You are on page 1of 5

 Bagaimana Etiologi Hipertensi primer dan sekunder ?

Hipertensi Primer
Sampai saat ini penyebab hipertensi esensial tidak diketahui dengan
pasti. Hipertensi ini disebabkan berbagai faktor yang saling berkaitan.
Tetapi diduga oleh karena :
 Factor Genetic
Factor genetic mempengaruhi kepekaan terhadap
Natrium, kepekaan terhadap stress, reaktivasi pembuluh darah
terhadap vasokonstriktor, resistensi insulin, dan lain lain.
 Faktor Ras
Orang yang berkulit hitam lebih rentan terhadap
hipertensi. Di amerika serikat, populasi kulit hitam dua kali
lebih tinggi dan enam kali lebih tinggi mortalitasnya daripada
orang yang berkulit putih.
 Faktor Lingkungan
Factor lingkungan antara lain Asupan gizi (terutama
kurangnya intake makanan berserat), kebiasaan merokok,
stress, emosi, kurangnya aktivitas/olahraga, penggunaan obat-
obatan, dan lain sebagainya (Price S, 2005).

Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder disebabkan oleh faktor primer yang
diketahui yaitu seperti kerusakan ginjal, gangguan obat tertentu, stres
akut, kerusakan vaskuler dan lain-lain. Adapun penyebab paling umum
pada penderita hipertensi maligna adalah hipertensi yang tidak terobati.
Risiko relatif hipertensi tergantung pada jumlah dan keparahan dari
faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi.
Etiologi hipertensi tergantung pada kecepatan denyut jantung,
volume sekuncup dan Total Peripheral Resistance (TPR). Maka
peningkatan salah satu dari ketiga variabel yang tidak dikompensasi dapat
menyebabkan hipertensi. Peningkatan kecepatan denyut jantung dapat
terjadi akibat rangsangan abnormal saraf atau hormon pada nodus SA.
Peningkatan kecepatan denyut jantung yang berlangsung kronik sering
menyertai keadaan hipertiroidisme. Namun, peningkatan kecepatan denyut
jantung biasanya dikompensasi oleh penurunan volume sekuncup atau
TPR, sehingga tidak meninbulkan hipertensi (Sudoyo,2009).
Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama dapat terjadi
apabila terdapat peningkatan volume plasma yang berkepanjangan, akibat
gangguan penanganan garam dan air oleh ginjal atau konsumsi garam yang
berlebihan. Peningkatan pelepasan renin atau aldosteron maupun
penurunan aliran darah ke ginjal dapat mengubah penanganan air dan
garam oleh ginjal. Peningkatan volume plasma akan menyebabkan
peningkatan volume diastolik akhir sehingga terjadi peningkatan volume
sekuncup dan tekanan darah. Peningkata preload biasanya berkaitan
dengan peningkatan tekanan sistolik (Sudoyo, 2009).
Peningkatan Total Periperial Resistence yang berlangsung lama
dapat terjadi pada peningkatan rangsangan saraf atau hormon pada arteriol,
atau responsivitas yang berlebihan dari arteriol terdapat rangsangan
normal. Kedua hal tersebut akan menyebabkan penyempitan pembuluh
darah. Pada peningkatan Total Periperial Resistence, jantung harus
memompa secara lebih kuat dan dengan demikian menghasilkan tekanan
yang lebih besar, untuk mendorong darah melintas pembuluh darah yang
menyempit. Hal ini disebut peningkatan dalam afterload jantung dan
biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan diastolik. Apabila
peningkatan afterload berlangsung lama, maka ventrikel kiri mungkin
mulai mengalami hipertrifi (membesar). Dengan hipertrofi, kebutuhan
ventrikel akan oksigen semakin meningkat sehingga ventrikel harus
mampu memompa darah secara lebih keras lagi untuk memenuhi
kebutuhan tesebut. Pada hipertrofi, serat-serat otot jantung juga mulai
tegang melebihi panjang normalnya yang pada akhirnya menyebabkan
penurunan kontraktilitas dan volume sekuncup (Sudoyo, 2009).
Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder:
1. Penyakit ginjal.
2. Stenosis arteri renalis.
3. Pielonefritis.
4. Glomerulonefritis.
5. Tumor-tumor ginjal.
6. Penyakit ginjal polikista (biasaanya diturunkan).
7. Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal).
8. Terapi penyinaran yang mengenai ginjal.
9. Kelainan hormonal:
a. Hiperaldosteronisme.
b. Sindroma cushing.
c. Feokromositoma.
10. Obat-obatan;
a. Pil KB
b. Kortikosteroid
c. Siklosporin
d. Eritropoietin
e. Kokain
f. Penyalahgunaan alkohol
11. Penyebab Lainnya
a. Koartasio Aorta
b. Preeklamsi pada kehamilan
c. Keracunan Timbal Akut
 Bagaimana Edukasi yang tepat untuk pasien Hipertensi ?
Menjalani pola hidup sehat telah banyak terbukti dapat menurunkan
tekanan darah, dan secara umum sangat menguntungkan dalam menurunkan
risiko permasalahan kardiovaskular. Pada pasien yang menderita hipertensi
derajat 1, tanpa faktor risiko kardiovaskular lain, maka strategi pola hidup
sehat merupakan tatalaksana tahap awal, yang harus dijalani setidaknya
selama 4 – 6 bulan. Bila setelah jangka waktu tersebut, tidak didapatkan
penurunan tekanan darah yang diharapkan atau didapatkan faktor risiko
kardiovaskular yang lain, maka sangat dianjurkan untuk memulai terapi
farmakologi.
Beberapa pola hidup sehat yang dianjurkan oleh banyak guidelines
adalah.
 Penurunan Berat Badan.
Mengganti makanan tidak sehat dengan memperbanyak asupan
sayuran dan buah-buahan (makanan berserat) dapat memberikan manfaat
yang lebih selain penurunan tekanan darah, seperti menghindari diabetes
dan dislipidemia.

 Mengurangi Asupan Garam.


Di negara Indonesia, makanan tinggi garam dan lemak merupakan
makanan tradisional pada kebanyakan daerah. Tidak jarang pula pasien
tidak menyadari kandungan garam pada makanan cepat saji, makanan
kaleng, daging olahan dan sebagainya. Tidak jarang, diet rendah garam ini
juga bermanfaat untuk mengurangi dosis obat antihipertensi pada pasien
hipertensi derajat ≥ 2. Dianjurkan untuk asupan garam tidak melebihi 2 gr/
hari (Sudoyo, 2009).

 Olah Raga.
Olah raga yang dilakukan secara teratur sebanyak 30 – 60 menit/
hari, minimal 3 hari/ minggu, dapat menolong penurunan tekanan darah.
Terhadap pasien yang tidak memiliki waktu untuk berolahraga secara
khusus, sebaiknya harus tetap dianjurkan untuk berjalan kaki,
mengendarai sepeda atau menaiki tangga dalam aktifitas rutin mereka di
tempat kerjanya.

 Mengurangi Konsumsi Alcohol.


Walaupun konsumsi alcohol belum menjadi pola hidup yang
umum di negara berkembang, namun konsumsi alcohol semakin hari
semakin meningkat seiring dengan perkembangan pergaulan dan gaya
hidup, terutama di kota besar. Konsumsi alcohol lebih dari 2 gelas per hari
pada pria atau 1 gelas per hari pada wanita, dapat meningkatkan tekanan
darah. Dengan demikian membatasi atau menghentikan konsumsi alcohol
sangat membantu dalam penurunan tekanan darah.

 Berhenti Merokok.
Walaupun hal ini sampai saat ini belum terbukti berefek langsung
dapat menurunkan tekanan darah, tetapi merokok merupakan salah satu
faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, dan pasien sebaiknya
dianjurkan untuk berhenti merokok (Sudoyo, 2009).

Price. S, Wilson. L. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit. Edisi Keenam. Jakarta: EGC

Sudoyo. A, Setiyohadi. S, Alwi. I, Setiati. S, Simadibrata. M (Eds.). 2009.

Buku Ajar Penyakit Dalam. Edisi Kelima. Jakarta: Internal


Publishing