You are on page 1of 5

“ Abu Darda’ ”

Sebelum hidayah Islam menembus hatinya Abu Darda’ memiliki berhala yang senantiasa diagungkan
serta dilumuri dengan minyak wangi yang termahal dan diberi baju dari kain sutera.

Kisah Keislaman beliau

Sahabat yang mulia ini bernama Uwaimir bin Malik Al-Khozraji. Sebelum hidayah Islam menembus
hatinya Abu Darda’ memiliki berhala yang senantiasa diagungkan serta dilumuri dengan minyak wangi
yang termahal dan diberi baju dari kain sutera.

Beliau memiliki sahabat bernama Abdullah bin Rawahah yang terlebih dahulu memeluk Islam. Tanpa
kenal lelah lelaki ini berupaya mengentaskan Abu Darda’ dari lembah kesyirikan. Ketika Abu Darda’ sibuk
berdagang ditokonya, Abdullah bin Rawahah berkunjung ke rumah dan ditemui Ummu Darda’. Setelah
dipersilakan masuk lantas istri Abu Darda’ meninggalkannya untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya.
Saat itu ia masuk kamar di mana berhala itu diletakkan, dibawanya keluar kemudian dirusaknya hingga
hancur berantakan, seraya mengatakan,

“ Sungguh segala yang disembah selain Allah adalah batil….sungguh sesembahan yang disembah selain
Allah adalah batil”.

Ketika istri Abu Darda’ melihat tragedi itu ia pun marah dan menangis, tak lama berselang, sang suami
tiba, seketika itu pula api kemarahan menyala dan berkobar, namun akhirnya tersadar menyaksikan
berhala yang dipujanya telah hancur lantas berkata,

“Kalau berhala tersebut memiliki kebaikan tentu ia bisa membela dirinya dari kejelekan”.

Saat itulah benih-benih keimanan kepada Allah mulai tumbuh. Akhirnya bersama sahabat terbaiknya,
beliau menyatakan keislamannya di hadapan Rasul mulia. Abu Darda’ adalah penduduk terakhir dari
desanya yang menyambut seruan Islam.

Abu Darda’ Pribadi Penuh Pesona.

Setiap sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai keistimewaan tersendiri. Begitu pula
dengan beliau, tak kenal lelah mengejar ketertinggalannya untuk belajar Islam, seakan-akan masa
mudanya yang kelabu terus memacu semangatnya untuk menjadi pribadi yang meraup banyak
kebaikan. Kehidupannya sehari-hari sangat sederhana. Ketika ada orang bertanya,

“ Dimana perabot dan hartamu ?”, beliau mengatakan, “Dirumah kami yang disana (di akhirat). Kami
kirimkan semua harta dan perabot yang kami punya, kalaupun masih ada yang tersisa disini, tentu sudah
aku berikan untuk kalian”.

Hati beliau telah dipenuhi perasaan cinta pada akhirat, hari-harinya sarat dengan dzikir, mengajarkan
Kitabullah dan Sunnah Nabinya, dan mengimami sholat jama’ah. Abu Darda’ berkeliling ke pasar-pasar,
membuka majlis-majlis taklim dan bermu’amalat dengan manusia dengan akhlak mulia.

Diantara nasehat Abu Darda’ kepada seorang laki-laki adalah : “ Ingatlah Allah saat engkau lapang,
niscaya Allah akan mengingatmu saat engkau sempit, jadilah seorang ‘alim atau seorang pengajar, atau
seorang pendengar (kebenaran). Jangan menjadi orang keempat ( seorang jahil dan bodoh ), niscaya
engkau akan binasa. Jadikan masjid sebagai rumahmu”.

Beliau juga sangat peduli pada orang lain, selalu mendo’akan mereka, Abu Darda’ berkata,
“Sesungguhnya aku benar-benar mendo’akan 70 orang dalam satu sujudku, aku sebut nama mereka
satu persatu”. Betapa indah dan mengagumkan akhlak beliau hingga Ummu Darda’ mengatakan “
Sebagaimana engkau melamarku di dunia, akupun akan melamarmu di akhirat”.
Mu’awiyah bin Abi Sufyan pernah mengirim utusan untuk melamar Darda’ yang ingin dijodohkan
dengan Yazid, namun beliau menolak karena ingin putri tercinta menikah dengan pria yang paling baik
agamanya, dan beliau takut anaknya terfitnah oleh gemerlap dunia.

Wafatnya Abu Darda’

Ketika ajal menjemput, teman-temannya menjenguk, mereka menanyakan,

“Apa yang engkau keluhkan ?” , “Dosa-dosaku!”, jawab Abu Darda’. “ Apa yang engkau inginkan ? ,
“Maaf dan ampunan Rabb-ku!”. Lalu beliau mengatakan, “Tolong talqin aku Laa ilaha illallah
Muhammad Rasulullah”. Diulang dan diulanglah kalimat tersebut hingga ia meninggal dunia!

Demikian luar biasa kisah hidup Abu Darda’ yang penuh hikmah, ilmu, dan senantiasa menjadi teladan
bagi generasi sesudahnya yang selalu setia pada jalan Islam. Al-Muhaqqiq Al- Imam Ibnul Qoyyim dalam
kitabnya I’lamul Muwaqqiin mengatakan

“ Para sahabat adalah orang yang paling baik hatinya, dalam ilmunya, paling sedikit takallufnya,
dibanding dengan yang lain, mereka paling dekat dengan kebenaran, sebab Allah telah memberi
keutamaan bagi mereka hingga mereka memiliki kecerdasan luar biasa, kefasihan berbicara, keluasan
ilmu, serta mudah dan cepat dalam memahami persoalan. Bagi mereka hanya sedikit musuh atau
bahkan tak ada sama sekali. Mereka senantiasa punya maksud baik dan bertaqwa kepada Allah”.

—————–

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifah

Murojaah: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah

Referensi :

Sirah Sahabat ( terjemahan) Abdurrohman Ra’fat Basya, Pustaka Al-Haura’, Yogyakarta 2013.
Majalah Fatawa Vol. III / No.06 / Mei 2007
Manhaj dan Aqidah Ahlus Sunah Wal Jama’ah, Muhammad Abdul Hadi Al-Mishri, Gema Insani Press,
Jakarta 1992
Artikel www.muslimah.or.id
“Mendekatlah Dengan Mereka Yang Bertaqwa”
Taatnya sahabat yang bertaqwa akan menarik kita pada ketaatan yang sama. Nilai kebaikan yang ia
sebarkan akan memotivasi kita untuk menyebarkan kebaikan pula.

Saudariku yang semoga dirahmati Allah. Setiap manusia akan saling berinteraksi satu sama lainnya
sehingga dari interaksi tersebut muncullah suatu hubungan yang kita sebut ‘persahabatan’, yaitu tingkat
kedekatan tertinggi dalam pertemanan. Diantara banyaknya teman yang kita miliki, ada yang sangat
dekat dan akrab, sering berkumpul dan berkomunikasi dengannya, saling memberi atau berbagi
berbagai hal dengannya. Tidak bisa kita pungkiri bahwa tatkala seseorang bersahabat, maka ada dua
kemungkinan pengaruh yang timbul, ia yang mempengaruhi atau ia yang terpengaruh. Dan sebaik-baik
sahabat adalah yang kita bisa mempengaruhinya dengan kebaikan atau kita yang terpengaruh oleh
kebaikannya.

Rasulullah shallaallaahu’alahi wa sallam bersabda,

ُ‫ل ْالفَدَّادِينَُ فِي َو ْالخ َي ََلءُ ْالف َْخر‬


ُِ ‫سكِينَةُ ْال َوبَ ُِر أ َ ْه‬ ُِ ‫ْالغَن َُِم أ َ ْه‬
َّ ‫ل فِي َوال‬

“Kesombongan dan keangkuhan terdapat pada orang-orang yang meninggikan suara di kalangan
pengembala onta dan ketenangan terdapat pada pengembala kambing.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Bergaul dengan hewan yang tidak berakal saja bisa mempengaruhi karakter dan kepribadian seseroang,
bagaimana lagi dengan sesama manusia? Oleh karenanya, pantaskan kita menjadi sahabat baik bagi
orang lain? Atau sudahkan kita memutuskan siapa yang akan menjadi sahabat kita?

Saat engkau harus memilih


Saudariku, Rasulullah shalallaahu ’alaihiwasallam bersabda,

َ‫ل‬ َ ‫لَّ ت‬
ُ ُْ‫صاحِ ب‬ ُ ِ‫مؤْ مِ نًا إ‬

“Janganlah engkau bergaul kecuali dengan seorang mukmin.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, Hasan).

Nabi shalalallaahu ’alaihiwasallam menjelaskan kepada kita agar hanya bersahabat dengan orang-orang
mukmin yang bertaqwa. Jangan sampai bersahabat dengan orang-orang kafir, fasiq lagi pengikut hawa
nafsu sehingga akan berbahaya bagi dunia dan akhirat kita. Hanya bersahabat dengan orang-orang
berimanlah persahabatan kita akan langgeng baik di dunia maupun di akhirat, sebagaimana firman Allah
Ta’ala,

ُ‫عدوُ ِلبَ ْعضُ بَ ْعضه ُْم يَ ْو َمئِذُ ْاْلَخِ ََّلء‬ َُّ ِ‫ُْالمتَّقِينَُ إ‬
َ ‫ل‬

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali
orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67).

Al-akhilla (tingkatan pertemanan yang paling tinggi) pada hari itu akan menjadi musuh bagi sahabatnya
di dunia, para sahabat akan saling menjauh dan membenci kecuali orang-orang yang bertaqwa. Untuk
apa membangun persahabatan hanya untuk perpecahan dikemudian hari? Untuk apa menghabiskan
waktu banyak dengannya apabila akhirnya akan saling membenci? Kita semua sepakat bahwa tidak ada
yang ingin pecah dan bermusuhan dengan sahabatnya. Lantas untuk apa kita bangun hubungan dengan
orang-orang yang tidak takut kepada Allah, bermaksiat kepada Allah, melakukan kesyirikan, kalau pada
akhirnya hubungan persahabatan itu akan berakhir dengan permusuhan di hari akhir nanti. Kalau tidak
berpecah di dunia, maka perpecahan di akhirat lebih menyakitkan.
Lalu bagaimanakah kriteria teman yang hendaknya kita bersahabat dengannya?

1. Beraqidah lurus
2. Taat beribadah dan menjauhi maksiat
3. Berakhlaq terpuji dan bertutur kata yang baik
4. Suka menasehati dalam kebaikan
5. Zuhud terhadap dunia dan tidak berambisi mendapat kedudukan
6. Banyak ilmu atau dapat berbagi ilmu dengannya
7. Berpakaian sesuai syariat
8. Menjaga kewibawaan dan kehormatan diri dari hal-hal yang dianggap kurang pantas di
masyarakat
9. Tidak banyak bergurau dan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat

Saudariku, mencari sahabat yang beriman dan bertaqwa bukan berarti tidak bergaul dengan orang-
orang sekitar yang dianggap tidak memenuhi kriteria tersebut. Kita diperintahkan untuk bersabar
dengan keburukan akhlaq maupun sifat manusia di sekitar kita dan tetap bergaul bersama mereka
sesuai dengan porsinya, yaitu memberikan hak-hak mereka sebagai sesama muslim, sebagai tetangga
atau sebagai relasi yang mengharuskan kita berinteraksi dengannya. Proporsionallah dalam bergaul
dengan tetap mempertimbangkan mashlahat dan mudharatnya.

Keutamaan bersahabat dengan mereka yang bertaqwa

Betapa banyak umat Islam di zaman ini tidak selektif dalam memilih sahabat karib, tidak melihat dengan
siapa ia bersahabat dan bergaul. Kenapa bisa demikian? Salah satu alasannya yaitu kita belum
mengetahui keutamaan bersahabat dengan orang-orang yang bertaqwa sehingga seakan-akan
bersahabat dengan siapapun sama saja, padahal kita sepakat akan besarnya pengaruh seorang teman,
lebih-lebih seorang sahabat. Saudariku, sangat banyak keutamaan yang kita dapatkan saat kita
menjadikan orang-orang yang bertaqwa sebagai sahabat karib.

Langgeng di dunia dan di akhirat

Para sahabat pada hari kiamat akan saling mencela dan membenci kecuali orang-orang yang bertaqwa
(berdasarkan QS. Az-Zukhruf: 67). Perpecahan mereka tinggal menunggu waktu saja, apakah di dunia
atau permusuhan yang menyakitkan di akhirat. Adapun persahabatan atas dasar ketakwaan akan kekal.

Berinteraksi dengan kita melalui sunnah Rasulullah

Bersahabat dengan orang-orang yang bertaqwa sejatinya kita sedang bersahabat dengan orang-orang
yang berusaha memenuhi setiap hak kita. Jika sahabat kita orang-orang yang bertaqwa maka ia akan
berinteraksi dengan kita melalui sunnah Nabi shalallaahu’alaihiwasallam. Saat ia bermuamalah dengan
kita, maka yang dia ingat sabda Rasulullah untuk menyebarkan salam, memberi senyuman,
mengucapkan perkataan yang baik terbaik, menjenguk saat sakit, memuliakan tamu, senantiasa
mendoakan kita dengan doa yang diajarkan Rasulullah, memberi pujian yang menyenangkan hati kita
namun tetap berusaha agar kita tidak ujub, memasukkan kegembiraan dalam hati kita, dia tidak akan
mengolok atau mempermalukan kita, saat kita melakukan kesalahan maka ia memberi udzur kepada
kita, mudah memaafkan, membantu kita saat lapang maupun sempit dan tidak mudah emosi.

Kenapa demikian? Karena ia bermuamalah dengan kita atas dasar dalil, bukan hawa nafsunya.

Sufyan Ats-Tsauri mengatakan, “Lebih baik punya musuh yang bertaqwa daripada teman yang fasiq”.
Walaupun bermusuhan, orang yang bertaqwa tidak akan mendzalimi atau menghalalkan segala cara.
Namun, jangan terlalu banyak berharap dengan teman yang fasiq wahai saudariku, karena Rabb-nya saja
yang telah memberikan banyak nikmat kepadanya ia maksiati, Pencipta-nya saja yang memberikan
rezeki ia khianati, lantas bagaimana lagi dengan kita yang tidak bisa memberikan apa-apa kepadanya.
Dia mengedepankan hawa nafsunya untuk melanggar perintah Allah lantas kita berharap ia
menanggalkan hawa nafusnya untuk mendengarkan nasihat kita?
Memberi pengaruh positif pada keimanan dan ketaqwaan kita
Tidak dipungkiri lagi bahwa taatnya sahabat yang bertaqwa akan menarik kita pada ketaatan yang sama.
Nilai kebaikan yang ia sebarkan akan memotivasi kita untuk menyebarkan kebaikan pula. Termasuk
nasihat-nasihat mereka akan menjadi pengingat saat kita lalai dari mengingat Allah.

Jalan menuju istiqomah


Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Ali Imran : 101,

َ ‫علَيْك ُْم تتْلَىُ َوأ َ ْنت ُْم ت َ ْكفرونَُ َو َكي‬


ُ‫ْف‬ ُْ ‫َص ُْم َو َم‬
َُِّ ‫ن ۗ َرسولهُ َوفِيك ُْم‬
َ ُ‫ّللا آيَات‬ ِ ‫اّلل يَ ْعت‬ َُ ‫ص َراطُ إِلَىُ هد‬
َُِّ ِ‫ِي فَقَ ُْد ب‬ ِ ُ‫م ْستَقِيم‬

“Bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-
Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah,
maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”

Ayat ini berisi pernyataan pengingkaran atas para sahabat, dimana keistiqamahan dan teguhnya
keimanan para sahabat dipengaruhi oleh dua hal, yaitu ayat-ayat Allah senantiasa dibacakan di hadapan
mereka dan bersama mereka ada sebaik-baik manusia yaitu Rasulullah shallallaahu’alaihiwasallam
sebagai uswatun hasanah. Dua hal tersebuh sekaligus menunjukkan bahwa diantara penyebab
istiqamahnya seseorang adalah lingkungan dan sahabat yang baik.

Menguatkan dalam kebaikan


Allah Ta’ala berfirman tentang perkataan Nabi Musa ‘Alaihissalam, “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku
dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari
keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku dan jadikanlah ia sekutu
dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau” (QS.
Thaha : 25-34). Bahkan seorang Nabipun membutuhkan sahabat untuk membantu menguatkan mereka
dalam kebaikan bagaimana lagi dengan kita?

Berkumpul dengan mereka pada hari kiamat


Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallaahu ’alaihi wa
sallam, “Kapan terjadi hari kiamat wahai Rasulullah?” Beliau shallaahu’alaihi wa sallam berkata, “Apa
yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah
mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa, dan banyak
sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.” Beliau shallallaahu’alaihi wa
sallam berkata, “(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhori
dan Muslim). Dalam riwayat lain di Shahih Bukhari Anas mengatakan, “Kami tidak pernah merasa
gembira sebagaimana rasa gembira kami mendengar sabda Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam: Engkau
akan bersama dengan orang yang engkau cintai. Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallaahu’alaihi wa
sallam, Abu Bakar dan Umar. Aku berharap bisa bersama mereka karena kecintaanku pada mereka,
walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”

Karena mereka juga manusia


Memiliki sahabat yang bertaqwa bukan berarti kita tidak akan pernah kecewa dengannya. Bersahabat
dengan orang-orang yang bertaqwa bukan berarti engkau tidak akan pernah melihatnya bermaksiat.
Tidak ada sahabat yang sempurna, karena mereka juga manusia, memiliki sifat salah sebagaimana
manusia yang lainnya. Jangankan kita, sahabat Rasulullah pun pernah melakukan kesalahan.
Sebagaimana kesalahan para sahabat saat perang Uhud yang menjadi salah satu kekalahan terbesar
umat Islam, namun Allah memerintahkan Rasulullah untuk memaafkan mereka.

Saudariku.. Marilah kita bersahabat dengan mereka yang bertaqwa, hingga tumbuhlah kecintaan di atas
ketaatan kepada Allah. Engkau tentu berharap kebahagiaan bersahabat di dunia dan dipertemukan
kembali di jannah-Nya kelak.

Wallaahu a’lam.