You are on page 1of 19

Referat

ANATOMI DAN FISIOLOGI KUKU

Oleh
Rudi Thenggono, S.Ked
04054821618110

Pembimbing

dr. Fitriani, Sp.KK, FINSDV

BAGIAN/DEPARTEMEN DERMATOLOGI DAN VENEREOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
2017
HALAMAN PENGESAHAN

Judul Referat

ANATOMI DAN FISIOLOGI KUKU

Oleh:
Rudi Thenggono, S.Ked
04054821618110

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti ujian Kepaniteraan
Klinik Senior di Departemen Dermatologi dan Venereologi Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijaya/Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode 28 Agustus
2017 – 2 Oktober 2017.

Palembang, September 2017

dr. Fitriani, Sp.KK, FINSDV

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur bagi Allah, atas rahmat dan karunia-Nya, akhirnya referat yang
berjudul “Anatomi dan Fisiologi Kuku” ini dapat diselesaikan dengan baik. Referat ini
ditujukan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian kepaniteraan klinik senior di bagian
Ilmu Dermatolgi dan Venereologi RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada dr. Fitriani, Sp.KK, FINSDV selaku
pembimbing dalam referat ini yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan referat
ini.
Penulis menyadari bahwa referat ini masih memiliki banyak kekurangan, untuk itu saran
dan kritik yang membangun sangat diharapkan penulis demi kebaikan di masa yang akan
datang. Akhirnya, kepada Allah penulis memohon semoga buah karya sederhana ini ikhlas
karena-Nya, pernuh berkah, dan berguna bagi diri penulis. Serta semoga Allah melimpahkan
manfaat pada setiap orang yang membacanya.

Palembang, September 2017

Penulis

iii
ANATOMI DAN FISIOLOGI KUKU
Rudi Thenggono, S.Ked
Pembimbing : dr. Fitriani, Sp.KK, FINSDV
Bagian/Departemen Dermatologi dan Venereologi
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya/RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang

PENDAHULUAN
Kuku adalah suatu adneksa kulit berlapis tanduk yang terdapat pada ujung jari tangan
dan kaki. Kuku memiliki beberapa fungsi penting, yang seringkali hanya disadari pada saat
kuku tersebut kehilangan fungsinya. Fungsi paling nyata adalah untuk meningkatkan nilai
estetika tangan, namun terdapat fungsi lain seperti proteksi falang distal terhadap trauma, efek
counter-pressure yang membantu fungsi berjalan serta meningkatkan sensasi taktil,
menggaruk, dan memanipulasi barang kecil.1,2
Insidensi kelainan bentuk kuku tidak diketahui pasti, karena masih belum banyak studi
yang dilakukan. Berbagai macam kelainan dapat terjadi pada kuku, seperti deformitas, infeksi,
paronikia, dan ingrown toenails. Kebanyakan infeksi kuku disebabkan oleh jamur, tetapi
infeksi kuku oleh bakteri dan virus juga dapat terjadi. Bahkan infestasi parasit juga dapat
menyebabkan perubahan pada lempeng kuku. Infeksi pada kuku berpengaruh signifikan pada
kualitas hidup seseorang. Masalah yang berhubungan dengan infeksi kuku antara lain rasa
tidak nyaman, kesulitan dalam memakai alas kaki dan berjalan, kosmetik, dan rendah diri.
Kuku dapat mengalami perubahan pada berbagai kondisi sistemik dan genetik atau akibat dari
suatu trauma. Bentuk kuku abnormal seperti clubbing finger sering dikaitkan dengan adanya
kelainan paru, nail biting dan onikotilomania merupakan petunjuk mengenai status
emosional/psikis seseorang. 3-5
Dengan mengamati kondisi kuku, praktisi kesehatan dapat memperoleh informasi
mengenai kebiasaan, pekerjaan, dan status kesehatan seseorang karena beberapa perubahan
bentuk kuku dapat menjadi sebuah petunjuk mengenai suatu penyakit sistemik.5 Maka dari
itu, pemahaman menyeluruh mengenai anatomi dan fisiologi kuku diperlukan untuk
mengenali kelainan kuku lebih dini sehingga kita dapat mendiagnosis dan menatalaksana
penyakit kuku dengan cepat dan tepat.

ANATOMI KUKU
Kuku adalah struktur unik yang kesatuan komponennya disebut unit kuku. Kuku
terdiri atas zat tanduk, lempeng kuku, dan empat epitel khusus, antara lain lipatan kuku
proksimal, matriks kuku, bantalan kuku, dan hiponikium. Struktur anatomi kuku dari distal ke
proksimal meliputi hiponikium, pita onikodermal, bantalan kuku, lempeng kuku, lipatan kuku

iv
lateral, lunula, kutikula, matriks kuku, dan lipatan kuku proksimal (Gambar 1). Aparatus
kuku terbentang di atas periosteum falang distal. Anatomi antara kuku dan tulang berpengaruh
terhadap adanya kerusakan tulang pada kelainan kulit dan sebaliknya. Bentuk tulang falang
distal juga menentukan bentuk dan kurvatura transversal kuku.6-8
Bantalan kuku memiliki rete ridge paralel sejati yang berasal dari serpihan perdarahan
atau ekstravasasi sel darah merah. Kutikula kuku dibentuk oleh keratinosit lipatan kuku
proksimal, sedangkan lempeng kuku dibentuk oleh keratinosit matriks. Pigmen endogen
cenderung mengikuti kontur lunula (bagian distal matriks), sedangkan pigmen eksogen
cenderung mengikuti kontur kutikula. Bagian dorsal lempeng kuku dibentuk oleh matriks
proksimal dan bagian ventral dibentuk oleh matriks distal dan bantalan kuku (Gambar 1).
Letak lesi melanositik pada matriks dapat dilihat dari adanya pada dorsal atau ventral lempeng
kuku.6,7,9

Gambar 1. A. Anatomi kuku. B. Penampang sagital unit kuku. Unit kuku terdiri dari lipatan kuku proksimal,
matriks, bantalan kuku, dan hiponikium. Struktur tersebut membentuk dan menyokong lempeng kuku. Matriks
proksimal membentuk bagian superfisial (dorsal) lempeng kuku. Matriks kuku distal membentuk permukaan
ventral (bawah) kuku8

Kuku tangan menampilkan aksis mayor longitudinal dan kuku kaki dengan aksis
mayor transversal. Rasio panjang dan lebar kuku sangatlah penting dalam penampakan
estetika kuku. Ukuran kuku bervariasi pada tiap jari. Kuku terbesar yaitu kuku ibu jari kaki
menutupi hampir 50% dari punggung jari. Bentuk dan kelengkungan kuku tangan dan kaki
v
bervariasi, dipengaruhi banyak faktor, antara lain daerah matriks proksimal, laju pembelahan
sel, dan bentuk falang distal di bawahnya.5,6
Tipe keratin yang ditemukan pada kuku adalah tipe epidermis dan didominasi tipe
rambut. Keratinisasi isthmus kuku berbeda dari keratinisasi bantalan kuku dengan adanya K10
hanya pada isthmus kuku. Dengan mikroskop elektron, kita dapat melihat merenggangnya
ruang interseluler di antara keratinosit kuku pada kuku yang rapuh.7,8

Lempeng Kuku
Lempeng kuku adalah suatu struktur penuh keratin yang muncul akibat maturasi dan
keratinisasi epitel matriks kuku. Lempeng kuku melekat pada bantalan kuku yang juga
berkontribusi dalam pembentukannya. Warna merah muda lempeng kuku berasal dari
bantalan kuku yang kaya vaskuler dan warna putih dari lunula (bagian distal matriks kuku)
dan di bawah pinggir bebas kuku (Gambar 2). Bagian proksimal dan lateral lempeng kuku
dikelilingi lipatan kuku yang mencakup 1/3 margin proksimal dan lateral. Pada ujung jari,
lempeng kuku berpisah dari jaringan di bawahnya pada hiponikium. Lempeng kuku berbentuk
persegi panjang, translusen, dan transparan. Lempeng kuku melengkung pada aksis
longitudinal dan transversal, terutama di jari kaki. Permukaan lempeng kuku halus namun
sering kali samar-sama terlihat alur longitudinal yang semakin kentara seiring dengan
penuaan. Pola alur tersebut dapat dipakai dalam identifikasi forensik. Bagian bawah lempeng
kuku memperlihatkan alur longitudinal yang berhubungan dengan alur rete (rete ridge).
Lempeng kuku berwarna merah muda homogen, kecuali pada ujung distal kuku berwarna
putih. Warna merah muda tersebut berasal dari pembuluh darah pada bantalan kuku.5,7,8,10
Bagian proksimal kuku tangan, terutama pada ibu jari, berwarna keputihan, opak,
berbentuk setengah lingkaran disebut lunula. Lunula adalah bagian matriks kuku yang
perlekatan lempeng kuku pada epitel di bawahnya cukup longgar. Lebih dari 90% kuku
tangan mempunyai pita transversal putih pada distal kuku (pita onikokorneum atau isthmus)
sebagai penanda bagian paling distal perlekatan lempeng kuku ke bantalan kuku. Bagian ini
mewakili batas anatomis terhadap bahaya lingkungan, kelainan pada daerah ini menyebabkan
pemisahan lempeng kuku dan onikolisis. Pita onikokorneal dipisahkan dari lempeng kuku
putih oleh pita onikodermal. Pita onikodermal berupa pita merah muda berukuran 1-1,5
mm.5,11
Pada bagian transversal, lempeng kuku terdiri dari tiga bagian, yaitu lempeng kuku
dorsal, lempeng kuku intermedial, dan lempeng kuku ventral. Lempeng kuku dorsal dan
intermedial dihasilkan oleh matriks kuku, sedangkan lempeng kuku ventral dihasilkan oleh
vi
bantalan kuku. Lempeng kuku di atas lunula lebih tipis dan terdiri dari bagian dorsal dan
intermedial saja. Terdapat sebuah garis belahan di antara lempeng kuku dorsal dan
intermedial.5
Lempeng kuku menebal sebelum margin distal. Tebal rata-rata kuku kaki pada margin
distal adalah 1,65 ± 0,43 mm pada pria dan 1,38 ± 0,20 mm pada wanita. Kuku tangan lebih
tipis, rata-rata tebalnya 0,6 mm pada pria dan 0,5 mm pada wanita. Lempeng kuku akan
menebal seiring bertambahnya usia, terutama pada dua dekade pertama. Ketebalan kuku
bergantung pada panjang matriks kuku dan lempeng kuku. Penipisan kuku adalah suatu
penanda kelainan matriks kuku, sedangkan penebalan kuku sering kali akibat adanya kelainan
pada bantalan kuku.5,11
Kerusakan lempeng kuku yang menimbulkan cacatnya matriks menyebabkan distrofi
lempeng kuku permanen, misal split atau ridge. Permukaan lempeng kuku normalnya halus
(Gambar 3) dan dapat memiliki longitudinal ridge akibat proses penuaan (Gambar 2).
Kerasnya kuku adalah karena adanya ikatan disulfida pada keratin lempeng kuku. Lempeng
kuku mengandung 0,1% kalsium, meskipun hanya sedikit berkontribusi terhadap kerasnya
kuku.7

Gambar 2. Histologi kuku penampang sagital. Lunula sebagai penghubung matriks dan bantalan kuku (open
arrow) berada di bawah lipatan kuku proksimal. Kutikula (panah besar) tumbuh pada lempeng kuku dari ujung
distal dan permukaan bawah (atap) lipatan kuku proksimal. Arrowhead mengindikasikan peralihan pada atap
(permukaan ventral) lipatan kuku proksimal dari epitel normal ke matriks kuku, tanpa granul keratohialin.
Penghubung bantalan kuku dan hiponikium ditandai dengan panah kecil.10

Lipatan Kuku
Lempeng kuku dikelilingi lipatan kuku proksimal dan lateral. Lipatan kuku
mengelilingi, menyokong, dan melindungi kuku. Kutikula adalah distal horny end-product
dari lipatan kuku proksimal. Kutikula melekat pada lempeng kuku dan melindungi kuku dari
patogen dan iritan lingkungan.3,7

vii
Lipatan kuku proksimal adalah lipatan kulit yang terdiri dari bagian dorsal dan ventral.
Bagian dorsal secara anatomi mirip dengan kulit punggung jari tetapi lebih tipis dan tidak ada
unit pilosebaseusnya. Bagian ventral yang tidak dapat dilihat dari luar dan bersambung
dengan germinative matrix, menutupi hampir ¼ lempeng kuku. Lipatan kuku proksimal
menempel ke permukaan lempeng kuku dan berkeratinisasi dengan lapisan granuler. Batas
antara lipatan kuku proksimal dan matriks kuku adalah daerah di mana lapisan granuler
menghilang.5
Lapisan berkeratin pada lipatan kuku proksimal membentuk kutikula yang menempel
pada lempeng kuku superfisial dan mencegah pemisahan lempeng dari bantalan kuku
(Gambar 4). Integritas kutikula penting dalam menjaga homeostasis daerah ini. 3,4,6 Dermis
lipatan kuku proksimal mengandung banyak kapiler yang berjalan paralel dengan permukaan
kulit dan dilihat secara in vivo dengan capillary microscopy. Morfologi kapiler lipatan kulit
proksimal berubah pada jaringan ikat.5

Lipatan kuku
proksimal kutikula

Gambar 4. Histologi lipatan kuku proksimal potongan transversal. Tampak kutikula menempel pada lempeng
kuku.3
Matriks Kuku
Matriks kuku adalah struktur berepitel khusus yang menyusuri lempeng kuku pada
bagian tengah falang distal, terhubung dengan tendon pada sendi interfalang distal. Tepat
setelah elevasi lipatan kulit proksimal, matriks terlihat seperti bulan sabit cembung dengan
lateral horn meluas ke proksimal dan lateral. Pada bagian longitudinal, matriks berbentuk
wedge dan terdiri dari bagian proksimal (dorsal) dan distal (ventral) (Gambar 3). Keratinosit
matriks kuku membagi lapisan sel basal dan berkeratinisasi pada daerah tanpa granuler.
Daerah keratinisasi (keratogenous zone) onikosit matriks kuku dapat dengan mudah
dibedakan secara histologis sebagai daerah eosinofilik di mana terjadi fragmentasi nukleus
dan pemadatan sitoplasma (Gambar 3). Pada daerah ini, fragmen nukleus dimusnahkan oleh
enzim deoksiribonuklease dan ribonuklease. Pada kondisi tertentu, fragmen nukleus masih
berada di lempeng kuku intermedial memproduksi leukonikia. Namun, leukonikia sering

viii
menghilang sebelum sampai ke pinggir bebas kuku karena enzim litik DNA dan RNA aktif
pada horny nail plate.3,5,7

matriks

A B

Gambar 3. A. Penampang frontal matriks kuku, dengan bagian cekung di distal dan dua lateral horn. B.
Histologi matriks kuku, berbentuk V. Keratogenous zone tampak sebagai daerah eosinofilik.3

Maturasi dan diferensiasi keratinosit matriks kuku tidak mengikuti aksis vertikal
seperti pada di epidermis, tetapi mengikuti aksis diagonal yang berorientasi di distal.
Keratinisasi sel matriks kuku proksimal menghasilkan lempeng kuku dorsal dan keratinisasi
sel matriks kuku proksimal menghasilkan lempeng kuku intermedial. Pada beberapa jari,
matriks distal tidak sepenuhnya ditutupi oleh lipatan kuku proksimal tetapi dapat terlihat
melalui lempeng kuku seperti daerah putih berbentuk bulan sabit (lunula). Warna putih pada
lunula berasal dari dua faktor anatomi, yaitu zona keratogen matriks distal mengandung
fragmen nukleus yang menyebabkan difraksi ringan dan kapiler matriks sel lebih sedikit
terlihat dari pada kapiler bantalan kuku karena ketebalan relatif epitel matriks kuku.5,6

Keratinosit Matriks Kuku


Sel matriks kuku mampu menghasilkan keratin lembut (keratin kulit) dan keratin keras
(keratin rambut). Ekspresi keratin di daerah berbeda pada kuku menunjukkan matriks kuku
adalah satu-satunya daerah ekspresi protein keratin keras, yaitu Ha1 keratin. Fibroblas matriks
kuku dapat menyebabkan ekspresi keratin keras pada keratinosit matriks bukan kuku.5

Melanosit
Melanosit matriks kuku biasanya pasif dan tidak terdeteksi di bagian patologi. Namun,
melanosit memiliki enzim yang dibutuhkan untuk produksi melanin dan dapat diaktivasi
dengan berbagai kondisi fisiologis dan patologis. Aktivasi melanosit matriks kuku
menghasilkan difus dan banded nail pigmentation yang lebih sering terjadi pada orang Jepang
dan ras kulit hitam dibanding ras Kaukasia. Melanosit DOPA negatif (inaktif) tersebar di

ix
matriks dan bantalan kuku. Melanosit DOPA positif (aktif) terdapat pada matriks kuku distal
dalam bentuk kluster kecil di antara lapisan suprabasal epitel matriks kuku.5

Sel Langerhans
Sel Langerhans banyak terdapat di proksimal dari pada di distal matriks kuku. Seperti
pada epidermis normal, sel Langerhans dominan ditemukan pada lapisan suprabasal. Nmaun,
sel Langerhans juga kadang ditemukan pada lapisan basal matriks kuku.5

Sel Merkel
Densitas sel Merkel pada matriks kuku dipengaruhi oleh usia. Sel Merkel lebih banyak
ditemukan di kuku fetus dari pada orang dewasa.5

A C

Gambar 5. A. Matriks kuku. B. Histologi kuku penampang sagital kuku. C. Histologi bantalan kuku. N, nail;
NP, nail plate; NR, nail root; NM, nail matrix; Ep, eponychium; FE, free edge; Hy, hyponychium; NW, nail
walls; NG, nail groove; E, epidermis; NB, nail bed; ER, epidermal ridges; D, dermis; DP/Dpa, dermal papillae;
dermal pappilae (tanda panah); Lu, lunula; P, periosteum; CL, capillary loops; G, glomus organs.12

Bantalan kuku
Bantalan kuku berada di bawah lempeng kuku dan berwarna merah muda karena
banyaknya suplai darah. Bantalan kuku yang disebut matriks steril, berperan dalam menyusun
substansi permukaan bawah lempeng kuku yang membantu kuku terus tumbuh sembari
melekat pada bantalan kuku. Ridge and groove longitudinal berkaitan dengan kapiler pada
aksis longitudinal dan membentuk struktur bantalan kuku. Bantalan kuku terbentang dari
x
matriks kuku ke hiponikium (Gambar 6). Jaringan subkutan tidak ditemukan pada bantalan
kuku. Periosteum ditemukan di bawah bantalan kuku pada falang distal.3,7

Gambar 6. Diagram cut-away kuku menunjukkan konfigurasi bantalan dan matriks kuku.
Perhatikan ridge and groove longitudinal bantalan kuku. Matriks kuku meluas ke lipatan kuku proksimal.7

Bantalan kuku terbentang dari margin distal lunula ke isthmus dan dapat dilihat dari
lempeng kuku. Epitel bantalan kuku melekat pada permukaan bawah lempeng kuku sampai
kuku avulsi. Epitel bantalan kuku tipis dan terdiri dari 2 sampai 5 lapis sel. Rete ridge
longitudinal berhimpit dengan ridge dermal seperti gambaran tongue-and-groove. Epitel
bantalan kuku adalah struktur epitel khusus dengan lapisan bertanduk yang melekat ke batas
inferior lempeng kuku dan membuat kedua jaringan melekat dengan kuat. Lapisan bertanduk
pada bantalan kuku membentuk lempeng kuku ventral yang sesuai dengan hampir 1/5 tebal
dan berat kuku terminal. Lempeng kuku ventral terlihat jelas karena gambaran eosinofilik
ringannya. Keratinisasi bantalan kulit tidak berhubungan dengan pembentukan lapisan
granuler.5,13
Isthmus kuku adalah pita transversal tipis pada distal yang mewakili daerah
transisional antara bantalan kuku dan hiponikium. Isthmus kuku memperlihatkan pola
keratinisasi unik (onycholemmal keratinization) dengan keratinosit pucat berinti. Lapisan
korneum pada isthmus kuku melekat dengan penonjolan permukaan lempeng kuku inferior
yang mencegah onikolisis. Ekspresi keratin pada bantalan kuku berbeda dengan ekspresi
keratin di matriks kuku di mana keratin K6, K16, dan K6hf hanya diekspresikan pada
lempeng kuku (Gambar 7). Isthmus kuku berbeda dari bantalan kuku karena adanya ekspresi
suprabasal K10 yang kuat. Peralihan dari isthmus ke hiponikium ditandai dengan hilangnya
ekspresi K6hf dan K6/16, dan munculnya ekspresi K5/17.5

Hiponikium
Hiponikium adalah bagian unit kuku yang berada di distal bantalan kuku dan di bawah
pinggir bebas lempeng kuku, berdekatan dengan kulit volar jari. Hiponikium meluas ke arah
xi
proksimal menuju distal groove dan pita onikodermal (Gambar 7). Hiponikium memiliki
lapisan granuler sedangkan matriks dan bantalan kuku tidak.7

Gambar 7. A. Kuku normal. B. Ekspresi keratin gen pada daerah berbeda di kuku.5

Hiponikium menandai daerah anatomi antara bantalan kuku dan distal groove di mana
lempeng kuku lepas dari dorsal jari. Struktur anatomi menyerupai kulit volar dan plantar, dan
keratinisasi terjadi melalui pembentukan lapisan granuler (Gambar 8). Lapisan bertanduk
hiponikium sebagian berakumulasi di bawah batas bebas lempeng kuku. Hiponikium biasanya
ditutupi oleh lempeng kuku distal, tetapi dapat terlihat pada orang yang memiliki kebiasaan
menggigit kuku. Bentuk dari jaringan kapiler hiponikium dapat dilihat dengan dermoskop
sebagai titik-titik merah.3,5

xii
Gambar 8. Potongan transversal bagian distal. Lempeng kuku memisah pada hiponikium. Keratinisasi terjadi
melalui pembentukan lapisan granuler. 3
Zona Membran Dasar
Struktur antigen basement membrane zone kuku sama dengan epidermis dan tidak ada
perbedaan komposisi pada bagian berbeda pada unit kuku. Hal ini menjelaskan keterlibatan
kuku pada kondisi dengan mutasi basement membrane-associated gene dan pada penyakit
kulit autoimun yang melibatkan antigen zona membran dasar.5

Dermis
Unit kuku tidak memiliki jaringan subkutan, dan dermisnya tidak mengandung unit
pilosebaseus. Susunan rete ridge bervariasi pada bagian berbeda pada unit kuku. Dermis di
bawah matriks kuku proksimal tersusun atas jaringan ikat padat yang membentuk struktur
mirip tendon, menghubungkan matriks ke periosteum os falangeal proksimal (ligamen
posterior). Sejumlah kecil jaringan lemak subdermis berada dekat periosteum basis falang
(Gambar 5). Dekatnya lateral horn dan periosteum menyebabkan lempeng kuku
mencembung ke lateral. Rete ridge dermis di bawah matriks kuku panjang dan berbentuk
seperti akar. Dermis di bawah matriks distal tersusun atas jaringan ikat longgar dengan
banyak pembuluh darah dan badan glomus.5
Susunan dermis lempeng kuku sangat unik dengan groove and ridge longitudinal yang
berjalan dari lunula ke hiponikium (Gambar 6). Kapiler longitudinal pada bantalan kuku
menyebabkan pola linier dari perdarahan bantalan kuku (splinter hemorrhage). Bantalan kuku
dermis memiliki banyak jaringan ikat dengan bundle dari periosteum falang dan mengandung
banyak badan glomus.5

Vaskularisasi dan inervasi


Unit kuku kaya akan suplai darah dari arteri digitalis lateral. Arteri ini berjalan di
sepanjang sisi jari dan bercabang ke matriks dan lipatan kuku proksimal dan arkusnya

xiii
menyuplai darah ke matriks dan bantalan kuku sehingga matriks kuku memiliki 2 pembuluh
darah yang menyuplainya (Gambar 9). Selama pembedahan kuku, hemostasis dijaga dengan
memberikan tekanan pada sisi jari di arteri digitalis. Bantalan kuku kaya suplai struktur
neurovaskular berkapsul yang tersusun atas 1 sampai 4 anatomosis arteriovena dan ujung-
ujung saraf. Badan glomus adalah arteriovenous shunt yang terlibat dalam termoregulasi
suplai darah ke jari.5,7,8,14

Gambar 9. Vaskularisasi dan inervasi. A. Anastomosis arteri. B. Suplai arteri dan nervus digitalis. 6

Nervus medianus mempersarafi permukaan volar digiti I, II, III, dan lateral digiti IV
manus. Nervus ulnaris mempersarafi sebagian medial digiti IV dan seluruh digiti V manus.
Nervus radialis mempersarafi bagian dorsal digiti I sampai III dan sebagian lateral dorsal dari
sebagian proksimal digiti IV. Blok nervus medianus menyebabkan anestesi 3½ kuku tangan
pertama, dan block nervus ulnaris menyebabkan anestesi sisa kuku tangan. Ujung digiti II, II,
dan IV dipersarafi nervus digitalis palmaris, sedangkan digiti I dan IV serta ujung jari kaki
dipersarafi nervus dorsalis (Gambar 10). Nervus sensoris kutaneus yang berasal dari cabang
dorsal nervus digitalis, berjalan paralel dengan pembuluh darah digitalis.5,7,14

xiv
A

C
B

Gambar 10. A. Inervasi tangan.14 B. Inervasi falang distal.14 C. Diagram suplai darah dan tendon pada kuku.10

FISIOLOGI KUKU
Kuku mempunyai banyak fungsi, tidak hanya mempercantik tangan, namun kuku
memproteksi falang distal and meningkatkan diskriminasi taktil dan kemampuan mengambil
objek kecil. Kuku juga sering kita gunakan untuk menggaruk dan sebagai senjata alamiah
yang efisien. Kuku kaki melindungi ujung jari kaki dan berkontribusi dalam biomekanik
pedal.5,6,11

Kandungan Kimia dan Fisik Kuku


Kandungan Kimia
Seperti rambut, lempeng kuku sebagian besar terdiri dari protein berfilamen rendah
sulfur (keratin) tertanam pada matriks amorfik tersusun atas protein tinggi sulfur dalam
sistein. Komponen lain pada kuku adalah air, lemak, dan elemen lain. Keratin kuku terdiri dari
80-90% keratin keras (keratin rambut) dan 10-20% keratin lunak (keratin kulit). Keratin asam
44K/46K dan keratin basa 56K/60K adalah keratin keras. Keratin 50K/58K dan 48K/56K
adalah keratin lunak. Filamen keratin berjalan transversal dan paralel terhadap permukaan
kuku. Hal ini menjelaskan mengapa lempeng kuku lebih mudah terkena fraktur transversal
dari fraktur longitudinal. Keratin spesifik hanya diekspresikan pada beberapa kompartemen

xv
unit kuku, misal K6a dan K6b, K16, dan K17 tidak diekspresikan pada matriks kuku. Mutasi
gen penyandi keratin tersebut menyebabkan penebalan kuku akibat hiperproliferasi bantalan
kuku, seperti pada kongenital pakionikia.5,10
Substansi dan komposisi keratin kuku bervariasi, tergantung jenis kelamin dan proses
penuaan. Kandungan sulfur keratin kuku lebih tinggi pada wanita dibanding pria, sedangkan
kandungan nitrogen lebih tinggi pada pria dibanding wanita. Kandungan karbon sama pada
pria dan wanita. Kandungan karbon meningkat seiring pertambahan usia, dikarenakan
hilangnya materi inorganik, dan kandungan nitrogen menurun, sedangkan kandungan sulfur
cenderung stabil.5,10
Pada kondisi normal, kandungan air pada lempeng kuku adalah 18% dan kebanyakan
terdapat pada lempeng intermedial. Kandungan rata-rata air pada lempeng kuku menurun
signifikan pada musim dingin dibanding musim panas, dan bervariasi seiring waktu, karena
porositas lempeng kuku menyebabkan terjadinya hidrasi dan dehidrasi cepat. Dehidrasi terjadi
lebih cepat ketika kuku dibiarkan panjang. Ketika kandungan air turun di bawah 18%, kuku
menjadi rapuh dan ketika kandungan air di atas 30%, kuku menjadi opak dan lunak.5,10
Kuku mengandung kurang dari 5% lemak, sebagian besar adalah kolesterol.
Kandungan lemak lempeng kuku dipengaruhi keadaan hormonal dan menurun setelah
menopause. Lempeng kuku mengandung sisa elemen inorganik, seperti besi, zink, dan
kalsium. Namun, sisa elemen inorganik ini tidak mempengaruhi kelenturan kuku.5,10

Kandungan Fisik
Lempeng kuku keras, kuat, dan fleksibel. Kelenturan dan kekuatan lempeng kuku
disebabkan tingginya kandungan keratin keras dan protein kaya sulfur dan sistein, sedangkan
fleksibilitas bergantung pada kadar air dan meningkat seiring dengan hidrasi lempeng kuku.
Kurvatura ganda pada lempeng kuku sepanjang aksis longitudinal dan transversal
meningkatkan resistensi lempeng kuku terhadap stres mekanis.5,10
Kandungan fisik kuku juga bergantung pada susunan dan perlekatan onikosit di bagian
lempeng kuku serta pada orientasi filamen keratin dalam onikosit lempeng kuku. Ukuran rata-
rata sel tersebut memiliki panjang 34 μm, lebar 64 μm, dan tinggi 2,2 μm. Adhesi sel sangat
kuat. Bagian kuku ini mempengaruhi kekuatan dan ketajaman kuku. Onikosit lempeng kuku
intermedial menunjukkan interdigitasi sel membran. Dimensi rata-rata sel tersebut memiliki
panjang 40 μm, lebar 53 μm, dan tinggi 5,5 μm. Desmosom menimbulkan adhesi sel. Bagian
lempeng kuku ini berperan dalam kelenturan dan elastisitas kuku. Lempeng kuku ventral tipis
dan terdiri dari keratin lunak, menyebabkan adhesi ke bantalan kuku di bawahnya.4,5
xvi
Pertumbuhan Kuku
Lempeng kuku terus tumbuh dari proksimal ke distal sepanjang hidup. Lempeng kuku
muncul karena dua faktor, yaitu proliferasi dan diferensiasi keratinosit matriks yang
membentuk lempeng baru, serta bantalan kuku yang perlahan bergerak paralel dengan arah
pertumbuhan kuku ke batas inferior lempeng kuku.5
Kuku tangan tumbuh 2 kali lebih cepat dari kuku kaki dengan laju rerata pertumbuhan
pada orang dewasa ± 0,1 mm/hari atau 3,5 mm/bulan pada kuku tangan dan 1,5 mm/bulan
pada kuku kaki. Laju pertumbuhan kuku kelingking tangan lebih lambat dari kuku tangan
lainnya dan laju pertumbuhan kuku ibu jari kaki lebih cepat daripada kuku kaki lainnya.5,6
Pergantian sempurna dari kuku tangan membutuhkan 100-180 hari (4-6 bulan). Ketika
lempeng kuku diekstrasi, dibutuhkan kira-kira 40 hari sebelum kuku baru muncul dari lipatan
kuku proksimal. Setelah 120 hari kemudian, kuku akan mencapai ujung jari. Total waktu
regenerasi kuku kaki adalah 12-18 bulan. 5,8 Sebagai akibat dari lambatnya pertumbuhan kuku,
penyakit pada matriks kuku menjadi semakin nyata dan dibutuhkan waktu yang lama setelah
diterapi untuk menghilangkannya.4,5
Pertumbuhan kuku bervariasi pada setiap individu dan pada jari yang berbeda di
individu yang sama. Hal tersebut bergantung pada turnover rate pada sel matriks kuku dan
dipengaruhi berbagai kondisi fisiologis dan patologis. 4,8 Laju pertumbuhan kuku lambat saat
lahir, sedikit meningkat pada masa kanak-kanak, dan mencapai kecepatan maksimum pada
dekade kedua dan ketiga kehidupan. Pertumbuhan kuku menurun drastis setelah umur 50
tahun.4
Kondisi yang berkaitan dengan lambatnya pertumbuhan kuku meliputi penyakit
sistemik, malnutrisi, penyakit vaskuler dan neurologis perifer, dan pengobatan dengan obat
antimitotik. Kuku dengan onikomikosis sering menunjukkan penurunan pertumbuhan kuku.
Berhentinya pertumbuhan kuku adalah gejala khas dari yellow nail syndrome. Kondisi yang
meningkatkan pertumbuhan kuku adalah kehamilan, trauma jari, psoriasi, dan terapi dengan
retinoid atau itrakonazol oral. Akselerasi pertumbuhan kuku mengakibatkan longitudinal
ridge pada lempeng kuku (nail beading).5,7,10
Karena lambatnya laju pertumbuhan, bisa didapatkan informasi mengenai kondisi
patologis yang terjadi beberapa bulan terakhir. Obat-obatan, bahan kimia, dan biologi yang
menumpuk pada kuku dapat dideteksi dan diukur. Keuntungan dari analisis sampel kuku
adalah mudah, pengumpulan sampel noninvasif, jumlah sampel yang dibutuhkan sedikit, dan
dapat disimpan pada suhu ruangan. Kuku ibu jari kaki adalah bagian terbaik untuk analisis

xvii
karena ukuran (panjang kuku ibu jari kaki orang dewasa adalah 20 mm) dan lambatnya laju
pertumbuhan (sekitar 2 mm/bulan) sehingga dapat dikumpulkan data paparan obat-obatan dan
bahan kimia selama 10 bulan terakhir.5,7,10

RINGKASAN
Kuku adalah adneksa kulit berlapis tanduk yang terdapat pada ujung-ujung jari tangan
dan kaki. Struktur kuku muncul di dorsal jari pada usia kehamilan 8-10 minggu, ditandai
dengan delinisasi permukaan datar dari cikal bakal bantalan kuku. Unit kuku terdiri dari
matriks kuku, bantalan kuku, hiponikium, lipatan kuku proksimal, dan lipatan kuku lateral.
Kuat, keras, dan fleksibelnya lempeng kuku disebabkan oleh kandungan keratin keras, protein
kaya sulfur dan sistein, dan kadar air pada lempeng kuku.
Kuku berguna untuk mengambil benda kecil, melindungi ujung jari dari trauma,
meningkatkan sensasi perabaan, dan meningkatkan estetika tangan. Laju pertumbuhan kuku
tangan lebih lambat dari kuku kaki. Kelainan kuku merupakan penanda penting adanya
penyakit kutaneus atau sistemik dan dapat memberikan informasi mengenai penyakit atau
paparan toksin dalam beberapa bulan terakhir.

xviii
DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardiman L. Kelainan Kuku. Dalam: Adhi Djuanda, editor. Ilmu penyakit kulit dan
kelamin. 7th ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2015. p.378.
2. Snell RS. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. 6th ed. Jakarta: Penerbit EGC;
2006. p.7.
3. Piraccini BM. Nail disorders: A practical Guide to Diagnosis and Management. Italia:
Springer Verlag; 2014. p.1-6.
4. De Berker DAR, Baran R. Disorders of nails. In: Burns T, Breathnach S, Cox N,
Griffiths C, editors. Rook’s textbook of dermatology. 8th ed. Oxford: Wiley-Blackwell;
2010. p.651-7.
5. Tosti A, Piraccini BM. Disorders of the hair and nails. In: Wolff K, Goldsmith LA, Katz
SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editors. Fitzpatrick’s dermatology in general
medicine. 7th ed. New York: Mc-Graw Hill; 2012. p.778-13.
6. Dawber RPR. Science of nail apparatus. In: Baran R, Dawber RPR, Haneke E, Tosti A,
Bristow I, editors. A text atlas of nail disorders: Techniques in investigation and
diagnosis. 3th ed. New York: Martin Dunitz; 2003. p.1-8.
7. Rich P. An atlas of diseases of the nail. New York: Parthenon Publishing. 2003.p.1-4.
8. Gonzalez-Serva A. Disorders of the nail apparatus. In: Barnhill RI, editor.
Dermatopathology. 3rd ed. New York: McGraw-Hill; 2010. p.983-4.
9. Haskell H. Histology of the skin. In: Busam KJ, editor. Dermatopathology. New York:
Saunders Elsevier; 2010. p.8-9.
10. Reckman P. Structure and function of the nail. In: Scher RK, Daniel CR, editors. Nails:
Diagnosis, therapy, and surgery. 3th ed. London: Saunders Elsevier; 2005. p.13-23.
11. James WD, Berger TG, Elston DM. Andrews’ disease of the skin: Clinical dermatology.
11th ed. China: Saunders Elsevier; 2011. p.8-9.
12. Krstic RV. Human microscopic anatomy. Berlin: Springer-Verlag; 1994. p.460-3.
13. Smoller BR, Hiatt KM. Dermatopathology: The basics. New York: Springer; 2009.
p.32-33.
14. Haneke E. Surgical anatomy of the nail apparatus. In: Richert B, Di Chiacchio N, Han
E, editors. Nail surgery. London: Informa Healthcare; 2011. p.1-10.

xix