You are on page 1of 55

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari lingkungan

hidup manusia. Luas kulit orang dewasa 1.5 m2 dengan berat kira-kira 15 % berat badan.

Kulit merupakan organ yang esensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan

kehidupan. Kulit juga sangat kompleks, elastis, dan sensitif, bervariasi pada keadaan iklim,

umur, seks, ras, dan juga bergantung pada lokasi tubuh. Warna kulit berbeda-beda, dari kulit

yang berwarna terang (fair skin ), pirang, dan hitam, warna merah muda pada telapak kaki

dan tangan bayi, serta warna hitam kecoklatan pada genitalia orang dewasa. Demikian pula

kulit bervariasi mengenai kelembutan, tipis, dan tebalnya. Kulit yang elastis dan longgar

terdapat pada palpebra, bibir, dan preputium, kulit yang tebal dan tegang terdapat di telapak

kaki dan tangan orang dewasa. Kulit yang tipis terdapat pada muka, yang lembut pada leher

dan badan, dan yang berambut kasar terdapat pada kepala (Djuanda, 2007).

Kulit dapat mudah dilihat dan diraba, hidup dan menjamin kelangsungan hidup. Kulit pun

menyokong penampilan dan kepribadian seseorang. Kulit melindungi tubuh dari bahan dan

pengaruh pencedera dengan cara menghalangi serangan mikroorganisme, membantu

pengaturan suhu tubuh dengan mengeluarkan keringat dan berbagai limbah katabolisme, dan

menjadi organ pengindera yang luas bagi tubuh untuk menerima rangsangan raba, suhu, dan

nyeri (Leeson, 1996).

Kulit manusia tidak bebas hama (steril), kulit steril hanya didapatkan pada waktu yang

sangat singkat setelah lahir. Bahwa kulit manusia tidak steril mudah dimengerti oleh karena

permukaan kulit mengandung banyak bahan makanan (nutrisi) untuk pertumbuhan

organisme, antara lain, lemak, bahan-bahan yang mengandung nitrogen, mineral, dan lain-

1
lain yang merupakan hasil tambahan proses keratinisasi atau yang merupakan hasil apendiks

kulit. Mengenai hubungannya dengan manusia, bakteri dapat bertindak sebagai parasit yang

menimbulkan penyakit, atau sebagai komensal yang merupakan flora normal

(Djuanda, 2007).

Berbagai jenis penyakit kulit mulai dipelajari secara sistematik setelah PLENCK (1776)

menulis bukunya yang berjudul System der Hautkrankheiten. Sampai kini pemikiran itu

masih dipakai sebagai dasar membuat diagnosis penyakit kulit secara klinis, walaupun

ditambah dengan segala kemajuan dibidang bakteriologi, mikologi, histopatologi, dan

imunologi. Ada banyak jenis penyakit kulit yang bisa ditemukan dan bisa disebabkan oleh

berbagai organisme baik itu virus, jamur, parasit, dan berbagai jenis alergi yang bisa

menyebabkan kelainan pada kulit. Salah satu penyakit kulit yang banyak terdapat

dimasyarakat adalah skabies yang merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi

parasit (Djuanda, 2007).

Skabies merupakan penyakit endemi pada banyak masyarakat. Penyakit ini dapat

mengenai semua ras dan golongan di seluruh dunia. Penyakit ini banyak dijumpai pada anak

dan orang dewasa muda, tetapi dapat juga mengenai semua umur. Insidensi sama pada pria

dan wanita ( Harahap, 2000 ).

Gejala klinis dari penyakit ini sudah diketahui selama lebih dari 2500 tahun yang lalu.

Penyakit ini pertama kali diuraikan oleh dokter Abumezan Abdel Malek bin zaher dengan

menggunakan istilah soab sebagai sesuatu yang hidup pada kulit dan menyebabkan gatal.

Pada tahun 1687 Giovan Cosino Bonomo menemukan kutu sakbis pertama kali sebagai little

bladder of water dari lesi skabies pada anak seorang perempuan miskin. Dan Von Hebra pada

abad XIX telah melukiskan tentang pengatahuan dasar dari penyakit ini.

(http://ojs.lib.unair.ac.id).

2
Menurut Departemen Kesehatan RI prevalensi skabies di puskesmas selurauh Indonesia

pada tahun 1986 adalah 4,6 % - 12,95 % dan skabies menduduki urutan ketiga dari 12

penyakit kulit tersering. Di bagian Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM pada tahun 1988,

dijumpai 704 kasus skabies yang merupakan 5,77 % dari seluruh kasus baru. Pada tahun 1989

dan 1990 prevalensi skabies adalah 6 % dan 3,9 % (http://www.litbang.depkes.go.id).

Meski sekarang sudah sangat jarang dan sulit ditemukan laporan terbaru tentang kasus

skabies diberbagai media di Indonesia (terlepas dari faktor penyebabnya), namun tak dapat

dipungkiri bahwa penyakit kulit ini masih merupakan salah satu penyakit yang sangat

mengganggu aktivitas hidup dan kerja sehari-hari. Di berbagai belahan dunia, laporan kasus

skabies masih sering ditemukan pada keadaan lingkungan yang padat penduduk, status

ekonomi rendah, tingkat pendidikan yang rendah dan kualitas higienis pribadi yang kurang

baik atau cenderung jelek. Rasa gatal yang ditimbulkannya terutama waktu malam hari,

secara tidak langsung juga ikut mengganggu kelangsungan hidup masyarakat terutama

tersitanya waktu untuk istirahat tidur, sehingga kegiatan yang akan dilakukannya disiang hari

juga ikut terganggu. Jika hal ini dibiarkan berlangsung lama, maka efisiensi dan efektifitas

kerja menjadi menurun yang akhirnya mengakibatkan menurunnya kualitas hidup masyarakat

(http://www.litbang.depkes.go.id).

Seperti yang telah disebutkan penyakit ini sering dijumpai pada tempat-tempat yang padat

penduduknya dengan keadaan higiene yang buruk, termasuk salah satu tempat tersebut adalah

di Pondok Pesantren.

Terlepas dari semua keuntungan yang bisa diperoleh dari sebuah Pondok pesantren, tak

lupa juga kita melihat beberapa kemungkinan buruk lain yang bisa terjadi dil ingkungan

Pondok pesantren. Salah satunya adalah terkait dengan masalah kesehatan misalnya kejadian

beberapa jenis penyakit kulit, hal ini dikarenakan keadaan asrama di pondok pesantren yang

masih kurang memenuhi kriteria sehat, misalnya dalam satu kamar masih dihuni oleh banyak

3
santri sehingga kemungkinan untuk tertular penyakit lebih besar, selain itu pula, perilaku

hidup bersih dan sehat terutama hygiene perseorangan di pondok pesantren pada umumnya

kurang mendapatkan perhatian dari santri. Hal tersebut dapat menyebabkan timbulnya

berbagai macam penyakit yang salah satunya termasuk penyakit scabies. Kemungkinan ini

juga karena kurangnya pengetahuan yang dimiliki oleh para santri, tentang tanda dan gejala

serta cara-cara penularan penyakit tersebut sehingga penanggulangan dan pencegahannyapun

menjadi kurang maksimal (Badri, 2008 ).

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian

ini adalah sebagai berikut : Faktor apa saja yang dapat mempengaruhi terjadinya skabies

di Pondok Pesantren Nurul Hakim Kediri Lombok Barat.

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.a. Tujuan umum

Untuk mengetahui Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya skabies di

Pondok Pesantren Nurul Hakim Kediri lombok Barat.

1.3.b. Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui kejadian skabies pada santri di Pondok Pesantren Nurul Hakim

2. Untuk mengetahui faktor yang berperan terhadap terjadinya skabies.

3. Untuk mengetahui faktor yang paling berperan terhadap terjadinya skabies dari

semua faktor yang telah disebutkan.

4
1.4. Manfaat Penelitian

1. Sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi Pemerintah Daerah dan Dinas

Kesehatan setempat agar lebih memperhatikan bahwasanya penderita skabies

sebagian besar santri di pondok pesantren belum memahami tentang skabies.

2. Merupakan bahan masukan pelaksanaan kegiatan penyuluhan kesehatan dan strategi

penanggulangan skabies oleh Pemerintah Daerah dan Dinas Kesehatan setempat serta

pihak-pihak terkait lainnya.

3. Merupakan laporan ilmiah untuk membantu memperkaya khasanah kepustakaan di

bidang disiplin ilmu kesehatan pribadi, masyarakat dan lingkungan.

4. Merupakan pengalaman berharga bagi penulis dalam upaya mengaplikasikan ilmu

yang diperoleh selama mengikuti pendidikan pada Fakultas Kedokteran Universtas

Mataram serta menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman.

5. Sebagai pengetahuan bagi santri-santri dan pengelola di pondok pesantren dalam

upaya pencegahan dini terhadap skabies.

5
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 . Definisi Skabies

2. 1. 1. Definisi

Skabies atau penyakit kudis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan

sensititasi terhadap Sarcoptes scabiei variates hominis ( Gandahusa, 2004 ). Pada tahun 1687,

Benomo menemukan kutu skabies pada manusia dan VonHebra pada abad XIX telah

melukiskan tentang pengetahuan dasar dari penyakit ini ( Harahap, 2000).

2. 1. 2. Epidemiologi dan Faktor Resiko

Skabies merupakan penyakit endemi pada banyak masyarakat. Penyakit ini dapat

mengenai semua ras dan golongan di seluruh dunia. Penyakit ini banyak dijumpai pada anak

dan orang dewasa muda, tetapi dapat juga mengenai semua umur. Insidensi sama pada pria

dan wanita ( Harahap, 2000 ).

Skabies ditemukan disemua negara dengan prevalensi yang bervariasi. Dibeberapa

negara yang sedang berkembang prevalensi skabies sekitar 6 % - 27 % populasi umum dan

cenderung tinggi pada anak-anak serta remaja. Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun

terjadi epidemi skabies. Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara

lain: sosial ekonomi yang rendah, higiene yang buruk, hubungan seksual yang sifatnya

promiskuitas, kesalahan diagnosis, dan perkembangan dermografik serta ekologik. Penyakit

ini dapat dimasukkan dalam PHS (Penyakit Hubungan Seksual)

(http://www.litbang.depkes.go.id).

6
Insidensi skabies di negara berkembang menunjukkan siklus fluktuasi yng sampai saat ini

belum dapat dijelaskan. Interval antara akhir dari suatu epidemi dan permulaan epidemi

berikutnya kurang lebih 10-15 tahun. Insidensinya di Indonesia masih cukup tinggi. Terendah

di Sulawesi Utara dan tertinggi di Jawa Barat. Amiruddin dkk, dalam penelitian skabies di

Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya, menemukan insidensi penderita skabies selama tahun

1983-1984 adalah 2,7 %. Abu A juga dalam penelitiannya di Rumah Sakit Umum Dodi

Ujung Pandang mendapat Insiden Skabies 0,67 % ( Harahap, 2000 ).

Menurut Departemen Kesehatan RI prevalensi skabies di puskesmas selurauh Indonesia

pada tahun 1986 adalah 4,6 % - 12,95 % dan skabies menduduki urutan ketiga dari 12

penyakit kulit tersering. Di bagian Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM pada tahun 1988,

dijumpai 704 kasus skabies yang merupakan 5,77 % dari seluruh kasus baru. Pada tahun 1989

dan 1990 prevalensi skabies adalah 6 % dan 3,9 % (http://www.litbang.depkes.go.id).

2. 1. 3. Etiologi

Penyakit ini disebabkan oleh Sarcoptes scabiei yang termasuk dalam filum Artropoda,

kelas Arachnida, ordo Ackarima, famili Sarcoptes scabiei varites hominis. Selain itu juga

terdapat sarcoptes scabiei yang lain, misalnya pada kambing dan babi (Djuanda, 2007 ).

Ensiklopedi wikipedia (2009) juga memaparkan secara detail tentang klasifikasi spesifik

tentang Sarcoptes scabiei yaitu :

Kingdom : Animali

Phylum : Arthropoda

Subphylum : Chelicerata

Class : Arachnida

Subclass : Acarina

7
Superorde : Acariformes

Order : Astigmata

Suborder : Psoroptidia

Superfamily : Sarcoptoidea

Family : Sarcoptidae

2. 1. 4. Morfologi

Gambar 1 : Sarcoptes scabiei pembesaran 10x10 Gambar 2 : Sacrcoptes scabiei


(Atlas Parasitologi Kedokteran, 2004) (Parasitologi Kedokteran Edisi
ketiga, 2004)
Secara morfologik Sarcoptes scabiei merupakan tungau kecil, yang berbentuk oval,

punggungnya cembung, dan bagian perutnya rata. Tungau ini translusen, berwarna putih

kotor, dan tidak bermata. Ukurannya yang betina berkisar antara 330-450 mikron x 250-350

mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200-240 mikron x 150-200 mikron. Bentuk

dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang didepan sebagai alat untuk melekat dan 2 pasang

kedua pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada jantan pasangan kaki ketiga

berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat (Djuanda, 2007).

Badan Sarcoptes scabiei juga berupa kapitulum anterodorsal, yang mempunyai empat

pasang kaki yang segmennya pendek. Untuk Sarcoptes scabiei yang jantan mempunyai

pasangan kaki pertama dan kedua yang ambulakra berguna untuk melekat, pasangan kaki

8
ketiga bulu cambuk, dan pasangan kaki keempat yang ambulakra. Sedangkan pada Sarcoptes

scabiei yang betina mempunyai pasangan kaki pertama dan kedua yang ambulakra, pasangan

kaki ketiga dan keempat ang berupa bulu cambuk (Priono, 2004).

2. 1. 5. Siklus Hidup

Untuk siklus hidupnya Sarcoptes scabiei adalah Setelah kopulasi (perkawinan ) yang

terjadi diatas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari

dalam terowongan yang digali oleh yang betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali

terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2-3 milimeter sehari dan sambil

meletakkan telurnya 2-4 butir sehari sampai mencapai 40 atau 50. bentuk betina yang dibuahi

ini dapat hidup sebulan lamanya. Telur akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan

menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan,

tetapi dapat juga keluar. Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai dua

bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya dari telur sampai

bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12 hari (Djuanda, 2007 ).

2. 1. 6. Patogenesis

Tungau hidup didalam terowongan ditempat predileksi, yaitu jari tangan, pergelangan

tangan bagian ventral, siku bagian luar, lipatan ketiak depan, umbilikus, daerah gluteus,

ekstremitas, genital eksterna pada laki-laki dan areola mammae pada perempuan. Pada bayi

dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki. Pada tempat predileksi dapat ditemukan

terowongan berwarna putih abu-abu dengan panjang yang bervariasi, rata-rata 1mm,

berbentuk lurus atau berkelok-kelok. Terowongan ini ditemukan bila belum terdapat infeksi

sekunder. Diujung terowongan dapat ditemukan vesikel atau papul kecil. Terowongan yang

berkelok-kelok umumnya ditemukan pada penderita kulit putih dan sangat jarang ditemukan

pada penderita indonesia ( Gandahusa, 2004 ).

9
2. 1. 7. Cara Penularan

Penyakit scabies dapat ditularkan melalui kontak langsung maupun kontak tak langsung.

Yang paling sering adalah kontak langsung dan erat atau dapat pula melalui alat-alat seperti

tempat tidur, handuk, dan pakaian. Bahkan penyakit ini dapat pula ditularkan melalui

hubungan seksual antara penderita dengan orang yang sehat. Di Amerika Serikat dilaporkan,

bahwa scabies dapat ditularkan melalui hubungan seksual meskipun bukan merupakan akibat

utama. Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kebersihan perseorangan dan lingkungan,

atau apabila banyak orang yang tinggal secara bersama-sama disatu tempat yang relative

sempit. Apabila tingkat kesadaran yang dimiliki oleh banyak kalangan masyarakat masih

cukup rendah, derajat keterlibatan penduduk dalam melayani kebutuhan akan kesehatan yang

masih kurang, kurangnya pemantauan kesehatan oleh pemerintah, faktor lingkungan terutama

masalah penyediaan air bersih, serta kegagalanpelaksanaan program kesehatan yang masih

sering kita jumpai, akan menambah panjang permasalahan kesehatan lingkungan yang telah

ada (Anonim, 2009)

Penularan skabies terjadi ketika orang-orang tidur bersama di satu tempat tidur yang sama

di lingkungan rumah tangga, sekolah-sekolah yang menyediakan fasilitas asrama dan

pemondokan, serta fasiltas-fasilitas kesehatan yang dipakai oleh masyarakat luas. Di Jerman

terjadi peningkatan insidensi, sebagai akibat kontak langsung maupun tak langsung seperti

tidur bersama. Faktor lainnya fasilitas umum yang dipakai secara bersama-sama di

lingkungan padat penduduk. Dibeberapa sekolah didapatkan kasus pruritus selama beberapa

bulan yang sebagian dari mereka telah mendapatkan pengobatan skabisid (Burkhart, 2008).

10
2. 1. 8. Gejala Klinik

Gambar 3 : Sarcoptes scabiei pada kulit dibagian pergelangan tangan

(http://www.homeopathyandmore.com/med_images)

Gambar 4 : Regio dorsum manus dan palmar manus, papula tersebar disela-sela jari dan
sepanjang pinggir jari.

( Atlas penyakit kulit dan kelamin, 2007 )

Mansjoer (2000) memaparkan Gejala-gejala klinik dari skabies untuk membantu menegakkan

diagnosia adalah dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardinal berikut :

1. Proritus nokturna ( gatal pada malam hari ) karena aktifitas tungau lebih tinggi pada suhu

yang lebih lembab dan panas.

11
2. Umumnya ditemukan pada sekelompok manusia, misalnya mengenai seluruh anggota

keluarga.

3. Adanya terowongan ( kunikulus ) pada tempat- tempat predileksi yang berwarna putih

atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau erkelok, rata-rata panjang 1cm, pada ujung

terowongan itu ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulit

menjadi polimorfi ( pustul, ekskoriasi, dll ). Tempat predileksi biasanya daerah dengan

stratum korneum tipis, yaitu sela-sela jari-jari tangan, pergelangan tangan bagian volar,

siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola mammae, dan lipat glutea, umbilikus,

bokong, genitalia eksterna, dan perut bagian bawah

4. Menemukan tungau merupakan hal yang paling diagnostik.

Pada pasien yang selalu menjag higiene, lesi yang timbul ya sedikit sehingga diagnosis

kadang kala sulit ditegakkan. Jika penyakit berlangsung lama, dapat timbul likenifikasi,

impetigo, furunkulosis.

2. 1. 9. Klasifikasi

Terdapat beberapa bentuk skabies atipik yang jarang ditemukan dan sulit dikenal,

sehingga dapat menimbulkan kesalahan diagnosis. Beberapa bentuk tersebut antara lain :

1. Skabies pada orang bersih (scabies of cultivated).

Bentuk ini ditandai dengan lesi berupa papul dan terowongan yang sedikit jumlahnya

sehingga sangat sukar ditemukan.

2. Skabies incognito.

Bentuk ini timbul pada scabies yang diobati dengan kortikosteroid sehingga gejala

dan tanda klinis membaik, tetapi tungau tetap ada dan penularan masih bisa terjadi.

Skabies incognito sering juga menunjukkan gejala klinis yang tidak biasa, distribusi

atipik, lesi luas dan mirip penyakit lain.

12
3. Skabies nodular

Pada bentuk ini lesi berupa nodus coklat kemerahan yang gatal. Nodus biasanya

terdapat didaerah tertutup, terutama pada genitalia laki-laki, inguinal dan aksila. Nodus

ini timbul sebagai reaksi hipersensetivitas terhadap tungau scabies. Pada nodus yang

berumur lebih dari satu bulan tungau jarang ditemukan. Nodus mungkin dapat menetap

selama beberapa bulan sampai satu tahun meskipun telah diberi pengobatan anti scabies

dan kortikosteroid.

4. Skabies yang ditularkan melalui hewan.

Di Amerika, sumber utama skabies adalah anjing. Kelainan ini berbeda dengan

skabies manusia yaitu tidak terdapat terowongan, tidak menyerang sela jari dan genitalia

eksterna. Lesi biasanya terdapat pada daerah dimana orang sering kontak/memeluk

binatang kesayangannya yaitu paha, perut, dada dan lengan. Masa inkubasi lebih pendek

dan transmisi lebih mudah. Kelainan ini bersifat sementara (4 – 8 minggu) dan dapat

sembuh sendiri karena S. scabiei var. binatang tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya

pada manusia.

5. Skabies Norwegia.

Skabies Norwegia atau skabies krustosa ditandai oleh lesi yang luas dengan krusta,

skuama generalisata dan hyperkeratosis yang tebal. Tempat predileksi biasanya kulit

kepala yang berambut, telinga bokong, siku, lutut, telapak tangan dan kaki yang dapat

disertai distrofi kuku. Berbeda dengan skabies biasa, rasa gatal pada penderita skabies

Norwegia tidak menonjol tetapi bentuk ini sangat menular karena jumlah tungau yang

menginfestasi sangat banyak (ribuan). Skabies Norwegia terjadi akibat defisiensi

imunologik sehingga sistem imun tubuh gagal membatasi proliferasi tungau dapat

berkembangbiak dengan mudah.

13
6. Skabies pada bayi dan anak.

Lesi skabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher,

telapak tangan, telapak kaki, dan sering terjadi infeksi sekunder berupa impetigo, ektima

sehingga terowongan jarang ditemukan. Pada bayi, lesi di muka.

7. Skabies terbaring ditempat tidur (bed ridden).

Penderita penyakit kronis dan orang tua yang terpaksa harus tinggal ditempat tidur

dapat menderita skabies yang lesinya terbatas (Anonim, 2009)

2. 1. 10. Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis dapat dilakukan beberapa cara yaitu dengan melakukan

anamnesis dan melihat gejala-gejala klinik yang khas dari penyakit ini. Sedangkan untuk

mendapat diagnosis pasti dapat dilakukan pemeriksaan untuk menemukan tungau Sarcoptes

scabiei dengan cara mencongkel atau mengeluarkan tungau dari kulit, kerokan kulit atau

biopsi (Gandahusa, 2004 ).

2. 1. 11. Diagnosis Banding

Skabies merupakan the great immitater , karena menyerupai banyak penyakit kuli dengan

keluhan gatal. Diagnosis bandingnya adalah prurigo, pedikulosis korporis, dermatitis, dan

lain sebagainya. Setiap dermatitis yang mengenai daerah areola, selain penyakit paget harus

dicurigai pula adanya skabies. Skabies krustosa dapat menyerupai drmatitis hiperkeratosis,

psoriasis, dan dermatitis kontak ( Harahap, 2000 ).

2. 1. 12. Pemeriksaan Penunjang

Seperti yang telah disebutkan bahwa untuk mendapat diagnosis pasti dari penyakit

skabies ini maka pemeriksa harus bisa menemukan tungau Sarcoptes scabiei maka dari itu

14
dapat dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang untuk menemukan tungau tersebut.

Pemeriksaan penunjang tersebut antara lain :

a. Pertama mencari terowongan, kemudian pada ujung dapat terlihat papul atau vesikel.

Mencongkel dengan jarum dan diletakkan diatas kaca objek, lalu tutup dengan kaca

penutup dan lihat dengan mikroskop cahaya.

b. Dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung diatas selembar kertas putih dan

dilihat dengan kaca pembesar.

c. Dengan membuat biopsi irisan. Caranya : jepit lesi dengan 2 jari kemudian bua irisan tipis

dengan pisau dan periksa dengan mikroskop cahaya.

d. Dengan biopsi eksisional dan periksa dengan pewarnaan HE. (Mansjoer, 2000 ).

2. 1. 13. Pengobatan

Syarat obat yang ideal untuk mengobati penyakit kulit skabies ini adalah efektif

terhadap semua stadium tungau, tidak menimbulkan iritasi dan tidak toksik, tidak berbau

atau kotor, tidak merusak atau mewarnai pakaian, mudah diperoleh, dan harganya murah.

Dan obat yang banyak digunakan untuk skabies ini adalah jenis obat topikal yaitu :

a. Belerang endap (sulfur presipitatum ) 4-20 % dalam bentuk salep atau krm. Pada bayi dan

orang dewasa sulfur presipitatum 5 % dalam minyak sangat aman dan efektif.

Kekurangannya adalah pemakaian tidak boleh kurang dari 3 hari karena tidak efektif

terhadap stadium telur, berbau, mengotpri pakaian, dan dapat menimbulkan iritasi.

b. Emulsi benzil-benzoat 20-25 % efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam

selama 3 kali. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi, dan kadang-kadang makin

gatal setelah dipakai.

c. Gama benzena heksaklorida ( gameksan ) 1% dalam bentuk krim atau losio, termasuk

obat pilihan karena efektif terhadap semua statium, mudah digunakan, dan jarang

memberi iritasi. Obat ini tidak dianjurkan pada anak dibawah 6 tahun dan wanita hamil

15
karena toksik terhadap susunan saraf pusat. Pemberiannya cukup sekali selama 8 jam.

Jika masih ada gejala, di ulangi seminggu kemudian.

d. Krotamiton 10 % dalam krim atau losio mempunyai dua efek sebagai antiskabies dan

antigatal. Harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra. Digunakan selama 2 malam

berturut-turut dan dibersihkan setelah 24 jam pemakaian terakhir.

e. Krim permetrin 5 % merupakan obat yang paling efektif dan aman karena sangat

mematikan untuk parasit S. Scabiei dan memiliki toksisitas rendah terhadap manusia

(Mansjoer (2000) dan Meinking (1995) ).

Gambar 5 . Evaluasi Infeksi Skabies ( http://en.wikipedia.org )

Infeksi hari ke 4 Infeksi hari ke 8 mulai Infeksi hari ke 12, Sembuh dan sehat
pengobatan
dalam pengobatan

2. 1. 14. Komplikasi

Bila skabies tidak diobati selama beberapa minggu atau bulan, dapat timbul dermatits

akibat garukan. Erupsi dapat berbentuk impetigo, ektima, selulitis, limfangitis, folikulitis, dan

furunkel. Dermatitis iritan dapat timbul kerana penggunaan preparat antiskabies yang

berlebihan, baik pada terapi awal atau dari pemakaian yang terlalu sering. Salep sulfur,

dengan konentrasi 15 % dapat menyebabkan dermatitis bila digunakan terus-menerus selama

beberapa hari pada kulit yang ipis. Benzilbenzoat juga dapat menyebabkan iritasi bila

digunakan 2x sehari dalam beberapa hari ( Harahap, 2000 ).

16
2. 1. 15. Prognosis

Dengan memperhatikan pemilihan obat dan cara pemakaian obat, syarat pengobatan,

dan menghilangkan faktor predisposisi, penyakit ini dapat diberantas dan memberi

prognosis yang lebih baik (Mansjoer, 2000).

2. 1. 16. Pencegahan

Tidak ada vaksin yang tersedia untuk skabies, juga tidak terbukti ada faktor-faktor risiko

yang bermakna dalam menyebabkan terjadinya skabies, Oleh karena itu, pencegahan secara

umum adalah fokus pada strategi untuk mencegah infeksi ulang. Semua keluarga dan orang

yang dekat harus ditangani pada saat yang sama dengan penderita skabies, meskipun belum

memperlihatkan adanya gejala yang sama. Pembersihan lingkungan harus terjadi secara

simultan, Untuk mengurangi resiko terkena infeksi. Karena keadaan lingkungan yang kurang

sehat dapat memudahkan penyebaran penyakit ini. Untuk itu dianjurkan untuk sering

mencuci beberapa perlengkapan dengan menggunakan air panas seperti pakaian, seprai, dan

handuk yang telah kontak dengan tungau penyebab skabies. Dalam membersihkan

lingkungan harus mencakup:

a. Membersihkan Ranjang dan kasur.

b. Membersihkan debu yang ada di lantai, dan karpet.

c. Mengepel permukaan lantai dan kamar mandi.

d. Membersihkan shower dan bak mandi setelah digunakan.

e. Menyetrika semua pakaian, handuk dan seprai sebelum digunakan (Herman, 2001).

17
2. 2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

2. 2. 1. Lingkungan

Lingkungan adalah suatu sistem kompleks yang berada diluar individu yang

memepengaruhi pertumbuhan dan perkembangan organisme. Setiap organisme, hidup dalam

ligkungannyanya masing-masing. Faktor-faktor yang ada dalam lingkungan selain

berinteraksi dengan organisme, juga berinteraksi sesama faktor tersebut, sehingga sulit untuk

memisahkan dan mengubahnya tanpa mempengaruhi bagian dari lingkungan itu. Lingkungan

merupakan ruang tiga dimensi, di dalam mana organisme merupakan salah satu bagiannya.

Interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya merupakan suatu proses yang wajar

dan terlaksana sejak manusia dilahirkan sampai ia meninggal dunia. Hal ini disebabkan

karena manusia memerlukan daya dukung unsur-unsur lingkunga untuk kelangsungan

hidupnya. Udara, air. Makanan, sandang, papan, dan seluruh kebutuhan manusia harus

diambil dari lingkungan hidupnya. Akan tetapi dalam proses interaksi manusia dengan

lingkungannya ini tidak selalu didapatkan keuntungan, kadang-kadang manusia mendapat

kerugian. Misalnya, seorang makan dan minum untuk menghilangkan lapar dan dahaga,

tetapi ia dapat menjadi sakit karenanya. Jumlah makanan dan minuman yang terlalu banyak

maupun terlalu sedikit dapat menimbulkan kelainan nutrisi. Begitu juga apabila makanan

ataupun minuman yang mengandung zat-zat berbahaya bagi kesehatan, berupa racun asli

yang berasal dari makanan ataupun akibat kontaminasi dengan mikroba patogen atau zat

kimia yang berbahaya, sehingga dapat terjadi keracunan atau penyakit. Hal ini merupakan

hubungan timbal balik antara aktivitas manusia dengan lingkungannya ( Slamet, 2004 ).

Sanitasi merupakan salah satu komponen dari kesehatan lingkungan, yaitu perilaku

yang disengaja untuk membudayakan hidup bersih untuk mencegah manusia bersentuhan

langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya, dengan harapan dapat

18
menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia. Dalam penerapannya di masyarakat, sanitasi

meliputi penyediaan air, pengelolaan limbah, pengelolaan sampah, kontrol vektor,

pencegahan dan pengontrolan pencemaran tanah, sanitasi makanan, serta pencemaran udara.

( Djamal, 2003 ).

Kesehatan manusia tidak lepas dari pengaruh lingkungan; makin ideal lingkungan

akan makin baik pula manusia yang hidup di dalamnya. Meskipun demikian tidak semua zat

yang ada di lingkungan mendukung kehidupan atau status kesehatan seseorang, beberapa di

antaranya apalagi jika kadarnya berlebihan dapat membahayakan.

(http. www.kalbe.co.id/cdk)

2. 2. 2. Sikap

Sikap atau yang dalam bahasa inggris disebut attitude adalah suatu cara bereaksi terhadap

suatu perangsang. Suatu kecenderungan untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap suatu

perangsang atau situasi yang dihadapi. Dalam beberapa hal, sikap merupakan penentu yang sangat

penting dalam tingkah laku manusia. Sebagai reaksi, maka sikap selalu berhubungan dengan dua

alternatif, yaitu senang (like) atau tidak senang (dislike), menurut dan melaksanakannya atau

menjauhi/menghindari sesuatu (Purwanto, 2007).

Setiap orang mempunyai sikap yang berbeda-beda terhadap suatu perangsang. Ini

disebabkan oleh berbagai faktor yang ada pada individu masing-masing seperti adanya perbedaan

dalam bakat, minat, pengalaman, pengetahuan, intensitas perasaan, dan juga situasi lingkungan.

Pengetahuan yang dimiliki seseorang sangat mempengaruhi sikap dan tindakannya (Purwanto,

2007).

2. 2. 3. Perilaku

Perilaku adalah tindakan atau perbuatan organisme yang dapat diamati dan bahkan

dapat dipelajari. Perilaku tidak sama dengan sikap. Sikap hanyalah sebagian dari perilaku

19
manusia. Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behaviour).

Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan faktor pendukung

atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas, disamping itu juga

diperlukan faktor dukungan (support) dari pihak lain.

Tingkat-tingkat praktek :

1. Persepsi (Perception)

Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan

diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama. Misalnya seorang ibu dapat

memilih makanan yang bergizi tinggi bagi anak balitanya.

2. Respon Terpimpin (Guided Respons)

Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh

adalah merupakan indikator praktek tingkat dua. Misalnya : seorang ibu dapat

memasak sayur dengan benar, mulai dari cara mencuci dan memotong-motongnya,

lamanya memasak, menutup pancinya, dan sebagainya.

3. Mekanisme (Mechanism)

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau

sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan maka ia sudah mencapai praktek tingkat tiga.

Misalnya seorang ibu yang sudah biasa mengimunisasikan bayi pada umur-umur

tertentu, tanpa menunggu perintah atau ajakan orang lain

4. Adaptasi (Adaptation)

Adaptasi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik.

Artinya tindakan itu sudah dimodifikasi sendiri tanpa mengurangi kebenaran

tindakannya tersebut. Misalnya ibu dapat memilih dan memasak makanan yang

bergizi tinggi berdasarkan bahan-bahan yang murah dan sederhana

(Notoatmodjo, 2003).

20
2. 2. 4. Pengetahuan

Pengetahuan adalah berasal dari kata “tahu” dan ini terjadi setelah melakukan

penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera dan

sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga

(Notoatmodjo, 1993).

Menurut Notoatmodjo (1993), pengetahuan yang mencakup dalam domain kognitif

mempunyai 6 tingkatan yaitu:

1. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.

Termasuk ke dalam pengetahuan tingkatan ini adalah mengingat kembali terhadap suatu

yang spesifik dan keseluruhan bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima.

2. Memahami (comprehension)

Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan obyek yang diketahui dan

menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

3. Aplikasi (Aplication)

Sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada

situasi dan kondisi sebenarnya.

4. Analisa (analysis)

Analisa adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke

dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam struktur organisasi tersebut dan masih

ada kaitannya satu sama lain.

21
5. Sintesis (syntesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan

bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru, atau dengan kata lain sistesis

adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada.

6. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu

materi obyek. Penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau

menggunakan kriteria yang telah ada.

Menurut Haditono (1994), faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang

adalah sebagai berikut:

1. Pendidikan

Pendidikan merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi tingkat pengtahuan

seseorang. Makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut menerima

informasi. Dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung untuk mendapatkan

informasi.

2. Usia

Dalam kehidupan masyarakat, peranan seseorang ditentukan oleh usianya. Anak kecil

dan remaja tidak memiliki peranan yang penting di dalam suatu lingkungan masyarakat,

melainkan usia seseorang yang sudah dalam kategori usia dewasa. Hal ini didasarkan

pada anggapan masyarakat bahwa usia dewasa akan mempunyai pikiran dan solusi yang

lebih baik dan masuk akal daripada seseorang dengan usia yang lebih muda. Ini terlihat

dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, sebagian besar peranan masyarakat

didominasi oleh usia dewasa (Sarwono, 1999).

22
Semakin tua, semakin bijaksana, semakin banyak informasi yang dijumpai dan

semakin banyak hal yang dikerjakan sehingga semakin menambah pengetahuannya.

Dikatakan juga semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan

lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat, seseorang

yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari orang yang belum dewasa. Hal ini sebagai

akibat pengalaman dan kematangan jiwanya (Haditono, 1994).

3. Pengalaman

Selain usia, faktor lain yang menyebabkan perbedaan pengetahuan antara responden

yang memilki pendidikan yang sama yaitu perbedaan pengalaman. (Haditono, 1994).

Aspek pengetahuan seseorang terkait dengan pengembangan kognitif. Ciri khasnya

terletak pada kemampuan orang memperoleh dan menggunakan bentuk-bentuk representasi

yang mewakili obyek-obyek yang dihadapi, apakah obyek tersebut berupa orang, benda, atau

kejadian/peristiwa. Obyek-obyek tersebut direpresentasikan dalam diri seseorang melalui

tanggapan, gagasan, atau lambang-lambang yang semuanya merupakan sesuatu yang bersifat

mental. Selanjutnya, gagasan dan tanggapan itu dituangkan dalam kata-kata yang

disampaikan kepada orang yang mendengarkan. Pengetahuan juga ditentukan oleh

kemampuan berbahasa seseorang, dimana bahasa tersebut digunakan untuk mengungkapkan

gagasan dan pikirannya. Semakin baik kemampuan berbahasa untuk mengungkapkan

gagasan dan pikiran tersebut, maka semakin baik kemampuannya menggunakan potensi

kognitif secara efisien dan efektif. Kemampuan berbahasa pun harus dikembangkan melalui

belajar dan dapat membentuk tingkat pengetahuan seseorang mengenai segala sesuatu dalam

lingkungannya (Wingkel, 1991).

23
3. 3. Definisi Santri

Santri merupakan unsur yang penting sekali dalam perkembangan sebuah pesantren

karena langkah pertama dalam tahap-tahap membangun pesantren adalah bahwa harus ada

murid yang datang untuk belajar dari seorang alim. Kalau murid itu sudah menetap di rumah

seorang alim, baru seorang alim itu bisa disebut kyai dan mulai membangun fasilitas yang

lebih lengkap untuk pondoknya (Madjid, 2009 ).

Santri biasanya terdiri dari dua kelompok, yaitu santri kalong dan santri mukim. Santri

kalong merupakan bagian santri yang tidak menetap dalam pondok tetapi pulang ke rumah

masing-masing sesudah selesai mengikuti suatu pelajaran di pesantren. Santri kalong

biasanya berasal dari daerah-daerah sekitar pesantren jadi tidak keberatan kalau sering pergi

pulang. Makna santri mukim ialah putera atau puteri yang menetap dalam pondok pesantren

dan biasanya berasal dari daerah jauh. Pada masa lalu, kesempatan untuk pergi dan menetap

di sebuah pesantren yang jauh merupakan suatu keistimewaan untuk santri karena dia harus

penuh cita-cita, memiliki keberanian yang cukup dan siap menghadapi sendiri tantangan yang

akan dialaminya di pesantren (Walsh, 2002).

Salah satu aspek kehidupan sehari-hari para santri adalah ketidakperluannya untuk

diawasi atau dikelola oleh para guru atau Pak Kyai. Tentu saja kadang terjadi kasus spesifik

di mana Pak Kyai perlu ikut campur, tetapi pada umumnya kedisiplinan para santri di sangat

tinggi sehingga sehingga setiap santri tidak perlu diperintah untuk mengerjakan sesuatu yang

seharusnya dia sudah kerjakan. Bahwasanya, ada dua alasan bagi para santri untuk mengelola

sendiri kegiatan sehari-harinya. Pertama, peraturan-peraturan pondok dan jadwal sehari-hari

yang sangat ketat yang berarti santri cuma tinggal ikut kegiatan-kegiatan yang dimasukkan

jadwal untuk hari tertentu. Maka tidak susah untuk dikelola (Anonim, 2009).

24
2. 4. Definisi Pondok Pesantren

Definisi singkat istilah ‘pondok’ adalah tempat sederhana yang merupakan tempat

tinggal kyai bersama para santrinya. Di Jawa, besarnya pondok tergantung pada jumlah

santrinya. Adanya pondok yang sangat kecil dengan jumlah santri kurang dari seratus sampai

pondok yang memiliki tanah yang luas dengan jumlah santri lebih dari tiga ribu. Tanpa

memperhatikan berapa jumlah santri, asrama santri wanita selalu dipisahkan dengan asrama

santri laki-laki (Walsh, 2002 ).

Pondok Pesantren adalah salah satu pendidikan islam di indonesia yang mempunyai

ciri khas tersendiri. Definisi pesantren sendiri mempunyai pengertian yang bervariasi, tetapi

pada hakekatnya mengandung pengertian yang sama. Perkataan Pesantren berasal dari bahasa

sansekerta yang memperoleh wujud dan pengertian tersendiri dalam bahasa indonesia. Asal

kata san berarti orang baik ( laki-laki ) disambung tra berarti suka menolong. Pesantren

berarti tempat untuk membina manusia menjadi orang baik (Madjid, 2009).

Secara umum pondok pesantren memiliki beberapa komponen yaitu, seorang kiai yang

merupakan suatu hal yang mutlak bagi sebuah pesantren, sebab dia adalah tokoh sentral yang

memberikan pengajaran juga karena kiai menjadi salah satu unsur yang paling dominan

dalam kehidupan suatu pesantren. Kemudian santri yang merupakan unsur pokok dari suatu

pesantren biasanya terdiri dari dua kelompok yaitu santri yang menetap dalam pesantren dan

santri yang hanya belajar tetapi tidak menetap dalam pesantren. Selanjutnya terdapat pondok

yang merupakan tempat tinggal kiai dan para santrinya dan masjid sebagai pusat kegiatan

ibadah dan belajar mengajar. Unsur lain yang cukup membedakan pesantren dengan lembaga

lainnya adalah bahwa pada pesantren diajarkan kitab-kitab islam klasik yang sekarang

terkenal dengan sebutan kitab kuning (Walsh, 2002).

25
Komplek sebuah pesantren memiliki gedung-gedung selain dari asrama santri dan rumah

kyai, termasuk perumahan ustad, gedung madrasah, lapangan olahraga, kantin, koperasi,

lahan pertanian dan/atau lahan pertenakan. Kadang-kadang bangunan pondok didirikan

sendiri oleh kyai dan kadang-kadang oleh penduduk desa yang bekerja sama untuk

mengumpulkan dana yang dibutuhkan. Salah satu niat pondok selain dari yang dimaksudkan

sebagai tempat asrama para santri adalah sebagai tempat latihan bagi santri untuk

mengembangkan ketrampilan kemandiriannya agar mereka siap hidup mandiri dalam

masyarakat sesudah tamat dari pesantren. Santri harus memasak sendiri, mencuci pakaian

sendiri dan diberi tugas seperti memelihara lingkungan pondok (Anonim, 2009).

Pendidikan pesantren merupakan pendidikan tertua di Indonesia, hingga saat ini model

pendidikan pesantren masih bertahan di tengah-tengah modernisasi pendidikan diluar

pesantren itu sendiri. Kemampuan pesantren dalam mengembangkan diri dan masyarakat

sekitarnya dikarenakan adanya potensi yang dinilai oleh pondok pesantren itu sendiri

misalnya karena Pondok pesantren hidup selama 24 jam, dengan pola 24 jam tersebut, ponok

pesantren baik sebagai lembaga pendidikan keagamaan, sosial masyarakat, atau sebagai

lembaga pengembangan potensi umat dapat diterapkan secara tuntas, optimal, dan terpadu,

sehingga kecenrdungan masyarakat untuk menyekolahkan anaknya ke pondok pesantren

memang didasari oleh kepercayaan mereka terhadap pembinaan yang dilakukan oleh pondok

pesantren terhadap pendidikan agama bisa lebih maksimal (http://ibda.files.wordpress.com).

26
27

2.5 Kerangka Konsep

Pengetahuan Sikap Keterampilan

Sarcoptes Perilaku
scabiei

Santri Sehat Santri dengan


skabies

Lingkungan

Fisik Biologis Sosial

Keterangan :

: Diteliti

: Tidak diteliti

27
BAB 3

METODOLOGI PENELITI

3. 1. Desain Penelitian

Dilihat dari cara analisa datanya, maka jenis penelitian ini adalah termasuk penelitian

Deskriptif karena pada penelitian ini bertujuan untuk mencari dan mendiskripsikan

faktor- faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya skabies pada santri itu sendiri. Pada

penelitian ini akan mendeskripsikan dan memberi gambaran terhadap obyek yang diteliti

melalui data sampel atau populasi dengan melakukan analisa terlebih dahulu terhadap

data-data yang sudah dikumpulkan.

Kemudian jika dilihat dari waktu penelitiannnya, maka penelitian ini termasuk studi

Cross sectional karena dalam mempelajari hubungan antara variabel-variabel yang

termasuk dalam tingkat pengetahuan dengan variabel efek ( terjadinya penyakit skabies )

diobservasi sekaligus pada waktu yang sama.

3.2. Tempat dan Waktu

Penelitian ini akan dilaksanakan di Pondok Pesantren Nurul Hakim Kediri Lombok

Barat. Waktu penelitian adalah dari bulan Juni 2010 – Februari 2011.

Adapun jadwal penelitian sebagai berikut :

No Uraian Juni Juli Agus Septem Nopem Desem Janu Febru


tus ber ber ber ari ari
1. Penyusunan Proposal X X X
dan konsultasi
2. Perlengkapan X
Administrasi dan
Perizinan

28
3. Uji Kuesioner X
4. Pengumpulan Data X
5. Pengolahan Data X X
6. Penulisan Laporan X X

3.3. Populasi dan Sampel

3. 3. I Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh santri yang pernah dan sedang menderita

skabies berdasarkan data kunjungan santri ke klinik Ibnu Sina di Pondok –Pesantren Nurul

Hakim dari tahun 2008-2010. Adapun jumlah pada tahun 2008 sebanyak 69 orang, tahun

2009 sebanyak 74 orang, tahun 2010 sebanyak 95 orang, jadi jumlah seluruhnya 238 orang.

3. 3. I Sampel

1. Perkiraan Jumlah Sampel

Karena jumlah populasi lebih kecil dari 10.000 maka besar sampel dihitung

menggunakan rumus ( Notoatmodjo,2002 ):

N
n
1  N (d )2

238
n= 2
1+238 (0,1 )

n = 70, 4 peneliti membulatkan menjadi 70

Keterangan :

N = Besar populasi

n = Besar sampel

d = Tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan, peneliti menggunakan 0,1.

29
Jadi besar sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 70 orang.

2. Teknik Sampling

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah pengambilan sampel secara acak

sistemis ( Systematic sampling ). Teknik ini merupakan modifikasi dari sampel random

sampling. caranya adalah, membagi jumlah atau anggota populasi dengan perkiraan

jumlah sampel yang diinginkan. Hasilnya adalah interval sampel. Pada penelitian ini

interval sampelnya adalah 238 : 70 = 3,4 dibulatkan menjadi 3. Maka anggota populasi

yang terkena sampel adalah setiap orang yang mempunyai nomor kelipatan 3, yakni 3,

6, 9, 12, dan seterusnya sampai mencapai jumlah 70 anggota sampel.( Notoatmodjo,

2002 ).

3.4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi

3.4.1. Kriteria Inklusi

Yang termasuk kriteria inklusi adalah :

a. Tercatat sebagai santri dan santriwati Pondok Pesantren Nurul Hakim Kediri

Lombok Barat.

b. Santri/Santriwati pernah atau saat ini sedang menderita penyakit kulit skabies

c. Santri/ Santriwati hadir pada saat penelitian dilakukan

d. Santri/ Santriwati tersebut bersedia mengisi kuesioner yang diberikan.

3.4.2.Kriteria Eksklusi

Kriteria Eksklusi adalah semua yang tidak termasuk dalan kriteria Inklusi diatas.

3.5. Definisi Operasional

a. Pengetahuan tentang penyakit skabies adalah segala sesuatu yang diketahui

responden dalam usaha pencegahan dan pengobatan penyakit skabies. Meliputi

30
pengertian penyakit skabies, cara penularan baik langsung maupun tidak

langsung, masa inkubasi kuman skabies, gejala-gejala penyakit skabies, daerah

yang paling sering terkena, dan cara-cara pencegahan agar tidak tertular. Untuk

tingkat pengetahuan dikelompokkan menjadi tiga kategori dengan metode skoring

(Nursalam, 2003) yaitu :

1. Pengetahuan Baik : mampu menjawab benar pertanyaan 81-100%

2. Pengetahuan Cukup : mampu menjawab benar pertanyaan 61-80%

3. Pengetahuan Kurang : mampu menjawab benar pertanyaan < 60%

b. Sikap tentang skabies adalah pandangan, pendapat responden dalam upaya

pencegahan penyakit skabies di pondok pesantren meliputi sikap responden

tentang pentingnya kebersihan diri, sikap responden memutus cara penularan baik

langsung maupun tidak langsung dengan meminjamkan pakaian, perlengkapan

tidur kepada teman, dan sikap responden agar tidak tertular. Untuk sikap

menggunakan dua kriteria ( Andayani, 2005 ) yaitu:

1. Sikap Positif

2. Sikap Negatif

c. Perilaku tentang skabies adalah tindakan santri dalam usaha pencegahan penyakit

skabies. ( Andayani, 2005 )

d. Lingkungan yang berkaitan dengan skabies adalah keadaan disekitar tempat

tinggal santri yang dapat mempengaruhi terjadinya skabies. Lingkungan tersebut

meliputi sanitasi gedung, sanitasi kamar mandi, sanitasi hunian kamar, dan

ketersediaan air bersih. Untuk menggambarkan keadaan lingkungan menggunakan

dua kriteria ( Ma’rufi, 2005 ) yaitu ;

1. Lingkungan Baik

2. Lingkungan Buruk

31
e. Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi

terhadap Sarcoptes scabiei varietas hominis dan produknya. (Djuanda et al, 2007).

3.6. Cara Kerja

Langkah –langkah kerja yang dilaksanakan pada penelitian ini meliputi :

1. Menyusun proposal

2. Melengkapi kebutuhan Administrasi, Ethical Clearence, dan Uji contoh

Kuesioner.

3. Mengumpulkan data yang diperoleh dengan memberikan kuesioner pada

santri untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya skabies.

4. Mengolah data yang diperoleh.

5. Menganalisa data yang diperoleh dengan sistem SPSS

3.7. Identifikasi Variabel

3. 7. 1. Variabel Bebas

Yang merupakan Variabel bebas dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan

santri tentang skabies dan sikap serta perilaku para santri dalam kesehariannya di

Pondok Pesantren tersebut.

3. 7. 2. Variabel Tergantung

Variabel tergantung adalah kejadian skabies pada santri

3.8. Instrumen dan Prosedur Penelitian

Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai alat untuk mengumpulkan data.

Santri yang menjadi responden dalam penelitian ini masing-masing diberikan

32
kuesioner yang akan diisi, dengan sebelumnya diberikan pengarahan dan petunjuk

mengenai cara pengisian kuesioner tersebut. Jenis kuesioner yang digunakan dalam

penelitian ini adalah kuesioner yang bersifat tertutup. Pada kuesioner ini terdiri dari

terdiri dari lima bagian pertanyaan yaitu pengantar, karakteristik responden,

pengetahuan, sikap, keadaan lingkungan. Pada kuesioner ini akan dilakukan uji

validitas dan uji reabilitas pada beberapa santri lain yang tidak termasuk sampel lain,

hal ini disebabkan karena sampel yang pernah digunakan sebagai uji validitas tidak

boleh digunakan lagi menjadi sampel untuk penelitian.

3.9. Manajemen dan Analisis Data

Metode analisa yang akan digunakan adalah analisis deskriptif berupa nilai rerata

yang digunakan untuk menjelaskan karakteristik santri yaitu tingkat pengetahuan

terhadap skabies. Tingkat pengetahuan responden dijabarkan sesuai dengan

pertanyaan yang terdapat pada kuesioner. Data hasil penelitian ini disajikan dalam

bentuk tabel.

Pengolahan data responden dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Pengolahan data tingkat pengetahuan responden terhadap skabies diolah secara

deskriptif dan dikelompokkan menjadi tiga kategori dengan metode skoring.

( Nursalam, 2003 ) yaitu :

1. Pengetahuan Baik : mampu menjawab benar pertanyaan 81-100%.

2. Pengetahuan Cukup : mampu menjawab benar pertanyaan 61-80%

3. Pengetahuan Kurang : mampu menjawab benar pertanyaan < 60%

2. Skala sikap (attitude scales) berupa kumpulan pernyataan-pernyataan mengenai

suatu objek sikap (Saifuddin, 2003). Data sikap responden terhadap penyakit skabies

diolah secara deskriptif dan dikategorikan menjadi dua yaitu positif dan negatif

33
dengan perhitungan skor menggunakan rumus:

 x x
T = 50 + 10  

 SD 

Keterangan:

x : Skor Responden

x : Nilai rata-rata responden (mean)

SD : Standar Deviasi

Sikap dikatakan positif bila skor : T > 50

Sikap dikatakan negatif bila skor : T < 50

3.Pengolahan data mengenai keadaan lingkungan yang terkait dengan beberapa

parameter yang dapat mempengaruhi terjadinya skabies adalah dengan menggunkan

dua kriteria (Ma’rufi, 2005 ) yaitu :

1. Keadaan Lingkungan Baik : menjawab ya ≥ 50 %

2. Keadaan Lingkungan Buruk : menjawab ya < 50%

Keterangan : pilihan jawaban “ya” menggambarkan keadaan lingkungan yang

buruk.

3. 10 Analisis data

Metode analisis yang akan digunakan adalah analisis deskriptif berupa nilai rerata

yang digunakan untuk mengetahui pengetahuan, sikap dan prilaku santri tentang

penyakit skabies. Sikap responden dijabarkan sesuai dengan pertanyaan yang terdapat

pada kuesioner. Data hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisa

dengan uji statistik menggunakan uji Chi-Square dengan bantuan SPSS 15.0

34
BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Uji Instrumen Penelitian

Penelitian ini diawali dengan uji instrumen penelitian. Instrumen yang digunakan

dalam penelitian ini adalah kuoesioner. Uji kuesioner ini terdiri dari uji validitas dan uji

reliabilitas. Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur tersebut benar-benar

mengukur apa yang diukur. Reliabilitas adalah suatu indeks yang menunjukkan sejauh mana

suatu alat ukur dapat dipercaya atau diandalkan. Hal ini menunjukkan sejauh mana hasil

pengukuran itu tetap konsisten bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap hal

yang sama dengan menggunakan alat ukur yang sama.

Uji validitas bertujuan untuk mengetahui sejauh mana suatu ukuran atau nilai

menunjukkan tingkat kehandalan atau kesahihan suatu alat ukur dengan cara mengukur

korelasi antara variabel atau item dengan sskor total variabel. Jika nilai r hitung > r tabel.

Maka dinyatakan valid, sedangkan jika r hitung < r tabel, maka dinyatakan tidak valid. Dalam

penelitian ini, uji validitas kuesioner dilakukan pada 20 orang responden yang memiliki

kriteria yang sama dengan sampel penelitian.

Kuesioner dalam penelitian ini terdiri dari variabel pengetahuan, sikap, dan

lingkungan. Variabel pengetahuan terdiri atas 16 pertanyaan, hasil pengujian variabel

pengetahuan didapatkan hasil r hitung untuk 16 pertanyaan masing-masing 0,451; 0,464;

0,468; 0,525; 0,504; 0,496; 0,468; 0,531, 0,497; 0,553; 0,675; 0,468; 0,482; 0,470; 0,717;

0,610 dan r tabelnya yaitu 0,423.. Variabel sikap terdiri atas 10 pertanyaan, hasil pengujian

variabel sikap didapatkan hasil r hitung untuk 10 pertanyaan masing-masing 0,447; 0,587;

0,443; 0,468; 0,771; 0,508; 0,508; 0,714; 0,529; 0,518 dan r tabelnya yaitu 0,423. Variabel

35
lingkungan terdiri atas 10 pertanyaan, hasil pengujian variabel lingkungan didapatkan hasil r

hitung untuk 10 pertanyaan masing-masing 0,456; 0,530; 0,530; 0,474; 0,432; 0,441; 0,485;

0,530; 0,485; 0,594 dan r tabelnya yaitu 0,423. Dari data tersebut terlihat bahwa r hitung > r

tabel. Sehingga dapt dikatakan bahwa kuesioner untuk variabel pengetahuan, sikap, dan

lingkungan dinyatakan valid.

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1 Karakteristik Responden


Tabel 4. 1 Distribusi Responden Berdasarkan Usia

No Kelompok Usia (tahun) Frekuensi Persentase (%)


1 12-13 30 42,9
2 14-15 21 30,0
3 >15 19 27,1
Jumlah 70 100

Berdasarkan tabel 4. 1 , responden terbanyak berasal dari kelompok usia 12-13

tahun yaitu 30 orang ( 42,9% ), selanjutnya diikuti oleh kelompok usia 14-15 tahun

yaitu 21 orang ( 30% ), dan yang terakhir adalah kelompok usia > 15 tahun yaitu

sebanyak 19 orang ( 27,1%).

Tabel 4. 2 Distribusi Responden Bedasarkan Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)


1 L 35 50
2 P 35 50
Jumlah 70 100

Berdasarkan tabel 4. 2, distribusi responden berdasarkan jenis kelamin adalah untuk

jenis kelamin laki-laki terdapat 35 orang ( 50% ) dan untuk jenis kelamin perempuan

juga terdapat 35 orang ( 50% ).

36
4.2.2 Penyebaran Responden Berdasarkan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Terjadinya Skabies

Tabel 4.3 Penyebaran Responden Berdasarkan Pengetahuan yang Mempengaruhi

Terjadinya Skabies

No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)


1 Baik 3 4,3
2 Cukup 29 41,4
3 Kurang 38 54,3
Jumlah 70 100

Berdasarkan tabel 4. 3, responden yang mempunyai pengetahuan yang baik adalah

sebanyak 3 orang ( 4,3% ), sedang yang mempunyai pengetahuan yang cukup adalah

sebanyak 29 orang ( 41,4% ), dan yang mempunyai pengetahuan yang kurang adalah

sebanyak 38 orang ( 54,3% ).

Tabel 4. 4 Penyebaran Responden Berdasarkan Sikap yang Mempengaruhi Terjadinya

Skabies

No Sikap Frekuensi Persentase (%)


1 Positif 41 58,6
2 Negatif 29 41,4
Jumlah 70 100

Berdasarkan tabel 4. 4 , responden yang mempunyai sikap yang positif adalah

sebanyak 41 orang ( 58,6% ), sedangkan responden yang mempunyai sikap yang

negatif adalah 29 orang ( 41,4% ).

Tabel 4. 5 Penyebaran Responden Berdasarkan Lingkungan yang Mempengaruhi

Terjadinya Skabies

37
No Lingkungan Frekuensi Persentase (%)
1 Baik 24 34,3
2 Buruk 46 65,7
Jumlah 70 100

Berdasarkan tabel 4.5 , responden yang tinggal pada lingkungan yang baik adalah

sebanyak 24 orang ( 34,3% ) dan responden yang tinggal pada lingkungan yang buruk

adalah sebanyak 46 orang ( 65,7% ).

4.2.3 Penyebaran Responden Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin Terhadap

Pengetahuan, Sikap, dan Lingkungan yang Memepengaruhi Terjadinya Skabies

Tabel 4. 6 Peyebaran Responden Berdasarkan Umur Terhadap Pengetahuan

No Umur Pengetahuan Total


(tahun) Baik Cukup Kurang
n % n % n % n %
1 12-13 0 0 7 10 23 33 30 43
2 14-15 1 1 12 17 8 11 21 30
3 >15 2 3 10 14 7 10 19 27
Total 3 4 29 41 38 54 70 100

Berdasarkan tabel 4.6 , responden pada kelompok usia 12-13 tahun yang

mempunyai pengetahuan yang baik adalah 0, pengetahuan yang cukup sebanyak 7

orang ( 10% ), dan pengetahuan yang kurang adalah sebanyak 23 orang ( 33% ).

Untuk kelompok usia 14-15 tahun dengan pengetahuan yang baik adalah 1 orang

( 1% ), pengetahuan yang cukup sebanyak 12 orang ( 17% ), dan pengetahuan yang

kurang adalah sebanyak 8 orang ( 11% ). Dan untuk kelompok usia >15 tahun dengan

pengetahuan yang baik adalah sebanyak 2 orang ( 3% ), pengetahuan yang cukup

sebanyak 10 orang ( 14% ), dan pengetahuan yang kurang sebanyak 7 orang ( 10% ).

38
Tabel 4. 7 Penyebaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Terhadap Pengetahuan

No Jenis Pengetahuan Total


Kelamin Baik Cukup Kurang
n % n % n % n %
1 L 1 1 16 23 18 28 35 50
2 P 2 3 13 19 20 29 35 50
Total 3 4 29 42 38 54 70 100

Berdasarkan tabel 4. 7, responden yang berjenis kelamin laki-laki dengan

pengetahuan yang baik yaitu 1 orang ( 1% ), dengan pengetahuan yang cukup

sebanyak 16 orang ( 23% ), dan dengan pengetahuan yang kurang sebanyak 18 orang

( 28% ). Untuk responden yang berjenis kelamin wanita, yang mempunyai

pengetahuan yang baik yaitu sebanyak 2 orang ( 3% ), dengan pengetahuan yang

cukup sbanyak 13 orang ( 19% ), dan dengan pengetahuan yang kurang sebanyak 20

orang ( 29% ).

Tabel 4. 8 Penyebaran Responden Berdasarkan Umur Terhadap Sikap

No Umur Sikap Total


(tahun) Positif Negatif
n % n % n %
1 12-13 14 20 15 21 29 41
2 14-15 16 23 6 9 22 32
3 >15 11 16 8 11 19 27
Total 41 59 29 41 70 100

Berdasarkan tabel 4. 8, responden dengan kelompok umur 12- 13 tahun yang

mempunyai sikap yang positif yaitu sebanyak 14 orang ( 20% ), dan yang mempunyai

39
sikap negatif sebanyak 15 orang ( 21% ). Untuk kelompok umur 14-15 tahun yang

mempunyai sikap positif yaitu sebanyak 16 orang ( 16% ) dan sikap yang negatif

sebanyak 6 orang ( 9% ). Untuk kelompok umur > 15 tahun, responden yang

mempunyai sikap positif sebanyak 11 orang ( 16% ) dan dengan sikap negatif

sebanyak 8 orang ( 11% ).

Tabel 4. 9 Penyebaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Terhadap Sikap

No Jenis Sikap Total


Kelamin Positif Negatif
n % n % n %
1 L 14 20 21 30 35 50
2 P 27 39 8 11 35 50
Total 41 59 29 41 70 100

Berdasarkan tabel 4.9, responden yang berjenis kelamin laki-laki yang

mempunyai sikap yang positif yaitu 14 orang ( 20% ), dan yang mempunyai sikap

negatif sebanyak 21 orang ( 30% ). Untuk responden yang berjenis kelamin wanita,

yang mempunyai sikap yang positif yaitu sebanyak 27 orang ( 39% ), dan yang

mempunyai sikap yang negatif sebanyak 8 orang ( 11% ).

Tabel. 4. 10 Penyebaran Responden Berdasarkan Umur Terhadap Lingkungan

No Umur Lingkungan Total


(tahun) Baik Buruk
n % n % n %
1 12-13 20 29 10 14 30 43
2 14-15 17 24 4 6 21 30
3 >15 9 13 10 14 19 27
Total 46 66 24 34 70 100

40
Berdasarkan tabel 4. 10, responden dengan kelompok umur 12- 13 tahun yang

tinggal pada lingkungan yang baik yaitu sebanyak 20 orang ( 20% ), dan yang tinggal

pada lingkungan yang buruk sebanyak 10 orang ( 14% ). Untuk kelompok umur 14-15

tahun yang tinggal pada lingkungan yang baik yaitu sebanyak 17 orang ( 24% ) dan

yang tinggal pada lingkungan yang buruk sebanyak 4 orang ( 6% ). Untuk kelompok

umur > 15 tahun, responden yang tinggal pada lingkungan yang baik sebanyak 9

orang ( 13% ) dan yang tinggal pada lingkungan yang buruk sebanyak 10 orang

(14%).

Tabel 4. 11 Penyebaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Terhadap Lingkungan

No Jenis Lingkungan Total


Kelamin Baik Buruk
n % n % n %
1 L 12 17 23 33 35 50
2 P 12 17 23 33 35 50
Total 24 34 46 66 70 100

Berdasarkan tabel 4.11, responden yang berjenis kelamin laki-laki yang

tinggal pada lingkungan yang baik yaitu sebanyak 12 orang ( 17% ), dan yang tinggal

pada lingkungan yang buruk sebanyak 23 orang ( 33% ). Untuk responden yang

berjenis kelamin wanita, yang tinggal pada lingkungan yang baik yaitu sebanyak 12

orang ( 17% ), dan yang tinggal pada lingkungan yang buruk sebanyak 23 orang

( 33% ).

4.2.4 Analisis Data

Tabel 4.12 Hubungan Antara Umur dan Jenis kelamin Responden Dengan

Pengetahuan Responden yang mempengaruhi terjadinya Skabies.

41
Variabel Kategori Pengetahuan Uji p Keterangan
Baik Cukup Kurang Kemaknaan
Umur 12-13 0 7 23 Chi-square 0,017 Bermakna
14-15 1 12 8
>15 2 10 7
Jenis L 1 16 18 Chi-square 0,688 Tidak
Kelamin P 2 13 20 bemakna

Berdasarkan tabel 4.12, dengan uji kemaknaan chi-square dan tingkat

kepercayaan 95%, terlihat bahwa terdapat hubungan bermakna antara umur responden

dengan tingakat pengetahuannya terhadap skabies, sedangkan untuk jenis kelamin

didaptkan hubungan yang tidak bermakna terhadap tingkat pengetahuan responden.

Tabel 4.13 Hubungan Antara Umur dan Jenis kelamin Responden Dengan Sikap
Responden yang mempengaruhi terjadinya Skabies

Variabel Kategori Sikap Uji p Keterangan


Positif Negatif Kemaknaan
Umur 12-13 15 15 Chi-square 0,310 Tidak
14-15 15 6 Bermakna
>15 11 8
Jenis L 14 21 Chi-square 0,002 Bermakna
Kelamin P 27 8

Berdasarkan tabel 4.13, dengan uji kemaknaan chi-square dan tingkat

kepercayaan 95%, terlihat bahwa terdapat hubungan bermakna antara jenis kelamin

responden dengan sikap yang dilakukan , sedangkan untuk umur didapatkan

hubungan yang tidak bermakna terhadap sikap responden.

42
Tabel 4. 14 Hubungan Antara Umur dan Jenis kelamin Responden Dengan
Lingkungan Responden yang mempengaruhi terjadinya Skabies

Variabel Kategori Lingkungan Uji p Keterangan


Baik Buruk Kemaknaan
Umur 12-13 10 20 Chi-square 0,085 Tidak
14-15 4 17 bermakna
>15 10 19
Jenis L 12 23 Chi-square 1.000 Tidak
Kelamin P 12 23 Bermakna

Berdasarkan tabel 4.14, dengan uji kemaknaan chi-square dan tingkat

kepercayaan 95%, terlihat bahwa terdapat hubungan tidak bermakna baik antara

umur responden dengan lingkungan maupun antara jenis kelamin responden dengan

keadaan lingkungan yang ada.

Tabel 4.15 Perbandingan Besar Nilai Kemaknaan Antara Pengetahuan, Sikap, dan
Lingkungan Terhadap Kejadian Sabies.

No Faktor-Faktor yang p.value Uji Keterangan


Mempengaruhi Kejadian Kemaknaan
Skabies
1 Pengetahuan 0,000 Chi-Square Bermakna
2 Sikap 0,151 Chi-Square Tidak
bermakna
3 Lingkungan 0,009 Chi-Square Bermakna

Berdasarkan tabel 4.15, dengan ui kemaknaan chi-square dan tingkat

kepercayaan 95% terlihat bahwa terdapat perbandingan yang bermkana antara

pengetahuan dan lingkungan terhadap terjadinya Skabies. Perbandingan yang tidak

bermakna ditemukan pada sikap santri terhadap terjadinya skabies.

43
44
4.3 Pembahasan

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini, menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan

santri tentang skabies masih kurang yaitu 54,3% sedangkan reponden dengan tingkat

pengetahuan cukup dan baik, masing-masing 41,4% dan 4,3%. Hasil yang berbeda

didapatkan pada penelitian yang dilakukan oleh Apris Hartanti di Pondok Pesantren Darul

Abror Pasar Batang Brebes, dimana dalam penelitian tersebut responden yang memiliki

tingkat pengetahuan yang baik adalah 43,1% ( Hartanti, 2007).

Tingkat pengetahuan responden yang masih kurang terhadap skabies ini dapat

disebabkan karena kurangnya informasi yang didapatkan oleh santri tersebut dari tenaga

kesehatan ataupun dari para pendidik dan pembina yang berada di Pondok Pesantren tersebut,

seperti salah satu contoh adalah tidak pernah diadakan penyuluhan tentang penyakit skabies ,

padahal telah kita ketahui bahwa penyakit skabies ini mempunyai resiko tinggi terjadi pada

keadaan dimana terdapat cara hidup berkelompok seperti pada Pondok Pesantren.

Untuk meningkatkan derajat kesehatan santri perlu adanya upaya untuk meningkatkan

pengetahuan santri tentang kesehatan secara umum, khususnya tentang penyakit menular

sehingga diharapkan ada perubahan sikap serta diikuti dengan perubahan prilaku kebersihan

perorangan dengan hasil akhir menurunnya angka kesakitan penyakit menular. Upaya

peningkatan, pencegahan dan penanggulangan masalah penyakit menular dapat ditempatkan

sebagai ujung tombak paradigma sehat untuk mencapai Indonesia sehat 2010

(Herryanto, 2004).

Pengetahuan tentang skabies yang termasuk dalam tiga terbanyak tidak diketahui oleh

santri di Pondok Pesantren Nurul Hakim adalah mengenai penyebab dari penyakit skabies

( 82,8%), cara penularan skabies ( 70% ), ciri khas dari penyakit skabies (61,4%). Sebagian

besar santri menjawab bahwa penyakit skabies tersebut disebabkan oleh alergi, dan mereka

45
menganggap penyakit skabies tersebut sama dengan penyakit kulit lainnya, bahkan mereka

mengira penyakit skabies menular hanya melalui kontak langsung saja.

Dari hasil penelitian terdapat 3 santri ( 4,3 % ) yang mempunyai tingkat pengetahuan

tinggi dan menderita skabies. Hal ini menunjukkan adanya faktor-faktor lain yang bisa

mempengaruhi terjadinya skabies, meskipun pengetahuannya baik, jika keadaan

lingkungannya masih dalam kategori kurang baik atau bersih, maka kemungkinan untuk

menderita penyakit skabies itu tetap ada, sikap santri juga bisa mempengaruhi, meskipun

mereka mengetahui tetapi masih ada beberapa sikaps yang tidak bisa dirubah misalnya

menumpuk kasur setelah mereka bangun tidur, karena itu sudah menjadi peraturan di Pondok

Pesantren itu sendiri.

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang adalah

usia ( Haditono, 1994 ). Teori ini sesuai dengan hasil peneliatian yang didapat. Pada

penelitian ini didapatkan bahwa responden pada kelompok usia 12-13 tahun tidak ada

responden yang mempunyai tingkat pengetahuan yang baik, pada kelompok usia 14 – 15

tahun terdapat 1 responden ( 1% ) dengan tingkat pengetahuan yang baik, sedangkan

responden pada kelompok usia > 15 tahun terdapat 2 ( 3% ) responden dengan tingkat

pengetahuan baik. Berdasarkan tabel 4. 12 juga dapat dilihat dari hasil uji kemaknaan

terdapat hubungan yang bermakna antara usia dengan tingkat pengetahuan responden.

Sedangkan untuk jenis kelamin tidak ada hubungan yang bermakna dengan tingkat

pengetahuan. Hal ini disebabkan karena tidak ada yang membedakan antara laki-laki dan

perempuan dalam mencari pengetahuan.

Berdasarkan tabel 4.4 didapatkan bahwa responden yang mempunyai sikap positif

adalah 41 orang ( 58,6% ) dan responden dengan sikap negatif adalah 29 orang ( 41,4% ). Hal

ini sedikit berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Apris Hartanti di Pondok Pesantren

46
Darul Abror Pasar Batang Brebes, dimana dalam penelitian tersebut responden dengan sikap

buruk atau negatif sedikit lebih tinggi yaitu sebanyak 55,4% ( Hartanti, 2007).

Sikap negatif yang masih banyak dilakukan oleh para santri adalah mengenai

kebiasaan mereka yang tidak pernah menyetrika pakaian, handuk, dan seprai sebelum

digunakan ( 78,5%), kebiasaan santri yang tidak mengganti seprai sekali seminggu ( 74,2% ),

dan kebiasaan santri menggunakan satu pakaian lebih dari satu hari ( 71,4% ). Meski

sekarang para santri selalu mandi menggunakan sabun, dan sudah jarang bertukar pakaian

dengan temannya, namun sikap negatif yang lain masih ada, jadi kemungkinan untuk terkena

penyakit skabies juga masih ada.

Status kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah sikap dan

perilaku seseorang dalam merespon suatu penyakit, skabies pada umumnya merupakan jenis

penyakit menular. Sikap santri sangat penting peranannya dalam pencegahan skabies di

lingkungan Asrama Pondok yang membutuhkan kebersihan perorangan serta perilaku yang

sehat. Sikap yang dimiliki oleh santri diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilaku

mereka guna mencegah terjadinya skabies di lingkungan Pondok tempat mereka tinggal.

Tidur bersama, pakaian kotor yang digantung atau ditumpuk di kamar merupakan contoh lain

dari sikap negatif yang dapat menimbulkan skabies ( Nugraheni, 2008 ).

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi sikap adalah pengalaman pribadi, pengaruh

orang lain yang dianggap penting, pengaruh kebudayan, media massa, lembaga pendidikan

dan faktor emosional ( Azwar, 2005 ). Hal ini dapat dilihat pada penelitian yang dilakukan

pada santri di Pondok pesantren Nurul Hakim Kediri Lombok Barat, dimana sikap masing-

masing santi masih dipengaruhi oleh orang lain. Sikap juga dapat dipengaruhi oleh

pengetahuan seseorang ( Purwanto, 2007 ). Hal ini dapat dilihat pada hasil penelitian bahwa

responden yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik atau cukup cenderung mempunyai

47
sikap yang positif. Namun Pengetahuan yang cukup baik mengenai kebersihan perorangan

tidaklah berarti bila tidak menghasilkan respon bathin dalam bentuk sikap, sikap merupakan

hal yang paling penting . Sikap dapat digunakan untuk memprediksikan tingkah laku apa

yang mungkin terjadi, dengan demikian sikap dapat diartikan sebagai suatu predisposisi

tingkah laku yang akan tampak aktual apabila kesempatan untuk mengatakan terbuka luas

(Azwar, 2005).

Dapat dilihat pada hasil penelitian pada tabel 4.9 , bahwa responden yang berjenis

kelamin perempuan lebih banyak yang memiliki sikap posotif ( 39% ) dibanding responden

yang berjenis kelamin laki-laki ( 20% ). Untuk sikap yang negatif juga dapat dilihat

perbedaannya pada responden perempuan terdapat ( 11% ) dan pada laki-laki terdapat ( 30%).

Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa jenis kelamin dapat mempengaruhi sikap, hal ini

juga dapat dilihat pada tabel 4.13, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna

antara jenis kelamin dengan sikap dari responden. Sedangkan untuk umur tidak didapatkan

hubungan yang bermakna terhadap sikap.

Para santri dapat menghindari atau mencegah terjadinya penyakit skabies dengan

menjaga kebersihan dirinya, contoh sederhana adalah selalu mandi menggunakan sabun,

sebagai salah satu alternatif pengobatan bagi santri yang terkena penyakit skabies adalah

dengan mandi menggunakan sabun yang mengandung sabun sulfur atau belerang karena

kandungan pada sulfur bersifat antiseptik dan antiparasit, tetapi pemakaian sabun sulfur tidak

boleh berlebihan karena membuat kulit menjadi kering ( Sadana,2007 ). Selain menjaga

kebersihan diri perlu juga menjaga kebersihan pakaiannya dengan rajin mencuci dan

menjemur pakaian sampai kering dibawah terik matahari. Dan jangan menggunakan pakaian

yang belum kering atau lembab. Biasakan mencuci sedikit tapi sering. Selain pakaian

kebersihan perlengkapan lain juga perlu untuk diperhatikan, misalnya handuk dan seprai yang

48
digunakan, disarankan bagi para santri untuk sering mencuci handuk dan seprai serta

menyetrika sebelum digunakan.

Selain pengetahuan dan sikap, lingkungan juga mempunyai peran penting dalam

mempengaruhi terjadinya skabies, pada penelitian didapatkan bahwa responden yang berada

pada lingkungan yang baik adalah 24 orang ( 34,3% ) dan responden yang tinggal pada

lingkungan yang buruk adalah 46 orang ( 65,7% ). Hal ini sejalan dengan penelitian yang

dilakukan oleh Soedjajadi Keman dkk pada santri di Pondok Pesantren Kabupaten

Lamongan. Pada penelitian tersebut Soedjajadi Keman dkk membahas keadaan lingkungan

pesantren yang buruk meliputi parameter sanitasi gedung, sanitasi kamar mandi, dan

kepadatan hunian gedung, hasil yang didapatkan adalah dari 245 orang yang tinggal pada

lingkungan yang buruk tersebut 71, 40% yang menderita skabies dan pada responden yang

tinggal pada lingkungan yang baik hanya 45, 20 % yang menderita skabies ( Keman, 2003 )

Penularan penyakit skabies terjadi bila kebersihan pribadi dan kebersihan lingkungan

tidak terjaga dengan baik. Faktanya, sebagian pesantren tumbuh dalam lingkungan yang

kumuh, tempat mandi dan WC yang kotor, lingkungan yang lembab, dan sanitasi buruk

(Badri, 2008).

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa santri tinggal diruangan yang luasnya

6m x 6m dengan jumlah penghuni 15-18 orang, bisa dihitung masing-masing santri mendapat

jatah ruangan seluas 2- 2,4 m2 , padahal seperti yang telah disebutkan oleh Notoatmodjo

(2003) bahwa Luas bangunan yang optimum adalah apabila menyediakan 2,5-3 m2 untuk tiap

orang. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana kehidupan mereka dalam satu ruangan tersebut.

Pada saat tidur, jarak santri satu dengan yang lain cukup dekat, hal inilah yang menyebabkan

penularan penyakit melalui kontak langsung menjadi lebih mudah. Meskipun ventilasi

memenuhi syarat untuk pencahayaan, tetapi keadaan kamar yang masih tidak mendukung

49
menyebabkan bakteri penyebab skabies masih bisa hidup, keadaan tersebut misalnya

menumpuk kasur setelah digunakan, terdapat pakaian-pakaian yang masih digantung didalam

kamar. Jadi salah satu usaha untuk mencegah terjadi penularan penyakit skabies ini adalah

dengan sering menjemur kasur, karena bakteri penyebab skabies akan mati dengan panas

matahari. Bakteri penyebab skabies ini dapat bertahan hidup pada suhu kamar selama 2-3 hari

dan aktivitasnya tinggi pada kelembaban 40-80 %

( http://www.docstoc.com/docs/4794542/Scabies ).

Selain keadaan fisik bangunan, sanitasi lingkungan yang meliputi penyediaan air

bersih juga sangat berpengaruh. Penyediaan air bersih merupakan kunci utama sanitasi kamar

mandi yang berperan terhadap penularan penyakit Skabies pada santri Pondok pesantren,

karena penyakit skabies merupakan penyakit yang berbasis pada persyaratan air bersih

( water washed disease ) yang dipergunakan untuk membasuh anggota badan sewaktu mandi

( Azwar, 1995 ).

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1405/menkes/sk/xi/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan

industri terdapat pengertian mengenai air bersih yaitu air yang dipergunakan untuk keperluan

sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan air bersih sesuai dengan

peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dapat diminum apabila dimasak.

Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak,

mandi, mencuci ( bermacam-macam cucian ) dan sebagainya. Menurut perhitungan WHO di

negara- negara maju tiap orang memerlukan air antara 60-120 liter perhari. Sedangkan di

negara-negara berkembang, termasuk Indonesia tiap orang memerlukan air antara 30-60 liter

perhari (Notoatmodjo, 2003 )

50
Di Pondok Pesantren Nurul Hakim Kediri, sumber air bersih yang digunakan santri

untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari berasal dari sumber air sumur dan PDAM. Namun

ketersediaan air selalu berubah setiap waktu, kadang tersedia air yang cukup banyak, kadang

kala juga PDAM macet dan ketersediaan air menjadi terbatas, diperkirakan jika tidak ada

gangguan sumber air maka setiap santri bisa menggunakan lebih kurang 40-50 liter perorang

untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi jika terdapat gangguan pada sumber air maka

setiap santri hanya mempunyai jatah 20-30 liter air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari

mereka. Untuk kamar mandi, masih ada beberapa kamar mandi yang terdiri atas beberapa

sekat ruangan akan tetapi bak yang digunakan untuk menampung air menjadi satu, dapat

simpulkan transmisi penyakit kulit yang menular, seperti skabies dapat terjadi dengan mudah.

Kebutuhan air bersih yang masih kurang bagi para santri untuk memenuhi kebutuhannya

sehari-hari juga menjadi penyebab. Ketersediaan air yang kurang terkadang menyebabkan

santri hanya mandi satu kali sehari, dan untuk mencuci juga tidak bisa langsung mencuci

pakaian yg sudah kotor, jadi para santri akan menumpuk pakaian kotor mereka.

Keadaan lingkungan seperti itu tidak akan bisa dirubah oleh pihak pengelolah

pesantren dalam waktu singkat, butuh waktu untuk kembali mengatur sanitasi tersebut,

namun beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan lebih dahulu adalah menjaga sumber air

agar ketersediaan air bersih bisa mencukupi semua kebutuhan santri. Salah satu cara misalnya

menyediakan bak penampungan air yang besar dan dijaga kebersihannyas, sehingga pada saat

ketersediaan air melimpah, bisa ditampung terlebih dahulu dan digunakan kemudian jika

ketersediaan air berkurang karena adanya gangguan dari sumber air. Untuk perbaikan bentuk

kamar mandi , mungkin bisa dilakukan secara bertahap.

Departemen Kesehatan RI ( 1996 ) telah menyebutkan salah satu kegiatan untuk

menangani masalah sanitasi lingkungan adalah adalah perbaikan kualitas air di tempat

pendidikan agama atau Pondok Pesantren. Ada tiga kegiatan pokok yang harus dilakukan

51
yaitu berupa pengawasan kualitas air, perbaikan kualitas air, dan pembinaan pemakaian air.

Ketiga kegiatan pokok tersebut merupakan suatu rangakaian kegiatan yang dilakukan secara

utuh dalam suatu lokasi tempat pendidikan agama atau Pondok Pesantren.

Keadaan lingkungan pesantren tidak bisa dihubungkan dengan usia dan jenis kelamin

seperti halnya tingkat pengetahuan dan sikap dari responden. Hal ini disebabkan karena

lingkungan pesantren dari uji kemaknaan pada hasil penelitian di tabel 4.15, didapatkan tidak

ada hubungan yang bermakna baik antara umur dengan keadaan lingkungan maupun jenis

kelamin pada lingkungan.

Santri dan santriwati yang tinggal di Pondok Pesantren Nurul Hakim Kediri Lombok

Barat ini tinggal pada keadaan yang sama dari semua usia dan jenis kelamin, sama-sama

tinggal di ruangan yang luasnya sama dan didalamnya tinggal lebih dari sepuluh orang

bahkan ada yang tinggal sampai 18 orang. Hal ini seperti disampaikan oleh Notoatmodjo

( 2007 ) tentang luas lantai bangunan, yaitu luas lantai bangunan rumah atau tempat tinggal

yang sehat harus cukup untuk penghuni didalamnya, artinya luas lantai bangunan tersebut

harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya. Luas bangunan yang tidak sebanding dengan

penghuninya akan menyebabkan sesak. Hal ini tidak sehat, sebab disamping menyebabkan

kurangnya konsumsi oksigen, juga bila salah satu penghuni terkena penyakit infeksi, akan

mudah menular kepada anggota penghuni yang lain. Dari hasil penelitian yang didapatkan,

dari 70 responden, 83% responden mengaku bahwa terdapat santri lain yang menderita

penyakit skabies dikamarnya.

Memang keadaan lingkungan tersebut tidak bisa dirubah secara signifikan, tetapi

mungkin bisa sedikit dikendalikan agar bisa menjadi keadaan yang lebih baik. Banyak faktor

yang menjadi penyebab menurunnya kualitas lingkungan, yaitu rendahnya tingkat pendidikan

dan pengetahuan masyarakat tentang lingkungan, sehingga mereka kurang respon untuk

52
dapat menerima informasi yang bermanfaat bagi dirinya. Untuk meningkatkan mutu

lingkungan, pendidikan mempunyai peranan penting, karena melalui pendidikan, manusia

semakin mengetahui dan sadar akan bahaya dari lingkungan yang buruk, terutama bahaya

pencemaran terhadap kesehatan manusia ( Koesnadi, 2000 ). Selain itu sosial ekonomi dan

sosial budaya juga bisa mempengaruhi.

Penyakit skabies ini tidak bisa hanya disebabkan oleh satu faktor saja, banyak faktor

yang dapat mempengaruhi, dan antara faktor yang satu dengan faktor yang lain saling

berhubunga. Dari ketiga faktor yang telah disebutkan, berdasarkan hasil penelitian pada tabel

4.15 dengan uji kemaknaa Chi-square didapatkan nilai p untuk pengetahuan kurang < 0,05

(0,000) artinya faktor pengetahuan ini bermakna dalam menyebabkan terjadinya skabies, nilai

p untuk sikap > 0,05 ( 0,151 ) artinya faktor sikap tidak bermakna terhadap terjadinya

skabies. Nilai p untuk faktor lingkungan < 0,05 ( 0,009 ) ini berarti faktor lingkungan

bermakna terhadap terjadinya skabies. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disamping

lingkungan, pengetahuan merupakan faktor yang paling berperan terhadap terjadinya skabies

pada santri di Pondok Pesantren Nurul Hakim Kediri Lombok Barat.

53
BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5. 1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah di lakukan dapat disimpulkan bahwa :

1. Sebanyak 38 responden ( 54,3% ) mempunyai tingkat pengetahuan yang masih

kurang terhadap skabies, responden dengan tingkat pengetahuan yang baik dan cukup

masing-masing sebanyak 3 responden ( 4,3 % ) dan 29 responden ( 41,4% ).

2. Pengetahuan tentang skabies yang termasuk tiga terbanyak yang tidak diketahui oleh

responden adalah mengenai penyebab penyakit ( 82,8% ), cara penularan penyakit

( 70 % ), dan ciri khas dari penyakit skabies ( 61,4% ).

3. Sikap positif dimiliki oleh 41 responden ( 58,6% ) dan responden yang memiliki sikap

negatif sebanyak 29 orang ( 41,4% ).

4. Sikap negatif yang masih banyak dilakukan para responden adalah mengenai

kebiasaan mereka yang tidak pernah menyetrika pakaian, handuk, dan seprai sebelum

digunakan ( 78,5% ), kebiasaan santri yang tidak mengganti seprai sekali seminggu

( 72,2% ), dan kebiasaan santri menggunakan satu pakaian lebih dari satu hari

( 71,4% ).

5. Keadaan lingkungan pesantren masih tergolong buruk, meskipun kualitas fisik air

sudah baik tetapi ketersediaannya masih terbatas dan kepadatan hunian kamar tidur

masih tinggi.

6. Terdapat hubungan bermakna antara umur dengan pengetahuan ( p = 0,017 ), dan

hubungan bermakna antara jenis kelamin dengan sikap ( p = 0,002 )

54
7. Faktor yang berperan terhadap terjadinya skabies adalah pengetahuan dan lingkungan

dengan hasil uji kemaknaan masing-masing pengetahuan ( p= 0,000 ) dan lingkungan

( p = 0,009 ).

5. 2 Saran

1. Untuk menambah tingkat pengetahuan santri tentang skabies diharapkan kepada

pembina Pondok Pesantren untuk memberikan informasi yang lebih banyak pada

santri, mungkin dengan adanya kerja sama dengan tenaga kesehatan yang terkait.

2. Disarankan bagi setiap santri agar lebih memperhatikan personal hygine, salah satu

caranya dengan menjaga kebersihan badan dan perlengkapan kebutuhan lainnya.

3. Bagi Pengelola Pondok Pesantren untuk lebih memperhatikan keadaan lingkungan

pesantren terutama tentang ketersediaan air bersih untuk memenuhi kebutuhan

sehari-hari dan kepadatan hunian setiap kamar santri. Harus sesuai dengan standar

kesehatan yang sudah ditentukan.

55