You are on page 1of 33

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas penyisihan amonia
dengan kombinasi proses absorbsi dalam membran dan oksidasi lanjut menggunakan reaktor
hibridaozon plasma. Serta mengetahui pengaruh penambahan proses oksidasi lanjut dalam
reaktor hibrida ozon plasma terhadap proses penyisihan amonia dalam kontaktor membran
menggunakan larutan penyerap asam sulfat (H2SO4). Variabel proses pada proses penyisihan
amonia menggunakan membran adalah laju alir umpan (3, 4, 5 LPM), pH larutan umpan (10,
11, 12), temperatur umpan (20, 30, 40oC) dan jumlah serat membran (50, 60, 70 serat).
Penambahan proses oksidasi lanjut dalam reaktor hibrida ozon plasma dapat meningkatkan
jumlah amonia yang akan disisihkan oleh kontaktor membran. Konfigurasi gabungan absorbsi
dalam membran dan proses oksidasi lanjut dalam RHOP dapat meningkatkan penyisihan
amonia menjadi 81,3% dengan konsentrasi amonia tersisa 149.568 ppm sedangkan pada proses
tunggal membran yang hanya dapat menyisihkan amonia sebesar 63,9 %. Kodisi operasi
optimum dalam penelitian ini diperoleh pada temperatur 400C, pH 11 dan jumlah serat membran
70.
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Permasalahan yang timbul akibat proses industrialisasi adalah meningkatnya limbah


pencemar yang berbahaya bagi lingkungan. Salah satu senyawa adalah amonia (El-Bourawi
dkk., 2007). Kadar amonia dalam effluent limbah harus diminimalisir karena sangat beracun
untuk spesies ikan dan oleh lingkungan amonia akan dibio-dioksidasi oleh mikroorganisme
nitrifikasi menjadi nitrit dan nitrat yang berbahaya bagi manusia. Limbah dengan kadar amonia
yang tinggi biasanya hadir terdapat dalam air limbah industri penyamakan kulit, tekstil, lindi
TPA, pupuk (Hasanouglu, Romero dkk., 2010), pengolahan minyak bumi, farmasi dan industri
katalis (Ashrafizadeh dkk., 2010). Oleh karena itu diperlukan suatu metode yang tepat dan
efektif untuk pengolahan limbah yang mengandung amonia agar kualitas limbah tersebut
memenuhi baku mutu lingkungan yang telah ditetapkan serta tidak berbahaya terhadap
lingkungan yaitu melalui proses separasi.
Proses separasi dilakukan untuk memisahkan amonia dari limbah cair yang dihasilkan
dari suatu produksi. Proses separasi yang selama ini digunakan untuk menghilangkan amonia
dapat berupa amonia stripping, biological nitrification- denitrification, ion exchange, chemical
precipitation, breakpoint klorinasi dan biological treatment (Li Huang, 2008). Aplikasi proses
pemisahan amonia tergantung dari beberapa faktor yaitu tingkat kontaminasi, keamanan sistem,
ketersediaan sumber pemanas dan bahan kimia (Xie, Duong dkk., 2009). Masing-masing
teknologi konvensional ini memiliki kekurangan dan membutuhkan biaya yang mahal (Bonmati
Disamping metode konvensional tersebut, terdapat cara baru yang sedang dikembangkan
yang memiliki kelebihan dibandingkan cara separasi biasa adalah dengan menggunakan
teknologi membran, karena dengan menggunakan teknologi membran terdapat luas permukaan
yang lebih luas untuk kontak antara larutan umpan dan larutan penyerap sehingga hanya
membutuhkan energi yang lebih kecil untuk setiap mol amonia yang terserap (Hasanouglu dkk.,
2010).

Dalam proses pemisahan amonia dari air melalui membran, sebagai kontaktor
yang merupakan media tempat berkontak antara larutan penyerap dengan amonia. Dalam
penelitian ini pelarut yang digunakan adalah asam sulfat karena asam sulfat merupakan
senyawa asam yang bersifat reaktif terhadap amonia yang bersifat basa, sehingga
diharapkan amonia yang terpisahkan dari selongsong akan bereaksi dengan asam sulfat
yang berada dalam serat membran membentuk ammonium sulfat yang dapat digunakan
sebagai pereaksi bahan kimia atau penggunaan lainnya.
Salah satu proses untuk tujuan tersebut adalah menggabungkan dengan proses oksidasi
lanjut. Proses oksidasi yang selama ini dikembangkan adalah dengan non thermal plasma (NTP)
menggunakan tegangan tinggi di serat seperti elektroda untuk akan menyebabkan ionisasi gas
menghasilkan sebuah jet plasma yang dapat menghasilkan sinar UV, ozon, dan radikal hidroksil
(Locke, 2006). NTP dianggap sangat efisien karena sedikit energi yang hilang dalam pemanasan
cairan sekitarnya, yang memungkinkan energi akan difokuskan pada eksitasi elektron (Gerrity
dkk., 2009). Proses oksidasi lanjut yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah dengan
gabungan teknologi plasma dengan proses ozonasi pada fasa liquid.
Penambahan proses oksidasi lanjut dalam reaktor hibrida ozon plasma dapat
menghasilkan ion OH- yang dapat menggeser reaksi kesetimbangan atau menghasilkan radikal
OH• yang dapat membantu proses degradasi amonia. Reaktor hibrida ozon plasma yang
digunakan untuk proses oksidasi lanjut dirancang untuk menghasilkan plasma berbentuk shell
and tube yang terbuat dari kaca borosilikat dan diluarnya diselubungi dengan elektroda yang
terbuat dari stainless steel berbentuk batang dan kasa.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana kemampuan pelarut asam sulfat dalam penyisihan amonia dari air limbah
dengan menggunakan teknologi membran.
2. Bagaimana pengaruh penambahan proses oksidasi lanjut dalam reaktor hibrida ozon
plasma terhadap proses penyisihan amonia dalam kontaktor membran.
3. Bagaimana kombinasi teknologi proses absorbsi dalam membran dan proses oksidasi
lanjut menggunakan reaktor hibrida ozon plasma untuk menghilangkan amonia dalam
air limbah serta bagaimana efektivitasnya.

1.3 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang dan menganalisis efektivitas
kombinasi proses absorbsi dalam membran dan oksidasi lanjut menggunakan reaktor hibrida
ozon plasma. Serta mengetahui pengaruh penambahan proses oksidasi lanjut dalam reaktor
hibrida ozon plasma terhadap proses penyisihan amonia dalam kontaktor membran
menggunakan larutan penyerap asam sulfat (H2SO4).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pada tinjauan pustaka ini berisi landasan teori umum yang digunakan untuk
menjelaskan masalah yang akan dibahas penulis untuk melakukan penelitian
diantaranya, teori tentang amonia meliputi baku mutu limbah amonia serta
kesetimbangan amonia dalam air, penyisihan amonia dengan teknologi membran,

2.1.1Amonia
Amonia (NH3) adalah gas atau cairan tak berwarna yang memiliki bau yang berbeda.
Amonia merupakan kontaminan yang umum di tanah maupun air limbah. Konsentrasi NH3-N
dapat bervariasi dari 5 sampai 1000mg / L dalam air limbah industri kokas, pupuk kimia,
gasifikasi batubara, pemurnian minyak bumi, farmasi dan industri katalis (AtkinsJr dkk., 1997).
Amonia hadir dalam konsentrasi rendah dan jumlah debit mungkin rendah. Namun, amonia
yang terlarut dalam air limbah tidak dapat diuapkan karena gas amonia akan menyebabkan
masalah lingkungan yang serius (Bhattacharya, 2011).

2.1.1 Sifat Amonia


Dalam keadaan terlarut, amonia ada dalam dua bentuk. Salah satunya adalah gas beracun
amonia (NH3) dan yang lainnya adalah ion amonium kurang berbahaya (NH4+). Komposisi
tersebut konstituen tergantung pada pH dan temperatur. Amonia beracun berbahaya bagi
kehidupan air , dalam konsentrasi terendah 0,01 ppm memiliki
efek negatif pada ikan, sedangkan 0,1 ppm dapat mematikan bagi beberapa spesies
Gas amonia sedikit lebih ringan dari udara dan amonia dalam amonium hidroksida
sangat mungkin menjadi udara. Kisaran ambang batas bau adalah 5-17 ppm.
Amonia dalam bentuk cairan atau gas dapat menyebabkan iritasi parah
dan/atau luka bakar pada mata, hidung, tenggorokan dan kulit. Amonia memiliki
ambang batas bau dari 5 -17 ppm (yang lebih rendah dari batas eksposur). Amonia
dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan cedera permanen pada mata, kerusakan
yang luas pada tenggorokan dan saluran pernapasan bagian atas, dan dapat
mempengaruhi kerja jantung. Gas amonia anhidrat mudah meledak pada konsentrasi
16-25 % volume di udara. Selain itu amonia juga bersifat korosif
Gambar 2.1 Struktur kimia Amonia

Dari OR-OSHA diketahui Permissible Exposure Limit (PEL) untuk NH3 adalah 25 ppm
selama delapan jam untuk Time Weighted Average (TWA). Sedngkan The American Conference
of Governmental Industrial Hygienists (ACGIH) merekomendasikan delapan jam TWA dengan
konsentrasi 25 ppm, batasan ambang batas ini untuk mengendalikan potensi bahaya amonia
terhadap kesehatan. ACGIH juga merekomendasikan Short Term Exposure Limit (STEL) 35
ppm selama rata-rata 15 menit.
Sifat Fisika Amonia Nilai
Massa jenis dan fase 0,6942 g/L, gas
Kelarutan dalam air 89,9 g/100 ml pada 0°C
Titik lebur -77,73 °C (195,42 K)
Temperatur autosolutan 651°C
Titik didih -33,34 °C (239,81 K)
Keasaman (PKa) 9,25
Kebasaan (PKb) 4,75

Tabel 2.1. Sifat-Sifat Amonia (Putri , 2010)


2.2 teknologi membran

Teknologi membran tidak menawarkan selektivitas untuk spesies tertentu, tetapi hanya
bertindak sebagai penghalang antara fasa yang terlibat, dengan memungkinkan kontak di antara
mereka. Dua fasa terpisah oleh membran, dimana tidak ada pencampuran dari mereka dan tidak
ada fenomena dispersi. Spesies ditransfer dari satu fasa ke fasa lain hanya dengan difusi saja.
Membran yang digunakan biasanya mikroporous dan simetris, baik hidrofobik maupun
hidrofilik (Drioli dkk., 2006).
Aplikasi teknologi membran tidak meningkatkan transfer massa melainkan
meningkatkan luas area per volume seperti dapat ditemukan dalam serat berongga dan modulus
kapiler, oleh karena itu proses ini menjadi lebih menarik daripada kontaktor fasa terdispersi
konvensional. Sebagai contoh packed and tray coloumn memiliki luas area per volume sekitar
30-300 m2/m3, tetapi dengan kontaktor membran, luas area per volumenya dapat mencapai
1600-6600 m2/m3. Pada kontaktor membran G-L satu fasa adalah gas atau uap dan fasa lainnya
adalah cairan sedangkan pada kontaktor L-L kedua fasanya adalah cairan. Kontaktor G-L dapat
membagi proses dimana gas atau uap yang dipindahkan dari fasa gas ke fasa cair dan uap atau
gas yang dipindahkan dari fasa cair ke fasa gas (Mulder, 2000).

Perbedaan konsentrasi komponen antar fasa dan penurunan tekanan yang diperlukan
untuk menahan interfasa antar fluida yang sangat kecil. Pada proses kontak antar fluida melalui
membran, langkah-langkah yang terjadi adalah (Kartohardjono dkk., 2010):
1. Perpindahan massa komponen dari fluida umpan ke membran.
2. Difusi massa tersebut melewati membran.
3. Perpindahan massa dari membran ke fluida lainnya.

2.2.1 Kontaktor Membran Serat Berongga (Hollow Fiber Membrane Contactor- HMFC)
Serat berongga telah digunakan sejak tahun 1960-an dalam berbagai macam aplikasi
seperti reverse osmosis, ultrafiltrasi, pemisahan gas membran, organ buatan, dan tujuan medis
lainnya (Khulbe, 2008). Fungsi utama membran dalam kontaktor membran serat berongga
adalah untuk menciptakan luas permukaan kontak yang sangat besar di dalam modul sehingga
proses perpindahan massa yang terjadi akan lebih efisien. Selain itu membran serat berongga
juga digunakan untuk membuat fasa kontak gas cair pada pori membran tidak bergerak dengan
kombinasi efek tegangan permukaan dan perbedaan tekanan pada tiap fasa.Perbedaan antara
modul kapiler dan modul serat berongga adalah dalam masalah dimensi, sedangkan konsep
modulnya sama. Modul serat berongga berkonfigurasi dengan densitas packing yang
paling tinggi, yang dapat mencapai nilai 300 m2/m3. Modul ini digunakan jika aliran umpan

relatif
bersih, seperti dalam pemisahan gas dan pervaporasi. Selain itu juga digunakan dalam desalinasi
air laut, dan aliran umpan yang relatif bersih lainnya (Mulder, 2000

Gambar 2.3. Membran Serat Berongga (Gabelman and Hwang, 1999)


Modul serat berongga memiliki karakteristik yang berbeda dari modul tubular,
diantaranya yaitu:
 Modul serat berongga direkomendasikan untuk beroperasi dengan bilangan
Reynolds pada rentang 500-3000, kebanyakan berjalan pada wilayah aliran
laminer, level tekanan rendah dengan nilai maksimum 2,5 bar.
 Karena kombinasi aliran silang dengan laju alir yang rendah dan penurunan
tekanan rendah, modul serat berongga adalah salah satu modul yang lebih
ekonomis dalam hal konsumsi energi.
 Modul serat berongga memiliki rasio area permukaan terhadap volume yang
paling tinggi dibandingkan dengan tiga konfigurasi modul lainnya yaitu modul
tubular, modul lembaran datar, dan modul spiral.
 Kelemahan modul serat berongga adalah serat tipis mereka rentan untuk
diblokir oleh umpan dengan partikel besar, jika mereka beroperasi dalam mode
inside-out. Oleh karena itu pretreatment untuk mengurangi ukuran partikel
menjadi 100 µm biasanya diperlukan untuk modul ini (Cui, 2010).
Serat berongga juga menghasilkan fleksibilitas dalam desain modulus dan
alternatif umpan dan geometri aliran produk. Umpan dan permeate dapat mengalir
dengan mudah dalam orientasi co-current, counter current, atau crossflow
sebagaimana yang diinginkan untuk aplikasi tertentu (Peinemann, 2006).

2.2.2 Membran Serat Polivinil Klorida


Polivinil klorida (CH2=CHCl) biasa disingkat menjadi PVC adalah polimer
termoplastik dimana pada suhu tinggi akan meleleh tetapi akan mengeras kembali jika
didinginkan. Jika ditinjau dari segi kestabilan, senyawa ini sangat stabil karena
berbentuk polimer sehingga fasanya berbentuk padatan yang keras sehingga hampir
tidak berpengaruh (tidak bereaksi) terhadap kehadiran oksidator kuat. Dari segi
keamanan, senyawa ini hampir tidak berbahaya dan mengganggu lingkungan karena
tidak berpotensi mencemari udara, air maupun tanah (Irawan, 2010).
Sifat fisik dan kimia serta sifat mekaniknya yang sangat baik (Xu and Xu 2002).
Gambar struktur membran serat berongga PVC dapat dilihat pada gambar di bawah
ini:

(a) (b)

(c) (d)
Gambar 2.4 Foto SEM Membran Serat Berongga PVC (a) pembesaran 70X (b) pembesaran
200 X (c) pembesaran 800X (d) pembesaran 10000X

PVC dipilih sebagai bahan serat membran karena memiliki struktur asimetris ganda,
yang berarti bahwa serat berongga memiliki permukaan bagian dalam dan luar.
Struktur asimetris ganda ini memberikan sebuah stabilitas mekanik yang lebih
tinggi pada serat dibandingkan dengan membran serat berongga anisotropik
konvensional. Keunggulan selanjutnya adalah tidak ada resiko penyumbatan pori
membran ketika dilakukan backwashing dengan tekanan yang lebih tinggi dari sisi
permeat (Guo 2009). Selain itu PVC juga tahan terhadap asam, basa, dan hampir
semua bahan kimia anorganik. Meskipun PVC larut dalam hidrokarbon aromatik,
keton, dan eter siklik, PVC sulit untuk larut dalam pelarut organik lainnya (Vinyl
dkk., 2012).
2.2.3 Pelarut Asam Sulfat
Pelarut yang digunakan dalam proses pemisahan amonia ini adalah asam sulfat
karena asam sulfat merupakan senyawa asam yang bersifat reaktif terhadap amonia
yang bersifat basa, sehingga diharapkan amonia yang terpisahkan dari selongsong
akan bereaksi dengan asam sulfat yang berada dalam serat membran membentuk
ammonium sulfat yang dapat digunakan sebagai pereaksi bahan kimia atau
penggunaan lainnya. Di samping itu asam sulfat merupakan asam kuat yang dalam air
akan terionisasi sempurna sehingga tidak akan melewati membran dan berpindah ke
selongsong yang mengandung amonia. Di samping itu asam sulfat lebih cocok
digunakan dengan membran PVC dibandingkan asam lainnya karena tidak bersifat
oksidator kuat yang dapat merusak membran PVC.
Pada proses absorbsi pemilihan larutan penyerap akan mempengaruhi proses
absorbsi. dipengaruhi oleh konsentrasi larutan penyerap asam sulfat yang digunakan
(Jiahui,dkk., 2008) pada kondisi laju alir dan jumlah serat yang sama, efisiensi pemisahan
ammonia dapat ditingkatkan dengan meningkatkan konsentrasi larutan penyerap asam
sulfat yang digunakan.

2.2.4 Aplikasi Penggunaan Membran Serat Berongga untuk Penyisihan


Amonia dengan Pelarut Asam Sulfat
Gambar. 2.5 adalah representasi skematis dari transportasi selama pemisahan
NH3 dari air. Larutan umpan yang mengandung NH3 diasumsikan mengalir melalui
shell HFMC dan larutan asam sulfat (H2SO4) mengalir secara counter-current di sisi
lumen dan digunakan sebagai larutan penyerap. Kedua larutan akan disirkulasikan
kembali ke wadah masing-masing. Seperti digambarkan dalam gambar, molekul NH3
mendesorpsi dari air di pori antarmuka air dan larut ke dalam matriks polimer. selama
difusi dalam pori-pori membran, molekul teradsorpsi oleh dinding pori. Selanjutnya,

mereka mendesorpsi di sisi shell dan terserap dan bereaksi oleh penyerap tersebut
(Bhattacharya dkk., 2012).
Gambar 2.5 Representasi Skematis dari Transportasi selama Pemisahan NH3 dari Air
(Bhattacharya dkk., 2012)

Proses absorbsi amonia dalam membran kontaktor,ditransfer oleh proses konveksi dan
difusi dari umpan terhadap antarmuka umpan-membran. Pada serat dinding (jari-jari dalam serat
berongga), amonia volatile akan melewati pori-pori membran yang diisi oleh gas. Amonia
kemudian berdifusi pori-pori HFMC, dan ditransfer ke dalam larutan penyerap. Pada antarmuka
shell-membran, amonia segera bereaksi dengan larutan penyerap dan membentuk senyawa
nonvolatil. Di sisi lain, air tidak dapat melalui serat hidrofobik dari HFMC. Prinsip penyisihan
amonia melalui HFMC dapat ditunjukkan pada Gambar 2.6. (Ashrafizadeh dkk., 2012)

Gambar 2.6 Mekanisme Penyisihan Amonia dalam Membran (Ashrafizadeh dkk., 2012)

2.3 Advance Oxidation Processes (AOPs)


Proses oksidasi lanjut merupakan suatu proses yang digunakan untuk
mengoksidasi senyawa organik dalam air. Proses ini dapat digunakan untuk
menyisihkan senyawa organik yang berkonsentrasi rendah sampai tinggi dari sumber
yang beragam seperti air tanah, limbah rumah tangga dan industri, destruksi sludge,
dan pengendalian senyawa organik yang mudah menguap. (M. B. Ray,2007).
AOPs dapat dilakukan dalam beberapa kondisi yang berbeda, yaitu ozon/UV,
ozon/H2O2, ozon/UV/H2O2, H2O2/UV dan ozon pada pH tinggi. Fotolisis UV yang
dikombinasikan dengan hidrogen peroksida merupakan salah satu teknologi terbaik
dan yang paling mungkin dilakukan untuk mendegradasi dan menghilangkan organik
berbahaya dari air, hal ini. Oksidasi terjadi melalui tiga proses, yaitu : (1)Abstraksi
hidrogen; (2) Transfer elektron; dan (3) Pembentukan radikal (Masten and Davies,
1994).
Tabel 2.2. Potensial Oksidasi Oksidan Pengolahan Air (Lukes, 2005)

Spesi aktif Potensial oksidasi

OH• 2.80
O• 2.42
O3 2.07
H2O2 1.78
O2H• 1.70
Cl2 1.36

Proses oksidasi pada kondisi ringan oleh spesi reaktif seperti radikal hidroksil
yang dihasilkan oleh radiasi ultra violet (UV) dalam reaksi antara oksidan yang ada
yaitu ozon dan hidrogen peroksida, hal ini yang kemudian disebut sebagai Advanced
Oxidation Processes (AOPs). AOPs merupakan teknologi alternatif yang sangat
menarik untuk dipelajari dalam penghancuran kontaminan-kontaminan organik yang
berbahaya (Alnaizy and Akgerman, 2000).
Banyaknya reaksi fisika dan kimia yang dihasilkan oleh proses oksidasi,
membuat teknologi ini dapat menjadi solusi beberapa proses yang dibutuhkan dalam
pengolahan air limbah. Dan yang paling penting dalam proses oksidasi lanjut adalah
banyak dihasilkan spesies aktif seperti OH  , O  , H  , dan H2 O2 yang beberapa
oksidan kuat yang dapat mengoksidasi berbagai senyawa organik sekaligus
membunuh bakteri.

2.3.1 Teknologi Plasma


Plasma merupakan keadaan gas kompleks suatu zat, terdiri dari radikal bebas,
elektron, foton, ion, dan lain-lain. Plasma dapat dihasilkan oleh debit listrik yang terus
menerus baik dalam gas inert atau gas reaktif. Untuk aplikasi membran, plasma dapat
digunakan untuk meningkatkan karakteristik membran berpori dan polimer film untuk
pemisahan gas (Peinemann, 2006).
Teknologi yang kemudian diperkenalkan untuk mengatasi limbah cair setelah
teknologi ozon adalah teknologi plasma. Sebenarnya ozon itu sendiri dapat dibuat
dengan menggunakan teknologi plasma. Jadi, secara tidak langsung teknologi ozon
adalah pemanfaatan dari teknologi plasma itu sendiri.
Gambar 2.7. Transisi
Perubahan Fasa (Rohman, 2009)

Plasma terbentuk karena adanya ionisasi fluida yang ada di sekitar elektroda dan
adanya perbedaan tegangan yang sangat tinggi antara kedua elektroda. Mekanisme
pembentukkan plasma adalah sebagai berikut:
 Atom netral atau molekul dalam media pada perbedaan tegangan yang sangat
tinggi akan terionisasi menghasilkan ion positif dan elektron bebas.
 Elektroda akan memisahkan dan mencegah penggabungan ion positif dan elektron
serta menggerakkan elektron menuju elektroda positif

Elektron yang mengumpul pada elektroda akan bergerak dengan kecepatan yang
sangat tinggi dan energi yang sangat besar dan menumbuk atom netral sehingga terjadi
proses ionisasi, disosiasi, dan eksitasi.
Elektron dengan energi yang tinggi ini akan menumbuk dengan cara ionisasi,
disosiasi, dan eksitasi yang kemudian menghasilkan elektron bebas dan akhirnya
terjadi loncatan elektron (avalanche electron) yang disebut dengan streamer
discharge. Elektron bebas (avalanche electron) mempunyai energi 10-15 eV (Gaffar

Ionisasi didefinisikan sebagai proses terlepasnya elektron suatu atom atau molekul dari
ikatannya. Energi yang dibutuhkan untuk melepas satu atau lebih
elektron dari orbitnya pada sebuah atom atau molekul dapat didefinisikan sebagai
Elektron dengan energi yang tinggi ini akan menumbuk dengan cara ionisasi,
disosiasi, dan eksitasi yang kemudian menghasilkan elektron bebas dan akhirnya
terjadi loncatan elektron (avalanche electron) yang disebut dengan streamer
discharge. Elektron bebas (avalanche electron) mempunyai energi 10-15 eV (Gaffar

Menurut Bismo dkk (2008), Teknologi plasma memiliki beberapa keuntungan


dalam pengolahan limbah cair. Berikut keuntungan pengolahan limbah cair dengan
menggunakan teknologi plasma, yaitu :
a. Teknologi plasma ramah lingkungan.
b. Teknologi plasma mudah digunakan.
c. Biaya pengolahan limbah cair dengan teknologi plasma relatif murah.
d. Teknologi plasma dapat digunakan berulang-ulang.

2.4 Aplikasi Penggunaan Reaktor Hibrida Ozon-Plasma untuk Penyisihan


Amonia
Dalam penelitian ini akan dilakukan kombinasi proses oksidasi lanjut dengan
mengkombinasikan reaktor plasma dengan ozonasi pada fasa liquid. Pengolahan
limbah cair dari hasil proses industri yang mengandung polutan organik lain yang
tidak berbahaya di dalam suatu instalasi pengolahan limbah pada dasarnya dilakukan
di dalam suatu sistem pemroses yang disebut dengan reaktor.
Reaktor Hibrida Ozon-Plasma berbentuk tabung gelas yang memiliki lubang
tempat diinjeksikan udara atau campuran ozon-gas O2 ke dalamnya sedemikian rupa
sehingga akan terjadi kontak langsung dengan aliran limbah di dalamnya. Di harapkan
aliran limbah dengan debit yang telah ditentukan tersebut akan bercampur homogen
dengan gas oksigen. Ozonator tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga dapat
menggunakan oksigen sebagai gas reaktan dan sekaligus digunakan pula sebagai
media pendingin.
Reaktor Hibrida Ozon-Plasma berbentuk tabung dengan pemasangan
elektroda, media dielektrik, dan elektroda tegangan tinggi yang disusun berada pada
satu sumbu dan searah aliran gas reaktan dan limbah hasil.

Ozonator tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menggunakan gas


Oksigen sebagai reaktan atau umpan. Aliran umpan melewati ruangan elektroda
tegangan tinggi untuk selanjutnya berbalik arah melewati bagian dalam media
dielektrik dan akan keluar pada lubang keluaran (output). Di dalam ruangan elektroda
terjadi proses plasmanisasi yaitu proses pemaparan gas umpan dalam medan listrik
tegangan tinggi yang kemudian akan mengalami pembentukan ozon dimana terjadi
pembentukan ozon, radikal OH● dan ion OH-yang akan mendegradasi limbah.
Dalam suasana asam, ozon akan langsung bereaksi dengan amonia
membentuk nitrat mengikuti reaksi di bawah ini:
4O + NH → NO - + H+ + H O + 4O
Reaksi NH3/NH4+ dengan ozon berlangsung sangat lambat, diperkirakan kostanta
kecepatan reaksinya dengan ozon sekitar 20 M-1S-1 dengan t1/2 = 96 jam, tingkat penyisihan
amonia oleh ozon masih kurang efektif dengan tingkat penyisihan paling tinggi adalah 5.86%
(Hikmawan,2009) Dari beberapa tahapan reaksi di atas, dapat diketahui bahwa selain
membentuk radikal OH●, dalam kondisi basa dekomposisi ozon juga menghasilkan ion hidroksil
(OH-). Radikal OH● yang terbentuk kemudian menyerang amonia berdasarkan reaksi berikut
ini:
HO● + NH3 → NH2● + H2O
NH2● + H2 O2 → NHOH● + H2O
NH2● + HO● → NH2OH
(Li Huang, 2008
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Sasaran Penelitian


Tujuan proses pemisahan amonia terlarut dari air adalah untuk menurunkan
kadar amonia dalam air. Penelitian ini dilakukan untuk memisahkan amonia yang
terkandung dalam air dengan cara kombinasi proses absorbsi dalam membran serat
berongga dengan fasa cair absorben larutan asam sulfat, dan proses oksidasi lanjut
menggunakan kombinasi reaktor plasma dan ozonasi. Penelitian yang akan dilakukan
adalah penelitian kuantitatif dengan melakukan penelitian di laboratorium untuk
mengetahui efektivitas masing-masing proses serta kombinasi proses membran dan
reaktor hibrida plasma-ozon.
Dalam studi ini akan dipelajari perpindahan massa yang terjadi pada membran
serat berongga dalam kontaktor membran serta efektivitas proses oksidasi lanjut dalam
reaktor hibrida plasma-ozon. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Intensifikasi
Proses Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia.

3.2 Tahapan Penelitian


Penelitian ini secara garis besar akan dilakukan menjadi enam tahapan yaitu
studi literatur, set up peralatan, uji perpindahan massa, pengolahan dan analisis data,
serta penulisan laporan. Penjabaran tahapan yang dilakukan pada penelitian ini dapat
dilihat pada Gambar 3.1. di bawah ini:
Peralatan Fungsi

Alat untuk menimbang massa bahan yang


Kaca Arloji dan Timbangan
diperlukan
Beaker glass
Statif Peralatan untuk mengukur laju produktivitas
Erlenmeyer ozonator
Buret 50 cc
Sarung tangan, masker HEPA, dan Peralatan keamanan bekerja di laboratorium
jas lab
Stopwatch Alat untuk menghitung waktu tiap pekerjaan
Membran Serat Berongga Rangkaian alat untuk proses absorbsi amonia
Reaktor Hibrida Ozon Plasma Rangkaian reaktor untuk proses oksidasi lanjut
Kompresor Sumber udara
Reaktor ozon Sumber ozon
Thermo-circulator Alat untuk menjaga suhu umpan
Amoniameter Alat untuk mengukur konsentrasi amonia
Bahan Penelitian

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel
3.2. berikut ini.
Tabel 3.2. Bahan yang Digunakan dalam Penelitian
Nama Bahan Keterangan
Ammonium sulfat Bahan untuk pembuatan limbah
((NH4)2SO4) sintetik amonia 800 ppm yang bebas
pengotor.
Natrium hidroksida Bahan untuk menyesuaikan pH
(NaOH) limbah sintetik
Aquadest (H2O) Pelarut untuk pembuatan limbah
sintetik dan larutan penyerap asam
sulfat
H2SO4 2 N Bahan untuk pembuatan larutan
(Asam Sulfat) penyerap asam sulfat
Reagen 1 dan Reagen 2 Bahan untuk mengukur konsentrasi
Amoniameter amonia
Larutan KI 0,1 N
Na2S2O3.5H2O 0,005
N Bahan untuk menguji laju
H2SO4 2 N produktivitas ozonator
Indikator kanji
(amilum)

Pada prosedur penelitian, dilakukan uji produktivitas plasma dan ozon, dan
uji perpindahan massa.
3.4.1 Uji Reaktor Hibrida Ozon Plasma
Proses oksidasi lanjut dalam penelitian ini adalah penggabungan teknologi
hibrida antara teknologi plasma dan ozon dalam reaktor dielectric barrier discharge
atau DBD cair (Reaktor Hibrida Ozon-Plasma) yang merupakan sistem reaktor hibrida
Ozon-Plasma hasil rancangan Prof. Dr. Ir. Setijo Bismo, DEA.

Reaktor plasma ini dihubungkan dengan injektor yang memiliki lubang


tempat diinjeksikan gas oksigen atau ozon kedalamnya yang mana akan terjadi kontak
langsung dengan aliran limbah yang melaluinya. Diharapkan aliran limbah dengan
debit yang telah ditentukan tersebut akan bercampur homogen dengan gas oksigen
atau ozon. Injeksi udara tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga dapat
menggunakan oksigen sebagai gas reaktan dan sekaligus digunakan pula sebagai
media pendingin.
Reaktor hibrida ozon plasma berbentuk tabung dengan pemasangan elektroda,
media dielektrik, dan elektroda tegangan tinggi yang disusun berada pada satu sumbu
dan searah aliran gas reaktan dan limbah hasil. Aliran umpan melewati ruangan
elektroda tegangan tinggi untuk selanjutnya berbalik arah melewati bagian dalam
media dielektrik dan akan keluar pada lubang keluaran (output). Di dalam ruangan
elektroda terjadi proses plasmanisasi yaitu proses pemaparan gas dan larutan umpan
dalam medan listrik tegangan tinggi yang kemudian akan mengalami pembentukan
pembentukan radikal-radikal OH.

Uji kinerja reaktor hibrida ozon plasma ini menggunakan metode


iodometri. Metode iodometri ini berdasarkan reaktivitas ozon terhadap larutan KI.
Penggunaan metode iodometri dilakukan untuk menentukan kadar ozon dalam
bentuk gas, dimana ion iodida akan teroksidasi menjadi iodium. oleh ozon dalam
larutan buffer kalium iodida. pH larutan tersebut menjadi 2 dengan dengan pelarut
asam sulfat dan pembebasan iodium dititrasi dengan natrium tiosulfat. Reaksi

ozonasi kalium iodida adalah sebagai berikut (Day dan Underwood, 1991):
O3 + 2I- + H2 O → I2 + O2 + 2OH- (3.1)

Pembebasan iodium (I2) dititrasi dengan natrium tiosulfat:


I2 + 2Na2S2O3 → 2NaI + Na2S4O6 (3.2)
1. isiapkan 2 buah erlenmeyer 500 mL dan gas washing bubbler (bubbler)
yang terdiri dari hulu dan hilir. Ditambahkan 200 mL KI 2% ke dalam
masing-masing erlenmeyer tersebut. Tutup dengan gas washing bubbler
(bubbler) dan disambungkan dengan selang ke bagian ozonator.

2. Dinyalakan ozonator dan stopwatch, kemudian diamati sampai larutan


mangasilkan warna kuning baik di hulu maupun hilir.
3. Apabila sudah terbentuk warna kuning, selanjutnya mematikan ozonator
dan stopwatch. Catat waktu yang dibutuhkan sampai terjadinya perubahan
warna menjadi kuning.
4. Kemudian larutan tersebut ditambahkan dengan H2SO4 2N dan
dititrasi dengan Na2S2O3 0,005 N. Titrasi dilakukan sampai warna larutan
kuning menjadi sedikit kuning muda. Kemudian ditambahkan dengan
indikator amilum sehingga larutan menjadi warna biru, lanjutkan titrasi
sampai larutan tidak berwarna. Titrasi dilakukan untuk sampel hulu dan hilir.
5. Dicatat volume titrasi yang diperoleh kemudian lakukan perhitungan.

6. Dinyalakan ozonator dan stopwatch, kemudian diamati sampai larutan


mangasilkan warna kuning baik di hulu maupun hilir.
7. Apabila sudah terbentuk warna kuning, selanjutnya mematikan ozonator
dan stopwatch. Catat waktu yang dibutuhkan sampai terjadinya perubahan
warna menjadi kuning.
8. Kemudian larutan tersebut ditambahkan dengan H2SO4 2N dan
dititrasi dengan Na2S2O3 0,005 N. Titrasi dilakukan sampai warna larutan
kuning menjadi sedikit kuning muda. Kemudian ditambahkan dengan
indikator amilum sehingga larutan menjadi warna biru, lanjutkan titrasi
sampai larutan tidak berwarna. Titrasi dilakukan untuk sampel hulu dan hilir.

9. Dinyalakan ozonator dan stopwatch, kemudian diamati sampai larutan


mangasilkan warna kuning baik di hulu maupun hilir.
10. Apabila sudah terbentuk warna kuning, selanjutnya mematikan ozonator
dan stopwatch. Catat waktu yang dibutuhkan sampai terjadinya perubahan
warna menjadi kuning.
11. Kemudian larutan tersebut ditambahkan dengan H2SO4 2N dan
dititrasi dengan Na2S2O3 0,005 N. Titrasi dilakukan sampai warna larutan
kuning menjadi sedikit kuning muda. Kemudian ditambahkan dengan
indikator amilum sehingga larutan menjadi warna biru, lanjutkan titrasi
sampai larutan tidak berwarna. Titrasi dilakukan untuk sampel hulu dan hilir.
12. Dicatat volume titrasi yang diperoleh kemudian lakukan perhitungan.

3.4.2 Uji Perpindahan Massa


Variabel dalam penelitian ini adalah :
1. Variabel tetap adalah peralatan modul membran ( diameter serat, jenis polimer
yang digunakan) , peralatan modul plasma dan ozon ( tegangan yang dialirkan,
jenis elektroda yang digunakan) dan konsentrasi amonia dalam larutan umpan.
2. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah
- pH larutan umpan dengan variasi pH 10, 11 dan 12
- Temperatur umpan 20 oC, 30 oC, dan 40 oC
- Jumlah serat membran berongga dengan variasi 50, 60, dan 70
- Laju sirkulasi air limbah dengan variasi 3 LPM, 4 LPM, dan 5 LPM.
3. Variabel terikat adalah konsentrasi amonia yang terdegradasi oleh masing-
masing proses serta kombinasi proses membran dengan proses oksidasi lanjut
dalam reaktor hibrida ozon plasma yang menunjukkan efektivitas proses
terhadap proses degradasi amonia.

3.4.2.1 Proses Membran

Pada proses tunggal penyisihan amonia menggunakan membran hal


pertama yang dilakukan adalah dengan mengalirkan larutan amonia yang ke dalam
selongsong acrylic. Kemudian langkah selanjutnya adalah mengalirkan larutan
absorben (larutan asam sulfat) ke dalam serat membran PVC. Membran PVC bersifat
hidrofobik dan mempunyai pori sehingga dengan adanya perbedaan konsentrasi gas
amonia pada membran dan selongsong akan menyebabkan gas amonia yang berada di
dalam selongsong bergerak menuju pori-pori dan masuk ke bagian dalam serat
membran yang kemudian diserap oleh larutan absorben.. Amonia yang akan digunakan
adalah dengan konsentrasi inlet 800 ppm. Kemudian amonia ini dipompakan ke dalam
shell yang laju alirnya diatur menggunakan valve sesuai variabel yang dapat dilihat
pada alat flowmeter. Larutan amonia yang keluar dari selongsong akan kembali ke
dalam bak penampung dan kemudian akan dialirkan lagi ke dalam selongsong, proses
ini terjadi berulang. Larutan amonia yang telah mengalami siklus dan berada pada
reservoir penampung, akan diukur konsentrasinya dengan menggunakan amonia meter
setiap selang waktu 30 menit selama sirkulasi 2 jam.
Untuk menentukan jumlah amonia terlarut digunakan alat amonia meter. Studi
perpindahan massa dilakukan dengan menghitung nilai koefisien perpindahan massa
dengan menggunakan data perubahan konsentrasi amonia.

Pada proses penyisihan amonia dengan proses oksidasi lanjut menggunakan


Reaktor hibrida ozon plasma , dilakukan dengan mengalirkan limbah sintetik yang
mengandung ammonia dengan konsentrasi 800 ppm dan pH sesuai varibel yang
digunakan. Larutan umpan dipompakan menuju plasma dengan mengatur laju alir
sesuai variabel yang ditentukan dengan menggunakan valve. Sebelumnya tegangan
regulator diatur sesuai dengan keperluan (+ 175 V). Amonia yang keluar dari plasma
outlet dari plasma akan dialirkan ke dalam reservoir dan akan diukur kembali
konsentrasinya dengan menggunakan amonia meter setiap selang waktu 30 menit
selama sirkulasi 2 jam. Selain itu dalam Reaktor hibrida ozon plasma juga akan
divariasikan injeksi udara yang diberikan yaitu injeksi dengan ozon atau injeksi udara
tanpa menggunakan ozon.

3.4.1.1 Proses Gabungan Reaktor hibrida ozon plasma dan Membran


Prosedur yang akan dilakukan pada penyisihan amonia dengan gabungan
Reaktor hibrida ozon plasma dan membran adalah sama dengan proses penyisihan
amonia dengan Reaktor hibrida ozon plasma saja atau dengan membran saja, namun
pada proses ini dilakukan penggabungan dua proses tersebut. Larutan amonia yang
telah keluar dari selongsong kemudian disirkulasikan ke reaktor hibrida, outlet dari
reaktor hibrida ozon plasma akan dialirkan kembali ke membran dan akan diukur
kembali konsentrasinya dengan menggunakan amonia meter setiap selang waktu 30
menit selama waktu sirkulasi selama 2 jam.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Proses Penyisihan dalam Reaktor Hibrida Ozon Plasma (RHOP)

Proses oksidasi lanjut yang akan digabungkan dengan absorbsi dalam membran
adalah dengan menggunakan Reaktor Hibrida Ozon Plasma (RHOP). Untuk
mengetahui kemampuan RHOP untuk menyisihkan amonia dalam penelitian ini juga
dilakukan proses tunggal menggunakan RHOP . Dari Gambar 4.1 dapat diketahui
pengaruh pH umpan terhadap penyisihan amonia dalam RHOP, dari gambar tersebut
dapat diketahui kenaikan pH akan berbanding lurus dengan penyisihan amonia. Hasil
dari %R penyisihan amonia tertinggi menggunakan RHOP yaitu sebesar 11,7 %, pada
pH umpan 12. Efisiensi yang rendah dikarenakan reaktor plasma menggunakan
tegangan yang cukup rendah 175 Volt, sehingga produktivitas ozon dan radikal OH●
dengan jumlah yang belum cukup untuk menyisihkan amonia di dalam air limbah.
Dalam RHOP, reaksi yang terjadi adalah proses oksidasi lanjut. Proses oksidasi
lanjut adalah suatu metode yang memanfaatkan keberadaan radikal dan spesi aktif
sebagai oksidator yang sangat kuat untuk menguraikan suatu senyawa yang tidak dapat
dioksidasi dengan oksidator konvensional. Oksidasi lanjut dalam RHOP akan
menghasilkan spesi aktif ozon dan radikal OH•. Ozon terbentuk karena terjadinya
dekomposisi atom oksigen dalam reaktor RHOP. Selanjutnya dalam kondisi basa ozon
akan terdekomposisi menjadi radikal OH• yang sangat reaktif sehingga dapat
menyerang atom atau molekul lainnya menjadi senyawa baru.

Dekomposisi ozon dalam air diawali dengan reaksi ozon dengan ion OH- yang
diikuti pembentukan beberapa spesies radikal lainnya seperti OH●, HO2●, dan HO3●
(Rodríguez A. 2008). Reaksi perubahan ozon membentuk spesies radikal melalui tiga
tahap yaitu inisiasi, propagasi, dan terminasi. Reaksinya adalah sebagai berikut:
Inisiasi :
Inisiasi :
O3 + OH- → O2●- + HO2●
Propagasi :
HO2● ⇄O2●- + H+
O3 + O2●- → 3●- + O2 O3●- + H+ ⇄ HO3● HO3● → HO● + 2
O3 + HO● → HO4● HO4● → HO2● + O2 HO2- + H+ ⇄2 H2O
HO● + H2O2 → HO2● + H2O HO● + HO2- → HO2● + HO-

Terminasi :
HO● + O3 → O3 + HO-
HO4● + HO4● → H2O2● + 2O3
HO4● + HO3● → H2O2● + O2 + O3

Radikal OH● yang terbentuk kEmudian menyerang amonia membentuk hidroksil amin
yang merupakan basa lemah berdasarkan reaksi berikut ini:
HO● + NH3 → NH2● + H2O NH2● + H2 O2 → NHOH● + H2 O NH2● + HO● → (
4
NH2OH
.
1
4
)
(
4
.
1
5
)
(
4
.
1
6
)

(Li
Huang
, 2008)
Untuk mempercepat dekomposisi ozon menjadi radikal OH● dapat dilakukan dengan
meningkatkan pH (Enjarlis, 2006). Dengan pH umpan yang semakin tinggi maka akan memberikan
persen penyisihan amonia yang lebih baik (Zhu dkk., 2005). Radikal ozon yang hanya memiliki potensial
oksidasi sebesar 2,07 eV sedangkan radikal OH● memiliki potensial oksidasi lebih besar yaitu 2,80 eV
(Ikehata K. dkk. 2006). Dalam larutan asam, mekanisme reaksi yang mendominasi adalah serangan
langsung dari ozon pada molekul lainnya, sedangkan pada kondisi basa mekanisme yang dominan adalah
serangan radikal bebas (misalnya radikal OH●, radikal H02●) (Channing, 1979).
4.1.1 Proses Penyisihan dalam RHOP-Ozon
Penggabungan RHOP dan Ozon dilakukan untuk meningkatkan poduktiftas RHOP. Dalam
proses ini, yaitu udara yang berasal dari kompresor sebelum masuk dalam RHOP dialirkan
menuju ozonator, dalam ozonator udara akan dikonversi menjadi ozon yang kemudian
diinjeksikan ke dalam injektor-mixer. Ozon akan bercampur dengan air limbah dalam
injektor-mixer dan kemudian mengalir ke dalam reaktor hibrida ozon plasma. .
Ozon tidak reaktif terhadap amonia, hal ini dikarenakan molekul amonia
memiliki sepasang elektron bebas yang cenderung menolak ozon. Berikut ini
merupakan reaksi antara amonia dengan ozon yang akan membentu ammonium nitrat :
2NH3 + 4O3 → NH4NO3 + 4O2 + H2 O (4.17)
Pada pH basa, lifetime ozon semakin menurun dan ozon akan terdekomposisi
menjadi radikal OH●. Penambahan injeksi ozon ini diharapkan dapat meningkatkan
pembentukan radikal OH●, sehingga proses oksidasi lanjut dalam RHOP semakin
efektif. Oleh karena itu peningkatan pH dan penambahan ozonator akan secara
simultan meningkatkan persen penyisihan amonia.
Dari Gambar 4.2 dapat diketahui terjadi peningkatan %R bila dibandingkan
dengan proses RHOP. Hasil dari %R penyisihan amonia tertinggi menggunakan
RHOP yaitu sebesar 11,7 % sedangkan pada gabungan proses RHOP-ozon sebesar
18,3 % terjadi kenaikan sebesar +7 %, pada pH umpan 12. Gabungan proses RHOP
dan ozon meningkatkan jumlah spesi aktif ozon dan radikal OH● serta dapat
membantu memperlama life radikal OH● yang akan mengoksidasi NH3 dan ion
hidroksil (OH-) yang menggeser kesetimbangan amonia sehingga penyisihan amonia
menggunakan proses gabungan RHOP, dan ozon berlangsung lebih efektif.

Gambar 4.2 Persen Penyisihan Amonia dengan RHOP-Ozon


4.1.2 Proses Penyisihan dalam Membran
Modul serat berongga yang digunakan bersifat hidrofobik dimana tidak
terbasahi baik oleh larutan amonia maupun larutan penyerap. Amonia dalam
fasa gas NH3 berdifusi melewati pori-pori membran dan kemudian bereaksi
dengan larutan penyerap sehingga konsentrasi amonia dalam air limbah
berkurang seiring dengan berjalannya waktu. Dalam penelitian ini akan
dipelajari pengaruh variasi laju alir dan temperatur terhadap proses penyisihan
amonia.
4.1.2.1 Pengaruh Laju Alir Umpan
Pengaruh laju alir umpan dapat dilihat pada gambar 4.3 bahwa pada
proses penyisihan amonia dalam membran dengan variasi laju alir 3, 4, 5 LPM,
persen penyisihan amonia (%R) berbanding lurus dengan meningkatnya laju
alir. Peningkatan laju alir umpan akan meningkatkan turbulensi aliran, sehingga
%R akan bertambah (Xie dkk., 2009). Mekanisme perpindahan massa memiliki
kecenderungan suatu komponen yang berada dalam suatu campuran untuk
bergerak dari daerah yang berkonsentrasi tinggi ke daerah yang berkonsentrasi
rendah. Dengan naiknya turbulensi aliran maka akan memudahkan molekul
amonia volatil NH3 (amonia bebas) terdorong untuk berdifusi ke permukaan
membran dan kemudian berpindah dan diserap oleh larutan penyerap.
Berdasarkan Gambar 4.3 dapat diketahui bahwa pada proses penyisihan
amonia dengan menggunakan membran, efisiensi penyisihan tertinggi
didapatkan pada variasi variabel proses jumlah serat 70 dengan laju alir umpan 5
LPM yaitu sebesar 63,9 %.

Gambar 4.3 Persen Penyisihan Amonia dengan Membran Variasi Laju Alir Umpan
1.. Proses Penyisihan dalam Membran-RHOP dan Gabungan Membran-
RHOP-Ozon
Dalam penelitian sebelumya diketahui bahwa dalam membran hanya
molekul amonia volatil yang dapat disisihkan melalui membran, sedangkan ion
amonia NH4+ tertahan dalam membran (Ashrafizadeh dan Khorasani, 2010)
(Hasanoaglu dkk., 2010). Untuk meningkatkan persen penyisihan amonia
dilakukan penggabungan proses membran dengan proses oksidasi lanjut
dalam RHOP dan RHOP-Ozon.
Mekanisme penyisihan amonia dalam air limbah menggunakan gabungan membran
dan RHOP serta ozon dapat dilihat pada gambar 4.5. Dalam penelitian ini akan
dipelajari pengaruh variasi temperatur larutan umpan, pH larutan umpan dan serat
membran terhadap proses penyisihan amonia.

Gambar 4.4 Mekanisme Penyisihan Amonia dalam Membran-RHOP-Ozon

Kenaikan temperatur akan menaikkan molekul amonia volatil (NH3)


dalam larutan umpan sehingga akan menaikkan kinerja penyisihan dalam
membran (Xie dkk., 2009). Peningkatan suhu umpan dapat menyebabkan
meningkatnya uap air yang terbentuk. Fasa uap air ini akan lebih mudah untuk
dipecah melalui mekanisme plasma dibanding ketika air masih dlam bentuk
cairan. Dengan terbentuknya gas, ruang dan jarak antar molekul air menjadi
lebih renggang sehingga memudahkan terjadinya tumbukan elektron. Selain itu
suhu yang tinggi juga mengakibatkan laju difusi hidrogen ke fasa gas semakin
tinggi, sehingga memudahkan plasma terbentuk. Terjadinya plasma akan
mempengaruhi terbentuknya ozon, radikal hidroksil dan ion OH- yang berperan
dalam proses penyisihan amonia. Sehingga penggabungan proses membran,
RHOP dan Ozonator serta kenaikan suhu akan secara simultan berpengaruh
terhadap peningkatan penyisihan amonia.

Gambar 4.5Persen Penyisihan Amonia dengan Membran-RHOP Variasi Temperatur


4.1.4.2 Pengaruh Serat Membran
Peningkatan jumlah serat membran berbanding lurus dengan persen
penyisihan amonia, seperti yang terlihat pada gambar 4.9 dan 4.10. Jumlah serat
membran yang bertambah akan meningkatkan luas permukaan serat sehingga
kontak langsung antara amonia dan penyerap akan meningkat dan amonia yang
dapat terserap dalam larutan penyerap juga semakin besar.
Dari Gambar 4.6 proses gabungan membran-RHOP dengan serat
membran 70 memiliki nilai %R yaitu sebesar 72,8 % dan pada Gambar 4.10
proses gabungan membran-RHOP-ozon dengan serat membran 70 memiliki
nilai %R yaitu sebesar 80,1%.
Dari keseluruhan konfigurasi proses yang divariasikan dalam penelitian
ini dapat dilihat pada Gambar 4.11 dari Gambar tersebut dapat diketahui bahwa
proses penyisihan yang paling berpengaruh adalah proses penyisihan dengan
menggunakan membran. Proses oksidasi lanjut dengan menggunakan RHOP
tunggal yang digunakan tidak berpengaruh signifikan terhadap penyisihan
amonia. Karakteristik kontaktor membran yang memang dirancang untuk
menyisihkan amonia dalam jumlah yang cukup besar, sedangkan RHOP dan
ozon yang digunakan pada penelitian ini hanya dapat digunakan untuk
menyisihkan amonia dalam jumlah tertentu.
BAB V
KESIMPULAN
Konfigurasi gabungan absorbsi dalam membran dan proses oksidasi lanjut dalam
RHOP dapat meningkatkan penyisihan amonia menjadi 81,3 %, dengan kondisi
operasi optimum dalam penelitian ini diperoleh pada temperatur 400C, pH 11 dan
jumlah serat 70.
Sistem RHOP yang telah dirancang terbukti dapat meningkatkan penyisihan
amonia dalam membran dengan waktu sirkulasi tertentu meskipun masih
membutuhkan beberapa penyempurnaan.

Adapun saran untuk penelitian selanjutnya untuk meningkatkan efektivitas


penyisihan amonia menggunakan proses gabungan membran-RHOP-ozonator dapat
dilakukan dengan cara:
1. Mengunakan reaktor plasma yang memiliki kapasitas lebih besar dan membran
serat berongga dengan jumlah serat yang semakin banyak.
2. Memperpanjang waktu sirkulasi yaitu lebih dari 2 jam.
DAFTAR PUSTAKA

Ashrafizadeh, S.N. Khorasani, Z. (2010), Ammonia removal from aqueous


solutions using hollow-fiber membrane contactors', Chemical
Engineering Journal, 162 (1), 242-49.
Ashrafizadeh, S.N. Mashallah Rezakazemi, Saeed Shirazian (2012),
Simulation of ammonia removal from industrial wastewater streams
by means of a hollow- fiber membrane contactor, Desalination
Journal 285, 383-392
Alnaizy and Akgerman (2000), Advanced Oxidation of Phenolic Coumpound.
Ban Ji-Young, Hyun II Kim, Sui-Jin Choung, Harim Jeong, Misook Kang
(2008), NH3 removal using the dielectric barrier discharge plasma V-
TiO2 photocatalytic hybrid system, Korean J. Chem. Eng, 25 (4), 780-
860.
Beauty, D., (2010 ), Pengaruh pH pada Proses Penyisihan Amonia dari Air
Limbah melalui Kontaktor Membran Serat Berongga menggunakan
Larutan Penyerap Bahan Alami . Depok
Bhattacharya, Prashant K. dkk., (2012) Model prediction and experimental
studies on the removal of dissolved NH3 from water applying hollow
fiber membrane contactor, Journal of Membrane Science, 390– 391.

Bonmatati, August dan Flotats, Xavier (2003), Air stripping of ammonia


from pig slurry: characterisation and feasibility as a pre- or post-
treatment to mesophilic anaerobic digestion, Waste Management,
23(3), 261-272.
Chandra, D. (ed.) (2009), Ammonia removal from aqueous solutions using
hollow fiber membrane using natural hot spring water (Departement of
Chemical Engineering University of Indonesia).
Cui, Z.F. Muralidhara, H.S. (2010), Membrane Technology: A Practical Guide
to Membrane Technology and Applications in Food and
Bioprocessing (Burlington: Elsevier).
Ding, Z., Liu, Liying Li, Zhaoman, Ma, Runyu, Yang, Zurong, (2006),
Experimental study of ammonia removal from water by membrane
distillation (MD): The comparison of three configurations, Journal of
Membrane Science, 286(1-2), 93-103.
Drioli, E., Criscuoli, A., and Curcio, E. (2006), Membrane Contactors:
Fundamentals, Applications, and Potentialities (11; Weinheim:
Wiley- VCH).
PENYISIHAN AMONIA DARI AIR LIMBAH
MENGGUNAKAN GABUNGAN PROSES MEMBRAN
DAN OKSIDASI LANJUT DALAM REAKTOR
HIBRIDA
OZON-PLASMA MENGGUNAKAN LARUTAN PENYERAP
ASAM SULFAT

Anggota : M. Wahyudi (16020005)


Isnan Nur Adinata (16020025)
Ahmad fikriawan (16020020)
Yulius karmila (16020032)
Felcia nungky s(16020047)

Dosen : Hariyanti R,S.Teks.,M.T


Budy H,S.SiT.,MT

PROGRAM STUDI KIMIA TEKSTIL

POLITEKNIK STTT BANDUNG


2018