You are on page 1of 27

TUGAS INDIVIDU

RESUME KEPERAWATAN METERNITAS

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Maternitas

Dosen pengampu : Ns.Yuni Astuti, M.Kep

Disusun Oleh :

NAMA : AVIONITA RISMA E

NIM : 16.013

PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN

AKADEMI KEPERAWATAN KESDAM IV/DIPONEGORO

SEMARANG

2018
A. ANATOMI DAN FISOLOGI STRUKTUR /ORGAN REPRODUKSI WANITA

Alat Genetalia (Reproduksi) wanita bagian luar


a. Vulva
Vulva merupakan nama yang diberikan untuk stuktur genetalia eksterna, yang artinya
penutup atau pembungkus.vulva membentang dari mons pubis di sebelah anterior
hingga perineum di sebelah posterior dan pada masing-masing sisinya dibatasi oleh
labia mayora. Dalam batas-batas vestibulum, merupakan muara orifiium uretra serta
otifium vagina dan dan juga muara saluran kelenjar parautretralis (skene) serta
bartholini
b. Mons Veneris
Mons Veneris (tudun) merupakan bagian yang menonjol dibagian depan sifinisis,
terdiri atas jaringan lemak dan sedikit jaringan ikat. Setelah dewasa tertutup oleh
rambut yang bentuknya segitiga. Mons Veneris berfungsi sebagai bantal pada waktu
melakukan hubungan seksual. Kulit mons veneris mengandung kelenjar keringat yang
khusu dan sekresi kelenjar tersebut akan memberikan aroma yang khas. Sekresi ini
dianggap mempunyai makna seksual pada laki-laki.
c. Labia Mayora (Bibir Besar Kemaluan)
Labia mayora merupakan kelanjutan dari mons veneris, berbentuk lonjong. Labia
mayora ada dua bagian, kiri dan kanan dengan panjang 7,5cm.
Kedua labia ini bertemu membentuk perineum. Permukaan labia mayora terdiri atas :
1) Bagian luar : tertutup rambut, yang merupakan kelanjutan dari rambut pada
mons veneris.
2) Bagian dalam : tanpa rambut, merupakan selaput yang mengandung
kelenjar sebasea (lemak)
Berfungsi untuk menutupi organ-organ genetalia di dalamnya dan
mengeluarkan cairan pelumas pada saat menerima rangsangan.
d. Labia Minora atau Nimfae (bibir kecil)
Merupakan lipatan di bagian dalam bibir besar, tanpa rambut. Dibagian atas
klitoris, bibir kecil bertemu membentuk prepusium klitoridis dan di bagian
bawahnya bertemu membentuk frenulum klitoridis. Bibir kecil ini mengelilingi
orifisium vagina.
e. Clitoris (kelentit/ jaringan yang berisi saraf)
Merupakan sebuah jaringan erektil kecil yang serupa dengan penis laki-laki.
Mengandung banyak urat-urat syaraf sensoris dan pembuluh-pembuluh darah
sehingga sangat peka. Letaknya anterior dalam vestibula. Berfungsi untuk menutupi
orga-organ genetalia di dalamnya serta merupakan daerah erotik yang mengandung
pambuluh darah dan syaraf.
f. Vestibulum (muara vagina)
Merupakan alat reproduksi bagian luar yang dibatasi oleh kedua bibir kecil,
bagian atas klitoris, bagian belakang (bawah) pertemuan kedua bibir kecil. Pada
vestibulum terdapat muara uretra, dua lubang saluran kelenjar Bartholini, dua
lubang saluran Skene. Berfungsi untuk mengeluarkan cairan yang berguna untuk
melumasi vagina pada saat bersenggama.
g.Kelenjar Bartholini (kelenjar lendir)
Merupakan kelenjar terpenting di daerah vulva dan vagina karena dapat
mengeluarkan lendir. Pengeluaran lendir meningkat saat hubungan seks, dan
salurannya keluar antara himen dan labia minora.
h.Hymen (selaput dara)
Merupakan jaringan yang menutupi lubang vagina, bersifat rapuh dan mudah
robek. Himen ini berlubang sehingga menjadi saluran dari lendir yang dikeluarkan
uterus dan darah saat menstruasi. Bila himen tertutup seluruhnya disebut hymen
imperforata dan menimbulkan gejala klinik setelah mendapat menstruasi.
i. Lubang kencing (orifisium uretra externa)
Tempat keluarnya air kencing yang terletak dibawah klitoris. Fungsinya
sebagai saluran untuk keluarnya air kencing.
j. Perineum (jarak vulva dan anus)
Terletak diantara vulva dan anus, panjangnya kurang lebih 4cm.Terdapat otot-
otot yang penting yaitu sfingter anus eksterna dan interna serta dipersyarafi oleh
saraf pudendus dan cabang-cabangnya.
1. Genetalia Interna (bagian dalam)

Genetalia interna antara kandung terdiri dari :


a. Vagina (liang senggama)
Merupakan saluran muskulo-membraneus yang menghubungkan uterus
dengan vulva. Jaringan muskulusnya merupakan kelanjutan dari muskulus sfingter
ani dan muskulus levator ani, oleh karena itu dapat dikendalikan. Vagina terletak
di antara kandung kemih dan rektum. Panjang bagian depannya sekitar 9 cm dan
dinding belakangnya sekitar 11 cm. Pada dinding vagina terdapat lipatan-lipatan
melintang disebur rugae dan terutama di bagian bawah. Pada puncak (ujung)
vagina, menonjol serviks bagian dari uterus. Bagian serviks yang menonjol ke
dalam vagina disebut porsio. Porsio uteri membagi puncak vagina menjadi forniks
anterior (depan), forniks posterior (belakang),forniks dekstra (kanan), forniks
sinistra (kiri). Sel dinding vagina mengandung banyak glikogen yang
menghasilkan asam susu dengan PH 4,5. Keasaman vagina memberikan proteksi
terhadap infeksi. Fungsi utama vagina adalah:
1) sebagai saluran keluar dari uterus yang dapat mengalirkan darah pada waktu
haid dan sekret dari uterus.
2) sebagai alat persetubuhan.
3) sebagai jalan lahir pada waktu partus.
b. Uterus (rahim)
Uterus adalah organ yang tebal, berotot, berbentuk buah pir, terletak di dalam
pelvis (panggul), antara rektum di belakang dan kandung kencing di depan.
Berfungsi sebagai tempat calon bayi dibesarkan. Bentuknya seperti buah alpukat
dengan berat normal 30-50 gram. Pada saat tidak hamil, besar rahim kurang lebih
sebesar telur ayam kampung. Diding rahim terdiri dari 3 lapisan :
1) Peritoneum
Yang meliputi dinding uterus bagian luar, dan merupakan penebalan
yang diisi jaringan ikat dan pembuluh darah limfe dan urat saraf. Bagian
ini meliputi tuba dan mencapai dinding abdomen (perut).
2) Myometrium
Merupakan lapisan yang paling tebal, terdiri dari otot polos yang
disusun sedemikian rupa hingga dapat mendorong isinya keluar saat proses
persalinan.Diantara serabut-serabut otot terdapat pembuluh darah,
pembulh lymfe dan urat syaraf.
3) Endometrium
Merupakan lapisan terdalam dari uterus yang akan menebal untuk
mempersiapkan jika terjadi pembuahan. Tebalnya sususnannya dan
faalnya berubah secara siklis karena dipengaruhi hormon-hormon ovarium.
Dalam kehamilan endometrium berubah menjadi decidua.
Fungsi uterus yaitu untuk menahan ovum yang telah di buahi selama
perkembangan. Sebutir ovum, sesudah keluar dari ovarium, diantarkan
melalui tuba uterina ke uterus. (pembuahan ovum secara normal terjadi di
dalam tuba uterina). Endometrium disiapkan untuk penerimaan ovum yang
telah dibuahi itu dan ovum itu sekarang tertanam di dalamnya. Sewaktu
hamil, yang secara normal berlangsung selama kira-kira 40 minggu, uterus
bertambah besar, dindingnya menjadi tipis, tetapi lebih kuat dan membesar
sampai keluar pelvis masuk ke dalam rongga abdomen pada masa
pertumbuhan fetus.
Pada waktu saatnya tiba dan mulas tanda melahirkan mulai, uterus
berkontraksi secara ritmis dan mendorong bayi dan plasenta keluar
kemudian kembali ke ukuran normalnya melalui proses yang dikenal
sebagai involusi.
c. Tuba Uterina (saluran telur)
Tuba uterina atau saluran telur, terdapat pada tepi atas ligamentum latum,
berjalan ke arah lateral, mulai dari ostium tuba internum pada dinding rahim.Tuba
fallopi merupakan tubulo muskular, dengan panjang sekitar 12 cm dan diametrnya
3 dan 8 mm. Tuba fallopi terbagi menjadi 4 bagian:
1) Pars interstitialis (intramularis), terletak di antara otot rahim, mulai dari
ostium internum tuba.
2) Pars isthmika tuba, bagian tuba yang berada di luar uterus dan merupakan
bagian yang paling sempit.
3) Pars ampularis tuba, bagian tuba yang paling luas dan berbentuk S
4) Pars infundibulo tuba, bagian akhir tubae yang memiliki umbai yang
disebut fimbriae tuba.
Fungsi tuba fallopi sangat penting, yaitu untuk menangkap ovum yang
dilepaskan saat ovulasi, sebagai saluran dari spermatozoa ovum dan hasil
konsepsi,tempat terjadinya konsepsi, dan tempat pertumbuhan dan perkembangan
hasil konsepsi sampai mencapai bentuk blastula, yang siap mengadakan
implantasi.
d. Ovarium (indung telur)
Ovarium adalah kelenjar berbentuk buah kenari, terletak di kanan dan kiri
uterus, di bawah tuba uterina, dan terikat di sebelah belakang oleh ligamentum
latum uteri. Ovarium berisi sejumlah besar ovum belum matang, yang disebut
oosit primer. Setiap oosit dikelilingi sekelompok sel folikel pemberi makanan.
Pada setiap siklus haid sebuah dari ovum primitif ini mulai mematang dan
kemudian cepat berkembang menjadi folikel ovari yang vesikuler (folikel Graaf).
Sewaktu folikel Graff berkembang, perubahan terjadi di dalam sel-sel ini, dan
cairan likuor folikuli memisahkan sel-sel dari membran granulosa menjadi
beberapa lapis. Pada tahap inilah dikeluarkan hormon estrogen. Pada masa folikel
Graff mendekati pengembangan penuh atau pematangan, letaknya dekat
permukaan ovarium, dan menjadi makin mekar karena cairan, sehingga
membenjol, seperti pembengkakan yang menyerupai kista pada permukaan
ovarium. Tekanan dari dalam folikel menyebabkannya sobek dan cairan serta
ovum lepas melalui rongga peritoneal masuk ke dalam lubang yang berbentuk
corong dari tuba uterina. Setiap bulan sebuah folikel berkembang dan sebuah
ovum dilepaskan dan dikeluarkan pada saat kira-kira pertengahan (hari ke-14)
siklus menstruasi.
B. ANATOMI DAN FISOLOGI STRUKTUR/ORGAN REPRODUKSI PRIA

Struktur reproduksi pria terdiri atas penis, testis dalam kantong skrotum, system duktus yang
membuat epidimis, vas deferns, duktus ejakulatorius, dan uretra, serta glandula asesoria yang
terdapat vesika seminalis, kelenjar prostat, dan kelenjar bulbouretralis.

a. Penis
Penis terdiri atas tiga masa jaringan erektil berbentuk silinder memanjang yang
memberi bentuk pada penis. Lapisan dalamnya adalah korpus kavernosum. Ujung
distal testis dikenal sebagai glands, ditutupi oleh prepusium (kulup). Prepusium dapat
dilepas dengan pembedahaan (sirkumisi,sunat).
Penis merupakan jaringan erektil yang berfungsi sebagai deposit sperma
dalam hubungan seksual sehingga dapat di tamping dalam liang sanggama. Penis juga
merupakan alat yang pentinga dalam hubungan seks, baik untuk skresi maupun
prokreasi.
b. Testis
Testis disebut juga buah bakar zakar yang membungkus dengan skortum. Testis
merupakan bagian dalam organ reproduksi pria yang berisi lobus-lobus yang terdiri
atas tubulus seminiferous, sel-sel sertoli, dan sel-sel leydig :
Fungsi testis adalah sebagai berikut :
1. Pembentukan sperma (spermatozoa) dibagian tubulus seminiferous, yaitu bibit
dari pria dengan jumlah yang sangat banyak.spermatozoa yang telah dibentuk
akan disimpan pada saluran testis untuk menammpungnya karena spermatozoa
tidak tahan panas dan tidak tahan suhu terlalu dingin. Kulit skotum yang longgar
digunakan untuk mengatur suhu sehingga panas di sekitar spermatozoa relative
tetap.
2. Pembentukan hormone androgen (testoteron)
c. Duktus Epididimis
Duktus epididymis merupakan saluran dengan panjang 6cm, yang berfungsi sebagai
tabung tempat lewatnya sperma saat dikeluarkan dari testis
d. Kelenjar prostat
Kelenjar prostat merupakan kelenjar pembentukan cairan yang akan bersama-sam
keluar saat ejakulasi dalam dalam hubungan seksual. Kelenjar ini berbeda di dalam
organ reproduksi pria, yang seminalis untuk melindungi sperma dari asam disekitar
vagina dan tahanan yang datangnya dari eksternal organ reproduksi.
e. Bulbouretralis
Burbouretralis merupakan alat reproduksi pria yang berfungsi mengeluarkan mucus
sebagai alat pelumas saat ejakulasi
f. Vesikal seminalis
Vesikal seminalis merupakan kelanjutan dari saluran epididymis yang dapat diraba
dari luar. Duktus defers berukuran 50-60cm yang berfungsi sebagai jalur keluarnya
sperma.

PERISTIWA FISIOLOGIS PADA SISTEM REPRODUKSI PRIA


Fungsi primer dari system reproduksi pria adalah menghasilkan spermatozoa yang
matang dan menempatkan sperma dalam saluran reproduksi wanita melalui
sanggama.testis mempunyai fungsi eksokrin dalam spermatogenesis dan fungsi
endokrin untuk menyekresi hormon-hormon seks yang mengendalikan perkembangan
dan fungsi seksual.
Fungsi Endokrin : sekresi Hormon
Semua fungsi dari system reproduksi pria diatur melalui interaksi hormonal yang
kompleks pusat pengendalian hormonal dari sitem reprodiuksi adalah hipotalamus-
hipofisis yang berada dibawah pengaruh berbagai hal sperti keturunan, rangsangan,
kejiwaan dan kadar hormonalyang bersirkulasi. Hipotalamus memproduksi
gonadotropic releasing hormone (GnRH). Hormon-hormon gonodrotropin diskersi
dalam kadar yang tetap pada pria. Selanjutnya hormone ini menghasilkan hormone-
hormon yang disebut fosicle stimulating hormone (FSH) dan luteteinizing releasing
(LH). Keduanya dibawa ke hipofisis anterior untuk merangsang FSH dan LH, yang
pada pria umumnya dikenal sebagai interstitial cel stimulating hormone (ICSH).
Produksi testoteron oleh sel-sel interstisial leyding pada pria akan meningkat
pada pubertas. Awal pubertas ditandai dengan meningkatnya kadar hormone ICSH.
Kadar yang tinggi ini akan menyebabkan meningkatnya produksi testeteron oleh
testis.
Selanjutnya hormone testoteron mengarahkan dan mengatur ciri-ciri tubuh
pria yaitu sebagian berikut.
1. Perkembangan testis
2. Perkembangan ciri seksual primer dan sekunder
3. Spermatogenesis

Estron dan estradiol juga diproduksi dan berasal dari konvensi testoteron yang dibuat
oleh adrenal dan testi. Perubahan yang paling menonjol adalah perubahan dalam tinggi dan
berat badan, serta ciri-ciri seksual sekunder. Puncak pertumbuhan pria adalah pada usia 14
tahun. Ciri-ciri seksual sekunder yang muncul paling awal adalah bertambahnya ukuran testis
dan skortum seta penis. Perkembanagn testis disebabkan oleh bertambahanya
tubulusseminiferus dan jumlah sel leydig serta sertolini. Perkembangan genetalia untuk
mencapai ukuran dan bentuk dewasa membutuhkan waktu 5-6tahun. Ciri-ciri seksual primer
mencapai kematangan fungsi reproduksinya, dengan menghasilkan sperma hidup .

Fungsi Eksokrin : spermatogenesis

Spermatogenesis dimulai sejak pubertas dan berlangsung seumur hidup. Sel-sel benih di
tubulus seminiferous yaitu spermatogonia mulai berproliferasi. Sebagian tetap menjadi
spermatogonia dan sebagian lainya berjalan ke lumen dari tubulus dan membesar menjadi
spermatogia primer. Dengan demikian 1 spermatogonia menghasilkan 4 sperma .setelah itu
tidak terjadi pembelahan, dan masing-masing spermatida akan menjalani pematangan
menjadi sperma yang lengkap dengan bagian kepla, leher,badan dan ekor.

Spermatogenesisi berlangsung terus sepanjangkehidupan. Setelah masa pubertas


sperma disimpan diepididimis dan vas deferens dan kesuburannya dapat bertahan sampai 42
hari. Jika oleh tubuh. Selama senggama atau terjadi ejakulasi diperkirakan spermatozoa akan
diserap sperma paling lama dapat bertahan selama 24-72 jam dalam suhu tubuh. Semen dapat
disimpan selama beberapa tahun pada suhu yang berlebih rendah.

Fungsi Tekstikular

Pada embrio, antigen H-Y yang dihasilkan oleh kromosom Y menyebabkan proses
deferensiasi sel-sel sertolini. Sel-sel ini akan mengatur distribusi sel benih pada
perkembangan janin dan menyekresi mullerian inhibiting subtansce (MIS) yang akan
menyebabkan regresi dari duktus mulleri.

Proses pematangan sel leydig dikendalikan oleh kromosom Y dan dirangsang oleh
ICSH. Sel leydig akan mengahasilkan testeron yang menyebabkan proses diferensiasi vas
deferens dan vesika seminalis. Selsms 6 bulan pertama kehidupan, sel ledig terus
mengasilakan testeron dengan kadar rendah. Pada masa pubertas FSH akan merangsang
pertumbuhan testikuler dan testis akan memulai fungsi pria dewasa. ICSH akan merangsang
sel ledig untuk mengasilkan testoteron, dihidrotestoteron/ DHT, estra diol. Selanjutnya FSH
akan merangsakan sel sertolini supaya proses spermatogenesis dapat berlangsung sempurna.
Dengan demikian, baik FSHdan ICSH harus dilepaskan oleh hipofisis anterior agar
spermatogenesis dapat berlangsung selanjutnya testeron,,DHT, estradiol dan zat yang di
sekresi oleh tubular akan menghambat sekresi ICHS dan FSH sehingga akan terjadi umpan
balik yang mengatur kadar testoteron dalam.

C. PROSES TERJADINYA MENSTRUASI PADA PEREMPUAN

Menstruasi adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai
pelepasan endometrium. (Sarwono, 2007)
Menstruasi atau haid mengacu pada pengeluaran darah dan sel-sel secara periodik
melalui vagina yang berasal dari dinding rahim wanita. (Maulana, 2008)

Menstruasi adalah situasi pelepasan endometrium dalam bentuk serpihan dan


perdarahan akibat pengeluaran hormone estrogen dan progesterone yang turun dan
berhenti sehingga terjadi vasokontriksi pembuluh darah yang segera diikuti vasodilatasi.
(Manuaba, 2009)

Menstruasi adalah perdarahan secara periodik dimana darah berasal dari endometrium
yang nekrotik. (Kusmiyati, dkk, 2008)

Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai


dengan perdarahan dan terjadi setiap bulannya kecuali pada saat kehamilan.
Menstruasi yang terjadi setiap bulan secara terus menerus disebut sebagai siklus
menstruasi. Menstruasi biasanya terjadi pada usia 11 tahun dan berlangsung hingga
menopause (sekitar usia 45- 55 tahun). Normalnya menstruasi berlangsung selama 3-7
hari.Siklus menstruasi bervariasi pada tiap wanita dan hampir 90% wanita memiliki
siklus 25-35 hari dan hanya 10-15% yang memiliki panjang siklus 28 hari, namun
beberapa wanita memiliki siklus yang tidak teratur dan hal ini bisa menjadi indikasi
adanya masalah kesuburan. Panjang siklus menstruasi dihitung dari hari pertama
periode menstruasi sampai hari dimana perdarahan dimulai disebut sebagai hari
pertama yang kemudian dihitung sampai dengan hari terakhir yaitu satu hari sebelum
perdarahan menstruasi bulan berikutnya dimulai.
Menstruasi merupakan bagian dari proses reguler yang mempersiapkan tubuh
wanita setiap bulannya untuk kehamilan. Daur ini melibatkan beberapa tahap yang
dikendalikan oleh interaksi hormon yang dikeluarkan hipotalamus, kelenjar dibawah
otak depan dan indung telur. Pada permulaan daur , lapisan sel rahim mulai
berkembang dan menebal. Lapisan ini berperan sebagai penyokong bagi janin yang
sedang tumbuh bila wanita tersebut hamil. Hormon memberi sinyal pada telur
didalam indung telur untuk mulai berkembang. Tak lama kemudian, sebuah telur
dilepaskan dari indung telur wanita dan mulai bergerak menuju tuba falopii dan
menuju ke rahim. Bila telur tidak dibuahi oleh sperma pada saat berhubungan intim,
lapisan rahim akan berpisah dari dinding dan mulai luruh serta akan dikeluarkan
melalui vagina. Periode pengeluaran darah dikenal sebagai periode menstruasi yang
berlangsung srkitar 3-7 hari. Bila seorang wanita mengalami kehamilan maka,
menstruasi bulanannya akan berhenti. Oleh karena itu, menghilangnya menstruasi
bulanan merupakan tanda (walaupun tidak selalu) bahwa seorang wanita sedang
hamil. kehamilan dapat di konfirmasi dengan pemeriksaan darah sederhana.
SIKLUS MENSTRUASI
Siklus menstruasi normal dapat dibagi menjadi 2 segmen yaitu, siklus
ovarium(indug telur) dan siklus uterus (rahim). Siklus indung telur terbagi menjadi 3
bagian, yaitu siklus folikuler, siklus ovulasi dan siklus luteal, sedangkan siklus uterus
dibagi menjadi 4 fase, yaitu: fase menstruasi, fase post menstruasi fase intermenstruum
dan fase pramenstruum.
Perubahan didalam rahim merupakan respon terhadap perubahan hormonal. Rahim
terdiri atas 3 lapisan yaitu, perimetrium (lapisan terluar rahim), miometrium (lapisan otot
rahim yang terletak dibagian tengah) dan endometrium (lapisan terdalam rahim).
Endometrium adalah lapisan yang berperan di dalam siklus menstruasi. Siklus menstruasi
dapat ditinjau dari uterus maupun ovarium sebagai berikut :
a. Siklus uterusSiklus uterus berupa pertumbuhan dan pengelupasan bagian dalam
uterus-endometrium. Pada akhir fase mentruasi endometrium mulai tumbuh
kembali dan memasuki fase proliferasi. Pasca ovulasi, pertumbuhan
endometrium berhenti sesaat dan kelenjar endometrium menjadi lebih aktif-
fase sekresi.Setiap satu siklus menstruasi terdapat 4 fase perubahan yang terjadi
dalam uterus. Fase-fase ini merupakan hasil kerjasama yang sangat
terkoordinasi antara hipofisis anterior, ovarium, dan uterus. Fase-fase tersebut
adalah :
1.) Fase menstruasi atau deskuamasi,- Pada masa ini endometrium dilepaskan dari
dinding uterus disertai dengan perdarahan. Hanya lapisan tipis yang tinggal yang
disebut dengan stratum basale, stadium ini berlangsung 4 hari. Potongan-potongan
endometrium dan lendir akan keluar ketika menstruasi, darah menstruasi tidak
membeku karena adanya fermen yang mencegah pembekuan darah dan mencairkan
potongan - potongan mukosa.
2.) Fase post menstruasi,- Luka endometrium yang terjadi akibat pelepasan endometrium
secara berangsur - angsur sembuh dan ditutup kembali oleh selaput lendir baru yang
tumbuh dari sel - sel epitel kelenjar endometrium. Pada waktu ini tebal endometrium
± 0,5 mm, stadium ini dimulai waktu stadium menstruasi dan berlangsung ± selama 4
hari.
3.) Fase intermenstruum atau stadium proliferasi
Dalam fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal ± 3,5 mm. Fase ini berlangsung
dari hari ke 5 sampai hari ke 14 dari siklus haid. Fase proliferasi dapat dibagi dalam 3
subfase yaitu :
4.) Fase proliferasi dini
Fase proliferasi dini berlangsung antara hari ke 4 sampai hari ke 9. Fase ini dikenal
dari epitel permukaan yang tipis dan adanya regenerasi epitel, terutama dari mulut
kelenjar. Kelenjar ini kebanyakan lurus, pendek dan sempit. Bentuk kelenjar ini
merupakan ciri khas fase proliferasi : sel - sel kelenjar mengalami mitosis.
5.) Fase proliferasi akhir
Fase ini berlangsung pada hari ke 11 sampai hari 14. Fase ini dapat dikenal dari
permukaan kelenjar yang tidak rata dan dengan banyak mitosis. Inti epitel kelenjar
membentuk pseudostratifikasi. Stroma bertumbuh aktif dan padat.
Fase pramenstruasi atau stadium sekresi
Fase ini mulai sesudah ovulasi dan berlangsung dari hari ke 14 sampai ke 28. Pada
fase ini endometrium kira - kira tetap tebalnya, tetapi bentuk kelenjar berubah menjadi
panjang, berkeluk keluk dan mengeluarkan getah yang makin lama makin nyata.
Dalam endometrium telah tertimbun glikogen dan kapur yang kelak diperlukan
sebagai makanan untuk telur yang dibuahi. Fase sekresi dibagi dalam 2 tahap, yaitu :

a) Fase sekresi dini, pada fase ini endometrium lebih tipis dari fase sebelumnya karena
kehilangan cairan.
b) Fase sekresi lanjut, pada fase ini kelenjar dalam endometrium berkembang dan
menjadi lebih berkelok-kelok dan sekresi mulai mengeluarkan getah yang
mengandung glikogen dan lemak. Akhir masa ini, stroma endometrium berubah
kearah sel-sel; desidua, terutama yang ada di seputar pembuluh-pembuluh arterial.
Keadaan ini memudahkan terjadinya nidasi. Disamping itu dalam siklus menstruasi
hormone sangat berpengaruh diantaranya adalah yang dihasilkan gonadotropin
hipofisis yaitu : Luteinizing Hormon (LH) yang dikeluarkan oleh hipotalamus untuk
merangsang hipofisis mengeluarkan LH. LH merupakan glikoprotein yang dihasilkan
oleh sel-sel asidofilik (afinitas terhadap asam), bersama dengan FSH berfungsi
mematangkan folikel dan sel telur, serta merangsang terjadinya ovulasi. Folikel yang
melepaskan ovum selama ovulasi disebut korpus rubrum yang disusun oleh sel-sel
lutein dan disebut korpus luteum.
Folikel Stimulating Hormon (FSH) yang dikeluarkan oleh hipotalamus untuk
merangsang hipofisis mengeluarkan FSH. FSH merupakan glikoprotein yang
dihasilkan oleh sel-sel basofilik (afinitas terhadap basa). Hormon ini mempengaruhi
ovarium sehingga dapat berkembang dan berfungsi pada saat pubertas. FSH
mengembangkan folikel sprimer yang mengandung oosit primer dan keadaan padat
(solid) tersebut menjadi folikel yang menghasilkan estrogen.

Prolaktin Releasing Hormon (PRH) yang menghambat hipofisis untuk


mengeluarkan prolaktin. Berbeda dengan LH dan FSH, prolaktin terdiri dari satu
rantai peptida dengan 198 asam amino dan sama sekali tidak mengandung
karbohidrat. Secara pilogenetis, prolaktin adalah suatu hormon yang sangat tua serta
memiliki susunan yang sama dengan hormon pertumbuhan (Growth hormone,
Somatogotropic hormone, TSH, Somatotropin). Secara sinergis dengan estradia,
prolaktin mempengaruhi payudara dan laktasi, serta berperan pada pembentukan dan
fungsi korpus luteum.

TANDA DAN GEJALA MENSTRUASI

Berikut ini adalah beberapa tanda dan gejala yang dapat terjadi pada saat masa
menstruasi:

a) Kram perut
b) Nyeri payudara
c) Perubahan suasana hati
d) Timbul jerawat
e) Tekanan pada panggul
f) Sakit punggung
g) Sakit kepala dan Kelelahan
h) Kesulitan Berkonsentrasi

GANGGUAN MENSTRUASI
a. Premenstrual Tension (Ketegangan Prahaid)
Ketegangan prahaid adalah keluhan-keluhan yang biasanya mulai satu minggu sampai
beberapa hari sebelum datangnya haid dan menghilang sesudah haid datang walaupun
kadang-kadang berlangsung terus sampai haid berhenti.

Salah satu penyebab utama premenstrual tension adalah faktor kejiwaan, masalah
dalam keluarga dan masalah sosial. Jika ditinjau dari aspek anatomi penyebab esensial
dari gangguan tersebut adalah adanya defesiensi luteal dan pengurangan produksi
progesterone serta ketidakseimbangan estrogen dan progesteron dengan akibat retensi
cairan dan natrium.

Meningkatnya kadar esterogen dan menurunnya kadar progesteron di dalam darah,


yang akan menyebabkan gejala depresi dan khususnya gangguan mental. Kadar
esterogen akan mengganggu proses kimia tubuh ternasuk vitamin B6 (piridoksin)
yang dikenal sebagai vitaminanti depresi karena berfungsi mengontrol produksi
serotonin. Serotonin penting sekali bagi otak dan syaraf, dan kurangnya persediaan zat
ini dalam jumlah yang cukup dapat mengakibatkan depresi. Hormon lain yang
dikatakan sebagai penyebab gejala premenstruasi adalah prolaktin, yang dihasilkan
oleh kelenjar hipofisis dan dapat mempengaruhi jumlah esterogen dan progesteron
yang dihasilkan pada setiap siklus. Jumlah prolaktin yang terlalu banyak dapat
mengganggu keseimbangan mekanisme tubuh yang mengontrol produksi kedua
hormon tersebut. Wanita yang mengalami sindroma pre-menstruasi tersebut kadar
prolaktin dapat tinggi atau normal. Gangguan metabolisme prostaglandin akibat
kurangnya gamma linolenic acid (GLA). Fungsi prostaglandin adalah untuk mengatur
sistem reproduksi, sistem saraf, dan sebagai anti peradangan.
b. Disminore
Disminore adalah nyeri haid menjelang atau selama haid, sampai membuat wanita
tersebut tidak dapat bekerja dan harus tidur. Nyeri sering bersamaan dengan rasa
mual, sakit kepala, perasaan mau pingsan, lekas marah.

Jika ditinjau dari aspek anatomi,yang menjadi salah satu penyebab gangguan
disminorea adanya sekresi hormonsecara berlebihan atau sekresi sejenis zat yang
disebut prostaglandin. Zat inilah yang menyebabkan peningkatan frekuensi kontraksi
otot rahim sehingga menimbulkan nyeri haid. Dikenal adanya disminore primer dan
sekunder. Nyeri haid atau disminorea ada dua macam : Nyeri haid primer, timbul
sejak haid pertama dan akan pulih sendiri dengan berjalannya waktu, tepatnya setelah
stabilnya hormon tubuh atau perubahan posisi rahim setelah menikah dan melahirkan.
Nyeri haid itu normal, namun dapat berlebihan jika dipengaruhi oleh faktor psikis dan
fisik, dan seperti stres, shock, penyempitan pembuluh darah, penyakit yang menahun,
kurang darah, dan kondisi tubuh yang menurun. Nyeri haid sekunder, biasanya baru
muncul kemudian yaitu jika ada penyakit atau kelainan yang menetap seperti infeksi
rahim, kista atau polip, tumor sekitar kandungan, kelainan kedudukan rahim yang
mengganggu organ dan jaringan di sekitarnya.
c. Pendarahan Uterus Abnormal
a.) Hipermenore
Hipermenore adalah perdarahan berkepanjangan atau berlebihan pada waktu
menstruasi teratur. Bisa disebut juga dengan perdarahan haid yang jumlahnya banyak
hingga 6-7 hari. Pada hipermenore perdarahan menstruasi berlangsung sekitar 8-10
hari dengan kehilangan darah lebih dari 80ml. Jika ditinjau dari aspek anatomi,
penyebab utama terjadinya hipermenore adalah terhambatnya fase proliferasi pada
dinding endometrium, dikarenakan produksi hormone estrogen kurang optimal.
b.) Amenore
Amenore bukan suatu penyakit tetapi merupakan gejala. Amenore adalah tidak adanya
haid selama 3 bulan atau lebih. Gangguan amenore disebabkan tidak normalnya
produksi FSH serta LH, dalam hal ini masing-masing bertujuan untuk merangsang
pertumbuhan folikel yang terdapat pada ovarium hingga folikel matang dan
mempercepat terjadinya ovulasi.

D. PROSES TERJADINYA EREKSI DAN EJAKULASI PADA LAKI-LAKI


1. Peran Vaskuler (Pembuluh Darah)
Ereksi sebenarnya sangat terkait dengan darah dan pembuluh darah. Ereksi
disebabkan darah yang mengisi rongga penis sampai maksimal (dibatasi ukuran
rongga, pembatas tunica albuginea). Proses pengisian ini membutuhkan pembuluh
darah yang berfungsi baik. Tingkat ereksi tergantung pada keseimbangan aliran darah
arteri menuju dan keluar dari rongga penis. Ketika aliran darah arteri rendah atau
sedikit maka penis dalam kondisi tidak ereksi (flaccid). Bila aliran darah arteri
menuju rongga penis meningkat dan aliran darah vena keluar terhambat, maka darah
akan mengisi rongga penis, terjebak disana dan terjadilah ereksi. Banyak sedikitnya
aliran darah dipengaruhi vasokonstriksi dan vasodilatasi pembuluh darah. Kedua hal
tersebut terjadi karena kemampuan kontraksi dan relaksasi otot polos dinding
pembuluh darah.

2. Peran Otot Polos


Otot polos terdapat pada dinding pembuluh darah dan jaringan erektil. Apabila
otot polos berkontraksi, maka pembuluh darah menyempit (vasokontriksi) yang
menyebabkan aliran darah berkurang. Sebaliknya bila relaksasi lumen pembuluh
darah akan melebar (vasodilatasi) sehingga aliran darah akan bertambah banyak.
Begitu pula dengan otot polos rongga jaringan erektil. Bila kontraksi maka akan susah
mengembang terisi darah sehingga penis tidak ereksi (flaccid). Bila relaksasi, tahanan
jaringan erektil berkurang sehingga mudah terisi darah dan mengembang (ereksi).
Otot polos ini bersifat tidak disadari, di bawah pengaruh saraf otonom.

3. Peran Saraf
Ereksi adalah proses yang otonom atau tidak bisa dikontrol karena melibatkan
otot polos pembuluh darah dan jaringan erektil. Pada saat kondisi flaccid, saraf
otonom yang dominan adalah saraf simpatis. Saraf simpatis mempunyai efek
merangsang kontraksi otot polos pembuluh darah dan jaringan erektil. Akibatnya,
karena terjadi vasokonstriksi arteri dan kontraksi otot polos jaringan erektil (corpus
cavernosum dan spongiosa) maka aliran menuju rongga penis akan rendah.
Sebaliknya pada saat kondisi ereksi, stimulasi parasimpatis dominan. Parasimpatis
menyebabkan vasodilatasi arteri dan relaksasi otot polos jaringan erektil sehingga
aliran darah ke penis meningkat.

Kualitas atau Tingkat Kekerasan Ereksi Faktor-faktor di atas yaitu saraf, otot
polos dan pembuluh darah harus dalam keadaan sehat dan optimal agar mekanisme
ereksi berlangsung dengan baik dan mencapai tingkat kekerasan yang memadai.
Tingkat kekerasan ereksi dapat dinilai dengan Erection Hardness Score (EHS). Untuk
penjelasan secara lebih rinci bisa klik disini. Penurunan kualitas ereksi dapat terjadi
karena: Penyakit diabetes (kencing manis), atherosclerosis, cedera saraf panggul dan
sebaginya. Kondisi tubuh secara umum misalnya demam, nyeri dan kelelahan dapat
pula menurunkan kualitas ereksi. Substansi tertentu seperti zat dalam asap rokok,
alkohol dalam jangka panjang mempengaruhi kualitas ereksi. Gangguan hormon
misalnya kadar testosteron yang rendah Obat-obatan tertentu. Meskipun ereksi pada
penis tampaknya terjadi dengan cepat, hal tersebut merupakan proses yang rumit dan
membutuhkan kerja sama banyak sistem di dalam tubuh. Proses itu mulai dan otak,
sistem syaraf, pembuluh darah sampai hormon turut dilibatkan agar ereksi bisa terjadi.
Mekanisme terjadinya ereksi ini disebut Tumescensi.
Pada saat istirahat (tanpa aktivitas seksual), pembuluh-pembuluh darah arteri
di daerah Corpora Cavernosa, serta otot-otot polos di trabekel yakni sekitar sinusoid
akan mengalami kontraksi (penciutan) sehingga darah yang masuk ke penis sangat
sedikit. Rongga-rongga sinusoid di Corpora Cavernosa hanya terisi sedikit darah
sehingga penis dalam keadaan lembek..
Ketika tubuh menerima rangsangan seksual baik melalui penglihatan,
perabaan, penciuman, fantasi (khayalan) dan sebagainya, maka penerima stimulasi
seksual akan segera bereaksi dan mengirim pesan kepada sistem syaraf yang
dilanjutkan ke hipotalamus kemudian turun ke bawah melalui wedulla spinalis atau
sumsum tulang belakang.
Selanjutnya melewati nucleus atau inti-inti syaraf otonom di S2-4 (vertebra
sacralis) diteruskan ke jaringan-jaringan erektil di Corpora Cavernosa. Di dalam
jaringan erectil ini, dihasilkan bermacam-macam neurotransmitter (penghantar impuls
syaraf).
Salah satu yang amat berperan untuk membuat penis ereksi ialah NO (nitrogen
oksida). NO dihasilkan dari oksigen dan L-Arginin di bawah kontrol sintase nitrik
oksida. Sesudah terbentuk, NO dilepaskan dari neuron dan endotel sinusoid di
Corpora Cavernosa. NO menembus sel otot polos yang mengaktifkan enzim yang
disebut guanilyl cyclase.
Guanilyl cyclase selanjutnya mengubah guanosin triphosphat (GTP) menjadi
siklik guanosin Monophosphat (cGMP). Melalui beberapa proses kimiawi, cGMP
membuat otot-otot polos dalam Corpora Cavernosa di dalam trabekel-trabekel dan di
dalam arteriol-arteriol mengalami relaksasi sehingga seluruh pembuluh darah di
Corpora Cavernosa serta sinusoid akan mengalami pelebaran atau pembesaran.
Selanjutnya rongga-rongga (sinusoid) penuh dengan darah sehingga penis
mulai membesar. Rongga-rongga yang terisi itu kemudian menekan pembuluh darah
balik (vena) di dekatnya sehingga darah tidak bisa ke luar dari Corpora Cavernosa dan
darah terperangkap di Corpora Cavernosa dan penis tambah besar sampai keras.
Selama proses itu terjadi, impuls seksual terus timbul di dalam otak dan terjadi
relaksasi otot-otot polos di dinding pembuluh darah dan trabekel-trabekel sehingga terjadi
dilatasi (pelebaran) pembuluh darah serta pembesaran sinusoid maka penis akan terus
mengeras.Detumescensi (Menurunkan Ereksi) Untuk menjaga supaya ereksi tidak terjadi
terus-menerus, maka cGMP harus dikurangi sehingga tidak terjadi relaksasi otot-otot polos
terus menerus. Di dalam sel otot polos di dalam Corpora Cavernosa ada mekanisme
tersendiri, yakni adanya 5 yang mengubah cGMP menjadi 5 guanosine wonophospbat
(SGMP), sehingga jumlah cGMPberkurang.
Bila cGMP tinggal sedikit maka relaksasi otot polos akan hilang kemudian mengkerut
(kontraksi) sehingga penis menjadi kecil atau kembali ke fase istirahat. Kemudian bila ada
stimulasi seks, NO akan dibentuk lagi dan akhirnya cGMP akan meningkat dan otot polos
akan mengalami relaksasi dan penis ereksi lagi.

Selama tidak ada stimulasi seks, penis akan tetap istirahat. NO tidak diproduksi
sehingga cGMP tidak terbentuk dan penis akan tetap lembek. Demikian mekanisme ereksi,
istirahat, ereksi dan istirahat dari penis manusia.
Ereksi adalah syarat utama agar seorang pria dapat menikmati seks. Bagi sebagian pria,
kemampuan ereksi ini merupakan masalah. Bahkan, bagi semua pria, masalah ini suatu saat
akan dialami. Malah dipastikan gangguan ereksi akan menjadi masalah abadi apabila pria
tidak menjaga kesehatan seksualnya. Namun, bagaimana sebenarnya proses terjadinya
ereksi? Barangkali dengan mengetahui cara kerja ereksi penis, pria dapat terbantu
mempertahankan kemampuan seksualnya.

Ereksi hanya dapat terjadi apabila pasokan darah cukup memadai ke penis. Makin
banyak aliran darah masuk penis, akan makin kuat ereksinya. Karena itu, gagalnya ereksi
terjadi karena penis tidak terisi darah secara memadai. Penis sendiri mempunyai dua ruang
yang disebut corpora cavernosa. Kedua ruang ini memanjang mulai dari pangkal penis hingga
ke ujungnya. Ruang ini penuh dengan jaringan berongga, yang berisi otot-otot halus, jaringan
berserat, ruang kosong, vena dan arteri.
Corpora cavernosa dikelilingi oleh selaput, yang disebut tunica albuginae. Dan saluran
kemih terdapat di bagian bawah corpora cavernosa ini. Saluran kemih inilah yang menjadi
tempat keluarnya air kemih dan air mani.Ereksi sendiri akan dipicu apabila pria menerima
rangsangan fisik dan mental. Impuls dari otak dan saraf di sekitar penis mengakibatkan otot
corpora cavernosa mengembang. Darah pun dimungkinkan mengalirinya dan memenuhi
rongga-rongga terbuka tersebut.Darah ini kemudian menghasilkan tekanan dalam corpora
cavernosa. Nah, tekanan inilah yang menyebabkan penis membesar. Dengan membantu darah
tersimpan baik dalam corpora cavernosa, maka tunica albuginea akan mempertahankan ereksi
tersebut.

Ereksi sendiri akan hilang apabila otot-otot penis mengalami kontraksi.


Akibatnya, aliran masuk darah akan terhenti. Saluran-saluran yang memungkinkan
darah keluar pun akan terbuka lebar. Jadi, apabila orang mengalami disfungsi ereksi,
itu terjadi karena pasokan darah ke penisnya tidak memadai. Umumnya ada tiga jenis
tingkat disfungsi ini. Yang pertama ialah ketidakmampuan total untuk mengalami
ereksi. Disfungsi lainnya ialah tidak mampunya pria mengalami ereksi sewaktu-
waktu. Disfungsi lainnya ialah terjadinya ereksi hanya dalam waktu singkat (tidak
sanggup mempertahankannya).

Mengapa penis ereksi pada pagi hari? Pagi hari, seringkali alat kelamin pria
lebih rajin "bangun" dari pada si pemiliknya. Ereksi atau mengerasnya penis yang
terjadi pada pagi hari disebut dengan istilah "morning erection" atau "morning wood".
Sebenarnya secara normal dalam satu malam ketika tidur, penis pria mengalami ereksi
sekitar 3-5 kali dengan lama masing-masing 25-35 menit. Ereksi menyebabkan aliran
darah ke jaringan penis menjadi optimal. Karena itulah ereksi spontan pada saat tidur
sangat berguna. Jaringan penis teraliri banyak darah kaya oksigen secara teratur
sehingga jaringannya dapat terpelihara. Nah ereksi pada pagi hari sebenarnya
merupakan rangkaian akhir dari peristiwa tersebut yang secara medis disebut
"nocturnal penis tumescene (NPT)". Tapi kok bisa terjadi ya? Berikut laporkan hasil
investigasi, mengapa penis ereksi pada pagi hari...
Penyebab Morning Erection Penyebab peristiwa ini sebenarnya belum diketahui
secara pasti, namun terjadi pada siklus tidur fase REM (ketika bermimpi dan terdapat
perubahan aktivitas otak). Siklus ini dalam semalam berlangsung beberapa kali.
Mengapa bisa terjadi pada fase tidur REM saja? Begini penjelasannya:

a. Di otak terdapat "noradrenegic cells" di locus corealus


Area ini mengandung hormon norepinefrin (noradrenalin) yang
merupakan neurotransmitter sistem simpatis. Padahal sistem simpatis bila
dominan akan menyebabkan vasokontriksi (kontraksi penyempitan pembuluh
darah) sehingga kalau terjadi di penis akan menghambat aliran darah dan tentu
saja bersifat menghambat ereksi (inhibitor)

b. Hormon testosteron dapat menstimulasi ereksi


Testosteron menstimulasi pembentukan nitrit okside (NO) yang berperan
dalam relaksasi otot polos vaskuler dan jaringan erektil penis (corpus cavernosum
dan spongiosum). Relaksasi ini akan meningkatkan aliran darah ke penis
sehingga terjadi proses ereksi.

c. Kadar testosteron tertinggi pada pukul 05.30-08.00


Kadar testosteron bervariasi dalam satu hari dan paling tinggi pada pagi
hari. Variasi harian (diurnal variation) antara pagi dan sore hari pada pria muda
lebih signifikan daripada pada orangtua. Kadar testosteron pada pria akan
meningkat pesat pada saat pubertas, mencapai puncak pada usia 25-30 tahun dan
mulai menurun setelah usia 30 tahun.
a. Pada tidur fase REM terjadi penghentian aktivitas "noradrenergic cells"
Perubahan aktivitas otak pada fase REM salah satunya berefek pada "switching
off" aktivitas noradrenergic (simpatis) dalam menghambat ereksi. Karena yang
menghambat sudah berkurang maka ereksi karena pengaruh testosteron dapat
berlangsung lebih lancar.

2. Proses Terjadinya Ejakulasi


Ejakulasi (ejaculation) adalah proses pengeluaran air mani (biasanya
membawa sperma) dari saluran reproduksi pria dan biasanya disertai dengan orgasme.
Ini biasanya (secara alamiah) merupakan tahapan akhir atau puncak rangsangan
seksual, dan merupakan sebuah komponen penting dari konsepsi alam. Pada kasus
yang jarang, ejakulasi terjadi karena penyakit prostat. Ejakulasi juga terjadi secara
spontan selama tidur (“mimpi basah”). Anejaculation adalah kondisi tidak bisa
ejakulasi.
3. Tahapan
Pendahuluan terjadinya ejakulasi biasanya berupa gairah seksual laki-laki yang
menimbulkan ereksi (tegang) pada penis, meskipun dalam hal ini tidak setiap
rangsangan atau ereksi mengarah pada ejakulasi. Rangsangan seksual yang dialami
penis saat hubungan seksual di vagina, mulut dan dubur, atau rangsangan manual
(masturbasi) dapat memberikan stimulus yang diperlukan bagi seorang pria untuk
mencapai orgasme dan ejakulasi. Laki-laki mencapai orgasme biasanya setelah 5-10
menit setelah dimulainya hubungan intim penis-vagina, dengan mempertimbangkan
keinginan mereka dan orang-orang dari pasangan mereka. Sebagian besar pria dapat
mencapai orgasme cepat atau menunda sampai nanti jika itu memang mereka
inginkan. Sebuah stimulasi yang berkepanjangan baik melalui pemanasan (mencium,
membelai dan stimulasi langsung zona sensitif seksual sebelum penetrasi selama
hubungan seksual) atau mengocok (selama masturbasi) meningkatkan rangsangan
untuk mencapai puncak
Sementara kehadiran sperma dalam cairan pra-ejakulasi dianggap langka, sperma dari
ejakulasi sebelumnya (terakhir) masih ada pada uretra dapat ikut terbawa dalam
cairan pra-ejakulasi. Penting untuk dicatat bahwa beberapa kuman penyakit menular
(termasuk HIV) sering dapat hadir dalam pra-ejakulasi.
4. Volume
Kekuatan dan jumlah air mani yang dikeluarkan saat ejakulasi akan sangat bervariasi
antar pria dan mungkin berisi antara 0,1 dan 10 mililiter (Sebagai perbandingan,
perhatikan bahwa satu sendok teh adalah 5 ml dan sendok makan 15 ml.). Volume air
mani dipengaruhi oleh waktu yang telah berlalu sejak ejakulasi sebelumnya; semakin
lama durasi rangsangan, semakin banyak pula volume air mani. Durasi stimulasi yang
mengarah ke ejakulasi bisa mempengaruhi volume. Secara abnormal volume rendah
dikenal sebagai hypospermia, meskipun hal itu adalah normal untuk jumlah air mani
pria usia tua.
5. Kualitas
Jumlah sperma dalam ejakulasi juga sangat bervariasi, tergantung pada banyak faktor,
termasuk waktu sejak ejakulasi terakhir, usia, tingkat stres, dan testosteron.
oligospermia adalah istilah untuk jumlah sperma yang rendah dengan volume air mani
yang rendah pula, sedangkan tidak adanya sperma dari air mani disebut azoospermia.
E. SISTEM PEREDARAN DARAH PADA JANIN
Sistem peredaran darah janin berbeda dengan sistem peredaran darah orang
dewasa, karena paru-paru janin belum berkembang sehingga oksigen diambil melalui
plasenta.
Sistem peredaran darah janin ditentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1. Foramen Ovale
Merupakan lubang sementara di antara serambi kiri dan serambi kanan yang
memungkinkan sebagian darah masuk dari vena cava inferior menyeberang ke
serambi kiri. Alasan pengalihan ini adalah darah tidak perlu lagi melewati paru-
paru karena telah teroksigenisasi
2. Duktus Arteriosus Bothalli
Merupakan saluran yang terdapat antara arteri pulmonalis dan aorta.
3. Duktus Venosus Arantii
Menghubungkan antara vena umbilikal dengan vena cava inferior. Pada titik ini
darah bercampur dengan darah yang telah diambil oksigennya yang kembali dari
tubuh bagian bawah.
4. Vena Umbilikal
Memanjang dari tali pusar menuju ke bagian bawah hati dan membawa darah
yang mengandung oksigen dan sari makanan. Ia memiliki cabang yang bertemu
dengan vena porta dan masuk ke hati
Komponen Atau Organ Yang Terlibat Dalam Pembuluh Darah Janin
Dalam sistem peredaran darah janin tidak hanya melibatkan pembuluh darah saja tetapi juga
melibatkan organ tubuh janin di antaranya sebagai berikut:
1. Plasenta : Tempat terjadinya pertukaran darah bersih dengan yang kotor.
2. Umbilikalis : Mengalirkan darah dari plasenta ke janin dan dari janin ke plasenta.
3. Hati : Terdapatnya percabangan antara vena porta dengan duktus venosus arantii.
4. Jantung : Terdapatnya foramen ovale yang langsung menyalurkan darah dari atrium
dekstra ke atrium sinistra.
5. Paru-paru : Terdapatnya duktus arteriosus bothalli.
Mekanisme Peredaran Darah Janin
Darah janin didapat dari Ibu dan dialirkan dari Ibu ke janin melalui plasenta untuk kemudian
diteruskan ke seluruh tubuh janin melalui vena yang terdapat di umbilikus. Peredaran darah
janin digambarkan langsung sebagai berikut :
Keterangan gambar : Mula-mula darah yang kaya akan oksigen dan nutrisi yang berasal
dari plasenta masuk ke janin melalui vena umbilikus yang bercabang dua setelah memasuki
dinding perut yaitu :
a. Cabang yang kecil bersatu dengan vena porta, darahnya beredar dalam hati
dan kemudian diangkut melalui vena hepatika ke vena cava inferior.
b. Cabang satunya lagi duktus venosus arantii yang langsung masuk ke dalam
vena cava inferior.
Darah dari vena cava inferior masuk ke atrium kanan dan sebagian besar darah dari atrium
kanan akan dialirkan ke atrium kiri melalui foramen ovale. Sebagian kecil darah dari atrium
kanan masuk ke ventrikel kanan bersama-sama dengan darah yang berasal dari vena cava
superior.
Darah dari ventrikel kanan ini dipompakan ke paru-paru melalui arteri pulmonalis, karena
adanya tahanan dari paru-paru yang belum mengembang maka darah yang terdapat pada
arteri pulmonalis sebagian akan dialirkan ke aorta melalui duktus arteriosus bothalli dan
sebagian kecil akan menuju paru-paru dan selanjutnya ke atrium sinistra melaui vena
pulmonalis.
Sementara itu darah yang terdapat pada atrium kiri kemudian dialirkan ke ventrikel kiri
dan diteruskan ke seluruh tubuh melaui aorta guna memberikan oksigen dan nutrisi bagi
tubuh bawah. Cabang aorta bagian bawah ini menjadi 2 (dua) arteri hipograstika interna yang
mempunyai cabang arteri umbilikalis.
Darah yang miskin nutrisi dan banyak karbondioksida serta sisa metabolisme akan
dikembalikan ke plasenta melalui arteri umbilikalis ke plasenta melalui arteri umbilikalis
untuk diteruskan ke ibu.
Faktor-Faktor yang Mengubah Peredaran Darah Janin
Setelah kelahiran terjadi perubahan peredaran darah janin, faktor penting yang mengubah
peredaran darah janin menuju peredaran darah dewasa ditentukan oleh :
1. Berkembangnya paru-paru janin
Berkembangnya paru-paru janin dapat menyebabkan tekanan negatif dalam paru
sehingga dapat menampung darah, untuk melakukan pertukaran CO2 dan O2 dari
udara sehingga terjadi oblitersi pada duktus arteriosus bothalli.Tekanan dalam atrium
kiri makin meningkat, sehingga dapat menutup foramen ovale. Tekanan yang tinggi
pada atrium kiri disebabkan darah yang mengalir ke atrium kanan kini langsung
menuju paru-paru dan selanjutnya dialirkan ke atrium kiri melalui vena pulmonalis.
Dua faktor ini menyebabkan tekanan di atrium kiri meningkat.
2. Terputusnya hubungan peredaran darah antara ibu dan janin Terputusnya hubungan
peredaran darah antara ibu dan janin terjadi karena dipotongnya tali pusat sehingga
terjadi peredaran darah pulmonal yang mengakibatkan terjadi pernafasan pulmona.
Dengan demikian duktus arteriosus bothalli tidak berfungsi dan akan mengalami
perubahan dan menjadi ligamentum arteriosum begitu juga dengan yang lain. Vena
umbilikal menjadi ligamentum teres, duktus venosus arantii menjadi ligamentum
venosum serta foramen ovale menjadi hypogastrik arteries kecuali beberapa cm
pertama yang tetap terbuka sebagai arteri vesical superior. Pemotongan tali pusat
sebaiknya dilakukan setelah bayi menangis dan tali pusat berhenti berdenyut karena
dapat menambah darah dari plasenta sekitar 50 ml s/d 75 ml yang sangat berarti bagi
pertumbuhan janin.
3. Terbentuknya Adult Haemoglobin (Tipe A)
Terbentuknya Adult Haemoglobin (Tipe A) sehingga setelah lahir dapat menangkap
oksigen dan melepaskan CO2 melaului pernafasan sehingga terjadi pertukaran O2 dan
CO2 di paru-paru.
F. MACAM-MACAM BENTUK PANGGUL

Klasifikasi menurut Caldwell dan Molloy, bentuk panggul terbagi menjadi 4 yaitu:

a. Panggul gynecoid
b. Panggul android
c. Panggul anthropoid
d. Panggul platypeloid

1. Panggul Gynecoid

Panggul yang paling ideal. Diameter anteroposterior sama dengan diameter transversa
bulat. Jenis ini ditemukan pada 45% wanita.

2. Panggul Android

Bentuk pintu atas panggul hampir segitiga. Umumnya pada panggul pria. Panjang
diameter transversa dekat dengan sakrum. Pada wanita ditemukan 15%.

3. Panggul Anthropoid

Bentuk pintu atas panggul agak lonjong seperti telur. Panjang diameter
anteroposterior lebih besar daripada diameter transversa. Jenis ini ditemukan 35%
pada wanita.

4. Panggul Platypeloid

Merupakan panggul picak. Diameter transversa lebih besar daripada diameter


anteroposterior, menyempit arah muka belakang. Jenis ini ditemukan pada 5% wanita.
DAFTAR PUSTAKA

Wylie, Linda.2011 Esensial Anatomi & Fisiologi dalam Asuhan Maternitas. Jakarta : EGC
Manuaba, Ida Bagus, dkk. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan ,dan KB. Jakarta :
EGC
Pearce, Evelin C. 2009. .Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : Gramedia
Gibson, John, MD. 2000. Anatomi dan Fisiologi Modern. Jakarta : EGC
Bagian 0bstetri dan Ginekologi Fakultas kedokteran UNPAD. 1983. Obstetri fisiologi.
Bandung : Elemen