You are on page 1of 4

PENGUJIAN PENETRASI, TITIK LEMBEK, TITIK NYALA, TITIK BAKAR,

DAN KADAR OPTIMUM ASPAL

Arif Setyo Nurwantoro1, Eva Mariana Citra2, Wahyu Bagas Prasetyo3, Dani
Trihartono4
1234
Jurusan Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan, FT-UNY
Email: bagaswahyu01@gmail.com

ABSTRACT

This study aims to: 1)knowing asphalt penetration; 2) knowing the softening point of
asphalt; 3) knowing the flash point and fire point asphalt: 4) knowing the ptimum
bitumen content. The method used in this study is descriptive through a quantitative
approach, by means of the results of the test being compared with the existing asphalt
standards. Technique of collecting data through practicum which conducted every
subject of practicum of road construction. The asphalt is included in Pen 60, the
asphalt has a soft point 51:50C, the asphalt has a flash point 303 oC and a burning
point of 338oC, and in Marshall 4 the criteria does not qualify from 6 criteria, the
optimum bitumen content cannot be determined.

Keywords: penetration, softening point, the flash point and fire point, optimum
bitumen content

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui penetrasi aspal; 2) mengetahui titik


lembek aspal; 3) mengetahui titik nyala dan titik bakar aspal: 4) mengetahui kadar
aspal optimum. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif melalui
pendekatan kuantitatif, dengan cara dari hasil tes yang dibandingkan dengan standar
aspal yang ada. Teknik pengumpulan data melalui praktikum yang dilakukan setiap
mata pelajaran praktikum pembangunan jalan. Aspal dimasukkan dalam Pen 60, aspal
memiliki titik lunak 51: 50C, aspal memiliki titik nyala 303 oC dan titik bakar 338oC,
dan di Marshall 4 kriteria tidak memenuhi syarat dari 6 kriteria, maka kadar aspal
optimum belum bisa ditentukan.

Kata kunci: penetrasi, titik lembek, titik nyala dan titik bakar, kadar aspal optimum

PENDAHULUAN fraksi memiliki peran masing-masing


yang akan menjadi penentu besarnya
Campuran dari flexurel pavement kekuatan aspal beton tersebut. Yang
adalah berupa agregat kasar, agregat dilakukan dalam pengujian ini yaitu,
halus, filler, dan aspal. Masing-masing pertama pengujian penetrasi yang
berfungsi menentukan nila kekerasan digunakan mengacu kepada RSNI S-
aspal menggunakan alat penetrometer, 01:2003 tentang Spesifikasi Aspal
dimana pengujian ini akan menjadi Keras Berdasarkan Penetrasi. Standar
acuan penggunaan aspal dilapangan yang digunakan dalam pengujian
pada tempat dan kondisi tertentu. Marshall, mengacu kepada RSNI M-
Kedua, adalah pengujian titik lembek 01:2003 tentang Metode Pengujian
aspal, sehingga dalam membuat Campuran Beraspal Panas dengan Alat
campuran aspal beton jenis aspal yang Marshall. Teknik pengumpulan data
digunakan tidak mudah rusak ataupun yang dilakukan yaitu melalui
tidak membahayakan bagi praktikum yang dilaksanakan setiap
penggunanya. Yang ketiga adalah titik mata pelajaran praktikum konstruksi
bakar aspal, dimana dalam jalan.
penggunaannya aspal akan digunakan
menggunakan kendaraan yang akan HASIL DAN PEMBAHASAN
memiliki suhu tinggi, maka pengujian
ini dilakukan untuk menghindari aspal Hasil dari pengujian penetrasi untuk
akan akan menyala bahkan terbakar sampel 1 yaitu seperti Gambar 1. Aspal
dan ikut membakar kendaraan yang memiliki rata-rata 29,33 mm/detik
mengangkutnya. Yang keempat yaitu dengan standar deviasi + 2,362.
pengujian Marsall, tujuan dari Sehingga memiliki batas atas standar
pengujian ini yaitu dapat mengetahui deviasi 31,692 mm/detik dan batas
jumlah kadar aspal optimum yang bawah standar deviasi 26,968
dapat digunakan dalam suatu mm/detik. Dari data tersebut semua
campuran aspal dan agregat. Selain itu, angka berada kurang dari 40, maka
dapat menentukan komposisi yang diperkirakan ada beberapa hal yang
tepat antara agregat aspal dan material menyebabkan hal tersebut menjadi
pengisi (filler) dalam campuran tidak sesuai.
beraspal dan dapat menentukan kadar
aspal optimum yang digunakan untuk
perencanaan campuran aspal pada
jalan raya.

METODE

Metode penelitian yang digunakan


adalah deskriptif melalui pendekatan Gambar 1. Grafik Nilai Penetrasi dan
kuantitatif, dengan cara hasil dari Standar Deviasi Aspal 1
pengujian akan dibandingkan dengan Pengujian penetrasi yang kedua
standar aspal yang ada. Standar aspal menunjukan bahwa nilai penetrasi
yang digunakan berasal dari SNI aspal pada sampel 2 memiliki rata-rata
2432:11 tentang Cara Uji Penetrasi. 40,33 mm/detik dengan standar deviasi
Untuk pengujian titik lembek, titik +5,85. Sehingga memiliki batas atas
nyala dan titik bakar standar yang standar deviasi 46,15 mm/detik dan
batas bawah standar deviasi 34,45 Pengujian yang kedua yaitu pengujian
mm/detik. Dari data tersebut semua untuk menentukan titik lembek aspal.
angka berada dalam angka antara 40 Berdasarkan hasil praktikum, aspal
sampai 59, maka dapat diklarifikasikan sampel memiliki suhu titik lembek
bahwa aspal yang diuji termasuk 52°C saat bola baja menyentuh plat
kedalam kelas aspal dengan penetrasi dibawahnya dalam waktu 21 menit.
40.

Gambar 2. Grafik Nilai Penetrasi dan Gambar 4. Grafik Pengujian Titik


Standar Deviasi Aspal Recycle 1 Lembek

Pengujian penetrasi yang ketiga Pengujian yang ketiga yaitu


menunjukan bahwa nilai penetrasi menentukan titik nyala yaitu ketika
aspal pada sampel 3 memiliki rata-rata terjadi percikan api selama + 5 detik,
54,33 mm/detik dengan standar deviasi dan titik bakar aspal terjadi jika terjadi
+11,01. Sehingga memiliki batas atas nyala api selama lebih dari 5 detik.
standar deviasi 65,34 mm/detik dan Hasil dari pengujian tersebut
batas bawah standar deviasi 43,32 didapatkan suhu titik nyala sebesar 287
mm/detik. Dari data tersebut semua °C dan dicapai dalam waktu 8 menit 1
angka berada dalam angka antara 40 detik. Sedangkan titik bakarnya
sampai 59, maka dapa diklarifikasikan memerlukan waktu 12 menit 3 detik
bahwa aspal yang diuji termasuk dan menunjukan suhu 350°C
kedalam kelas aspal dengan penetrasi
40.

Gambar 5. Grafik Suhu dan Waktu


Pengujian Titik Nyala dan Titik Bakar
Aspal.
Gambar 3. Grafik Nilai Penetrasi dan
Standar Deviasi Aspal Recycle 2
Pengujian yang keempat yaitu
pengujian marshal, pengujian ini
memiliki 6 kriteria untuk menentukan
kadar aspal optimum, yaitu :