You are on page 1of 14

Anatomi dan Fisiologi Tulang

Tulang tidak hanya kerangka penguat tubuh, tetapi juga merupakan bagian susuunan sendi,
sebagai pelindung tubuh, serta tempat melekatnya origo dan insertion dari otot-otot yang
menggerakkan kerangka tubuh. Tulang dan kerangka merupakan bagian yang sangat penting
di dalam bidang ortopedi. Banyak sekali penyakit berkaitan dengan kelain bentuk atau salah
gerak yang disebabkan adanya kelainan- kelainan tulang, pengetahauan yang jelas tentang
kerangka dan tulang merupakan dasar yang kuat di dalam ilmu ortopedi. Tulang juga
mempunya fungsi sebagai tempat mengatur dan menyimpan kalsium, fosfat, magnesium dan
garam. Bagian ruang di tengah tulang-tulang tertentu memiliki jaringan hemopoietik yang
berfungsi untuk memproduksi sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.

Tulang terbentuk dari jatingan- jaringan mesenkim. Pada pembentukan tulang, zat- zat
anorganik seperti kalsium, fosfor, dan 𝐶𝑂2 sangat diperlukan, selain zat-zat protein dan
lemak. Sementara itu, pertumbuhan tulang dipengaruhi oleh vitamin D dan hormone-
hormone, seperti hormone tiroid dan pituitary. Sinar ultraviolet juga memiliki pegaruh dalam
proses biokimia pertumbuhan tulang.

Komponen utama dari jaringan tulang adalah mineral dan jaringan organic (kolagen
serta proteoglikan). Kalsium dan fosfat membentuk suatu Kristal garam (hidroksiapatit),
kemudian tetimbun pada matriks kolagen dan proteoglikan. Matriks organik tulang disebut
juga sebagai osteoid. Seitar 70% dari osteoid adalah kolagen tipe I yang mempunyai kekuatan
dan kekerasan tinggi pada tulang. Materi organik lain yang juga menyusun tulang
proteoglikan.

Hampir semua tulang berongga di bagian tengahnya. Sturkturnya demikian


memaksimalkan kekuatan structural tulang dengan bahan yang relative kecil atau ringan.
Kekuatan tambahan diperoleh dari susunan kolagen dan mineral dalam jaringan tulang.
Jaringan tulang dapat berbentuk anyaman atau lamelar. Tulang yang berbentuk anyaman
terlihat saat pertumbuhan cepat, seperti sewaktu perkembangan janin atau sesudah terjadinya
patah tulang, selanjutnya keadaan ini akan diganti oelh tulang yang lebih dewasa yang
berbentuk lamelar. Pada orang dewasa, tulang nyaman ditemukan pada insersi ligamentum
atau tendo.
Pertumbuhan Embriologi Tulang

Pembentukan dan perkembangan tulang merupakan suatu proses morfologis yang unik serta
melibatkan perubahan biokimia. Tulang rawan (kartilago) lempeng epifisis tidak sama
dengan tulang tulang rawan hialan dan tulang rawan artikuler. Tulang rawan lempeng epifisis
mempunyai struktur pembuluh darah, zona- zona, dan susunan biokimia sehingga
memberikan gambaran matriks yang unik.

Pada fase awal perkembangan, tulang embrio (pada minggu ke-3 dan ke-4) dan tiga
lapisan germinal yaitu ectoderm, mesoderm, serta endoderm terbentuk. Lapisan ini
merupakan gambaran multipotensial yang akan membentuk mesenkim dan kemudian
berdiferensiasi membentuk jaringa tulang rawan. Pada minggu kelima perkembangan
embrio, terbentuk tonjolan anggota gerak (lim bud) yang di dalamnya terdapat juga sel
mesoderm. Sel mesoderm akan berubah menjadi mesenkim yang merupakan bakal
terbentuknya tulang dan tulang rawan.

Perkembangan tulang terjadi melalu dua tahap. Tahap pertama terjadi pada minggu
kelima perkembangan embrio. Pada tahap ini tulang rawan terbentuk dari kartotilago, dimana
terdiri atas tiga jenis tulang rawan, yaitu tulang rawan hialin, tulang rawan fibrin, dan tulang
rawan elastis. Tahap kedua terjadi setelah minggu ketujuh perkembangan embrio. Pada tahap
ini, tulang akan berbentuk melalui dua cara, yaitu secara langsung dan secara tidak langsung.
Pembentukan tulang secara langsung berarti bahwa tulang terbentuk langsung dari lembaran-
lembaran membrane tulang, misalnya pada tulang muka, perlvis, scapula, dan tengkorak.
Pada jenis ini dapat ditemukan satu atau lebih pusat- pusat penulangan membrane. Proses
penulangan ini ditandai dengan terbentuknya osteoblast yang merupakan rangka dari
trabekula dan penyerbaranya secara radial. Sementara itu, pembentukan tulang secara tifak
langsung berarti bahwa tuang terbentuk dari tulang rawan. Proses penulangan dari tulang
rawa terjadi melalui dua cara yaitu pusat osifikasi primer dan osifikasi sekunder. Pada
osifikasi primer, osifikasi darii tulang terjadi melalui osifikasi endokondral, sedangkan pada
osifikasi sekunder terjadi di bawah perikondrium/ perikondrial ( osifikasi perosteum/
periosteal). Mesensenkim pada daerah perifer berdiferensiasi dalam bentuk lembaran yang
membentuk periosteum, di mana osteoblast terbentuk di dalamnya.

Proses osifikasi dapat terjadi apabila sel-sel mesenkim memasuki daerah osifikasi. Apabila
sel mesenkim masuk ke daerah yang banyak memngandung pembuluh darah, maka akan
membentuk osteoblast. Sementara itu, apabila daerah tersebut tidak mengandung pembuluh
darah, sel mesenkim akan membentuk kondrablas.

Pembentukan tulang terjadi segera setelah terbentuk tulang rawan (kartilago). Mula-
mula daerah menembus perikondrium di bagian tengah batang tulang rawan, kemudian
merangsang sel-sel perikondrium berubah menjadi osteoblas. Osteblas ini akan membentuk
suatu lapisan tulang kompakta, sedangkan perikondrium berubah menjadi periosteum.

Bersamaan dengan proses ini, pada bagian dalam tulang rawan di daerah diafisis yang
disebut juga pusat osifikasi primer, sel-sel tulang rawan membesar kemudain pecah sehingga
terjadi kenaikan pH (menjadi basa) akibatnya zat kapur (kalsium) disimpan. Dengan
demikian terganggulah nutrisi semua sel-sel tulang rawan dan menyebabkan kematian pada
sel-sel tulang rawan ini. Kemidan akan terjadi degenerasi (kemunduran bentuk dan fungsi)
dan pelarutan pembuluh darah dari zat-zat interseluler (termasuk zat kapur) bersamaan
dengan terbentuknya pembuluh darah ke darah inin sehungga membentuk rongga sumsum
tulang. Pada tahap selanjutnya pembuluh darah akan memasuki daerah epifisis sehingga
terjadi pusat osifikasi sekunder dan membentuk tulang spongiosa. Oleh Karena itu , masih
tersisa tulang rawan di kedua ujung epifisis dan diafisis yang disebut dengan cakram epifisis.

Selama pertumbuhan, sel-sel tulang rawan pada cakram epifisis terus-menerus


membelah kemuadian hancur dan tulang rawan diganti dengan tulang di daerah diafisis.
Tulang akan tumbuh memanjang, tetapi tebal cakram epifisis tetap. Pada pertumbuhan
diameter (lebar) tulang, tulang di daerah rongga sumsum dihancurkan oleh osteoklas
sehingga rongga seumsum membesar dan pada saat yang bersamaan osteoblast di periosteum
membentuk lapisan-lapisan tulang baru di daerah permukiman.

Klasifikasi Bentuk Tulang

tulang dalam garis besarnya dibagi dalam enam kategori. Berdasarkan anatomis dan
fisiologisnya, klasifikasi dari bentuk tulang meliputi: tulang panjang, tulang pendek, tulang
pipih, tulang tak beraturan, tulang sesamoid, dan tulang sutura.

Bentuk tulang panjang biasanya relatife panjang dan silinder. Tulang panjanag bisa
ditemukan di lengan, paha, kaki ,jari tangan, dan jari kaki. Bentuk tulang pendek menyerupai
tulang bentuk kotak yang terdapat seperti pada tulang karpal dan tarsal. Bentuk tulang pipih
tipis dan permukaannya pararel. Contoh tulang pipih adalah pada atap tengkorak , sternum,
iga, dan scapula. Tulang-tulang ini mempunyai fungsi proteksi terhadap jaringan lunak
dibawahnya dengan membuat suatu permukaan luas untuk melekatnya suatu otot. Bentuk
tulang tak beraturan memiliki kompleksitas pendek dan permukaan tidak beraturan. Contoh
tulang ini adalah tulang belakang. Tulang sesamoid berbentuk kecil, tipis, dan seperti biji-
bijian. Contoh tulang ini adalah patella. Sementara tulang sutura benbentuk kecil, tipis, tidak
beraturan, dan tersebar diantara tulang tengkorak.

Histologi Tulang

Secara histologi, pertumbuhan tulang terbagi dalam dua jenis.

1. Tulang imatur (non-lameral bone,woven bone, fiber bone).


Terbentuk pada perkembangan embrional dan pada usia satu tahun tidak terlihat lagi.
Tulang imatur mengandung jaringan kolangen.
2. Tulang matur (mature bone, lameral bone).

Perbedaan tulang matur dan imatur terutama terdapat pada jumlah sel, jaringan kolagen, dan
mukopolisakarida. Diafisis atau batang merupakan bagian tengah tulang yang berbentuk
silinder. Bagian ini tersusun dari tulang kortikal yang memiliki kekuatan yang besar.
Metafisis adalah bagian tulang yang melebar di dekat ujung atau akhir batang. Daerah ini
disusun oleh tulang trabecular atau tulang spongiosa yang mengandung sumsum merah.
Sumsum merah juga terdapat di bagian epifisis dan diafisis tulang.

Pada orang dewasa, aktivitas hematopoetik menjadi terbatas (hanya pada sternum dan
krista iliaka), walaupun tulang-tulang yang lain masih berpotensi untuk aktif kembali jika
diperlukan. Sumsum kuning yang terdapat pada diafisis tulang orang dewasa terdiri atas sel-
sel lemak.

Metafisis juga menopang sendi dan meyediakan daerah yang cukup luas untuk
perlekatan tendon dan ligamen pada epifisis. Lempeng epifisis adalah daerah pertumbuhan
longitudinal pada anak-anak. Bagian ini akan menghilang pada tulang dewasa. Bagian
epifisis yang terletaknnya dekat sendi tulang panjang bersatu dengan metafisis sehingga
pertumuhan tulang terhenti. Seluruh tulang diliputi dengan oleh lapisan fibrosa yang disebut
periosteum. Periosteum mengandung sel-sel yang dapat berproliferasi dan berperan dalam
proses pertumbuhan transversal tulang panjang. Kebanyakan tulang panajnag mempunyai
arteria nutrisi. Lokasi dan keutuhan dari pembuluh-pembuluh inilah yang menentukan
berhasil atau tidaknya proses penyembuhan suatu tulang yang patah pada saat mengalami
kerusakan. Semakin tebal lapisan periosteum, semakin cepat proses penyembuhan trauma
tulang.

Fisiologis sel – sel tulang

Tulang adalah suatu jaringan dinamis yang tersusun dari 3 jenis sel :

1. Osteoblas :
Membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe I dan proteoglikan sebagai
matriks tulang atau jaringan osteoid melalui proses yang disebut osifikasi. Ketika
sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid, osteoblas menyekresi sejumlah besar
fosfatase alkali yang memegang peran penting dalam mengendapkan kalsium dan
fosfat kedalam matriks tulang. Sebagian dari fofatase alkali akan memasuki aliran
darah. Oleh karena itu, kadar fosfatase alkali di dalam darah dapat menjadikan
indikator yang baik tentang tingkat pembentukan tulang setelah mengalami patah
tulang atau pada kasus metastasis kanker tulang
2. Osteosit :
Sel – sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasan pertukaran kimiawi
melalui tulang yang padat.
3. Osteoklas :
Sel – sel besar berinti banyak yang memungkinkan mineral atau matriks tulang
diabsorbsi. Osteoklas menjadi sel fagosit yang mempunyai kemampuan mengikis
tulang dengan menghasilkan enzim proteolitik yang memecahkan matriks dan
melarutkan mineral tulang, sehingga kalsium dan fosfat terlepas kedalam darah.
Dengan fungsi tersebut osteoklas mampu memperbaiki tulang bersama osteoblas.

Proses pembentukan tulang ( osteogenesis ) terdiri atas beberapa macam, diantaranya


osteogenesis endesmalis dan osteogenesis kondralis. Osteogenesisi endesmlis terjadi dari dan
di dalam jaringan pengikat. Tulang yang dibentuk melalui osteogenesis endesmalis disebut
tulang desmal. Contoh : tulang calvaria cranni (tulang atap tengkorak). Osteogenesis
kondralis berasal dari tulang rawan. Proses kodalis ini terdiri atas hal – hal berikut :
1. Osteogenesis perikondralis :
Proses permulaan pembentukan tulang dari tepi tulang.
Contoh : pada tulang panjang
2. Osteogenesis enkondralis :
Dimana proses pembentukan tulang berlangsung dari bagian dalam tulang
Contoh : pada tulang – tulang pendek
3. Osteogenesis kondometaplastika :
Yaitu proses pembentukan tulang berasal dari proses perubahan jaringan tulang rawan
menjadi tulang.
Contoh : Pada tulang mandibula

Pada pertumbuhan tulang, suatu tulang tidak tumbuh membesar karena bertambah
banyaknya jaringan tulang saja. Pada waktu pertumbuhan tulang, jaringan tulang yang baru
selalu dibuat berlapis – lapis dan menempel pada jaringan tulang yang lama. Untuk
menghindari jaringan sampai tulang itu menjadi tebal dan berat, maka tubuh kita melakukan
usaha penghancuran atau perusakan dan reabsorbsi jaringan tulang yang telah ada. Disebelah
luar terjadi penghancuran jaringan tulang , maka pada bagian dalam terjadi reabsorbsi.

Pada orang dewasa, tulang dan periosteum (selaput tulang) tampak dalam keadaan
istirahat. Namun, apabila ada gangguan patologis atau penyakit, misalnya pada kondisi
fraktur (patah tulang/ luka), proses regenerasi dari tulang akan segera terbentuk. Sel osteoblas
ada tulang terdapat pada periostium dan pada sumsum tulang belakang akan membentuk
jaringan tulang spongiosa sehingga menutupi tulang yang patah atau yang luka. Jaringan baru
yang terbentuk disebut dengan kalus. Kalus ini mula – mula tebal, tetapi karna syarat – syarat
mekanis, maka terjadi lagi reabsorpsi seperlunya sehingga kalus menipis dan setelah
beberapa tahun bekas bekas patah atau luka tidak tampak lagi.

Pertumbuhan tulang memerlukan diet yang berimbang dengan baik dan berisi semua
unsur makanan yang penting, seperti kalsium dan fosfor. Seorang dewasa memerlukan 1 g
kalsium sehari. Kalsium dapat diperoleh dari susu, keju, kubis, wortel dan sayur hijau.
Makanan yang megandung vitamin D untuk memperlancar absorbsi kalsium, penting untuk
klasifikasi tulang. Kekurangan vitamin D dalam makanan pada anak akan menimbulkan
penyakit riketsia, dimana absorpsi kalsium tidak memadai sehingga proses klasifikasi tulang
terhambat dan menjadi lunak. Pada seorang dewasa, kekurangan vitamin D menimbulkan
osteomalasia. Diperkirakan bahwa dalam lebih dari 90 % kalsium dalam tubuh berada dalam
tulang dan gigi.

Meskipun tulang telah berhenti tumbuh, bukan berarti menjadi masif. Se dan susunan
kimiawinya terus – menerus. Diperbaharui dengan adanya pengaruh dari hormon – hormon
dan tekanan berat badan dan kegiatanya. Jika seseorang diharuskan untuk istirahat penuh
dalam jangka waktu yang panjang, maka beberapa unsur tulang akan terbawa masuk ke aliran
darah sehingga stuktur tulang menjadi lemah. Osteoporosis dapat dialami oleh seluruh
kerangka tubuh, terutama tulang punggung sehingga terjadi pemendekan tulang unggung dan
kifosis (bungkuk). Osteoporosis juga dapat terjadi pada tulang disekitar sendi karena tertahan
balutan gips untuk jangka waktu yang lama. Pada ostitis atau penyakit paget pada tulang,
bagian tulang yang terkena penyakit ini cenderung mudah mengalami fraktur patologis.

Pada keadaan tertentu, ketidakseimbangan kadar kalsium dalam tulang dapat


mengakibatkan tulang menjadi lunak dan bengkok atau sebaliknya menjadi padat dan keras.
Pada umumnya ketidakseimbangan antara kalsium yang masuk ke tubuh kita dan kadarnya
didalam tulang dijaa oleh kelenjar paratiroid.

Metabolisme Tulang

Metabolisme tulang diatur oleh beberapa hormon. Suatu peningkatan kadar hormon
paratiroid mempunyai efek langsung dan cepat terhadap mineral tulang yaitu menyebabkan
kasium dan fosfat dilepaskan dan bergerak memasuki serum. Disamping itu, peningkatan
kadar hormon paratiroid secara perlahan – lahan menyebabkan peningkatan jumlah dan
aktivitas osteoklas sehingga terjadi demineralisasi. Peningkatan kadar kalsium serum pada
hiperparatiroidisme dapat pula menimbulan pembentukan batu ginjal.

Metabolisme Kasium dan Fosfor

Metabolisme kedua komponen ini sangat berkaitan erat. Tulang mengandung 99% dari
seluruh fosfor tubuh. Pengaturan konsentrasi ion klasium dalam cairan ekstrasel sangat
penting dalam homeotasis asam – basa. Beberapa organ yang terlibat dalam proses
homeotasis pengaturan ion kalsium tersebut antara lain : ginjal, intestinal, dan tulang

Pada keadaan konsentrasi ion kalsium melebihi kadar normal dalam cairan ekstrasel
(>11mg/dl), organ intestinal dengan kastrisiol akan berupaya menurunkan presentase ion
kalsium dari ektrasel. Ginjal kemudian membiarkan pelepasan ion kalsium keluar bersama
urine sehingga kadar ion kalsium dalam ekstrasel dapat menurun. Tulang membantu proses
penurunan konsentrasi ion kalsium ini dengan mekanisme penghambat keluaran ion kalsium
oleh osteoklas dan penguncian pengeluaran ion kalsium dari matriks tulang oleh osteoblas.

Pada keadaan konsentrasi ion kalsium dibawah dari kisaran (kadar) normal dalam
cairan ekstrasel (<8,5 mg/dl), organ intestinal dengan kalsitriol akan berupaya meningkatkan
presentase ion kalsium dari ektrasel. Ginjal kemudian mempertahankan ion kalsium keluar
bersama urine sehingga kadar ionkalsium dalam ekstrasel dapat tetap stabil. Tuang membantu
proses peningkatan konsentrasi ion kalsium ini dengan mekanisme peningkatan stimulasi
pelepasan dan penyimpanan ion kalsium oleh osteoklas tulang.

Sendi dan Tulang Kartilago

Sandi adalah tempat pertemuan dua atau lebih tulang. Tulang – tulang dipadukan
dengan berbagai cara,misalnya dengan kapsul sendi, pita fribosa, ligamen, tendon, fasia atau
otot. Secara umum, sendi terbagi atas tiga tipe :

1. Sendi fribosa (sinartrodia) merupakan sendi yang tidak dapat bergerak


Sendi fibrosa tidak memiliki lapisan tulang rawan. Tulang yang satu dengan tulang
lainnya dihubungkan oleh jaringan penyambung fibrosa. Salah sau contohnya adalah
satura pada tengkorak. Contoh lainnya adalah sindesmosis yang terdiri atas membra
interoseus atau suatu ligamen diantara tulang. Serat – serat ini memungkinkan sedikit
gerakan, tetapi bukan merupakan gerakan sejati. Perlekatan tulang tibia dan fibula
bagian distal adalah suatu contoh dari tipe sendi fibrosa ini.
2. Sendi kartilaginosa (amfiartrodial) merupakan sendi yang dapat sedikit bergerak
Sendi kartilaginosa adalah sendi dimana ujung – ujung tulangnya dibungkus oleh
tulang rawan hialin, disokong oleh ligamen, dan hanya dapat sedikit bergerak. Ada
dua tipe sendi kartilaginosa :
a) Sinkondrosis : sendi – sendi yang seluruh persendiannya diliputi oleh tulang
rawan hialin. Contoh : Sendi Kostokondral
b) Simfisi : sendi yang tulang – tulangnya memiliki suatu hubungan
fibrokartilago dan selapis tipis tulang rawan hialin yang menyelimuti
permukaan sendi. Contoh : simfisis pubis dan sendi – sendi pada tulang
punggung
3. Sendi sinova (diartrodial) merupakan sendi yang dapat digerakan dengan bebas
Sendi – sendi tubuh yang dapat digerakan. Sendi – sendi ini memiliki rongga sendi
dan permukaan sendi dilapisi tulang rawan hialin. Bagian cair dari cairan sinova
diperkirakan dari transudat plasma. Cairan sinova juga bertindak sebagai sumber
nutrisi bagi tulang rawan sendi. Kartilago hialin menutupi bagian tulang yang
menanggung beban tubuh pada sendi sinovai. Tulang rawan ini memegang peranan
penting dalam membagi beban tubuh. Rawan sendi tersusun dari sedikit sel dan
sejumlah besar substansi dasar . Substansi dasar ini terdiri atas kolagen tipe II dan
proteoglikan yang dihasilkan oleh sel – sel tulang rawan. Proteoglikan yang
ditemukan pada tulang rawan sendi sangat hidrosfilik sehingga memungkinkan rawan
tersebut mampu menahan kerusakan sewaktu sendi menerima beban yang berat.

Tulang rawan sendi pada orang dewasa tidak mendapat aliran darah, limfe, atau
persyarafan. Oksigen dan bahan-bahan metabolisme lain dibawa oleh cairan sendi yang
membasahi tulang rawan tersebut. Perubahan susunan kolagen dan pembentukkan
proteoglikan dapat terjadi stelah cedera atau usia bertambah. Beberapa kolagen baru pada
tahap ini mulai membentuk kolagen tipe satu yang lebih fibrosa. Proteoglikan dapat
kehilangan sebagian kemampuan hidrofiliknya. Perubahan-perubahan ini berarti tulang rawan
akan kehilangan kemampuannya untuk menahan kerusakkan bila diberi beban berat.

Sendi dilumasi oleh cairan sinovia dan oleh perubahan-perubahan hidrostatik yang
terjadi pada cairan interstisial tulang rawan. Tekanan yang terjadi pada tulang rawan akan
mengakibatkan pergeseran cairan kebagian yang kurang mendapat tekanan. Sejalan dengan
pergeseran sendi kedepan, cairan yang bergerak ini juga bergeser kedepan mendahului beban.
Cairan kemudian akan bergerak ke belakang kembali kebagian tulang rawan ketika tekanan
berkurang. Tulang rawan sendi dan tulang-tulang yang membentuk sendi biasanya terpisah
selama gerakan selaput cairan ini. Selama terdapat cukup selaput atau cairan, tulang rawan
tidak dapat aus meskipun dipakai terlalu banyak.

Kapsul sendi terdiri atas suatu selaput penutup fibrosa padat, suatu lapisan dalam
yang terbentuk dari jaringan penyambung pembuluh darah banyak dan sinovium. Sinovium
membentuk suatu kantung yang melapisi seluruh sendi dan membungkus tendon-tendon yang
melintasi sendi. Sinovium tidak melumasi melampaui permukaan sendi, tetapi terlipat
sehingga memungkinkan gerakkan sendi secara penuh. Lapisan-lapisan bursa di seluruh
persendian membentuk sinovium. Periosteum tidak melewati kapsul sendi. Sinovium
menghasilkan cairan yang sangat kental yang membasahi permukaan sendi. Cairan sinovia
normalnya bening, tidak membeku, dan tidak berwarna. Jumlah yang ditemukan pada tiap-
tiap sendi relatif kecil (1-3 ml). Hitung sel darah putih pada cairan ini normalnya kurang dari
200 sel/ml dan sebagian besar merupakan sel mononuklear. Asam hialuronidase adalah
senyawa yang bertanggung jawab atas viskositas cairan sinovia dan disintesis oleh sel-sel
pembungkus sinovia.

SUPLAI DARAH SENDI

Aliran darah ke sendi banyak yang menuju ke sinovium. Pembuluh darah mulai masuk
melalui tulang subkondral pada tingkat tepi kapsul. Jaringan kapiler sangat tebal dibagian
sinovium yang menempel langsung pada ruang sendi. Hal ini memungkinkan bahan-bahan
didalam plsama berdisfusi dengan mudah kedalam ruang sendi. Proses peradangan dapat
sangat menonjol di sinovium, karena didaerah tersebut banyak mendapat aliran darah, dan
disamping itu juga terdapat banyak sel mast dan sel lain, serta zat kimia yang secara dinamis
berinteraksi untuk merangsang dan memperkuat respons peradangan.

INERSIVASI SARAF

Saraf-saraf otonom dan sensorik tersebar luas pada ligamen, kapsul sendi, dan sinovium.
Saraf-saraf ini berfungsi untuk memberikan sensitivitas pada struktur-struktur ini terhadap
posisi dan pergerakkan. Ujung-ujung saraf pada kapsul, ligamen, dan adventisia pembuluh
darah sangat sensitif terhadap peregangan dan perputaran.

Nyeri yang timbul dari kapsul sendi atau sinovium cenderung difus dan tidak terkolalisasi.
Sendi dipersarafi oleh saraf-saraf perifer yang menyeberangi sendi. Hal ini berarti nyeri dari
satu sendi mungkin dapat dirasakan pada sendi lainnya, misalnya nyeri pada sendi panggul
dapat dirasakan sebagian nyeri lutut.

JARINGAN PENGHUBUNG

Jaringan yang ditemukan pada sendi dan daerah-daerah yang berdekatan terutama
adalah jaringan penyambung yang tersusun dari sel-sel dan substansi dasar. Dua sel yang
ditemukan pada jaringan penyambung adalah sel-sel yang tidak dibuat dan tetap berada pada
jaringan penyambung, seperti sel mast, sel plasma, limfosit, monosit, dan leukosit
polimorfonuklear. Sel-sel memegang peranan penting pada reaksi-reaksi imunitas, dan
peradangan yang terlihat pada penyakit-penyakit reumarik. Jenis sel yang kedua dalam
jaringan penyambung ini adalah sel-sel yang tetap berada di dalam jaringan, seperti fibroblas,
kondrosit, dan osteoblas. Sel-sel ini menyintesis berbagai macam serat dan proteoglikan dan
substansi dasar dan membuat tiap jenis jaringan penyambung memiliki susunan sel yang
tersendiri.

Serat-serat yang didapatkan didalam substansi dasar adalah kolagen dan elastin.
Setidaknya terdapat sebelas bentuk kolagen yang dapat diklarifikasikan menurut rantai
molekul, lokasi, dan fungsinya. Kolagen dapat dipecahkan oleh kerja kolagenase. Enzin
proteolitik ini membuat molekul stabil berubah menjadi molekul tidak stabil pada suhu
fisiologik, dan selanjutnya dihidrolisis oleh proses lain. Perubahan sintesis kolagen tulang
rawan terjadi pada orang-orang yang usianya semakin lanjut. Peningkatan aktivitas
kolagenase terlihat pada bentuk penyakit-penyakit reumatik yang diperantarai oleh imunitas,
seperti artritis reumatoid.

Serat-serat elastin memiliki sifat elastis yang penting. Serat ini terdapat dalam
ligamen, dinding pembuluh darah besar, dan kulit. Elastin dipecahkan oleh enzim yang
disebut elastase. Elastase dapat menjadi penting pada proses pembentukkan arteriosklerosis
dan emfisema. Ada bukti-bukti menunjukkan bahwa perubahan dalam sistem kardiovaskular
karena penuaan, dapat terjadi oleh karena peningkatan pemecahan serat elastin.

Selain serat-serat, proteoglikan adalah zat penting yang ditemukan dalam substansi
dasar. Proteoglikan adalah molekul besar yang terbuat dari rantai polisakrida panjang yang
melekat pada pusat polipeptida. Proteoglikan pada tulang rawan sendi berfungsi sebagai
bantalan pada sendi sehingga sendi dapat menahan beban-beban fisik yang berat. Hubungan
antara proteoglikan dengan proses imunologi dan peradangan adalah kompleks. Limfokin
dapat menginduksi sel-sel jaringan penyambung untuk memproduksi proteoglikan baru,
menghambat produksi, atau meningkatkan pemecahan. Proteoglikan dapat menjadi fokus aksi
autoimun pada gangguan seperti artritis reumatoid. Pertambahan usia mengubah proteoglikan
didalam tulang rawan yang akan mengurangi kerekatan satu dengan lainnya dan brinteraksi
dengan kolagen. Peerubahan fungsional dan struktural utama menjadi bagian dari proses
penuaan normal menyebabkan perubahan biokimia dari jaringan penyambung dan terjadi
terutama pada serat dan proteoglikan.

OTOT RANGKA

Otot merupakan organ tubuh yang mempunyai kemampuan merubah energi kimia
menjadi energi mekanik/gerak sehingga dapat berkontraksi untuk menggerakkan rangka. Otot
rangka bekerja secara volunter ( secara sadar atas perintah dari otak ), bergaris melintang,
bercorak, dan berinti banyak dibagian perifer. Secara anatomis, otot rangka terdiri atas
jaringan konektif dan sel kontraktil.

STRUKTUR OTOT RANGKA

Secara makroskopis setiap otot dilapisi jaringan konektif yang disebut epimisium.
Otot rangka disusun oleh fasikel yang merupakan berkas otot yang terdiri atas beberapa sel
otot. Setiap fasikel dilapisi jaringan konektif yang disebut perimisium dan setiap sel otot
dipisahkan oleh endomisium.

Secara makroskopis sel otot rangka terdiri atas sarkolema (membran sel serabut otot),
yang terdiri atas membran sel yang disebut membran plasma dan sebuah lapisan luar yang
terdiri atas satu lapisan tipis mengandung kolagen.

1. Miofibril. Miofibril ini mengandung filamen aktin dan miosin.


2. Sarkoplasma. Mengandung cairan intrasel berisi kalsium, magnesium, fosfat,
protein, dan enzim.
3. Retikulum sarkoplasma, mempunyai fungsi sebagai tempat penyimpanan kalsium.
4. Tubulus T (sistem tubulus pada serabut otot)

FISIOLOGIS OTOT RANGKA

Fungsi utama dari otot rangka yaitu melakukan kontraksi yang menjadi dasar
terjadinya gerakkan tubuh. Aktivitas otot rangka dikoordinasi oleh susunan saraf sehingga
membentuk gerakan yang harmonis dari posisi tubuh yang tepat. Fungsi lain yaitu
menyokong jaringan lunak, menunjukkan pintu masuk dan keluar saluran dalam sistem
tubuh, serta mempertahankan suhu tubuh dengan pembentukkan kalor saat kontraksi.

KONTRAKSI OTOT
Mekanisme kerja otot pada dasarnya melibatkan suatu perubahan dalam keadaan yang
relatif dari filamen-filamen aktin dan miosin. Huxley dkk.(1954) menyarankan model
pergseran filamen (filament-sliding). Model ini menyatakan bahwa kontraksi didasarkan
adanya dua set filamen didalam sel otot kontrkatil yang berupa filamen aktin dan filamen
miosin. Rangsangan yang diterima oleh asetilkolin menyebabkan aktomiosin mengerut
(kontraksi). Kontraksi ini memerlukan energi.

Pada waktu kontraksi filamen aktin meluncur diantara miosin kedalam zona H (zona
H adalah bagian terang diantara dua pita gelap). Dengan demikian serabut otot menjadi
memendek yang tetap panjangnya ialah ban A (pita gelap), sedangkan ban I (pita terang) dan
zona H bertambah pendek waktu kontraksi. Ujung miosin dapat meningkat ATP dan
menghidrolisisnya menjadi ADP. Beberapa energi dilepaskan dengan cara memotong
pemindahan ATP ke miosin yang berubah bentuk ke konfirgurasi energi tinggi. Miosin yang
berenergi tinggi ini kemudian mengikatkan diri dengan kedudukan khusus pada aktin
sehingga membentuk jembatan silang. Kemudian, simpanan energi miosin dilepaskan. Ujung
miosin lalu beristirahat dengan energi rendah dan pada saat inilah terjadi relaksasi. Relaksasi
ini mengubah sudut perlekatan ujung miosin menjadi miosin ekor. Ikatan antara miosin
energi rendah dan aktin terpecah ketika molekul baru ATP bergabung dengan ujung miosin.
Kemudian siklus tadi berulang lagi.

SUMBER ENERGI UNTUK DERAK OTOT

Adenosbine Tri Phosphat (ATP) merupakan sumber energi utama untuk kontraksi
otot. ATP berasal dari oksidasi karbohidrat dan lemak. Kontraksi otot merupakan interaksi
antara aktin dan miosin yang memerlukan ATP. Fosfokreatinin merupakan persenyawaan
fosfat berenergi tinggi yang terdapat dalam konsentrasi tinggi pada otot. Fosfokreatin tidak
dapat dipakai langsung sebagai sumber energi, tetapi fosfokreatin dapat memberikan
energinya kepada ADP. Pada otot lurik jumlah fodfokreatin lebih dari lima kali jumlah ATP.
Pemecah ATP dan fosfokreatinin untuk menghasilkan energi tidak memerlukan oksigen
bebas. Oleh sebab itu, fase kontraksi otot sering disebut sebagai fase kontraksi otot sering
disebut sebagai fase anaerob.

TENDON DAN LIGAMEN


Tendon merupakan suatu berkas (bundel) serat kolagen yang melekatkan otot
ketulang. Tendon mnyalurkan gaya yang dihasilkan oleh kontraksi otot ketulang. Srat
kolagen sering dianggap sebagai jaringan ikat dan dihasilkan oleh sel-sel fibroblas. Ligamen
adalah taut fibrosa kuat yang menghubungkan tulang ke ujung tulang, biasanya disendi.
Ligamen memungkinkan dan membatasi sendi. Tendon dan ligamen tidak memiliki
kemampuan untuk berkontraksi seperti jaringan otot, tetapi dapat memanjang. Kedua jaringan
ini bersifat elastis dan akan kembali keposisi panjang awalnya setelah direnggangkan, kecuali
bila direnggangkan melampui batas elastisitasnya.

Suatu tendon atau ligamen yang mengalami peregangan (stretch) melampaui batas
elastisnya selama injuri akan tetap dalam posisi teregang dan dapat dikembalikan keposisi
panjang awalnya hanya melalui pembedahan. Hasil penelitan menunjukkan bahwa secara
rutinitas tendon akan mengalami penyembuhan untuk memperbaiki kerusakkan kecil yang
bersifat internal sepanjang daur kehidupan agar jaringan tetap utuh.

Tendon dan ligamen seperti tulang, dapat merespon terhadap perubahan stres
mekanikal yang habitual dengan menghasilkan hipertropi atau atropi. Penelitian telah
menunjukkan latihan yang teratur dalam jangka waktu yang lama dapat menghasilkan
hubungan antara tendon dan tulang atau antara ligamen dan tulang.

Fakta (evidence) juga menunjukkan bahwa ukuran ligamen seperti ligamen cruciatum
anterior adalah proporsi dengan kekuatan antagonisnya (dalam hal ini adalah otot
kuadriseps). Tendon dan ligamen tidak dapat hanya mengalami penyembuhan setelah ruptur,
tetapi pada beberapa kasus/kondisi akan mengalami regenerasi secara keseluruhan, seperti
dalam fakta terjadi regenerasi sempurna pada tendon semitendinosus setelah tindakkan
pelepasan secara bedah untuk memperbaiki ruptur ligamen cruciatum anterior.