You are on page 1of 20

TUGAS KELOMPOK PKPA

ANALISA PENGGUNAAN ANALGESIK di KLINIK BEDAH dan SYARAF

PRESEPTOR :

Dinar kusuma S. Farm., Apt

Rissa Purnata S. Farm., Apt

Disusun Oleh :

Muhammad Ali Muachor (165020098)

Fitri Ramadhani (165020132)

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG

2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Era modern ini yeri dinyatakan sebagai salah satu tanda vital.

Nyeri merupakan hal yang sering ditemui pada pasien akibat trauma,

setelah mengalami prosedur operasi, maupun dikarenakan penyakit yang

dideritanya1. Nyeri umumnya merupakan keluhan utama yang dirasakan

pasien saat ke dokter. Rasa nyeri dirasakan oleh setiap orang selama

hidupnya sebagai pengalaman bagaimana cara seseorang menghadapi

suatu nyeri. Nyeri merupakan hal yang umumnya dianggap oleh dokter

tidak lebih parah daripenyakit yang diderita pasiennya, namun pasien

menganggap nyeri yang terjadi padanya merupakan sesuatu yang

mengganggu yang lebih parah dari penyakitnya sehingga pasien menemui

seorang dokter karena perasaan nyeri.

Nyeri bukan merupakan sebuah penyakit namun, sebuah penunjuk

adanya gangguan jaringan. Nyeri terbagi menjadi beberapa macam : nyeri

ringan dan nyeri hebat. Faktor yang dapat menyebabkan nyeri tidak hanya

fisiologis saja, tetapi juga psikis misalnya pada emosi bisa menyebakan

nyeri pada kepala. Nyeri menjadi permasalahan umum pada kesehatan

masyarakat yang dapat diatasi dengan menggunakan obat analgesik.

Untuk mengatasi rasa nyeri ringan, dapat digunakan obat analgesik

non narkotik misalnya golongan NSAID. Obat golongan NSAID paling

mudah didapatkan karena dapat dibeli tanpa resep dokter, walaupun


penggunaan obat golongan NSAID harus sesuai aturan pakai yang

dianjurkan. Sedangkan penggunaan analgesik narkotik biasa digunakan

untuk nyeri hebat misalnya post operasi, kanker dimana untuk

mendapatkannya harus dengan resep dokter.

Untuk mengatasi rasa nyeri ringan, dapat digunakan obat analgesik

non narkotik misalnya golongan NSAID. Obat golongan NSAID paling

mudah didapatkan karena dapat dibeli tanpa resep dokter, walaupun

penggunaan obat golongan NSAID harus sesuai aturan pakai yang

dianjurkan. Sedangkan penggunaan analgesik narkotik biasa digunakan

untuk nyeri hebat misalnya post operasi, kanker dimana untuk

mendapatkannya harus dengan resep dokter.

Pilihan obat yang tepat dan urutan terapi yang optimal untuk nyeri

merupaka ahal yang penting. Adanya bukti keefektifan suatu obat untuk

terapi nyeri sangat diperlukan bagi tenaga kesehatan untuk mengetahui

obat yang paling efektif dalam mengurangi nyeri dan mempunyai efek

samping paling minimal (Najwa., 2016). Idealnya, bukti untuk pemilihan

obat dalam suatu algoritma didasarkan pada perbandingan langsung satu

obat dengan lainnya, baik mengenai efikasi dan efek sampingnya (Najwa,

2016)

Berdasarkan uraian di atas, ingin dilakukan analisa tentang

penggunaan analgetik di klinik syaraf dan bedah rawat jalan di RSUD RA

Kartini Jepara.
B. Tujuan

Untuk megetahui pola penggunaan analgetik di klinik syaraf dan bedah

rawat jalan RSUD RA Kartini Jepara

C. Manfaat

1. Sebagai bahan pertimbangan untuk perencanaan dan pengadaan obat

analgesik di RSUD Kartini Jepara

2. Sebagai informasi bagi masyarakat dan pembaca tentang obat yang

digunakan untuk meredakan nyeri

3. Sebagai tambahan pengetahuan khususnya bagi peneliti.


BAB II

DASAR TEORI

A. Nyeri
1. Definisi

Nyeri dapat didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan


emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan. Baik nyeri
akut maupun kronis merupakan fungsi pertahanan (survival function),
yaitu dengan cara mengarahkan tubuh untuk memberikan refleks dan sikap
protektif terhadap jaringan yang rusak sehingga sembuh (Ikawati,2011)

Penyebab rasa nyeri adalah rangsangan-rangsangan kimiawi,


mekanis, kalor dan listrik, yang dapat mengakibatkan kerusakan-kerusakan
pada jaringan dan melepaskan mediator-mediator nyeri. Mediator-
mediator penting yang terlibat pada proses terjadinya nyeri adalah
histamin, serotonin (5-HT), plasmakinin (antara lain bradikinin) dan
prostaglandin. Senyawa-senyawa ini kemudian akan merangsang reseptor
nyeri (nosiseptor) yang terletak pada ujung-ujung saraf bebas di kulit,
selaput lendir, dan jaringan-jaringan (organ-organ) lain (Tjay dan
Rahardja, 2012)

2. Mekanisme nyeri

Pada jaringan yang rusak membran pospolipid sel dengan katalisator

enzym pospolipase akan membentuk asam arachidonat. Dan selanjutnya

asam arachidonat ini dengan bantuan enzyme cyclooksigenase akan

membentuk substansi nyeri berupa prostaglandin (PGE-2,PGD-2, PGF-

PGI-2) (yang akan mempengaruhi reseptor prostaglandin yang terdapat

pada saraf sensoris perife dan medullaspinalis) dan thromboxane. Dan

ternyata Prostaglandin E-2 yang mempunyai peran utama pada mekanisme

nyeri inflamasi yang mendukung terjadinya aktivasi nosiseptor secara


langsung berupa sensitisasi pada neuron primer aferen. Dengan demikian

menghambat enzyme cyclo oksigenase ( COX-1 dan COX-2 ) dan

menghambat reseptor prostanoid adalah penting untuk mengurangi nyeri

inflamasi.

Gambar 1. Mekanisme Nyeri

3. Klasifikasi Nyeri

Berdasarkan durasinya, nyeri dibagi menjadi :

a. Nyeri akut

Nyeri akut adalah nyeri yang disebabkan oleh stimulus nosiseptif

karena perlakukan atau proses penyakit atau fungsi abnormal dari otot atau

visera. Biasanya nyeri ini mudah dideteksi, lokasinya jelas, dan sebatas

kerusakan jaringan. Sensasi nyeri akut akan segera hilang atau berkurang

jika penyebabnya dihilangkan. Namun terkadang dalam kasus-kasus

tertentu (operasi dan trauma) nyeri yang tidak diobati atau pengobatan
yang tidak adekuat dapat menyebabkan takikardi, takipnea, peningkatan

tekanan darah, dan penurunan kapasitas paru paru (Koda-Kimble dan

Young, 2012), sehingga hal tersebut akan mempengaruhi kenyamanan

penderita.

b. Nyeri kronis

Nyeri kronik adalah nyeri yang menetap lebih dari satu bulan atau

diatas waktu yang seharusnya perlukaan mengalami penyembuhan. Yang

termasuk nyeri kronik adalah nyeri persisten yaitu nyeri yang menetap

untuk waktu yang lama atau nyeri kambuhan yaitu nyeri yang kambuh

dengan interval tertentu. Sensasi nyeri berlangsung lebih dari 3 bulan.

Penyebab nyeri ini mungkin neurogenik, nociceptic, psikis, atau idiopatik.

Seringkali nyeri ini tetap dirasakan penderita meskipun penyebabnya

sudah dihilangkan. Nyeri kronis seringkali menyebabkan penurunan

kualitas hidup, keterbatasan fungsional, penurunan spiritual, psikologis,

dan kenyamanan juga 8 seringkali menimbulkan gangguan nafsu makan,

tidur, bahkan depresi. Penderita sering kali merasakan hidupnya tidak

bebas dari rasa sakitnya dan mungkin terus terjadi hingga meninggal

(Koda-Kimble dan Young, 2012)

B. Analgetik

1. Definisi

Analgetika atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang

mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.

Analgetik diberikan kepada penderita untuk mengurangi rasa nyeri yang


dapat ditimbulkan oleh berbagai rangsang mekanis, kimia, dan fisis yang

melampaui suatu nilai ambang tertentu (nilai ambang nyeri)

2. Pengolongan analgetik

Atas dasar kerja farmakologisnya, analgetika dibagi dalam dua

kelompok besar, yakni:

a. Analgetik narkotik

Senyawa-senyawa golongan ini memiliki daya analgetik yang kuat

sekali dengan titik kerja di susunan saraf pusat. Analgetik jenis ini

umumnya mengurangi kesadaran (sifat yang meredakan dan menidurkan)

dan menimbulkan perasaan nyaman (euforia), mengakibatkan toleransi

dan habituasi, ketergantungan fisik dan psikis dengan gejala-gejala

abstinensi bilapenggunaan dihentikan (Tjay dan Rahardja, 2012).

Berdasarkan mekanisme kerjanya, analgetika narkotik dapat digolongkan

menjadi tiga macam yaitu (Tjay dan Rahardja, 2012):

1) Agonis opiat, dapat menghilangkan rasa nyeri dengan cara mengikat

reseptor opioid pada sistem saraf. Contoh: morfin, kodein, heroin,

metadon, petidin, dan tramadol.

2) Antagonis opiat, bekerja dengan menduduki salah satu reseptor opioid

pada sistem saraf. Contoh: nalokson, nalorfin, pentazosin,

buprenorfin dan nalbufin.

3) Kombinasi, berkerja dengan mengikat reseptor opioid, tetapi tidak

mengaktivasi kerjanya dengan sempurna.


b. Analgetik Non-narkotik

Obat-obat ini sering disebut golongan obat analgetika-antipiretik

atau Non Steroidal Anti-Inflamatory Drugs (NSAID) juga dinamakan

analgetika perifer, karena tidak mempengaruhi susunan saraf pusat,

tidak menurunkan kesadaran, ataupun mengakibatkan ketagihan.

Semua analgetika perifer memiliki sifat antipiretik yaitu penurunan

panas pada kondisi demam. Sebagian besar efek samping dan efek

terapinya berdasarkan atas mekanisme penghambatan biosintesis

prostaglandin. Mekanisme kerjanya sebagai analgetik yaitu dengan

jalan menghambat secara langsung dan selektif enzimenzim yang

mengkatalisis biosintesis prostaglandin, seperti siklooksigenase (COX)

sehingga mampu mecegah stimulasi reseptor nyeri. Obat-obat

golongan analgetika yaitu :

1) Golongan salisilat : natrium salisilat, asetosal, salisilamid, dan

benorilat.

2).Turunan p-aminofenol : fenasetin dan parasetamol.

3). Golongan indoles : indometasin

4) Golongan fenamat : asam mefenamat, meclofenamat

5) Golongan Arylpropionic : ibuprofen

6).Turunan pirazolon : antipirin, aminofenol, dipiron, phenilbutazon

7) Turunan oxicam : piroxicam, meloxicam

8) Turunan acetic acid : diclofenac

9).Turunan antranilat : glafenin, asam difluminat


10) Golongan Coxib : Rofecoxib (gol furanon tersubstitusi diaril);

celecoxib (gol pirazol tersubstitusi diaril)

3. Terapi Penggunaan Analgetik menurut WHO

Gambar 2.1 WHO analgesic (pain relief) ladder (2013)


BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan analisis yang dilakukan, didapatkan data berupa nama pasien

dan jenis nalgetik yang digunakan dari tanggal 4 Desember sampai 7 Desember

2017 dimana tempat pengambilan data dilakukan di klinik syaraf dan bedah rawat

jalan RSUD RA Kartini Jepara. Dari data yang telah dikumpulkan selama 4 hari

didapat resep sebanyak 208 resep di klinik syaraf dan sebanyak 93 resep dari

klinik bedah.

1. Hasil analisis jumlah pasien yang menerima analgetik di RSUD RA kartini

di klinik syaraf rawat jalan

Tabel 3.1 distribusi pasien yang menerima analgetik di RSUD RA Kartini

Klinik syaraf rawat jalan

Jumlah pasien N Persentase (%)


Menerima analgetik 157 75
Tidak menerima analgetik 51 25

Jumlah 208 100

Tabel diatas menunjukkan hasil bahwa pasien yang menerima analgetik

sebanyak 157 pasien (75%) dan yang tidak menerima analgetik sebanyak 51

(25%). Hal tersebut menunjukkan pasien dengan keluhan nyeri neurologi

mendapatkan aterapi analgetik untuk mengurangi keluhan nyerinya

2. Hasil analisis jumlah pasien yang menerima analgetik di RSUD RA kartini

di klinik bedah rawat jalan


Tabel 3.2 distribusi pasien yang menerima analgetik di RSUD RA Kartini

Klinik syaraf rawat jalan

Jumlah pasien n Persentase (%)


Menerima analgetik 33 35
Tidak menerima analgetik 60 65

Jumlah 93 100

Tabel diatas menunjukkan bahwa pasien yang menerima analgetik

sebanyak 33 pasien (35%) dan yang tidak menerima analgetik sebanyak 60 (65%).

3. Distribusi penggunaan analgetik di klinik syaraf rawat jalan

Tabel 3.3 Distribusi penggunaan analgetik di klinik syaraf rawat jalan

Nama obat n Persentase


(%)
Parasetamol 11 5
Asam mefenamat 24 12
Meloxicam 7,5mg 23 11
Natrium diklofenac 50mg 50 24
Meloxicam + parasetamol 3 1
Tramadol+parasetamol 5 3
Meloxicam+parasetamol+tramadol 2 1
Natrium diklofenak+parasetamol+tramadol 18 9
Asam mefenamat+parasetamol+tramadol 16 8
Tidak menerima analgesik 51 25
Jumlah 208 100

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa analgetik tunggal yang sering

digunakan adalah natrium diklofenak 50 mg sebanyak 50 pasien (24%) menerima

terapi tersebut, kemudian asam mefenamat 24 pasien (12%), meloxicam 7,5 mg

23 pasien (11%) , parasetamol 11 pasien (5%). Untuk analgeik kombinasi yang

paling banyak diterima pasien adalah natium diklofenak+parasetamol+tramadol


sebanyak 18 pasien (9%), asam mefenamat+parasetamol+tramadol sebanyak 16

pasien (8%), tramadol+parasetamol 5 pasien (3%), natrium diklofenak +

parasetamol sebanyak 5 pasien (5%), meloxicam+parasetamol+tramadol 1 pasien

(1%), meloxicam+parasetamol 1 pasien (1%),. Data distribusi tersebut dapat

dilihat dlam bentuk grafik seperti di bawah ini:

Penggunaan Analgetik Di Klinik Syaraf


Rawat Jalan
30%
24%
25%
20%
15% 12% 11%
8% 9%
10% 5%
5% 2% 3%
1% 1%
0%

Nyeri neuropatik didefinisikan sebagai “nyeri yang timbul akibat cedera/

lesi yang mengenai sistem somatosensorik. Nyeri neuropatik dihubungkan dengan

kejadian depresi, kecemasan, dan gangguan tidur yang lebih tinggi. Nyeri

neuropatik dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi (sentral dan perifer), etiologi,

gejala, dan mekanisme. Nyeri neuropatik perifer dijumpai pada nyeri pasca herpes

dan nyeri neuropati diabetika. Nyeri neuropatik sentral ditemui pada nyeri pasca

cedera medulla spinalis dan nyeri sentral pasca-stroke.

Penatalaksanaan nyeri neuropatik sering tidak optimal. Hal ini terkait

dengan tidak adekuatnya diagnosis nyeri neuropatik dalam praktek klinik sehari-
hari Selain itu tatalaksana nyeri neuropatik berbeda dari nyeri nosiseptif. Pilihan

analgetika pun sangat berbeda. Obat antiinflamasi non steroid dan opioid

merupakan pilihan utama dalam tatalaksana nyeri nosiseptif, namun hanya

memiliki sedikit manfaat pada nyeri neuropatik.

Obat analgesik yang digunakan pada pasien di klinik syaraf rawat jalan baik

terapi awal atau lanjutan merupakan analgesik opioid dan non opioid secara

tunggal atau kombinasi kombinasi. Analgesik tunggal yang paling banyak

digunakan adalah natrium diklofenak 50mg sebanyak 24%. Diklofenak adalah

golongan obat NSAID dengan aktivitas antiinflamasi, analgesik dan antipiretik.

Aktivitas diklofenak dengan jalan menghambat enzim siklo-oksigenase sehingga

pembentukan prosteoglandin terhambat. Asam mefenamat juga digunakan sebagai

analgesik tunggal. Asam mefenamat digunakan sebagai analgetik sebesar 12%,

asam mefenamat digunakan sebagai analgetik dan anti-inflamasi, dapat

meredakan nyeri ringan sampai sedang. Asam mefenamat kurang efektif

dibandingkan dengan aspirin. Asam mefenamat terikat sangat kuat pada protein

plasma sehingga interaksi obat ini dengan antikoagulan harus diperhatikan.

Meloxicam digunakan sebagai analgetik sebanyak 11%, meloxicam adalah obat

antiinflamasi dan antirematik non steroid dari golongan asam enolat. Meloxicam

bekerja dengan cara menghambat biosentesa prostaglandin yang merupakan

mediator peradangan melalui penghambatan COX-2 sehingga terjadinya proses

peradangan dapat dihambat. Analgesik tunggal terakhir yang dgunakan di klinik

syaraf adalah parasetamol sebanyak 5%. Parasetamol merupakan derivat para-

aminofenol yang paling utama digunakan. Parasetamol memiliki sifat analgetik


dan antipiretik serta aktivitas anti-inflamasi yang lemah. Parasetamol digunakan

untuk menghilangkan nyeri ringan sampai sedang dan kondisi demam ringan.

Selain analgesik tunggal, analgesik kombinai jug digunakan di klinik syaraf.

Obat kombinasi analgesik yang paling banyak digunakan adalah natrium

diklofenak +parasetamol+tramadol sebanyak 9%. Resep kombinasi ini basanya

ditemukan pada pasien yang didiagnosa diabetes melitus. Nyeri pada pasien

diabetes merupakan nyeri neuropati diabetik. Nyeri diabetik adalah jenis

kerusakan syaraf yang terjadi karena penyakit diabetes. Kadar gula darah yang

tinggi dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan kerusakan pada

serabut di seluruh tbuh, seperti tungkai kaki, saluran kemih, saluran pencernaan,

peredaran darah, jantung. Pada profil penggunaan obat yang tertera dalam resep,

disertakan juga gabapentin. Beberapa penelitian mengatakan gabapentin

merupakan antikonvulsan analag GABA yang saat ini sering digunakan untuk

terapi nyeri neuropati karena efektivitasnya telah terbukti. Gabapentin menrunkan

arus pemasukan kalsium dengan cara berikatan pada L-type voltage-gated kanal

kalsium sehingga menghasilkan efek analgesik yang kuat pada terapi nyeri

diabetik neuropati (Najwa, 2016). Kombinasi gabapentin dengan NSAID lainnya

dimaksudkan untuk mengatasi nyeri muskuletal atau neuroartropati pada pasien

neuropati (PERDOSSI, 2011)


Distribusi penggunaan analgetik di klinik bedah rawat jalan

Tabel 3.4 Distribusi penggunaan analgetik di klinik bedah rawat jalan

Nama obat n Persentase (%)

Parasetamol+tramadol 24 26

Asam mefenamat 6 6

Natrium diklofenak 50mg 2 2

MST 10mg 1 1

Tidak menerima analgetik 60 65

Jumlah 93 100

Dari data di atas pasien yang menerima analgetik sebanyak 33 pasien

dengan penggunaan patral paling banyak yaitu 20 pasien(22%), kemudian

analtram sebanyak 4 pasien (4%), asam mefenamat sebanyak 6 pasien (6%),

natrium diklofenak 50 mg 2 pasien (2%), dan MST 10mg sebanyak 1 pasien saja

(1%). Berikut adalah data dalam bentuk grafiknya:


Penggunaan Analgetik Di Klinik Bedah
Rawat Jalan
30%
26%
25%

20%

15%

10%
6%
5% 2% 1%
0%
PCT+TRAMADOL ASMEF NADIC MST 10mg

Gambar 3.1 Penggunaan Analgetik di klinik bedah rawat jalan

Pada kilinik bedah yang paling banyak digunakan adalah analgesik

kombinasi yaitu kombinasi parasetamol+tramadol sebanyak 26%. Tramadol

merupakan obat analgetik opioid yang digunakan untuk meredakan nyeri

sedang sampai berat. Obat ini sering dikombinasikan dengan paracetamol

untuk meningkatkan efek analgetiknya. Tramadol bekerja dengan dua

mekanisme. Pertama, dengan mengikat secara stereospesifik reseptor µ-

opioid di sistem saraf pusat untuk mengeblok sensasi nyeri dan respon

terhadap nyeri (inflamasi). Kedua, menghambat pelepasan neurotransmitter,

serotonin dan norepinephrine dari sistem saraf aferen yang sensitif terhadap

rangsang yang berakibat terhambatnya impuls nyeri. yang dikenal juga

dengan nama acetaminophen adalah obat yang digunakan sebagai analgetic

(pereda nyeri) dan antipiretik (penurun demam) yang bisa diperoleh tanpa

resep dokter. Meskipun paracetamol memiliki efek anti inflamasi, obat ini

tidak dimasukkan sebagai obat NSAID, karena efek anti inflamasinya


dianggap tidak signifikan. Cara kerja paracetamol yang diketahui sekarang

adalah dengan cara menghambat kerja enzim cyclooxygenase (COX). Enzim

ini berperan pada pembentukan prostaglandin yaitu senyawa penyebab nyeri.

Dengan dihambatnya kerja enzim COX, maka jumlah prostaglandin pada

sistem saraf pusat menjadi berkurang sehingga respon tubuh terhadap nyeri

berkurang. Paracetamol menurunkan suhu tubuh dengan cara menurunkan

hipotalamus set-point di pusat pengendali suhu tubuh di otak (Nurmayanti,

2013)

Pola penggunaan analgesik pada pasien di rawat jalan klinik syaraf dan

bedah di RSUD RA Kartini Jepara secara umum telah sesuai dengan

pedoman terapi nyeri. Adanya perbedaan terapi pada beberapa pasien

dikarenakan nyeri merupakan multiple mechanism dan bersifat individua

pada setiap pasien sehingga diperlukan adanya kombinasi untuk mencapai

efek terapi.
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

1. Persentase penggunaan analgetik paling banyak di klnik syaraf

adalah natrium diklofenak 50 mg (24%) dan untuk klinik bedah

adalah kombinasi parasetamol+tramadol(22%)

B. SARAN

1. Perlu dilakukan analisa lebih lanjut tentang profil penggunaan

analgesik yang diterima pasien


DAFTAR PUSTAKA

Alldredge, B.K., Corelli, R.L., dan Ernst, M.E., 2012. Koda-Kimble and
Young’s Applied Therapeutics: The Clinical Use of Drugs. Lippincott
Williams & Wilkins.

Ikawati, Z.. 2011, Farmakoterapi Penyakit Sistem Syaraf Pusat, Bursa Ilmu,
Yogyakarta

Najwa. 2016. Studi Penggunaan Obat Analgesik Pada Pasien Diabetik


Neuropati Di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) Surabaya.
Fakultas Farmasi Airlangga. Surabaya

Nurmayanti, F. 2013. Profil Penggunaan Analgesik Dalam Menghilangkan

Nyeri Pasien Kanker Organ Reproduksi Wanita Di RSUP Fatmawati.

Program Studi Farmasi. UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta

Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI). 2011. Diagnostik

Dan Penatalaksanaan Nyeri Neuropatik. Airlangga Niversity Press

Tjay dan K .Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting. Jakarta; PT Elex Media


Komputindo.

Word Health Organization. 2013. WHO’s Pain Relief Ladder