You are on page 1of 20

Teori Pembelajaran

Pendahuluan
Makalah ini membahas beberapa teori tentang pembelajaran dan saran praktis terkini untuk
pelatih, untuk merancang kegiatan pelatihan lebih efektif. Secara umum, program pelatihan
merupakan sarana untuk meningkatkan atau mengembangkan kinerja seseorang. Namun,
jika Anda mengevaluasi hasil program pelatihan, tidak jarang ditemukan, bahwa peserta
tidak mencapai serangkaian perbaikan seperti yang dimaksudkan dalam program pelatihan.
Ada banyak alasan mengapa hal ini dapat terjadi, salah satunya adalah desain yang buruk
dari acara pelatihan karena asumsi yang salah tentang cara bagaimana para peserta akan
belajar untuk melakukan pekerjaan itu. Ketiga teori pembelajaran yang disajikan dalam
makalah ini memberikan lebih banyak wawasan tentang bagaimana orang-orang belajar
mengenai hal-hal baru. Teori pembelajaran yang dibahas adalah:

1. Pembelajaran berbasis pengalaman


2. Pembelajaran berbasis kinerja otak
3. Andragogi (metode dan praktek pengajaran untuk orang dewasa)

Sebelum membahas teori-teori pembelajaran tersebut, beberapa definisi disajikan secara


singkat untuk menciptakan kosa kata dan pemahaman umum. Dalam psikologi dan
pendidikan, pembelajaran secara umum didefinisikan sebagai:

"Sebuah proses yang menyatukan pengaruh kognitif, emosional dan lingkungan serta
pengalaman untuk memperoleh, meningkatkan atau membuat perubahan dalam
keterampilan pengetahuan seseorang, nilai-nilai dan pandangan dunia" (Illeris, 2004;
Ormrod, 1995).

Pembelajaran sebagai sebuah proses berfokus pada “apa yang terjadi” saat pembelajaran
berlangsung. Penjelasan tentang “apa yang terjadi” membentuk serangkaian teori
pembelajaran. Teori pembelajaran merupakan upaya untuk mendeskripsikan bagaimana
orang belajar, sehingga membantu kita untuk memahami kompleks pembelajaran yang
saling berkaitan.

Referensi

Illeris, Knud (2004). Three dimensions of learning. Malabar, FL: Kriegeer Publishing
Ormrod, J. E. (1995). Human Learning Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall

Pembelajaran Berbasis Pengalaman


 MDF copyright 2018

Pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) adalah proses pemerolehan


makna dari pengalaman langsung. Hal ini menggambarkan bagaimana orang-orang
biasanya mempelajari hal-hal baru dalam situasi sehari-hari. Metode ini merupakan model
pembelajaran dimana orang-orang belajar secara individual di alam, bukan di ruang kelas,
dan tanpa guru ataupun pelatih.
www.mdf.nl

Siklus Pembelajaran Berbasis Pengalaman

Menurut David Kolb, guna mendapatkan pengetahuan sejati dari pengalaman, peserta didik

ref:Teori Belajar FL Page 1 of (20)


Teori Pembelajaran

diharuskan untuk dapat berpartisipasi dalam setiap tahapan dalam siklus experiential
learning.

Ketika memikirkan tentang sesuatu yang baru yang belum lama Anda pelajari, bisa jadi
Anda belajar untuk melakukan sesuatu, seperti belajar menggunakan ponsel pintar baru
atau mungkin memperoleh wawasan atau fakta yang terkait dengan topik yang sudah tidak
asing bagi Anda. Jika hal ini yang terjadi, maka Anda tengah mendapatkan pengalaman
pembelajaran sejati, sesuatu yang benar-benar akan Anda gunakan dan sesuatu yang akan
Anda ingat di masa depan, maka besar kemungkinan Anda mempelajari hal baru tersebut
dengan menerapkan “Siklus pembelajaran berdasarkan pengalaman”.

David A. Kolb, seorang ahli teori pendidikan Amerika, membantu mempopulerkan gagasan
ini. Teorinya memiliki dampak yang sangat penting pada pengembangan model
pembelajaran. Langkah-langkah pembelajaran meliputi:

• Pengalaman konkret: seseorang melakukan tindakan tertentu dan melihat efeknya.


• Observasi reflektif: merefleksikan dan memahami dampak dari tindakan dalam
situasi tertentu. Pengalaman itu kemudian diolah, sehingga apabila tindakan itu
dilakukan di beberapa situasi, maka seseorang memiliki peluang untuk
mengantisipasi dampak dari tindakan tersebut.
• Konseptualisasi Abstrak: membentuk konsep atas pengalaman dan memahami
prinsip umum atau menarik pelajaran umum dari hal tersebut.
• Eksperimen Aktif: mencoba ide baru atau menerapkan konsep umum. Penerapan
ide akan memberi Anda pengalaman baru untuk memulai siklus lagi.

Siklus Pembelajaran Berbasis Pengalaman

Pengalaman
Konkret
Merasakan, melakukan

Eksperimen Observasi
Aktif Reflektif
menguji, menerapkan
menyaksikan, bermimpi
 MDF copyright 2018

Konseptualisasi
Abstrak
berpikir, menganalisis

Agar pembelajaran menjadi efektif, dalam arti menjadi benar-benar berguna atau bermakna,
seseorang harus melalui segala tahapan secara aktif dan memiliki keempat kemampuan
www.mdf.nl

tersebut diatas.

ref:Teori Belajar FL Page 2 of (20)


Teori Pembelajaran

Ketika seseorang melihat bagaimana program-program pelatihan umumnya dilaksanakan,


sangat mengejutkan bahwa program tersebut menggunakan alur yang sama. Dimulai
dengan pengenalan topik atau konseptualisasi (bacaan, ceramah,dan teori), sebagian besar
(tetapi tidak selalu) diikuti oleh tugas-tugas atau pengalaman (melalui latihan atau aksi) serta
pada bagian terakhir, diberikan waktu untuk mengajukan pertanyaan atau refleksi (diskusi,
penjelasan lebih lanjut). Aplikasi dalam konteks nyata tidak sering dibahas dan biasanya
berlangsung setelah acara pelatihan.

Keluhan yang sering terdengar mengenai alur atau set-up ini, menyebutkan bahwa pelatihan
menjadi terasa membosankan dan peserta mengalami kesulitan menghubungkan topik
dengan situasi di kehidupan nyata. Untuk menghindari kebosanan, pelatih mencoba untuk
menggunakan teknik pelatihan kreatif. Menurut De Galan (2003), teknik pelatihan kreatif
tidak akan membantu selama “penyelenggara” kursus Anda tidak menerapkan siklus belajar
ala Kolb. Siklus pengalaman belajar ala Kolb menyiratkan, bahwa pelatih harus memastikan
peserta kursus mengikuti secara aktif semua langkah dalam siklus pembelajaran. De Galan
(2003) berpendapat, bahwa hal inilah yang akan membedakan kursus yang baik dari buruk
atau pelatihan sukses dengan yang gagal. Pelatihan yang buruk sering kali berlama-lama di
salah satu tahapan dari siklus belajar.

Pelatihan dan siklus pembelajaran


Jadi, untuk meningkatkan efektivitas pelatihan dan membuatnya lebih menarik bagi orang
dewasa untuk berpartisipasi, pelatih harus menyesuaikan program pelatihan dan
susunannya dengan siklus belajar. Di bawah ini ditunjukkan bagaimana pelatih dapat
menyusun kegiatan dengan kelompok sesuai dengan siklus belajar. Lihat juga Gambar 3.

Siklus Pembelajaran Berbasis Pengalaman

Catatan untuk Pelatih: Pengalaman Catatan untuk Pelatih:


Biarkan peserta menguji Konkret
pembelajaran dan penerapan Merasakan, melakukan Berikan berbagai situasi untuk
rencana ke dalam pekerjaan mendorong proses mendapatkan
mereka. Misalnya, melalui pengalaman melalui permainan
permainan peran, studi kasus, peran, studi kasus, demonstratsi
membuat checklist, rencana aksi dan tugas-tugas praktek

Eksperimen Observasi
Aktif Reflektif
menguji, menerapkan
menyaksikan, bermimpi
 MDF copyright 2018

Catatan untuk Pelatih:


Catatan untuk Pelatih:
Refleksi terstruktur, diskusi dan
Buatlah generalisasi dari pengalaman umpan balik tentang pengalaman.
spesifik dan terangkan tentang teori- Konseptualisasi Misalnya: melalui angket, tukar
teori umum mengenai perilaku Abstrak pendapat, percakapan
efektif. Misalnya: melalui presentasi berpikir, menganalisis terstruktur, meninjau rekaman
model, literatur studi, dan video
www.mdf.nl

pembahasan terstruktur.

ref:Teori Belajar FL Page 3 of (20)


Teori Pembelajaran

Sebagai langkah pertama (Pengalaman Konkret), pelatih menciptakan berbagai situasi,


pengaturan dan suasana, yang besar kemungkinan akan memberikan pengalaman yang
diharapkan oleh para peserta atau yang memungkinkan peserta untuk mengingat
pengalaman di kehidupan nyata yang berkaitan dengan topik. Pelatih kemudian
memberikan struktur untuk refleksi, diskusi atau umpan balik, yang memungkinkan peserta
untuk berbagi reaksi dan observasi, serta memroses pengalaman (Observasi Reflektif).
Jika peserta pelatihan ingin menerapkan hasil pelatihan di pekerjaan, mereka harus
mengubah apa yang telah mereka amati di situasi tertentu ke menjadi sebuah prinsip umum
atau menarik pelajaran umum dari hal tersebut. Pelatih mengakomodasi peserta untuk
melakukannya dengan cara menghubungkan pengetahuan yang ada tentang topik yang
dibahas dengan pengalaman para peserta. Pengetahuan ini dapat diungkapkan baik oleh
peserta maupun oleh pelatih melalui presentasi singkat atau memfasilitasi diskusi untuk
memperjelas poin dan membantu untuk menghubungkannya dengan aplikasi potensial
(Konseptualisasi Abstrak). Akhirnya, untuk menyimpulkan sesi, pelatih membantu peserta
untuk mengidentifikasi dan merencanakan bagaimana mereka akan menerapkan apa yang
telah mereka pelajari, yang dapat membantu mereka untuk melakukan pekerjaan mereka
secara lebih efektif (Eksperimen Aktif) dan bila mungkin mengatur penerapannya dalam
kehidupan nyata, yang kemudian akan memberikan masukan baru untuk siklus lainnya
sesuai dengan teorisiklus belajar.

Ketika program pelatihan diatur dan dirancang berdasarkan siklus pembelajaran berbasis
pengalaman, maka akan terasa lebih nyata. Pelatih akan merasakan, bahwa pengalaman
mereka dan akumulasi penguasaan materi adalah penting dan bernilai dalam kegiatan
pelatihan. Bagi pelatih, penggunaan konsep ini memerlukan perubahan dari peran guru
tradisional sebagai orang yang "menuangkan pengetahuan ke dalam bejana kosong"
menjadi citra baru pelatih sebagai fasilitator, yang membantu peserta dalam proses belajar
mereka.

Siklus pembelajaran seseorang dapat dimulai pada salah satu dari empat langkah tersebut
diatas dan hendaknya dilihat selayaknya sebuah spiral yang berkesinambungan (Kolb dan
Fry, 1975). Seperti telah disebutkan di atas, kuncinya adalah bahwa peserta Anda menjalani
keseluruhan empat langkah secara aktif. Alih-alih selalu memulai dari Pengalaman Konkret,
ada argumen kuat agar pelatih melakukan variasi saat melakukan langkah/tahap pertama
karena setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda. Hanya sedikit dari kita yang dapat
secara berimbang menggunakan empat langkah Siklus Pembelajaran. Pada prakteknya, kita
secara alamiah lebih cenderung untuk menggunakan satu atau dua langkah saja. Preferensi
inilah yang disebut Kolb (1984) sebagai gaya pembelajaran dan diidentifikasikan sebagai
menyebut gaya belajar dan dapat diidentifikasi dalam Kumpulan Gaya Belajar ala Kolb.

Gaya Belajar
 MDF copyright 2018

Untuk memahami dari mana konsep gaya belajar Kolb berasal, kita periksa kembali
langkah-langkah dari siklus belajar. Menurut Kolb, kita dapat mengidentifikasi dua tindakan
ketika mempelajari sesuatu yang baru. Tindakan atau variabel pertama adalah cara kita
mengeksplorasi pengalaman baru atau pendekatan terhadap kegiatan atau tugas baru.
Sebagian orang memilih untuk diperkenalkan kepada sesuatu yang baru melalui perasaan
atau penginderaan. Contohnya, mereka mulai menekan tombol dan layar ponsel pintar baru
mereka, sementara yang lain lebih memilih untuk terlibat dengan informasi baru melalui
eksplorasi konsep atau teori dan pertama-tama akan membacakan instruksi pemakaian
www.mdf.nl

telepon baru kepada para pengguna.

ref:Teori Belajar FL Page 4 of (20)


Teori Pembelajaran

Ketika informasi baru dieksplorasi, kita harus mengubah atau memroses pengalaman, baik
dengan eksperimen aktif, misalnya seseorang mulai menggunakan ponsel pintar segera,
maupun memilih untuk mengamati dan merefleksikan terlebih dahulu sebelum
memanfaatkan informasi baru tersebut. Mereka pertama kali akan melihat bagaimana orang
lain menggunakan ponsel pintar mereka, sebelum mereka sendiri mulai menggunakannya.

Bentuk visualisasi kedua variabel ini dan kedua sumbunya pada grafik di bawah ini akan
menjabarkan empat gaya belajar ala Kolb. Keempat gaya belajar dinamai dan diilustrasikan
sebagai berikut (De Galan, 2003):

The Diverger melihat pengalaman konkret dan merefleksikannya pada diri mereka
The Assimilator akan dengan mudah menentukan konsep berdasarkan refleksi
The Converger mengambil esensi dari teori dan mulai menerapkannya
The Accommodator bekerja sesuai dengan teknik coba-coba (trial and error). Jika
diberikan target, maka ia akan memilih cara/gayanya sendiri untuk mengolah pengalaman.

Pengalaman
Konkrit
Merasakan, melakukan

Meng- Menyebar
akomodasi (merasakan &
(Merasakan & melihat)
melakukan)

Eksperimen Observasi
Aktif Reflektif
Menguji, menerapkan Menyaksikan, bermimpi

Menyimpulkan Asimilasi
(berpikir dan (berpikir &
bertindak) Menyaksikan

Konseptualisasi
Abstrak
Berpikir, menganalisis
 MDF copyright 2018

Bila Anda ingin membuat peserta merasa nyaman, pilihlah gaya belajar favorit nya ketika
Anda memulai pelatihan. Bayangkan Anda ingin belajar tentang cara memberikan umpan
balik dan ingin berlatih; namun ternyata Anda harus mendengarkan penjelasan panjang
tentang teori dan kompleksitas budaya tentang umpan balik! Resistance peserta sering
dikaitkan dengan gaya belajar mereka. Peserta memberikan perlawanan dan merasa sulit
untuk belajar, saat Anda memberikan informasi baru dan menjadi sulit untuk diatasi.
Perlawanan tersebut seringkali berkaitan dengan gaya belajar mereka. Di bawah ini, Anda
terdapat tabel berisi paparan singkat mengenai gaya belajar, langkah yang banyak dipilih
www.mdf.nl

dalam siklus pembelajaran, kualitas, dan jebakan ,yang terkait dengan gaya belajar dan
ungkapan khas untuk mengenali sebuah gaya.

ref:Teori Belajar FL Page 5 of (20)


Teori Pembelajaran

Gaya Belajar Langkah yang Kualitas Jebakan Ungkapan


dipilih

Diverger Observasi Imajinatif dan Sedikit aksi Mengapa Anda


reflektif memiliki banyak Lebih banyak melakukannya
ide serta melihat berpikir seperti itu?
suatu hal dari daripada
sudut pandang tindakan Bagaimana Anda
yang berbeda melakukannya?

Yang menurut saya


mengejutkan
adalah ...

Assimilator Konseptualisasi Mampu Kurang Saya pikir…


abstrak menciptakan berorientasi
model teoretis pada orang dan Apakah Anda
dengan aplikasi praktis punya artikel atau
menggunakan buku tentang hal
perangkat ini?
penalaran
induktif/ Apakah
generalisasi masalahnya selalu
seperti ini?

Converger Eksperimen aktif Cakap dalam Lebih tertarik Bagaimana saya


membuat aplikasi pada tugas dan dapat
praktis tentang permasalahan menggunakannya
idea da teknis. di kehidupan
menggunakan nyata?
penalaran Enggan
deduktif untuk menangani Anda memiliki
menyelesaikan emosi dan contohnya?
masalah masalah
antarpribadi Dapatkah kita
sedikit percepat?

 MDF copyright 2018


www.mdf.nl

ref:Teori Belajar FL Page 6 of (20)


Teori Pembelajaran

Accommodator Pengalaman Cakap dalam Tidak sabar Betapa


nyata terlibat secara Pusat perhatian menyenangkan,
aktif dengan mari kita lakukan!
dunia dan Mudah
mengambil terpengaruh/
tindakan. teralihkan
Bertindak perhatiannya Mari kita coba!
berdasarkan
insting daripada
logika dan tidak Saya pikir, Anda
menghindari hanya perlu ...
resiko

Diadaptasi dari De Galan, 2003

Menangani Ragam Gaya Belajar


Gaya belajar dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Di universitas seseorang mungkin telah
belajar dengan gaya Diverger dan Assimilator, namun setelah mulai bekerja sebagai
konsultan di bidang teknik, ia mungkin cenderung untuk belajar lebih jauh sebagai
Converger atau Accommodator. Di sisi lain, mungkin saja seseorang memilih pekerjaan
yang sesuai dengan satu gaya belajar tertentu. Bisa jadi, tidak banyak orang dengan gaya
belajar Converger akan menjadi peneliti.

Ketika bekerja dengan lebih dari satu kelompok, bertemu dengan orang yang memiliki gaya
belajar yang sama, bukanlah hal yang lumrah. Oleh karena itu, seperti yang disebutkan
sebelumnya, disarankan agar para pelatih mencari variasi pada saat mereka memulai sesi
pelatihan, supaya dapat menyesuaikan dengan gaya belajar peserta yang berbeda-
beda.Cara ini juga akan membantu Anda sebagai pelatih agar terhindar dari perangkap
“menyusun pelatihan berdasarkan satu gaya belajar favoritnya semata”.

Namun demikian, dalam beberapa kasus, menurut De Galan (2003), pelatih mungkin
 MDF copyright 2018

menyesuaikan seting pelatihan dengan gaya belajar tertentu. Misalnya, pada pelatihan di
sebuah perusahan, dengan kursus yang dibuat khusus untuk kelompok peserta tertentu,
bisa jadi mayoritas peserta memiliki gaya belajar yang sama. Di kelompok staf universitas
gaya belajar Assimiliator mungkin dominan. Dalam beberapa kasus, orang-orang belajar
dari lingkungan tempat bekerja dengan gaya belajar tertentu. Terutama jika menghadapi
mereka yang telah bekerja dengan kurun waktu lama dengan kelompok atau untuk
organisasi tertentu. Dalam beberapa kasus, orang bisa dididik oleh lingkungan kerja mereka
www.mdf.nl

dalam gaya belajar tertentu, terutama ketika salah satu bekerja dalam periode yang lebih
lama dengan kelompok tertentu atau untuk sebuah organisasi tertentu. Pelatih mungkin
mendapatkan kesempatan untuk mengenali gaya belajar yang dominan dan

ref:Teori Belajar FL Page 7 of (20)


Teori Pembelajaran

mengantisipasinya dengan cara menyesuaikan pelatihan yang akan diselenggarakan.

Eksplorasi lebih lanjut mengenai gaya belajar


Ketika mengkaji teori tentang gaya belajar, seseorang akan menemukan sekumpulan besar
ragam model yang berbeda-beda. Salah satunya yang sering digunakan adalah teori yang
dicetuskan oleh Honey dan Mumford (1983), yang dikembangkan pertengahan 1970-an.
Teori tersebut diadaptasi dari model David Kolb, yang digunakan oleh para manajer dalam
bisnis. Mereka lalu menamai siklus pembelajaran, sesuai dengan pengalaman manajerial
dalam pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah serta sekaligus menyelaraskan
tahapan dalam siklus menjadi: Activist, Reflector, Theorist dan Pragmatist.

Kategorisasi lain dari gaya belajar, yang paling umum dan banyak digunakan adalah VAK
Visual, Auditory, and Kinaesthetic) atau VAK Model ala Fleming. Hal ini didasarkan pada
model pemrograman neuro-linguistik. Fleming mengidentifikasi tiga jenis peserta didik.
Pelajar Visual memiliki preferensi untuk melihat apa yang mereka pikirkan dalam gambar.
Peserta didik Auditory belajar secara optimal dengan cara mendengarkan dan berpartisipasi
dalam diskusi. Peserta didik Kinaesthetic atau sentuhan lebih memilih untuk belajar melalui
pengalaman: bergerak, menyentuh/meraba dan melakukan. Sebagai pelatih, Anda mungkin
ingin mempersiapkan program pelatihan Anda sedemikian rupa, sehingga mencakup
keseluruhan hal tersebut diatas.

Model terakhir yang juga cukup umum , yang akan disorot dalam dokumen ini adalah model
ala Fuhrman dan Jacobs. Model ini berfokus pada interaksi sosial antara peserta didik
dengan guru atau pelatih. Mereka mengidentifikasikan peserta didik menjadi tiga kategori:
dependent, collaborative dan independent. Di setiap tipe dijelaskan kebutuhan peserta didik
beserta tindakan yang akan dilakukan pelatih.

Bacaan Lanjutan
David A. Kolb tentang pengalaman belajar, Smith, MK di http://www.infed.org/b-explrn.htm
Memberikan gambaran singkat mengenai serba-serbi pembelajaran berbasis pengalaman
dan ringkasan kritik terhadap model ala Kolb.

Gaya Belajar ala Kolb di www.businessballs.com/kolblearninstyles.htm


Penjelasan Singkat tentang teori pembelajaran dan gaKolb teori dan gaya belajar, termasuk
salah satu model ala Honey dan Mumford.

Intentional Learning: A process for learning to learn in the Accounting Curriculum.


Bab 3.3 Gaya Belajar. http://aaahq.org/aecc/intent/3_3.htm
 MDF copyright 2018

Ulasan yang sangat menarik tentang ragam model dari gaya belajar, terkait dengan tipe-
tipe kepribadian, seperti misalnya: Myers Briggs Type Indicator (MBTI).

Berbagai artikel mengenai pembelaaran berbasis pengalaman dan kritik terhadap teori
David Kolb dapat dilihat di: http://revieuwing.co.uk/reserach/experiential.leraning.htm
Ringkasan menyeluruh atas kritik-kritik terhadap teori Kolb

Referensi
www.mdf.nl

De Galan, K (2003) Trainen, een praktijkgids. Pearson Education Benelux

ref:Teori Belajar FL Page 8 of (20)


Teori Pembelajaran

Honey, P and Mumford, A (1983) Using your Learning styles. Maidenhead, UK, Peter Honey
Publications Kolb. D (1984) Experiential Learning: Experience as the source of learning and
development. Englewoods Cliffs NJ: Prentice-Hall

Kolb.d and Fry. R. (1975) Toward an applied theory of experiential learning; in C. copper
(ed) Theories of Group Process, London; John Wiley

Pembelajaran Berbasis Otak


Dalam beberapa tahun terakhir kemajuan dalam ilmu saraf telah mengungkapkan banyak
wawasan baru dalam fungsi otak kita. Pengetahuan baru yang cukup banyak tersebut
menghasilkan perubahan signifikan dalam bidang pendidikan dan pelatihan (M. Gulpinar,
2005). Berdasarkan struktur dan fungsi otak, teori pembelajaran yang disebut pembelajaran
berbasis otak kemudian dikembangkan. Pada awal 1990-an Renate dan Geoffery Caine
mengembangkan serangkaian konsep dan prinsip-prinsip yang mereka digunakan untuk
menggambarkan berbagai fungsi pembelajaran. Konsep dan prinsip itu telah berkembang
menjadi komponen untuk pengembangan lebih lanjut dari teori pembelajaran berbasis otak.

Makalah ini mengambil perspektif praktis pada pembelajaran berbasis otak dengan fokus
utama pada bagaimana pelatih dapat membuat program mereka lebih efektif. Bagi para
pelatih, pertanyaan yang sangat penting adalah bagaimana cara terbaik untuk
menghubungkan dengan fungsi alami otak agar pembelajaran benar-benar meresap?
Pemahaman tentang bagaimana otak belajar akan membantu pelatih mempertimbangkan
aspek-aspek ketika merancang dan menerapkan program pelatihan.

Konsep Dasar
Konsep yang mendasari pembelajaran berbasis otak adalah bahwa:

"Belajar merupakan pembentukan jaringan saraf yang kuat dan luas"

Dalam otak manusia setiap sel saraf (neuron) berfungsi sebagai stasiun pemancar. Mereka
menerima informasi dari sel-sel lain dan juga memroses sinyal dan mengirimkannya ke sel-
sel lain. Ketika sel saraf yang dirangsang oleh pengalaman baru dan paparan yang masuk
dalam formasi dari indera, tumbuhlah cabang yang disebut dendrit. Dendrit adalah
permukaan reseptif utama dari sel saraf dan membentuk jaringan saraf di dalam otak kita.
Informasi ini kemudian diteruskan dari satu sel ke sel yang lainnya melalui jaringan saraf
yang terdapat di celah kecil yang disebut sinapsis atau melalui akson, saluran langsung
antar dendrit. Senyawa yang disebut neurotransmitter menyebabkan sinyal mengalir dari
satu neuron ke neuron lainnya. Proses elektrokimia antara sel-sel ini adalah dasar dari
semua perilaku manusia. Setiap kali kita berbicara, bergerak, atau berpikir, listrik dan
 MDF copyright 2018

komunikasi kimiawi terjadi antara puluhan ribu neuron. (R. Weiss, 2000)

Pola berkomunikasi sesama sel tercatat secara singkat dalam ingatan kita. Namun dalam
penggunaan yang konstan, Anda memperkuat jaringan ini dan kemudian mungkin menjadi
pola yang lebih permanen. Karena sering digunakan, jaringan netral menumbuhkan cabang
saraf akson, dendrit dan sinapsis baru, yang berkembang luas. Seiring pemakaian yang
terus-menerus, Anda kehilangan akson dan terjadilah penurunan jaringan. (R. Weiss, 2000).
www.mdf.nl

Proses ini disebut plastisitas neuron. Sepanjang hidup, otak terus-menerus "merekonstruksi"
diri untuk mengatasi perubahan yang sedang berlangsung di lingkungan kita (Gulpinar,
2005).

ref:Teori Belajar FL Page 9 of (20)


Teori Pembelajaran

Peristiwa diatas memiliki implikasi praktis untuk pelatih. Implikasi pertama berkaitan dengan
motivasi untuk belajar dan yang kedua berhubungan dengan proses pembelajaran.
Keduanya dibahas dalam dua bagian berikut ini.

Motivasi untuk belajar dan “pola pikir”


Cara bagaimana orang melihat kemampuan mengembangkan keterampilan dan kecakapan
mereka sendiri disebut juga dengan “pola pikir”. Implikasi pertama dari plastisitas otak
adalah bahwa manusia memiliki kapasitas besar untuk mengembangkan kualitas,
keterampilan,dan kecerdasan. Para peneliti memperkirakan 40 sampai 80% dari kapasitas
Anda ditentukan secara genetik. Namun demikian, ini tidak berarti bahwa Anda akan
mengembangkan bakat Anda. Hal ini tergantung sebagian pada lingkungan Anda dan “pola
pikir” tentang kemampuan pengembangan diri Anda sendiri (Dirksen, 2010).

Pola pikir adalah ide sederhana yang ditemukan oleh Carol Dweck, psikolog dari Stanford
University yang terkenal di dunia. Carol Dweck menunjukkan bahwa pola pikir Anda akan
menentukan hingga batas tertinggi, bagaimana orang akan mengembangkan diri dan
menjadi sukses atau sebaliknya. Beliau membedakan jenis pola pikir menjadi dua: pola pikir
tetap dan pola pikir berkembang.

Dalam pola pikir tetap, orang percaya kualitas dasar mereka, seperti kecerdasan atau bakat
mereka sebagai ciri yang bersifat tetap. Mereka justru menghabiskan waktu
mendokumentasikan kecerdasan atau bakat tersebut dan bukan mengembangkannya.
Mereka juga percaya bahwa (dengan) bakat saja dapat menciptakan kesuksesan-tanpa
usaha. Sedangkan dalam pola pikir berkembang, orang percaya bahwa kemampuan mereka
yang paling dasar dapat dikembangkan melalui dedikasi dan kerja keras-otak dan bakat
hanyalah ujung pangkal. Masing-masing individu belum tentu menyadari pola pikir mereka
sendiri, tetapi pola pikir mereka masih bisa dilihat berdasarkan perilaku mereka.

Perbedaan pola pikir sangat jelas terlihat pada reaksi seseorang terhadap kegagalan.
Seseorang dengan pola pikir tetap akan takut gagal karena itu adalah pernyataan negatif
atas kemampuan dasar mereka. Individu dengan pola pikir berkembang tidak keberatan
dengan kegagalan karena mereka menyadari bahwa kinerja mereka dapat ditingkatkan dan
melihat situasi itu sebagai kesempatan untuk belajar. "Practice makes perfect” adalah
ungkapan yang menggambarkan dengan tepat untuk pola pikir berkembang.

Menurut Dweck (2006) mengajar (orang) dengan pola pikir berkembang menciptakan
motivasi dan produktivitas. Dengan alasan ini, ia menyarankan untuk membuat 'peserta'
 MDF copyright 2018

menyadari kemampuan otak untuk berkembang. Kesadaran ini akan membantu mereka
untuk beralih dari pola pikir tetap ke pola pikir berkembang. Pola pikir peserta pelatihan juga
dapat secara positif dipengaruhi oleh pelatih. Sebagai seorang pelatih, Anda disarankan
untuk memverifikasi pola pikir Anda sendiri, karena peserta pelatihan secara tidak sadar
akan menerima apa pun yang Anda pikirkan tentang mereka, yang akan mempengaruhi
motivasi mereka untuk belajar.

Selain itu, pola pikir peserta pelatihan dapat sangat dipengaruhi oleh cara Anda memberikan
www.mdf.nl

umpan balik. Peserta akan tampil lebih baik ketika mereka dipuji karena usaha mereka (dan
bukan pada kecerdasan mereka). Tanggapan yang diberikan dengan cara demikian akan
mendorong ketekunan (Dweck, 2006).

ref:Teori Belajar FL Page 10 of (20)


Teori Pembelajaran

Prinsip pembelajaran berbasis Otak


"Tidak menggunakan, maka akan kehilangan” adalah implikasi kedua dari plastisitas otak.
Oleh karena itu, membuat jaringan saraf seluas dan sekuat mungkin seharusnya menjadi
ambisi masing-masing pelatih. Pengetahuan saat ini tentang otak memberikan kita arahan
baik tentang bagaimana membuat jaringan saraf yang kuat dan bagaimana hal ini dapat
diterjemahkan ke dalam rancangan program, metode pelatihan, dan teknik. Banyak prinsip
senada yang telah dirumuskan oleh para peneliti yang berbeda. Dalam dokumen ini, enam
prinsip pembelajaran berbasis otak, seperti yang dirumuskan oleh Dirksen (2010),
dipaparkan karena prinsip tersebut dirumuskan dengan cara yang sangat praktis dan dari
perspektif seorang pelatih.

Keenam prinsip ini dapat digunakan oleh pelatih sebagai checklist untuk memastikan,
apakah Anda menggunakan semua kesempatan yang ada untuk membuat wawasan baru
melekat di otak peserta. Heath Bersaudara yang menulis 'Made to stick', membandingkan
otak dengan bahan Velcro (kain perekat). Adalah tugas pelatih untuk memastikan bahwa
ada sebanyak mungkin hooks and loop (asosiasi) yang dibuat di otak para peserta untuk
kemudian dipakai dalam pembelajaran.

Prinsip 1: Gunakan emosi


Belajar dan mengingat akan lebih mudah jika melibatkan emosi. Sebagai pelatih Anda harus
membuat pembelajaran sebagai sesuatu yang baru dan menciptakan rangsangan dengan
tingkat tertentu. Jaringan saraf menjadi lebih kuat karena emosi melepaskan
neurotransmiter, yang menyampaikan sinyal dari satu neuron ke neuron yang lain. Orang
belajar sangat baik ketika menghadapi tantangan besar dan tekanan tidak terlalu tinggi (tapi
juga tidak terlalu rendah). Saat situasi stres tinggi, ada respon fisiologis terhadap ancaman
dan informasi yang didapat mengambil jalur utama. Hal ini disertai dengan perasaan tidak
berdaya dan kelelahan. Respon jenis ini menghalangi orang untuk menggunakan pemikiran
dan kreativitasnya di tataran yang lebih tinggi atau lebih kompleks (Caine, 1997). Jadi,
sebagai seorang pelatih Anda tentu ingin menghindari tekanan sebenarnya, namun tetap
memberikan kejutan dan pemicu rasa ingin tahu peserta, demi menjamin terciptanya
jaringan saraf yang baru dan kuat.

Prinsip 2: Pastikan ada pengulangan


Pengulangan dan latihan sangatlah penting untuk menciptakan jaringan saraf yang baru dan
kuat. Banyak dari kita mengetahui jalan kecil di pegunungan atau di padang rumput 'yang
dibuat oleh kambing atau domba, yang jika sering digunakan; akan berubah menjadi jalur
dan akhirnya menjadi sebuah jalan akibat penggunaan yang intensif. Otak bekerja dengan
 MDF copyright 2018

cara yang sama; setiap kali neuron berkomunikasi, mereka lebih terhubung. Dalam konteks
ini, penting untuk diingat sebagai pelatih, bahwa menyebarkan pesan yang sama pada
waktu yang tepat akan lebih efektif daripada menyampaikan segala sesuatu pada saat yang
sama. Berikan otak beberapa waktu untuk membiarkan informasi meresap, karena jika tidak,
otak mungkin akan jenuh. Jadi, pastikan bahwa peserta pelatihan mengingat
pesan/informasi baru tersebut beberapa kali sepanjang siang ataupun sepanjang minggu.
Dalam hal ini adalah penting untuk tidak “hanya” mengulang pesan yang persis sama,
melainkan menggunakan variasi dalam cara Anda untuk membuat mereka mengingat pesan
www.mdf.nl

untuk menghindari kebosanan.

Pengulangan juga dapat dilakukan dengan cara memberikan contoh yang Anda pahami.

ref:Teori Belajar FL Page 11 of (20)


Teori Pembelajaran

Dengan cara ini, Anda akan memicu apa yang disebut neuron cermin. Secara kebetulan,
para peneliti menemukan pada pertengahan tahun 90an bahwa sel-sel neuron yang
berkomunikasi satu sama lain ketika Anda melakukan sesuatu juga berkomunikasi ketika
Anda melihat orang lain melakukan hal yang sama. Tindakan orang lain tersebut
dicerminkan atau bergaung di otak Anda. Contoh neuron cermin yang amat umum dijumpai
di tempat kerja adalah ketika seseorang menguap,maka Anda akan menguap juga.

Wawasan ilmiah terbaru menunjukkan bahwa untuk pembelajaran baru yang kompleks
penting untuk terus menggunakan cara ini secara aktif selama minimal 6 minggu agar
informasi baru melekat di otak. Hal ini bisa menjadi semacam tantangan (tapi tidak mustahil
diatasi) bagi pelatih ketika pelatihan Anda hanya berlangsung satu minggu dan setelahnya
kontak dengan peserta didik Anda hanya sedikit.

Prinsip 3: Buatlah agar menarik bagi panca indera


Sebuah gambar bercerita lebih dari seribu kata ....
Gambar sering kali lebih diingat dengan baik daripada kata-kata, terutama wajah. Untuk
memroses informasi, otak menggunakan lokasi yang berbeda-beda. Dengan menyodorkan
informasi melalui indera yang berbeda-beda Anda mengaktifkan beberapa jaringan saraf
pada saat yang bersamaan. Dengan demikian Anda menciptakan lebih banyak 'pintu masuk'
informasi, lebih banyak kemungkinan untuk “merajut” informasi dan asosiasi lainnya atau
untuk mengingat lagi setelah itu. Bagi Anda sebagai seorang pelatih, itu berarti bahwa Anda
harus menggunakan gambar atau film sebanyak mungkin. Jangan hanya terpikir akan video-
video di kanal You-Tube , mengapa tidak membiarkan peserta membuat gambar atau
lukisan (atau Anda melakukannya sendiri). Jangan lupa pula akan musik atau bau-bauan.

Prinsip 4: Fokus
Seorang pelatih harus membuat program pelatihan yang berorientasi pada hasil dan konteks
semaksimal mungkin.
Memberikan perhatian pada sesuatu, akan menjadikannya berkembang dalam pikiran Anda.
Semakin baik kita fokus, maka akan semakin baik kita dalam hal belajar, memahami, dan
mengingat. Semakin banyak perhatian yang diberikan otak kita kepada sebuah
pengalaman, makan akan diproses secara lebih baik dan lebih diingat. .

Bila Anda menggunakan contoh yang sangat erat kaitannya dengan konteks peserta Anda,
akan lebih mudah bagi mereka untuk membayangkan atau memvisualisasikan bagaimana
mereka dapat menggunakan wawasan tersebut dalam situasi mereka. Sebagai contoh:
keterampilan negosiasi tidaklah memiliki banyak variasi, menurut situasinya. Namun jika
pelatih menggunakan beragam contoh dari konteks komersial dan korporasi, sedangkan
peserta adalah PNS atau karyawan LSM, tentu akan lebih sulit bagi mereka untuk
 MDF copyright 2018

mengenali kegunaan atau membayangkan bagaimana mereka menggunakan keterampilan


tersebut. Juga merupakan hal yang berguna untuk menyadari, bahwa dalam waktu singkat
konteks (ruang fisik, emosi, kode pakaian) secara tidak sadar terkait dengan (isi)
pembelajaran baru. Ini memberikan kesempatan bagi pelatih untuk memanfaatkan asosiasi
'tambahan' untuk mengingat pembelajaran.

Agar dapat fokus, akan sangat membantu bagi peserta pelatihan untuk berpikir tentang
bagaimana mereka akan menggunakan wawasan baru atau memvisualisasikan hasilnya,
www.mdf.nl

membayangkan mereka menggunakan keterampilan, sikap atau pengetahuan baru tersebut.


Di olahraga papan atas, visualisasi telah lama digunakan. Memperhatikan seorang teladan

ref:Teori Belajar FL Page 12 of (20)


Teori Pembelajaran

juga dapat sangat membantu. Oleh karena itu, menempatkan teladan yang baik sebagai
pelatih dapat pula membantu untuk membuat banyak hal serealistis dan senyata mungkin

Prinsip 5: Mendorong penciptaan, bukan konsumsi


Otak suka lebih suka menciptakan daripada mengkonsumsi. Otak terbentuk untuk
menyusun informasi dan untuk mengenali pola yang bermakna. Tindakan memberi makna
kepada sesuatu memicu neurotransmiter ekstra, yang juga memperkuat jaringan saraf. Tak
hanya itu, proses ini memungkinkan peserta untuk menggunakan asosiasi yang mereka
miliki berdasarkan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya, yang tentunya akan
membuat wawasan baru tersebut semakin melekat. Para pelatih hendaknya memastikan
dan mendorong peserta untuk menemukan sendiri hal-hal baru, bertukar pengalaman dan
bekerja secara aktif. ada Namun hal ini tidak berarti bahwa sejumlah waktu untuk transfer
pengetahuan tidak efektif. Akan dapat membantu apabila diberikan pengetahuan dasar
untuk memulainya.

Prinsip 6: Membangun diatas pengetahuan yang telah ada


Adalah penting untuk mengaktifkan pengetahuan yang ada, sehingga pengetahuan baru
dapat dikaitkan dengannya. Otak kita selalu membangun di atas pengalaman, asosiasi dan
makna yang sudah ada. Oleh karenanya, membuat hal-hal tersebut eksplisit itu penting agar
wawasan yang baru diterima menjadi melekat. Jika pengetahuan baru berada diatas yang
pengetahuan lama, maka ingatan tersebut akan mudah dipanggil kembali. Penggunaan
metafora sebagai contoh juga dapat menjadi perangkat yang sangat kuat bagi pelatih untuk
memicu asosiasi yang ada dan mengaktifkan jaringan saraf tua lama. Di beberapa kasus
wawasan lama dan baru bisa saja bertentangan. Hal ini akan membuat wawasan baru lebih
sulit melekat. Meneliti informasi lama dan baru serta membuat perbedaan-perbedaan
menjadi eksplisit, seringkali akan membuat pertentangan mereda.

Ringkasan
Merancang dan melakukan pelatihan yang efektif tidak dapat dilakukan tanpa
memanfaatkan pengetahuan tentang bagaimana otak belajar. Dari hasil penelitian dapat
disimpulkan, bahwa pembelajaran adalah tentang pembentukan jaringan saraf yang kuat
dan luas. Implikasi bagi pelatih adalah bahwa kita harus memastikan peserta termotivasi,
bergembira dan wawasan yang baru diperoleh pun tidak mudah hilang. Hal ini dapat
dilakukan dengan cara:

A) Meningkatkan motivasi belajar dengan mempengaruhi pola pikir peserta pelatihan,


dengan menciptakan kesadaran tentang plastisitas (kemampuan mengembangkan) otak
dan memberikan umpan balik yang berorientasi pada perkembangan.

B) Menggunakan keenam prinsip pembelajaran berbasis otak sebagai perangkat praktis


 MDF copyright 2018

untuk merencanakan dan memverifikasi ketertarikan dan “faktor tahan lama” dari pelatihan
Anda. Ingat, gunakan keenam prinsip, maka semua teratasi!

Bacaan lebih lanjut

Gerbang menuju informasi lebih lanjut tentang motivasi belajar dan pola pikir, bisa dilihat di
www.mdf.nl

http://mindsetonline.com atau http://www.brainology.us

Informasi lebih lanjut tentang cara membuat ide-ide mudah diingat ditemukan di

ref:Teori Belajar FL Page 13 of (20)


Teori Pembelajaran

http://www.heathbrothers.com

Buku yang mudah diakses dalam format DVD yaitu Brain rules; 12 principles for striving and
thriving at Work, Home, and School oleh John Medina. The six brain principles karya
Dirksen sangat mudah dikenali/dipahami.

Di situs berbahasa Belanda, http://www.bclinstituut.nl, terdapat banyak informasi tentang


latar belakang pembelajaran berbasis otak. Beberapa informasi disajikan dalam bahasa
Inggris, namun kebanyakan dalam bahasa Belanda.

Referensi

Renate Nummela Caine and Geoffrey Caine (1997). Unleashing the power of perceptual
change the potential of brain-based teaching. Association for Supervision and Curriculum
Development

Dirksen, G (2010). Het brein achter het leren; leermotivatie verhogen en beter laten leren
door breinkennis. Uitgeverij SchoolBV, Meppel

Dirksen, G (2005) Breincentraal leren. Meer leerrendement door breinkennis. In Leren in


ontwikkeling no.11, p 16-19

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. New York: Random House.

Gülpinar, M. A (2005). The Principles of Brain-Based Learning and Constructivist Models in


Education. Educational Sciences; Theories & Pratice, p 299-306

Weiss, R. P. (2000). Brain-based Learning: the wave of the brain. In Training &
Development, July 2000, p 20-24

Andragogi: prinsip-prinsip pendidikan berpusat pada pembelajar / peserta didik


Pendekatan Andragogi adalah tentang menempatkan pelajar di kursi pengemudi (Conner,
ML, 1997-2004). Konsep tentang pembelajaran secara mandiri dan pendidikan informal
orang dewasa (Smith, MK, 2002) disajikan sebagai lawan dari pedagogi, pendidikan anak-
 MDF copyright 2018

anak.
Istilah 'andragogy' telah digunakan di masa dan di negara-negara yang berbeda dengan
beragam konotasi. Awalnya, didefinisikan sebagai ilmu tentang pemahaman dan dukungan
kepada orang dewasa untuk belajar. Terutama di Amerika Serikat, andragogi dalam tradisi
Malcolm Knowles, yang didefinisikan pada tahun tujuh puluhan, adalah pendekatan teoretis
dan praktis spesifik tentang pembelajaran untuk orang dewasa. Saat ini andragogi mengacu
pada pendidikan yang berpusat pada pelajar, untuk orang-orang dari segala usia, sebagai
www.mdf.nl

alternatif untuk pendidikan yang berpusat pada guru (sinonim untuk mengajar). Di kemudian
hari, guru memikul tanggung jawab untuk membuat keputusan tentang apa (dan bagaimana
serta kapan) akan dipelajari.

ref:Teori Belajar FL Page 14 of (20)


Teori Pembelajaran

Asumsi yang mendasari pendekatan berpusat pada peserta didik adalah bahwa peserta
didik menyadari kemampuan dan pengalaman mereka serta bahwa mereka memerlukan
keterlibatan dalam proses pembelajaran. Asumsi ini telah diterjemahkan ke dalam
karakteristik berikut andragogi: (Goad, 1982, Hanson, 1981).

1. Belajar adalah sebuah proses (yang bertentangan dengan serangkaian langkah-


langkah terbatas dan tak berkaitan), yang berlangsung sepanjang masa hidup
kebanyakan orang.
2. Untuk transfer pembelajaran optimal, peserta didik harus aktif terlibat dalam
pengalaman belajar, bukan sebagai penerima informasi pasif.
3. Setiap peserta didik harus bertanggung jawab atas proses pembelajaran dirinya
sendiri.
4. Proses pembelajaran memiliki komponen afektif (emosional) serta intelektual.
5. Orang dewasa belajar melalui tindakan; mereka ingin terlibat langsung. Terlepas dari
berbagai manfaat pelatihan, seseorang jangan pernah hanya menunjukkan
bagaimana melakukan sesuatu, jika pelajar dewasa benar-benar dapat melakukan
tugas, bahkan jika hal tersebut membutuhkan waktu lebih lama.
6. Masalah dan contoh harus realistis dan relevan dengan peserta didik.
7. Orang dewasa menghubungan pembelajaran mereka dengan apa yang mereka
sudah ketahui. Adalah bijaksana untuk mempelajari latar belakang peserta didik dan
memberikan contoh yang dapat mereka pahami dalam kerangka referensi yang
mereka miliki.
8. Lingkungan informal adalah yang terbaik. Jika Anda mencoba untuk mengintimidasi
orang dewasa, maka akan menyebabkan kebencian dan ketegangan. Hal tersebut
akan menghambat pembelajaran.
9. Keragaman lebih menstimulasi. Ada baiknya untuk mencoba merangsang kelima
panca indera peserta didik Anda, khususnya aspek-aspek yang diidentifikasi oleh
pemrograman neurolinguistik, yaitu: visual (penglihatan), kinestetik (gerak dan arah
tubuh), dan auditori (pendengaran). Ini adalah ide yang baik untuk mencoba untuk
menarik semua lima indera peserta didik, khususnya aspek-aspek yang diidentifikasi
oleh program neurolinguistik: visual, yang kinestetik, dan pendengaran. Perubahan
kecepatan dan variasi teknik belajar dapat membantu untuk mengurangi kebosanan
dan kelelahan.
10. Pembelajaran berkembang dalam lingkungan yang menguntungkan satu sama lain
dan tidak menghakimi. Tes dan prosedur penilaian dianggap sebagai pelanggaran
dari norma-norma pengaturan pelatihan. Memeriksa tujuan belajar dirasakan jauh
lebih efektif.
11. Fasilitator pelatihan adalah agen perubahan. Peran instruktur/pelatih adalah untuk
menyajikan informasi atau keterampilan atau untuk menciptakan lingkungan yang
memunginkan eksplorasi dapat berlangsung. Peran peserta adalah untuk mengambil
 MDF copyright 2018

apa yang ditawarkan dan menerapkannya dengan cara yang relevan dan dirasa
terbaik bagi mereka. Tanggung jawab pelatih adalah memfasilitasi, sedangkan
tanggung jawab peserta adalah belajar.

Bacaan lebih lanjut


www.mdf.nl

Dalam lampiran, terdapat sebuah perbandingan asumsi yang mendasari pedagogi dan
andragogi menurut Knowles. Dibawah ini adalah bahan bacaan lanjutan karya Malcolm yang
disarankan:

ref:Teori Belajar FL Page 15 of (20)


Teori Pembelajaran

Knowles M. S. (1973; 1990) The Adult Learner. A neglected species (4e), Houston: Gulf
Publishing. 2e. 292 + viii pages. Survei tentang teori pembelajaran, andragogi dan
pengembangan sumber daya manusia (SDM). Bagian tentang andragogi memiliki beberapa
refleksi pada perdebatan tentang andragogi. Lampiran yang lengkap, yang mencakup check
list perencanaan, pernyataan kebijakan dan beberapa artikel yang ditulis Knowles -
menciptakan komunitas belajar seumur hidup, mulai dari guru hingga fasilitator dan lainnya.

Knowles, M. S. (1975) Self-Directed Learning. A guide for learners and teachers, Englewood
Cliffs: Prentice Hall/Cambridge. 135 pages. Panduan programatis yang cenderung
berorientasi pada tujuan/sasaran. Terdapat bab tentang peserta didik, guru, dan referensi
pembelajaran.

Referensi
Conner, M.L. (1997-2004). ‘Andragogy and Pedagogy”. Ageless learner

Smith, M. K. (2002.) ‘Malcolm Knowles, informal adult education, self-direction and


andragogy’, the Encyclopaedia of Informal Education, http://www.infed.org/thinkers/et-
knowl.htm.

Goad, T.W. (1982) Delivering effective training. Sien Diego, Ca: Pfeiffer & Company

Hanson, P. g. (1981). Learning through groups: a trainer’s basic guide. San Diego CA:
Pfeiffer & Company

Sintesis dan Kesimpulan

Mengkaji wawasan dari tiga teori belajar yang disajikan akan menghasilkan pelatihan yang
paling efektif. Konsep pembelajaran berbasis pengalaman berfungsi sebagai penyusun
proses pembelajaran kursus pelatihan. Wawasan pembelajaran berbasis otak dan
andragogi memungkinkan untuk memberikan pembelajaran berkualitas tinggi dan kerangka
yang lebih konkret tentang peran pelatih. Sifat tumpang tindih namun saling melengkapi
menegaskan relevansi bagi pelatih dan memberikan argumen yang kuat untuk penerapan
ketiga teori.

Teori pembelajaran berbasis pengalaman jelas berfokus pada proses pembelajaran.


 MDF copyright 2018

Langkah-langkah yang berbeda dari proses ini dapat digunakan sebagai penyusun tahapan
pembelajaran. Meskipun tidak memberikan pedoman umum tentang teknik pelatihan
manakah (diskusi, bermain peran, presentasi, dan lain-lain) yang sesuai untuk setiap tahap
dari siklus belajar, model Kolb tidak memberikan karakteristik yang spesifik untuk setiap
langkah efektif. Kondisi untuk pengamatan reflektif atau pengalaman konkret yang efektif
tidak menjadi jelas. Oleh karena itu, risiko yang dapat muncul adalah bahwa fokus yang
ekstrem terhadap proses akan menghilangkan semangat dari model ini dan mengubah
siklus belajar menjadi mekanisme yang membosankan. Oleh karena itu, kombinasi dari
www.mdf.nl

wawasan andragogy dan pembelajaran berbasis otak sangatlah penting.

Membandingkan teori-teori pembelajaran dalam hal peran pelatih dan lingkungan belajar,

ref:Teori Belajar FL Page 16 of (20)


Teori Pembelajaran

dapat disimpulkan bahwa: pembelajaran berbasis otak terutama akan bermanfaat untuk
meningkatkan keterampilan dan sikap sebagai seorang pelatih serta menunjukkan bahwa
pengaturan pelatihan dapat berguna. Andragogi dan pengalaman belajar berbasis
pengalaman memberikan Anda informasi terutama tentang sikap tepat seorang pelatih.

Titik awal teori pembelajaran ala Kolb secara jelas adalah “cara alami” bagaimana orang-
orang belajar dan ia pada dasarnya mengatakan, ketika seseorang membuat pengaturan
yang "tidak wajar, maka peran pelatih kemudian adalah untuk membuat proses belajar
terlihat alami agar menjadi efektif. Ini cukup mirip dengan peran fasilitator (dari
pembelajaran), sebagaimana dimaksud dalam teori pembelajaran Andragogi. Dikarenakan
titik awal untuk Andragogi adalah pembelajaran bagi peserta didik dewasa, teori ini
menekankan pentingnya penerapan pengaturan informal dan “aman”/umum serta
menghindari terciptanya situasi seperti di “ruang kelas” atau lingkungan “menakutkan”
lainnya. Teori ini juga melihat pembelajaran sebagai proses berkelanjutan yang
menunjukkan paralel yang jelas dengan fase percobaan aktif dari siklus belajar Kolb.

Teori pembelajaran berbasis otak secara jelas memiliki asal-usul dalam hal pendidikan
umum tanpa fokus khusus pada pembelajaran orang dewasa. Ini bisa menjadi alasan
mengapa pengaturan kelas harus merupakan titik awal yang jelas. Namun demikian, teori
ini juga memberikan petunjuk tentang bagaimana cara pengaturan dapat digunakan untuk
menjamin pembelajaran yang lebih efektif. Misalnya, mengapa pergi ke hutan atau
berdandan, dalam beberapa kasus, dianggap berguna. Selanjutnya, pembelajaran berbasis
otak sangat membantu untuk meningkatkan kemampuan presentasi pelatih. Selain itu, ia
memberikan petunjuk tentang bagaimana menjadi panutan dan memperluas wawasan
mengenai bagaimana, mengapa dan kapan menggunakan teknik pelatihan (kreatif).
Terakhir, para pelatih sangat setuju dengan konsep pembelajaran berbasis otak untuk
mengadaptasi perilaku berdasarkan pada pola pikir berkembang (a growth mindset).

Tumpang tindih antara ketiga teori pembelajaran yang berbeda, terutama ditemukan dalam
aspek keterlibatan aktif peserta didik dalam proses pembelajaran, perlunya hubungan antara
topik dan pengalaman peserta didik, dan relevansi topik dengan peserta didik.

Ketika seseorang melihat lebih dalam pada tumpang tindih tersebut, menjadi jelas bahwa
tumpang tindih yang paling signifikan adalah antara andragogi dan pembelajaran berbasis
otak. Apa yang telah dikemukakan di tahun tujuh puluhan dan delapan puluhan dari
perspektif ilmu kognitif baru-baru ini telah dikonfirmasi secara luas dari perspektif ilmu saraf.
Nilai tambah dari teori pembelajaran berbasis otak terhadap andragogi adalah bahwa
sebagai tambahan terhadap wawasan “bagaimana orang-orang belajar”, yang menjelaskan
mengapa orang-orang belajar seperti yang mereka lakukan. Dengan mengetahui hal ini,
merumuskan petunjuk-petunjuk yang lebih konkret untuk rancangan dan penyampaian sesi
pelatihan menjadi mungkin dilakukan.
 MDF copyright 2018

Kemiripan antara andragogi dan pembelajaran berbasis otak (selain yang disebutkan di
atas), sebagian besar dapat ditemukan berkaitan dengan a) motivasi sebagai syarat penting
bagi orang untuk belajar, b) pengakuan bahwa pembelajaran juga mencakup komponen
emosional, bahkan melibatkan emosi akan meningkatkan pembelajaran, c) penggunaan
variasi dalam hal stimulasi panca indera peserta, d) peran umpan balik/tanggapan, yaitu
bahwa upaya harus dipuji dan “penghakiman” harus dihindari. Unsur-unsur yang berbeda
dari kedua teori pembelajaran bisa sebenarnya berfungsi untuk menilai kualitas dan
www.mdf.nl

intensitas pembelajaran tersebut.

ref:Teori Belajar FL Page 17 of (20)


Teori Pembelajaran

 MDF copyright 2018


www.mdf.nl

ref:Teori Belajar FL Page 18 of (20)


Teori Pembelajaran

Lampiran 1: Perbandingan asumsi pedagogi dan andragogi menurut Knowles

Pedagogi Andragogi

Peserta didik/ • Peserta didik bergantung Peserta didik belajar secara mandiri
pelajar pada instruktur dalam hal
pembelajaran secara
keseluruhan

• Guru/instruktur bertanggung Peserta didik bertanggung jawab


jawab terhadap apa yang atas proses pembelajaran masing-
diajarkan dan bagaimana hal masing
itu dipelajari
• Guru/instruktur Evaluasi secara mandiri adalah
mengevaluasi pembelajaran karakteristik dari pendekatan ini

Pengalaman Peserta didik datang dengan Peserta didik memiliki banyak


peserta didik sedikit pengalaman yang dapat pengalaman dengan kualitas yang
diambil sebagai sumber baik
pembelajaran

Pengalaman instruktur sangat


berpengaruh Orang dewasa adalah sumber
pembelajaran bagi sesamanya.

Pengalaman yang berbeda-beda


menjamin keragaman di kelompok
orang dewasa

Pengalaman menjadi sumber


identitas diri

Kesiapan untuk Pelajar didikte tentang apa yang Perubahan apapun dapat memicu
belajar mereka harus pelajari supaya kesiapan untuk belajar
dapat menguasai tahap
penguasaan berikutnya Kebutuhan untuk mengetahui
supaya dapat melakukan sesuatu
secara efektif dalam banyak aspek
di kehidupan seseorang adalah hal
penting
 MDF copyright 2018

Kemampuan untuk menilai


celah/jarak antara: dimana (posisi)
ia sekarang dan dimana ia ingin
atau perlu berada.

Orientasi Belajar adalah proses Peserta didik ingin melakukan tugas,


pembelajaran memperoleh materi pelajaran memecahkan masalah, hidup
www.mdf.nl

yang ditentukan dengan cara yang lebih memuaskan

Urutan satuan materi disusun Pembelajaran harus memiliki

ref:Teori Belajar FL Page 19 of (20)


Teori Pembelajaran

berdasarkan logika dari materi relevansi dengan tugas-tugas di


kehidupan nyata
Proses pembelajaran diatur sesuai
dengan situasi di kehidupan ataupun
pekerjaan daripada unit materi
pelajaran

Motivasi untuk Terutama termotivasi oleh Motivator internal: harga diri,


belajar tekanan luar dan konsekuensi pengakuan, kualitas hidup yang
dari kegagalan lebih baik, kepercayaan diri, dan
aktualisasi diri

 MDF copyright 2018


www.mdf.nl

ref:Teori Belajar FL Page 20 of (20)