You are on page 1of 8

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/278030823

Analisis Ketahanan Energi di Indonesia

Conference Paper · October 2012

CITATION READS

1 4,720

4 authors, including:

M. Sidik Boedoyo
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
30 PUBLICATIONS   23 CITATIONS   

SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by M. Sidik Boedoyo on 12 June 2015.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Prosiding Seminar dan Peluncuran Buku Outlook Energi Indonesia 2012

Analisis Ketahanan Energi di Indonesia

M. Sidik Boedoyo*1
1
Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Energi, BPPT, Jakarta
*
E-mail: boedoyo@yahoo.com, msboedoyo@gmail.com

Abstract
Law No. 30 Year 2007 on energy in article 2 states that energy is managed under
the principles of expediency, rationality, efficiency, justice, increasing of added
value, sustainability, social welfare, environment conservation, national security,
and integration with emphasis on national capacity. Article 3 states that in order to
support national sustainable development and improve national energy security,
energy management goals include independence, providing, managing energy use,
public access, energy industries and environmental. To meet long-term energy
needs, the Government of Indonesia in Presidential Regulation. 5 of 2006, has set
energy mix by 2025 to reduce dependence on oil by developing alternative energy
resources, both renewable energy, new energy and other fossil fuels.
From the illustration above, energy security does not only include addressing the
needs of energy, but also the ability of people to obtain and utilize sustainable
energy, and energy management aspects, ratio of electricity, renewable energy
development, increasing people's income, increasing public access to energy and
environmental issues.
To meet energy needs in the context of long-term development planning in
Indonesia, BPPT implements energy planning using MARKAL model to analyze two
scenarios, namely the baseline scenario and the MP3EI scenario. In order to get an
illustration about the condition of longterm energy security as a result of energy
planning outcomes, analysis of the energy security elements, components and
indicators in the two scenarios is neccessary to be carried out.

Keywords: long term development, energy planning, energy security

1. Pendahuluan pemanfaatan energi di Indonesia perlu


Energi mempunyai peranan yang sangat dioptimalkan. Disamping itu, pemberlakuan
dalam perekonomian baik sebagai bahan bakar, kebijakan subsidi harga energi yang cukup lama
bahan baku, maupun sebagai komoditas ekspor. menyebabkan pemakaian energi di semua
Konsumsi energi terus meningkat sejalan sektor tidak efisien. Hal ini terlihat dari
dengan laju pertumbuhan ekonomi dan elastisitas energi yang masih tinggi.
pertambahan penduduk. Untuk memenuhi Untuk memenuhi kebutuhan listrik di
permintaan energi tersebut perlu pasokan daerah-daerah terpencil yang belum terjangkau
berbagai jenis energi sumber daya energi, baik oleh jaringan serta untuk meningkatkan rasio
energi fosil maupun energi terbarukan. elektrifikasi nasional, perlu dikembangkan
Mengingat sumber daya energi fosil khususnya potensi sumber daya energi baru dan
minyak bumi jumlahnya terbatas serta harga terbarukan setempat sebagai bahan bakar PLTD
energi fosil yang terus meningkat, maka yang saat ini masih menggunakan minyak diesel.

81
Prosiding Seminar dan Peluncuran Buku Outlook Energi Indonesia 2012

Dalam rangka mengoptimalkan  Mengetahui kondisi-kondisi apa yang akan


penggunaan energi, Pemerintah telah terjadi di masa depan.
mengeluarkan Kebijakan Energi Nasional yang  Mengembangkan kondisi positif dan
dimuat dalam Peraturan Presiden No. 5 Tahun mengantisipasi kondisi negatif yang mungkin
2006. Untuk memenuhi kebutuhan energi timbul,
jangka panjang, Pemerintah dalam Peraturan  Menetapkan strategi dalam rangka
Presiden tersebut, telah menetapkan bauran pencapaian ketahanan energi nasional yang
energi tahun 2025 untuk mengurangi meliputi ketersediaan, kemampuan
ketergantungan pada minyak bumi dengan menyediakan, kemampuan mengakses, dan
mengembangkan sumberdaya energi alternatif Penerimaan masyarakat.
baik energi terbarukan, energi baru maupun
energi fosil lain. 2.1. Langkah Analisis Ketahanan Energi.
Undang-undang Nomor 30 Tahun 2007 Metoda analisis ketahanan energi yang
tentang energi pasal 2 menyatakan bahwa dipergunakan merupakan turunan dari Analytical
energi dikelola berdasarkan asas kemanfaatan, Hierarchy Process (AHP) yang bertujuan untuk
rasionalitas, efisiensi berkeadilan, peningkatan menggambarkan seluruh kondisi yang ada saat
nilai tambah, keberlanjutan, kesejahteraan ini dan masa lalu secara matematis. Berbagai
masyarakat, pelestarian fungsi lingkungan negara melalui berbagai cara dan metoda
hidup, ketahanan nasional, dan keterpaduan melaksanakan analisis ketahanan energi untuk
dengan mengutamakan kemampuan nasional. melihat keberhasil dalam pencapaian ketahanan
Sementara pasal 3 menyatakan bahwa dalam energi mereka dan menyusun rencana kedepan.
rangka mendukung pembangunan nasional Dalam analisis ketahanan energi Indonesia ini
secara berkelanjutan dan meningkatkan dilakukan pengembangan dan penggabungan
ketahanan energi nasional, tujuan pengelolaan terhadap metodologi yang dilakukan oleh Kruyt
energi antara lain kemandirian, penyediaan, et al.[1] dan Sovacool and Mukherjee[2].
pengelolaan, pemanfaatan energi, akses Dalam analisis tersebut dikembangkan
masyarakat, industri energi dan lingkungan elemen yang membentuk dan mempengaruhi
hidup. ketahanan energi, komponen dari elemen
Dalam kaitan inilah analisis ketahanan tersebut serta indikator-indikator ketahanan
energi merupakan langkah yang sangat penting energi.
dalam menjamin kelangsungan pembangunan Disepakati empat elemen pembentuk
nasional baik dalam kecukupan pasokan energi, ketahanan energi:
juga dalam peningkatan kesejahteraan  Ketersediaan (availability), meliputi:
masyarakat.. pemanfaatan energi, cadangan energi,
produksi energi, impor dan ekspor energi,
2. Metodologi Perhitungan Ketahanan Energi dan lain-lain.
Definisi ketahanan energi menunjukkan  Kemampuan dalam mendapatkan dan
bahwa ketahanan energi tidak hanya masalah memanfaatkan (affordability), meliputi:
kebutuhan dan penyediaan energi tetapi pendapatan masyarakat, rasio kelistrikan,
menyangkut masalah yang lebih luas seperti, konsumsi energi, dan lain lain.
keterjangkauan pasokan, kemampuan  Kemampuan dalam menyediakan
masyarakat untuk memperoleh energi, kualitas` (assessability), meliputi: ketersediaan
lingkungan hidup dan lain-lain. Dalam kaitan infrastruktur, pengembangan teknologi,
inilah dilakukan analisis ketahanan energi yang indeks diversifikasi, konservasi,
bertujuan untuk:  Penerimaan masyarakat (acceptability),
meliputi: pengelolaan sumber daya energi,

82
Prosiding Seminar dan Peluncuran Buku Outlook Energi Indonesia 2012

lingkungan global, lingkungan lokal, adaptasi pertumbuhan ekonomi dan kemampuan


lingkungan. masyarakat dalam penyediaan energi.
 Penggunaan biomasa sebagai energi oleh
2.2. Indikator Ketahanan Energi masyarakat,
Dari elemen ketahanan energi tersebut  Peningkatan ekonomi masyarakat,
diatas dikembangkan berbagai komponen atau dipergunakan GDP (harga konstan tahun
faktor yang mempengaruhi ketahanan energi. 2000) per kapita.
a. Availability (ketersediaan)  Rasio elektrifikasi, rasio elektrifikasi
Ketersediaan terdiri dari beberapa secara umum menunjukkan kemampuan
komponen antara lain adalah: masyarakat dalam penyediaan listriknya.
 Pemanfaatan energi baru dan terbarukan c. Accessability (kemampuan untuk mengakses
pada pembangkitan listrik. Hal ini menjadi energi)
penting karena penggunaan energi fosil Kemampuan untuk memasok energi lebih
relatif mahal, sementara EBT merupakan ditekankan pada kemampuan untuk
sumberdaya energi lokal. pemerintah dalam peningkatan kemampuan
 Pengaruh ekspor energi terhadap masyarakat dalam mengakses energi, yang
ketahanan energi. Ekspor energi pada meliputi:
dasarnya adalah untuk mendapatkan • Kapasitas kilang, penambahan kapasitas
devisa, sementara ekspor energi akan kilang memberi gambaran adanya
mengurangi potensi energi dan jaminan untuk pemenuhan kebutuhan
melemahkan ketahanan energi nasional. minyak masyarakat.
 Pengaruh impor terhadap ketahanan • Penambahan jaringan transmisi dan
energi. Impor energi pada dasarnya untuk distribusi listrik menunjukkan
memenuhi kebutuhan energi, tetapi masayarakat dapat mengakses listrik
peningkatan impor atau dominasi energi secara lebih baik.
impor pada konsumsi energi akan • Kesuksesan konservasi memberi
melemahkan ketahanan energi. gambaran adanya peningkatan kapasitas
 Peranan diversifikasi pada konsumsi penyediaan energi melalui pengurangan
energi. Diversifikasi dapat meningkatkan kebutuhan.
fleksibilitas penyediaan energi yang akan  Rasio kelistrikan yang menunjukkan
meningkatkan ketahanan energi. kemampuan dalam menyediakan listrik
b. Affordability (keterjangkauan atau  Cadangan strategis, peningkatan
kemampuan masyarakat dalam cadangan strategis dimaksudkan untuk
memanfaatkan energi) meningkatkan kualitas pasokan energi
Keterjangkauan yang dimaksud adalah dan menjamin kelangsungan penyediaan
bagaimana masyarakat atau pengguna energi energi.
sanggup atau mampu dalam menyediakan d. Acceptability (penerimaan masyarakat)
dan memanfaatkan energinya. Pada Penerimaan masyarakat merupakan suatu
keterjangkauan ada hal-hal yang berkaitan faktor yang mendorong atau menghambat
antara lain: penerapan program maupun jenis energi
 Konsumsi listrik per kapita, konsumsi tertentu yang berpengaruh pada kualitas
listrik yang meningkat memberikan hidup, kesehatan, pencemaran lingkungan
gambaran bahwa masyarakat makin serta adaptasi perubahan iklim.
mampu dalam menyediakan energinya.  Lingkungan global, sesuai dengan
 Konsumsi energi per kapita. Indikator ini program pemerintah maka program yang
menunjukkan bahwa menunjukkan didukung adalah kegiatan yang sedikit

83
Prosiding Seminar dan Peluncuran Buku Outlook Energi Indonesia 2012

atau sama sekali tidak menghasilkan gas Perbandingan total nilai dari tahun dasar
rumah kaca, antara lain pemanfaatan EBT. 2010 dengan tahun 2025 pada skenario dasar
 Lingkungan regional/lokal, kegiatan yang maupun skenario MP3EI menunjukkan kondisi
dapat diterima masyarakat ialah kegiatan resiko ketahanan energi pada kedua skenario
yang tidak merusak lingkungan. tersebut.
 Adaptasi lingkungan. Kegiatan yang
mampu meningkatkan daya tahan atau 2.5. Data dan Asumsi
beradaptasi terhadap lingkungan, seperti Sebagai data utama adalah hasil run model
pemanfaatan EBT. Markal serta data historis yang diperoleh dari
KESDM, dan institusi lainnya. Data yang
2.3. Pembobotan dianalisis dikelompokkan sesuai dengan elemen
Dalam pelaksanaan analisis pengkajian ketahanan energi. Sebagian data yang
ketahanan energi, maka setiap elemen, dan dipergunakan dalam analisis ketahanan energi
komponen yang sudah dipilih diberikan bobot ditunjukkan dalam Tabel 2 tentang ketersediaan
sesuai dengan kesepakatan yang diambil oleh energi, kemampuan mendapatkan, kemampuan
pakar-pakar (expert judgements) dengan nilai menyediakan, dan penerimaan masyarakat.
kumulatif untuk elemen sebesar 10 dan nilai
kumulatif komponen per elemen sebesar 10. 3. Hasil Analisis Ketahanan Energi
Indikator pada tahun tertentu diberi nilai
dengan memperhitungkan perbedaan kondisi 3.1. Evaluasi Perhitungan Ketahanan Energi
antara tahun dasar dan tahun yang dianalisis. Hasil analisis ketahanan energi diperoleh
Untuk nilai yang mengarah ke kondisi positif dengan evaluasi terhadap data dan asumsi pada
diberi penilaian X kali dan yang mengarah ke Tabel 2 dan dihitung berdasarkan metodologi
negatif terhadap ketahanan energi diberikan yang telah ditentukan sebelumnya. Evaluasi
penilaian 1/X kali. yang telah dilaksanakan memberikan gambaran
tentang kondisi kerentanan ketahanan energi
Tabel 1. Penilaian Indikator Tahun 2025 tahun 2025 dan 2030 dibandingkan dengan
Terhadap 2010 kondisi tahun 2010 sebagai tercantum pada
Indikator 2010 2025 Nilai Tabel 3.
Konsumsi Energi (+) 100 200 2/1=2
Impor Energi (-) 100 200 ½=0,5 3.2. Pembahasan Ketahanan Energi
Evaluasi ketahanan energi tahun 2025 dan
Pada analisis ketahanan energi ini diberikan 2030 menunjukkan bahwa terjadi kontradiktif
tahun dasar 2010 dan tahun analisis 2025 pada dalam indikator ketahanan energi, antara lain
skenario dasar dan MP3EI. target pertumbuhan ekonomi yang cepat pada
MP3EI akan diikuti oleh meningkatnya
2.4. Penilaian kesejahteraan masyarakat tetapi juga oleh
Penilaian diberikan untuk setiap indikator peningkatan konsumsi energi.
yaitu dengan mengalikan bobot dan nilai Bila kesejahteraan masyarakat memacu
indikator untuk setiap elemen dan komponen diversifikasi yang positif terhadap ketahanan
serta indikator yang terkait. Indikator yang energi, maka peningkatan konsumsi ini yang
memperoleh nilai akhir yang sangat tinggi atau dibarengi dengan penurunan potensi
sangat rendah harus dianalisis untuk melihat sumberdaya energi akan menimbulkan efek
permasalahan yang ada dan diberikan langkah negatif terhadap ketahanan energi.
kebijakan untuk penanganannya. Diversifikasi energi yang ditunjukkan
dengan indeks diversifikasi energi sangat

84
Prosiding Seminar dan Peluncuran Buku Outlook Energi Indonesia 2012

Tabel 2. Data Ketahanan Energi


2025 2030 Nilai 2010/2025 Nilai 2010/2030
Indikator 2010
Dasar MP3EI Dasar MP3EI Dasar MP3EI Dasar MP3EI
Ketersediaan (Availability)
PLT EBT (TWh) 29 163 163 197 197 28,1 28,1 34,0 34,0
Kons. Bt.bara (Juta Ton) 61 279 393 396 666 22,9 32,2 32,5 54,6
Produk. Bt.bara (Juta Ton) 270 667 781 817 1087 12,4 14,5 15,1 20,1
Prod. BBM (Juta KL) 48 111 120 120 175 11,6 12,5 12,5 18,2
Imp. BBM (Juta KL) 24 63 109 131 215 13,1 22,7 27,3 44,8
Kemampuan Mendapatkan (Affordability)
Kons. Listrik/Kap (KWh) 659,8 2404,2 3063,7 3017,5 4453,8 18,2 23,2 22,9 33,8
Kons. Energi Final/Kap
5,3 9,8 13,4 12,8 20,5 9,2 12,6 12,1 19,3
(BOE)
Indeks diversifikasi PLT
6,3 5,3 5,1 6,1 4,6 4,2 4,0 4,8 3,7
D=1/S(Pn/T)^2
Kesejahteraan Masy.
9,7 24,1 33,6 34,1 57,7 12,4 17,3 17,6 29,7
PDRB 2000/Kap
Pemakaian Biomasa % 23 6 3 4 2 1,3 0,7 0,9 0,4
Kemampuan Menyediakan (Accessability)
Kap. Kilang Minyak (MBSD) 1157,0 1557,0 1557,0 1957,0 2757,0 11,1 11,1 14,0 19,7
Kap. Kilang LNG (MMCFD) 42,1 52,4 52,4 52,4 52,4 10,3 10,3 10,3 10,3
Vessel Batubara (Unit) 69,8 298,9 419,4 415,5 704,6 35,3 49,6 49,1 83,3
Penerimaan Masyarakat (Acceptability)
Ling. Global (Jt Ton CO2) 0,189 0,188 0,179 0,175 0,164 12,4 11,8 11,6 10,8
Ling. Lokal (jt Ton Debu) 1,3 5,8 8,0 8,1 13,6 2,8 2,0 2,0 1,2

mendukung pembangunan nasional dan tinggi pada skenario MP3EI memberikan


ketahanan energi pada skenario MP3EI justru kerentanan ketahanan energi yang lebih tinggi
menurun karena kecepatan pertumbuhan yang daripada skenario dasar.
tinggi ternyata tidak dapat atau sulit diikuti oleh Dengan kapasitas kilang yang terbatas
pengembangan energi baru dan terbarukan. maka impor BBM akan meningkat sangat tinggi
Penerapan teknologi dengan efisiensi tinggi terutama pada skenario MP3EI. Hal ini akan
serta konservasi dapat mengurangi kerentaan meningkatkan ketergantungan BBM pada impor
atau meningkatkan ketahanan energi perlu dan menurunkan ketahanan energi.
diangkat sebagai solusi di masa depan. Secara keseluruhan skenario MP3EI yang
Tabel 3 menunjukkan indikasi persoalan mengarah kepada pertumbuhan ekonomi tinggi
dalam kaitan ketahanan energi serta solusi rata-rata 9,8 % per tahun selama 20 tahun
pemecahannya. menimbulkan kerentaan yang lebih tinggi
dibanding dengan skenario dasar dengan
4. Kesimpulan dan Saran pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,5% per tahun
4.1. Kesimpulan selama 20 tahun.
Penurunan cadangan sumberdaya energi
yang disebabkan konsumsi serta ekspor yang

85
Prosiding Seminar dan Peluncuran Buku Outlook Energi Indonesia 2012

Tabel 3. Indikasi Permasalahan dan Strategi Penyelesaian


Langkah Penyelesaian/
No. Indikator Indikasi Permasalahan
Strategi Kebijakan
1. Potensi Pemanfaatan a. Sampai tahun 2010 ekspor LNG a. Intensifkan pengembangan sumur minyak
Energi DN mencapai 40% dari produksi. baik di DN atau dengan menjadi operator
- Impor minyak dan BBM, b. Tahun 2010 ekspor batubara di luar negeri
- Ekspor gas bumi, mencapai 80% produksi b. Terapkan DMO dengan ketat
- Ekspor batubara padahal potensi batubara c. Kontrak ekspor LNG tidak diperpanjang
Indonesia hanya 0.5% dunia dan dialihkan untuk dalam negeri
d. Pengembangan sumur baru diarahkan
untuk DN
e. Tidak diterbitkan ijin penambangan
batubara baru kecuali untuk dalam negeri
f. Penyesuaian UU untuk penerapan pajak
ekspor/royalti batubara secara progresif
sesuai dengan harga internasional.
2. Kemampuan Pemanfaatan a. Konsumsi listrik tahun 2025 a. Peningkatan konsumsi perlu diimbangi
- Konsumsi listrik/kapita sampai 4 kali lipat pada dengan peningkatan kualitas daya listrik
skenario dasar dan 5 kali pada dari sisi distribusi maupun dari tingkat
MP3EI. penurunan tegangan.
- Pemanfaatan biomasa b. Pemanfaatan biomasa b. Perlu ditindak lanjuti dengan
cenderung menurun tajam dari pengembangan energi terbarukan lain
23% tahun 2010 menjadi seperti biogas, pengembangan kebun
sekitar 3% tahun 2025 energi dan lain-lain.
walaupun secara volume tidak
terlalu berbeda.
3. Kemampuan Penyediaan a. Konsumsi BBM yang terus a. Dalam kaitan ketahanan energi, maka
- Kilang minyak meningkat akan mendorong perlu dibangun kilang minyak pada
produksi atau impor BBM. beberapa lokasi guna menjamin pasokan
b. Konsumsi batubara meningkat dan distribusi BBM secara merata.
- Vessel batubara dengan cepat dari 270 juta ton b. Perlu disusun strategi dalam penyediaan
pada tahun 2010, tahun 2025 minyak mentah sebagai bahan baku kilang
menjadi 661 juta ton pada krn dimasa mendatang akan terjadi
sken. Dasar dan 817 juta ton perebutan pasar minyak internasional.
pada sken. MP3EI. c. Perlu diantisipasi dengan pengembangan
industri perkapalan dalam negeri untuk
dapat berperan dalam penyiapan vessel
batubara nasional
4. Penerimaan Masyarakat Terjadi peningkatan emisi debu a. Perlu penerapan unit pengguna energi
- Lingkungan lokal dari tahun 2010 sebesar 1,3 juta dengan efisiensi tinggi, penyaring debu
ton pada tahun 2025 menjadi 5,8 pada instalasi yang meanggunakan
juta ton pada skenario dasar dan batubara.
8,1 juta ton pada sken MP3EI b. Perlu pemilihan lokasi PLTU Batubara
untuk mengurangi dampak negatif
terhadap lingkungan.
4.2. Saran Dalam pengembangan penyediaan energi
Perlu adanya master plan atau rencana baik dari sumberdaya, penyiapan fasilitas
induk dalam ketahanan energi agar kerentaan maupun prasarana energi perlu diikuti dan
yang ada dalam skenario dasar maupun MP3EI didukung oleh pengembangan industri energi
dapat dikurangi dalam meningkatkan ketahanan nasioanal baik dalam produksi energi maupun
energi nasional. dalam penyediaan fasilitas energi.

86
Prosiding Seminar dan Peluncuran Buku Outlook Energi Indonesia 2012

Perlu koordinasi secara tetap dan intensif [4] BPPT, 2012, Output Model BPPT-DEMI dan
antar institusi terkait baik dari instansi Model MARKAL, Laporan internal tidak
Pemerintah, lembaga riset, akademisi, industri dipublikasi, Badan Pengkajian dan
maupun lembaga pengelola finansial untuk Penerapan Teknologi, Jakarta.
menjamin dan memenuhi ketahanan energi [5} Boedoyo, M.S., 2011, Strategi untuk
nasional. Pencapaian Ketahanan Energi Indonesia,
Seminar Nasional Security Energy,
Daftar Pustaka Musyawarah Nasional XI, BKKMTKI, 18
[1] Kruyt, B. et al., 2007, Indicators for energy Oktober 2011, Jakarta.
security, Energy Policy, Vol. 37, Elsevier. [6] Bazilian, M. et al., 2011, Interactions
[2] Sovacool, B.K. and Mukherjee, I., 2011, between energy security and climate
Conceptualizing and measuring energy change: A focus on developing countries,
security: A synthesized approach, Energy, Energy Policy, Vol. 39, Elsevier.
Vol. 36, Elsevier.

[3] Sovacool, B.K. et al., 2011, Evaluating


energy security performance from 1990 to
2010 for eighteen countries, Energy, Vol.
36, Elsevier.

87

View publication stats