You are on page 1of 20

ONTOLOGI FILSAFAT

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang
berjudul “Ontologi Filsafat”

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah tugas Filsafat Ilmu ini dapat memberikan
manfaat maupun inpirasi.

Malang, 2 Maret 2016

Penulis

ii
iii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. ii

DAFTAR ISI ................................................................................................................ iv

BAB I ............................................................................................................................ 1

PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1

1.1 Latar Belakang Makalah...................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 2

1.3 Tujuan Penulisan Makalah .................................................................................. 3

BAB II ........................................................................................................................... 4

PEMBAHASAN ........................................................................................................... 4

2.1 Pengertian Ontologi dalam Filsafat Ilmu ............................................................ 4

2.2 Sudut Pandang dalam Filsafat Ilmu ..................................................................... 8

2.3 Aliran-aliran Ontologi dalam Filsafat Ilmu ......................................................... 8

2.3.1 Apakah yang ada itu? (What is being?) ........................................................ 9

2.3.2 Bagaimanakah yang ada itu? (How is being?)............................................ 12

2.3.3 Di manakah yang ada itu? (Where is being?) ............................................. 13

2.4 Asumsi-Asumsi Ilmu ......................................................................................... 13

2.5 Manfaat dari Ontologi Filsafat .......................................................................... 14

BAB III ....................................................................................................................... 15

PENUTUP ................................................................................................................... 15

3.1 Kesimpulan ........................................................................................................ 15

3.2 Saran .................................................................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................. iv

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Makalah

Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan
mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan
implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial.
Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat
ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana
suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut
dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan
alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi
dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan
untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap
masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.

Filsafat membahas segala sesuatu yang ada bahkan yang mungkin ada baik
bersifat abstrak ataupun riil meliputi Tuhan, manusia dan alam semesta. Sehingga
untuk memahami masalah filsafat sangatlah sulit tanpa adanya pemetaan-pemetaan
dan mungkin kita hanya bisa menguasai sebagian dari luasnya ruang lingkup filsafat.

Sistematika filsafat secara garis besar ada tiga pembahasan pokok atau bagian
yaitu; epistemologi atau teori pengetahuan yang membahas bagaimana kita
memperoleh pengetahuan,ontologi atau teori hakikat yang membahas tentang hakikat
segala sesuatu yang melahirkan pengetahuan dan aksiologi atau teori nilai yang
membahas tentang guna pengetahuan. Mempelajari ketiga cabang tersebut sangatlah
penting dalam memahami filsafat yang begitu luas ruang lingkup dan
pembahansannya.

1
Ketiga teori di atas sebenarnya sama-sama membahas tentang hakikat,hanya
saja berangkat dari hal yang berbeda dan tujuan yang beda pula. Epistemologi sebagai
teori pengetahuan membahas tentang bagaimana mendapat pengetahuan,bagaimana
kita bisa tahu dan dapat membedakan dengan yang lain.Ontologi membahas tentang
apa objek yang kita kaji,bagaimana wujudnya yang hakiki dan hubungannya dengan
daya pikir.Sedangkan aksiologi sebagai teori nilai membahas tentang pengetahuan
kita akan pengetahuan di atas,klasifikasi,tujuan dan perkembangannya.

Di antara ketiga teori disebut ontologi dikenal sebagai satu kajian kefilsafatan
yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan
sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat
ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan
orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal
sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi
terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Thales berpenderian bahwa
segala sesuatu tidak berdiri dengan sendirinya melainkan adanya saling keterkaitan
dan keetergantungan satu dengan lainnya .

Ontologi secara ringkas membahas realitas atau suatu entitas dengan apa
adanya. Pembahasan mengenai ontologi berarti membahas kebenaran suatu fakta.
Untuk mendapatkan kebenaran itu, ontologi memerlukan proses bagaimana realitas
tersebut dapat diakui kebenarannya. Untuk itu proses tersebut memerlukan dasar pola
berfikir, dan pola berfikir didasarkan pada bagaimana ilmu pengetahuan digunakan
sebagai dasar pembahasan realita.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari ontologi?


2. Bagaimana sudut pandang dari ontologi?
3. Apa sajakah aliran-aliran dari ontologi?
4. Apa sajakah asumsi-asumsi ilmu?
5. Apa manfaat dari ontologi filsafat?

2
1.3 Tujuan Penulisan Makalah

1. Untuk menjelaskan pengertian dari ontologi.


2. Untuk menjelaskan sudut pandang dari ontologi.
3. Untuk menjelaskan aliran-aliran ontologi.
4. Untuk menjelaskan asumsi-asumsi dari ilmu.
5. Untuk menjelaskan manfaat dari ontologi filsafat.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ontologi dalam Filsafat Ilmu

Ontologi adalah bidang pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat


keberadaan segala sesuatu yang ada, menurut tata hubungan sistematis berdasarkan
hukum sebab-akibat. Yaitu, ada manusia, ada alam, dan ada causa prima dalam suatu
hubungan menyeluruh, teratur dan tertib dalam keharmonisan. Jadi, dari aspek
ontologi, segala sesuatu yang ada ini berada dalam tatanan hubungan estetis yang
diliputi dengan warna nilai keindahan.

Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan
berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat
konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal
seperti Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum
membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf
yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang
merupakan asal mula segala sesuatu.

Thales merupakan orang pertama yang berpendirian sangat berbeda di tengah-


tengah pandangan umum yang berlaku saat itu. Di sinilah letak pentingnya tokoh
tersebut. Kecuali dirinya, semua orang waktu itu memandang segala sesuatu
sebagaimana keadaannya yang wajar. Apabila mereka menjumpai kayu, besi, air,
daging, dan sebagainya, hal-hal tersebut dipandang sebagai substansi-substansi (yang
terdiri sendiri-sendiri). Dengan kata lain, bagi kebanyakan orang tidaklah ada
pemilihan antara kenampakan (appearance) dengan kenyataan (reality). Namun yang
lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari
satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).

4
Ontologi terdiri dari dua suku kata, yakni ontos dan logos. Ontos berarti
sesuatu yang berwujud (being) dan logos berarti ilmu. Jadi ontologi adalah bidang
pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada
menurut tata hubungan sistematis berdasarkan hukum sebab akibat yaitu ada manusia,
ada alam, dan ada kausa prima dalam suatu hubungan yang menyeluruh, teratur, dan
tertib dalam keharmonisan. Ontologi dapat pula diartikan sebagai ilmu atau teori
tentang wujud hakikat yang ada. Obyek ilmu atau keilmuan itu adalah dunia empirik,
dunia yang dapat dijangkau pancaindera. Dengan demikian, obyek ilmu adalah
pengalaman inderawi. Dengan kata lain, ontologi adalah ilmu yang mempelajari
tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika
semata. Pengertian ini didukung pula oleh pernyataan Runes bahwa “ontology is the
theory of being qua being”, artinya ontologi adalah teori tentang wujud.

Hakikat Manusia Sebagai Subjek Pendidikan (Pendidik dan Peserta Didik)


Kajian tentang manusia sejak zaman dahulu sampai zaman sekarang belum juga
berakhir dan tidak akan berakhir. Manusia merupakan makhluk yang sangat unik
dengan segala kesempurnaannya. Manusia dapat dikaji dari berbagai sudut pandang,
baik secara historis, antropologi, sosiologi dan lain sebagainya. Pada hakikatnya
manusia adalah makhluk yang spesial dari pada makhluk-makhluk ciptaan Allah yang
lain. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah, ayat 30:

َ ُ‫الد َما َء َونَحْ نُ ن‬


‫س ِب ُح‬ ِ ‫َو ِإ ْذ قَا َل َربُّكَ ِل ْل َم ََل ِئ َك ِة ِإ ِني َجا ِع ٌل ِفي ْاْل َ ْر‬
ِ ُ‫ض َخ ِليفَةً قَالُوا أَتَجْ َع ُل ِفي َها َم ْن يُ ْف ِسد ُ ِفي َها َو َي ْس ِفك‬
30( َ‫ِس لَكَ قَا َل إِنِي أَ ْعلَ ُم َما ََل ت َ ْعلَ ُمون‬ُ ‫)بِ َح ْمدِكَ َونُقَد‬

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya


Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih

5
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya
Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Manusia dalam kajian kali ini lebih difokuskan kepada subjek pendidikan,
bahwa dalam dunia pendidikan manusialah yang banyak berperan. Karena
dilakukannya pendidikan itu tidak lain diperuntukan bagi manusia, agar tidak timbul
kerusakan di bumi ini. Dalam pendidikan bahwa manusia dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu sebagai pendidik dan peserta didik.

Menurut Al-Aziz, pendidik adalah orang yang bertanggungjawab dalam


menginternalisasikan nilai-nilai religius dan berupaya menciptakan individu yang
memiliki pola pikir ilmiah dan pribadi yang sempurna. Masing-masing definisi
tersebut, mengisyaratkan bahwa peran, tugas dan tanggungjawab sebagai seorang
pendidik tidaklah gampang, karena dalam diri anak didik harus terjadi perkembangan
baik secara afektif, kognitif maupun psikomotor. Dalam setiap individu terdidik harus
terdapat perubahan ke arah yang lebih baik. Jika dalam ajaran Islam anak didik harus
mampu menginternalisasikan ajaran-ajaran dalam dirinya, sehingga mampu menjadi
pribadi yang bertaqwa dan berakhlakul karimah yang akan bahagia baik di dunia dan
di akhirat.

Sedangkan anak didik (peserta didik) adalah makhluk yang sedang berada
dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing.
Mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju ke arah titik
optimal kemampuan fitrahnya. Pengertian tersebut berbeda apabila anak didik
(peserta didik) sudah bukan lagi anak-anak, maka usaha untuk
menumbuhkembangkannya sesuai kebutuhan peserta didik, tentu saja hal ini tidak
bisa diperlakukan sebagaimana perlakuan pendidik kepada peserta didik (anak didik)
yang masih anak-anak. Maka dalam hal ini dibutuhkan pendidik yang benar-benar
dewasa dalam sikap maupun kemampuannya.

Dalam pandangan modern, anak didik tidak hanya dianggap sebagai obyek
atau sasaran pendidikan, melainkan juga harus diperlakukan sebagai subyek

6
pendidikan, dengan cara melibatkan mereka dalam memecahkan masalah dalam
proses belajar mengajar. Dengan demikian bahwa peserta didik adalah orang yang
memerlukan pengetahuan, ilmu, bimbingan dan pengarahan. Islam berpandangan
bahwa hakikat ilmu berasal dari Allah, sedangkan proses memperolehnya dilakukan
melalui belajar kepada guru. Karena ilmu itu berasal dari Allah, maka membawa
konsekuensi perlunya seorang peserta didik mendekatkan diri kepada Allah atau
menghiasi diri dengan akhlak yang mulai yang disukai Allah, dan sedapat mungkin
menjauhi perbuatan yang tidak disukai Allah.

Bertolak dari hal itu, sehingga muncul suatu aturan normatif tentang perlunya
kesucian jiwa sebagai seorang yang menuntut ilmu, karena ia sedang mengharapkan
ilmu yang merupakan anugerah Allah. Ini menunjukkan pentingnya akhlak dalam
proses pendidikan, di samping pendidikan sendiri adalah upaya untuk membina
manusia agar menjadi manusia yang berakhlakul karimah dan bermanfaat bagi
seluruh alam.

Pada akhirnya, dengan memahami ontologi pendidikan tersebut, maka


diharapkan bisa menumbuhkan kesadaran para pendidik dan peserta didik untuk
menjalankan peran dan fungsinya dalam keberlangsungan pendidikan di tengah-
tengah peradaban manusia yang dari waktu ke waktu semakin berkembang. Tentu
pendidikan tidak akan mengalami perkembangan yang berarti dan signifikan jika
tidak dibarengi oleh perkembangan manusianya. Namun, tanpa manusia, maka sistem
dan pola pendidikan tidak akan pernah terwujud. Oleh sebab itu, pendidikan sebagai
produk dan manusia sebagai creator-nya tidak bisa, bahkan tidak akan pernah bisa
dipisahkan. Ibarat dua sisi mata uang, maka jika satu sisi saja tidak ada, maka sisi
yang lain pun jadi tidak berarti. Sehingga kedua unsur ini (manusia dan pendidikan)
harus selaras, sejalan dan seiring dalam gerak dan laju yang harmonis, sehingga
menciptakan sebuah “irama” yang indah sekaligus menginspirasi.

7
2.2 Sudut Pandang dalam Filsafat Ilmu

Ontologi merupakan pembahasan tentang bagaimana cara memandang


hakekat sesuatu, apakah dipahami sebagai sesuatu yang tunggal dan bisa dipisah dari
sesuatu yang lain atau bernuansa jamak, terikat dengan sesuatu yang lain, sehingga
harus dipahami sebagai suatu kebulatan (holistik). Pengertian paling umum pada
ontologi adalah bagian dari bidang filsafat yang mencoba mencari hakikat dari
sesuatu. Sebuah ontologi memberikan pengertian untuk penjelasan secara eksplisit
dari konsep terhadap representasi pengetahuan pada sebuah knowledge base. Sebuah
ontologi juga dapat diartikan sebuah struktur hirarki dari istilah untuk menjelaskan
sebuah domain yang dapat digunakan sebagai landasan untuk sebuah knowledge
base”. Dengan demikian, ontologi merupakan suatu teori tentang makna dari suatu
objek, property dari suatu objek, serta relasi objek tersebut yang mungkin terjadi pada
suatu domain pengetahuan. Ringkasnya, pada tinjauan filsafat, ontologi adalah studi
tentang sesuatu yang ada. Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati
ontologi dengan dua macam sudut pandang :

a. Kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau


jamak?

b. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut


memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan,
bunga mawar yang berbau harum. Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai
ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis.

2.3 Aliran-aliran Ontologi dalam Filsafat Ilmu

Dalam mempelajari ontologi muncul beberapa pertanyaan yang kemudian


melahirkan aliran-aliran dalam filsafat. Dari masing-masing pertanyaan menimbulkan
beberapa sudut pandang mengenai ontologi. Pertanyaan itu berupa “Apakah yang ada
itu? (What is being?)”, “Bagaimanakah yang ada itu? (How is being?)”, dan
“Dimanakah yang ada itu? (What is being?)”

8
2.3.1 Apakah yang ada itu? (What is being?)

Dalam memberikan jawaban masalah ini lahir lima filsafat, yaitu sebagai
berikut :

1. Aliran Monoisme dalam Filsafat

Aliran ini berpendapat bahwa yang ada itu hanya satu, tidak mungkin
dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal, baik yang asal
berupa materi ataupun berupa ruhani. Tidak mungkin ada hakikat masing-
masing bebas dan berdiri sendiri. Haruslah salah satunya merupakan sumber
yang pokok dan dominan menentukan perkembangan yang lainnya. Plato
adalah tokoh filsuf yang bisa dikelompokkan dalam aliran ini, karena ia
menyatakan bahwa alam ide merupakan kenyataan yang sebenarnya. Istilah
monisme oleh Thomas Davidson disebut dengan Block Universe. Paham ini
kemudian terbagi ke dalam dua aliran :

a. Materialisme dalam Filsafat

Aliran ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi,
bukan ruhani. Aliran ini sering juga disebut dengan naturalisme.
Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta.

Aliran pemikiran ini dipelopori oleh bapak filsafat yaitu Thales (624-
546 SM). Ia berpendapat bahwa unsur asal adalah air, karena pentingnya
bagi kehidupan. Anaximander (585-528 SM) berpendapat bahwa unsur
asal itu adalah udara, dengan alasan bahwa udara merupakan sumber dari
segala kehidupan. Demokritos (460-370 SM) berpendapat bahwa hakikat
alam ini merupakan atom-atom yang banyak jumlahnya, tak dapat
dihitung dan amat halus. Atom-atom itulah yang merupakan asal kejadian
alam.

9
b. Idealisme dalam Filsafat

Idealisme diambil dari kata “idea” yaitu sesuatu yang hadir dalam
jiwa. Aliran ini menganggap bahwa dibalik realitas fisik pasti ada sesuatu
yang tidak tampak. Bagi aliran ini, sejatinya sesuatu justru terletak dibalik
yang fisik. Ia berada dalam ide-ide, yang fisik bagi aliran ini dianggap
hanya merupakan bayang-bayang, sifatnya sementara, dan selalu menipu.
Eksistensi benda fisik akan rusak dan tidak akan pernah membawa orang
pada kebenaran sejati.

Dalam perkembangannya, aliran ini ditemui dalam ajaran Plato (428-


348 SM) dengan teori idenya. Menurutnya, tiap-tiap yang ada di dalam
mesti ada idenya yaitu konsep universal dari tiap sesuatu. Alam nyata
yang menempati ruangan ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam ide
itu. Jadi, idelah yang menjadi hakikat sesuatu, menjadi dasar wujud
sesuatu.

2. Aliran Dualisme dalam Filsafat

Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat
sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani, benda dan
roh, jasad dan spirit. Kedua macam hakikat itu masing-masing bebas dan
berdiri sendiri, sama-sama azali dan abadi. Hubungan keduanya menciptakan
kehidupan dalam alam ini.

Tokoh paham ini adalah Descartes (1596-1650 M) yang dianggap


sebagai bapak filsafat modern. Ia menamakan kedua hakikat itu dengan istilah
dunia kesadaran (rohani) dan dunia ruang (kebendaan). Ini tercantum dalam
bukunya Discours de la Methode (1637) dan Meditations de Prima
Philosophia (1641). Dalam bukunya ini pula, Ia menerangkan metodenya
yang terkenal dengan Cogito Descartes (metode keraguan Descartes/Cartesian

10
Doubt). Disamping Descartes, ada juga Benedictus de Spinoza (1632-1677
M), dan Gitifried Wilhelm von Leibniz (1646-1716 M).

3. Aliran Pluralisme dalam Filsafat

Aliran ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan


kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap
macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme dalam Dictionary of
Philosophy and Religion dikatakan sebagai paham yang menyatakan bahwa
kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua entitas.

Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah Anaxagoras dan
Empedocles, yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan
terdiri dari empat unsur, yaitu tanah, air, api, dan udara. Tokoh modern aliran
ini adalah William James (1842-1910 M), yang mengemukakan bahwa tiada
kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri
sendiri, dan lepas dari akal yang mengenal.

4. Aliran Nihilisme dalam Filsafat

Nihilisme berasal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak
ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif.
Istilah nihilisme diperkenalkan oleh Ivan Turgeniev pada tahun 1862 di Rusia.

Doktrin tentang nihilisme sebenarnya sudah ada semenjak zaman


Yunani Kuno, yaitu pada pandangan Gorgias (485-360 SM) yang memberikan
tiga proposisi tentang realitas. Pertama, tidak ada sesuatupun yang eksis.
Kedua, bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat diketahui. Ketiga, sekalipun realitas
itu dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain.
Tokoh lain aliran ini adalah Friedrich Nietzche (1844-1900 M). Dalam
pandangannya dunia terbuka untuk kebebasan dan kreativitas manusia. Mata
manusia tidak lagi diarahkan pada suatu dunia di belakang atau di atas dunia
di mana ia hidup.

11
5. Aliran Agnostisisme dalam Filsafat

Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui


hakikat benda. Baik hakikat materi maupun hakikat ruhani. Kata agnostisisme
berasal dari bahasa Grik Agnostos, yang berarti unknown. A artinya not, gno
artinya know. Timbulnya aliran ini dikarenakan belum dapatnya orang
mengenal dan mampu menerangkan secara konkret akan adanya kenyataan
yang berdiri sendiri dan dapat kita kenal.

Aliran ini dapat kita temui dalam filsafat eksistensi dengan tokoh-
tokohnya seperti, Soren Kierkegaar (1813-1855 M) yang terkenal dengan
julukan sebagai Bapak Filsafat Eksistensialisme, yang menyatakan bahwa
manusia tidak pernah hidup sebagai suatu aku umum, tetapi sebagai aku
individual yang sama sekali unik dan tidak dapat dijabarkan ke dalam sesuatu
orang lain. Berbeda dengan pendapat Martin Heidegger (1889-1976 M), yang
mengatakan bahwa satu-satunya yang ada itu ialah manusia, karena hanya
manusialah yang dapat memahami dirinya sendiri. Tokoh lainnya adalah, Jean
Paul Sartre (1905-1980 M), yang mengatakan bahwa manusia selalu
menyangkal. Hakikat beradanya manusia bukan entre (ada), melainkan a entre
(akan atau sedang). Jadi, agnostisisme adalah paham
pengingkaran/penyangkalan terhadap kemampuan manusia mengetahui
hakikat benda, baik materi maupun ruhani.

2.3.2 Bagaimanakah yang ada itu? (How is being?)


Apakah yang ada itu sebagai sesuatu yang tetap, abadi, atau berubah-ubah?
Dalam hal ini, Zeno (490-430 SM) menyatakan bahwa sesuatu itu sebenarnya
khayalan belaka. Pendapat ini dibantah oleh Bergson dan Russel. Seperti yang
dikatakan oleh Whitehead bahwa alam ini dinamis, terus bergerak, dan merupakan
struktur peristiwa yang mengalir terus secara kreatif.

12
2.3.3 Di manakah yang ada itu? (Where is being?)
Aliran ini berpendapat bahwa yang ada itu berada dalam alam ide, adi kodrati,
universal, tetap abadi, dan abstrak. Sementara aliran materilisme berpendapat
sebaliknya, bahwa yang ada itu bersifat fisik, kodrati, individual, berubah-ubah, dan
riil.

2.4 Asumsi-Asumsi Ilmu

Objek ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi
filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi banyak di
gunakan ketika kita membahas yang ada dlaam konteks filsafat ilmu.

Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan
tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan
pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam
setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang
meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.

1. Objek Formal

Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi


pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah,
tealaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-
aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme.
Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak. Hanya dua
yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Yang natural ontologik
akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh
aristoteles dalam bukunya De Anima. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli
selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme,
tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental.

13
2. Metode dalam Ontologi

Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam


ontologi, yaitu : abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik.
Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek;
sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi
cirri semua sesuatu yang sejenis. Abstraksi metaphisik mengetangahkan
prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang
dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik.

2.5 Manfaat dari Ontologi Filsafat

Ontologi yang merupakan salah satu kajian filsafat ilmu mempunyai beberapa
manfaat, di antaranya sebagai berikut:
a. Membantu untuk mengembangkan dan mengkritisi berbagai bangunan sistem
pemikiran yang ada.
b. Membantu memecahkan masalah pola relasi antar berbagai eksisten dan
eksistensi.
c. Bisa mengeksplorasi secara mendalam dan jauh pada berbagai ranah keilmuan
maupun masalah, baik itu sains hingga etika.

14
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang


paling kuno. Ontologi berasal dari bahasa Yunani yang berarti teori tentang
keberadaan sebagai keberadaan. Pada dasarnya, ontologi membicarakan tentang
hakikat dari suatu benda/sesuatu. Hakikat disini berarti kenyataan yang sebenarnya
(bukan kenyataan yang sementara, menipu, dan berubah). Dalam ontologi ditemukan
pandangan-pandangan pokok pemikiran, yaitu monoisme, dualisme, pluralisme,
nihilisme, dan agnostisisme. Monoisme adalah paham yang menganggap bahwa
hakikat asalnya sesuatu itu hanyalah satu. Asal sesuatu itu bisa berupa materi (air,
udara) maupun ruhani (spirit, ruh). Dualisme adalah aliran yang berpendapat bahwa
asal benda terdiri dari dua hakikat (hakikat materi dan ruhani, hakikat benda dan ruh,
hakikat jasad dan spirit). Pluralisme adalah paham yang mengatakan bahwa segala
hal merupakan kenyataan. Nihilisme adalah paham yang tidak mengakui validitas
alternatif yang positif. Dan agnostisisme adalah paham yang mengingkari terhadap
kemampuan manusia dalam mengetahui hakikat benda. Jadi, dapat disimpulkan
bahwa ontologi meliputi hakikat kebenaran dan kenyataan yang sesuai dengan
pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari perspektif filsafat tentang apa dan
bagaimana yang “ada” itu. Adapun monoisme, dualisme, pluralisme, nihilisme, dan
agnostisisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologi yang pada
akhirnya menentukan pendapat dan kenyakinan kita masing-masing tentang apa dan
bagaimana yang “ada” itu.

15
3.2 Saran

Belajar hendaknya menjadi salah satu karakter yang selalu melekat di dalam
perilaku suatu bangsa. Dari hal itulah setiap bangsa berusaha mengunggulakan
pendidikan sebagai sebuah fondasi dari pendirian sebuah bangsa. Proses pendidikan
tidak terlepas dari konsep ontology, epistemologi, dan akasiologi didalam
pengkajiaanya dimana pelaksannanya harus mencerminkan aktualisasi dari cita - cita
suatu bangsa. Ontologi dari sebuah pendidikan adalah mengubah baik perilaku,
kognitif, dan psikomotor sebagai sebuah perubahan yang riil dimana penerapannya
kepada peserta didik harus dilandasi dengan humanisme yang akan merubah dari
ketiga aspek tersebut dari background atau intake yang buruk atau kurang baik
menjadi lebih baik. Hakekat dari sebuah pendidikan haruslah secara proper berniat
dan berperilaku sebagai penerang suatu bangsa dari kegelapan berpikir. Pemerintah
sebagai pemangku kebijakan harus memiliki peran dan tindakan serius di dalam
memecahkan persoalan pendidikan.

16
DAFTAR PUSTAKA

Hasan, Erliana. 2011. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian Ilmu Pemerintahan.
Bogor:Ghalia Indonesia.

Kattsoff, Louis O. 1992. Pengantar Filsafat. Penerjemah: Soedarso Soemargono.


Yogyakarta: Tiara Wacana.

Soetriono dan Hanafie, Rita. 2007. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian.
Yogyakarta: Andi Offset.

http://junitarohma.blogspot.co.id/2013/09/makalah-ontologi-filsafat-ilmu_6181.html

http://harisreinald3.blogspot.co.id/2013/03/ontologi.html

iv