You are on page 1of 37

MAKALAH FISIOLOGI HEWAN

“SISTEM REGULASI HORMON PADA HEWAN DAN MANUSIA”


Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Fisiologi Hewan

Dosen Mata Kuliah: Dr. Ama Rustama


Asisten Dosen: Cita Tresnawati.M.Pd

Disusun oleh :

Azura Salsabila 165040044


Rizki Dwimas Firdaus 165040054
Bebi Ramalia Alfi 165040060

Biologi B 2016

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
UNIVERSITAS PASUNDAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat, Karunia serta
Hidayah-Nya kepada penyusun sehingga dapat menyelesaikan Makalah Fisiologi Hewan tentang
“Sistem Regulasi Hormon”. Sholawat serta salam senantiasa tercurah pada junjungan kita Nabi
besar Muhammad SAW, beserta kerabat, sahabat dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.
Tidak lupa pula penyusun mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Dosen
Pengampu Mata Kuliah Fisiologi Hewan yaitu bapak Dr. Ama Rustama. dan Asisten Dosen Mata
Kuliah Fisiologi Hewan yaitu ibu Cita Tresnawati.M.Pd yang telah memberikan bimbingan dan
arahan serta motivasi dalam menyelesaikan makalah ini. Penyusun menyadari bahwa penyusunan
laporan ini masih jauh dari kesempurnaan yang disebabkan terbatasnya kemampuan penyusun. Oleh
sebab itu dalam kesempatan ini penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif
guna penyempurnaan makalah ini kedepannya.

Bandung, 5 Desember 2018


Hormat Kami,

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................................ i


DAFTAR ISI ..................................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................................. 1
A. Latar Belakang........................................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................................................. 2
C. Tujuan Penulisan .................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................................... 3
A. Kelenjar .................................................................................................................................. 3
B. Hormon ................................................................................................................................... 5
C. Mekanisme Kerja Hormon ................................................................................................... 10
D. Sistem Hormon Pada Hewan Invertebrata & Hewan Vertebrata ......................................... 14
E. Sistem Regulasi Hormon Pada Manusia .............................................................................. 20
F. Faktor-Faktor Pengatur Sekresi Hormon .............................................................................. 29
G. Kelainan Hormon .............................................................................................................. 29
BAB III PENUTUP ......................................................................................................................... 33
A. Kesimpulan ........................................................................................................................... 33
B. Saran ..................................................................................................................................... 33
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................................... 34

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Koordinasi merupakan fungsi pengaturan dan pengintegrasian. Mengatur (to regulate)


berarti mengatur/ menyetel sejumlah tertentu, kadar tertentu, kecepatan tertentu atau variabel
tertentu mencapai kondisi tertentu yang diinginkan. Sebagai contoh, dalam proses respirasi,
oksigen harus tersedia pada laju tertentu agar dapat dimanfaatkan organisme. Integrasi berarti
mengumpulkan beberapa bagian menjadi satu. Dalam fisiologi, integrasi diartikan sebagai
pengendalian semua komponen fungsional sehingga menjadi satu sistem kendali, dan tak ada
proses tunggal yang dapat berlangsung tanpa tergantung dari proses lain. Fungsi-fungsi
fisiologi pada hewan dikendalikan oleh sistem hormon dan sistem saraf.
Sistem hormon (endokrin) dan saraf dahulu dianggap sebagai pengatur fisiologi yang
terpisah. Tetapi pandangan tersebut berubah setelah ditemukannya neuron-neuron
termodifikasi yang dapat mensekresi hormon. Beberapa di antara neuron-neuron tersebut
menunjukkan mekanisme pengaturan terhadap kelenjar-kelenjar khusus yang menghasilkan
hormon. Sekresi neuron-neuron termodifikasi tersebut dipengaruhi neuron-neuron “biasa”, dan
banyak kelenjar penghasil hormon (kelenjar endokrin) yang secara langsung diinervasi oleh
neuron yang mempengaruhi aktivitas sekretorinya.
Sistem endokrin Vertebrata melibatkan kelenjar endokrin yang mensintesis dan
melepaskan duta kimia khas ke dalam darah (“the blood spesific chemical messenger”) yang
disebut hormon. Hormon diangkut melalui darah ke jaringan sasaran khas tempat hormon
menyebabkan perubahan aktivitas sel penyusun jaringan tersebut. Karena suatu hormon hanya
mempengaruhi sasaran tertentu, maka sasaran harus dapat menerima sinyal tersebut, berarti
sasaran harus mempunyai reseptor khas agar dapat merespon sinyal. Organ lain yang bukan
sasaran dan dipapar oleh hormon yang sama dengan kadar yang sama harus tidak mampu
merespon, dalam arti harus tidak mempunyai reseptor yang mampu merespon keberadaan
hormon.

Oleh karena itu dengan ditulisnya makalah hasil diskusi kami mengenai pengaturan
melalui fungsi hormon ini diharapkan pembaca dapat mengetahui perbedaan antara kelenjar
1
eksokrin dan endokrin, mengetahui regulasi hormonal pada metamorfosis serangga serta
mengetahui macam kelenjar endokrin dan hormone yang dihasilkan pada hewan vertebrata.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penulisan masalah ini antara lain :
1. Bagaimanakah pengertian dan jenis-jenis kelenjar eksokrin dan endokrin ?
2. Bagaimanakah pengertian dan jenis-jenis hormon?
3. Bagaimana sistem regulasi hormonal pada hewan invertebrata dan vertebrata ?
4. Bagaimanakah sistem regulasi hormonal pada manusia ?
5. Apakah faktor yang mempengaruhi sistem regulasi Hormon?
6. Apa saja kelainan pada sistem hormon ?

C. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini ditujukan agar pembaca dapat :
1. Mengetahui pengertian dan jenis-jenis kelenjar eksokrin dan endokrin
2. Mengetahui pengertian dan jenis-jenis hormon
3. Mengetahui sistem regulasi hormonal pada hewan invertebrata dan vertebrata
4. Mengetahui sistem regulasi hormonal pada manusia
5. Mengetahui faktor yang mempengaruhi sistem regulasi Hormon
6. Mengetahui kelainan pada sistem hormon

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kelenjar
1. Klasifikasi kelenjar

Kelenjar adalah organ tubuh yang mensintesa suatu zat untuk dikeluarkan, misalnya
hormon untuk sekresi ke aliran darah (endokrin) atau ke permukaan tubuh (eksokrin) .
Berdasarkan pemanfaatan hasil kelenjarnya secara garis besar dibedakan menjadi kelenjar
eksokrin dan kelenjar endokrin. Krin berasal dari kata krinos yang berarti memisahkan atau
menghasilkan. Kelenjar eksokrin dimaksudkan untuk kelenjar-kelenjar yang biasanya
mempunyai saluran keluar untuk mengangkut hasil kelenjarnya yang selanjutnya bermuara
pada permukaan dalam dan luar tubuh. Apabila hasilnya diangkut oleh pembuluh darah atau
pembuluh limfa, maka kelenjar demikian dimasukkan kedalam kelenjar endokrin atau
kelenjar hormon. Karena kelenjar hormon tidak memiliki saluran keluar kadang-kadang
dinamakan juga sebagai kelenjar buntu dan hasilnya dinamakan hormon. Namun bagi
beberapa kelenjar endokrin yang tidak mempunyai saluran keluar tidak dapat dimasukkan
sebagai kelenjar hormon.

Kelenjar eksokrin dan endokrin berasal dari membran epitel yang menutupi
permukaan yang pada suatu saat tumbuh masuk ke dalam jaringan pengikat dibawahnya.
Kelompok sel-sel epitel yang mengadakan invasi tersebut selanjutnya memperbanyak diri
dan berdiferensasi untuk membentuk kelenjar. Biasanya dalam pembentukan kelenjar
eksokrin masih tetap dipertahankan hubungannya dengan epitel permukaannya, sedangkan
untuk kelenjar endokrin sudah tidak lagi berhubungan.

a. Kelenjar Eksokrin

Kelenjar eksokrin adalah kelenjar tubuh yang dapat melepaskan sekret melalui
saluran kelenjar (duktus ekskretorius), misalnya kelenjar ludah atau langsung dalam rongga
alat berdekatan, misalnya pada kelenjar dinding usus. Getah dari kelenjar eksokrin biasanya
berupa lendir atau lilin selain itu sekret yang dihasilkan juga dapat berupa enzim, keringat,
atau ludah bahkan ada juga yang sewaktu-waktu dapat mengeluarkan sekret berupa racun.

3
Sel-sel yang menghasilkan sekret tersebut dinamakan eksokrinosit. Kelenjar eksokrin
uniseluler, misalnya : sel goblet ( sel penghasi lmukus pada usus halus dan saluran
pencernaan ). Kelenjar ini mempunyai saluran keluar untuk mengangkut hasil kelenjarnya
dan selanjutnya bermuara pada permukaan dalam dan luar tubuh.

b. Kelenjar Endokrin
Kelenjar endokrin atau kelenjar buntu adalah kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya
langsung kedalam darah yang beredar dalam jaringan kelenjar tanpa melewati doktus atau
saluran, dan hasil sekresinya disebut hormon. Beberapa dari organ endokrin ada yang
menghasilkan satu macam hormon (hormon tunggal) disamping itu juga ada yang
menghasilkan lebih dari 1 macam hormon atau hormon ganda. Contoh kelenjar endokrin :
 Kelenjar hipofisis : terletak didasar tengkorak
 Kelenjar tiroid : terletak di dalam leher bagian depan bawah, melaekat pada dinding
laring.
 Kelenjar adrenal : terdapat dibagian atas ginjal

Sistem Endokrin adalah suatu sistem kelenjar dan struktur lain yang mengeluarkan
secretinternal (hormone) yang dilepaskan secara langsung ke dalam sistem sirkulasi
mempengaruhimetabolisme dan proses tubuh lainnya.

Gambar : kelenjar endokrin & eksokrin yang terbentuk dari jaringan epitel pelapis.

Kelenjar-kelenjar endokrin di dalam system endokrin dapat dibandingkan dengan


kelenjareksokrin. Persamaannya, kedua macam kelenjar ini berasal dari jaringan epitel
pelapis yang berpoliferasi ke jaringan ikat di bawahnya (invaginasi) lalu berdiferensiasi
dan berspesialisasi membentuk kelenjar.

4
2. Perbedaan Kelenjar Eksokrin dan Endokrin
Berbasarkan pejelasan mengenai kelajar eksokrin dan endokrin dapat dibuat tabel
perbandingan perbedaan antara kelenjar eksokrin dan endokrin sebagai berikut :

No Kelenjar Endokrin Kelenjar Eksokrin


1 Mensekresikan hormon Mengsekresikan enzim
2 Tidak memiliki saluran tersendiri Memiliki saluran tersendiri untuk
untuk menyalurkan hasil sekresinya menyalurkan hasil sekresinya
3 Sekret (hormon) disekresikan dalam Sekret (enzim) disekresikan dalam
jumlah sedikit jumlah banyak
4 Sekret (hormon) disekresikan setiap Sekret disekrasikan pada saat
saat tertentu

B. Hormon
1. Pengertian Hormon

Hormon berasal dari bahasa inggris “homaein” yang berarti memacu. Hormon
adalah derivat protein/peptid, lemak atau atau asam amino yang setelah disekresikan akan
bertindak pada reseptor untuk menimbulkan reaksi pada masing-masing sel reseptif.
Hormon secara alami diproduksi oleh manusia dan hewan, menyebabkan perubahan
morfologi, tingkah laku, fisiologi, dan biokemis
Hormon dihasilkan oleh kelenjar endokrin atau kelenjar buntu (karena tidak memiliki
saluran). Hormon diproduksi dalam jumlah yang sangat sedikit, tetapi mempunyai pengaruh
yang sangat besar terhadap aktivitas tubuh. Pada organ target, hormon mempengaruhi
aktivitas enzim khusus, sehingga dapat mengatur berbagai aktivitas tubuh seperti
metabolisme, reproduksi, pertumbuhan, dan perkembangan. Hormon berfungsi untuk:
1) Memacu reproduksi.
2) Mengatur tingkah laku.
3) Memacu pertumbuhan dan metabolisme tubuh.
4) Mengatur keseimbangan cairan tubuh/homeostasis.

5
Hormon adalah adanya zat kimiawi yang di lepas langsung ke pembuluh getah bening.
Kemudian zat ini akan di bawa ke organ-organ tertentu untuk membantu melancarkan
kinerja organ tersebut. Efek kinerja tersebut bisa di rasakan langsung oleh tubuh. Kelenjar
ini di namakan dengan kelenjar endokrin atau kelenjar ductless (kelenjar tanpa
saluran). Sekresi yang di hasilkan dari kelenjar ductless inilah yang di sebut dengan
hormone. Sistem tubuh endokrin ini akan di koordinasikan ke dalam seluruh aktivitas tubuh
dengan bantuan sistem syaraf. Hormone di sini bergerak sebagai pengirim sinyal sinyal
elektrik atau impuls ke arah organ organ tubuh yang bersangkutan.

Selain tumbuhan dan manusia, hewan juga memiliki hormone yang membantunya
dalam perkembangan dan pertumbuhan. Banyak sekali hal yang bisa di lakukan hormone
pada hewan untuk membantunya melakukan metabolism. Selain itu, keberadaan hormone
juga membantu hewan untuk melakukan perkembangan vegetative, produksi panaas bagi
tubuh, respirasi sel, serta mengirimkan sinyal rasa lapar dan dahaga. Keberadaan hormone
di sini membantu hewan untuk merangsang sistem syaraf agar bisa terkoordinasi. Beberapa
jenis hewan yang memiliki tubuh besar, seperti gajah, jerapah, macan, singa, dan lain
sebagainya yang memiliki vertebrata atau tulang belakang umumnya memiliki kelenjar
endokrin yang berguna untuk menghasilkan hormone. Secara alamiah mirip dengan sistem
pada manusia.

2. Karakteristik Hormon

Kelenjar hormone pada hewan di sebut pula kelenjar endokrin. Nama ini juga
biasa di sebut dengan kelenjar ductless. Beberapa karakteristiknya antara lain adalah :

a. Hormone akan secara langsung di sekresikan ke dalam pembuluh darah yang ada di
dalam tubuh hewan
b. Kelenjar yang berasal dari sistem endokrin hanya akan mengeluarkan hormone dalam
jumlah yang cenderung sangat kecil sekali
c. Hormone yang di hasilkan ini akan mengeluarkan efek yang berbeda beda dengan situs
sekresi yang sudah terjadi. Bahkan hal ini tidak terjadi sekali dua kali, tapi sering kali
d. Aktivitas hormone yang langsung mangarah pada target atau sasaran organ langsung di
sebut dengan nama jaringan organ atau jaringan target
e. Hormone pula di sebut dengan nama sang pembawa pesan secara kimiawi

6
f. Hormone bisa mengatur, memodifikasi, dan mengontrol seluruh aktivitas jaringan organ
yang ada.
g. Hormone yang ada pada hewan biasanya cenderung mudah larut ke dalam air
h. Hormone pada hewan berbahan dasar dari protein asam amino, peptide ataupun protein
dengan ikatan rangkap yang mana merupakan bahan dasar sama dengan hormone pada
manusia
i. Sifat alamiah dari hormone ini adalah hidrofilik atau suatu senyawa yang suka dengan
keadaan air. Hal ini di sebabkan karena hormone tersebut memiliki sifat polar, sehingga
ketika bertemu air kohesinya kuat dan saling tarik menarik
j. Ukuran hormone ini besar karena ikatan molekulnya juga kuat dan bersifat polar
k. Tidak mampu melewati membrane sel karena terlepas dari ikatan yang besar.
l. Hormone bisa berinteraksi dengan beberapa molekul yang menjadi reseptor. Hal ini bisa
di lihat dan di amati dalam permukaan membrane yang tidak selalu rata
m. Beberapa jenis hormone seperti hormone steroid dan hormone tiroid hidrofobik bisa
menyebar ke seluruh membrane sel dan mampu berikatan dengan beberapa reseptor
yang ada di dalam sel
n. Seperti pada manusia, hewan juga memiliki beberapa jenis atau golongan hormone
tertentu. Misalnya hormone steroid, hormone lipid, dan lain sebagainya yang akan di
ulas berikut ini.
3. Jenis-jenis hormon

Berikut adalah penjelasan mengenai jenis hormon pada hewan :

a. Hormone Steroid : Hormon ini berasal dari kolestrol tubuh hewan. Beberapa sub
golongan yang termasuk dalam hormone steroid adalah hormone seks dan beberapa
hormone korteks adrenal. Selain itu, terdapat pula hormone glukokortikoid serta
mineralkortikoid. Segala bentuk hormone seks mampu di control dari hormone
adenohypophysis. Adapun contoh hormon seks adalah sebagai berikut:
1) Hormone testosteron : Seperti hormone seks pada pria androgen misalnya
testosterone, dan lainnya sebagainya di hasilkan oleh sel sel Leydig. Hormone
testosterone ini yang ikut membantu mengendalikan perkembangan karakteristik
sekunder seksual laki laki. Biasanya di tandai dengan suara lebih dalam dan kuat, baik

7
antara kumis jenggot serta rambut tubuh lebih lebat, tulang semakin kuat dan padat
serta masa otot dalam masa pertumbuhan. Semua hal ini bisa terjadi selama hewan
jantan dalam masa pubertas.
2) Hormone esterogen : Berbeda lagi dengan hormone betina pada hewan. Sama seperti
pada manusia, hormone ini di namakan dengan esterogen. Fungsinya untuk membantu
dan mengontrol perkembangan organ seks sekunder pada betina. Hewan juga sama
sama memiliki perubahan saat terjadi pada masa pubertas. Misalnya di tandai dengan
suara yang semakin melengking feminine, muncul kelenjar susu, serta bulu mata
hewan yang lebih lentik.
3) Hormone progesteron : Hormone seks lainnya pada hewan betina adalah
progesterone. Pengaruhnya sama seperti hormone wanita, yakni sebagai hormone yang
ikut membantu dalam mengontrol kehamilan. Di mulai dari hewan betina yang sedang
mengalami masa ovulasi. Kemudian mengalami masa kehamilan, hingga sampai
melahirkan.
4) Glukokortikoid – Kedua hormone ini di hasilkan oleh kelenjar adrenal. Fungsi dari
hormone glukokortikoid ini adalah merangsang glukoneogenesis. Fungsi ini lebih di
tujukan pada kortisol. Selain itu, hormone ini juga ikut merangsang gangguan lemak
yang ada pada jaringan adipose. Keberadaan dari kortisol di sini akan menghasilkan
sintesa protein.
5) Mineralkortikoid : Selanjutnya ada hormone mineralkortikoid. Termasuk pula pada
aldosteron yang berfungsi untuk merangsang reabsorpsi natrium yang ada di dalam
ginjal. Selanjutnya proses reabsorpsi pada passive air dalam ginjal. Kemudian
hormone ini juga mampu meningkatkan volume darah serta tekanan dalam tubuh.
b. Hormone Lipid

Hormon lipid merupakan hormone yang berasal dari salah satu makro molekul tubuh,
yakni lemak. Pada hormone ini mampu mengirimkan sinyal sinyal elektrik atau impuls
pada organ organ dan sel yang ada di sekitarnya yang berpotensi membuat hormone lipid.

1) Hormon eikosanid : Merupakan salah satu hormone yang di buat dan di produksi oleh
lipid. Fungsi dari hormone ini adalah mampu mereproduksi beberapa fungsi tubuh.
Kemudian juga mampu mengatasi rasa sakit seperti peradangan, demam tinggi, serta

8
nyeri pada bagian tubuh. Selain itu juga berperan penting dalam proses pembekuan
darah dan mengontrol seluruh tekanan yang ada di dalam darah. Hormone ini juga
berpengaruh pada sekresi asam lambung, serta beberapa proses yang terkait lainnya.
2) Hormone Asam Amino – Di namakan dengan hormone asam amino karena memang
bahan dasar dari hormone ini adalah asam amino. Beberapa hormone asam amino yang
ada di dalam tubuh dalam skala banyak di sebut dengan neurotransmitter. Beberapa
jenis hormone yang masuk ke dalam golongan hormone asam amino adalah hormone
tiroid dan hormone medulla adrenalin
3) Hormone tiroid : Di namakan pula dengan nama T3 atau Triiodothronine dan T4 atau
di sebut pula tiroksin. Fungsi dari tiroksin ini adalah mampu merangsang oksigen atau
O2 di dalam tubuh yang di gunakan untuk pernapasan. Selain itu, hormone ini juga
berpengaruh pada konsumsi energi yang di gunakan untuk berbagai aktivitas oleh
hewan. Selain itu, fungsi dari tiroksin ini mampu meningkatkan metabolism basal atau
metabolism dasar. Keberadaanya juga berguna dalam hal mensistesa protein tubuh.
4) Hormon medulla adrenal : Beberapa hormone yang termasuk dalam golongan
medulla adrenal adalah epiinefrin dan norepinefrin. Hormone ini banyak di kenal
sebagai hormone yang suka melawan sesuatu dan hormone yang memacu hewan untuk
berlari. Untuk itulah, hormone ini di kenal sebagai hormone darurat. Untuk
merealisasikan hormone ini keluar dari dalam tubuh, maka dengan cara meningkatkan
pasokan oksigen ke dalam tubuh. Kemudian kadar glukosa yang ada di kirmkan sinyal
ke otak serta otot.
c. Hormone Peptida

Memang sedikit mirip dengan hormone asam amino yang merupakan bahan dasar dari
protein. Namun hormone peptide ini berasal dari ikatan asam amino ikatan polimer.
Hormone ini menjadi salah satu hormone yang bisa merangsang kelenjar lain untuk bisa
memproduksi hormone tertentu. Fungsi dari hormone ini adalah sebagai pengontrol atau
pengendali metabolism. Beberapa sub golongan yang termasuk dalam hormone peptide ini
adalah :

1) Hormone insulin : Hormone insulin ini merupakan salah satu jenis hormone pancreas
yang di produksi oleh hormone peptide atau berasal dari asam amino polimer.

9
Hormone ini di sekresikan oleh sel B pancreas. Fungsinya adalah untuk membantu
meningkatkan asupan glukosa (gula), glikogenesis, serta glikolisis. Letaknya berada
di wilayah hati dan otot otot yang ada di dalam darah. Hormone ini juga membantu
dalam asupan lemak yang ada di dalam tubuh.
2) Hormone glucagon – Hormone ini sama dengan hormone insulin yang di sekresikan
oleh kelenjar pancreas. Fungsinya adalah untuk emmbawa glikogenolisis dan
glukoneogenesis yang ada di dalam hati.

Berikut adalah penjelasan Jenis hormone berdasarkan fungsinya:

a. Hormone ekdison : Merupakan salah satu hormone yang memiliki fungsi untuk
mengontrol dan membantu proses pergantian kulit atau ekdisis. Seperti ular yang
mengalami pergantian kulit baru setelah mengalami beberapa episode. Maka hormone ini
akan mengirimkan sinyak ke otak untuk melakukan proses pergantian kulit jika sudah pada
waktunya.
b. Hormone juvenile : Hormone ini merupakan hormone yang bekerja untuk menghambat
proses metamorphosis tubuh. Hal ini terjadi jika lingkungan atau keadaan tidak
memungkinkan untuk melakukan proses metamorphosis. Sebab apabila di biarkan bisa
terjadi bahaya.
c. Hormone GH (growth hormone) : Merupakan salah satu hormone yang mampu
merangsang pertumbuhan tinggi hewan. Jika memiliki kelebihan, maka akan
mengakibatkan pertumbuhan ya menjadi raksasa. Hal ini yang di sebut dengan gigantisme.
Lawan dari gigantisme adalah kerdil.
d. Hormone neuropeptida : Hormone ini bisa di temukan pada hewan hewan yang berada
pada takson rendah. Biasanya mereka tidak memiliki vertebrae atau tulang belakang.
Fungsinya adalah untuk membantu merangsang pertumbuhan dan regenerasi hewan.
Tujuannya adalah untuk membentuk penerus baru.
C. Mekanisme Kerja Hormon
1. Reseptor Hormon

Hormon bekerja melalui pengikatan dengan reseptor spesifik . Pengikatan dari hormon
ke reseptor ini pada umumnya memicu suatu perubahan penyesuaian pada reseptor
sedemikian rupa sehingga menyampaikan informasi kepada unsur spesifik lain dari sel.

10
Reseptor ini terletak pada permukaan sel atau intraselular. Interaksi permukaan hormon
reseptor memberikan sinyal pembentukan dari "mesenger kedua"

Interaksi hormon-reseptor ini menimbulkan pengaruh pada ekspresi gen (3,7) Distribusi
dari reseptor hormon memperlihatkan variabilitas yang besar sekali. Reseptor untuk beberapa
hormon, seperti insulin dan glukokortikoid, terdistribusi secara luas, sementara reseptor
untuk sebagian besar hormon mempunyai distribusi yang lebih terbatas. Adanya reseptor
merupakan determinan (penentu) pertama apakah jaringan akan memberikan respon
terhadap hormon. Namun, molekul yang berpartisipasi dalam peristiwa pasca-reseptor juga
penting; hal ini tidak saja menentukan apakah jaringan akan memberikan respon terhadap
hormon itu tetapi juga kekhasan dari respon itu. Hal yang terakhir ini memungkinkan
hormon yang sama memiliki respon yang berbeda dalam jaringan yang berbeda.

2. Interaksi Hormon Reseptor

Hormon menemukan permukaan dari sel melalui kelarutannya serta disosiasi mereka
dari protein pengikat plasma. Hormon yang berikatan dengan permukaan sel kemudian
berikatan dengan reseptor. Hormon steroid tampaknya mempenetrasi membrana plasma sel
secara bebas dan berikatan dengan reseptor sitoplasmik. Pada beberapa kasus (contohnya,
estrogen), hormon juga perlu untuk mempenetrasi int i sel (kemungkinan melalui pori-
pori dalam membrana inti) untuk berikatan dengan reseptor inti-setempat. Kasus pada
hormon tiroid tidak jelas. Bukti-bukti mendukung pendapat bahwa hormon-hormon ini
memasuki sel melalui mekanisme transpor; masih belum jelas bagaimana mereka
mempenetrasi membrana inti (3,6).

Gambaran 4 .

11
“Lintasan yang mungkin untuk transmis sinyal hormon. Masing-masing hormon dapat
bekerja melalui satu atau lebih reseptor; masing-masing kompleks hormon-reseptor dapat
bekerja melalui satu atau lebih mediator protein (baik protein G atau mekanisme
pensinyalan lainnya), dan masing-masing protein perantara atau enzin yang diaktivasi
oleh kompleks-kompleks hormon reseptor dapat mempengaruhi satu atau lebih fungsi
efektor.”

Umumnya hormon berikatan secara reversibel dan non-kovalen dengan reseptornya.


Ikatan ini disebabkan tiga jenis kekuatan. Pertama, terdapat pengaruh hidrofobik pada
hormon dan reseptor berinteraksi satu sama lain dengan pilihan air. Kedua, gugusan
bermuatan komplementer pada hormon dan reseptor mempermudah interaksi. Pengaruh ini
penting untuk mencocokkan hormon ke dalam reseptor. Dan ketiga, daya van der Waals, yang
sangat tergantung pada jarak, dapat menyumbang efek daya tarik terhadap ikatan. Pada
beberapa kasus, interaksi hormon-reseptor lebih kompleks. Hal ini sebagian besar terjadi
jika hormon yang berinteraksi dengan suatu kompleks reseptor dengan subunit yang majemuk
dan di mana pengikatan dari hormon dengan subunit pertama mengubah afinitas dari
subunit lain untuk hormon. Hal ini dapat meningkat (kerjasama positif) atau menurun
(kerjasama negatif) afinitas dari hormon untuk reseptor itu. Kerjasama positif menghasilkan
suatu plot Scatchard yang konveks dan kerjasama negatif menghasilkan suatu plot yang
konkaf . Artifak eksperimental dan adanya dua kelas independen dari tempat juga dapat
menghasilkan plot Scatchard non-linier. Yang merupakan kejutan, ikatan kerjasama jarang
diamati pada interaksi hormon-reseptor; interaksi reseptor-insulin pada beberapa keadaan
dapat merupakan suatu pengecualian.

3. Cara Kerja Hormon

Hormon adalah molekul pembawa pesan dari sistem endokrin. Hormon endokrin
bergerak ke seluruh tubuh dalam darah. Namun, masing-masing hormon hanya mempengaruhi
sel-sel tertentu, yang disebut sel target. Sebuah sel target adalah jenis sel yang hormon akan
memiliki efek. Sebuah sel target dipengaruhi oleh hormon tertentu karena memiliki protein
reseptor yang spesifik untuk hormon tersebut.
Hormon berjalan melalui aliran darah sampai menemukan sel target dengan reseptor
yang cocok dapat mengikat. Ketika hormon berikatan dengan reseptor, hal itu menyebabkan

12
perubahan dalam sel. Persis bagaimana ini bekerja tergantung pada apakah hormon adalah
hormon steroid atau hormon non-steroid. Berikut adalah sifat kerja pada hormon :

→ Sinyal yang dibawa berupa cairan hormon


→ Efek hormon berjalan lambat karena dihantarkan melalui sistem peredaran darah
→ Organ target ada yang khusus ada pula yang umum. Misalnya hormon vasopressin
berpengaruh pada penyerapan air di ginjal, sedangkan hormon pertumbuhan berpengaruh
ke seluruh tubuh.
→ Tanggapan organ target ada yang cepat, ada yang lambat.
4. Mekanisme Feedback Negatif

Mekanisme Feedback Negatif terjadi dimana jumlah suatu output (pengeluaran hormon)
berperan dalam mengurangi jumlah input (pemasukan hormon) dengan tujuan untuk mencapai suatu
keseimbangan. Contoh ; hormon insulin yang berperan dalam meningkatkan difusi berfasilitas glukosa
ke dalam sel. Mengakibatkan glukosa dalam darah turun (output) dan kadar glukosa darah rendah akan
mengurangi sekresi insulin TSH-RF. Berikut Skema mekanisme feedback negatif :

5. Mekanisme Feedback Positif

Mekanisme Feedback Positif dimana jumlah suatu output (pengeluaran hormon) berperan dalam
menambah jumlah input (pemasukan hormon) dengan tujuan untuk mencapai suatu

13
ketidakseimbangan. Misalnya : Hormon Oksitosin disekresikan dari hipofisa bagian belakang
(neurohipofise) untuk merangsang kontraksi otot rahim sewaktu persalinan untuk terbukanya
serviks(leher rahim). Berawal dari diteruskan impuls sensoris ke hipotalamus untuk memerintahkan
hipofisis agar menghasilkan oksitosin.

D. Sistem Hormon Pada Hewan Invertebrata & Hewan Vertebrata


 Tabel sistem hormon hewan Invertebrata :
1. Kelas : Protozoa
Alat/Struktur : Tidak memiliki system hormon, karena struktur tubuhnya masih
sangat sederhana yaitu hanya terdiri dari satu sel.
Fungsi : -
Mekanisme : -

2. Kelas : Porifera
Alat/Struktur : Hewan multiseluler dengan struktur tubuh primitive, belum memiliki
jaringan dana organ yang sesungguhnya sehingga belum terdapat
system hormon.
Fungsi : -
Mekanisme : -

3. Kelas : Coelenterata
Alat/Struktur : System saraf yang bekerja sebagai system neurosekresi (sel-sel yang
berfungsi menghasilkan hormon yang diperlukan suatu organisme)
Fungsi : Mengatur pertumbuhan, dan reproduksi.
Mekanisme : Sel-sel neurosekresi ini akan menghasilkan bahan kimia yang disebut
neuropeptida. Contoh yang bisa dilihat yaitu padaHydra, yakni
apabila kepalaHydra dipotong, sisa tubuhnya akan mengeluarkan
molekul peptida tersebut yang menyebabkan sisa tubunya dapat
membentuk mulut dan tentakel yang baru, dan selanjutnya
membentuk daerah kepala kembali.

4. Kelas : Platyhelminthes

14
Alat/Struktur : Sel – sel neurosekresi ( sel-sel yang berfungsi menghasilkan hormon
yang diperlukan suatu organisme) terdapat pada gaglion otak.
Fungsi : Memiliki fungsi yang belum diketahui tetapi di duga untuk proses
regenerasi.
Mekanisme : Pada saat musim kawin, organ betina cacing hati akan menghasilkan
sekret dari kelenjar vitelin untuk menghasilkan kuning telur dan
bahan-bahan cangkang telur. Selain itu, terdapat kelenjar Mehlis
dimana sekretnya akan melumasi lintasan telur di dalam uterus dan
memperkeras cangkok telur.
Sekresi kelenjar Mehlis juga tampaknya mengaktifkan spermatozoa

5. Kelas : Nemathelminthes
Alat/Struktur : Sel – sel neurosekresi (sel-sel yang berfungsi menghasilkan hormon
yang diperlukan suatu organisme) terdapat pada gaglion otak.
Fungsi : Untuk pergantian kulit dan sekresi neuro hormon yang berkaitan erat
dengan sistem saraf.
Mekanisme : Kerja neurohormon ini sangat berkaitan dengan sistem saraf pada
Nematoda, dimana kerja kedua sistem ini membentuk suatu sistem
koordinasi yang mengatur kerja semua sistem organ agar dapat bekerja
secara serasi.

6. Kelas : Annelida
Alat/Struktur : Sel – sel neurosekresi (sel-sel yang berfungsi menghasilkan hormon
yang diperlukan suatu organisme) terdapat pada ganglion
supraoesofagus, ganglion suboesofagus, dan ganglion ventral.
Fungsi : Untuk tumbuh dan regenerasi, transformasi somatik berkenaan dengan
reproduksi, pemotongan ganda, perkembangan seksual, dan
penyembuhan luka.
Mekanisme : Contoh yang bisa kita lihat ialah perubahan bentuk cacing Polichaeta
dewasa, yang dikenal dengan istilah epitoki. Epitoki merupakan
perubahan sejumlah ruas tubuh menjadi struktur reprosuktif. Dalam
proses tersebut, beberapa ruas tubuh annelida yang mengalami
perubahan bentuk akan terlepas dari tubuh utamanya dan berkembang

15
menjadi organisme hidup bebas. Epitoki ini dikendalikan oleh sistem
neuroendokrin dimana saat hormon ini dilepaskan, proses epitoki akan
terhambat. Dengan kata lain, epitoki hanya dapat berlangsung pada
saat kadar hormon tersebut rendah. Diduga kerja hormon ini diatur
oleh faktor lingkungan.

7. Kelas : Mollusca
Alat/Struktur : Sel neurosekresi pada otak dan kelenjar endokrin berupa kelenjar optic
pada octopus.
Fungsi : Sel neurosekresi dari otak siput berfungsi sebagai perangsang
perkembangan telur, dan sel neurosekresi dari tentakel siput berfungsi
sebagai perangsang produksi sperma. Fungsi dari kelenjar optik yaitu
mempengaruhi proses kedewasaan yakni pertumbuhan ovarium dan
testis
Mekanisme : Hubungan ganglion otak-kelenjar optik pada Octopussama seperti
hubungan hipotalamus-hipofisis gonad pada vertebrata. Pada siput
yang bersifat hermaprodit, sel neurosekresi terdapat pada otak maupun
tentakel hewan tersebut. Neurohormon dari tentakel merangsang
produksi sperma, sedang otak merangsang perkembangan telur

8. Kelas : Arthropoda
Alat/Struktur : Sistem endokrin berupa sistem neuroendokrin, meskipun juga telah
memiliki organ endokrin. Adapun hormon yang penting pada
Crustaceae ialah beberapa neurohormon tangkai mata, organ Y,
Kelenjar androgen, dan ovarium.
Fungsi : Fungsi dari sistem endokrin ini ialah osmoregula-si, laju denyut
jantung, komposisi darah, pertumbuhan, dan pergantian kulit. Hormon
dari organ Y diduga mempengaru-hi proses molting, kelenjar
mandibula terletak di dekat organ Y yang memiliki fungsi endokrin
pula. Crustaceae juga memiliki kelenjar androgenik yang berperan
dalam perkembangan testis dan produksi sperma
Mekanisme : Salah satu contoh yaitu perubahan warna kulit pada golongan
Crustaceae yang dipengaruhi oleh penyebaran pigmen dalam

16
kromatofor (sel pembawa pigmen). Kromatofor terdapat pada sel kulit
luar dan ada juga pada organ yang lebih dalam, dimana kromatofor ini
dapat diubah fungsinya oleh sejumlah hormon

 Tabel Sistem Hormon pada hewan vertebrata :


1. Kelas : PISCES
Alat/Struktur : 1. Kelenjar pituary (dibawah diencepalon)
2. Kelenjar Thyroid pada Osteichthyes berada di dekat norta ventral,
pada Elasmobranchii kelenjar tersendiri yang dikelilingi oleh
jaringan ikat
3. Kelenjar Parathyroid (diferensiasi epitel kantong faring 3 dan 4)
4. Kelenjar interregnal
5. Kromafin
6. Ultimobranchine
7. Gonad
8. Kelenjar langertans (pada limfa dan empedu)
9. Badan penial
10. Badan stannis
Fungsi : 1. Osmoregulasi dan reproduksi
2. Pengedaran guanin dalam kulit, mengubah metabolism nutrogeal
karbohidrat dan osmoregulasi
3. Mengatur kadar kalsium dan fosfor
4. Osmoregulasi
5. Adrenalin
6. Metabolisme kalsium
7. Penghasil gamet
8. Metabolisme karbohidrat dan glukosa (insulin)
9. Melatonin
Mekanisme : Memasuki masa kawin pembentukan sperma pada ikan jantan
dipengaruhi oleh hormon testosteron yang dihasilkan sel-sel leydig di
bawah kendali hormon gonadotrophin. Hormon inilah yang akan
menghasilkan FSH untuk merangsang sel-sel sertoli

17
menghasilkanandrogen binding protein(ABP) yang mengikat
testosteron untuk pematangan sperma.

2. Kelas : AMPHIBI
Alat/Struktur : 1. Glandula pituitary (pada dasar otak).
2. Glandula hyroid (dibelakang tulang rawan hyroid)
3. Kelenjar pancreas yaitu enzim dan insulin
Fungsi : 1. Pada bagian anterior sebagai perangsang pertumbuhan dan gonad,
pada bagian tengan sebagai kromatofor, dan pada bagian posterior
sebagai hormon mengatur pengambilan air.
2. Mengatur metabolisme
3. Mengatur metabolism zat gula
Mekanisme : Pada fase metamorphosis katak sangat membutuhkan hormone
pertumbuhan, misalnya hormon pertumbuhan yang terdapat pada
dasar otak glandulae pituitaria atau glandula hypophysabagian
anterior. Hormon ini akan disekresikan oleh kelenjar tersebut dalam
mengontrol pertumbuhan terutama panjang tulang, juga merangsang
gonad untuk menghasilkan sel kelamin.

3. Kelas : REPTIL
Alat/Struktur : 1. Kelenjar tiroid (dekat tenggorokan).
2. Kelenjar paratiroid (dekat tiroid).
3. 2 kelenjar adrenal (wilayah ekor).
Fungsi : 1. Metabolisme.
2. Metabolisme kalsium.
3. Meningkatkan denyut jantung dan pernapasan.
Mekanisme : Misalnya pasca reptil melakukan fertilisasi, telur reptil yang terbentuk
akan sedikit lebih keras dibanding telur amfibi, sebab diselubungi oleh
albumin dan pembungkus luar berupa cangkang kalkareus yang
dihasilkan oleh kelenjar di sepanjang oviduk.

4. Kelas : AVES
Alat/Struktur : 1. Glandula pituitaria (dasar otak infunelibulum).

18
2. Glandula hyroid.
3. Glandula pancreatus
4. Glandula andrenalin
5. Glandula sexualis
Fungsi : Mempengaruhi tanda kelamin sekunder, dan pewarnaan pada bulu.
Mekanisme : Saat memasuki fase dewasa burung tersebut akan mengganti bulu atau
disebut dengan molting yang biasanya terjadi setelah musim
perkembangbiakan, tetapi ada juga sebelum musim kawin. Namun
indikasi bahwa pergantian bulu burung dipengaruhi oleh banyak
faktor, sebab pergantian bulu tidak tampak nyata terinduksi oelh
tingginya dosis hormon tiroksin yang kelihatan lebih aktif saat itu.

5. Kelas : MAMALIA
Alat/Struktur : 1. Kelenjar tiroid, adrenal, dan kelenjar gonad yang mengatur
aktifitas kelenjar endokrin lain.
2. Kelenjar pineal di atas diencefalon,
3. kelenjar tiroid yang terdiri atas 2 lobus
4. kelenjar paratiroid yang sangat dekat dengan kelenjar tiroid yang
bersifat sangat esensial.
Fungsi : Kelenjar endokrin ada yang berfungsi mengatur aktivitas tubuh seperti
pertumbuhan, metabolisme lemak, karbohidrat dan sekresi urin. Pada
kelenjar pineal lebih difokuskan pada ritme harian dalam sintesis
serotonin, melatonin, dan bahan-bahan kiomia lain dalam situasi
kurang cahaya. Pada kelenjar tiroid berperan dalam metabolisme dan
regulasi, kelenjar paratiroid berperan utama dalam metabolisme
kalsium.
Mekanisme : Mamalia memiliki hipotalamus dan hipofisis, yang merupakan suatu
kelenjar kecil tetapi kompleks yang terletak pada dasar hipotalamus.
Hipotalamus melepaskan sejumlah hormon hipofisa; beberapa
diantaranya memicu pelepasan hormon dan yang lainnya menekan
pelepasan hormon hipofisa. Kelenjar endokrin ini mensekresikan
paling tidak sembilan hormon yang kebanyakan meregulasi fungsi-
fungsi jaringan endokrin yang lain. Hipofisa sendiri dikontrol oleh

19
sekolompok sel-sel neurosekretoris di dalam hipotalamus yang
terdapat pada dasar otak. Sel-sel neurosekretoris tersebut merespon
input sensoris dari berbagai bagian tubuh, oleh karena itu ikut serta
dalam refleks-refleks neuroendokrin yang meregulasi sejumlah fungi-
fungsi termasuk kontrol suhu, osmoregulasi, siklus seksual, dan
fungsi-fungsi endokrin lain.

E. Sistem Regulasi Hormon Pada Manusia

Dalam tubuh setiap manusia mengandung hormon yang mengatur beberapa kinerja
tubuh. Kelenjar dalam terdapat dalam tubuh manusia dibedakan menjadi dua bagian yaitu:
 Kelenjar eksokrin yaitu kelenjar yang mempunyai saluran khusus dalam penyaluran hasil
sekret/getah, seperti kelenjar-kelenjar pencernaan.
 Kelenjar endokrin yaitu kelenjar yang tidak mempunyai saluran khusus dalam penyaluran
hasilsekret/getah, seperti kelenjar thyroid, thymus, hipofisis dan lain-lain.
Pada dasarnya, hormon dan saraf memiliki persamaan tugas dalam pengaturan kegiatan-
kegiatan tubuh. Perbedaannya meliputi kecepatan kerjanya, banyaknya organ tubuh yang
dipengaruhi, kecepatan reaksi, dan sistem peredarannya.
Perbedaan antara Sistem Saraf dengan Hormon
Sistem Saraf Sistem Hormon
Mengantarkan rangsangan dengan cepat Mengantarkan rangsangan dengan lembut
Mengantarkan rangsangan secara kurang Mengantarkan rangsangan secara teratur
teratur
Rangsangan melalui serabut saraf Rangsangan melalui darah

Adapun Kelenjar dalam Tubuh Manusia yaitu sebagai berikut


1. Kelenjar Hipofisis

20
Kelenjar hipofisis terletak di dasar otak, ukurannya sebesar biji ercis. Meskipun ukurannya
kecil, kelenjar hipofisis berperan penting dalam sistem koordinasi tubuh. Kelenjar hipofisis
mensekresikan berbagai macam hormon yang mengatur berbagai kegiatan dalam tubuh (master
gland).
Hipotalamus mempunyai peranan penting dalam koordinasi sistem saraf dan hormon.
Misalnya, otak mengirimkan informasi sensoris mengenai perubahan musim dan ketersediaan
pasangan kawin ke hipotalamus melalui sinyal saraf. Kemudian, hipotalamus akan memicu
pembebasan hormon reproduksi yang diperlukan untuk perkawinan. Hipotalamus
menyekresikan dua buah hormon, yaitu:
 Hormon pembebas (releasing hormone) yang memacu kelenjar hipofisis untuk
menyekresikan hormon-hormonnya.
 Hormon penghambat (inhibiting hormone) yang membuat kelenjar hipofisis berhenti
mensekresikan hormon. Setiap hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis dikontrol
oleh paling tidak satu hormon pembebas dan penghambat yang dihasilkan oleh hipotalamus.
Kelenjar hipofisis terdiri atas tiga lobus, yaitu:
1. Lobus anterior
2. Intermediate
3. Lobus Posterior

Hormon-hormon yang Dihasilkan Kelenjar Hipofisis


Hormon Fungsi

21
Hormon pertumbuhan Memicu pertumbuhan dengan meningkatkan laju
pembentukan protein di dalam sel.
Laktotropik Hormone (LTH) Merangsang produksi air susu.
Thyroid Stimulating Hormone (TSH) Mengontrol sekresi hormon oleh kelenjar tiroid.
Adrenocorticotropic Mengontrol sekresi hormon oleh korteks adrenal
Hormone (ACTH)
Follicle Stimulating Hormone (FSH) · Pada wanita, merangsang perkembangan folikel
pada ovarium dan sekresi estrogen.
· Pada pria, memicu testis untuk menghasilkan
sperma
Luiteinizing Hormone (LH) · Pada wanita, menstimulasi ovulasi dan sekresi
progesterone.
· Pada pria, menstimulasi sel interstisial untuk
menghasilkan testosterone.
Melanosit Stimulating Mempengaruhi pigmentasi kulit.
Hormone (MSH)
Hormon Antidiuretik (ADH) Menurunkan volume urin dengan cara menyerap air
atauVasopresin dari ginjal dan meningkatkan tekanan darah.
Oksitosin Memacu kontraksi uterus selama proses melahirkan
dan kelenjar susu agar mengeluarkan air susu.

Kekurangan hormon pertumbuhan pada masa kanak-kanak akan menyebabkan


kekerdilan (kretinisme). Jika sekresi hormon pertumbuhan berlebih (hipersekresi) akan
menyebabkanpertumbuhan raksasa (gigantisme).
Bila hipersekresi hormon pertumbuhan terjadi pada di usia dewasa, dapat menyebabkan
pertumbuhan tulang abnormal di lengan, kaki, dan kepala. Kondisi ini dikenal sebagai
akromegali.
2. Kelenjar Tiroid

22
Kelenjar tiroid di leher bagian depan dan terdiri atas dua lobus. Kelenjar tiroid
mensekresikan hormon tiroksin dan kalsitonin.
Hormon-hormon yang Dihasilkan oleh Kelanjar Tiroid
Hormon Fungsi
Tiroksin Mengatur metabolisme tubuh (memacu kecepatan reaksi kimia dalam
sel tubuh, sehingga meningkatkan metabolisme tubuh).
Kalsitonin Menurunkan kadar kalsium darah dengan cara meningkatkan
penimbunan kalsium pada tulang keras, mengurangi pengambilan
kalsium dalam usus, atau mengurangi pengambilan kalsium dalam
ginjal.

3. Kelenjar Paratiroid (Kelenjar Anak Gondok)

23
Kelenjar paratiroid terletak di dekat kelenjar tiroid dan menghasilkan hormon
paratiroid (parathormon). Parathormon berperan untuk meningkatkan pengeluaran fosfor
oleh ginjal dan meningkatkan penyerapan kalsium dari tulang.
4. Kelenjar Adrenal/kelenjar anak ginjal (suprarenalis)

Kelenjar adrenal berupa struktur kecil yang terletak di atas ginjal, sehingga disebut juga
kelenjar anak ginjal (suprarenalis). Kelenjar adrenal terdiri dari:
 Bagian Luar
Bagian luar (korteks) menghasilkan hormon kortison yang terdiri dari:
 Mineralokortikoid, berfungsi untuk membantu metabolisme garam natrium dan kalium
serta menjaga keseimbangan hormon kelamin
 Glukokortikoid, berfungsi membantu metabolisme karbohidrat.
Kekurangan hormon kortison menyebabkan penyakit Adison yang ditandai dengan
kelelahan, nafsu makan berkurang, mual, dan muntah-muntah.
 Bagian Dalam
Bagian dalam (medula) menghasilkan hormon adrenalin (epinefrin), yang memengaruhi
peningkatan denyut jantung, kecepatan pernapasan, dan meningkatkan tekanan darah
(menyempitkan pembuluh darah). Adrenalin bersama insulin berpengaruh terhadap perubahan
glikogen (gula dalam otot) menjadi glukosa (gula dalam darah).
5. Kelenjar Pulau-Pulau Langerhans

24
Kelenjar pulau-pulau langerhans merupakan sekelompok sel yang terletak di dalam
kelenjar pankreas.
Hormon yang dihasilkan adalah:
 Insulin
 glukagon
Hormon insulin dan glukagon bekerja sama untuk mengatur kadar glukosa dalam darah. Bila
kadar glukosa dalam darah tinggi, insulin disekresikan sehingga glukosa diubah menjadi
glikogen. Sebaliknya, jika kadar glukosa dalam darah menurun, glukagon disekresikan yang akan
mengubah glikogen menjadi glukosa.
Kekurangan hormon insulin akan menyebabkan penyakit diabetes melitus (kencing manis)
yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa dalam darah. Kelebihan glukosa akan
dikeluarkan bersama urin. Tanda-tanda diabetes melitus yaitu sering mengeluarkan urin dalam
jumlah banyak, sering merasa haus dan lapar, serta badan terasa lemas. Berikut adalah ilustrasi
proses regulasi hormon insulin didalam darah.

25
6. Kelenjar Kelamin
Kelenjar kelamin terdiri atas:

 Testis sebagai kelenjar kelamin jantan (pria)


Testis, menghasilkan hormon testosteron yang berfungsi merangsang pematangan
sperma (spermatogenesis) dan pembentukan tanda-tanda kelamin sekunder pada pria,
misalnya pertumbuhan kumis, janggut, bulu dada, jakun, dan membesarnya suara. Sekresi
hormon tersebut juga dirangsang oleh hormon yang dihasilkan oleh hipofisis.

26
 Ovarium sebagai kelenjar kelamin betina (wanita).
Ovarium, menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Sekresinya diatur oleh
hormon yang dihasilkan kelenjar hipofisis. Estrogen berfungsi untuk menimbulkan dan
mempertahankan tanda-tanda kelamin sekunder pada wanita, misalnya perkembangan
pinggul, payudara, serta kulit menjadi halus. Progesteron berfungsi untuk
mempersiapkan dinding uterus agar dapat menerima ovum yang sudah dibuahi.

7. Kelenjar Timus

27
Terletak di sepanjang rongga trakea di rongga dada bagian atas. Timus membesar sewaktu
pubertas dan mengecil setelah dewasa. Kelenjar ini merupakan kelenjar penimbunan hormon
somatotrof atau hormon pertumbuhan dan setelah dewasa tidak berfungsi lagi. Menghasilkan
timosin yang berfungsi untuk merangsang limfosit.

8. Kelenjar Pineal

Kelenjar pineal adalah suatu bagian kecil di dalam otak yang bertanggung jawab atas
efisiensi fungsi dari beberapa sistem metabolisme di dalam tubuh. Kelenjar ini panjangnya
hanya sekitar 7 milimeter dan terletak hampir di bagian tengah otak, di antara otak kanan dan
otak kiri.

28
Kelenjar ini bertanggung jawab menghasilkan sebuah hormon yang bernama melatonin,
yang berfungsi untuk mengatur ritme harian tubuh. Ketika retina mata terstimulasi oleh cahaya,
impuls dikirim ke saraf optik menuju bagian otak yang disebut hipotalamus. Dari sini, saraf
simpatetik berhubungan dengan kelenjar pineal dan memicu diproduksinya melatonin.
Hasilnya adalah ketika tidak ada cahaya yang mencapai mata, misalnya pada malam hari,
sinyal-sinyal ini tidak lagi menghambat produksi melatonin dan kemudian menyuruh tubuh
untuk tidur.

F. Faktor-Faktor Pengatur Sekresi Hormon


1. Faktor Saraf
Bagian medula kelenjar suprarenal mendapat pelayanan dari saraf otonom. Oleh
karma itu sekresinya diatur oleh saraf otonom.
2. Faktor Kimia
Susunan bahan kimia atau hormon lain dalam aliran darah mempengaruhi sekresi
hormon tertentu. Contohnya, sekresi insulin dipengaruhi oleh jumlah glukosa di dalam
darah.
G. Kelainan Hormon
Hormon dalam tubuh manusia diproduksi dalam jumlah sedikit. Namun, jika produksinya
terlalu sedikit, atau malah sebaliknya, akan menyebabkan beberapa kelainan. Berikut beberapa
kelainan pada sistem hormon manusia.
Berikut adalah tabel kelainan hormon pada manusia.
Nama kelainan Penyebab Akibat
Diabetes melitus Kekurangan hormon insulin urine banyak
mengandung gula
Kretinisme Kekurangan somatrotropin atau tumbuh kerdil
tiroksin
Gigantisme Kelebihan somatrotropin atau tumbuh seperti
tiroksin raksasa
Addison Kekuranganglukokortikoid karena Berkurangnya volume
kelenjar andrenal dan tekanan darah,
terifeksi/autonium hipoglikemia dan

29
turunnya daya tahan
tubuh terhadap stress,
lesu mental/fisik.
Kejang otot Kekurangan parathormon Kalsium darah turun,
terjadi kontraksi otot
berlebihan
Tulang rapuh Kelebihan parathormon Kalsium darah
meningkat, tulang
mudah retak dan
patah
Sindrom Kelebihan glukokortikoid Otot mengecil dan
Cushing lemah, osteoporosis,
luka sulit sembuh,
gangguan mental
Hipertiroidea kelebihan hormone tiroid berat badan menurun,
gemetaran,
berkeringat, nafsu
makan besar, jantung
berdebar dan BMR
maningkat melebihi
20 sampai 100
Sindrom Kekurangan glukokortikoid tanda kelainan
Adrenogenital karena kekurangan enzim sekunder pria pada
pembentuk glukokotikoid pada wanita/virilisme, pria
kelenjar adrenal di bawah umur timbul
pubertas perkoks, pria
dewasa timbul
kelamin sekunder
wanita

30
Peokromositoma Tumor adrenal medulla Basa metabolisme
meningkat, glukosa
darah meningkat,
jantung berdebar,
tekanan darah
meninggi,
berkurangnya fungsi
saluran pencernaan
dan keringat pada
telapak tangan
Hipotiroidea kekurangan hormone tiroid kretinisme

Gangguan endokrin pada hewan pendamping memiliki banyak kemiripan dengan yang ada
pada rekan manusia mereka. Secara berurutan, hewan pendamping dengan endo-crinopathies
spontan dapat berfungsi sebagai model hewan untuk penyakit yang berhubungan dengan
manusia.

 Gangguan Hormon Pertumbuhan ( Growth hormone [GH] )

Defisiensi Growth Hormone menimbulkan Pengkerdilan hipofisis karena kekurangan hormon


hipofisis gabungan atau Combined Pituitary Hor-Mone Deficiency (CPHD) dikenal sebagai
gangguan autosomal, resesif yang diwariskan pada anjing gembala Jerman. CPHD pada anjing
ini ditandai dengan keterbelakangan kelenjar pituitari dan defisiensi gabungan GH, tirotropin,
prolaktin dan gonadotropin, meskipun sekresi adrenokortikotropin disimpan. Gangguan ca-9 ini
disebabkan oleh mutasi pada gen yang mengkodekan faktor transkripsi hipofisis Sedangkan,
patogenesis kelebihan GH benar-benar berbeda pada anjing dan kucing. Pada kucing, seperti
pada manusia, ekskresi GH yang berlebihan paling sering disebabkan oleh adenosoma hipofisis
somatotrof. Pada anjing, GH berlebih karena tumor pituitari adalah kejadian yang jarang terjadi
[5]. Lebih sering, canine acromegaly disebabkan oleh produksi GH yang diinduksi progesteron
pada kelenjar susu [6].

 Diabetes mellitus

31
Dengan perkiraan kejadian 2,45 kasus / 1.000 kucing-tahun-risiko, diabetes mellitus
adalah penyakit yang umum pada kucing. Kebanyakan kucing diabetes memiliki jenis diabetes
mellitus yang sangat mirip dengan diabetes mellitus tipe 2 manusia. Mirip dengan situasi pada
manusia, pada kucing secara genetik cenderung untuk diabetes mellitus, faktor-faktor seperti
obesitas dan aktivitas fisik dapat memicu penyakit dengan menginduksi resistensi insulin.
 Hiperkortisol
Baik pada anjing dan kucing, sekitar 80–85% kasus kelebihan glukokortikoid endogen
kronis (sindrom Cushing) disebabkan oleh adenoma corticotroph fungsional yang berasal dari
lobus anterior atau pars dalam termedia kelenjar pituitari (penyakit Cushing). Dalam 15-20%
kasus lainnya, hiperkorti soliter spontan disebabkan oleh adenoma adrenokortikal fungsional
atau karsinoma fungsional. Pada anjing, sindrom Cushing juga dapat terjadi karena sekresi
adrenokortikotropin ektopik atau hiperkortisolisme yang terjadi pada makanan
Sindrom Cushing adalah gangguan endokrinologis yang sangat sering pada anjing,
berbeda dengan situasi pada manusia dan kucing yang lebih langka. Meskipun demikian,
presentasi klinis penyakit Cushing sangat mirip antara anjing dan manusia, dengan tanda-tanda
khas termasuk obesitas perut, penambahan berat badan, kelelahan, atrofi otot dan perubahan
kulit. Oleh karena itu, penyakit Canine Cushing dapat berfungsi sebagai model hewan untuk
penyakit manusia, terutama karena hipofisek-tomy kaninus dapat menghasilkan sejumlah besar
jaringan adenoma hipofisis korti-hipofisis primer untuk tujuan penelitian in vitro.
 Sindrom Kekurangan Endokrin Terimobilisasi Imun (Hipotiroidisme
Hipotiroidisme primer adalah umum pada anjing tetapi sangat jarang terjadi pada kucing.
Sindrom defisiensi endokrin lainnya seperti hypoadrenocorticism dan hypopara-thyroidism tidak
jarang pada anjing tetapi jarang pada kucing. Secara patogenik, kondisi ini dianggap sebagai
tahap akhir dari kerusakan autoimun progresif dan berhubungan dengan tingginya insiden
antibodi yang bersirkulasi. Kucing tampaknya jauh lebih rentan terhadap defisiensi hormon
dimediasi kekebalan tubuh daripada anjing.

32
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Fungsi-fungsi fisiologi pada hewan dikendalikan oleh sistem hormon dan sistem saraf.
Berdasarkan pemanfaatan hasil kelenjarnya secara garis besar dibedakan menjadi kelenjar
eksokrin dan kelenjar endokrin. Krin berasal dari kata krinos yang berarti memisahkan atau
menghasilkan. Kelenjar eksokrin adalah kelenjar tubuh yang dapat melepaskan sekret melalui
saluran kelenjar (duktus ekskretorius), misalnya kelenjar ludah atau langsung dalam rongga
alat berdekatan, misalnya pada kelenjar dinding usus. Kelenjar endokrin atau kelenjar buntu
Adalah kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya langsung kedalam darah yang beredar
dalam jaringan kelenjar tanpa melewati doktus atau saluran, dan hasil sekresinya disebut
hormon. Hormon adalah adanya zat kimiawi yang di lepas langsung ke pembuluh getah
bening. Kemudian zat ini akan di bawa ke organ-organ tertentu untuk membantu melancarkan
kinerja organ tersebut.
B. Saran
Adapun saran dari penulis adalah agar pembaca bisa lebih memahami dan mendalami
mengenai materi regulasi hormon dari sumber lainnya.

33
DAFTAR PUSTAKA

Bond, C., & Saunders, W. B. (1979). Biology of Fishes. Philadelphia.


Dhadialla, T. S., & Carlson, G. R. (1997). New Insecticides with Ecdysteroidal and Juvenile
Hormone Activity. Annual Rev. Entomol.
Fujaya, Y. (2004). Fisiologi Ikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Helfman, G. S., Collete, B. C., & Facey, D. E. (1997). The Diversity of Fishes. UK: Blackwell
Science.
Klowden, M. J. (2007). Physiological Systems in Insects. Second Edition. USA: Academic Press.
Kooistra, H. S. (2009). Endocrine Disease in Animals e-journal. Utrecht University: Research Gate.
Nijhout, H. F. (1994). Insect Hormones. Princeton: Princeton Univ. Press.
Oka, A. A. (2002). Penggunaan Ekstrak Hipofisa Ternak Untukmerangsang Spermiasi Pada Ikan
(Cyprinus carpio L.). Denpasar: Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas
Udayana.
Reynolds, S. E. (1987). The cuticle, growth and moulting in insects: the essential background to the
action of acylurea in¬secticides. Pestic Sci.
Riddiford, L. M. (1994). Cellular and molecular actions of juvenile hormone I. General
considerations and premetamorphic actions. Adv. Insect Physiol.
Riddiford, L. M. (1996). Molecular aspects ofjuvenile hormone action in insect metamorphosis. In
Metamorphosis. London: Academic.

34