You are on page 1of 19

Nama : Tri Suci Sekar Ningrum

NPM : H1AP14038

SISTEM BILIER

1. Anatomi Sistem Bilier


1.1 Ductus Biliaris Hepatis
Empedu disekresikan oleh sel-sel hepar dengan kecepatan tetap sekitar 40 ml
per jam. Jika pencernaan tidak terjadi, empedu disimpan dan dipekatkan di dalam
vesica biliaris, kemudian dikeluarkan ke duodenum. Ductus biliaris hepatis terdiri
dari ductus hepaticus dexter dan sinister, ductus hepaticus communis, ductus
choledochus, vesica biliaris, dan ductus cysticus. Ductus hepaticus dexter
mengalirkan empedu dari lobus hepatis dexter dan ductus hepaticus sinister
mengalirkan empedu dari lobus hepatis sinister, lobus caudatus, dan lobus quadratus
(Snell, 2011).

1.1.1 Ductus Hepaticus


Ductus hepaticus dextra dan sinistra keluar dari lobus hepatis dextra dan sinistra
pada porta hepatis. Dalam jarak pendek, keduanya bersatu membentuk ductus hepatis
communis. Panjang ductus hepatis comunis sekitar 1,5 inchi (4 cm) dan berjalan
turun di pinggir bebas omentum minus. Ductus ini bergabung dengan ductus cysticus
dari vesica billiaris yang ada di sisi kanannya membentuk ductus choledochus (Snell,
2011). Lihat gambar 3.

1.1.2 Ductus Choledochus

Panjang ductus choledocus sekitar 3 inci (8 cm). Biasanya ductus chledocus


bergabung dengan ductus pancreaticus major dan bersama-sama bermuara ke dalam
ampulla kecil di dinding duodenum disebut ampulla hepatopancreatica (ampulla
vateri). Lihat gambar 2. Ampulla ini bermuara ke dalam lumen duodenum melalui
sebuah papilla kecil yaitu papilla duodeni major. Lihat gambar 1 dan 2. Kadang-
kadang ductus Choledocus dan ductus pancreaticus major masing-masing bermuara
ke dalam duodenumpada tempat yang terpisa. Variasi yang sering ditemukan dapat
dilihat di gambar 2. (Snell, 2011).

Gambar 1. Bagian terminal ductus choledochus dan ductus pancreaticus (Snell, 2011).

Gambar 1. Variasi ujung akhir ductus choledochus (Snell, 2011).


1.2 Vesica Biliaris
Kandung empedu merupakan kantong berbentuk seperti buah pir yang terletak
di permukaan bawah hepar di antara lobus kanan dan lobus kiri hati. Panjang kurang
lebih 7,5 – 12 cm. Vesica biliaris menampung dan menyimpan empedu dengan
kapasitas normal sekitar 30-50 ml serta memekatkan empedu dengan cara
mengabsorbsi air. Kandung empedu terdiri dari fundus, korpus, infundibulum, dan
kolum. Fundus mempunyai bentuk bulat dan biasanya menonjol di bawah margo
inferior hepatis, dimana fundus bersentuhan dengan dinding anterior abdomen
setinggi ujung kartilago costalis IX dextra. Korpus merupakan bagian terbesar dari
kandung empedu yang sebagian besar menempel dan tertanam didalam jaringan hati
sedangkan Kolum melanjutkan diri sebagai ductus cysticus yang berkelok ke dalam
omentum minus dan bergabung dengan sisi kanan ductus hepaticus communis untuk
membentuk ductus choledochus (Snell, 2011). Kandung empedu tertutup seluruhnya
oleh peritoneum viseral, tetapi infundibulum kandung empedu tidak terfiksasi ke
permukaan hati oleh lapisan peritoneum. Apabila kandung empedu mengalami
distensi akibat bendungan oleh batu, bagian infundibulum menonjol seperti kantong
yang disebut kantong Hartmann (Sjamsuhidayat, 2010).
Gambar 3. Vesica Biliaris Terdiri Atas Fundus, Corpus dan Colum (Snell, 2011).

Duktus sistikus memiliki panjang yang bervariasi hingga 3 cm dengan diameter


antara 1-3 mm. Dinding lumennya terdapat katup berbentuk spiral yang disebut katup
spiral Heister dimana katup tersebut mengatur cairan empedu mengalir masuk ke
dalam kandung empedu, akan tetapi dapat menahan aliran cairan empedu keluar.
Duktus sistikus bergabung dengan duktus hepatikus komunis membentuk duktus
choledocus (Sjamsuhidayat, 2010; Snell,2011). Pertemuan (muara) duktus koledokus
ke dalam duodenum, disebut choledochoduodenal junction. Duktus koledokus
berjalan di belakang duodenum menembus jaringan pankreas dan dinding duodenum
membentuk papila vater yang terletak di sebelah medial dinding duodenum. Ujung
distalnya dikelilingi oleh otot sfingter oddi yang mengatur aliran empedu masuk ke
dalam duodenum. Biasanya ductus choledochus bergabung dengan ductus
pankreatikus, dan bersama-sama bermuara ke dalam ampula kecil di dinding
duodenum, yang disebut ampula hepatopankreatica (ampula vater). Ampula ini
bermuara pada lumen duodenum melalui sebuah papila kecil, yaitu papila duodeni
major, tetapi dapat juga terpisah Bagian terminal kedua ductus beserta ampula
dikelilingi oleh serabut otot sirkular yang disebut musculus sphinter ampullae
(sphincter oddi). (Sjamsuhidayat, 2010; Williams, 2013; Doherty, 2015).

Gambar 4. Ductus choledocus (Common bile duct) dan Spincter Oddi2


Gambar 5.Vesica Billiaris dan Ductus Billiaris (Paulsen & Waschke, 2012).
Gambar 6. Segitiga CALOT dan Variasi Ductus Biliaris(Paulsen & Waschke, 2012)
Gambar 7. Hepar dan Vesica Biliaris (Paulsen & Waschke, 2012)

Pasokan darah ke kandung empedu adalah melalui arteri sistikus yang terbagi
menjadi anterior dan posterior dimana arteri sistikus merupakan cabang dari arteri
hepatikus dekstra yang terletak di belakang dari arteri duktus hepatis komunis tetapi
arteri sistikus asesorius sesekali dapat muncul dari arteri gastroduodenal. Arteri
sistikus muncul dari segitiga Calot (dibentuk oleh duktus sistikus, common hepatic
ducts, dan ujung hepar) (Snell,2011).

Gambar 8. Vaskularisasi kandung empedu.


Gambar 9. Arteri pada hepar dan Vesica Biliaris (Paulsen & Waschke, 2012)
Gambar 10. Vena di Vesica Biliaris (Paulsen & Waschke, 2012)
2. Fisiologi Sistem Bilier
2.1 Sekresi dan Fungsi Garam Empedu
Sistem empedu mencakup hati, kandung empedu, dan saluran-saluran
terkaitnya. Hati mensekresikan garam empedu yang membantu pencernaan dan
penyerapan lemak. Lubang duktus biliaris ke dalam duodenum dijaga oleh sfingter
Oddi yang mencegah empedu masuk ke duodenum kecuali sewaktu pencernaan
makanan. Ketika sfingter ini tertutup, sebagian besar empedu yang disekresikan oleh
hati dialihkan balik ke dalam kandung empedu, karena itu, empedu tidak diangkut
langsung dari hati ke kandung empedu. Empedu kemudian disimpan dan dipekatkan
di kandung empedu di antara waktu makan. Fungsi dari kandung empedu adalah
sebagai reservoir (wadah) dari cairan empedu sedangkan fungsi primer dari kandung
empedu adalah memekatkan empedu dengan absorpsi air dan natrium (Doherty,
2015). Dalam keadaan puasa, empedu yang diproduksi akan dialirkan ke dalam
kandung empedu dan akan mengalami pemekatan 50%. Setelah makan, kandung
empedu akan berkontraksi, sfingter akan mengalami relaksasi kemudian empedu
mengalir ke dalam duodenum. Sewaktu-waktu aliran tersebut dapat disemprotkan
secara intermitten karena tekanan saluran empedu lebih tinggi daripada tahanan
sfingter. Aliran cairan empedu diatur oleh tiga faktor yaitu sekresi empedu oleh hati,
kontraksi kandung empedu, dan tahanan dari sfingter koledokus. Jumlah empedu
yang disekresikan per hari berkisar dari 250 ml sampai 1 L, bergantung pada derajat
perangsangan (Sjamsuhidayat, 2017; Snell,2011).
Menurut Guyton & Hall, 2008 empedu melakukan dua fungsi penting yaitu :
1. Empedu memainkan peranan penting dalam pencernaan dan absorpsi lemak,
karena asam empedu yang melakukan dua hal antara lain: asam empedu
membantu mengemulsikan partikel-partikel lemak yang besar menjadi partikel
yang lebih kecil dengan bantuan enzim lipase yang disekresikan dalam getah
pankreas, asam empedu membantu transpor dan absorpsi produk akhir lemak
yang dicerna menuju dan melalui membran mukosa intestinal.
2. Empedu bekerja sebagai suatu alat untuk mengeluarkan beberapa produk
buangan yang penting dari darah, antara lain bilirubin, suatu produk akhir dari
penghancuran hemoglobin, dan kelebihan kolesterol yang di bentuk oleh sel- sel
hati.

2.2 Daur Ulang Garam Empedu


Empedu mengandung beberapa konstituen organic yaitu garam empedu,
kolesterol, lesitin, dan bilirubin (semua berasal dari aktivitas hepatosist) dalam suatu
cairan alkalis. Meskipun empedu tidak mengandung enzin pemcernaan apapun bahan
ini penting dalam pencernaan dan penyerpan lemak, terutama aktivitas garam
empedu.

Garam empedu adalah turunan kolesterol. Garam-garam ini secara aktif


disekresikan ke dalam empedi dan akhirnya mausk duodenum bersama dengan
konstituen empedu lainnya. Setelah ikut serta dalam pencernaan dan penyerapan
lemak, sebagian besar garam empedu diserap kembali ke dalam darah oleh
mekanisme transport aktif khusus yang terletak di ileum terminal. Dari sisni, garam
empedudikembalikan ke sistem porta hati yang meresekresikannyake dalam empedu.
Daur ulang garam empedu ini antara usus halus dan hati disebut sirkulasi
enterohepatik.
Jumlah total garam empedu di tubuh adalah sekitar 4-4 gram, namun dalam satu
kali makan mungkin dikeluarkan 3-15 gram empedu ke dalam duodenum. Jelaslah
garam-garam empedu harus didaur ulang beberapa kali sehari. Baisanya hanya sekitar
5% dari empedu yang disekresikan keluar dari tubuh melalui tinja setiap hari.
Kehilangan garam empedu ini diganti oleh pembentukan garam empedu baru oleh
hati, dengan demikian jumlah total garam empedu dijaga konstan.
Gambar 11. Sirkulasi Enterohepatik

2.3 Peran Garam Empedu dalam Pencernaan Lemak


2.3.1 Efek Emulsifikasi Garam Empedu

Garam empedu membantu pencernaan lemak melalui efek detergennya


(emulsifikasi) dan mempermudah penyerapan lemak dengan ikut serta dalam
pembentukan misel (micelle). Istilah Efek detergen merujuk pada kemampuan garam
empedu untuk mengubah globulus (gumpalan) lemak besar menjadi emulsi lemak
yang terdiri dari banyak tetesan/butiran lemak dengan garis tengah masing-masing 1
mm yang membentuk suspense di dalam kimus cair sehingga luas permukaan yang
tersedia untuk tempat lipase pancreas bekerja bertambah. Gumpalan lemak berapapun
ukurannya, terutama terdiri dari molekul trigliserida yang belum tercerna. Untuk
mencerna lema, lipase harus berkontak langsung dengan molekul trigliserida. Kerana
tidak larut dalam air, maka trigliserida cenderung menggumpal menjadi butir-btir
besar dalam lingkungan usus halus yang banyak mengandung air. Jika garam empedu
tidak mengemulsikan gumpalan besar lemak ini, maka lipase dapat bekerja hanya
pada permukaan gumpalan besar tersebut dan pencernaan lemak akan sangat lama.
Molekul garam empedu mengandung bagian yang larut lemak (suatu steroid
yang berasal dari koesterol) plus bagian yang larut air bermuatan negative. Garam
empedu terserap di permukaan butiran lemak yaitu bagian larut lemak garam empedu
larut dalam butiran lemak, meninggalkan bagian larut air yang bermuatan menonjol
dari permukaan butiran lemak tersebut. Lihat gambar 12.A. Gerakan mencampur oleh
usus memecah-mecah butiran lemak besar menjadi butiran butiran yang lebih kecil.
BUtiran-butiran kecil ini akan cepat bergabung kembali jika tidak ada garam empedu
yang terserap di oermukaannya dan menciptakan selubung muatan negative larut air
di permukaan setiap butiran kecil. Muatan yang sama akan saling tolak menolak,
shingga butiran lemak saling menjauh. Lihat Gambar 12 B. Daya tolak listrik ini
mencegah butir-butir kecil kembali bergabung membentuk gumpalan lemak besar
yang meningkatkan permukaa yang tersedia untuk kerja lipase.
Gambar 12. Struktur skematik dan fungsi garam empedu. (Sherwood, 2011).
2.3.2 Pembentukan Misel
Garam empedu bersama dengan kolesterol dan lesitin yang juga merupaka
konstituen empedu berperan penting dalam mempermudah penyerapan lemak melalui
pembentukan misel. Seperti garam empedu, lesitin memiliki bagian yang larut lemak
dan bagian yang larut air, sementara kolesterol hamper sama sekali tak larut air.
Dalam suatu, misel, garam empedu dan lesitin bergumpal dalam kelompok-kelompok
kecil dengan bagian larut lemak menyatu di bagian tengah membentuk inti
hidrofobik, sementara bagian larut air membentuk selubuh hidrofilik di sebelah luar.
Lihat gambar 13.

Gambar 13. Gambaran Skematik Sebuah Misel. (Sherwood, 2011).


Sebuah misel memilki garis tengah 4-7 nm, sekitar sepersejuta ukuran emulsi
butiran lemak. Misel, karena larut dalam air berkat selubung hidrofiliknya dapat
melarutkan bahan tak larut air di bagain tengahnya. Kaena itu, misel merupakan
wadah yang dapat digunakan untuk megangkut bahan-bahan tak larut ar melalui isi
lumen yang cair. Bahan larut lemak terpenting yang diangkut di dalam misel adalah
produk-produk pencernaan lemak (monogliserida dan asam lemak bebas) serta
vitamin larut lemakyang semuanya diangkut ke tempat penyerapannya dengan cara
ini. Jika tidak menumpang di dalam misel yang larut air ini, berbagai nutrient ini akan
menngapung di permukaan kimus (seperti minyak terapung di atas air) dan tidak
pernah mencapai permukaan absorbtif usus halus. (Sherwood, 2011).
Selain itu, kolesterol, suatu bahan yang sangat tidak larut air , larut dalam inti
hidrofobik misel. Mekanisme ini penting dalam homeostasis kolesterol. Jumlah
kolesterol yang dapat diangkut dalam bentuk misel bergantung pada jumlah relative
garam empedu dan lesitin dibandingkan dengan kolesterol. . (Sherwood, 2011).

2.5 Bilirubin

Bilirubin merupakan konstituen utama lainnya pada empedu, sama sekali tidak
berperan dalam pencernaan tetapi merupakan produk sisa yang diekskresikan di
dalam empedu. Bilirubin adalah pigmen empedu utama yang berasal dari penguraian
sel darah merah usang. Bilirubin adalah pigmen kuning yang menyebabkan empedu
berwarna kuning. Di dalam saluran cerna, pigmen ini dimodifikasi oleh enzim-enzim
bakteri, menghasilkan warna coklat tinja yang khas. Jika tidak terjadi sekresi bilirubin
seperti ketika duktus biliaris tersumbat, oleh batu empedu,tinja berwarna putih
keabuan. Dalam keadaan normal, sejumlah kecil bilirubin direabsorbsi oleh usus
kembali ke darah dan ketika kahirnya diekskresikan di urin, bilirubin ini berperan
besar menyebabkan warna kuning urin. . (Sherwood, 2011).
2.6 Pengaliran Cairan Empedu

Empedu diproduksi oleh sel hepatosit sebanyaj 500-1500 mL/hari. Di luar


waktu makan, empedu disimpan untuk sementara di dalam kandung empedu, dan
disini mengalami pemekatan sekitar 50%. Pengaliran cairan empedu diatur oleh tiga
faktor,yaitu sekresi empedu oleh hati, kontraksi kandung empedu, dan tahanan
sfingter oddi.Jika diukur dengan manometer, sfingter oddi berkontraksi secara
periodic dengan frekuensi 4x/menit dengan amplituso 12-14 mmHg (Sjamsuhidajat,
2017).

Dalam keadaan puasa, emepdu yang diproduksi akan dialih-alirkan ke dalam


kandung empedu. Setelah makan, kandung empedu berkobtraksi, sfingter berelaksasi,
dan empedu mengalir ke duodenum. Aliran tersebut sewaktu-waktu seperti
disemprotkan karena secara intermitten tekanan saluran empedu akan lebih tinggi
daripada tahanan sfingter (Sjamsuhidajat, 2017)
Kolesistokinin, hormone sel APUD dari mukosa usus halus, dikeluarkan atas
rangsangan makanan berlemak atau produk lipolitik di dalam usus halus
(Sjamsuhidajat, 2017). Ketika makanan berlemak masuk ke duodenum sekitar 30
menit setelah makan. Selain kolesistokinin, kandung empedu juga dirangsang kuat
oleh serat-serat saraf yang mensekresi asetilkolin dari sistem saraf vagus dan enterik.
Kandung empedu mengosongkan simpanan empedu pekatnya ke dalam duodenum
terutama sebagai respon terhadap perangsangan kolesistokinin. Saat lemak tidak
terdapat dalam makanan, pengosongan kandung empedu berlangsung buruk, tetapi
bila terdapat jumlah lemak yang adekuat dalam makanan, normalnya kandung
empedu kosong secara menyeluruh dalam waktu sekitar 1 jam (Sjamsuhidajat, 2017;
Townsend, 2012). Garam empedu, lesitin, dan kolesterol merupakan komponen
terbesar (90%) cairan empedu. Sisanya adalah bilirubin, asam lemak, dan garam
anorganik. Garam empedu adalah steroid yang dibuat oleh hepatosit dan berasal dari
kolesterol. Pengaturan produksinya dipengaruhi mekanisme umpan balik yang dapat
ditingkatkan sampai 20 kali produksi normal kalau diperlukan (Sjamsuhidayat, 2017).
DAFTAR PUSTAKA

Sherwood, L. 2011. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC.


Sjamsuhidajat,R., de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah: Sistem Organ dan tindak
bedahnya. Jakarta : EGC
Snell, RS. 2011. Anatomi klinik berdasarkan sistem. Jakarta: EGC.
Townsend, C., Sabiston, D.2012. Textbook of surgery. Philadelphia: Elsevier
Saunders.
Paulsen&Waschke. 2012. Sobotta: Atlas Anatomi Manusia. Jakarta : EGC.