You are on page 1of 14

ANATOMI MUDHARABAH PADA BANK SYARI’AH Oleh : Ahmad Satiri

PENDAHULUAN Lahirnya perbankan syari’ah dan bisnis syari’ah lainnya sebagai suatu entitas bisnis baru telah pula menjadi trigger lahirnya instrumen pendukung eksistensinya. Dalam konteks hukum positif perbankan syari’ah mulai dikenal sejak undang-undang nomor 7 tahun 1992 yang kemudian diubah dengan undang-undang nomor 10 tahun 1998, namun kedua undang-undang tersebut belum secara spesifik mengatur mengenai perbankan syari’ah. Baru pada undang-undang nomor 21 tahun 2008, ketentuan mengenai perbankan syari’ah telah diregulasi secara rinci dan lebih spesifik, bahkan nomenklatur undang-undang itu sendiri adalah “tentang perbankan syari’ah” sebagaimana dituangkan dalam judul undang-undang tersebut. Dalam UU nomor 7 tahun 1992 kata bank syari’ah belum secara eksplisit diuraikan, pada UU ini baru hanya menyebutkan bank dengan prinsip bagi hasil, yang selanjutnya diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 1992 tanggal 3 Oktober 1992. Baru pada PP inilah kata “bank syari’ah” mulai dipakai sebagai nama resmi dari bank yang beroperasi berdasarkan ajaran Islam. Keberhasilan bank syari’ah melewati masa krisis tahun 1998, telah menunjukkan bahwa sistem perbankan syari’ah memiliki konsep stabilitas internal dengan sistem operasi utama berdasarkan prinsip bagi hasil sehingga mampu mewujudkan suatu sistem perbankan yang lebih fair, lebih ajeg dan bersifat win win solution. Dalam gerak operasionalnya bank syari’ah berdiri pada dua kaki yang sama kuat, bahwa selain ia harus sesuai dengan hukum positif perbankan nasional, ia juga harus memiliki kepatuhan terhadap syari’ah (fiqh) melalui fatwa-fawa yang dikeluarkan oleh Dewan Syari’ah Nasional. Melalui undang-undang nomor 3 tahun 2006 sebagai perubahan pertama atas undang-undang nomor 7 tahun 1989 memberikan wewang baru bagi Pengadilan Agama untuk menyelesaikan sengketa perdata dibidang ekonomi syari’ah, yang didalamnya termasuk bank syari’ah. Kewenangan baru ini sedikit banyak telah melahirkan kontroversi, ada yang optimis dan tidak sedikit pula yang bernada sinis, bahkan pesimis dengan kompetensi Para pengadil pada Pengadilan Agama apakah mereka mampu memberikan solusi terbaik terhadap terhadap sengketa ekonomi syari’ah khususnya dalam bidang perbankan 1 . Bagi kita adalah suatu keniscayaan untuk terus berpacu meningkatkan kompetensi dan wawasan terkait dengan kewenangan baru ini. Karenanya pemakalah mencoba mengulas sedikit aspek yang terkait dengan bank syari’ah.

1 Dalam salah satu artikel yang berjudul “arah perkembangan hukum syari’ah” yang ditulis oleh Dr.Dian Ediana Rae, S.H.LL.M, halaman 12 menyatakan bahwa sengketa perdata perbankan syari’ah dibawah Pengadilan Agama dikhawatirkan secara psikologis dan politis akan menghambat laju pertumbuhan bank syari’ah (bulletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan Volume 6, No.1, April 2008)

1

Created with Print2PDF. To remove this line, buy a license at: http://www.software602.com/

Prof. Dr.H.Abdul Manan.,SH.SIP.,M Hum, menyatakan bahwa pemilihan lembaga Pengadilan Agama dalam menyelesaikan sengketa bisnis (ekonomi) syari’ah merupakan pilihan yang tepat dan bijaksana. Karena hal ini akan menciptakan keselarasan antara hukum materiil yang berlandaskan prinsip-prinsip Islam dengan lembaga peradilan Agama yang merupakan representasi lembaga peradilan Islam, dan juga selaras dengan para aparat hukumnya yang beragama Islam, 2

RUANG LINGKUP PEMBAHASAN

Bank syari’ah yang merupakan refleksi dari sistem perbankan berdasarkan berdasarkan syari’ah Islam dalam prakteknya mengaplikasikan berbagai skim fiqh mu’amalah melalui fatwa-fatwa yang diterbitkan oleh Dewan Syari’ah Nasional. Berbagai skim akad fiqh muamalah diintegrasikan dengan produk-produk yang secara konvensional telah ada dalam sistem perbankan, kemudian dalam fatwa

DSN biasanya diberikan kriteria tertentu agar tidak melanggar aspek kesyari’ahannya. Salah satu skim akad muamalah yang banyak digunakan dalam produk bank syari’ah adalah akad mudharabah, karena begitu kompleksnya diskursus dan karakteristik skim ini dan untuk menentukan focal point, karenanya perlu dirumuskan lingkup pembahasan dalam tulisan ini sebagai berikut :

  • a. Produk apa saja yang diimplementasikan berdasarkan akad mudharabah?

  • b. Bagaimana karekteristik skim mudharabah dalam penghimpunan dana (funding) dan pembiayaan (financing)?

SISTEM OPERASIONAL BANK SYARI’AH

Secara definitif dalam UU No.21 Tahun 2008 tentang perbankan syari’ah dinyatakan bahwa : ”Bank syari’ah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syari’ah, dan menurut jenisnya terdiri dari Bank Umum syari’ah dan bank pembiayaan syari’ah” (pasal 7). Sedangkan apa yang dimaksud dengan prinsip syari’ah pada pasal 12 diuraikan sebagai berikut; ” prinsip syari’ah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syari’ah. Majelis Ulama Indonesia melalui Dewan Syari’ah Nasional telah menerbitkan lebih kurang 80 fatwa terkait dengan bisnis syari’ah, sebagian besar dari fatwa tersebut terkait dengan operasional bank syari’ah. Diskursus mengenai sistem operasional bank syari’ah telah bergaung sejak lama, keinginan ummat Islam indonesia untuk melakukan ajaran Islam secara kaffah – termasuk dalam aspek muamalah-

2 Prof.Dr.H.Abdul

Manan.,S.H.,S.Ip.,M.Hum,

Penyelesaian

sengketa

ekonomi

syari’ah;

sebuah

kewenangan baru peradilan Agama, Mahkamah Agung : 2008, halaman 52.

2

Created with Print2PDF. To remove this line, buy a license at: http://www.software602.com/

ditengah kegalauan akan status hukum bank konvensional yang melaksanakan operasinya dengan sistem bunga. Secara umum, sistem operasional bank syari’ah memiliki kesamaan dengan bank konvensional, ia merupakan entitas bisnis yang berperan sebagai intermediary unit (unit perantara) antara pihak yang memiliki dana (deposan, penabung ) dengan pihak yang membutuhkan dana (debitur). Namun dalam UU Nomor 21 tahun 2008 memberikan keleluasaan operasional bank syari’ah disamping fungsi bisnisnya bank syari’ah mempunyai fungsi sosial, bank syari’ah dapat melaksanakan fungsi sebagai baitul maal dengan mengelola Zakat Infak dan Shodaqoh (pasal 4), namun demikian fungsi sosial sebagai pengelola baitul maal pada bank syari’ah harus tetap mengacu kepada ketentuan

perundang-undangan yang berlaku. Dalam penjelasan pasal 2 UU no 21 tahun 2008, yang dimaksud dengan kegiatan usaha dengan prinsip syari’ah diantaranya adalah kegiatan usaha yang tidak mengandung unsur:

  • a. riba, yaitu penambahan pendapatan secara tidak sah (batil) antara lain dalam transaksi pertukaran barang sejenis yang tidak sama kualitas, kuantitas, dan waktu penyerahan (fadhl), atau dalam transaksi pinjam-meminjam yang mempersyaratkan Nasabah Penerima Fasilitas mengembalikan dana yang diterima melebihi pokok pinjaman karena berjalannya waktu (nasi’ah);

  • b. maisir, yaitu transaksi yang digantungkan kepada suatu keadaan yang tidak pasti dan bersifat untung-untungan;

  • c. gharar, yaitu transaksi yang objeknya tidak jelas, tidak dimiliki, tidak diketahui keberadaannya, atau tidak dapat diserahkan pada saat transaksi dilakukan kecuali diatur lain dalam syariah;

  • d. haram, yaitu transaksi yang objeknya dilarang dalam syariah; atau

  • e. zalim, yaitu transaksi yang menimbulkan ketidakadilan bagi pihak lainnya.

Untuk lebih mempermudah pemahaman, penulis mencoba memberikan illustrasi dengan bagan berikut 3 :

3 Bagan I diambil dari Leaflet yang ditebitkan oleh Bank Indonesia dalam file yang diunggah dengan judul Arsitektur Perbankan Syari’ah

3

Created with Print2PDF. To remove this line, buy a license at: http://www.software602.com/

•Tabungan (muharabah, wadi'ah) •Deposito (muharabah) penghimpunan dana bank penya luran dana • pembiayaa n • Bagi
•Tabungan (muharabah, wadi'ah) •Deposito (muharabah) penghimpunan dana
•Tabungan
(muharabah, wadi'ah)
•Deposito
(muharabah)
penghimpunan
dana
•Tabungan (muharabah, wadi'ah) •Deposito (muharabah) penghimpunan dana bank penya luran dana • pembiayaa n • Bagi
bank
bank
•Tabungan (muharabah, wadi'ah) •Deposito (muharabah) penghimpunan dana bank penya luran dana • pembiayaa n • Bagi
penya luran dana

penya luran dana

• pembiayaa n

Bagi hasil (mudharabah,

mus

yarakah)

Jual

beli (murabahah,

sala m,

Istishna')

sew a menyewa (ijarah,

ijara h muntahiya

bitta mlik)

• Jasa lainnya qard, dll)

(hawalah, kafalah,

Dalam struktur keorganisasian,

bank syari’ah memiliki sedikit perbedaan denga n bank konvensional,

undang-undang mewajibkan ba nk syari’ah memiliki Dewan Pengawas Syari’ah ( DPS), pasal 32 UU no

21 tahun 2008, menegaskan b ahwa Dewan Pengawas Syariah wajib dibentuk

di bank syariah dan

Bank konvensional yang memp unyai unit usaha syari’ah. DPS diangkat oleh RU PS atas rekomendasi MUI (pasal 32 ayat 1). Sedangk an tugas utama DPS adalah memberikan nasih at dan saran kepada

direksi serta mengawasi kegiata n bank agar sesuai dengan prinsip syari’ah (pasal l 32 ayat 3).

MUDHARABAH PADA BANK SYA RI’AH

Mudharabah berasal dari kata

“dharb” yang berarti memukul, atau berjalan.

Pengertian memukul

atau berjalan ini lebih tepatny a dalam proses seseorang memukulkan kakin ya dalam perjalanan usaha. Secara tehnis mudharab ah dapat dimaknai dengan akad kerjasama usa ha antara dua pihak, dimana pihak pertama (shahibu l maal) menyediakan seluruh (100%) modal, sed angkan pihak lainnya menjadi pengelola. Keuntunga n usaha secara mudharabah dibagi menuru t kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, seda ngkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik mod al selam kerugian itu

4

Created with Print2PDF. To remove this line, buy a license at: http://www.software602.com/

bukan akibat kelalaian si pengelola, seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si pengelola, si pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut. 4 Dalam aspek penghimpunan dana, produk tabungan, giro dan deposito dapat digunakan skim mudharabah. Beberapa dasar hukum terkait dengan tiga produk tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

  • 1. Fatwa Nomor 01/DSN-MUI/IV/2000 tanggal 1 April 2000, tentang Giro

  • 2. Fatwa Nomor 02/DSN-MUI/IV/2000 tanggal 1 April 2000, tentang Tabungan

  • 3. Fatwa Nomor 03/DSN-MUI/IV/2000 tanggal 1 April 2000, tentang Deposito

  • 4. Pasal 19 ayat 1 huruf (a) dan (b) UU nomor 21 tahun 2008

  • 5. Peraturan Bank Indonesia Nomor : 7/46/PBI/2005 tentang akad penghimpunan dan penyaluran dana bagi bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syari’ah yang telah diubah dengan PBI nomor 9/19/PBI/2007 tanggal 17 Desember 2007 dan turunannya (SE BI)

  • 6. Standar Akuntansi yang berlaku bagi bank syari’ah (PAPSI, AAOIFI dan PSAK No.59)

  • 7. Kompilasi Hukum Ekonomi Syar’ah (KHES)

Bank syari’ah harus mampu secara simultan melaksanakan semua ketentuan yang berlaku baik dalam hal aspek syari’ah maupun ketentuan lainnya yang diterbitkan oleh lembaga yang berwenang.

GIRO DENGAN AKAD MUDHARABAH

Giro merupakan produk penghimpunan dana yang banyak digunakan untuk kepentingan bisnis. Secara definitif Giro adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lainnya, atau dengan pemindahbukuan. 5

Secara umum baik fatwa DSN maupun Peraturan Bank Indonesia memberikan ketentuan yang relatif sama terkait dengan produk giro dengan akad mudharabah. Selengkapnya dapat penulis uraikan sebagai berikut :

Ketentuan Giro Mudharabah dalam fatwa DSN nomor 01/DSN-MUI/IV/2000, sebagai berikut:

  • 1. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana, dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana.

  • 2. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan mengembangkannya, termasuk didalamnya mudharabah dengan pihak lain.

  • 3. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan bukan piutang

4 Ahmad Asy Syarbasyi, al mu’jamu al i qtishad al Islami,sebagaimana dikutip oleh Muhmmad Syafi’i Antonio, Bank Syari’ah dari Teori Ke Praktek, Jakarta: Gema Insani Press, hal:95 5 Kamus Perbankan, Bank Indonesia, Jakarta;hal.78

5

Created with Print2PDF. To remove this line, buy a license at: http://www.software602.com/

4.

Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening

  • 5. Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional giro dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.

  • 6. Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan.

Pada awalnya PBI Nomor 7/46/PBI/2005 tentang akad penghimpunan dan penyaluran dana bagi bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syari’ah mengatur secara rinci tentang karakteristik produk bank syari’ah dengan beberapa uraian ketentuan yang “mirip” dengan isi fatwa DSN, namun dalam PBI nomor 9/19/PBI/2007 tanggal 17 Desember 2007 yang merupakan perubahan dari PBI sebelumnya, hanya mengatur secara umum produk-produk apa saja yang dapat diaplikasikan pada bank syari’ah, dengan ketentuan bahwa bank syar’ah harus mengacu kepada ketentuan Fatwa-fatwa DSN yang terkait dengan skim syari’ah dimaksud.

TABUNGAN DENGAN SKIM MUDHARABAH

Tabungan dan deposito merupakan produk bank syari’ah yang berperan penting bagi kinerja operasional bank pada umumnya, termasuk juga bank syari’ah. Dalam kamus perbankan yang diterbitkan Bank Indonesia, tabungan dimaknai dengan : Simpanan yang penarikannya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan /atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu. Dengan kemajuan teknologi, tabungan pada

saat ini dapat ditarik dengan menggunakan kartu bank, ATM, atau melalui telepon (phone banking) 6 . Ketentuan Tabungan dengan prinsip Mudharabah terdapat pada fatwa DSN nomor 02/DSN- MUI/IV/2000, sebagai berikut:

  • 1. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul mal atau pemilik dana, dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana.

  • 2. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya, termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain.

  • 3. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan bukan piutang.

  • 4. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening.

6 Ibid.,hal:212

6

Created with Print2PDF. To remove this line, buy a license at: http://www.software602.com/

5.

Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional tabungan dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.

  • 6. Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan.

DEPOSITO DENGAN SKIM MUDHARABAH

Definisi deposito adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian antara nasabah dan bank.

Yang lazim berlaku pada perbankan syari’ah, nisbah deposito lebih tinggi daripada nisbah bagi hasil tabungan, karena simpanan deposito seharusnya hanya dapat diambil ketika jatuh tempo dan nilai minimal yang relatif lebih besar dibandingkan dengan saldo minimal tabungan. Sedangkan ketentuan mengenai akad mudharabah dalam produk deposito tertuang dalam fatwa DSN nomor 3/DSN-MUI/2000 dengan ketentuan sebagai berikut :

  • 1. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana, dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana.

  • 2. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya, termasuk didalamnya mudharabah dengan pihak lain.

  • 3. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan bukan piutang.

  • 4. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening.

  • 5. Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional deposito dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.

  • 6. Bank tidak diperkenankan untuk mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang

bersangkutan. Nisbah yang dipakai pada setiap produk berbeda-beda dan tergantung pada fitur yang ditawarkan oleh pihak bank dan biasanya dalam hal ini hampir tidak ada tawar menawar, kecuali nasabah memiliki dana yang relatif besar dan baik dalam kondisi yang sangat membutuhkan dana tersebut. Untuk deposito dengan skim mudharabah ini terbagi kepada dua jenis, yaitu mudharabah muthlaqah (investasi tidak terikat) dan mudharabah muqayyadah (investasi terikat). Mudharabah muthlaqah memberikan kewenangan penuh kepada bank selaku mudharib untuk melakukan berbagai bentuk

investasi yang dikehendaki oleh pihak bank. Sedangkan mudharabah muqayyadah, nasabah

7

Created with Print2PDF. To remove this line, buy a license at: http://www.software602.com/

memberikan batasan bagi bank mengenai sektor-sektor apa saja yang boleh dibiayai oleh bank dengan dana mudharabah tersebut. Dalam panduan yang diedarkan oleh Bank Indonesia dengan judul kodifikasi produk perbankan syar’ah yang diterbitkan pada tahun 2008, dinyatakan bahwa bank syari’ah dapat menentukan biaya biaya administrasi berupa biaya-biaya yang terkait langsung dengan biaya pengelolaan rekening antara lain biaya cek/bilyet giro, biaya meterai, cetak laporan transaksi, dan saldo rekening, pembukaan dan penututupan rekening. Yang patut diperhatikan bahwa, skim mudharabah dalam produk penghimpunan dana memberikan keniscayaan bagi berkurangnya dana investasi nasabah, ketika terjadi kerugian yang dilakukan oleh bank yang dilakukan bukan karena kelalaian oleh pihak bank. Namun sepanjang sejarah perbankan syari’ah di Indonesia, hal ini belum pernah terjadi.

PEMBIAYAAN DENGAN SKIM MUDHARABAH

Aspek pembiayaan dalam produk perbankan syari’ah relatif lebih rumit dibandingkan dengan sektor penghimpunan dana. Hal ini disebabkan karena sektor pembiayaan merupaka aktiva yang menguntungkan sekaligus mengandung resiko, baik bagi bank, nasabah dan juga pemilik modal. DSN mengeluarkan fatwa nomor 07/DSN-MUI/IV/2000 tertanggal 4 April 2000, terkait dengan ketentuan syari’ah mengenai pembiayaan mudharabah ini. Fatwa ini relatif berbeda dengan fatwa yang lain, fatwa ini terdiri dari tiga bagian utama, pertama membahas mengenai ketentuan pembiayaan, selanjutnya syarat dan rukun dan ditutup dengan beberapa ketentuan pembiayaan. Selengkapnya dapat diuraikan sebagai berikut :

Ketentuan Pembiayaan:

  • 1. Pembiayaan Mudharabah adalah pembiayaan yang disalurkan oleh LKS kepada pihak lain untuk suatu usaha yang produktif.

  • 2. Dalam pembiayaan ini LKS sebagai shahibul maal (pemilik dana) membiayai 100 % kebutuhan suatu proyek (usaha),sedangkan pengusaha (nasabah) bertindak sebagai mudharib ataupengelola usaha.

  • 3. Jangka waktu usaha, tatacara pengembalian dana, dan pembagian keuntungan ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak (LKS dengan pengusaha).

  • 4. Mudharib boleh melakukan berbagai macam usaha yang telah disepakati bersama dan sesuai dengan syari’ah; dan LKS tidak ikut serta dalam managemen perusahaan atau proyek tetapi mempunyai hak untuk melakukan pembinaan dan pengawasan.

  • 5. Jumlah dana pembiayaan harus dinyatakan dengan jelas dalam bentuk tunai dan bukan piutang.

8

Created with Print2PDF. To remove this line, buy a license at: http://www.software602.com/

6.

LKS sebagai penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah kecuali jika mudharib (nasabah) melakukan kesalahan yang disengaja, lalai, atau menyalahi perjanjian.

  • 7. Pada prinsipnya, dalam pembiayaan mudharabah tidak ada jaminan, namun agar mudharib tidak melakukan penyimpangan, LKS dapat meminta jaminan dari mudharib atau pihak ketiga. Jaminan ini hanya dapat dicairkan apabila mudharib terbukti melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah disepakati bersama dalam akad.

  • 8. Kriteria pengusaha, prosedur pembiayaan, dan mekanisme pembagian keuntungan diatur oleh LKS dengan memperhatikan fatwa DSN.

  • 9. Biaya operasional dibebankan kepada mudharib.

10. Dalam hal penyandang dana (LKS) tidak melakukan kewajiban atau melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan, mudharib berhak mendapat ganti rugi atau biaya yang telah dikeluarkan.

Rukun dan Syarat Pembiayaan:

  • 1. Penyedia dana (sahibul maal) dan pengelola (mudharib) harus cakap hukum.

  • 2. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad), dengan memperhatikan hal-hal berikut:

    • a. Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan tujuan kontrak (akad).

    • b. Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak.

    • c. Akad dituangkan secara tertulis, melalui korespondensi, atau dengan menggunakan cara-cara komunikasi modern.

  • 3. Modal ialah sejumlah uang dan/atau aset yang diberikan oleh penyedia dana kepada mudharib untuk tujuan usaha dengan syarat sebagai berikut:

    • a. Modal harus diketahui jumlah dan jenisnya.

    • b. Modal dapat berbentuk uang atau barang yang dinilai. Jika modal diberikan dalam bentuk aset, maka aset tersebut harus dinilai pada waktu akad.

    • c. Modal tidak dapat berbentuk piutang dan harus dibayarkan kepada mudharib, baik secara bertahap maupun tidak, sesuai dengan kesepakatan dalam akad.

  • 4. Keuntungan mudharabah adalah jumlah yang didapat sebagai kelebihan dari modal. Syarat keuntungan berikut ini harus dipenuhi:

    • a. Harus diperuntukkan bagi kedua pihak dan tidak boleh disyaratkan hanya untuk satu pihak.

    • b. Bagian keuntungan proporsional bagi setiap pihak harus diketahui dan dinyatakan pada waktu kontrak disepakati dan harus dalam bentuk prosentasi (nisbah) dari keun-tungan sesuai kesepakatan. Perubahan nisbah harus berdasarkan kesepakatan.

  • 9

    Created with Print2PDF. To remove this line, buy a license at: http://www.software602.com/

    • c. Penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah, dan pengelola tidak boleh menanggung kerugian apapun kecuali diakibatkan dari kesalahan disengaja, kelalaian, atau pelanggaran kesepakatan.

    • 5. Kegiatan usaha oleh pengelola (mudharib), sebagai perimbangan (muqabil) modal yang disediakan oleh penyedia dana, harus memperhatikan hal-hal berikut:

      • a. Kegiatan usaha adalah hak eksklusif mudharib, tanpa campur tangan penyedia dana, tetapi ia mempunyai hak untuk melakukan pengawasan.

      • b. Penyedia dana tidak boleh mempersempit tindakan pengelola sedemikian rupa yang dapat menghalangi tercapainya tujuan mudharabah, yaitu keuntungan.

      • c. Pengelola tidak boleh menyalahi hukum Syari’ah Islam dalam tindakannya yang berhubungan dengan mudharabah, dan harus mematuhi kebiasaan yang berlaku dalam aktifitas itu.

    Beberapa Ketentuan Hukum Pembiayaan:

    • 1. Mudharabah boleh dibatasi pada periode tertentu.

    • 2. Kontrak tidak boleh dikaitkan (mu’allaq) dengan sebuah kejadian di masa depan yang belum tentu terjadi.

    • 3. Pada dasarnya, dalam mudharabah tidak ada ganti rugi, karena pada dasarnya akad ini bersifat amanah (yad al-amanah), kecuali akibat dari kesalahan disengaja, kelalaian, atau pelanggarankesepakatan.

    • 4. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

    Dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syari’ah, ketentuan mengenai mudharabah tertuang dalam Bab VII mulai dari pasal 187 sampai dengan pasal 210. KHES lebih rinci lagi memberikan acuan yang terkait dengan skim mudharabah ini. Dalam KHES syarat-syarat mudharabah diatur sebagai berikut (pasal 187):

    • 1. Pemilik modal wajib menyerahkan dana dan atau barang yang berharga kepada pihak lain untuk melakukan kerjasama dalam usaha

    • 2. Penerima modal menjalankan usaha dalam bidang yang disepakati

    • 3. Kesepakatan bidang usaha yang akan dilakukan ditetapkan dalam akad

    KHES mengatur berbagai hak dan kewajiban bagi mudharib dan pemiliki modal, beberapa ketentuan tersebut diuraikan denga beberapa pasal secara terpisah. Berikut ini diantara rambu-rambu yang dituangkan dalam KHES sebagai berikut :

    10

    Created with Print2PDF. To remove this line, buy a license at: http://www.software602.com/

    Hak dan Kewajiban serta larangan bagi mudharib

    • 1. Mudharib berhak membeli barang dengan maksud menjualnya kembali untuk memperoleh untung ( pasal 195 ayat 1).

    • 2. Mudharib berhak menjual dengan harga tinggi atau rendah, baik dengan tunai maupun cicilan (pasal 195 ayat 2)

    • 3. Mudharib berhak menerima pembayaran dari harga barang dengan pengalihan piutang (pasal 195 ayat 3)

    • 4. Mudharib tidak boleh menjual barang dalam jangka waktu yang tidak biasa dilakukan oleh para pedagang (pasal 195 ayat 3)

    • 5. Mudharib tidak boleh menghibahkan, menyedekahkan, dan atau meminjamkan harta kerjasama, kecuali bila mendapat izin dari pemilik modal (pasal 196)

    • 6. Mudharib berhak memberi kuasa kepada pihak lain untuk bertindak sebagai wakilnya untuk membeli dan menjual barang jika sudah disepakati dalam akad mudharabah (pasal 197 ayat 1)

    • 7. Mudharib berhak mendepositokan dan menginvestasikan harta kerjasama dengan sistem syariah (pasal 197 ayat 2)

    • 8. Mudharib berhak menghubungi pihak lain untuk melakukan jual-beli barang sesuai dengan kesepakatan dalam akad. (pasal 197 ayat 3)

    • 9. Mudharib berhak atas keuntungan sebagai imbalan pekerjaannya yang disepakati dalam akad (pasal 198 ayat 1)

      • 10. Mudharib tidak berhak mendapatkan imbalan jika usaha yang dilakukannya rugi (pasal 198 ayat 2)

      • 11. Pemilik modal tidak berhak mendapatkan keuntungan jika usaha yang dilakukan oleh mudharib merugi (pasal 199 ayat 2)

      • 12. Mudharib tidak boleh mencampurkan kekayaanya sendiri dengan harta kerjasama dalam melakukan mudharabah, kecuali bila sudah menjadi kebiasaan di kalangan pelaku usaha (pasal 200)

      • 13. Mudharib dibolehkan mencampurkan kekayaannya sendiri dengan harta mudharabah jika mendapat izin dari pemilik modal dalam melakukan usaha-usaha khusus tertentu (pasal 201)

      • 14. Mudharib wajib menjaga dan melaksanakan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh pemilik modal dalam akad (pasal 204)

      • 15. Mudharib wajib bertanggungjawab terhadap risiko kerugian dan atau kerusakan yang diakibatkan oleh usahanya yang melampaui batas yang diizinkan dan atau tidak sejalan dengan ketentuanketentuan yang telah ditentukan dalam akad (pasal 205 )

    11

    Created with Print2PDF. To remove this line, buy a license at: http://www.software602.com/

    16.

    Mudharib wajib mengembalikan modal dan keuntungan kepada pemilik modal yang menjadi hak pemilik modal dalam kerjasama mudharabah (pasal 207 ayat 3)

    Hak dan Kewajiban serta larangan bagi Shahibuul maal

    • 1. Pemilik modal berhak atas keuntungan berdasarkan modalnya yang disepakati dalam akad (pasal 199 ayat 1)

    • 2. Pemilik modal tidak berhak mendapatkan keuntungan jika usaha yang dilakukan oleh mudharib merugi (pasal 199 ayat 2)

    • 3. Pemilik modal dapat memberhentikan atau memecat pihak yang melanggar kesepakatan dalam akad mudharabah (pasal 207 ayat 1)

    • 4. Pemilik modal berhak melakukan penagihan terhadap pihak pihak lain berdasarkan bukti dari mudharib yang telah meningal dunia (pasal 210 ayat 1)

    Ketentuan mengenai hasil usaha diuraikan dalam berapa KHES sebagai berikut :

    • 1. Bahwa keuntungan yang dihasilkan dalam mudharabah menjadi milik bersama (pasal 195 ayat 1)

    • 2. Baik mudharib maupun shahibul mal tidak berhak mendapat keuntungan apabila usha yang dilakukan merugi (pasal 198 ayat 2 dan pasal 199 ayat 2)

    • 3. Porsi/nisbah keuntungan antara mudharib dan shahibul maal dibagi secara proporsional atau atas dasar kesepakatan semua pihak (pasal 202)

    • 4. Apabila kerugian diakibatkan karena Mudharib melanggar atau melampaui batas yang diizinkan atau tidak sejalan dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditentukan dalam akad, maka kerugian itu ditanggung oleh Mudharib ( pasal 205)

    • 5. Kerugian usaha dan kerusakan barang dagangan dalam kerjasama mudharabah yang terjadi bukan karena kelalaian mudharib, dibebankan pada pemilik modal (pasal 208)

    • 6. Kerugian yang diakibatkan oleh meninggalnya mudharib, dibebankan pada pemilik modal (pasal

    210 ayat 2) Prosesi pembiayaan relatif memakan waktu yang panjang serta harus sejalan dengan aturan –aturan terkait. Diawali dengan inisiasi dan solisitasi, kemudian analisa kelayakan pembiayaan dan proses persetujuan melalui pejabat bank yang terkat. Selanjutnya diterbitkanlan surat pesetujuan prinsip (offering letter) yang kemudian dilanjutkan dengan akad pembiayaan baik dilakukan secara notariil maupun bawah tangan, hal ini sangat tergantung kepada kebijakan bank dan kesepakatan antara bank dan nasabah tentu saja dengan mengindahkan segala ketentuan yang berlaku. Akad pembiayaan pada bank syari’ah mengacu kepada ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Harus seusai dengan Hukum Positif, ketentuan syari’ah dan aspek ekonomi. Sekedar

    12

    Created with Print2PDF. To remove this line, buy a license at: http://www.software602.com/

    gambaran umum dapat disampaikan struktur akad pembiayaan yang lazim digunakan dalam perjanjian pembiayaan bank syaria’ah adalah sebagai berikut: 7

    • 1. Definisi , termasuk istilah syariah.

    • 2. Jangka Waktu pembiayaan

    • 3. Jenis pembiayaan

    • 4. Penggunaan fasilitas pembiayaan

    • 5. Keuntungan dan pembayaran

    • 6. Barang Agunan

    • 7. Biaya yang dibebankan (Administrasi)

    • 8. Pengutamaan pembayaran

    • 9. Peristiwa cedera janji.

    10.Hukum yang mengatur

    Dari beberapa format perjanjian baik notariil maupun bawah tangan penulis menemukan Irah irah pada kepala akta pembiyaan yaitu penggalan dari surah al Maidah ayat 1 yang artinya : “hai orang- orang yang beriman penuhilah akad-akad itu”.

    PENUTUP Perkembangan dunia bisnis syari’ah yang semakin pesat memerlukan perhatian khusus agar segala perkembangan dan informasi yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi yang diemban senantiasa dapat sejalan dan selaras dengan perkembangan zaman yang terjadi. Salah satu skim muamalah yang banyak diaplikasikan dalam sektor bisnis syari’ah adalah skim mudharabah. Ketika ia masuk menjadi bagian dari entitas bisnis yang besar maka baik struktur, peran dan sistem kerjanya akan relatif menjadi sedikit rumit karena ia harus sejalan dengan berbagai unsur sistem hukum yang berlaku, baik secara subjek, objek, status, peran dan fungsi serta tujuan dari skim dimaksud. Pemahaman yang komprehensif sangat diperlukan bagi kita yang menyandang peran sebagai “ ius curia novit”. Mudah mudahan sekelumit tulisan ini dapat bermanfaat. Wallahu a’lam bishhsawab ..

    7 Diambil dari materi pendidikan dan pelatihan BMI (tidak dipublikasikan)

    13

    Created with Print2PDF. To remove this line, buy a license at: http://www.software602.com/

    DAFTAR PUSTAKA Ahmad Kamil., Drs.,SH.,M.Hum, dan M Fauzan, SH.,MM.,MH, Kitab Undang-Undang Hukum Perbankan dan Ekonomi Syari’ah, Jakarta: Kencana, 2007 Gemala Dewi,S.H., LL.M, Aspek-Aspek Hukum Dalam Perbankan Dan Perasuransian Syari’ah, Jakarta:

    Prenada Media, cet ke2 2005

    Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syari’ah dari Teori ke praktik, Jakarta : Gema Insani Press, cet ke-9,

    2005

    Sutan Remy Syahdeini,Prof.,Dr.,SH, Perbankan Islam dan Kedudukannya dalam tata hukum

    Perbankan Indonesia, Jakarta;Pustaka utama Grafiti, 1999

    14

    Created with Print2PDF. To remove this line, buy a license at: http://www.software602.com/