You are on page 1of 4

I.

Abstrak/Latar belakang

Jahe (Zingiber officinale, Rosc.) memiliki kandungan minyak atsiri dan oleoresin yang ampuh
dalam penyembuhan berbagai penyakit. Metode ekstraksi yang umum digunakan adalah metode
maserasi. Permasalahan metode ini adalah diperlukan pelarut yang banyak dan waktu yang cukup
lama untuk dapat mengekstraksi bahan baku. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka digunakan
metode ekstraksi sokletasi dengan kombinasi perlakuan rasio bahan dengan pelarut dan jumlah
sirkulasi ekstraksi agar dapat menghasilkan oleoresin yang paling efisien. Metode penelitian yang
digunakan adalah penelitian eksperimental Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor.
Faktor I adalah rasio bahan (g) dengan pelarut (ml) terdiri atas 3 level yaitu 1:20; 1:25; 1:30 dan
faktor II adalah jumlah sirkulasi proses ekstraksi terdiri atas 3 level yaitu 6, 7, dan 8 kali sirkulasi
dengan 3 kali ulangan. Dari hasil penelitian dilakukan pengumpulan data yang meliputi rendemen,
indeks bias minyak, perhitungan efisiensi penggunaan pelarut dan pemilihan perlakuan terbaik
menggunakan metode Multiple Attribute yang hasilnya dianalisa warna menggunakan colour reader.
Perlakuan terbaik ekstraksi oleoresin jahe dengan menggunakan metode sokletasi yang paling efisien
yaitu pada perlakuan perlakuan rasio bahan dengan pelarut 1:20 (b/v) dengan 8 kali sirkulasi yang
menghasilkan rerata rendemen oleoresin jahe sebesar 7,77% dan nilai rerata efisiensi sebesar 97,11%.
Nilai indeks bias yang didapatkan yaitu 1,503 dan warna dari oleoresin jahe yang dihasilkan yaitu
gelap dan pekat (coklat tua) berdasarkan tingkat kecerahan (L*) 26,14; tingkat kemerahan (a+) 12,18;
dan tingkat kekuningan (b+) 13,11.

II. TUJUAN PERCOBAAN


1. Untuk memahami cara mengekstraksi oleoresin jahe dengan
menggunakan metode ekstrasi sokletasi
2. Untuk mengetahui besar rendemen dan indeks bias dari percobaan
3. Untuk mengetahui pelarut yang dibutuhkan dalam metode sokletasi yang
paling baik.

III. TINJAUAN PUSTAKA

Jahe (Zingiber officinale, Rosc.) termasuk famili Zingiberaceae yang dapat tumbuh di daerah
tropis dan sub tropis. Berdasarkan hasil penelitian para ahli, baik dari dalam negeri maupun luar
negeri, jahe berkhasiat sebagai obat dan mampu memperkuat khasiat obat lain yang dicampurkannya.
Ada tiga jenis varian jahe di Indonesia, yaitu jahe gajah (Zingiber officinale var officinarum), jahe
emprit (Zingiber officinale var amarum), dan jahe merah (Zingiber officinale var rubrum). Salah satu
jenis jahe yang dimanfaatkan sebagai obat-obatan yaitu jahe emprit. Hal ini dikarenakan rimpang jahe
emprit berserat lembut, beraroma tajam, dan berasa pedas meskipun ukuran rimpangnya kecil tetapi
memiliki kandungan gizi cukup tinggi (Rukmana, 2000).
Jahe memiliki kandungan minyak atsiri dan oleoresin yang ampuh dalam penyembuhan
berbagai penyakit. Menurut Tama dan Mulyadi (2014), solusi mendapatkan kandungan tersebut
adalah dengan melakukan ekstraksi. Oleoresin jahe mempunyai keunggulan dibandingkan dengan
produk olahan yang lain dari jahe yaitu mempunyai keseragaman aroma dan tidak mengandung
mikroba sehingga lebih awet (Paimin dan Murhananto, 2008).

Ekstraksi adalah proses pemisahan berdasarkan perbedaan kelarutan bahan. Proses ekstraksi
memiliki dua perbedaan kelarutan bahan (Berk, 2009). Ekstrak disaring dengan kain saring agar
terpisah antara ampas dengan filtratnya (Anditasari dkk, 2014). Menurut Rahayu (2009), ekstraksi
adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan pembagian sebuah zat terlarut antara dua
pelarut yang tidak dapat tercampur untuk mengambil zat terlarut tersebut dari satu pelarut ke pelarut
lain.

Metode ekstraksi yang umum digunakan adalah metode maserasi. Metode tersebut sering
digunakan karena prosedur dan peralatannya sederhana. Tapi permasalahan pada ekstraksi oleoresin
jahe dengan metode ini adalah diperlukan pelarut yang banyak dan waktu yang cukup lama untuk
dapat mengekstraksi bahan baku (Simanjuntak, 2008). Metode ekstraksi sokletasi adalah metode
ekstraksi lebih lanjut yang dapat menyempurnakan kelemahan dari metode ekstraksi maserasi dan
perkolasi. Menurut Sirait (2008), menyatakan bahwa keunggulan ekstraksi sokletasi yaitu
menggunakan pelarut yang selalu baru menggunakan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinyu
dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik. Irianty dkk, (2012)
menambahkan, proses ekstraksi dipengaruhi oleh suhu, ukuran partikel, jenis pelarut, waktu ekstraksi,
dan metode ekstraksi. Metode ekstraksi sokletasi merupakan suatu metode dengan pemanasan, pelarut
yang digunakan akan mengalami sirkulasi, dibandingkan dengan cara maserasi, ekstraksi sokletasi
memberikan hasil ekstrak yang lebih tinggi.

Sokletasi adalah suatu metode / proses pemisahan suatu komponen yang terdapat dalam zat
padat dengan cara penyaringan berulang ulang dengan menggunakan pelarut tertentu, sehingga semua
komponen yang diinginkan akan terisolasi (Alvicha, D. P. 2014. )

Pengambilan suatu senyawa organik dari suatu bahan alam padat disebut ekstraksi. Jika
senyawa organik yang terdapat dalam bahan padat tersebut dalam jumlah kecil, maka teknik isolasi
yang digunakan tidak dapat secara maserasi, melainkan dengan teknik lain dimana pelarut yang
digunakan harus selalu dalam keadaan panas sehingga diharapkan dapat mengisolasi senyawa organik
itu lebih efesien. Isolasi semacam itu disebut sokletasi (Anditasari, D. A., Kumalaningsih, S., dan
Mulyadi, A. F. 2014. )

Adapun prinsip sokletasi ini yaitu : Penyaringan yang berulang ulang sehingga hasil yang
didapat sempurna dan pelarut yang digunakan relatif sedikit. Bila penyaringan ini telah selesai, maka
pelarutnya diuapkan kembali dan sisanya adalah zat yang tersari. Metode sokletasi menggunakan
suatu pelarut yang mudah menguap dan dapat melarutkan senyawa organik yang terdapat pada bahan
tersebut, tapi tidak melarutkan zat padat yang tidak diinginkan (Berk, Z. 2009. )

Metoda sokletasi seakan merupakan penggabungan antara metoda maserasi dan perkolasi.
Jika pada metoda pemisahan minyak astiri ( distilasi uap ), tidak dapat digunakan dengan baik karena
persentase senyawa yang akan digunakan atau yang akan diisolasi cukup kecil atau tidak didapatkan
pelarut yang diinginkan untuk maserasi ataupun perkolasi ini, maka cara yang terbaik yang
didapatkan untuk pemisahan ini adalah sokletasi (Daryono, E. D. 2009. )

Sokletasi digunakan pada pelarut organik tertentu. Dengan cara pemanasan, sehingga uap
yang timbul setelah dingin secara kontunyu akan membasahi sampel, secara teratur pelarut tersebut
dimasukkan kembali kedalam labu dengan membawa senyawa kimia yang akan diisolasi tersebut.
Pelarut yang telah membawa senyawa kimia pada labu distilasi yang diuapkan dengan rotary
evaporator sehingga pelarut tersebut dapat diangkat lagi bila suatu campuran organik berbentuk cair
atau padat ditemui pada suatu zat padat, maka dapat diekstrak dengan menggunakan pelarut yang
diinginkan (Eswanto, A. H. 2002. )

Metoda sokletasi seakan merupakan penggabungan antara metoda maserasi dan perkolasi. Jika
pada metoda pemisahan minyak astiri ( distilasi uap ), tidak dapat digunakan dengan baik karena
persentase senyawa yang akan digunakan atau yang akan diisolasi cukup kecil atau tidak didapatkan
pelarut yang diinginkan untuk maserasi ataupun perkolasi ini, maka cara yang terbaik yang
didapatkan untuk pemisahan ini adalah sokletasi (Hidayanto, E., Rofiq Abdul., Sugito, H. 2008. )

Jahe (Zingiber officinale), adalah tanaman rimpang yang sangat populer sebagai rempah-
rempah dan bahan obat. Rimpangnya berbentuk jemari yang menggembung di ruas-ruas tengah. Rasa
dominan pedas disebabkan senyawa keton bernama zingeron (Ibrahim, A. M., Yunianta, Sriherfyna,
F. H. 2014. )

Sejak dulu Jahe dipergunakan sebagai obat, atau bumbu dapur dan aneka keperluan Iainnya.
Jahe dapat merangsang kelenjar pencernaan, baik untuk membangkitkan nafsu makan dan
pencernaan. Jahe berguna sebagai obat gosok untuk penyakit encok dan sakit kepala. Jahe segar yang
ditumbuk halus dapat digunakan sebagai obat luar untuk sebagai obat mulas. Rasa dan aromanya
pedas dapat menghangatkan tubuh dan mengeluarkan keringat. Minyak atsirinya bermanfaat untuk
menghilangkan nyeri, anti inflamasi dan anti bakteri. Air perasan umbinya (akar tongkat) digunakan
untuk penyakit katarak. Pada umumnya jahe dipakai sebagai pencampur beberapa jenis obat yaitu
sebagai obat batuk, mengobati Iuka luar dan dalam ,melawan gatal (umbinya ditumbuk haIus) dan
untuk mengobati gigitan ular (Paimin, F. B., Murhananto, 2008 . )
Rimpang jahe mengandung minyak atsiri, damar, mineral sineol, fellandren, kamfer, borneol,
zingiberin, zingiberol, gigerol ( misalnya di bagian-bagian merah), zingeron, lipidas, asam aminos,
niacin, vitamin A, B1, C dan protein. Minyak jahe berwarna kuning dan kental. Minyak ini
kebanyakan mengandung terpen, fellandren, dextrokamfen, bahan sesquiterpen yang dinamakan
zingiberen, zingeron damar, pati (Irianty, Rozanna Sri., Verawati, Riris. 2012. )

Oleoresin merupakan campuran senyawa minyak atsiri dan resin yang diperoleh dengan cara
ekstraksi. Dalam perdagangan, sudah banyak oleoresin yang dipasarkan seperti oleoresin jahe
(ginger), cabe (capsicum), lada hitam (black pepper), kayu manis (cinnamon bark), bunga cengkeh
(clove bud oleoresin), pala (nutmeg oleoresin), paprika oleoresin, dan masih banyak lagi yang lain.
Umumnya oleoresin ini bisa berbentuk cair, pasta ataupun padatan tergantung dari komponen
senyawa yang terkandung. Sedang fungsi oleoresin adalah sebagai bahan baku flavor, disamping
sebagai bahan pengawet alami. Di dunia industri, oleoresin digunakan sebagai bahan baku obat,
kosmetik, parfum, pengalengan daging, fresh drink dan masih banyak lagi, hingga industri bakery
maupun kembang gulapun juga membutuhkan oleoresin (Alvicha, D. P. 2014. )