You are on page 1of 22

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

MEMBAHAS TENTANG SEMUA PENYAKIT DALAM ILMU


KEPERAWATAN Farma, Buddi

 Home
 Static Page
o Portfolio
 Two Columns
 Three Columns
 Four Columns
o Filtered and Cropped
 Two Columns
 Three Columns
 Four Columns
o Default
 Two Columns
 Three Columns
 Four Columns
o Default and Cropped
 Two Columns
 Three Columns
 Four Columns
 Features
o Standard Blog Layout
o Post with Comments
o Page: Right Sidebar
 Shortcodes
 Archive
 Contact

Welcome to Blog Safari


A theme for those who love something unique and creative, created by Template
Trackers

ASKEP TUMOR OTAK


BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar belakang
Tumor otak atau tumor intrakranial adalah neoplasma atau proses desak ruang
(space occupying lesion) yang timbul di dalam rongga tengkorak baik di dalam
kompartemen supratentorial maupun infratentorial, mencakup tumor-tumor primer
pada korteks, meningen, vaskuler, kelenjar hipofise, epifise, saraf otak, jaringan
penyangga, serta tumor metastasis dari bagian tubuh lainnya.
Tumor otak primer menunjukkan kira-kira 20% dari semua penyebab kematian
karena kanker, dimana sekitar 20% sampai 40% dari semua kanker pasien
mengalami metastase ke otak dari tempat-tempat lain. Tumor-tumor otak jarang
bermetastase keluar sistem saraf pusat tetapi jejas metastase ke otak biasanya dari
paru-paru, payudara, saluran gastrointestinal bagian bawah, pankreas, ginjal dan
kulit (melanoma). Insiden tertinggi pada tumor otak dewasa terjadi pada dekade
kelima, keenam dan ketujuh, dengan tingginya insiden pada pria. Pada usia
dewasa, tumor otak banyak dimulai dari sel glia (sel glia membuat struktur dan
mendukung sistem otak dan medula spinalis) dan merupakan supratentorial
(terletak diatas penutup cerebellum). Jejas neoplastik di dalam otak akhirnya
menyebabkan kematian yang mengganggu fungsi vital, seperti pernafasan dan
adanya peningkatan tekanan intrakranial.
Peningkatan intra kranial ( PTIK ) dapat terjadi bila kenaikan yang relatif kecil dari
volume otak, keadaan ini tidak akan cepat menyebabkan tekanan tinggi
intrakranial, sebab volume yang meninggi ini dapat dikompensasi dengan
memindahkan cairan serebrospinal dari rongga tengkorak ke kanalis spinalis dan
volume darah intrakranial akan menurun oleh karena berkurangnya peregangan
durameter. Hubungan antara tekanan dan volume ini dikenal dengan complience.
Jadi jika otak, darah dan cairan serebrospinal volumenya terus menerus meninggi,
maka mekanisme penyesuaian ini akan gagal dan terjadi peningkatan intrakranial
yang mengakibatkan herniasi dengan gagal pernapasan dan gagal jantung serta
kematian.

2. Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum
Setelah membahas makalah “Konsep Asuhan Keperawatan pada Pasien Tumor
Otak”, mahasiswa mampu menerapkan pengetahuan mereka tentang cara – cara
menangani pasien dengan tumor otak sesuai Asuhan Keperawatan yang telah
ditegakkan.
b. Tujuan Khusus
Setelah membahas makalah “Konsep Asuhan Keperawatan pada Pasien Tumor
Otak”, mahasiswa mampu :
- Memahami Konsep Penyakit Tumor Otak
- Memahami masalah kesehatan pada pasien tumor otak
- Memahami dan mengetahui Konsep Asuhan Keperawatan untuk pasien
pengidap penyakit tumor otak.
- Mampu menerapkan asuhan keperawatan pada pasien pengidap penyakit tumor
otak
3. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini kami menggunakan metode deskriptif yang
menjelaskan tentang konsep penyakit tumor otak serta asuhan keperawatan yang
bisa dilakukan pada pasien pengidap penyakit tumor otak.
4. Sistematika Penulisan
BAB I : PENDAHULUAN. Terdiri dari Latar Belakang, Tujuan Penulisan,
Metode Penulisan, dan Sistematika Penulisan
BAB II : TINJAUAN TEORI, Terdiri dari Konsep tumbang, Masalah pada
Neonatus, dan Asuhan keperawatan Neonatus
BAB III : PENUTUP. Terdiri dari Kesimpulan dan Saran.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. KONSEP PENYAKIT TUMOR OTAK


1. Definisi
Sebuah tumor otak merupakan sebuah lesi yang terletak pada intrakarnial yang
menempati ruang didalam tengkorak. Tumor-tumor selalu bertumbuh sebagai
sebuah massa yang berbentuk bola tetapi juga dapat tumbuh menyebar, masuk
kedalam jaringan. Neoplasma terjadi akibat dari kompresi dan infiltrasi jaringan.
Akibat perubahan fisik bervariasi, yang menyebabkan beberapa atau semua
kejadian patofisiologis sebagai berikut:
 Peningkatan tekanan intrakranial dan edema cerebral
 Aktivitas kejang dan tanda-tanda neurologis fokal
 Hidrosefalus
 Gangguan fungsi hipofisis
Tumor otak primer menunjukkan kira-kira 20% dari semua penyebab kematian
karena kanker, dimana sekitar 20% sampai 40% dari semua kanker pasien
mengalami metastase ke otak dari tempat-tempat lain. Tumor-tumor otak jarang
bermetastase keluar sistem saraf pusat tetapi jejas metastase ke otak biasanya dari
paru-paru, payudara, saluran gastrointestinal bagian bawah, pankreas, ginjal dan
kulit (melanoma).
Insiden tertinggi pada tumor otak dewasa terjadi pada dekade kelima, keenam dan
ketujuh, dengan tingginya insiden pada pria. Pada usia dewasa, tumor otak banyak
dimulai dari sel glia (sel glia membuat struktur dan mendukung sistem otak dan
medula spinalis) dan merupakan supratentorial (terletak diatas penutup
cerebellum). Jejas neoplastik di dalam otak akhirnya menyebabkan kematian yang
mengganggu fungsi vital, seperti pernafasan dan adanya peningkatan tekanan
intrakranial.
(Keperawatan Medikal Bedah, Brunner & Suddarth, 2001, Jakarta : EGC. Hal:
2167)

2. Etiologi
Tumor disebabkan oleh mutasi DNA di dalam sel. Akumulasi dari mutasi-mutasi
tersebut menyebabkan munculnya tumor. Sebenarnya sel manusia memiliki
mekanisme perbaikan DNA (DNA repair) dan mekanisme lainnya yang
menyebabkan sel merusak dirinya dengan apoptosis jika kerusakan DNA sudah
terlalu berat. Apoptosis adalah proses aktif kematian sel yang ditandai dengan
pembelahan DNA kromosom, kondensasi kromatin, serta fragmentasi nukleus dan
sel itu sendiri. Mutasi yang menekan gen untuk mekanisme tersebut biasanya dapat
memicu terjadinya kanker.
Adapun faktor-faktor yang perlu ditinjau, yaitu :
• Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali pada
meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-anggota
sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat dianggap
sebagai manifestasi pertumbuhan baru, memperlihatkan faktor familial yang jelas.
Selain jenis-jenis neoplasma tersebut tidak ada bukti-buakti yang kuat untuk
memikirkan adanya faktor-faktor hereditas yang kuat pada neoplasma.
• Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)
Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan yang
mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Tetapi ada
kalanya sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi ganas
dan merusak bangunan di sekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi
pada kraniofaringioma, teratoma intrakranial dan kordoma.
• Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami
perubahan degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinya
suatu glioma. Pernah dilaporkan bahwa meningioma terjadi setelah timbulnya
suatu radiasi.
• Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar yang
dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam proses
terjadinya neoplasma, tetapi hingga saat ini belum ditemukan hubungan antara
infeksi virus dengan perkembangan tumor pada sistem saraf pusat.
• Substansi-substansi Karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan. Kini
telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik sepertimethylcholanthrone,
nitroso-ethyl-urea. Ini berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan.
3. Jenis – jenis Tumor
Tumor yang jinak atau yang tidak ganas (non malignant) lambat tumbuhnya, tidak
menyebar, dan biasanya dikelilingi oleh penutup atau kapsul. Pertumbuhan yang
seperti itu bisa disebut sebagai enkapsuleted tumor atau tumor terbungkus. Tumor
yang tidak ganas bisa dicabut dengan cara pembedahan, terutama bila tumor itu
menyebabkan organ – organ tubuh yang vital terdesak atau tertekan. Jika tumor
yang tidak ganas dicabut, tidak ada kemungkinan baginya tubuh untuk tumbuh
lagi.
Tumor ganas disebut sebagai kanker atau malignancy (cepat menjalar ke bagian
tubuh yang lain). Tumbuhnya cepat, tidak dikelillingi oleh penutup, dan menyebar
ke bagian – bagian tubuh yang lain. Sel – sel yang abnormal ini menyerang
jaringan – jaringan yang berdekatan. Kanker ganas itu dibawa pula ke bagian –
bagian tubuh yang lain oleh getah bening dan darah. Pemindahan sel – sel ganas ke
bagian – bagian tubuh yang lain ini disebut metastasis. Tumbuhan baru yang
dimulai dari sel – sel bawaan ini disebut sebagai pertumbuhan metastasis atau
tumbuhan kedua (tumor kedua anak tumor). Pertumbuhan sel – sel tubuh yang
cepat dan tak terkendali ini pada akhirnya mengancam keselamatan jiwa orang itu
sendiri.
(dr. H. Mohamad Isa. Perawatan Penyakit Dalam & Bedah. Pusat Pendidikan
Pegawai Departemen Kesehatan R.I. : Jakarta. Hal. 41)
a. Tumor benigna
Tumor ini dapat timbul dari sebagian besar jaringan tubuh.
1. Sel-sel epitel atau endotel
Papiloma timbul dari sel-sel ini, misalnya kulit, kandung kemih, kolon. Tumor ini
bisa menjadi ganas.
2. Sel-sel pigmen kulit naevus (tahi lalat)
3. Kelenjar adenoma : payudara, parotis, tiroid.
4. Pembuluh darah-hemamioma : dua tipe.
a. Kapiler : tanda lahir ; “portwine stain”
b. Kavernosus : nodulus berwarna ungu yang memucat bila ditekan
5. Jaringan fibrosis – fibroma : terlihat sebagai nodulus. Pada sebagian besar
keadaan dapat timbul.
6. Lemak – glikoma : benjolan lunak, paling sering subkutan.
7. Osteoma tumor pada tulang rawan dan tulang biasa
8. Chondroma
9. Myoma : tumor otot biasa, tempat yang paling sering terkena adalah uterus
b. Tumor maligna
1. Sel sel epitel atau endotel.
a. Karsinoma : karsinoma diberi nama menurut jaringan asalnya, misalnya
karsinoma skuamosa kulit. Transitional sel karsinoma pada kandung kemih.
b. Melanoma : tumor maligna sel – sel pigmen kulit
2. Jaringan kelenjar : adenokarsinoma, misalnya payudara atau lambung.
3. Jaringan ikat : sarkoma – keadaan ini lebih jarang ditemukan. Fibrosarkoma
dari jaringan fibrosus, sarkoma osteogenik dari tulang, myosarkoma dari otot.
4. Kelenjar limfe. Ragam penyakit keganasan (maligna) ditemukan pada jaringan
limfoit (jaringan retikulo endotelial) dengan berbagai derajat keganasan, misalnya
limfoma, retikulo sarkoma, penyakit Hodgkin.
5. Leukimia. Penyakit maligna pada sel – sel induk yang menghasilkan sel – sel
darah putih.
4. Patofisiologi
Tumor intrakranial menyebabkan gangguan neurologis progresif. Gangguan
neurologis pada tumor intrakranial biasanya dianggap disebabkan karena 2 faktor,
yaitu gangguan vokal olah tumor dan peningkatan intrakranial.
Gangguan vokal terjadi apabila terdapat penekanan pada jaringan otak dan
infiltrasi atau invasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan
neuron. Tentu saja dispensi yang paling besar terjadi pada tumor yang tumbuh
paling cepat (misalnya, gliobastoma multiform). Perubahan suplai darah akibat
tekanan yang ditimbulkan tumor yang bertumbuh menyebabkan nekrosis jaringan
otak. Gangguan suplai darah arteri pada umumnya bermanifestasi sebagai
kehilangan fungsi secara akut dan mungkin dapat dikacaukan dengan gangguan
cerebrovaskuler primer.
Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuron dihubungkan
dengan kompresi, invasi dan perubahan suplai darah kejaringan otak. Beberapa
tumor membentuk kista yang juga menekan parenkim otak sekitarnya sehingga
memperberat gangguan neurologis vokal. Peningkatan tekanan intrakranial dapat
diakibatkan oleh beberapa faktor:
1. Bertambahnya massa dalam tengkorak.
2. Terbentuknya edema sekitar tumor.
3. Perubahan sirkulasi cairan cerebrospinal.
Pertumbuhan tumor menyebabkan bertambahnya massa karena tumor akan
mengmbil tempat dalam ruang yang relatif tetap dan ruangan kranial yang kaku.
Tumor ganas menimbulkan edema dalam jaringan otak di sekitrnya. Mekanisnya
belum sepenuhnya dipahami, tetapi diduga disebabkan oleh selisih osmotik yang
menyebabkan penyerapan cairan tumor. Beberapa tumor menyebabkan
pendarahan. Obstruksi vena dan edema yang disebabkan oleh sawar darah otak,
semuanya menimbulkan peningkatan volume intrakranial dan menyebabkan
tekanan intrakranial. Obstruksi sirkulasi cairan cerebrospinal dari ventrikel lateral
ke ruangan subarakhnoid menimbulkan hidrosefalus.
Peningkatan tekanan intrakranial akan membahayakan jiwa bila terjadi cepat akibat
salah satu penyebab yang telah dibicarakan sebelumnya. Mekanisme kompensasi
memerlukan waktu berhari-hari atau berbulan-bulan unutk menjadi effektif oleh
karen aitu tidak berguna apabila tekanan itrakranial timbul dengan cepat.
Mekanisme kompensasi ini antara lain bekerja menurunkan volume darah
intrakranial, volume cairan cerebrospinal, kandungan cairan intra sel, dan
mengurangi sel-sel parenkim.
Peningkatan tekanan yang tidak di obati mengakibatkan herniasi unkus atau
cerebelum. Herniasi unkus timbul bila girus medialis lobus temporalis tergeser ke
inferior melalui insisura tentorial oleh masa dalam hemisfer otak. Herniasi
menekan mesen sefalon, menyebabkan hilangnya kesadaran dan menekan saraf
kranial ketiga. Pada herniasi cerebelum, tonsil cerebelum bergeser kebawah
melalui foramen magnum oleh suatu masa posterior. Kompresi medula oblongata
dan henti pernafasan terjadi dengan cepat. Perubahan fisiologis lain yang terjadi
akibat peningkatan intrakranial yang cepat adalah bradikardia progresif, hipertensi
sistemik (pelebran tekanan nadi), dan gangguan pernafasan.
(Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan, Muttaqin Ariff,
2008, Jakarta: Salemba Medika. Halaman : 477-478)
5. Tanda dan Gejala
Gejala umum yang terjadi disebabkan karena gangguan fungsi serebral akibat
edema otak dan tekanan intrakranial yang meningkat. Gejala spesifik terjadi akibat
destruksi dan kompresi jaringan saraf, bisa berupa nyeri kepala, muntah, kejang,
penurunan kesadaran, gangguan mental, gangguan visual dan sebagainya. Edema
papil dan defisit neurologis lain biasanya ditemukan pada stadium yang lebih
lanjut. Gejala-gejala tumor otak dapat meliputi, antara lain:
• Nyeri Kepala (Headache)
Nyeri kepala biasanya terlokalisir, tapi bisa juga menyeluruh. Biasanya muncul
pada pagi hari setelah bangun tidur dan berlangsung beberapa waktu, datang pergi
(rekuren) dengan interval tak teratur beberapa menit sampai beberapa jam.
Serangan semakin lama semakin sering dengan interval semakin pendek. Nyeri
kepala ini bertambah hebat pada waktu penderita batuk, bersin atau mengejan
(misalnya waktu buang air besar atau koitus). Nyeri kepaia juga bertambah berat
waktu posisi berbaring, dan berkurang bila duduk. Penyebab nyeri kepala ini
diduga akibat tarikan (traksi) pada pain sensitive structure seperti dura, pembuluh
darah atau serabut saraf. Nyeri kepala merupakan gejala permulaan dari tumor otak
yang berlokasi di daerah lobus oksipitalis.
• Muntah
Lebih jarang dibanding dengan nyeri kepala. Muntah biasanya proyektil
(menyemprot) tanpa didahului rasa mual, dan jarang terjadi tanpa disertai nyeri
kepala.
• Edema Papil
Keadaan ini bisa terlihat dengan pemeriksaan funduskopi menggunakan
oftalmoskop. Gambarannya berupa kaburnya batas papil, warna papil berubah
menjadi lebih kemerahan dan pucat, pembuluh darah melebar atau kadang-kadang
tampak terputus-putus. Untuk mengetahui gambaran edema papil seharusnya kita
sudah mengetahui gambaran papil normal terlcbih dahulu. Penyebab edema papil
ini masih diperdebatkan, tapi diduga akibat penekanan terhadap vena sentralis
retinae. Biasanya terjadi bila tumor yang lokasi atau pembesarannya menckan jalan
aliran likuor sehingga mengakibatkan bendungan dan terjadi hidrocepallus.

• Kejang
Ini terjadi bila tumor berada di hemisfer serebri serta merangsang korteks motorik.
Kejang yang sifatnya lokal sukar dibedakan dengan kejang akibat lesi otak lainnya,
sedang kejang yang sifatnya umum atau general sukar dibedakan dengan kejang
karena epilepsi. Tapi bila kejang terjadi pertama kali pada usia dekade III dari
kehidupan harus diwaspadai kemungkinan adanya tumor otak.
6. Komplikasi
a. Ganguan Fungsi Luhur
• Komplikasi tumor otak yang paling ditakuti selain kematian adalah gangguan
fungsi luhur. Gangguan ini sering diistilahkan dengan gangguan kognitif dan
neurobehavior sehubungan dengan kerusakan fungsi pada area otak yang
ditumbuhi tumor atau terkena pembedahan maupun radioterapi.
• Neurobehavior adalah keterkaitan perilaku dengan fungsi kognitif dan lokasi /
lesi tertentu di otak. Pengaruh negatif tumor otak adalah gangguan fisik
neurologist, gangguan kognitif, gangguan tidur dan mood, disfungsi seksual serta
fatique.
• Gangguan kognitif yang dialami pasien tumor otak bisa dievaluasi dengan
berbagai tes. Di antaranya adalah Sickness Impact Profile, Minesota Multiphasic
Personality Inventory (MMPI), dan Mini mental State Examination (MMSE).
Komponen kognitif yang dievaluasi adalah kesadaran, orientasi lingkungan, level
aktivitas, kemampuan bicara dan bahasa, memori dan kemampuan berpikir,
emosional afeksi serta persepsi.
b. Ganguan Wicara
• Gangguan wicara sering menjadi komplikasi pasien tumor otak. Dalam hal ini
kita mengenal istilah disartria dan aphasia.
• Disartria adalah gangguan wicara karena kerusakan di otak atau neuromuscular
perifer yang bertanggung jawab dalam proses bicara. Tiga langkah yang menjadi
prinsip dalam terapi disartria adalah meningkatkan kemampuan verbal,
mengoptimalkan fonasi, serta memperbaiki suara normal.
• Afasia merupakan gangguan bahasa, bisa berbentuk afasia motorik atau
sensorik tergantung dari area pusat bahasa di otak yang mengalami kerusakan.
Fungsi bahasa yang terlibat adalah kelancaran (fluency), keterpaduan
(komprehensi) dan pengulangan (repetitif). Pendekatan terapi untuk afasia meliputi
perbaikan fungsi dalam berkomunikasi, mengurangi ketergantungan pada
lingkungan dan memastikan sinyal-sinyal komunikasi serta menyediakan peralatan
yang mendukung terapi dan metode alternatif. Terapi wicara terdiri atas dua
komponen yaitu bicara prefocal dan latihan menelan.
c. Ganguan Pola Makan
• Disfagi merupakan komplikasi lain dari penderita ini yaitu ketidakmampuan
menelan makanan karena hilangnya refleks menelan. Gangguan bisa terjadi di fase
oral, pharingeal atau oesophageal. Komplikasi ini akan menyebabkan
terhambatnya asupan nutrisi bagi penderita serta berisiko aspirasi pula karena
muntahnya makanan ke paru. Etiologi yang mungkin adalah parese nervus
glossopharynx dan nervus vagus. Bisa juga karena komplikasi radioterapi.
• Diagnosis ditegakkan dengan videofluoroscopy. Gejala ini sering bersamaan
dengan dispepsia karena space occupying process dan kemoterapi yang
menyebabkan hilangnya selera makan serta iritasi lambung. Terapi untuk gejala ini
adalah dengan sonde lambung untuk pemberian nutrisi enteral, stimulasi, dan
modifikasi kepadatan makanan (makanan yang dipilih lebih cair/lunak).
d. Kelemahan Otot
• Kelemahan otot pada pasien tumor otak umumnya dan yang mengenai saraf
khususnya ditandai dengan hemiparesis, paraparesis dan tetraparesis. Pendekatan
terapi yang dilakukan menggunakan prinsip stimulasi neuromusculer dan inhibisi
spastisitas. Cara lain adalah dengan EMG biofeedback, latihan kekuatan otot,
koordinasi endurasi dan pergerakan sendi.
e. Ganguan Penglihatan Dan Pendengaran
• Tumor otak yang merusak saraf yang terhubung ke mata atau bagian dari otak
yang memproses informasi visual (visual korteks) dapat menyebabkan masalah
penglihatan, seperti penglihatan ganda atau penurunan lapang pandang.
• Tumor otak yang mempengaruhi saraf pendengaran - terutama neuromas
akustik - dapat menyebabkan gangguan pendengaran di telinga pada sisi yang
terlibat otak.
f. Stroke
• Seseorang dengan stroke memiliki gangguan dalam suplai darah ke area otak,
yang menyebabkan otak tidak berfungsi. Otak sangat sensitif terhadap setiap
gangguan dalam aliran darah. Sel-sel otak mulai mati dalam beberapa menit
kehilangan pasokan oksigen dan glukosa.
• Para gangguan aliran darah dapat terjadi oleh salah satu dari dua mekanisme,
yaitu hemorrhagic stroke disebabkan oleh perdarahan dari pembuluh darah kecil
yang memasok darah ke otak dan Stroke iskemik disebabkan oleh bekuan darah
yang menghalangi aliran darah melalui arteri yang memasok darah ke otak. Ada
dua jenis stroke iskemik: Stroke trombotik stroke dan emboli. stroke trombotik
disebabkan oleh gumpalan darah yang terbentuk di dalam arteri otak. stroke
emboli disebabkan oleh gumpalan darah yang terbentuk di luar pembuluh darah
otak, kemudian gumpalan darah itu berjalan melaui aliran darah dan sampai pada
pembuluh darah otak, gumpalan darah ini selanjutnya menyumbat suplay darah ke
otak.
• Pada tumor otak, komplikasi stroke yang timbul dapat berupa Hemorrhagic
stroke yang terjadi akibat pecahnya pembuluh darah otak yang tertekan akibat
pembesaran tumor.
g. Epilepsi
• Kejadian sekitar 30% dari tumor otak. Alasannya sebagian besar disebabkan
karena rangsangan langsung atau represi dari tumor yang menyebabkan ganguan
listrik pada otak dan juga tumor otak dapat menyebabkan iritasi pada otak yang
dapat menyebabkan kejang
h. Depresi
• Depresi dapat disebabkan karena tumor pada pusat emosi (system limbic) atau
karena keadaan klinis yang disebabkan oleh tumor tersebut, Gejala yang timbul
dapat berupa menangis terus-menerus, kesedihan yang mendalam, social
withdrawal, Mudah marah, kecemasan, penurunan libido, gangguan tidur, tingkah
laku yang tidak wajar. Dapat juga karena efek steroid : mood and sleep changes,
ganguan bipolar (manicdepression).
i. Hidrosephalus
• Hidrosephalus terjadi apabila tumor yang terbentuk menghalangi aliran LCS,
akibatnya aliran LCS akan terhambat dan mengakibatkan terbentuknya
hidrosephalus. Selain itu peningkatan tekanan intrakranial juga dapat menghambat
aliran LCS.

j. Cerebral Hernia
• Cerebral hernia adalah kondisi, progresif fatal di mana otak terpaksa melalui
pembukaan dalam tengkorak.
• Tumor otak akan menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial, yang
kemudian menyebabkan penggeseran parenkim otak ke foramen Magnum atau
transtentorial
k. Ganguan Seksualitas
• Tumor otak sendiri dapat mempengaruhi seksualitas, terutama jika tumor
melibatkan daerah otak yang mengontrol pelepasan hormon yang mempengaruhi
libido, termasuk estrogen, progesteron testosteron, dan. Daerah-daerah yang sama
dari otak dapat rusak oleh terapi radiasi, yang yang dapat juga mengurangi
kesuburan dan libido selain itu dapat pula menyababkan menopouse dini.
l. Terbentuknya Gumpalan Darah
• Adanya Tumor otak mempunyai resiko tinggi terjadinya pembekuan darah.
Pembekuan ini disebut "trombosis vena dalam" (DVT) dan terjadi di pembuluh
darah kaki. Gejala yang DVT meliputi nyeri betis, bengkak, dan perubahan warna
kaki, meskipun itu DVT juga bisa terjadi tanpa gejala. Bahaya itu DVT adalah
bahwa mereka dapat pecah dan dibawa oleh aliran darah ke paru-paru, di mana
mereka menyebabkan "thromboemboli paru" (PTE) pembekuan darah di arteri
paru.
7. Pemeriksaan Penunjang
Adapun beberapa pemeriksaan penunjang untuk penyakit tumor otak antara lain :
• Computer Tomografik Scaning (CT SCAN) : CT SCAN digunakan lebih baik
dari pada X- Ray, CT SCAN dapat memberikan informasi tentang jumlah, ukuran,
dan densitas (warna gelap/terang) tumor, dapat memberikan informasi sistem
ventrikuler.
• Magnetic Resonance Imaging (MRI) : MRI sangat penting untuk mendiagnosa
tumor sampai lesi terkecil dan tumor pada batang otak dan pituitary.
• Elektroensefalogram (EEG) : dapat mendeteksi gelombang abnormal pada otak
yang disebabkan tumor hal ini dapat mengevaluasi kajang yang ditimbulkan karena
gangguan pada lobus temporal.
• Stereotatic Radiosurgery : meliputi penggunaan kerangka tiga dimensi yang
meliputi lokasi tumor yang sangat tepat, kerangka Stereotatic dan dan study
pencitraan multipel (sinar – x) cara yang digunakan untuk menemukam tumor dan
lokasinya.
• Pemeriksaan cytologi : dapat mendeteksi keganasan pada sel yang disebabkan
tumor sistem saraf pusat.
• Foto polos dada
Dilakukan untuk mengetahui apakah tumornya berasal dari suatu metastasis yang
akan memberikan gambaran nodul tunggal ataupun multiple pada otak.
• Pemeriksaan cairan serebrospinal
Dilakukan untuk melihat adanya sel-sel tumor dan juga marker tumor. Tetapi
pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan terutama pada pasien dengan massa di otak
yang besar. Umumnya diagnosis histologik ditegakkan melalui pemeriksaan
patologi anatomi, sebagai cara yang tepat untuk membedakan tumor dengan
proses-proses infeksi (abses cerebri).
• Biopsi stereotaktik
Dapat digunakan untuk mendiagnosis kedudukan tumor yang dalam dan untuk
memberikan dasar-dasar pengobatan dan informasi prognosis.
• Angiografi Serebral
Memberikan gambaran pembuluh darah serebral dan letak tumor serebral.
8. Penatalaksanaan Medis
Orang dengan tumor otak memiliki beberapa pilihan pengobatan. Tergantung pada
jenis dan stadium tumor, pasien dapat diobati dengan operasi pembedahan,
radioterapi, atau kemoterapi. Beberapa pasien menerima kombinasi dari perawatan
diatas.
Selain itu, pada setiap tahapan penyakit, pasien mungkin menjalani pengobatan
untuk mengendalikan rasa nyeri dari kanker, untuk meringankan efek samping dari
terapi, dan untuk meringankan masalah emosional. Jenis pengobatan ini disebut
perawatan paliatif.
a. Pembedahan
Pembedahan adalah pengobatan yang paling umum untuk tumor otak. Tujuannya
adalah untuk mengangkat sebanyak tumor dan meminimalisir sebisa mungkin
peluang kehilangan fungsi otak.
Operasi untuk membuka tulang tengkorak disebut kraniotomi. Hal ini dilakukan
dengan anestesi umum. Sebelum operasi dimulai, rambut kepala dicukur. Ahli
bedah kemudian membuat sayatan di kulit kepala menggunakan sejenis gergaji
khusus untuk mengangkat sepotong tulang dari tengkorak. Setelah menghapus
sebagian atau seluruh tumor, ahli bedah menutup kembali bukaan tersebut dengan
potongan tulang tadi, sepotong metal atau bahan. Ahli bedah kemudian menutup
sayatan di kulit kepala. Beberapa ahli bedah dapat menggunakan saluran yang
ditempatkan di bawah kulit kepala selama satu atau dua hari setelah operasi untuk
meminimalkan akumulasi darah atau cairan.
Efek samping yang mungkin timbul pasca operasi pembedahan tumor otak adalah
sakit kepala atau rasa tidak nyaman selama beberapa hari pertama setelah operasi.
Dalam hal ini dapat diberikan obat sakit kepala. Masalah lain yang kurang umum
yang dapat terjadi adalah menumpuknya cairan cerebrospinal di otak yang
mengakibatkan pembengkakan otak (edema). Biasanya pasien diberikan steroid
untuk meringankan pembengkakan. Sebuah operasi kedua mungkin diperlukan
untuk mengalirkan cairan. Dokter bedah dapat menempatkan sebuah tabung,
panjang dan tipis (shunt) dalam ventrikel otak. Tabung ini diletakkan di bawah
kulit ke bagian lain dari tubuh, biasanya perut. Kelebihan cairan dari otak dialirkan
ke perut. Kadang-kadang cairan dialirkan ke jantung sebagai gantinya.
Infeksi adalah masalah lain yang dapat berkembang setelah operasi (diobati dengan
antibiotic). Operasi otak dapat merusak jaringan normal. kerusakan otak bisa
menjadi masalah serius. Pasien mungkin memiliki masalah berpikir, melihat, atau
berbicara. Pasien juga mungkin mengalami perubahan kepribadian atau kejang.
Sebagian besar masalah ini berkurang dengan berlalunya waktu. Tetapi kadang-
kadang kerusakan otak bisa permanen. Pasien mungkin memerlukan terapi fisik,
terapi bicara, atau terapi kerja.
b. Radiosurgery stereotactic
Radiosurgery stereotactic adalah tehnik "knifeless" yang lebih baru untuk
menghancurkan tumor otak tanpa membuka tengkorak. CT scan atau MRI
digunakan untuk menentukan lokasi yang tepat dari tumor di otak. Energi radiasi
tingkat tinggi diarahkan ke tumornya dari berbagai sudut untuk menghancurkan
tumornya. Alatnya bervariasi, mulai dari penggunaan pisau gamma, atau
akselerator linier dengan foton, ataupun sinar proton.
Kelebihan dari prosedur knifeless ini adalah memperkecil kemungkinan
komplikasi pada pasien dan memperpendek waktu pemulihan. Kekurangannya
adalah tidak adanya sample jaringan tumor yang dapat diteliti lebih lanjut oleh ahli
patologi, serta pembengkakan otak yang dapat terjadi setelah radioterapi.
Kadang-kadang operasi tidak dimungkinkan. Jika tumor terjadi di batang otak
(brainstem) atau daerah-daerah tertentu lainnya, ahli bedah tidak mungkin dapat
mengangkat tumor tanpa merusak jaringan otak normal. Dalam hal ini pasien dapat
menerima radioterapi atau perawatan lainnya.
c. Radioterapi
Radioterapi menggunakan X-ray untuk membunuh sel-sel tumor. Sebuah mesin
besar diarahkan pada tumor dan jaringan di dekatnya. Mungkin kadang radiasi
diarahkan ke seluruh otak atau ke syaraf tulang belakang.
Radioterapi biasanya dilakukan sesudah operasi. Radiasi membunuh sel-sel tumor
(sisa) yang mungkin tidak dapat diangkat melalui operasi. Radiasi juga dapat
dilakukan sebagai terapi pengganti operasi. Jadwal pengobatan tergantung pada
jenis dan ukuran tumor serta usia pasien. Setiap sesi radioterapi biasanya hanya
berlangsung beberapa menit.
d. Kemoterapi
Kemoterapi yaitu penggunaan satu atau lebih obat-obatan untuk membunuh sel-sel
kanker. Kemoterapi diberikan secara oral atau dengan infus intravena ke seluruh
tubuh. Obat-obatan biasanya diberikan dalam 2-4 siklus yang meliputi periode
pengobatan dan periode pemulihan.
Dua jenis obat kemoterapi, yaitu: temozolomide (Temodar) dan bevacizumab
(Avastin), baru-baru ini telah mendapat persetujuan untuk pengobatan glioma
ganas. Mereka lebih efektif, dan memiliki efek samping lebih sedikit jika
dibandingkan dengan obat-obatan kemo versi lama. Temozolomide memiliki
keunggulan lain, yaitu bisa secara oral.
Untuk beberapa pasien dengan kasus kanker otak kambuhan, ahli bedah biasanya
melakukan operasi pengangkatan tumor dan kemudian melakukan implantasi
wafer yang mengandung obat kemoterapi. Selama beberapa minggu, wafer larut,
melepaskan obat ke otak. Obat tersebut kemudian membunuh sel kankernya.

B. Asuhan Keperawatan Teoritis Tumor Otak


1. Pemeriksaan fisik
a. BI (Breathing)
Inspeksi : pada keadaan lanjut yang disebabkan adanya kompresi pada medula
oblongata didapatkan adanya kegagalan pernapasan.
Pada klien tanpa kompresi medula oblongata pada pengkajian inspeksi pernapasan
tidak ada kelainan. Palpasi toraks didapatkan taktil premitus seimbang kanan dan
kiri. Auskultasi tidak di dapatkan bunyi napas tambahan.
b. B2 (Blood)
Pada keadaan lanjut yang disebabkan adanya kompresi pada medula oblongata
didapatkan adanya kegagalan sirkulasi. Pada klien tanpa kompresi medula
oblongata pada pengkajian tidak ada kelainan. Tekanan darah biasanya normal,
dan tidak ada peningkatan heart rate.
c. B3 (Brain)
Tumor intrakranial sering menyebabkan berbagai defisit neurologis, bergantung
pada gangguan fokal dan adanya peningkatan intrakranial . pengkajian B3 (Brain)
merupakan pemeriksaan fokus dan lebih lengkap di bandingkan pengkajian pada
sistem lainnya. Trias Klasik tumor otak adalan nyeri kepala, muntah, dan
papiledema. Pengkajian tingkat kesadaran. Kualitas kesadaran klien merupakan
parameter yang paling mendasar dan parameter yang paling penting yang
membutuhkan pengkajian. Tingkat keterjagaan klien dan respon terhadap
lingkungan adalah indikator paling sensitif untuk disfungsi sistem persarafan.
Beberapa sistem digunakan untuk membuat peringkat perubahan dalam
kewaspadaan dan keterjagaan.
Pada keadaan lanjut tingkat kesadarn klien tmor intrakranial biasanya berkisar
pada tingkat letargi, stupor, dann semikomatosa. Jika klien sudah mengalami
koma, penilaian GCS sangat penting untuk menilai tingkat kesadaran klien dan
bahan evaluasi untuk pemantauan pemberian asuhan.
Pengkajian fungsi serebral. Pengkajian ini meliputi status mental, fungsi
intelektual, dan lobus frontal.
• Status mental. Observasi penampilan, tingkah laku, nilai gaya bicara, ekspresi
wajah, dan aktivitas motorik klien. Pada klien tumor intarkranial tahap lanjut
biasanya status mental klien menglami perubahan.
• Fungsi intelektual. Didapatkan penurunan dalam ingatan dan memori, baik
jangka pendek maupun jangka panjang. Penurunan kemampuan berhitung dan
kalkulasi. Pada beberapa kasus klien mengalami ‘brain damage’ yaitu kesulitan
untuk mengenal persamaan dan perbedaan yang tidak begitu nyata.
• Lobus Frontal. Tumor lobus frontalis memberi gejala perubahan menta,
hemiparesis, ataksia, dan gangguan bicara.
Perubahan mental bermanifestasi sebagai perubahan ringan daam kepribadian.
Beberapa klien mengalami periode depresi, bingung, atau periode ketika tingkah
laku klien menjadi aneh.
Perubahan yang paling sering adalah perubahan dalam memberi argumentasi yang
sulit dari perubahan dalam memberi penilaian tentang benar dan salah.
Hemiparesis disebabkan oleh tekanan pada area dan lintasan motorik di dekat
tumor.
Jika area motorik terlibat, akan terjadi epilepsi Jackson dan kelemahan motorik
yang jelas. Tumor yang menyerang ujung bawah korteks prasentalis menyebabka
kelemahan pada wajah, lidah, dan ibu jari, sedangkan tumor pada lobulus
parasentralis menyebabkan kelemahan pada kaki dan ekstermitas bawah.
Tumor pada lobus frontalis dapat mengakibatkan gaya berjalan yang tidak mantap,
sering menyerupai ataksia serebelum. Jika lobus frontalis kiri atau yang dominan
terkena, akan terihat adanya afasia dan aparaksia.
Pengkajian saraf kranial. Pengkajian ini meliputi pengkajian saraf kranial I-XII.
• Saraf I. Pada klien dengan tumor intrakranial yang tidak mengalami kompresi
saraf ini tidak memiliki kelainan pada fungsi penciuman.
• Saraf II. Gangguan lapang pandang disebabkan lesi pada bagian tertentu dari
lintasan visual. Papiledema disebabkan oleh stasis vena yang menimbulkan
pembengkakan papila saraf optikus.
• Saraf III, IV, dan VI. Adanya kelumpuhan unilateral atau b V. Pada ilateral
dari saraf VI memberikan manifestasi pada suatu tanda adanya glioblastoma
multiformis.
• Saraf V. Pada keadaan tumor intrakranial yang tidak menekan saraf trigeminus,
tidak ada kelainan pada fungsi saraf ini. Pada neorolema yang menekan saraf ini
akan di dapatkan adanya paralisis wajah ulilateral.
• Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah asimetris, dan otot
wajah tertarik ke bagian sisi sehat.
• Saraf VIII. Pada neorolema di dapatkan adanya tuli persepsi. Tumor lobus
temporalis menyebabkan tinitus dan halusinasi pendengaran yang mungkiin
diakibatkan iritasi korteks pendengaran temporalis atau korteks yang berbatasan.
• Saraf XI dan X. Kemampuan menelan kurang baik, dan terdapat kesulitan
membuka mulut.
• Saraf XI. Tidk ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapesiuz.
• Saraf XII. Lidah simetris, terdapat deviasi pada suatu sisi dan fasikulasi. Indra
pengecap normal.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko tinggi peningkatan intra kranial b.d desak ruang oleh rasa tumor
intrakranial.
 Tujuan
Tidak terjadi peningkatan tekanan intrakarnial pada klien dalam waktu 3x24 jam
 Kriteria Hasil
Klien tidak gelisah, klien tidak mengeluh nyeri kepala, mual-mual dan muntah,
GCS : 4,5,6, tidak terdapat papiledema, TTV dalam batas normal.
 Intervensi :
1. Kaji faktor penyebab situasi atau keadaan individu atau penyebeb koma, atau
penurunan perkusi jaringan dan kemungkinan penyebab peningkatan tekanan
intrakarnial.
2. Memonitor TTV tiap 4 jam.
3. Berikan periode istirahat antara tindakan perawatan dan batasi lamanya
prosedur.
 Rasional :
1. Deteksi dini untuk memprioritaskan intervensi, mengkaji status neurologi atau
tanda-tanda kegagalan untuk munentukan perawatan kegawatan atau tindakan
pembedahan.
2. Suatu keadaan normal bila sirkulasi serebral terpelihara dengan baik atau
fluktuasi di tandai dengan tekanan darah sistemik penururnan dan autolegulator
kebanyakan tanda penurun difusilokal paskularisasi darah serebral.
3. Tindakan yang terus menerus dapat meningkatkan tekana intrakarnial oleh
efek rangsangan kumulatif.
b. Nyeri akut b.d traksi dan pegeseran sruktur peka nyeri dalam rongga
intrakranial.
 Tujuan
Nyeri berkurang atau hilang atau beradaptasi
 Kriteria Hasil
Cara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat beradatasi. Dapat
mengidetifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri. Klien tidak
gelisah.
 Intervensi :
1. Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan peredah nyeri non farmakologi dan
non infasif.
2. Ajarkan relaksasi, teknik-teknik untuk mnurunkan ketengan untuk otot rangka,
yang dapat menurunkan intesitas nyri dan juga tingkatkan relaksasi masase.
3. Kolaborasi dengan dokter, pemberian analgetik
 Rasional :
1. Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah
menunjukan keefektifan mengurangi nyeri.
2. Akan menghasilkan peredaran darah sehingga kebutuhan oksigen oleh
jaringan akan terpenuhi sehingga akan mengurangi nyeri.
3. Analgetik memblok lintasan nyeri sehingga nyeri akan berkurang
(Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan, Muttaqin Ariff,
2008, Jakarta: Salemba Medika).

C. PATHWAY Tumor Intrakranial (Tumor Otak)

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Tumor otak bisa mengenai segala usia. Tapi umumnya pada usia dewasa muda
atau pertengahan, jarang di bawah usia 10 tahun atau di alas 70 tahun. Sebagian
ahli menyatakan insidens pada laki-laki lebih banyak dibanding wanita, tapi
sebagian lagi menyatakan tak ada perbedaan insidens antara pria dan wanita.
Tumor otak atau tumor intrakranial adalah neoplasma atau proses desak ruang
(space occupying lesion) yang timbul di dalam rongga tengkorak baik di dalam
kompartemen supratentorial maupun infratentorial, mencakup tumor-tumor primer
pada korteks, meningen, vaskuler, kelenjar hipofise, epifise, saraf otak, jaringan
penyangga, serta tumor metastasis dari bagian tubuh lainnya.
Tumor otak menunjukkan manifestasi klinik yang tersebar. Tumor ini dapat
menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial (TIK) serta tanda dan gejala lokal
sebagai akibat dari tumor yang menggangu bagian spesifik dari otak. Gejala yang
biasanya banyak terjadi akibat tekanan ini adalah sakit kepala, muntah, papiledema
(edema saraf optik), perubahan kepribadian dan adanya variasi penurunan fokal
motorik, sensori dan disfiungsi saraf kranial.
2. Saran
Diharapkan perawat dapat menerapkan pengetahuan mereka tentang penyakit
tumot otak ini untuk diterapkan di tempat mereka bekerja. Dan juga diharapkan
pula perawat dapat menerapkan konsep asuhan keperawatan pada pasien tumor
otak dengan semaksimal mungkin. Dengan tujuan agar pasien – pasien pengidap
penyakit tumor otak ini dapat segera sembuh dan dapat menjalankan aktivitasnya
kembali seperti saat sebelum sakit.

DAFTAR PUSTAKA

 Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Penerbit


Buku Kedokteran EGC.
 dr. H. Mohamad Isa. Perawatan Penyakit Dalam & Bedah. Pusat Pendidikan
Pegawai Departemen Kesehatan R.I. : Jakarta.
 Muttaqin Ariff. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem
Persarafan Jakarta: Salemba Medika.
 Oswari E. 1989. Bedah dan Perawatannya. Jakarta : Gramedia.

 Tweet It
 Like It
 Google+
 Linkedin
 Pin it
Buddi Farma
Perdarahan subarakhnoidBeranda

0 komentar :

Posting Komentar

Search Form

Popular Posts
 ASKEP VERTIGO (GEJALA PUSING BERPUTAR)

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Vertigo merupakan


kasus yang sering ditemui. Secara tidak langsung kitapun pernah mengalami
v...

 ASKEP CEDERA KEPALA

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Banyak istilah yang


dipakai dalam menyatakan suatu trauma atau cedera pada kepala di
Indonesia. Beber...

 ASKEP STROKE HEMORAGIK & NON-HEMORAGIK

BAB I PENDAHULUAN A.LATAR BELAKANG Stroke merupakan yaitu


penyakit kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya supalai
darah ke...

 ASKEP TUMOR OTAK

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar belakang Tumor otak atau tumor


intrakranial adalah neoplasma atau proses desak ruang (space occupying
lesi...

 ASKEP BELL PALSY

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Bell’s palsy


menempati urutan ketiga penyebab terbanyak dari paralysis fasial akut. Di
dunia, insiden...

 ASKEP MENINGITIS (RADANG PADA MENINGEN)


LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA
KLIEN DENGAN MENINGITIS A. Definisi Meningitis adalah radang
pada meningen (membran yang meng...

 ASKEP PERDARAHAN SUBARAKHNOID

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Besarnya Tekanan


Intra Kranial (TIK) sangat berhubungan dengan derajat hemoragik secara
klinik. T...

 ASKEP NEURALGIA TRIGEMINAL

BAB I Pendahuluan A. Latar belakang Di indonesia, jumlah penderita


neuralgia trigeminal (NT) diperkirakan mencapai 30.000 orang yang t...

 ANTIOKSIDAN

MANFAAT KESEHATAN JERUK Buah jeruk merupakan buah yang


sangat populer di seluruh belahan dunia. Untuk mendapatkannya pun tak
perlu menu...

 ASKEP LOW BACK PAIN (NYERI PUNGGUNG)

LOW BACK PAIN A. Definisi Nyeri adalah pengalaman sensori dan


emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang
actu...

Follow Us
About Us
About Us
Google+ Followers
Google+ Followers
Diberdayakan oleh Blogger.

Wikipedia
Submit
Follow by Email
Submit

Translate

Diberdayakan oleh Terjemahan

Mengenai Saya

Buddi Farma
Berasal dari padang sumatra barat, lahir di tanah minang. saya anak ke-2
dari enam bersaudara. sekalah dasar di SD 03 ampalu dulunya yang
sekarang menjadi 02,,,udah naik dikit. dan melanjutkan pendidikian di Mtsn
01 pariaman. Hanya 1 semeter di sini, dan saya sekeluarga langsung terbang
ke kalimantan barat, dan melanjutkan pendidikan di SMP 01 parindu Kab.
sanggau. pendidikan saya lanjutkan masuk keperdalaman lagi, yaitu di SMA
01 bonti kab. sanggau. dan sekarang saya menempuh kuliah di Pontianak,
mengambil jurusan kesehatan (alhamdulilllah). di Stikes yarsi Pontianak
jurusan S-1 Keperawatan.
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog
 ► 2014 ( 2 )
 ▼ 2013 ( 8 )
o ▼ Maret ( 8 )
 ASKEP MENINGITIS (RADANG PADA MENINGEN)
 ASKEP LOW BACK PAIN (NYERI PUNGGUNG)
 ASKEP NEURALGIA TRIGEMINAL
 ASKEP BELL PALSY
 ASKEP STROKE HEMORAGIK & NON-HEMORAGIK
 ASKEP CEDERA KEPALA
 ASKEP PERDARAHAN SUBARAKHNOID
 ASKEP TUMOR OTAK
Popular Posts
 ASKEP VERTIGO (GEJALA PUSING BERPUTAR)

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Vertigo merupakan


kasus yang sering ditemui. Secara tidak langsung kitapun pernah mengalami
v...

 ASKEP CEDERA KEPALA

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Banyak istilah yang


dipakai dalam menyatakan suatu trauma atau cedera pada kepala di
Indonesia. Beber...

 ASKEP STROKE HEMORAGIK & NON-HEMORAGIK

BAB I PENDAHULUAN A.LATAR BELAKANG Stroke merupakan yaitu


penyakit kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya supalai
darah ke...

 ASKEP TUMOR OTAK

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar belakang Tumor otak atau tumor


intrakranial adalah neoplasma atau proses desak ruang (space occupying
lesi...

 ASKEP BELL PALSY

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Bell’s palsy


menempati urutan ketiga penyebab terbanyak dari paralysis fasial akut. Di
dunia, insiden...

 ASKEP MENINGITIS (RADANG PADA MENINGEN)

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA


KLIEN DENGAN MENINGITIS A. Definisi Meningitis adalah radang
pada meningen (membran yang meng...

 ASKEP PERDARAHAN SUBARAKHNOID

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Besarnya Tekanan


Intra Kranial (TIK) sangat berhubungan dengan derajat hemoragik secara
klinik. T...

 ASKEP NEURALGIA TRIGEMINAL


BAB I Pendahuluan A. Latar belakang Di indonesia, jumlah penderita
neuralgia trigeminal (NT) diperkirakan mencapai 30.000 orang yang t...

 ANTIOKSIDAN

MANFAAT KESEHATAN JERUK Buah jeruk merupakan buah yang


sangat populer di seluruh belahan dunia. Untuk mendapatkannya pun tak
perlu menu...

 ASKEP LOW BACK PAIN (NYERI PUNGGUNG)

LOW BACK PAIN A. Definisi Nyeri adalah pengalaman sensori dan


emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang
actu...

Google+ Badge
Formulir Kontak
Nama

Email *

Pesan *

Penggemar Kesehatan
Copyright 2013 KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH Created by Template
Trackers