You are on page 1of 3

ANATOMI DAN FISIOLOGI KELENJAR TIROID DAN KGB

Anatomi dan fisiologi kelenjar tiroid

Kelenjar tiroid merupakan kelenjar yang terletak di leher dan terdiri atas sepasang lobus
di sisi kiri dan kanan. Terletak di leher dihubungkan oleh ismus yang menutupi cincin trakea 2
dan 3. Kelenjar ini tersusun dari zat hasil sekresi bernama koloid yang tersimpan dalam folikel
tertutup yang dibatasi oleh sel epitel kuboid. Koloid ini tersusun atas tiroglobulin yang akan
dipecah menjadi hormon tiroid (T3 dan T4) oleh enzim endopeptidase. Kemudian hormon ini
akan disekresikan ke sirkulasi darah untuk kemudian dapat berefek pada organ target (Trihadi,
2014).

Mekanisme sekresi hormon tiroid sendiri diatur oleh suatu axis hipothalamus- hipofisis-
tiroid. Hipotalamus akan mensekresikan Thyroid Releasing Hormon (TRH) yang akan
merangsang hipofisis untuk mengeluarkan Thyroid Stimulating Hormon (TSH). Kemudian
TSH merangsang kelenjar tiroid untuk memproduksi hormon tiroid. Hormon tiroid terutama
dalam bentuk T3 dan T4. Biosintesis hormon tiroid terbagi dalam beberapa tahap : a. Tahap
trapping; b. Tahap oksidasi; c. Tahap coupling; d. Tahap penimbunan atau storage; e. Tahap
deyodinasi; f. Tahap proteolisis; f. Tahap sekresi (Trihadi, 2014).

Anatomi dan fisiologi kelenjar getah bening

Ada sekitar 300 KGB di daerah kepala dan leher, gambaran lokasi terdapatnya KGB
pada daerah kepala dan leher adalah sebagai berikut (Pearce, 2000):

Secara anatomi aliran getah bening aferen masuk ke dalam KGB melalui simpai
(kapsul) dan membawa cairan getah bening dari jaringan sekitarnya dan aliran getah bening
eferen keluar dari KGB melalui hilus. Cairan getah bening masuk kedalam kelenjar melalui
lobang-lobang di simpai. Di dalam kelenjar, cairan getah bening mengalir dibawah simpai di
dalam ruangan yang disebut sinus perifer yang dilapisi oleh sel endotel (Pearce, 2000).
Jaringan ikat trabekula terentang melalui sinus-sinus yang menghubung- kan simpai
dengan kerangka retikuler dari bagian dalam kelenjar dan merupakan alur untuk pembuluh
darah dan syaraf (Pearce, 2000).
Dari bagian pinggir cairan getah bening menyusup kedalam sinus penetrating yang juga
dilapisi sel endotel. Pada waktu cairan getah bening di dalam sinus penetrating melalui hilus,
sinus ini menempati ruangan yang lebih luas dan disebut sinus meduleri. Dari hilus cairan ini
selanjutnya menuju aliran getah bening eferen (Pearce, 2000).

Pada dasarnya limfosit mempunyai dua bentuk, yang berasal dari sel T (thymus) dan
sel B (bursa) atau sumsum tulang. Fungsi dari limfosit B dan sel-sel turunanya seperti sel
plasma, imunoglobulin, yang berhubungan dengan humoral immunity, sedangkan T limfosit
berperan terutama pada cell-mediated immunity (Pearce, 2000).
Terdapat tiga daerah pada KGB yang berbeda: korteks, medula, parakorteks,
ketiganya berlokasinya antara kapsul dan hilus. Korteks dan medula merupakan daerah yang
mengandung sel B, sedangkan daerah parakorteks mengandung sel T (Pearce, 2000).
Dalam korteks banyak mengandung nodul limfatik (folikel), pada masa postnatal,
biasanya berisi germinal center. Akibatnya terjadi stimulasi antigen, sel B didalam germinal
centers berubah menjadi sel yang besar, inti bulat dan anak inti menonjol. Yang sebelumnya
dikenal sebagai sel retikulum, sel-selnya besar yang ditunjukan oleh Lukes dan Collins (1974)
sebagai sel noncleaved besar, dan sel noncleaved kecil. Sel noncleaved yang besar berperan
pada limphopoiesis atau berubah menjadi immunoblas, diluar germinal center, dan
berkembang didalam sel plasma (Pearce, 2000).
Trihadi N. 2014. Ciri-ciri karakteristik penderita nodul tiroid di poliklinik endokrin dan
poliklinik bedan Rsup Dr. Kariadi Semarang. Semarang: Universitas Diponegoro.

Pearce. 2000. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. Jakarta: PT Gramedia.