk melakukan operasi terhadap jenis bilangan ini
yang disebut dengan unit titik mengambang.
Dalam bahasa pemrograman, khususnya keluarga bahasa pemrograman
C, bilangan titik mengambang dipresentasikan dengan tipe data float.