You are on page 1of 9

10 Kaidah Penting dalam Dakwah

Posted by Sayogyo Rahman Doko Posted on 00.29 with No comments

Dakwah adalah amalan yang mulia dan sesuatu yang mulia harus disampaikan dengan cara yang
mulia yakni tidak melanggar syari’at dan ittibaa'us-sunnah (mengikuti sunnah). Berikut ini adalah 10
kaidah penting dakwah yang harus diperhatikan oleh para du’at:

1. Al Qudwah Qabla Ad Da’wah


(Menjadi Teladan Sebelum Berdakwah)

ََ‫أَت َأ ْ ُم ُرون‬ َ ‫ٱل َّن‬


َ‫اس‬ َ‫بِ ْٱلبِ ِر‬ ََ‫س ْون‬
َ ‫َوت َن‬ َ ُ‫أَنف‬
َ‫س ُك ْم‬ َ‫َوأَنت ُ ْم‬ ََ‫تَتْلُون‬ َ َ ‫ْٱل ِك َٰت‬
َ‫ب‬ ۚ َ‫أ َ َف َل‬ ََ‫ت َ ْع ِقلُون‬

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan diri
(kewajiban)mu sendiri…”
(QS Al Baqarah: 44)
۟ ُ‫ٱَّلل أَن تَقُول‬
َ‫وا َما ََل ت َ ْفعَلُون‬ ۟ ُ‫َٰٓيَأَيُّ َها ٱلَّذِينَ َءا َمن‬
ِ َّ ‫وا ل َِم تَقُولُونَ َما ََل ت َ ْفعَلُونَ ۝ َكب َُر َم ْقتًا عِن َد‬

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan ?
Sungguh besar murka di sisi Allah bila kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan.”
(QS Ash Shaff: 2-3)

Pepatah Arab mengatakan

“Lisanul Hal Afsahu Min Lisanil Maqal”


(Bahasa perbuatan lebih fasih daripada bahasa lisan)

2. At Ta’lif Qabla At Ta’rif


(Mengikat Hati Sebelum Mengenalkan)
Objek dakwah (mad’u) adalah manusia yang sikap dan perbuatannya ditentukan oleh kondisi
hatinya. Hati adalah penentu fisik untuk dapat bergerak merespon pihak luar.

3. At Ta’rif Qabla At Taklif


(Mengenalkan Sebelum Memberi Beban/Amanah)

Kesalahan dakwah terbesar dalah membebankan suatu amalan kepada mad’u sebelum diajarkan
dengan baik. Baik beban suatu amal yang hukumnya wajib ataupun sunnah. Sebab dakwah itu tegak
di atas landasan ilmu dan dalil yang jelas bukan doktrin-doktrin yang membabi buta.

4. At Tadarruj fi At Taklif
(Bertahap Dalam Membebankan Suatu Amal)

Manusia memiliki tingkatan yang berbeda-beda, baik dari sudut pandang latar belakang
pendidikan maupun kondisi sosial yang melahirkannya. Oleh karena itu, dakwah kepada manusia
dengan ragam tipologinya tersebut tentu mengonsekuensikan perbedaan dakwah yang dilakukan.

5. At Taysir Laa At Ta’sir


(Memudahkan Bukan Menyulitkan)

َ‫ي ُِري ُد‬ ُ‫ٱَلل‬


ََّ َ‫بِ ُك ُم‬ َ‫ْٱليُس َْر‬ َ‫َو َل‬ َ‫ي ُِري ُد‬ َ‫بِ ُك ُم‬ َ‫ْٱلعُس َْر‬

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…”

(QS Al Baqarah: 185)

6. Al Ushul Qabla Al Furu’


(Perkara Pokok Sebelum Perkara Cabang)

Da’i yang tidak memahami masalah-masalah ushul dan furu’ ini akan menjadikan dakwah tidak
lagi menuai maslahat, bahkan akan melahirkan kontraproduktif bagi dakwah itu sendiri. Hal ini
dikarenakan perkara ushul harus didahulukan daripada furu’ sedangkan furu’ akan dapat
dilaksanakan dengan baik dan benar ketika berpijak pada ushul yang baik dan benar pula.

7. At Targhib Qabla At Tarhib


(Memberi Harapan Sebelum Ancaman)
Seorang da’i harus senantiasa memberikan semangat kepada mad’unya agar dapat beramal.
Saat mad’u melakukan dosa, ia harus diberi harapan besar bahwa Allah selalu membuka pintu
taubat bagi siapa saja. Dengan cara ini dakwah (In syaa’Allaah) akan menuai hasil yang diharapkan.

8. At Tafhim Laa At Talqin


(Memberi Pemahaman Bukan Mendikte)

َٰٓ
َ‫َو َل‬ ُ ‫ت َ ْق‬
َ‫ف‬ ‫َما‬ َ ‫لَي‬
َ‫ْس‬ ََ‫لَك‬ ‫بِهِۦ‬ ‫ع ِْل َم‬ ۚ َ‫ِإ َّن‬ َ‫س ْم َع‬
َّ ‫ٱل‬ َ َ‫َو ْٱلب‬
َ‫ص َر‬ َ‫َو ْٱلفُ َؤا َد‬ َ‫ُكل‬ ََ‫أ ُ ۟و َٰلَئَِك‬ ََ‫كَان‬ ُ‫ع ْن َه‬
َ ً ۭ ُٔ‫َمسْـ‬
َ‫ول‬

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan dimintai
pertanggungjawaban.”

(QS Al Israa’: 36)

9. At Tarbiyah Laa At Ta’riyah


(Mendidik Bukan Menelanjangi)

Menjaga kehormatan adalah termasuk tujuan syari’at Islam. Oleh karena itu, dakwah harus
berupaya memberikan didikan yang baik kepada mad’unya.

10. Tilmidzu Imam Laa Tilmidzu Kitab


(Murid Guru Bukan Murid Buku)

Sebuah pepatah mengatakan

“Guru tanpa buku akan melahirkan kejumudan sedangkan buku tanpa guru akan melahirkan
kesesatan”

wallaahu a'lam bish-shawwab


Pahala itu telah didapatan dengan sekedar kita dakwah – menyampaikan,

Tidak bergantung oleh diterimanya dakwah

Agar kita selalu semngat, dan tidak putus asa

Ganjaran telah kita dapatkan dengan sekedar kita menyampaikan, tak tergntung diterimanya

Karena itulah, kalau lihat para nabi diperintahkan oleh Allah adalah menyampaikan, Allah tidak
meminta kepada kita hasil

Yang diminta oleh Allah adalah usaha, usaha kita yang maksimal, bukan hasilnya karena kalau hasil
Allah tidak butuh

Karena saat ini juga, detik ini juga, Allah menjadikan seluruh dunia semuanya islam, kun fayakun

Allah bisa

Allah sengaja menjadikan dunia seperti ini, Agar ada orang yang berusaha, dan membuktikan siapa
manusia-manusia terbaik di dunia ini ciptaan Allah

Jadi yang penting adalah usha kita, upaya kita

Kalau kita benar-benar memahami kaidah ini, maka tidak akan putus asa

Kisah nabi nuh, berdakwah selama 950 tahun,

Jalan dakwah ini adalah jalan yang berat

7 tahapan syaitan menjerumuskan manusia

Mengkafirkan manusia

Bid’ah

Dosa besar

Dosa kecil
Amalan-amalan mubah, banyak rugi

Amalan-amalan yang kurang afdhol

Syaitan mengirimkan bala tentara- diganggu, difitnah, diancam

Berusaha agar kita kapok, putus asa, dan berhenti

Beribadah mengecewakan para syaitan

Matahari di tangan kananku, bulan d tangan kiriku, aku akan terus berdakwah, dakwah menang,
atau saya mati dalam keadaan dakwah

Apakah gagal nabi itu? Tidak, mereka sudah berusaha maksimal, mereka berhasil

Yang putus asa lah yang gagal

Kewajibanmu hanya menyampaikan

As-syuara ayat 48

An-nahl ayat 35

An-nur ayat 54

Al-qasas 28

174. Dari Abu Mas'ud iaitu 'Uqbah bin 'Amral-Anshari al-Badri r.a., katanya:
"Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang memberikan petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah
seperti pahala orang yang melakukan kebaikan itu." (Riwayat Muslim)
175. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang mengajak ke arah kebaikan, maka ia memperolehi pahala
sebagaimana pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi
sedikitpun dan dari pahala-pahala mereka yang mencontohinya itu, sedang
barangsiapa yang mengajak ke arah keburukan, maka ia memperolehi dosa
sebagaimana dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi
sedikitpun dari dosa-dosa mereka yang mencontohnya itu." (Riwayat Muslim)

Rasulullah ingin semua manusa selamat semuanya

Dihibur
Al-baqarah 272

Menyampaikan dengan kemasan yang baik, seperti orang yang beragang, hikmah
dengan baik, tawarkan dengan baik

Annahl 127
La tahzan

Bukan dengan cara yang terburu-buru, malah jadi gagal total


Jangan terburu-buru sebelum saatnya, maka dia akan mendapatkannya

Kapan seorang dai dikatakan berhasil dalam dakwahnya

Adalah kalau dia sudah berusaha maksimal, sampai mentok, karena kalau masalah
pondok, pengikut dll, itu gampang
Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal mereka,

Jangan sampaikan hal yang mereka tidak paham

Orang-orang yang rabbani= orang yang punya ilmu, mengamalkan dan


mendakwahkan ilmunya
Hendaklah menjadi ulama yag santun dalam berdakwah

Kalau dia mentarbiyah manusia, dari ilmu yang kecil-kecil ke yang besar-besar,
Muqadimah dulu, bab 1-bab 2

Ibarat sirkit listrik, Akibatnya kepalanya konslet,


Jadi tidak nyambung,

Orang kalau ilmunya masih dangkal, dia akan sombong, petantang, petenteng,
semuanya ditantang,

Ilmu dalam malah menunduk, kalau berani-berani nanti kena sikat seperti orang
karate,

Ilmu kecil itu ilmu yang jelas,

Jangan beritahu ilmu yang jelimet-jelimet,

Tentang memperbaiki kakbah, agar manusia tidak salah paham, demi maslahat,

Menolak keburukan, didahulukan, daripada mendatangakan kebaikan


Ilmu itu boleh di suatu daerah bicara ini, di daerah bicara tema lain, agar ada
maslahat,
Berbicara terlalu berat, orang malah mendustakan Allah dan Rasulullah

Tidak membicarakan Allah mendetail, takut orang tidak paham

Abu hurairah menyembunyikan ilmu karena maslahat, dan memberi dampak yang besar

Jiwa jangan menganggur

fikiran dan hati kita jangan dijadikan tong sampah, ada filternya, yang masuk
baik-baik saja

hati kita lemah, syubhat datang sebagai petir

bacalah al-Qur'an

pemahaman
salah paham tentang islam

mereka mengangap islam itu mengekang kebebasan, islam itu enumpulkan


kemampuan, ketinggalan jaman, tidak modern,

islam itu mengarahkan, sesuai dengan zaman, islam itu cocok untuk siapa saja,
kapan saja, dimana saja,
islam memiliki aturan-aturan, aturan yang baik untuk kemaslahatan anda,
kemuliaan anda

pabrik memproduksi mobil, pasti juga mengeluarkan buku petunjuknya, mobil


itu akan bekerja dengan baik, bermanfaat dengan baik, awet, tahn lama
demikian juga Allah dalam menciptakan mahluknya, Allah Azza wa Jalla yang
menciptakan kita, Allah itu tahu tentaang kita, bahkan Allah lebih tahu dari
kita daripada kita tentang kita, maka itu mengeluarkan buku petunjuk untuk
kita yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah
kalau kita mengikti buku petunjuk dengan sebaik-baiknya, mka bahgia kita,
bermanfaat kita,

Tauhid adalah kebebasan, orang di dunia ini pasti jadi hamba, tapi silahkan
anda milih jadi hambanya siapa, hamba Allah, hamba nafsu, dunia, harta,

Islam menjunjung tinggi kebebasan, benar-benar mengasah kemampuan, tentu


dalam batas yang sudah dijelaskan demi keselamatan,

silahkan kalian mengikuti kebebasan, seakan-akan mereka bebas, tapi


sebenarnya mereka berada dalam kesempitan