You are on page 1of 5

A.

Analisis Situasi
Difteri adalah penyakit akut yang disebabkan oleh Corynebacterium diphtheria,
suatu bakteri Gram positif fakultatif anaerob. Penyakit ini ditandai dengan sakit tenggorokan,
demam, malaise dan pada pemeriksaan ditemukan pseudomembran pada tonsil, faring, dan /
atau rongga hidung. Difteri merupakan penyakit yang mudah menular dan menyerang
terutama saluran nafas bagian atas dengan tanda khas berupa pseudomembran dan
dilepaskannya eksotoksin yang dapat menimbulkan gejala umum dan local. Difteri
mempunyai masa tunas 2-6 hari.
Difteri ditularkan melalui kontak langsung atau droplet dari penderita. Pemeriksaan
khas menunjukkan pseudomembran tampak kotor dan berwarna putih keabuan yang dapat
menyebabkan penyumbatan karena peradangan tonsil dan meluas ke struktur yang
berdekatan sehingga dapat menyebabkan bull neck. Membran mudah berdarah apabila
dilakukan pengangkatan.
Penyakit ini muncul terutama pada bulan-bulan dimana temperature lebih dingin di
negara subtropis, terutama menyerang anak-anak berunur di bawah 15 tahun yang belum
diimunisasi. Sering juga dijumpai pada kelompok remaja yang tidak diimunisasi. Di negara
tropis, dimana variasi musim kurang jelas yang sering terjadi adalah infeksi subklinis dan
difteri kulit. Sebelum era vaksinasi, difteri merupakaan penyakit yang sering menyebabkan
kematian. Namun, sejak mulai diadakannya program imunisasi DPT (Indonesia pada tahun
1974), maka kasus dan kematian difteri berkurang sangat banyak.
Kasus difteri di Sidoarjo pada tahun 2011 mengalami peningkatan 123,5%
dibandingkan tahun 2010 yaitu dari 17 penderita menjadi 38 penderita pada tahun 2011.
Sedangkan jumlah kasus difteri pada tahun 2010 mengalami peningkatan 41% dibandingkan
pada tahun 2009 yaitu 12 penderita menjadi 17 penderita di tahun 2010. Pada tahun 2012
mengalami peningkatan dibandingkan pada tahun 2011 yaitu 38 penderita menjadi 41
penderita di tahun 2012 (Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, 2012). Jumlah kasus difteri di
Sidoarjo sejak pada tahun 2013 sebanyak 41 penderita/3 kematian. Pada tahun 2014 sejak 1
Januari hingga 28 Februari terdapat 3 penderita difteri. Jumlah puskesmas yang ada di
Kabupaten Sidoarjo terdapat 26 puskesmas yang mana 18 puskesmas terdapat kasus difteri.
Puskesmas Sidoarjo memiliki jumlah penderita difteri terbanyak dibandingkan Puskesmas
lainnya yaitu sebanyak 9 penderita difteri.
B. Identifikasi Masalah
Proses penemuan kasus difteri dimulai dengan menegakkan diagnosa yaitu dengan
mengklasifikasikan dalam kasus probable dan kasus konfirmasi. Kasus probable adalah
kasus yang menunjukkan gejala-gejala demam, sakit menelan, selaput putih pada
tenggorokan (pseudomembrane), sering leher membengkak dan sesak nafas disertai bunyi
(stridor). Kasus konfirmasi adalah kasus probable yang disertai hasil konfirmasi laboratorium
positif Corynebacterium diphtheria atau ada hubungan epidemiologi dengan kasus
konfirmasi yang lain.
C. Prioritas Masalah
Masalah Urgensi Keseriusan Growth Total
Masalah Pengetahuan 4 3 2 9

Masalah Dukungan 3 3 2 8
Masyarakat
Masalah Kepadatan Penduduk 3 2 2 7
Prioritas masalah penyakit difteri adalah pengetahuan yang totalnya sebanyak 9.
Karena kurangnya pengetahuan masyarakat terlebih orang. Jika semakin tinggi tingkat
pendidikan seorang ibu maka makin besar peluang untuk meningkatkan derajat kesehatan
dalam keluarga khusunya memperhatikan pola hidup bersih sehat serta memperhatikan
imunisasi pada anak. Kemudian prioritas masalah kedua yaitu dukungan masyarakat yang
totalnya sebanyak 8. sebagian besar tokoh masyarakat kurang ikut berpatisipasi dalam
memberikan dukungan kepada kegiatan para kader posyandu dalam memberikan penyuluhan
di posyandu. Prioritas masalah yang ketiga adalah kepadatan penduduk yang totalnya
sebantak 7. kepadatan penduduk yang tinggi menunjukkan jumlah penyakit difteri sangat
tinggi. Semakin banyak penduduk, kemungkinan besar peluang untuk masyarakat sekitar
tertular penyakit difteri.
D. Tujuan Program
Tujuan pengobatan penderita difteria adalah menginaktivasi toksin yang belum
terikat secepatnya, mencegah dan mengusahakan agar penyulit yang terjadi minimal,
mengeliminasi C. diptheriae untuk mencegah penularan serta mengobati infeksi penyerta dan
penyulit difteria.
Puskesmas Sidoarjo telah melakukan penanggulangan kasus difteri untuk
menurunkan angka kesakitan dan kematian. Dengan menganalisis faktor yang berhubungan
dengan peran aktif kader dalam menjaring kasus probable difteri di Puskesmas Sidoarjo.
E. Alternatif Pemecahan Masalah
Setelah seorang anak menderita difteri, kekebalan terhadap penyakit ini sangat
rendah sehingga perlu imunisasi. Pencegahan secara khusus terdiri dari imunisasi DPT dan
pengobatan karier. Imunitas pasif diperoleh secara transplasental dari ibu yang kebal
terhadap difteria sampai 6 bulan dan suntikan antitoksin yang dapat bertahan selama 2-3
minggu. Imunitas aktif diperoleh setelah menderita aktif yang nyata atau inapparent infection
serta imunisasi. toksoid difteria. Imunisasi DPT sangat penting untuk mempertahankan kadar
antibodi tetap tinggi diatas ambang pencegahan dan imunisasi ulangan sangat diperlukan
agar lima kali imunisasi sebelum usia 6 tahun. Imunitas terhadap difteria dapat diukur dengan
uji Schick dan uji Moloney. Apabila belum pernah mendapat DPT, diberikan imunisasi
primer DPT tiga kali dengan interval masing-masing 4-6 minggu. Apabila imunisasi belum
lengkap segera dilengkapi (lanjutkan dengan imunisasi yang belum diberikan, tidak perlu
diulang), dan yang telah lengkap imunisasi primer (<1 tahun) perlu dilakukan imunisasi DPT
ulangan umur 18 bulan dan 5 tahun. DPT-HB-Hib untuk anak usia <5 tahun, DT untuk anak
usia 5 tahun sampai <7 tahun serta Td untuk usia 7 tahun keatas.
Imunisasi merupakan salah satu preventif yang paling sukses dan hemat biaya,
mencegah jutaan kematian setiap tahun. manfaat imunisasi tidak hanya pada anak-anak saja
namun imunisasi semakin sering diperluas untuk remaja dan orang dewasa, memberikan
perlindungan terhadap penyakit yang mengancam kehidupan. Masih rendahnya pengetahuan
ibu terkait Sub PIN Difteri dan penyakit difteri menjadi evaluasi berbagai pihak terhadap
dampak cakupan Sub PIN Difteri yang rendah.
F. Pengambilan Keputusan
Dalam hal pengambilan keputusan, pemerintah dan petugas kesehatan sangat
berpengaruh. Salah satu upaya pemeritah dalam menanggulangi tingginya kasus difteri maka
dilakukan kegiatan sub PIN difteri. Sub PIN Difteri merupakan imunisasi tambahan yang
kegiatannya serupa dengan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dan dilaksanakan di wilayah
yang terbatas yaitu beberapa provinsi dan kabupaten/kota (Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi). Tidak
semua kabupaten dan kota di Jawa Timur melaksanakan program tersebut. Hal tersebut
dikarenakan terbatasnya dana dan pertimbangan epidemiologis. Kabupaten dan kota yang
terpilih melaksanakan sub PIN difteri didasarkan pada tingginya kasus difteri dan adanya
kematian akibat penyakit difteri. Kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Timur yang terpilih
dalam pelaksanaan program sub PIN difteri ada 19. Kabupaten dan kota tersebut meliputi
Kota Madiun, Madiun, Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Jember, Kota Probolinggo,
Probolinggo, Kota Pasuruan, Pasuruan, Jombang, Kota Mojokerto, Mojokerto, Sidoarjo,
Bangkalan, Sumenep, dan Surabaya.
G. Rencana Operasional
Peran kader terhadap kasus probable difteri di puskesmas Sidoarjo didukung
dengan adanya pelatihan kader yang diadakan. Hasil ini menunjukkan bahwa kegiatan
pelatihan yang diadakan oleh puskesmas mampu mengefektifkan peran kader dalam
memberikan penyuluhan kepada masyarakat pelatihan tersebut dapat menambah pengetahuan
dan wawasan serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
H. Pelaksanaan dan Penggerakan
Waktu pelaksanaan dilakukan pada bulan Oktober 2013-Juli 2014. Dengan
pengumpulan data primer dilakukan dengan cara membagikan kuesioner kepada responden
yang kuesionernya berupa pertanyaan-pertanyaan terbuka (open ended question) yang
digunakan untuk mendapatkan biodata responden. Dapat diketahui bahwa peran kader
terhadap kasus probable difteri di puskesmas Sidoarjo kriteria aktif sebagian besar dilakukan
oleh kader yang mengetahui tentang difteri dan tujuan dibentuknya kader dalam posyandu.
Menurut asumsi peneliti bahwa dalam meningkatkan pengetahuan biasanya diperoleh dari
pengalaman yang berasal dari berbagai sumber misalnya media masa, elektronik, buku
petunjuk, petugas kesehatan, media poster, dan sebagainya. rata-rata para kader dapat
mengenali gejala difteri serta menemukan kasus probable difteri yang diikuti dengan
pencatatan dan pelaporan, sehingga melakukan kunjungan rumah bagi warga yang terjangkit
kasus probable difteri dan memberikan motivasi kepada ibu balita untuk rujukan ke
puskesmas dan pencegahan difteri.
I. Pemantauan