You are on page 1of 19

Benign Prostat Hyperplasia

Steven Hartanto K
202016280
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Tahun Pelajaran 2013
Jl. Arjuna Utara No.6 Kebun Jeruk, Jakarta 11510
E-mail : HK_STEVEN@YAHOO.COM

Abstrak
Pembesaran prostat jinak atau benign prostatic hiperplasia yang selanjutnya disingkat
BPH merupakan penyakit tersering kedua penyakit kelenjar prostat di klinik urologi di
Indonesia. Benign prostatic hyperplasia adalah pembesaran jinak pada kelenjar prostat,
disebabkan karena hyperplasia beberapa atau semua komponen prostat, antara lain jaringan
kelenjar dan jaringan fibro-muskular, yang menyebabkan penyumbatan uretra pars
prostatika. Kelenjar prostat terdapat diantara bladder (tempat penyimpanan urin) dan uretra
(pembuangan urin). Kelenjar prostat akan membesar secara berlahan dan menekan uretra
sehingga menyebabkan aliran urin terhambat dan terjadi retensi urin. BPH akan timbul seiring
dengan bertambahnya usia, sebab BPH erat kaitannya dengan proses penuaan. Selain itu yang
menyebabkan pembesaran kelenjar prostat, adalah bertambahnya zat prostaglandin dalam
jaringan.
kata kunci : pembesaran prostat jinak, benign prostatic hiperplasia, BPH

A. Anamnesis
Anamnesis dilakukan untuk menggali keluhan utama serta gejala BPH. Di samping itu
ditanya juga riwayat kesehatan pada umumnya seperti riwayat pembedahan, riwayat
penyakit saraf, penyakit metabolik seperti diabetes melitus, dan riwayat pemakaian
obat-obatan. Untuk menilai gejala obstruktif dan iritatif dapat diperoleh melalui
kuesioner, dimana yang umumnya dipakai saat ini adalah International Prostate
Symptom Score (IPSS). Anamnesis yang dilakukan adalah :1
 Perasaan vesika urinaria tidak kosong setelah miksi?

1
 Sering / tidaknya miksi?
 Terdapat arus kemih yang berhenti saat miksi / tidak?
 Tidak dapat menahan miksi / dapat?
 Terjadi arus lemah saat miksi / tidak?
 Terjadi kesulitan memulai miksi / tidak?
 Nokturia?

Tabel 1 : Dalam anamnesis juga dapat menggunakan table international Prostat Symptom
Score. Skor 0-7 ringan, 8-19 sedang, dan 20-35 berat

2
B. Pemeriksaan
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah :3
 Dilakukan dengan pemeriksaan tekanan darah, nadi dan suhu. Nadi dapat
meningkat pada keadaan kesakitan pada retensi urin akut, dehidrasi sampai
syok pada retensi urin serta urosepsis sampai syok - septik.
 Pemeriksaan abdomen dilakukan dengan teknik bimanual untuk mengetahui
adanya hidronefrosis, dan pyelonefrosis. Pada daerah supra simfiser pada
keadaan retensi akan menonjol. Saat palpasi terasa adanya ballotemen dan
pasien akan terasa ingin miksi. Perkusi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya
residual urin.
 Penis dan uretra untuk mendeteksi kemungkinan stenose meatus, striktur
uretra, batu uretra, karsima maupun fimosis.
 Pemeriksaan skrotum untuk menentukan adanya epididimitis
 Pemeriksaan colok dubur (rectal toucher). Pemeriksaan colok dubur dapat memberi
kesan keadaan tonus sfingter anus, mukosa rektum, kelainan lain seperti benjolan di
dalam rektum dan prostat. Pada perabaan melalui colok dubur harus diperhatikan
konsistensi prostat, adakah asimetri, adakah nodul pada prostat, apakah batas atas
dapat diraba. Pada karsinoma prostat, prostat teraba keras atau teraba benjolan yang
konsistensinya lebih keras dari sekitarnya. Dengan colok dubur dapat pula
teraba batu prostat apabila teraba krepitasi.

Gambar 1 : normal and enlarged prostat

3
Pemeriksaan Penunjang3,6

 Pemeriksaan Laboratorium
Terdapat dua pemeriksaan yang terpenting, yaitu darah dan urin. Pemeriksaan
darah yang perlu dilakukan khusus untuk prostat adalah kreatinin serum, elektrolit
(Natrium dan Kalium), dan PSA. Pemeriksaan urin yang perlu dilakukan adalah
sedimen urin dan kultur. Nilai PSA normal di negara-negara yang mempunyai
prevalensi kanker prostat yang tinggi adalah di bawah 4 ng/ml. Nilai PSA 4-10 ng/ml
dianggap sebagai daerah kelabu (gray area), perlu dilakukan penghitungan PSA
Density (PSAD), yaitu serum PSA dibagi dengan volume prostat. Apabila nilai PSAD >
0.15, perlu dilakukan biopsi prostat. Bila nilai PSAD < 0.15, tidak perlu dilakukan
biopsi prostat. Nilai PSA> 10 ng/ml dianjurkan untuk dilakukan biopsi prostat. Di
negara-negara Asia, di mana prevalensi kanker prostat rendah, terdapat perbedaan
nilai normal PSA. Di Indonesia, dimana rata-rata nilai PSA pada penderita PPJ 12.9+
24.6 ng/ml, nilai normal PSA 8 ng/ml, sedangkan nilai daerah kelabu 8-30 ng/ml.
Untuk nilai PSAD > 0.20 baru perlu dilakukan biopsi prostat. Tingginya angka PSA di
Indonesia berhubungan erat dengan kateterisasi dan volume prostat, mengingat
sebagian besar pasien datang dalam keadaan retensi dan dalam volume prostat
yang besar.
 Pemeriksaan Radiologis

Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan radiologi, seperti


foto polos abdomen, dapat diperoleh keterangan mengenai penyakit ikutan seperti
batu saluran kemih, hidronefrosis, atau difertikel saluran kemih. Pembesan prostat
dapat dilihat lesi profusio prostat kontras pada dasar kandung kemih. Secara tidak
langsung pembesaran prostat dapat diperkirakan apabila dasar kandung kemih pada
gambaran sistogram tampak terangkat atau ujung distal ureter membengkok keatas
berbentuk seperti mata kail. Ultrasonografi dapat dilakukan secara transabdominal
atau transrektal (transrectal ultrasography = TRUS). Untuk mengetahui pembesaran
prostat, pemeriksaan ini dapat pula menentukan volume kandung kemih, mengukur
sisa urin dan keadaan patologi lain seperti defertikel, tumor dan batu.

4
Pemeriksaan CT Scan atau MRI jarang dilakukan. Pemeriksaan sitoskopi
dilakukan apabila pada anamesis ditemukan hematuria atau pada pemeriksaan urin
ditemukan mikrohematuria. Sitoskopi dapat juga memberi keterangan mengenai
besar prostat dengan mengukur panjang uretra pars prostatika dan melihat
penonjolan prostat di dalam uretra.

Gambar 2 : Prostat yang mengalami pembesaran (nampak pada sistoskopi)

 Uroflowmetri
Derajat berat obstruksi dapat diukur dengan menentukan pancaran urin pada waktu
miksi, cara pengukuran ini disebut uroflowmetri. Angka normal untuk pancaran urin
rata-rata 10-12 ml/detik dengan pancaran maksimal sampai 20 ml/detik. Pada obstruksi
ringan pancaran menurun antara 6-8 ml/detik, sedangkan pancaran maksimal menjadi
15 ml/detik. Tetapi pada pemeriksaan ini tidak dapat membedakan antara
kelemahan otot detrusor dengan obstruksi intravesikal.2,9

C. Diagnosis Banding3,5,6
1) Striktur Uretra
Pada striktur uretra terjadi penyempitan dari lumen uretra akibat terbentuknya
jaringan fibrotik pada dinding uretra. Striktur uretra menyebabkan gangguan dalam
berkemih, mulai dari aliran berkemih yang mengecil sampai sama sekali tidak dapat
mengalirkan urin keluar dari tubuh. Urin yang tidak dapat keluar dari tubuh dapat
menyebabkan banyak komplikasi, dengan komplikasi terberat adalah gagal ginjal.

5
Striktur uretra masih merupakan masalah yang sering ditemukan pada bagian
dunia tertentu. Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria dari pada wanita, karena
uretra pada wanita lebih pendek dan jarang terkena infeksi. Segala sesuatu yang
melukai uretra dapat menyebabkan striktur.
Gejala dari striktur uretra yang khas adalah pancaran buang air seni kecil dan
bercabang. Gejala yang lain adalah iritasi dan infeksi seperti frekuensi (sering buang
air kecil), urgensi (tergesa-gesa untuk buang air kecil ), disuria, inkontinensia, urin
yang menetes, kadang-kadang dengan penis yang membengkak, infiltrat, abses dan
fistel. Gejala lebih lanjutnya adalah retensi urine.
Striktur uretra dapat terjadi pada :
 Kelainan Kongenital, misalnya kongenital meatus stenosis, klep uretra posterior
 Operasi rekonstruksi dari kelainan kongenital seperti hipospadia, epispadia
 Trauma, misalnya fraktur tulang pelvis yang mengenai uretra pars membranasea
; trauma tumpul pada selangkangan (straddle injuries) yang mengenai uretra pars
bulbosa, dapat terjadi pada anak yang naik sepeda dan kakinya terpeleset dari
pedal sepeda sehingga jatuh dengan uretra pada bingkai sepeda pria; trauma
langsung pada penis ; instrumentasi transuretra yang kurang hati-hati
(iatrogenik) seperti pemasangan kateter yang kasar, fiksasi kateter yang salah.
 Post operasi, beberapa operasi pada saluran kemih dapat menimbulkan striktur
uretra, seperti operasi prostat, operasi dengan alat endoskopi.
 Infeksi, merupakan faktor yang paling sering menimbulkan striktur uretra,
seperti infeksi oleh kuman gonokokus yang menyebabkan uretritis gonorrhoika
atau non gonorrhoika telah menginfeksi uretra beberapa tahun sebelumnya
namun sekarang sudah jarang akibat pemakaian antibiotik, kebanyakan striktur
ini terletak di pars membranasea, walaupun juga terdapat pada tempat lain;
infeksi chlamidia sekarang merupakan penyebab utama tapi dapat dicegah
dengan menghindari kontak dengan individu yang terinfeksi atau menggunakan
kondom.

6
2) Ca PROSTAT
Keluhan sesuai gejala saluran kemih bagian bawah (Lower urinary tract
symptoms = LUTS), yaitu gejala obstuktif dan iritatif. Kecurigaan umumnya berawal
dari ditemukan nodul yang secara tidak segaja pada pemeriksaan rektal. Nodul yang
irreguler dan keras harus dibiopsi untuk menyingkirkan hal ini. Atau didapatkan
jaringan yang ganas pada pemeriksaan patologi dari jaringan prostat yang diambil
akibat gejala BPH. Kanker ini jarang memberikan gejala kecuali bila telah lanjut.
Dapat terjadi hematuria, gejala – gejala obstruksi, gangguan saraf akibat penekanan
atau fraktur patologis pada tulang belakang. Atau secara singkat kita anamnesa dan
kita akan dapatkan sebagai berikut :
 Terjadi pada usia > 60 tahun
 Nyeri pada lumbosakral menjalar ke tungkai
 Prostatismus dan hematuri
 Rektal toucher : permukaannya berbenjol, keras, fixed
3) Prostatitis
Gejala dan tanda prostatitis akut terdiri dari demam dengan suhu yang tinggi,
kadang dengan gigilan, nyeri peineal atau pinggang rendah, sakit sedang atau berat,
mialgia, antralgia. Karena pembengkan prostat biasanya ada disuria, kadang sampai
retensi urin. Kadang didapatkan pengeluaran nanah pada colok dubur setelah masase
prostat. Sedangkan pada prostatitis kronis gejala dan tanda tidak khas. Gambaran
klinik sangat variabel, kadang dengan keluhan miksi, kadang nyeri perineum atau
pinggang. Dan diagnosa dapat ditegakan dengan diketemukan adanya leukosit dan
bakteria dalam sekret prostat.
Jadi hal – hal yang perlu sekali kita perhatikan agar dapat membedakan dengan
BPH yaitu :
 Adanya nyeri perineal
 Demam
 Disuri, polaksiuri
 Retensi urin akut
 Rektal toucher : jika ada abses didapatkan fluktuasi (+)

7
D. Working Diagnosis
Diagnosa ditegakkan dari anamnesa yang meliputi keluhan dari gejala dan tanda
obstruksi dan iritasi. Kemudian dilakukan pemeriksaan colok dubur untuk
merasakan/meraba kelenjar prostat. Dengan pemeriksaan ini bisa diketahui adanya
pembesaran prostat, benjolan keras (menunjukkan kanker) dan nyeri tekan
(menunjukkan adanya infeksi).
Selain itu biasanya dilakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui fungsi ginjal dan
untuk penyaringan kanker prostat (mengukur kadar antigen spesifik prostat atau PSA).
Pada penderita BPH, kadar PSA meningkat sekitar 30-50%. Jika terjadi peningkatan
kadar PSA, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah
penderita juga menderita kanker prostat.

E. Gejala Klinik
Gejala BPH dikenal sebagai lower Urinary Tract Symptoms (LUTS). Dibedakan
menjadi :5

Gejala Iritatif
 Sering miksi (frekuensi sering)
 Terbangun untuk BAK pada malam hari (Nokruria)
 Perasaan ingin BAK yang mendesak (urgensi)
 Nyeri pada saat miksi (disuria)

Gejala obstruktif
 Pancaran melemah
 Rasa tidak puas setelah BAK
 Kalau mau miksi menunggu lama (Hesitancy)
 Harus mengedan (straining)
 Kencing terputus-putus ( intermittency)
 Miksi memenjang, akhirnya menjadi retensi urin dan inkontinenkarena nerflow.

8
Bila terjadi hidronefrosis atau pionefrosis, ginjal teraba dan ada nyeri pada CVA
(costo vertebra anguilaris) pada pemeriksaan dubur harus diperhatikan konsistensi
prostat, pada BPH konsistensinya kenyal.

F. Etiologi
Penyebab PPJ belum jelas. Beberapa teori telah dikemukakan berdasarkan faktor
histologi, hormon, dan faktor perubahan usia, di antaranya :5-6
 Teori DHT (dihidrotestosteron). Testosteron dengan bantuan enzim 5-a reduktase
dikonversi menjadi DHT yang merangsang pertumbuhan kelenjar prostat.
 Teori Reawakening. Teori ini berdasarkan kemampuan stroma untuk merangsang
pertumbuhan epitel. Menurut Mc Neal, seperti pada embrio, lesi primer PPJ adalah
penonjolan kelenjar yang kemudian bercabang menghasilkan kelenjar-kelenjar baru
di sekitar prostat. Ia menyimpulkan bahwa hal ini merupakan reawakening dari
induksi stroma yang terjadi pada usia dewasa.
 Teori stem cell hypotesis. Isaac dan Coffey mengajukan teori ini berdasarkan asumsi
bahwa pada kelenjar prostat, selain ada hubungannya dengan stroma dan epitel, juga
ada hubungan antara jenis-jenis sel epitel yang ada di dalam jaringan prostat. Stem
sel akan berkembang menjadi sel aplifying. Keduanya tidak tergantung pada
androgen. Sel aplifying akan berkembang menjadi sel transit yang tergantung secara
mutlak pada androgen, sehingga dengan adanya androgen sel ini akan berproliferasi
dan menghasilkan pertumbuhan prostat yang normal.
 Teori growth factors. Teori ini berdasarkan adanya hubungan interaksi antara unsur
stroma dan unsur epitel prostat yang berakibat PPJ. Faktor pertumbuhan ini dibuat
oleh sel-sel stroma di bawah pengaruh androgen. Adanya ekspresi berlebihan dari
epidermis growth factor (EGF) dan atau fibroblast growth factor (FGF) dan atau
adanya penurunan ekspresi transforming growth factor- b (TGF - b, akan
menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan pertumbuhan prostat dan
menghasilkan pembesaran prostat.
Namun demikian, diyakini ada 2 faktor penting untuk terjadinya PPJ, yaitu
adanya dihidrotestosteron (DHT) dan proses penuaan. Pada pasien dengan kelainan

9
kongenital berupa defisiensi 5-a reduktase, yaitu enzim yang mengkonversi
testosteron ke DHT, kadar serum DHT-nya rendah, sehingga prostat tidak membesar.
Sedangkan pada proses penuaan, kadar testosteron serum menurun disertai
meningkatnya konversi testosteron menjadi estrogen pada jaringan periperal. Pada
anjing, estrogen menginduksi reseptor androgen. Peran androgen dan estrogen
dalam PPJ adalah kompleks dan belum jelas benar. Tindakan kastrasi sebelum masa
pubertas dapat mencegah PPJ. Pasien dengan kelainan genetik pada fungsi androgen
juga mempunyai gangguan pertumbuhan prostat. Dalam hal ini, barangkali androgen
diperlukan untuk memulai proses PPJ, tetapi tidak dalam hal proses pemeliharaan.
Estrogen berperan dalam proses hiperplasia stroma yang selanjutnya merangsang
hiperlpasia epitel.

Gambar 3 : Pengaruh Hormon terhadap Pertumbuhan Prostat

G. Epidemiologi
Hiperplasia prostat merupakan penyakit pada pria tua dan jarang ditemukan
sebelum usia 40 tahun. Prostat normal pada pria mengalami peningkatan ukuran yang
lambat dari lahir sampai pubertas, waktu itu ada peningkatan cepat dalam ukuran, yang
kontinyu sampai usia akhir 30-an. Pertengahan dasawarsa ke-5, prostat bisa mengalami
perubahan hyperplasia. Pada usia lanjut beberapa pria mengalami pembesaran prostat
benigna. Keadaan ini dialami oleh 50% pria yang berusia 60 tahun dan kurang lebih 80%
pria yang berusia 80 tahun.
Insiden yang pasti dari pembesaran prostat jinak di Indonesia belum pernah diteliti.
Tetapi, sebagai gambaran hospital prevalence, di RS Cipto Mangunkusumo ditemukan

10
423 kasus pembesaran prostat jinak yang dirawat selama tiga tahun (1994-1997) dan
di RS Sumber Waras sebanyak 617 kasus dalam periode yang sama.

H. Patofisiologi5-6
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra pars prostatika dan
akan menghambat aliran urine. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan
intravesikal. Untuk dapat mengeluarkan urin, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat
guna melawan tahanan itu. Kontraksi yang terus-menerus ini menyebabkan perubahan
anatomik dari buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya
selula, sakula, dan divertikel buli-buli. Fase penebalan otot detrusor ini disebut fase
kompensasi. Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan oleh pasien sebagai
keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS)
yang dahulu dikenal dengan gejala-gejala prostatismus. Dengan semakin meningkatnya
resistensi uretra, otot detrusor masuk kedalam fase dekompensasi dan akhirnya
tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin. Tekanan intravesikal
yang semakin tinggi akan diteruskan keseluruh bagian buli-buli tidak terkecuali pada
kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkan aliran balik
urin dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesico-ureter. Keadaan ini jika
berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, bahkan akhirnya
dapat jatuh ke dalam gagal ginjal.

11
Gambar 4 : patofisiologi

I. Derajat BPH
Secara klinik derajat berat BPH dibagi menjadi 4 gradasi, yaitu :
Derajat 1 :
Apabila ditemukan keluhan protatismus, pada DRE (colok dubur) ditemukan
penonjolan prostat dan sisa urin kurang dari 50 ml. Penonjolan 0-1 cm ke dalam rectum
prostat menonjol pada bladder inlet. Pada derajat ini belum
memerlukan tindakan operatif, dapat diberikan pengobatan secara konservatif , misal
alfa bloker, prazozin, terazozin 1-5 mg per hari.
Derajat 2 :
Ditemukan tanda dan gejala seperti pada derajat 1, prostat lebih menonjol
penonjolan 1-2 cm ke dalam rektum, prostat menonjol diantara bladder inlet dengan
muara ureter. Batas atas masih teraba dan sisa urin lebih dari 50 ml tetapi kurang
dari 100 ml. Pada derajat ini sudah ada indikasi untuk intervensi operatif.
Derajat 3 :
12
Seperti derajat 2, hanya batas atas prostat tidak teraba lagi dan sisa
urine lebih dari 100 ml. Penonjolan 2-3 cm ke dalam rektum. Prostat
menonjol sampai muara ureter . TURP masih dapat dilakukan akan
tetapi bila diperkirakan reseksi tidak selesai dalam satu jam maka sebaiknya
dilakukan operasi terbuka.
Derajat 4 :
Apabila sudah terjadi retensi total. Penonjolan > 3 cm ke dalam rektumprostat
menonjol melewati muara ureter.

J. Penatalaksanaan

Medikamentosa6-8
Pilihan terapi non-bedah adalah pengobatan dengan obat (medikamentosa).
Terdapat tiga macam terapi dengan obat yang sampai saat ini dianggap rasional, yaitu
dengan penghambat adrenergik a-1, penghambat enzim 5a reduktase, dan fitoterapi.

a) Penghambat adrenergik a-1


Obat ini bekerja dengan menghambat reseptor a-1 yang banyak ditemukan pada
otot polos ditrigonum, leher buli-buli, prostat, dan kapsul prostat. Dengan demikian,
akan terjadi relaksasi di daerah prostat sehingga tekanan pada uretra pars prostatika
menurun dan mengurangi derajat obstruksi. Obat ini dapat memberikan perbaikan
gejala obstruksi relatif cepat.
Efek samping dari obat ini adalah penurunan tekanan darah yang dapat
menimbulkan keluhan pusing (dizziness), lelah, sumbatan hidung, dan rasa lemah
(fatique).
Pengobatan dengan penghambat reseptor a-1 masih menimbulkan beberapa
pertanyaan, seperti berapa lama akan diberikan dan apakah efektivitasnya akan tetap
baik mengingat sumbatan oleh prostat makin lama akan makin berat dengan
tumbuhnya volume prostat. Contoh obat : prazosin, terazosin dosis 1 mg/hari, dan
dapat dinaikkan hingga 2-4 mg/hari. Tamsulosin dengan dosis 0.2-0.4 mg/hari2.
b) Penghambat enzim 5a reduktase

13
Obat ini bekerja dengan menghambat kerja enzim 5a reduktase, sehingga
testosteron tidak diubah menjadi dehidrotestosteron. Dengan demikian, konsentrasi
DHT dalam jaringan prostat menurun, sehingga tidak akan terjadi sintesis protein.
Obat ini baru akan memberikan perbaikan simptom setelah 6 bulan terapi. Salah satu
efek samping obat ini adalah menurunnya libido dan kadar serum PSA2. Contoh obat
: finasteride dosis 5 mg/hari.
c) Kombinasi penghambat adrenergik a- 1 dan penghambat enzim 5a reduktase
Terapi kombinasi penghambat adrenergik a-1 dan penghambat enzim 5a
reduktase pertama kali dilaporkan oleh Lepor dan kawan-kawan pada 1996.
Terdapat penurunan skor dan peningkatan Qmax pada kelompok yang menggunakan
penghambat adrenergik a-1. Namun, masih terdapat keraguan mengingat prostat
pada kelompok tersebut lebih kecil dibandingkan kelompok lain. Penggunaan terapi
kombinasi masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Tabel 2 : Klasifikasi dan Dosis Adrenoreseptor Blocker Oral

Non Medikamentosa5,6,9
Bedah Konvensional

a) Pembedahan terbuka

14
Indikasi absolut yang memerlukan pembedahan terbuka dibanding pilihan
bedah lainnya adalah terdapatnya keterlibatan kandung kemih yang perlu
diperbaiki seperti adanya divertikel atau batu kandung kemih yang besar. Prostat
yang melebihi 80-100 cm3 biasanya dipertimbangkan untuk dilakukan
pengangkatan prostat secara terbuka. Pembedahan terbuka mempunyai nilai
komplikasi setelah operasi seperti tidak dapat menahan buang air kecil dan
impotensi. Perbaikan klinis yang terjadi sebesar 85-100%.
b) Transurethral resection of the prostate (TURP)
TURP merupakan metode paling sering digunakan dimana jaringan prostat yang
menyumbat dibuang melalui sebuah alat yang dimasukkan melalui uretra (saluran
kencing). Secara umum indikasi untuk metode TURP adalah pasien dengan gejala
sumbatan yang menetap, progresif akibat pembesaran prostat, atau tidak dapat
diobati dengan terapi obat lagi. Prosedur ini dilakukan dengan anestesi regional atau
umum dan membutuhkan perawatan inap selama 1-2 hari.
c) Transurethral incision of the prostate (TUIP)
Metode ini digunakan pada pasien dengan pembesaran prostat yang tidak terlalu
besar dan umur relatif muda.
d) Laser prostatekomi
Dengan teknik laser ini komplikasi yang ditimbulkan dapat lebih sedikit, waktu
penyembuhan lebih cepat, dan dengan hasil yang kurang lebih sama. Sayangnya
terapi ini membutuhkan terapi ulang setiap tahunnya. Penggunaaan laser ini telah
berkembang pesat tetapi efek lebih lanjut dari pemakaian laser belum diketahui
secara pasti.

Terapi Invasi Minimal


a) Transurethral needle ablation of the prostate (TUNA)
TUNA termasuk dalam teknik minimal invasif yang biasa digunakan pada pasien
yang gagal dengan pengobatan medikamentosa, pasien yang tidak tertarik pada
pengobatan medikamentosa, atau tidak bersedia untuk tindakan TURP. Teknik ini
menggunakan kateter uretra yang didesain khusus dengan jarum yang
menghantarkan gelombang radio yang panas sampai mencapai 100oC di ujungnya
15
sehingga dapat menyebabkan kematian jaringan prostat. Pasien dengan gejala
sumbatan dan pembesaran prostat kurang dari 60 gram adalah pasien yang ideal
untuk tindakan TUNA ini.
Kelebihan teknik TUNA dibanding dengan TURP antara lain pasien hanya perlu
diberi anestesi lokal. Selain itu angka kekambuhan dan kematian TUNA lebih rendah
dari TURP.
b) Transurethral electrovaporization of the prostate
Teknik ini menggunakan rectoskop (seperti teropong yang dimasukkan melalui
anus) standar dan loop konvensional. Arus listrik yang dihantarkan menimbulkan
panas yang dapat menguapkan jaringan sehingga menghasilkan timbulnya rongga di
dalam uretra.
c) Termoterapi
Metode ini menggunakan gelombang mikro yang dipancarkan melalui kateter
transuretral (melalui saluran kemih bagian bawah). Namun terapi ini masih
memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui tingkat keefektivitasannya.
d) Intraurethral stents
Alat ini dapat bertujuan untuk membuat saluran kemih tetap terbuka. Setelah 4-
6 bulan alat ini biasanya akan tertutup sel epitel. Biasanya digunakan pada pasien
dengan usia harapan hidup yang minimum dan pasien yang tidak cocok untuk
menjalani operasi pembedahan maupun anestesi. Saat ini metode ini sudah jarang
dipakai.
e) Transurethral balloon dilation of the prostate
Pada tehnik ini, dilakukan dilatasi (pelebaran) saluran kemih yang berada di
prostat dengan menggunakan balon yang dimasukkan melalui kateter. Teknik ini
efektif pada pasien dengan prostat kecil, kurang dari 40 cm3. Meskipun dapat
menghasilkan perbaikan gejala sumbatan, namun efek ini hanya sementara sehingga
cara ini sekarang jarang digunakan.

Komplikasi
Kandung kemih yang tidak terkuras sepenuhnya meningkatkan risiko infeksi
saluran kemih (cystitis). Beberapa pria yang terkena BPH mengembangkan batu
16
kandung kemih. BPH juga dapat tiba-tiba menyebabkan ketidakmampuan total untuk
buang air kecil (dikenal sebagai retensi akut). Hal ini disebabkan oleh penyumbatan
lengkap uretra dan merupakan keadaan darurat medis yang perlu perawatan segera
untuk menghindari kerusakan ginjal.
Komplikasi yang sering terjadi akibat hipertrofi prostat jinak adalah :9
 Perdarahan
 Pembentukan bekuan
 Obstruksi kateter
 Disfungsi seksual tergantung dari jenis pembedahan
 Infeksi

Komplikasi yang lain yaitu perubahan anatomis pada uretra


posterior menyebabkan ejakulasi retrogard yaitu setelah ejakulasi cairan seminal
mengalir kedalam kandung kemih dan diekskresikan bersama urin. Selain itu vasektomi
mungkin dilakukan untuk mencegah penyebaran infeksi dari uretra prostatik melalui vas
deference dan ke dalam epidedemis. Setelah prostatektomi total ( biasanya untuk
kanker) hampir selalu terjadi impotensi. Bagi pasien yang tak mau kehilangan aktifitas
seksualnya, implant prostetik penis mungkin digunakan untuk membuat penis menjadi
kaku guna keperluan hubungan seksual.

K. Pencegahan
Sekarang ini sudah beredar suplemen makanan yang dapat membantu
mengatasi pembesaran kelenjar prostat. Salah satunya adalah suplemen yang
kandungan utamanya saw palmetto. Berdasarkan hasil penelitian, saw palmetto
menghasilkan sejenis minyak, yang bersama-sama dengan hormon androgen dapat
menghambat kerja enzim 5-alpha reduktase, yang berperan dalam proses pengubahan
hormon testosteron menjadi dehidrotestosteron (penyebab BPH). Hasilnya, kelenjar
prostat tidak bertambah besar. Zat-zat gizi yang juga amat penting untuk menjaga
kesehatan prostat antara lain :9

17
 Vitamin A, E, dan C, antioksidan yang berperan penting dalam
mencegah pertumbuhan sel kanker, karena menurut penelitian, 5-10% kasus BPH
dapat berkembang menjadi kanker prostat.
 Vitamin B1, B2, dan B6, yang dibutuhkan dalam proses metabolism karbohidrat,
lemak, dan protein, sehingga kerja ginjal dan organ tubuh laintidak terlalu berat.
 Copper (gluconate) dan Parsley Leaf, yang dapat membantu
melancarkan pengeluaran air seni dan mendukung fungsi ginjal.
 L-Glysine, senyawa asam amino yang membantu sistem penghantaran rangsangan ke
susunan syaraf pusat.
 Zinc, mineral ini bermanfaat untuk meningkatkan produksi dan kualitas sperma.

Beberapa cara untuk mengurangi risiko masalah prostat, antara lain :

 Mengurangi makanan kaya lemak hewan


 Meningkatkan makanan kaya lycopene (dalam tomat), selenium (dalam makanan
laut), vitamin E, isoflavonoid (dalam produk kedelai)
 Makan sedikitnya 5 porsi buah dan sayuran sehari
 Berolahraga secara rutin
 Pertahankan berat badan ideal

L. Prognosis
Prognosis BPH tidak selalu sama dan tidak dapat diprediksi pada tiap individu
walaupun gejalanya cenderung meningkat. Namun BPH yang tidak segera ditanggulangi
memiliki prognosis yang buruk karena dapat berkembang menjadi kanker prostat.

Kesimpulan
Hiperplasia kelenjar prostat mempunyai angka morbiditas yang bermakna pada
populasi pria lanjut usia. Dengan bertambah usia, ukuran kelenjar dapat bertambah karena
terjadi hiperplasia jaringan fibromuskuler dan struktur epitel kelenjar (jaringan dalam
kelenjar prostat). Gejala dari pembesaran prostat ini terdiri dari gejala obstruksi dan gejala

18
iritatif. Penatalaksanaan BPH berupa watchful waiting, medikamentosa, terapi bedah
konvensional, dan terapi minimal invasif.

DAFTAR PUSTAKA

1. Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi ke-3. Media Aesculapius Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta. 2000
2. Price S, Wilson LM. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. Volume 2. Edisi
ke-6. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC. 2005. hal : 1320 – 23.
3. Sjamsuhidayat R, Jong WD. Buku ajar ilmu bedah. Edisi Revisi. Jakarta : Penerbit buku
kedokteran EGC. 2005.
4. Nasar IM. Patologi Anatomi. Jakarta : Bagian Patologi Anatomi FK-UI , 1985 : 285-
307.
5. Clark C. Prostatitis, BPH and Prostate Cancer. The Pharmaceutical Journal. Volume 272.
2004.
6. Purnomo, Basuki B. Dasar – dasar urologi. Edisi ke-2. Jakarta : Sagung Seto. 2003. hal. 69
– 85.
7. Gunawan SG. Farmakologi dan terapi. Edisi ke 5. Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2007.
8. Yatim F. Pengobatan terhadap penyakit usia senja, andropause dan kelainan ginjal.
Jakarta : Pustaka Populer Obor. 2004.
9. Smeltzer, Suzanne C, Brenda G Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth. Edisi 8 Vol 2. Jakarta : EGC.

19