You are on page 1of 7

e Journal Keperawatan (e-Kp) Volume 4 Nomor 2, Juli 2016

PENGARUH PENERAPAN ASUHAN KEPERAWATAN DEFISIT


PERAWATAN DIRI TERHADAP KEMANDIRIAN PERSONAL HYGIENE
PADA PASIEN DI RSJ. PROF. V. L. RATUMBUYSANG
MANADO TAHUN 2016
Novita Pinedendi
Julia Villy Rottie
Ferdinand Wowiling

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran


Universitas Sam Ratulangi
Email :Pinedendi_novita@yahoo.com

Abstract Upbringing Treatment of devisit treatment of x'self at soul trouble patient very needed to to train
independence personal of hygiene. Target of this Research is know to influence applying of upbringing
treatment of devisit treatment of x'self to independence personal of hygiene at patient in RSJ Prov. Dr. V.
L. Ratumbuysang Manado. This desain research is Analytic Observasional. Population in this research
is all patient of devisit treatment of x'self residing in Room of Katrili And of Alabadiri RSJ. Prof. Dr. V. L.
Ratumbuysang Manado amounting to 27 people with Intake of sampel in this research use Total
technique of Sampling, instrument the used is observation sheet and kuesioner.Result of there are
influence which is signifikan to applying of upbringing treatment of devisit treatment of x'self at patient
(p=0.002). Pursuant to result of research. that Most responden answer to apply treatment upbringing and
most self-supporting to personal of hygiene, hence from that better contribution at Nurse to be always
give support apply treatment upbringing more optimal to be independence personal of higene more self-
supporting.
Keywords: Upbringing Treatment Of Defisit Treatment Of X'Self, Schizoferania

Abstrak Kesehatan jiwa adalah suatu bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan, atau bagain integral
dan merupakan unsur utama dalam menunjang terwujudnya kualitas hidup manusia, salah satu
permasalahan yang sering menjula pada klien dengan gangguan jiwa adalah defisit perawatan diri yang
berkaitan dengan Personal Hygiene. Personal Hygiene sangat tergantung pada pribadi masing-masing
yaitu nilai individu dan kebiasaan untuk mengembangkannya. Pemeliharaan personal hygiene berarti
tindakan memelihara kebersihan dan kesehatan diri seseorang. Asuhan keperawatan defisit perawatan diri
pada pasien gangguan jiwa sangat diperlukan untuk melatih kemandirian personal hygiene.Tujuan
Penelitian ini ialah diketahui pengaruh penerapan asuhan keperawatan defisit perawatan diri terhadap
kemandirian personal hygiene pada pasien di RSJ Prof. V. L. Ratumbuysang Manado. Desain Penelitian
ini adalah pra eksperimental one group pra test post test design.Populasi dalam penelitian ini adalah
semua pasien defisit perawatan diri yang berada diruangan Katrili dan ruangan AlabadiriRSJ Prof. V. L.
Ratumbuysang Manado yang berjumlah 27 orang dengan pengambilan sampel dalam penelitian ini
menggunakan teknik total sampling, instrument yang digunakan ialah kuesioner dan lembar observasi.
Hasil Penelitian terdapat pengaruh yang signifikan terhadap penerapan asuhan keperawatan defisit
perawatan diri pada pasien (p=0.003). berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa
personal hygiene sebelum dan sesudan diberikan intervensi menunjukan paling banyak berada pada
kategori ketergantungan sedang, maka dari itu sebaiknya kontribusi pada perawat agar selalu memberikan
dukungan menerapkan asuhan keperawatan lebih optimal agar kemandirian personal hygiene lebih
mandiri.

Kata kunci: Asuhan Keperawatan Defisit Perawatan Diri, Gangguan Jiwa


e Journal Keperawatan (e-Kp) Volume 4 Nomor 2, Juli 2016

PENDAHULUAN berjumlah 10 orang dan ruangan Alabadiri


berjumlah 15 orang, Bulan September 4
Kesehatan jiwa adalah suatu bagian yang orang ijin pulang sedangkan, Bulan Oktober
tidak terpisahkan dari kesehatan atau bagian 2015 berjumlah diruangan katrili berjumlah
integral dan merupakan unsur utama dalam 17 orang dan ruangan Alabadiri berjumlah 10
menunjang terwujudnya kualitas hidup orang (Profil Ruangan Katrili Dan Alabadiri
manusia. Gangguan jiwa dibagi menjadi dua RSJ. Prof. dr. V. L. Ratumbuysang Manado,
bagian besar, yaitu gangguan jiwa ringan 2015).
(Neurosa) dan gangguan jiwa berat
Keterbatasan perawatan diri biasanya
(Psikosis). Psikosis ada dua jenis yaitu:
diakibatkan karena stressor yang cukup berat
psikosis organik, dimana didapatkan
dan sulit ditangani oleh klien (klien bisa
kelainana pada otak dan psikosis fungsion
mengalami harga diri rendah) sehingga
tidak terdapat kelainan pada otak. Psikosis
dirinya tidak mau mengurus atau merawat
salah satu bentuk gangguan jiwa merupakan dirinya sendiri baik dalam hal mandi,
ketidak mampuan untuk berkomunikasi atau berpakaian, berhias, makan, maupun BAB
menggali realitas yang menimbulkan dan BAK. Bila tidak dilakuan intervensi oleh
kesukaran dalam kemampuan seseorang perawat, maka kemungkinan klien bisa
berperan sebagaimana mestinya dalam mengalami masalah risiko tinggi isolasi sosial
kehidupan sehari-hari (Andayani, 2012). (Nasution, 2013).
Menurut World Health Organitation Menurut Thomas (2012) defisit perawatan
(WHO, 2013), prevalensi masalah kesehatan diri merupakan salah satu gejala yang sering
jiwa saat ini cukup tinggi, 25% dari ditemukan pada pasien dengan gangguan
penduduk dunia pernah menderita masalah jiwa, dimana halusinasi sering diidentikkan
kesehatan jiwa, 1% diantaranya adalah dengan skizofrenia. Dari seluruh skizofrenia,
gangguan jiwa berat, potensi seseorang 70% diantaranya mengalami defisit
mudah terserang gangguan jiwa memang perawatan diri, gangguan jiwa lain yang
tinggi, setiap saat 450 juta orang di seluruh sering juga disertai dengan gejala halusinasi
dunia terkena dampak permasalahan jiwa, adalah gangguan Manik Depresif dan
saraf maupun perilaku. Berdasarkan hasil Delirium (Hardiyah, 2010).
survey awal peneliti di ruangan Kamboja Skizofrenia ditunjukkan dengan gejala
Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera klien suka berbicara sendiri, mata melihat
Utara Medan, Dari 48 klien yang dirawat kekanan dan kekiri, jalan mondar mandir,
inap di ruangan Kamboja, 26 klien (54%) sering tersenyum sendiri, sering mendengar
diantaranya mengalami defisit perawatan diri. suara-suara dan sering mengabaikan hygiene
Riset Kesehatan Jiwa (2013) jumlah atau perawatan dirinya (defisit perawatan
pasien gangguan jiwa di Indonesia terus diri). Defisit perawatan diri merupakan suatu
bertambah, terdapat 14,1% penduduk kondisi pada seseorang yang mengalami
Indonesia mengalami gangguan jiwa mulai kelemahan kemampuan dalam melakukan
dari yang ringan hingga berat. atau melengkapi aktivitas perawatan diri
Dari hasil survey awal di RSJ. Prof. dr. V. secara mandiri seperti mandi (hygiene),
L. Ratumbuysang Manado Tahun 2014 berpakaian/berhias, makan, dan BAB/BAK
diruangan katrili pasien defisit perawatan diri (toileting) (Abdul, 2015).
berjumlah 15 orang dan ruangan Alabadiri Untuk mengetahui lebih lanjut masalah
berjumlah 12 orang, pada Bulan Agustus yang terjadi pada pasien perlu dikaji lebih
2015 diruangan katrili berjumlah 17 orang lanjut tentang gangguan yang terjadi pada
dan ruangan Alabadiri berjumlah 19 orang, pasien yang memicu terjadinya defisit
pada Bulan September 2015 diruangan katrili
e Journal Keperawatan (e-Kp) Volume 4 Nomor 2, Juli 2016

perawatan diri. Seperti, perawat perlu akan mempengaruhi kemampuan kognitif


mengkaji kejadian yang mendukung dan psikomotor pasien dalam merawat diri.
terjadinya defisit perawatan diri pasien Telah banyak penelitian yang dilakukan
(Achir, 2009). di Rumah Sakit Jiwa Prof dr. V. L.
Personal hygiene sangat tergantung pada Ratumbuysang Manado yang berhubungan
pribadi masing-masing yaitu nilai individu dengan devisit perawatan diri, tetapi
dan kebiasaan untuk mengembangkannya. penelitian tentang pengaruh pelaksanaan
Kehidupan sehari-hari yang beraturan, standar asuhan keperawatan devisit
menjaga kebersihan tubuh, makanan yang perawatan diriterhadap kemandirian
sehat, banyak menghirup udara segar, personal hygiene pada pasien belum pernah
olahraga, istirahat cukup, merupakan syarat dilakukan (Wawancara Kepala Tata Usaha,
utama dan perlu mendapat perhatian 2015).
(Nuning, 2009). Sehingga timbul keinginan peneliti untuk
Pemeliharaan personal hygiene berarti mengetahui pengaruh penerapan asuhan
tindakan memelihara kebersihan dan keperawatan devisit perawatan diri terhadap
kesehatan diri seseorang untuk kesejahteraan kemandirian personal hygiene pada pasien
fisik dan psikisnya. Seseorang dikatakan di Ruangan Katrili dan Alabadiri RSJ. Prof.
memiliki personal hygiene baik apabila, Dr. V. L. Ratumbuysang Manado.
orang tersebut dapat menjaga kebersihan
tubuhnya yang meliputi kebersihan kulit, METODE PENELITIAN
gigi dan mulut, rambut, mata, hidung, dan Instrumen adalah sejumlah pertanyaan
telinga, kaki dan kuku, genitalia, serta tertulis yang digunakan untuk memperoleh
kebersihan dan kerapihan pakaiannya (Arif, informasi dari responden dalam arti laporan
2008). tentang pribadinya atau hal-hal yang ia
Penelitian yang dilakukan oleh Andayani ketahui (Nursalam, 2008). Penelitian ini
(2012), di Rumah Sakit Khusus Daerah menggunakan observasi sebagai instrument
Provinsi Sulawesi Selatan. Berdasarkan penelitian. Instrumen pada penelitian ini
hasil yang diperoleh jumlah responden yang menggunakan lembar observasi yang akan
devisit perawatan diri tinggi sebanyak 12 dilihat oleh peneliti kepada responden dalam
orang (20.0%) dimana yang personal hal ini adalah pasien devisit perawatan diri
hygiene baik sebanyak 7 orang (11.7%) dan yang berada di Ruangan Katrili dan Alabadiri
yang personal hygiene kurang sebanyak 5 RSJ Prof. Dr. V. L. Ratumbuysang Manado
orang, sedangkan responden yang defisit sebelum dan sesudah intervensi. Kemandirian
perawatan diri rendah sebanyak 48 orang personal hygiene diukur dengan
(80.0%) dimana personal hygiene baik menggunakan Indeks Aktivitas Sehari-hari
sebanyak 10 orang (16.7%) dan yang dari Barthel (Barthel Index of Activity Daily
personal hygiene kurang sebanyak 38 orang Living) dengan penetuan skor 14: mandiri,
(63.3%). Kesimpulan terdapat hubungan 10-13 Ketergantungan ringan, 7-9
antara defisit perawatan diri dengan Ketergantungan sedang, 4-6 Ketergantungan
personal hygiene pada pasien jiwa. berat, dan 0-3 Ketergantungan total.
Berdasarkan pendapat yang dikemukakan
oleh Castro (2010) devisit perawatan diri
adalah gangguan persepsi tentang suatu
objek atau gambaran. Hal ini menunjukkan
bahwa pengaruh pelaksanaan standard
asuhan keperawatan devisit perawatan diri
e Journal Keperawatan (e-Kp) Volume 4 Nomor 2, Juli 2016

HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN

Tabel 5.1 Distribusi responden Berdasarkan Berdasarkan hasil penelitian


Karakteristik Umur diketahui, bahwa umur responden yang
Karakteristik Umur Responden n % paling banyak adalah pada kelompok usia 20-
1. 20-30 tahun.` 11 40.7 30 tahun yaitu 11 responden (40.7%),
2. 31-40 tahun 9 33.3 kemudian umur 31-40 tahun yaitu 9
3. 41- 50 tahun 4 14.8 responden (33.3%), 41-50 tahun 4 responden
4. > 50 tahun. 3 11.2 (14.8%) dan paling sedikit > 50 tahun 3
Jumlah 27 100.0 responden (11.1%). (2001) usia berkaitan erat
dengan tingkat kedewasaan atau maturitas,
Tabel 5.2 Distribusi responden Personal yang berarti bahwa semakin meningkat usia
Hiegene Sebelum Tindakan seseorang, akan semakin meningkat pula
kedewasaannya atau kematangannya baik
Personal Hiegene Sebelum Jumla %
secara teknis, maupunpsikologis, serta akan
Tindakan h
semakin mampu melaksanakan tugasnya.
1. Ketergantungan Berat 7 25.9
Sementara untuk klien lansia (> 45 Tahun),
2. Ketergantungan Sedang 18 66.7
3. Ketergantungan Ringan 2 7.4 banyak peneliti gerontologis melakukan
Jumlah 27 100.0 penelitianterkait kesehatan dan pengetahuan
ilmiah sehubungan kesalahan stereotip
Tabel 5.3Distribusi responden Personal yangada. Beberapa kalangan mempercayai
Hiegene Sesudah Tindakan bahwa lansia berkurang pemahamannyadan
pelupa, bersikap kaku, membosankan, sering
Personal Hiegene Sebelum Jumlah %
sakit dan tidak menyenangkan.Akibatnya,
Tindakan
professional pelayanan kesehatan seringkali
1. Ketergantungan Berat 5 18.5
2. Ketergantungan 13 48.1 gagal memberikesempatan pendidikan
Sedang kesehatan bagi lansia karena mereka
3. Ketergantungan 9 33.4 salahmengasumsikan bahwa klien lansia
Ringan tidak dapat belajar menjaga diri
Jumlah 27 100.0 merekasendiri. Berdasarkan model perilaku
Green, usia merupakan salah satu faktor yang
Tabel 5.4 Pengaruh Penerapan Asuhan dapatmempengaruhi perilaku (Abdul, 2015).
Keperawatan Devisit Perawatan Diri A. Pengaruh Penerapan Asuhan Keperawatan
Terhadap Kemandirian Personal Higenepada Defisit Perawatan Diri Terhadap Personal
pasien di Ruangan Katrili Dan AlabadiriRSJ. Higene Pada Pasien di Ruangan Katrili dan
Prof. Dr. V. L. Ratumbuysang Manado Alabadiri RSJ Prof. Dr. V. L. Ratumbuysang
Manado
Pre Post Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh
Tingkat Kemandirian
n % n % peneliti sebelum dilakukan intervensi hasil
7 observasi tingkat kemandirian tentang
1 Ketergantungan Berat 5 18.5
25,9 personal hygiene pada klien ditemukan
Ketergantungan 18 1
2
Sedang 66,7 3
48.1 sebagian besar berada pada tingkat
ketergantungan sedang (66.7%),
3 Ketergantungan 2 7,4 9 33.4
Ringan ketergantungan berat (25.9%) dan
Tingkat Signifikan (α) =0,05 ketergantungan ringan (7.4%). Setelah
Nilai Asymp Sig (p-value)= 0,003 dilakukan intervensi penerapan asuhan
Z = -3,00
e Journal Keperawatan (e-Kp) Volume 4 Nomor 2, Juli 2016

keperawatan klien di observasi kembali dan kesembuhan yang lebih baik. Hal ini
hasil diperoleh tingkat ketergantungan berpengaruh terhadap keberhasilan
sedang (48.1%), ketergantungan berat komunikasi juga dijelaskan oleh Elis,
(18.5%), dan ketergantugan ringan (33.4%). Gates & Kenworhy, 2000 dalam
Berdasarkan hal hasil diatas bisa dilihat Ronosulistyo, 2010 bahwa: kejelasan
bahwa adanya pengaruh penerapan asuhan pesan yang disampaikan sangat
keperawatan, hal ini juga berdasarkan hasil berpengaruh terhadap komunikasi. Pesan
analisa data uji statistic wilcoxon yang membingungkan atau tidak jelas
menunjukan p-value=0,046 < α=0,05 maka akan membuat sasaran bingung sehingga
H1 diterima. Pengaruh yang sangat nyata tidak terjadi perubahan perilaku
antar sebelum dan sesudah perlakuan Selain asumsi yang diatas, peneliti
menurut asumsi penulis dikarenakan oleh: juga berasumsi bahwa penelitian ini bisa
isi pesan yang disampaikan dan kejelasan berpengaruh pada akhirnya dikarenakan
pesan yang disampaikan dan cara informasi yang disampaikan oleh perawat
komunikasi yang baik antara peneliti dan kepada klien sesuai dengan tujuan yaitu:
pasien sampai serta cara pendekatan yang mengembangakan pribadi klien ke arah
digunakan juga mendukung sehingga yang lebih positif atau adaptif dan
penelitian ini mendapatkan hasil yang sangat diarahkan pada pertumbuhan klien yang
signifikan. meliputi: realisasi diri, penerimaan diri,
Hal ini sesuai dengan dikemukakan peningkatan penghormatan diri,
oleh Thomas (2003) bahwa hasil kemampuan membina hubungan
informasi atau komunikasi akan lebih interpersonal yang tidak superficial dan
baik jika isi pesan besar manfaatnya bagi saling bergantung dengan orang lain,
kepentingan sasaran, pesan yang peningkatan fungsi dan kemampuan
disampaikan oleh peneliti harusnya dapat untuk memuaskan kebutuhan serta
memenuhi kebutuhan klien atau dapat mencapai tujuan yang realitis, rasa
memecahkan masalah klien. Isi pesan identitas personal yang jelas dan
yang memenuhi kebutuhan klien menurut peningkatan integritas diri (Ronosulistyo,
penulis sangatlah berpengaruh terhadap 2010).
hasil statistik tingkat kemandirian, Sebelum dilakukan asuhan
dimana ketika perawat bisa memenuhi keperawatan defisit perawatan diri pada
atau memecahkan masalah yang dihadapi pasien maka pasien akan semakin dan
klien, maka klien akan menerima dengan sangat bergantung pada perawat dalam
baik dan mengurangi masalah yang melakukan personal hygiene, disebabkan
dihadapi. karena perawat belum menyampaikan
Begitu juga kejelasan pesan yang informasi atau belum melatih pasien
disampaikan. Pesan yang jelas akan tentang cara menjaga kebersihan yang
membuat klien tidak bertanya-tanya baik. Setelah diberikan asuhan
terlalu banyak dalam memecahkan keperawatan defisit perawatan diri pada
masalah yang dihadapi, dan juga dalam pasien maka ketergantungan pasien
pengunaan bahasa yang dimengerti atau semakin menurun dikarenakan pasien
dipahami oleh klien sesuai dengan suka telah dilatih untuk mandiri.
atau bahasa daerah yang dimengerti.
Maka dengan demikian klien akan
memperhatikan dan mencermati apa yang
dikatakan perawat untuk proses
e Journal Keperawatan (e-Kp) Volume 4 Nomor 2, Juli 2016

SIMPULAN Arif, 2008. Asuhan Keperawatan Kien


Dengan Gangguan Persarafan. Hal: 224.
Berdasarkan hasil penelitian tentang EGC: Jakarta
judul Pengaruh Penerapan Asuhan Castro. 2010. Pengaruh Pelaksanaan Standar
Keperawatan Defisit Perawatan Diri Asuhan Keperawatan Defisit Perawatan
Terhadap Kemandirian Personal Hygiene Diri Terhadap Kebersihan Diri Di
Di Ruangan Katrili Dan Ruangan Ruangan Pusuk Buhit Rumah Sakit Jiwa
Alabadiri RSJ Prof. V. L. Ratumbuysang Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan.
Manado dapat disimpulkan sebagai Skripsi. Universitas Sumatera Utara
berikut: Depkes RI. 2012. Riset Kesehatan Dasar
1. Umur pasien sebagian besar berada Gangguan Jiwa. Dalam
pada kategori umur 20 tahun-30 tahun hhtp//www.google. di akses tanggal 21
2. Tingkat kemandirian personal hygiene Oktober 2015; 13.10 wita
pada pasien sebelum diberikan Imbalo. 2007. Jaminan Mutu Layanan
intervensi menunjukan paling banyak Kesehatan. Jakarta
berada pada kategori ketergantungan Nasution. 2013. Asuhan Keperawatan pada
sedang. Pasien dengan Penerapan Personal
3. Tingkat kemandirian personal hygiene Higene. Dalam
pada pasien sesudah diberikan http://www.nersgun.multiply.multiply
intervensi menunjukan paling banyak content.com 20 Oktober 2015
berada pada kategori ketergantungan Nursaam. 2008. Aplikasi
sedang Keperawatan.Gramedia. Jakarta
4. Adanya pengaruh penerapan asuhan Nuning, 2009. Carring & Communicating.
keperawatan devisit perawatan diri EGC: Jakarta.
terhadap kemandirian personal Profil. 2015. RSJ Prof. Dr. V. L.
hygiene pada pasien di Ruangan Ratumbuysang Manado. Jumlah Pasien
Katrili dan Alabadiri RSJ. Prof. Dr. Halusinasi
V. L. Ratumbuysang Manado Petrus. 1995. Catatan Kuliah Psikiatri. EGC:
(p=0,003< α=0,05) Jakarta
Rahmadani. 2013. Pelayanan dan Penerapan
DAFTAR PUSTAKA Asuhan Keperawatan Klien dengan
Harga Diri Rendah dan Devisit
Abdul. 2015. Pendidikan Perawatan Diri di Ruang Sipiso-pisao
Keperawatan Jiwa: Yogyakarta Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi.
Achir, 2009. Asuhan Keperawatan Skripsi. Sumatera Utara Medan.
Kesehatan Jiwa: EGC: Jakarta Riskesdas,. 2013. Riset Kesehatan Dasar
Andayani. 2012. Hubungan Gangguan Jiwa. Dalam
Karateristik Klien Skizofernia hhtp//www.google. di akses tanggal 21
Dengan Tingkat Kemampuan Oktober 2015; 13.10 wita
Perawatan Diri di Ruan Rawat Ronosulistyo. 2010. Penderita gangguan
Inap Psikiatri Wanita Rumah jiwa di Indonesia. Dalam
Sakit Marzoeki Mahdi Bogor. http://newspaper.pikiranrakyat.com/prpri
Universitas Indonesia. Fakultas nt.php?mib=beritadetail&id=491 78. di
Keperawatan. akses tanggal 20 Oktober 2015; 13.10
wita
e Journal Keperawatan (e-Kp) Volume 4 Nomor 2, Juli 2016

Sunaryo. 2002. Psikiatri Dalam


Keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika
Thomas. 2013. Asuhan Keperawatan Jiwa.
Edisi I. Yogyakarta
Zakiyah. 2014. Pengaruh Cognitive
Behaviour Therapy Terhadap Defisit
Perawatan Diri Pasien Di Rumah
Sakit Jiwa Pempropsu Medan. Tidak
dipulikasikan
Wilkinson. 2010. Pengaruh Terapi Aktivitas
Kelompok terhadap Kemandirian
Personal Hiegene Pasien Devisit
Perawatan Diri. Dalam
http://skripsi.umm.ac.id/19 Mei 2010.
Diakses tanggal 19 Oktober 2015.
WHO. 2013. Perilaku Kekerasan Dan
Defisit Perawatan Diri. Dalam
http://perilaku-kekerasan.htm.
Diakses tanggal 21 Oktober 2015;
13.00 wita