You are on page 1of 18

ABU BAKAR AS SHIDDIQ

Oleh

RIPAL PADLI

SEKOLAH TINGGI ILMU DA’WAH

MOHAMMAD NATSIR

2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan sahabat Nabi yang menjadi
salah satu orang yang mendapat gelar Ash-Shiddiq lantaran beliau lah
orang yang membenarkan peristiwa Isra’ dan Mi’raj Rasulullah.
Sesaat setelah beliau wafat, situasi di kalangan umat Islam sempat
kacau. Dua kelompok yang merasa paling berhak dicalonkan sebagai
pengganti nabi Muhammad SAW adalah kaum Muhajirin dan kaum
Anshar.Kaum Muhajirin berpendapat bahwa merekalah yang berhak
menggantikan posisi Nabi Muhammad SAW. Mereka mengemukakan
alasan bahwa kaum Muhajirin adalah orang-orang pertama yang menerima
islam dan berjuang bersama Nabi Muhammad SAW. Di pihak lain, kaum
Anshar berpendapat bahwa mereka adalah yang paling tepat menggantikan
posisi Nabi Muhammad SAW. Mereka mengemukakan alasan bahwa
islam dapat berkembang dan mengalami masa kejayaan setelah Nabi
hijrah ke Madinah dan mendapat pertolongan kaum Anshar, kaum anshar
kemudian mengusulkan Sa’ad bin Ubadah sebagai pengganti.
Perbedaan pendapat antara dua kelompok tersebut akhirnya dapat
diselesaikan secara damai setelah Umar bin Khatab membaiat Abu Bakar.
Setelah pengangkatan Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi khalifah, umat
islam mendapat pemimpin baru yang mengatur segala permasalahan
kehidupan. Di masa pemerintahan beliau terdapat beberapa peristiwa
penting seperti munculnya nabi palsu, penolakan untuk mengeluarkan
zakat dan sebagainya. Gejolak dan pembangkangan yang ada dapat
ditangani beliau dengan baik.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut:
1. Apa nasab Abu Bakar As Shiddiq?

1
2. Bagaimana proses terpilihnya Abu Bakar As Shiddiq sebagai
Kholifah?
3. Apa saja tantangan Abu Bakar As Shiddiq dalam pemerintahan?
4. Bagaimana perkembangan dakwah islam dan pencampaian dalam
masanya?
5. Bagaiamana tanggapan terhadap fitnah dan kedustaan?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Nasab Abu Bakar As Shiddiq


Abu bakar pada zaman Jahiliyah ia dinamai Abdul Ka’bah,
kemudian Rasullah menamainya Abdullah diapun dijuluki Al –Atiq juga
As Shiddiq karena bergegas membenarkan kerasulan Rasulullah terutama
keesokan hari dari peristiwa Isra. Abu Bakar dilahirkan di Makkah dua
tahun beberapa bulan sesudah tahun gajah.1 atau oktober 573 M dan
meniggal 23 Agusus 634 Madinah Oleh karena itu Abu Bakar dikenal
lebih mudah dua tahun dibanding Rasulullah Saw dan adapun Abu Bakar
menjadi Khalifah Islam yang pertama pda tahun 632 hingga tahun 634.2
Sebelum masuk Islam, ia dipanggil dengan sebutan Abdul Ka’bah.
Ibundanya bernazar akan memberikan anak laki-lakinya yang hidup untuk
mengabdi pada Ka’bah. Setelah masuk Islam, Rasulullah memanggilnya
dengan sebutan Abdullah. Nama Abu Bakar sendiri konon berasal dari
predikat pelopor dalam Islam. Bakar berarti dini atau awal3. Setelah Abu
Bakar lahir dan besar ia diberi nama lain; Atiq. Nama ini diambil karena
wajahnya yang tampan. Gelar tesebut dari kata kata “Ataqah” yaitu segala
yang baik, tetapi ada juga yang berpendapat kata tersebut berasal dari kata
“Al Itqu” (membebaskan) karena setelah lahir ibunya membawa ke ka’bah
dan berdoa kepada Tuhan agar anaknya dibebaskan dari api neraka.4
Ternyata keislaman Abu Bakar paling banyak membawa manfaat
besar terhadap Islam dan kaum muslimin dibandingkan dengan keislaman

1 Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Kalam Mulia : Jakarta,2001),
hal 393

2“ Abu Bakar Ash Shiddiq”Wikipedia. Id.m.wikipedia.org/wiki/Abu_Bakar_Ash_Shiddiq

3 Abdur Rahim, Makalah Abu Bakar Ash-Shiddiq.


http://rohimzoom.blogspot.com/2014/01/makalah-abu-bakar-ash-shiddiq.html

4 Abbas Mahmud Al Aqqad, kejeniusan Abu Bakar (Pustaka Azzam:Jakarta, 2001), hal
28.

3
selainnya, karena kedudukannya yang tinggi dan semangat serta
kesungguhannya dalam berdakwah.
Dengan keislamannya maka masuk mengikutinya tokoh-tokoh
besar yang masyhur seperti Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas,
Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, dan Talhah bin Ubaidillah.5
Nama Abu Bakar ash-Shiddiq sebenarnya adalah Abdullah bin
Usman bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin
Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib bin Fihr al-Qurasy at-Taimi. Bertemu
nasabnya dengan Nabi pada kakeknya Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai.
Dan ibunya adalah Ummu al-Khair Salma binti Shakhr bin Amir
bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim. Berarti ayah dan ibunya berasal dari
kabilah Bani Taim. Ayahnya diberi kuniyah (sebutan panggilan) Abu
Quhafah. Dan pada masa jahiliyyah Abu Bakar ash-Shiddiq digelari Atiq.
Imam Thabari menyebutkan dari jalur Ibnu Luhai’ah bahwa anak-anak
dari Abu Quhafah tiga orang, pertama Atiq (Abu Bakar), kedua Mu’taq
dan ketiga Utaiq.6
Abu Bakar pernah menikahi Qutailah binti Abd al-Uzza bin Abd
bin As’ad pada masa Jahiliyyah dan dari pernikahan tersebut lahirlah
Abdullah dan Asma’.
Beliau juga menikahi Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin
Zuhal bin Dahman dari Kinanah, dari pernikahan tersebut lahirlah
Abdurrahman dan ‘Aisyah. Beliau juga menikahi Asma’ binti Umais bin
Ma’add bin Taim al-Khats’amiyyah, dan sebelumnya Asma’ diperisteri
oleh Ja’far bin Abi Thalib. Dari hasil pernikahan ini lahirlah Muhammad
bin Abu Bakar, dan kelahiran tersebut terjadi pada waktu haji Wada’ di
Dzul Hulaifah.
Beliau juga menikahi Habibah binti Kharijah bin Zaid bin Abi
Zuhair dari Bani al-Haris bin al-Khazraj.

5 Hasan Ibrahim Hasan, Op.Cit. hal 394

6 Abdur Rahim. Loc.Cit.

4
Abu Bakar pernah singgah di rumah Kharijah ketika beliau datang
ke Madinah dan kemudian mempersunting putrinya, dan beliau masih
terus berdiam dengannya di suatu tempat yang disebut dengan as-Sunuh
hingga Rasulullah wafat dan beliau kemudian diangkat menjadi khalifah
sepeninggal Rasulullah. Dari pernikahan tersebut lahirlah Ummu Kaltsum
setelah wafatnya Rasulullah.
Selain itu, Abu Bakar adalah seorang pemikir Makkah yang
memandang penyembahan berhala itu suatu kebodohan dan kepalsuan
belaka, ia adalah orang yang menerima dakwah tanpa ragu dan ia adalah
orang pertama yang memperkuat agama Islam serta menyiarkannya. Di
samping itu ia suka melindungi golongan lemah dengan hartanya sendiri
dan kelembutan hatinya.
Di samping itu, Abu Bakar dikenal mahir dalam ilmu nasab
(pengetahuan mengenai silsilah keturunan). la menguasai dengan baik
berbagai nasab kabilah dan suku-suku arab, bahkan ia juga dapat
mengetahui ketinggian dan kerendahan masing-masing dalam bangsa arab.
1.1 Karakteristik dan Kepribadian Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar memiliki ciri-ciri sebagaimana disebutkan dalam

beberapa riwayat, yaitu kulitnya putih kekuning luningan, wajahnya

tampan, rambutnya lebat, pipinya tipis, dahinya menonjol, matanya

cekung, mukanya berminyak, pinggangnya kecil, pahanya keras dan

badannya kurus Begitulah karakter fisik beliau.7

Adapun kepribadian Abu Bakar beliau adalah seorang yang

penyang, lemah lembut dan pintar bergaul, dan memiliki sifat – sifat

yang baik yang dimiliki oleh orang lain, diantaranya rendah hati

(tawadhu’) dan lemah lembut. Beliau jauh dari kesombongan

dihadapan seseorang baik pada zaman Jahiliyah ataupun zaman Islam,

7 Abbas Mahmud Al Aqqad, Op.Cit. hal 58

5
dan ketawadhu’an beliau ketika memegang tampuk kepemimpinan

lebih nampak daripada beliau sebelum menjadi pemimpin (khaifah).

Apabila ada yang memujinya beliau berkata, Ya Allah Engkau lebih

tahu dari aku tentang diriku”, Apabila tali kekang ontanya jatuh diatas

beliau diatas onta, beliau tidak meminta orang lain untuk

mengambilnya melainkan turun dari ontanya dan mengambil sendiri.

Abu Bakar ketika masa jahiliyah atau masa Islam memiliki

perangai yang baik dan selalu menjaga kehormatan dirinya seperti

contoh misalnya beliau tidak pernah minum khamar sama sekali.

Karena khamar menghilangkan kehormatan diri. Seorang bertanya,

Kenapa Abu bakar tidak minum khamar pada masa jahiliyah,”

mengutip dengan perkataan Abu Bakar “Aku selalu menjaga dirikudan

kehormatanku karena orang yang minum khamar menghilangkan

pikiran dan kehormatannya”.

Pengorbanan dan jasanya ketika di Makkah di samping harta

benda ia selalu berusaha mendampingi dan melindungi Nabi

Muhammad SAW ketika banyak orang kafir yang mengejeknya,

bahkan ia adalah yang mendampingi Nabi Muhammad SAW pada saat

hijrah ke Madinah.

Pada saat di Madinah Abu Bakar selalu mendampingi, melindungi

dan membantu Nabi Muhammad SAW dalam proses penyebaran

Islam. Di samping itu banyak peperangan yang diikuti Abu Bakar

selama di Madinah, seperti perang Badar, perang Uhud, perang

Khandak dan sebagainya. Karena kesibukan Nabi Muhammad SAW di

6
Madinah, maka pada saat kota Makkah berhasil ditundukkannya dan

umat Islam akan menunaikan ibadah haji , maka untuk memimpin

jamaah haji dipercayakan kepada Abu Bakar. Dalam banyak

kesempatan Abu Bakar sering mendapatkan kepercayaan untuk

mewakili dirinya, seperti pada saat Rasulullah SAW uzur

(berhalangan) tidak dapat mengimami shalat di Masjidil Haram

Madinah, Nabi Muhammad SAW menunjuk Abu Bakar untuk

menggantikannya sebagai imam shalat.8

B. Proses Pengangkatan Abu Bakar Ash-Shiddiq Menjadi Khalifah

Nabi Muhammad Saw tidak meninggalkan wasiat tentang siapa

yang akan menggantikan beliau sebagai pemimpin politik umat Islam

setelah beliau wafat. Beliau tampaknya menyerahkan persoalan tersebut

kepada kaum muslimin sendiri untuk menentukannya.9

Setelah berita wafatnya Rasulullah menyebar, para sahabat mulai

bertanya-tanya mengenai siapakah yang akan menggantikan

kepemimpinan umat Islam nantinya. Maka berkumpullah kaum Anshar di

Balai pertemuan Bani Sa’adah di Madinah. Mereka bermaksud untuk

membaiat seseorang dari kaum Anshar, yakni Sa’d bin Ubadah seorang

pemimpin kaum khazraj, untuk menjabat sebagai khalifah.

Kemudian sekelompok dari kaum muhajirin mendatangi mereka.

Dalam pertemuan ini hampir saja terjadi sengketa sengit antara kelompok

8 Makalah-ibnu.blogspot.in/2008/10/kemajuan-islam-pada-masa-abu-bakar-
as.html?m=1

9 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (RajGrafindo Persada: Jakarta, 2014), hal 35

7
Anshar dan Muhajirin. Meliahat akan kondisi sengit tersebut Abu Bakar

bangkit berpidato dengan berargumentasi bahwa urusan khilafah adalah

urusan Quraisy. Dalam pidato tersebut Abu Bakar mengingatkan kaum

Anshar bahwa bila kepemimpinan ini di jabat oleh dari suku Aus, niscaya

orang-orang Khazraj akan bersaing. Ketika kaum Anshar teringat atas

persaingan dan permusuhan yang terjadi di antara merekapada zaman

jahiliyah dahulu, lalu merekapun sadar dan mau menerima pendapat Abu

Bakar. Kemudian Abu Bakar kepada mereka mencalonkan Umar atau Abu

Ubaidah bin Al Jarrah. Namun Umarpun menolak akan pengusulan itu dan

langsung bangkit menuju Abu Bakar lalu membaiatnya sebagai khalifah

seraya berkata kepadanya : Bukankah Nabi telah menyuruhmu, wahai Abu

Bakar, agar mengimani kaum Muslimin dalam shalat? Engkaulah khalifah

pengganti dan penerus beliau; kami membaiatmu sehingga kami berarti

membaiat sebaik-baik orang yang paling dicintai Rasulullah dari kami

semua. Setelah itu kemudian kaum Muhajirin dan Kaum Anshar berturut-

turut membaiatnya. Baiat ini kemudian dinamakan dengan baiat As-

Shaqifah ini dinamai baiat Al Kahshshah, karena baiat tersebut hanya

dilakukan sekelompok kecil dari Kaum muslimin, yakni hanya mereka

yang hadir di As Saqifah saja. Keesokan harinya duduklah Abu Bakar

diatas mimbar mesjid nabawi dan sejumlah besar kaum muslimin atau

secara umum kaum muslimin membaiatnya.10

Namun di sisi lain dalam pengangkatan Abu Bakar menjadi

khalifah yang pertama melalui pemilihan dalam satu pertemuan yang

10 Hasan Ibrahim Hasan, Op.Cit. hal 396-397

8
berlangsung pada hari kedua setelah nabi wafat dan sebelum jenazah

beliau dimakamkan. Itulah antara lain yang menyebabkan kemarahan

keluarga nabi, kuhususnya Fatimah, putri tunggal beliau. Mengapa mereka

demikian terburu-buru mengambil keputusan tentang pengganti nabi

sebelum pemakamandan tidak mengikut sertakan keluarga dekat nabi

seperti Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin Affan. Tetapi penyelenggaraan

pertemun tersebut tidak direncanakan terlebih dahulu, dan sebaliknya

berlangsung karena terdorong keadaan.11

Dan adapun Ali bin Abi Thalib dalam membaiat Abu Bakar

menurut banyak ahli sejarah baru berbaiat kepada Abu Bakar setelah

Fatimah istri Ali, dan putri tunggal nabi, wafat 6 bulan kemudian.

C. Tantangan Abu Bakar As Shiddiq Dalam Pemerintahan

Di masa awal pemerintahan Abu Bakar, diwarnai dengan berbagai

kekacauan dan pemberontakan, seperti munculnya orang-orang murtad,

aktifnya orang-orang yang mengaku diri sebagai nabi (nabi palsu),

pemberontakan dari beberapa kabilah Arab dan banyaknya orang-orang

yang ingkar membayar zakat.

Terhadap semua golongan yang membangkang dan memberontak

itu Abu bakar mengambil tindakan tegas. Ketegasan ini didukung oleh

mayoritas umat. Untuk menumpas seluruh pemberontakan, ia membentuk

sebelas pasukan masing-masing dipimpin oleh panglima perang yang

tangguh, seperti Khalid bin Walid, Amr bin Ash, Ikrimah bin Abu Jahal,

11 Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara ajaran, sejarah dan pemikiran, (UI-Press :
Jakarta, 1993), hal 21

9
dan Syurahbil bin Hasanah. Dalam waktu singkat seluruh kekacauan dan

pemberontakan yang terjadi dalam negeri dapat ditumpas dengan sukses

Abu Bakar menjadi khalifah hanya dua tahun. Pada tahun 634 M ia

meninggal dunia. Masa sesingkat itu habis untuk menyelesaikan persoalan

dalam negeri terutama tantangan yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa

Arab yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintahan Madinah. Karena

sikap keras kepala dan penentangan mereka yang dapat membahayakan

agama dan pemerintahan, Abu Bakar menyelesaikan persoalan ini dengan

apa yang disebut Perang Riddah (perang melawan kemurtadan) dan

pahlawan yang banyak berjasa dalam perang tersebut adalah Khalid bin

Walid.

D. Perkembangan Dakwah Islam Dan Pencampaian Dalam Masanya


Setelah nabi wafat, sebagai pemimpin umat islam adalah Abu
Bakar As-Siddik sebagai kholifah. Kholifah adalah pemimpin yang
diangkat setelah nabi wafat untuk menggantikan nabi dan melanjutkan
tugas-tugas sebagai pemimpin agama dan pemerintah. Saidina Abu Bakar
walaupun hanya memerintah selama dua tahun (632-634), tetapi beliau
banyak menyumbang terhadap perkembangan Islam. Beliau mula
mengumpulkan ayat-ayat Al Quran dan beliau juga berjaya meluaskan
pengaruh Islam. Beliau juga memerangi Nabi palsu,orang-orang yang
murtad dan tidak mengeluarkan zakat. Di antara pertentangan tersebut
ialah timbulnya orang-orang yang murtad (kaum Riddah),orang-orang
yang tidak mau mengeluarkan zakat, orang-orang yang mengaku menjadi
Nabi seperti Musailamah Al Kazzab dari bani Hanifah di yamamah, Sajah
dari bani Tamim, Al Aswad al Ansi dari yaman dan Thulaihah ibn
Khuwailid dari Bani Asad, serta beberapa pemberontakan dari beberapa
kabilah.

10
Selama peperangan Riddah, banyak dari penghafal Al-Qur’an yang
tewas. Karena orang-orang ini merupakan penghafal bagian-bagian Al-
Qur’an, Umar cemas jika bertambah lagi angka kematian itu, yang berarti
beberapa bagian lagi dari Al-Qur’an akan musnah. Karena itu, menasehati
Abu Bakar untuk membuat suatu “kumpulan” Al-Qur’an kemudian ia
memberikan persetujuan dan menugaskan Zaid ibn Tsabit karena beliau
paling bagus Hafalannya. Para ahli sejarah menyebutkan bahwa
pengumpulan Al-Qur’an ini termasuk salah satu jasa besar dari khalifah
Abu Bakar.
Ada beberapa kebijakan Abu Bakar dalam pemerintahan atau
kenegaraan, yang dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Bidang eksekutif
Pendelegasian terhadap tugas-tugas pemerintahan di
Madinah maupun daerah. Misalnya untuk pemerintahan pusat
menunjuk Ali bin Abi Thalib, Ustman bin Affan, dan Zaid bin tsabit
sebagai sekretaris dan Abu Ubaidah sebagai bendaharawan. Serta
Umar bin Khathab sebagai hakim Agung. Untuk daerah kekuasaan
Islam, dibentuklah provinsi-provinsi, dan untuk setiap provinsi
ditunjuk seorang amir. Antara lain ;
- Itab bin Asid menjadi Amir dikota Mekkah, amir yang diangkat
pada masa Nabi
- Ustman bin Abi Al-Ash, amir untuk kota Thaif, diangkat pada
masa nabi
- Al-Muhajir bin Abi Umayyah, amir untuk San’a
- Ziad bin Labid, amir untuk Hadramaut
- Ya’la bin Umayyah, amir untuk khaulan
- Abu Musa Al-Ansyari, amir untuk zubaid dan rima’
- Muaz bin Jabal, Amir untuk Al-Janad
- Jarir bin Abdullah, amir untuk Najran
- Abdullah bin Tsur, amir untuk Jarasy
- Al-Ula bin hadrami, amir untuk Bahrain, sedangakn untuk Iraq
dan Syam (Syria) dipercayakan kepada para pemimpin Militer.

11
b. Pertahanan dan Keamanan
Dengan mengorganisasikan pasukan-pasukan yang ada untuk
mempertahankan eksistensi keagamaan dan pemerintahan. Pasukan
itu disebarkan untuk memelihara stabilitas di dalam maupun di luar
negeri. Di antara panglima yang ditunjuk adalah Khalid bin Walid,
Musanna bin Harisah, Amr bin ‘Ash, Zaid bin Sufyan, dan lain-lain.
c. Yudikatif
Fungsi kehakiman dilaksanakan oleh Umar bin Khathab dan
selama masa pemerintahan Abu bakar tidak ditemukan suatu
permasalahan yang berarti untuk dipecahkan. Hal ini karena
kemampuan dan sifat Umar sendiri, dan masyarakat dikala itu
dikenal ‘alim.
d. Sosial Ekonomi
Sebuah lembaga mirip Bait Al-Mal, di dalamnya dikelola
harta benda yang didapat dari zakat, infak, sedekah, harta rampasan,
dan lain-lain. Penggunaan harta tersebut digunakan untuk gaji
pegawai negara dan untuk kesejahteraan ummat sesuai dengan
aturan yang ada.
Jadi dapat disimpulkan bahwa khalifah Abu bakar diangkat menjadi
Khalifah dengan jalan Musyawarah, walaupun diantara Sahabat ada yang
tidak ikut dalam pembai’atan dan pada akhirnya mereka melakukan
sumpah setia. Dengan demikian, secara nyata, pengangkatan Abu bakar
sebagai khalifah disetujui.
e. Kemajuan Kebudayaan Islam pada masa Khalifah Abu Bakar
Islam pada hakikatnya adalah agama dakwah, artinya
agama yang harus dikembangkan dan didakwahkan. Terdapat dua
pola pengembangan wilayah Islam, yaitu dengan dakwah dan
perang. Setelah dapat mengembalikan stabilitas keamanan jazirah
Arabiah, Abu Bakar beralih pada permasalahan luar negeri.
Pada masa itu, di luar kekuasaan Islam terdapat dua kekuatan
adidaya yang dinilai dapat menganggu keberadaan Islam, baik secara
politisi maupun agama. Kedua kerajaan itu adalah Persia dan

12
Romawi. Rasulullah sendiri memerintahkan tentara Islam untuk
memerangi orang-orang Ghassan dan Romawi, karena sikap mereka
sangat membahayakan bagi Islam. Mereka berusaha melenyapkan
dan menghambat perkembangan Islam dengan cara membunuh
sahabat Nabi. Dengan demikian cikal bakal perang yang dilakukan
oleh ummat Islam setuju untuk berperang demi mempertahankan
Islam.
Pada tahap pertama, Abu Bakar terlebih dahulu menaklukkan

persia. Pada bulan Muharram tahun 12 H (633 M), ekspedisi ke luar

Jazirah Arabia di mulai. Musanna dan pasukannya dikirim ke persia

menghadapi perlawanan sengit dari tentara kerajaan Persia.

Mengetahui hal itu, Abu Bakar segera memerintahkan Khalid bin

Walid yang sedang berada di Yamamah untuk membawa

pasukannya membantu Musanna. Gabungan kedua pasukan ini

segera bergerak menuju wilayah persia. Kota Ubullah yang terletak

di pantai teluk Persia, segera duserbu. Pasukan Persia berhasil

diporak-porandakan. Perang ini dalam sejarah Islam disebut dengan

Mauqi’ah Zat as-Salasil artinya peristiwa untaian Rantai.

Pada tahap kedua, Abu Bakar berupaya menaklukkan

Kerajaan Romawi dengan membentuk empat barisan pasukan.

Masing-masing kelompok dipimpin seorang panglima dengan tugas

menundukkan daerah yang telah ditentukan. Kempat kelompok

tentara dan panglimanya itu adalah sebagai berikut :

- Abu Ubaidah bin Jarrah bertugas di daerah Homs, Suriah Utara,

dan Antiokia

13
- Amru bin Ash mendapat perintah untuk menaklukkan wilayah

Palestina yang saat itu berada di bawah kekuasaan Romawi Timur.

- Syurahbil bin Sufyan diberi wewenang menaundukkan Tabuk

dan Yordania.

- Yazid bin Abu Sufyan mendapat perintah untuk menaklukkan

Damaskus dan Suriah Selatan.

E. Tanggapan Terhadap Fitnah dan Kedustaan


Perpecahan umat dalam sejarah Islam memang panjang. Bahkan
ketika masih di zaman khulafaurrasyidin. Berawal dari ‘perselisihan’ kecil
ketika Ali bin Abi Thalib terlambat membaiat Abu Bakar as-Shiddiq
sebagai khalifah hingga pengangkatan Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai
khalifah baru yang menggantikan posisi Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
Dan saat ini, sudah seharusnya kaum muslimin menganalisa dan kembali
menggali lebih dalam untuk mengetahui bagaimana sebenarnya sejarah
berjalan. Hal ini agar kaum muslimin tidak terjebak dengan propaganda
Orientalis-Liberalis yang sangat membenci Islam.
Dan inilah perjalanan sejarah ‘pertentangan dan perpecahan’ kaum
muslimin yang sering dibelokkan oleh orang-orang yang tidak ingin agar
Islam berkembang.
Masa Abu Bakar di masa ini, yang banyak terjadi adalah
kemurtadan yang melanda sebagian besar wilayah Jazirah Arab. Saat itu
yang masih beriman hanyalah Makkah dan Madinah. Ada beberapa
golongan yang sangat menonjol, yaitu golongan yang tidak mau zakat dan
golongan pengikut Nabi palsu.
Banyak orientalis mengomentari hal ini dengan komentar panas.
Diantaranya menyebutkan kegagalan masyarakat Islam dalam
mempertahankan keIslamannya. Namun, sebenarnya fenomena murtadnya
orang-orang itu adalah karena fanatisme kepada suatu kaum. Dan memang
hal itu telah Rasulullah ajarkan agar kita tidak fanatik kepada satu kaum
tertentu karena hal itu adalah sikap jahiliah. Ini terbukti dengan kata-kata

14
seorang pengikut Musailamah dari Bani Hanifah, “sesungguhnya kami
tahu bahwa Musailamah adalah seorang pembohong dan Muhammad
adalah yang benar. Tapi kebohongan dari Bani Hanafi lebih saya sukai
dari kebenaran yang dibawa oleh Bani Mudhar (Kaum Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam”
Hal itu juga disebabkan karena propaganda kaum munafik dan
kaum yang pura-pura masuk Islam yang melihat kondisi kaum muslimin
yang saat itu lemah pasca wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam.
Lalu fitnah lain yang sering menjadi sasaran empuk para pembenci
Islam adalah terlambatnya Ali bin Abi Thalib untuk membaiat Abu Bakar
sebagai khalifah Rasulullah. Hal ini dikomentari oleh para orientalis
sebagai keengganan Ali membaiat Abu Bakar karena Ali merasa lebih
pantas duduk di posisi khalifah. Padahal, hal ini telah terbantahkan dengan
jawaban Ali ketika membaiat Abu Bakar.
Sesungguhnya, ketika Rasulullah wafat, para sahabat segera berunding
untuk mencari pemimpin selanjutnya. Karena masalah kepemimpinan
adalah salah satu masalah yang sangat penting bagi berlangsungnya
Khilafah Islamiyah. Sementara itu, yang mengurusi jenazah Rasulullah
adalah ahlul bait (keluarga nabi). Akhirnya Ali pun terlambat membaiat
Abu Bakar. Dan dalam suatu riwayat lain pun menyebutkan bahwa Ali
berkata dirinya merasa sedih dengan kepergian Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam. Hingga Ali terlambat membaiat Abu Bakar selama 3
hari.

15
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah Rasulullah wafat, umat Islam berada di ambang pintu

perpecahan. Abu Bakar yang saat itu berada dalam pihak yang benar,

ketika melihat kondisi yang cukup tegang, beliau berhasil menarik hati

kaum Anshar dan mengawali pidatonya dengan melunakkan hati

Anshar dan menengakan keadaan.

Abu Bakar telah memberikan contohnya, bahwa kebenaran

haruslah disampaikan dengan cara yang benar sehingga tidak malah

menimbulkan perpecahan yang justru merugikan. Begitulah kebenaran

yang disampaikan dengan jalan yang tidak benar akan sulit untuk

membuahkan kebaikan.

Prinsip-prinsip dalam Islam, dilukiskan Abu Bakar dengan

mendorong kaum Muslimin memerangi orang-orang yang ingin

menghancurkan Islam seperti halnya orang-orang murtad, orang-orang

yang enggan membayar zakat, dan orang-orang yang mengaku dirinya

sebagai nabi. Oleh karena itu Abu Bakar melaksanakan perang Riddah

untuk menyelamatkan Islam dari kehancuran.

16
DAFTAR PUSTAKA

Ibrahim Hasan, Hasan. 2001. Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta : Kalam

Mulia

Mahmud Al Aqqad, Abbas, 2001. Kejeniusan Abu Bakar. Jakarta: Pustaka

Azzam

Yatim, Badri. 2014. Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : RajGrafindo Persada.

Id.m.wikipedia.org/wiki/Abu_Bakar_Ash_Shiddiq

Abdur Rahim, Makalah Abu Bakar Ash-Shiddiq.


http://rohimzoom.blogspot.com/2014/01/makalah-abu-bakar-ash-
shiddiq.html

Makalah-ibnu.blogspot.in/2008/10/kemajuan-islam-pada-masa-abu-bakar-
as.html?m=1 (5 Mei 2015)

17