You are on page 1of 23

HEAT LOSSES OF THE BODY

MAKALAH

Mata Kuliah
Kajian IPA Fisika

Dosen:
Pak Parlin

Toni Hidayat (1803636)


Mardhiyyatan Nur Rahmi (1803488)
Alifa Irna Yasin (1902908)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA


SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2018

0
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Suhu tubuh merupakan pencerminan panas tubuh. Sebagaimana energi tubuh
yang mengikuti hukum termodinamika, panas tubuh sebagai salah satu bentuk
energi juga mengikuti hukum tersebut. Banyak faktor yang mempengaruhi suhu
tubuh yaitu, variasi diurnal, aktivitas fisik, jenis kelamin, dan lingkungan. Suhu
tubuh merupakan hasil keseimbangan antara pembentukan panas dengan
kehilangan panas. Oleh karena itu tubuh akan selalu berusaha mempertahankan
suhu tubuhnya meskipun suhu lingkungan banyak berubah.
Pembentukan panas tubuh manusia (heat production) bergantung pada
tingkat metabolisme tubuh tersebut. Faktor yang mempengaruhinya adalah BMR
(laju metabolisme basal tubuh), aktivitas otot yang digunakan sebagai sumber
energi, makanan dan minuman, vasokontriksi kulit, ventilasi udara, temogenesis
menggigil (shivering thermogenesis), dan temogenesis tak-menggigil (non-
shivering thermogenesis). Perolehan panas tubuh menyebabkan peningkatan suhu
tubuh.
Pengeluaran panas tubuh manusia (heat loss) dari tubuh ke lingkungan
atau sebaliknya berlangsung secara fisika. Kehilangan panas akan berakibat pada
menurunnya suhu tubuh. Permukaan tubuh dapat kehilangan panas melalui
pertukaran panas secara radiasi, konduksi, konveksi, dan evaporasi. Pada
makalah ini akan dibahas bagaimana pengeluaran panas tubuh, faktor yang
mempengaruhi, gejala-gejala fisik yang dirasakan oleh tubuh melalui kajian
fisika.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pelepasan panas tubuh yang disebabkan radiasi, konduksi
dan konveksi?
2. Bagaimana sistem kontrol internal tubuh dalam mempertahankan suhu
normalnya dalam berbagai aktivitas dan kondisi tubuh yang berbeda?

1
BAB II
PEMBAHASAN

Suhu tubuh normal pada manusia berkisar 37.1 ± 1.0 oC dan suhu tubuh
pada bagian organ-organ manusia berbeda-beda. Seperti pada gambar 1.1 dapat
dilihat suhu tubuh pada bagian tangan dan kaki yang terpapar langsung sinar
matahari berbeda dengan suhu tubuh yang tidak terpapar langsung.

Gambar 1.1

Suhu tubuh yang normal ini akan membantu keseimbangan metabolisme tubuh
sehingga manusia mampu melakukan aktivitas tubuh. Metabolisme adalah
keseluruhan reaksi yang terjadi di dalam sel meliputi proses penguraian dan
sintesis molekul kimia yang menghasilkan dan membutuhkan panas (energi) serta
dikatalisis oleh enzim.

Mempertahankan suhu tubuh yang normal membutuhkan sistem kontrol


suhu tubuh internal. Perubahan laju suhu berkorelasi dengan perubahan laju panas
dalam tubuh. Hal ini dinyatakan dalam suatu persamaan;

Dimana C adalah kapasitas panas, ΔQtot adalah perubahan laju panas, ΔT adalah
perubahan laju suhu, dan Δt perubahan suhu. Nilai C didapat dari spesifik panas
(c) = 0.83 kcal/ oC kg untuk massa tubuh = 70 kg, maka C = c.m = 58 kcal/ oC .
Perubahan panas metabolisme tubuh ini bergantung pada ΔQbas dan ΔQext, dimana
ΔQbas adalah panas metabolisme basal tubuh dan ΔQext adalah produksi panas saat
kerja . dinyatakan dalam suatu persamaan;

2
Dari persamaan diatas dapat diasumsikan bahwa persamaan perubahan panas
tubuh adalah

Laju Metabolisme Basal dinyatakan dalam persamaan;

Pada aktivitas tubuh yang berat, laju metabolisme dapat meningkat sampai pada
faktor-faktor tertentu yang nilainya antara 1≤δ≤20 maka persamaannya menjadi

Jika tidak ada panas yang dilepaskan dan sistem kontrol suhu tubuh gagal, maka
persamaan perubahan suhu tubuh menjadi;

Tanpa pelepasan panas dan kontrol suhu tubuh gagal maka suhu tubuh akan
meningkat antara 1.2 dan 24 oC bergantung pada aktivitasnya. Maka persamaan
mekanisme pelepasan panas dan kontrol suhu tubuh adalah

3
Pelepasan panas dapat terjadi melaui empat mekanisme yang berbeda yaitu
radiasi, konveksi, evaporasi, dan konduksi.

A. Pelepasan panas karena Radiasi (ΔQrad)

Sumber pelepasan panas yang pasif terjadi pada mekaniseme radiasi dan
konveksi dari area permukaan tubuh yang terbuka. Konduksi adalah pelepasan
panas melalui bagian permukaan yang tertutup dari keringat yang dikendalikan
oleh sistem kontrol suhu internal. Persamaan pelepasan panas radiasi dinyatakan
dalam;

Keterangan : Suhu lingkungan (Ta)


Suhu kulit manusia (Tskin)
Emisivitas kulit manusia (ϵ )
Area tubuh yang tidak dilindungi (Au)
Konstanta Stefan-Boltzmann (σ)
Perkiraan hasil (dalam 23%) Jika , 0 oC ≤ Ta ≤ 40 oC dan 30 oC ≤ Tskin ≤ 40 oC

4
B. Pelepasan panas karena Konveksi (ΔQconv)

Keterangan : Suhu lingkungan (Ta)


Suhu kulit manusia (Tskin)
Kecepatan angin ( Kconv)
Area tubuh yang tidak dilindungi (Au)
Pada bagian tubuh yang tidak tertutupi baju

Pada kondisi angin sepoi-sepoi dan kondisi baju diabaikan persamaannya


menjadi;

Total pelepasan panas pada bagian tubuh yang tidak tertutupi baju dan kondisi
angi sepoi-sepoi yang disebabkan oleh proses radiatif dan konvektif adalah

Efek pendinginan meningkat dengan adanya kecepatan angin oleh


karena itu suhu yang efektif tampaknya lebih rendah pada kecepatan angin yang
tinggi. Hal tersebut yang disebut dengan faktor wind chill. Bila kecepatan angin
tinggi maka pelepasan panas akan lebih besar. Oleh sebab itu, pelepasan panas
akan sama dengan suhu lingkungan luar yang lebih dingin.

5
C. Wind Chill Temperature
Wind Chill Temperature (WCT) menunjukkan seberapa dingin udara
yang dirasakan manusia ataupun hewan ketika berada di luar. WCT
didasarkan pada laju kehilangan panas tubuh akibat udara dingin dan angin.
Ketika suhu udara ataupun kecepatan angin meningkat, maka WCT juga akan
meningkat, sehingga udara akan terasa lebih dingin dari sebenarnya.

Gambar 2. 1

Pada 1 November, National Weather Service (NWS)


mengimplementasikan WCT baru untuk musim dingin 2001/2002.
Perubahannya memperbaiki indeks WCT saat ini yang digunakan NWS dan
Meteorogical Service of Canada.
Selama lebih dari setahun, NWS dan MSC telah berdiskusi untuk
memperbaharui WCT. Selama musim gugur tahun 2000, Office of the
Federal Coordinator for Meteorological Service (OFCMS) membuat sebuah
kelompok yang terdiri dari beberapa agen federal, MSC, komunitas akademik
dari beberapa kampus dan International Society of Biometeorology untuk
mengevaluasi dan memperbaiki rumus Wind Chill. Kelompok yang dipimpin
oleh NWS ini dinamakan Joint Action Group for Temperature Indice
(JAG/TI). Tujuan dari JAG/TI ini ialah untuk memperbaharui dan
menstandarkan indeks suhu ekstrim secara internasional (misalnya indeks
Wind Chill).

6
Setelah pertemuan pada bulan Oktober tahun 2000 dan Februari tahun
2001, JAG/TI mencapai kesepakatan pada rumus Wind Chill yang baru,
mendiskusikan sebuah proses untuk verifikasi saintifik pada rumus baru, dan
membangun rencana untuk mengimplementasikan rumus baru tersebut.
Indeks WCT yang baru dipresentasikan pada pertemuan JAG/TI di Toronto,
Kanada pada 2 Agustus 2001. Rumus baru ini menggunakan pemodelan
tingkat lanjut dala sains, teknologi dan komputer untuk mendapatkan rumus
yang lebih akurat, mudah dipahami dan berguna untuk menghitung bahaya
dari angina musim dingin dan suhu beku.

Gambar 2. 2

Percobaan secara klinis telah dilakukan oleh Defense and Civil Institute
of Environmental Medicine di Toronto, Kanada. Hasil percobaan ini telah
digunakan untuk memperbaiki akurasi dari rumus yang baru dan menentukan
nilai ambang frostbite.
Standarisasi indeks WCT di antara komunitas meteorologi menghasilkan
sebuah ukuran yang akurat dan konsisten untuk memastikan keamanan
public. Rumus Wind Chill yang baru sekarang digunakan di Kanada dan
Amerika Serikat.

7
Secara spesifik, indeks WCT yang baru akan:
1. Menggunakan kecepata angin yang telah dihitung pada ketinggian rata-
rata yaitu 5 kaki (ketingggian wajah orang dewasa) berdasarkan pada
pembacaan dari ketinggian standar nasional yaitu 33 kaki (ketinggian
anemometer).
2. Berdasarkan pada model wajah manusia
3. Mendukung teori transfer panas modern (kehilangan panas tubuh ke
lingkungan selama hari yang dingin dan berangin)
4. Lebih merendahkan ambang angin yang tenang ke 3 mph
5. Menggunakan standar yang konsisten untuk pertahanan jaringan kulit
6. Mengasumsikan tidak ada dampak dari matahari (dengan kata lain pada
langit malam yang cerah)
Pada tahun 2002, NWS menyesuaikan WCT untuk radiasi matahari untuk
berbagai kondisi (cerah, cerah berawan dan berawan).
Ketika nilai WCT sangat rendah, dapat mengakibatkan dua hal serius
pada tubuh, yaitu frostbite dan hypothermia. Dua gejala ini sangat berbahaya
karena dapat mengakibatkan kematian.
a. Frostbite
Tubuh kita akan mengalami frostbite ketika ada jaringan yang
membeku. Bagian tubuh yang sangat rentan terkena frostbite ialah jari
tangan, jari kaki, daun telingan dan ujung hidung. Gejala yang dirasakan
oleh penderita ialah perasaan kehilangan anggota tubuh yang terkena
frostbite dan anggota tubuh tersebut menjadi pucat, bahkan menghitam.
b. Hypothermia
Hypothermia terjadi ketika suhu tubuh kita di bawah 95oF (35oC).
Gejala yang muncul sebagai akibat dari hypothermia ialah:
i. Tubuh menggigil dengan tidak terkontrol
ii. Terjadi kehilangan ingatan
iii. Terjadi disorientasi
iv. Tindakan dan perkataan menjadi tidak logis
v. Bicara tidak jelas
vi. Merasa kantuk yang sangat berat

8
vii. Tubuh merasa sangat Lelah
Jika hypothermia terjadi, segeralah mencari pertolongan medis
secepat mungkin. Jika pertolongan medis tidak memunginkan didapatkan
dalam waktu cepat, maka segeralah memberikan pertolongan pertama,
yaitu sebagai berkut.
a. Hangatkan bagian tubuh inti, jangan bagian luar dulu seperti tangan
dan kaki. Menghangatkan bagian luar terlebih dahulu dapat
menyebabkan darah dingin mengalir ke jantung dan suhu tubuh
semakin turun, sehingga berpotensi terjadi gagal jantung.
b. Selimuti penderita hypothermia dengan pakaian kering dan selimut
yang menutupi kepala dan leher.
c. Jangan berikan alkohol, obat-obatan, kopi atau makanan dan
minuman panas lainnya. Makanan dan kaldu hangat lebih baik untuk
diberikan.
Sekitar 20% kematian yang disebabkan udara dingin terjadi di rumah.
Dimana orang berumur di bawah 2 tahun dan di atas 60 tahun merupakan
umur yang sangat rentan terkena hypothermia. Agar terhindar dari
hypothermia, jaga suhu ruangan di atas 20oC, memakai pakaian tebal, makan
makanan agar tetap hangat dan minum banyak cairan (bukan alkohol) agar
tubuh terhidrasi dengan baik.

D. Kehilangan Panas Akibat Konduksi


Pakaian memiliki efek mengisolasi dan mengurangi kehilangan energi
oleh radiasi dan atau konveksi ke lingkungan yang lebih dingin. Walaupun
begitu, kehilangan panas dengan konduksi ∆Qcond melalui lapisan pakaian
dengan ketebalan L dapat terjadi.
∆𝑄𝑐𝑜𝑛𝑑 𝐾𝑐𝑜𝑛𝑑 𝐴𝑐
= (𝑇𝑠𝑘𝑖𝑛 − 𝑇𝑎 )
∆𝑡 𝐿
∆𝑄𝑐𝑜𝑛𝑑 𝐾𝑐𝑜𝑛𝑑 (𝐴 − 𝐴𝑢 )
= (𝑇𝑠𝑘𝑖𝑛 − 𝑇𝑎 )
∆𝑡 𝐿

9
Ac adalah area tubuh yang tertutupi, A adalah total area tubuh, dan Kcond
adalah faktor yang menjelaskan konduktivitas termal melalui bahan pakaian.
Kcond ≈ 0.04 – 0.2 kcal/mhroC
I = L/Kcond adalah nilai isolasi pakaian dalam satuan berikut.
1 clo = 0.18 oCm2hr/kcal
Sehingga dari sini kita bisa merekomendasikan pakaian yang nyaman
dipakai dalam kondisi yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi lingkungan
masing-masing.
I = 0.44 clo untuk di lingkungan nyaman
I = 0.1 clo untuk di lingkungan panas
I = 1.0 clo untuk di lingkungan dingin
I = 10.0 clo untuk di lingkungan kutub
Dalam kenyataannya, tidak semua area tubuh ditutupi pakaian, sehingga
memungkinkan terjadinya perpindahan kalor secara konduksi, konveksi dan
radiasi. Untuk menghitung total panas yang dipindahkan, dapat dirumuskan
parameter K sebagai faktor total perpindahan panas sebagai berikut.
∆𝑄𝑟𝑎𝑑
= 𝐾𝑟𝑎𝑑 (𝐴 − 𝐴𝑐 )(𝑇𝑠𝑘𝑖𝑛 − 𝑇𝑎 )
∆𝑡
∆𝑄𝑐𝑜𝑛𝑣
= 𝐾𝑐𝑜𝑛𝑣 (𝐴 − 𝐴𝑐 )(𝑇𝑠𝑘𝑖𝑛 − 𝑇𝑎 )
∆𝑡
∆𝑄𝑐𝑜𝑛𝑑 𝐾𝑐𝑜𝑛𝑑 𝐴𝑐 𝐴𝑐
= ∆𝑇 = (𝑇𝑠𝑘𝑖𝑛 − 𝑇𝑎 )
∆𝑡 𝐿 𝐼
Dari ketiga rumus perpindahan kalor secara radiasi, konveksi dan
konduksi di atas, dapat kita ambil nilai K masing-masing dan

10
menggabungkannya menjadi parameter K yang dicari. Jadi didapatkan
parameter K sebagai berikut.
𝐴𝑐
𝐾 ≈ (𝐾𝑟𝑎𝑑 + 𝐾𝑐𝑜𝑛𝑣 )(𝐴 − 𝐴𝑐 ) +
𝐼
Seandainya perpindahan panas secara konduksi tidak ada dan terdapat
panas yang ditimbulkan oleh proses metabolisme dalam tubuh, dapat
diuraikan transfer panasnya sebagai berikut.
∆𝑇 ∆𝑄𝑚𝑒𝑡
𝐶 = − 𝜆(𝑇𝑠𝑘𝑖𝑛 − 𝑇𝑎 )
∆𝑡 ∆𝑡
∆𝑇 1 ∆𝑄𝑚𝑒𝑡 𝜆
= − (𝑇𝑠𝑘𝑖𝑛 − 𝑇𝑎 )
∆𝑡 𝐶 ∆𝑡 𝐶
Penyelesaian persamaan differensial tersebut menunjukkan bahwa
perubahan suhu terjadi secara eksponensial dan ditentukan oleh konstanta
waktu to=C/λ. Sehingga didapat persamaan berikut.
𝑇𝑠𝑘𝑖𝑛 (𝑡)=𝑇𝑠𝑘𝑖𝑛 (𝑡=0) 𝑒^(−𝑡/𝑡𝑜 )+𝑇𝑠𝑘𝑖𝑛 (𝑡≈5𝑡𝑜)(1−𝑒^(−𝑡/𝑡𝑜 ))

Dengan diketahui bahwa kapasitas kalor tubuh manusia C = 58 kcal/oC


dan λ ≈ 25 kcal/hr, maka didapat to ≈ 2,3 jam. Dapat disimpulkan bahwa
tanpa sistem pengendali panas tambahan, tubuh memerlukan waktu lebih dari
2,3 jam untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan suhu lingkungan.

E. Penyesuaian Suhu Tubuh


Bagaimana tubuh menyesuaikan suhu dalam kondisi beraktivitas fisik?
∆𝑄𝑚𝑒𝑡 ∆𝑄𝑙𝑜𝑠𝑠
=
∆𝑡 ∆𝑡
𝛿𝑃𝑜 = 𝜆(𝑇 − 𝑇𝑎 )

11
𝜆
𝛿= (𝑇 − 𝑇𝑎 )
𝑃𝑜
Dengan diketahui bahwa λ = 25 kcal/hroC dan Po = 70 kcal/hr, maka
didapatkan:
(𝑇 − 𝑇𝑎 )
𝛿=
2.8
Agar merasa nyaman tanpa pakaian di pantai pada suhu udara sekitar
21oC, faktor metabolisme haruslah 𝛿 = 6, orang tersebut haruslah
beraktivitas dalam level menengah. Kemudian tanpa sistem pengendali suhu
internal 𝛿 𝑑𝑎𝑛 λ harus selalu disesuaikan berdasarkan rumus berikut.
𝛿𝑃𝑜
(𝑇 − 𝑇𝑎 ) =
𝜆
Syarat ini harus disesuaikan dengan laju aktivtas 𝛿Po atau laju kehilangan
panas λ melalui pemilihan pakaian yang benar.
Sistem pengendali panas mengatur sumber panas untuk penyesuaian
suhu. Adapun mekanisme pengaturannya dapat dilihat dalam diagram
berikut.

Menggunakan sebuah perkiraan sederhana, tubuh dikarakteristikkan oleh


suhu inti T dan suhu kulit Tskin. Neuron mentranmisikan informasi tentang T
ke pusat pengendali di hypothalamus. Dengan catatan bahwa suhu ini harus
dijaga konstan pada nilai T ≈ 37,1 oC.
Suhu kulit diukur oleh syaraf yang sensitive terhadap suhu panas maupun
dingin. Suhu dan laju perubahannya ditransmisikan ke hypothalamus. Suhu
kulit diperbolehkan bervariasi di antara nilai 33oC dan 38oC.

12
Kemudian bagaimana mekanisme untuk menaikkan dan menurunkan
suhu tubuh? Untuk menaikkan suhu tubuh, peningkatan aktivitas
metabolisme internal dengan cara tubuh menggigil akan meningkatkan aliran
darah. Dengan peningkatan aliran darah ini, maka konduksi panas di antara
bagian tubuh menjadi lebih baik.
Sementara untuk menurunkan suhu tubuh, keringat akan dikeluarkan oleh
kulit. Kemudian keringat akan diuapkan oleh panas yang diambil dari tubuh,
sehingga suhu tubuh menurun. Mengingat kalor laten keringat 580 kcal/l dan
jumlah maksimal keringat yang dapat diuapkan pada kondisi udara kering
adalah 580 kcal/hr, maka jumlah keringat yang dapat diuapkan ialah 1 l/hr.
Namun jika udaranya lembab, maka penguapan menjadi terbatas oleh
kemampuan udara untuk menghilangkan keringat di kulit.
Berikut ialah grafik proses penguapan keringat.

Dari grafik di atas dapat diketahui bahwa jika pada suhu tubuh inti
dibawah 36.8oC, maka tubuh tidak akan berkeringat. Sebaliknya jika suhu
tubuh di atas 36.8oC, maka panas dapat dihilangkan dengan keluarnya
keringat pada laju konstan sesuai suhu kulit.
Secara matematis mekanisme ini dapat dituliskan sesuai rumus-rumus
berikut.
∆𝑄𝑐𝑜𝑛𝑡
∝ (𝑇 − 36.85𝑜 𝐶)
∆𝑡

13
∆𝑇 ∆𝑄𝑐𝑜𝑛𝑡
𝐶 = 𝛿𝑃𝑜 + − 𝜆(𝑇 − 𝑇𝑎 )
∆𝑡 ∆𝑡
𝛥𝑄𝑐𝑜𝑛𝑡
= −𝐾(𝑇 − 36.85𝑂 𝐶)
𝛥𝑡
Dimana K = Lv(kcal/l).εv(l/hroC) ≈ 580 εv (kcal/hroC)
Penyelesaian dari persamaan differensial ini menghasilkan konstanta
waktu yang lebih kecil.
𝑡𝑜 𝑡𝑜
𝑡𝑐𝑜𝑛𝑡 = 𝐾 ≈ = 4.5 𝑚𝑖𝑛
1+𝜆 31

Maka waktu tubuh untuk merespon perubahan suhu menjadi lebih cepat
dengan adanya sistem pengendali panas.
Pertanyaan berikutnya ialah bagaimana mengatur suhu tubuh ketika
sedang melakukan aktivitas fisik? Untuk menjaga agar suhu tubuh kontans,
berarti tidak ada kenaikan ataupun penurunan suhu tubuh, dengan kata lain
∆𝑇
dapat ditulis bahwa ≈ 0. Hal ini dapat dilihat dalam penjabaran berikut.
∆𝑡
∆𝑄𝑚𝑒𝑡 ∆𝑄𝑙𝑜𝑠𝑠 ∆𝑄𝑐𝑜𝑛𝑡
= −
∆𝑡 ∆𝑡 ∆𝑡
𝛿𝑃𝑜 = 𝜆(𝑇 − 𝑇𝑎 ) + 𝐾(𝑇 − 36.85𝑜 𝐶)
𝜆 𝐾
𝛿= (𝑇 − 𝑇𝑎 ) + (𝑇 − 36.85𝑜 𝐶)
𝑃𝑜 𝑃𝑜
Dengan diketahui bahwa 𝜆 = 25 kcal/hroC, Po = 70 kcal/hr, dan K = 580
εv kcal/hroC, maka:
(𝑇 − 𝑇𝑎 ) 𝜖𝑣 (𝑇 − 36.85𝑜 𝐶)
𝛿= +
2.8𝑜 𝐶 0.12𝑜 𝐶
Dengan memasukkan nilai suhu tubuh sebesar T ≈ 37oC, didapat:
(37 − 𝑇𝑎 )
𝛿= + 1.25𝜖𝑣
2.8𝑜 𝐶
Diketahui juga bahwa laju penguapan sehari-hari dalam kondisi normal
ialah 𝜖𝑣 ≈ 12 ml/hr, maka untuk menghindari berkeringat yang berlebihan
selama berkativitas nilai 𝛿≤13.2−0.36𝑇𝑎 harus dijaga.
Untuk suhu luar berapapun, laju metabolism δPo dapat dicapai tanpa
pengaturan panas melalui penguapan.

14
Ta oC) δmax δPo (kcal/hr)

9 10 700

23 5 350

31 2 140

34 1 70

Untuk setiap faktor aktivitas δ dan suhu luar Ta , laju penguapan 𝜖𝑣 dapat
dihitung dengan menggunakan rumus berikut.
𝑙
𝜖𝑣 ≈ 0.86 − 11 + 0.3𝑇𝑎 ( )
ℎ𝑟
Berikut ialah beberapa contoh laju penguapan pada faktor aktivitas dan
suhu luar tertentu.

Ta=26oC Ta=28oC Ta=30oC δPo


Δ
(l/hr) (l/hr) (l/hr) (kcal/hr)

4 0 0.6 1.2 280

6 1.6 2.2 2.8 420

8 3.2 3.8 4.4 560

Dari table di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada aaktivitas tinggi
dan suhu tinggi, dibutuhkan laju penguapan untuk menjaga suhu tubuh tetap
konstan.

15
F. Perpindahan Panas Tubuh Dalam Kehidupan Sehari-hari
Dari uraian diatas dijelaskan bahwa panas/kalor dapat berpindah dari suatu
benda ke benda lain melalui tiga cara, yaitu konduksi, konveksi, dan radiasi.
Ketika suhu tubuh kita naik, tubuh kita akan melakukan proses pendinginan,
sebaliknya, ketika suhu tubuh kita turun, maka tubuh kita akan melakukan
mekanisme penghangatan tubuh. Mekanisme ini disebut dengan
termoregulasi, yaitu mekanisme makhluk hidup untuk mempertahankan suhu
internal agar berada di dalam kisaran yang dapat ditolelir. Mekanisme
termoregulasi terjadi ketika suhu badan naik (dikarenakan adanya aktivitas),
termostat di hipotalamus mengaktivasi mekanisme pendinginan. Kemudian
pembuluh darah di dekat kulit melebar, dan dilalui oleh darah yang membawa
panas ke permukaan kulit melalui konveksi sehingga kita berkeringat,
selanjutnya panas diradiasikan dari permukaan kulit melalui penguapan
keringat. Berikut contoh perpindahan panas tubuh dalam kehidupan sehari-
hari.
a. Bersepeda
Misalnya kamu mengendarai sepeda di hari yang cerah dengan Ta =
28° C di jalan raya dengan kecepatan v = 30 km/hr. Karena cuacanya
panas, kamu menggunakan pakaian yang tipis dengan nilai insulator 𝐼 ≈
0.1 clo, pakaian itu hanya menutupi A≈ 0.3𝑚2 dari seluruh permukaan
tubuh. Hitunglah besarnya panas yang hilang yang sesuai untuk menjaga
suhu tubuh secara konstan T = 37° C, dengan nilai metabolism tubuh
ΔQmet / Δt = δ. Po = 600 kcal/hr !

Untuk perpindahan panas secara radiasi, diperoleh:

Untuk perpindahan panas secara konveksi, diperoleh:

16
Untuk perpindahan panas secara konduksi, diperoleh:

Maka untuk total panas yang dilepaskan adalah sebagai berikut:

Untuk menggantikan produksi panas karena metabolism tubuh, maka


dibutuhkan pendinginan melalui evaporasi.

Dengan 𝐿𝑣 ≈ 580 𝑘𝑐𝑎𝑙/𝑙:


1
0.32 = 𝑒𝑣 . (𝑇 − 36.8.5)
ℎ𝑟

Hasil ini adalah rasio evaporasi dari : 𝑒𝑣 ≈ 2.13 [𝑙/ℎ𝑟]

Penjelasan yang masuk akal mengenai laju keringat yang efisien dengan
pendinginan yang baik karena angin membantu menguapkan kelembaban
di permukaaan kulit.

Kemudian pengendara sepeda tersebut mendekati tanjakan, karena


usaha yang ia lakukan lebih besar akibatnya terjadi kenaikan pada laju
metabolism hingga 800 kcal/hr tapi kecepatan menurun hingga v = 10
km/h. Jadi, hanya mempengaruhi perpindahan panas secara konveksi.

Menguragi kecepatan = mengurangi pendinginan, maka

𝑘𝑐𝑎𝑙 𝑘𝑐𝑎𝑙
800 ℎ𝑟
= 446 ℎ𝑟
+ 𝑒𝑣𝐿𝑣 . (𝑇 − 36.85) Kenaikan laju metabolisme

17
Hasil ini diperkirakan sebagai laju evaporasi tertinggi dari: 𝑒𝑣 ≈ 4.1[𝑙/ℎ𝑟]

Laju keringat juga meningkat dua kali lebih banyak, pendinginan akan
kurang efektif sebagaimana berkurangnya angin untuk mengeringkan
permukaan kulit. Jika pesepeda berhenti untuk beristirahat, maka
pendinginan secara konveksi juga akan hilang secara bersamaan. Dalam
waktu singkat, laju metabolism masih tinggi, yang memungkinkan terjadi
adalah perpindahan panas secara radiasi dan evaporasi. Hal ini
mengakibatkan terjadinya peningkatan evaporasi dalam periode singkat :
𝑒𝑣 ≈ 7.6 [𝑙/ℎ𝑟].

Hal diatas terjadi ketika seseorang mengobsevasi pengendara sepeda


setelah bersepeda jarak jauh.

b. Implikasi Medis dari Kondisi Suhu Tinggi

Demam merupakan akibat infeksi (toksin bakteru = pyrogens) yang


mengubah suhu inti tubuh yang diukur dalam hipotalamus.

Permulaan dari demam :

Tset naik tapi suhu inti Tc dibawah suhu Tset Pasien merasa dingin

2.1 Reaksi Regulasi Dari Hipotalamus Dan Pasien (Dingin)


 Pembatasan aliran darah ke lapisan kulit luar untuk mengurangi
perpindahan panas (kulit terlihat pucat dan dingin)
 Pasien memakai selimut dan pakaian clothing
 Pasien mulai menggigil (Produksi panas dengan peningkatan laju
metabolism oleh kerja otot internal)

18
Setelah Tet naik ke titik suhu baru Tset, gejala kedinginan menghilang
tetapi suhu kulit jga meningkat sebagai respons terhadap peningkatan suhu
inti.

2.2 Reaksi Regulasi Dari Hipotalamus Dan Pasien (Panas)

Setelah infeksi reda, Tset turun pasien merasa hangat.


 Peningkatan aliran darah ke lapisan kulit luar untuk meningkatkan
perpindahan panas (kulit terlihat memerah dan Panas )
 Pasien melepas selimut dan pakaian tambahan
 Pasien mulai berkeringat (tambahan perpindahan panas)

Obat antipiretik seperti aspirin memblok bakteri pyrogen dan menjaga


suhu set-point pada keadaan normal.

c. Kondisi Tubuh Saat Suhu Ekstrim


Suhu musim panas atau suhu yang tinggi dalam sauna dapat menyebabkan
peningkatan suhu tubuh karena penyerapan panas.
T ≤ Ta
∆𝑇 ∆𝑐𝑜𝑛𝑡
𝐶. = 𝛿. 𝑃𝑜 + − 𝜆 . (𝑇 − 𝑇𝑎)
∆𝑡 ∆𝑡

*Tidak ada panas yang hilang kecuali denga berkeringat Bahaya serangan
panas

Berikut ini adalah catatan kasus kematian akibat panas, yaitu:


 Cuaca panas pada musim panas membunuh rata-rata lebih dari 1000
orang/tahun di Amerika Serikat
 Heat stroke/ serangan panas merupakan penyebab kematian kedua
yang menimpa atlet-atlet di Amerika Serikat (acara lari marathon
menyebabkan tingkat metabolisme tinggi)
 Kenatian di bak mandi air panas

19
Heat stroke (sengatan panas), adalah kondisi ketika tubuh
mengalami peningkatan suhu tubuh secara dramatis dalam waktu cepat,
dan tidak dapat mendinginkan tubuh. Penyebab utama heat stroke adalah
paparan yang berkepanjangan terhadap suhu tinggi dan/atau melakukan
aktivitas berat dalam cuaca panas. Kemampuan tubuh untuk
mengendalikan suhu inti (berkeringat, pendinginan evaporatif, misalnya)
dikelilingi oleh lingkungan panas.
Heat stroke dapat terjadi tanpa kondisi awal yang berhubungan
dengan panas atau kepanasan sebelumnya, seperti kelelahan. Proses
terjadinya heat stroke/ sengatan panas panas dijelaskan sebagai berikut:
 Suhu tubuh naik, pembuluh darah melebar untuk mengangkut panas
ke permukaan kulit (sebagai upaya pendinginan, anamun sia-sia dan
pemanasan terus terjadi)
 Perhatikan alcohol di sauna menyebabkan pelebaran pembuluh darah
lebih lanjut.
 Tekanan darah menurun, aliran darah melalui otak dan jantung
berkurang.
 Aliran darah yang tidak cukup melalui otak (pusing), usus (mual,
muntah), otot (kelemahan) dan jantung (peningkatan kecepatan denyut
jantung).
 Terjadi kerusakan yang menyeluruh pada mekanisme regulasi panas.

Gambar 2. 3 perkembangan sengatan panas


Sumber :
20
BAB III

KESIMPULAN

1. Panas dalam tubuh dapat ditransfer ke lingkungan melalui tiga cara:


konduksi, konveksi dan radiasi. Begitu juga sebaliknya untuk transfer panas
dari lingkungan ke tubuh.
2. Pelepasan panas dikarenakan radiasi dipengaruhi oleh suhu lingkungan dan
kulit manusia, emisivitas kulit manusia, area tubuh yang tidak terlindungi,
dan konstanta Stefan-Boltzmann.
3. Akibat adanya konveksi yang ditimbulkan oleh angin, maka suhu lingkungan
yang dirasakan manusia atau hewan akan lebih rendah dari sebenarnya,
sehingga dibuatlah Wind Chill Temperature untuk menghindari bahaya
frostbite atau hypothermia.
4. Transfer panas tubuh secara konduksi oleh pakaian dipengaruhi oleh
konduktivitas bahan pakaian, tebal pakaian, luas permukaan pakaian dan
perbedaan suhu tubuh dan lingkungan.
5. Untuk menjaga suhu tubuh tetap 36.85oC, tubuh menyesuaikan dengan suhu
lingkungan dengan cara berkeringat atau menggigil untuk mengatur
metabolisme tubuh dan transfer panas dari dan ke tubuh.

21
DAFTAR PUSTAKA

Vander AJ, Sherman JH. 1970. Human physiology, the mechanisms of body
function (6th Edition),.

22