You are on page 1of 5

KASUS

Oleh
EFENDI PUTRA HULU
150206032
4.1 PSIK

MATA KULIAH : KEPERAWATAN GAWAT DARURAT 1

PROGRAM STUDI
FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
TAHUN
2018
KASUS
Tn. M, 42 tahun mengalami tabrakan dengan mobil lainnya saat mengendarai mobilnya di
jalan tol sekitar pukul 14.30 WIB. Pada saat kejadin Tn. M pingsan, petugas menemukan adanya
darah pada daerah perut, ternyata ada luka robek pada perut sepanjang 8x1x1 cm disertai adanya
jejas seluas 10x6 cm dan 7x5 cm pada dada sebelah kiri. Petugas juga melihat ada hematom pada
daerah frontal seluas 5x5 cm. Beberapa saat kemudian Tn. M sadar. Ketika akan dikeluarkan dari
mobil Tn. M menjerit kesakitan, ternyata ditemukan tungkai bawah kiri bagian atas patah, tampak
membengkok dan bengkak, ditemukan luka robek 4x1x1 cm yang terus mengeluarkan darah.
Setelah berhasil dikeluarkan dari mobil, Tn. M segera dibawa ke puskesmas terdekat yang
mempunyai fasilitas gawat darurat dan tiba pukul 15.00 WIB.

Di puskesmas Tn. M diperiksa, BP 120/80 mmHg, HR 88 x/menit dan RR 20 x/menit.


Perawat puskesmas mengolesi semua luka dengan betadin, kemudian memasang spalk pada kaki
kiri. Kemudian perawat menyarankan Tn. M dirujuk ke rumah sakit yang mempunyai fasilitas lebih
lengkap karena menduga Tn. M mengalami trauma abdomen. Tn. M segera dibawa ke IGD RS X
tanpa terpasang oksigen karena kehabisan dan hanya terpasang infus NaCl 0,9% pada lengan kiri
(menggunakan infus set). Pada saat di IGD pukul 17.00 WIB, Tn. M kembali pingsan. BP 100/60
cm, HR 96x/menit, tekanan nadi lemah, RR 28x/menit. Tn. M hanya mengeluarkan suara
menggumam ketika dipanggil tanpa membuka mata dan menarik tangannya ketika
dicubit. Beberapa saat kemudian Tn. M sadar dan mengeluh nafasnya berat dan agak sesak, serta
nyeri pada perut dan kaki kiri.

20 menit kemudian BP turun menjadi 80 mmHg/palpasi dan HR 110 x/menit dengan


tekanan nadi yang lemah. Perawat B melaporkan kondisi Tn. M kepada dokter jaga. Dokter jaga
segera meminta memasang alat bed side monitor dan memasang infuse 1 jalur lagi menjadi 2 jalur.
10 menit kemudian Tn. M tidak dapat dibangunkan, BP 62/39 mmHg, HR 120 x/menit dan nadi
radialis tidak teraba, pernafasan gasping, saturasi oksigen 80%. 15 menit kemudian Tn. M apneu
dan pada monitor EKG tampak gambaran flat. Perawat melakukan resusitasi jantung paru selama
10 menit, akhirnya Tn. M tidak tertolong dan dinyatakan meninggal.

Pertanyaan

1. Bagaimana penanganan awal yang seharusnya dilakukan pada pasien?


2. Apakah ada prinsip etik yang dilanggar pada kasus diatas?
3. Jelaskan secara patofisiologi penyebab pasien meninggal?
Jawaban :

1. penanganan awal yang seharusnya dilakukan pada pasien adalah

fokuskan pada

A (Air Way/jalan nafas). Jika ada korban KLL dan ada sumbatan jalan nafas segera
BEBASKAN!!!. Keluarkan benda asing dari mulut korban dengan jari anda. Serta
lakukan Penanganan korban dengan sumbatan jalan napas antara lain :

1. Head Tilt (ekstensi kepala) Dengan menekan kepala (dahi) ke bawah maka jalan napas
akan berada dalam posisi yang lurus dan terbuka.

2. Chin Lift (angkat dagu)

3. Jaw Thrust (mendorong rahang) Mendorong rahang korban ke arah depan. Apabila
korban muntah MIRINGKAN!!!.Perlu diingat, sebisa mungkin hindari gerakan pada
leher karena sedikit melakukan gerakan leher bisa mengakibatkan kematian mendadak
bila terdapat patah tulang leher tentunya. Apabila korban memakai Helm maka lepaskan
dahulu Helm korban sebelum melakukan tindakan diatas. Petugas Rumah Sakit akan
menangani lebih lanjut dengan alat-alat yang memadai. Seperti oropharyngeal tube, Neck
Collar dll.

Selanjutnya kita beralih ke

B (breathing/pernafasan) setelah benar-benar clear dengan jalan napas telah bersih. Jika
dengan jlan nafas yang bersihkorban tetap tidak ada napas, maka segera lakukan bantuan napas
sebanyak 2 kali dan pijat jantung sebanyak 30x. Dengan bantuan napas tersebut dada korban akan
mengembang jika tidak ada sumbatan pada jalan napasnya. Dan jika dengan bantuan napas ini
korban tidak bernapas spontan segera periksa sirkulasi. Selain itu kita harus menghitung frekuensi
pernafasan korban tersebut. Pernafasan orang normal berkisar 16-24x/menit. Apabila kita
menemukan korban dengan jumlah pernafasan diatas 24x/menit segera bawa ke Rumah Sakit
terdekat. Disini petugas RS akan dapat menangani korban secara maximal.Seperi pemberian
oksigen melalui kanul, facemask dll. Perlu diingat Tension pneumothorax dapat membunuh korban
dalam hitungan menit.

Berikut kita beralih ke


C (circulation). sistem sirkulasi dapat segera dinilai dengan cara memeriksa denyut nadi (di
pergelangan tangan atau di leher), menilai warna kulit, meraba suhu tangan dan kapilari refil,
periksa perdarahan. Apabila kita melihat korban dengan perdaran yang banyak, sebagai orang awam
kita harus melakukan langkah diatas untuk menilai seberapa burukkah sirkulasi korban. Setelah itu
kita bisa melalukan bebat tekan pada orang tersebut guna menghentikan perdarahan. jangan
menghentikan perdarahan dengan mengikat sebelah atas extremitas korban yang mengalami
perdarahan!!!. Karena akan mengganggu peredaran darah pada extremitas dibawahnya sehingga
mengakibatkan tidak berfungsinya extremitas tersebut. Petugas RS akan melakukan koreksi
perdarahan dengan infus RL 3:1 dengan jumlah perdarahan. Selanjutnya menhentikan perdarahan
dengan jahit atau kalau perlu dengan Operasi.

D ( disability) adalah langkah selanjutnya yang harus kita lakukan. Lihat dan nilai kesadaran
korban. Penilaian tersebut dengan metode AVPU (alert, verbal, pain dan unresposive). Alert adalah
korban dalam keadaan sadar. Verbal adalah terdapat respon apabila korban dopanggil oleh
pemeriksa. Pain apabila korban memberi respon setelah pasien diberi rangsangan nyeri. Dan
unresponsive merupakan tingkat kesadaran paling rendah karena tidak ada respon dengan berbagi
rangsangan. Selain itu yang perlu diperhatikan pasa D adalah pembidaian korban apabila korban
mengalami patah tulang. Berikut adalah cara melakuakan pembidaian dengan benar : 1.Lakukan
Pembidaian pada bagian badan yang mengalam cidera.2. Lakukan pada bagian yang dicurigai patah
tulang, tidak harus dipastikandulu ada atau tidaknya patah tulang.3.Melawati minimal 2. sendi yang
berbatasan. Apabila kita melakukan pembidaian dengan benar, maka kita akan mendapatkan
manfaat dari pembidaian tersebut. Berikut fungsi dari pembidaian :1. Untuk mencegah gerakan
pada bagian tulang yang patah. 2. Untuk meminimalisasi / mencegah kerusakan pada jaringan lunak
sekitar tulang yang patah. 3.Untuk mengurangi perdarahan & bengkak yang timbul. 4. Untuk
mencegah terjadinya syok. 5. Untuk mengurangi nyeri.

Langkah terakhir adalah

E (exposure). E biasanya dilakukan petugas RS untuk mencari sebab lain dari perdarahan
yang menyebabkan korban tidak sadarkan diri. Exposure dilakukan dengan menelanjangi korban
guna mencari perdarahan yang berada dibagian terentu pada korban. Perlu diingat untuk menjaga
suhu tubuh korban dengan cara menyelimuti tubuh korban. Jika kita melakukan semua langkah-
langkah mulai dari Airway, Breathing, Circulation dan Disability serta Exposure dengan baik
terutama ditempat kejadian perkara maka korban dapat kita hindarkan dari kecacatan dan kematian
2. Ada prinsip etik yang dilanggar pada kasus yaitu
1. Acuntability (tanggung jawab terhadap tugas)
2. non malaficience ( tidak merugikan)\
3. justice ( keadilan)

3. Secara patofisiologi penyebab pasien meninggal adalah

Gangguan fungsi otak yang menyebabkan kehilangan kesadaran, bisa total (complete) atau
hanya sebagian (partial). Kegagalan pilar kehidupan otak menyebabkan lumpuhnya fungsi otak dan
pusat-pusat pengaturan tubuh (vital centres).

Kerusakan fungsi otak dapat diakibatkan oleh penekanan otak yang ditimbulkan akibat keadaan
atau penyakit dari jaringan otak atau selaput pembungkus otak. Ini dapat terjadi karena efusi darah
di atas atau di dalam substansi otak akibat perdarahan, fraktur tulang tengkorang, inflamasi, abses,
tumor otak, emboli, thrombosis, heat stroke, hypothermia atau akibat keracunan opium, barbiturate,
chloroform, alcohol, CO2, CO, uremia dan sebagainya

Tanda post-mortem korban meninggal akibat koma didapati tanda-tanda trauma pada tulang
tengkorak, cedera otak dan efusi darah kedalam rongga kepala, oedem cerebri, abses, atau tumor.
Koma akibat trauma biasanya dijumpai perdarahan diantara tulang tengkorak dan duramater
(perdarahan epidural), atau diantara duramater dengan jaringan otak (perdarahan subdural).

Hematoma epidural (EDH) merupakan komplikasi dari cedera kepala