You are on page 1of 5

DEFINISI

Penyakit silifis adalah infeksi sistemik yang disebabkan oleh Treponema


pallidum (T.Pallidum). penyakit ini terutama ditularkan melalui hubungan
seksual. Ciri khas sifilis ditandai dengan periode aktif yang disela oleh periode
infeksi laten. Tidak seperti penyakit infeksi lainnya, sifilis jarang didiagnosis
berdasarkan penemuan kuman penyebab dari pemeriksaan lansung. Diagnosis
sifilis terutama didasarkan pada reaksi serologi terhadap treponema.

EPIDEMIOLOGI
Angka kejadian infeksi baru (insidensi) diperkirakan 12 juta per tahun di
seluruh dunia, terutama di Afrika, Amerika Selatan, China, dan Asia Tenggara. Di
Asia Tenggara diperkirakan terjadi 4 juta infeksi baru pertahun. Akhir-akhir ini
meningkat di Negara Eropa terutama pada kelompok Lelaki Suka sama Lelaki
(LSL). Penularan sifilis dari ibu hamil ke bayinya menyebabkan sifilis kongenital
yang merupakan 50% penyebab bayi lahir mati.
Di Indonesia, prevalensi sifilis diteliti secara berkala pada kelompok resiko
tinggi. Penelitian di Indonesia pada tahun 2011 menunjukan prevalensi tertinggi
pada kelompok waria (26,8%), diikuti kelompok wanita pekerja seks komersial
(7,8%), dan kelompok LSL (4,3%).

ETIOLOGI
Bakteri ini merupakan penyebab penyakit sifilis. Pada perkembangan penyakit
dapat terlihat sebagai kutil-kutil kecil di vulva dan vagina yang disebut kondiloma
lata. Bakteri berbentuk spiral P: 6 – 15 μ, L: 0,25 μ, lilitan: 9 – 24 dan tampak
bergerak aktif (gerak maju & mundur, Berotasi undulasi sisi ke sisi) pada
pemeriksaan mikroskopis lapangan gelap.
Mati pada kekeringan, panas, antiseptik ringan, hidup beberapa lama di luar
tubuh. Penularan dapat secara kontak langsung yaitu melalui coital à STD dan dapat
juga melalui non-coital (jarum suntik) sulit terjadi.

PATOGENESIS
Sifilis ditularkan melalui kontak seksual baik melalui vaginal, anal, atau oral.
Berciuman, berbagi jarum suntik yang tidak aman, transfuse darah, needle stick
injury, dan cangkok organ dapat menjadi metode penularan tetapi lebih jarang. Secara
klasik, sifilis dibagi menjadi beberapa stadium:
1. Masa inkubasi tanpa gejala.
2. Sifilis primer, dengan gejala timbulnya lesi primer pada tempat inokulasi
pertama.
3. Sifilis sekunder, terjadi akibat penyebaran kuman ke seluruh tubuh
dengan berbagai manifestasi klinis.
4. Stadium subklinis atau laten yang dapat berlangsung bertahun-tahun dan
hanya dapat dideteksi melalui pemeriksaan serologi.
5. Sifilis tersier, merupakan stadium akhir dari sifilis berupa penyakit
progresisif yang melibatkan susunan saraf pusat, pembuluh darah besar,
dan atau pembentukan gumma yang dapat terjadi pada semua organ.

Siflis primer, sekunderm dan laten awal merupakan stadium yang sangat
menular dengan resiko penularan 60%. Bayi baru lahir dapat tertular sifilis
melalui kontak dengan lesi enital ibu saat bayi dilahirkan. Resiko penularan dari
wanita yang tidak mendapat pengobatan adalah sekitar 70-100%. Kematian
janin terjadi 40% pada wanita hamil dengan sifilis. Secara teoritis ASI dapat
menularkan sifilis primer atau sekunder walaupun hal ini jarang ditemukan.
T. pallidum dapat menembus membran utuh maupun kulit dengan
mikroabrasi. Dalam beberapa jam pertama bakteri akan masuk ke jaringan
limfatik dan aliran darah yang akan menimbulkan gejala infeksi sistemik dan
focus metastatic sebelum timbulnya lesi primer. T. pallidum membelah diri tiap
30-33 jam. Darah dari penderita dalam masa inkubasi sangat menular. Lamanya
masa inkubasi berbanding terbalik dengan jumlah treponema yang terinokulasi.
Semakin pendek masa inkubasi maka semakin banyak jumlah treponema yang
terinokulasi. Masa inkubasi rata-rata berlangsung 3 minggu sejak inokulasi
pertama.
Sifilis primer ditandai dengan munculnya lesi primer pada tempat inokuasi
yang disebut canchre. Canchre biasanya bertahan 4-6 minggu dan kemudian
sembuh sendiri. Gejala konstitusi dan mukokutan sifilis sekunder muncul antara
6-8 minggu setelah lesi primer sembuh. Treponema dapat ditemukan pada
jaringan termasuk cairan cerebrpspinalis dan humor aques pada mata. Invasi
treponema pada SSP terjadi pada minggu pertama infeksi dan kelainan pada SSP
ditemukan pada 40% penderita sifilis sekunder.
Gangguan fungsi hati ditemukan pada 25% penderita sifilis primer.
Pembesaran kelenjar getah bening (KGB) generalisata terjadi pada 85%
penderita sifilis sekunder. Lesi sifilis sekunder biasanya hilang sendiri dalam 2-6
minggu kemudian memasuki stadium laten yang hanya dapat dideteksi dengan
tes serologi. Stadium laten dapat diselingi episode kekambuhan mukokutan pada
tahun-tahun pertama. 1 dari 3 pasien sifilis yang tidak diobati akan memasukin
stadium tersier. Pada stadium akhir ini manifestasi yang sering ditemukan
adalah gumma, sifilis pada sistem kardiovaskular, dan neurosifilis. Penyebab
sifilis tersier sampai sekarang belum diketahui dan kematian akibat sifilis
terutama terjadi akibat sifilis tersier.

GEJALA KLINIS
Sifilis Primer
Pada stadium primer ditemukan chancre yang timbul di tempat inokulasi
pertama. Pada wanita biasa ditemukan pada labia dan serviks. Chancre biasanya
berupa papula tunggal yang tidak nyeri, cepat terkikis dan berindurasi. Dasar
chancre biasanya halus, pinggirnya lebih tinggi dan teraba kenyal. Tanpa infeksi
sekunder, chancre tampak bersih tanpa eksudat.
Sifilis Sekunder
Manifestasi berupa lesi mukokutan dan limfadenopati generalisata yang
tidak terasa nyero. Pada 15% kasus sifilis sekunder overlapping dengan sifilis
primer, terutama pada penderita HIV. Lesi mukokutan dapat berupa macula,
papula, papulaskuamosa atau pustular syphilides. Macula muncul pertama kali
pada tubuh dan extremitas proksimal, berwarna merah atau merah muda yang
tidak terasa gatal. Macula kemudian berubah menjadi papula yang tersebar
keseluruh tubuh termasuk telak tangan dan kaki. Lesi nekrotik yang dikenal
dengan lues maligna sering ditemukan pada penderita HIV.
Pada daerah lipatan papula dapat membesar hingga membentuk papula lebar
yang lembab berwarna merah muda atau putih keabu-abuan yang disebut
condyloma lata. Condyloma lata sangat menular dan terutama terjadi pada
mukosa oral dan genital. Gejala konstitusisional seperti nyeri menelan, demam,
penurunan berat badan, lemah badan, anoreksia, nyeri kepala, dan meningismus
dapat terjadi pada penderita sifilis.

CARA DIAGNOSIS
Diakibatkan Treponema pallidum,dibagi menjadi beberapa macam
- Sifilis primer : ulkus keras dan tidak nyeri,soliter dan timbul di vulva,vagina dan
serviks. Dapat terjadi ulkus ekstragenital
- Sifilis sekunder : sistemik yaitu ruam makulopapular di telapak tangan dan
kaki,bercak mukosa dan kondiloma lata,lesi putih abu-abu yang meninggi dan
besar. Tidak nyeri dan adenopati
- Sifilis tersier : mengenai CVS,CNS dan musculoskeletal

Pada sifilis primer, sekunder, tersier, pemeriksaan langsung apusan dari mukokutan
dengan menggunakan mikroskop lapangan gelap atau pewarnaan immunoflerensi
adalah pemeriksaan tercepat untuk menegakkan diagnosis. Pemeriksaan pada chancre,
condyloma lata, dan mucous patches memberikan angka positif yang tinggi karena
lesi-lesi ini mengandung banyak treponema. Tidak dianjurkan membersihkan lesi
dengan menggunakan larutan antiseptic karena treponema yang mati sulit untuk
diidentifikasi.

Ada 2 macam pemeriksaan serologi pada sifilis:

1. Pemeriksaan terhadap antibody reaginic nonspesifik non-treponema


2. Antibodi spesifik anti-treponemal

Pemeriksaan pertama lebih murah, cepat, dan mudah bila digunakan sebagai alat
skrining pada jumlah sampel yang besar, misalnya pada donor darah. Selain itu, tes
non-treponemal dapat digunakkan untuk memantau aktivitas pengobatan. Tes
spesifik dapat memastikan adanya infeksi sifilis saat ini atau pada masa lalu. Kedua
tes ini biasanya digunakan bersama-sama. Tes serologis sifilis jarang memberikan
hasil negatif palsu kecuali pada orang tua.
TATALAKSANA

KOMPLIKASI

Sifilis menyebabkan peningkatan kemungkinan penularan HIV 2-5 kali. Lesi


sifilis mudah berdarah sehingga memudahkan penularan virus HIV saat melakukan
hubungan seksual. Penularan sifilis dari ibu ke bayi pada saat kehamilan juga akan
meningkatkan resiko keguguran dan kematian bayi beberapa hari setelah dilahirkan.

PROGNOSIS

Pengobatan pada sifilis primer dan sekunder memberikan hasil yang sangat
baik. Pengobatan yang gagal hanya masih ditemukan pada penderita HIV. Sifilis
kardiovaskular memberikan respons yang baik dengan pengobatan sifilis walaupun
infark iskemik masih dapat ditemukan. Penderita tabes dorsalis tidak akan membaik
tetapi progresivitas penyakit akan berkurang dengan pengobatan sifilis.

PENCEGAHAN

Aktivitas seksual merupakan faktor resiko penularan sifilis. Kontak langsung


dengan lesi aktif merupakan faktor resiko utama, tetapi tidak selalu lesi dapat terlihat
sehingga semua penderita sifilis dianggap mempunyai potensi menularkan sifilis dan
harus menggunakan hubungan seksual yang aman. Penderita asimtomatik yang
memerlukan kontrasepsi harus diberikan pengertian mengenai efikasi barrier untuk
mencegah transmisi infeksi menular seksual dan juga HIV.

Penderita sifilis stadium primer, sekunder, atau laten awal, dianjurkan untuk
abstinensia seksual pada penderitaa dan partner seksualnya hingga terapi pada
keduanya selesai dan respons serologis yang memuaskan dicapai setelah pengobatan.